Anda di halaman 1dari 9

Final Paper International Relation : masalah-masalah identitas dalam globalisasi Jessyca Halim 0806354352 Sastra Jepang- FIB

POP CULTURE EXCHANGE, JEPANGKOREA SELATAN: REGIONALISASI ASIA TIMUR


Beberapa tahun belakangan ini, hubungan kerjasama Jepang-Korea Selatan, atau sebaliknya, menampakkan kemajuan yang cukup pesat. Kerjasama besar pertama antara Jepang-Korea Selatan yang dicatat dunia internasional adalah saat menyelenggarakan Piala Dunia 2002. Setelah itu, kerjasama Jepang-Korea Selatan berlanjut dalam negosiasi, khususnya dalam bidang ekonomi. Akhir-akhir ini, karena adanya ancaman senjata nuklir dari Korea Utara, Jepang-Korea Selatan juga melakukan kerjasama dalam bidang militer. Sebelum hubungan Jepang-Korea Selatan berkembang seperti ini, ada penghalang besar berupa sejarah. Sejak tahun 1910 hingga 1945, Jepang telah menduduki dan menjajah rakyat Korea Selatan dengan kejam sehingga pemerintah Korea Selatan melarang adanya hubungan dengan Jepang, khususnya dengan budaya Jepang. Korea Selatan yang selama masa pendudukan Jepang mengalami keterpurukan budaya karena Jepang memaksa rakyatnya untuk menggunakan nama Jepang dan belajar bahasa Jepang serta membakar buku-buku sejarah Korea, merasa bahwa budaya Jepangyang lebih dulu maju dengan popular culture-nya akan kembali menjadi ancaman bagi negaranya sehingga muncullah larangan terhadap segala sesuatu yang berbau Jepang. Setelah itu, sekitar tahun 2000-2004 hubungan Jepang dan Korea kembali menegang karena isu buku teks sejarah, perselisihan kepemilikan pulau Dokdo atau Takeshima dan kunjungan Perdana Menteri Koizumi ke Yasukuni. Sekarang ini, Jepang dan Korea sedang berusaha mempererat hubungan melalui pertukaran budaya khususnya budaya populer kedua negara. Pop culture berupa komik, drama, music, animasi dan lainnya dari satu negara mulai merajai pasar negara lainnya. Komik (manga), animasi (anime) dan drama (dorama) Jepang telah disukai para penggemarnya di Korea bahkan sebelum produk berbau Jepang diperbolehkan peredarannya di Korea. Para penggemar di Korea mendapatkan akses terhadap produk pop culture Jepang dari internet dan siaran satelit. Hal ini tentu saja tidak bisa dibendung dengan tegas oleh pemerintah Korea. Akhirnya, saat ekonomi membaik dan Korea merasa siap untuk masuk ke arus globalisasi lebih jauh lagi, pemerintah Korea yang saat itu dipimpin oleh Kim Dae Jung membuka diri terhadap media Jepang dan mengekspos media Korea untuk bersaing dengan Jepang. Hasilnya, saat ini Jepang sedang dilanda Korean Wave. Begitu banyaknya artis Korea yang melakukan debut Jepang, seperti TVXQ, SNSD, SUJU (Super Junior) dan masih banyak lainnya. Artis-artis Korea tersebut juga dibekali penguasaan bahasa Jepang. Dari hal itu kita bisa melihat bagaimana Korea sangat gencar membidik pasar dunia hiburan Jepang yang sangat terbuka dan menjanjikan. Di sisi lain, pertukaran pop culturesebagai bagian dari budaya yang mengandung ide-ide dan nilainilai masyarakat pemiliknyaantara Jepang dan Korea Selatan juga menyebabkan pertukaran ide dan nilai tersebut. Ditambah lagi pop culture sebagai soft power menyebabkan timbulnya ketertarikan terhadap budaya-budaya tradisional seperti makanan, pakaian, nilai-nilai dalam masyarakat dan lainnya, serta ketertarikan terhadap negara pemilik pop culture tersebut. Ketertarikan terhadap satu sama lain dan pertukaran ide-ide yang terjadi akan memicu timbulnya rasa saling memahami satu

sama lain dan kesadaran sebagai bagian dari Asia Timur. Di sini akan dibahas mengapa ada kemungkinan timbulnya kesadaran tersebut dan bagaimana.

KONSEP
 Pop culture Budaya populer memiliki pengertian budaya yang dapat memenuhi harapan, sensasi, dan khayalan dari penggemar orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dalam budaya populer, hubungan antara media dengan masyarakat yang terkait menghasilkan sebuah produk yang merupakan hasil kreasinya. Menurut KBBI, budaya/kebudayaan populer secara harafiah bisa diartikan sebagai berikut: y Budaya adalah suatu kebiasaan yang sukar diubah, dan kebudayaan memiliki arti luas, yaitu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya. Dalam budaya terkandung ide dan gagasan yang lahir dari kebiasaan atau sistem sosial suatu negara. y Populer adalah hal yang disukai orang banyak, sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada umumnya; mudah dipahami orang banyak, disukai dan dikagumi orang banyak. Jadi, budaya populer merupakan suatu kebiasaan atau sistem, ide, gagasan, yang mudah dipahami, disukai orang banyak, sesuai kebutuhan masyarakat serta dikagumi. Budaya populer juga dikatakan merupakan budaya yang memiliki kemampuan untuk memenuhi harapan, sensasi, dan khayalan dari penggemar orang-orang yang terlibat di dalamnya.  Pop culture sebagai Soft Power Di era globalisasi dan informasi ini, pengaruh politik suatu negara tidak cukup hanya diterapkan melalui cara keras, tetapi kemampuan suatu negara untuk memenangkan hati dan pikiran dunia internasional menjadi hal yang sangat penting. Salah satu cara melakukan itu adalah dengan menyebarkan pengaruh soft power. Istilah ini pertama kali muncul karena usaha media Jepang dalam mempromosikan cultural understanding (pemahaman budaya) terhadap budaya Jepang yang mana ini menarik perhatian pemerintah Jepang dan para cendekiawan internasional sehingga memberi istilah soft power pada usaha dan pengaruh yang muncul dari usaha tersebut (Seiko Yasumoto, 2011). Istilah dan konsep soft power pertama kali dipopulerkan oleh Joseph S. Nye untuk mendefenisikan kemampuan negara dalam mencapai tujuannya dengan menggunakan daya tariknya daripada pemaksaan dan kekerasan terhadap negara lain. Dalam tulisannya, Soft Power: Power of Attraction or Confusion?, Ying Fan (2008) mengutip konsep-konsep soft power yang digambarkan Nye, sebagai berikut : y kemampuan membentuk preferensi orang lain. y kemampuan untuk menarik, and attraction often leads to acquiescence y ... kemampuan membuat orang lain menginginkan hasil/ outcome yang diri sendiri inginkan melalui daya tarik budaya atau ideologi yang dimiliki y Sebuah negara bisa saja mendapatkan hasil yang diinginkannya dalam dunia politik karena negera lainmengagumi nilai-nilainya, berusaha menyainginya, bercita-cita mencapai level kekayaannyaingin mengikutinya. Nye (2008) menekankan bahwa, soft power suatu negara yang utama terletak pada 3 sumber: budaya (dimana budaya tersebut menarik bagi orang lain), nilai-nilai politik (ketika nilai-nilai tersebut sesuai dengan orang lain), dan kebijakan luar negeri ( ketika kebijakan-kebijakan tersebut dinilai sah dan

memiliki otoritas moral). Hal ini berarti budaya populer/pop culture yang mana merupakan bagian dari budaya, berpotensi menjadi soft power. Dalam budaya populer, terkandung banyak unsur-unsur universal yang dikemas oleh media sehingga menjadi semenarik mungkin bagi para penikmatnya. Menurut Baudrillard (1981), di zaman berkembangnya teknologi informasi ini, manusia hidup dalam hyperreality, dunia yang dipenuhi oleh image-image atau yang disebut simulacra. Hyperreality dan simulacra ini merupakan gambaran/image tentang sesuatu yang dibuat oleh media menyerupai aslinya bahkan terasa lebih nyata daripada asli/kenyataannya itu sendiri. Suatu kelompok masyarakat yang menikmati budaya populer akan mendapat pengaruh yang besar dari pesan-pesan dan image-image yang terkandung dalam budaya populer tersebut. Budaya populer suatu negara dapat menyebar ke negara lain melalui media dan budaya populer biasanya melibatkan dimensi ekonomi dan politik (Irmayanti Meliono, 2004:90).  Pop culture sebagai Cultural dan National Identity Menurut Fukuyama dan Huntington, setelah runtuhnya identitas ideologi bersamaan dengan berakhirnya Perang Dingin maka yang akan muncul dan terus bertahan adalah identitas budaya (cultural identity). Identitas budaya berasal dari budaya, agama, atau ethnic suatu kelompok masyarakat. Budaya tidak seperti ideologi yang bisa dimusnahkan, karena budaya memiliki akar yang kuat berupa sejarah, geografi, bahasa dan tradisi (Huntington, 1993). Negara-negara yang menggunakan budayanya sebagai identitas bisa kita lihat pada kebanyakan negara-negara Asia yang mana masih menggenggam nilai-nilai tradisinya, seperti Jepang, Korea, China, Indonesia dan lainnya. Ada juga negara-negara yang menggunakan budaya sebagai identitas nasionalnya. Hal ini khususnya terjadi pada Nation-state, seperti Jepang dan Korea, yang mana ras, bangsa atau etnik mereka menjadi identitas mereka. Bagi Jepang dan Korea, cultural identity mereka sudah menjadi bagian dari national identity. Melalui media, pop culture kedua negara tersebut mengglobal. Dan di saat yang bersamaan, selain drama, film dan music, budaya tradisional Jepang dan Korea seperti makanan (Jepang-sushi, Koreakimchi), baju tradisional (Jepang-kimono, Korea-hanbok) dan lainnya juga ikut mengglobal dan membentuk image dunia terhadap identitas Jepang dan Korea dari perbedaan budaya tradisional tersebut. Pembentukan identitas budaya dan nasional oleh Jepang dan Korea ini juga merupakan salah satu langkah untuk menghadapi globalisasi yang semakin menghilangkan nilai-nilai dasar seseorang maupun suatu negara dan merupakan kunci keberhasilan di era globalisasi.  Network Society Menurut Manuel Castells (2005), network society adalah suatu jaringan sosial yang terjadi di era informasi sekarang ini yang mana hubungan komunikasi terjadi melalui media elektronik seperti jaringan internet. Network Society biasanya dikaitkan dengan new media yang mana merupakan cara baru berkomunikasi dalam dunia digital dengan multimedia yang memungkinkan sekelompok besar atau kecil orang berkumpul secara online dan berbagi, bertukar dan menjual barang dan informasi. Bentuk komunikasi yang terjalin di sini adalah komunikasi interaktif. Dalam network society dengan new media-nya terjadi aliran informasi yang tidak bisa dengan mudah dikontrol dan dibendung oleh hukum. Oleh karena itu, network society juga mempunyai kemampuan untuk menghadirkan aktor baru dalam menentukan arah kebijakan politik suatu negara. Apalagi di era globalisasi ini, kekuasaan negara dibatasi oleh paham demokrasi yang memungkinkan rakyat untuk angkat bicara dalam masalah politik, mempengaruhi arah kebijakan politik dalam negeri hingga hubungan diplomasi antarnegara.

Network society ini tentunya sangat berperan dalam pop culture exchange antara JepangKorea Selatan. Seperti yang sudah disinggung sedikit di atas, bahwa penggemar pop culture (drama, animasi, musik dan produk lainnya) Jepang di Korea mendapatkan produk-produk tersebut melalui internet dan siaran satelit. Pemerintahan Korea menyadari bahwa mereka tidak bisa lebih lama melarang rakyat mereka untuk tidak berhubungan dengan hal-hal berbau Jepang lagi. Dan di saat yang bersamaan Korea juga menyadari perlunya bercermin dari Jepang dan membangun hubungan regional yang saling menguntungkan sehingga pada tahun 1998, presiden Korea, Kim Dae Jung memutuskan untuk secara bertahap membuka diri pada Jepang. Rencana Kim Dae Jung ini tidak serta merta berjalan lancar seperti yang diharapkan hingga hasil survey yang dilakukan Korean Cultural Promotion research center dengan pertayaan Apakah Anda setuju dengan kebijakan pintu terbuka pemerintah Korea terhadap budaya populer Jepang? menunjukkan bahwa 86,2% masyarakat Korea tidak keberatan dengan kebijakan tersebut, yang mana ini menguatkan langkah Kim Dae Jung untuk terus membuka Korea terhadap Jepang. Kemudian untuk melancarkan penyebaran pop culture-nya tidak hanya di Jepang, tetapi juga ke negara-negara Asia lainnya, media Korea menyupplai para penggemar K-pop dengan kebebasan mendapatkan drama, music, acara TV dan produk-produk fashion mereka melalui internet.  Regionalisasi Dalam proses globalisasiyang semakin menyamaratakan duniaakan selalu di ikuti oleh proses regionalisasi dan regionalismeyang kembali meragamkan wilayah-wilayah di dunia. Hal ini jelas karena globalisasi mengarahkan identitas menjadi kuat di satu sisi dan lemah di sisi lain, menjadi satu dan memunculkan keragaman. Dalam tesisnya Naohito Miura (2011) menjelaskan perbedaan regionalisme dan regionalisasi, sebagai berikut : Regionalism refers to the process of political institutionalization in which nation-states convene through top-down activities, while regionalization involves societaldriven processes in which factors like markets, investment flows, and private companies develop regional tendencies. Oleh karena itu, di sini akan mengunakan istilah regionalisasi karena proses integrasi wilayah yang akan dibahas di sini bukan menyangkut politik. Miura juga menekankan defenisi regionalinalisasi tidak hanya pada perkembangan dan penguatan hubungan politik dan ekonomi antarnegara dalam suatu kawasan tetapi juga pada perkembangan identitas dan kesadaran regional yang mana dihasilkan oleh tingginya intensitas dan aliran ide, manusia dan barang dalam suatu wilayah.

POP CULTURE EXCHANGE ANTARA JEPANG-KOREA SELATAN


 Pop culture Jepang dan Korea Selatan : Perbedaan, Persamaan & Tujuan Media Jepang mengembangkan dan menyebarkan pop culture dengan tujuan untuk mengubah pandangan buruk dunia terhadap negaranya. Usaha media Jepang tersebut mendapat dukungan dari pemerintah sehingga didirikanlah Japan Foundation (JF) di berbagai negara dengan tujuan mempromosikan budaya Jepang dan mendorong terbinanya hubungan diplomasi yang berdasarkan kepercayaan. Munculnya istilah dan konsep soft power oleh Nye sebenarnya juga bermula dari usaha media Jepang tersebut. Konsep soft power ini adalah kemampuan suatu negara untuk mendapatakan apa yang diinginkannya, mempengaruhi negara lain agar bertindak sesuai harapannya dengan jalan tanpa pemaksaan dan kekerasan. Dalam usaha Jepang menggunakan budayanya sebagai soft power, David Leheny menemukan dilemma yang dihadapi Jepang. Pemerintah Jepang melihat adanya manfaat dari

menunjukkan diri dengan image cool Japan untuk menciptakan image yang lebih baik di wilayah Asia Timur. Akan tetapi, popularitas produk budaya Jepang di Asia Timur tidak serta merta meningkatkan penerimaan terhadap model nasional Jepang, karena para penikmat produk budaya Jepang hanya menganggap produk itu sebagai simbol atau gambaran dari kemajuan mereka di masa depan bukan sebagai bukti keunggulan nilai ke-Jepang-an. Di sisi lain, pop culture Korea berkembang bersamaan dengan perkembangan media massa dan ekonomi negaranya yang semakin stabil. Seiring semakin kuatnya ekonomi negaranya, Korea berusaha menghidupkan kembali identitas nasionalnya yang telah mengalami masa tergelap saat pendudukan Jepang. Korea pun mengeksploitasi dan mengekspos budayanya kepada dunia melalui perantara pop culture, yang mana merupakan hasil hibridasi budaya Amerika dengan nilai budaya Korea. Walau begitu, berkembangnya pop culture Korea sebenarnya bertujuan utama untuk mengekspansi pasar produk Korea di Asia. Menyebarnya pop culture Korea, secara otomatis membuat penikmat pop culture membandingkan pop culture Korea dengan Jepang yang sudah terkenal lebih dulu. Baik Jepang dan Korea membentuknya pop culture-nya berdasarkan konsep pop culture Barat, dalam hal ini Amerika. Pop culture keduanya menonjolkan lifestyle mewah, modern dan fashionable seperti yang ada dalam budaya Amerika. Akan tetapi tidak hanya itu, baik dalam pop culture Jepang maupun Korea juga terdapat ciri-ciri budaya serta nilai-nilai masyarakat negara masing-masing yang mana mencerminkan ke-Asia-annya. Jepang dan Korea sebagai negara Asia memiliki perbedaan yang sangat besar dengan Barat, sehingga walaupun pop culture keduanya meniru Barat, ada warna tersendiri yang tidak ada dan tidak bisa dimiliki pop culture Barat. Pop culture kedua negara ini menekankan kepada tampilan dimana Jepang menekankan tampilan kawaii (manis, lucu, imut) dan Korea menekankan kesempurnaan secara total, sehingga tidak sedikit artis Korea yang melakukan operasi plastik. Diantara pop culture kedua negara tersebut juga memiliki beberapa sisi yang berbeda, salah satunya seperti yang baru disebutkan di atas, yaitu image pop culture itu sendiri. Perbedaan ini tentu harus ada, karena Korea yang dianggap mengikuti jejak Jepang tidak ingin membuat dirinya terlihat sebagai negara yang telah di-Japanisasi, tetapi ingin agar negaranya diakui sebagai Korea secara sepenuhnya.  Pop culture Jepang Masuk ke Korea Selatan Pop culture Jepang telah masuk ke Korea jauh sebelum Korea membuka dirinya kepada Jepang pada tahun 2000-an. Presiden Korea Kim Dae Jung, secara pragmatis menyatakan bahwa pada tahun 1995, 80% animasi Jepang telah masuk ke Korea secara tidak resmi, yaitu melalui internet dan siaran satelit. Hal ini didukung oleh survey yang dilakukan Korean Cultural Promotion research center dengan pertanyaan Apakah Anda setuju dengan kebijakan pintu terbuka pemerintah Korea terhadap budaya populer Jepang? dengan hasil survey 86,2% masyarakat Korea tidak keberatan dengan kebijakan tersebut. Dengan begitu, Kim Dae Jung bisa dengan lancar menjalankan visinya untuk mengadakan pertukaran budaya antara Korea-Jepang serta membangun hubungan diplomasi yang lebih baik dan saling menguntungkan (Yasumoto, 2006). Dicabutnya larangan terhadap produk budaya Jepang dan dibukanya media Korea untuk produk media Jepang, menampakkan hasilnya melalui film animasi karya Hayao Miyazaki, Howls Moving Castle, yang menarik 3 juta perhatian penonton masyarakat Korea. Masuknya pop culture Jepang ke Korea memberikan dampak positif terhadap perkembangan dunia hiburan Korea. Korea banyak belajar tentang konsep boy band dari Jepang, SM Entertainment (Korea) meniru konsep Johnnys Entertainment (Jepang).

Beberapa tahun belakangan ini, Korea kemudian mulai membuat drama yang diadaptasikan dari komik Jepang (manga), contohnya Boys Before Flower dari Hana Yori Dango, God of Study dari Dragonzakura, Naughty Kiss dari Itazurana Kiss. Walau begitu, kecerdasan media Korea dalam mempertahankan identitas negaranya membuat drama TV adaptasi komik Jepang tersebut kehilangan nilai-nilai Jepangnya sama sekali dan memasukkan lebih banyak nilai-nilai Korea ke dalamnya. Hasilnya, drama TV tersebut menjadi produk yang benar-benar berbeda dari produk Jepang sehingga bila ditayangkan kembali di Jepang drama itu bisa dikatakan sebagai produk media Korea.  Pop culture Korea Selatan Masuk ke Jepang Pop culture Korea pertama masuk ke Jepang pada tahun 2003 dengan meledaknya demam drama Winter Sonata yang mana menjadi awal mula pop culture exchange antara Jepang-Korea. Orang Jepang begitu menyukai drama tersebut hingga memuja-muja Bae Yong Joon, yang menjadi peran utama dalam drama itu dengan sebutan hormat Yon-sama. Fenomena ini disebut oleh media Jepang sebagai kanryuu, Korean Wave, yang mana hal ini sesuatu yang mengejutkan bagi pihak Korea sendiri. Sebelum itu terjadi, Jepang sudah mulai memperhatikan pop culture Korea pada tahun 1995 (Ogura, 2005). Akan tetapi, untuk beberapa saat demam Korean Wave tersebut sempat mereda. Korea kemudian muncul dengan pop culture konsep baru yang lebih segar dan mulai merajai pasar musik dan drama di Jepang. Banyak artis Korea yang melakukan debut-nya di Jepang dan menyanyi dalam bahasa Jepang. Mereka juga belajar bahasa Jepang agar mudah berkomunikasi jika harus berbicara mempromosikan karya musik mereka. Dan yang memulai hal itu adalah SM Entertainment yang meniru sistem dan konsep manajemen artis terbesar di Jepang, yaitu Johnnys Entertainment. BoA adalah artis pertama Korea yang berhasil menggebrak pasar musik Jepang yang kemudian dilanjutkan oleh kehadiran Big Bang, Super Junior, TVXQ, ShiNee dan masih banyak lainnya. Masuknya dan populernya pop culture Korea di Jepang tentu memberi dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah jumlah orang Jepang yang merasa bersahabat dengan Korea semakin meningkat, dimana tahun 1990-an sekitar 40%, tahun 1996 menurun jadi 35,8% dan setelah tahun 2000 meningkat jadi 50%, hingga tahun 2009 lebih dari 60%. Dampak negatifnya datang dari pihak salah satu stasiun TV Jepang, Fuji TV, yang menanyangkan banyak sekali drama, acara TV dan musik Korea sehingga memicu sentimen Jepang terhadap hal itu. Tepatnya pada tanggal 22 Agustus 2011, seorang aktor Jepang, Sousuke Takaoka, menulis di Tweeter bahwa dia tidak akan menonton Fuji TV lagi karena merasa itu bukan siaran TV Jepang melainkan Korea dan dia menginginkan tontonan yang memiliki nilai Jepang. Tulisannya itu memicu aksi demonstrasi 5000 orang Jepang terhadap Fuji TV. Pihak Fuji TV sendiri melakukan hal itu dengan pertimbangan bisnis, karena membeli tayangan Korea lebih murah daripada membuat acara TV sendiri.

REGIONALISASI ASIA TIMUR


Banyak ahli international relation yang melihat regionalisasi Asia Timur dari segi ekonomi dan politik. Memang kedua bidang itu adalah faktor utama dari proses regionalisasi hingga membentuk regionalisme, seperti halnya di Eropa dengan EU dan Asia Tenggara dengan ASEANnya. Akan tetapi, belakangan ini regionalisasi Asia Timur bisa kita lihat dari segi budaya. Di sini, budaya bukanlah bidang utama regionalisasi Asia Timur tetapi budaya bisa memicu regionalisasi Asia Timur menjadi lebih solid. Faktor yang memungkinkan regionalisasi Asia Timur adalah munculnya Korea dengan pop culture-nya yang menggobal mengikuti jejak Jepang dan terjadinya

exchange budaya di antara kedua negara tersebut yang mana memungkinkan terciptanya regionalisasi (identitas) Asia Timur. Di Asia Timur, sekarang ini ada 3 negara maju yang salah satunya diprediksikan oleh ahli-ahli hubungan internasional akan tampil menjadi pemimpin Asia Timur. Akan tetapi, kepemimpinan tidak akan muncul tanpa adanya wilayah yang dipimpin. Hubungan regional atau regionalisasi wilayah Asia Timur masih berada di daerah tidak pasti. Hal ini sehubungan dengan hubungan ketiga negara, yaitu China, Jepang, dan Korea yang tidak begitu harmonis. Hubungan Jepang dengan China dan Korea memang tidak begitu baik awalnya karena adanya sejarah buruk di antara mereka. Akan tetapi, seperti pernyataan Huntington, dalam Clash of Civilization, tentang Barat bahwa negara Barat perlu menyiagakan kekuatan militernya hingga ke tahap maksimal untuk menjaga interest-nya dalam berhubungan dengan peradaban lain, atau memahami peradaban-peradaban lainnya dan interest mereka atau juga perlu melihat kesamaan antara peradaban Barat dengan yang lainnya agar bisa hidup bersama dengan damai. Ada kesamaan antara pernyataan Huntington itu dengan yang sedang dilakukan oleh Jepang dan Korea saat ini. Pemerintah kedua negara sadar akan perlunya hubungan saling memahami budaya dan interest masing-masing, sehingga saat Korea membuka diri, Jepang pun dengan senang hati menerima tawaran tersebut dan keduanya berusaha menjalin hubungan yang lebih akrab tidak hanya pada hubungan ekonomi, tetapi juga dalam budaya. Hal ini akan saling menguntungkan daripada terus berselisih dan menutup kemungkinan kerjasama. Maka dari itu, sebagai salah satu usaha untuk terus menggalakkan pertukaran budaya Jepang-Korea, pada tanggal 10 Maret 2011, Menteri Budaya, Olahraga dan Pariwisata Korea, Choung Byoung Gug mengadakan pertemuan dengan anggota Dewan Pertukaran Budaya Jepang-Korea yang mana sekaligus membicarakan harapan untuk hubungan yang saling menguntungkan di masa depan. Seperti yang kita tahu, budaya populer yang berasal dari Jepang dan Korea Selatan sudah mengglobal dan mendapat perhatian dunia. Penikmat terbesar budaya populer kedua negara ini adalah negara-negara di sekitarnya yaitu Asia Timur dan juga Asia Tenggara. Dampak dari menyebarnnya pop culture kedua negara adalah Japanization dan Koreanization, dimana para penikmat pop culture tersebut mulai berpikir bertindak, dan bersikap sesuai dengan nilai budaya yang terkandung dalam pop culture tesebut. Negara-negara yang terkena dampak paling besar dari penyebaran pop culture Jepang dan Korea tentu adalah negara-negara tetangganya di Asia Timur seperti China dan Taiwan. Di sisi lain, Jepang dan Korea sendiri adalah konsumen pop culture satu sama lain (orang Jepang konsumen terbesar Korean pop culture begitu juga sebaliknya). Dengan adanya pop culture exchange, perhatian masyarakat Jepang terhadap Korea dan sebaliknya bertambah besar. Berbeda dengan pop culture exchange dengan negara-negara berkembang di Asia Tenggara, dalam hubungan diplomasinya, Jepang dan Korea dalam posisi sejajar. Artinya, kedua negara memiliki pengaruh politik yang sama kuat satu sama lainnyakekuatan ekonomi Korea sekarang sedang unggul dari Jepang, tetapi Jepang tetap memegang kendali dalam hubungannya dengan Korea, sehingga satu sama lain tidak bisa saling menjatuhkan dan pertukaran budaya ini bukanlah sebuah usaha imperialisme budaya. Maka dari hubungan ini memungkinkan terciptanya rasa saling memahami dan percaya. Populernya budaya suatu negara akan meningkatkan ketertarikan suatu masyarakat terhadap produk negara tersebut. Meluasnya pop culture Jepang dan Korea tidak hanya meningkatkan ketertarikan terhadap produk budaya seperti makanan dan bahasa, tetapi juga telah ikut meningkatkan permintaan terhadap produk industri hiburan, fashion, kosmetik, dan elektronik. Selain itu, kedua budaya tersebut juga memiliki ciri khas yang sama, yaitu unsur Amerika yang mengalami hibridasi dengan nilai-nilai setempat, yaitu Jepang dan Korea. Bukti tingginya perhatian dan ketertarikan masyarakat antar kedua negara tersebut adalah bertambahnya jumlah student exchange. Semakin

tinggi angka student exchange, semakin tinggi pula intensitas interaksi antar kedua negara. Hal ini akan meningkatkan interaksi dalam bidang ekonomi dan pertukaran ide-ide antar kedua negara yang akan saling mengubah pandangan satu sama lain dan memungkinkan terbentuknya kesadaran sebagai saudara se-Asia Timur. Dalam Beyond Japan: The Dynamics of East Asian Regionalism Peter Katzenstein dan Takashi Shiraishi menekankan bahwa "East Asia is moving rapidly beyond any one national model" ke arah sebuah bentuk hibridasi baru (Katzenstein, 2006:2). Katzenstein menekankan bahwa proses hibridasi di Asia Timur yang mana merupakan campuran dari Japanisasi dan Amerikanisasi dengan sedikit sentuhan Sinisisasi (China) akan membawa Asianisasi dalam proses regional dari jaringan produksi hingga masalah lingkungan. Aktor baru selain pemerintahseperti organisasi nonpemerintah, individu masyarakat, konsumen, dan perusahaan bergerak aktif dalam pembentukan regional (regionalisasi) melalui mekanisme berdasar pasar yang akan membentuk regionalisme hibrid di Asia Timur yang baru. Pop culture Korea bisa dikatakan lahir dari hasil pembelajaran dan adaptasi pop culture Jepang. Persamaan yang terdapat dalam budaya populer kedua negara itu sudah jelas karena Jepang dan Korea memiliki nilai-nilai ke-Asia-an yang relatif sama, yang mana berasal dari China. Oleh karena itu, pertukaran budaya yang terjadi berpotensi meningkatkan kesadaran masyarakat Jepang-Korea sebagai bagian dari Asia Timur. Selain itu, pop culture biasanya lebih banyak dinikmati generasi muda yang kurang kesadaran terhadap sejarah. Hal ini tidak hanya akan menggeser pandangan Jepang terhadap Korea atau sebaliknya tetapi memungkinkan terjadinya pengabaian sejarah atau masa lalu yang buruk antar kedua negara dan memunculkan pandangan maju tentang masa depan hubungan Jepang-Korea yang mungkin berkembang menjadi regionalisasi Asia Timur. Beberapa waktu yang lalu, Jepang dilanda gempa, tsunami dan masalah nuklir. Saat itu, dalam surat kabar harian dan blog internet, ribuan orang Korea menawarkan rasa simpati kepada masyarakat Jepang. "Lets forget about the unfortunate past and lets help Japan, our close neighbor." Suara-suara tersebut kemudian direspon oleh Bae Yong Joon, yang dikenal dengan sebutan Yon sama di Jepang, dengan mengirimkan cek 1 miliar won yang setara dengan 900.000 dolar kepada korban tsunami. Tindakan Bae Yong Joon ini tentu semakin membuat image Korea di mata orang Jepang berubah menjadi lebih baik dibandingkan yang dulu. Dan kita bisa melihat bagaimana media Korea telah terbuka kepada Jepang yang mana juga mempengaruhi masyarakat untuk melupakan sejarah hubungan buruk Jepang-Korea dan membina hubungan baik dengan tetangga mereka itu. Seperti yang diketahui hubungan Jepang dengan Korea dan China sejak dulu memang kurang begitu lancar. Akan tetapi, hubungan baik yang terjalin melalui pertukaran budaya Jepang-Korea Selatan baru-baru ini, kemungkinan besar akan menjadi awal pemicu menyatunya Asia Timur. Chinayang juga mempunyai pengaruh besar di wilayah Asia Timurjuga berkemungkinan mengambil langkah yang sama dengan Korea, yaitu membuka diri kepada Jepang dan mengikuti langkah Jepang membangun pop culture.

KESIMPULAN Globalisasi, selain menyatukan dunia ternyata juga memunculkan regionalisasi, yang mana membagi wilayah-wilayah sesuai dengan kesamaan interest, budaya, bangsa atau agama. Dalam kasus regionalisasi Asia Timur, integrasi regional tidak hanya terjadi dalam bidang politik dan ekonomi tetapi juga dalam bidang budaya, yaitu pop culture. Bangkitnya pop culture sebagai identitas budaya dan nasional Jepang dan Korea, kemudian diekspos ke media dan beredar dalam

network society telah mampu membuka pintu hubungan pertukaran budaya antara Jepang-Korea yang tertutup selama lebih kurang 8 dekade. Pertukaran pop culture yang terjadi antara Jepang-Korea telah memfasilitasi hubungan bilateral kedua negara, khususnya ekonomi, menuju ke hubungan yang lebih menjanjikan. Pop culture kedua negara yang berperan sebagai soft power juga telah mampu mempengaruhi masyarakat masing-masing negara untuk saling terbuka dalam menerima budaya dan identitas negara masing-masing sehingga hubungan kedua negara menjadi lebih dari hati ke hati atau saling mempercayai. Rasa saling mempercayai juga akan diikuti munculnya saling memahami, baik itu interest maupun identitas. Hubungan saling memahami interest akan mengharmoniskan hubungan politik dan ekonomi kedua negara. Dan hubungan saling memahami identitas masingmasing akan menimbulkan kesadaran sebagai bagian Asia, khususnya Asia Timur. Oleh karena itu, dengan semakin meningkatnya interaksi antar kedua negara baik dalam politik dan ekonomi hingga budaya, maka regionalisasi akan semakin solid dan memungkinkan Asia Timur bergerak ke arah yang lebih regionalisme.

REFERENSI Baudrillard, Jean. 1981. Simulacra and Simulation. USA: Michigan Press. (pdf document) Castells, M. 2005. The network society: A cross-cultural perspective. Northampton, MA: Edward Elgar. Fan, Ying. 2008. SOFT POWER: POWER OF ATTRACTION OR CONFUSION? Place Branding and Public Diplomacy. (pdf document) Fukuyama, Francis. 1989. The End of History?The National Interest. (pdf document) Huntingtons, Samuel. 1993. Clash of Civilization. (pdf document) Meliono, Irmayanti- Budianto. 2004. Ideologi Budaya. Jakarta: Yayasan Kota Kita. Miura, Naohito. 2011. East Asian Regionalism: An Unprecedented Window of Opportunity. (pdf document) Ogura, K. (2005) Kanryuu Inpakuto. Tokyo: Koodansha Peter J. Katzenstein., dan Shiraishi, Takashi., ed. 2006. Beyond Japan: The Dynamics of East Asian Regionalism. Ithaca : Cornell University Press. Watanabe, Yasushi., dan David L. McConnell., ed. 2008. Soft power super power: Cultural and National Assets of Japan and the United States, With a Foreword by Joseph S. Ny e, Jr. United States of America: M.E.Sharpe. (pdf document) Yasumoto, Seiko. 2006. Japan and Korea as a Source of Media and Cultural Capital. (pdf document) ----------------------. 2011. Impact on Soft Power of Cultural Mobility: Japan to East Asia. (pdf document) http://www.cnngo.com/seoul/life/anti-korean-wave-japan-turns-political-141304#ixzz1eJ22jil6 http://www.brookings.edu/opinions/2011/0321_japan_oh.aspx.html http://www.hancinema.net/culture-minister-urges-more-korea-japan-exchanges-28442.html