Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK TRANSMISI

MODULASI AMPLITUDO PULSA (PAM)

Disusun oleh : Azzahrotu Tsani 3.33.09.1.01

Anggota Kelompok :
Azzahrotu Tsani Imam Setiawan Miyarul Fitria A Syaiful Darmawan Syah Wikha Oxa Raturiani 3.33.09.1.01 3.33.09.1.08 3.33.09.1.12 3.33.09.1.19 3.33.09.1.22

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI SEMARANG 2011

LAPORAN 2 MODULASI AMPLITUDO PULSA ( PAM )

I. TUJUAN 1. Mahasiswa dapat mengerti prinsip modulasi amplitudo pulsa. 2. Mahasiswa dapat menjelaskan fungsi dari modulator amplitudo pulsa. 3. Mahasiswa mampu menjelaskan penggunan PAM.

II. DASAR TEORI Untuk memaksimalkan penggunaan kanal transmisi, percobaan dilakukan untuk mengetahui berapa sumber sinyal yang dapat dilewatkan pada suatu kanal. Selain menggunakan frequency multiplexing, digunakan pula time multiplexing. PAM merupakan prasyarat untuk sistem time multiplexing. Dari teori sampling Shannon disebutkan bahwa tidak perlu semua sinyal dikirimkan. Cukup hanya dengan mengambil beberapa sample dari sinyal, dengan frekuensi sampling (fp) minimal harus dua kali dari frekuensi tertinggi dari sinyal yang akan dikirim.

Pulsa yang beurutan secara periodik merupakan modulasi amplitude oleh frekuensi suatu sinyal. Modulasi dilakukan oleh bagian penyampling ( switch elektronik ) yang mengijinkan sinyal melewati keluaran untuk selang waktu setiap pulsa. Selain dari sinyal ini, sampling menghasilkan spectrum frekuensi yang lebar. Jika frekuensi sampling minimal dua kali dari frekuensi tertinggi dari sinyal, maka sinyal asli dapat diperoleh kembali dengan menggunakan filter lolos rendah ( LPF/low pass filter )

Pada kanal suara memiliki lebar pita 3,1 kHz, dengan pembatas frekuensi 3,4 kHz cukup baik untuk didengar. Filter sebenarnya memiliki tingkatan tertentu, biasanya digunakan frekuensi sampling 8 kHz. Hal ini memungkinkan untuk menekan frekuensi selain dari sinyal yang diinginkan. Pada pecobaan ini digunakan filter butterworth orde 4. Selama pengiriman, sistem PAM memiliki sensitivitas terhadap interferensi seperti pengiriman menggunakan sinyal analog. Pada pemakaian time multiplexing, cross-talk dapat terjadi ketika pulsa sampling berada pada kanal yang berdekatan. Oleh karena itu PAM biasanya hanya digunakan pada tingkat awal suatu sistem pengiriman digital. Bagian sampling harus diubah termasuk bagian penahan untuk menjaga supaya sinyal tetap selama proses konversi analog menjadi digital.

III. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN 1. Modulator PAM 2. Demodulator PAM 3. Power Supply 15 V / 2A 4. Generator Fungsi 5. Osiloskop dual trace 6. Probe Test 10:1 / 1:1 7. Probe adapter 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 2 buah 2 buah

IV. GAMBAR RANGKAIAN

V. LEMBAR KERJA 1. 2. Rangkai rangkaian seperti pada gambar 4. Generator fungsi diatur pada keluaran sinusoida, 200 Hz 2 Vpp. Atur time base osiloskop pada 0,5 msec / cm dan sensitivitas untuk sinyal

masukan modulator PAM 0,5 V/cm dan untuk keluaran sinyal 1 V/ cm. Trigger osiloskop dari sinyal masukan. Atur clock generator dari PAM pada 2 kHz. 3. 4. 5. 6. Gambar hasil dari osiloskop. Beri komentar gambar yang dihasilkan Rangakai rangkaian seperti pada gambar 5. Aturlah osiloskoppada kondisi berikut : time base osiloskop pada 0,5msec / cm, display clock 0,5 V/ cm, display sinyal keluaran 2 V/ cm. Modulator PAM dengan frekuensi clock : 8 KHz, dan lebar pulsa 50 s. 7. 8. Gambar hasil dari osiloskop. Beri komentar gambar yang dihasilkan.

VI. DATA HASIL PERCOBAAN

1. Percobaan PAM Modulator

Rangkaian PAM Modulator

T/div V/div in V/div out

= 0,5 ms/div = 0,5 v/div = 1 v/div Vpp = 4 x 0,5 = 2 Vpp Vpp = 4 x 1 = 4 Vpp

a. Rangkaian I

T/div V/div in V/div out

= 2 ms/div = 0,5 v/div = 2 v/div Vpp = 4 x 0,5 = 2 Vpp Vpp = 3 x 2 = 6 Vpp

b. Rangkaian II

T/div V/div in V/div out

= 1 ms/div = 0,5 v/div = 1 v/div Vpp = 4 x 0,5 = 2 Vpp Vpp = 4 x 1 = 4 Vpp

c. Rangkaian III

T/div V/div in V/div out

= 1 ms/div = 0,5 v/div = 2 v/div Vpp = 4 x 0,5 = 2 Vpp Vpp = 4 x 2 = 8 Vpp

d. Rangkaian IV

T/div V/div in V/div out

= 0.5 ms/div = 1 v/div = 2 v/div Vpp = 1 x 2 = 2 Vpp Vpp = 2 x 4 = 8 Vpp

e. Rangkaian V

T/div V/div in V/div out

= 0.5 ms/div = 2 v/div = 2 v/div Vpp = 2 x 1 = 2 Vpp Vpp = 2 x 2 = 4 Vpp

2. Percobaan PAM Demodulator

Rangkaian PAM Demodulator a. Rangkaian I

T/div V/div in V/div out

= 0.5 ms/div = 1 v/div = 2 v/div Vpp = 2 x 1 = 2 Vpp Vpp = 2 x 2 = 4 Vpp

b. Rangkaian II

T/div V/div in V/div out

= 0.5 ms/div = 1 v/div = 2 v/div Vpp = 2 x 1 = 2 Vpp Vpp = 3 x 2 = 6 Vpp

Sinyal yang didapat merupakan sinyal balikan input (dan berbentuk sinyal sinus). Hal ini terjadi dengan memutar clock generator Fp dan Tho.

VII. ANALISA PERCOBAAN

Dalam percobaan Modulator PAM pada rangkaian I yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa hasil dari pengukuran output rangkaian mengalami penguatan. Sedangkan pada percobaan II,gambar sinyal mengalami perubahan amplitude dan fase. Pada setiap percobaan, gambar yang dihasilkan baik berbentuk digital ataupun sinusoida mengalami perbedaan pada amplitude dan fasenya,hal itu disebabkan karena adanya perubahan frekuensi yang digunakan dalam praktikum . Sinyal keluaran dari hasil sampling pada percobaan III,dilewatkan menggunakan Low Pass Filter (LPF) agar sinyal yang dapat dilewatkan hanya sinyal informasi saja,sehingga sinyal keluaran yang dihasilkan dapat kembali kebentuk awal.

VIII. KESIMPULAN Setiap output pada masing-masing rangkaian,baik rangkaian Modulator PAM maupun Demodulator PAM akan mengalami penguatan. Perubahan amplitude dan fase yang dihasilkan tiap rangkaian, dipengaruhi oleh frekuensi. Sinyal PAM merupakan sinyal hasil modulasi antara sinyal informasi dengan sinyal pembawa carrier yang berbentuk sinyal diskrit dengan frekuensi min 2x frekuensi tertinggi sinyal input (sinyal informasi ). Sinyal yang dihasilkan pada output rangkaian modulator PAM ini adalah sinyal sampling, dimana banyaknya sampling akan berubah apabila kita mengatur fp pada bagian modulatornya. Percobaan ini menggunakan LPF ( Low Pass Filter ),yang berfungsi untuk melewatkan sinyal informasi.