Anda di halaman 1dari 38

INTERNALISASI GOOD CORPORATE GOVERNANCE DALAM PROSES BISNIS

Laporan
Corporate Governance Perception Index 2004

G. Suprayitno Khomsiyah G. Indrayanto Sedarnawati Yasni

Dadi Krismatono Rika Gelar Rahayu May Susandy

KATA PENGANTAR

The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) mengucapkan terima kasih atas partisipasi perusahaan peserta Corporate Governance Perception Index 2004 (CGPI 2004). Kegiatan riset dan pemeringkatan pada tahun 2004 ini mendapat dukungan dari Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Bursa Efek Jakarta (BEJ), dan Majalah SWA sebagai mitra kerja yang telah lama berbagi komitmen dalam pengembangan corporate governance (GCG) di Indonesia. Pada CGPI 2003 kami menekankan aspek pembelajaran atau learning dalam menganalisis dan memaparkan potret implementasi corporate governance di Indonesia. Tema pembelajaran diambil untuk meneguhkan optimisme dalam berhadapan dengan realitas pencapaian kualitas corporate governance di Indonesia. Pada kondisi perusahaan yang mengunyah konsep good corporate governance (GCG) sebagai pelajaran yang pahit namun berharga dari krisis ekonomi sejak 1997, masih ditemukan perilaku perusahaan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah GCG dan rendahnya penegakkan hukum. Pada CGPI 2004, IICG mengajak komunitas bisnis Indonesia untuk melangkah setapak, dengan mengangkat tema Internalisasi GCG dalam Proses Bisnis. Tema ini dipilih untuk mengukur dan menyebarluaskan pengetahuan tentang proses-proses yang ditempuh perusahaan dalam menginternalisasikan prinsip-prinsip GCG dalam proses bisnis. Pernyataan tersebut dapat dibalik menjadi sebuah pertanyaan retorik: Bukankah prinsip GCG harus mewarnai dan menginspirasi proses bisnis?. Proses bisnis yang dimaksud cukup luas cakupannya. Beberapa hal yang perlu diketahui antara lain adalah: (a) Apakah prinsip GCG dapat direfleksikan dalam Visi dan Misi perusahaan; (b) Bagaimana pelaksanaan strategi dan kebijakan bisnis, seperti manajemen resiko, pengelolaan benturan kepentingan, atau aktivitas yang lebih fungsional seperti kebijakan akuntansi, manajemen orang, pengawasan; dan (c) Bagaimana dengan fungsi organisasi pendukungnya. Pernyataan dan pertanyaan yang memerlukan pencernaan logika di atas itulah yang menjadi orientasi analisis dan pemaparan hasil riset CGPI 2004. Rekaman yang didapat dari proses riset ini diharapkan dapat memperkaya khazanah pengetahuan komunitas bisnis di Indonesia. Semoga upaya bersama ini dapat memberikan manfaat bagi penguatan ekonomi Indonesia. Jakarta, April 2005 The Indonesian Institute for Corporate Governance

Dadi Krismatono Direktur Eksekutif

DAFTAR ISI

Halaman KATA PENGANTAR

PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 1.4 Latar Belakang Pentingnya Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik Perlunya Riset Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik Manfaat dan Dampak yang diharapkan dari Riset dan Pemeringkatan

II

TINJAUAN PERKEMBANGAN KONSEP DAN PRINSIP-PRINSIP TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK 2.1 2.2 2.3 Konsep Tata Kelola Perusahaan yang Baik Prinsip-prinsip Utama yang Melandasi Perusahaan yang Baik Indikator Keberhasilan CGPI 2004

Tata

Kelola

III

METODOLOGI RISET DAN PEMERINGKATAN CGPI 2004 3.1 3.2 Pentahapan Riset CGPI 2004 Definisi yang Digunakan dalam CGPI

IV

PENGUJIAN ALAT UKUR CGPI 2004 4.1 4.2 Data Riset Pengujian Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur

HASIL PENGUKURAN CGPI 2004 5.1 5.2 5.3 Kondisi Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik Penetapan Nominasi CGPI 2004 Peringkat CGPI 2004

VI

PENUTUP KESIMPULAN KETERBATASAN REKOMENDASI PROFIL IICG

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) yang didirikan pada tanggal 2 Juni 2000 adalah sebuah lembaga independen yang melakukan kegiatan diseminasi dan pengembangan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance GCG) di Indonesia. Pernyataan visi Menjadi lembaga independen dan bermartabat untuk mendorong terciptanya perilaku bisnis yang sehat, menjadi inspirasi IICG untuk senantiasa berupaya memasyarakatkan konsep, praktik dan manfaat GCG kepada dunia bisnis khususnya, dan masyarakat luas pada umumnya. Kegiatan utama yang dilakukan adalah melaksanakan riset penerapan GCG, yang hasilnya berupa Corporate Governance Perception Index (CGPI). Kehadiran IICG berawal dari kepedulian para pendiri Institut terhadap rendahnya kualitas penerapan GCG di Indonesia. Hal tersebut disadari sebagai salah satu pemicu dan pemacu krisis multidimensi sejak 1997, yang masih dirasakan dampaknya sampai sekarang. Oleh karena itu, didalam penyelenggaraan CGPI, IICG selalu melakukan pengembangan metodologi dan cakupan responden agar hasil riset dapat lebih representatif memberikan gambaran penerapan GCG di Indonesia. Selain itu pengembangan metodologi juga dimaksudkan untuk mencari format pelaksanaan GCG yang paling sesuai dengan kondisi di Indonesia. Dengan metodologi dan cakupan yang representatif, pemberian penghargaan dan benchmark pun akan lebih terpercaya dan memberikan dampak edukasi bagi kalangan dunia usaha di Indonesia. Corporate Governance Perception Index (CGPI) adalah riset dan pemeringkatan penerapan GCG di perusahaan publik yang tercatat di BEJ. Pelaksanaan CGPI dilandasi oleh pemikiran tentang pentingnya mengetahui sejauh mana perusahaan-perusahaan publik telah menerapkan GCG. CGPI 2004 merupakan pelaksanaan riset dan pemeringkatan yang keempat, setelah sebelumnya diselenggarakan setiap tahunnya, yaitu pada tahun 2001, 2002, dan 2003. Hasil riset dalam pemeringkatan yang telah dilakukan menunjukkan adanya proses pendekatan, penjabaran, penerapan dan penyempurnaan secara berkelanjutan prinsip-prinsip GCG, sehingga dapat diungkap permasalahan yang seringkali muncul dan konsistensi kepatuhan terhadap regulasi yang ada. Pada CGPI 2004 ini, selain tetap menjalin kerjasama dengan Majalah SWA, yang dikenal sebagai salah satu majalah bisnis yang unggul di Indonesia, IICG juga bekerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, serta Bursa Efek Jakarta (BEJ). KADIN Indonesia memiliki Komite Tetap GCG sebagai salah satu upaya untuk menciptakan iklim usaha yang sehat, kondusif, dan dinamis. Pembentukan komite ini dimaksudkan sebagai sarana untuk mensosialisasikan pencapaian pelaksanaan GCG di Indonesia. Sosialisasi ini bukan saja bermanfaat bagi para investor dan komunitas bisnis nasional tetapi juga internasional sebagai salah satu acuan untuk melakukan investasi. Selain itu dapat dimanfaatkan sebagai fakta bahwa perusahaan-perusahaan Indonesia layak mendapatkan kepercayaan dari para investor dan kreditor luar negeri. Diharapkan kepercayaan dari para investor dan kreditor dapat meningkatkan arus investasi sebagai modal dalam sektor riil, sehingga mampu mendorong pemulihan ekonomi di Indonesia. Kerjasama KADIN, BEJ dan IICG dalam pemeringkatan CGPI menjadikan sosialisasi dapat dilaksanakan secara lebih gencar, karena berdasarkan hasil riset yang kredibel.

Hasil pemeringkatan CGPI 2004 akan disosialisasikan secara nasional maupun internasional dan diterbitkan dalam bentuk buku. Secara nasional, hasil pemeringkatan akan disosialisasikan ke universitas dan kalangan dunia usaha di dalam negeri, dengan harapan pihak Perguruan Tinggi dapat berperan dalam melakukan kontrol sosial terhadap praktik-praktik bisnis yang dilakukan oleh pelaku usaha, serta mendorong masuknya konsep GCG dalam kurikulum pendidikan tinggi. Secara internasional, hasil pemeringkatan CGPI 2004 akan disosialisasikan melalui KADIN dan BEJ dalam berbagai Forum Internasional.

1.2

Pentingnya Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik

Di negara-negara maju dengan ekonomi yang relatif makmur, GCG sudah lama menjadi isyu. Masalah ini semakin banyak menarik perhatian masyarakat dunia sesudah terjadi krisis besar, seperti krisis besar di Amerika Serikat tahun 1929 dan krisis perbankan di Inggris tahun 1970. Di Indonesia masalah ini muncul sejak krisis besar yang dimulai pada triwulan ketiga tahun 1997. Secara umum para praktisi dan akademisi sepakat bahwa salah satu penyebab dari krisis besar tersebut adalah masih rendahnya kesadaran dan pemahaman terhadap pentingnya penerapan GCG pada perusahaan-perusahaan di Indonesia. GCG merupakan upaya untuk menjaga keseimbangan antara pencapaian tujuan-tujuan ekonomik dan tujuan-tujuan sosial, serta antara tujuan-tujuan individu dan tujuan-tujuan masyarakat. Sasaran pelaksanaan GCG adalah untuk menyelaraskan kepentingan pribadi, kepentingan perusahaan, dan kepentingan masyarakat. Tantangan dalam penerapan GCG adalah mencari cara untuk memaksimumkan penciptaan kesejahteraan sedemikian rupa, sehingga tidak memberikan beban biaya yang tidak patut kepada pihak ketiga atau masyarakat luas. Kondisi fundamental perekonomian makro di Indonesia tidak terlepas dari peran serta dunia bisnis. Sejak triwulan ketiga tahun 1997, krisis yang dialami oleh Indonesia telah mengakibatkan kinerja dunia bisnis menurun drastis, terutama perusahaan menengah dan besar. Hal ini berdampak sangat besar pada perekonomian nasional. Kelemahan mendasar pada perekonomian di Indonesia terutama di tingkat mikro (perusahaan), disebabkan oleh pengelolaan ekonomi pada sektor industri dan bisnis yang kurang efisien, serta sistem perbankan yang rapuh. Pengelolaan sektor bisnis yang kurang efisien tersebut berkaitan dengan konsentrasi kepemilikan usaha yang cenderung monopolistik, sehingga terjadi distorsi pengelolaan dalam pengalokasian sumber daya, baik yang dilakukan oleh swasta maupun pemerintah. Bahkan hal ini diperkuat dengan adanya perilaku pencari rente dalam upaya membiayai kegiatan bisnis. Berbagai langkah kebijakan untuk memulihkan kegiatan ekonomi telah ditempuh Pemerintah melalui Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM), diantaranya melalui beberapa peraturan yang telah dikeluarkan dengan tujuan untuk meningkatkan transparansi dan konsistensi dalam pelaksanaan kebijakan ekonomi, meningkatkan efisiensi perekonomian baik secara makro maupun mikro, serta mendorong terciptanya penerapan pengelolaan dunia usaha yang baik (Good Corporate Governance).

1.3

Perlunya Riset Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik

Riset penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik diperlukan oleh dunia bisnis di Indonesia, karena belum efektifnya pengelolaan perusahaan yang dilakukan oleh Direksi, dan masih lemahnya mekanisme pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Komisaris. Di samping itu, seiring dengan kemajuan teknologi dan era persaingan global, tuntutan terhadap pengelolaan perusahaan secara profesional meningkat, demikian pula dengan tuntutan transparansi terhadap pengelolaan perusahaan dalam rangka peningkatan daya saing perusahaan. Selain itu, riset ini diperlukan pula untuk mengungkap dan menjawab kesenjangan dalam penerapan pengelolaan perusahaan yang baik. Secara umum, pelaksanaan CGPI bertujuan untuk memotivasi dunia bisnis dalam melaksanakan konsep GCG, serta menumbuhkan partisipasi masyarakat luas secara bersama-sama aktif dalam mengembangkan GCG. Riset ini menjadi sarana yang strategis dalam melakukan pemetaan (mapping) kondisi GCG di Indonesia. CGPI diharapkan dapat menjadi benchmark penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik di Indonesia.

1.4

Manfaat dan Dampak yang diharapkan dari Riset dan Pemeringkatan

Beberapa dampak yang diharapkan dari riset dan pemeringkatan CGPI ini dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Meningkatnya kesadaran bersama di kalangan pelaku bisnis terhadap pentingnya GCG dalam pemulihan ekonomi dan pengelolaan perusahaan; (2) Hasil riset dapat dimanfaatkan untuk memetakan masalah-masalah strategis yang terjadi dalam penerapan GCG, sekaligus sebagai dasar dalam pembuatan kebijakan yang diperlukan; Hasil riset dapat dimanfaatkan untuk mengetahui kondisi corporate governance emiten dan perusahaan-perusahaan, sebagai data untuk mensosialisasikan corporate governance oleh KADIN Indonesia dan lembaga-lembaga lainnya di dalam negeri dan di luar negeri dalam rangka menarik investor. Menjadikan CGPI sebagai suatu indikator/standar mutu yang ingin dicapai perusahaan dalam bentuk pengakuan dari masyarakat terhadap penerapan GCG di perusahaan; Mendorong partisipasi masyarakat dalam pengembangan GCG; Memunculkan inisiatif, khususnya dari perguruan tinggi untuk memasukkan konsep GCG sebagai salah satu bagian kurikulum/mata kuliah yang diajarkan dalam jenjang pendidikan tinggi; dan Respons positif dari kalangan bisnis internasional terhadap informasi kondisi penerapan GCG di Indonesia.

(3)

(4)

(5) (6)

(7)

BAB II TINJAUAN PERKEMBANGAN KONSEP DAN PRINSIP-PRINSIP TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK

2.1.

Konsep Tata Kelola Perusahaan yang Baik

Konsep GCG sesungguhnya telah lama dikenal di negara-negara maju, seperti di Eropa dan Amerika, dengan adanya pemisahan antara pemilik modal dengan para pengelola perusahaan. Konsep ini menghangat di Amerika pada tahun delapan puluhan ketika muncul skandal pengambilalihan (takeover) dan skandal penjualan saham kepada pihak manajemen sendiri (management buyout) yang merisaukan pemegang saham. Dalam hal ini, manajemen perusahaan yang diberi mandat oleh pemegang saham tidak mengelola perusahaan dengan baik. Terjadi penyalahgunaan wewenang oleh manajemen untuk kepentingan pribadi tanpa memperhatikan kepentingan pemegang saham. Melihat situasi dan kondisi yang demikian, kalangan aktivifis dan pemerhati masalah perusahaan mulai merumuskan suatu sistem agar para pengelola perusahaan bertanggung jawab (accountable) kepada pemegang saham dan kepada pihak-pihak yang berhubungan dengan kegiatan perusahaan (stakeholder). Di Asia, termasuk Indonesia, konsep GCG ini mulai banyak diperbincangkan pada pertengahan tahun 1997, yaitu saat krisis ekonomi melanda kawasan ini. Dampak dari krisis tersebut menunjukkan banyak perusahaan yang tidak mampu bertahan, salah satu penyebabnya adalah karena pertumbuhan yang dicapai selama ini tidak dibangun di atas landasan yang kokoh sesuai prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat. Dengan kata lain, buruknya praktik Tata Kelola Perusahaan telah membuat perusahaan-perusahaan gagal dalam menghadapi krisis tersebut. Dari penelitian yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB) dapat disimpulkan bahwa di negara-negara Asia, termasuk di Indonesia, kondisi yang sering terjadi dalam penerapan corporate governance adalah; (1) tidak berfungsinya mekanisme pengawasan dewan komisaris (board of commisioner), dan sistem audit suatu perusahaan dengan efektif dalam melindungi kepentingan pemegang saham, serta (2) belum dilakukannya pengelolaan perusahaan secara profesional. Di sisi lain, buruknya pelaksanaan corporate governance tersebut meningkatkan risiko berinvestasi yang berimplikasi pada rendahnya minat investor atau kreditor untuk menyalurkan investasi atau kreditnya. Kedua kondisi ini menyebabkan lumpuhnya sektor riil yang berakibat langsung pada tidak tersedianya lapangan kerja baru dan semakin bertambahnya jumlah pengangguran. Pada akhirnya, kondisi ini menjadi faktor yang mempersulit pemulihan kondisi perekonomian. Berdasarkan kondisi tersebut di atas, pemerintah Indonesia dan lembaga-lembaga keuangan internasional memperkenalkan konsep GCG. Hal ini dilakukan untuk memberikan landasan yang kuat bagi pertumbuhan perusahaan dan melindungi pemegang saham serta kreditur agar bersedia berinvestasi kembali di Indonesia. Dengan demikian Indonesia akan lebih cepat keluar dari krisis. Berbagai upaya untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya GCG dan penerapannya telah dilakukan, baik oleh pemerintah maupun swasta. Upaya-upaya tersebut antara lain pembentukan Komisi Nasional GCG oleh Kantor Menko Perekonomian dan disusunnya National Code of Good Corporate Governance atau Pedoman Nasional GCG. Peraturan-peraturan yang telah diterbitkan oleh Bapepam dan BEJ, serta keputusan-keputusan Menteri Negara Badan Usaha Milik negara (BUMN) juga turut mendorong pelaksanaan GCG oleh perusahaanperusahaan di Indonesia, baik perusahaan publik maupun BUMN.

2.2

Prinsip-prinsip Utama yang Melandasi Good Corporate Governance

Prinsip-prinsip utama yang melandasi penyelenggaraan good corporate governance (GCG) adalah: Transparansi, Akuntabilitas, Tanggung Jawab, dan Keadilan. Prinsipprinsip ini bukan saja harus dijalankan sebagai suatu ketentuan legal, tetapi sekaligus juga perlu dijadikan kebiasaan di dalam suatu tatanan budaya perusahaan yang lebih profesional, tetapi sekaligus manusiawi. Pendekatan, penjabaran, dan pengembangan sistem penerapan prinsip-prinsip ini dalam suatu perusahaan pada dasarnya adalah mengembangkan suatu Pedoman atau Panduan Penyelenggaraan Tata Kelola Perusahaan yang Baik yang mencakup unsur-unsur, seperti Pedoman Umum, Board Charter, Audit Charter, Code of Conduct (Pedoman Perilaku), dan sistem-sistem lain yang dianggap perlu oleh manajemen berkaitan dengan kesungguhan tekad dan semangat manajemen mewujudkan prinsip- prinsip ini dalam internalisasi kegiatan operasional bisnis di lingkungan perusahaan. Semua panduan dan pedoman ini pada umumnya terkait dengan aspek-aspek legal formal dan perlu disosialisasikan agar penerapannya dapat berhasil baik. Pelaksanaan sosialisasi terkait erat dengan pengembangan budaya baru, yang masih perlu dilengkapi dengan upaya pembudayaan dari semua panduan dan pedoman yang bersifat legal dan formal tersebut, sehingga pada akhirnya apa yang diharapkan di dalam berbagai panduan dan pedoman ini akan dapat terlaksana sebagai suatu kebiasaan yang mencerminkan budaya perusahaan yang baru.

2.3

Indikator Keberhasilan CGPI 2004

Indikator keberhasilan riset dalam pemeringkatan penerapan GCG ini bersifat kualitatif. Hal-hal kuantitatif yang dapat djadikan acuan adalah jumlah perusahaan yang berpartisipasi dalam riset dan pemeringkatan ini, serta banyaknya informasi yang dapat dijaring berkaitan dengan penerapan GCG di Indonesia. Keberhasilan program ini juga dapat disimak dari respons masyarakat, khususnya dunia bisnis terhadap hasil riset dan penghargaan yang diberikan. Untuk itu, kerjasama dengan media massa sangat dibutuhkan guna menunjang keberhasilan diseminasi wacana GCG dalam CGPI ini. Realisasi indikator keberhasilan tersebut dilakukan dalam bentuk : (1) Penilaian terhadap penerapan GCG di perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta (listed companies) (2) Penyusunan peringkat CGPI (3) Penganugerahan CGPI Award (4) Publikasi di media massa, bekerjasama dengan Majalah SWA (5) Seminar hasil riset di beberapa kota, bekerja sama dengan universitas (6) Penerbitan hasil riset dalam bentuk buku dan media lainnya

BAB III METODOLOGI RISET DAN PEMERINGKATAN CGPI 2004

3.1

Pentahapan Riset CGPI 2004

Tahapan riset dalam pemeringkatan ini dimulai dari pengembangan metodologi sampai dengan penyusunan peringkat. Pengembangan metodologi riset merupakan suatu upaya sistematik untuk memperoleh informasi tentang sejauhmana penerapan prinsip-prinsip utama GCG dalam rangka penyelenggaraan perusahaan bisnis yang berkelanjutan. Sedangkan pendekatan sistem manajemen dimaksudkan sebagai respons manajemen perusahaan terhadap perubahan konteks bisnis, juga sebagai substansi dampak perubahan cara berfikir dan pendekatan dalam mengelola perusahaan. Dalam lingkungan yang penuh dinamika, manajemen perusahaan perlu menciptakan organisasi yang memberikan pelayanan yang memuaskan kepada seluruh stakeholders sekaligus menjadi lebih transparan, akuntabel, bertanggung jawab, dan adil. Dengan kata lain, dunia bisnis dituntut untuk dapat menentukan arah perusahaan di masa depan dengan mengembangkan suatu strategi yang antisipatif terhadap kecenderungan-kecenderungan baru guna mencapai dan mempertahankan posisi bersaing di masa depan. Pentahapan dalam proses riset mencerminkan suatu pengaturan alur berpikir logik yang dijalankan dengan tujuan untuk memberikan arah yang jelas, teratur, dan sistematis pada seluruh kegiatan pemeringkatan. Urutan langkah riset yang baik, yang sesuai dengan kondisi dan selaras dengan kedalaman riset yang dilakukan menjadi penting agar penelitian tidak saja dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, tetapi juga mudah dipahami oleh peserta riset . Pentahapan atau urutan proses riset dalam pemeringkatan ini dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Pengembangan metodologi dan database responden, serta pembuatan kuesioner. (2) Publikasi permintaan kesediaan menjadi peserta CGPI 2004. (3) Konfirmasi kesediaan dan pengiriman kuesioner. (4) Pengisian kuesioner (self assessment) didampingi oleh Tim Peneliti IICG. (5) Penerimaan isian kuesioner dan dokumen perusahaan. (6) Pengolahan data dan penilaian kelengkapan dokumen peserta. (7) Pengumuman 15 besar (8) Kunjungan ke perusahaan yang masuk nominasi 15 besar. (9) Penilaian dan penyusunan peringkat. (10) Pengumuman dan penganugerahan 10 besar CGPI 2004. (11) Sosialisasi lanjutan.

Tahapan Riset CGPI 2004

No
1

TAHAPAN RISET
Pengembangan Metodologi, data base responden, pembuatan kuesioner Publikasi permintaan kesediaan menjadi peserta CGPI 2004 Konfirmasi kesediaan peserta CGPI 2004 dan pengiriman kuesioner Pengisian kuesioner, didampingi Tim Peneliti IICG Penerimaan isian kuesioner dan dokumen perusahaan Pengolahan data dan penilaian dokumen Pengumuman 15 Besar dan Panduan Penilaian Nominasi CGPI 2004 Kunjungan ke perusahaan 15 Besar CGPI 2004 Penilaian dan Pemeringkatan Pengumuman dan penganugerahan 10 Besar CGPI 2004 Sosialisasi lanjutan

Oct 2004

Nov 2004

Dec 2004

Jan 2005
1/9 1/16 1/23 1/30

Feb 2005
2/6 2/13 2/20 2/27

Mar 2005 3/6 3/13 3/20 3/27

Apr 2005
4/3 4/10 4/17 4/24 5/1

May 2005
5/8 5/15 5/22 5/29

Jun 2005
6/5 6/12 6/19 6/26 7/3

Jul 2005
7/10 7/17 7/24 7/31 8/7

9/19 9/26 10/3 10/10 10/17 10/24 10/31 11/7 11/14 11/21 11/28 12/5 12/12 12/19 12/26 1/2

3 4 5

8 9 10 11

10

3.2

Definisi yang Digunakan dalam CGPI 2004

Riset pemeringkatan GCG untuk melihat internalisasi prinsip-prinsip GCG pada proses bisnis perusahaan berhubungan erat dengan konsep manajemen stratejik, karena fokus perhatian pelaku bisnis bukan pada aspek-aspek operasional atau manajerial dari sistem bisnis, tetapi justru pada penentuan posisi sistem bisnis tersebut di dalam lingkungan eksternalnya. Analisis stratejik yang dilakukan dewasa ini berbeda dari apa yang biasa dilakukan pada dekade-dekade sebelumnya. Dengan demikian definisi-definisi operasional yang digunakan dalam riset ini perlu dikemukakan terlebih dahulu.

GCG pada hakekatnya merupakan struktur, sistem, dan proses yang digunakan oleh organ perusahaan guna memberikan nilai tambah perusahaan yang berkesinambungan dalam jangka panjang. Struktur merupakan satu kesatuan yang terdiri dari dewan komisaris, dewan direksi, dan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders). Sistem merupakan suatu landasan operasional yang menjadi dasar mekanisme check and balances kewenangan atas pengelolaan perusahaan yang dapat mengantisipasi peluang pengelolaan yang menyimpang. Proses merupakan cara untuk memastikan pelaksanaan prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik (tanggung jawab, akuntabilitas, keadilan dan transparansi) dalam menentukan tujuan dan sasaran, pencapaian, pengukuran kinerja dan evaluasi kinerja perusahaan.

Pada pelaksanaan CGPI 2004 digunakan sembilan konstruk sebagai acuan riset, dengan definisi umum sebagai berikut: 1. Komitmen terhadap Tata Kelola Perusahaan adalah suatu sistem manajemen yang mendorong anggota perusahaan untuk menyelenggarakan tata kelola perusahaan yang baik dalam rangka mewujudkan tujuan perusahaan. 2. Tata Kelola Dewan Komisaris adalah sistem manajemen yang memungkinkan optimalisasi peran anggota dewan komisaris dalam penyelenggaraan tata kelola perusahaan yang baik. 3. Komite-komite Fungsional merupakan sistem manajemen yang memungkinkan

optimalisasi peran anggota komite-komite fungsional dalam membantu penyelenggaraan tata kelola perusahaan yang baik. 4. Direksi adalah sistem manajemen yang memungkinkan optimalisasi peran anggota Direksi dalam penyelenggaraan tata kelola perusahaan yang baik.

11

5.

Transparansi adalah sistem manajemen yang mendorong adanya pengungkapan (termasuk akses) informasi yang relevan, akurat, dapat dipercaya, tepat waktu, jelas, konsisten, dan dapat diperbandingkan, tentang kegiatan perusahaan.

6.

Perlakuan terhadap Pemegang Saham adalah sistem manajemen yang

menjamin

perlakuan yang setara terhadap para pemegang saham dan calon pemegang saham. 7. Peran pihak berkepentingan lainnya adalah sistem manajemen yang dapat

meningkatkan peran pihak berkepentingan lainnya. 8. Integritas merupakan sistem manajemen yang mampu menumbuhkan semangat memegang teguh tata nilai yang disepakati oleh perusahaan. 9. Independensi adalah sistem manajemen yang mampu memunculkan semangat kemandirian anggota perusahaan agar mampu kepentingan perusahaan. memutuskan dan mendahulukan

Riset ini menggunakan dua tahapan penilaian, yaitu penilaian kuantitatif dan kualitatif. Masingmasing cara penilaian dapat dijelaskan sebagai berikut:

Penilaian kuantitatif dilakukan melalui pengisian kuesioner self assessment oleh responden yang melibatkan minimal 14 elemen dalam perusahaan, yaitu : 1. Komisaris Independen 2. Komisaris 3. Direktur Tak Terafiliasi 4. Direktur 5. Corporate Secretary 6. Anggota Komite Audit 7. Anggota Komite Fungsional Lainnya: a. Anggota Komite Nominasi b. Anggota Komite Remunerasi c. Anggota Komite Manajemen Risiko d. Anggota Komite Asuransi 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Pegawai (level manajerial) Serikat Pekerja Investor (institusi) Investor (individu) Investor ( minoritas) Supplier Anak Perusahaan

Penilaian kualitatif dalam bentuk pengecekan dokumen, serta observasi oleh tim peneliti bagi 15 (lima belas) nominasi yang didapatkan dari hasil self assessment dan kelengkapan dokumen penerapan GCG yang telah dibuat. Aspek yang dinilai sesuai dengan Panduan Penilaian Nominasi CGPI 2004.

12

BAB IV PENGUJIAN ALAT UKUR CGPI 2004

Pada bab ini dijelaskan hasil pengujian alat ukur dan operasionalisasi konsep GCG yang berkaitan dengan mewujudkan proses internalisasi prinsip-prinsip GCG dalam mengelola perusahaan. Penurunan variabel-variabel dimulai dari definisi konstruk sampai item-item pertanyaan dengan menggunakan tabel-tabel spesifikasi (kisi-kisi) atau dikenal dengan istilah blue print. Dengan kisi-kisi tersebut diharapkan penyusunan instrumen riset dapat dilakukan sesuai dengan model riset dan dilakukan pula pengujian validitas dan reliabilitas alat ukur. Validitas variabel yang diuji adalah yang terkait dengan konstruk dimensi riset. Dengan demikian, kisi-kisi menuntun penyelenggaraan riset dalam penyusunan suatu instrumen riset agar sesuai dengan tujuannya.

Dalam bab ini semua variabel diuji kesahihan (validity) dan keandalannya (reliability). Bila diperlukan variabel-variabel tersebut didefinisikan kembali secara cermat dengan memperhatikan wujud dari manifes (pertanyaan) yang terbukti ikut membentuknya. Selanjutnya perlu secara cermat dirumuskan bentuk hubungan yang terdapat diantara variabel-variabel yang sudah diidentifikasi dan didefinisikan. Hubungan yang diperkirakan ada diantara berbagai variabel tersebut perlu ditempatkan secara tepat didalam konteksnya untuk kemudian disusun didalam suatu model riset yang mencerminkan suatu kerangka berpikir tertentu. Model yang dihasilkan harus dapat diuji melalui suatu proses pengujian yang ketat dan cermat.

4.1.

Data Riset

Populasi riset dalam pemeringkatan ini adalah perusahaan publik yang tercatat di Bursa Efek Jakarta. Data yang diperlukan meliputi data perseptual yang akan digunakan untuk menilai setiap dimensi kontruk yang melatarbelakangi obyek riset menerapkan GCG. Data perseptual dianggap memenuhi syarat jika setiap bagian pertanyaan terjawab lengkap. Kesahihan instrumen riset dilakukan dengan terlebih dahulu menguji keandalannya dan disempurnakan dengan analisis faktor untuk pengujian kesahihannya. Pengujian keandalan instrumen penelitian menggunakan koefisien Alpha Cronbach. Populasi riset dalam pemeringkatan ini adalah semua perusahaan publik yang tercatat di BEJ pada tanggal 30 Juni 2004, yaitu berjumlah 335 emiten. Partisipasi riset ini bersifat sukarela (voluntary). Perusahaan yang tidak bersedia atau tidak memberikan kejelasan hingga waktu riset dinyatakan ditutup tidak diikutsertakan dalam penilaian.

13

Dari 335 perusahaan publik hanya 22 emiten menyatakan kesediaannya; 23 emiten menyatakan ketidaksediaannya; dan sisanya, 290 emiten tidak memberikan tanggapan dan sikap yang jelas. Tabel IV.1. Bidang Usaha Utama yang bersedia menjadi sampel CGPI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Bidang Usaha Utama Pertanian Pertambangan Industri dasar dan kimia Aneka industri Industri barang konsumsi Properti dan real estat Infrastruktur, utilitas, dan transportasi Keuangan Perdagangan, jasa dan investasi Total Populasi 9 10 56 52 38 34 16 60 60 335 Sampel 1 4 0 1 3 1 1 9 2 22

Dalam CGPI 2004 ini, jumlah responden (orang yang dilibatkan dalam pengisian kuesioner di perusahaan yang berpartisipasi) mengalami peningkatan tiga kali lipat, menjadi 316 responden, sekalipun jumlah perusahaan mengalami penurunan, yaitu yang semula berjumlah 31 perusahaan (dari total 332 emiten) menjadi 22 perusahaan (dari total 335 emiten) yang tercatat di BEJ.

Peningkatan responden diduga disebabkan oleh sudut pandang yang digunakan dalam melaksanakan riset dalam pemeringkatan adalah stakeholder dan bukan lagi pada pengelola perusahaan semata. Pengisi kuesioner secara umum berasal dari anggota Komisaris, Komisaris Independen, Direktur, Komite Audit, Komite Fungsional lainnya, anggota perusahaan setingkat manajerial, serikat pekerja, investor institusi dan individu, anak perusahaan, serta pihak ketiga perusahaan. Diharapkan dengan perluasan cakupan responden seperti ini, proses internalisasi GCG dalam perusahaan dapat dianalisa lebih dalam dan menyeluruh

14

Tabel IV.2. Perusahaan Peserta CGPI 2004


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8 9. 10. 11. PT Adhi Karya Tbk. PT Aneka Tambang Tbk. PT Apexindo Pratama Duta Tbk. PT Astra Agro Lestari Tbk. PT Astra Graphia Tbk. PT Astra Internasional Tbk. PT Bank Bumiputera Tbk. PT Bank Central Asia Tbk. PT Bank Danamon Tbk. PT Bank Lippo Tbk. PT Bank Mandiri Tbk. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. PT Bank Niaga Tbk PT Bank Permata Tbk PT Bank Rakyat Indonesia Tbk PT BFI Finance Indonesia Tbk. PT Bimantara Citra Tbk. PT Citra Marga Nusaphala Tbk. PT Dankos Laboratories Tbk. PT Kalbe Farma Tbk PT Kimia Farma Tbk PT Medco Energi Internasional Tbk PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk.

4.2.

Pengujian Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur

Instrumen riset CGPI 2004 yang merupakan alat untuk menentukan berbagai besaran variabel di dalam model riset dikembangkan dalam bentuk kuesioner. Di dalam kuesioner ditanyakan hal-hal yang dipersepsikan para anggota terhadap sering atau tidaknya atau tingkat kesepakatan anggota terhadap berbagai butir pernyataan yang terkait secara hipotetis pada suatu variabel riset tertentu.

Analisis data meliputi rekapitulasi dan skoring. Untuk memperkuat hasil analisis diadakan uji validitas dan reliabilitas dengan menggunakan kaidah-kaidah statistik yang diakui. Pengujian kesahihan (validitas konstruk) variabel-variabel pada riset pemeringkatan ini menggunakan analisis faktor. Kriteria yang digunakan untuk menentukan variabel manifes secara nyata mewakili atau membentuk suatu variabel laten didasarkan pada nilai bobot faktornya (loading factor). Dalam tinjauan aspek praktikal, bobot faktor minimal 0.30 menjadi persyaratan yang diperlukan, sedangkan bobot faktor 0.40 ke atas lebih penting untuk dipertimbangkan. Jika bobot faktor melebihi 0.50, maka telah mencapai tingkat signifikan. Kriteria tersebut memperhitungkan jumlah variabel dalam analisis faktor, yang menurut Hair et al. (1995) penambahan jumlah variabel yang akan dianalisis mengurangi nilai batas signifikansi bobot faktor. Dalam riset ini dipilih bobot faktor minimal 0.50 sebagai batas untuk mencapai tingkat signifikansi yang dibutuhkan. Alasan yang mendasari pemilihan batas bobot faktor tersebut adalah jumlah responden yang dapat memenuhi penentuan signifikansi bobot faktor.

15

Analisis butir dalam instrumen riset lalu diperiksa apakah sudah dapat dimengerti dan dipahami oleh responden, apakah butir-butir tersebut memberikan pengertian dan persepsi yang sama oleh setiap responden. Secara kuantitatif analisis butir dilakukan dengan menghitung korelasi setiap butir terhadap skor total setiap elemen. Nilai korelasi butir total ini kemudian dibandingkan dengan kriteria Guilford (1956). Apabila nilai korelasi butir total kurang dari 0.20, maka butir tersebut harus diganti, dibuang atau diperbaiki.

Pengujian keandalan (reliability) variabel-variabel pada riset ini menggunakan koefisien Alpha Cronbach berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh American Psychological Association (1985) serta Kaplan dan Saccuzzo (1993). Besarnya koefisien keandalan minimal yang harus dipenuhi oleh suatu instrumen penelitian adalah 0.70. Nilai keandalan instrumen riset menunjukkan tingkat konsistensi jawaban dari para responden pada setiap butir pertanyaan atau pernyataan yang diajukan Tabel IV.2 Koefisien Keandalan Alat Ukur Riset Variabel Komitmen terhadap GCG Dewan Komisaris Komite-komite Fungsional Dewan Direksi Transparansi Peranan Pemegang Saham Hubungan dengan Stakeholders Integritas Independensi 0.920 0.842 0.910 0.904 0.890 0.901 0.834 0.921 0.815 Keterangan > 0.70 Andal Andal Andal Andal Andal Andal Andal Andal Andal

16

BAB V HASIL PENGUKURAN CGPI 2004

5.1.

Kondisi Penerapan GCG

Temuan-temuan riset dari dimensi GCG di antara para responden peserta riset pemeringkatan, merupakan gambaran dari sudut pandang responden yang menempatkan diri sebagai anggota perusahaan terhadap dimensi GCG. Kondisi masing-masing dimensi konstruk yang didapatkan dari 22 perusahaan publik dapat disimak pada uraian di bawah ini.

1) Komitmen terhadap Tata Kelola Perusahaan yang Baik (GCG) (Skor 79.91) Komitmen terhadap Tata Kelola Perusahaan yang Baik (GCG) merupakan wujud nyata kebutuhan dan keinginan organ perusahaan untuk menjalankan perusahaan berdasarkan prinsip-prinsip mengalokasikan GCG, dengan membentuk fungsi-fungsi khusus, dan merancang program, hasil

anggaran,

memantau

pelaksanaan

program,

mengevaluasi

pelaksanaan program serta memperbaharui penerapan GCG. Berikut merupakan ideografis yang menggambarkan karakteristik komitmen terhadap GCG dalam riset ini: Komitmen terhadap Tata Kelola Perusahaan Yang Baik
0 Pedoman tata kelola perusahaan belum dibuat Perusahaan belum memiliki fungsi khusus untuk menerapkan nilainilai GCG Semua pihak tidak mengetahui, tidak memberikan perhatian dan tidak peduli dengan penerapan GCG Pihak yang terkait tidak mengetahui, tidak memberikan perhatian dan tidak peduli dengan peraturan yang telah ditetapkan Semua pihak merasa tidak perlu menerapkan GCG Dalam bekerja, karyawan belum mencerminkan penerapan prinsipprinsip GCG Setiap fungsi tidak tanggap dan malas dalam menerapkan serta memperbaharui praktik-praktik GCG 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Pedoman tata kelola perusahaan sudah dibuat, didistribusikan serta dilaksanakan di setiap elemen perusahaan Perusahaan telah memiliki fungsi khusus yang telah berjalan dengan baik Semua pihak mengetahui, memberikan perhatian, peduli dan menerapkan GCG Pihak yang terkait mengetahui, memberikan perhatian, dan menjalankan semua peraturan yang telah ditetapkan Semua pihak menganggap penting penerapan GCG dan dijadikan sebagai kebutuhan dalam menjalankan aktivitas Dalam bekerja, karyawan sudah mencerminkan dan melaksanakan prinsip-prinsip GCG Setiap fungsi tanggap, berupaya keras dan melakukan pembaharuan dalam penerapan praktikpraktik GCG

17

Tidak ada penghargaan/ apresiasi terhadap keberhasilan praktik penerapan GCG Praktik penerapan GCG tidak termasuk dalam indikator keberhasilan manajemen Perusahaan tidak menetapkan anggaran dan pelaksana tertentu

Kebijakan mengenai penghargaan/ apresiasi terhadap keberhasilan praktik penerapan GCG sudah dibuat dan telah dilaksanakan Praktik penerapan GCG sudah dimasukkan kedalam indikator keberhasilan manajemen Perusahaan sudah menetapkan dan melaksanakan anggaran dan pelaksana tertentu agar terwujud praktik GCG

2) Tata Kelola Dewan Komisaris (Skor 83.62) Peranan dewan komisaris dalam GCG adalah sebagai organ yang menjalankan fungsi supervisi terhadap direksi dalam perusahaan tercermin melalui sistem rekrutmen dan seleksi, pemantauan kinerja dan balas jasa. Berikut merupakan ideografis yang menggambarkan karakteristik dewan komisaris dalam riset ini: Peranan Dewan Komisaris dalam Tata Kelola Perusahaan Yang Baik
0 Jabatan Komisaris Independen diberikan sebagai penghargaan kepada individu tertentu tanpa memperhatikan kecakapan dan kemampuan yang dimiliki Komisaris Independen tidak berperan, hanya sebagai simbol dari kepatuhan perusahaan dalam menaati peraturan yang ditetapkan Perusahaan menerima usulan RUPS namun keputusan akhir tetap di tangan manajemen Tidak memiliki tanggung jawab pribadi dalam menjalankan fungsi dan tugas, bersifat collective Dewan Komisaris menyetujui semua laporan perkembangan perusahaan dari Direksi, tidak memiliki inisiatif untuk mendapatkan informasi lebih banyak Dewan Komisaris tidak menghasilkan kontribusi apapun terhadap perusahaan, hanya menambah pos pengeluaran 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Pemilihan Komisaris Independen sudah dilaksanakan dengan mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan serta mempertimbangkan kompetensi, jejaring dan kredibilitas Komisaris Independen secara aktif melaksanakan fungsi dan tugas seperti menyampaikan peristiwa yang dianggap penting bagi perusahaan, memberikan rekomendasi, saran dan perbaikan terhadap suatu masalah dan lainnya Diusulkan oleh Komite Nominasi untuk dipilih oleh Pemegang Saham dalam RUPS Dewan Komisaris bersungguhsungguh serta memiliki tanggung jawab pribadi dalam menjalankan fungsi dan tugas Dewan Komisaris dibantu oleh komite khusus dalam menjalankan tugas melakukan evalusi terhadap Direksi dan kinerja perusahaan, memeriksa laporan keuangan, risiko yang dihadapi perusahaan dan memastikan dijalankannya prinsip etika bisnis yang sehat Dewan Komisaris memberikan kontribusi yang sepadan terhadap balas jasa yang diberikan

18

Perusahaan tidak mengatur hal perangkapan jabatan Dewan Komisaris tidak diwajibkan melaporkan kepemilikan sahamnya dan atau keluarganya yang ada di perusahaan Dewan Komisaris tidak diwajibkan melaporkan kepemilikan sahamnya dan atau keluarganya yang ada di perusahaan lain

Perusahaan memiliki peraturan tertulis yang membatasi perangkapan jabatan Dewan Komisaris wajib melaporkan kepemilikan sahamnya dan atau keluarganya dengan memberikan pernyataan tertulis Dewan Komisaris wajib melaporkan kepemilikan sahamnya dan atau keluarganya di perusahan lain dengan memberikan pernyataan tertulis

3) Komite-Komite Fungsional (Skor 82.02) Peranan komite fungsional dalam GCG adalah sebagai organ perusahaan yang dibentuk dan berfungsi membantu komisaris menjalankan tugas supervisi dalam pengelolaan perusahaan. Berikut merupakan ideografis yang menggambarkan karakteristik peraanan komite-komite fungsional dalam riset ini:

Peranan Komite Fungsional dalam GCG


0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Perusahaan memiliki Komite Audit yang dipimpin oleh Komisaris Independen dengan anggota yang berasal dari pihak eksternal dan sudah berjalan dengan baik Keanggotaan Komite Audit sebanyak 3 orang atau lebih, Ketua Komite Audit juga anggota Komisaris Independen, anggota komite audit berasal dari pihak eksternal yang berkompeten dibidangnya Komite Audit mengadakan rapat secara berkala sekurang-kurangnya satu kali dalam tiga bulan Sudah ada jadwal rapat berkala, penyampaian agenda sebelum rapat dimulai agar bisa dipelajari, notulen sudah dibuat serta didistribusikan dengan baik termasuk kepada yang tidak

Perusahaan belum memiliki Komite Audit

Keanggotaan Komite Audit kurang dari 3 orang, Ketua Komite Audit bukan merupakan Komisaris Independen, anggota komite audit berasal dari dalam perusahaan Komite Audit tidak pernah mengadakan rapat dengan perusahaan Tidak pernah ada rapat yang terjadwal sebelumnya, tidak ada agenda yang jelas, tidak pernah dibuat notulen

19

hadir Komite Audit tidak pernah melakukan koordinasi dengan auditor internal Komite Audit melakukan kerjasama dan koordinasi dengan auditor internal yang terintegrasi dalam satu sistem yang terpadu Komite Audit melakukan koordinasi dengan auditor eksternal yang terintegrasi dalam satu sistem yang terpadu Komite Audit melakukan telaah terhadap keadaan dan kinerja perusahaan serta secara aktif memberikan saran, rekomendasi dan/atau perbaikan Komite Audit memberikan pendapat profesional yang independen kepada Dewan Komisaris terhadap laporan dan identifikasi hal-hal tertentu Komite Remunerasi telah menyusun sistem penggajian dan pemberian tunjangan di perusahaan Komite Nominasi telah menyusun sistem dan kriteria seleksi dan prosedur nominasi bagi Dewan Komisaris, Direksi dan eksekutif lainnya Komite Risiko telah melaksanakan tanggung jawab dan memperhatikan semua risiko untuk meningkatkan pertumbuhan dan melindungi aset perusahaan Perusahaan sudah mempunyai beberapa Komite Fungsional lainnya diluar yang ditetapkan oleh regulator (BEJ /BAPEPAM) seperti Komite Asuransi, Komite Manajemen Risiko, Komite Kredit dan lain sebagainya

Komite Audit tidak pernah melakukan koordinasi dengan auditor eksternal Komite Audit tidak pernah mengadakan telaah-telaah terhadap keadaan dan kinerja perusahaan sehingga tidak mempunyai informasi yang cukup untuk dibicarakan dalam rapat bersama Komite Audit tidak pernah memberikan pendapat kepada Dewan Komisaris

Perusahaan tidak memiliki Komite Remunerasi

Perusahaan tidak memiliki Komite Nominasi

Perusahaan tidak memiliki Komite Risiko

Perusahaan hanya memiliki Komite yang ditetapkan oleh regulator (BEJ/BAPEPAM)

20

4) Direksi (Skor 87.31) Peranan direksi dalam GCG adalah sebagai organ yang menjalankan fungsi pengelolaan perusahaan dengan tujuan menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya. Berikut merupakan ideografis yang menggambarkan karakteristik peranan direksi dalam riset ini:

Peranan Direksi dalam GCG


10 Dewan Direksi mengandalkan hubungan pribadi antar anggota Direksi dalam menjalankan fungsi dan tugas/bersifat collegial Direksi melakukan semua cara untuk menghasilkan keuntungan bagi perusahaan, tidak mempedulikan kinerja perusahaan, tidak pernah mengadakan evaluasi kemajuan perusahaan 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Semua anggota Dewan Direksi bekerja secara professional dan terdiri dari orang-orang yang memang berkompeten dibidangnya Direksi berpihak terhadap kepentingan pemegang saham tanpa mengenyampingkan pihakpihak terkait lainnya, melakukan evaluasi kinerja perusahaan, menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi serta mengambil tindakan perbaikan untuk kemajuan perusahaan. Direksi menjalankan tugas dan fungsi seperti yang tercantum dalam Anggaran Dasar dan/atau panduan khusus Kriteria seleksi, sistem penilaian, prosedur nominasi dan rekomendasi jumlah anggota disusun oleh Komite Nominasi, untuk dibawa ke RUPS Perusahaan memiliki peraturan tertulis yang membatasi perangkapan jabatan Pemilihan anggota Direksi sudah dilaksanakan dengan mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan serta mempertimbangkan kompetensi, jejaring dan kredibilitas Direksi melakukan pembahasan secara berkala dengan Dewan Komisaris mengenai keadaan perusahaan secara keseluruhan yang kemudian menghasilkan saran, perbaikan dan rekomendasi yang nyata bagi kemajuan perusahaan Kinerja Direksi diperhatikan dan dinilai secara berkala dan di evaluasi setiap jangka waktu tertentu Direksi mengadakan rapat secara berkala

Direksi tidak menjalankan tugas dan fungsi seperti yang tercantum dalam Anggaran Dasar dan/atau panduan khusus Perusahaan tidak memiliki prosedur baku dalam pemilihan Direksi

Perusahaan tidak mengatur hal tersebut Anggota Direksi diberikan sebagai penghargaan kepada individu tertentu tanpa memperhatikan kecakapan dan kemampuan yang dimiliki Direksi tidak pernah melakukan pembahasan bersama dengan Dewan Komisaris mengenai keadaan perusahaan secara keseluruhan

Direksi tidak pernah dievaluasi dan dinilai

Direksi tidak pernah mengadakan rapat dengan perusahaan

21

Tidak pernah ada rapat yang terjadwal sebelumnya, tidak ada agenda yang jelas, tidak pernah dibuat notulen

Sudah ada jadwal rapat berkala, penyampaian agenda sebelum rapat dimulai agar bisa dipelajari, notulen sudah dibuat serta didistribusikan dengan baik termasuk kepada yang tidak hadir Direksi wajib melaporkan kepemilikan sahamnya dan atau keluarganya dengan memberikan pernyataan tertulis Direksi wajib melaporkan kepemilikan sahamnya dan atau keluarganya di perusahan lain dengan memberikan pernyataan tertulis

Direksi tidak diwajibkan melaporkan kepemilikan sahamnya dan atau keluarganya yang ada di perusahaan Direksi tidak diwajibkan melaporkan kepemilikan sahamnya dan atau keluarganya yang ada di perusahaan lain

5) Transparansi (Skor 84.80) Transparansi dalam pengelolaan usaha perusahaan adalah merupakan sistem dan proses pengambilan keputusan, pengungkapan informasi yang relevan dan akurat melalui saluran komunikasi yang tepat sasaran dan tepat waktu. Berikut merupakan ideografis yang menggambarkan karakteristik transparansi dalam riset ini:

Transparansi dalam GCG


0 Perusahaan dalam dua tahun terakhir ini belum pernah sama sekali mengadakan paparan publik Perusahaan terlambat menyampaikan laporan keuangan dan dikenai sanksi denda Penyampaian informasi dalam laporan keuangan hanya memuat informasi dasar saja 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Perusahaan melakukan paparan publik secara berkala dan mempunyai jadwal pelaksanaan tertentu Perusahaan selalu tepat waktu dalam menyampaikan laporan keuangan Penyampaian informasi dalam laporan keuangan memuat informasi dasar dan beberapa tambahan informasi yang cukup detil, jelas dan lengkap sehingga dapat diperoleh gambaran secara menyeluruh terhadap kinerja perusahaan Perusahaan telah memaparkan dengan jelas dan detil kepada pemegang saham maupun pihak terkait mengenai manajemen risiko yang telah dilakukan Perusahaan telah mendeskripsikan kebijakan remunerasi dan mencantumkan jumlah balas jasa Dewan Komisaris dan Direksi di dalam Laporan Tahunan Perusahaan telah mencantumkan struktur, kualifikasi, maupun proses seleksi setiap anggota Dewan Komisaris dan Direksi di

Perusahaan tidak pernah memaparkan mengenai manajemen risiko kepada pemegang saham maupun pihak terkait Perusahaan tidak mencantumkan kebijakan remunerasi dan jumlah balas jasa Dewan Komisaris dan Direksi

Perusahaan tidak mencantumkan struktur, kualifikasi, maupun proses seleksi Dewan Komisaris dan Direksi di dalam laporan tahunan

22

dalam Laporan Tahunan Perusahaan tidak mencantumkan risiko usaha didalam laporan tahunan Perusahaan tidak mencantumkan pelaksanaan GCG didalam laporan tahunan Perusahaan tidak mencantumkan isu-isu yang berkaitan dengan hubungan perusahaan dan pegawai (kebijakan, program Pengembangan Sumber Daya Manusia, tingkat keluar masuk pegawai, dan lainnya) maupun hubungan dengan stakeholder lainnya seperti kreditor, supplier, maupun komunitas lokal Perusahaan mencantumkan risiko usaha didalam laporan tahunan didalam bagian yang tersendiri Perusahaan mencantumkan pelaksanaan GCG didalam laporan tahunan didalam bagian yang tersendiri Perusahaan menginformasikan isu-isu yang berkaitan dengan stakeholder internal (pegawai) maupun eksternal yang mempengaruhi kinerja perusahaan, seperti isu-isu yang berkaitan dengan hubungan perusahaan dan pegawai (kebijakan, program Pengembangan Sumber Daya Manusia, tingkat keluar masuk pegawai, dan lainnya) maupun hubungan dengan stakeholder lainnya seperti kreditor, supplier, maupun komunitas lokal Perusahaan mempunyai media/sarana yang dikelola dengan baik untuk menyampaikan informasi kepada pemegang saham Situs perusahaan memuat berbagai pengumuman, informasi, dan hal-hal lain yang dianggap penting oleh pemegang saham dan masyarakat luas, menyediakan informasi dalam Bahasa Inggris, dikelola dengan dengan baik dan selalu diperbaharui informasi yang terkandung didalam situs tersebut

Perusahaan tidak mempunyai media/sarana untuk menyebarkan informasi kepada pemegang saham

Situs perusahaan tidak memuat berbagai pengumuman, informasi, dan hal-hal lain yang dianggap penting oleh pemegang saham dan masyarakat luas, tidak menyediakan informasi dalam Bahasa Inggris, tidak dikelola dengan dengan baik

6)

Perlakuan terhadap Pemegang Saham (Skor 85.41)

Perlakuan terhadap pemegang saham merupakan perlakuan yang sama diantara yang setara (equal among others) para pemegang saham yang diwujudkan dalam mekanisme

penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham, dan kemudahan mendapatkan informasi perusahaan. Berikut merupakan ideografis yang menggambarkan karakteristik perlakuan terhadap pemegang saham dalam riset ini :

Perlakuan terhadap Pemegang Saham


0 Undangan kepada pemegang saham selalu terlambat, pemegang saham tidak bisa mengikuti RUPS Diumumkan lebih dari 5 (lima) 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Undangan kepada pemegang saham tepat waktu, pemegang saham dapat mengikuti RUPS secara terjadwal Diumumkan paling lambat

23

hari kerja Diberitahukan 1 (satu) hari sebelum pelaksanaan RUPS Perusahaan tidak mengupayakan kehadiran pemegang saham Perusahaan menganggap pemegang saham minoritas sebagai pemegang saham sisa yang tidak mempunyai peran dalam perusahaan, selain itu dianggap lebih banyak menimbulkan masalah dibandingkan menimbulkan keuntungan untuk perusahaan Perusahaan hanya mendengarkan pendapat pemegang saham minoritas tanpa ada tindak lanjut

pada hari kerja ke-2 (dua) setelah pelaksanaan Diberitahukan lebih dari 14 (empat belas hari) sebelum pelaksanaan RUPS Perusahaan mengupayakan dan memastikan kehadiran pemegang saham Perusahaan memberikan perlakuan yang adil dan setara kepada semua pemegang saham termasuk pemegang saham minoritas, mengakomodasi aspirasi pemegang saham minoritas serta berusaha mewujudkan aspirasi dari semua pemegang saham Perusahaan memberikan kesempatan penuh, menerima, mencatat serta menjadikan pendapat pemegang saham minoritas sebagai salah satu pertimbangan dalam mengambil keputusan. Perusahaan memberikan batas waktu yang cukup dalam menyampaikan Laporan keuangan untuk pemegang saham agar bisa dipelajari terlebih dahulu Pemegang Saham selalu diberi informasi material yang memadai melalui BEJ/BAPEPAM ataupun diterima secara langsung melalui berbagai sarana seperti website perusahaan, mailing list ataupun newsletters Pemegang Saham memperoleh informasi keuangan yang andal dan akurat sehingga membantu dalam pengambilan keputusan untuk investasi Pemegang Saham memperoleh informasi keuangan yang menunjukkan perbandingan dengan perusahaan lain dalam industri yang sejenis Pemegang Saham memperoleh informasi non keuangan yang andal dan akurat yang dapat membantu dalam pengambilan keputusan

Laporan keuangan tidak diberikan, perusahaan tidak menyampaikan materi apapun mengenai laporan keuangan

Pemegang saham tidak pernah diberitahu mengenai informasi material yang bisa mempengaruhi harga saham

Pemegang Saham tidak memperoleh gambaran yang jelas, andal dan akurat mengenai berbagai informasi keuangan yang diberikan oleh Perusahaan Pemegang Saham tidak memperoleh perbandingan dengan perusahaan lain mengenai berbagai informasi keuangan Pemegang Saham tidak memperoleh gambaran yang jelas, andal dan akurat mengenai berbagai informasi non keuangan yang diberikan

24

oleh Perusahaan Pemegang Saham tidak memperoleh informasi penilaian kinerja perusahaan didalam informasi non keuangan

untuk investasi Pemegang Saham memperoleh informasi non keuangan yang menunjukkan informasi penilaian kinerja perusahaan denga jelas Pemegang Saham memperoleh peraturan tertulis tentang Pemegang Saham dan sudah diterapkan Diusulkan dan dipilih oleh pemegang saham yang bukan merupakan Pemegang Saham Pengendali dalam RUPS

Pemegang Saham tidak mendapatkan peraturan tertulis tentang Pemegang Saham

Diusulkan oleh pemegang saham dan dipilih oleh pemegang saham yang merupakan Pemegang Saham Pengendali dalam RUPS

7)

Peran Stakeholders (Skor 86.80) Peran stakeholder atau perlakuan terhadap pihak-pihak yang berkepentingan lainnya

merupakan wujud interaksi organ perusahaan dalam rangka menjalin kemitraan dengan pihakpihak yang berkepentingan melalui berbagai program, seperti tanggung jawab sosial dan pengembangan komunitas, sehingga memberikan manfaat dan kontribusi bagi masyarakat. Berikut merupakan ideografis yang menggambarkan karakteristik peran stakeholder dalam riset ini:

Peran Pihak-Pihak yang Berkepentingan Lainnya (stakeholder)


0 Perusahaan melebih-lebihkan keunggulan produk, menutupi informasi yang seharusnya menjadi hak konsumen Perusahaan selalu tidak memenuhi kesepakatan terhadap penyelesaian kewajiban dengan pihak ketiga 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Perusahaan menyampaikan seluruh informasi yang harus diketahui oleh konsumen, memberitahukan keadaan yang sebenarnya dari produk yang dihasilkan Perusahaan selalu memenuhi kesepakatan penyelesaian kewajiban terhadap pihak ketiga dengan memperhatikan perkembangan pekerjaan yang dilakukan oleh pihak ketiga Perusahaan menerima keluhan dan klaim dari konsumen, menindaklanjuti, serta berupaya melakukan perbaikan produk Perusahaan hanya melakukan pengikatan jaminan satu kali terhadap pihak yang menjadi sumber pembiayaan, nilai kewajiban lebih kecil dibanding nilai jaminan yang diberikan

Perusahaan mengeluarkan kebijakan tidak menerima keluhan dan klaim setelah produk dibeli Perusahaan melakukan pengikatan jaminan berkali-kali terhadap pihak yang menjadi sumber pembiayaan, nilai kewajiban melebihi dari nilai jaminan yang diberikan

25

Perusahaan tidak mempunyai aturan yang melindungi dari perilaku anggota yang mengutamakan kepentingan pribadi Etika kerja/etika bisnis belum dibuat Perusahaan belum memiliki program pengembangan komunitas dengan pihak-pihak terkait Perusahaan belum memiliki program pengendalian aspek dan dampak penting lingkungan hidup

Perusahaan telah memiliki dan melaksanakan aturan yang melindungi dari perilaku anggota yang mengutamakan kepentingan pribadi Etika kerja/etika bisnis telah dibuat dan disebarluaskan serta dilakukan evaluasi terhadap penerapannya

Perusahaan memiliki program pengembangan komunitas dengan pihak-pihak terkait dan sudah dilaksanakan Perusahaan memiliki program pengendalian aspek dan dampak penting lingkungan hidup dan sudah dilaksanakan

8)

Integritas (Skor 86.49)

Integritas merupakan sistem manajemen yang mampu menumbuhkan semangat memegang teguh tata nilai yang disepakati perusahaan. Berikut merupakan ideografis yang menggambarkan karakteristik integritas dalam riset ini: Integritas
0 Penuh kemunafikan dan ketidakjujuran 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Sangat kondusif untuk orang bertindak jujur dan menepati janji, serta menjunjung tinggi prinsip, norma, dan tata nilai Terdapat rasa saling percaya yang tinggi dan tulus Setiap anggota perusahaan memahami dan mempraktikkan tata nilai yang berlaku, selalu menggunakan hak dan kepercayaan yang diberikan perusahaan dengan sebaik-baiknya Setiap anggota perusahaan selalu menggunakan hak dan kepercayaan yang diberikan perusahaan dengan sebaikbaiknya, dapat dipercaya dan diandalkan, sehingga tidak terjadi kebocoran informasi Perusahaan selalu menjaga semua aturan dan ketetapan tidak diskriminatif Perusahaan selalu memastikan agar Pemegang Saham dan stakeholder lainnya mendapatkan apa yang menjadi hak mereka

Tidak ada rasa saling percaya sama sekali Anggota perusahaan tidak memiliki rasa tanggung jawab

Anggota perusahaan tidak dapat dipercaya sehubungan dengan dokumen/data/ informasi perusahaan yang bersifat rahasia sehingga sering terjadi kebocoran informasi Perusahaan menerapkan aturan dan ketetapan yang diskriminatif terhadap anggota perusahaan Perusahaan seringkali mengabaikan hak pemegang saham dan stakeholder lainnya

26

Hubungan kerja antara perusahaan dengan mitra kerjanya seringkali berlangsung kurang profesional Anggota perusahaan tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan perusahaan dalam bentuk penyampaian ide/gagasan dan semacamnya. Anggota perusahaan hanya bisa berperan sebatas memenuhi kewajiban bekerjanya saja

Hubungan kerja antara perusahaan saya dengan mitra kerjanya selalu berlangsung secara profesional Setiap anggota perusahaan diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan perusahaan dan segala bentuk partisipasinya dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

9)

Independensi (Skor 83.84) Independensi merupakan sistem manajemen yang mampu memunculkan semangat

kemandirian anggota perusahaan untuk mampu memutuskan dan mendahulukan kepentingan perusahaan. Berikut merupakan ideografis yang menggambarkan karakteristik independensi dalam riset ini: Independensi
0 Anggota perusahaan tidak pernah bertanggung jawab atas tindakan dan keputusannya Keputusan dan tindakan yang dilakukan Dewan Komisaris selama ini diambil karena adanya pengaruh dari Pemegang Saham Mayoritas dan Dewan Direksi Keputusan dan tindakan yang dilakukan Dewan Direksi selama ini diambil karena adanya pengaruh dari Pemegang Saham Mayoritas dan Dewan Komisaris Semua anggota Direksi memiliki hubungan afiliasi dengan perusahaan 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Setiap anggota perusahaan selalu bertanggung jawab terhadap segala tindakan dan keputusan yang diambil Selama ini segala keputusan dan tindakan yang diambil merupakan keputusan yang independen tanpa sedikit pun kepentingan pihak lain kecuali untuk kepentingan perusahaan Selama ini segala keputusan dan tindakan yang diambil merupakan keputusan yang independen tanpa sedikit pun kepentingan pihak lain kecuali untuk perusahaan Semua anggota Direksi berasal dari pihak eksternal, diangkat karena berwatak baik, berpengalaman, mempunyai jejaring yang luas dan mempunyai kompetensi tinggi di bidangnya Semua anggota Komisaris berasal dari pihak eksternal, diangkat karena berwatak baik, berpengalaman, mempunyai jejaring yang luas dan mempunyai kompetensi tinggi di bidangnya

Semua anggota Komisaris memiliki hubungan afiliasi dengan perusahaan

27

5.2

Penetapan Nominasi CGPI 2004

Pengukuran adalah suatu cara penilaian yang spesifik untuk memperoleh informasi. Selanjutnya informasi tersebut dikonversikan menjadi skor atau angka (Friedenberg, 1995). Berdasarkan hasil pengujian validitas dan reliabilitas alat ukur riset CGPI 2004, dilakukan pengukuran ulang terhadap seluruh data self assessment peserta riset dan Penilaian kelengkapan dokumen peserta riset, sehingga didapatkan Nominasi CGPI 2004 sebagai berikut :

Tabel V.1. Daftar 15 Besar Nominasi CGPI 2004 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Emiten PT Aneka Tambang Tbk. PT Apexindo Pratama Duta Tbk. PT Astra Agro Lestari Tbk. PT Astra Graphia Tbk. PT Astra Internasional Tbk. PT Bank Bumiputera Indonesia Tbk. PT Bank Central Asia Tbk. PT Bank Danamon Indonesia Tbk. PT Bank Lippo Tbk. PT Bank Mandiri Tbk. PT Bank Niaga Tbk. PT Bank Permata Tbk. PT BFI Finance Indonesia Tbk. PT Dankos Laboratories Laboratories Tbk. PT Kalbe Farma Tbk.

5.3

Peringkat CGPI 2004

Tahapan akhir dari proses riset pemeringkatan adalah penilaian kualitatif berupa kunjungan (observasi) ke perusahaan yang masuk dalam nominasi 15 besar CGPI 2004. Kunjungan tersebut berupa wawancara mendalam (in-depth interview) dan uji bukti-bukti lain yang berhubungan dengan penerapan GCG dalam konteks internalisasi prinsip-prinsip GCG dalam proses bisnis di perusahaan tersebut. Setelah itu dilakukan penilaian dan penyusunan peringkat CGPI 2004.

28

Penilaian pada masing-masing tahapan dilakukan dengan mengisi blanko penilaian. Blanko penilaian diisi dengan cara memberikan skor dalam interval 1 sampai dengan 10, dan nilai merupakan perkalian antara skor dan bobot (total bobot 100). Masing-masing penilai memberikan hasil penilaiannya kepada sekretariat CGPI, dan selanjutnya dihitung rata-rata nilai akhir dari sejumlah tim penilai untuk masing-masing emiten. Dengan demikian total nilai tertinggi adalah 1000. Berdasarkan kedua tahapan penilaian yang telah dijelaskan di atas, yaitu penilaian kuantitatif dan kualitatif, diperoleh hasil pemeringkatan sebagai berikut : Tabel V.2 CGPI 2004 untuk Sektor Keuangan
Peringkat 1 2 3 4 5 Bank Central Asia Bank Niaga Bank Permata BFI Finance Bank Bumiputera Emiten Skor 851.4 842.3 833.3 825.5 812.9

Catatan: Skala 0-1000

Tabel V.3 CGPI 2004 untuk Sektor Non Keuangan


Peringkat 1 2 3 4 5 Emiten Astra Internasional Dankos Laboratories Astra Agro Lestari Astra Graphia Kalbe Farma Skor 858.7 837.2 823.1 805.2 802.4

Catatan: Skala 0-1000

29

BAB VI PENUTUP

Temuan-temuan riset ini dapat dijadikan acuan dasar untuk mengembangkan penerapan konsep GCG dan internalisasi GCG dalam proses bisnis agar dapat meningkatkan penciptaan nilai perusahaan untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Pada bagian akhir dari bab ini disampaikan pula beberapa hal yang menjadi keterbatasan riset pemeringkatan ini yang perlu mendapat perhatian dalam pelaksanaan CGPI 2005.

6.1

Temuan-Temuan Riset

1) Komitmen perusahaan cukup baik dalam penerapan dan internalisasi GCG. Hal ini terlihat dari telah disusunnya berbagai bentuk pedoman atau manual GCG, dan adanya fungsi khusus yang mengurusi GCG, serta telah mengalokasikan anggaran dan program khusus pengembangan GCG. Prinsip-prinsip GCG sudah mulai dimasukkan dalam indikator keberhasilan manajemen, sehingga kesadaran, urgensi dan respons terhadap masalah GCG tercermin cukup baik dalam operasional bisnis. 2) Perusahaan telah melakukan proses pemilihan komisaris (independen dan non-independen) melalui mekanisme rekrutmen yang mempertimbangkan kompetensi dan kredibilitas, dan telah memiliki mekanisme pertanggung jawaban pribadi dalam menjalankan tugasnya. 3) Komite Audit mulai berfungsi di perusahaan, dan dirasakan adanya kebutuhan untuk membentuk komite-komite fungsional lainnya di luar yang diwajibkan oleh regulasi, seperti Komite Resiko, Vendor, Asuransi, SDM, dan lain-lain. 4) Direksi perusahaan telah menjalankan tugasnya secara profesional, berdasarkan

kompetensi, pemenuhan fungsi dan tugasnya, serta evaluasi kinerja. 5) Prinsip transparansi diterapkan secara cukup baik. Hal ini dapat dicermati dari ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan atau bentuk paparan publik secara berkala, bahkan informasi pelaksanaan GCG telah ditempatkan secara khusus dalam laporan tahunan (Annual Report). Demikian pula dengan kualitas informasi yang cukup baik, terutama mengenai kinerja perusahaan dan manajemen resiko. 6) Kebijakan dan jumlah remunerasi bagi direktur dan komisaris telah diungkap dengan cukup baik, disamping itu telah memanfaatkan website dan sarana lain untuk menyampaikan informasi. 7) Secara umum perusahaan telah memiliki dan menjalankan mekanisme RUPS dengan baik, sebagai bentuk perlakuan yang setara terhadap para pemegang saham. Bahkan sebagian perusahaan memiliki mekanisme Rapat Pemegang Saham Minoritas.

30

8) Perusahaan umumnya telah memiliki dan menjalankan program-program yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan pihak-pihak berkepentingan lainnya, baik internal maupun eksternal, terutama yang berkaitan dengan informasi produk, program pengembangan komunitas, pengelolaan sumber pembiayaan, dan lainnya. Selain itu perusahaan menyadari bahwa stakeholder memiliki peran penting dalam mencapai tujuan perusahaan. 9) Perusahaan telah memiliki dan menerapkan sistem yang mampu menumbuhkan integrasi, seperti iklim kerja yang kondusif dan saling percaya, sistem apresiasi, dan lain-lain. 10) Perusahaan telah memiliki dan menjalankan sistem yang mampu memunculkan semangat kemandirian anggota perusahaan untuk mampu memutuskan dan mendahulukan

kepentingan perusahaan.

6.2

Kesimpulan

1) Sektor keuangan mendominasi nominasi 15 besar . 2) Untuk merekam jejak internalisasi GCG dalam proses bisnis, yang direfleksikan oleh sistem dan dokumentasi, maka pengujian dokumen diberi perhatian khusus dalam riset pemeringkatan ini. 3) Walaupun dokumentasi cukup baik, tetapi ada anggota perusahaan yang memberikan persepsi rendah, sehingga terkesan adanya masalah intern dalam perusahaan. 4) Dari riset pemeringkatan ini, dapat disimak bagaimana respons manajemen yang terstruktur dan bersistem tentang manajemen risiko dalam pengelolaan usaha emiten, serta yang berkaitan dengan pengembangan orang sebagai modal utama dalam pengelolaan usaha emiten.

6.3

Keterbatasan

1) Terbatasnya jumlah perusahaan yang mengikuti riset pemeringkatan ini menyelabkan masih terbatasnya kategorisasi, seperti belum ada pemisahaan korporasi berdasarkan bidang bisnis utama, kapitalisasi pasar saham, hingga kategori yang berdasarkan ukuran perusahaan lainnya. 2) Riset ini baru diperuntukkan bagi perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta, sehingga masih banyak perusahaan lainnya dan juga BUMN yang belum dapat diikutsertakan dalam pemeringkatan CGPI ini, meskipun telah menerapkan GCG. 3) Kinerja keuangan belum diikutsertakan sebagai salah satu indikator penilaian.

31

6.4

Rekomendasi

1) Perlu diperbaiki integrasi pelaksanaan GCG ke dalam kebijakan pemberian penghargaan dan apresiasi. 2) Perlu ditingkatkan peran Komite Nominasi dalam merekrut komisaris, menentukan kriteria seleksi, sistem penilaian, prosedur nominasi, dan rekomendasi jumlah komisaris. 3) Mekanisme disclosure perlu diperbaiki untuk mencegah benturan kepentingan yang berasal dari kepemilikan saham dan perangkapan jabatan di perusahaan lain. 4) Pimpinan perusahaan perlu memberikan perhatian khusus pada pemberdayaan Komite Nominasi dan Komite Renumerasi. 5) Dalam laporan tahunan, pencatuman resiko usaha, proses rekrutmen/seleksi direksi dan komisaris serta isu-isu stakeholder perlu diperbaiki. 6) Pemaparan informasi keuangan yang menunjukkan perbandingan industri perlu diperbaiki. 7) Penyebaran dan evaluasi penerapan etika bisnis dan program pengendalian aspek dan dampak penting lingkungan hidup perlu diperbaiki. 8) Sistem yang mampu memahami dan mempraktikan tata nilai yang berlaku, serta penggunaan hak dan kepercayaan yang diberikan perlu ditingkatkan. 9) Sebagian perusahaan masih perlu memperhatikan masalah hubungan afiliasi perusahaan, terutama pada perangkapan jabatan Direktur dan Komisaris.

32

TIM PENULIS
DR. G. SUPRAYITNO G. Suprayitno adalah profesional yang mengawali karirnya dari Management Trainee pada tahun 1980 di PT. United Tractors Tbk., yang merupakan salah satu anak perusahaan PT. Astra International Tbk. Pengalaman profesinya di bidang perdagangan (selama 10 tahun) yang selalu menerapkan konsep manajemen yang terus diperbarui, kemudian di bidang keuangan (perbankan, selama 5 tahun) dan manufaktur (selama 5 tahun), yang berkonsentrasi pada bidang manajemen operasional, manajemen stratejik, dan Manajemen Sumber Daya Manusia, melengkapi ketajaman analisisnya di bidang organisasi, kepemimpinan, budaya kerja, iklim kerja, tata kelola perusahaan yang baik dan manajemen kinerja. Sejak tahun 1984 G. Suprayitno aktif memberikan pelatihan dan konsultasi di dalam grup perusahaan maupun Departemen Perdagangan dan Perindustrian, Departemen Tenaga Kerja, Departemen Perhubungan, Departemen Kehutanan, dan perusahaan swasta. Sebagai praktisi yang berpengalaman dan dapat diandalkan, G. Suprayitno senantiasa meningkatkan kemampuannya melalui jalur akademisi, yaitu telah mengikuti program magister manajemen dan program doktor. Saat ini selain menjadi konsultan bagi perusahaan BUMN maupun swasta dalam bidang kepemimpinan dan organisasi, beliau adalah salah satu peneliti senior The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG). DR. Ir. Sedarnawati Yasni, M. Agr. DR. Ir. Sedarnawati Yasni, M. Agr. adalah seorang pendidik yang sangat tinggi minatnya dalam bidang Kimia Pangan dan Biokimia Terapan. Pendidik yang memperoleh gelar pascasarjana dari Kyushu University-Jepang ini sampai sekarang menjabat sebagai staf pengajar di Institut Pertanian Bogor (IPB), terutama pada Departemen Teknologi Pangan dan Gizi-Fakultas Teknologi Pertanian, dan Program Studi Ilmu Pangan-Sekolah Paska Sarjana. Di samping sebagai pendidik, Sedarnawati juga berkiprah di birokrasi, yang sampai dengan bulan Februari 2004 menjabat sebagai Asisten Deputi Perkembangan Riset, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Urusan ilmu kehidupan (Life Sciences), pada Kementerian Riset dan Teknologi. Karirnya di birokrasi, diawali dengan posisi sebagai sebagai Staf Profesional Kelompok Sumberdaya Alam dan Energi pada Dewan Riset Nasional. Sebagai profesional eselon II pada pemerintahan, Sedarnawati telah dibekali dengan pendidikan manajemen kepemimpinan, seperti Pendidikan dan Pelatihan Pimpinan Tingkat II dan Tingkat I, dan pelatihan lainnya di bidang kebijakan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, baik di dalam maupun luar negeri. Besarnya minat di bidang manajemen, terlihat dari pengalaman praktisnya dalam menyusun perencanaan bisnis perdagangan, telekomunikasi, properti, hiburan, dan restoran, dan keterlibatannya pada beberapa kelompok kerja nasional yang berkaitan dengan sektor energi, pangan, kelautan dan martim. Dengan latar belakang pendidikan dan pengalamannya tersebut, Sedarnawati mampu memadukan peran ilmu pengetahuan dan teknologi pada dunia riset dan industri. Sejak tahun 2002 sampai saat ini, Sedarnawati menjabat sebagai tim peneliti senior IICG dan tim konsultan survei dan sosialisasi penerapan Corporate Governance pada perusahaan publik di Indonesia. Dra. Khomsiyah, Ak. MM Khomsiyah G. Indrayanto adalah perpaduan antara profesional dan akademisi. Mengawali karir akademik di STIE YKPN Yogyakarta pada tahun 1984, hingga kini menjadi Lektor Kepala di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti dengan bidang konsentrasi akuntansi keuangan, akuntansi manajemen dan etika profesi. Artikel yang ditulisnya pada jurnal dan penelitian akademik nasional maupun internasional mempertegas sosok akademiknya. Jalur profesional ditempuhnya dengan menjadi staff pada sebuah kantor akuntan publik dan keterlibatannya sebagai Wakil Ketua III Ikatan Akuntan Indonesia cabang Jakarta. Khomsiyah bergabung dengan IICG sejak tahun 2002 serta tengah menempuh program Doktor bidang akuntansi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dadi Krismatono Dadi Krismatono memulai perjalanan sebagai peneliti pada tahun 1997 di lingkungan Departemen Perindustrian dan Perdagangan RI. Sejak itu Dadi terlibat dalam berbagai penelitian, baik untuk keperluan pemerintah, bisnis maupun akademik, dalam dan luar negeri. Tulisannya mewarnai media massa, terutama dengan tema bisnis, sejak tahun 1998 hingga sekarang. Dadi bergabung sebagai peneliti dengan IICG pada tahun 2002 dan sejak awal 2003 bertugas sebagai Direktur Eksekutif.

33

Rika Gelar Rahayu Rika Gelar Rahayu adalah seorang penulis dan pendidik. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jurusan Manajemen dan saat ini sedang menempuh studi lanjut di Magister Manajemen UI. Bergabung sebagai peneliti IICG pada tahun 2003, Rika kini aktif sebagai staf pengajar Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, dan terus menulis serta menekuni minatnya di bidang riset, manajemen, bisnis, dan pengembangan komunitas. May Susandy May Susandy bergabung sebagai peneliti IICG sejak tahun 2004. Lulusan Studi Pembangunan dari Fakultas Ekonomi UNiversitas Indonesia, May kini terlibat dalam berbagai penelitian dan kegiatan training yang diadakan oleh IICG.

34

PROFIL THE INDONESIAN INSTITUTE FOR CORPORATE GOVERNANCE (IICG)

Sebuah organisasi independen, The Indonesia Institute for Corporate Governance [IICG] didirikan untuk memasyarakatkan konsep, praktik dan manfaat Corporate Governance ini kepada dunia usaha khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.

A. VISI DAN MISI Visi kami adalah Menjadi lembaga independen dan bermartabat untuk mendorong terciptanya perilaku bisnis yang sehat.

Misi kami adalah Menyusun dan mengembangkan standar moral yang tinggi sebagai kerangka acuan penciptaan Tata Kelola Perusahaan yang Baik. Mendorong kepedulian dan kesadaran masyarakat khususnya pelaku bisnis, mengenai pentingnya mengembangkan dan mempertahankan Tata Kelola Perusahaan yang baik. Menyelenggarakan penelitian dan pengkajian menyangkut penerapan praktik bisnis yang sehat dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat luas.

B. STRATEGI Mengembangkan kerangka konseptual untuk Tata Kelola Perusahaan di Indonesia Merumuskan prinsip-prinsip dasar yang sehat dan sesuai etika dan strategi penerapan yang sesuai sistem hukum, struktur bisnis dan lingkungan bisnis Indonesia. Mengakumulasikan modal intelektual dalam Tata Kelola Perusahaan Menyebarluaskan ide, informasi, dan pengetahuan di bidang Tata Kelola Perusahaan yang baik. Membangun jaringan dan kerjasama dengan pejabat pemerintah, masyarakat bisnis, institusi internasional, dan lembaga swadaya masyarakat. Melakukan inovasi untuk menyediakan jasa-jasa yang berkaitan dengan penerapan Tata Kelola Perusahaan.

35

C. KEGIATAN IICG

1.

Riset dan Pengembangan

Melakukan riset untuk menghasilkan kerangka konseptual, prinsip dasar, aturan prilaku, dan praktik yang sehat.

2.

Pendidikan dan Pelatihan

Melakukan kegiatan-kegiatan pembelajaran dan pendidikan, seminar, dan pelatihan.

3.

Publikasi dan Promosi

Lembaga akan terus menerus menyuarakan Tata Kelola Perusahaan yang baik di lingkungan usaha dan masyarakat pada umumnya. Hal itu dilaksanakan dalam bentuk publikasi berupa selebaran, buku dan panduan, serta penulisan artikel bertema Tata Kelola Perusahaan yang Baik di berbagai media massa oleh staf institut.

4.

Layanan Konsultansi dan Compliance Assurance

Menyediakan jasa konsultasi bagi korporasi yang ingin menerapkan konsep-konsep Corporate Governance termasuk layanan compliance assurance.

5.

Indeks Persepsi Tata Kelola Perusahaan

Mengadakan riset mengenai keadaan korporasi di Indonesia dan menyusun database untuk dipakai dalam pemetaan Tata Kelola Perusahaan.

Corporate Governance Perception Index (CGPI) dilaksanakan pertama kali pada tahun 2001 dengan hasil sebagai berikut Corporate Governance Perception Index 2001
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. PT Timah Tbk PT Astra Internasional Tbk PT Bank Central Asia Tbk PT Bank CIC Tbk PT Aneka Tambang Tbk PT Medco Energi International Tbk PT Metrodata Electronics Tbk PT Matahari Putra Prima Tbk PT Kalbe Farma Tbk PT Bimantara Citra Tbk Emiten Skor 78.94 77.19 76.56 75.88 70.75 69.94 66.13 66.06 65.19 65.13

36

Sumber : IICG-skala 0-100

Kemudian setahun berikut atau tepatnya pada tahun 2002, IICG kembali menggelar Corporate Governance Perception Index (CGPI), yang memberi hasil sebagai berikut : Corporate Governance Perception Index 2002
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Emiten PT Bank Central Asia Tbk PT Bank Universal Tbk PT Bank Niaga Tbk PT Kalbe Farma Tbk PT Astra Internasional Tbk PT Bank Lippo Tbk PT Bank Negara Indonesia Tbk PT Unilever Indonesia Tbk PT Bimantara Citra Tbk PT Dankos Laboratories Tbk Skor 90.46 89.05 88.55 88.42 87.95 87.43 87.00 86.93 85.31 85.17

Sumber : IICG

Pada tahun 2003, IICG kembali mengadakan Corporate Governance Perception Index (CGPI) dengan hasil sebagai berikut:

Corporate Governance Perception Index 2003


No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Emiten PT Astra International Tbk PT Unilever Indonesia Tbk PT Astra Graphia Tbk PT Medco Energi International Tbk PT Bank Niaga Tbk PT Kalbe Farma Tbk PT Dankos Laboratories Tbk PT Bank Bumiputera Indonesia Tbk PT BFI Finance Indonesia Tbk PT Bimantara Citra Tbk Skor 81,20 76,86 76,76 74,86 74,16 72,84 72,46 70,70 68,60 68,56

Sumber : IICG

37

D. DEWAN PENDIRI dan BADAN PENGURUS


Dewan Pendiri 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. Adi Rahman Adiwoso Anugerah Pekerti Arief T. Surowidjojo Baihaki H. Hakim Bambang Subianto Binhadi Bondan Winarno Cacuk Sudarijanto Chrysanti H. Sedyono Didie Bambang Tedjosumirat Djokosantoso Moeljono Eka Dharmajanto Kasih Erry Riyana Hardjapamekas Glen M.S. Yusuf Gunarni Suworo Hans Kartikahadi Haryanto Sahari Haryanto Tiara Budiman Hossein Soero Pranoto Istama Tatang Sidharta John A. Prasetio Badan Pengurus 1. 2. 3. 4. 5. 6. Adi Rahman Adiwoso Anggito Abimanyu Arief T. Surowidjojo Bondan Winarno Chrysanti H. Sedyono Erry Riyana Hardjapamekas : Dadi Krismatono Peneliti: Rika Gelar Rahayu May Susandy 7. 8. 9. 10. 11. 12. Glen M.S. Yusuf Joseph Luhukay Kemal A. Stamboel Manggi T. Habir Sri Adiningsih Sudirman Said 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. Joseph Luhukay Kartini Mulyadi Kemal A. Stamboel Kuntoro Mangkusubroto Laksamana Sukardi Marie Muhammad Muljohardjoko Mursono Siswohardjono Rama Prihandana Robby Djohan Saiful Amir Soemarso Slamet Rahardjo Sri Adiningsih Sri Indrastuti Hadiputranto Subarto Zaini Sudirman Said Sunjoto Tanudjaja Theodore P. Rachmat Urip Trimuryono Zainal Soedjais

Direktur Eksekutif

Peneliti Senior: G. Suprayitno Khomsiyah G. Indaryanto Sedarnawati Yasni Deny Dharmawati Keuangan dan Administrasi: Astri Widianti

38