MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
KOMPONEN PENDIDIKAN ISLAM
Makalah Ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan
Islam
Dosen Pengampu :
Dr. Cahaya Khaeroni, [Link].I.
DISUSUN OLEH:
Kelompok 4
Rahman Aminudin 23250050
Uwais Al-Qarni 23250085
Muhammad Ismail Affandi 23250036
Ahmad Hermanto 23250001
Yahya Saputra 23250070
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO
TAHUN AKADEMIK: 2023/ 2024
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi
tugas mata kuliah filsafat pendidikan islam dengan judul “KOMPONEN
PENDIDIKAN ISLAM” tepat pada waktunnya. Shalawat beserta salam semoga
tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah
membawa umat manusia menuju jalan yang diridhoi oleh Allah SWT.
Kami menyadari bahwa dalam penulis makalah ini tidak terlepas dari bantuan
banyak pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih
kepada semua pihak, terutama kepada bapak Dr. Cahaya Khaeroni, [Link].I. selaku
dosen pengampu mata kuliah filsafat pendidikan islam.
Penulis sadar bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Maka dari
itu kami butuh kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini agar dapat diperbaiki sehingga kedepannya dapat menjadi lebih baik.
Kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.
Metro, 16 April 2024
Penyusun,
Kelompok 4
METODOLOGI STUDI ISLAM ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................... 2
C. Tujuan Pembahasan ........................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................ 3
A. Hakikat Pendidik dalam Filsafat Pendidikan Islam ........................ 3
B. Hakikat Peserta Didik dalam Filsafat Pendidikan Islam ................. 5
C. Hakikat Metode dalam Filsafat Pendidikan Islam .......................... 8
D. Hakikat Lingkungan Pendidikan dalam Filsafat Pendidikan
Islam ................................................................................................ 9
E. Hakikat Evaluasi dalam Filsafat Pendidikan Islam ........................ 11
BAB III PENUTUP .................................................................................... 20
A. Kesimpulan .................................................................................... 20
B. Saran ................................................................................................ 20
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 21
METODOLOGI STUDI ISLAM iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kerangka filsafat pendidikan islam, komponen pendidikan merupakan
fondasi yang penting dalam membentuk individu muslim yang holistik, berakhlak
mulia, dan berpengetahuan luas. Komponen pendidikan mencakup pendidik,
peserta didik, metode pembelajaran, lingkungan pendidikan, evaluasi, dan
kurikulum. Setiap komponen ini memiliki peran penting dalam membentuk
karakter dan kepribadian seseorang sesuai dengan prinsip-prinsip islam.
Dalam konteks yang semakin kompleks dan beragam, pemahaman tentang
komponen-komponen pendidikan Islam menjadi kunci untuk memastikan
pendidikan yang holistik dan relevan dengan kebutuhan masa kini. Hal ini menuntut
keterlibatan dalam proses pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada
pemerolehan pengetahuan, tetapi juga pengembangan kepribadian, penanaman
nilai-nilai moral, dan penguatan identitas keagamaan.
Melalui pemahaman yang mendalam tentang komponen-komponen pendidikan
Islam, kita dapat merancang program-program pendidikan yang lebih efektif,
relevan, dan berdaya guna dalam memenuhi tuntutan zaman modern. Dengan
memperkuat aspek-aspek seperti pendidikan akademis, moral, spiritual, sosial, dan
praktis, kita dapat membentuk individu Muslim yang tidak hanya terampil dalam
ilmu pengetahuan, tetapi juga berakhlak mulia, beretika tinggi, dan mampu
berkontribusi secara positif pada masyarakat.
Makalah ini bertujuan untuk menjelajahi secara mendalam tentang komponen-
komponen pendidikan dalam Islam. Dengan menguraikan masing-masing
komponen secara terperinci, diharapkan kita dapat memahami peran serta interaksi
antara komponen-komponen tersebut dalam membentuk pendidikan Islam yang
komprehensif dan berdaya guna bagi masa depan umat Muslim.
METODOLOGI STUDI ISLAM 1
B. Rumusan Masalah
1. Apa hakikat pendidik dalam filsafat pendidikan islam?
2. Apa hakikat peserta didik dalam filsafat pendidikan islam?
3. Apa hakikat metode dalam filsafat pendidikan islam?
4. Apa hakikat lingkungan pendidikan dalam filsafat pendidikan islam?
5. Apa hakikat evaluasi dalam filsafat pendidikan islam?
C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui hakikat pendidik dalam filsafat pendidikan islam.
2. Untuk mengetahui hakikat peserta didik dalam filsafat pendidikan islam.
3. Untuk mengetahui hakikat metode dalam filsafat pendidikan islam.
4. Untuk mengetahui hakikat lingkungan pendidikan dalam filsafat pendidikan
islam.
5. Untuk mengetahui hakikat evaluasi dalam filsafat pendidikan islam.
METODOLOGI STUDI ISLAM 2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Pendidik dalam Filsafat Pendidikan Islam
Pengertian pendidik atau guru secara terbatas adalah sebagai satu sosok
individu yang berada di depan kelas. Dalam arti luas adalah seorang yang
mempunyai tugas tanggung jawab untuk mendidik peserta didik dalam
mengembangkan kepribadiannya, baik berlangsung di sekolah maupun di luar
sekolah, serta memiliki kewajiban untuk memberikan contoh yang baik bagi
mereka guru termasuk tenaga kependidikan khususnya tenaga pendidik yang
bertugas membimbing, mengajar dan melatih peserta didik. Dalam terminologi
pendidikan modern, para pendidik disebut orang yang memberikan pelajaran
kepada anak didik dengan memegang satu disiplin ilmu di sekolah. Secara
etimologi, dalam konteks pendidikan Islam pendidik disebut dengan ustadz,
mu‘allim, murabbi, mursyid dan mudarris. Kelima sebutan itu, ustadz, mu‘allim,
murabbi, mursyid dan mudarris, mempunyai makna yang berbeda sesuai dengan
konteks kalimat, walaupun dalam situasi tertentu mempunyai kesamaan makna.
Secara umum pendidik adalah orang yang memiliki tanggung jawab untuk
mendidik. Sementara secara khusus, pendidik dalam perspektif pendidikan islam
adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan
mengupayakan perkembangan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif,
kognitif, maupun psikomotorik sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama islam.1
Dalam al-Qur’an terdapat 4 yang dapat diartikan menjadi pendidik, yaitu
sebagai berikut:
1. Allah SWT (Sebagai Pendidik Utama)
Menurut Maragustam dalam bukunya yang berjudul
Filsafat Pendidikan Islam, dijelaskan bahwa Allah sebagai pendidik utama
karena Dia paling tahu tentang hakikat manusia, sesuai firman Allah dalam
Q.S Ar-Rahman ayat 1-4 yang artinya:“Tuhan yang Maha pemurah (1) yang
1
Azami, Yasin Syafii, et al. "Konsep Pendidik Dan Peserta Didik Dalam Filsafat Islam."
JIS: Journal Islamic Studies 1.3 (2023). Hal: 314-316.
METODOLOGI STUDI ISLAM 3
telah mengajarkan Al-Qur’an (2) menciptakan manusia (3)
mengajarkannya pandai berbicara (4)”. Selain itu terdapat juga dalam surat
Al-Baqarah ayat 31, yang artinya:
“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya,
kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman,
“Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!”
Berdasarkan ayat di atas, dapat dipahami bahwa Allah SWT sebagai
pendidik bagi manusia. Allah sebagai pendidik mengetahui segala
kebutuhan manusia yang dididiknya sebab Dia adalah Sang Pencipta.
Perhatian Allah tidak terbatas hanya terhadap manusia saja, tetapi
memperhatikan dan mendidik seluruh alam semesta.
Selain itu, dapat dilihat perbedaan dari aspek proses pengajaran. Allah
SWT memberikan bimbingan kepada manusia secara tidak langsung. Allah
SWT mendidik manusia melalui wahyu yang disampaikan dengan peraturan
malaikat jibril kepada Nabi Muhammad SAW, dan selanjutnya Nabi
membimbing umatnya dengan peraturan wahyu.
2. Nabi Muhammad
Kedudukan Rasulullah SAW sebagai pendidik ditunjuk langsung oleh
Allah SWT. Kedudukan Rasulullah sebagai pendidik ideal dapat dilihat
dalam dua hal, yaitu Rasulullah sebagai pendidik pertama
dalam pendidikan Islam dan keberhasilan yang dicapai Rasulullah dalam
melaksanakan pendidikan. Rasulullah berhasil mendidik manusia menjadi
manusia berkualitas baik lahir maupun batin. Keberhasilan Rosulullah
SAW sebagai pendidik merupakan kombinasi kekuatan antara kemampuan
kepribadian, wahyu dan aplikasi ilmu di lapangan. Ilmu-ilmu yang dimiliki
diajarkan kepada para sahabat, sebagai pendidik Rasulullah memiliki
kepribadian yang pantas dijadikan al-uswah al-hasanah bagi umat manusia.
3. Orang tua
Setelah anak lahir maka yang pertama kali dikenal adalah orangtuanya.
Peranan orangtua sangat dominan dalam mendidik anak. Dalam hadits
dikatakan “Setiap anak lahir atas dasar fitrah, ibu bapaknyalah yang
menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR. Bukhori Muslim).
METODOLOGI STUDI ISLAM 4
Pendidikan pertama dan utama adalah keluarga. Tugas mendidik
sebenarnya berada di pundak orangtua sebab dari merekalah proses
kelahiran anak terjadi, orangtua adalah pihak yang paling dekat dengan anak
dan paling berkepentingan terhadap anak-anaknya sehingga mereka diberi
amanah dan tanggungjawab untuk mengembangkan anak-anaknya. Setiap
orangtua memiliki tugas pendidikan. Setiap orangtua memiliki kepentingan
terhadap anak-anaknya, yaitu:
a) Anak sebagai generasi penerus keturunan,
b) Anak merupakan kebanggan dan belaian kasih orangtua dan
c) Doa anak merupakan investasi bagi orangtua setelah mereka wafat.
Orangtua adalah orang yang paling berjasa pada setiap anak semenjak
awal kelahirannya di muka bumi. Setiap anak melibatkan peran penting
orangtuanya, seperti peran pendidikan, walaupun kebanyakan orang tua
melimpahkan pendidikan anaknya kepada pihak ketiga yaitu guru
(pendidik).
4. Guru/ pendidik
Dalam beberapa literatur kependidikan, istilah pendidik sering diwakili
oleh istilah guru. Menurut Hadari Nawawi yang dikutip oleh Abuddin Nata,
Istilah guru adalah orang yang mengajar atau memberikan pelajaran di
kelas. Secara lebih khusus lagi, ia mengatakan bahwa guru berarti orang
yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut
bertanggungjawab dalam membantu anak-anak mencapai kedewasaan
masing-masing. Guru dalam pengertian tersebut menurutnya bukanlah
sekedar orang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan materi
pengetahuan tertentu, akan tetapi adalah anggota masyarakat yang harus
ikut aktif dan berjiwa bebas serta kreatif dalam mengarahkan perkembangan
anak didiknya untuk menjadi anggota masyarakat yang harus ikut aktif dan
berjiwa bebas serta kreatif dalam mengarahkan perkembangan anak
didiknya untuk menjadi anggota masyarakat sebagai orang [Link]
pengertian ini terkesan adanya tugas yang demikian berat, yang harus
dipikul oleh seorang pendidik khususnya guru. Tugas tersebut, selain
memberikan di depan kelas, juga membantu mendewasakan anak didik.
METODOLOGI STUDI ISLAM 5
Di dalam dunia pendidikan, pihak yang melakukan tugas-tugas
mendidik dikenal dengan dua predikat, yakni pendidik dan guru. Pendidik
(murabbi) adalah orang yang berperan mendidik subjek didik atau
melakukan tugas pendidikan (tarbiyah). Sedangkan guru adalah orang yang
melakukan tugas mengajar (ta’lim). Pendidikan mengandung makna
pembinaan kepribadian, memimpin, dan memelihara, sedangkan
pengajaran bermakna sekedar memberi tahu atau memberi pengetahuan.2
dalam konteks pendidikan Islam, sebagaimana yang dipaparkan di atas
bahwa guru disebut dengan istilah murabbi, yakni membantu peserta didik
agar mampu mengatur, memelihara, mengembangkan, memperbaiki, dan
meningkatkan dirinya dengan segala potensinya dan satuan sosial (dalam
kehidupan masyarakat) secara bertahap ke tingkat yang lebih tinggi dan
lebih baik. Mu’allim, yakni guru membantu peserta didik agar mampu
menangkap makna di balik yang tersurat, mengembangkan pengetahuan
serta menjelaskan fungsinya dalam kehidupan, baik secara teoretis maupun
praktis, atau melakukan transfer ilmu/pengetahuan, internalisasi, serta
amaliah (implementasi) secara terpadu. Adapun muaddib, guru berperan
menyiapkan peserta didik untuk bertanggung jawab dalam membangun
peradaban yang berkualitas di masa depan.
Adapun menurut Syaiful Bahri Djamarah bahwa banyak peranan yang
diperlukan dari seorang guru sebagai pendidik, yaitu:
a) Korektor, guru membedakan mana nilai yang baik dan nilai yang
buruk.
b) Inspirator, guru memberikan petunjuk bagi kemajuan belajar peserta
didik.
c) Informator, guru memberikan informasi perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, selain sejumlah bahan pelajaran untuk
setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum.
2
Maghfiroh, Lailatul. "Hakikat pendidik dan peserta didik dalam pendidikan islam." MIDA:
Jurnal Pendidikan Dasar Islam 2.2 (2019). Hal: 23-25.
METODOLOGI STUDI ISLAM 6
d) Organisator, guru mengelolah kegiatan akademik, menyusun tata
tertib sekolah, dan menyusun kalender akademik.
e) Motivator, guru mendorong peserta didik agar bergairah dan aktif
belajar.
f) Inisiator, guru menjadi pencetus ide-ide kemajuan
dalam pendidikan dan pengajaran.
g) Fasilitator, guru menyediakan fasilitator yang memungkinkan
kemudahan kegiatan belajar peserta didik.
h) Pembimbing, guru membimbing peserta didik menjadi manusia
dewasa susila yang cakap.
i) Demonstrator, guru membimbing dan memperagakan yang
diajarkan secara didaktis, sehingga yang diinginkan sejalan dengan
pemahaman peserta didik, tidak terjadi kesalahan pengertian antara
guru dan peserta didik.
j) Pengelola kelas, guru mengelola kelas dengan baik.
k) Mediator, guru memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup
tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya.
l) Supervisior, guru memiliki pengetahuan dan pemahaman yang
cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan
jenisnya.
m) Evaluator, guru menjadi evaluator yang baik dan jujur, dengan
memberikan penilaian yang menyentuh ekstrintik dan intrintik.
Sebagai seorangguru/ pendidik terlebih
guru Pendidikan Agama Islam yang masuk dalam ruang lingkup
filsafat pendidikan Islam sebagai pemegang jabatan professional membawa
misi ganda dalam kurun waktu yang bersaman, yaitu misi agama dan misi
pengetahuan. Misi agama menuntut guru untuk menyampaikan nilai-nilai
ajaran agama kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat
menjalankan kehidupan sesuai dengan norma-norma agama tersebut. Misi
METODOLOGI STUDI ISLAM 7
ilmu pengetahuan menuntut guru menyampaikan sesuai dengan
perkembangan zaman.3
B. Hakikat Peserta Didik dalam Filsafat Pendidikan Islam
Peserta didik salah satu komponen dalam sistem pendidikan Islam. Peserta
didik merupakan raw material (bahan mentah) di dalam proses transformasi yang
disebut pendidikan. Berbeda dengan komponen-komponen lain dalam
sistem pendidikan karena kita menerima “materiil” ini sudah setengah jadi,
sedangkan komponen-komponen lain dapat dirumuskan dan sesuai dengan keadaan
fasilitas dan kebutuhan yang ada. Peserta didik secara formal adalah orang yang
sedang berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik,
maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri seorang peserta
didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik. Pertumbuhan menyangkut fisik,
perkembangan menyangkut psikis.
Dalam bahasa Arab dikenal tiga istilah yang digunakan untuk menunjukkan
pada anak didik. Tiga istilah tersebut adalah murid yang secara harfiah adalah
berarti orang yang menginginkan atau membutuhkan sesuatu; tilmidz yang
jamaknya talmidz yang berarti murid, dan thalib al-ilmi yang menuntut ilmu,
pelajar, atau mahasiswa. Ketiga istilah tersebut seluruhnya mengacu kepada
seorang yang tengah menempuh pendidikan. Perbedaannya hanya terletak pada
penggunaannya. Pada sekolah yang tingkatannya rendah seperti sekolah dasar (SD)
digunakan istilah murid atau tilmidz sedangkan pada sekolah yang tingkatannya
lebih tinggi seperti SLTP, SLTA, dan perguruan tinggi digunakan istilah thalib al-
ilm.
Berdasarkan pengertian diatas dapat dipahami bahwa peserta didik adalah
seseorang memerlukan pengetahun atau ilmu, bimbingan, dan arahan dari pendidik.
Dalam pandangan islam ilmu berasal dari Allah. Sedangkan dalam proses
3
Amiruddin, Achmad, and Abdullah Muhammad. "Urgensi dalam Memahami Ruang
Lingkup Filsafat Pendidikan Islam." Al-urwatul wutsqa: Kajian Pendidikan Islam 2.1
(2022). Hal: 81-83.
METODOLOGI STUDI ISLAM 8
menerima ilmu adalah melalui proses transfer dari seorang guru. Karena hakikat
ilmu itu dari Allah swt maka sudah seharusnya peserta didik mendekatkan diri
kepada Allah swt melalui ilmu yang dipelajarinya. 4
Dalam perspektif falsafah pendidikan Islami, semua makhluk pada dasarnya
adalah peserta didik. Sebab, dalam Islam, sebagai murabbi, mu‘allim, atau
muaddib, Allah Swt pada hakikatnya adalah pendidik bagi seluruh makhluk
ciptaan-Nya. Dialah yang mencipta dan memelihara seluruh makhluk.
Pemeliharaan Allah Swt mencakup sekaligus kependidikan-Nya, baik dalam arti
tarbiyah, ta‘alim, maupun ta‘adib. Karenanya, dalam perspektif falsafah pendidikan
Islam, peserta didik itu mencakup seluruh makhluk Allah Swt, seperti malaikat, jin,
manusia, tumbuhan, hewan, dan sebagainya. Sebab, pada hakikatnya, semua
manusia adalah makhluk yang senantiasa berada dalam proses perkembangan
menuju kesempurnaan, atau suatu tingkatan yang dipandang sempurna, dan proses
itu berlangsung sepanjang hayat.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Rasyidin yang dikuti oleh Zainuddin
[Link] dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, setidaknya ada 3 istilah peserta
didik yang dapat dirangkum dalam esensi filsafat pendidikan Islam. Ketiga istilah
tersebut yaitu pertama, mengandung pengertian bahwa peserta didik dalam arti
mutarabbi manusia yang selalu memerlukan pendidikan, baik dalam arti
pengasuhan dan pemeliharaan fisik-biologis, penambahan pengetahuan dan
keterampilan, tuntunan dan pemeliharaan diri, serta pembimbingan jiwa.
Dengan demikian, mutarabbi mampu melaksanakan fungsi dan tugas
penciptaan Allah Swt. Tuhan maha pencipta, pemelihara dan pendidik bagi alam
semesta. Kedua, muta‘allim, peserta didik mempelajari semua al-asma‘al-husna
yang terdapat pada ayat-ayat kauniyah maupun quraniyah dalam rangka pencapaian
pengenalan, peneguhan dan aktualisasi syahadah primordial yang telah pernah ia
ikrarkan di hadapan Allah Swt. Kemampuan peserta didik merealisasikan terhadap
apa yang pernah ia nyatakan ini merupakan essensi dari peserta didik itu sendiri
4
Maghfiroh, Lailatul. "Hakikat pendidik dan peserta didik dalam pendidikan
islam." MIDA: Jurnal Pendidikan Dasar Islam 2.2 (2019). Hal:21-36.
METODOLOGI STUDI ISLAM 9
dalam filsafat pendidikan Islam. Ketiga, muta‘addib, merupakan proses
pendisiplinan adab ke dalam jism, dan ruhnya, sehingga akal, ruh dan hatinya
pendisiplinan adab melalui mua‘dib (pendidik). Esensinya dalam mutaadib dalam
pendisiplinan adab adalah ahklak, yaitu syariat yang menata hubungan komunikasi
antara manusia dengan dirinya sendiri, sesamanya dan mahkluk Allah lainnya
termasuk dalam semesta ini serta juga kepada sang pencipta dan pemelihara serta
pendidik alam semesta.5
C. Hakikat Metode dalam Filsafat Pendidikan Islam
Metode berasal dari bahasa latin, metodos yangartinya “jalan atau cara”.
Menurut Robert Ulich, istilah metode berasal dari bahasaYunani: meta ton odon,
yang artinya berlangsung menurut cara yang benar (to proceedaccording to the right
way). Dalam kamus besar bahasa Indonesia, metode adalah“cara kerja yang
bersistem untuk memudahkan pelaksanaan guna mencapai apa yang telah
ditentukan”. Dengan kata lain adalah suatu cara yang sistematis untuk mencapai
tujuan tertentu. Jika ditinjau dari segi terminologis (istilah), metode dapat dimaknai
sebagai “jalan yang ditempuh oleh seseorang supaya sampai pada tujuan tertentu,
baik dalam lingkungan atau perniagaan maupun dalam kaitan ilmu pengetahuan dan
lainya”merupakan suatu kegiatan membimbing, pengajaran atau latihan yang
dilakukan secara berencana dan sadar atas tujuan yang hendak dicapai. Jadi dapat
disimpulkan bahwa metode dalam pendidikan islam adalah cara yang digunakan
pendidik kepada siswa untuk membawa siswa untuk memahami pelajaran
pendidikan islam dalam pembelajaran agar mencapai tujuan yang hendak
dicapaiatau dituju yang bersumber dari ajaran agama islam.
Ada 4 macam asas-asas metode pendidikan dalam islam diantaranya adalah:
a. Asas Agama
Sebagai metode yang dinisbatkan kepada kata islam, maka landasan utama
yang menjadi patokan sudah bisa dipastikan, wajib mengacu pada tuntunan Al-
5
Azami, Yasin Syafii, et al. "Konsep Pendidik Dan Peserta Didik Dalam Filsafat
Islam." JIS: Journal Islamic Studies 1.3 (2023). Hal: 323-324.
METODOLOGI STUDI ISLAM 10
Qur’an. Sebagai sandaran primer, apapun yang berada dalam lingkup islam, harus
menyandarkan segala sesuatu pada Al-Qur’an, termasuk juga Metode Pendidikan
Islam. Cara-cara yang mesti dijalankan oleh pendidik dalam mengasuh siswanya
harus bernafaskan Al-Qur’an. Tidak lupa pendidik muslim harus mengarahkan
siswa untuk meresapi sunnah sunnah rasululloh, yakni hadits nabawi. Sebagai
pelengkap, penjelas, apabila tidak ditemukan dalam Al-Qur’an, pendidik muslim
harus menyandarkan upaya pencerdasan kepada Hadits nabawi. Karena hadits itu
terkaitdengan qauliah, fi’liyah dan taqririyah nabi. Jadi sangatlah relevan,
mendasarkanupaya mendidik sesuai dengan sunnah Nabi.
b. Asas Biologis
Manusia secara fitrah akan mengalami pertumbuhan fisik. Mereka akan
mengalami tahapan tahapan, dari bayi ningga tua dan mati. Secara normal,
tumbuhnya fisik seseorang, tentu saja akan diiringi dengan perkembangan dalam
sisi keilmuan.
c. Asas Psikologis
Transfer ilmu, memerlukan suasana hati dan pikiran yang jernih, supaya bisa
masuk dalam pikiran, serta merasuk ke dalam sanubari. Kondisi psikis siswa perlu
diperhatikan oleh pendidik. Sitausi emosi dalam diri guru ataupun siswa perlu
dicermati, Kondisi tubuh yang sehat, harus diiringi kondisi pikiran yang stabil.
Katikafisik sehat, tapi mental tidak stabil, maka akan gagal menerima pelajaran.
Demikian pula, ketika motivasi internal mendukung, tetapi fisik sakit, murid juga
akan mengalami gangguan dalam belajar.
d. Asas Sosiologis
Hakikatnya, manusia bersifat sosial. Komunitas dan campur tangan pihak lain,
tidak bisa dinafikan. Pendidikan minimal melibatkan siswa guru. Implikasinya
adalah terjadinya transformasi akibat reaksi relasi sosial. Murid semakin pandai
dalam segi segi yang mendapatkan sentuhan. Guru semakin lihai memberikan
arahan. Selain sentuhan dalam kelas, faktor luar yakni lingkungan kehidupan di luar
sekolah akan sangat mempengaruhi kepribadian seorang siswa.
METODOLOGI STUDI ISLAM 11
Karakteristik Metode Pendidikan Dalam Islam.:
1. Keseluruhan proses penerapan metode pendidikan Islam, melalui dari
pembentukannya, penggunaannya sampai pada pengembangannyaa tetap
didasarkan pada nilai-nilai asasi Islam sebagai ajaran universal.
2. Proses pembentukan, penerapan dan pengembangannyaa tetap tidak dapat
dipisahkan dengan konsep akhlakul karimah sebagai tujuan tertinggi dari
pendidikan Islam
3. Mode pendidikan Islam bersifat luwes dan fleksibel dalam artian senantiasa
membuka diri dan dapat menerima perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi
yang melingkupi proses kependidikan Islam tersebut, baik dari segi peserta didik,
pendidik, materi pelajaran dan lain-lain.
4. Metode pendidikan Islam berusaha sungguh-sungguh untu menyeimbangkan
antara teori dan praktek.
5. Metode pendidikan Islam dalam penerapannya menekankan kebebasan
peserta didik untuk berkreasi mengambil prakarsa dalam batas—batas kesopanan
dan al-akhlak al-karimah.
6. Dari segi pendidik, metode pendidikan Islam lebih menekankan nilai-nilai
keteladanan dan kebebasan pendidik dalam menggunakan serta mengkombinasikan
berbagi metode pendidikan yang ada dalam mencapai tujuan pengajarannya.
7. Metode pendidikan Islam dalam penerapannya berupanya menciptakan
situasi dan kondisi yang memungkinkan bagi terciptanya interaksi edukatif dan
efesien.
8. Metode pendidikan Islam merupakan usaha untuk memudahkan proses
pengajaran dalam mencapai tujuannya secara efektif dan efesien.6
6
Rambe, Khoirul Bariah, dkk. "Hakikat Metode Pendidikan Islam Dalam Presefektif
Filsafat Pendidikan Islam." Jurnal Bintang Pendidikan Indonesia 1.3 (2023). Hal: 110-
113.
METODOLOGI STUDI ISLAM 12
Adapun Menurut Abudin Nata Al-Qur‟an menawarkan berbagai metode
pendidikan Islam yaitu:
1. Metode teladan. Metode ini dianggap penting karena aspek agama yang
terpenting adalah akhlak yang termasuk dalam kawasan afektifyang terwujud dalam
bentuk tingkah laku.
2. Metode kisah-kisah. Kisah atau cerita sebagai suatu metode pendidikan
ternyata mempunyai daya tarik yang menyentuh [Link] menyadari sifat
alamiah manusia untuk menyenangi cerita itu,dan menyadari pengaruhnya yang
besar terhadap perasaan;
3. Metode nasehat. Menurut al-Qur‟an metode nasehat itu hanya diberikan
kepada mereka yang melanggar peraturan dan nasehat itu sasaranya adalah
timbulnya kesadaran pada orang yang diberi nasehat agar mau insaf melaksanakan
ketentuan hukum atau ajaran yang dibebankan kepadanya.
4. Metode pembiasaan. Metode pembiasaan ini digunakan untuk mengubah
seluruh sifat-sifat baik menjadi kebiasaan, sehingga jiwa dapat menunaikan
kebiasaan itu tanpa terlalu payah, tanpa kehilangan banyak tenaga dan tanpa
menemukan banyak kesulitan
5. Metode hukum dan ganjaran. Metode hukuman ini digunakan dalam
pendidikan Islam adalah sebagai sarana untuk memperbaiki tingkah laku manusia
yang melakukan pelanggaran dan dalam taraf sulit untuk dinasehati sementara
ganjaran itu diberikan sebagai hadiah atau penghargaan kepada orang yang
melakukan kebaikan atau ketaatan atau berprestasi yang baik.
6. Metode ceramah (khutbah). Metode ceramah termasuk cara yang paling
banyak digunakan dalam menyampaikan atau mengajak orang lain mengikuti
ajaran yang telah ditentukan.
7. Metode diskusi. Metode diskusi digunakan dalam pendidikan Islam adalah
untuk mendidik dan mengajar manusia dengan tujuan lebih memantapkan
pengertian dan sikap pengetahuan mereka terhadap sesuatu masalah.
METODOLOGI STUDI ISLAM 13
8. Metode lainya yaitu metode perintah dan larangan, metode pemberian
suasana, metode secara kelompok, metode intruksi, metode bimbinga ndan
penyuluhan, metode perumpamaan, metode taubat dan ampunan dan metode
penyajian.
Kemudian menurut Jauhari Muchtar “metode pendidikan Islam secara garis
besar terdiri dari lima yaitu Pertama metode keteladanan; Kedua metode
pembiasaan; Ketiga metode nasehat; Keempat metode memberi perhatian; Kelima
metode hukuman”. Dari bebrapa pendapat diatas dapat kita pahami bahwa banyak
sekalidan bermacam-macam metode pendidikan Islam yang telah Al-
qur‟antawarkan. Jadi seorang guru tinggal memilih dan menyasuaikan metode apa
yang akan dipakai saat mengajar dan guru harus bisa menyesuaikan metde-metode
tersebut dengan situasi dan kondisi yang ada, agar penyampaian materi pelajaran
dapat di tangkap dengan baik oleh peserta didik dan tujuan pembelajran dapat
tercapai.7
D. Hakikat Lingkungan Pendidikan dalam Filsafat Pendidikan Islam
Lingkungan pendidikan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang mencakup
iklim, geografis, adat istiadat, tempat tinggal atau istiadat dan lainnya yang dapat
memberikan penjelasan serta mempengaruhi tingkah laku, pertumbuhan,
perkembangan anak (peserta didik) untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Hubungan manusia dengan lingkungan, membuka peluang masuknya pengaruh
pendidikan. Semakin baik lingkungan pendidikan,semakin besar peluang peserta
menjadi berkarakter.
Ramayulis menegaskan lingkungan pendidikan Islam mempunyai peran
penting terhadap keberhasilan pendidikan Islam. Perkembangan jiwa anak itu
sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya. Lingkungan dapat memberikan
pengaruh positif dan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan
7
Mukhlis, Muhammad, dkk. “Metode Pembelajaran dalam Perspektif Pendidikan Islam
Dan Relevansinya Dengan Pembelajaran Di Era Revolusi Industri 4.0” . Dis. IAIN
CURUP, 2021. Hal: 26-28.
METODOLOGI STUDI ISLAM 14
jiwa anak. Positif apabila memberikan dorongan terhadap keberhasilan proses
pendidikan itu. Negatif apabila lingkungan menghambat keberhasilannya. Dengan
demikian pendidikan Islam dapat berjalan dengan baik manakala dipengaruhi oleh
berbagai macam lingkungan pendidikan yang positif dan dapat merubah pribadi dan
karakter anak menjadi lebih baik. Lingkungan pendidikan memiliki pengaruh
signifikan dalam proses pendidikan. Lingkungan itu berfungsi menunjang
terjadinya proses belajar mengajar secara berkelanjutan. Maka, agar proses belajar
mengajar menjadi baik, dibutuhkan lingkungan pendidikan yang baik. Jika proses
belajar mengajar yang dilakukan baik, maka pencapaian tujuan pendidikan untuk
membentuk peserta didik memiliki moralitas luhur pasti dapat diwujudkan. Tujuan
pendidikan semacam ini, selaras dengan ajaran Islam. Karena, pembawa ajaran
Islam, Muhammad saw. diutus Tuhan dalam rangka menyempurnakan moralitas
manusia.
Apabila merujuk pada teori yang dikemukan oleh Mahmud Yunus, lingkungan
pendidikan dapat dikategorikan dalam tiga bagian yaitu lingkungan keluarga,
sekolah dan lingkungan masyarakat. Ketiga memiliki keterkaitan danmerupakan
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam proses pendidikan Islam.
(i) Lingkungan Keluarga
Keluarga adalah lingkungan utama yang dapat membentuk watak dan karakter
manusia (anak). Dalam konteks pendidikan Islam, keluarga merupakan lembaga
pendidikan pertama. Karena dalam keluarga inilah dasar-dasar kepribadian anak
dibentuk. Baik dan buruk perilaku anak di masa-masa awal sangat ditentukan dari
pola pendidikan di keluarga. Perilaku dan sikap baik yang merupakan bagian dari
pendidikan akhlak dapat ditumbuhkan melalui pendidikan di dalam keluarga.
Pendidikan akhlak dalam lingkungan keluarga memiliki peran penting
menumbuhkan kepribadian anak menjadi baik. Menurut al-Ghazali, pendidikan
akhlak merupakan pendidikan awal yang patut diberikan keluarga, dalam hal ini
orangtua, kepada setiap anak-anaknya.16 Apabila pendidikan akhlak diberikan
dengan baik di dalam keluarga,maka hal ini dapat berdampak positif bagi
perkembangan kepribadiaan anak ketika dewasa. Semakin baik pendidikan akhlak
yang diberikan di dalamkeluarga, semakin baik pula kepribadian anak ketika
METODOLOGI STUDI ISLAM 15
dewasa. Peran penting pendidikan dalam lingkungan keluarga tentu berada
padaorangtua. Maka menjadi bagi setiap orangtua untuk memberikan
pendidikanyang baik kepada setiap anak-anaknya agar kelak mereka menjadi
manusiaberguna dan menjadi penghalang bagi orangtua terjerumus dalam
ُ اا ْٰٓ ُو ْق ُم َك
kehinaan(neraka): س ْفنَا ْ ُم ْك ِي ْل َهاَواًراَناَهُد ُْوقَّ ُوساَّنالُة َرا َ ِجحْ الَواَ ْه َيلَعةَ ِٕك ٰۤى َي ْن ِيذَّالا ُْونَم ٰٓ ا َ ُّه َيا
َ ٰٓٓ ي
الال ْم ُم َه َر َماَن ُْولَ ْعفَ َيواَ َمن ُْو َر ْمؤُي ْ ش َّلن ُْو
َ ص َع َّ “لَمظ َل َِِغدا َ ِدHai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari apineraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yangdiperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yangdiperintahkan”. (QS. at-Tahrim [66]: 6)Ayat di atas menjadi
pelajaran bagi para orangtua untuk membawakeluarga (anak-anaknya) menjauhkan
diri dari nereka. Untuk menghindari haltersebut, maka tujuan pendidikan dan
pembinaan keluarga harus didasarkanpada hal-hal sebagai berikut;23 Pertama,
mengakkan hukum-hukum Allah [Link] hukum-hukum Allah swt.
berarti merealisasikan bentuk ajaranagama dalam keluarga. Artinya, kedua
orangtua dituntut mengaplikasikan ibadah kepada Allah swt. dan mengajarkannya
kepada anak, sebagai upayaperealisasian tujuan akhir pendidikan Islam.
Selain pendidikan keluarga, sekolah/madrasah pun masuk dalamlingkungan
pendidikan Islam. Dalam pendidikan Islam sekolah lebihdiidentikkan dengan
madrasah. Namun dalam al-Qur’an tidak ada satu punkata yang menunjukkan pada
arti sekolah. Tetapi akar kata madrasah (darasa)disebutkan sebanyak 6 kali dalam
al-Qur’an. Kata-kata darasa tersebutmengandung pengertian yang bermacam-
macam, di antaranya berartimempelajari Taurat (QS. al-‘Araf [7]: 169); perintah
agar mereka (ahli kitab)menyembah Allah lantaran mereka telah membaca al-Kitab
(QS. Ali Imran [3]:79); pertanyaan kepada kaum Yahudi apakah mereka memiliki
kitab yang dapatdipelajari (QS. al-Qolam [68]: 37); informasi bahwa Allah tidak
pernahmemberikan kepada mereka suatu kitab yang mereka pelajari (baca) (QS.
Saba[34]: 44); mempelajari sesuatu (QS. Al-An’aam [6]: 105); dan berisi
informasibahwa al-Quran ditujukan sebagai bacaan untuk semua orang (QS. Al-
An’aam[6]: 156).32Sekolah merupakan pendidikan formal untuk mengajar anak-
anakdengan aturan-aturan atau undang-undang yang mesti ditaati oleh pendidikdan
anak didik.33Pendidikan sekolah tidak hanya diperuntukan untukmengembangkan
METODOLOGI STUDI ISLAM 16
kemampuan manusia melakukan sesuatu menurut cara-carayang baik, tetapi juga
mengembangkan kemampuan mereka untuk melakukanhal-hal yang baik.
Pendidikan sekolah akan berjalan dengan baik apabilaprogram pendidikan
disesuaikan dengan kemampuan anak didik dan dengankehidupan sosial
masyarakat yang ada di sekitar. Salah satu elemen penting dalam lingkungan
pendidikan sekolah adalahpendidik atau guru. Melalui tangan-tangan merekalah
dapat lahir generasipenerus bangsa yang baik. Untuk melahirkan peserta didik yang
memilikikarakter baik atau karakter luhur, seorang guru patut mencurahkan
segalaperhatian dan kemampuan yang dimiliki olehnya. Di sisi lain, seorang
gurumesti menjadikan profesinya sebagai sarana ibadah kepada Allah
swt.,sehingga muncul keikhlashan dalam dirinya untuk mendidik dan
memberikanbimbingan kepada siswa-siswinya secara totalitas.
Selain lingkungan keluarga dan sekolah, lingkungan masyarakat
punmempunyai peranan penting dan tanggung jawab dalam
keberhasilanpendidikan. Masyarakat dapat diartikan sebagai sekumpulan orang
yangmenempati suatu daerah diikat oleh pengalaman yang sama dan hidup
sesuaidengan tradisi dan adat yang telah disepakati bersama.35Dalam masyarakat
seseorang diajarkan untuk bersikap dan berperilakusesuai dengan norma yang
berlaku. Norma ini dapat dijadikan sebagai tempatbelajar pada setiap orang, baik
oleh orang dewasa, khususnya bagi [Link] di masyarakat adat dan tradisi
yang dibangun adalah baik, maka hal itupasti memiliki pengaruh signifikan dalam
memberikan pembelajaran kepadaanak. Misalnya, perilaku untuk berlaku sopan,
menghormati dan menghargai,toleransi dan berbagai perilaku baik lainnya.8
E. Hakikat Evaluasi dalam Filsafat Pendidikan Islam
Secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation; dalam
bahasa Arab: al-Taqdir; dalam bahasa Indonesia berarti: penilaian. Akarkatanya
adalah value; dalam bahasa Arab: al-Qiimah; dalam bahasa Indonesia berarti; nilai.
Dengan demikian secara harfiyah, evaluasi pendidikan (educational evaluation =
8
Saeful, Achmad. "Lingkungan Pendidikan dalam Islam." Tarbawi: Jurnal Pemikiran
Dan Pendidikan Islam 4.1 (2021). Hal: 53-63
METODOLOGI STUDI ISLAM 17
al-Taqdir al-Tarbawiy dapat diartikan sebagai:penilaian dalam (bidang) pendidikan
atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan.
Adapun dari segi istilah, sebagaimana dikemukakan oleh Edwin Wandt dan Gerald
W. Brown (1977): evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk
menentukan nilai dari sesuatu.
Evaluasi dalam pendidikan Islam merupakan cara atau teknik penilaian
terhadap tingkah laku anak didik berdasarkan standar perhitungan yang bersifat
konfrehensif dari seluruh aspek-aspek kehidupan mental-psikologis dan spritual-
religius, karena manusia bukan saja sosok pribadi yang tidak hanya bersikap
religius, melaiankan juga berilmu dan berketerampilan yang sanggup beramal dan
berbakti kepada Tuhan dan masyarakat. Evaluasi pendidikan diartikan pula dengan
penilaian pendidikan, yakni kegiatan menilai yang terjadi dalam aktivitas
pendidikan. Evaluasi itu semacam pengukuran karena dalam evaluasi digunakan
alat ukur tertentu,misalnya alat ukur untuk mengevaluasi keberhasilan anak didik
dalam mata pelajaran bahasa Inggris bidang percakapan adalah dengan alat ukur tes
lisan, yakni semua anak didik diuji keterampilan percakapannya oleh pendidik satu-
persatu atau pendidik mendengarkan percakapan yang dilakukan diantara
muridnya. Berdasarkan berbagai uraian di atas, maka secara sederhana evaluasi
pendidikan Islam dapat diberi batasan sebagai suatu kegiatan untuk menentukan
taraf kemajuan suatu pekerjaan dalam proses pendidikan Islam. Dalam ruang
lingkup terbatas, evaluasi dilakukan adalah dalam rangka mengetahui tingkat
keberhasilan pendidikan dalam menyampaikan materi pendidikan Islam kepada
peserta didik. Sedangkan dalam ruang lingkup yang luas, evaluasi dilakukan untuk
mengetahui tingakat keberhasilan dan kelemahan suatu proses pendidikan Islam
(dengan seluruh komponen yang terlibat didalamnya) dalam mencapai tujuan
pendidikan yang di cita-citakan.
Prinsip-Prinsip Evaluasi dalam Pendidikan Islam Evaluasi hasil belajar dapat
dikatakan terlaksana dengan baik apabila dalam pelaksanaannya senantiasa
berpeganga pada tiga prinsip dasar berikut ini: (1) prinsip keseluruhan, (2) prinsip
kesinambungan, dan (3) prinsipobyektivitas. Prinsip Menyeluruh (komprehensif)
Prinsip keseluruhan atau menyeluruh juga dikenal dengan istilah komprehensip.
METODOLOGI STUDI ISLAM 18
Dengan prinsip komprehensip dimaksudkan di sini bahwa evaluasi hasil belajar
dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila evaluasi hasil belajar tersebut
dilaksanakan secara bulat, utuh atau menyeluruh. Harus senantiasa diinngat bahwa
evaluasi hasil belajar itu tidak boleh dilakukan secara terpisah-pisah atau sepotong
demi sepotong, melainkan harus dilaksanakan secara utuh dan menyeluruh. Dengan
kata lain, evaluasi hasil belajar harus dapat mencakup berbagai aspek yang dapat
menggambarkan perkembangan atau perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri
peserta didik sebagai makhluk hidup dan bukan benda mati. Dalam hubungan ini,
evaluasi hasil belajar disamping dapat mengungkap aspek proses berpikir
(cognitive domain) juga dapat mengungkap aspek kejiwaanlainnya, yaitu aspek
nilai atau sikap (affektive domain) dan aspek keterampilan (psycomotor domain)
yang melekat pada diri masing-masing individu peserta didik.
Maka dari itu jika dikaitkan dengan proses pembelajaran pendidikan agama
Islam, maka evaluasi hasil belajar dalam mata pelajaran pendidikan agama Islam
itu hendaknya bukan hanya mengungkapkan pemahaman peserta didik terhadap
ajaran-ajaran agam Islam, melainakan juga harus dapat mengungkap: sudah sejauh
mana peserta didik dapat menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam
tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari. Prinsip yang melihat semua aspek,
meliputi kepribadian ketajaman hafalan, pemahaman ketulusan, kerajinan, sikap
kerjasama, tanggung jawab (Q.S. Al-Zalzalah: 7-8).2.
Prinsip Kesinambungan (kontinuitas)Prinsip kesinambungan dimaksudkan di
sini bahwa evaluasi hasil belajar yang baik adalah hasil belajar yang dilaksanakan
secara teratur dan sambung-menyambung dari waktu ke waktu. Dengan evaluasi
hasil belajar yang dilaksanakan secara teratur, terencana dan terjadwal itu maka
dimungkinkan bagi evaluator untuk memperoleh informasi yang dapat memberikan
gambaran mengenai kemajuan atau perkembangan peserta didik, sejak dari awal
mula mengikuti program pendidikan sampai pada saat-saat mereka mengakhiri
program pendidikan yang mereka tempuh itu. Dengan demikian evaluasi hasil
belajar yang dilaksanakan secara berkesinambungan agar pihak evaluator (guru,
dosen dan lain-lain) dapat memperoleh kepastian dan kemantapan dalam
menentukan langkah-langkah atau merumuskan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang
METODOLOGI STUDI ISLAM 19
perlu diambil untuk masa-masa selanjutnya, agar tujuan pengajaran sebagaimana
yang telah dirumuskan dapat dicapai sebaik-baiknya. Dalam ajaran Islam, sangat
memperhatikan prinsip kontinuitas, karena dengan berpegang pada prinsip ini,
keputusan yang diambil oleh seseorang menjadi valid dan stabil ([Link]-Ahqaaf :
13-14).3.
Prinsip Objektivitas, Prinsip obyektivitas mengandung makna, bahwa evaluasi
hasil belajar dapat dinyatakan sebagai evaluasi yang baik apabila dapat terlepas dari
faktor-faktor yang sifatnya obyektif. Selanjutnya, dalam mengevaluasi haruslah
berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tidak boleh dipengaharui oleh hal-hal
yang bersifat emosional dan irasional. Allah SWT memerintahkan agar seseorang
berlaku adil dalam mengevaluasi. Jangan karena kebencian menjadikan
ketidakobjektifan evaluasi yang dilakukan. Nabi SAW pernah bersabda:
“Andaikata Fatimah binti Muhammad itu mencuri, niscaya aku tidak segan-segan
untuk memotong kedua tangannya”. Demikian pula halnya dengan Umar bin
Khottob yang mencambuk anaknya karena ia berbuat zina. Prinsip ini dapat
ditetapkan bila penyelenggaraan pendidikan mempunyai sifat sidiq,jujur, ikhlas,
ta’awun, ramah, dan lainnya.
Tujuan Evaluasi dalam pendidikan Islam Pendidikan Islam secara rasional-
filosofis adalah bertujuan untuk membentuk al-insan al-kamil atau manusia
paripurna. Beranjak dari konsep ini, pendidikan Islam hendaknya diarahkan pada
dua dimensi, yaitu: Pertama, dimensi dialektikal horizontal. Kedua, dimensi
ketundukan vertikal. Pada dimensi, dialektikal horizontal pendidikan hendaknya
dapat mengembangkan pemahaman tentang kehidupan kongkrit yang terkait
dengan diri, sesama manusia dan alam semesta. Untuk itu akumulasi sebagai
pengetahuan, keterampilan dan sikap mental merupakan bekal utama dalam
hubungannya dengan pemahaman tentang kehidupan kongkrit [Link]
pada dimensi kedua, pendidikan sains dan teknologi, selain menjadi alat untuk
memanfaatkan, memelihara dan melestarikan sumber dayaalami, juga hendaknya
menjadi jembatan dalam mencapai hubungan yang abadi dengan sang Pencipta,
Allah SWT. Untuk itu pelaksanaan ibadah dalam arti seluas-luasnya, adalah
merupakan sarana yang dapat menghantarkan manusia ke arah ketundukan vertikal
METODOLOGI STUDI ISLAM 20
(tegak lurus) kepada Allah SWT. Secara khusus, tujuan pelaksanaan evaluasi dalam
pendidikan Islam adalah untuk mengetahui kadar kepemilikan dan pemahaman
peserta didik terhadap materi pelajaran, baik dalam aspek kognitif, psikomotorik,
maupun afektif. Sebagai tindak lanjut dari tujuan ini adalah untuk mengetahui siapa
diantara peserta didik yang cerdas dan lemah. Impliksasi dari konsep ini adalah
adanya pemilahan perhatian terhadap peserta didik, antara yang lemah diberi
perhatian khusus agar ia dapat mengejar dan memenuhi kekurangannya, sedangkan
kepada yang cerdas diberi penghayatan agar ia terus meningkatkan kemampuannya
ke arah yang lebih baik lagi. Kemudian tujuan evaluasi dalam pendidikan Islam
adalah untuk menilai pendidik, yaitu sejauh mana ia telah bersunguh-sungguh
dalam menjalankan tugasnya untuk mencapai tujuan pendidikan Islam.9
9
Syarnubi, Syarnubi. "Hakikat Evaluasi dalam Pendidikan Islam." Jurnal PAI Raden
Fatah 5.2 (2023). Hal: 470-474.
METODOLOGI STUDI ISLAM 21
BAB III
PENUTUP
A Kesimpulan
Pengertian pendidik atau guru secara terbatas adalah sebagai satu sosok
individu yang berada di depan kelas. Dalam arti luas adalah seorang yang
mempunyai tugas tanggung jawab untuk mendidik peserta didik dalam
mengembangkan kepribadiannya. Peserta didik secara formal adalah orang yang
sedang berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik,
maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri seorang peserta
didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik. Dalam kamus besar bahasa
Indonesia, metode adalah“cara kerja yang bersistem untuk memudahkan
pelaksanaan guna mencapai apa yang telah ditentukan”. Dengan kata lain adalah
suatu cara yang sistematis untuk mencapai tujuan tertentu.
Lingkungan pendidikan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang mencakup
iklim, geografis, adat istiadat, tempat tinggal atau istiadat dan lainnya yang dapat
memberikan penjelasan serta mempengaruhi tingkah laku, pertumbuhan,
perkembangan anak (peserta didik) untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Hubungan manusia dengan lingkungan, membuka peluang masuknya pengaruh
pendidikan. Semakin baik lingkungan pendidikan,semakin besar peluang peserta
menjadi berkarakter. Secara harfiyah, evaluasi pendidikan (educational evaluation
= al-Taqdir al-Tarbawiy dapat diartikan sebagai:penilaian dalam (bidang)
pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan
pendidikan. Adapun dari segi istilah, sebagaimana dikemukakan oleh Edwin Wandt
dan Gerald W. Brown (1977): evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses
untuk menentukan nilai dari sesuatu.
B. Saran
Demikiannlah pokok bahasan yang dapat kami jelaskan, besar harapan kami
makalah ini sangat bermanfaat untuk kalangan banyak. Karena keterbatasan
pengetahuan dan referensi, penulis menyadari makalah ini sangat jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan.
METODOLOGI STUDI ISLAM 22
DAFTAR PUSTAKA
Azami, Yasin Syafii, et al. "Konsep Pendidik Dan Peserta Didik Dalam Filsafat
Islam." JIS: Journal Islamic Studies 1.3 (2023).
Maghfiroh, Lailatul. "Hakikat pendidik dan peserta didik dalam pendidikan
islam." MIDA: Jurnal Pendidikan Dasar Islam 2.2 (2019).
Amiruddin, Achmad, and Abdullah Muhammad. "Urgensi dalam Memahami
Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam." Al-urwatul wutsqa: Kajian
Pendidikan Islam 2.1 (2022).
Azami, Yasin Syafii, et al. "Konsep Pendidik Dan Peserta Didik Dalam Filsafat
Islam." JIS: Journal Islamic Studies 1.3 (2023).
Rambe, Khoirul Bariah, dkk. "Hakikat Metode Pendidikan Islam Dalam
Presefektif Filsafat Pendidikan Islam." Jurnal Bintang Pendidikan
Indonesia 1.3 (2023).
Mukhlis, Muhammad, dkk. “Metode Pembelajaran dalam Perspektif
Pendidikan Islam Dan Relevansinya Dengan Pembelajaran Di Era
Revolusi Industri 4.0” . Dis. IAIN CURUP, 2021.
Saeful, Achmad. "Lingkungan Pendidikan dalam Islam." Tarbawi: Jurnal
Pemikiran Dan Pendidikan Islam 4.1 (2021).
Syarnubi, Syarnubi. "Hakikat Evaluasi dalam Pendidikan Islam." Jurnal PAI
Raden Fatah 5.2 (2023).
METODOLOGI STUDI ISLAM 23