Asuhan Keperawatan DM Juvenil Tipe 1

0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan25 halaman

Diunggah oleh

Ermaa Wahyuastuti
Lisensi
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

“ASKEP ANAK DENGAN GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN: DM JUVENIL


(DM TIPE 1)”

Dosen pengampu:
NS. Lintang Sari, M. Kep
Disusun oleh kelompok 2:
1. Ega Rahmawati (821221024)
2. Erma Wahyu Astuti (821221027)
3. Irgi Alfarizi (821221041)
4. Irvan Eka Permana (821221042)
5. Melanie Putri Anggraini (821221057)
6. Mulyani (821221067)
7. Saimah (821221090)
8. Susi Andriani (821221100)
9. Tiara Septi Puspita (821221105)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM
PONTIANAK
2024/2025
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Allhamdulillahhirobbilaalamin, puji syukur selalu kami panjatkan
kepada Allah SWT. Karena berkat rahmat dan bimbingannya, kami dapat menyelesaikan
makalah keperawatan anak sakit kronis dan terminal yang berjudul “Askep anak dengan
gangguan endokrin: DM juvenil (DM tipe 1)” yang bertujuan untuk pembelajaran serta
memenuhi tugas kuliah. Dalam kesempatan ini, tidak lupa pula kami mengucapkan terima kasih
yang sebesar- besarnya kepada :
1. Ns. Lintang sari, M .Kep selaku dosen mata kuliah keperawatan anak sakit kronis dan
terminal.
2. Kepada teman-teman yang selalu mendukung dan membantu dalam pembuatan makalah ini
sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.
3. Kepada orang tua kami,selalu [Link] menyusun makalah ini bertujuan untuk
[Link] menyadari masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan dalam
penulisan makalah ini. saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat diharapkan guna
perbaikan diwaktu yang akan datang.

Tim Penyusun

Kelompok 2

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................................................1
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................................3
A. Latar belakang......................................................................................................................3
B. Rumusan Masalah.................................................................................................................4
C. Tujuan...................................................................................................................................4
BAB II TINJAUAN TEORI............................................................................................................5
A. Konsep Dasar Penyakit Dm Juvenil Tipe 1.........................................................................5
1. Definisi..............................................................................................................................5
2. Etiologi..............................................................................................................................6
3. Patofisiologi......................................................................................................................6
4. Tanda dan Gejala..............................................................................................................7
5. Manifestasi klinis..............................................................................................................8
6. Komplikasi DM Tipe-1.....................................................................................................9
7. Penatalaksanaan................................................................................................................9
8. pemeriksaan penunjang...................................................................................................12
B. Konsep Asuhan Keperawatan.............................................................................................14
BAB III PENUTUP.......................................................................................................................22
A. Kesimpulan.........................................................................................................................22
B. Saran...................................................................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................23

2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Penyakit kronis adalah penyakit yang berlangsung selama >3 bulan. Penyakit kronis
dapat berlangsung selama berbulan-bulan, bertahun- tahun, atau seumur hidup, dan
membutuhkan pengobatan dan perawatan. Menurut Central for Disease Control Prevention
bahwa penyaki kronis adalah penyakit dengan perjalanan klinis panjang. tidak dapat sembuh
secara spontan dan jarang terjadi penyembuhan yang sempurna. Penyakit kronis yang sering
terjadi pada anak, diantaranya penyakit kardiovaskuler, penyakit kanker dan hematologi,
penyakit kronis pada pernafasan, gangguan endokrin. gangguan imunologi, penyakit gagal
ginjal, penyakit kulit, dan anak berkebutuhan khusus (Rasmita et al., 2024).
Sekitar 10-15% anak-anak di seluruh dunia menderita penyakit kronis. Prevalensi
penyakit kronik pada anak, di beberapa negara maju cenderung meningkat. Data statistik
menunjukkan bahwa setidaknya terdapat satu dari sepuluh (1:10) anak usia dibawah 15
tahun mengalami sakit kronis. Studi epidemiologis lainnya memperkirakan bahwa satu
pertiga (1/3) anak dibawah usia 18 tahun mengalami satu atau lebih kondisi atau penyakit
kronis (Rasmita et al., 2024).
World Diabetes Foundation menyarankan untuk mencurigai diabetes jika ada anakdengan
gejala klinis khas, yaitu 3P ( pilifagi, polidipsi dan poliuri ) dan kadar gula darah(GD) tinggi,
di atas 200 mg/dl. GD yang tinggi menyebabkan molekul gula terdapat di dalamair kencing,
yang normalnya tak mengandung gula, sehingga sejak dulu disebut penyakitkencing manis.
Keadaan ideal yang ingin dicapai penderita DM tipe 1 ialah dalam
keadaanasimtomatik, aktif, sehat, seimbang, dan dapat berpartisipasi dalam semua kegiatan
sosialyang diinginkannya serta mampu menghilangkan rasa takut terhadap terjadinya
[Link]-sasaran ini dapat dicapai oleh penyandang DM maupun keluarganya
jika merekamemahami penyakitnya dan prinsip-prinsip penatalaksanaan diabetes.
Berhubungan denganhal tersebut diatas kami tertarik untuk membuat asuhan
keperawatan pada anak dengangangguan sistem endokrin : Diabetes Melitus dengan
metode masalah yang sistematis melaluiproses keperawatan.

3
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep medis pada Diabetes Melitus Juvenile?
2. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada anak dengan Diabetes Melitus Juvenile?
C. Tujuan
1. Tujuan umum
Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan pada anak dengan gangguan sistem
endokrin DM juvenil tipe 1
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep dasar dm juvenil DM tipe 1
b. Mahasiswa mampu menjelaskan asuhan keperawatan pada anak dengan gangguan
sistem endokrin DM juvenil tipe 1
c. Mahasiswa mampu mengaplikasikan asuhan keperawatan pada anak dengan
gangguan sistem endokrin DM juvenil tipe 1

4
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar Penyakit Dm Juvenil Tipe 1
1. Definisi
Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit yang menyerang sistem endokrin dan
bersifat kronis. Penyakit ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, namun juga pada
anak-anak. Diabetes mellitus yang sering terjadi pada anak-anak disebut juga dengan
DM juvenil atau DM tipe-1. DM juvenil merupakan kondisi dimana kadar gula darah
dalam tubuh mengalami peningkatan lebih dari batas normal yang disebabkan karena
pankreas tidak bisa memproduksi insulin atau produksi insulin mengalami gangguan
(Sriyanah & Efendi, 2023).
DM juvenil atau DM tipe-1 merupakan kelainan sistemik yang disebabkan karena
adanya gangguan metabolisme glukosa yang bermasalah akibat kerusakan sel ẞ
pankreas. Kerusakan ini mengakibatkan produksi insulin yang berkurang hingga
berhenti. Gangguan ini berdampak pada metabolism karbohidrat, lemak, dan protein
karena rendahnya sekresi insulin. Respon tubuh untuk mempertahankan diri yaitu
dengan cara pemberian insulin dari luar tubuh (Pulungan, Annisa, & Imada, 2019).
Diabetes melitus tipe-1 merupakan suatu penyakit auto-imun, dimana tubuh akan
menyerang jaringan atau organnya sendiri. Kondisi dimana sel-sel pankreas mengalami
kerusakan dan tidak dapat memproduksi insulin. Lebih dari 10% orang yang
terdiagnosis DM tipe-1 ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda. Orang yang
menderita diabetes tipe-1 harus mendapatkan terapi insulin setiap hari atau disebut juga
dengan Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) (Agustanti et al., 2023)
DM juvenile merupakan gangguan auto-imun pada anak yang mengalami kerusakan
sel ẞ pankreas sebagai tempat produksi insulin. Metabolisme glukosa yang bermasalah
akan berakibat pada peningkatan kadar gula dalam tubuh atau disebut dengan
hiperglikemi. Sehingga anak dengan DM juvenil harus mendapatkan terapi insulin dar i
luar tubuhnya.

5
2. Etiologi
Para ahli belum menemukan penyebab DM juvenil secara pasti, namun diduga
faktor genetik menjadi pemengaruh utama diabetes pada anak. Selain itu, infeksi virus
atau reaksi auto-imun juga diduga menjadi faktor penyebabnya. Pada kondisi normal,
makanan yang diproses akan melalui metabolism glukosa, pankreas melakukan
tugasnya sebagai penghasil inslun dan mengantarkan glukosa ke sel tubuh yang diubah
menjadi sumber energi (Delianti et al., 2023).
Menurut Sriyanah & Efendi (2023) faktor yang menyebabkan diabetes tipe-1
yaitu:
a) Faktor genetik Anak dengan orang tua yang mengalami diabetes, memiliki
predisposisi atau kecenderungan warisan genetik terhadap kejadian DM tipe-1.
Kecenderungan ini terutama ditemukan pada anak yang memiliki tipe antigen HLA
(Human Leucosite Antigen).
b) Faktor-faktor imunologi
Adanya respons abnormal antibody pada tubuh dengan cara bereaksi terhadap
jaringan yang dianggap sebagai jaringan asing. Auto-antibody terhadap sel-sel
pulau langerhans dan insulin endogen ini disebut dengan respon auto-imun.
c) Faktor Lingkungan Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses auto-imun yang
menimbulkan destruksi sel ẞ.
3. Patofisiologi
Pankreas merupakan organ yang bertugas menjaga kadar gula darah dalam batas
normal. Ketika seseorang sesudah makan mengalami peningkatan kadar gula darah,
secara otomatis sel ẞ pankreas akan menghasilkan insulin. Insulin inilah yang akan
menurunkan kadar gula darah dengan cara mendistribusikan gula masuk ke dalam sel-
sel, yang kemudian akan diolah lebih lanjut menjadi energi.
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya DM yaitu adanya faktor
genetik, infeksi virus, dan perusakan imunologik yang merusak sel ẞ pankreas.
Sehingga mempengaruhi pankreas dalam memproduksi insulin guna penghasil
memecah gula dalam darah. Kondisi ini menyebabkan gula dalam darah tidak dapat

6
dibawa masuk dalam sel, berdapak pada penumpukan gula dalam darah atau yang sering
disebut dengan hiperglikemia.
Hiperglikemi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya syok
hiperglikemi yang bisa berdampak pada terjadinya koma diabetik. Jumlah gula dalam
darah yang terlalu berlebihan melebihi ambang batas juga dapat menekan ginjal
menghasilkan glukosuria dan terjadinya dieresis osmotik. Kondisi ini menimbulkan
peningkatan pengeluaran urin dalam tubuh atau yang sering disebut poliuri dan
menyebabkan terjadinya retensi urin.
Glukosuria juga dapat menyebakan tubuh kehilangan kalori sebagai bahan
metabolisme. Kurangnya sel bahan metabolisme akan merangsang hipotalamus
memberi singal pusat rasa lapar dan haus untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh.
Seseorang akan cenderung merasa lapar secara terus menerus (polidipsi) dan merasa
selalu haus (polifagi). Proses metabolisme yang kekurangan bahan menyebabkan
protein dan lemak akan terbakar. Sehingga berat badan akan menurun karena nutrisi
tidak terserap dengan baik. Seseorang yang kekurangan energi dalam tubuh akan merasa
letih.
Selain terjadinya kadar gula yang tinggi dalam darah, pada pasien DM juga akan
mengalami anabolisme protein yang menurun. Dimana kondisi ini akan memperburuk
antibody penderitanya. Saat kekebalan tubuh menurun, seseorang memiliki
kecenderungan mengalami risiko infeksi karena tubuh tidak mampu mempertahankan
serangan patogen dari luar. Selain itu, juga berisiko pada terjadinya neuropati sensori
perifer. Kondisi ini menyebabkan seseorang tidak merasakan sensasi sakit pada bagian
tertentu. Jika terjadi perlukaan yang tidak dirasa seperti nekrosis luka, akan muncul
gangren. Adanya perlukaan memunculkan masalah keperawatan berupa kerusakan
integritas kulit.(Ns. Ni Luh Kompyang Sulisnadewi et al., 2024).
4. Tanda dan Gejala
Manifestasi klinis yang muncul pada penderita DM tipe 1 yaitu berupan poliuria
(air kencing keluar banyak) dan polydipsia (rasa haus yang berlebih) yang disebabkan
karena osmolalitas serum yang tinggi akibat kadar glukosa serum yang meningkat.
Penderita DM tipe 1 juga akan mengalamai anoreksia dan polifagia (rasa lapar yang

7
berlebih) yang terjadi karena glukosuria yang menyebabkan keseimbangan kalori
negatif. Penderita DM tipe 1 akan mengalami keletihan (rasa cepat lelah) dan
kelemahan yang disebabkan penggunaan glukosa oleh sel menurun. Pada kulit pasien
DM tipe 1 akan mengalami kering, lesi kulit atau luka yang lambat sembuhnya, dan rasa
gatal pada kulit. Sakit kepala, mengantuk, dan gangguan pada aktivitas disebabkan oleh
kadar glukosa intrasel yang rendah, kram pada otot, iritabilitas, serta emosi yang labil
akibat ketidak seimbangan elektrolit merupakan. Gangguan penglihatan seperti
pemandangan kabur yang disebabkan karena pembengkakan akibat glukosa dan sensasi
kesemutan atau kebas di tangan dan kaki yang disebabkan kerusakan jaringan saraf juga
sering di alami oleh penderita DM tipe Gangguan rasa nyaman dan nyeri pada abdomen
pada penderita DM tipe 1 disebabkan karena neuropati otonom yang akan menimbulkan
konstipasi (Marzel, 2020).
Anak-anak di Indonesia yang menderita penyakit diabetes mellitus kebanyakan
jenis DM Tipe 1 (Skyler JS, 2017). Gejala DM Tipe 1 pada anak sama dengan gejala
pada orang dewasa ialah polifagia, polidipsia, poliuria dan nokturia, penurunan berat
badan. Gejala lain DM Tipe 1 pada anak dan orang dewasa seperti lemas, pandangan
kabur, luka tidak mudah sembuh, kesemutan (UKK, 2017). Gejala klinis DM Tipe 1
umumnya timbul setelah kerusakan sel pankreas telah mencapai ≥ 90% (Nurvita, 2023).
5. Manifestasi klinis
Penderita DM tipe-1 akan muncul tanda dan gejala sebagai berikut (Nour
Sriyanah & Dr. Suradi Efendi, 2023) :
a. Poliuri (peningkatan produksi urin); ginjal akan berusaha membuang air di dalam
tubuh untuk mengencerkan kadar glukosa yang hilang. Jumlah air kemih yang
berlebihan akan menyebabkan seseorang berkemih secara terus menerus.
b. Polidipsi (rasa haus meningkat), banyaknya urin yang, tubuh akan mengalami
dehidrasi atau kekurangan cairan. Sehingga tubuh akan merangsang rasa haus.
c. Polifagi (nafsu makan meningkat), kehilangan kalori yang tinggi sebagai bahan
metabolisme men babkan penderita merasakan rasa lapar yang terus-menerus.
d. Berat badan menurun; sebagai akibat glukosa tidak terserap ke dalam sel dengan
baik

8
e. Proses penyembuhan yang lama, karena kadar glukosa menghambat proses
kesembuhan.
6. Komplikasi DM Tipe-1
Komplikasi DM Tipe-1 mencakup komplikasi akut dan kronik. Pada anak,
komplikasi kronik jarang menimbulkan manifestasi klinis signifikan saat masih dalam
pengawasan dokter anak. Sebaliknya, anak berisiko mengalami komplikasi akut setiap
hari. Komplikasi akut terdiri atas KAD dan hipoglikemia. Kriteria KAD mencakup
hiperglikemia, asidosis, dan ketonemia. Gejala KAD antara lain adalah dehidrasi,
takikardi, takipnea dan sesak, napas berbau aseton, mual, muntah, nyeri perut,
pandangan kabur, dan penurunan kesadaran. Seringkali gejala-gejala ini disalahartikan
oleh orang tua maupun tenaga kesehatan sebagai usus buntu, infeksi, atau penyakit
lainnya. Kelalaian ini dapat menyebabkan kematian. Anak yang berkunjung secara rutin
dan menetap pada dokter keluarga atau dokter anak memiliki risiko yang lebih rendah
terdiagnosis DM tipe-1 saat KAD.
7. Penatalaksanaan
Tatalaksana pasien dengan DM tipe 1 tidak hanya meliputi pengobatan berupa
pemberian insulin. Ada hal-hal lain selain insulin yang perlu diperhatikan dalam
tatalaksana agar penderita mendapatkan kualitas hidup yang optimal dalam jangka
pendek maupun jangka panjang (Rustama DS, dkk. 2010; ISPAD Clinical Practice
Consensus Guidelines. 2009)
Terdapat 5 pilar manajemen DM tipe 1, yaitu:
b. Insulin
Insulin merupakan terapi yang mutlak harus diberikan pada penderita DM Tipe 1.
Dalam pemberian insulin perlu diperhatikan jenis insulin, dosis insulin, regimen
yang digunakan, cara menyuntik serta penyesuaian dosis yang diperlukan.
a. Jenis insulin: kita mengenal beberapa jenis insulin, yaitu insulin kerja cepat,
kerja pendek, kerja menengah, kerja panjang, maupun insulin campuran
(campuran kerja cepat/pendek dengan kerja menengah). Penggunaan jenis
insulin ini tergantung regimen yang digunakan.

9
b. Dosis insulin: dosis total harian pada anak berkisar antara 0,5-1 unit/kg
beratbadan pada awal diagnosis ditegakkan. Dosis ini selanjutnya akan diatur
disesuaikan dengan faktor-faktor yang ada, baik pada penyakitnya maupun
penderitanya. Dosis insulin sisanya disesuaikan untuk dosis preprandial dengan
insulin kerja cepat atau reguler. Penentuan dosis insulin kerja cepat dapat
menggunakan rasio insulin terhadap karbohidrat yang dihitung dengan
menggunakan rumus 500, yaitu 500 dibagi dosis insulin harian total. Hasil
yang didapatkan adalah berapa jumlah gram karbohidrat yang dapat dicakup
oleh 1 unit insulin. Penyesuaian dosis insulin selanjutnya ditentukan
berdasarkan pola kadar gula darah sewaktu harian. Pada pemberian insulin
kerja cepat disarankan untuk dilakukan pemeriksaan gula darah sewaktu 1-2
jam setelah makan untuk menentukan efikasi insulin. Peningkatan gula darah
sebelum sarapan memerlukan penyesuaian dosis insulin kerja menengah
sebelum makan malam atau sebelum tidur atau insulin kerja panjang.
Peningkatan gula darah setelah makan memerlukan peningkatan dosis insulin
kerja cepat atau reguler. Jika peningkatan gula darah terjadi sebelum makan
siang atau makan malam, perlu dilakukan penyesuaian dosis insulin basal atau
insulin kerja cepat pendek sebelum makan. Dosis insulin sebaiknya ditentukan
berdasarkan konsumsi makanan atau karbohidrat dan hasil pemeriksaan GDS.
c. Regimen: kita mengenal dua macam regimen, yaitu regimen konvensional serta
regimen intensif. Regimen konvensional/mix-split regimendapat berupa
pemberian dua kali suntik/hari atau tiga kali suntik/hari. Sedangkan regimen
intensif berupa pemberian regimen basal bolus. Pada regimen basal bolus
dibedakan antara insulin yang diberikan untuk memberikan dosis basal maupun
dosis bolus. Regimen insulin bersifat individual, yaitu menyesuaikan usia,
berat badan, lama menderita, target kontrol glikemik, pola hidup, dan
komorbiditas. Regimen yang disarankan adalah basal bolus yang diberikan
dengan pompa atau insulin subkutan minimal 2 kali/hari dengan menggunakan
insulin basal dan insulin kerja cepat atau pendek karena paling menyerupai
sekresi insulin fisiologis.8 Kebutuhan insulin basal harian adalah berkisar

10
antara 30% (jika menggunakan insulin reguler) sampai 50% (jika
menggunakan insulin kerja cepat) dari total kebutuhan insulin. Pada pasien
dengan insulin reguler, perbandingan insulin basal lebih kecil karena insulin
reguler juga memberikan efek basal.
d. Cara menyuntik: terdapat beberapa tempat penyuntikan yang baik dalam hal
absorpsinya yaitu di daerah abdomen (paling baik absorpsinya), lengan atas,
lateral paha. Daerah bokong tidak dianjurkan karena paling buruk absorpsinya.
e. Penyesuaian dosis: Kebutuhan insulin akan berubah tergantung dari beberapa
hal, seperti hasil monitor gula darah, diet, olahraga, maupun usia pubertas
terkadang kebutuhan meningkat hingga 2 unit/kg berat badan/hari), kondisi
stress maupun saat sakit.
c. Diet
Secara umum diet pada anak DM tipe 1 tetap mengacu pada upaya untuk
mengoptimalkan proses pertumbuhan. Nutrisi yang baik dibutuhkan agar tumbuh
kembang anak dengan DM tipe-1 optimal, serta mencegah komplikasi akut dan
kronik. Prinsip dari terapi nutrisi adalah makan sehat. Pasien disarankan untuk
mengonsumsi buah, sayur, produk susu, gandumutuh, dan daging rendah lemak
dengan jumlah sesuai usia dan kebutuhan energi. Untuk itu pemberian diet terdiri
dari 50-55% karbohidrat, 15-20% protein dan 30% lemak. Pada anak DM tipe 1
asupan kalori perhari harus dipantau ketat karena terkait dengan dosis insulin
yang diberikan selain monitoring pertumbuhannya. Kebutuhan kalori perhari
sebagaimana kebutuhan pada anak sehat/normal. Ada beberapa anjuran
pengaturan persentase diet yaitu 20% makan pagi, 25% makan siang serta 25%
makan malam, diselingi dengan 3 kali snack masing-masing 10% total kebutuhan
kalori perhari. Pemberian diet ini juga memperhatikan regimen yang digunakan.
Pada regimen basal bolus, pasien harus mengetahui rasio insulin:karbohidrat
untuk menentukan dosis pemberian insulin.
d. Aktivitas fisik/exercise
Aktivitas fisik penting untuk meningkatkan sensitivitas insulin dan menurunkan
kebutuhan insulin. Selain itu, aktivitas fisik dapat meningkatkan kepercayaan diri

11
anak, mempertahankan berat badan ideal, meningkatkan kapasitas kerja jantung,
meminimalisasi komplikasi jangka panjang, dan meningkatkan metabolisme
tubuh. Rekomendasi aktivitas fisik pada anak dengan DM tipe-1 sama dengan
populasi umum, yaitu aktivitas ≥60 menit setiap hari yang mencakup aktivitas
aerobik, menguatkan otot, dan menguatkan tulang. Aktivitas aerobik sebaiknya
tersering dilakukan, sementara aktvitas untuk menguatkan otot dan tulang
dilakukan paling tidak 3 kali per minggu.
e. Edukasi
Edukasi memiliki peran penting dalam penangan DM tipe-1 karena didapatkan
bukti kuat berpengaruh baik pada kontrol glikemik dan keluaran psikososial.
Edukasi dilakukan oleh tim multidisiplin yang terdiri atas paling tidak dokter anak
endokrinologi atau dokter umum terlatih, perawat atau edukator DM, dan ahli
nutrisi. Edukasi tahap pertama dilakukan saat pasien pertama terdiagnosis atau
selama perawatan di rumah sakit yang meliputi pengetahuan dasar mengenai DM
tipe-1, pengaturan makan, insulin (jenis, dosis, cara penyuntikan, penyimpanan,
dan efek samping), serta pertolongan pertama kedaruratan DM tipe-1
(hipoglikemia, pemberian insulin saat sakit), sementara tahap kedua dilakukan
saat berkonsultasi di poliklinik. Dalam penelitian oleh Pulgaron dkk, 27
kemampuan berhitung dan kepercayaan diri orang tua dalam menangani diabetes
berhubungan signifikan dengan kadar HbAle anak. Edukasi pada masyarakat dan
tenaga kesehatan juga tak kalah penting dalam penatalaksanaan diabetes.
f. Monitoring kontrol glikemik
Monitoring ini menjadi evaluasi apakah tatalaksana yang diberikan sudah baik
atau belum. Kontrol glikemik yang baik akan memperbaiki kualitas hidup pasien,
termasuk mencegah komplikasi baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Pasien harus melakukan pemeriksaan gula darah berkala dalam sehari. Setiap 3
bulan memeriksa HbAlc. Di samping itu, efek samping pemberian insulin,
komplikasi yang terjadi, serta pertumbuhan dan perkembangan perlu dipantau.

12
8. pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dlakukan pada DM tipe 1 dan 2 umumnya tidak jauh
berbeda.(Lestari et al., 2024).
a. Glukosadarah: meningkat 200-100mg/dL
b. Aseton plasma (keton): positif secara mencolok
c. Asam lemak bebas: kadar lipid dan kolesterol meningkat
d. Osmolaritas serum: meningkat tetapi Lasanya kurang dari 330 mOsm/l
e. Elektrolit:
 Natrium: mungkin normal, meningkat, atau menurun
 Kalium normal atau peningkatan semu (perpindahan seluler), selanjutnya akan
menurun.
 Fosfor: lebih sering menurun
f. Hemoglobin glikosilat kadarnya meningkat 2-4 kali lipat dari normal yang
mencerminkan control DM yang kurang selama 4 bulan terakhir (lama hidup SDM)
dan karenanaya sangat bermanfaat untuk membedakan DKA dengan control tidak
adekuat versus DKA yang berhubungan dengan insiden (mis, ISK baru)
g. Gas Darah Arteri biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada HCO3
(asidosis metabolic) Nengan kompensasi alkalosis respiratorik.
h. Trombosit darah: Ht mungkin meningkat (dehidrasi); leukositosis :
hemokonsentrasi ; merupakan respon terhadap stress atau infeksi.
i. Ureum / kreatinin mungkin meningkat atau normal (dehidrasi/ penurunan fungsi
ginjal)
j. Amilase darah: mungkin meningkat yang mengindikasikan adanya pancreatitis akut
sebagai penyebab dari DKA.
k. Insulin darah mungkin menurun / atau bahka sampai tidak ada ( pada tipe 1) atau
normal sampai tinggi (pada tipe II) yang mengindikasikan insufisiensi insulin/
gangguan dalam penggunaannya (endogen/eksogen). Resisten insulin dapat
berkembang sekunder terhadap pembentukan antibody.( autoantibody)
g. Pemeriksaan fungsi tiroid: peningkatan aktivitas hormone tiroid dapat
meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin.

13
l. Urine: gula dan aseton positif: berat jenis dan osmolalitas mungkin meningkat.
m. Kultur dan sensitivitas: kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih, infeksi
pernafasan dan infeksi pada luka.
Diabetes melitus ditegakkan berdasarkan ada tidaknya gejala. Bila dengan gejala (polidipsi,
poliuria, polifagia), maka pemeriksaan gala darah abnormal satu kali sudah dapat
menegakkan diagnosis DM. Sedangkan bila tanpa gejala, maka diperlukan paling tidak 2
kali pemeriksaan gula darah abnormal pada waktu yang berbeda (Rustama DS, dkk. 2010;
ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2009).
Kriteria hasil pemeriksaan gula darah abnormal adalah:
a. Kadar gula darah sewaktu >200 mg/dl atau
a. Kadar gula darah puasa >126 mg/dl atau
b. Kadar gula darah 2 jam postprandial >200 mg/dl.
Untuk menegakkan diagnosis DM tipe 1, maka perlu dilakukan pemeriksaan penunjang,
yaitu C-peptide <0,85 ng/ml. C-peptide ini merupakan salah satu penanda banyaknya sel
ẞ-pankreas yang masih berfungsi. Pemeriksaan lain adalah adanya autoantibodi, yaitu Islet
cell autoantibodies(ICA), Glutamic acid decarboxylase autoantibodies(65K GAD),
IA2( dikenal sebagai ICA 512 atau tyrosine posphatase) autoantibodiesdan Insulin
autoantibodies(IAA). Adanya autoantibodi mengkonfirmasi DM tipe 1 karena proses
autoimun. Sayangnya pemeriksaan autoantibodi ini relatif mahal (Rustama DS, dkk. 2010;
ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2009).
B. Konsep Asuhan Keperawatan
Kasus : Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun baru saja didiagnosis Diabetes Melitus tipe
1 masuk untuk dirawat di Bangsal Anak Rs. Hasil anamnesis anak mengatakan bahwa ia
tidak nafsu makan, sering haus, banyak kencing, berat badannya turun, enuresis. Ia juga
mudah tersinggung, tidak bisa perhatian lama ketika mengikuti pelajaran sekolah, merasa
lelah, penglihatan kabur, sakit kepala kalau ada luka sukar sembuh dan mudah terserang
[Link] hasil pemeriksaan fisik didapatkan BB: 25,5kg, PB: 135 cm, suhu: 37,40C, nadi:
88x/menit. Respirasi: 24x/menit, TD: 110/70 mmHg. Turgor kulit kembali segara, kulit
kering, membrane mukosa lembab. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan:
Hb:11,2gr/dl, Hematokrit:30%, eritrosit: 4,0(x106/uL), trombosit: 210000/mm3, leukosit:

14
9.500/uL, glukosa darah 300mg/dl. Orang tua mengatakan bahwa mereka sangat terkejut dan
tidak percaya ketika anaknya didiagnosa Diabetes Melitus tipe 1, padahal tidak ada anggota
keluarga yang menderita Diabetes Melitus. Mereka mengatakan tidak paham tentang
Diabetes Melitus tipe 1 dan cara perawatannya terutama setelah pulang dari Rumah Sakit.
khawatir memikirkan masa epan anaknya. Orang tua. Terapi/instruksi medis yang diberikan
saat ini cek gula darah 2x/hari, insulin 2 unit dari U 100 sebelum [Link]
A. Pengkajian
1. Identitas
2. Nama An. A
3. Ummar 10 th
4. Jenis kelamin laki-laki

5. Keluhan Utama Banyak makan, banyak minum, banyak kencing,


6. Riwayat keluarga:-
7. Riwayat kesehatan sekarang: Diabetes Melitus tipe 1
8. Hasil pemeriksaan BB-25,5 kg. PB-135 cm suhu-37,4 с nadi 88 kali/menit, respirasi
24kali/menit, tekanan darah-110/70 mmlig. Turgor kulit kembali segera. Kulit kering,
membrane mukosa lembab
9. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan Hb: 11,2 gridl haematokrit: 30% eritrosit:
4,0 (106
10. Aktivitas/istirahat (Doengoes, 1993) Gejala: Lemah, letih, sulit bergerak berjalan, kram
otot, tonus otot menurun, gangguan tidur/istirahat.
Tanda : a. Takikardi dan takipnca Pada keadaan istirahat/dengan aktivitas
b. Letargi/disorientasi, koma
c. Penurunan kekuatan otot
11. Sirkulasi
Gejala: Adanya riwayat hipertensi IM akut Klaudiliasi, licbas dan kesematan pada
ekstremitas ulkus pada lialı, penyembuhan yang lama Tanda :
a. Takikardi Perubahan tekanan darah postural, hipertensi
b. Nadi yang menuru

15
c. Disritimia
12. Integritas ego
Gejala a. Stress, tergantung pada acang lain
b. Masalah finansial yang berhubungan dengan koodisi.
13. Eliminasi
Gejala
a. Perubahan pola kemih (poliuria) nokturia
b. Rasa nyeri/terbutas, kesulitan berkemih, sk baru/berulang
14. Makanan/cairan
Gejala:
a. Hilang nafsu makan.
b. Mual/muntah
c. Tidak mengikuti diet
d. Penurunan BB
Tanda: a. Kulit bersisik, turgor jelek.
b. Keluarkan / distensi abdomen, muntah
c. Pembesaran tiroid
d. Neurosensori
15. Nyeri/kenyamanan
Gejala: Abdomen yang tegang / nyeri
Tanda: Wajah meringis dengan palpitasi: tampak berhati-hati
16. Pernafasan
Gejala: Merasa kekurangan O2, batuk dengan / tanpa sputum purulen
Tanda: Lapar udara, frekuensi pernafasan
17. Keamanan
Gejala: Kulit kering, gatal, ulkus kulit
Tanda: a) Demam, diaforesis
b) Kulit rusak, lesi / ulserasi
B. Analisa data
No Data Etiologi Masalah

16
1. DS: faktor psikologis Defisit nutrisi
-anak mengatakan tidak
nafsu makan
DO:
BB = 25,5 kg,
PB = 135 cm suhu = 37.4
c nadi = 88 kali/menit,
respirasi=24kali/menit,
tekanan darah mmHg.
110/70Kulit kering,
membrane mukosa
lembab.

2. DS: Kekurangan intake Hipovelemia


Sering haus, banyak cairan
kencing, berat
badannya furun,
enuresis
DO:
BB-25,5 kg. PB-135 cm
suhu 37,4 c nadi88
kali/menit, respirasi 24
kali/menit, tekanan
darah 110/70 mmHg.
Kulit kering
3. DS: kalau ada luka Kekurangan volume Gangguan
sukar sembuh caiaran integritas kuliit

DO: tampak kulit bersisik


klien tampak menggaruk

17
badannya

3. Rencana/Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan Tujuan Kriteria hasil Intervensi
1. Deficit nutrisi setelah dilakukan Intervensi utama
berhubungan dengan Tindakan Manajemen Nutrisi
faktro psikologis keperawatan Obeservasi
selama 3 x 24 jam - identifikasi status nutrisi
status nutrisi - identifikasi alergi dan
membaik dengan intoleransi makanan
kriteria hasil - identifikasi makanan
- nafsu makan yang disukai
meningkat - identifikasi kebutuhan
- frekuensi makan kalori dan jenis nutrien
membaik - monitor berat badan
- porsi makanan yang Terapeutik
dihabiskan meningkat - sajikan makanan secara
menarik dan suhu yang
sesuai
- berikan makanan tinggi
serat untuk mencegah
konstipasi
- berikan makanan tinggi
kalori dan tinggi protein
- berikan suplemen
makanan

18
Kolaborasi
- kolaborasi dengan ahli
gizi untuk menentukan
jumlah kalori dan jenis
nutrien yang dibutuhkan
2 Hipovelemia setelah dilakukan Intervensi utama
berhubungan dengan tindakan Manajemen hipovolemia
kekurangan intake keperawatan Observasi
cairan selama 3x24 jam - Periksa tanda dan
status cairan gejala hipovolemia
meningkat (mis. frekuensi
dengan kriteria nadi meningkat,
hasil nadi teraba lemah,
- keluhan haus tekanan darah
menurun menurun, tekanan
- perasaan lemah nadi menyempit,
menurun turgor kulit
- intake cairan menurun, membran
membaik mukosa kering,
- konsentrasi urine volume urin
menurun menurun,
hematokrit
meningkat, haus,
lemah)
- Monitor intake dan
output cairan
Terapeutik
- Hitung kebutuhan
cairan
- Berikan posisi

19
modified.
Trendelenburg
Edukasi
- Anjurkan
memperbanyak
asupan 'cairan oral
- Anjurkan
menghindari
perubahan posisi
mendadak
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
cairan IV isotonis (mis.
NaCl, RL)
3. Gangguan integritas Setelah dilakukan Intervensi utama
kulit berhubungan tindakan Perawatan integritas kulit
dengan kekurangan keperawatan Observasi
volume cairan selama 3x24 jam - Identifikasi penyebab
integritas kulit gangguan integritas kulit
dan jaringan (mis. perubahan sirkulasi,
membaik dengan perubahan status nutrisi,
kriteria hasil penurunan kelembaban,
- hidrasi menurun suhu lingkungan ekstrem,
- kerusakan jaringan penurunan mobilitas)
kerusakan lapisan Terapeutik
kulit menurun - Ubah posisi tiap 2 jam
- sensasi membaik jika tirah baring
- suhu kulit membaik -- Gunakan produk berbahan
ringan/alami dan
hipoalergik pada kulit

20
sensitif
-Hindari produk berbahan
dasar alkohol pada kulit
kering
Edukasi
- Anjurkan minum air
yang cukup
- -Anjurkan meningkatkan
asupan nutrisi
- - Anjurkan meningkatkan
asupan buah dan sayur
- - Anjurkan menghindari
terpapar suhu ekstrem
- Anjurkan mandi dan
menggunakan sabun
secukupnya

C. Jurnal Relevan Kasus DM Pada Anak

1. . judul
Diabetes mellitus tipe 1 pada anak di indonesia

Nama penulis Silvia Nurvita


Tahun 2023
Kesimpulan Kesimpulan penelitian ini Penyakit diabetes mellitus tidak dapat
disembuhkan namun bisa dikendalikan oleh karena itu dibutuhkan
penanganan secara holistik dan kerjasama multisektor dengan
melibatkan pemerintah dan tim tenaga kesehatan yang terintegrasi.
2. Judul management of type 1 diabetes mellitus (TERAPI PADA DM TIPE 1)
Nama penulis Rivaldi marzel

21
Tahun 2021
Kesimpulan Tatalaksana pengelolaan DM tipe-1 dilakukan dengan beberapa
penangaan, yaitu dengan pemberian insulin, pengaturan makan,
olahraga,dan edukasi, yang didukung oleh pemantauan mandiri (home
monitoring). Keseluruhan komponen berjalan secara terintegrasi untuk
mendapatkan kontrol metabolik yang baik.
3. judul Type 1 Diabetes Mellitus in Children: Diagnosis and Management
Nama penulis Rike Delya Rizkina1

Tahun 2023

Kesimpulan Diabetes merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan


meningkatnya kadar gula darah dari waktu ke waktu. Penyakit ini
biasanya ditandai dengan gejala khas meliputi polidipsia, poliuria, dan
penurunan berat badan disertai pengukuran gula darah. Tatalaksana dari
diabetes diperlukan untuk mencapai kontrol metabolisme yang optimal,
mencegah komplikasi akut, komplikasi mikrovaskular, ataupun
makrovaskular, serta untuk meningkatkan aspek psikologis dari pasien
dan keluarga. Komponen dari pengelolaan DMT1 meliputi (1) edukasi;
(2) pemberian insulin; (3) manajemen diet; (4) aktivitas fisik; (5)
monitoring mandiri; dan (6) terapi psikososial.

22
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Menurut American Diabetes Association atau ADA (2010), diabetes melitus merupakan
suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena
kelainan insulin, kerja insulin atau kedua - duanya. Diabetes mellitus (DM) tipe-1 adalah
DM akibat insulin tidak cukup diproduksi oleh serbeta pankreas, sehingga terjadi
hiperglikemia (WHO, 2017). Tipe -1 ini ditandai dengan berkurangnya sel beta pankreas
yang diperantarai oleh imun atau antibodi, sehinga sepanjang hidup penderita ini tergantung
pada insulin eksogen (Chiang JL, 2014).Gejala DM tipe-1 pada anak sama dengan gejala
pada dewasa, yaitu poliuria dan nokturia, polifagia, polidipsia, dan penurunan berat badan.
Gejala lain yang dapat timbul adalah kesemutan, lemas, luka yang sukar sembuh, pandangan
kabur, dan gangguan perilaku.
Pengkajian yang dilakukan pada anak dengan penyakit diabetes juvenile adalah identitas
klien, riwayat keperawatan, keluhan utama, riwayat kesehatan masa lalu, riwayat penyakit
yang diderita, riwayat psikososial keluarga, kebutuhan dasar, pemerikasaan fisik. Diagnosa
keperawatan yang muncul pada kasus ini yaitu resiko ketidakseimbangan kadar glukosa
darah, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, defisit volume cairan,
ketidakefektifan perfusi jaringan perifer, intoleransi aktivitas, resiko cedera, kerusakan
integritas kulit, dan resiko infeksi.
B. Saran
Dengan adanya makalah ini, penulis sangat berharap kepada seluruh pembaca agar
mampu memahami dan mengetahui tentang "Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Anak

23
Dengan Diabetes Melitus Juvenile". Semoga dengan adanya makalah ini dapat membawa
pengaruh yang baik dan bermanfaat bagi kita semua. Penulis menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami mengharapkan kritik yang membangun
demi kesempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Lestari, N. E., Yusnita, Y., Juniah, J., Naulia, R. P., Kurniawati, D., Immawati, I., Yulianto, A.,
Widiastuti, S., Tambunan, D. M., & Fatimah, W. D. (2024). Buku Ajar Asuhan
Keperawatan Anak Sakit Kronis. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
[Link]
Nour Sriyanah, S. K. N. M. K., & Dr. Suradi Efendi, S. K. N. M. K. (2023). Buku Ajar:
Keperawatan Anak. Omera Pustaka. [Link]
Ns. Ni Luh Kompyang Sulisnadewi, M. K. S. K. A., Ns. Sri Melfa Damanik, S. K. M. K. S. K.
A., Siti Rukayah, S. K. M. K., Ns. Mariyam, M. K. S. K. A., Ns. O. Diana Suek, M. K. S.
K. A., Ns. Tri Sakti Widyaningsih, M. K. S. K. A., Ns. Erni Suprapti, M. K., Ns. Sri Hartini,
M. A. M. K. S. K. A., Dr. Ns. Neny Triana, M. P. M. K., & Caraka, L. D. (2024). Buku
Ajar Keperawatan Anak II. Mahakarya Citra Utama Group.
[Link]

24

Anda mungkin juga menyukai