Anda di halaman 1dari 4

KLASIFIKASI TUMBUHAN

Definisi, Tujuan, Manfaat, dan Dasar Klasifikasi Tumbuhan Klasifikasi dapat diartikan sebagai pembentukan kelas-kelas, kelompok, unit, atau takson melalui pencarian keseragaman dalam keanekaragaman. Tujuan klasifikasi adalah untuk menyederhanakan obyek studi. Klasifikasi dapat membantu kita dalam mengetahui jenis-jenis organisme, mengetahui hubungan antar organisme dan mengetahui kekerabatan antar makhluk hidup yang beraneka ragam. Perbedaan dasar yang digunakan dalam mengadakan klasifikasi tumbuhan tentu saja memberikan hasil klasifikasi yang berbeda-beda pula, yang dari masa ke masa menyebabkan lahirnya Sistem Klasifikasi yang berlainan. Namun pada prinsipnya, kesamaan-kesamaan atau keseragaman itulah yang dijadikan dasar dalam mengadakan klasifikasi, misalnya klasifikasi berdasarkan lingkungan hidupnya, seperti tumbuhan air, tumbuhan darat, tumbuhan dataran tinggi, tumbuhan dataran rendah, atau berdasarkan kegunaannya seperti tumbuhan sandang, obat-obatan, hias, dan sebagai:

1]. Periode Sistem Habitus ( abad ke-4 SM abad ke-17 M) Pada periode ini dikenalah ilmu taksonomi tumbuhan sebagai ilmu pengetahuan baru yang dipelopori oleh orang-orang Yunani seperti Theophrastes (370 285 SM) murid seorang filsuf yunani Aristoteles. Aristoteles sendiri murid seorang filsuf yunani Plato. Theophrastes mengklasifikasian tumbuhan berdasarkan habitus (perawakan). Sistem klasifikasi yang diusulkan bangsa yunani yang dipelopori Theophrastes ini diikuti oleh kaum herbalis, dan ahli-ahli botani, dan nama itu terus dipakai sampai selama lebih 10 abad. Pengklasifikasian tumbuhan berdasarkan habitus (perawakan), membagi tumbuhan ke dalam 5 golongan yaitu pohon, perdu, semak, tumbuhan memanjat, dan terna. Theophrastes-lah yang pertama mengelompokan tumbuhan menurut umur yaitu tumbuhan berumur pendek (anual), tumbuhan berumur 2 tahun (bienial), dan tumbuhan berumur panjang (perenial). Beberapa tokoh yang ikut memainkan peran dalam periode ini antara lain yaitu Plinius (23 79 M), O.Brunfels (1464 1534 M), J. Bauhin (1560 1624 M), R. Morison (1620 1683). 2] . Periode Sistem Numerik ( awal abad ke-18 M) Tidak seperti pada periode sebelumnya dimana tumbuhan di klasifikasikan berdasarkan bentuk dan strukturnya, pada periode ini pengklasifikasian tumbuhan berdasarkan hubungan kekerabatan antara tumbuhan. Pada periode ini tokoh yang paling menonjol adalah Karl Linne (Carolus Linnaeus) (1707 1228 M). Dia menciptakan klasifikasi tumbuhan berdasarkan sistem seksual yaitu berdasarkan kesamaan jumlah alat-alat kelamin, antara lain jumlah benang sari seperti Monandria (berbenang sari tunggal), Diandria (berbenang sari dua) Triandria (berbenang sari tiga) dan seterusnya. Itulah sebabnya sistem klasifikasi tumbuhan ciptaan Linnaeus ini dikenal pula sebagai Sistem Numerik. Linnaeus juga dianggap sebagai pencipta sistem tata nama ganda dalam bukunya Species Plantarum walaupun sebenarnya sistem tata nama ganda tersebut sudah rintis oleh Casper Bauhin dalam bukunya Pinax Theatri Botanici. Tetapi karena mungkin Linnaeus-lah yang pertama seara konsisten menggunakan nama ganda itu untuk jenis tumbuhan dalam bukunya Species Plantarum tadi, nama Bauhin menjadi

tersisihkan. Beberapa tokoh-tokoh yang ikut berperan pada periode ini antara lain Peter Kalm (1716 1779 M), J.A. Murray (1740 1791 M), J. Schultes (1773 1831 M). 3] . Periode sistem alam ( akhir abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19) Menjelang berakhirnya abad ke-18 mulailah terjadi perubahan-perubahan yang revolusioner dalam pengklasifikasian tumbuhan. Sistem klasifikasi yang baru ini disebut sistem alam dalam arti bahwa golongan-golongan yang terbentuk merupakan unit-unit yang wajar (natural) bila terdiri atas anggota-anggota itu, dan dengan demikian dapat tercermin pengertian manusia mengenai yang disebut apa yang dikehendaki oleh alam. Secara harfiah istilah sistem alam untuk aliran baru dalam klasifikasi ini sebenarnya tidak begitu tepat, mengingat sistem yang manapun dengan menerapkan dasar apapun, tetap merupakan ciptaan orang, sehingga pada hakekatnya semua sistem klasifikasi adalah sistem buatan. Beberapa tokoh yang berperan pada periode ini antara lain J.B. de Lamarck (1744 1829 M), orang yang menulis buku Flora Francoise yang ditulis berupa kunci untuk mengidentifikasi tumbuh-tumbuhan di Perancis. Lamarck juga dianggap sebagai salah satu perintis lahirnya teori evolusi. Teorinya yang dikenal dengan nama Lamarckisme, yang menyatakan bahwa perubahan lingkungan dapat mengubah struktur organisme. Tokoh lain seperti Robert Brown (1773 1858 M), G. Bentham (1800 1884 M), J.D. Hooker (1917 1911 M). 4] . Periode sistem filogenetik (pertengahan abad ke-19 hingga sekarang Sistem klasifikasi dalam periode ini berupaya untuk mengadakan penggolongan tumbuhan yang sekaligus juga menerminkan urutan-urutan golongan itu dalam sejarah perkembangan filogenetiknya dan dengan demikian juga menunjukkan jauh dekatnya hubungan kekarabatan antara golongan yang satu dengan yang lain. Jadi dalam klasifikasi ini dasar yang digunakan adalah filogeni dan dari sini lahirlah nama sistem filogenetik. Beberapa ahli taksonomi tumbuhan yang berperan pada periode ini antara lain, Alexander Braun (1805 1877 M), A.W. Eihler (1839 1887 M), Adolph Engler (1844 1930 M), C.E. Bessey (1845 1915 M). 5] Periode sistem klasifikasi kontemporer (abad ke-20) Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dalam abad ke-20 telah berpengaruh terhadap perkembangan ilmu taksonomi tumbuhan. Kecenderungan untuk mengkuantitatifkan data penelitian dan penerapan matematika dalam pengolahan data yang diperoleh telah menyusup pula ke dalam ilmu-ilmu social yang semula tak pernah atau belum memanfaatkan matematika serta belum mempertimbangkan pula kemungkinan-kemungkinan yang dapat dicapai dengan penerapan pendekatan kuantitatif matematik. Sekarang ada kecenderungan untuk menganggap bahwa penerapan metode kuantitatif sajalah yang dapat menjamin hasil penelitian yang cermat dan dapat diperaya. Perkembangan teknologi, khususnya di bidang elektronika, yang dalam abad nuklear maju dengan pesat ini, telah pula menjamah bidang taksonomi tumbuhan, yang sejak beberapa dasawarsa belakangan ini juga sudah menerapkan metode penelitian kuantitatif yang pengolahan datanya menggunakan komputer. Dari sinilah melahirkan bidang baru dalam taksonomi tumbuhan yang dikenal sebagai taksonomi numerik, taksometri, atau taksonometri. Pengolahan data secara elektronik juga sudah diterapkan untuk berbagai prosedur dalam penelitian taksonomi. Taksonomi numerik (dalam arti bukan yang diteorikan oleh Linnaeus) didefinisikan sebagai metode evaluasi kuantitatif mengenai kesamaan atau kemiripan sifat antar golongan organisme, dan penataan golongan-golongan itu melalui suatu analisis yang dikenal sebagai analisis kelompok ke dalam kategori takson yang lebih tinggi atas dasar kesamaan-

kesamaan tadi. Peranan komputer adalah untuk mengerjakan perbandingan kuantitatif antara organisme mengenai sejumlah besar ciri-ciri secara simultan. Jadi komputer itu mengambil alih tugas kita dalam melakukan hitungan-hitungan dengan sangat cepat dan tanpa prasangka. Taksonomi numerik didasarkan atas bukti-bukti fenetik, artinya didasarkan atas kemiripan yang diperlihatkan obyek studi yang diamati dan dicatat, dan bukan atas dasar kemungkinankemungkinan perkembangan filogenetiknya. Kegiatan-kegiatan dalam taksonomi numerik bersifat empirik operasional, dan data serta kesimpulannya selalu dapat diuji kembali melalui observasi dan eksperimen. Takson dan Kategori Dalam Kode Internasional Tatanama Tumbuhan (KITT) Bagian II Peraturan dan Saran-Saran Bab I Tingkat Takson dan Istilah untuk Menyebutnya Pasal 1, secara eksplisit, bahwa yang dimaksud Takson adalah setiap golongan (unit) taksonomi tingkat yang mana pun. Artinya takson-takson itu dibedakan dalam tingkat yang berbeda-beda, yang berarti pula bahwa takson-takson itu dapat ditata menurut urut-urutan tingkatnya. Pasal berikutnya dalam KITT menyebutkan bahwa ada 7 tingkat takson yang utama, yang diurutkan dari yang terbesar sampai yang terkecil, seperti pada tabel berikut (Perbandingan dengan takson hewan) :

Istilah jenis, marga, suku, dan seterusnya merupakan istilah untuk menunjukkan takson menurut tingkatnya, yang dalam taksonomi disebut pula dengan istilah kategori. Namun istilah kategori lazim digunakan dalam taksonomi hewan, dan jarang kita jumpai dalam taksonomi tumbuhan. Takson (unit) dasar dalam taksonomi tumbuhan. Pada masa lampau yang dijadikan unit dasar dalam klasifikasi tidak sama dengan unit dasar yang dipakai sekarang. Dari karya pakar masa lampau dapat disimpulkan, bahwa unit dasar yang mereka pakai adalah marga (genus), yang terbukti dari judul karya mereka yang semua hampir sama, yaitu Genera Plantarum (margamarga tumbuhan), seperti karya-karya Linnaeus, Endlicher, Bentham & Hooker, semuanya berjudul Genera Plantarum. Pada waktu sekarang keadaannya telah berubah, KITT Bagian II, Bab I Pasal 2 menyebutkan seara eksplisit, bahwa takson jenis (species) adalah yang merupakan unit dasar. Sebagai contoh klasifikasi pada Oryza sativa (padi): Regnum (dunia) : Tumbuhan Divisio (divisi) : Spermatophyta Sub Divisio : Angiospermae Class (kelas) : Monocotyledoneae Ordo (bangsa) : Poales (Glumiflorae) Familia (suku) : Gramineae Genus (marga) : Oryza Species (jenis) : Oryza sativa Identifikasi dan Sistem Identifikasi Indentifikasi atau pengenalan merupakan kegiatan untuk menetapkan identitas (jati diri) suatu tumbuhan, yang dalam hal ini tidak lain daripada menentukan namanya yang benar

dan tempatnya yang tepat dalam sistem klasifikasi. Istilah identifikasi sering juga digunakan istilah determinasi. Setiap orang yang akan mengidentifikasi suatu tumbuhan selalu dihadapkan pada dua kemungkinan, yaitu : 1. tumbuhan yang akan ia identifikasi itu belum dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan, jadi belum ada nama ilmiah-nya, juga belum ditentukan tumbuhan itu berturut-turut dimasukkan dalam kategori yang mana. 2. tumbuhan yang akan ia identifikasi itu sudah dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan, sudah ditentukan nama dan tempatnya yang tepat dalam sistem klasifikasi. Identifikasi tumbuhan yang belum dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan harus tidak boleh menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang berlaku seperti dimuat dalam KITT. Nama takson baru itu selanjutnya harus dipublikasikan melalui cara-cara yang diatur pula oleh KITT. Prosedur identifikasi tumbuhan yang untuk pertama kali akan diperkenalkan oleh dan ke dunia ilmiah itu memerlukan bekal yang lazimnya hanya dimiliki oleh mereka yang berpendidikan ilmu hayat, khususnya taksonomi tumbuhan. Oleh karena itu pekerjaan identifikasi yang pertama kali itu hanya dilakukan oleh ahli-ahli yang bekerja dalam lembaga penelitian taksonomi tumbuhan (herbarium), jarang sekali oleh pihak-pihak lain di luar mereka. Untuk identifikasi tumbuhan yang tidak kita kenal tetapi telah dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan, dapat dilakukan dengan cara : 1. Menanyakan identitas tumbuhan tersebut kepada seseorang yang kita anggap ahli dan kita perkirakan mampu memberikan jawaban atas pertanyaan kita. 2. Mencocokkan dengan spesimen herbarium yang telah diidentifikasikan. 3. Mencocokkan dengan candra dan gambar-gambar yang ada dalam buku-buku flora atau monografi. 4. Menggunakan kunci identifikasi dalam identifikasi tumbuhan. 5. Menggunakan Lembar Identufikasi Jenis (Species Identification Sheet). Tatanama Tumbuhan Nama biasa dan nama ilmiah Pada mulanya nama yang diberikan kapada tumbuhan itu adalah dalam bahasa induk orang yang memberi nama. Dengan demikian satu jenis tumbuhan dapat mempunyai nama yang berbeda-beda sesuai dengan bahasa orang yang memberikannya. Misalnya pisang dalam bahasa Indonesia oleh orang Inggris atau Belanda dinamakan banana, orang Jawa Tengah menyebutnya gedang, sedang orang Jawa Barat oleh orang-orang Sunda pisang dinamakan cauk. Nama demikian itu, yang berbeda-beda menurut bahasa yang memberikan nama tadi, dalam taksonomi tumbuhan disebut nama biasa, nama daerah, atau nama lokal atau common name. dengan semakin berkembangnya ilmu taksonomi tumbuhan kemudian dikenal yang disebut nama ilmiah (scientific name). Lahirnya nama ilmiah disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : 1. Beranekaragamnya nama biasa, berarti tidak adanya kemungkinan nama biasa itu diberlakukan secara umum untuk dunia internasional, mengingat adanya perbedaan dalam setiap bahasa yang digunakan, sehingga tidak mungkin dimengerti oleh semua bangsa. 2. Beranekaragamnya nama dalam arti ada yang pendek, ada yang panjang, bahkan ada yang panjang sekali, misalnya nama Sambucus, Sambucus nigra (sambucus hitam), Sambucus fructu in umbello nigro (Sambucus dengan buah berwarna hitam yang tersusun dalam rangkaian seperti payung), atau Sambucus caule ramoso floribus umbellatus (Sambucus dengan batang berkayuyang bercabang-cabang dan bunga yang tersusun sebagai payung). Nama-nama itu diberikan kepada tumbuhan tanpa adanya indikasi nama-nama tadi dimaksud