Anda di halaman 1dari 37

Hukum Tentang Asuransi

1. Sejarah Asuransi 1.1. Sejarah Lahirnya Asuransi Sejarah asuransi merupakan sejarah panjang ikhtiar umat manusia untuk mengurangi risiko yang lahir dari ketidakpastian dengan membagi atau mengalihkan risiko yang mengancam mereka, pada satu pihak kepada pihak lain. Di sisi lain, asuransi juga sejarah ikhtiar manusia dalam mengambil keuntungan melalui pengumpulan dana dari masyarakat dengan memberikan janji untuk memberikan manfaat kepada pihak yang hendak menghindarkan diri dari ancaman risiko yang timbul dari ketidakpastian. Dari berbagai sumber, diketahui bahwa sejarah awal asuransi sebelum memasuki abad pertengahan dapat dibagi dalam beberapa periode, yaitu masa Babylonia, Yunani, dan Romawi. Sejarah asuransi yang tertua dapat ditelusuri sampai sekitar 4,000 tahun silam dalam bentuk upaya para pemilik kapal atau para pedagang bangsa Babylonia yang hidup di antara sungai Euphrat dan Tigris yang sekarang termasuk dalam wilayah Irak untuk melindungi usaha mereka terhadap ketidakpastian. Pada zaman itu, mereka dapat meminjam uang dari pedagang lain yang bertindak sebagai kreditor dengan menggunakan kapalnya atau barag dagangan sebagai jaminan. Pemilik kapal atau pedagang akan membayar utangnya setelah kapal selamat sampai di tujuan beserta tambahan sejumlah tambahan biaya kepada kreditor yang bertindak sebagai penanggung risiko. Peminjam dibebaskan dari utangnya apabila kapal atau barang dagangan tidak selamat sampai di tujuan.Tambahan biaya tersebut dapat dianggap sebagai premi.

Sumber lain menyebutkan bahwa penjaminan dilakukan atas risiko perdagangan dengan angkutan darat (caravan). Perjanjian yang menggunakan kapal sebagai jaminan pinjaman dan kreditor kehilangan uangnya bila kapal hilang dalam pelayaran tersebut dinamakan bottomry.Bentuk perjanjian tersebut memperoleh kekuatan hukum di bawah Kode Hammurabi (sekitar 2,100 sebelum masehi). Bangsa Phoenicia dan Yunani memberlakukan system yang sama bagi perdagangan laut mereka. Berdasarkan sejarah yang lain diketahui pula bahwa untuk mengurangi risiko kehilangan barang selama dalam pelayaran di sungai Hoang Ho di Cina, pada sekian abad sebelum masehi, para pedagang yang melayari sungai tersebut membagi muatan barang dagangan mereka masing-masing ke dalam beberapa jung. Apabila dalam setiap pelayaran terdapat jung yang memuat barang mereka mengalami musibah, tingkat kerugian setiap pedagang hanya akan sebatas jumlah barang dagangan yang terdapat di dalam jung yang mengalami musibah saja. Pada masa pemerintahan Alexander the Great di Yunani, sebagai upaya untuk mengumpulkan dana, pemerintah memberikian jaminan untuk menangkap setiap budak yang melarikan diri atau memberikan penggatian atas harga beli budak yang hilang dengan imbalan pembayaran sejumlah uang. Perjanjian pemberian manfaat tersebut pada dasarnya sama dengan perjanjian asuransi umum dan imbalan uang yang dibayar oleh peserta dapat disebut premi asuransi. Pada masa tersebut terdapat pula suatu bentuk penjaminan oleh pemerintah yang meminjam uang kepada umum dengan imbalan pemberian bunga setiap bulan sampai pemilik uang wafat dan menyediakan biaya penguburan bagi pemilik uang. Bentuk penjaminan ini merupakan bentuk asuransi jiwa yang poertamja walaupun sebagaimana halnya dengan penjaminan terhadap kehilangan budak, perjanjian ini timbul dari inisiatif pemerintah yang mengumpulkan dana.

Pada zaman Romawi dikenal perkumpulan yang bernama collegium cultorum et Dianae et Antinoi dan collegium lambaesis. Pada collegium cultorum et Dianae et Antinoi, dengan imbalan uang pangkal dan iuran bulanan dari peserta, perkumpulan memberikan pembayaran kepada ahli waris dan biaya penguburan apabila peserta meninggal dunia. Pada perkumpulan collegium lambaesis, dengan pembayaran uang pangkal dan iuran bulanan, perkumpulan akan memberikan manfaat berupa uang untuk membiayai pesta perayaan kenaikan pangkat dalam dinas ketentaraan dan pemindahan tempat tugas dalam ketentaraan serta biaya pemindahan ke tempat tugas yang baru di samping pembayaran kiepada ahli waris apabila terdapat anggota yang meninggal dunia. Pada sekitar tahun 900, para anggota gilde, yaitu perkumpulan orang-orang dengan pekerjaan sejenis di Inggris mempunyai kebiasaan mengumpulkan iuran yang dipergunakan untuk memberikan sejumlah uang kepada anggota-anggota apabila rumah mereka terbakar. Sebagaimana halnya hukum perbankan, hukum asuransi modern berasal dari praktik pedagang-pedagang di Genoa, Italia pada awal abad keempatbelas yang mengasuransikan kapal-kapal dan muatan mereka terhadap risiko perjalanan laut. Perjanjian asuransi atas kapal Santa Clara pada tahun 1347 di Genoa merupakan perjanjian asuransi autentik yang tertua dalam pengertian adanya pengalihan risiko kerugian yang mungkin timbul karena peristiwa yang tidak pasti dengan imbalan sejumlah premi. Pada masa tersebut, lahirlah pribadi-pribadi yang bertindak sebagai pihak yang bersedia menanggung sebagian risiko yang dihadapi oleh sesama pedagang dengan imbalan sejumlah bayaran. Praktik ini kemudian diadopsi sebagai dasar model asuransi yang berlaku sampai sekarang di Lloyds of London. Selama berabad-abad

Lloyds of London sepenuhnya terdiri dari berbagai sindikat yang merupakan pribadipribadi yang bertindak sebagai underwriter yang melakukan transaksi asuransi, mulai dari warung kopi Edward Lloyds di masa lalu sampai ke bangunan Lloyds of London dalam berbagai sindikat. Pemilik masing-masing sindikat memberikan jaminan hak milik pribadi dalam setiap penutupan asuransi. Praktik tersebut akhir-akhir ini telah mengalami pergeseran dengan semakin banyak sindikat pada Lloyds of London yang berbentuk badan hukum dengan tanggung jawab sebatas modal usaha mereka. Penutupan asuransi atau reasuransi oleh Lloyds of London hanya dilakukan melalui pialang asuransi yang terdaftar pada Lloyds of London. Perkembangan drastis atas kebutuhan terhadap asuransi kebakaran mengikuti perkembangan asuransi laut timbuk pada abad ketujuhbelas setelah peristiwa kebakaran besar yang melanda London yang dikenal sebagai The Great Fire of London pad tahun 1666. Peristiwa tersebut melahirkan bentuk asuransi yang dikenal sekarang yaitu bermula dari pendirian The Fire Office atau The Insurance Office pada tahun 1667oleh Nicholas Barbon di Inggris, perusahaan asuransi sebenarnya yang pertama.Perusahaan tersebut juga menjadi pelopor pendirian armada pemadam kebakaran yang pertama yang didirikan untuk melindungi rumah-rumah yang diasuransikan. Dari perkembangan di atas, tampak bahwa bermula dari perjanjian yang timbul dari peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah, landasan hukum perjanjian berkembang menjadi perjanjian yang dikembangkan sesama pedagang atas jaminan yang diberikan untuk kepentingan komersial.Kegiatan yang semula dilakukan sebagai pekerjaan sambilan akhirnya menjadi perjanjian yang dikeluarkan oleh pribadi-pribadi dan perusahaan-perusahaan yang sepenuhnya bertindak sebagai penanggung.

1.2

Sejarah Asuransi Indonesia Kegiatan asuransi masuk ke bumi nusantara mengikuti keberhasilan bangsa Belanda dalam usaha perkebunan dan perdagangan di negeri jajahannya.Pada awalnya, kegiatan asuransi terbatas untuk melindungi kepentingan Belanda, Inggris, dan bangsa Eropa lainnya yang melakukan perdagangan dan usaha perkebunan di Indonesia, terutama untuk asuransi pengangkutan dan kebakaran. Sejarah mencatat bahwa perusahaan asuransi yang pertama kali beroperasi adalah Semarang Sea yang berdiri tahun 1816.Perusahaan-perusahaan seangkatannya adalah Java Sea, Arjoeno, Veritas, dan Mercurius. Asuransi jiwa nasional pertama adalah Bumiputera 1912 yang didirikan pada tahun 1912 di Magelang atas prakarsa seorang guru yang bernama M. Ng. Dwidjosewojo sebagai perusahaan asuransi yang berbentuk badanb usaha bersama. Pendirian Bumiputera 1012 didorong oleh keprihatinan yang mendalam terhadap nasib para guru pribumi (bumiputera). Asuransi non jiwa yang pertama adalah NV Indische Lloyd yang kemudian berganti nama menjadi Lloyd Indonesia. Selama masa penjajahan Jepang, industry asuransi tidak berkembang.Setelah Perang Dunia kedua usai, perusahaan-perusahaan asuransi Belanda dan Inggris kembali beroperasi di Indonesia dengan mendirikian suatu badan yang bernama Bataviasche Verzekerings Unie (BVU) yang merupakan suatu usaha asuransi kolektif. Setelah kemerdekaan RI, pemerintah melakukan nasionalisasi atas sejumlah perusahaan asuransi termasuk NV Assurantie Maatshappij De Nederlandern dan Bloom Vander EE milik Belanda yang didirikan tahun 1845 yang diubah menjadi Umum International Underwriters (UIU) dan perusahaan asuransi Inggris yang diganti nama

menjadi Bendasraya. Pada tahun 1972 UIU dan Bendasraya digabung menjadi Asuransi Jasa Indonesia. Untuk sektor asuransi jiwa, pemerintah melakukan nasionalisasi atas perusahaan asuransi jiwa yang berdiri pada tahun 1859 dengan namaNederlandsche Indische Leverzekring en Lijvrente Maatschappij (NILLMIJ). Dalam upaya

meningkatkan retensi asuransi dalam negeri, pada tahun 1953 berdirilah suatu perusahaan reasuransi professional swasta, Maskapai Reasuransi Indonesia (Marein) yang di susul oleh pendirian PT Reasuransi Umum Indonesia (IndoRe) yang merupakan perusahaan reasuransi milik pemerintah. Pada awal pemerintahan Orde Baru pada tahun 1965, pemerintahan mengijinkan berdirinya kembali perusahaan-perusahaan asuransi asing yang meninggalkan Indonesia ketika dilancarkan aksi pembebasan Iran Barat (sekarang Papua) terhadap pemerintah Belanda serta konfrontasi terhadap Malaysia tetapi terbatas 12 perusahaan asing dalam bidang asuransi umum saja. Perusahaan asuransi jiwa asing tetap dilarang beroperasi di Indonesia. Selanjutnya, berdasarkan Pasal 8 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian, semua perusahaan perasuransian asing yang hendak beroperasi di Indonesia baik bagi yang sudah berjalan maupun bagi pendatang baru untuk melakukan usaha dalam bentuk usaha patungan dengan warga Negara atau badan hukum yang tunduk di bawah hukum Indonesia. Pencapaian penting lainnya dalam tonggak sejarah asuransi Indonesia sejak kemerdekaan RI antara lainadalah terlaksananya Kongres Asuransi Nasional Seluruh Indonesia (KANSI) pertama pada 25-30 November 1956 di Bogor. Tujuan dari kongres tersebut adalah untuk menyatukan pendapat dan bekerjasama memberikan sumbangan

yang bermanfaat bagi perekonomian nasional, mengatasi sisa-sisa sistem perekonomian kolonial, realisasi konkret dari pembatalan Perjanjian Meja Bundar (KMB) dan peningkatan kesadaran berasuransi. Kongres tersebut antara lain melahirkan kesepakatan pendirian Dewan Asuransi Indonesia (selanjutnya disebut DAI) pada 1 Februari 1957. Pada awal pendiriannya, maksud dan tujuan DAI adalah untuk mengadakan dan memelihara persatuan dan kerjasama diantara sesame perusahaan-perusahaan asuransi dan reasuransi dan memperkuat kedudukan dan organisasi serta mempertinggi mutu pekerjaan para anggota.Anggota DAI terbatas pada perusahaan-perusahaan nasional saja. Dinamika politik nasional membuat kegiatan DAI dibekukan dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 1963 yang mewajibkan semua perusahaan asuransi dan reasuransi tergabung di bawah Gabungan Perusahaan Sejenis Asuransi Kerugian (GPS Asuransi). Selanjutnya melalui SK Menteri Urusan Fund & Forces Nomor 2 Tahun 1965 dibentuklah Organisasi Perusahaan Sejenis Asuransi Indonesia (OPS Asuransi Indonesia) yang juga mewajibkan perusahaan asing untuk menjadi anggota luar biasa. OPS Asuransi Indonesia diwajibkan menjadi anggota Badan Musyawarah Nasional (Bamunas).Perubahan politik setelah pembubaran PKI membawa pengaruh pula terhadap kehidupan organisasi bidang usaha.Setelah pembubaran Bamunas berdasarkan keputusan MPR Nomor 26 Tahun 1967, para anggota OPS Asuransi memutuskan mengaktifkan kembali DAI pada 13 Juli 1967.Pada tahun 1971 Dai berubah menjadi organisasi tunggal bagi semua perusahaan asuransi dan reasuransi di Indonesia. Pada tahun 2002, DAI berubah menjadi Federasi Asosiasi Peransuransian Indonesia (FAPI) yang menaungi semua asosiasi usaha perasuransian di Indonesia menyusul pendirian Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) dan Asosiasi Asuransi

Jiwa Indonesia (AAJI) dan Asosiasi Asuransi Jaminan Sosial Indonesia (AAJSI), Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) dan bergabungnya Asosiasi Pialang Asuransi dan Reasuransi Indonesia (ABAI) serta Asosiasi Adjuster Asuransi Indonesia (AAAI) ke dalam FAPI. Di samping itu, ke-6 angguta tersebut, Asosiasi Ahli Mananjemen Asuransi Indonesia (ISEA) diterima sebagai anggota kehormatan. Pada Juli 2010, disebabkan adanya kendala dalam pengesahan Anggaran Dasar FAPI, nama FAPI diganti kembali menjadi Dewan Asuransi Indonesia (DAI).

1.3

Sejarah Hukum Asuransi di Indonesia Sistem hukum Indonesia berasal dari Hukum Perdata yang dibawa oleh pemerintah kerajaan Belanda ke Indonesia pada masa penjajahan.Hukum perdata tersebut dapat ditelusuri akarnya ke Hukum Perdata Perancis sampai ke Hukum

Romawi.Keberadaan hukum asuransi di Indonesia berakar dari Kodifikasi Hukum Perdata (code civil) dan Hukum Dagang (Code de Commerce) pada permulaan abad ke19semasa pemerintahan kaisar Napoleon di Perancis. Pada waktu itu, Hukum Dagang Belanda hanya memuat pasal-pasal mengenai asuransi laut sampai diundangkannya rancangan Kitab Undang-Udang Hukum Dagang (Wet Boek van Koophandel) tahun 1838yang memuat peraturan-peraturan mengenai asuransi kebakaran, asuransi hasil bumi dan asuransi jiwa. Sistem inilah yang juga dianut untuk Hindia Belanda dahulu yang sampai sekarang masi berlaku di Indonesia. Asuransi selaku gejala hukum di Indonesia, baik dalam pengertian maupun dalam bentuknya yang terlihat sekarang, berasal dari Hukum Barat. Adalah pemerintah Belanda

yang mengimpor asuransi sebagai bentuk hukum (rechtsfiguur) di Indonesia dengan cara mengundangkan Burgerwlijk Wetboek dan Wetboek van Koophandel, dengan satu pengumuman (publicatie) pada 30 April 1847, dan termuat dalam staatsblad 1847 Nomor 23. Kedua Kitab Undang-Undang tersebut mengatur asuransi sebagai sebuah perjanjian. Selanjutnya, seiring dengan dominasi Inggris sebagai asal muasal asuransi modern dan negara-negara tertentu yang menganut sistem Anglo Saxon dalam perkembangan industry asuransi secara internasional.Hal ini terutama dalam penyediaan kapasitas reasuransi dan sebagai sumber pengetahuan asuransi, perkembangan asuransi secara internasional, termasuk di Indonesia, sangat dipengaruhi oleh pengertian dan praktik hukum serta preseden yang berasal dari negara-negara Anglo Saxon tersebut. Di Indonesia, undang-undang yang mengatur asuransi sebagai sebuah bisnis untuk pertama kalinya pada tahun 1992 dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Sebelum lahirnya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 asuransi sebagai bisnis diatur melalui berbagai Peraturan Pemerintah (PP) dan Keputusan Presiden (Keppres) beserta peraturan di bawahnya. Untuk membedakan pengaturan asuransi sebagai sebuah bisnis dari pengaturan asuransi sebagai sebuah perjanjian, selanjutnya, dalam buku ini Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian akan disebut Undang-Undang Bisnis Asuransi. Undang-Undang Bisnis Asuransi mengatur asuransi sebagai sebuah bisnis dengan membuat aturan mengenai perizinan, pengelolaan, dan peranan pemerintah dalam pembinaan dan pengawasan usaha perasuransian, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 27 Undang-Undang Bisnis Asuransi, undang-undang ini menggantikan Ordonnantie op

het Levensverzekering bedrijf (Staatsblad Tahun 1941 Nomor 101) yang dinyatakan tidak berlaku lagi sejak disahkannya undang-undang tersebut. Pelaksanaan UndangUndang Bisnis Asuransi diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 (selanjutnya disebut PP Nomor 73 Tahun 1992). Sebagaimana dicantumkannya dalam Pasal 46 PP Nomor 73 Tahun 1992 tersebut, dengan ditetapkannya peraturan pemerintah ini, Keppres Nomor 40 Tahun 1988 tentang Usaha di Bidang Asuransi Kerugian dinyatakan tidak berlaku lagi. Pada Tahun 1999 Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 1999 (selanjutnya disebut PP Nomor 63 Tahun 1999) tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992.Perubahan kedua diberlakukan melalui PP Nomor 39 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992.Terakhir, pemerintah mengeluarkan PP Nomor 81 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992.Masing-masing Peraturan Pemerintah tersebut di atas diikuti berbagai KepMen Keuangan (selanjutnya disebut Kepmen) dan PerMen Keuangan (dan selanjutnya disebut Permen) dan berbagai keputusan di bawahnya yang semuanya menjadi peraturan pelaksanaan pengelolaan, pembinaan dan pengawasan bisnis asuransi Indonesia.

2. Pengertian Asuransi Definisi-definisi tersebut antara lain: Definisi asuransi menurut Pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) Republik Indonesia :

Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian, dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri pada tertanggung dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu. Berdasarkan definisi tersebut, maka dalam asuransi terkandung 4 unsur, yaitu : y Pihak tertanggung (insured) yang berjanji untuk membayar uang premi kepada pihakpenanggung, sekaligus atau secara berangsur-angsur. y Pihak penanggung (insure) yang berjanji akan membayar sejumlah uang (santunan) kepada pihak tertanggung, sekaligus atau secara berangsur-angsur apabila terjadi sesuatu yang mengandung unsur tak tertentu. y y Suatu peristiwa (accident) yang tak tertentu (tidak diketahui sebelumnya). Kepentingan (interest) yang mungkin akan mengalami kerugian karena peristiwa yang tak tertentu. Definisi asuransi menurut Prof. Mehr dan Cammack : Asuransi merupakan suatu alat untuk mengurangi resiko keuangan, dengan cara pengumpulan unit-unit dalam jumlah yang memadai, untuk membuat agar kerugian individu dapat diperkirakan. Kemudian kerugian yang dapat diramalkan itu dipikul merata oleh mereka yang tergabung. Definisi asuransi menurut Prof. Mark R. Green : Asuransi adalah suatu lembaga ekonomi yang bertujuan mengurangi risiko, dengan jalan mengkombinasikan dalam suatu pengelolaan sejumlah obyek yang cukup besar

jumlahnya, sehingga kerugian tersebut secara menyeluruh dapat diramalkan dalam batasbatas tertentu. Definisi asuransi menurut C.Arthur William Jr dan Richard M. Heins, yang mendefinisikan asuransi berdasarkan dua sudut pandang, yaitu : y Asuransi adalah suatu pengaman terhadap kerugian finansial yang dilakukan oleh seorang penanggung. y Asuransi adalah suatu persetujuan dengan dua atau lebih orang atau badan mengumpulkan dana untuk menanggulangi kerugian finansial. Berdasarkan definisi-definisi tersebut di atas kiranya mengenai definisi asuransi yang dapat mencakup semua sudut pandang : Asuransi adalah suatu alat untuk mengurangi risiko yang melekat pada perekonomian, dengan cara manggabungkan sejumlah unit-unit yang terkena risiko yang sama atau hampir sama, dalam jumlah yang cukup besar, agar probabilitas kerugiannya dapat diramalkan dan bila kerugian yang diramalkan terjadi akan dibagi secara proposional oleh semua pihak dalam gabungan itu.

Definisi Lain Asuransi Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, pihak penanggung mengambil alih suatu risiko dari pihak tertanggung. Pengalihan risiko tersebut meliputi kemungkinan kerugian material dialami tertanggung akibat suatu peristiwa yang mungkin atau belum pasti akan terjadi. Perjanjian asuransi adalah sebuah kontrak legal yang menjelaskan setiap istilah dan kondisi yang dilindungi, premi yang harus dibayar oleh tertanggung kepada

penanggung sebagai jasa pengalihan risiko tersebut, serta besarnya dana yang bisa diklaim di masa depan, termasuk biaya administratif dan keuntungan. Objek pertanggungan dalam perjanjian asuransi bisa berupa benda dan jasa, jiwa dan raga, kesehatan, tanggung jawab hukum, serta berbagai kepentingan lain yang mungkin hilang, rusak, atau berkurang nilainya. Dengan kata lain, unsur-unsur dalam sebuah perjanjian asuransi meliputi hal-hal berikut: Subjek hukum, yaitu pihak penanggung dan tertanggung. Substansi hukum berupa mengalihan risiko. Objek pertanggungan, berupa benda atau kepentingan yang melekat padanya yang bisa dinilai dengan uang. y Adanya peristiwa tidak tentu yang mungkin terjadi.

y y y

Sebuah perjanjian asuransi dikatakan sah apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Adanya kesepakatan antara pihak-pihak yang saling mengikatkan diri. Adanya kecakapan untuk membuat suatu perjanjian. Adanya hal tertentu yang menjadi sebab yang halal.

y y y

3. Fungsi Asuransi y Transfer Resiko Dengan membayar premi yang relatif kecil, seseorang atau perusahaan dapat memindahkan ketidakpastian atas hidup dan harta bendanya (resiko) ke perusahaan asuransi.yaitu mengalihkan resiko dari satu pihak (tertanggung) kepada pihak lain (penanggung). Pengalihan resiko ini tidak berarti menghilangkan kemungkinan misfortune, melainkan pihak penanggung menyediakan pengamanan finansial (financial security) serta ketenangan (peace of mind) bagi tertanggung.Sebagai imbalannya, tertanggung membayarkan premi dalam jumlah yang sangat kecil bila dibandingkan dengan potensi kerugian yang mungkin dideritanya.

Kumpulan Dana Bahwa dana yang dibayarkan oleh orang-orang atau perusahaan-perusahaan yang

menginginkan asuransi (premi) kemudian dikumpulkan oleh perusahaan asuransi sebagai dana untuk membayar resiko yang mungkin terjadi kepada mereka yang mengalami musibah, dimana dana tersebut dikelola sedemikian rupa sehingga dana tersebut dapat berkembang.

4. Manfaat Asuransi

Setiap asuransi pasti memberikan suatu manfaat, yang secara umum manfaatnya adalah: 1. Memberikan jaminan perlindungan dari risiko-risiko kerugian yang diderita satu pihak. 2. Meningkatkan efisiensi, karena tidak perlu secara khusus mengadakan pengamanan dan pengawasan untuk memberikan perlindungan yang memakan banyak tenaga, waktu dan biaya. 3. Transfer Resiko, dengan membayar premi yang relatif kecil, seseorang atau perusahaan dapat memindahkan ketidakpastian atas hidup dan harta bendanya (resiko) ke perusahaan asuransi 4. Pemerataan biaya, yaitu cukup hanya dengan mengeluarkan biaya yang jumlahnya tertentu dan tidak perlu mengganti/membayar sendiri kerugian yang timbul yang jumlahnya tidak tentu dan tidak pasti. 5. Dasar bagi pihak bank untuk memberikan kredit karena bank memerlukan jaminan perlindungan atas agunan yang diberikan oleh peminjam uang. 6. Sebagai tabungan, karena jumlah yang dibayar kepada pihak asuransi akan dikembalikan dalam jumlah yang lebih besar. Hal ini khusus berlaku untuk asuransi jiwa. 7. Menutup Loss of Earning Power seseorang atau badan usaha.

5.

Landasan Hukum Secara yuridis, hukum asuransi di Indonesia tertuang dalam beberapa produk hukum seperti Undang-undang, Peraturan Pemerintah, dan Keputusan Menteri Keuangan, di antaranya sebagai berikut : 1. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian. 4. KMK No.426/KMK/2003 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. 5. KMK No.425/KMK/2003 tentang Perizinan dan Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Penunjang Usaha Asuransi. 6. KMK No.423/KMK/2003 tentang Pemeriksaan Perusahaan Perasuransian.

6. Jenis-Jenis Usaha Perasuransian y Asuransi Kerugian Asuransi kerugian adalah asuransi yang memberikan ganti rugi kepada tertanggung yang menderita kerugian barang atau benda miliknya, kerugian mana terjadi karena bencana atau bahaya terhadap mana pertanggungan ini diadakan, baik itu kerugian berupa:

1. Kehilangan nilai pakai. 2. Kekurangan nilainya. 3. Kehilangan keuntungan yang diharapkan oleh tertanggung. Penanggung tidak harus membayar ganti rugi kepada tertanggung kalau selama jangka waktu perjanjian obyek pertanggungan tidak mengalami bencana atau bahaya yang dipertanggungkan.Asuransi ini terdiri dari asuransi untuk harta benda (property), kepentingan keuangan (pecuniary), tanggung jawab hukum (liability) dan asuransi diri (kecelakaan atau kesehatan).

Asuransi Jiwa Asuransi jiwa adalah perjanjian tentang pembayaran uang dengan nikmat dari

premi dan yang berhubungan dengan hidup atau matinya seseorang termasuk juga perjanjian asuransi kembali uang dengan pengertian catatan dengan perjanjian dimaksud tidak termasuk perjanjian asuransi kecelakaan (yang termasuk dalam asuransi kerugian) berdasarkan pasal I a Bab I Staatblad 1941-101. Dalam asuransi jiwa (yang mengandung SAVING) penanggung akan tetap mengembalikan jumlah uang yang diperjanjikan kepada tertanggung 1. Kalau tertanggung meninggal dalam masa berlaku perjanjian. 2. Pada saat berakhirnya jangka waktu perjanjian keperluannya suka rela.

Asuransi Sosial Asuransi social adalah program asuransi wajib yang diselenggarakan pemerintah

berdasarkan undang-undang.Maksud dan tujuan asuransi sosial adalah menyediakan jaminan dasar bagi masyarakat dan tidak bertujuan untuk mendapatkan keuntungan komersial.Contohnya yaitu asuransi kecelakaan lalu lintas (Jasa Raharja) dan Asuransi TASPEN, ASTEK, ASKES, ASABRI.Sifat dari asuransi social yaitu dapat bersifat asuransi kerugian dan asuransi jiwa.

7. Prinsip Dasar Asuransi Dalam dunia asuransi ada 6 macam prinsip dasar yang harus dipenuhi, yaitu: Insurable Interest Prinsip kepentingan yang bias diasuransikan atau dipertanggungkan ini terkandung dalam ketentuan Pasal 250 KUH Dagang yang pada intinya menetukan bahwa agar suatu perjanjian asuransi dapat dilaksanakan, maka objek yang diasuransikan haruslah merupakan suatu kepentingan yang dapat diasuransikan (Insurable Interest), yakni kepentingan yang dapat dinilai dengan uang. Dengan perkataan lain, menurut asas ini seseorang boleh mengasuransikan barang-barang apabila yang bersangkutan mempunyai kepentingan atas barang yang dipertanggungkan. Atau juga dapat diartikan sebagai hak untuk mengasuransikan, yang timbul dari suatu hubungan keuangan, antara tertanggung dengan yang diasuransikan dan diakui secara hukum.

Utmost Good Faith Suatu tindakan untuk mengungkapkan secara akurat dan lengkap, semua fakta

yang material (material fact) mengenai sesuatu yang akan diasuransikan baik diminta maupun tidak. Artinya adalah si penanggung harus dengan jujur menerangkan dengan jelas segala sesuatu tentang luasnya syarat/kondisi dari asuransi dan si tertanggung juga harus memberikan keterangan yang jelas dan benar atas obyek atau kepentingan yang dipertanggungkan.Prinsip keterbukaan (utmost good faith) ini terkandung dalam ketentuan Pasal 25 KUH Dagang yang pada intinya menyatakan bahwa penutupan asuransi baru sah apabila penutupannya didasari iktikad baik.

Proximate Cause Suatu penyebab aktif, efisien yang menimbulkan rantaian kejadian yang

menimbulkan suatu akibat tanpa adanya intervensi suatu yang mulai dan secara aktif dari sumber yang baru dan independen.

Indemnity Prinsip indemnity terkandung dalam ketentuan Pasal 252 dan Pasal 253 KUH

Dagang.Menurut prinsip indemnity bahwa yang menjadi dasar penggantian kerugian dari penanggung kepada tertanggung adaloah sebesar kerugian yang sesungguhnya diderita oleh tertanggung dalam arti tidak dibenarkan mencari keuntungan dari ganti rugi asuransi atau pertanggungan. Dengan perkataan lain, inti dari prinsip indemnityadalah seimbang,

yakni seimbang antara kerugian yang betul-betul diderita oleh tertanggung dengan jumlah ganti kerugiannya.

Subrogation Prinsip subrogasi ini terkandung dalam ketentuan Pasal 284 KUH Dagang yang

pada intinya menentukan bahwa apabila tertanggung sudah mendapatkan penggantian atas dasar prinsip indemnity, maka si tertanggung tak berhak lagi memperoleh penggantian dari pihak lain, walaupun jelas ada pihak lain yang bertanggung jawab pula atas kerugian yang dideritanya. Penggantian dari pihak lain harus diserahkan pada penanggung yang telah memberikann ganti rugi dimaksud.

Contribution Tertanggung dapat saja mengasuransikan harta benda yang sama pada beberapa

perusahaan asuransi. Namun, apabila terjadi kerugian atas objek yang diasuransikan maka secara otomatis berlaku prinsip kontribusi.Prinsip kontribusi berarti bahwa apabila penanggung telah membayar penuh ganti rugi yang menjadi hak tertanggung maka penanggung berhak menuntut perusahaan-perusahaan lain yang terlibat dalam suatu pertanggungan (secara bersama-sama menutup asuransi harta benda milik tertanggung) untuk membayar bagian kerugian masing-masing yang besarnya sebanding dengan jumlah pertanggungan yang ditutupnya.

8. Risiko dalam Asuransi Atau Pertanggungan Secara umum arti risiko dalam pengertian hukum adalah beban kerugian yang diakibatkan karena suatu peristiwa di luar kesalahannya. Dalam pengertian lain, bias juga dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan risiko adalah suatu ketidaktentuan yang berarti kemungkinan terjadinya suatu kerugian di masa yang akan datang. Jadi, dalam pengertian ini asuransi atau pertanggungan menjadikan suatu ketidakpastian menjadi suatu kepastian, yaitu dalam hal terjadinya suatu kerugian, maka akan memperoleh ganti rugi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan risiko dalam hukum asuransi atau pertanggungan adalah suatu peristiwa yang terjadi di luar kehendak pihak tertanggung yang menimbulkan kerugian bagi tertanggung, risiko mana merupakan objek jaminan asuransi atau pertanggungan. Mengenai risiko dalam asuransi beraneka ragam, antara lain adalah: y Risiko Murni Risiko murni adalah suatu peristiwa yang masih tidak pasti bahwa suatu kerugian akan timbul, dimana jika kejadian tersebut terjadi, maka timbullah kerugian itu, sedangkan jika kerugian itu tidak terjadi, maka keadaan sama sekali seperti sediakala. Melihat kepada objek yang terkena risiko, maka risiko murni tersebut terdiri dari tiga jenis, yaitu: 1. Risiko Perorangan. 2. Risiko Harta Benda. 3. Risiko Tanggung Jawab.

Risiko Spekulasi Risiko spekulasi merupakan kejadian yang akan terjadi yang menimbulkan dua kemungkinan, dimana kemungkinan pertama adalah akan memperoleh keuntungan, sedangkan kemungkinan kedua adalah dia akan menderita kerugian.

Risiko Khusus Risiko khusus adalah risiko yang terbit dari tindakan individu dengan dampak hanya terhadap seseorang tertentu saja.

Berkaitan dengan risiko-risiko tersebut, maka dalam penanganannya dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: Menghindari risiko. Mengurangi risiko. Mempertahankan risiko. Membagi risiko. Mengalihkan risiko.

y y y y y

9. Hal-Hal Yang Menyebabkan Perjanjian Asuransi Berakhir a. Karena Terjadi Evenemen (peristiwa tidak pasti) Dalam asuransi jiwa, satu-satunya evenemen yang menjadi beban penanggung adalah meninggalnya tertanggung. Terhadap evenemen inilah diadakan asuransi jiwa antara tertanggung dan penanggung. Apabila dalam jangka waktu yang diperjanjikan terjadi peristiwa meninggalnya tertanggung, maka penanggung berkewajiban membayar

uang santunan kepada penikmat yang ditunjuk oleh tertanggung atau kepada ahli warisnya. Sejak penanggung melunasi pembayaran uang santunan tersebut, sejak itu pula asuransi jiwa berakhir. Apa sebabnya asuransi jiwa berakhir sejak pelunasan uang santunan, bukan sejak meninggalnya tertanggung (terjadi evenemen). Menurut hukum perjanjian, suatu perjanjian yang dibuat oleh pihak-pihak berakhir apabila prestasi masing-masing pihak telah dipenuhi. Karena asuransi jiwa adalah perjanjian, maka asuransi jiwa berakhir sejak penanggung melunasi uang santunan sebagai akibat dan meninggalnya tertanggung. Dengan kata lain, asuransi jiwa berakhir sejak terjadi evenemen yang diikuti dengan pelunasan klaim.

b. Karena Jangka Waktu Berakhir Dalam asuransi jiwa tidak selalu evenemen yang menjadi beban penanggung itu terjadi bahkan sampai berakhirnya jangka waktu asuransi. Apabila jangka waktu berlaku asuransi jiwa itu habis tanpa terjadi evenemen, maka beban risiko penanggung berakhir. Akan tetapi, dalam perjanjian ditentukan bahwa penanggung akan mengembalikan sejumlah uang kepada tertanggung apabila sampai jangka waktu asuransi habis tidak terjadi evenemen. Dengan kata lain, asuransi jiwa berakhir sejak jangka waktu berlaku asuransi habis diikuti dengan pengembalan sejumlah uang kepada tertanggung.

c. Karena Asuransi Gugur Dalam ketentuan Pasal 306 KUHD: Apabila orang yang diasuransikan jiwanya pada saat diadakan asuransi ternyata sudah meninggal, maka asuransinya gugur, meskipun tertanggung tidak mengetahui kematian tersebut, kecuali jika diperjanjikan

lain, kata-kata bagian akhir pasal ini kecuali jika diperjanjiknn lain memberi peluang kepada pihak-pihak untuk memperjanjikan menyimpang dari ketentuan pasal ini, misalnya asuransi yang diadakan untuk tetap dinyatakan sah asalkan tertanggung betulbetul tidak mengetahui telah meninggalnya itu. Apabila asuransi jiwa itu gugur, bagaimana dengan premi yang sudah dibayar karena penanggung tidak menjalani risiko? Hal ini pun diserahkan kepada pihak-pihak untuk memperjanjikannya. Pasal 306 KUHD ini mengatur asuransi jiwa untuk kepentingan pihak ketiga. Dalam ketentuan Pasal 307 KUHD juga ditentukan: Apabila orang yang mengasuransikan jiwanya bunuh diri, atau dijatuhi hukuman mati, maka asuransi jiwa itu gugur.

d. Karena Asuransi Dibatalkan Asuransi jiwa dapat berakhir karena pembatalan sebelum jangka waktu berakhir. Pembatalan tersebut dapat terjadi karena tertanggung tidak melanjutkan pembayaran premi sesuai dengan perjanjian atau karena permohonan tertanggung sendiri. Pembatalan asuransi jiwa dapat terjadi sebelum premi mulai dibayar ataupun sesudah premi dibayar menurut jangka waktunya. Apabila pembatalan sebelum premi dibayar, tidak ada masalah. Akan tetapi, apabila pembatalan setelah premi dibayar sekali atau beberapa kali pembayaran (secara bulanan), karena asuransi jiwa didasarkan pada perjanjian, maka penyelesaiannya bergantung juga pada kesepakatan pihak-pihak yang dicantumkan dalam polis.

10.

Reasuransi y Pengertian Reasuransi Beberapa definisi dari Reasuransi antara lain adalah Asuransi kembali oleh penanggung baik seluruh atau sebagian risiko yang telah ditanggungnya kepada penanggung lain atau Proses dimana satu penanggung mengatur dengan satu atau beberapa penanggung lainnya membagi risiko dalam reasuransi.Perusahaan yang mereasuransikan risikonya disebut Ceding Company.Perusahaan Asuransi yang menerima pertanggungan ulang dari Ceding Company disebut Reasuradur.Perjanjian Reasuransi antara Ceding Company dan Reasuradur, yang harus dibuat secara tertulis merupakan perjanjian terpisah dan berdiri sendiri dengan perjanjian antara tertanggung dan penanggung.

Prinsip-Prinsip dalam Reasuransi Prinsip-prinsip dalam reasuransi mencakup sebagai berikut: 1. Perjanjian reasuransi antara Ceding Company dan reasuradur yang harus dibuat secara tertulis merupakan perjanjian terpisah dan berdiri sendiri dengan perjanjian antara tertanggung dengan penanggung. 2. Tertanggung tidak mempunyai hak apapun terhadap reasuradur. 3. Apabila reasuradur mengaloami pailit ataupun tidak mau membayar suatu klaim yang valid, Ceding Company (penanggung) tetap harus bertanggung ja wab kepada tertanggung sesuai dengan polis yang dikeluarkannya.

4. Apabila Ceding Company pailit, reasuradur tetap bertanggung jawab kepada Ceding Company sesuai dengan perjanjian reasuransi yang telah dibuatnya. 5. Reasuradur tidak mempunyai hak terhadap segala kesalahan yang dilakukan oleh tertanggung.

FungsiReasuransi Fungsi reasuransi yaitu: 1. Menaikkan kapasitas akseptasi perusahaan asuransi. 2. Mendukung stabilitas keuangan perusahaan asuransi. Dalam prakteknya, apabila reasuradur yang bersangkutan menampung risiko yang banyak, perusahaan tersebut dapat melemparkan kembali sebagian risiko dimaksud dengan perusahaan reasuransi lain baik didalam ataupun diluar negeri. Lebih lanjut peraturan pemerintah mengharuskan perusahaan asuransi di Indonesia tidak boleh menahan risiko (retensi sendiri own retention) melebihi 10 % x modal sendiri.Cara ini yang disebut sebagai retrosesi.

Bentuk-Bentuk Reasuransi Bentuk-bentuk reasuransi ada dua macam, yaitu: 1. Fakultatif Bentuk penempatan reasuransi dimana Ceding Company bebas

mereasuransikan pertanggungan yang ditutupnya dan perusahaan reasuransi bebas pula untuk menerima atau menolak obyek reasuransi tersebut. 2. Treaty Penempatan reasuransi yang dilakukan melalui suatu perjanjian antara Ceding Company dan reasuradur berdasarkan syarat dan kondisi yang telah disetujui bersama sebelumnya, dalam hal ini Ceding Company wajib mereasuransi dan reasuradur wajib menerima seluruh risiko yang termasuk dalam perjanjian tersebut.Bentuk reasuransi ini selanjutnya dibagi lagi menjadi proportional treaty dan nonproportional treaty.

11. Polis dan Premi Berdasarkan definisi autentik tentang asuransi menurut Undang-Undang

Perasuransian dan KUH Dagang, dapat ditegaskan bahwa perjanjian asuransi adalah suatu perjanjian konsensuil.Artinya adalah perjanjian dianggap telah lahir pada saat tercapainya kata sepakat. Namun demikian, Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian memerintahkan dibuatnya suatu akta di bawah tangan yang dinamakan polis dengan maksud memudahkan pembuktian apabila terjadi perselisihan.

Premi asuransi atau biaya berasuransi merupakan prasyarat adanya perjanjian asuransi karena tanpa adanya premi tidak aka nada asuransi.Namun, apabila telah terjadi kesepakatan untuk mengadakan pertanggungan, yaitu dengan adanya polis dan tertanggung belum membayar premi kemudian terjadi peristiwa yang tidak tentu maka penanggung harus membayar santunan kepada tertanggung.Pada umumnya, premi asuransi dibayar di muka, namun dalam beberapa perjanjian asuransi diberikan tenggang waktu pembayaran. Polis dalam asuransi adalah bukti tertulis atau surat perjanjian antara pihak-pihak yang mengadakan perjanjian, yaitu tertanggung ataupun penanggung. Fungsi polis bagi tertanggung, antara lain sebagai berikut: Bukti tertulis atas jaminan penanggung untuk mengganti kerugian yang mungkin dideritanya yang ditanggung oleh penanggung. y y Bukti pembayaran premi kepada penanggung. Bukti autentik untuk menuntut penanggung apabila lalai atau tidak memenuhi jaminannya. Sedangkan fungsi polis bagi penanggung, antara lain sebagai berikut: Bukti atau tanda terima premi asuransi dari tertanggung. Bukti tertulis atau jaminan yang diberikannya kepada tertanggung untuk membayar ganti rugi yang mungkin diderita oleh tertanggung. y Bukti autentik untuk menoloak tuntutan ganti rugi atau klaim apabila penyebab kerugian tidak memenuhi syarat polis yang telah disepakati.

y y

KASUS ASURANSI Asuransi Michael Jackson Terancam Tak Cair

Kapanlagi.com Kematian Michael Jackson yang terjadi pada tanggal 25 Juli 2010 meninggalkas sebuah berita yang menyebutkan bahwa asuransi jiwa Michael Jackson yang bernilai sekitar US$20 juta terancam tak bisa cair karena pihak asuransi menduga ada ketidakberesan dalam kematian Michael. Bila kematian ini terbukti karena pembunuhan atau bunuh diri, maka ketiga anak Michael yang disebut sebagai pewaris bakal tak menerima uang santunan.

Saat ini penyebab kematian Michael memang masih jadi tanda tanya besar. Sebagian menyebut kematian ini akibat penyalahgunaan obat yang telah dilakukan Michael selama bertahun-tahun sementara tak sedikit pula yang menyebut bahwa Michael meninggal karena dibunuh. Pihak kepolisian sendiri belum mau melepas pernyataan sebelum hasil otopsi tuntas sepenuhnya dilaksanakan.

Menurut Contact Music, saat ini pihak asuransi memang sedang menyelidiki kasus kematian Michael ini dengan asumsi ada kemungkinan kematian Michael ini bukan sesuatu yang wajar. Dalam perjanjian asuransi tersebut, kematian akibat bunuh diri memang bukan termasuk yang akan ditanggung oleh pihak asuransi dan bila laporan kepolisian nanti mengindikasikan adanya kemungkinan itu maka bisa jadi asuransi Michael tak akan cair. (cnm/roc)

Fakta-fakta terkait kasus kematian Michael Jackson:

Adanya keraguan dari pihak asuransi mengenai penyebab kematian Michael Jackson bukan sesuatu yang wajar.

Adanya dugaan bahwa dari hasil otopsi yang telah dilakukan ternyata Michael Jackson meninggal akibat adanya kecenderungan malapraktik dan overdosis.

Adanya Pemalsuan data-data kesehatan dari pihak Michael Jackson.

Kasus asuransi kematian yang meragukan Pada kasus asuransi kematian, calon peserta diminta untuk memasukkan data kesehatannya, dengan atau tanpa pemeriksaan kesehatan sebelumnya, yang akan dijadikan data awal kesehatan peserta. Polis suatu asuransi jiwa umumnya memberlakukan ketentuan tertentu sebagai persyaratan, pembatasan dan pengecualian pertanggungan. Ketidakjujuran dalam mengisi data awal, cara kematian tertentu yang merupakan pengecualian (pada kasus asuransi jiwa), cara kematian yang bukan persyaratan (pada kasus asuransi kecelakaan), pemalsuan sebab kematian atau pemalsuan ahli waris, dan pemalsuan identitas tertanggung, adalah sebagian alasan yang dapat mengakibatkan tidak dapat diklaimnya pertanggungan akan suatu kasus asuransi tertentu. Peserta asuransi kematian yang memiliki data kesehatan normal atau memiliki jumlah pertanggungan yang besar dan kemudian mendadak meninggal dunia tidak lama setelah penutupan asuransi biasanya merupakan kasus asuransi yang layak diteliti (suspicious death or contestable death claim). Kecurigaan adanya fraud (penipuan) atau abuse (penyalah gunaan) semakin menguat apabila sebab kematiannya ternyata adalah penyakit fatal yang telah menahun / kronik, atau sebab kematiannya menjurus ke arah kesengajaan.

Dalam penyelesaian klaim terhadap kasus asuransi kematian terdapat 3 hal penting yang harus diperhatikan, yaitu : 1. 2. 3. adanya penutupan polis asuransi kematian bagi tertanggung, meninggalnya si tertanggung, dan bukti bahwa benar tertanggung telah meninggal.

Pemeriksaan autopsi forensik harus dilakukan untuk memperoleh sebab kematian yang pasti akan kasus asuransi tersebut, yang kemudian dapat membawa ke kesimpulan tentang cara kematiannya apakah terdapat unsur kesengajaan. Fakta-fakta Asuransi tidak dibayar secara umum: 1. Ketidakjujuran Nasabah

Bila saat awal pengisian data mengenai nasabah tidak jujur, ini akan penyebab kasus asuransi terjadi menjadi alasan untuk tidak memberikan uang asuransi kepada si nasabah. 2. Adanya pengecualian oleh PA (perusahaan Asuransi)

Kadang-kadang PA Jiwa tidak memberikan manfaat yang mereka janjikan bila ternyata penyebab kematian Anda memang dikecualikan (dan pengecualian itu ditulis dalam polis). Mengenai pengecualian ini, umumnya PA menetapkan jumlah pengecualian yang bervariasi. Akan tetapi, umumnya adalah: a) b) c) Kematian karena bunuh diri Kematian karena orang yang bersangkutan melakukan tindak criminal Kematian karena AIDS

d)

Kematian karena penyakit kritis, dimana kematian terjadi pada tahun pertama dia mengikuti program asuransi dari PA bersangkutan

e)

Kematian karena force majeure, atau hal-hal yang memang tidak bisa dihindari, seperti perang, bencana alam, atau huru-hara

3. 4. 5.

Nasabah terlalu lama mengajukan klaim Syarat-syarat saat pengajuan klaim kurang lengkap Ketidakjujuran Agen Asuransi dalam mempresentasikan produk asuransinya

ANALISIS KASUS
1. Tinjauan Kasus Secara Yuridis a. KUH Pidana Berdasarkan kasus diatas, jika ditinjau dari KUHPidana pasal 381, dimana barang siapa dengan jalan tipu muslihat menyesatkan penanggung asuransi mengenai keadaan-keadaan yang berhubungan dengan pertanggungan sehingga disetujui perjanjian, hal mana tentu tidak akan disetujuinya atau setidak-tidaknya tidak dengan syarat-syarat yang demikian, jika diketahuinya keadaan-keadaan sebenarnya, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan. b. KUH Dagang Berdasarkan kasus diatas secara Hukum Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUH Dagang) Pasal 251, 282 dan 307. Pasal 251: Setiap keterangan yang keliru atau tidak benar, ataupun setiap tidak memberitahukan hal-hal yang diketahui oleh si tertanggung, betapapun itikad baik apa adanya, yang demikian sifatnya, sehingga seandainyasi penganggung telah mengetahui keadaan yang sebenarnya, perjanjian itu tidak akan ditutup atau tidak akan ditutup dengan syarat-syarat yang sama, mengakibatkan batalnya pertanggungan. Pasal 282: Apabila batalnya perjanjian itu disebabkan karena suatu akalan cerdik, penipuan atau kecurangan si tertanggung, maka tetaplah si penanggung menerima preminya, dengan tidak mengurangi adanya tuntutan pidana, apabila ada alasan untuk itu.

Pasal 307: Apabila seorang yang telah mempertanggungkan jiwanya, membunuh diri, atau dihukum mati maka gugurlah pertanggungan itu.

2. Tinjauan Kasus Secara Standar Akuntansi PSAK No.36 (Revisi 2010) Klaim dan manfaat asuransi adalah beban yang terdiri atas klaim dan manfaat asuransi yang pembayarannya didasarkan pada terjadinya peristiwa yang diasuransikan, yaitu klaim kematian, klaim cacat, dan klaim jaminan kesehatan klaim dan manfaat karena jatuh tempo serta klaim dan manfaat karena pembatalan (surrender).

Dalam tinjauan Akuntansi berdasarkan PSAK No.36 (Revisi 2010) yang membahas tentang asuransi jiwa bahwa klaim dan manfaat asuransi didasarkan pada terjadinya peristiwa yang diasuransikan, tetapi disini tidak dijelaskan secara mendalam mengenai kriteria klaim yang bisa diterima pihak asuransi, sedangkan jika ditinjau dari segi hukum dalam kasus ini perjanjian asuransi kematian akibat bunuh diri memang bukan termasuk yang akan ditanggung oleh pihak asuransi atau disebabkan karena suatu akalan cerdik, penipuan atau kecurangan si tertanggung, maka tetaplah si penanggung (asuransi) menerima preminya.

DAFTAR PUSTAKA

Junaedy, A. 2011. Hukum Asuransi Indonesia. Sinar Grafika. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang Pasal 251 tentang Asuransi atau Pertanggungan Seumumnya. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang Pasal 282 tentang Asuransi atau Pertanggungan Seumumnya. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang Pasal 307 tentang Pertanggungan Jiwa. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 263 tentang Pemalsuan Surat. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 381 tentang Perbuatan Curang. Saliman, R. Abdul. 2010. Hukum Bisnis Untuk Perusahaan : Teori dan Contoh Kasus. Jakarta: Kencana. Silondae, Arus Akbar dan Wirawan B. Ilyas. 2011. Pokok Pokok Hukum Bisnis. Jakarta: Salemba Empat. www.google.com

HUKUM ASURANSI
(Studi Kasus pada Asuransi Michael Jackson)

Disusun Oleh : Kukuh Pandu Wicaksana Agustia Rieskiani Tengger Ditya Permatasari

JURUSAN AKUNTANSI PASCA SARJANA FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

Anda mungkin juga menyukai