Anda di halaman 1dari 11

KESTABILAN ION KOMPLEKS

Sebelum memahami stabilitas dari ion kompleks, harus dipahami terlebih dahulu pengertian mengenai istilah kestabilan itu sendiri. Dalam mempelajari suatu sistem reaksi dan senyawa kimia, ada dua pendekatan yang bisa digunakan, yaitu pendekatan secara termodinamika, dan pendekatan kinetika. Pada pendekatan termodinamika, maka kita membicarakan mengenai keadaan awal dan akhir dari sistem tersebut. Pada tinjauan termodinamika ini, suatu senyawa kimia dapat dikatakan stabil atau tidak stabil. Selain stabilitas senyawa, beberapa besaran yang dibahas dalam pendekatan termodinamika adalah konstanta kesetimbangan, energi ikatan, potensial reduksi, dan besaran lain yang mempengaruhi harga konstanta kesetimbangan. Untuk senyawa kompleks, Biltz (1927) menggolongkan senyawa kompleks menjadi kompleks stabil dan kompleks tidak stabil. Kompleks yang stabil memiliki kemampuan yang besar untuk tetap mempertahankan keberadaan/identitasnya dalam suatu larutan, sementara kompleks yang tidak stabil akan terurai dengan mudah dalam larutan. Pendekatan kinetika lebih menitikberatkan pada mekanisme yang terjadi dalam reaksi dan kecepatan berlangsungnya reaksi. Selain itu, pendekatan kinetika juga membahas energi aktivasi dalam reaksi, pembentukan kompleks intermediate, konstanta laju reaksi dan besaran-besaran yang mempengaruhinya. Dalam pandangan secara kinetika, maka suatu senyawa dapat dikatakan sebagai suatu senyawa yang labil, atau senyawa inert. Terkait dengan senyawa kompleks, Taube (1950) telah mengklasifikasikan senyawa kompleks menjadi kompleks labil dan kompleks inert berdasarkan laju pertukaran ligan kompleks tersebut. Kompleks yang labil mengalami pertukaran ligan dengan cepat. Sebaliknya pada kompleks inert, pertukaran ligan berlangsung dengan sangat lambat atau bahkan tidak berlangsung sama sekali. Karena tinjauan yang digunakan dalam aspek kinetika dan

termodinamika berbeda, maka bukan tidak mungkin suatu kompleks yang

stabil secara termodinamika jika ditinjau secara kinetika merupakan kompleks yang labil. Sebaliknya, suatu kompleks yang tidak stabil mungkin saja merupakan kompleks inert. Stabilitas suatu senyawa bergantung pada energi reaksinya, sedangkan labilitas senyawa bergantung pada energi aktivasi dari senyawa tersebut.

TETAPAN STABILITAS ION KOMPLEKS


Pembentukan kompleks dalam suatu larutan berlangsung melalui sejumlah tahapan. Untuk setiap tahapan, tetapan stabilitasnya dapat dituliskan dalam suatu persamaan. Misalkan pembentukan kompleks MLn, terbentuk melalui sejumlah n tahapan. Tetapan stabilitas untuk setiap tahapan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut : M+L ML, K1 = [ML] [M][L] ML + L ML2, K2 = [ML2] [ML][L] . .. ..

MLn-1 + L

MLn

Kn =

[MLn] [MLn-1][L]

Tetapan stabilitas K1, K2, ., Kn disebut sebagai tetapan stabilitas berurutan (stepwise stability constants). Umumnya harga K1 > K2 > K3 > .> Kn

Selain berikut : M+L

dinyatakan

secara

berturutan

seperti

di

atas,

tahapan

pembentukan kompleks dan tetapan stabilitas juga dapat dinyatakan sebagai

ML,

[ML] [M][L]

M + 2L

ML2,

[ML2] [M][L]2

. ..

..

M + nL

MLn

[MLn] [M][L]n

Harga

1,

2,

disebut sebagai tetapan stabilitas total (overall


n

stability constants) dari kompleks tersebut dengan stabilitas total ke-n. Harga K dan

sebagai tetapan

dari suatu kompleks saling berhubungan satu sama lain.


3nya

Misalkan saja pada suatu kompleks MLn, harga


3

adalah :

= [ML3] [M][L]3

Sementara harga K1, K2 dan K3 berturut-turut adalah K1 = [ML] [M][L] Perhatikan bahwa : K2 = [ML 2] [ML][L] K3 = [ML3] [ML2][L]

= [ML3] [M][L]3

[ML] [M][L]

[ML2] [ML][L]

[ML3] [ML2][L]

= K1 x K2 x K3

Berarti:
n

= K1 x K2 x . x Kn

log

= log K1 + log K2 + .. + log Kn

Harga

merupakan ukuran dari stabilitas suatu senyawa kompleks.


n,

Makin besar harga

makin stabil kompleks tersebut.

Kadang-kadang dinyatakan 1/Kn sebagai konstanta instabilitas dari suatu kompleks.

FAKTOR-FAKTOR KOMPLEKS

YANG

MEMPENGARUHI

STABILITAS

Stabilitas dari suatu senyawa kompleks dipengaruhi dua faktor, yaitu pengaruh dari ligan, dan pengaruh dari logam pusat kompleks tersebut. A. Pengaruh Logam Pusat Berikut ini beberapa sifat logam pusat yang menentukan stabilitas dari suatu senyawa kompleks. 1. Ukuran dan Muatan Logam Pusat Stabilitas kompleks umumnya menurun dengan kenaikan jari-jari ion logam pusatnya. Perhatikan urutan stabilitas kompleks dengan logam alkali sebagai ion pusat terhadap jari-jari ionnya sebagai berikut : Li+ (r = 0,60 ) > Na+ (r = 0,95 ) > K+ (r = 1,33 ) > Rb+ (r = 1,48 ) > Cs+ (r= 1,69 ) Jika ditinjau dari muatan ion logam pusatnya, maka stabilitas kompleks menurun seiring dengan penurunan muatan ion logam pusat tersebut. Misalkan untuk ion Th4+, Y3+, Ca2+ dan Na+, urutan stabilitas kompleks dari logam tersebut dengan ligan yang sama adalah sebagai berikut : Th4+ (r = 0,95 ) > Y3+ (r = 0,93 ) > Ca2+ (r = 0,99 ) > Na+ (r = 0,95 ) Jika kedua faktor tersebut (jari-jari ion dan muatan ion pusat) digabungkan, maka secara umum dapat dilihat bahwa makin besar perbandingan harga muatan (q) dan jari.jari (r) kation logam, kompleks yang terbentuk akan semakin stabil. Hal ini dikarenakan dengan harga q/r yang makin besar medan listrik dari logam pusat semakin besar pula.

Logam Pusat

Jari-jari ion ( )

q/r

Li

0,60

1/0,60 = 1,6

Ca

2+

0,99

2/0,99 = 2,0 Kestabilan meningkat

Y3+

0,93

3/0,93 = 3,22

Th

4+

0,95

4/0,95 = 4,20

Al 3+

0,50

3/0,50 = 6,0

Be

2+

0,31

2/0,31 = 6,45

2. Faktor CFSE Pada logam unsur-unsur transisi, adanya pemecahan orbital d yang memberikan harga CFSE tertentu mempengaruhi stabilitas dari kompleks yang terbentuk. Adanya CFSE akan meningkatkan kestabilan kompleks, sehingga harga K maksimum dapat diramalkan akan diperoleh pada kompleks dengan logam pusat yang memiliki konfigurasi elektron d3 dan d8, karena konfigurasi ini akan memberikan harga CFSE yang paling besar. Secara umum, urutan stabilitas kompleks berdasarkan konfigurasi

elektron pada orbital d mengikuti urutan sebagai berikut : d0 < d1 < d2 < d3Dd4 < d5 < d6 < d 7 < d8 D d9 < d10 Urutan d3 > d4 dan d8 > d9 akan terjadi pada kompleks dimana efek JahnTaller cukup lemah dan kompleks memiliki bilangan koordinasi 6.

q/r meningkat

Ni

2+

0,72

2/0,72 = 2,97

Sedangkan urutan d3 < d4 dan d8 < d 9 akan terjadi pada kompleks dengan efek Jahn-Taller yang cukup kuat dan memiliki bilangan koordinasi 4. Efek dari faktor CFSE tersebut dapat diamati pada urutan stabilitas kompleks dengan logam berikut :
Mn2+ Fe2+ Co2+ Ni 2+ Cu2+ Zn2+

Ion

Jari-jari ion ( )

0,91

0,83

0,82

0,78

0,69

0,74

Konfigurasi elektron d

10

Urutan stabilitas

Mn2+ < Fe2+ < Co2+ < Ni2+ < Cu2+ < Zn2+

3. Elektronegativitas dan Kemampuan Polarisasi Logam Kompleks yang terbentuk dari logam dengan elektonegativitas yang tinggi akan menghasilkan kopmpleks yang lebih stabil, karena kecenderungan logam untuk menarik pasangan elektron yang didonasikan oleh ligan akan lebih kuat. Dalam hal yang sama, logam dengan kemampuan polarisasi yang lebih besar juga akan menghasilkan kompleks yang lebih stabil. 4. Logam Jenis a dan Jenis b Logam dapat dikategorikan menjadi 3 golongan : (a) Logam kelas a : logam-logam yang lebih elektropositif, seperti logam alkali dan alkali tanah, logam transisi pertama, logam pada deret Lantanida dan Aktinida (b) Logam kelas b : logam-logam yang lebih elektronegatif, seperti Pt, Au, Hg, Pb, logam-logam transisi ringan dengan bilangan oksidasi yang rendah

(c) Logam perbatasan (borderline) Logam kelas a akan membentuk kompleks yang lebih stabil dengan ligan dimana atom yang mendonorkan elektron merupakan unsur pada periode kedua (N, O, F). Sedangkan logam golongan b membentuk kompleks yang stabil dengan ligan yang donor elektronnya adalah atom dari periode ketiga (P, S, Cl). Selain itu, logam golongan a dan b memiliki urutan stabilitas yang berkebalikan jika membentuk kompleks dengan ligan-ligan berikut :

Urutan Kestabilan

F - > Cl - > Br- > I-

Logam golongan a

O >> S > Se> Te

N >> P > As > Sb > Bi

F < Cl < Br < I

Logam golongan b

O << S Se Te

N << P < As < Sb < Bi

Logam dari golongan b memiliki sejumlah elektron d di luar inti gas mulianya yang dapat digunakan untuk membentuk ikatan ligan. Adanya ikatan dengan atom ini akan meningkatkan kestabilan kompleks.

Dengan demikian, logam golongan b akan lebih stabil jika membentuk kompleks dengan ligan yang memiliki orbital d kosong yang dapat digunakan untuk membentuk ikatan seperti PMe3, S 2- dan I-.

B. Pengaruh Ligan Selain pengaruh dari logam sebagai ion pusat dari kompleks, ligan yang terikat pada logam tersebut juga menentukan kestabilan dari kompleks yang terbentuk. Berikut beberapa factor dari ligan yang mempengaruhi kestabilan kompleks. 1. Ukuran dan Muatan Ligan Ligan yang berukuran lebih kecil akan lebih mudah mendekat ke arah logam pusat untuk membentuk ikatan yang lebih kuat. Dengan demikian ligan yang ukurannya lebih kecil akan membentuk kompleks yang lebih stabil. Ditinjau dari muatannya, semakin besar muatan yang dimiliki ligan, gaya tarik menarik antara ligan dengan logam pusat juga makin kuat, sehingga ikatan yang terbentuk otomatis juga menjadi lebih kuat. Dari dua hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa kompleks yang stabil akan terbentuk dari ligan yang berukuran kecil dan memiliki muatan yang besar. 2. Momen Dipol dari Ligan Analog dengan faktor muatan, makin besar momen dipol dari suatu ligan, stabilitas kompleks yang terbentuk etilamin > dietilamin > trietilamin makin besar. Hal ini dapat menjelaskan urutan kestabilan dari sejumlah ligan netral berikut : amina >

3. Sifat Basa Ligan Interaksi antara logam dengan ligan dapat ditinjau sebagai interaksi AsamBasa Lewis. Oleh karena itu, makin basa suatu ligan, kompleks yang terbentuk akan semakin stabil. Hal ini dikarenakan ligan yang sifatnya lebih basa akan lebih mudah mendonorkan pasangan elektron bebas yang dimilikinya pada logam. Atas dasar hal ini, maka ligan NH3 dapat membentuk kompleks yang lebih stabil dibandingkan H2O.

4. Kemampuan Membentuk Ikatan Adanya ikatan dapat memperkuat ikatan logam dengan ligan dalam

kompleks. Oleh karena itu, ligan-ligan yang dapat membentuk ikatan dengan logam membentuk kompleks yang lebih stabil. Misalnya saja ligan CN-, CO, PR3, dan alkena. 5. Efek Sterik Adanya efek sterik dapat melemahkan ikatan logam dengan ligan karena adanya gaya tolak menolak antar ligan yang terikat. 6. Efek Khelat Ligan yang merupakan suatu ligan pengkhelat membentuk kompleks yang lebih stabil dibandingkan ligan bukan khelat. Hal ini dikarenakan ligan berikatan dengan logam melalui lebih dari satu atom donor, sehingga otomatis ikatan yang terbentuk akan lebih kuat. Kestabilan ligan pengkhelat sendiri dipengaruhi beberapa faktor sebagai berikut : ukuran cincin khelat, umumnya makin besar ukuran cincin khelat, makin stabil kompleks yang terbentuk efek resonansi, adanya resonansi akan meningkatkan kestabilan

LATIHAN
1. Dari pasangan-pasangan kompleks berikut ini, manakah dari tiap pasang yang merupakan kompleks yang lebih stabil? Jelaskan mengapa! a. K4[Fe(CN)6] dan K3[Fe(CN)6] b. [Co(H2O)6]2+ dan [Co(NH3)6]2+ c. [Cu(en)2]Cl2 dan [Cu(NH3)4]Cl2 d. [Co(NO2) 6]4- dan [Co(NO2)6]3-

2. Mengapa ion Be2+ memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk membentuk senyawa kompleks dibandingkan ion Mg 2+? 3. Kompleks yang terbentuk dari logam Cu+ lebih stabil dibandingkan kompleks dari logam Na+ dengan ligan yang sama. Jelaskan mengapa! 4. Ion Ni2+ membentuk kompleks yang lebih stabil dengan ligan 8-hidroksi kuinolin dibandingkan dengan ligan 2-metil-8-hidroksi kuinolin. Jelaskan! 5. Suatu logam M dapat membentuk kompleks dengan ligan F-, Cl-, Br- dan I-. Jelaskan urutan stabilitas dari kompleks yang terbentuk!