ANALISIS KASUS
Untuk memenuhi Tugas Terstruktur II Mata Kuliah Logika dan Penalaran Hukum
Dosen Pengampu
Dr. Adi Kusumaningrum, S.H., M.H.
Dr. Mohammad Amrullah, S.H., M.H.
Disusun Oleh:
Hatta Joang Kusuma (225010107111207)
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS HUKUM
MALANG
2024
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...................................................................................................................................1
BAB I............................................................................................................................................. 2
PENDAHULUAN........................................................................................................................... 2
I. Latar Belakang......................................................................................................................2
II. Rumusan Masalah...............................................................................................................3
III. Tujuan................................................................................................................................. 3
BAB II............................................................................................................................................ 4
PEMBAHASAN............................................................................................................................. 4
BAB III........................................................................................................................................... 5
PENUTUP......................................................................................................................................5
Kesimpulan.............................................................................................................................. 5
1
BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Kasus korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) berakar pada krisis
ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997-1998. Dalam menghadapi krisis ini,
pemerintah Indonesia melalui Bank Indonesia menyalurkan dana bantuan likuiditas
kepada sejumlah bank umum nasional yang mengalami kesulitan keuangan. Bantuan ini
bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sistem perbankan di tengah gejolak
keuangan yang mengancam kebangkrutan berbagai lembaga perbankan. Dalam
implementasinya, bantuan tersebut justru menimbulkan berbagai persoalan hukum dan
dugaan penyalahgunaan dana. Berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK) pada tahun 2000, terungkap bahwa dari total Rp 144,5 triliun dana BLBI yang
disalurkan kepada 48 bank umum, sebanyak Rp 138,4 triliun diduga telah merugikan
negara. Investigasi lebih lanjut oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
(BPKP) mengungkapkan bahwa dari 42 bank penerima BLBI, ditemukan penyimpangan
sebesar Rp 54,5 triliun, dengan Rp 53,4 triliun di antaranya terindikasi tindak pidana
korupsi dan perbankan.
Kasus ini semakin rumit karena sejumlah kebijakan pemerintah, mulai dari era
Presiden Megawati hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang lebih
memprioritaskan pengembalian aset negara daripada penegakan hukum. Salah satu
kebijakan kontroversial adalah penerbitan Surat Keterangan Lunas (SKL) kepada para
debitor BLBI. Kebijakan ini memberikan semacam “pengampunan” kepada debitor yang
dinilai telah memenuhi kewajibannya, meskipun sebagian besar debitor BLBI
sebenarnya belum menyelesaikan kewajiban secara tuntas dan masih menyisakan
kerugian bagi negara. Contoh yang menonjol dari penggunaan SKL adalah kasus
Sjamsul Nursalim, pemilik Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI), yang diduga
menerima SKL secara tidak sah dari Kepala BPPN saat itu, Syafruddin A. Tumenggung.
SKL ini berdampak besar karena mengakibatkan kerugian negara hingga Rp 3,7 triliun.
Lebih lanjut, upaya penegakan hukum oleh Kejaksaan Agung yang berujung pada
penghentian kasus-kasus besar BLBI memperburuk ketidakpercayaan publik terhadap
komitmen pemerintah dalam memberantas korupsi.
2
Kehadiran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 2004 membawa harapan
baru bagi penyelesaian kasus ini. KPK menunjukkan niat untuk menuntaskan kasus
BLBI melalui pembentukan tim khusus di bawah pimpinan Antasari Azhar. Namun,
upaya ini mengalami kendala, termasuk adanya tekanan politik dan kriminalisasi
terhadap pimpinan KPK. Meski begitu, penetapan Syafruddin A. Tumenggung sebagai
tersangka oleh KPK pada tahun-tahun berikutnya menandai kebangkitan kembali
harapan publik untuk melihat penuntasan kasus ini secara serius. Dengan adanya
upaya KPK yang terbaru, muncul desakan agar pemerintah lebih transparan dalam
pengelolaan aset BLBI yang diserahkan debitor, serta melibatkan KPK dalam
menyelesaikan kasus-kasus yang terindikasi korupsi. Kasus ini merupakan ujian besar
bagi pemerintah dan lembaga penegak hukum dalam menunjukkan komitmen mereka
dalam pemberantasan korupsi.
II. Rumusan Masalah
1. Apakah perjanjian Bantuan Likuiditas BLBI merupakan Perjanjian Perdata Murni
yang secara Hukum hanya dapat ditegakkan melalui upaya Hukum Perdata?
2. Apakah Perjanjian Bantuan Likuiditas BLBI merupakan Perjanjian Perdata Publik
yang juga bisa ditegakkan melalui instrumen Hukum Tindak Pidana Korupsi?
III. Tujuan
1. Untuk memahami mekanisme penyalahgunaan wewenang dalam penerbitan Surat
Keterangan Lunas (SKL) kepada debitor BLBI dan dampaknya terhadap kerugian
keuangan negara.
2. Untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya penyimpangan dan tindak
pidana korupsi dalam penyaluran dan penggunaan dana BLBI.
3
BAB II
PEMBAHASAN
Perjanjian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) tidak dapat dikatakan sebagai
perjanjian perdata murni yang hanya bisa ditegakkan melalui upaya hukum perdata. Meskipun
ada unsur perdata dalam pemberian bantuan likuiditas (misalnya, antara Bank Indonesia dan
bank penerima dana BLBI), namun pelanggaran dalam penggunaan dana tersebut melibatkan
kepentingan publik dan berdampak pada kerugian negara, sehingga aspek hukum pidana juga
relevan. Kasus korupsi BLBI bukan hanya soal wanprestasi atau ketidakpatuhan pada
perjanjian, tetapi melibatkan dugaan penyalahgunaan wewenang dan tindakan melawan hukum
yang merugikan keuangan negara. Oleh karena itu, jika terdapat indikasi tindak pidana korupsi
seperti penyalahgunaan dana BLBI, manipulasi aset, atau pemberian Surat Keterangan Lunas
(SKL) secara tidak sah penyelesaiannya dapat dan perlu melalui jalur hukum pidana, bukan
hanya perdata. Dengan adanya dugaan korupsi yang merugikan negara, maka lembaga
penegak hukum seperti Kejaksaan Agung atau KPK berwenang untuk menyelidiki dan
menuntut kasus ini di ranah pidana. Ranah pidana dimungkinkan karena pelanggaran ini
mencakup tindak pidana korupsi, yang diatur dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi
Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Perjanjian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dapat dipandang sebagai
perjanjian perdata publik yang melibatkan kepentingan umum (publik) karena dana yang
disalurkan bersumber dari keuangan negara dan bertujuan menjaga stabilitas ekonomi.
Meskipun perjanjian BLBI dibuat dalam kerangka perdata, kasus ini melibatkan kepentingan
publik karena penyalahgunaan dana tersebut berdampak pada kerugian negara yang signifikan.
Ketika ditemukan indikasi penyimpangan atau penyalahgunaan dana yang merugikan
keuangan negara, penanganan kasus ini tidak hanya terbatas pada mekanisme hukum perdata.
Penyalahgunaan dana BLBI yang menimbulkan kerugian negara dapat ditegakkan melalui
instrumen hukum tindak pidana korupsi berdasarkan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi di
Indonesia.
4
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Perjanjian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), meskipun awalnya dirancang
sebagai perjanjian dalam konteks hukum perdata antara Bank Indonesia dan bank penerima
bantuan, dapat dipandang sebagai perjanjian perdata publik karena melibatkan dana yang
bersumber dari keuangan negara dan kepentingan umum dalam menjaga stabilitas ekonomi
nasional. Ketika ditemukan adanya penyalahgunaan dana yang mengakibatkan kerugian
negara, penyelesaian pelanggaran dalam perjanjian BLBI ini tidak hanya terbatas pada
mekanisme perdata. Penyimpangan dalam penggunaan dana, seperti penerbitan Surat
Keterangan Lunas (SKL) secara tidak sah atau penggunaan dana untuk kepentingan pribadi,
bisa dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi yang melibatkan penyalahgunaan wewenang,
sehingga memerlukan penanganan melalui instrumen hukum pidana. Besarnya kerugian
negara yang timbul akibat penyimpangan dalam perjanjian BLBI menuntut adanya langkah
penegakan hukum yang tegas melalui jalur pidana korupsi untuk menuntut
pertanggungjawaban pihak-pihak yang terlibat dan mencegah praktik serupa di masa depan.
Dalam hal ini, lembaga penegak hukum seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan
Kejaksaan Agung memiliki peran penting dalam menyelidiki dan menuntut pelaku yang terbukti
menyalahgunakan wewenang demi kepentingan pribadi atau golongan. Penggunaan instrumen
hukum tindak pidana korupsi dalam penanganan kasus BLBI tidak hanya memberikan dasar
yang kuat bagi penegakan hukum tetapi juga menjaga kepentingan negara dan masyarakat dari
kerugian akibat tindak pidana korupsi yang merugikan keuangan negara. Syafruddin Arsyad
Temenggung terbukti bersalah melanggar Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun
1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Syafruddin merupakan mantan Ketua Badan
Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK pada
April 2017. Ia divonis 13 tahun penjara dan denda Rp 700 juta dalam sidang di Pengadilan
Tipikor pada September 2018.