TUGAS MATA KULIAH PENERJEMAHAN &
PENJURUBAHASAAN BAHASA MANDARIN
“ KODE ETIK PENERJEMAHAN LISAN”
Dosen Pengampu:
Wandayani Goeyardi, B.A., [Link]. 2015087804242001
Disusun oleh:
Yasmin Nurhaliza 215110401111022
Program Studi Sastra Cina
Jurusan Bahasa dan Sastra
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Brawijaya
2024
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan zaman, dunia penerjemahan (translation dan interpreting)
maju pesat mengiringi perkembangan zaman tersebut. Faktor globalisasi dan hubungan
internasional menempatkan para penerjemah, baik tulis maupun lisan, pada suatu posisi yang
strategis dan penting untuk menjadi jembatan komunikasi antara dua belah pihak.
Seringkali orang-orang merasa bingung untuk membedakan antara penerjemahan
(translation) dengan pengalihbahasaan (interpretation) karena keduanya tampak sama dalam
beberapa hal. Weber (1984:3) memberikan gambaran perbedaan keduanya sebagai berikut:
"translation is the transposition of a text written in a source language into a target
language, while interpretation is the oral transposition of an orally delivered message at a
conference or a meeting from a source language into a target language, performed in the
presence of participants."
Berdasarkan definisi di atas, baik translation maupun interpretation sama-sama
melakukan proses perubahan dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Oleh karena itu, keduanya
tampak sama dan hanya bentuknya saja (tulis dan lisan) yang berbeda.
Salah satu profesi yang sangat menguntungkan saat ini adalah ahli bahasawan
(interpreter). Sementara itu, hanya sedikit orang yang mampu menguasai dua atau bahkan tiga
bahasa asing didunia ini. Oleh karena itu, keberadaannya sangat diperlukan dalam berbagai
bidang oleh berbagai orang. Akan tetapi, karena interpreting tidak semudah membalikkan
telapak tangan, seseorang harus memiliki beberapa hal yang terkait dengannya seperti
pengetahuan tentang teori interpreting, pemahaman yang baik, memori yang kuat, teknik
mencatat, dan konsentrasi yang tinggi.
Teori-teori yang dikutip dalam makalah ini, yang diadopsi dari para ahli dalam bidang
penerjemahan, dapat dipakai untuk membekali para pembaca untuk mengetahui atau memahami
interpreting. Selain itu, dalam makalah ini juga ditekankan bahwa belajar interpreting tidak
cukup hanya memahami ilmunya, melainkan harus diimbangi dengan latihan yang terus-menerus
dan terjadwal.
Seorang penerjemah sebaiknya berpegang teguh pada kode etik penerjemahan seperti
yang disajikan dalam makalah ini. Pembahasan yang terdapat dalam makalah ini diikuti
kesimpulan dan daftar istilah-istilah penting yang terdapat dalam pembahasan. Profesi
interpreter layaknya seperti profesi lainnya (guru, dokter, pengacara, hakim, dan sebagainya)
memiliki kode etik yang harus dipatuhi dan ditaati.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kode etik?
2. Apa jenis-jenis kode etik?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi kode etik penerjemahan lisan.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis kode etik penerjemahan lisan.
BAB II
PEMBAHASAN
Sebelum membahas mengenai etika profesi interpreter, sebaiknya kita perlu mengetahui
definisi profesi dan mengapa interpreter menjadi suatu profesi yang memiliki aturan serta etika
dalam praktiknya. Profesi memiliki definisi yang lebih luas dan memiliki kriteria tertentu
menurut para pakar. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) profesi dapat diartikan
sebagai pekerjaan yang dilandasi dengan pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan dan
sebagainya) tertentu. (Tarigan, 2013). Jadi profesi merupakan suatu pekerjaan yang
membutuhkan keahlian atau keterampilan khusus yang didapatkan terlebih dahulu melalui tahap
pendidikan atau pelatihan tertentu. Sehingga orang yang memiliki profesi dan mampu bekerja
sesuai dengan keterampilannya dengan baik dapat dikategorikan sebagai seorang yang
profesional di bidangnya. Profesi lebih fokus dan intens pada suatu bidang tertentu sehingga
membutuhkan keterampilan dan keahlian yang sesuai.
Setiap Profesi mesti memiliki etika yang mengatur dan menentukan mana hal yang baik
dan tidak baik untuk diterapkan dalam menjalankan aktivitas dan kegiatan tersebut. Profesi juga
umumnya memiliki kode etik serta asosiasi profesi yang menanggung dan bertanggung jawab
atas aktivitas yang dilakukannya. Contohnya adalah profesi pada bidang hukum, profesi pada
bidang kedokteran dan lainnya. Tidak semua pekerjaan tergolong dalam profesi. Tentu pekerjaan
yang dapat dikategorikan sebagai profesi harus memiliki kriteria tertentu seperti mengikuti
pelatihan atau pendidikan tertentu, memiliki kode etik dan memiliki asosiasi profesi. Dari
penjelasan diatas, maka etika profesi dapat diartikan sebagai suatu aturan baik secara tertulis
secara sistematik dan tidak tertulis yang mengatur tindakan, kegiatan serta aktivitas yang
dilakukan oleh suatu profesi. Etika profesi dibuat sesuai dengan prinsip – prinsip serta norma –
norma yang berlaku dan telah disepakati. Etika profesi ini dibuat dan disepakati oleh suatu
asosiasi profesi yang menangani profesi tertentu. Hal ini berfungsi untuk menghakimi dan
mengatur segala bentuk tindakan serta hal – hal yang menyimpang dari kode etik dan aturan dan
hal yang telah disepakati. Terkait dengan seorang interpreter, sesuai dengan penjelasan dan
kriteria profesi, maka interpreter dapat dikategorikan sebagai suatu profesi yang memiliki kode
etik serta etika profesi. Interpreter merupakan suatu profesi yang membutuhkan keterampilan dan
pendidikan tertentu serta memiliki lisensi untuk bisa menjalankan praktik atau aktivitasnya.
Untuk menjadi interpreter ( penerjemah ) yang profesional, maka diperlukan uji kompetensi yang
diadakan oleh asosiasi sebidang untuk mendapatkan sertifikat dan lisensi profesi.
2.1 Definisi Kode Etik
Kode etik penerjemah adalah himpunan etika profesi penerjemahan. Kode etik ini harus
dipegang teguh oleh para penerjemah, terutama penerjemah tersumpah/profesional. Tujuannya
adalah agar para ahli bahasawan bertanggung jawab dalam menjalankan profesinya, yaitu dalam
hal ini menerjemahkan secara lisan.
Ditinjau dari segi bahasa, kode etik berasal dari dua bahasa, yaitu kode berasal dari
bahasa Inggris "code" yang berarti sandi. Pengertian dasarnya adalah ketentuan atau petunjuk
yang sistematis. Sedangkan kata etika berasal dari bahasa Yunani "ethos" yang artinya watak
atau moral. Seiring perkembangan zaman, kode etik secara sederhana dapat diartikan sebagai
kumpulan etika. Mengenai hal ini, Pujiyanti (2013:39) mendefinisikan kode etik sebagai pola
tingkah laku yang didasarkan pada pertimbangan moral dan/atau sosial. Definisi dari Pujiyanti
tersebut diperkuat oleh Kalina (2015:65), yaitu "Ethics may refer either to the attitude by which
an individual's action is guided or to the effect that such action has on others."
2.2 Jenis-Jenis Kode Etik
Kode etik menetapkan standar perilaku profesional yang harus ditaati dalam rangka untuk
menjaga integritas profesi, dan memberikan jaminan standar profesional untuk pengguna layanan
bahasa dan masyarakat luas. Dengan menjaga kode etik, penerjemahan akan sangat berhati-hati
ketika melakukan penerjemahan lisan, karena hal itu berarti ia menjaga nama baik dirinya,
profesi profesionalnya, dan asosiasi penerjemahannya. Mereka yang menjaga kode etik sangat
berpotensi untuk menghasilkan terjemahan lisan yang berkualitas karena kode etik penerjemahan
lisan tentu saja tidak dapat dipisahkan dari kualitas penerjemahan lisan itu sendiri.
Hal ini sesuai dengan apa yang dikutip Dyah (2008: 37-40) dari Ginori dan Scimone
(1995) dan sesuai dengan yang diajukan oleh Hammond (1994: 87-92). Berikut adalah detailnya:
A. Keakuratan(Accuracy)
Peran terpenting dari seorang interpreter adalah menyampaikan pesan dalam bahasa
sasaran seakurat mungkin tanpa ada pengurangan atau penambahan makna pesan yang dapat
mengurangi keakuratannya. Keakuratan merupakan parameter utama baik dalam hal teknis
bagaimana makna diterjemahkan kedalam bahasa sasaran maupun persyaratan moral seorang
interpreter. Ginori dan Scimone juga mengungkapkan bahwa ada tiga tahap yang harus
dilampaui oleh interpreter untuk mencapai keakuratan secara teknis (technically accurate),
yakni:
1. Understanding fully the source language.
2. Converting the source language into the target language in the best possible ways in
which this can be done.
3. Delivering the speech in the target language so well that the listeners, to repeat an old
adage, will have the feeling they are listening to the original speech, not to its
interpretation.
B. Menjaga Kerahasiaan Klien (Confidentiality)
Yang dimaksud dengan menjaga kerahasiaan klien adalah bahwa penerjemah tidak boleh
memberitahukan kepada orang lain segala pengetahuan dan informasi yang dia dapatkan dari
proses interpreting. Hal ini sesuai dengan Kode tanggung jawab Profesional Interpreter yang
berbunyi, ''Interpreters and translators shall protect the confidentiality of all privileged or other
confidential information which they obtain during the course of their professional duties" (dalam
Pujiyanti, 2013: 40).
Kerahasiaan informasi klien merupakan prioritas bagi penerjemah. Akan sangat
berbahaya, misalnya, jika seorang penerjemah lisan yang terlibat dalam konferensi tertutup antar
kepala negara dan sedang membicarakan kemungkinan perang di antara kedua negara tersebut
tiba-tiba membocorkan hasil negosiasi kepada pihak ketiga yang memiliki kepentingan politis
yang tidak baik. Untuk itulah seorang penerjemah yang bertugas idealnya memiliki sertifikat
sebagai "sworn translator" atau "penerjemah tersumpah."
C. Tidak Memihak (Impartiality)
Penerjemah, baik lisan maupun tulisan, memiliki kode etik untuk tidak memihak pada
salah satu kliennya. Prefessional Code tentang penerjemahan lisan yang dikutip oleh Dyah
(2008: 42) menyebutkan bahwa: The interpreter should maintain an impartial attitude with
defendants, witnesses,attorneys and families. He should neither conceive of himself nor permit
himself to be used as an investigator for any party to a case. The interpreter should not 'take
sides' or consider himself aligned with the prosecution or the defense.
Dalam realita, ketidak berpihakan penerjemah baik pada persidangan maupun terdakwa
dalam kasus penerjemahan lisan di persidangan hingga saat ini masih merupakan hal langka.
Seharusnya, penerjemah tidak perlu menunjukkan simpati misalnya dengan memberikan pelukan
dan sebagainya kepada terdakwa jika ternyata dia divonis berat oleh hakim. Kedekatan
emosional seperti ini akan sangat berpengaruh pada keakuratan penyampaian pesan yang
merupakan tugas utama penerjemah lisan. Untuk itulah,
penerjemahlisanperlumenjagaketidakberpihakannyapadakedua belah pihak yang dia mediasi.
Selanjutnya, tim lembaga asosiasi penerjemahan (himpunan penerjemah Indonesia/BPI)
menyusun serangkaian kode etik profesi penerjemah untuk mengatur sikap, perilaku, dan standar
kinerja penerjemah. Berikut adalah beberapa kode etik yang harus dipatuhi para anggota HPI:
Penerjemah berjanji:
A. Menjunjung tinggi dan menerapkan asas-asas Pancasila;
B. Menerapkan standar kinerja yang tinggi guna mencapai hasil yang terbaik dengan
perilaku yang etis dan praktik bisnis yang sehat;
C. Menolak pekerjaan yang:
1. Isinya melanggar peraturan perundang-undangan, kecuali atas perintah pihak yang
berwenang dan penerjemah yang bersangkutan diberi kekebalan hukum;
2. Tidak sesuai dengan tingkat kemampuan yang disyaratkan;
3. Menempatkan diri penerjemah berada pada situasi benturan kepentingan.
D. Tidak memanipulasi pesan yang terkandung didalam bahasa sumber sedemikian rupa
sehingga menyebabkan arti dalam bahasa sasaran menjadi sama sekali berbeda. Pengecualian
dapat diberikan terhadap pekerjaan penerjemahan yang memerlukan manipulasi pesan sebagai
bentuk kreativitas yang sah dan secara tegas dinyatakan dalam lingkup pekerjaan yang diberikan
kepada penerjemah.
E. Menerima pekerjaan yang sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki dengan
penuh tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik.
F. Selalu menjaga profesionalisme dan menjunjung integritas dalam berhubungan dengan pihak
mana pun.
G. Dalam hubungan kerja antar penerjemah:
1. Saling menghormati dan tidak melakukan persaingan yang tidak sehat;
2. Memupuk kerjasama dan solidaritas.
H. Dalam hubungan kerja dengan klien:
1. Menjamin kepentingan klien dalam materi yang diterjemahkan sebagaimana penerjemah
menjaga kepentingan diri sendiri;
2. Menaati tenggat waktu penyerahan pekerjaan yang sudah disepakati dengan klien;
3. Menghormati hak-hak klien dan tidak mencampuri urusan antara klien dan pihak lain;
4. Menjaga kerahasiaan informasi yang terkandung dalam materi yang diterjemahkan,
sepanjang klien menganggap informasi tersebut rahasia.
I. Sepanjang menyangkut kompetensi, berusaha mengalihkan pesan dari bahasa sumber ke
dalam bahasa sasaran dengan baik dan benar, dengan memenuhi hal-hal sebagai berikut:
1. Menguasai bahasa sumber (baik bahasa asing maupun bahasa daerah) dan Bahasa
Indonesia dengan baik dan benar, dengan tingkat penguasaan yang tinggi;
2. Memiliki pengetahuan yang memadai tentang pokok bahasan dan peristilahannya dalam
bahasa sumber dan bahasa sasaran;
3. Mempunyai akses pada sumber informasi dan bahan referensi serta mempunyai
pengetahuan yang memadai mengenai peranti pendukungnya; dan
4. Terus-menerus berupaya menjaga, meningkatkan, memperluas, dan memperdalam
pengetahuan tentang penerjemahan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sebuah hasil penerjemahan lisan dikatakan berkualitas apabila seorang interpreter
mampu menjaga kode etik penerjemah. Terdapat beberapa kode etik bagi penerjemah lisan yang
harus dipatuhi dan dijunjung tinggi. Kode etik tersebut terdiri dari accttrary, conftdentialiry, dan
impartiality.
Masing masing asosiasi penerjemahan merniliki kode etik penerjemah tersendiri. Dengan
kata lain, The National Association of the Deaf (NAD) dan The Registry of Interpreters for the
Deaf, Inc. (RID) merniliki kode etik penerjemah yang sedikit berbeda dengan kode etik yang
dirancang oleh tim Himpunan Penerjemah Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Saehu, Andang. 2018. INTERPRETING TEORI DAN PRAKTIK.
Lestari, Iin Widya. ETIKA PROFESI INTERPRETER. Diakses pada 25 Maret 2024, dari
[Link]
%[Link]