Anda di halaman 1dari 23

FASE PEMERIKSAAN LAPANGAN DAN FASE PEMERIKSAAN MANAJEMEN

Tujuan dari fase ini adalah: 1. Mengumpukan informasi tambahan. 2. Aktivitas-aktivitas untuk identifikasikan area-area dalam waktu dan usaha harus dihabiskan dalam pemeriksaan yang mendalam. 3. Audit lapangan membantu team audit lebih mengerti organisasi dan bagaimana bagian ini melaksanakan fungsinya. Dua pertimbangan untuk dilaksanakan Pemeriksaan Lapangan (field work): 1. Apakah audittee/reviewee menjalankan kebijakan dan prosedur yang ditetapkan? 2. Apakah sistem dari prosedur operasi dan kontrol manajemen dilakukan dengan hasil yang efektif yang membawa hasil sesuai yang ditetapkan manajemen dalam suatu kegiatan yang efisien dan ekonomi. Empat hal penting dalam penugasan ini adalah: 1. Factfinding/verifikasi, apakah prosedur, kebijakan yang ditetapkan diikuti? 2. Evaluation, evaluasi deviasi antara kebijakan/prosedur dengan implementasinya? 3. Review of finding, rapat yang intens dengan auditee untuk memahami temuan yang didapat. 4. Recommendation, memberikan rekomendasi atas temuan yang signifikan. Faktor-faktor untuk mendapatkan konklusi yang baik, terdapat 13 faktor yang harus dipertimbangkan: 1. Judgment yang digunakan manajemen dalam menentukan sasaran/tujuan. 2. Instruksi tertulis yang kurang jelas. 3. Kemampuan personel dalam menjalankan tanggung jawabnya. 4. Gagal menerima tanggung jawab. 5. Gagal kontrol operasi dan aktivitas. 6. Duplikasi kerja di dalam/antar bagian. 7. Tidak tepat atau boros menggunakan sumber daya keuangan. 8. Pola organisasi yang terlalu besar.

9. Tidak efektif atau boros penggunaan sumber daya tenaga kerja (man power). 10. Penundaan pekerjaan pada aktivitas yang sesuai. 11. Tindakan pemeliharaan atas berbagai kegiatan yang tidak efektif & diperlukan. 12. Validasi dan relevansi dari kriteria yang digunakan untuk menilai hasil pencapaian keefektifan. 13. Ketepatan metode yang digunakan untuk evaluasi pencapaian keefektifan.

Teknik yang dapat digunakan pada tahap audit lapangan ini: 1. TQM (total quality management) 2. Participative Mgt 3. Benchmarking Strategy 4. Restructuring, reengineering, Reinventing 5. Principle-centered leadership 6. Learning Organization 7. Revision of mental model 8. Spirituality in work- place 9. ABC/ABM 10. Strategic Long term, short term, detail 11. Flexible budgeting 12. Systems Theory 13. Complexity theory Dalam memilih teknik yang digunakan harus melihat kondisi, situasi dan kebiasaan yang digunakan dalam industry dan tujuan perusahaan. Namun pemilihan teknik yang terbaik adalah dengan common sense & analytical ability

Teknik yang umum digunakan 1. Interviewing Teknik interview dan tata laksana interview dapat dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut: a. Interview agenda & whom to interview. b. Scheduling the interview. c. Setting up the interview. 2

d. Starting the review. e. Questioning procedures. f. Taking note. g. Effective listening. h. Closing the interview. i. Note Recording. j. Sample interview 2. System flowchart Guna System Flowchart 1. Menggambarkan urutan aktual aktivitas, dapat melihat perlu tidaknya suatu proses dan kontrol 2. Dapat mengidentifikasikan kegiatan yang tidak efisien 3. Menggambarkan kekuatan / kelemahan prosedur operasi Untuk mendapatkan eveluasi hasil yang baik, setiap langkah flowchart direview: 1. Necessity E1iminate part /entire proses yang tidak ada Value added? 2. Economy perform economy maner 3. Efficiency method is performed the most .efficient 4. Effectiveness step provide the desired result 3. Layout Flowchart Adalah gambaran sistematis atas pengaturan area kerja secara fisik yang aktual atau direncanakan. Lay Out Flowchart dapat menilai apakah kerja seseorang sudah 3 E dengan evaluasi: 1. Isolated kerja yang tidak ada hubungannya dengan area kerja 2. Controllers kontrol yang tidak ada nilai tambah 3. Dispatchers terima/pindah barang yang tak ada nilai tambah 4. Ratio, change and trend analysis

Analisis ini menggunakan Laporan Keuangan dengan :

1. Membandingkan data Internal/budget 2. Membandingkan data eksternal seperti data Industri, standar dan lainlain.

Teknik lain yang dapat digunakan : 1. Test of transaction pengujian suatu transaksi apakah dijalankan sesuai dengan prosedur atau kebijakan. 2. Performance VS Plan membandingkan hasil dengan rencana.

FASE REVIEW TEMUAN AUDIT DAN PELAPORAN DARI SIKLUS PEMERIKSAAN MANAJEMEN
Sifat temuan audit: Temuan audit dapat memiliki berbagai bentuk dan ukuran. Temuan audit sering disebut kekurangan (defiencies) Istilah temuan cenderung terlalu negatif, sedang kondisi relatif lebih tepat dan tidak menimbulkan sikap defensif bagi auditee. Temuan audit menjelaskan bahwa sesuatu baik saat sekarang (current) atau masa lalu (historis) serta yang mungkin terjadi di masa yang akan datang (future) terdapat kesalahan.

Menurut Standar 2310 SPPIA: Auditor internal harus mengidentifikasikan informasi yang cukup (suffcient), andal (reliable), relevan (relevance) dan berguna (usefulness) untuk mencapai tujuan penugasan. Practice advisory 2410 1 dari standar: kriteria komunikasi. Observasi & rekomendasi harus didasarkan pada atribut: kriteria, kondisi penyebab & dampak. o Kriteria (criteria) : standar, ukuran atau ekspektasi yang dipakai untuk evaluasi / verifikasi (apa yang seharusnya ada / harapan) o Kondisi (condition) : bukti faktual yang ditemukan saat pengujian (apa yang ada / kenyataan) o Penyebab (causes) : alasan perbedaan antara harapan dengan kondisi aktual 9mengapa ada perbedaan)

o Dampak (effect) : resiko / eksposur yang dihadapi organisasi karena kondisi tidak sama dengan kriteria (akibat perbedaan)
-

Practice advisory 2420-1 dari standar: Kualitas kriteria komunikasi antara lain: objectifitas, jelas, ringkas, konstruktif & tepat waktu.

Temuan yang dapat dilaporkan : o Tidak semua kelemahan dapat dilaporkan. o Temuan audit yang dapat dilaporkan harus memiliki kriteria: cukup signifikan, didasarkan fakta, objektif, relevan dan cukup meyakinkan.

Tingkat Signifikansi : Temuan temuan tidak signifikan (unsignificant funding) : tidak disembunyikan/ dilewatkan. Temuan temuan kecil (minor funding) : perlu dilaporkan, bisanya dalam bentuk surat kepada manajemen (management letter) Temuan temuan besar (major funding) : dapat menghalangi tujuan utama organisasi.

Elemen elemen temuan audit : Kriteria ( criteria ) : tujuan dan sasaran serta kualitas pencapaian. Kondisi ( condition ) : merupakan jantungnya temuan Penyebab ( causes ) : memerlukan latihan pemecahan masalah ( problem solving ) Dampak ( effect ) : o Temuan tentang keekonomisan dan efisiensi : diukur dalam $ atau Rp

o Temuan tentang keefektivan : ketidakmampuan untuk menyelesaikan hasil akhir Kesimpulan ( conclusion ) : harus didukung dengan fakta Rekomendasi ( recommendation ) : tindakan yang dapat dipertimbangkan oleh manajemen untuk memperbaiki kondisi yang salah atau memperkuat sistem pengendalian intern.

Fase Review Temuan Audit Fase ini merupakan tahap transisi dari field work ke pembuatan laporan audit. Atribut dalam review temuan audit terdiri dari 5 atribut: 1. Statement of condition Menjelaskan kondisi dan situasi yang ada pada saat temuan diperoleh, bagaimana diperoleh. Kondisi ini akan memberikan refrensi untuk menetapkan kriteria. 2. Criteria Pencocokan aktual prosedur/hasil dengan standar, jadwal, prosedur, tujuan yang ditetapkan. Tiga alternatif pendekatan yang dapat dilakukan : a. Comparative analysis membandingkan dengan standard kebijakan, prosedur, target dan lain sebagainya b. The use of borrowed standard menggunakan standar pihak lain atau yang berasal dari kebijakan perusahaan c. The test of reasonableness melakukan pengujian/tes kewajaran atas kejadian atau transaksi 3. Cause Menjelaskan penyebab terjadinya ketidakefisienan, ketidakefektifan, dan ketidakekonomian 4. Effect Menganalisis akibat yang terjadi dari temuan harus dikuantifikasikan.

Kejadian saat ini bisa berakibat (efek) saat ini (current effect) dan dapat berpotensi tejadi efek di masa depan (potential effect) yang harus dijelaskan. 5. Recommendation Rekomendasi yang dberikan harus logis, dan dapat dipraktikan. Rekornendasi sebagai tolok ukur keberhasilan pelaksanaan review secara keseluruhan. Rekomendasi corrective action dan preventive action

Pengembangan temuan audit dapat dilakukan dengan menyiapkan kuesioner dengan 7 pertanyaan : 1. Apakah ada atribut yang tidak lengkap? Kenapa? Apa yang harus dilakukan? 2. Apakah atribut bercampur aduk satu dengan lain sehingga tidak jelas? Apakah bukti didapat dari opini? 3. Apakah condition statement sudah valid? 4. Apakah kriteria tidak jelas atau tidak meyakinkan? Apakah lemah atau unsound dari sudut profesional? Apakah isi subjek bias? 5. Apakah penjelasan Cause? Apakah mendapatkan informasi cause sesungguhnya atau hanya gejala? Apakah informasi lengkap, atau artifisial? 6. Apakah effect dijelaskan? Dapat dikuantifikasi? 7. Apakah rekomendas tidak diperlukan dengan jelas? Terlalu kaku ?

Pendekatan pengembangan temuan audit dengan 6 langkah : 1. Review & analisis kebijakan, prosedur dan praktik a. Tetapkan apakah kebijakan sesuai, konsisten dengan tujuan & sasaran b. Tetapkan apakah prosedur & praktik sesuai, hasil yang dicapai sesuai tujuan & sasaran 2. Akumulasi bukti dan tetapkan validasinya a. Analisis angka dari berbeda tipe transaksi b. Analisis angka dari individu transaksi

c. Temukan hasil : statistical sample, decision making dan questioning 3. Membandingkan transaksi dengan prosedur tertulis (ditetapkan) : a. Uji transaksi versus prosedur b. Apakah prosedur diikuti c. Analisis hasil dari mengikuti atau tidak rnengikuti prosedur 4. Kuantifikasi efek a. Hitung berapa rupiah kerugiannya b. Menetapkan faktor-faktor lain seperti ketidakefektifan c. Menetapkan total efek 5. Menentukan Penyebab a. Menentukan kenapa hasil tidak tercapai b. Menentukan bukti yang cukup 6. Mengembangkan rekomendasi: a. Menentukan bagaimana mengembangkan situasi menggunakan 3E b. Dokumentasi bagaimana mengimplementasikan rekomendasi yang praktis dan masuk akal Mengembangkan rekomendasi Team review (auditor) harus mempertimbangkan semua aspek dan dari berbagai narasumber dan data Sasaran dari review adalah mengidentifikasi sistem dan prosedur yang direkomendasikan dapat meningkatkan keuntungan, biaya yang murah dan efisien digunakan dan mencapai hasil yang maksimum Rekomendasi dapat dilakukan dengan acuan (benchmaking) Acuan Internal 1. Prosedur 2. Budget 3. Spesifikasi standar 9

Acuan External 1. Competitive berpatokan pada pesaing 2. Industry mengacu kepada standar atau pencapaian industri 3. Best-in-class mengacu hal-hal yang baik dari suatu perusahaan Data benchmaking diperoleh dari published data (sekunder) dan survey sendiri (primer)

Fase Pelaporan Tujuan pelaporan adalah : 1. Memberikan Informasi yang berguna dan tepat waktu atas ketidakefisienan operasi yang signifikan 2. Memberikan rekomendasi yang membangun dalam melakukan operasi

Fungsi laporan 1. Mengkomunikasikan hasil dari review operasi 2. Membujuk untuk mejalankan/implementasikan tindakan yang benar (sound)

Dalam Internal audit, juga dapat dilakukan laporan sela atau Laporan Interim. Laporan interim dapat dilakukan dengan : 1. Secara Lisan 2. Secara Tertulis baik lisan atau tertulis tetap harus mengikuti 5 atribut

Laporan Interim dapat dilakukan bila: 1. Pelaksanaan review dengan waktu lama 2. Ada yang harus segera dilaporkan

10

Laporan Lisan Laporan lisan merupakan: 1. Laporan kurang formal 2. Dapat dilakukan : a. Secara periodik, karena lama pelaksanaan audit (review operasi). b. Ada sesuatu segera yang harus dilaporkan Keuntungan laporan lisan: 1. 2. 3. 4. Dilakukan segera (Immediate) Menghindari tatap muka Memungkinkan yang mereview memberikan argument dan memberikan informasi tambahan Yang mereview dapat mengevaluasi ketidakakurasian dari pemikiran team sehingga dapat dikoreksi sebelum keputusan final

Laporan tertulis Merupakan laporan formal yang menyatakan bahwa review telah selesai dilakukan dan memberikan hasil yang penting dari review yang dilakukan. Laporan bagi auditor memberikan informasi ke rnanajemen bahwa pekerjaan sudah selesai dan menjadi sumber review periode berikutnya. Laporan menekankan pada efek pada saat ini dan keuntungan pada masa depan atas dilaksanakannya rekomendasi yang didukung dengan dokumentasi/bukti yang kompeten dan valid

Karakteristik laporan yang baik 1. Signifikan a. Tingkat perhatian dari operasi/aktivitas b. Penting bagi oerasi, diukur dari biaya, investasi dan pendapatan c. Relatif baru dan Eksperimen dari operasi d. Kesempatan memperbaiki keefektifan e. Frekuensi kejadian f. Gagal staf operasi bertindak benar/lemah atau mengembangkan operasi 11

2. Useful & timelines a. Laporan yang jelas sehingga berguna bagi manajemen untuk memperbaiki dan mengembangkan operasi b. Laporan harus diberikan dalam jangka waktu tepat 3. Accurately and adequacy of support a. Data harus factual (fact and actual) yang telah dievaluasi dan divalidasi b. Data harus kecukupan untuk diambil kesimpulan dan dilaporkan 4. Convincingness a. Laporan harus mempresentasikan suatu yang yakin dan berhubungan dengan konklusi dan rekomendasi yang harus secara logis berdasar data yang factual b. Untuk laporan yang meyakinkan, data harus kompeten, kecukupan dan valid 5. Objective and perspectives a. Laporan tidak memihak dan berdasarkan data b. Memberikan laporan yang seimbang : 1. Informast yang cukup. 2. Pernyataan yang jelas tentang ruang lingkup dan proses yang umum pemeriksaan. 3. Ukuran informasi dan aktivitas operasi yang alami. 4. Penjelasan yang benar dan wajar, untuk menghindari pembaca salah inteprestasi dan salah pengertian. 6. Clarity and simplicity a. Laporan dibuat harus jelas, dapat dipraktikan dan efektif dalam komunikasi b. Laporan dibuat dan disajikan dengan sederhana sehingga mudah untuk dimengerti, termasuk material yang digunakan dalam laporan. 7. Conciseness 12

a. Laporan selesai tidak lebih lama dari yang dibutuhkan untuk dikomunikasikan ke yang membutuhkan informasi b. Isi laporan harus memberikan sesuatu yang menjadi perhatian (get attention) bagi pembaca. 8. Constructiveness of tone a. Kata-kata yang digunakan dalam laporan harus jelas, menarik perhatian bagi pembaca, pemakaian istilah yang tidak membiaskan pembaca, dan menghindari terjadi salah pengertian dan inteprestasi. b. Kalimat sebaiknya konstruktif dan positif. 9. Organizational and positively a. Laporan disusun dengan sistematis, termasuk material, tulisan dan susunan materi dalam report b. Laporan juga memberikan opini yang mengekspresikan positif, kalimat yang kuat dan membangun.

13

KERTAS KERJA AUDIT DAN PROGRAM AUDIT

Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP) Kertas kerja pemeriksaan merupakan bukti dasar dari kegiatan review dan sebagai dasar dalam pembuatan laporan Kertas Kerja Audit (KKA) merupakan catatan-catatan yang dibuat dan data-data yang dikumpulkan auditor secara sistematis pada saat melaksanakan tugas audit. Untuk memberikan gambaran yang lengkap terhadap proses audit. KKA harus mencerminkan langkah-langkah kerja audit yang ditempuh, pengujian-pengujian yang dilakukan, informasi yang diperoleh, dan kesimpulan hasil audit. KKA adalah dokumen pemeriksaan yang memuat data catatan pembuktian yang dikumpulkan oleh Pemeriksa selama berlangsungnya pemeriksaan mulai dari tahap persiapan sampai dengan tahap pelaporan, baik yang diperoleh dari Manajemen Pelaksana maupun dari pihak lain, termasuk juga hasil analisa Pemeriksa sendiri, dengan tujuan utama sebagai berikut:

14

Menyimpan segala informasi penting yang diperoleh melalui wawancara, review, instruksi, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk analisa berbagai unsur pengendalian dan proses pemeriksaan transaksi.

Mengidentifikasi dan mendokumentasikan himpunan temuan-temuan kelemahan, penyimpangan, ketidakpatuhan dan ketidakteraturan sebagai pendukung eksistensi dan luasnya kondisi yang dianggap perlu mendapatkan perbaikan.

Membantu pengendalian pelaksanaan pemeriksaan agar dapat berjalan dengan tertib. Dengan Kertas Kerja Pemeriksaan dapat diketahui apa yang telah dilakukan Pemeriksa, apa yang sedang dikerjakan dan pekerjaan apa yang belum/tidak dilaksanakan serta alasannya.

Memberikan dukungan pembuktian dalam pembicaraan hasil pemeriksaan dengan Manajemen Pelaksana sebagai pihak yang diaudit, termasuk alat untuk mempertahankan pendapat dan saran internal. Juga memberikan dukungan pembuktian bagi laporan hasil pemeriksaan.

Memberikan alat bagi supervisor/ketua tim pemeriksaan untuk mereview hasil pemeriksaan, serta menjadi dasar untuk menilai kemampuan teknis, keahlian, kecermatan dan ketelitian serta kerapian kerja anggota Pemeriksa yang bersangkutan.

Menjadi pedoman dan bahan referensi untuk pemeriksaan pada periode berikutnya, sehingga pengulangan pekerjaan tidak terjadi dan review dapat dilakukan lebih dini.

Kegunaan Kertas Kerja Pemeriksaan adalah: 1. Tempat menyimpan informasi yang didapat. Mengidentifikasi dan sebagai pendukung permasalahan, kejadian dan tindakan yang terjadi selama review, temuan, rapat, dan lain lain. 2. Menjadi bahan pendukung untuk diskusi dengan audittee (reviewee). 3. Untuk mendukung laporan.

15

4. Sebagai bahan untuk mempertahankan fakta, konklusi dan rekomendasi jika diperlukan. 5. Sebagai dasar pengawasan kerja. 6. Sebagai dasar penilaian dari teknik, kemampuan dan kerja dari team audit. 7. Sebagai refrensi review berikutnya.

Manfaat KKA: Merupakan dasar penyusunan Laporan Hasil Audit Merupakan alat bagi supervisor atau partner untuk mereview dan mengawasi perkerjaan anggota tim audit Merupakan alat pembuktian dari Laporan Hasil Audit Menyajikan data untuk keperluan referensi Merupakan salah satu pedoman untuk tugas audit periode berikutnya

Syarat KKA : KKA harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

Judul (nomor, nama dept, penjelasan WP dan periode data) Nomor indeks refrensi Paraf dan tanggal yang menyiapkan Paraf dan tanggal yang mereview Sumber Informasi Identifikasi/verifikasi data yang diterima dari interviewee Nama perserta yang ikut dalam diskusi Lengkap Bebas dari kesalahan, baik kesalahan hitung maupun kesalahan penyajian informasi

16

Didasarkan pada fakta dan argumen yang rasional Disajikan secara sistematis, rapi, dan mudah dipahami Memuat hal penting dan relevan dengan pemeriksaan Mempunyai tujuan yang jelas Sedapat mungkin menghindari pekerjaan menyalin ulang Dalam setiap KKA harus mencantumkan kesimpulan dan komentar atau catatan reviewer

Kertas Kerja Pemeriksaan kadangkala harus didukung dengan bukti-bukti. Bukti-bukti ini menjadi bukti / dokumen audit. Bukti dapat berupa: 1. Fisik observasi, foto, dll 2. Pengakuan interview, statement 3. Dokumen surat, kontrak, catatan 4. Analisis analisis informasi Bukti baik harus mempunyai atribut: 1. Sufficiency jumlah bukti yang cukup untuk mendukung pernyataan sesuatu menjadi temuan audit. 2. Competence bukti yang digunakan untuk mengungkapkan temuan adalah bukti yang benar. 3. Relevance bukti yang berhubungan dengan temuan audit.

Pedoman Pembuatan Kertas Kerja Setiap kertas kerja harus bertujuan

17

Setiap topik dibuatkan kertas kerja sendiri Indentitas (judul) yang jelas Diberi indeks atau indeks silang Semua langkah (prosedur audit) harus dijelaskan Berisi komentar auditor yang mencerminkan kesimpulan Ada paraf dan tanggal pembuatan/evaluasi Penyimpanan terpisah antara yang sudah selesai dengan yang belum selesai

Fungsi Kertas Kerja Pendukung pendapat auditor. Membantu dalam pengarahan dan pengawasan pekerjaan. Penyediaan catatan tentang: 1. 2. 3. 4. Prosedur audit yang dilakukan. Pengujian yang dilakukan Informasi yang diperoleh. Kesimpulan yang dicapai. Menyediakan bukti bahwa audit telah diarahkan menurut

Standar Profesional Audit Internal

Kelengkapan Kertas Kerja Kertas kerja harus akurat dan lengkap Tidak ada pertanyaan signifikan dalam lingkup atau yang berhubungan dengan tujuan audit yang tidak dapat terjawab. Kertas kerja harus berdiri sendiri, dalam hal ini harus dinyatakan secara jelas bahwa pekerjaan telah dilaksanakan, bagaimana dan dari mana sampel dipilih, tujuan kertas kerja, temuan apa saja yang telah dibuat, dan lain-lain. Setiap bagian dari kertas kerja harus terdiri dari: 1. 2. 3. Gambaran judul Identifikasi sumber jika jelas Tanggal persiapan auditor awal 18

4.

Nomer indeks kertas kerja

PROGRAM KERJA AUDIT Program kerja audit adalah rangkaian yang sistematis dari prosedur-prosedur pemeriksaan untuk mencapai tujuan audit. Program audit berisi rencana langkah kerja yang harus dilakukan selama audit berlangsung yangdidasarkan atas tujuan dan sasaran yang ditetapkan serta informasi yang ada tentang objek yang diperiksa. A. Manfaat Program Kerja Manfaat penyusunan program kerja: 1. Merupakan suatu rencana yang sistematis tentang setiap tahap kegiatan yang bisa dikomunikasikan kepada semua anggota tim audit 2. Merupakan landasan yang sistematis dalam memeberikan tugas kepada para auditor dan supervisornya 3. Sebagai dasar untuk membandingkan pelaksanaan kegiatan dengan rencana yang telah disetujui dan dengan standar serta persyaratan yang terlah ditetapkan 4. Dapat membantu auditor yang belum berpengalaman dan membiasakan mereka dengan ruang lingkup, tujuan, serta langkah-langkah audit 5. Dapat membantu auditor untuk mengenali sifat pekerjaan yang telah dikerjakan sebelumnya 6. Dapat mengurangi kegiatan pengawasan langsung oleh supervisor Program audit bersifat fleksibel (tidak kaku), dapat disesuaikan, diperluas, atau dikurangi disesuaikan dengan kondisi yang ada dan hasil penilaian terhadap pengendalian manajemen. Untuk setiap tahap pemeriksaan (persiapan pemeriksaan, pemeriksaan pendahuluan, dan pemeriksaan lanjutan) harus disiapkan program audit tersendiri. Program audit harus dituangkan dalam kertas kerja audit (KKA) atau audit working papers.

Setiap program audit yang lengkap mencakup 4 bagian pokok.

19

1. Pendahuluan Memuat informasi latar belakang objek yang diperiksa yang bermanfaat Bagi auditor untuk memahami objek yang diperiksa. 2. Pernyataan Tujuan Pemeriksaan a. Tujuan-tujuan khusus pemeriksaan dengan mempertimbangkan b. Cara pendekatan pemeriksaan yang dipilih c. Pola laporan yang dikehendaki d. Hal lain yang penting 3. Instruksi khusus Memuat instruksi-instruksi khusus dari pimpinan kantor akuntan publikatau pimpinan perusahan yang diaudit . 4. Langkah-langkah kerja B. Langkah-Langkah Kerja Langkah-langkah kerja memuat pengarahan-pengarahan khusus pelaksanaan tugas audit, sesuai dengan tahapannya, yaitu: 1. Persiapan Pemeriksaan - Pembicaraan pendahuluan dengan objek audit - Pengumpulan informasi umum - Pembuatan ikhtisar hasil persiapan pemeriksaan 2. Pemeriksaan Pendahuluan - Penelaahan ketentuan-ketentuan yang berlaku - Pengujian pengendalian manajemen - Penyusunan daftar ikhtisar temuan hasil pemeriksaan pendahuluan - Pembahasan hasil pemeriksaan pendahuluan dengan Auditee 3. Pemeriksaan Lanjutan - Pengembangan temuan hasil pemeriksaan pendahuluan - Penyajian hasil pemeriksaan lanjutan - Saran/rekomendasi - Pembahasan temuan dengan Auditee - Pembahasan hasil pemeriksaan dengan Auditee C. Penyusunan Program Kerja Audit Patokan dalam penyusunan program kerja audit: 20

Tujuan audit harus dinyatakan secara jelas dan memungkinkan untuk dapat dicapai. Setiap langkah pemeriksaan harus merinci prosedur audit yang harus dilakukan. Setiap langkah pemeriksaan harus berbentuk instruksi-instruksi mengenai pekerjaan yang harus dilakukan. Program audit harus menggambarkan urutan prioritas langkah-langkah pemeriksaan yang dilaksanakan. Program audit harus fleksibel namun setiap perubahan harus dengan persetujuan supervisor. Program audit harus berisi informasi yang perlu untuk dapat dilaksanakan dan dievaluasi secara tepat. Program audit tidak boleh memuat perintah untuk memperoleh informasi yang telah ada dalam permanen file, tetapi cukup menunjuk file yang bersangkutan.

Program audit harus menyertakan taksiran waktu yang diperlukan sesuai. Audit Program merupakan kumpulan dari prosedur audit yang akan dijalankan dan dibuat secara tertulis.

Tujuan Audit Program: Membantu Auditor dlm memberikan perintah kpd asisten mengenai pekerjaan yg harus dilaksanakan. Audit Program yg baik harus mencantumkan : 1. Tujuan pemeriksaan. 2. Audit prosedur yg akan dijalankan 3. Kesimpulan pemeriksaan.

Manfaat audit program Sebagai petunjuka kerja yagn harus dilakukan dan instruksi bagaimana harus menyelesaikan suatu pemeriksaan Sebagai dasar untuk koordina si, pengawasan, dan pengendalian pemeriksaan Sebagai dasar penilaian kerja yang dilakukan klien.

21

AKTIVITAS MANAJEMEN AUDIT Audit Manajemen dan Karakteristiknya Auditing adalah suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi dengan tujuan untuk memetapkaan tingkat kesesuaian antara pernyataan pernyataan tersebut dengan kinerja yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan. Sedangkan kalau ditinjau dari pemeriksa (auditor) yang melaksanakan audit, pada dasarnya audit digolongkan menjadi dua jenis, yaitu audit eksternal dan audit internal. Audit manajemen sendiri dapat dikatakan merupakan bagian dari audit internal. Pengertian sederhana dari audit manajemen adalah investigasi dari suatu organisasi dalam semua aspek kegiatan manajemen dari yang paling tinggi sampai dengan ke bawah dan pembuatan laporan audit mengenai efektifitasnya atau dari segi profitabilitas dan efisiensi kegiatan bisnisnya. Definisi menurut Holmes dan Overmyer (1975), manajemen audit mencakup penelitian dan evaluasi atas semua fungsi dari Manajemen, untuk memastikan bahwa pelaksanaan operasi perusahaan telah dijalankan dengan cara yang efektif dan efisien. Definisi menurut American Institute of Certified Public Accountant / AICPA: audit manajemen adalah suatu penelaahan yang sistematis terhadap aktivitas suatu organisasi, atau suatu segmen tertentu daripadanya, dalam hubungannya dengan tujuan tertentu, dengan maksud untuk : Menilai kegiatan Mengidentifikasikan berbagai kesempatan untuk perbaikan Mengembangkan rekomendasi bagi perbaikan atau tindakan lebih lanjut Sehingga berdasarkan definisi yang kita kumpulkan di atas, audit manajemen mempunyai beberapa karakteristik penting. Karakter tersebut meliputi : 1. Tujuan Pemeriksaan. Tujuan pemeriksaan manajemen adalah membantu semua peringkat manajemen dalam meningkatkan perencanaan dan pengendalian manajemen dengan cara mengidentifikasikan aspek aspek 22

system dan prosedur serta rekomendasi kepada manajemen untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan kehematan. 2. Independensi. Agar manfaat pemeriksaan manajemen dapat dicapai, maka pemeriksaan tersebut harus bersifat independent. 3. Pendekatan Sistematis. Dalam perencanaan dan pelaksanaan audit manajemen perlu digunakan pendekatan yang sistematis dan metode metode yang konsisten. 4. Kriteria Prestasi. Dengan kriteria prestasi pelaksanaan dapat dibandingkan dan dievaluasi. 5. Bukti Pemeriksaan. Auditor harus dapat merencanakan dan melaksanakan prosedur yang dirancang untuk memperoleh bukti yang cukup untuk mendukung temuan temuan dan kesimpulan kesimpulan serta rekomendasi yang dibuatnya. 6. Pelaporan dan Rekomendasi. Karakteristik yang membedakan antara audit manajemen dengan jenis audit lainnya adalah terletak pada laporan audit. Dalam audit manajemen , laporan audit menekankan pada temuan temuan selama pemeriksaan, pembuatan kesimpulan, dan rekomendasi untuk meningkatkan system perencanaan dan pengendalian manajemen. Selain itu audit manajemen juga mempunyai beberapa karakteristik penting, yaitu meliputi : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Menjamin/memastikan pengendalian intern yang memadai. Menelaah keadaan catatan. Mencegah dan mendeteksi kecurangan. Memenuhi kewajiban hukum apabila ada. Memonitor prosedur pelaporan. Memperkuat keputusan manajemen. Melakukan pelaksanaan value of money Appraisal

23