ISSN 1907-1507

OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN - PERKEBUNAN

PUSAT DATA DAN INFORMASI PERTANIAN
Kantor Pusat Departemen Pertanian, Gedung D, Lantai IV
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan - Jakarta Selatan
Telp/Fax : (021) 7807601

2009

OUTLOOK

KOMODITAS PERTANIAN
(PERKEBUNAN)

PUSAT DATA DAN INFORMASI PERTANIAN
DEPARTEMEN PERTANIAN
2009

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Perkebunan sebagai bagian integral dari sektor pertanian merupakan salah
satu sub sektor yang mempunyai peranan penting dan strategis dalam
pembangunan nasional. Peranannya terlihat nyata dalam penerimaan devisa
negara melalui ekspor, penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan
konsumsi dalam negeri, bahan baku berbagai industri dalam negeri, perolehan
nilai tambah dan daya saing serta optimalisasi pengelolaan sumberdaya alam
secara berkelanjutan.
Peranan sub sektor perkebunan bagi perekonomian nasional tercermin dari
realisasi pencapaian PDB yang mencapai Rp. 106,19 trilyun (atas dasar harga
berlaku) pada tahun 2008 atau berkontribusi 14,89% dari total PDB sektor
pertanian secara luas. Sementara, peranan ekspor komoditas perkebunan pada
tahun 2008 memberikan sumbangan surplus neraca perdagangan bagi sektor
pertanian sebesar US$ 22,83 milyar dimana sub sektor lainnya mengalami defisit.
Dalam rangka meningkatkan peran sub sektor perkebunan, Departemen
Pertanian telah menyusun rencana strategis beserta program dan kebijakan
pembangunan yang terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan
pengembangan

masing-masing

komoditas

perkebunan.

Dalam

penyusunan

rencana strategis ketersediaan data dan informasi yang berkualitas maka sangat
dibutuhkan agar kebijakan yang diputuskan menjadi efektif.
Dalam mengemban visi dan misinya, Pusat Data dan Informasi Pertanian
(Pusdatin) senantiasa menyediakan data dan informasi yang diperlukan oleh
berbagai pihak yang berkecimpung dalam sektor pertanian, seperti penentu
kebijakan, asosiasi, akademisi maupun masyarakat umum lainnya. Salah satu
produk informasi yang secara reguler dihasilkan oleh Pusdatin adalah Analisis
Outlook Perkebunan, yang didalamnya mengulas keragaan data nasional dan
situasi global disertai dengan proyeksi penawaran dan permintaan masing-masing
komoditas.

Pusat Data dan Informasi Pertanian

1

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

1.2. METODOLOGI
Sumber Data dan Informasi
Outlook Komoditas Perkebunan tahun 2009 disusun berdasarkan data dan
informasi yang diperoleh dari data primer yang bersumber dari daerah, instansi
terkait di lingkup Departemen Pertanian dan instansi di luar Departemen
Pertanian seperti Badan Pusat Statistik (BPS) dan Food and Agriculture
Organization (FAO).
Metode Analisis
Metode yang digunakan dalam penyusunan Outlook Perkebunan adalah
sebagai berikut:
a. Analisis keragaan atau perkembangan komoditas perkebunan dilakukan
berdasarkan ketersediaan data series yang yang mencakup indikator luas
areal dan luas panen, produktivitas, produksi, konsumsi, ekspor-impor serta
harga di tingkat produsen maupun konsumen dengan analisis deskriptif
sederhana. Analisis keragaan dilakukan baik untuk data series nasional
maupun dunia.
b. Analisis Penawaran
Analisis penawaran komoditas perkebunan dilakukan berdasarkan
analisis fungsi produksi. Penelusuran model untuk analisis fungsi produksi
tersebut dilakukan dengan pendekatan model Regresi Berganda (Multivariate
Regression).
Secara teoritis bentuk umum dari model ini adalah :

Y = b0 + b1 X 1 + b2 X 2 + ... + bn X n + ε
n

= b0 + ∑ b j X j + ε
j =1

dimana :

Y

=

Xn =

Peubah penjelas/bebas

n

1,2,…

=

b0 =

2

Peubah respons/tak bebas

nilai konstanta

Pusat Data dan Informasi Pertanian 2

Kelayakan Model Ketepatan sebuah model regresi dapat dilihat dari Uji-F. d. analisis permintaan juga menggunakan Model Regresi Berganda menggunakan peubah penjelas. Analisis Permintaan Analisis permintaan komoditas perkebunan merupakan analisis permintaan langsung masyarakat terhadap komoditas perkebunan yang dikonsumsi oleh rumah tangga konsumen dalam bentuk tanpa diolah maupun telah diolah.Perkebunan 2009 « bn = koefisien arah regresi atau parameter model regresi untuk peubah xn ε = sisaan Produksi pada periode ke-t diduga merupakan fungsi dari produksi pada periode sebelumnya. Sama halnya seperti pada analisis penawaran. Uji-t dan koefisien determinasi (R2). namun karena keterbatasan ketersediaan data. luas areal periode sebelumnya. c. Dengan memperhatikan ketersediaan data. Pada komoditas tertentu dimana sebagian besar produksinya digunakan untuk bahan baku industry pengolahan.» Outlook Pertanian . Periode series data yang digunakan adalah tahunan. maupun permintaan untuk kepentingan ekspor. analisis penawaran dilakukan berdasarkan data produksi dalam periode tahunan. analisis permintaan untuk beberapa komoditas menggunakan model analisis trend (trend analysis) atau model pemulusan eksponensial berganda (double exponential smoothing). Pusat Data dan Informasi Pertanian 3 . harga ekspor dan pengaruh inflasi. Untuk peubahpeubah bebas yang tidak tersedia datanya dalam periode waktu yang bersesuaian maka dilakukan proyeksi terlebih dahulu dengan menggunakan model analisis trend (trend analysis) atau model pemulusan eksponensial berganda (double exponential smoothing). maka analisis permintaan didekati dengan cara melihat proporsi permintaan untuk industry pengolahan menggunakan bantuan Tabel I-O BPS.

Koefisien determinasi dihitung dengan menggunakan persamaan: R2 = dimana : SS R egresi SS Total SS Regresi adalah jumlah kuadrat regresi SS Total adalah jumlah kuadrat total Sementara. untuk model data deret waktu baik analisis tren maupun model pemulusan eksponensial berganda (double exponential smoothing). 4 Pusat Data dan Informasi Pertanian 4 .» Outlook Pertanian . ukuran kelayakan model dilihat berdasarkan kecilnya nilai kesalahan yakni menggunakan statistik MAPE (mean absolute percentage error) atau kesalahan persentase absolut rata-rata yang diformulasikan sbb.: dengan. Xt adalah data aktual dan Ft adalah nilai ramalan.Perkebunan 2009 « Koefisien determinasi diartikan sebagai besarnya keragaman dari peubah tak bebas (Y) yang dapat dijelaskan oleh peubah–peubah bebas (X).

Terdapat dua spesies tanaman kopi yaitu Arabika yang merupakan jenis kopi tradisional. Selama lima tahun terakhir. 1970 . dengan rasa (http://id. dapat dikembangkan dalam lingkungan dimana kopi Arabika tidak akan tumbuh. PERKEMBANGAN LUAS AREAL.org/wiki/Kopi_Indonesia).79%.1. PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS KOPI DI INDONESIA Secara umum pola perkembangan luas areal kopi di Indonesia pada periode tahun 1970–2008 cenderung mengalami peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 3. Perkembangan luas areal kopi menurut status pengusahaan di Indonesia. Gambar 2. KOPI Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai peran cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia.3 juta hektar tahun 2008.Perkebunan 2009 « BAB II. Indonesia menempati posisi keempat sebagai negara eksportir kopi setelah Brazil. dan Robusta yang memilki kafein lebih tinggi. dianggap paling enak rasanya.13% dan 1. sementara perkebunan negara dan swasta hanya berkontribusi masing-masing sebesar 3. karena merupakan salah satu komoditas ekspor andalan sebagai penghasil devisa negara di luar minyak dan gas.» Outlook Pertanian .2008 Pusat Data dan Informasi Pertanian 5 . 2.wikipedia.33% per tahun atau meningkat dari 395 ribu hektar tahun 1970 menjadi 1. pahit dan asam Di Indonesia.1. Kolombia dan Vietnam. pada saat ini sekitar 95% tanaman kopi diusahakan oleh rakyat.

05% per tahun. Gambar 2.1.Perkebunan 2009 « Berdasarkan status pengusahaan. 6 Pusat Data dan Informasi Pertanian .2).71% (23 ribu hektar pada tahun 1970 menjadi 29 ribu hektar pada tahun 2008) dan perkebunan besar negara (PBN) meningkat sebesar 1. yakni dari 351 ribu hektar pada tahun 1970 menjadi 1. Jika pada tahun 1970 produksi kopi Indonesia sebesar 185 ribu ton meningkat menjadi 683 ribu ton pada tahun 2008 dengan rata-rata pertumbuhan selama periode tersebut sebesar 4.2. diikuti oleh perkebunan besar swasta (PBS) meningkat sebesar 1.28% (Gambar 2.25 juta hektar pada tahun 2008. perkembangan produksi kopi Indonesia selama tahun 1970-2008 juga cenderung meningkat sejalan dengan perkembangan luas arealnya (Gambar 2.34% dan 2. terlihat PR mendominasi luas areal kopi dengan berkontribusi mencapai 95.3).). perkebunan rakyat (PR) memiliki ratarata pertumbuhan luas areal per tahun yang paling besar yaitu 3. Secara rinci perkembangan luas arael kopi menurut status pengusahaan sejak tahun 1970 – 2008 dapat dilihat pada Lampiran 2.1.67%. sedangkan kontribusi PBN dan PBS masing-masing hanya sebesar 2. Jika ditinjau berdasarkan kontribusi rata-rata luas areal kopi di Indonesia tahun 1998 – 2008. 1970 -2008 Sementara itu.22% per tahun (20 ribu hektar pada tahun 1970 menjadi 24 ribu hektar pada tahun 2008) (Gambar 2. Kontribusi luas areal kopi menurut status pengusahaan di Indonesia.Outlook Pertanian .38% terhadap luas areal kopi Indonesia.

4). kontribusi rata-rata produksi kopi PR tahun 1998 – 2008 mencapai 95.79% (Gambar 2. PBS meningkat 5.2).4.24% produksi kopi Indonesia adalah kopi robusta dan selebihnya merupakan kopi arabika Pusat Data dan Informasi Pertanian 7 .27%. sedangkan kontribusi PBN dan PBS masing-masing sebesar 3. 1998 – 2008 Berdasarkan data rata-rata tahun 2003 – 2008. Besarnya peningkatan produksi kopi PR disebabkan pertumbuhan yang cukup tinggi tahun 1979 dan 1989 masing-masing meningkat 24.3. Gambar 2.08% terhadap rata-rata produksi kopi Indonesia. 1970-2008 Bila dilihat menurut status pengusahaan terlihat produksi kopi PR cenderung terus meningkat dengan rata-rata pertumbuhan per tahun sebesar 4.56%.47% dan PBN meningkat 3. sebesar 87.» Outlook Pertanian . Sejalan dengan kontribusi luas areal kopi.88% dan 43. Kontribusi rata-rata produksi kopi menurut status pengusahaan di Indonesia.13% dan 1.Perkebunan 2009 « Gambar 2.77% (Lampiran 2. Perkembangan produksi kopi menurut status pengusahaan di Indonesia.

21%. disusul berturut-turut provinsi Bengkulu. Sumatera Utara. sentra produksi kopi di Indonesai disajikan pada Lampiran 2. Provinsi Sumatera Selatan dan Lampung merupakan provinsi sentra produksi kopi terbesar yang berkontribusi masing-masing sebesar 22. dan 6.Kontribusi produksi kopi di Indonesia menurut jenisnya. 7.14%.Perkebunan 2009 « sebesar 12. Jawa Timur dan NAD masing-masing berkontribusi sebesar 9.6.5.4.65% terhadap total produksi kopi Indonesia.3. Secara rinci produksi kopi Indonesia menurut jenis kopi disajikan pada Lampiran 2. Gambar 2. 8 Pusat Data dan Informasi Pertanian . 2003– 2008 Bila dilihat dari sisi produksi kopi per provinsi tahun 2004 – 2008.32% dan 21.76% (Gambar 2. Secara rinci. seperti yang disajikan pada Gambar 2. terdapat 6 (enam) provinsi sentra produksi kopi yang memberikan kontribusi sebesar 74.44%.05% terhadap total produksi kopi Indonesia.Outlook Pertanian . 7.5).29%.

Perkebunan 2009 « Gambar 2. perkembangan produktivitas kopi di Indonesia selama periode tahun 2003 – 2008 mengalami penurunan dengan rata-rata sebesar 0. sedangkan Pusat Data dan Informasi Pertanian 9 . Provinsi sentra produksi kopi di Indonesia. PBN naik sebesar 1.50 kg/ha dan PBS sebesar 571 kg/ha (Gambar 2.7 ). pada PR turun sebesar 0. 2004 .65% per tahun.91%. Perkembangan produktivitas kopi di Indonesia.2008 Perkembangan produktivitas kopi menurut status pengusahaan di Indonesia selama tahun 2003 – 2008 terlihat pola yang sama kecuali PBS yang terlihat fluktuatif. Gambar 2. Rata-rata produktivitas kopi Indonesia sebesar 697. 2003– 2008 Sementara itu.13 kg/ha. dimana rata-rata produktivitas kopi terbesar pada PBN yaitu 711.» Outlook Pertanian .7.66%.83 kg/ha. disusul PR sebesar 696.6.

2003 – 2008 PR Tahun (Kg/ha) Pertumb.96 589 702 449 655 502 529 19. (%) (Kg/ha) Indonesia Pertumb.93% (Gambar 2. (%) 2003 728 2004 664 2005 687 2006 697 2007 702 2008 *) 701 Rata-rata pertanian 2003-2008 696.14 3.38 725 666 683 696 714 699 -8. meskipun pada tahun 1987 dan 1999 mengalami penurunan cukup besar dibandingkan tahun sebelumnya yaitu masing-masing sebesar 15.72 -0.59 -2.83 1. Perkembangan konsumsi kopi di Indonesia.36 5.50 Sumber PBN (Kg/ha) PBS Pertumb. Tabel 2.Outlook Pertanian .8).14 696 697 697 696 721 764 0. Gambar 2.Perkembangan produktivitas kopi menurut status pengusahaan.00 2. PERKEMBANGAN KONSUMSI KOPI DI INDONESIA Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) oleh BPS.88 -23.13 -0.32% per tahun.59 5.55 1.00 -0.13 -0. (%) (Kg/ha) Pertumb. Perkembangan konsumsi kopi di Indonesia pada periode tahun 1984 s/d 2008 secara rata-rata menunjukkan peningkatan sebesar 4.14 0.8.79 3. (%) -8.46 1.66 711.21 697.04 45. permintaan kopi untuk konsumsi rumah tangga berupa kopi bubuk dan kopi biji.91 571.14 2.Perkebunan 2009 « pertumbuhan produktivitas kopi pada PBS terlihat sangat fluktuatif namun cenderung naik dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 2.90 2.65 : Direktorat Jenderal Perkebunan diolah Pusdatin Keterangan : *) Angka Sementara 2.1.21% per tahun.46 0.19 -36.2. 1984-2008 10 Pusat Data dan Informasi Pertanian .62% dan 18.

Susenas 2.22 -18. Perkembangan konsumsi kopi di Indonesia secara rinci disajikan pada Tabel 2.82 2008 0.246 12. PERKEMBANGAN HARGA KOPI DI INDONESIA Lebih dari 90% jenis kopi di Indonesia adalah jenis kopi robusta.03 1999 0.25 0. untuk itu perkembangan harga yang disajikan dalam tulisan ini adalah kopi robusta.207 10.28 1993 0.67 ons per tahun meningkat menjadi 0. Secara umum perkembangan harga rata-rata kopi robusta di pasar dalam negeri berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat dengan rata-rata pertumbuhan sebesar sebelum krisis ( tahun 1987 – 1997) meningkat sebesar 5.16 -15.32 Rata-rata Sumber : BPS.186 9.54 2005 0. Perkembangan konsumsi kopi di Indonesia.93 2002 0.67 1987 0. Tabel 2.95 57.38 -3.35 8.199 10.28% dan 57.3.77 4.14 -2.238 ons per minggu atau 12.157 8.38 ons per tahun pada tahun 2008. sementara pertumbuhan setelah krisis (1998 – 2008) harga kopi robusta di pasar Pusat Data dan Informasi Pertanian 11 .» Outlook Pertanian .79 -1.195 10.238 12. Pertumbuhan konsumsi kopi terbesar terjadi pada tahun 1990 dan 2002 masing-masing meningkat sebesar 17.79 11.15 1996 0.22 11.2.57 17.2.184 9.56 2007 0.24 2006 0.77% per tahun.249 12.62 1990 0.186 ons per minggu atau 9.Perkebunan 2009 « Konsumsi kopi bubuk dan kopi biji pada rumah tangga di Indonesia tahun 1984 sebesar 0.158 8. 1984 – 2008 Tahun Konsumsi per kapita (Ons/Minggu) (Ons/Tahun) Pertumbuhan (%) 1984 0.54%.246 12.44 -10.

92% atau dari Rp 1. Gambar 2.738.27% per tahun (Gambar 2. harga kopi robusta di pasar dunia dari tahun 1987 -2007 juga relatif berfluktuatif.-/kg pada tahun 1998. Perkembangan harga kopi robusta di pasar dalam negeri.9). Peningkatan tersebut diakibatkan adanya peningkatan nilai tukar rupiah yang tinggi.15.775.9.95% (Gambar 2.10).321. harga kopi kembali mengalami penurunan hingga tahun 2003. Setelah periode tersebut.-/kg pada tahun 1997 menjadi Rp 12. Mulai tahun 2004.1997) sebesar 10. Secara rinci perkembangan harga kopi robusta di pasar dalam negeri dan pasar dunia tahun 1987 – 2007 disajikan pada Lampiran 2. Peningkatan pertumbuhan yang cukup tinggi tersebut dipicu terjadinya peningkatan yang cukup siginifikan di tahun 1998 sebesar 608.-/kg. Harga kopi robusta di pasar dunia tertinggi pada tahun 1997 mencapai US$ 185 cent/lb dan selanjutnya terus merosot mencapai harga terendah tahun 2001 sebesar US$ 54 cent/lb dan meningkat kembali tahun 2007 menjadi sebesar US$ 191 cent/lb. 1987 2007 Sementara itu.Perkebunan 2009 « dalam negeri meningkat cukup signifikan sebesar 67.5. 12 Pusat Data dan Informasi Pertanian . dimana harga kopi robusta di pasar dalam negeri tahun 2007 mencapai Rp.55% dan setelah krisis (1998 – 2007) hanya tumbuh sebesar 4. namun memiliki rata-rata pertumbuhan sebelum krisis moneter (1987 . harga kopi kembali mengalami peningkatan hingga tahun 2007.Outlook Pertanian .

Volume ekspor kopi tertinggi dicapai pada tahun 2005 sebesar 446 ribu ton dan terendah tahun 2001 sebesar 251 ribu ton (Gambar 2. Perkembangan volume ekspor dan impor kopi di Indonesia.» Outlook Pertanian . PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR KOPI DI INDONESIA Perkembangan volume ekspor kopi pada periode 1996–2008 berfluktuatif.87% dibandingkan tahun sebelumnya dan terendah pada tahun 2001 yaitu turun sebesar 26.11.11).Perkebunan 2009 « Gambar 2.10.06% dibandingkan tahun sebelumnya. Selama kurun waktu tersebut. Perkembangan harga kopi robusta di pasar dunia. 1987–2007 2.4. yaitu dari 367 ribu ton tahun 1996 menjadi 439 ribu ton tahun 2008 atau mengalami pertumbuhan per tahun sebesar 3. Gambar 2.11%. 1996– 2008 Pusat Data dan Informasi Pertanian 13 . pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2008 yaitu meningkat sebesar 36.

Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Sementara rata-rata pertumbuhan volume impor kopi cenderung konstan
kecuali tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 653%, meskipun volume
impor kopi Indonesia sangat kecil bila dibandingkan volume ekspor.

Volume

impor tertinggi terjadi pada tahun 2007 mencapai 49,7 ribu ton dan terrendah
terjadi di tahun 1996 hanya 312 ton. Secara rinci perkembangan volume ekspor
dan impor kopi Indonesia tahun 1996 – 2008 disajikan pada Lampiran 2.6.
Perbedaan volume ekspor dan impor yang cukup besar menjadikan
Indonesia selalu mengalami surplus neraca perdagangan kopi yang berarti dapat
menyumbang devisa negara. Sejalan dengan meningkatnya volume eskpor kopi
Indonesia, terlihat juga neraca perdagangan kopi Indonesia tahun 1996 – 2008
dari tahun ke tahun juga menunjukkan adanya peningkatan surplus neraca
perdagangan dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 5,75% (Gambar
2.12). Surplus neraca perdagangan kopi tampak semakin tinggi dari tahun ke
tahun. Jika pada tahun 1996 surplus neraca perdagangan kopi sebesar US$ 595
juta, maka pada tahun 2008 surplus tersebut naik menjadi US$ 914 juta.
Perkembangan volume, nilai dan neraca perdagangan kopi Indonesia tahun 1996 2008 secara rinci disajikan pada Lampiran 2.6.

Gambar 2.12. Perkembangan neraca perdagangan kopi di Indonesia, 1996–2008

14

Pusat Data dan Informasi Pertanian

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

2.5. PERKEMBANGAN LUAS AREAL, PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN
KONSUMSI KOPI DUNIA
Secara umum perkembangan luas areal kopi dunia selama periode tahun
1970–2007 sangat berfluktasi namun cenderung meningkat meskipun hanya
sebesar 0,47% per tahun (Gambar 2.13). Peningkatan luas areal kopi dunia yang
cukup besar terjadi pada tahun 1977 sebesar 13,34% dibandingkan tahun
sebelumnya.

Secara rinci, perkembangan luas areal kopi dunia tahun 1970 –

2007 disajikan pada Lampiran 2.7.
Perkembangan produksi kopi dunia dalam tahun 1970–2007 menunjukkan
pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan perkembangan luas arealnya
(Gambar 2.13). Rata-rata pertumbuhan produksi kopi dunia tahun 1970 – 2007
sebesar 2,53% per tahun. Secara rinci, perkembangan produksi kopi dunia tahun
1970 – 2007 disajikan pada Lampiran 2.7.

Gambar 2.13. Perkembangan luas areal dan produksi kopi dunia, 1970–2007
Berdasarkan data rata-rata produksi kopi dunia tahun 2003-2007 yang
bersumber dari FAO, terdapat 5 negara produsen kopi terbesar di dunia yang
memberikan kontribusi hingga 64,01% terhadap total produksi kopi dunia. Brazil
merupakan produsen kopi terbesar dunia dengan rata-rata produksi sebesar 2,27
juta ton atau memberikan kontribusi sebesar 30,23%. Negara produsen kopi dunia
kedua diduduki oleh Vietnam dengan produksi sebesar 859 ribu ton atau
berkontribusi sebesar 11,45%.

Pusat Data dan Informasi Pertanian

Sementara Kolombia memberikan kontribusi

15

Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

sebesar 9,26% dan Indonesia menduduki urutan ke-empat dengan produksi
sebesar 672 ribu ton atau berkontribusi sebesar 8,95% (Gambar 2.14).

Secara

rinci produsen kopi terbesar dunia tersaji pada Lampiran 2.8.

Gambar 2.14. Kontribusi negara produsen kopi dunia, (rata-rata 2003 – 2007)

Perkembangan produktivitas kopi dunia pada tahun 1970 – 2007
menunjukkan kecenderungan meningkat dengan rata-rata pertumbuhan sebesar
1,92% per tahun (Gambar 2.15). Produktivitas kopi dunia tertinggi dicapai pada
tahun 2002 sebesar 773 kg/ha, sementara produktivitas kopi Indonesia pada
tahun yang sama sebesar 497 kg/ha, masih di bawah produktivitas kopi dunia.
Secara rinci perkembangan produktivitas kopi dunia disajikan pada Lampiran 2.7.

Gambar 2.15. Perkembangan produktivitas kopi dunia,1970 - 2007

16

Pusat Data dan Informasi Pertanian

Guatemala dan Peru masing-masing berkontribusi 4.15 juta ton atau setara dengan US$ 13.8 ribu ton per tahun.42 juta ton per tahun atau memberikan kontribusi sebesar 25.Perkebunan 2009 « 2. PERKEMBANGAN EKSPOR . Gambar 2. 3.4 ribu ton per tahun.09% dengan rata-rata volume ekspor 965.12% dan peringkat kedua ditempati oleh Vietnam yang memberikan kontribusi 17.65 milyar. sedangkan Indonesia pada urutan ke-4 dengan memberikan kontribusi sebesar 6.2007 Terdapat tujuh negara eksportir kopi terbesar di dunia yang secara kumulatif memberikan kontribusi sebesar 70.87% dan 3. perkembangan volume ekspor dan impor kopi dunia pada periode tahun 1970 – 2007 menunjukkan kecenderungan meningkat (Gambar 2.00% (ekspor) dan 1.IMPOR KOPI DUNIA Berdasarkan data FAO. Secara rinci perkembangan ekspor dan impor kopi dunia tahun 1970 – 2007 disajikan pada Lampiran 2. sementara impor tertinggi juga terjadi tahun 2007 sebesar 5.65%. Jerman. Peringkat ketiga diduduki oleh Colombia dengan kontribusi sebesar 10. 1970 . Brazil merupakan negara eksportir kopi terbesar di dunia dengan rata-rata volume ekspor mencapai 1.55% dengan rata-rata volume ekspor 369.6. Perkembangan volume ekspor dan impor kopi dunia.75% (impor).9. Ekspor tertinggi terjadi pada tahun 2007 sebesar 6.16) dengan rata-rata pertumbuhan per tahun masing-masing sebesar 2.52%.58 milyar.84 juta ton atau setara dengan US$ 13.» Outlook Pertanian .97% terhadap total volume ekspor kopi di dunia.16.17% Pusat Data dan Informasi Pertanian 17 .

Negara eksportir kopi terbesar di dunia secara rinci tersaji pada Lampiran 2.45% dan 7.11. Gambar 2. Indonesia berada pada urutan ke-45 karena impor kopi Indonesia hanya sebesar 12. Peringkat ketiga dan keempat ditempati oleh Italy dan Jepang yang masing-masing memberikan kontribusi sebesar 7. Negara eksportir kopi terbesar di dunia.Outlook Pertanian .18). 18 Pusat Data dan Informasi Pertanian .17. Negara importir kopi terbesar di dunia secara rinci tersaji pada Lampiran 2.12%.35%.96 ribu ton per tahun. Spanyol dan Belgia yang masing-masing berkontribusi 4.57% terhadap total volume impor kopi dunia (Gambar 2. pada tahun 2003–2007 terdapat tujuh negara importir kopi terbesar yang secara kumulatif memberikan kontribusi sebesar 66. USA merupakan negara importir kopi terbesar dunia dengan rata-rata volume impor sebesar 1.29% dan 3.10.25 juta ton per tahun.21%. (rata-rata 2003-2007) Berdasarkan data FAO.Perkebunan 2009 « terhadap total volume ekspor dunia (Gambar 2.1 ribu ton per tahun atau memberikan kontribusi sebesar 17.54% terhadap total volume impor kopi di dunia. peringkat kedua ditempati Jerman dengan rata-rata volume impor 951. Negara-negara importir kopi terbesar lainnya adalah Perancis.17). 4.

000 6.3. Hasil analisis fungsi respon produksi kopi di Indonesia Peubah Intersep Luas Areal Kopi periode (t) Harga Kopi periode (t) Koefisien p-Value . dimana data produksi kopi nasional dalam wujud produksi kopi berasan.Perkebunan 2009 « Gambar 2.2011 Penawaran dalam analisis ini merupakan representasi dari produksi. (rata-rata 2003-2007) 2. Negara importir kopi terbesar di dunia. Prob(F-stat) = 0.7. Berdasarkan hasil penelusuran model dengan menggunakan regresi dihasilkan bahwa produksi kopi pada periode (t) dipengaruhi oleh luas areal kopi pada periode (t) dan harga kopi dalam negeri pada periode (t).520 500 0.18.000 0.» Outlook Pertanian . Koefisean determinasi (R2) dari mode tersebut sebesar 87% yang menunjukkan bahwa 87% keragaman dalam produksi kopi Indonesia telah dapat dijelaskan oleh luas arael dan harga kopi dalam negeri pada periode (t). PROYEKSI PENAWARAN KOPI 2009 .000 Pusat Data dan Informasi Pertanian 19 .016 R2 = 87% .831 0. Tabel 2.8427 0.

713 ton pada tahun 2011.938 2009 689. Tabel 2.96 Rata-rata pertumbuhan (%/th) 2009 . maka produksi kopi Indonesia diperkirakan akan naik menjadi 716.97 2011 716.915 1.94% (Tabel 2. Berdasarkan koefisien regresi yang diperoleh ternyata peningkatan luas areal kopi pada periode (t) sebesar 1 satuan akan meningkatkan produksi kopi sebesar 0.713 1. Dengan menggunakan model tersebut.62% per tahun. 2.938 ton pada tahun 2008 (Angka Sementara) menjadi 689.Outlook Pertanian . Dengan rata-rata peningkatan sebesar 1. Proyeksi produksi/penawaran kopi di Indonesia.94 2010 702.62 Angka Sementara dari Ditjen Perkebunan Dengan menggunakan fungsi respon produksi kopi tersebut di atas.4. PROYEKSI PERMINTAAN KOPI 2009 – 2011 Permintaan kopi di Indonesia untuk konsumsi rumah tangga dalam bentuk kopi bubuk dan untuk dieskpor.337 ton atau meningkat 0.4. Untuk itu pemodelan dilakukan dengan 20 Pusat Data dan Informasi Pertanian .337 0. maka diperkirakan produksi kopi di Indonesia tahun 2009 akan meningkat dari 682.2011 Keterangan : Pertumbuhan (%) 1) 1.8247 satuan dan jika harga kopi dalam negeri meningkat satu satuan maka produksi kopi akan meningkat sebesar 6. 2009-2011 Tahun Produksi/Penawaran (Ton) 20081) 682.831 satuan.8.3 terlihat bahwa koefisien-koefisien di dalam model bersifat nyata. dilakukan proyeksi produksi kopi tahun 2009 – 2011 dengan hasil seperti tersaji pada Tabel 2.4).Perkebunan 2009 « Dari Tabel 2.

254 668.45% per tahun.305 ton pada tahun 2010 dan 685. Tabel 2.5.45 0.5. permintaan kopi diproyeksikan akan naik sebesar 0. PROYEKSI SURPLUS/DEFISIT KOPI 2009 – 2011 Selama periode 2009 – 2011.60 0.135 651.9.115 439.Perkebunan 2009 « menggunakan time series dari data volume ekspor kopi dan konsumsi kopi bubuk per kapita yang bersumber dari SUSENAS BPS.87 Sumber: Konsumsi dan ekspor diolah dari data BPS.600 413.633 2010 249. Pada tahun 2009 total permintaan kopi diproyeksikan 651. Berdasarkan hasil penelusuran model dihasilkan analisis fungsi permintaan ekspor dilakukan dengan menggunakan analisis trend quadratik (univariate).234 ton tahun 2011.234 Rata-rata pertumbuhan (%/th) 1. 2. kemudian naik menjadi 668.» Outlook Pertanian .250 2009 238.60% per tahun (Tabel 2.051 419. Selama periode tahun 2008 – 2011. 2008 – 2011 Tahun Konsumsi dalam negeri (Ton) Volume ekspor (Ton) Total Permintaan (Ton) 2008 1) 212.633 ton.6). Proyeksi konsumsi kopi dalam negeri dan volume ekspor. sedangkan konsumsi kopi bubuk per kapita menggunakan analisis linier.704 ton dan menurun Pusat Data dan Informasi Pertanian 21 . Kenaikan tersebut disebabkan oleh kenaikan konsumsi kopi dalam negeri mengalami kenaikan sebesar 1. surplus produksi kopi Indonesia sebesar 37.760 425.033 651. Pada tahun 2009.305 2011 259. surplus produksi kopi semakin menurun yaitu dengan rata-rata pertumbuhan turun sebesar 4.87% per tahun. Hasil proyeksi permintaan yang dijelaskan oleh konsumsi kopi dalam negeri dan permintaan ekspor kopi disajikan pada Tabel 2.474 685.6% per tahun dan volume ekspor naik sebesar 0.

633 37.2011 Tahun Penawaran (Ton) Permintaan (Ton) Surplus/Defisit (Ton) 2009 689.Outlook Pertanian .610 2011 716.704 2010 702.Perkebunan 2009 « menjadi 34.337 651. 2009.479 ton.305 34.713 685.915 668. kemudian akan mengalami penurunan lagi pada tahun 2011 menjadi 31.29 -4.60 22 Pusat Data dan Informasi Pertanian .234 31. Tabel 2.479 Rata-rata Pertumbuhan (%) 1.6. Proyeksi surplus/defisit kopi di Indonesia.00 1.610 ton pada tahun 2010.

170.258.04 1.11 4.02 -3.86 40.33 28.892 Pertumb.426 22.26 -0.59 0.499 2.91 4.33 4.00 -1.22 2.372.95 42.48 (1.60 -3.943 1.025.182 1.654 405.199 961.45 -1.69 1.83 6.499 23.69 3.442 20.889 30.68 0.24 1977 454.383 1.210 25.98 0.958 11.385 1.125 1.33 -28.119.365 20.300 13.20 -8.89 1981 749.947 1.329 4.114 0.01 1979 577.069.584 1.38 -33.059.1.862 4.255.09 -1.68 -5.716 20.21 4.641 26.938 24.31 -2.846 803.223 386.251.95 1970-1997 94.31 1985 874.67 1.801 27.21 1976 401.020 26.00 1.488 9.63 -2.873 407.571 399.291.016 23.283 33.731 1.133.90 -31.41 -5. Perkembangan luas areal kopi di Indonesia menurut status pengusahaan.192 33.427 34.15 -0.90 1.239 26.24 -0.322 12.24 1.58 1974 346.45 6.411 0.91 2006 1.21 -0.289 3.09 (%) 2.092 26.789 2.250.645 26.139 39.03 3.325 26.028 814.987 894.04 -11.83 19.72 0.47 0.45 10.848 1.56 Rata-rata laju pertumbuhan (%) 1970-2008 3.79 20.484 21.954 26.876 20.26 1994 1.05 2.40 4.615 -0.62 -5.301 4.369 1.574 624.760 1.52 6.028 1.674 30.72 2003 1.091 26.925 23.109.58 1973 340.014.064 -3.92 1984 837.396 31.719 1.303.583 21.67 1970-1997 4.57 19.153.18 4.84 2. (%) 1970 351.295 32.674 31.53 1997 1.891 26.40 1987 908.22 0.90 2005 1.272 1.688 19.129 935.25 1983 766.13 4.47 2.48 -5.184 1.567 1.39 Ha 394.61 1998-2008 95.77 -1.64 3.897 440.422 18.597 26.166 28.640 1.721 0.234 6.87) -11.687 1.593 24.41 2.911 1.99 1982 759.22 1989 984.983 28.412 20.550 1.44 2.82 1975 361.Perkebunan 2009 « Lampiran 2.011 497.60 -0.277 1.260. (%) 23.593 25.147.826 520.00 -6.516 29.73 4.36 21.682 46.266 21.49 1991 1.56 2001 1.326 0.35 -2.804 22.616 24.65 33.78 0.232 39.38 -0.91 2.744 28.464 796.89 1.308.99 2.66 1988 969.26 11.80 -3.260 32.34 1.318.392 -3.211 24.854 1.79 3.720 27.050 1.65 1998-2008 1.93 7.024 20.103 707.40 1986 888.240.25 1.192.00 0.87 1995 1.25 Kontribusi luas areal terhadap Indonesia 1970-2008 94.474 6.38 Sumber PBS Pertumb.68 26.761 28.90 2004 1.26 -37.07 1980 663.676 25.74 1990 1.327 21. (%) Ha 20.63 -15.532 -0.36 12.222 -5.440 23.43 41.63 2.85 0.28 100 100 100 : Direktorat Jenderal Perkebunan diolah Pusdatin Keterangan : PR = Perkebunan Rakyat PBN = Perkebunan Besar Negara Pusat Data dan Informasi Pertanian PBS= Perkebunan Besar Swasta *) Angka Sementara 23 .46 18.211 931. 1970 – 2008 PR Tahun Ha PBN Pertumb.079 1.32 0.83 4.35 -8.954 26.776 30.313.134 0.080.605 29.748 18.140.429 -0.40 2. (%) 3.14 1998 1.898 1.245 -0.00 Ha Indonesia Pertumb.096 1971 366.33 1972 356.71 2.83 2000 1.13 0.167.35 1999 1.295.» Outlook Pertanian .64 2.42 -2.243.083 5.721 23.01 9.068.96 -14.302.036.38 2007 1.43 0.127.332 31.103.511 1.84 6.290 22.104 4.34 2.52 -2.94 -1.260 21.72 4.511 -4.340 4.56 2002 1.54 3.410 18.45 3.17 0.105.72 0.169 32.850 -2.86 -1.146 19.063.02 1978 477.89 13.78 1.834 25.97 0.628 5.076.29 -2.63 2.644 23.177 23.04 1992 1.829 12.815 20.001 20.255.68 1996 1.597 26.800 25.956 19.25 0.40 3.635 24.49 9.280 25.716 27.159.50 0.14 4.202.601 14.910 1.67 -5.133 381.93 2008 *) 1.090.70 0.03 13.316 40.63 0.01 -10.93 -3.13 -7.020 4.15 1993 1.

251 305.25 52.759 1999 493.69 16.048 412.418 514.341 0.81 1.54 17.34 -14.81 22.78 -18.99 -0.66 22.051 7.625 1974 132.44 3.111 2002 654.359 9.77 2.87 1998-2008 95.21 15.27 1970-1997 3.117 Indonesia Pertumb.90 5.50 0.365 682.92 3.227 -4.32 45.073 -2.797 1977 177.735 150.089 8.69 45.591 12.81 2.430 -5. (%) 22.255 647.10 37.648 315.37 4.55 9.574 569.554 11.79 100.24 69.896 4.566 1991 399.91 Ton 6.10 17.69 -21.76 10.23 13.657 -1.09 -6.60 3.183 9.99 1998-2008 4.675 294.290 -11.00 -2.163 149.951 1971 161.67 3.44 13.930 438.18 0.307 1978 205.44 2.71 -49.336 -0.48 39.614 1976 177.664 1987 367.17 16.13 1.83 0.01 -31.28 9.Outlook Pertanian .305 436.05 3.451 531.940 5. (%) 32.79 4.466 8.569 1.462 11. Perkembangan produksi kopi di Indonesia menurut Status Pengusahaan.189 1982 262.966 222.74 13.10 -19.51 -35.47 5.13 2.30 14.86 -23.81 -1.155 -9.924 9.60 4.464 2.84 17.248 7.84 5.476 5.212 1981 290.311 -28.31 -6.16 18.47 17.624 5.64 59.996 8.22 22.128 2003 644.00 100.372 193.318 9.647 9.973 314.091 180.87 -4. 1970 – 2008 PR Tahun Ton Pertumb.72 13.27 68.476 682.266 1994 421.11 0.09 15.707 8.69 13.00 100.687 554.25 5.007 2004 618.53 -17.635 1986 329.359 17.689 273. (%) PBN Ton 1970 170.043 1988 262.985 -4.88 11.37 1.38 -0.30 2.757 1.31 9.08 PBS Pertumb.579 43.399 5.80 16.232 11.808 2.14 13.87 2.Perkebunan 2009 « Lampiran 2.423 10.377 5.78 -24.2.44 16.29 17.775 1985 288.22 -16.017 2007 652.289 1973 140.32 -10.83 18.04 10.386 640.835 11.59 7.30 17.76 -10.398 356.886 -0.822 388.80 -11.87 -3.050 1998 469. (%) -2.56 13.401 5.43 17.08 6.191 457.08 -6.003 12.605 14.82 4.048 0.60 10.812 24.60 13.592 5.53 -0.297 1983 287.69 8.31 3.20 26.019 671.935 1972 158.025 2005 615.671 1979 256.539 9.70 20.76 2.408 10.261 6.801 459.271 1980 276.291 1.43 14.134 7.13 0.24 29.93 -7.712 11.773 7.13 17.06 -24.17 2.21 -6.61 -14.811 170.737 12.21 -15.088 3.498 11.93 -25.76 -2.671 18.642 2008 *) 657.072 1989 376.20 -2.80 -26.880 10.916 178.265 11.553 7.755 1992 408.158 676.99 12.899 281.767 428.034 2006 653.44 15.36 2.184 1997 396.59 8.206 428.890 1993 410.83 4.77 6.373 4.247 -9.16 -9.90 7.775 11.23 82.669 291.610 9.468 1995 429.791 12.23 1.59 13.92 52.75 13.377 193.60 9.58 -3.641 15.095 401.16 -13.213 19.041 11.35 4.489 311.83 -14.17 -3.09 21.309 5.22 -1.96 3.242 1975 155.58 1.682 2.139 5.26 -1.404 -0.208 2000 514.79 -0.556 -0.17 26.17 12.824 1996 435.97 Kontribusi produksi terhadap Indonesia (%) 1970-2008 93.64 0.63 5.78 6.90 Ton 185.63 -39.05 -0.295 7.77 14.44 63.021 11.147 1984 291.281 20.85 1970-1997 92.938 Pertumb.42 12.234 682.14 4.56 25.87 16.38 -54.868 450.466 1990 384.53 -39.51 10.69 0.65 27.11 16.754 2001 541.30 14.01 0.956 14.64 19.56 -1.02 9.00 Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan diolah Pusdatin Keterangan : PR = Perkebunan Rakyat PBS= Perkebunan Besar Swasta PBN = Perkebunan Besar Negara *) Angka Sementara 24 Pusat Data dan Informasi Pertanian .16 23.08 3.480 Rata-rata laju pertumbuhan (%) 1970-2008 4.

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Lampiran 2.3. Produksi kopi menurut jenisnya di Indonesia, 2003 - 2008
Robusta (Ton)

Tahun

PR

PBN

PBS

Arabika (Ton)
Indonesia

PR

PBN

PBS

Indonesia

2003

606,386

12,549

8,964

627,899

38,271

4,458

627

43,356

2004

569,104

12,564

10,492

592,160

49,123

4,460

1,642

55,225

2005

560,979

12,574

6,557

580,110

54,576

4,460

1,218

60,254

2006

565,234

12,559

9,592

587,385

88,027

4,458

2,288

94,773

2007

532,010

8,974

8,101

549,085

120,326

4,668

2,397

127,391

2008 *)

534,952

9,738

8,588

553,278

122,389

4,742

2,529

129,660

561,444

11,493

8,716

581,653

78,785

4,541

1,784

85,110

Rata-rata
Share (%)

87.24

12.76

Sumber
: Direktorat Jenderal Perkebunan diolah Pusdatin
Keterangan : *) Angka Sementara

Lampiran 2.4. Provinsi sentra produksi kopi di Indonesia, 2004 – 2008
No.

Provinsi

Tahun
2004

2005

2006

2007

2008*)

Share
Rata-rata
Share (%) kumulatif
(Ton)
(%)

1

Sumatera Selatan

140,812

140,463

150,167

148,281

148,981

145,741

22.32

22.32

2

Lampung

142,599

142,761

141,305

140,095

140,090

141,370

21.65

43.97

3

Bengkulu

64,043

61,187

63,757

56,128

55,610

60,145

9.21

53.18

4

Sumatera Utara

46,560

41,493

50,032

50,158

49,839

47,616

7.29

60.47

5

Jawa Timur

44,237

43,009

50,132

47,000

48,569

46,589

7.14

67.61

6

NAD

37,100

35,012

41,894

48,080

48,284

42,074

6.44

74.05

7

Provinsi Lainnya

25.95

100.00

Indonesia
Sumber

172,034

141,428

155,381

186,735

191,565

169,429

647,385

605,353

652,668

676,477

682,938

652,964

: Direktorat Jenderal Perkebunan diolah Pusdatin

Keterangan : *) Angka Sementara

Pusat Data dan Informasi Pertanian

25

Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Lampiran 2.5. Perkembangan harga kopi robusta di pasar dalam negeri dan pasar
dunia, 1987 – 2007

Tahun

Pasar dalam negeri
(Rp/Kg)

Pasar dunia

Pertumb. (%)

(Cent US$/lb)

Pertumb. (%)

1987

2,425

117

1988

2,321

-4.29

132

12.82

1989

1,517

-34.64

105

-20.45

1990

1,350

-11.01

91

-13.33

1991

1,437

6.44

85

-6.59

1992

1,409

-1.95

67

-21.18

1993

1,889

34.07

68

1.49

1994

4,295

127.37

145

113.24

1995

4,768

11.01

145

0.00

1996

4,308

-9.65

116

-20.00

1997

1,738

-59.66

185

59.48

1998

12,321

608.92

132

-28.65

1999

13,439

9.07

104

-21.21

2000

8,800

-34.52

90

-13.46

2001

5,318

-39.57

54

-40.00

2002

4,940

-7.11

56

3.70

2003

4,379

-11.36

61

8.93

2004

5,379

22.84

75

22.95

2005

6,802

26.45

111

48.00

2006

10,013

47.21

149

34.23

2007

15,775

57.55

191

28.19

Rata-rata Pertumbuhan (%)
1987 - 1997
1998-2007

5.77

10.55

67.95

4.27

Sumber : Direktorat Jenderal PPHP diolah Pusdatin

26

Pusat Data dan Informasi Pertanian

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Lampiran 2.6. Perkembangan ekspor - impor dan neraca perdagangan kopi
Indonesia, 1996 – 2008
Ekspor
Tahun

Volume
(Ton)

Impor

Nilai
(000 US$)

Volume
(Ton)

Nilai
(000 US$)

Neraca
(000 US$)

1996

366,602

595,269

312

590

594,679

1997

313,118

511,321

10,507

13,908

497,413

1998

357,550

603,243

2,965

4,171

599,072

1999

352,763

466,827

2,917

3,303

463,524

2000

339,201

318,895

13,718

11,148

307,747

2001

250,817

188,492

8,294

5,086

183,406

2002

325,010

223,917

7,665

4,462

219,455

2003

323,904

259,107

4,397

5,893

253,214

2004

344,077

294,114

5,690

6,867

287,247

2005

445,930

504,407

3,195

6,221

498,186

2006

414,105

588,502

6,600

11,760

576,742

2007

320,850

635,067

49,732

77,773

557,294

2008

439,135

931,575

7,278

17,676

913,899

35.09

23.83

5.75

1,064.74

722.16

(6.18)

71.32

68.21

19.74

Rata-rata Laju Pertumbuhan (%)
1996-2008

3.11

4.42

1996-1999

(0.58)

(6.25)

5.78

18.74

2000-2008
Sumber

: BPS diolah Pusdatin

Keterangan : ( ) pada neraca berarti harga impor lebih tinggi dibandingkan harga ekspor

Pusat Data dan Informasi Pertanian

27

555 1998 10.229.46 4.27 -11.46 24.189 1987 10.92 1.675 Pertumb.938.75 2.70 25.305 6.06 21.83 2.02 18.179.42 2.397.005.1997 1998 .75 -0.232.868.87 13.35 -6.460 2000 10.191.926 6.667.827 7.85 -1.794.768 2007 10.22 -2.653.594.928 6.155.175 4.906.15 10.812.82 (Kg/Ha) 433 514 511 472 532 512 444 490 503 509 481 585 503 550 514 563 495 588 506 525 535 558 581 546 575 565 629 609 661 659 704 695 773 697 735 698 766 754 Pertumb.339.63 9.17 2.774.82 -1.217.853.86 13.254 6.53 -0.92 1.586 1971 9.89 0.60 3.302 2001 10.575.447 6.363.21 -8.143 4.724 4.540.41 -0.71 -6.411.10 0.47 0.729.70 -3.982.622.086.258 4.393.63 -0.766.884.034 1973 8.940.34 4.255 6.13 8.76 -4.48 0.82 -3.814.207 5.38 Sumber : FAO diolah Pusdatin 28 Pusat Data dan Informasi Pertanian .75 5.492.66 -0. 1970 – 2007 Luas Produksi Produktivitas Tahun (Ha) 1970 8.760 5.218 1995 9.23 -5.40 5.56 -7.916.95 1.295.53 -12.05 -6.47 -2.67 -1.186 4.096.348 1997 9.993 2006 10.005.655. (%) 21.11 -9.98 3.080 5. Perkembangan luas areal.782.492 6. produksi dan produktivitas kopi dunia.770.23 1.22 -3.81 2.51 -10.Outlook Pertanian .976.243.21 -5.639 5.330 1985 10.70 12.15 -6.73 3.323 1996 9.66 1.36 4.244.10 -2.10 -1.186 4.270 7.367.391 4.566.434 1999 10.447 7.72 1.80 -3.110 1977 8.62 3.09 11.380 1989 11.27 6.39 13.398 1974 8.504 5.210.886.12 2.53 -0.074.08 6.87 7.508 4.96 -8.25 -0.12 8.564.74 1.72 0.193.408.182.2007 1970 .43 0.30 0.030 1975 9.072 2002 10.23 2.25 -1.289 Rata-rata pertumbuhan (%) 1970 .72 11.79 -13.058 5.708 4.607.497 7.80 5.634 1983 10.343 2005 10.841.892.050 1988 11.55 4.79 -14.205 6.736 7.98 12.872 1984 10.655.70 -3.36 -2.219 1981 10.72 -8.10 2.51 1.59 2.7.90 -11.211 1993 10.03 3.160 1982 9.313 2003 10.831.52 21.937.Perkebunan 2009 « Lampiran 2.109.856. (%) 18.154.939 1972 8.41 10.38 -3.91 4.46 (Ton) 3.05 0.295 1994 10.42 11.497 5.278.966 1991 10.497 5.287 1992 10.403.86 0.209 3.077.06 5.23 -1.050 6.30 2.47 -5.61 2.526.04 9.936 1976 7.547 1986 10.722 7.417 7.83 -14.04 9.043.303.2007 Pertumb.151 1990 11.995.687 1978 9.182 1979 9.776.112 7.741.27 11.951.54 -23.363.53 2.588.149.078.065.12 -1.15 -0.95 2.70 -18.438 4.530 5. (%) 2.925 2004 10.94 -3.493 1980 10.47 0.

171 171.89 5 Mexico 310.26 50.01 6 India 275.710 2.368 2.000 274.580 156.67 Colombia 694.042 8.080 680.55 1.938 672.199 2.91 76.700 836.000 218.158 676.760.000 309.807.23 Viet Nam 793.500 1.476 682.600 225.000 3.000 320.000 859.333 2.736 7.148 224.246 2.622.300 229.675 7. Negara produsen kopi dunia.766.091 1.255 647.314 230.000 274.270 7.060.530 1.Perkebunan 2009 « Lampiran 2.00 7. 2003 – 2007 No Produksi (Ton) Negara 2003 1 Brazil 2 3 2004 2005 2006 2007 Share (%) Share Kumulatif (%) Rata-rata 1.» Outlook Pertanian .364 310.000 694.658 Sumber : FAO diolah Pusdatin Pusat Data dan Informasi Pertanian 29 .112 7.577 174.268.95 59.600 216.465.060 11.631 241.45 41.913 30.340 3.169 2.074 2.987.955 258.482 325.741.154.178.774.45 100.000 710.505.385 682.415 23.828 9.140.800 223.809.93 4 Indonesia 671.413 294.000 275.23 30.65 67.98 73.480 696.976 1.000 275.497 7.200 220.580 693.210.674.64 9 Peru 10 Negara Lainnya Dunia 203.640 1.000 271.8.12 64.000 216.861 312.528 4.768.573.66 7 Guatemala 244.100 853.000 752.00 70.838 1.66 8 Ethiopia 221.

47 4.48 2002 5.55 10.86 3.961 9.860 0.29 2.650 3.786 -18.96 11.642 -4.38 4.13 6.194 -32.260 0.583 22.005 -22.69 1999 5.525 -3.359 -19.435 -35.591 -19.Outlook Pertanian .647 16.095 41.492 0.73 5.723 1.54 2000 5.37 1975 3.03 1988 4.05 3.242 2.264 -31.550 -2.28 5.856 3.086 24.15 11.188 49.38 1989 4.711 12.783 86.112 -5.97 1990 4.18 3.75 6.95 4.59 1972 3.02 1979 3.60 7.693 -11.425 -5.10 9.346 3.566 -2.96 1984 4.845 64.71 4.534 10.28 5.06 10.104 -8.440 -1.54 9.46 4.302 4.714 2.71 1985 4.75 5.78 1998-2007 2.796 1.53 8.07 2006 5.08 2001 5.106 0.08 5.72 5.62 1.943 1.00 13.240 -7.17 4.06 5.86 2007 6.122 34.02 1996 4.51 6.947 1.56 16.16 11.888 -19.251 3.33 8.519 4.204 3.361 -10.128 4.860 2.42 13.66 12.713 -2.14 1993 4.583 -28. Perkembangan ekspor dan impor kopi dunia.17 6.822 3.21 1.64 3.366 10.00 1983 3.209 26.409 -15.194 18.03 1987 4.15 12. Nilai Pertumb.628 -5.62 10.62 3.06 12.50 1970-2007 2.13 11.142 -11.60 10.526 5.22 1991 4.550 16.64 13.460 -13.54 9.98 4.71 4.82 13.86 3.791 -3.018 0.95 10.413 32.046 3.147 9.977 -7.420 32.20 9.212 70.604 2.93 3.247 3.82 9.59 9.41 5.727 15.177 1971 3.85 10.01 8.55 5.767 -13.886 5.63 5.463 14.287 13.235 -0.39 10.077 17.151 6.04 4.89 1.800 -32.47 3.908 0.366 9.41 2.65 11.85 9.424 -4.83 1981 3.720 9.047 3.75 3.61 3.91 1994 4.17 5.665 -0.Perkebunan 2009 « Lampiran 2.56 7.087 -6.427 7.960 -5.081 2.58 4.541 8.260 7.93 5.59 5.18 2003 5.87 12.40 8. Nilai Pertumb.760 9.153 96.52 8.50 3.063 -3.42 1.396 17.043 -13.160 1.841 1.787 7.81 2005 5.69 9.97 14.77 9.232 -1.964 1.71 8.82 11.655 13.54 14.844 4.626 -10.611 5.125 -1.87 1997 4.831 13.60 3. diolah oleh Pusdatin 30 Pusat Data dan Informasi Pertanian .00 7.570 -2.758 6.731 5.60 1992 4.29 4.641 -1. (000 ton) (%) (US$ Juta) (%) (000 ton) (%) (US$ Juta) (%) 1970 3.677 -1.325 -4.33 8.17 1980 3.79 4.939 1.449 -1.88 7.886 6.822 13.28 6.46 3. Volume Pertumb.96 5.54 13.75 5.88 2004 5.763 6.19 11.154 -1.281 -21.351 23.899 1.04 6.14 4.43 1976 3.49 1978 3.33 4.9.082 -23.893 2.58 10.83 1973 3.232 -4.46 4.438 2.21 10.499 4.119 -6.689 -4. 1970 – 2007 Ekspor Impor Volume Pertumb.034 -9.733 0.94 14.12 11.26 4.960 -9.564 34.65 1995 4.90 4.68 4.694 6.683 8.865 -27.147 9.73 1982 3.38 1974 3.29 3.93 13.34 1977 2.39 1986 3.17 11.334 8.81 Tahun Sumber : FAO.083 3.81 1998 4.37 3.95 10.37 Rata-rata pertumbuhan (%) 1970-1997 1.18 9.417 73.689 -0.05 4.06 3.502 16.73 3.278 33.07 7.85 13.059 -17.623 5.465 29.730 4.14 4.739 10.413 2.743 -11.

206 25.21 3 Colombia 578.696 389.947 193.213.757.988 1.92 6 Guatemala 249.647 400.682.501 4.57 66.80 7 Peru 150.12 25.21 54. Negara eksportir kopi dunia.54 8 Lainnya 1.97 8 Lainnya 1.52 63.674.276.741 424.482 959.745 264.124 142.903 6.636 5.872.522 10.54 22.86 4 Indonesia 323.000 965.67 6 Spain 226.449.967.527 238.617 100.526.2007 No Volume impor (Ton) Negara 2003 1 USA 2 2004 2005 2006 Share (%) 2007 Rata-rata Share kumulatif (%) 1.428 5.920.305 5. 2003 .424.850 369.09 42.621 218.716 1.387 5.419.773 6.724 637.421 601.264 422.66 3 Italy 389.00 Sumber: FAO diolah Pusdatin Pusat Data dan Informasi Pertanian 31 .917 1.29 62.737 5.983 1.859.252.818 400.000 981.031 1.873 414.65 52.956 3.727 1.888 208.002 7.87 67.409 221.670 245.930 414.080 1.301 29.449 33.490 201.380 600.861.730.151 237.338 1.308 22.00 Sumber: FAO diolah Pusdatin Lampiran 2.904 344.03 100.077 445.45 47.768.796 1.430 198.35 58.352.312.97 7 Belgium 185.234.126 951.239.966 225.11 4 Japan 377.475.841.17 70.509.Perkebunan 2009 « Lampiran 2. Negara importir kopi dunia.634 1.488.708 214.809 1.769 193. 2003 – 2007 No Volume ekspor (Ton) Negara 2003 1 Brazil 2004 2005 2006 Share (%) 2007 Rata-rata Share kumulatif (%) 1.902 4.556.00 Dunia 5.593 4.464 1.634 5.228 1.681 222.00 Dunia 5.354 191.229.217 408.» Outlook Pertanian .410.149 574.105 320.137 17.615 178.440 17.10.933 203.977 413.55 59.918 3.345 451.255 1.731 1.000 892.001.159 1.640.537 173.191 1.11.935 616.216 3.919 1.150.12 39.369.659 230.042 241.40 5 Germany 198.000 1.842 221.041 900.32 5 France 287.022.245 302.219.12 2 Vietnam 749.902 1.649.484 5.488 100.880 7.010 5.736 240.554.919 258.46 100.801 1.524 196.232.835 395.534 255.200 976.999 5.141 290.097 1.408 239.612.587 1.54 Germany 872.755.818 240.

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

III. LADA
Lada atau merica (Piper nigrum L.) adalah tumbuhan penghasil rempahrempah yang berasal dari bijinya. Lada sangat penting dalam komponen masakan
dunia. Pada masa lampau harganya sangat tinggi sehingga memicu penjelajah
Eropa berkelana untuk memonopoli lada dan mengawali sejarah kolonisasi Afrika,
Asia, dan Amerika (Wilkipedia, 2009).
Sejak jaman dahulu kala, Indonesia dikenal sebagai negara penghasil
rempah-rempah

yang

terkenal,

sebagian

besar

rempah-rempah

yang

diperdagangkan di dunia adalah lada (Peper nigrum Linn). Produksi lada pada
satu dekade terakhir ini mengalami fluktuasi yang cukup drastis dan cenderung
semakin menurun, bahkan semakin sulit menembus dan bersaing dalam
perdagangan internasional. Apalagi rendahnya mutu lada yang dihasilkan oleh
petani

menyebabkan

lada

asal

Indonesia

sering

mengalami

penahanan

(detention) oleh Food and Drugs Administrantion (FDA) di Amerika Serikat.
Penahanan tersebut terjadi karena adanya pencemaran oleh mikroorganisme,
bahan asing, kadar air, dan kadar minyak lada yang tidak memenuhi syarat.
Permasalahan di atas disebabkan karena mayoritas masyarakat petani lada di
Indonesia masih menggunakan teknologi tradisional, baik dalam budidayanya
maupun dalam penanganan pasca panennya. Disamping faktor teknologi tersebut,
perangkat sistem dan kebijakan yang ada juga tidak mendukung bagi terciptanya
suatu mekanisme pasar yang kondusif (Mulyono D, 2002).
Di pasar internasional, lada Indonesia mempunyai kekuatan dan daya jual
tersendiri karena cita rasanya yang khas. Lada Indonesia dikenal dengan nama
Muntok white pepper untuk lada putih dan Lampung black pepper untuk lada
hitam. Peranan Indonesia sebagai penghasil dan pengekspor lada hitam telah
digeser oleh Vietnam, sementara lada putih masih bisa dipertahankan namun
tetap harus waspada. Agar dapat bersaing di pasar dunia maka harus dilakukan
efisiensi budidaya lada Indonesia dan pengembangan diversifikasi produk lada.
Dari sisi teknologi salah satunya adalah dikembangkannya varietas Natar I yang
cocok untuk ditanam di Lampung (Manohara Dyah, dkk, 2009).

Pusat Data dan Informasi Pertanian

33

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Diversifikasi produk diperlukan bila produk utama harganya jatuh.
Disamping mengembangkan lada pada lahan yang sesuai, serta menerapkan
teknologi rekomendasi dan efisiensi biaya produksi juga perlu ditingkatkan peran
kelembagaan mulai dari kelembagaan di tingkat petani (KUD, APLI, kelompok tani)
sampai kelembagaan pemasaran seperti AELI dan IPC (Yuhono, JT. 2009).

3.1. PERKEMBANGAN LUAS AREAL, PRODUKSI, DAN PRODUKTIVITAS
LADA DI INDONESIA
Luas areal tanaman lada yang diusahakan di Indonesia pada periode 19672008 menunjukkan kecenderungan meningkat dengan laju pertumbuhan rataratanya 4,34% per tahun (Gambar 3.1.). Pertumbuhan rata-rata pasca krisis
ekonomi Indonesia (1998-2008) menunjukkan angka yang lebih tinggi yaitu 5,36%
per tahun. Apabila ditinjau pertumbuhan rata-rata luas areal lada menurut status
pengusahaan, maka pada periode 1967-1997 luas areal perkebunan besar swasta
(PBS) tumbuh sebesar 24,99%, lebih tinggi dibanding pertumbuhan di perkebunan
rakyat (PR) yang hanya 3,96%. Namun demikian, pada periode selanjutnya (19982008) terjadi sebaliknya, pertumbuhan luas areal lada PBS turun hingga 19,02%
per tahun dan PR meningkat sebesar 5,38% per tahun (Lampiran 3.1).

Gambar 3.1. Perkembangan luas areal lada di Indonesia, 1969-2008
Di Indonesia, areal lada didominasi pengusahaannya PR, dan sebagian kecil
adalah areal PBS. Berdasarkan data rata-rata 5 tahun (2004-2008), besarnya

34

Pusat Data dan Informasi Pertanian

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

kontribusi luas areal lada PR adalah 99,95% terhadap total areal perkebunan lada
di Indonesia (Gambar 3.2.).

Gambar 3.2. Kontribusi luas areal lada di Indonesia menurut status pengusahaan,
(rata-rata 2004-2008)
Sejalan dengan peningkatan luas areal, total produksi lada Indonesia juga
mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu dari 16,50 ribu ton pada
tahun 1967 menjadi 79,79 ribu ton pada tahun 2008 dengan rata-rata
pertumbuhan sebesar 8,08% per tahun (Gambar 3.3). Produksi lada nasional
mencapai puncaknya pada tahun 2003, yaitu sebesar 90,71 ribu ton. Setelah
tahun tersebut terjadi penurunan produksi (Lampiran 3.2).

Gambar 3.3. Perkembangan produksi lada di Indonesia, 1967-2008
Berdasarkan data produksi rata-rata tahun 2004-2008, terdapat 6 provinsi
sentra produksi lada PR yang mempunyai kontribusi kumulatif hingga 81,55%,

Pusat Data dan Informasi Pertanian

35

Gambar 3. Peringkat kedua adalah Bangka Belitung (21. Provinsi Lampung memberikan kontribusi terbesar terhadap total produksi Indonesia hingga mencapai 28. Kalimantan Timur. sedangkan provinsiprovinsi bukan sentra hanya memberikan kontribusi kurang dari 5% (Gambar 3.5. Gambar 3.). 1967-2008 36 Pusat Data dan Informasi Pertanian .38 ton/ha. Perkembangan produksi lada di provinsi sentra dari tahun 2004-2008 secara rinci disajikan pada Lampiran 3.» Outlook Pertanian . Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.78%). Perkembangan produktivitas lada di Indonesia. secara umum selama periode 1967-2008 tampak berfluktuasi namun menunjukkan kecenderungan menurun (Gambar 3.4.09 ton/ha dan terendah pada tahun 1970 dan 2004 yaitu sebesar 0. Sulawesi Selatan. Bangka Belitung.3.5. (rata-rata 2004-2008) Dari sisi produktivitas.4). diikuti Kalimantan Timur (12.33%). Provinsi sentra produksi lainnya dibawah 7%.Perkebunan 2009 « yaitu Provinsi Lampung.47%. Provinsi sentra produksi lada di Indonesia. Produktivitas lada tertinggi terjadi pada tahun 1968 sebesar 1.

6.4.5. Perkembangan produktivitas lada di Indonesia menurut status pengusahaan.20 0. produktivitas lada PR ternyata lebih tinggi dibandingkan PBS.00 2004 2005 PR 2006 PBS 2007 2008*) Indonesia Gambar 3. PERKEMBANGAN KONSUMSI LADA DI INDONESIA Konsumsi lada oleh rumah tangga di Indonesia bersumber dari hasil Survei Sosial Ekonomi (SUSENAS) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik setiap 3 tahun sekali. Konsumsi perkapita oleh rumah tangga tertinggi terjadi pada tahun 1996 dan terendah pada tahun 1987. Perkembangan konsumsi lada perkapita oleh rumah tangga selama tahun 1984-2008 menunjukkan berfluktuasi dan cenderung menurun (Gambar 3.80 0.2.00 0. Pusat Data dan Informasi Pertanian 37 .).). besarnya produktivitas lada PBS sebesar 0.» Outlook Pertanian . bahkan sejak tahun 2003 dipantau tiap tahun. Berdasarkan data rata-rata tahun 2004-2008. Dilihat dari pertumbuhan rata-rata konsumsi lada perkapita pada tahun 1984-2008 meningkat sebesar% 3. (Ton/Ha) 1.).7.49 per tahun (Lampiran 3.). (rata-rata 2004-2008) 3.Perkebunan 2009 « Sementara.67 ton/ha (Lampiran 3.60 0. Perkembangan produktivitas lada periode 2004-2008 di PR relatif tetap. apabila dilihat berdasarkan status pengusahaannya. sementara di PBS terjadi peningkatan di tahun 2006 tetapi menurun kembali pada tahun berikutnya (Gambar 3.40 0.33 ton/ha sementara pada PR telah mencapai 0.6.

Indonesia merupakan salah satu negara eksportir lada terbesar dunia. 1984-2008 3.» Outlook Pertanian .83% per tahun dan nilai ekspornya tumbuh rata-rata 68.7.6. Gambar 3. 1969-2008 38 Pusat Data dan Informasi Pertanian .09 juta.3.). Ekspor lada tertinggi terjadi pada tahun 2000 dengan volume sebesar 65.8.). PERKEMBANGAN EKSPOR-IMPOR LADA DI INDONESIA Lada merupakan rempah-rempah yang dibutuhkan dunia sejak lama.01 ribu ton dan nilai sebesar US$ 221. Ekspor lada Indonesia umumnya dalam bentuk biji kering dan lebih dari 50% produksi lada dalam negeri ditujukan untuk ekspor.Perkebunan 2009 « Gambar 3.04% per tahun (Lampiran 3. Volume maupun nilai ekspor lada Indonesia sejak tahun 1969 sampai dengan 2008 tampak berfluktuasi (Gambar 3. Perkembangan konsumsi lada di Indonesia. Perkembangan ekspor lada Indonesia. Pertumbuhan rata-rata volume ekspor tahun 1969-2008 meningkat sebesar 27.8.

21% per tahun (Lampiran 3.Perkebunan 2009 « Meskipun melakukan ekspor.10.» Outlook Pertanian . Gambar 3. 3.49 ribu ton dengan nilai impor sebesar US$ 18. Volume dan nilai impor tertinggi terjadi pada tahun 1998 sebesar 16. Absolut volume impor lada memang tidak sebesar volume ekspor namun dari sisi pertumbuhan rata-ratanya selama tahun 1969-2008 menunjukkan peningkatan yang lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekspornya yaitu meningkat sebesar 338.9.89% per tahun. sedangkan nilainya sebesar 174.). seperti terlihat pada Gambar 3.9.10. Surplus tertinggi terjadi pada tahun 2000 sebesar 218. Tampak pada Gambar 3. Laju pertumbuhan luas tanaman menghasilkan lada dunia tersebut meningkat rata-rata sebesar 2. 1969-2008 Sementara neraca perdagangan lada menunjukkan surplus.4. dengan perkembangan per tahun juga relatif berfluktuasi (Gambar 3.23 juta.). pertumbuhan luas tanaman menghasilkan lada dunia pada periode 1998-2007 Pusat Data dan Informasi Pertanian 39 . artinya nilai ekspor lebih besar daripada nilai impornya.6. PERKEMBANGAN LUAS TANAMAN MENGHASILKAN. PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS LADA DUNIA Perkembangan luas tanaman menghasilkan lada dunia berdasarkan data FAO periode tahun 1961-2007 terus meningkat.44 juta US$. Perkembangan impor lada di Indonesia. Indonesia juga melakukan impor lada. Ini menunjukkan bahwa komoditas lada merupakan salah satu komoditas yang berkontribusi terhadap devisa negara meskipun surplusnya cenderung menurun.96% per tahun.

03% per tahun.95% (Lampiran 3. Gambar 3.Perkebunan 2009 « lebih tinggi.). Perkembangan produksi lada dunia. selama tahun 1961-2007 produksi lada dunia meningkat sebesar 5.7.10. seperti terlihat pada Gambar 3.) Gambar 3.14 ribu ton (Lampiran 3. Perkembangan luas tanaman menghasilkan lada dunia. Berdasarkan data FAO. besarnya pertumbuhan rata-rata adalah 4.15% per tahun. 1961-2007 40 Pusat Data dan Informasi Pertanian . Pertumbuhan luas tanaman menghasilkan tertinggi terjadi pada tahun 1996 dengan pertumbuhan sebesar 20.11.11. 1961-2007 Perkembangan produksi lada dunia sejalan dengan luas tanaman menghasilkan yaitu cenderung meningkat.» Outlook Pertanian . Produksi lada dunia tertinggi selama satu dekade terakhir terjadi pada tahun 2006 sebesar 439. Hal ini dikarenakan lada tidak hanya sebagai rempah bumbu masakan tetapi juga digunakan sebagai obat dan bahan baku parfum.7.

90% per tahun (Gambar 3. Pertumbuhan produktivitas lada dunia tertinggi terjadi pada tahun 1962 yaitu meningkat sebesar 39.Perkebunan 2009 « Berdasarkan data rata-rata produksi lada dunia tahun 2003-2007.13.12. Perkembangan produktivitas lada dunia.13). negara produsen lada terbesar dunia urutan pertama adalah Indonesia.12. Secara rinci produksi lada tahun 2003-2007 di negara-negara produsen lada dunia disajikan pada Lampiran 3. tampak berfluktuasi namun cenderung meningkat sebesar 1.). Keempat negara tersebut memberikan kontribusi produksi lada dunia hingga 73%. 1961-2007 Perkembangan produktivitas lada dunia selama tahun 1961–2007. (Rata-rata 2003-2007) Gambar 3.54%. diikuti kemudian India.» Outlook Pertanian . Negara produsen lada terbesar dunia.73% (Gambar 3. Vietnam dan Brazil. masing-masing negara memberikan kontribusi produksi lada antara 17% hingga 18. Gambar 3. sementara pertumbuhan produktivitaws lada Pusat Data dan Informasi Pertanian 41 .8.

2003-2007 Hal yang menarik dari ekspor dan impor lada dunia adalah negara-negara eksportir dan negara importir. Vietnam merupakan negara eksportir tertinggi dunia dengan kontribusi sebesar 31. 3. dan Indonesia pada urutan ketiga dengan kontribusi sebesar 12. Perkembangan volume ekspor dan impor lada dunia.07% dan volume ekspor lada 40.94% dan volume sebesar 98. PERKEMBANGAN EKSPOR-IMPOR LADA DUNIA Perkembangan ekspor-impor lada dunia relatif seimbang antara volume ekspor dan volume impornya. Diikuti kemudian oleh Brazil pada urutan kedua dengan kontribusi sebesar 13.15).14. Berdasarkan data volume ekspor lada dunia dari FAO (2003-2007).9). Gambar 3.64 kg/ha.26 ribu ton.54% per tahun.08% per tahun (Lampiran 3.59% terhadap 42 Pusat Data dan Informasi Pertanian . seperti yang tersaji pada Gambar 3. Ketiga negara ini memberikan kontribusi ekspor lada dunia sebesar 57.14. pertumbuhan rata-rata volume ekspor lada dunia meningkat 3.58% dan volume ekspor lada 38.Perkebunan 2009 « dunia tahun 1998-2007 meningkat sebesar 2. Pada periode tahun 1961-2007.7).5.» Outlook Pertanian .45% per tahun (Lampiran 3. Produktivitas rata-rata lada dunia lima tahun terakhir (2003-2007) telah mencapai 847.38 ribu ton.77 ribu ton (Gambar 3. sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ratarata volume impor lada dunia yaitu meningkat 3.

25% (26. Negara berikutnya adalah Germany yang memberikan kontribusi sebesar 9. (rata-rata 2003-2007) Pusat Data dan Informasi Pertanian 43 .16. Secara rinci kontribusi beberapa negara importir lainnya disajikan pada Lampiran 3. Negara pengimpor lada terbesar dunia adalah USA yang memberikan kontribusi sebesar 23.» Outlook Pertanian .14 ribu ton). Negara eksportir lada terbesar dunia. Negara berikutnya hanya memberikan kontribusi dibawah 5. negara-negara importir lada dunia adalah seperti tampak pada Gambar 3. Negara importir lada terbesar dunia.87 ribu ton). (rata-rata 2003-2007) Sementara itu.11.10.61% (15.25 ribu ton. Gambar 3. Secara rinci volume ekspor tahun 2003-2007 dari beberapa negara eksportir lada dunia disajikan pada Lampiran 3.44% terhadap total volume impor lada dunia dengan realisasi impor sebesar 66.5% terhadap total volume impor lada dunia.15.Perkebunan 2009 « total ekspor lada dunia.16. diikuti India pada urutan ketiga dengan kontribusi sebesar 5. Gambar 3.

6.10% yang menunjukkan bahwa peubahpeubah yang digunakan dalam model dapat menjelaskan keragaman model produksi lada sebesar 94. Tahun 2009 diperkirakan produksi lada di Indonesia mencapai 79.). akan meningkatkan produksi lada sebesar 0. Sedangkan bila harga ekspor 3 tahun sebelumnya meningkat satu satuan maka akan meningkatkan produksi lada pada tahun ke-t sebesar 3. menunjukkan bahwa produksi lada dipengaruhi oleh luas areal secara positif sebesar 0. Berdasarkan fungsi respons dengan menggunakan model regresi berganda diperoleh informasi bahwa produksi lada Indonesia dipengaruhi oleh luas areal lada (t) dan harga ekspor 3 tahun sebelumnya (t-3). produksi lada di Indonesia diproyeksikan akan meningkat selama periode tahun 2009-2011. Koefisien determinasi dari fungsi respons diperoleh sebesar 94.1502 satuan.00 Luas Areal 0. Prob(F-stat) = 0.3044.10% .59% per tahun (Tabel 3.1. sehingga proyeksi penawaran lada berdasarkan perilaku harga ekspor dan luas areal lada. artinya setiap kenaikan luas areal tahun tersebut sebesar satu satuan. Dengan fungsi penawaran tersebut.3044 satuan.2.1502 0. Hasil analisis fungsi respons produksi lada di Indonesia Peubah Koefisien p-value Konstanta 13682 0.41 ribu ton dan akan terus meningkat hingga mencapai 85. PROYEKSI PENAWARAN LADA 2009-2011 Sebagian besar produksi lada Indonesia diperuntukkan ekspor. 44 Pusat Data dan Informasi Pertanian .00 Harga Ekspor (t-3) 3. Secara rinci hasil fungsi respon produksi lada disajikan pada Tabel 3. Tabel 3.1.00 Tabel 3.10%.» Outlook Pertanian .1.97 ribu ton pada tahun 2011 dengan rata-rata peningkatan sebesar 2.00 R2 = 94.3044 0.Perkebunan 2009 « 3.

BPS) yang dilakukan setiap 3 tahun sekali dikalikan dengan jumlah penduduk.32 ribu ton pada tahun 2011.Perkebunan 2009 « Tabel 3.» Outlook Pertanian . total permintaan lada pada tahun 2009 diperkirakan akan mencapai 75.52.7. Hasil proyeksi permintaan lada oleh rumah tangga serta permintaan untuk disajikan pada Tabel 3. Pemodelan proyeksi permintaan lada untuk konsumsi menggunakan pemulusan eksponensial berganda (double exponential smoothing) dengan MAPE sebesar 12.59 Keterangan: *) Angka Sementara dari Ditjen Perkebunan 3.40 2010 84.88% per tahun.969 1.3.53 Rata-rata pertumbuhan (%) Pertumbuhan (%) 2. Data konsumsi per kapita diperoleh dari hasil SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional.409 -0.2.671 6. Pusat Data dan Informasi Pertanian 45 . data ekspor diolah dari data yang dipublikasikan oleh BPS. PROYEKSI PERMINTAAN LADA 2009-2011 Proyeksi permintaan lada didekati dari permintaan untuk memenuhi konsumsi perkapita oleh rumah tangga serta permintaan untuk ekspor. Sementara. Dari hasil pemodelan tersebut pada periode tahun 2009 – 2011 total permintaan lada Indonesia diproyeksikan akan sedikit menurun dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 1. Sedangkan proyeksi permintaan untuk ekspor menggunakan pemulusan tunggal dengan nilai MAPE sebesar 86. 2009-2011 Tahun Produksi (Ton) 2008*) 79. Tahun-tahun dimana tidak ada survei dihitung dengan interpolasi. Secara absolut.46 ribu ton dan akan meningkat lagi hingga mencapai 76.726 2009 79. Hasil proyeksi produksi lada di Indonesia.63 2011 85.90 ribu ton pada tahun 2010 dan 78.

226 44. 2009-2011 Tahun Penawaran (Ton) Permintaan (Ton) Suplus/Defisit (Ton) 2009 79.678 76.85 Rata-rata pertumbuhan (%/tahun) 3. Tabel 3. Dari Tabel 3.4.646 44.(%) 2.Perkebunan 2009 « Tabel 3.77 ribu ton pada tahun 2010.303 2009 30.4.951 2010 84.324 7.969 78.767 2011 85.645 Pertumb.780 44.95 ribu ton pada tahun 2009 dan meningkat menjadi 7. maka dapat dihitung defisit/surplus ketersediaan lada di Indonesia seperti tersaji pada Tabel 3. 2009-2011 Tahun Konsumsi rumah tangga (Ton) Permintaan untuk ekspor (Ton) Total permintaan (Ton) Pertumbuhan (%) 2008 30.» Outlook Pertanian .4.42 2010 32.458 3.904 7. 46 Proyeksi surplus/defisit lada di Indonesia.671 76.88 Pusat Data dan Informasi Pertanian .8.407 83.458 -9.3. Proyeksi total permintaan lada di Indonesia. ternyata masih terjadi surplus lada sebesar 3. -1.678 78.678 75. dan sedikit menurun menjadi 7.88 PROYEKSI SURPLUS/DEFISIT LADA 2009-2011 Berdasarkan atas proyeksi penawaran dan total permintaan lada selama periode tahun 2009 – 2011.904 1.64 ribu ton pada tahun 2011.409 75.324 1.896 52.59 -1.92 2011 33.

068 204. 1967 – 2008 PR Tahun (Ha) 37.332 1980 68.07 0.909 13.67 -2.62 -15.706 1993 130.00 0.» Outlook Pertanian .235 127.783 127.97 5.10 -10.772 2003 204.38 Pertumb.44 3.17 -1.56 -1.17 -6.992 192.063 50.50 0.56 0.310 1981 76.10 -10.73 -2.70 -1.90 32.093 1969 1970 45.63 9.96 5.697 Sumber PBS Pertumb.37 1.37 4.40 13.050 83.954 42.63 0.142 1978 64.00 0.522 2000 150.00 453.32 14.00 24.17 -6.23 5.47 1.554 76.885 1999 136.054 190.397 1979 63.52 1. (%) (Ha) 4.577 63.022 204.128 2004 201.920 1998-2008 179.200 130.069 179.42 -83.32 -1.265 136.91 166 149 212 Indonesia 0.773 Rata-rata pertumbuhan (%) 1967-2008 108.955 1983 78.69 -0.18 -15.884 1967-1997 82.954 1968 40.84 0.00 -22.842 1988 106.842 150.36 : Ditjen Perkebunan Keterangan : PR = Perkebunan Rakyat *) = Angka Sementara Pusat Data dan Informasi Pertanian PBS = Perkebunan Besar Swasta 47 .65 7.801 2006 192.33 2.540 1992 126.185 1995 134.857 106.07 103.182 80.44 5.957 1998 130.58 9.34 35.27 0.689 126.50 -5.115 105.647 1989 115.398 1991 126.263 131.14 17.736 81. (%) 0 0 0 0 3 3 0 0 0 0 58 180 244 244 188 109 116 19 16 10 15 83 145 184 243 494 590 488 402 340 306 380 320 318 318 296 236 236 191 32 4 4 13.79 -37.13 2.91 -1.00 13.00 0.576 68.29 -17. (%) 37.50 50.34 3.064 78.063 1971 50.00 0.673 134.79 -0.29 19.364 201.968 79.00 -6.831 1973 46.248 2005 191.19 24.968 45.71 0.632 111.572 2007 189.213 2001 185.730 115.76 7.949 1985 79.62 -15.40 -1.07 0.954 40.97 10.74 30.484 191.66 12.45 3.25 -87.604 189.086 1994 127.42 -10.70 0.65 4.50 0.31 10.41 -4.83 12.50 0.98 -12.13 0.66 12.00 0.050 2008*) 190.286 48.292 1997 110.03 23.777 109.34 3.99 -19.105 1987 105.00 0.066 1984 80.43 14.200 64.834 46.02 (Ha) Pertumb.40 13.67 0. Perkembangan Luas Areal Lada Indonesia Menurut Status Pengusahaannya.99 5.582 126.00 0.98 4.96 4.00 210.86 12.07 -83.99 5.090 1990 127.074 1976 53.00 0.965 1972 45.69 0.093 45.817 56.531 186.720 1986 81.25 10.55 7.43 -17.594 1982 76.73 0.33 74.44 5.82 7.92 -20.91 4.95 -12.30 5.63 0.37 4.1.074 53.903 1975 51.782 77.83 0.73 30.71 -0.52 1.58 -5.70 26.954 1967 42.704 2002 203.14 17.00 0.69 -1.00 -19.287 1996 126.676 127.00 23.95 -42.Perkebunan 2009 « Lampiran 3.02 6.41 -4.65 4.00 0.903 51.817 1977 56.286 1974 48.15 -1.92 10.

44 3.00 -4.272 2006 77.603 1981 39.725 Rata-rata pertumbuhan (%) 1967-2008 52.321 65.952 1995 58.75 -0.00 0.54 8.00 19.84 9.57 -16.00 40.06 -11.55 0 0 0 0 5 1 0 0 0 0 3 24 23 23 23 48 51 2 2 5 15 21 25 49 70 128 113 91 108 88 64 69 62 124 110 84 96 49 56 12 2 1 0.42 38.91 5.61 -15.00 14.2. (%) (Ton) Pertumb.337 77.719 Sumber Indonesia Pertumb.951 65.934 1976 36.52 16.296 76.579 46.61 -15.64 14.256 1988 65.575 27.10 1.59 0.097 2003 90.29 -23.824 1990 69.00 42.14 100.12 12.396 36.492 1975 22.70 6.13 12.00 -100.257 1989 67.284 26.80 -29.00 0.886 1993 65.00 -11.02 14.96 -4.49 3.47 18.791 1978 46.87 54.00 200.668 39.60 -12.27 7.839 46.113 40.25 -96.889 69.86 9.» Outlook Pertanian .60 -12.774 1984 46.919 42.07 -11.38 7.82 -63.00 0.05 96.194 79.43 6.17 0.21 -5.09 1.50 -10.08 8.70 16.162 90.510 1974 27.331 1980 36.00 0.048 1985 40.028 82.11 7.709 77.850 1991 62.76 -0.29 -48. 1967 – 2008 PR Tahun (Ton) 16.33 0.810 1982 39.664 45.81 : Ditjen Perkebunan Keterangan : 48 PBS PR = Perkebunan Rakyat PBN = Perkebunan Besar Negara PBS = Perkebunan Besar Swasta *) = Angka Sementara Pusat Data dan Informasi Pertanian .Perkebunan 2009 « Lampiran 3.017 58.801 1973 28.00 150.81 -29.84 9.227 69.557 22.96 14.479 1992 64.21 -63.53 15. (%) 182.88 13.866 28.135 1979 32.947 1967-1997 44.85 1.231 1998-2008 76.56 -16.968 2002 90.42 -3.54 60.45 6.730 17.92 0.599 1983 45.033 90.57 -83.49 -10.53 15.875 39.070 1969 1970 17.72 -19.915 62. (%) (Ton) Pertumb.00 0.85 1.96 -4.854 1977 42.784 8.86 -11.129 2008*) 79.37 7.514 1986 46.87 36.98 -10.44 -3.012 44.790 183.57 0.00 -80.87 54.500 1967 46.024 78.23 32.856 46.42 0.21 8.55 3.81 -10.544 64.145 46.200 32.21 -17.91 0.721 30.33 -50.82 9.21 -17.82 40 33 60 22.709 64.91 -15.734 54.22 32.644 1998 64.847 1996 52.08 0.999 36.665 1968 17.16 -5.44 38.93 2.080 1997 46.534 61.81 15.86 82.669 1994 53.41 53.00 0.433 49.68 -18.00 0.70 -0.00 0.08 8.93 2.00 108. Perkembangan produksi lada Indonesia menurut status pengusahaannya.469 1999 61.521 2007 74.51 -7.29 -78.19 8.99 -10.08 7.644 2004 76.71 -0.586 74.92 13.54 3.963 2001 81.58 60.52 -27.55 -7.74 18.00 16.912 52.500 46.135 17.656 1972 30.91 5.322 67.959 2005 78.368 1987 49.219 1971 26.00 700.162 2000 68.75 18.60 15.

272 0.602 5.981 77. 2004 2008 PR Tahun TM (Ha) Produksi (Ton) PBS Produktivitas (Ton/Ha) TM (Ha) Indonesia Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha) TM (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha) 2004 116.792 78.67 Sumber : Ditjen Perkebunan Keterangan : PR = Perkebunan Rakyat *) = Angka Sementara Pusat Data dan Informasi Pertanian PBS = Perkebunan Besar Swasta 49 .211 24.130 0.33 113.395 2.573 21.182 5. Perkembangan produksi lada pada provinsi sentra di Indonesia.736 16.964 22.336 11.179 76.129 0.191 4.002 74.172 4.25 117.521 0.366 77.397 6.884 21.505 79.292 13.533 0.301 18.726 0.115 16.66 187 49 0.66 2008*) 117.793 4.856 14.426 14.725 77.67 21 12 0.509 79.45 100.622 78.47 28.257 77.68 4 1 0.345 0.» Outlook Pertanian .273 4.129 79. diolah Pusdatin Keterangan : *) angka sementara 2008*) Rata -rata (Ton) 74.011 21.67 2007 112.182 5.070 28.426 13.4.321 0.927 3.69 170 56 0.00 Total 77. 2004 – 2008 Produksi (Ton) No Provinsi Share Kumulatif (%) Share (%) 2004 2005 2006 2007 1 Lampung 20.33 62.55 7 Lainnya 12.080 5.959 0.002 77.69 2006 115. produksi dan produktivitas lada Indonesia menurut status pengusahaan.272 77.96 69.91 81.817 5.3.745 5.78 50.957 9.725 0.959 78.998 74.315 14.25 113.68 Rata-rata 115.Perkebunan 2009 « Lampiran 3.558 6.55 5 Kalbar 4.560 12.398 16.66 2005 113.521 Lampiran 3.962 10.592 22.328 0.521 Sumber : Ditjen Perkebunan.57 116.26 116.267 9.67 77 24 0.334 77.10 75.58 4 Sulsel 4.64 6 Kalteng 6.47 2 Babel 23.582 5.140 16.280 9.66 4 1 0.008 0.221 15.25 3 Kaltim 6.727 6.350 5.261 4. Perkembangan luas tanaman menghasilkan.33 115.

67 0.82 -9.70 0.09 0.01 13.05 4.35 1.82 -9.72 -28.00 5.20 1.72 13. 1984-2008 Tahun Konsumsi (Ons/kapita) Pertumbuhan (%) 1984 1985*) 1986*) 1987 1988*) 1989*) 1990 1991*) 1992*) 1993 1994*) 1995*) 1996 1997*) 1998*) 1999 200*) 2001*) 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 0.49 1.57 1.30 0.47 14.94 0.99 1.82 17.83 -19.56 21.01 1.07 1.83 5.66 1.79 0.5.63 0.01 -19.35 -9.84 17. diolah Pusdatin Keterangan : *) Hasil Interpolasi 50 Pusat Data dan Informasi Pertanian .72 13.57 0.01 -19.56 1.49 : BPS.40 1.84 14.35 25.Perkebunan 2009 « Lampiran 3.00 -13.84 17.47 5.23 1.25 1. Perkembangan konsumsi lada per kapita di Indonesia.78 0.14 1.94 1.» Outlook Pertanian .88 1.47 14.83 5.33 Rata-rata pertumbuhan (%) 1984-2008 Sumber 3.

267 131.87 102.813 21. 1969 .11 -24.662 185.00 6500.011 2001 53.30 -36.08 20.837 218.283 249 343 844 2.942 24.09 37.35 Impor Nilai (000 US$) Pertb.99 -6.567 78.75 5.106 47.96 402.864 163.33 0.90 -4.99 -22.10 21.61 -92.558 66.370 98.18 -15.442 1991 50.214 2003 51.582 50.00 -83.17 -36.575 1971 23.00 0.00 0.39 65.21 70.00 -94.996 1988 41.04 92.93 14. diolah Pusdatin Pusat Data dan Informasi Pertanian 51 .595 155.317 1993 27.637 58.878 52.97 74.831 1977 30.71 500.42 41.418 136.169 24.99 97.18 60.40 15.040 1.309 2.00 39.102 47.00 7.64 0.64 8.593 110.21 190.867 52.948 148.73 3.49 Sumber : BPS dan Ditjen Perkebunan.724 1999 36.068 170.531 2006 36.819 1985 26.00 -63.962 64.00 112.407 Rata-rata pertumbuhan (%) 1969-2008 1969-1987 1988-2008 813.00 675.197 93.970 80.203 1986 29.255 27. impor dan neraca perdagangan lada Indonesia.436 96.639 2002 63.14 -100.59 -2.507 89.49 7.00 0.52 12.953 2007 38.364 2005 34.00 -25.00 0.120 174 333 518 991 414 918 Neraca Pertb.60 3.(%) (000 US$) 0.04 -32.955 1980 29.04 68.89 -55.546 2004 34.654 4.00 0.077 93.917 191.49 17.23 -9.83 36.78 182.485 528 707 3.13 -55.44 54.437 77.293 2000 65.61 -54.38 700.57 -100.798 62.304 57.300 1992 62.62 1607.486 28.03 32.38 23.00 0.99 -13.32 1520.233 404 2.942 24.03 -31.00 -94.919 76.306 22.(%) 1969 336 1970 2.996 1982 36.301 3.582 50.86 24.76 -40.81 46.25 -3.00 2132.46 -94.(%) 682.44 93.045 1995 57.» Outlook Pertanian .293 78.82 16.00 0.00 107.575 1989 42.34 55.657 46.575 66.38 55.955 68.848 1997 33.80 33.06 177.215 64.52 18.169 24.63 38.327 1983 45.28 79.282 78.93 62.54 6.23 15.25 4.26 37.57 -5.24 0.Perkebunan 2009 « Lampiran 3.33 -85.70 -16.00 133.26 Impor 0 0 0 0 0 0 28 58 14 15 0 4 31 11 13 11 88 5 81 4 8 17 22 39 37 41 60 93 2.45 38.00 0.78 556.33 0.14 5.56 91.919 1973 24.034 16.46 -33.31 Ekspor 54 3.367 4.076 18.(%) 0 0 0 0 0 0 92 128 7 5 0 2 11 4 4 3 7 1 6 1 3 198 11 17 27 15 29 29 1.02 15.69 338.271 55.689 1994 36.57 30. Perkembangan ekspor.92 105.941 68.75 146.406 4.866 47.636 155.85 -18.684 190.28 -97.80 1.680 1981 33.604 78.40 -17.00 -95.02 -5.00 3465.339 1.86 7.84 23.13 10.529 1972 24.258 131.781 1996 36.020 64.00 450.386 1998 38.62 18.83 1.144 188.00 -64.120 44.486 28.00 0.33 200.228 64.26 778.27 -5.597 110.40 134.07 -6.07 13.22 121.2008 Tahun Volume (Ton) Ekspor Pertb.838 46.151 44.01 -89.29 -96.245 1976 30.306 22.701 Pertb.330 136.6.445 55.41 77.55 58.630 144.858 1975 15.206 86.50 29.72 -32.06 100.820 62.086 1984 33.783 174.813 21.81 7.25 -27.711 144.52 1494.42 91.00 0.978 80.241 221.01 3.771 161.66 -36.77 0.82 -44.876 1974 15.54 20.14 -75.953 148.54 -11.430 98.31 -58.13 -94.248 184.090 100.53 -28.852 1990 48.77 -23.41 34.46 5.566 1987 29.13 -17.04 3.91 -0.856 1978 37.156 2008 52.038 1979 24.90 368.672 46.17 7.06 -27.

51 4.271 1969 196.16 34.04 14.787 1985 228.55 0.21 6.334 1995 361.96 15.86 -0.35 -6.140 1965 161.331 165.7.14 0.048 1983 233.53 545.361 127.54 2.48 3.520 1974 204.982 1996 377.77 0.58 8.63 1.686 127.704 310.60 -0.62 6.18 816.613 1977 212.426 103.254 2000 411.791 1973 203.58 3.16 8.49 649. Perkembangan luas tanaman menghasilkan.27 0.602 1966 195.667 1993 369.52 4.35 11.549 102.58 0.71 -3.62 751.26 -2.» Outlook Pertanian .29 19.27 6.81 6.57 -0.75 466.79 728.42 593.582 161.937 154.89 2.081 154.85 -0.32 2.95 782.622 287.26 4.039 121.10 5.567 128.36 715.12 734.51 -11.78 630.038 2006 524.740 439.83 -0.01 2.87 10.387 240.24 18.89 -11.46 1.151 141.462 1976 207.29 4.93 619.690 Produktivitas Pertumb.11 684.18 860.21 3.00 7.418 88.51 (Kg/Ha) 465.031 1968 203.25 -2.250 223.05 2.163 1981 234.35 1.681 Rata-rata pertumbuhan (%) 1961-2007 1961-1997 1998-2007 Produksi Pertumb.164 178.043 229.31 3.00 -2.735 1997 354.17 10.703 1964 174.82 -19.95 -2.992 1987 268.994 1970 194.534 254.27 3.58 33.95 1.31 -1.141 2004 502.60 5.248 1990 353.93 -14.443 1984 231.68 43.97 -3.66 672.98 -22.310 235.18 -6.20 -9.48 520.22 460.46 15.92 3.89 -13.74 8.78 6.938 282.94 34.968 295.65 513.25 838.461 1967 190.32 -7.11 18.98 5.976 151.914 169.17 -0.43 866.76 -9.03 22.21 4.32 628.19 8.321 1994 360.401 2005 503.27 -27.81 869.43 3.442 100.11 1.65 -7.771 396.691 1978 194.60 -10. (%) 56.43 0.71 831.12 633.649 1986 251.22 -3.750 1999 432.34 5.612 168.48 -15.90 1.52 5.008 2007 521.61 14.45 -16.56 3.57 0.76 655.18 -4.143 1975 201.86 697.67 8.684 384.03 4.05 839.71 -1.99 1.303 74.15 (Ton) 71. 1961 – 2007 Luas TM Tahun (Ha) 1961 153.76 3.Perkebunan 2009 « Lampiran 3.141 239.696 1979 224.44 2.511 1971 202.513 1963 174.20 20.13 641. (%) 11.53 -9.46 -7.91 -1.45 Sumber :FAO 52 Pusat Data dan Informasi Pertanian .372 172.48 -4.55 -3.88 -8.75 2.86 0.94 4.69 627.35 4.611 110.261 1998 365.51 -11.045 156.20 8.59 -1.499 1972 197.54 664.431 2001 450.11 -2.030 1982 232.819 1989 337.067 2003 456.17 814.587 432.615 102.33 5.60 0.82 9.53 666.27 3.85 0.709 417. produksi dan produktivitas lada dunia.92 787.96 672.677 242.319 237.098 249.76 6.25 15.576 2002 471.29 -4.209 1962 171.60 5.50 -2.94 19.85 -1.00 Pertumb.346 1988 311.667 1992 357.09 -1.19 0.13 4.48 -0.74 10.655 1991 355.46 4.391 114.27 650.26 3. (%) 39.62 2.403 116.49 16.90 527.930 168.533 1980 228.85 665.03 748.56 597.35 10.52 -5.71 740.32 1.596 354.05 620.66 2.90 0.143 437.35 -1.16 4.318 111.14 576.30 6.45 -8.91 655.69 689.18 793.10 754.54 4.

740 439.58 73.316 77.800 79.600 73.8.709 77.000 23.020 92.200 82.586 74.570 18.774 Dunia Sumber : FAO.190 73.464 5 China 21.976 17.49 100.680 24.900 93.50 6 Lainnya 84.222 18.» Outlook Pertanian . diolah Pusdatin Pusat Data dan Informasi Pertanian 53 .000 77.348 5. 2003 .197 65.680 22.941 85.300 82.73 18. Negara produsen lada terbesar dunia.000 79.42 73.709 417.00 4 Brazil 67.200 26.000 73.300 18.143 437.337 77.301 81.2007 No Negara Produksi (Ton) 2003 2004 2005 2006 2007 Rata-rata Share (%) Share Kumulatif (%) 1 Indonesia 90.38 3 Viet Nam 68.993 99.587 432.102 80.00 78.51 396.024 78.523 105.65 37.73 2 India 64.358 21.400 80.180 22.194 79.690 424.032 91.20 55.Perkebunan 2009 « Lampiran 3.

396 12.875 13.023 3.46 96.96 2004 300.36 560.877 13.64 126.59 303.79 525.20 568.611 -43.456 4.000.182 0.459 -1.175 -0.50 1986 177.029 20.65 293.820 14.432 39.93 267.66 282.614 -1.730 15.317 34.520 -12.35 1969 119.599 1.085 26.194 -18.852 2.59 122.167 10.225 -14.669 -12.98 7.635 -1.915 -7.59 105.89 657.444 34.02 328.54 167.93 143.894 5.208 41.845 9.09 9.23 201.460 68.16 1981 174.95 1996 242.000 -18.044 -15.72 1965 93.28 Sumber : FAO.908 0.30 77.95 1974 126.744 -4.743 19.955 -3.08 307.10 55.11 362.26 1975 130.793 -9.907 54.16 1970 103.928 -10.55 1999 248.21 1.33 1971 125.557 18.32 211.35 116.03 347.579 -2.274 81.199 6.9.92 161.28 528.960 -11.403 3.05 76.324 23.819 15. Nilai US$ Pertumb.10 154.66 197.547 2.422 3.803 20.754 4.49 222.527 1962 84.79 1976 154.830 -7.708 -2.72 1997 240.99 261.Perkebunan 2009 « Lampiran 3.69 110. Perkembangan ekspor-impor lada dunia.81 8.560 5.462 48.60 78.03 265.846 -2.» Outlook Pertanian .348 50.649 21.464 -1.63 277.081.47 467.52 67.83 58.232 1.52 117.273 32.08 139.051 22.38 111.286 38.049 -4.918 -25.927 -8.140 26.552 5.555 27.37 1.938 2.03 62.362 28.165 47.35 1973 124.81 1995 224.014.571 25.89 2005 311.58 522.662 18.436 -7.14 271.042 12.82 530.601 4.81 2007 303.180 1.51 1987 166.913 -1.59 516.142.49 1964 77.21 219.65 105.30 216.441 -5.929 3.28 278.427 -23.490 3.08 3.54 1961-1990 4.64 165.33 163.129 -16.03 3.888 3.591 5.325 -1.468 5.84 1982 167.900 -27.48 117.72 74.501 59.443 -9.884 13.63 241.621 6.748 -2.901 4.08 720.24 301.180 -12.815 7.433 -11.833 13.413 4.933 -18.63 1963 95.134 0.74 8.65 72.62 193.667 53.192 -20.065 4.694 14.69 77.27 570.395 26.750 0.17 1.47 229.315 -0.01 196.45 244.120 9.08 1991 229.67 637.737 4.051 1.978 -48.85 Volume Pertumb.557 19. 1961 – 2007 Ekspor Tahun Volume Pertumb.58 Rata-rata pertumbuhan (%) 1961-2007 3.724 19. (Ton) (%) 1961 81.260 34.64 Impor Nilai US$ Pertumb.483 -3.37 2006 332.364 3.68 174.29 304.89 943.53 1977 145.252 15.650 -13.37 515.907 10.49 63.65 159.36 112.341 76.99 92.919 8.421 54.630 18.41 444.736 3.45 499.03 521.66 332.338 60.023 12.773 1.981 -4.765 -8.02 310.01 209.53 2002 324.91 233.14 204.943 0.82 348.009.38 1984 165.41 1966 92.15 199.372 3.58 172.984 8.88 164.56 1989 208.305 29.81 1983 165.57 567.261 -19.31 836.164 -6.041 2.53 1998 217.22 539.474 2.14 533.16 92.879 -17.147 -8.998 -17.38 218.371 6.679 32.28 728.020 -7.86 290.146 3.670 -5.79 83.345 -3.94 74.08 232.357 -13.04 158.28 1985 144.17 7.00 1972 130.57 214.995 39.342 8.757 -13. (Ton) (%) 000) (%) 81.655 -1.836 20. diolah Pusdatin 54 Pusat Data dan Informasi Pertanian .64 144.49 1.08 1978 176.09 451.064 21.247 -10.172 -2.97 940.48 2003 292.451 -8.604 14.131 -14.07 250.69 1979 163.084 46.51 912.67 579.870 3.12 161.38 79.26 562.10 402.42 238.35 271.88 50.172 12.823 9.65 326.49 203.892 -1.13 193.518 -0.195 0.30 8.039.62 2.414 5.088 7.72 1980 166.908 7.871 -13.73 2001 269.52 101.859 3.65 111.354 18.43 1992 242.45 335.140 -12.328 -16.293 -14.107 37.60 228.55 1.61 1967 128.58 73.43 120.99 1988 172.84 144.50 1993 206.795 -0.75 761.697 -8. 000) (%) 71.49 431.896 2.92 1.06 747.346 -9.003 1.88 73.974 -6.19 2000 255.810 11.95 1994 214.48 85.65 287.69 1990 208.394 2.01 307.11 1968 132.942 0.508 4.32 710.89 485.22 192.07 1991-2007 2.

706 64.459 22. diolah Pusdatin Pusat Data dan Informasi Pertanian 55 .897 13.000 109.847 13.00 271.047 108.51 7 Japan 8.653 77.745 15.146 8.579 8.190 15.311 70.44 2 Germany 22.896 311.941 66.479 8.44 23.140 22.936 15.37 5 Malaysia 18.721 4.000 83.990 66.473 8.470 35.097 16.499 47.57 9 Inggris 5.953 38.768 12.41 43.807 3.94 31.22 6 France 10.610 10 Lainnya Dunia Sumber : FAO.610 15.891 2.840 9.29 51.25 32.464 6.584 15.105 7.183 15. 2003 – 2007 No Negara Volume ekspor (Ton) 2003 2004 2005 2006 2007 Rata-rata Share (%) Share Kumulatif (%) 1 Viet Nam 73.00 108.846 5.036 8.135 9.44 100. Negara importir lada terbesar dunia.447 38.656 9.731 26.295 3.44 60.294 115.199 303.031 40.165 17.231 16.099 7.00 100. Negara eksportir lada terbesar dunia.94 2 Brazil 38.Perkebunan 2009 « Lampiran 3.380 31.424 42.935 69.59 4 India 15.00 292.023 332.300 5.895 70.531 36.12 54.00 3 Indonesia 51.031 31.546 32.71 72.093 61.621 277.771 119.000 115. 2003 – 2007 No Negara Volume impor (Ton) 2003 2004 2005 2006 2007 Rata-rata Share (%) Share Kumulatif (%) 1 USA 63.346 19.871 5.693 9. diolah Pusdatin Lampiran 3.697 308.200 38.208 9.539 63.867 5.993 9.10.695 18.316 12.226 13.356 10.773 301.251 113.319 15.50 48.003 38.364 34.56 7 Lainnya 71.30 4 Netherlands 18.409 14.07 45.443 300.247 23.698 9.052 Dunia Sumber : FAO.936 14.62 8 Russian 6.69 3 India 14.956 7.350 10.11.154 12.72 5 Singapore 11.316 2.48 77.08 6 Singapore 23.78 66.429 21.» Outlook Pertanian .464 27.858 16.830 282.61 38.94 57.868 65.301 15.972 43.900 111.788 18.996 27.938 282.659 12.108 8.791 113.256 13.007 16.888 278.460 26.000 98.601 5.267 17.439 8.201 6.679 40.210 9.58 57.

Perkebunan 2009 « BAB IV. Melalui sejarah yang panjang. dipanen secara manual. pemerintah Belanda mulai memperhatikan Teh dengan mendatangkan biji-biji Teh secara besar-besaran dari Cina untuk dibudayakan di pulau Jawa. yaitu varietas assamica yang berasal dari Assam dan varietas sinensis yang berasal dari Cina. Pusat Data dan Informasi Pertanian 57 .10 m.» Outlook Pertanian . Tanaman teh umumnya ditanam di perkebunan. TEH Teh (Camellia sinensis) merupakan salah satu komoditi utama komoditas perkebunan yang sudah dikenal masyarakat sejak zaman Hindia Belanda. Teh dikenal di Indonesia sejak tahun 1686 ketika seorang Belanda bernama Dr. Teh berasal dari kawasan India bagian Utara dan Cina Selatan. Ada dua kelompok varietas teh yang terkenal. Varietas assamica daunnya agak besar dengan ujung yang runcing. perkebunan teh dibudidayakan dan dikelola oleh perusahaan negara. usaha perkebunan dan perdagangan Teh diambil alih oleh pemerintah RI. dan dapat tumbuh pada ketinggian 200 . Teh menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam Paksa (Culture Stetsel). Baru pada tahun 1728.2. 2007b). maupun PR (Anonim. sedangkan varietas sinensis daunnya lebih kecil dan ujungnya agak tumpul. Pada masa kemerdekaan. dengan bentuk tajuk seperti kerucut (Anonim. perusahaan swasta. Van Siebold seorang ahli bedah tentara Hindia Belanda yang pernah melakukan penelitian alam di Jepang mempromosikan usaha pembudidayaan dengan bibit Teh dari Jepang. Usaha perkebunan Teh pertama dipelopori oleh Jacobson pada tahun 1828 dan sejak itu menjadi komoditas yang menguntungkan pemerintah Hindia Belanda. 2007a). Bila tidak dipangkas.300 m dpl. sehingga pada masa pemerintahan Gubernur Van Den Bosh. Usaha tersebut tidak terlalu berhasil dan baru berhasil setelah pada tahun 1824 Dr. akan tumbuh kecil ramping setinggi 5 . Andreas Cleyer membawanya ke Indonesia yang pada saat itu penggunaannya hanya sebagai tanaman hias. Pohonnya kecil karena seringnya pemangkasan maka tampak seperti perdu.

Perkebunan 2009 « Untuk mengetahui sejauh mana prospek komoditas teh dalam mendukung sektor pertanian di Indonesia.07%. diikuti PBN dan PBS.1. PR justru lebih mendominasi. sedangkan periode sesudahnya mengalami penurunan rata-rata luas areal sebesar 1. Gambar 4. Perkembangan luas areal teh Indonesia menurut status pengusahaan. PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS TEH DI INDONESIA Perkembangan luas areal teh di Indonesia pada periode tahun 1970-2009 cenderung mengalami peningkatan (Gambar 4. 58 Pusat Data dan Informasi Pertanian .71%.1).37%.» Outlook Pertanian .1. Pertumbuhan positif luas areal teh terjadi pada periode 19701998 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 1. diikuti Perkebunan Rakyat (PR) 36. Penurunan luas areal teh yang cukup tinggi terjadi pada tahun 1971 dengan penurunan sebesar 12.72%. berikut ini akan disajikan perkembangan teh serta proyeksi penawaran dan permintaan teh untuk beberapa tahun ke depan. Sementara itu peningkatan luas areal teh terbesar terjadi pada tahun 1998 yakni sebesar 10.20%. PERKEMBANGAN LUAS AREAL. Tetapi setelah periode tersebut.20% dan sisanya merupakan Perkebunan Besar Swasta (PBS).1) dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 0. 4.42% (Lampiran 4. 1970 – 2009 Perkembangan komposisi luas areal teh berdasarkan status pengusahaan pada periode tahun 1970-1979 sebagian besar merupakan Perusahaan Besar Negara (PBN) dengan rata-rata kontribusi sebesar 38.

694 23.239 34.25 38.Luas Areal (Ha) .Perkebunan 2009 « Pada periode 1980-2009.734 34.Kontribusi (%) 1980-2009**) . Tabel 4. Demikian juga untuk PBS.97 30.165 23.Kontribusi (%) 2009**) .00 56.40%.771 25. Secara rinci perkembangan komposisi luas areal teh per periode disajikan pada Tabel 4.89 126.11%.Luas Areal (Ha) .25%).Kontribusi (%) PR PBN PBS Indonesia 37.752 38.693 100.00 61.09 102.40 45.425 100.Luas Areal (Ha) .20 39.1.02% dan 23.599 100.235 47.235 ha (47. Selanjutnya diikuti PR dan PBN masing-masing sebesar 0.58%.00 52.1. Sementara itu luas areal teh pada PBN sejak tahun 1991 sudah tidak banyak mengalami peningkatan luas areal bahkan cenderung terus menurun (Lampiran 4.492 100. sedangkan PBN dan PBS memberikan kontribusi masing-masing sebesar 34.119 ha (29.Luas Areal (Ha) . Peningkatan luas areal PBS yang cukup tinggi mampu meningkatkan kontribusi luas areal teh pada tahun 1995. Kecenderungan Pusat Data dan Informasi Pertanian 59 . semenjak tahun 1996 luas arealnya cenderung mengalami penurunan.199 29.997 42.28%).00 Sumber : Ditjen Perkebunan diolah Pusdatin Perkembangan luas areal teh berdasarkan status pengusahaannya pada periode 1970-2009 secara umum cenderung mengalami peningkatan. luas areal PR mampu menggeser dominasi PBN dengan memberikan kontribusi sebesar 42.213 23. sedangkan luas areal PR cenderung stabil.Kontribusi (%) 1970-2009**) . Peningkatan rata-rata tertinggi terjadi pada PBS yaitu sebesar 1.14 44. Perkembangan luas areal teh berdasarkan status pengusahaan.71 25.040 41.47%) dan PBS sebesar 30.» Outlook Pertanian . PBN 38.02 31.165 ha (23.65% dan 0.58 134.08%.28 129.47 30.1). 19702009 Periode 1970-1979 . Untuk kondisi tahun 2009 (angka estimasi) luas areal teh PR sebesar 61.170 36.

Seperti halnya produksi teh nasional. Perkembangan produksi teh di Indonesia pada periode tahun 1970–2009 cenderung mengalami peningkatan rata-rata sebesar 2.2).85%.» Outlook Pertanian .1. perkembangan produksi teh menurut pengusahaan dari tahun 1970 sampai dengan 2009 juga cenderung mengalami peningkatan. 19702007 Dilihat dari segi komposisinya.55%. Namun demikian pada tahun 1998 terjadi peningkatan luas areal teh yang cukup besar baik dari PR. Rata-rata kontribusi produksi teh periode 1970-2009 dari PBN sebesar 58.04% (Lampiran 4. Pertumbuhan produksi teh yang berasal dari PR rata-rata setiap tahun meningkat sebesar 2. Perkembangan produksi teh menurut status pengusahaan. 60 Pusat Data dan Informasi Pertanian . Sementara itu produksi PR masih sedikit diatas produksi PBS. PBN rata-rata tumbuh 2. produksi teh nasional sebagian besar berasal dari PBN walaupun luas areal PBN lebih kecil dibandingkan PR.Perkebunan 2009 « penurunan luas areal perkebunan teh tersebut berlangsung sampai dengan tahun 2009.2. PBN maupun PBS yang dipicu karena harga teh dunia yang mengalami peningkatan pada periode tersebut serta menurunnya nilai tukar rupiah (Anonim. PR sebesar 22.72% dan rata-rata pertumbuhan tertinggi dicapai PBS yakni sebesar 4.67% per tahun (Gambar 4. Pola perkembangan luas areal teh menurut pengusahaannya dapat dilihat pada Gambar 4. 2004).41%.2). Hal ini mengindikasikan bahwa PBN mempunyai tingkat produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan PR.00% dan PBS sebesar 19. Gambar 4.

18 4.826 3.458 83.69 -0.60 3.42% per tahun dengan produksi rata-rata sebesar 11.2).Perkebunan 2009 « Rata-rata pertumbuhan produksi teh PR pada periode 1970-1979 sebesar 0.Pertumbuhan (%) 2000-2009 .97%.73 40.318 74. Pada periode berikutnya yaitu 1980-1989 rata-rata pertumbuhan produksi teh untuk PR. Tabel 4. sedangkan untuk PR tetap mengalami peningkatan sebesar 1.996 18.93 24.842 120. rata-rata produksi teh untuk PBN dan PBS mengalami penurunan masing-masing sebesar 0. Perkembangan produksi teh per periode.Pertumbuhan (%) 1970-2009 .45 5.51 28.853 73.Pertumbuhan (%) Sumber : Ditjen Perkebunan diolah Pusdatin Pusat Data dan Informasi Pertanian 61 .69% (Tabel 4.75 2.646 1.88 7.566 155.570 35.88% per tahun dengan produksi rata-rata sebesar 45.08 1.51% dan 1.620 89.65 6. 4. Pada periode yang sama.Produksi (Ton) .08%. PBN rata-rata tumbuh 6.379 0.02% sedangkan PR dan PBS masing-masing tumbuh 3.Pertumbuhan (%) 1990-1999 .42 4.Pertumbuhan (%) 1980-1989 .897 ton.45% dan 5.578 159.28 32.026 24.73%.18% per tahun.2. pertumbuhan terendah terjadi pada produksi teh PBN yakni sebesar 0.372 4.Produksi (Ton) .960 127.72% dan 5.65% per tahun dengan rata-rata produksi 15.» Outlook Pertanian . Pada periode 1990-1999 atau menjelang dan saat krisis.Produksi (Ton) . 1970-2009 Periode PR PBN PBS Indonesia 15. Pada dasawarsa terakhir (2000-2009) setelah krisis tahun 1998.Produksi (Ton) .565 76.853 ton.02 5.55 1970-1979 .629 ton.72 0.84 2.Produksi (Ton) . PBN dan PBS masing-masing sebesar 4. Sementara itu dari PBS tumbuh sebesar 7.897 11.629 45.97 -0.306 2.640 33.51 -1.73 4.

04%. Jawa Tengah menempati posisi ketiga dengan kontribusi sebesar 6.Perkebunan 2009 « Pola perkembangan produksi teh nasional serupa dengan pola perkembangan produksi teh PBN. Jawa Barat merupakan penyumbang produksi nasional terbesar dengan kontribusi sebesar 72. Sementara itu perkembangan produksi teh yang berasal dari PR dan PBS juga cenderung meningkat demikian juga dengan kontribusinya.3. Perkembangan produktivitas teh di Indonesia selama tahun 2003-2009 secara umum berfluktuasi selama dua tahunan (Gambar 4. Pada tahun 2003 62 Pusat Data dan Informasi Pertanian . baik PBN maupun PBS. Gambar 4. 2005-2009 Berdasarkan data rata-rata selama 5 tahun terakhir (2005-2009).70%.38%) dan Sumatera Barat (2.61%) (Gambar 4. Provinsi di luar Pulau Jawa yang masuk dalam 5 provinsi sentra produksi teh nasional merupakan produksi dari perkebunan besar.3).4). Sedangkan produksi teh PR tetap mengalami peningkatan yang stabil walaupun sejak tahun 2004 cenderung tidak ada peningkatan produksi (Lampiran 4. Sumatera Utara menempati posisi kedua dengan kontribusi sebesar 7. Sementara itu PBS mengalami pertumbuhan yang stagnan bahkan cenderung mengalami penurunan sejak tahun 1998.30% diikuti Jambi (3. Kontribusi provinsi sentra produksi teh nasional.2). bahkan cenderung mengalami penurunan. Hal ini tidak luput dari besarnya kontribusi produksi teh dari PBN terhadap produksi teh nasional walaupun kontribusinya semakin berkurang. Perkembangan pertumbuhan produksi teh PBN cenderung melandai sejak tahun 1990.» Outlook Pertanian .

04 PBN 2.028.292.451 kg/ha (tahun 2004) dan 1. Perkembangan produktivitas teh di Indonesia.028.284.123.27 1.60 1.27 1. Dua tahun berikutnya yakni 2006 dan 2007 mengalami penurunan produktivitas menjadi 1.392.026.324. Dengan demikian rata-rata produktivitas teh nasional selama periode 2003-2009 yakni sebesar 1.392 kg/ha.40 1.169.885.57 1.098.Perkebunan 2009 « produktivitas teh Indonesia sebesar 1.47 1.191.26 0.292 kg/ha.77 2.030.164 kg/ha dan 1.61 -2.89 Rata-rata 777.123 kg/ha.60 Pertmbh (%) Sumber : Ditjen Perkebunan diolah Pusdatin Pusat Data dan Informasi Pertanian 63 .87 1.184.089.65 Indonesia 1.07 2009**) 647.51 2.462.39 2005 873.22 1. 20032009 Tahun Produktivitas (kg/ha) 2003 PR 872.86 2. Namun dua tahun terakhir (2008-2009) produktivitas teh nasional kembali meningkat menjadi 1.150.46 PBS 1.17 -3.19 2.462 kg/ha (tahun 2005).117.65 1. Gambar 4.746.382.28 1.40 1.93 2.4.307.3. dua tahun berikutnya mengalami peningkatan berturut-turut menjadi 1.451. 2003-2009 Tabel 4.30 1.52 2004 906. Perkembangan produktivitas teh menurut status pengusahaan.284 kg/ha 1.31 2008 640.109.» Outlook Pertanian .31 2007 638.15 2006 860.86 1.83 1.164.27 1.170 kg/ha.52 -4.38 1.

61%. Pada tahun-tahun berikutnya konsumsi teh per kapita per minggu mengalami peningkatan sampai tahun 2002 menjadi 14.3). Sementara itu walaupun tingkat produktivitas perkebunan besar rata-rata meningkat 0.292.2. Setelah itu konsumsi teh mengalami peningkatan menjadi 13.30 gram per minggu pada tahun 1996 (Gambar 4. 4. Mengingat bahwa sebagian besar areal perkebunan teh di Indonesia diusahakan oleh rakyat.028. Perkembangan produktivitas teh nasional dari tahun ke tahun selama periode 2003-2009 cenderung mengalami penurunan rata-rata sebesar 2.60%. Pada tahun 1984. Hal ini disebabkan karena menurunnya produktivitas PR yang selama periode yang sama rata-rata tingkat produktivitasnya turun sebesar 4.50 gram/minggu.20 gram/minggu.52 kg/ha. diikuti PBS dengan produktivitas 1. Setelah itu konsumsi teh per kapita per minggu mengalami sedikit penurunan 64 Pusat Data dan Informasi Pertanian . KONSUMSI TEH DI INDONESIA Konsumsi teh (teh dalam bentuk produk konsumsi) per kapita per minggu berdasarkan data Susenas BPS sejak tahun 1984 sampai dengan 2008 cenderung mengalami peningkatan walaupun berfluktuatif. Pada tahun 1999 terjadi penurunan konsumsi teh per kapita per minggu yang cukup signifikan.Perkebunan 2009 « Produktivitas teh nasional secara umum selama periode 2003-2009 ratarata sebesar 1.184. Rendahnya tingkat produktivitas PR dapat disebabkan karena pengelolaan lahan yang kurang diperhatikan karena sifat PR yang sebagian besar masih belum diusahakan secara lebih baik dibandingkan PBN mapun swasta. Demikian pula halnya untuk PBS yang cenderung menurun dengan persentase sebesar 3.26%. kemudian mengalami penurunan sampai tahun 1990 menjadi 9.20 gram.17% per tahun tetapi tidak mampu mengurangi tingkat produktivitas teh nasional (Tabel 4.22 kg/ha.80 gram/minggu.47 kg/ha dan PR menduduki tingkat produktivitas paling rendah yakni rata-rata 777.19 kg/ha. konsumsi teh per kapita per minggu sebesar 10.5). maka demikian sebenarnya produksi teh dalam negeri masih dapat ditingkatkan dengan meningkatkan produktivitas PR melalui upaya budidaya yang lebih intensif. konsumsi per kapita pada tahun tersebut sebesar 11. Tingkat produktivitas tertinggi terjadi pada PBN yakni sebesar 2.» Outlook Pertanian .

Perkembangan konsumsi teh selama periode tahun 1984 – 2008 secara lengkap tersaji pada Lampiran 4.56. Perkembangan konsumsi teh per kapita per minggu.780. 1984 – 2008 4. Selain itu juga dipengaruhi oleh meningkatnya harga teh dunia. 682.7). Tahun berikutnya konsumsi teh meningkat walaupun pada tahun 2008 sedikit mengalami penurunan menjadi 14.90 gram. 4. Pusat Data dan Informasi Pertanian 65 .20 gram/minggu per kapita. Harga teh daun kering di tingkat produsen rata-rata pada tahun 1983 sebesar Rp./kg dan pada tahun 2007 sudah mencapai Rp. PERKEMBANGAN HARGA TEH DI INDONESIA Perkembangan harga teh rata-rata di tingkat produsen di Indonesia pada periode tahun 1983–2007 cenderung terus meningkat (Gambar 4. Peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 1998 dimana peningkatannya mencapai 31.Perkebunan 2009 « sampai dengan tahun 2004 menjadi sebesar 12. Gambar 4.04% dibandingkan tahun sebelumnya.25% (Lampiran 4.6.» Outlook Pertanian . Hal ini terjadi mengingat bahwa sebagian besar komoditas teh merupakan komoditas ekspor sehingga turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpengaruh pada meningkatnya harga teh di dalam negeri. Sementara itu penurunan harga teh selama periode 1983-2007 hanya terjadi pada tahun 2004 yakni sebesar 14.56.-/kg atau sudah lebih dari tujuh kali lipat dibandingkan tahun 1983.5.6). Peningkatan harga teh di tingkat produsen pada tahun 1998 disebabkan karena menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.3.

atau sudah lebih dari 14 kali lipat dibandingkan tahun 1983. Sementara itu penurunan harga teh selama periode 1983-2007 hanya juga terjadi pada tahun 2004 sama dengan harga teh di tingkat produsen yakni sebesar 6. Harga teh per bungkus di tingkat konsumen pada tahun 1983 sebesar Rp. Gambar 4... 118. 1.Perkebunan 2009 « Gambar 4. perkembangan harga teh rata-rata di tingkat konsumen pada periode tahun 1983– 2007 juga cenderung terus meningkat (Gambar 4. Hal ini berarti peningkatannya dua kali lipat dari peningkatan harga teh di tingkat produsen. Perkembangan harga teh di tingkat konsumen. 1983–2007 66 Pusat Data dan Informasi Pertanian .82% dibandingkan tahun sebelumnya karena meningkatnya harga teh dunia dan turunnya nilai tukar rupiah.721. Perkembangan harga teh di tingkat produsen. 1983–2007 Untuk di tingkat konsumen yang dilihat dari harga teh per bungkus.6.87% (Lampiran 4.95.7).dan pada tahun 2007 sudah mencapai Rp.03. Peningkatan harga teh di tingkat konsumen tertinggi terjadi pada tahun 1998 dimana peningkatannya mencapai 70.7).7.» Outlook Pertanian .

Gambar 4. Perkembangan indeks harga teh di tingkat produsen dan konsumen. PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR TEH INDONESIA Perkembangan volume ekspor dan impor teh Indonesia pada periode tahun 1969 – 2008 disajikan pada Gambar 4.4.8.» Outlook Pertanian .Perkebunan 2009 « Dilihat dari pergerakan harga teh di tingkat produsen dan konsumen.8.9. Ratarata kanaikan harga teh di tingkat produsen pada tahun 1998-2007 hanya sebesar 9. 1983–2007 4. terlihat bahwa harga di tingkat konsumen meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan harga di tingkat produsen. Perkembangan indek harga produsen dan konsumen disajikan pada Gambar 4. Pusat Data dan Informasi Pertanian 67 . Perubahan margin yang cukup signifikan antara harga produsen dan konsumen terjadi sejak tahun 1998 dan terus melebar sampai tahun 2007. Hal ini mengindikasikan bahwa margin harga yang diperoleh oleh pabrik setiap tahun mengalami kenaikan lebih tinggi. Hal itu tak lepas karena faktorfaktor biaya produksi untuk menghasilkan teh pabrik.12% per tahun. Kondisi ini khususnya terjadi sejak krisis ekonomi tahun 1998 dan hingga saat ini kondisi tersebut semakin melebar. Setelah tahun 2000 ekspor teh Indonesia cenderung mengalami penurunan. Perkembangan ekspor teh selanjutnya dari tahun 1994 sampai 2000 cenderung lebih berfluktuatif. Perkembangan ekspor teh Indonesia berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat sampai dengan tahun 1993.36% per tahun sedangkan harga di tingkat konsumen mencapai 17.

Jerman (8.95%) dan Polandia (3.4% diekspor ke nagara lainnya (Gambar 4. Selanjutnya berturut-turut diikuti Inggris (9. Belanda (4. Malaysia (9.80%) serta sisanya sebesar 18.10).Perkebunan 2009 « Pada sisi impor.000 ton. volume impor teh Indonesia dari negara-negara eksportir teh masih sangat kecil bila dibandingkan dengan volume ekspornya. 1969 – 2007 Volume ekspor teh Indonesia yang mencapai 96.8). 68 Pusat Data dan Informasi Pertanian .699 ton. Disusul ekspor teh ke Pakistan yang menduduki peringkat kedua dengan volume sebesar 12.41%).60%).14 juta. Hal ini dapat pula dilihat dari total impor teh Rusia yang selama lima tahun terakhir merupakan penyerap impor terbesar dunia. Dari total volume ekspor ke Rusia tersebut pendapatan devisa Indonesia sebesar US$ 23. Uni emirat Arab (5. Perkembangan volume ekspor dan impor teh Indonesia.882 ton atau 16. Besarnya volume ekspor teh dari Indonesia ke Rusia tidak mengherankan karena Rusia termasuk salah satu pasar teh yang cukup besar di dunia.88 juta.9.39%). Amerika Serikat (7.» Outlook Pertanian . India (3.625 ton (Lampiran 4. Volume impor tertinggi selama periode 1969-2006 terjadi pada tahun 1990 dengan volume impor sebesar 6.365 ton atau memberikan kontribusi 12. Setelah tahun tersebut volume impor masih dibawah 6.37%). Pada tahun 2006 volume impor Indonesia sebesar 6.85% dari total ekspor teh Indonesia pada tahun 2008 dengan nilai US$ 21. Gambar 4.210 ton pada tahun 2008 sebagian besar diekspor ke Rusia dengan volume 15.37%).51% dari total volume ekspor Indonesia.35%).

Negara-negara asal impor teh ke Indonesia. impor teh Indonesia sebagian besar berasal dari Vietnam dengan volume 2.57%).» Outlook Pertanian . Negara-negara tujuan ekspor teh Indonesia. 2008 Pusat Data dan Informasi Pertanian 69 .21% dari total volume impor Indonesia. Srilanka (4.08 juta. Dari total volume impor tersebut Indonesia kehilangan devisa sebesar US$ 2.85%) serta sisanya sebesar 4. dan Jepang (0.Perkebunan 2009 « Gambar 4.668 ton atau memberikan kontribusi 25. Selanjutnya kontribusi volume impor teh dari negara lainnya berturut-turut adalah China (10. India (5.59%).10.02%).11. Kenya menduduki peringkat kedua sebagai negara yang melakukan ekspor teh ke Indonesia dengan volume sebesar 1.43%). Amerika Serikat (1.69% dari negara-negara lainnya (Gambar 4.18% dari total ekspor teh Indonesia pada tahun 2008 dengan nilai yang lebih besar dibandingkan Vietnam yakni sebesar US$ 4.11). Gambar 4. 2008 Sementara itu.995 ton atau 45. Singapura (2.87 juta.10%).

14. Perkembangan luas areal teh dunia. Hal tersebut dapat dimungkinkan karena konversi luas areal teh yang terjadi pada tahun 1984-1985 berasal dari tanaman tua ataupun tanaman rusak sehingga tidak berpengaruh terhadap produksi teh dunia. Namun setelah tahun-tahun tersebut luas areal teh dunia mengalami peningkatan secara perlahan-lahan hingga tahun terakhir (Gambar 4. penurunan produksi tersebut tidak signifikan. Namun demikian.Perkebunan 2009 « 4. Secara umum perkembangan luas areal teh di dunia terus meningkat dari tahun 1961 sampai dengan tahun 2007. walaupun pada tahun-tahun tertentu terjadi penurunan produksi. Gambar 4. PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS TEH DUNIA Perkembangan luas areal.12.5.13.» Outlook Pertanian . dan Gambar 4. 1961-2007 Perkembangan produksi teh dari tahun 1961 sampai dengan tahun 2007 juga cenderung meningkat.1985 terjadi penurunan luas areal yang signifikan.12. bahkan pada tahun 1984–1985 walaupun luas areal teh mengalami penurunan tetapi dari segi produksi justru mengalami peningkatan (Gambar 4. produksi dan produktivitas teh dunia selama periode tahun 1961-2007 disajikan pada Gambar 4. hanya saja pada tahun 1984 .12).13). PERKEMBANGAN LUAS AREAL. 70 Pusat Data dan Informasi Pertanian . Gambar 4.

Perkembangan produktivitas teh di dunia.19%) dan India (25. 1961-2007 Gambar 4. lebih dari separuh produksi teh dunia selama periode 2003-2007 hanya disumbang oleh dua negara penghasil teh terbesar yakni Cina (27. Menempati posisi ketiga sampai kelima sebagai penghasil teh dunia adalah Kenya (9.14. Perkembangan produksi teh di dunia. Berdasarkan menurut negara-negara produsen teh. Peningkatan produktivitas tersebut terjadi karena menurunnya jumlah luas areal teh yang berasal dari tanaman teh yang kurang produktif/tua.Perkebunan 2009 « Gambar 4. Namun pada tahun-tahun berikutnya pertumbuhan produktivitas teh dunia juga kembali pada kisaran pertumbuhan produktivitas sebelumnya (Gambar 4.26%). Srilanka Pusat Data dan Informasi Pertanian 71 .13.16%).14). 1961-2007 Perkembangan produktivitas teh dunia selama periode tahun 1961-2007 mempunyai pola meningkat.» Outlook Pertanian . Hanya saja pada tahun 1984-1985 terjadi peningkatan produktivitas yang tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

6.70% sama seperti posisi produksi dunia. Kontribusi negara terhadap produksi teh dunia. sedangkan Vietnam yang pada posisi produksi dunia berada dibawah Indonesia.» Outlook Pertanian . Indonesia berada pada posisi keenam sebagai negara terbesar pengekspor teh dunia dengan persentase 5. Padahal negara tersebut dari sisi produksi berada diurutan ketiga setelah China dan India.Perkebunan 2009 « (8. dari segi ekspor berada di posisi keempat dengan kontribusi sebesar 10. 72 Pusat Data dan Informasi Pertanian . Hal tersebut dapat disebabkan karena jumlah penduduknya yang lebih sedikit dibandingkan China dan India maka produksi teh di dalam negeri masih banyak yang dapat diekspor ke pasar dunia. Sementara Indonesia hanya menempati posisi keenam dengan kontribusi sebesar 4.78% (Gambar 4.70%) dan Turki (5. untuk posisi ekspor justru diatas Indonesia dengan kontribusi sebesar 5.75%.59% dari produksi dunia diikuti oleh Vietnam dengan kontribusi sebesar 3.15. PERKEMBANGAN EKSPOR-IMPOR TEH DUNIA Selama kurun waktu 2003-2007.23% disusul Srilanka (15.52%).72% (Gambar 4.80%). India yang berdasarkan produksi berada di posisi kedua.16). Sementara itu China sebagai negara produsen dunia hanya berada di posisi kedua dengan kontribusi sebesar 17.84%.15). Indonesia merupakan negara eksportir terbesar keenam dunia dengan kontribusi terhadap ekspor dunia sebesar 5.70%. Gambar 4. Negara pengekspor teh terbesar di dunia adalah Kenya dengan persentase sebesar 19. 2003-2007 4.

51%.16.72%. 8. Jerman dan Belanda masing-masing ada diposisi ke-5. 2003-2007 Pada sisi impor atau konsumen. Konsumsi teh di negara tersebut cukup tinggi yakni pada tahun 2002 mencapai 750 gram/kapita.150 gram/kapita (Suprihatini. 3. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa pasar teh di Rusia merupakan pasar teh yang cukup besar di dunia. bahkan pada tahun 1989-1991 tercatat tingkat konsumsi per kapita masyarakat Rusia mencapai 1. selama kurun waktu 2003-2007 negara pengimpor teh terbesar di dunia adalah Rusia dengan persentase sebesar 14.45% (Gambar 4. Pusat Data dan Informasi Pertanian 73 . Hal ini dikarenakan masyarakat di negara tersebut sangat fanatik terhadap minum teh. Sementara itu Indonesia berada pada posisi ke-44 sebagai negara pengimpor teh dunia dengan kontribusi sebesar 0. Disusul Pakistan.00%. Kontribusi negara terhadap volume ekspor teh dunia.17). ke-6 dan ke-7 dengan kontribusi masing-masing sebesar 4. Sementara itu Maroko.09% dari impor dunia.22%.Perkebunan 2009 « Gambar 4.67% dan 2.» Outlook Pertanian .30% dan 4. 2003). Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab dengan volume impor masing-masing sebesar 9.

Dengan demikian sebenarnya produksi teh lebih banyak dipengaruhi oleh luas areal teh dan umur tanaman teh yang berpengaruh 74 Pusat Data dan Informasi Pertanian . sehingga series data yang digunakan adalah data per tahun.17.» Outlook Pertanian .Perkebunan 2009 « Gambar 4. 2003-2007 4. Dalam hal ini penawaran suatu komoditas direpresentasikan oleh produksi dari komoditas tersebut.7.30% keragaman pada produksi teh dapat dijelaskan oleh peubah-peubah yang digunakan dalam model tersebut. Hasil analisis fungsi respons produksi teh dengan menggunakan metode analisis regresi menunjukkan bahwa produksi teh hanya dipengaruhi oleh luas areal teh periode sebelumnya. Kontribusi negara terhadap volume impor teh dunia. Koefisien determinasi (R2) yang diperoleh dari model tersebut adalah sebesar 69. Hal ini dapat dipahami mengingat bahwa komoditas teh merupakan tanaman tahunan yang luasannya tidak dapat berubah dalam jangka pendek karena faktor-faktor tersebut di atas sehingga produksi hanya dipengaruhi oleh luas areal tahun sebelumnya. Hal ini berarti 69. PROYEKSI PENAWARAN TEH 2009-2011 Penawaran suatu komoditas biasanya dicerminkan oleh respon atau keputusan produsen terhadap mekanisme pasar dan pengaruh faktor non pasar (faktor produksi). Pada analisis ini dilakukan permodelan berdasarkan tahun. Dalam hal ini dapat diartikan bahwa produksi teh sebenarnya hanya dipengaruhi oleh faktor luas areal. Parameter estimasi produksi teh bersifat nyata terhadap pengaruh faktor luas areal.30%.

429 ton.» Outlook Pertanian .322 Luas Areal Teh 0.4. Estimasi produksi teh dari Direktorat Jenderal Perkebunan pada tahun 2009 sebesar 151. Peningkatan produksi yang tidak terlalu signifikan ini tidak lepas dari susahnya perluasan luas areal teh di Indonesia.9693 0. Pada tahun berikutnya berdasarkan hasil proyeksi diperkirakan ketersediaan teh di Indonesia diperkirakan stagnan atau hanya meningkat sebesar 0.671 ton dan pada tahun 2011 ketersediaan teh sebesar 152.27%.617 ton.30% hasil proyeksi produksi teh dapat diprediksi tingkat ketersediaan teh pada tahun 2009-2011 (Tabel 4. Pusat Data dan Informasi Pertanian 75 . Hasil analisis fungsi respon produksi teh di Indonesia Peubah Koefisien P Value Intersep 18.353 0.Perkebunan 2009 « terhadap produktivitas teh.04% menjadi 151.9693 satuan produksi.000 R2 Berdasarkan 69.6). Tabel 4.9693 menunjukkan bahwa jika luas areal meningkat meningkat sebesar satu satuan luas maka produksi teh tahun ini akan meningkat sebesar 0. Sementara itu faktor lainnya seperti harga teh secara nyata tidak berpengaruh terhadap produksi teh. Ketersediaan teh nasional selama periode 2009-2011 diperkirakan rata-rata naik sebesar 0. Koefisien untuk peubah luas areal teh sebesar 0.

50 (%) Rata-rata pertumbuhan (%/Tahun) 0.429 0.5.Perkebunan 2009 « Tabel 4.617 2010 151. Hasil proyeksi permintaan teh di Indonesia.22% per tahun. 2009 – 2011 Pertumbuhan Tahun Proyeksi Ketersediaan Teh (Ton) 2009 151.6. Ketersediaan teh daun kering untuk kebutuhan/konsumsi dalam negeri merupakan pengurangan produksi daun teh kering dikurangi dengan neraca ekspor impor teh di Indonesia.» Outlook Pertanian .25 2011 74.20 Pertumbuhan rata-rata (%/th) 2.8.22 Secara umum permintaan teh di Indonesia diproyeksikan akan mengalami peningkatan rata-rata sebesar 2. Hasil proyeksi adalah sebagai berikut : Tabel 4.035 2.851 2010 72. Proyeksi ketersediaan teh. Proyeksi permintaan teh dalam negeri dilakukan dengan menggunakan analisis trend.04 2011 152. PROYEKSI PERMINTAAN TEH 2009-2011 Proyeksi permintaan teh di Indonesia dilakukan dengan menggunakan pendekatan ketersediaan teh daun kering untuk kebutuhan/konsumsi dalam negeri.27 4. Peningkatan permintaan teh 76 Pusat Data dan Informasi Pertanian .443 2.671 0. 2009-2011 Tahun Proyeksi Permintaan Pertumbuhan (%) Langsung (Ton) 2009 70.

» Outlook Pertanian . PROYEKSI SURPLUS/DEFISIT TEH 2009-2011 Berdasarkan hasil perhitungan fungsi penawaran dan fungsi permintaan. Surplus penawaran/ ketersediaan teh tersebut diserap oleh pasar internasional melalui kegiatan ekspor teh.443 79.228 2011 152. 2009–2011 Tahun Ketersediaan (Ton) Konsumsi Langsung Dalam Negeri (Ton) Surplus/Defisit (Ton) 2009 151. maka diperoleh proyeksi penawaran dan permintaan teh untuk tahun 2009-2011 dalam bentuk teh daun kering.035 78.8). Proyeksi surplus/defisit teh.7.766 ton.766 2010 151.228 ton (Tabel 4. Tabel 4. Pada tahun-tahun berikutnya surplus ketersedian mengalami sedikit penurunan dan pada tahun 2010 surplus ketersediaan teh sebesar 79.429 74.9.671 72. Penurunan surplus yang terjadi setiap tahun tersebut sebagai akibat dari peningkatan produksi teh didalam negeri lebih rendah dari peningkatan permintaan teh di dalam negeri. 4.394 Pusat Data dan Informasi Pertanian 77 . Berdasarkan hasil tersebut pada tahun 2009 diperkirakan ketersediaan teh di Indonesia masih mengalami surplus sekitar 80.851 80.617 70.Perkebunan 2009 « dalam negeri ini sudah termasuk didalamnya karena faktor peningkatan jumlah penduduk.

45 2.60 6.074 98.68 22.798 23.64 0.12 -0.53 3.47 -2.662 51.181 1978 37.45 3.41 7.696 118.507 142.09 -15.100 2001 67.128 21.08 -2.386 27.374 1987 50.468 25.86 8.02 -1.770 1989 52.700 106.» Outlook Pertanian .431 142.039 156.17 2.87 2.284 27.69 2.99 5.049 1975 34.205 30.944 1984 50.54 -2. (%) 6.57 3.002 107.988 44.456 1970-2009 52.88 4.01 2.10 0.768 44.519 40.721 39.74 -2.04 -24.96 0.86 2.296 50. (%) Ha Indonesia Pertumb.95 -4.230 1972 34.30 -0.03 2.92 3.41 7.880 24.288 1982 45.06 3.82 6.524 152.69 0.517 1995 61.414 1983 45.537 111.680 28.59 3.005 48.347 30.543 49.850 33.707 143.392 26.51 8.339 1974 34.10 4.252 1988 50.841 1999 65.18 4.908 27.583 145.54 -1.040 1993 55.239 PBS Pertumb.34 0.492 1.260 95.734 129.609 37.738 39.06 -4.516 125.199 1.878 34.121 135.45 7.442 40.624 45.80 0.38 -0.27 -7.75 -10.199 38.582 21.34 2.207 30.859 1985 52.506 100.289 2003 64.1.474 25.15 0.36 -0.42 0.23 0.362 30.282 43.71 -1.26 1.87 6.73 -5.939 30.13 0.58 1.26 -0.56 -9.040 Sumber: Ditjen Perkebunan 78 PBN Pertumb.612 1973 33.143 42.39 0.810 36.222 157.68 2.495 51.929 23.145 35.53 -0.83 0.15 -0.62 -1.390 43.63 6.44 1.482 142.872 150.29 0.64 4.53 -3.313 22.272 2000 67.66 0.752 42.05 -1.20 -1.38 -6.58 2.51 -0.52 0.883 23.72 0.998 112.07 -3.117 101.410 42.567 49.238 1991 51.08 -0.082 102.540 126.874 35.57 5.605 48.41 6.77 -7.902 2005 60.33 -4.06 4.35 -5.10 16.81 -1.72 -1.500 43.23 -8.056 24.21 18. 1970-2009 Tahun PR Ha 1970 51.500 41.580 2002 66.36 3.240 50.829 1980 41.839 153.157 44.721 1971 36.839 33.152 1990 51.39 -1.185 2009**) 61.235 Rata-rata : 1970-1998 47.347 30.70 3.65 44.11 -4.68 1.476 142.38 -2.47 -13.07 0.Perkebunan 2009 « Lampiran 4.589 129.312 38.61 5.69 3.675 150.807 40.94 18.79 2.13 116.47 4.35 -0.498 1998 65.263 44.370 102.401 41.575 33.73 -6.599 -12.329 1981 42.590 133. Perkembangan luas areal teh di Indonesia menurut pengusahaan.44 -18.89 1.705 137.37 -3.678 1994 57.13 -2.165 1.03 2.249 1976 35.31 11.939 41.353 126.73 -5.603 41.551 26.97 3.57 -19. (%) Ha -29.47 -3.25 7.67 -2.554 44.32 7.91 -2.872 47.08 120.710 1999-2009 63.990 2007 60.38 -0.96 0.372 1997 64.771 26.661 42.097 1979 39.652 1986 54.986 101.948 2008*) 61.40 -2.86 -4. (%) -0.548 139.95 20.38 -13.355 111.43 5.37 Pusat Data dan Informasi Pertanian .71 -0.12 -5.39 1.25 -1.11 28.401 41.310 24.23 3.080 133.75 -6.66 -0.606 47.75 0.771 2006 60.16 -0.00 -0.72 -1.84 3.227 41.18 10.764 21.42 -0.50 3.78 13.484 40.046 122.202 1996 65.742 2004 61.213 Ha Pertumb.82 -0.468 1992 53.507 49.31 18.00 24.530 101.21 -12.30 6.81 3.37 -0.322 51.95 5.549 44.604 142.100 38.446 49.70 -4.066 46.994 30.89 -8.07 -0.396 1977 35.05 4.08 39.293 120.828 34.17 10.01 -0.579 38.608 41.77 2.31 5.245 129.39 6.15 1.887 39.51 -0.266 35.375 129.

52 10.73 -9.770 41.464 26.132 86.24 12. 1970-2006 Tahun PBN PR Ton Pertumb.240 68.290 1985 30.426 82.733 Sumber: Ditjen Perkebunan Ton -29.30 5.93 19.79 30.81 2. (%) Ton Pertumb.017 70.62 0.256 1997 32.85 70.50 15.98 15.61 -6.00 -9.056 1986 31.709 16.38 0.889 3.475 80.24 14.37 -8.489 1981 23.280 1977 17.612 40.28 2.036 9.92 0.772 90.215 2009**) 39.51 -22.31 8.858 1984 24.527 37.26 23.631 1994 30.01 20.263 1974 13.47 -6.701 164.383 87.98 10.71 2.096 1976 13.844 33.003 162.96 26.13 6.036 14.67 0.63 -11.992 161.587 166.424 1979 19.076 86.988 38.98 -3.520 153.089 73.773 2003 47.374 155.» Outlook Pertanian .443 127.28 0.043 20.58 2.563 1971 14.901 23.11 15.666 126.069 11.38 -14.26 12.86 -1.234 15.16 -2.898 1992 31.237 30.954 10.54 9.02 -1.959 81.06 8.096 133.84 11.72 20.847 80.274 80.577 80.46 -2.44 6.110 24.502 13.834 1993 36.24 0.67 79 .45 16.54 38.59 5.587 27.099 84.992 59.18 1.031 1970-2009 27.317 126.537 32.76 3.023 95.046 3.166 60.27 13.394 1988 25.303 89.60 11.15 0.732 110.Perkebunan 2009 « Lampiran 4.617 -4.36 7.678 17.449 51.466 2001 40.36 3.916 1999-2009 40.851 151.442 43.07 5.593 1996 34.858 150.259 19.368 95.381 1991 27.39 9.80 -2.42 9.19 -5.314 79.81 1.765 82.78 4.34 5.148 46.175 109.511 1972 11.564 1989 25.58 10.39 -3.10 -1.511 1983 22.660 36.35 -15.01 -30.11 34.346 84.93 28.584 65.66 3.2.184 71.059 31.624 88.89 1.00 -1.481 73.801 84.66 -10.62 10.886 60.43 -15.221 49.03 2.082 89.535 10.42 11.207 80.51 6.86 11.65 1.110 97.989 40.34 9.937 2008*) 39.078 4.432 96.619 1998 34.573 17.995 40.05 -3.62 10.650 Rata-rata : 1970-1998 23.391 58.04 4.135 92.386 27.76 12.70 9.54 10.49 5.18 15.80 0.947 1973 14.924 67.069 1980 20.49 0.35 -2.16 7.181 126.04 114.25 1.08 -11.160 2002 44.19 1.76 11.825 161.977 61.222 154.079 2004 40.61 6.192 27.51 -8.767 37.833 1975 14.41 9.29 0.15 -14.480 15.769 1982 16.60 -11.417 153.03 18.416 29.71 1.200 2005 37.17 -17.500 39.32 -27.772 11.294 1995 32.95 -1.10 22.63 -1.45 12. (%) 7.23 6.06 64.74 3.252 40.590 1990 31.26 2.217 106.80 3.00 2.79 -15.30 7.51 -10.98 2.673 Pusat Data dan Informasi Pertanian PBS Pertumb.55 -18.84 -4.355 2007 38. Perkembangan produksi teh di Indonesia menurut pengusahaan.464 129.277 9.303 1978 17.908 17.43 -17.318 84.37 10.51 -11.06 -5.07 -17.951 166.149 79.561 2000 39.36 5.091 146.648 166.04 0.919 139.013 169.53 9.12 -1.638 Indonesia Pertumb.39 -2.10 14.39 6.137 1999 34.41 0.648 70.326 36.95 12.78 -3.928 92.98 3.96 14.545 33.67 19.746 2006 37.55 4.259 91.13 0.41 2.60 5. (%) 1970 20.15 0.80 5.51 -5.56 0.58 -3.01 1.10 11.343 38.75 12.012 31.63 3.124 1987 25.88 -1.93 14.821 165.448 38.80 7. (%) Ton 6.50 0.800 142.099 17.90 -5.657 31.035 94.10 -4.21 2.194 169.623 150.63 16.360 84.867 165.44 7.11 6.994 139.126 78.52 -7.

I.021 1.249 11.271 19.889 1.957 13.253 3. PAPUA BARAT - - - - - - - - - - - - - - - - 60.071 18.470 2. JAWA TENGAH 15. YOGYAKARTA 16.625 7.464 23.947 38.927 24.424 2. NANGGROE ACEH D.010 1. R I A U - - - - - - - - 5. KALIMANTAN BARAT - - - - - - - - 21.937 42.308 2.915 3.196 2. DEPTAN 80 Pusat Data dan Informasi Pertanian .897 13.889 1.192 2. 2007 No Prop PR PBN TM Prod TM PBS Prod TM Prod TM Jumlah Prod - 1. BALI - - - - - - - - 18.098 1.539 55. SUMATERA SELATAN - - 1.470 2.» Outlook Pertanian . JAMBI - - 2.579 80.481 60 36.058 25. BANTEN - - - - - - - - 5.239 10.760 1.895 21.925 13. GORONTALO - - - - - - - - 26. D.Perkebunan 2009 « Lampiran 4.211 5.724 17.733 150. KALIMANTAN SELATAN - - - - - - - - 23. SULAWESI TENGGARA SULAWESI - - - - 1.653 124.625 2. JAWA TIMUR JAWA MALUKU + PAPUA INDONESIA Sumber : Ditjen Perkebunan.371 - - 1.250 30. NUSA TENGGARA BARAT - - - - - - - - 19.604 3.682 9. SUMATERA UTARA - - 8. SULAWESI UTARA - - - - - - - - 25.464 2. SUMATERA BARAT 2.118 1.716 26. MALUKU UTARA - - - - - - - - 32.126 663 27.625 2.012 133. KALIMANTAN TIMUR 2 - - - - - 2 - KALIMANTAN 2 - - - - - 2 - 24.776 78 4.691 2. KEPULAUAN RIAU - - - - - - - - 6.930 61.522 10.012 1.3.250 1.005 1. DKI JAKARTA - - - - - - - - 12.080 109.274 30.340 1.371 8.817 4.077 30. KALIMANTAN TENGAH - - - - - - - - 22.388 3.888 136 226 - - - - 136 226 57 58.522 1.579 12.917 318 471 8.345 29.207 31.005 27. NUSA TENGGARA TIMUR NUSA TENGGARA - - - - - - - - 20. PAPUA - - - - - - - - 33.343 4. JAWA BARAT 53.760 1. M A L U K U - - - - - - - - 31. SULAWESI SELATAN - - - - 129 245 129 245 28.460 112.925 577 1.625 - - 2. BENGKULU - - 20 - 1.223 14.464 2.346 101. - - - - - - 2. SULAWESI BARAT - - - - - - - - 29. LAMPUNG SUMATERA - - - - - - - - 2. BANGKA BEUTUNG - - - - - - - - 9. Jumlah tanaman menghasilkan (TM) dan produksi teh per provinsi menurut pengusahaan. SULAWESI TENGAH - - - - 1.

954 3. Jumlah tanaman menghasilkan (TM) dan produksi teh per provinsi menurut pengusahaan.150 1.150 15.226 27. BANGKA BEUTUNG - - - - - - - - 9.375 - - 1. KALIMANTAN TENGAH - - - - - - - - 22. M A L U K U - - - - - - - - 31.I.192 2.863 9.540 110. NUSA TENGGARA TIMUR NUSA TENGGARA - - - - - - - - 20.425 30.889 1. NANGGROE ACEH D.185 24.928 60.098 1.Perkebunan 2009 « Lampiran 4. DEPTAN Pusat Data dan Informasi Pertanian 81 .263 27.338 5.944 3. KALIMANTAN TIMUR 2 - - - - - 2 - 14.393 2.373 318 571 5. BALI - - - - - - - - 18.302 21.782 10. SULAWESI TENGAH - - - - 1.651 - - - - - - - - 5. SUMATERA BARAT 2.513 4. PAPUA - - - - - - - - 33. SULAWESI UTARA - - - - - - - - 25.256 124.461 24.605 1.425 1. JAMBI - - 2.226 1. YOGYAKARTA 16.484 2.539 2. 2008 No Prop PR TM PBN Prod TM PBS Prod TM Jumlah Prod TM Prod 1. D.892 4.372 9. KALIMANTAN SELATAN - - - - - - - - 23.108 30.623 1.323 1.745 2.345 28.589 150. D.991 25.625 5.406 136 117 - - - - 136 117 62 58.358 100.470 2.430 17.058 25. SUMATERA SELATAN - - 1. R I A U - - - - - - - - 5.625 5.577 30.199 80.215 38. BANTEN - - - - - - - - 2.502 10.776 77 4. KALIMANTAN BARAT - - - - - - - - 21.098 1. JAKARTA 12.375 8.892 9.996 - - - - - - - - 53.892 577 1.851 MALUKU + PAPUA INDONESIA Sumber : Ditjen Perkebunan. JAWA TIMUR JAWA KALIMANTAN 2 - - - - - 2 - 24.858 - - 2.4.059 129.502 1. SUMATERA UTARA - - 4. SULAWESI SELATAN - - - - 129 199 129 199 28. PAPUA BARAT - - - - - - - - - - - - - - - - 61.470 2.858 7. BENGKULU - - - - 1.454 19.539 2.971 55.760 1.100 10.348 1. SULAWESI TENGGARA SULAWESI - - - - 1. GORONTALO - - - - - - - - 26. - - - - - - - - 2.644 65 36. MALUKU UTARA - - - - - - - - 32. SULAWESI BARAT - - - - - - - - 29.465 112. JAWA BARAT 13.889 1.760 1.205 31. JAWA TENGAH 15.» Outlook Pertanian .185 39.317 4. KEPULAUAN RIAU - - - - - - - - 6. NUSA TENGGARA BARAT - - - - - - - - 19. LAMPUNG SUMATERA 11.KJ.429 2.124 1.

530 100.617 14.165 26. GORONTALO - - - - - - - - 26. SULAWESI SELATAN - - - - 129 250 129 250 28. BENGKULU - - - - 1.291 25.484 110.5.889 1.625 5.051 25. DEPTAN 82 Pusat Data dan Informasi Pertanian .605 10.078 129.088 1.325 136 122 - - - - 136 122 67 58.376 - - 1.345 28.760 1. SULAWESI TENGAH - - - - 1. SULAWESI UTARA - - - - - - - - 25. 2009 No Prop PR TM PBN Prod TM PBS Prod TM Prod TM Jumlah Prod - 1.324 3.Perkebunan 2009 « Lampiran 4.220 3. NUSA TENGGARA TIMUR NUSA TENGGARA - - - - - - - - 20.889 1.250 21.760 1.383 5.460 2.963 15.100 11. D.782 10.390 2. NANGGROE ACEH D.650 38.599 151. KALIMANTAN TIMUR 2 - - - - - 2 - KALIMANTAN 2 - - - - - 2 - 24.765 9.455 23.683 17. LAMPUNG SUMATERA 11.279 - - - - - - - - 53.589 2.412 9.470 8. JAWA BARAT 13.165 123.764 888 4.I.470 2.971 55.750 318 470 5.589 2.463 112.889 30.655 30.625 5. M A L U K U - - - - - - - - 31.605 1. JAKARTA 12. JAMBI - - 2.106 1. NUSA TENGGARA BARAT - - - - - - - - 19.170 2.350 1.992 9.376 7. BALI - - - - - - - - 18. KALIMANTAN SELATAN - - - - - - - - 23.165 31. Jumlah tanaman menghasilkan (TM) dan produksi teh per provinsi menurut pengusahaan. JAWA TIMUR JAWA MALUKU + PAPUA INDONESIA Sumber : Ditjen Perkebunan. JAWA TENGAH 15. KEPULAUAN RIAU - - - - - - - - 6. YOGYAKARTA 16.600 1.230 4.405 27.405 1.495 4.848 2.565 1.199 80.429 2. MALUKU UTARA - - - - - - - - 32. KALIMANTAN TENGAH - - - - - - - - 22.644 75 36. - - - - - - 2.655 1. D. SUMATERA SELATAN - - 1. SUMATERA UTARA - - 4. KALIMANTAN BARAT - - - - - - - - 21. SULAWESI TENGGARA SULAWESI - - - - 1. SUMATERA BARAT 2. PAPUA BARAT - - - - - - - - - - - - - - - - 61.088 1.213 26. BANTEN - - - - - - - - 2. R I A U - - - - - - - - 5.930 5. SULAWESI BARAT - - - - - - - - 29.745 2.170 1.454 20.658 1. PAPUA - - - - - - - - 33.925 60.» Outlook Pertanian .071 - - - - - - - - 5.058 31. BANGKA BEUTUNG - - - - - - - - 9.992 577 1.848 - - 2.235 39.KJ.

90 14.Perkebunan 2009 « Lampiran 4.65 12.13 10.07 10.20 12.20 10.00 9. 1984-2008 Tahun Gram/Minggu 1984 1985*) 1986*) 1987 1988*) 1989*) 1990 1991*) 1992*) 1993 1994*) 1995*) 1996 1997*) 1998*) 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 10.50 9.20 Sumber : Susenas.10 14.49 14.30 12.70 14.6.60 12.86 11.» Outlook Pertanian .56 11.90 13.90 11. Perkembangan konsumsi teh di Indonesia.45 13.80 13.66 9.95 10. BPS Keterangan : *) Hasil interpolasi Pusdatin Pusat Data dan Informasi Pertanian 83 .29 13.83 9.41 10.

56 4.52 4.07 1.51 398.50 1.65 995.90 2007 1.25 4.328.407.458.98 1.44 169.98 3.11 203.82 2001 1.67 201.12 330.89 1988 198.10 3.56 1.15 127.40 200.257.814.24 138.454.36 188.08 1992 240.15 1995 282.30 1.91 178.00 100.83 1998 699.Perkebunan 2009 « Lampiran 4.79 1994 255.141.48 1989 210.95 4.49 868.00 558.29 2000 1.81 159.554.377.56 100.317.87 127.21 239.192.339.16 1997 409.208.47 159.00 1993 246.45 592.76 197.00 1984 132.32 208.93 1991 232.35 611.88 1996 390. Perkembangan harga teh di tingkat produsen dan konsumen dalam bentuk daun kering.949.247.073.55 4.44 460.55 2006 1.47 163.78 798.065.65 1.27 1.010.159.113.7.69 2002 1.29 1.98 605.87 303.817.60 119.85 1.18 1987 188.09 1.00 251.347.62 804. 1983-2007 Riil Tahun Konsumen (Rp/Bungkus) Indeks (1983=100)*) Produsen (Rp/Kg) Konsumen Produsen 1983 118.192.49 616.365.20 1990 222.» Outlook Pertanian .83 145.39 3.03 682.41 2.130.93 705.13 1999 942.38 Sumber : BPS Keterangan : *) Data diolah Pusdatin 84 Pusat Data dan Informasi Pertanian .91 216.41 1.95 1.780.91 700.30 1.08 2003 1.81 346.50 4.717.92 1.81 578.721.056.170.134.33 1.283.088.26 1986 150.719.30 213.18 943.05 636.58 168.67 281.125.84 112.919.22 1.20 2005 1.80 2004 1.34 2.36 117.88 188.91 1985 141.83 1.

040 99.527 42.184 103.906 1.615 96.999 3.264 172.849 97.472 8.422 118.428 101.974 32.278 45.995 619 2.990 Neraca Volume Nilai (Ton) (000 US$) 32.191 94.313 121.559 120.669 71.085 114.513 71.227 87.695 6.978 36.848 140.217 14.210 158.574 51.228 96.516 42.359 615 3.241 74.541 125.331 90.897 18.045 125.176 95.632 3.018 102.294 8.658 126.8.687 125.584 146.512 109.699 713 411 582 453 260 190 2.999 32.978 36.311 85.259 140.812 74.524 100.703 10.013 64.897 18.599 47.968 Sumber : Ditjen Perkebunan.504 13.094 104.299 43.645 63.780 55.203 100.339 134.309 114.772 32.480 56.719 101.111 109.094 90.105 107.963 181.966 63.472 8.224 108.789 98.531 7.» Outlook Pertanian .670 46.710 162.091 3.017 110.843 88.177 91.245 45.837 67.625 - 11 25 9 33 43 105 116 178 147 156 192 182 124 110 115 303 120 224 641 8.259 100.776 84.492 56.979 94.342 66.299 43.170 162. 1969-2008 Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Ekspor Volume Nilai (Ton) (000 US$) 32.755 53.603 87.624 120.582 112.837 5.181 90.648 110.660 89.651 3.771 55.342 112.658 99.963 115.344 44.469 51.950 109.272 11.592 226.636 34.676 34.817 3.967 87.921 79. Perkembangan ekspor impor teh di Indonesia.427 88.083 79.736 92.311 68.165 8.364 56.926 51.018 713 776 678 291 329 2.433 56.816 114.531 83.144 112.608 46.926 155.816 98.487 96.711 112.062 148.582 83.493 68.632 2.056 87.660 112.847 97.388 74.207 11.091 3.696 79.920 78.121 149.026 85.962 51.196 127.609 89.496 95.525 102.532 112.515 83.572 116.791 90.295 120.871 4.243 78.735 110.208 97.650 226.660 11.251 94.698 32.955 89.909 127.837 63.140 105.968 78.642 47.014 104.339 118.Perkebunan 2009 « Lampiran 4.291 90.616 92.344 154.435 85.219 113.369 44.294 121.577 53.959 Impor Volume Nilai (Ton) (000 US$) - 25 74 40 62 36 59 65 60 51 51 56 51 65 58 59 251 83 146 540 6.478 5. DEPTAN Pusat Data dan Informasi Pertanian 85 .526 3.924 5.433 96.

015 2.325 5.25 764.29 2000 2.197 5.132 1.04 1982 2.68 1965 1.60 1986 2.62 1993 2.581 1.35 1.42 3.83 1967 1.480 0.308 6.492.43 9.85 -1.51 1.69 2.378 -0.26 757.» Outlook Pertanian .285.58 -2.646.831 4.89 8.658 1.424 1.77 757. produksi dan produktivitas teh dunia.31 1994 2.079.14 3.293.11 2.72 782.152.23 1964 1.89 1.161.075 4.23 2.071.48 1999 2.68 2.872 2.08 1996 2.304.64 1.30 1989 2.32 1969 1.385.88 1974 2.45 -0.64 1.35 1.22 2006 2.13 830.37 2003 2.379.885.861 1.204.28 3.73 0.54 2.286.483.51 1997 2.285.60 2.40 790.62 1.757 3.74 1.771.84 1.57 0.49 2007 2.70 3.01 987.006 2.201 2.27 1.86 771.549.276.13 1962 1.84 1.35 1972 1.96 1.141.608 3.78 1.32 1.66 1979 2.077.350 0.102 -0.33 2005 2.441 4.49 1.120.05 1.032 8.94 -4.082 -0.07 978 1.310.200.14 1998 2.317.61 2.757 1.045.169.67 1.101.38 2.448.153.516 1.508.193.68 1.805.157 0.24 3.866 1.68 1.418 0.465.39 2.165 2.503.866 2.25 1980 2.55 1.527 3.50 Sumber : FAO 86 Pusat Data dan Informasi Pertanian .238.588 2.09 2.601 3.053.518 0.612.04 -0.65 1976 2.51 1971 1.69 2.33 1995 2.88 -0.20 1.205.492.39 1.74 -2.887.36 715.02 800.358.69 1.598.429 1.32 1992 2.06 1975 2.79 1978 2.62 1.54 -0.243.64 1.308.36 3.504 -0.347 3.93 -1.214.13 2.339 1.415.455 0.71 786.061 4.588 -3.12 1.36 3.405.062.40 780.57 776.144.055 6.105.668.397 3.977 2.591.66 2.631 2.307.03 -1.801.856 -0.831 3.834 4.36 1.93 2.480.38 4.805.20 -2.716.472.601 1.97 1970 1.384.084 3.797 4.Perkebunan 2009 « Lampiran 4.32 1.70 1.139.68 753.39 2.34 1987 2. Perkembangan luas areal.260.74 708.319.68 3.38 1.163 -0.989.60 2.03 2.631 0.80 714.452 1.432 -2.291.86 1.692.397.64 -1.37 1.87 726.454.122 5.021.59 3.9.62 1.449.01 2.83 1.85 1977 2.035 -2.346.328 0.506 0.86 1966 1.271.87 2.59 3.74 1.637.308.34 2004 2.212.603.310.949 3.34 0.245.561.963.85 775.524.449 1.781 4.417.24 -0.893.29 -0.84 -3.070.907 -0. 1961-2006 Tahun Luas Areal (Ha) Pertmbh (%) Produksi (Ton) Produktivitas Pertmbh (%) 983.708.94 1.97 2.134 4.737.30 -0.148 4.126 720.165.369.984 1.366 -0.131 3.09 7.260 6.496 1.61 1.046 0.303.290 -0.034 3.70 910.140.432 3.383.24 799.46 1.53 772.04 751.532 6.96 759.785 (Kg/Ha) Pertmbh (%) 1961 1.13 1.366.46 2.363.42 1.52 2.06 2.40 1991 2.50 731.59 1973 1.664 0.26 1983 2.69 1984 2.384.73 1.13 2.016 1.070.199 4.834.326.063.31 3.50 2.30 2002 2.961.91 Rata-Rata 2.688 0.502 3.782 3.298.379.216.785 -10.167.553.409.24 1.63 17.64 1963 1.34 1988 2.269 7.050 1.280.621.19 1.13 2.87 1.126.781 3.52 2.000 11.68 3.116.07 1.442.73 1.963 1.147 1.365 1.092.64 1985 2.601.34 0.415.933.37 1990 2.758.21 1.87 1.31 3.275 1.96 1981 2.09 -3.667 2.287.553 7.092 2.01 1.290 4.77 1968 1.245.71 2001 2.

16 4 Srilanka 308.69 9 Argentina 70.Perkebunan 2009 « Lampiran 4. Rata-rata produksi teh dari negara-negara terbesar di dunia.10.908 8.78 8 Jepang 95.52 6 Indonesia 163.700 2.451 1.70 5 Turki 196.706 100.390 9.801 9.244 25.» Outlook Pertanian .206 5.00 Total Sumber : FAO Pusat Data dan Informasi Pertanian 87 .265 3.19 2 India 897.749 27. 2002-2006 No Negara Produksi (Ton) Share (%) 1 China 965.26 3 Kenya 325.59 7 Vietnam 134.551.832 1.63 11 Lainnya 336.48 3.98 10 Bangladesh 57.160 4.

454 1.18 Belanda 30.00 6 Indonesia 93.92 Total Rusia Impor Volume Share (Ton) (%) 175.925 2.344 3.80 Amerika Serikat 102.813 74.00 1.70 Jerman 45.989 17.75 7 Argentina 68.22 4 India 176.60 Lainnya 240.95 1.642.347 1.138 6.021 14.90 Syiria 28.230.920 5.81 9 Uganda 31.791 1.106 1.272 3.212 1.630 15.» Outlook Pertanian .595 4.23 Pakistan 119.085 19.72 Maroko 49.576 10.88 8 Malawi 41. Rata-rata volume ekspor dan impor teh terbesar di dunia.28 3 Srilanka 259.55 Polandia 29.71 10 Inggris 28.190 34.79 Negara 1 Kenya 2 China 282.06 5 Vietnam 93. 2003-2007 No Negara Ekspor Volume Share (Ton) (%) 325.608 5.75 Uni Emirat Arab 50.840 1.66 574.11.22 Lainnya Total Sumber : FAO 88 Pusat Data dan Informasi Pertanian .833 14.178 2.586 7.Perkebunan 2009 « Lampiran 4.73 Afganistan 26.826 100.

sedangkan nilai impor kapas mencapai US$ 1. Ekspor komoditas kapas tahun 2008 mancapai nilai US$ 39. namun jumlah ini diharapkan dapat meningkat seiring dengan dibukanya lahan pertanaman kapas baru. (2) pengembangan industri hilir dan peningkatan nilai tambah. hanya 1% dari produksi perkebunan Indonesia.523 ton. bahkan dari tahun ke tahun kontribusinya terhadap devisa negara semakin meningkat dibandingkan sub sektor lainnya. 2006) Pusat Data dan Informasi Pertanian 89 . Kendala bagi perkebunan kapas di Indonesia adalah iklim. Di satu pihak tanaman kapas membutuhkan air untuk pertumbuhannya. 2006). dan (5) fasilitas dukungan penyediaan dana (Departemen Pertanian. Kebijakan Pemerintah untuk mendukung pengembangan kapas hingga tahun 2010 adalah (1) peningkatan produktivitas dan mutu kapas. dapat dihasilkan pula biji kapas yang dapat diolah menjadi minyak dan bungkilnya (Wikipedia Indonesia. (3) pemberdayaan petani.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « BAB V. Secara umum. Oleh karena itu kontribusi kapas terhadap produksi perkebunan di Indonesia termasuk kecil. Namun tidak semua komoditas perkebunan mampu menjadi kontributor devisa negara. pengembangan kapas masih mempunyai prospek yang baik ditinjau dari harga. Meskipun pengembangan tanaman kapas di Indonesia hingga tahun 2008 telah mencapai luasan 16.899 ton. 2007). ekspor dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri (Departemen Pertanian.218. (4) pemantauan dan penataan kelembagaan.132 ton. Selain serat kapas yang merupakan produk utama. namun neraca perdagangan komoditas kapas masih mengalami defisit.557 dengan volume impor sebesar 732. salah satunya adalah kapas. Mengigat hal tersebut.736 dengan volume ekspor sebesar 33. KAPAS Salah satu sub sektor penyumbang devisa negara yang cukup besar yaitu sub sektor perkebunan. Pemerintah telah berupaya mengembangkan komoditas kapas agar mampu bersaing dengan komoditas perkebunan lainnya.601 ha dengan produksi 20. dilain pihak tanaman ini membutuhkan musim kering pada saat berbunga sampai panen.

PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS KAPAS DI INDONESIA Selama periode tahun 1970-1985 luas areal perkebunan kapas di Indonesia menunjukan peningkatan. namun setelah periode tersebut terjadi penurunan luas areal kapas yang cukup signifikan (Gambar 5. Perkembangan luas areal kapas di Indonesia menurut status pengusahaan.94% per tahun. 5.1. yaitu dari 5. 1970 -2008 Persentase peningkatan luas areal kapas tertinggi terjadi pada tahun 1982. antara lain kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yang menyebabkan naiknya harga sarana produksi terutama pupuk 90 Pusat Data dan Informasi Pertanian .1). PERKEMBANGAN LUAS AREAL. maka pada tahun 1986-2008 terjadi penurunan luas areal kapas hingga rata-rata pertumbuhan hanya sebesar 0. terutama setelah krisis moneter melanda Indonesia.12%.706 ha atau meningkat 573. Beberapa hal diduga menjadi penyebab penurunan tersebut. Jika tahun 1970-1985 pertumbuhan luas areal kapas di Indonesia mencapai 88.68% per tahun (Tabel 5.1. Gambar 5.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « Untuk mengetahui perkembangan komoditas kapas dan prospeknya dalam mendukung sektor pertanian Indonesia.1). berikut ini disajikan perkembangan komoditas kapas serta prospeknya melalui proyeksi penawaran dan permintaan kapas beberapa tahun ke depan.156 ha pada tahun 1981 menjadi 34. Setelah tahun 1985 luas areal pertanaman kapas cenderung menurun.

maka pada tahun 2006-2008 mulai terjadi peningkatan luas areal kapas. Penurunan luas areal kapas masih terjadi hingga tahun 2005.00 Pertumbuhan (%) -61.21 100.81 0.27 100.00 93.53 2.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « dan pestisida.16 100. Selain itu pada tahun 2001 terjadi penolakan petani kapas di Sulawesi Selatan terhadap pengembangan kapas Bollgard Bt (kapas transgenik hasil bioteknologi) oleh PT Monagro Kimia (gabungan perusahaan Monsanto dari Amerika dan perusahaan lokal).01 37.00 99.00 83. Kontribusi luas areal PR setelah tahun 1985 menunjukkan kenaikan dibandingkan sebelumnya karena adanya pengalihan dan fokus ke komoditas lain seperti untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit Pusat Data dan Informasi Pertanian 91 .06 0. Perkebunan Besar Negara (PBN) dan Perkebunan Swasta (PBS). Perkembangan luas areal kapas di Indonesia menurut jenis pengusahaannya secara rinci disajikan dalam Lampiran 5.13 100.57 12.1.20% dari total luas areal kapas di Indonesia (Tabel 5.08 88.00 84.37 0.1.47 1970-1985 167.56 1.93 Kontribusi (%) Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan.95 -29.70 44.68 26.64 100. 1970 – 2008 Tahun Luas Areal PR PBN PBS 1970-2008 65.43 0.01 12.81 47.11 100.16 1970-2008 94.40 1.00 -0.03 -77.56 30. diolah Pusdatin Di Indonesia terdapat 3 status pengusahaan perkebunan yaitu Perkebunan Rakyat (PR).28 3.00 99.69 32.58 13.52 25.22 4.1).78 2. Dengan adanya program pengembangan kapas. Pada periode tahun 1970-2008 sebagian besar luas areal perkebunan kapas di Indonesia dikuasai oleh PR dengan Persentase mencapai 94.20 1970-1985 1986-2008 Produksi Total PR PBN PBS Total 34.60 6. padahal Sulawesi Selatan merupakan provinsi sentra komoditas kapas terbesar di Indonesia.94 71.57 36. Tabel 5.79 34.71 -52.49 5. Rata-rata laju pertumbuhan dan kontribusi luas areal dan produksi kapas di Indonesia.67 164.56 1986-2008 -0.

Nusa Tenggara Barat dan Jawa Tengah. Berdasarkan data tahun 2004-2008.60% dan 14. Secara umum perkembangan produksi kapas nasional periode 1970-2008 juga menunjukan fluktuasi yang cenderung menurun setelah tahun 1985 (Gambar 5.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « dan karet.60% per tahun.23% dari total luas areal kapas Indonesia (Lampiran 5. sedangkan luas areal kapas di Nusa Tenggara Barat dan Jawa Tengah masing-masing mencapai 14. Meskipun demikian. Selain itu krisis ekonomi ekonomi juga berandil besar dalam penurunan produksi kapas di Indonesia. Gambar 5.3.38% dari total luas areal kapas Indonesia.53% per tahun (Tabel 5. Sejak tahun 1986 luas areal kapas cenderung menurun cukup signifikan. Jawa Timur berada di urutan kedua dengan luas areal kapas mencapai 19. Perkembangan produksi kapas di Indonesia.29%.26% dari total luas areal kapas di Indonesia. Namun tercatat mulai periode 1986-2008 laju pertumbuhan produksi masih meningkat rata-rata sebesar 25.1). Namun dari sisi pertumbuhannya. hal tersebut disebabkan oleh menurunnya luas areal kapas di Sulawesi Selatan.93% per tahun. 1970-2008 92 Pusat Data dan Informasi Pertanian . luas areal PR setelah tahun 1985 justru cenderung menurun dengan rata-rata penurunan sebesar 0. Luas areal kapas di empat provinsi tersebut mencapai 90. Secara rinci perkembangan produksi kapas disajikan pada Lampiran 5. yaitu Sulawesi Selatan.2. Jawa Timur. rata-rata produksi kapas Indonesia masih mengalami peningkatan sebesar 34. Perkebunan kapas di Indonesia tersebar di empat provinsi.2). Sulawesi Selatan mempunyai luas areal pertanaman kapas terbesar yang mencapai 42.2).

60%. Nusa Tenggara Barat berada di posisi ketiga dengan kontribusi rata-rata sebesar 9. Penurunan yang cukup signifikan terjadi pada tahun 2006 dan 2008. maka pada tahun 2006 turun menjadi 0. Jika pada tahun 2005-2006 produktivitas kapas Indonesia. Sentra produksi kapas di Indonesia dan kontribusinya disajikan secara rinci pada Lampiran 5.4). diikuti oleh Jawa Timur dengan kontribusi rata-rata sebesar 11.74%.40% dan 1. Provinsi sentra produksi kapas di Indonesia. sedangkan Jawa Tengah yang luas arealnya lebih besar daripada Nusa Tenggara Barat ternyata hanya memberikan kontribusi 8.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « Produksi kapas Indonesia juga didominasi oleh produksi yang berasal dari PR dengan kontribusi rata-rata tahun 1970-2008 mencapai 93. Pusat Data dan Informasi Pertanian 93 .49%.375 ton/ha.81%. khususnya PR adalah sebesar 0.2). perkembangan produktivitas kapas di Indonesia tahun 20042008 mengalami penurunan. Jawa Timur.4.3. Gambar 5. Sulawesi Selatan merupakan provinsi sentra produksi kapas terbesar dengan kontribusi rata-rata sebesar 48.941 ton/ha dan pada tahun 2008 menjadi sebesar 1.11% (Tabel 5.1). Sedikit terjadi peningkatan produktivitas pada tahun 2005 dan 2007 (Gambar 5.32% (Gambar 5.236 ton/ha (Tabel 5.3). Kemudian. sedangkan PBN dan PBS masing-masing hanya memberikan kontribusi sebesar 5. Nusa Tenggara Barat dan Jawa Tengah. Sentra produksi kapas di Indonesia terdapat di provinsi Sulawesi Selatan. (rata-rata 2004-2008) Secara umum.267 ton/ha. mengalami peningkatan pada tahun 2007 menjadi sebesar 0.

409 0.00 - 0.35 71. Jika pada tahun 1970 ekspor kapas Indonesia hanya sebesar 81 ton.267 0. 94 Pusat Data dan Informasi Pertanian .00 - 0.5 menyajikan perkembangan volume ekspor kapas Indonesia selama periode tahun 1970-2008 yang terlihat berfluktuasi namun cenderung meningkat.2 PERKEMBANGAN EKSPOR-IMPOR KAPAS INDONESIA Gambar 5.00 - 0. (%) 0. 2004-2008 Produktivitas (Ton/Ha) Tahun 2004 2005 2006 2007 2008*) Ratarata PR Pertumb.00 - 0.00 - 0. atau meningkat sebesar 77.81 0.00 - 1.55 0.74 0. Seiring dengan penguatan nilai mata uang dolar Amerika terhadap rupiah.00 - 0.941 252.132 ton.941 1.4.236 0.35 0.2.39 0.498 Pertumb.81 0.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « Gambar 5. Perkembangan produktivitas kapas di Indonesia. (%) Indonesia Pertumb.409 -8.236 31. Rata-rata produktivitas kapas di Indonesia.74 252.55 31.00 - 0.70% per tahun.00 - 0.00 - 0.00 - 0.375 PBN Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan Keterangan : *) Angka Sementara 5.39 -28. 2004-2008 Tabel 5.00 - 0. dan tahun 2008 telah mencapai 33.498 71.375 -8. (%) 0. (%) PBS Pertumb.267 -28.

6).5. Laju pertumbuhan volume impor tidak sepesat laju pertumbuhan volume ekspornya. perkembangan luas areal kapas selama 19602008 menunjukan kecenderungan berfluktuatif (Gambar 5.07% per tahun.28% per tahun. dimana selama tahun 1970-2008 menunjukkan posisi defisit kecuali tahun 1974 dan 1975. Berdasarkan nilai ekspor dan nilai impor diperoleh neraca perdagangan kapas Indonesia.18 milyar. yaitu hanya sebesar 9. Sementara itu impor kapas Indonesia jauh lebih besar dibandingkan ekspornya.11 ribu ton.32 ribu ton dan nilai impor sebesar US$ 1. Selama periode 1960-2008 pertumbuhan rata-rata luas areal kapas meningkat sebesar 0.07 milyar (Lampiran 5. Impor kapas tertinggi terjadi pada tahun 2001 dengan volume impor mencapai 760. Volume ekspor kapas tertinggi terjadi pada tahun 2003 sebesar 109.5).5).» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « maka nilai ekspor kapas Indonesia juga mengalami peningkatan dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 118. Gambar 5. meningkat menjadi 732. Pada tahun 1970 volume impor kapas Indonesia sebesar 18.67% per tahun.172 ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 24.72 juta (Lampiran 5.3 PERKEMBANGAN LUAS AREAL DAN PRODUKSI KAPAS DUNIA Berdasarkan data dari USDA.90 ribu ton pada tahun 2008. Defisit neraca perdagangan kapas Indonesia terbesar terjadi pada tahun 2008 sebesar US$ 1.372% dengan Pusat Data dan Informasi Pertanian 95 . Perkembangan volume ekspor dan impor kapas Indonesia. 1970-2008 5. Pertumbuhan tertinggi terjadi saat tahun 1995 sebesar 11.

Secara rinci perkembangan luas areal kapas dapat dilihat pada lampiran 5. 1960-2008 Meski berfluktuasi. Menurut data USDA. Secara rinci perkembangan produksi kapas dapat dilihat pada Lampiran 5.6 Perkembangan luas areal kapas dunia.6.7 Perkembangan produksi kapas dunia.6.44 ribu ton. Gambar 5. Pertumbuhan cukup signifikan terjadi tahun 1984 sebesar 33.7).» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « luas areal sebesar 35. Gambar 5. melebihi peningkatan luas arealnya.27% per tahun. Kelima negara tersebut 96 Pusat Data dan Informasi Pertanian . perkembangan produksi kapas dunia selama periode 1960-2008 cenderung meningkat (Gambar 5. pertumbuhan rata-rata produksi kapas dunia tahun 1960-2008 mencapai 2. 1960-2008 Berdasarkan data rata-rata produksi lima tahun terakhir (2002-2006) terdapat 5 negara produsen kapas terbesar di dunia yang memberikan kontribusi kapas sebesar 76% terhadap total produksi kapas dunia.84% dengan tingkat produksi sebesar 121.71 ribu ha.

50%).37%).64 ton/ha.8.7. Produktivitas tertinggi dicapai pada tahun 2007 yaitu sebesar 3. Negara produsen kapas terbesar dunia.07% per tahun.61 juta ton (3.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « adalah Myanmar dengan rata-rata produksi 30. Besarnya kontribusi produksi negara produsen kapas dunia secara rinci disajikan pada Lampiran 5.79 juta ton dan berkontribusi 22. 1960-2008 Pusat Data dan Informasi Pertanian 97 . Australia 4. (rata-rata 2002-2006) Perkembangan produktivitas kapas dunia tahun 1960-2008 menunjukan kecenderungan meningkat walaupun rata-rata pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan produksinya (Gambar 5.71 juta ton (3.9). Gambar 5. Perkembangan produktivitas kapas dunia.99 juta ton atau berkontribusi 2.8).42%) serta Zimbabwe dengan rata-rata produksi 3. Menurut data USDA.89 juta ton (4.86%. Albania 4. selama kurun waktu 1960-2008 rata-rata pertumbuhan produktivitas kapas dunia meningkat sebesar 2.96% (Gambar 5. Turkmenistan 5. Gambar 5.9.

Gambar 5.001 ton.81% per tahun.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « 5.4 PERKEMBANGAN EKSPOR-IMPOR KAPAS DUNIA Perkembangan volume ekspor dan impor kapas dunia pada periode tahun 1960-2008 menunjukan kecenderungan meningkat (Gambar 5. 98 Pusat Data dan Informasi Pertanian . sedangkan urutan berikutnya diduduki oleh negara Pakistan. Pada periode tahun 1960-2008 tampak pertumbuhan volume ekspor kapas sebesar 2.13 ribu ton dengan nilai kontribusi sebesar 11.11). Ekspor tertinggi terjadi pada tahun 2005 sebesar 40.impor kapas dunia.8.10.10). Meksiko dan Turki (Gambar 5. Sedangkan rata-rata pertumbuhan impor kapas dunia sebesar 3.13 ribu ton atau berkontribusi sebesar 38.09% per tahun dan Impor tertinggi juga terjadi pada tahun 2005 sebesar 40.35% terhadap total ekspor kapas dunia. Secara rinci besarnya kontribusi masing-masing negara eksportir kapas disajikan pada Lampiran 5.390 ton. Union Soviet merupakan negara eksportir kapas terbesar dunia urutan pertama dengan rata-rata volume ekspor sebesar 14.9. 1960-2008 Berdasarkan data rata-rata volume ekspor kapas pada tahun 2004-2008 (USDA). Perkembangan volume ekspor . Diikuti oleh Amerika Serikat dengan volume ekspor sebesar 4. Perkembangan eksporimpor kapas dunia secara rinci disajikan pada Lampiran 5.21% terhadap total ekspor kapas dunia.

Negara importir kapas dunia lainnya hanya memberikan kontribusi volume impor dibawah 7%.27 ribu ton dan berkontribusi sebesar 8.10.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « Gambar 5. Gambar 5.11 Negara eksportir kapas terbesar dunia. (rata-rata 2004-2008) Pusat Data dan Informasi Pertanian 99 .12 Negara importir kapas terbesar dunia.99% terhadap volime impor kapas dunia. Negaranegara importir kapas terbesar di dunia rinci disajikan pada Lampiran 5. (rata-rata 2004-2008) Berdasarkan data rata-rata 2004-2008 yang bersumber dari USDA terlihat bahwa Uni Soviet juga merupakan negara pengimpor kapas terbesar dunia yakni mencapai 10.96 ribu ton dan berkontribusi sebesar 29.96%. Korea berada pada urutan kedua dengan volume impor kapas sebesar 3.

Pada tahun 2010 produksi kapas Indonesia diperkirakan mencapai 21. Maka dari itu. sehingga diperkirakan Indonesia masih mengimpor sekitar 400600 ribu ton tiap tahunnya. Proyeksi dilakukan dengan menggunakan software Minitab seri 13.718 ton.882 ton pada tahun 2011.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « 5. dan naik menjadi 21. untuk menghitung jumlah konsumsi 100 Pusat Data dan Informasi Pertanian .76 Produksi kapas di Indonesia diperkirakan akan meningkat pada tahun 2010 dan 2011 dengan laju pertumbuhan sebesar 0. 5. Hasil proyeksi produksi kapas dengan menggunakan model tersebut disajikan pada (Tabel 5. 2009-2011 Tahun Produksi Kapas Pertumbuhan (Ton) (%) 2009 21. dengan model terbaik yang diperoleh adalah Double Exponential Smoothing.553 2010 21.3) Tabel 5.76% per tahun.5 PROYEKSI PENAWARAN KAPAS 2009-2011 Proyeksi panawaran kapas di Indonesia dilakukan hanya dengan menggunakan satu pendekatan yaitu produksi.3.76 Rata-rata Pertumbuhan 0.1. TAHUN 2009-2011 Produksi kapas dalam negeri masih belum bisa memenuhi total kebutuhan kapas Indonesia. Proyeksi produksi kapas Indonesia.882 0. Pada analisis ini dilakukan pemodelan berdasarkan series data produksi tahunan. Mengingat luas areal pertanaman kapas yang semakin sempit dari tahun ke tahun.77 2011 21.718 0.6 PROYEKSI PERMINTAAN KAPAS. dengan Mape sebesar 37. maka diperlukan teknologi yang akan meningkatkan produktivitas agar tercapai produktivitas optimal.

7 PROYEKSI SURPLUS/DEFISIT KAPAS Berdasarkan hasil proyeksi penawaran dan permintaan kapas di Indonesia diperoleh proyeksi surplus/defisit kapas.49 ribu ton pada tahun 2010 dan 789.580 2010 798. diperkirakan konsumsi kapas akan meningkat selama periode 2009-2011 dengan peningkatan sebesar 1.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « dalam negeri. 2009-2011 Tahun Konsumsi Kapas Pertumbuhan (Ton) (%) 2009 784.96 ribu ton pada tahun 2011 (Tabel 5.5).839 1. Tahun 2009 defisit kapas diperkirakan mencapai 763. Seiring dengan semakin meningkatnya permintaan akan kapas yang tidak mampu diimbangi oleh produksi dalam negeri.21 ribu ton pada tahun 2010 dan menjadi 811.4 Hasil proyeksi permintaan kapas.74 2011 811.84 ribu ton pada tahun 2011. sebelumnya pada tahun 2009 konsumsi kapas Indonesia hanya sebesar 784. Tabel 5. Dengan menggunakan estimasi model Double Exponenttial Smoothing. naik menjadi 776. menurut perhitungan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) jumlah konsumsi sama dengan 98% hasil impor kapas ditambahkan dengan jumlah total produksi dalam negeri.209 1.58 ribu ton.72% per tahun.03 ribu ton. Dalam memproyeksikan permintaan kapas sangat berhubungan dengan jumlah konsumsi dalam negeri. Pusat Data dan Informasi Pertanian 101 . Secara absolut konsumsi kapas akan terus mengalami peningkatan dari angka 798.72 5. pada tahun 2009-2011 diperkirakan masih terjadi defisit kapas.71 Rata-rata Pertumbuhan 1.

2009-2011 Produksi Kapas Konsumsi Kapas Surplus/Defisit (Ton) (Ton) (Ton) 2009 21.027 2010 21.718 798.553 784.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « Table 5.491 2011 21.5 Proyeksi surplus/defisit kapas Indonesia.882 811.209 -776.580 -763.839 -789.957 Tahun 102 Pusat Data dan Informasi Pertanian .

54 53.430 33.775 1994 34.415 6.715 9.724 1995 32.02 -30.82 1.00 - 65.94 -28.033 36.01 -0.21 18. (%) 443.553 1989 20.95 37.036 78 30.110 1986 35.34 20.236 13.601 258.125 (Ha) PBS3) Pertumb.63 -90.70 119.549 2000 11.337 2003 6.039 21.002 1997 26.49 -100.44 -22.133 1984 42.53 19.982 2006 6.107 1974 11.53 -32.263 13. Perkembangan luas areal kapas di Indonesia menurut status pengusahaannya.94 -74.724 32.92 178.85 978 994 1.70 88.94 -39.20 -1.443 1982 31.31 203.80 240.334 16.344 1985 50.34 -29.92 21.267 33.529 2.24 -9.47 15.208.002 26.737 2007 16.247 51.94 -0.81 -6.318 4.03 -52. (%) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.06 -8.86 5.352 1971 7.00 19.97 0.01 -2.46 16.60 881 2.982 6.75 0.44 -22.587 21.39 229.98 -39.00 - 2.08 -52.06 155.370 2002 9.00 -89.267 1993 33.00 -28.39 -37.99 -63. 1970-2008 Tahun PR1) (Ha) PBN2) Pertumb.82 1.85 -100.23 21.96 -31.720 5.372 6.00 -74.59 -46.357 7.698 35.859 1991 25.17 -18.720 2005 5.30 -83.342 1996 34.601 2008*) Rata-rata pertumbuhan (%) 1970-2008 18.706 36.26 18.51 4.027 1986-2008 21. (%) 110.39 21.13 -21.86 5.279 43.56 167.64 0.64 -89.152 1976 2.234 1973 10.554 935 580 580 150 150 150 150 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 345 35 0 0 0 0 0 246 524 45 (Ha) Pertumb.17 21.91 30.907 1990 20.41 -16.91 30.548 1988 34.68 Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan Keterangan : *) Angka sementara 1) PR = Perkebunan Rakyat Pusat Data dan Informasi Pertanian 2) PBN = Perkebunan Besar Negara 3) PBS = Perkebunan Besar Swasta 103 .002 3.00 -6.88 20.21 372.430 1992 33.82 87.00 0.245 5.859 25.89 215.80 9.81 -6.246 34.17 -7.552 6.57 -95.45 451.12 4.32 64.13 -21.73 1.06 -8.402 7.08 6.72 14.09 -34.99 17.79 -1.923 1.53 2.094 17.40 -3.19 231.85 -29.541 19.541 1998 19.56 6.775 34.988 8. (%) 1970 1.217 5.400 3.016 1981 2.53 2.10 -71.213 1970-1985 14.61 39.560 1980 15.09 -34.658 29.586 1975 1.14 0.13 243.18 33.00 -100.137 0 336 313 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.200 2.50 573.945 1977 297 1978 827 1979 4.553 2001 10.99 -62.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « Lampiran 5.25 -12.156 34.00 0.522 17.001 184 178 211 323 343 1.1.47 2.17 -10.86 -100.46 -19.371 1987 29.094 1999 17.868 1.487 418 1.342 34.94 -28.346 8.974 1983 35.16 (Ha) Indonesia Pertumb.51 4.878 20.263 13.549 11.52 18.70 119.784 1.370 20.553 10.69 -74.330 8.49 -0.34 20.352 1972 7.737 16.357 2004 7.

Jawa Tengah 1.55 3.2008 Tahun Luas Areal (Ha) 2004 2005 2006 2007 2008*) 4.2.178 1.926 19.720 5. Sulawesi Selatan 5.750 960 9. Nusa Tenggara Barat 1.404 1.800 1.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « Lampiran 5.62 100.458 14.15 4.010 800 2.409 2.00 7.26 42.157 Share (%) Rata-rata Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan Keterangan : *) Angka sementara 104 Pusat Data dan Informasi Pertanian .255 749 1.00 Indonesia 6.23 90.515 1.29 61.153 2.60 76.26 3.760 1.421 14.208 9.600 1.515 2.982 6.500 1.982 100.263 13.298 Kumulatif (%) 1.38 - - - 1.985 1.305 2. Jawa Timur 1.540 1.218 42.737 16. Lainnya 6. 2004 .177 3.050 3. Perkembangan luas areal kapas di provinsi sentra.

73 -64.90 -93.786 2001 7.74 32.26 86. (%) (Ton) Pertumb.161 1986-2008 9.78 -12.203 14.241 1.670 1993 13.411 3.260 1995 7.08 -17.57 -46.98 9.26 85.241 2006 1.682 2.21 0.222 25.76 -8.180 6 Indonesia PBS (Ton) -0.157 2.448 3.31 -24.686 1.29 81.710 1997 5.57 26.672 12.151 1984 23.53 -8.83 -79.28 -5.386 428 1.57 -73.465 1976 867 1977 179 1978 476 1979 3.54 -47.22 -89.39 673.029 8.350 34.71 25.32 -6.929 20.792 1980 9.68 -67.27 58. 1970-2008 1) Tahun 2) PR (Ton) Pertumb.680 1985 24.93 Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan Keterangan : *) Angka sementara 1) PR = Perkebunan Rakyat Pusat Data dan Informasi Pertanian 2) PBN = Perkebunan Besar Negara 3) PBS = Perkebunan Besar Swasta 105 .522 7.00 -100.772 14.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « Lampiran 5.337 4.94 128.870 5.151 2.41 -7.25 2.083 1990 11.453 2003 3.166 11.565 904 5.92 696.60 82.162 1974 2.75 8.08 -24.98 -3.74 525 520 680 1.00 -86.06 3.523 Rata-rata Pertumbuhan (%) 1970-2008 8.649 1.72 -100.457 3.062 6.00 185.50 -23.870 1998 5.576 1971 1.68 -16.27 58.033 2002 6.55 39.72 -8.165 24.48 10.95 30.77 112.101 2.441 1970-1985 7.157 2005 2.55 169.97 151.45 -48.87 -9. Perkembangan produksi kapas di Indonesia menurut status pengusahaannya.568 9.523 -30.69 36.22 -69.443 1992 12.842 1981 13.002 1973 1.315 2.146 1988 7.01 -25.884 14.23 -29.03 488 1.23 -29.243 13.71 -60.61 -15.561 1991 13.440 2004 3.610 6.952 18.710 5. (%) 470.3.24 475.87 -9.94 71.021 15.01 71.670 13.53 47.648 1983 13.01 -25.150 1989 13.522 1996 7.260 7.08 -24.00 -15.25 -46.70 3. (%) -37.786 7.782 1.54 -47.15 15.94 506.32 -6.140 1.337 1999 4.94 -18.21 -100.70 3.98 80.467 1986 18.240 7.82 3.925 1975 2.67 176.64 159.039 3.41 -63.00 - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 272 1.76 -60.845 1987 18.52 9.561 13.721 1982 12.66 -22.11 -38.97 -33.039 2000 3. (%) 1970 2.79 164.443 12.14 0.32 -22.75 8.26 -3.12 229.92 -42.19 16.440 3.332 3) PBN (Ton) Pertumb.70 -93.39 673.99 -21.929 2008*) 20.29 6.69 -8.551 156 946 348 350 94 94 27 27 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 29 4 0 0 0 0 0 0 12.72 -15.620 1972 1.50 -23.28 -5.907 247 80 68 194 207 13 0 66 56 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 44.67 -77.22 100 226 12 Pertumb.00 -71.98 -11.17 139.25 2.15 -100.63 16.00 3.672 2007 12.81 -61.57 -40.240 5.28 0.35 165.40 55.024 18.00 - 3.519 12.772 1994 14.

32 78.241 1.468 642 774 8. 2004 .60 1.4.518 48.002 21.157 2.627 12.81 60.47 100. Perkembangan produksi kapas di provinsi sentra di Indonesia.60 2 Nusa Tenggara Barat 436 394 246 2.098 11.00 4 Jawa Tengah 5 Lainnya Indonesia - - - 854 3.010 568 180 1.296 100.929 20.149 2.933 13.238 2.00 Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan Keterangan : *) Angka sementara 106 Pusat Data dan Informasi Pertanian .436 638 905 9.74 70.044 741 955 5.53 3.15 1.915 4.178 1.2008 No Tahun Produksi (Ton) 2004 1 Sulawesi Selatan 2005 2006 2007 2008*) Rata-rata Share (%) Kumulatif (%) 48.522 9.41 3 Jawa Timur 668 538 246 2.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « Lampiran 5.

11 305 -48.12 1979 975 875.05 923.83 453.91 115.12 556.677 9.46 7.69 211.697 24.466 -33.00 26.67 1974 1.92 30.731 0.89 2007 54.648 5.338 29.01 11.96 152.85 20.872 -708.328 -4.720 27.71 649.26 631.55 763.15 1986 12.61 376.528 98.96 2001 29.44 1991 20.666 2. (Ton) (%) (000 US$) (%) 18.557 52.70 1998 7.164 -179.03 452.69 Impor Volume Pertumb.857 89.218.27 1993 27.340 206.058 -7.337 37.134 0.338 98.833 -5. 1970-2008 Ekspor Tahun Volume Pertumb.02 4.27 171.897 -16.00 138 1.745 -6.462 68.093 -750.118 64.657 6.77 125.92 2006 75.76 434.047.999 423.70 1976 980 276.685 -624.140 73.262 -11.836 -899.66 39.78 1995 18.968 -16.55 2002 29.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « Lampiran 5.48 25.524 6.40 728.67 10.17 9.589 -214.760 2.41 214.416 17.16 3.728 23.68 634.827 21.06 306 -46.011 -28.614 3.344 10.603 39.72 68.57 4.406 157.177 172.20 184.469 22.38 463.440 -15.09 1977 1.21 1997 13.169 111.341 10.867 -657. (Ton) (%) (000 US$) (%) 1970 81 1 1971 418 416.09 Neraca (000 US$) -10.521 65.43 129.735 -21.72 590 92.585 92.419 1.01 19.82 1982 3.552 -4.372 34.647 -33.815 -40.31 1985 4.401 101.177 287.96 1999 8.70 118.89 562.537 -7.27 173.55 456.268 30.819 37.736 22.708 6.661 2.812 -13.86 800.581 -552.48 1992 14.246 -18.970 26.09 175.427 -4.178.66 546 101.635 0.29 197.641 -77.194 -71.526 -6.898 -29.56 1989 8.509 -16.356 4.59 532.02 Rata-rata Pertumbuhan (%) 1970-2008 77.927 23.35 1981 6.81 1984 6.237 7.436 -9.77 357.92 78 609.00 271 -11.41 1996 15.22 11.Tahun 1970-1999 BPS.797 -184.49 570 331.48 701.58 6.172 268.031 -14.840 -589.438 32.50 579.882 -627.72 667.13 132 -4.986 -16.10 92.40 301.78 39.28 1970-1985 140. Nilai Pertumb.179 0.775 455.67 10 66.31 32.796 -74.821 20.50 2008 33.Tahun 2000-2008 BPS.37 179.384 -111.61 9 -94.689 -3.44 760.066.86 32.45 690.067 57.390 8.06 1.49 153 96.662 -4.429 -301.433.929 44.05 8 700.91 708.366 -28.03 12.285 -53.061 -798.34 465.633 8.134 127.56 265.24 232. diolah Pusdatin Pusat Data dan Informasi Pertanian 107 .39 18.009 -6.606 27.51 981.515 -9.99 2003 109.50 265.00 1973 552 28.96 196.77 136.91 43.080 -690.509 -768.76 1.727 -688.35 23.58 443.409 -663.79 9.205 -1.701 -50.15 1978 100 -94.910 14.54 27.888 -51.66 1986-2008 36.16 Sumber : .025 3.383 78.970 8.732 -966.488 95.390 -11.08 171.059 28.545 -56.78 57 470.71 99. Perkembangan volume dan nilai ekspor kapas Indonesia.159 31.041 -33.67 10.927 187.578 21.71 442 -68.899 25.51 500.715 -171.637 -197. diolah Direktorat Jenderal Perkebunan .55 672.711 -16.31 1.129 -8.881 35.00 1972 429 2.632 -24.76 11 -80.78 344.66 113.61 2005 26.632 -136.427 110.26 416.5.438 -375.32 24.07 119.14 622.35 111.785 17.38 24.69 732.81 820 85.322 34.294 14.143 -17.63 6 -25.596 57 11 -95.675 -2.175 -173.00 1975 260 -77.565 -0.45 1994 13.006 -264.71 2004 27.52 1990 11.770 28.163 46.51 485.69 2000 27.835 54.02 468.527 -174.057 9.51 1988 4.586 -1. Nilai Pertumb.96 816.111 -660.728 8.33 11.880 13.183 0.877 -481.30 584.329 24.33 1980 1.111 10.32 460.180 -549.32 1983 6.48 1987 14.99 15.53 18.70 9.132 -38.873 24.317 35.

66 120.168 -6.70 2.04 1988 33.11 1.728 5.02 63.07 96.52 1987 30.90 2.81 -4.52 -7.59 84.10 1983 30.65 -3.551 -1.03 1990 33.62 2.10 2.12 1976 30.527 4.71 6.48 1985 31.76 1.85 53.09 92.31 2006 34.702 10.326 -4.18 3.64 3.975 -15.831 9.281 2.19 81.870 -10.37 2001 33.64 1989 31.67 2.07 70.78 6.579 -4.752 -8.09 2003 32.61 1981 32.36 52.31 1998 32.32 2.356 -1.04 1966 31.096 -6.40 1961 32.262 -8.219 -1.85 59.85 2.59 87.78 2.53 1991 34.151 4.348 -13.743 -5.74 1982 31.285 -0.69 66.03 12.496 -6.29 1994 32.149 9.849 3.667 -6.769 -6.44 1.72 3.6.758 6.20 56. produksi dan produktivitas kapas Dunia.747 5.95 44.03 1980 32.72 54.705 -0.478 0.42 1.84 2.295 9.93 1969 32.540 1.13 1970 31.47 63.27 2.65 2.21 2.62 -4.90 1.64 1965 33.921 -0.41 1971 33.07 1960-1985 0.21 1992 32.377 -3.97 1967 30.40 -5.873 8.716 -5.78 2.35 2.815 8.576 9.696 -6.29 1.763 -2.800 -2.99 1.05 89.88 3.44 1.572 2.22 56. Perkembangan luas panen.09 121.02 46.345 11.36 -1.73 2.56 1968 31.41 2.06 90.437 25.839 8.64 2.533 2.40 2.817 2.720 -5.81 -5.96 1.523 2.115 -4.800 0.12 1974 33.152 6.977 -7.81 1978 32.74 4.17 2.51 3.845 -2.07 2.79 2.00 2.507 2.79 51.026 -6.50 -3.74 1979 32.37 93.894 -2.57 1986-2008 0.69 -2. 1960-2008 Tahun Luas Panen (Ha) Produksi Pertumb. (%) 1960 32.871 5.68 -1.81 1995 35. (%) 45.76 68.369 0.099 1.14 1.60 3.90 0.68 5.867 4.62 2.98 1973 32.51 66.938 1.566 -1.64 10.31 79. Diolah Pusdatin 108 Pusat Data dan Informasi Pertanian .38 1996 33.741 9.53 Sumber : USDA.40 13.50 1972 33.90 3.67 -0.11 1.93 5.96 -3.07 62.23 2004 35.73 2.016 -1.03 55.35 98.59 2.57 61.446 15.73 1.93 95.61 -2.14 1.12 88.458 1.27 59.894 10.05 53.93 1.64 3. (%) (Ton) Produktivitas Pertumb.220 3.81 65.114 1.581 -6.67 -6.21 1.35 2.03 2.37 1962 31.278 4.09 82.394 -4.65 2008 31.82 90.98 1993 30.45 1984 33.87 2000 32.560 -1.55 4.910 3.277 -0.61 1963 32.54 1986 29.737 -2.332 -3.645 -9.16 1.418 0.99 1.964 2.066 (Ton/Ha) Pertumb.990 4.49 -5.706 33.52 121.359 -12.42 50.84 2.19 1997 33.35 1.56 2005 34.00 3.34 1.29 2.908 13.57 1964 33.15 2002 30.023 3.142 -9.09 6.45 1977 33.99 86.00 2.13 1999 32.74 2007 33.814 -2.936 5.52 4.347 -7.48 7.35 2.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « Lampiran 5.40 80.71 56.63 22.989 5.89 Rata-rata Pertumbuhan (%) 1960-2008 0.947 11.52 1.64 87.08 2.63 4.72 2.14 1.83 2.77 1.13 1975 29.23 108.786 4.75 4.10 1.920 -1.709 10.446 10.51 1.310 5.59 1.06 1.088 -4.72 116.89 77.53 0.68 86.76 2.97 63.

2006 No. Negara Produksi (000 Ton) 2002 2003 2004 2005 2006 19.00 Sumber : USDA.593 3.86 22.439 3.692 2.822 2.406 3.004 31.775 74.834 40.515 70.199 244 1.863 3.10 10 Argentina 11 Lainnya Indonesia 949 1.400 6.915 2.923 4.00 9 Greece 2.493 68.86 100.031 33.149 5.731 137.988 2.785 22.14 60.054 5.23 3 Australia 3.358 154.04 49.885 3. Negara produsen kapas terbesar di dunia.91 40.505 3.632 5.7.426 Share (%) Kumulatif (%) 30.472 2.578 2.613 3.446 3.183 3.60 8 Algeria 2.11 6 Syrian Arab Republic 3.045 1.256 2.881 3. 2002 .988 4.483 3.511 4.50 30.876 6.141 70.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « Lampiran 5.289 2.263 126.629 29.96 37.216 142.495 50.828 2.788 10.86 Rata-rata 1 Myanmar 2 Turkmenistan 5.42 34.10 47.888 3.550 66.680 100.735 5.887 4.354 4.565 40 4.806 3.409 1. Diolah Pusdatin Pusat Data dan Informasi Pertanian 109 .379 6.833 134.00 112.696 3.678 5.714 3.664 3.749 2.832 4.37 27.990 4.285 3.235 2.73 4 Albania 4.829 3.02 7 Georgia 2.340 6.58 42.431 5.15 5 Zimbabwe 6.40 45.

390 2006 34.887 1972 23.59 -0.439 2004 31.81 -1.472 13.18 -10.8.07 -17.95 19.926 9.09 0.069 1993 22.47 7.170 9.863 34.001 32.64 7.393 20.15 -3.097 1970 19.25 5.19 -12.400 22.230 1986 15.438 1980 24.93 28.33 4.63 -7.58 -4.61 0.884 13.10 -14.691 1973 22.75 0.570 17.448 1961 12.44 1.986 28.03 14.72 7.037 1967 14.03 46.430 16.35 6.35 0.225 1975 22.77 5.717 23.85 49.140 16.20 5.739 1966 15.80 0.29 8.46 6.932 20.287 1990 23.86 -3.65 Volume Impor (Ton) 12.799 1981 11.561 1971 20.894 2003 29.26 -2.475 23.80 -52.78 -12.04 -1.899 16.88 12.088 18.54 -25.84 5.709 1962 12.62 6.873 22.62 14.733 1991 22.762 13.665 1978 24.39 7.871 1992 21.022 2007 35.30 -15.98 3.88 5.301 1998 18.298 23.429 16.717 27.85 15.755 1999 22.68 Pusat Data dan Informasi Pertanian .630 1979 28.18 4.855 1989 25.17 -7.56 3.745 1997 22.764 40.48 4.876 1977 23.905 19.559 1968 12.20 -6.46 14.56 -15.23 2.673 1964 13.216 13.64 -56.838 19.80 -24.183 1984 11.501 13.570 21.146 24.791 1965 13.38 9.16 2.79 2.73 -2.450 1987 22.67 11.689 1983 11.940 20.871 20.343 9.42 -3.79 18.65 17.569 1963 14.56 -3.64 -6.723 28.46 -12.052 19.87 -0.020 12.44 48.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « Lampiran 5.51 0.626 9.769 26.91 -0.163 1976 21.908 2008 26.08 15.757 1982 11.99 1.90 18.980 2002 26.30 -2. 1960-2008 Volume Ekspor (Ton) 1960 14.26 -11.283 19.69 51.45 -3.257 10.14 39. Perkembangan ekspor .35 7.551 11.78 13.761 20.impor kapas di dunia.81 0.491 20. Diolah Pusdatin Tahun 110 Pertumbuhan (%) -12.07 6.42 -1.940 1974 21.46 34.52 9.85 -8.602 1996 21.717 1985 10.68 -17.99 23.24 -7.065 23.311 22.986 1969 13.70 5.797 1995 22.628 1988 25.74 -6.161 1994 22.674 17.10 16.04 10.614 12.051 13.06 -4.678 2001 25.317 2000 22.085 Pertumbuhan (%) -7.60 28.969 13.480 2005 40.850 Rata-rata Pertumbuhan (%) 1960-2008 1960-1985 1986-2008 Sumber : USDA.46 -10.01 -0.77 -3.36 -0.18 2.

610 8.449 44.414 3.56 3 Pakistan 660 3.94 3 Japan 1.350 1.94 8 Poland 70.10.425 1.32 33.231 2.170 1. Diolah Pusdatin Lampiran 5.998 2.050 650 1.547 4.74 7 India 1.196 19.615 2.343 1.000 4.05 69.000 2.050 857 2.180 5.010 13.565 7.465 6.00 10.52 73.214 2.400 3.219 1.053 36.200 2.37 78. Federal Republic o 11 Other Indonesia 2008 Rata-rata Share Kumulatif (%) Union Soviet 10 Hong Kong 2004 Share (%) 680 703 900 950 1.030 3.62 52.500 4.71 8 Guatemala 375 550 700 800 525 590 1.800 2.928 1.923 6.271 6.094 2. 2002-2006 No.950 4.00 Sumber : USDA.957 29.436 17.130 11.530 7.60 77.250 1.69 4 China 1.300 1.810 1. Negara Ekspor (Ton) 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Share (%) Share Kumulatif (%) 1 Union Soviet 14.268 2.905 1.35 2 United States 3.78 80.47 100.840 100.28 6 Italy 2.400 1.981 5.584 37.96 38.643 9.35 38.530 1.00 10 Syria Lainnya Indonesia 8.549 13.129 1.054 2.450 4.97 58.31 5 Taiwan 2.99 2 Korea.750 2.285 3.884 2.305 4.282 1.31 9 Sudan 625 475 500 500 425 505 1.9.75 45.060 2.539 100. Negara Impor (000 Ton) 2005 2006 2007 1 6.23 67.419 6.200 2.88 72.300 2.068 975 875 1.450 1.455 29.81 5 Turkey 1.09 64.150 2.892 1.200 950 1.34 1.272 8.97 75.756 1.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « Lampiran 5.653 12.895 9.878 7.000 10. Rep 3.029 3.300 2.279 8.72 4 Mexico 1.800 4. Negara eksportir kapas terbesar dunia.150 1.70 7 France 1.588 11.15 59. Diolah Pusdatin Pusat Data dan Informasi Pertanian 111 .400 1.014 44.130 38.87 6 Egypt 975 1.00 Sumber : USDA.850 2.284 10.862 5.350 775 800 1.500 2.096 38.557 1.53 35.150 3.80 1.000 3.741 10.99 29.480 2.179 7.000 14.200 2.250 1.407 38.900 1.68 100.501 4.353 1.972 1.268 29.011 1.520 23.085 36.28 9 Germany.89 76. 2002-2006 No.637 6.267 4.876 5.68 625 883 869 530 375 656 1. Negara importir kapas terbesar dunia.744 1.385 19.21 49.484 37.42 63.

649 1.682 2.94 71.160 111.92) (42.67) 37.022 168. Penawaran dan permintaan kapas.14) (77.38 (7.348 122.68 (16.151 69.82 6.50 4.22) (2.99) (21.91 15.749 23.440 3.098 555.565 904 5.111 619.595 453.83 (14.53 (8.175 67.36 22.08 (17.451 349.30 1.32) (6.02 0.476 149.279 131.522 7.57) (46.166 11.491 789.563 337.84) (16.137 260.669 745.10 20.44 (1.882 (30.059 551.231 454.733 199.356 90.31 (24.871 459.21) 32.328 438.025 27.672 12.71 17.240 7.723 586.112 460.784 443.012 363.76 20.921 91.55 169.710 5.59 68.929 20.01 27.076 117.38 0.54) (17.42) 0.825 27.20 1.78 (12.839 24.104 152.22) 9.044 462.140 1.48 10.29) 81.54 (47.21 26.157 2.254.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « Lampiran 5.580 798.046 186.63) 0.077 521.36 3.380 154.24) 475.329 434.227 498.85) (14.939 451.19) 16.203 14.26) (3.143 25.085 449.340 97.105 738.26) 86.222 25.87) (9.241 763.03) (13.952 18.97 2.27 58.334 456.173 625.337 4.215 444.361 112.49 10.45) 1.92 (0.791 451.71 (3. 1970-2011 Tahun 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009** 2010** 2011** Sumber Keterangan 112 Produksi Kapas Pertumbuhan Konsumsi Pertumbuhan Surplus/Defisit (Ton) (%) (Ton) (%) (ton) 3.455 752.957 : Ditjen Perkebunan dan BPS.29 27.039 3.75) 6.72) (8.051 573.23) (29.556 422.101 2.870 5.679 123.42 (16.101 449.764 784.772 14.118 67.062 6.45) (48.457 3.75) 8.885 26.13 35.240 5.021 15.561 13.165 24.752 456.850 26. diolah Pusdatin : **) angka proyeksi olahan Pusdatin Pusat Data dan Informasi Pertanian .76) (60.443 12.243 13.523 21.26 23.380 273.00 3.01) (25.74 1.28 (5.98) 9.767 68.718 21.11.39) 673.884 14.96 20.009 207.729 349.705 490.882 127.513 147.57) (40.610 6.176 718.17 139.50 (23.026 776.70 3.519 12.74 (11.241 1.885 425.534 525.08) (24.260 7.40) 55.493 192.044 451.670 13.028 113.151 2.786 7.25) 2.602 447.785 6.912 127.74 5.024 18.240 5.05 6.209 811.76 0.554 21.961 225.886 408.

di Lampung dijuluki gayu. Thailand. Kulit kayu jambu mete mengandung cairan berwarna coklat. dan Indonesia. cairan tersebut berubah menjadi hitam. Buah mete semu dapat diolah menjadi beberapa bentuk olahan seperti sari buah mete. Madagaskar.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « VI. 113 Pusat Data dan Informasi Pertanian 113 . Selain itu. JAMBU METE Jambu mete merupakan tanaman buah berupa pohon yang berasal dari Brasil Tenggara. kulit batang pohon jambu mete juga berkhasiat sebagai obat kumur atau obat sariawan. Malaysia. dan buahnya. di Jawa Tengah dan Jawa Timur diberi nama jambu monyet. dan India merupakan negara pemasok utama jambu mete dunia. kemudian menyebar ke daerah tropis dan subtropis lainnya seperti Bahana. Daun Jambu mete yang masih muda dimanfaatkan sebagai lalap. Senegal. Filipina. gum juga berfungsi sebagai anti gengat yang sering menggerogoti buku. Selain daya rekatnya baik. dan jem jambu mete. dan di Bali jambu jipang atau jambu dwipa. Kenya. di daerah Jawa Barat dijuluki jambu mede. Batang pohon mete menghasilkan gum atau blendok untuk bahan perekat buku. Apabila terkena udara. Srilangka. selai mete. terutama di daerah Jawa Barat. mulai dari akar. Daun yang tua dapat digunakan untuk obat luka bakar. batang. Jambu mete tersebar di seluruh Nusantara dengan nama berbeda-beda (di Sumatera Barat: jambu erang/jambu monyet. Tanaman jambu mete merupakan komoditi ekspor yang banyak manfaatnya. manisan kering. bahan pencelup. Brasil. Tanaman ini dibawa oleh pelaut Portugis ke India 425 tahun yang lalu. Cairan ini dapat digunakan untuk bahan tinta. Mozambik. Kenya. atau bahan pewarna. buah kalengan. Selain itu juga biji mete (kacang mete) dapat digoreng untuk makanan bergizi tinggi. Akar jambu mete berkhasiat sebagai pencuci perut. daun. Di antara sekian banyak negara produsen. anggur mete.

1. Hal ini dapat terlihat pada rata-rata laju pertumbuhan yang menunjukkan penurunan pada periode 1998 sampai dengan tahun 2008 yaitu sebesar 1. Peningkatan cukup tajam terjadi pada periode tahun 1975 sampai dengan tahun 1997 sebesar 11. sementara tidak ada perkebunan besar negara PBN yang mengusahakan tanaman jambu mete (Gambar 6. 114 Pusat Data dan Informasi Pertanian . Krisis ekonomi yang terjadi berpengaruh terhadap luas areal jambu mete.).). Perkembangan luas areal jambu mete Indonesia.1. Rata-rata pertumbuhan dari tahun 1975 sampai dengan tahun 2008 meningkat sebesar 7. perkebunan negara (PBN). berdasarkan data rata-rata luas areal perkebunan jambu mete selama periode tahun 1998 sampai dengan tahun 2008 sangat didominasi oleh PR yakni lebih dari 99%.2. dan sisanya kurang dari 1% oleh PBS.23% per tahun (Lampiran 6.). dan perkebunan besar swasta (PBS). 1975-2007 Secara umum bentuk pengusahaan perkebunan komoditas utama di Indonesia terdiri dari 3 jenis yaitu perkebunan rakyat (PR). PERKEMBANGAN LUAS AREAL.90% per tahun.1. Namun demikian.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « 6. Gambar 6.57% per tahun.1. PRODUKTIVITAS PRODUKSI JAMBU METE DI INDONESIA DAN Perkembangan luas areal jambu mete di Indonesia menunjukkan kecenderungan meningkat (Gambar 6.

).3. 1975-2008 Pusat Data dan Informasi Pertanian 115 .68% per tahun. Perkembangan produksi jambu mete secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 6. Kontribusi luas areal jambu mete di Indonesia menurut status pengusahaan. 1998-2008 Seiring dengan pertumbuhan luas arealnya.2. Perkembangan produksi jambu mete di Indonesia. produksi jambu mete pada PBS justru mengalami penurunan sebesar 8. pertumbuhan rata-rata produksi jambu mete tahun 1975-2008 paling tinggi pada PBS yaitu sebesar 20.3. Puncak produksi jambu mete terjadi pada periode tahun 1975-1997 sebesar 41.88% per tahun. perkembangan produksi jambu mete periode tahun 1975 sampai dengan tahun 2008 cenderung terus meningkat dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 10. Tetapi setelah terjadi krisis moneter (1998-2008). Menurut status pengusahaannya.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « Gambar 6.32% per tahun (Gambar 6. Gambar 6.2.29% per tahun.

96% terhadap produksi jambu mete di Indonesia.57 kg/ha dan PBN tidak ada data produktivitas karena selama periode tahun 1994 sampai dengan 2006 tidak ada penanaman jambu mete sama sekali.4. dan 7. NTB. Sulsel. 10. 116 Pusat Data dan Informasi Pertanian .). terdapat 6 (enam) provinsi sentra produksi jambu mete di Indonesia yang memiliki kontribusi sebesar 85.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « Berdasarkan data rata-rata produksi jambu mete PR per provinsi pada periode tahun 2004-2008. Gambar 6.80%. Perkembangan rata-rata produktivitas jambu mete di Indonesia menurut status pengusahaannya secara rinci disajikan pada Lampiran 6.38 kg/ha. Sulawesi Tenggara merupakan sentra produksi jambu mete terbesar yang memiliki kontribusi sebesar 25. disusul berturutturut oleh NTT. Besarnya kontribusi masing-masing sentra produksi jambu mete di Indonesia secara rinci disajikan pada Lampiran 6. (rata-rata 2004-2008) Perkembangan produktivitas jambu mete selama periode tahun 19942008 cenderung memiliki pola yang seragam sesuai dengan status pengusahaannya (Gambar 6.20%. Provinsi sentra produksi jambu mete di Indonesia. sedangkan produktivitas untuk PBS sebesar 247.62% terhadap rata-rata produksi jambu mete PR di Indonesia (Gambar 6.3.5.21%. yang masing-masing memiliki kontribusi sebesar 24. 8.4. 8.4.48%.). Jatim dan Sulbar. Produktivitas rata-rata jambu mete untuk PR memiliki rata-rata yang terbesar yaitu sebesar 374.97%.

Perkembangan harga domestik jambu mete dari tahun 1986 . 1986 – 2007 Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan.6.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « Gambar 6. Produktivitas rata-rata jambu mete di Indonesia menurut status pengusahaannya. atau Rp. Peningkatan harga domestik jambu mete cukup signifikan terjadi pada tahun 1999 sebagai dampak meningkatnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika yakni sebesar 104.788. harga domestik jambu mete mencapai Rp.2.2007 terus mengalami peningkatan dengan ratarata sebesar 15.-/kg pada tahun 1999.975. 34.86%.6).392.83%. 16. Perkembangan harga domestik jambu mete Indonesia.-/kg (Gambar 6. PERKEMBANGAN HARGA DOMESTIK JAMBU METE INDONESIA Gambar 6.-/kg pada tahun 1998 meningkat menjadi Rp. harga domestik jambu mete dari tahun 1986 . 45. (rata-rata 1994-2008) 6.2007 tersaji Pusat Data dan Informasi Pertanian 117 . Pada tahun 2007.5.

Apabila dicermati Gambar 6.32% (nilai) (Gambar 6. 1996-2008 Apabila ditinjau dari bentuk hasil maka yang dominan diekspor oleh Indonesia adalah kacang mede yang masih berkulit (90%). Berdasarkan data dari BPS.56% (volume) dan 14.76 juta) pada tahun 2008.7.7.75 juta) dan meningkat menjadi 66. Hal ini menandakan stabilnya harga ekspor jambu mete Indonesia. Gambar 6. maka laju pergerakan volume ekspor jambu mete selama tahun 1996 hingga 2008 terlihat beriringan dengan laju pergerakan nilai ekspornya.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « secara lengkap pada Lampiran 6. 6.3. Perkembangan ekspor jambu mete di Indonesia selama periode tahun 1996 sampai dengan tahun 2008 tampak berfluktuatif namun cenderung meningkat dengan rata-rata laju pertumbuhan masingmasing sebesar 9.89 ribu ton (setara dengan US$ 23.7).IMPOR JAMBU METE INDONESIA Hampir 50% produksi jambu mete Indonesia diperuntukkan bagi pemenuhan pasar luar negeri. sedangkan kacang mete kupas mempunyai porsi yang relatif kecil (10%). PERKEMBANGAN EKSPOR. Perkembangan volume dan nilai ekspor jambu mete di Indonesia.5. total ekspor jambu mete di Indonesia pada tahun 1996 mencapai angka sebesar 27.99 ribu ton (setara US$ 77. Padahal harga ekspor kacang mete kupas jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga ekspor kacang 118 Pusat Data dan Informasi Pertanian .

Perkembangan volume dan nilai impor jambu mete di Indonesia. sedangkan kacang mete kupas menunjukkan trend meningkat walaupun dalam kuantitas yang tidak terlalu besar (Gambar 6. Pada tahun 1996. impor jambu mete Indonesia hanya Pusat Data dan Informasi Pertanian 119 .8. Namun demikian.2008 Gambar 6. 2006 . 1996 . Gambar 6.9.2008 Berdasarkan data yang bersumber dari BPS. Indonesia melakukan impor jambu mete walaupun realisasinya relatif sangat kecil dibandingkan dengan realisasi ekspornya. pada periode tahun 2006 – 2008 menunjukkan realisasi ekspor kacang mete berkulit berfluktuasi dan cenderung menurun.8). Perkembangan volume ekspor jambu mete di Indonesia menurut bentuk hasil.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « mete berkulit.

6.84% dari 1. Penurunan tertinggi terjadi pada tahun 1976 yaitu sebesar 12.9 dan Lampiran 6.74 ribu pada tahun 2008 (Gambar 6.09 ribu ton atau setara dengan US$ 1.8. 1961 – 2007 120 Pusat Data dan Informasi Pertanian . PERKEMBANGAN LUAS AREAL DAN PRODUKSI JAMBU METE DI DUNIA Perkembangan luas areal jambu mete dunia pada periode tahun 1961 sampai dengan tahun 2007 cenderung mengalami peningkatan meskipun terjadi penurunan pada tahun-tahun tertentu (Gambar 6. Luas areal tertinggi pada kurun waktu tersebut terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 3. Gambar 6. Peningkatan impor jambu mete Indonesia terlihat melonjak pada dua tahun terakhir yang akhirnya mencapai 1. Perkembangan luas areal dan produksi jambu mete dunia. total luas areal jambu mete dunia pada tahun 2007 mencapai angka sebesar 3.88 juta ha.82 juta ha.4.8.01 juta ha menjadi 0.7). Berdasarkan data dari FAO.10. Rata-rata laju pertumbuhan luas areal jambu mete dunia sejak tahun 1961-2007 adalah sebesar 4.79% per tahun.).» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « sebesar 193 ton (setara US$ 157 ribu). Secara lebih rinci perkembangan luas areal jambu mete dunia disajikan dalam Lampiran 6. kemudian pada tahun-tahun berikutnya relatif berfluktuatif bahkan pada tahun-tahun tertentu tidak ada realisasi impor sama sekali.87 juta ha.

Tanzania dan Mozambique namun hanya memberikan kontribusi dibawah 7% dari total luas areal jambu mete dunia (Lampiran 6.04% dari total luas areal jambu mete dunia. (rata-rata 2003-2007) Berdasarkan data rata-rata luas areal jambu mete periode 2003-2007 dari FAO. Negara produsen jambu mete terbesar di dunia. (rata-rata 2003-2007) Pusat Data dan Informasi Pertanian 121 . Negara berikutnya adalah Brazil dengan total luas areal jambu mete mencapai 19.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « Gambar 6.). Vietnam (8.35%).11). Indonesia (15.9. Gambar 6. India merupakan negara yang memiliki rata-rata luas areal jambu mete terbesar di dunia yang mencapai 22. Negara berikutnya adalah Côte d'Ivoire.29%) dari total luas areal jambu mete dunia (Gambar 6.02%.11. Guinea-Bissau. Negara dengan luas areal jambu mete terbesar di dunia. Benin. dan Nigeria (8.52%).12.

6.17%. PERKEMBANGAN HARGA PRODUSEN JAMBU METE DI DUNIA Secara umum. Urutan kedua adalah Nigeria dengan total produksi jambu mete mencapai 20.10).5.).).19 juta ton.83%).13.12.79% per tahun.8. produksi jambu mete dunia periode tahun 1961 . Menurut data dari FAO.23% (Gambar 6. 1991-2006 122 Pusat Data dan Informasi Pertanian . perkembangan rata-rata harga produsen jambu mete dunia periode tahun 1991-2006 sangat berfluktuatif namun cenderung meningkat sebesar 0. Peningkatan produksi jambu mete dunia yang cukup tinggi terjadi pada tahun 1999 yaitu sebesar 39. Berdasarkan data rata-rata produksi jambu mete periode 2003-2007 dari FAO.2007 juga cenderung terus meningkat (Gambar 6. negara produsen terbesar di dunia yaitu Vietnam mencapai 29. India (18.54% (Lampiran 6. dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 5.8. Gambar 6. produksi jambu mete pada tahun 2007 mencapai 3.).13). Dan sisanya negara-negara lain hanya memberikan kontribusi dibawah 5% dari total luas areal jambu mete dunia termasuk Indonesia yang berada diurutan ke-enam yaitu sebesar 4. Perkembangan rata-rata harga produsen jambu mete dunia.29% dibandingkan tahun sebelumnya (Lampiran 6.41%) (Gambar 6. Brazil (6.48% dari total produksi jambu mete dunia.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « Seiring perkembangan luas arealnya.

PERKEMBANGAN EKSPOR – IMPOR JAMBU METE DI DUNIA Berdasarkan data dari FAO. Selama periode tersebut.12). Selama periode 5 tahun (2002 – 2006). Apabila dilihat dari grafik perkembangan volume dan nilai ekspor maka bisa dikaji harga ekspornya. Guinea. Negara dengan harga produsen jambu mete terbesar di dunia.14 dan Lampiran 6. Malaysia US$ 1.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « Menurut data dari FAO.000/ton (Gambar 6. (rata-rata 2002 – 2006) 6. yakni Nigeria pada posisi pertama dengan rata-rata sebesar US$ 1.68 ribu/ton. negara berikutnya yakni Kyrgyzstan.03 ribu/ton. ekspor jambu mete kupas cenderung terus mengalami peningkatan baik volume maupun nilainya. sementara jambu mete yang masih berkulit sangat berfluktuasi dari tahun ke tahun namun cenderung meningkat. ekspor dan impor jambu mete dunia juga dibedakan dalam bentuk jambu mete kupas dan berkulit. terdapat 10 negara dengan harga produsen jambu mete tertinggi di dunia selama periode tahun 2002 – 2006.6.24 ribu/ton.10 ribu/ton dan El Salvador US$ 1. Sementara. Belize US$ 1.41 ribu/ton. Selama periode tersebut. Indonesia dan China mempunyai harga produsen dibawah US$ 1. Gambar 6. harga ekspor Pusat Data dan Informasi Pertanian 123 .12 ribu/ton. Negara berikutnya adalah Burkina Faso sebesar US$ 1. Honduraz US$ 1.14. bentuk yang banyak diekspor oleh negara-negara produsen jambu mete adalah yang masih berkulit.

15. Pada tahun 2006.81 ribu ton (setara US$ 322. total ekspor jambu mete sebesar 911.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « jambu mete kupas jauh lebih tinggi dibandingkan yang masih berkulit. (rata-rata 2002 – 2006) Berdasarkan data ekspor rata-rata yang diterbitkan oleh FAO selama 5 tahun (2002-2006).13. Lonjakan harga ekspor jambu mete baik kupas maupun kulit terjadi pada tahun 2005.71 ribu ton (setara US$ 1. Perkembangan ekspor jambu mete dunia selama periode tahun 2002 – 2006 tersaji pada Lampiran 6. Perkembangan volume dan nilai ekspor jambu mete dunia. Negara pengekspor jambu mete terbesar di dunia. Gambar 6.10 ribu).44 juta) dan jambu mete berkulit sebesar 570. 2002 .2006 Gambar 6.16. maka Cote d’Ivore merupakan negara eksportir jambu 124 Pusat Data dan Informasi Pertanian .52 ribu ton yang terdiri dari jambu mete kupas sebesar 340.

2006 Berdasarkan data rata tahun 2002 – 2006.44%). Perkembangan impor jambu mete dunia selama periode tahun 2002 – 2006 tersaji secara lengkap pada Lampiran 6. India mendominasi impor jambu mete dunia yakni mencapai hampir 65% dari total impor jabu mete Pusat Data dan Informasi Pertanian 125 . Realisasi impor jambu mete yang masih berkulit dari tahun ke tahun selalu lebih tinggi dari impor jambu mete yang sudah dikupas.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « mete terbesar dunia sebesar 138.17.90% atau 60. Mozambique. realisasi impor jambu mete sebesar 911. Vietnam sebesar 97. Perkembangan volume dan nilai impor jambu mete dunia.81 ribu ton jambu mete berkulit dan 340.23%). Perilaku realisasi impor jambu mete dunia terlihat sejalan dengan perilaku realisasi ekspornya.19 ribu ton atau berkontribusi sebesar 17.16).09%). dan Tanzania sebesar 65. 2002 . Pergerakan harga impor jambu mete dari tahun ke tahun juga menunjukkan tren meningkat.04 ribu ton (8. Berikutnya adalah India sebesar 117.37 ribu ton (15.13. Brazil. kecuali pada tahun 2006 terjadi penurunan harga impor jambu mete baik yang berkulit maupun kupas.52 ribu ton yang terdiri dari 570.63%).93% dari total ekspor jambu mete dunia.29 ribu ton (12. dan Ghana hanya memberikan kontribusi ekspor jambu mete dunia dibawah 6% (Gambar 6. Pada tahun 2006.77 ribu ton (10.71 ribu ton jambu mete kupas. Gambar 6. Negara-negara berikutnya yakni Benin. namun keduanya menunjukkan trend meningkat.87 ribu ton. Indonesia menempati urutan ke-6 dengan kontribusi sebesar 7. GuineaBissau sebesar 77.

45 ribu ton atau hanya sebesar 14. Australia dan Germany dengan realisasi impor rata-rata di bawah 30 ribu ton per tahun. United Kingdom. PENAWARAN JAMBU METE DI INDONESIA. harga ekspor serta luas areal jambu mete digunakan untuk membangun model penawaran jambu mete. Negara berikutnya yakni USA. Model yang diperoleh digunakan untuk 126 Pusat Data dan Informasi Pertanian . Gambar 6.89% dari total impor jambu mete dunia. peubah-peubah tersebut tidak terlalu signifikan mempengaruhi produksi jambu mete nasional ataupun berpengaruh tetapi dengan tanda koefisien yang tidak logis. Hasil penelusuran model univariate produksi jambu mete diperoleh model terbaik adalah trend linear dengan nilai MAPE sebesar 44. Oleh karenanya.18 .» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « dunia atau rata-rata 489.89. (rata-rata 2002 – 2006) 6. permodelan produksi jambu mete hanya dilakukan dengan metode univariate pada peubah produksi itu sendiri. Negara importir jambu mete terbesar dunia. Perkembangan impor jambu mete pada negara importir terbesar ini secara lengkap tersaji pada Lampiran 6. namun realisasi impornya jauh di bawah India. Namun demikian.22 ribu ton per tahun. Negara berikutnya adalah Netherlands.7. 2009-2011 Model penawaran jambu mete akan direfleksikan sebagai peubah produksi.15. setelah dilakukan pengolahan. yakni hanya sebesar 112. Beberapa peubah seperti harga domestik.

PERMINTAAN JAMBU METE DI INDONESIA. 2009-2011 Permintaan jambu mete diekspresikan dari besaran konsumsi. 6. 2009 – 2011 No Tahun Produksi (Ton) Pertumbuhan (%) 1 2008*) 142.536 2 2009 138.27 4 2011 147.8. Proyeksi produksi jambu mete Indonesia.1. Namun kemudian.306 -2. sehingga pada tahun 2011 produksi jambu mete diproyeksikan menjadi 147.15%.97% atau dari 142.31 ribu ton pada tahun 2009.34 ribu ton. Hal ini mempengaruhi hasil proyeksi pada tahun-tahun ke depan yakni terjadi penurunan pada tahun 2009 sebesar 2.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « melakukan proyeksi produksi jambu mete hingga tahun 2011 dengan hasil seperti tersaji pada Tabel 6.15 Keterangan : *) Angka Sementara dari Ditjen Perkebunan 2009 – 2011 Angka hasil proyeksi Keragaan produksi jambu mete di Indonesia dari tahun 1978 – 2008 cenderung mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. pada tahun 2010 hingga 2011 produksi jambu mete diproyeksikan akan mulai mengalami peningkatan sebesar lebih dari 3%.822 3. Tabel 6. Namun karena tidak tersedia data konsumsi jambu mete maka analisis permintaan jambu mete didekati dari permintaan untuk ekspor dan permintaan untuk industri pengolahan.1.54 ribu ton pada tahun 2008 menjadi 138. hampir 50% produksi jambu mete Indonesia diperuntukkan bagi Pusat Data dan Informasi Pertanian 127 .338 3.97 3 2010 142. Hal ini didasari fakta bahwa secara rataan dari tahun 1980-2008.16 Rata-rata pertumbuhan (%) 1. Rata-rata peningkatan produksi jambu mete dari tahun 2009 – 2011 diproyeksikan sebesar 1.

BPS pada sektor tanaman perkebunan lainnya. diperoleh proporsi lebih dari 40% kelompok tanaman ini yang diserap ke industri pengolahan makanan.636 3. Peningkatan permintaan jambu mete Indonesia disebabkan terjadinya peningkatan yang secara simultan pada permintaan untuk ekspor dan penyerapan pada industry pengolahan makanan berbahan baku jambu mete. BPS. Tabel 6. Pada tahun 2011.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « kepentingan ekspor.46 Keterangan: Tahun 2008 Angka Tetap Tahun 2009 -2011 Angka hasil proyeksi Dari tahun 2008 hingga 2011.387 135.577 3.21 3 2010 72. permintaan jambu mete Indonesia diproyeksikan masih terus mengalami peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 2. maka dilakukan proyeksi data series volume ekspor dengan metode trend linear dan proyeksi kebutuhan jambu mete untuk industry pengolahan makanan dengan pendekatan proporsi yang bersumber pada Tabel I-O.307 66.417 135. 2009 – 2011 Permintaan (Ton) Pertumbuhan (%) No Tahun 1 2008 66.407 2 2009 69. berdasarkan pendekatan Tabel Input-Output (I-O). dengan hasil seperti tersaji pada Tabel 6.64 4 2011 74.2.694 0.855 70.555 140. 128 Pusat Data dan Informasi Pertanian .081 68.46% per tahun. Proyeksi permintaan jambu mete Indonesia. Sementara.2. total permintaan jambu mete Indonesia diproyeksikan sebesar 145.990 68. Dengan pendekatan tersebut.58 ribu ton.722 145.51 Industri pengolahan Ekspor Total Rata-rata pertumbuhan (%) 2.

30) 4 2011 147.306 135.636 2.338 145.129 2 2009 138. 2009-2011 Berdasarkan atas proyeksi penawaran dan permintaan jambu mete.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « 6. maka bisa dihitung surplus atau defisit kedele Indonesia.536 135. Proyeksi surplus/defisit jambu mete Indonesia. 2009 – 2011 No Tahun Penawaran (Ton) Permintaan (Ton) 1 2008 142.761 (19.36) 3 2010 142. Perkembangan surplus produksi jambu mete Indonesia dari tahun 2008 – 2011 tersaji pada Tabel 6.76 ribu ton.3. Indonesia diproyeksikan masih akan mengalami surplus produksi jambu mete.822 140. Tabel 6.612 (63.04) Keterangan: Tahun 2008 Angka Tetap Tahun 2009 -2011 Angka hasil proyeksi Pusat Data dan Informasi Pertanian 129 . surplus produksi jambu mete Indonesia sebesar 7. maka surplus produksi jambu mete diproyeksikan cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun.47) Rata-rata pertumbuhan (%) Surplus/Defisit Pertumbuhan (%) (33.407 7.694 2.186 (16.9. Hingga tahun 2011. SURPLUS/DEFISIT JAMBU METE DI INDONESIA. Jika pada tahun 2009.3. Namun karena peningkatan laju permintaan jambu mete lebih besar dibandingkan dengan laju penawarannya.13 ribu ton maka pada tahun 2011 turun menjadi 1.577 1.

798 687 570 628 679 637 1.650 569.504 71.205 9.22 2.532 1. 1975 – 2008 PR Tahun (Ha) 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008*) Rata-rata Laju 1975-2008 1975-1997 1998-2008 PBN Pertumb.07 6.24 1.824 492.22 -96.56 -7.18 6.38 -3.071 8.138 3.858 9.12 0.990 557.22 0.684 6.724 551. (%) 418.67 -0.00 0.504 197.221 354.28 6.65 4.52 0.878 85.152 4.03 2.86 11.81 1.238 81.201 1.00 116.91 13.198 1.79 0.60 13.53 -4.00 2177.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « Lampiran 6.27 6.755 455.563 196.582 561.777 269.563 223.40 0.25 16.54 35.38 -0.59 -1. Perkembangan luas areal jambu mete berdasarkan status pengusahaannya di Indonesia.04 6.50 11.950 499.80 0.391 77.27 1.21 -0.310 559.409 569.23 Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan Keterangan : 2008*) Angka Sementara 130 Pusat Data dan Informasi Pertanian .27 4.20 5.88 35.145 1.59 -1.676 6.195 1.868 1.58 18.812 569.463 187. (%) 56.924 573.18 8.295 9.631 185.91 88.81 0.835 6.35 5.192 187.246 253.633 572.89 72.593 418.68 1.446 559.625 464.691 253 253 253 Indonesia Pertumb.94 3.79 46.06 0.511 87.73 594.16 10.789 197.90 4.43 18.354 71.49 7.86 -83.32 3.00 0.21 1. (%) 0.45 3.270 213.128 7.78 -16.90 11.197 570.281 566.398 715 115 1.279 530.33 1.309 579.01 0.99 0.69 -48.677 Pertumb.25 2.415 214.31 64.10 33.33 1.70 0.605 394.03 10.58 9.46 18. (%) 32.00 37.05 1.416 1.696 8.40 (Ha) 1.72 0.959 568.442 558.94 6.357 490.99 14.40 34.98 6.75 -92.57 1.074 521.19 80.222 273.94 4.195 1.028 1.638 275.37 (Ha) 58.245 268.870 8.796 565.289 400.643 68.904 8.293 352.542 193.10 -89.944 570.68 10.49 160.156 569.920 484.1.36 -1.808 138.85 301.21 -0.05 - (Ha) 52 52 63 1.925 82.10 0.784 568.48 6.57 36.593 9.07 28.53 18.12 -6.678 224.01 -4.59 -14.424 Pertumbuhan 20.89 29.541 116.522 409.60 5.54 1.435 1.13 7.478 114.45 6.735 374.40 6.695 547.934 136.89 27.630 PBS Pertumb.45 4.79 -0.045 252.928 2.13 7.92 895.19 -17.535 195.873 378.

040 1984 19.304 69.45 5.077 85.09 10.830 1983 18.121 1993 69. (%) -21.00 6 16 23 61 67 74 78 82 72 96 80 124 379 597 574 772 774 439 366 287 234 252 262 123 123 134 -14.074 11.87 7.079 1997 73.924 1999 89.42 8.00 8.97 -22.86 7.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « Lampiran 6.65 12.39 31.927 91.912 1990 29.00 100.15 6.23 7.18 -14.09 26.42 -2.975 1988 23.33 19.808 2006 149.27 14 5 10 5 2 4 3 Pertumb.52 -3.025 2008*) 142.2.65 19.932 131.10 20.176 7.40 10.85 91.78 -3.99 -21.696 90.77 -3.85 91.360 1978 8.101 1977 7.907 57.67 55.56 3.95 18.220 2002 109.751 72.33 11.762 1980 9.395 1985 21.530 2000 69.015 2007 146.411 21.536 Pertumb.123 7.00 -60.768 2005 134.00 -25.99 22.247 62.13 -12.65 9.15 3.99 -7.69 3.20 33.50 10.00 -50.29 41.54 -2. (%) 70 -100.732 87.75 165.953 1995 85.175 1992 62.06 18.94 2.53 -2.138 146.109 1976 7.29 100.28 -16. Perkembangan produksi jambu mete berdasarkan status pengusahaannya di Indonesia.32 11.515 24.28 18.36 -2.114 22.34 2.231 1989 27.00 -100.48 10.74 6.047 19.04 3.20 Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan Keterangan : 2008*) Angka Sementara Pusat Data dan Informasi Pertanian 131 .11 3.47 10.2008 PR Tahun (Ton) Pertumb.616 1996 67.26 -43.995 67.85 34.95 22.56 8.488 2001 91.77 6.764 9.444 16.63 -21.676 73.31 -21.53 3.00 205.84 10.19 7.830 18.671 1994 71.47 7.64 6.800 9.00 -2.00 -22.00 1 (Ton) Pertumb.945 2003 106.27 20.82 3.370 8.07 26.217 69.67 43.232 106.825 1991 57.05 0. (%) -64.441 1982 16.88 (Ton) 9.12 47.97 20.22 9.97 -53.68 -8.70 8.698 2004 130.56 30.454 1987 23.10 6.58 -18.68 12.070 1981 11.94 20.49 0.586 110.305 27.020 135. (%) 1975 9.95 -7.402 Rata-rata Laju Pertumbuhan 1975-2008 1975-1997 1998-2008 PBS PBN (Ton) -22.06 7.70 19.33 -16.990 29.30 8.01 -2.795 1979 9.51 8.14 47. 1975 .148 142.46 6.070 149.07 20.10 7.41 5.042 23.091 1986 22.65 57.158 1998 86.18 Indonesia 166.09 10.

969 38.37 4 NTB 12.768 134.021 36.536 140.488 37.521 7.148 142.655 100.451 10.80 78.38 100.16 3 Sulawesi Selatan 1.860 17.497 13.040 24. Perkembangan produktivitas jambu mete menurut status pengusahaannya di Indonesia.974 35.97 69.249 24.511 25.3.00 Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan Keterangan : 2008*) Angka Sementara Lampiran 6.860 20.180 12. 2004 .268 40.152 35.382 22.2008 No.331 37.661 13.224 21.897 14.421 2.21 60.027 407 502 10.497 12.920 14.20 50. 1994 – 2008 132 Pusat Data dan Informasi Pertanian .379 8.161 9.4.808 149. Provinsi Produksi (Ton) 2004 2005 2006 2007 2008*) Rata-rata (Ton) Share Share (%) kumulatif (%) 1 Sulawesi Tenggara 33. Provinsi sentra produksi jambu mete di Indonesia.338 34.227 14.809 21.62 7 Lainnya 17.421 12.892 32.96 25.00 Nasional 130.617 8.48 85.34 5 Jawa Timur 12.96 2 NTT 27.212 13.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « Lampiran 6.325 34.969 23.360 10.162 1.370 24.14 6 Sulawesi Barat 25.015 146.977 12.401 20.

560 42.896 10.71 1.292 12.137 9. 1986 .672 8.329 34.03 6.25 -8.958 8.86 5.87 8.80 59.83 Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan Pusat Data dan Informasi Pertanian 133 .50 15.41 -8.178 35.19 -18.25 11.788 34.63 -5. Perkembangan harga domestik jambu mete di Indonesia.074 11.37 104.2007 Tahun Harga (Rp/kg) 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Rata-rata pertumbuhan 1986 -2007 Pertumbuhan (%) 3.945 7.16 2.910 7.5.92 4.385 12.402 16.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « Lampiran 6.103 9.239 44.630 32.975 96.80 13.97 0.69 0.01 7.701 7.852 45.89 35.392 36.711 26.21 13.19 2.

Perkembangan ekspor jambu mete di Indonesia.415 68.341 60.249 3.929 54.92 18.372 58.403 66.534 16.745 83.152 6.385 1. diolah Pusdatin 134 Pusat Data dan Informasi Pertanian .75 33.684 30.997 2.621 1.507 13.881 59.17 2002 50.901 11.06 2004 56.886 23.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « Lampiran 6.206 680 27.359 14.66 2005 65.990 77.54 2006 60.13 9.587 10.087 3.491 2.751 1997 15.09 82.959 3.32 Rata-rata pertumbuhan (%) Sumber: BPS.33 2003 57.881 34.18 20.98 24.819 31.39 2008 56.603 1.755 -19.287 34.428 43.972 16.84 25.38 -19.666 19.584 -8.187 -1.157 63.520 43.646 82.96 2007 71.313 28.32 2000 25. 1996 – 2008 Tahun Volume (Ton) Berkulit Kupas Nilai (US$ 000) Total Pertumbuhan (%) Volume Nilai 1996 27.73 1999 31.31 -27.198 26.406 56.56 14.59 2001 39.810 25.66 -17.456 69.767 41.36 1998 28.6.307 29.92 46.833 31.04 -8.502 -22.91 -6.332 51.546 1.717 34.639 2.

090 1.00 1999 443 2 1.88 1.410.32 -70.00 0.08 2008 1.00 -100.00 - -100.237 1. 1996 – 2008 Tahun Volume (Ton) Pertumbuhan (%) Nilai (US$ 000) Volume Nilai 1996 193 157 1997 4 12 -97.425.89 Rata-rata pertumbuhan (%) -100.743 -11.88 -55.00 1876. diolah Pusdatin Pusat Data dan Informasi Pertanian 135 .67 2006 19 65 -75.36 1998 32 12 700.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « Lampiran 6.00 2005 77 219 -61.29 391.46 1.284.32 2007 1.718 6.93 -92.7.037.38 -83. Perkembangan impor jambu mete di Indonesia.00 - Sumber: BPS.53 2543.33 2000 0 0 -100.00 2001 51 261 2002 0 0 2003 8 25 2004 202 494 2.

914 7.026.968.28 0.430.34 0.79 1.40 617.633 11.02 558.18 6.907.776 1.484.17 1983 988.32 386.68 9.385 3.38 13.42 1981 985.55 -2.06 11.850 2.979.300.088 7.44 7.25 -0. 1961 – 2007 Tahun Luas Areal (Ha) Produktivitas % (kg/ha) Produksi % (Ton) 7.85 2.324 -0.053.25 2004 3.039 -1.06 11.542 -1.450 7.40 504.53 1987 1.48 1988 1.89 8.36 10.46 -6.12 1989 1.86 1974 993.38 2.17 -0.00 488.25 -0.042 -12.30 13.48 7.50 1994 2.16 1972 938.09 1971 931. diolah Pusdatin 136 Pusat Data dan Informasi Pertanian .726.167 6.68 8.19 21.38 1970 855.39 5.026.02 2007 3.194 4.47 11.04 -5.696 -6.04 6.023 13.035.895 12.142 -0.8.03 511.99 1.663 9.424 3.062 4.81 9.84 2005 3.53 0.235 9.56 8.600 6.75 6.550 287.280 16.22 624.734 2.36 452.53 8.78 464.327 1.349 6.004.107 23.05 -2.21 2.670 6.614 3.68 574.69 3.52 5.04 8.163.00 -3.09 -4.246 -6.052.45 1982 1.00 8.720 -0.98 1990 1.92 -12.570 2006 3.24 0.782 9.07 8.22 733.13 1973 1.04 1.99 1963 593.132 8.303 0.160 8.083.38 1978 801.073 13.73 9.433 -7.92 13.72 8.34 2.935 6.915.019 -2.342.722.43 11.75 909.75 1966 633.134 4.32 8.78 387.64 8.65 9.21 0.49 10.24 8.102.211 -7.224.41 1991 1.05 2001 3.23 -0.57 835.915 8.058 6.69 1968 811. produksi dan produktivitas jambu mete di dunia.817.05 614.215 1.57 324.86 8.22 0.535 1962 556.096 -3.051.69 1986 1.813 11.20 2.041 -1.92 9.95 519.93 483.88 7.917.75 1.06 1993 2.437 9.34 1980 905.667 1995 2.547.841.657 -5.065 23.398 -1.85 6.65 558.348 11.795 -3.14 1996 2.93 1.88 585.90 13.467.939 13.08 7.943 -1.29 0.12 682.30 13.15 -3.364 0.74 1984 1.090.890 1.736 5.182 2.172.840 50.239.27 381.569 2.826.62 2003 3.67 1976 883.846 9.75 8.40 9.318 -1.13 -1.18 0.02 8.26 1975 1.368 39.629 2.41 507.21 0.363 -3.56 488.45 1964 619.183.09 1.28 8.45 8.70 3.82 1.725.789 20.49 2002 3.73 945.30 1985 1.45 8.791 16.26 0.22 494.89 6.77 383.29 2000 3.57 475.248 -2.11 1999 3.17 -0.55 -4.84 8.186.76 3.97 1.10 563.62 8.82 457.332 0.538 24.20 9.30 9.01 10.05 28.428 -1.29 0.33 1997 2.334.050 11.256 16.16 4.75 8.04 -1.» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 « Lampiran 6.909 8.86 9.34 7.714 4.96 1979 834.17 1.81 2.48 % 1961 516.473 8.84 1965 631.013.316 7.22 2.00 Rata-rata pertumbuhan 1961-2007 4.240 4.24 10.867.98 1977 869.31 1.60 1.793 -0.313.60 743.43 11.162 2.218. Perkembangan luas areal.95 1992 1.72 17.60 1998 2.148.154 0.70 1969 791.18 349.099 1.829 -8.396 -4.378 5.38 1.078 6.128.29 1967 656.676 -6.290 6.544 -9.218.24 -2.98 -15.79 Sumber : FAO.

2003 2007 Lampiran 6.9.» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 « Lampiran 6.10. Negara dengan luas areal jambu mete terbesar di dunia. Negara produsen jambu mete terbesar di dunia. 2003 – 2007 Pusat Data dan Informasi Pertanian 137 .

» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «

Lampiran 6.11. Negara dengan produktivitas jambu mete terbesar di dunia, 2003
– 2007
No

Negara
1 Peru
2 Kenya
3 Philippines
4 Viet Nam

2003
62.44

Produktivitas (Ku/Ha)
2004
2005
2006
67.45
66.86
67.16

2007
67.14

50.00

50.00

50.00

50.00

50.00

50.00

4.12

42.05

42.10

40.95

42.14

34.27

Rata-rata
66.21

35.70

27.67

27.60

25.98

27.61

28.91

5 Mexico
6 Nigeria

12.39

21.21

30.50

23.48

23.48

22.21

18.92

19.01

19.22

19.88

20.00

19.40

7 Malaysia
8 Belize

18.57

18.57

18.57

18.57

18.57

18.57

15.72

15.36

15.38

15.26

15.40

15.42

15.77

14.86

13.94

14.62

14.62

14.76

11.60

11.60

11.60

11.60

11.60

11.60

11.75

13.38

13.60

13.24

13.34

13.06

9 Honduras
10 Mozambique
DUNIA
Sumber: FAO, diolah Pusdatin

Lampiran 6.12. Negara dengan harga produsen jambu mete terbesar di dunia,
2002 – 2006
Negara

No

Harga rata-rata (US$/ton)
2002

2003

2004

2005

2006

Rata-rata

Pertumbuhan
2002-2006 (%)

1

Nigeria

1,249

1,393

1,644

1,951

2,166

1,681

14.80

2

Burkina Faso

1,489

1,231

1,448

1,409

1,457

1,407

0.25

3

Honduras

1,310

1,216

1,163

1,204

1,296

1,238

-0.09

4

Belize

1,103

1,103

1,111

1,134

1,167

1,123

1.43

5

Malaysia

952

985

1,087

1,141

1,314

1,096

8.51

6

El Salvador

847

714

1,052

1,381

1,140

1,027

11.35

7

Kyrgyzstan

735

912

1,031

1,188

-

773

-11.91

8

Guinea

1,010

1,130

1,106

721

719

937

-6.32

9

Indonesia

619

647

892

898

1,083

828

15.91

794

777

781

786

842

796

1.54

689

688

751

788

800

743

3.88

10 China
RATA-RATA DUNIA
Sumber : FAO, diolah Pusdatin

138

Pusat Data dan Informasi Pertanian

» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «

Lampiran 6.13. Perkembangan ekspor-impor jambu mete dunia, 2002 – 2006
Impor

Ekspor
Kupas

Tahun
Volume
(Ton)

Kupas

Berkulit

Nilai (US$)

Volume
(Ton)

Volume
(Ton)

Nilai (US$)

Berkulit

Nilai (US$)

Volume
(Ton)

Nilai (US$)

2002

241,792

814,628

413,834

251,432

208,250

764,994

408,749

273,060

2003

255,843

892,365

412,687

225,726

228,736

855,310

452,127

314,114

2004

297,011

1,270,760

506,512

333,292

269,231

1,153,599

481,736

407,435

2005

324,834

1,485,819

488,684

362,108

284,667

1,337,451

548,660

492,562

2006

340,709

1,435,762

570,812

322,102

298,800

1,339,806

595,179

427,703

Lampiran 6.14. Negara Pengekspor Jambu Mete terbesar di Dunia, 2002 – 2006
No

Negara

1 Côte d'Ivoire

Volume ekspor (Ton)
2002

2003

2004

2005

2006

Rata-rata Share (%)

Share
kumulatif
(%)

86,836

84,830

140,638

167,919

210,728

138,190

17.93

17.93

129,437

99,673

109,878

125,095

122,779

117,372

15.23

33.17

3 Viet Nam

62,235

82,200

105,000

109,000

128,000

97,287

12.63

45.79

4 Guinea-Bissau

72,866

71,694

80,854

93,490

69,949

77,771

10.09

55.89

5 Tanzania

75,744

73,257

83,191

34,100

58,887

65,036

8.44

64.33

6 Indonesia

51,717

60,428

59,372

69,415

63,406

60,868

7.90

72.22

7 Benin

43,117

39,328

36,840

42,872

69,357

46,303

6.01

78.23

8 Brazil

31,262

41,569

47,442

41,856

43,231

41,072

5.33

83.56

9 Mozambique

39,078

32,880

40,231

34,413

26,249

34,570

4.49

88.05

3,892

6,208

30,702

22,510

48,485

22,359

2.90

90.95

59,442

76,463

69,375

72,848

70,450

69,716

9.05

100.00

655,626

668,530

803,523

813,518

911,521

770,544

100.00

2 India

10 Ghana
11 Lainnya
DUNIA
Sumber: FAO, diolah Pusdatin

Pusat Data dan Informasi Pertanian

139

» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «

Lampiran 6.15. Negara pengimpor jambu mete terbesar di dunia, 2002 – 2006

2002

2003

2004

2005

403,757

442,594

469,324

543,937

Share
Rata-rata Share (%) kumulatif
2006
(%)
586,492 489,221
64.78
64.78

2 USA

97,432

103,092

131,655

114,473

115,610

112,452

14.89

79.67

3 Netherlands

20,611

25,460

24,149

36,206

42,425

29,770

3.94

83.61

4 United Kingdom

10,359

10,900

14,991

21,353

21,391

15,799

2.09

85.70

5 Australia

8,707

11,023

11,928

12,728

14,742

11,826

1.57

87.27

6 Germany

7,423

8,820

9,292

12,409

14,464

10,482

1.39

88.66

7 Canada

8,468

10,317

12,614

11,079

9,841

10,464

1.39

90.04

8 United Arab Emirates

5,256

6,299

8,203

7,663

12,370

7,958

1.05

91.09

9 Japan

6,718

5,458

6,909

5,918

4,690

5,939

0.79

91.88

10 France

5,426

4,874

5,900

6,830

8,129

6,232

0.83

92.71

11 Lainnya

42,842

52,026

56,002

60,731

63,825

55,085

7.29

100.00

616,999

680,863

750,967

833,327

893,979

755,227

100.00

No

Negara

1 India

DUNIA

Volume impor (Ton)

Sumber: FAO, diolah Pusdatin

140

Pusat Data dan Informasi Pertanian

Selain itu berkembangnya trend masyarakat dunia yang cenderung menggunakan bahanbahan yang berasal dari alam (back to nature) dibandingkan dengan penggunaan panili sintetik diharapkan juga akan mendukung pengembangan panili Indonesia (Anonim. Pengembangan panili Indonesia mempunyai prospek yang baik karena ditunjang oleh berbagai faktor. Informasi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan dalam pengambilan kebijakan atau keputusan pada berbagai Pusat Data dan Informasi Pertanian 141 . gula-gula. 2008a). ice cream. Jenis EP ini banyak digunakan untuk campuran pembuatan panili ekspor (panili sintesis yang mengandung 13. Bentuk produk yang dijual petani pada umumnya berbentuk polong basah. berikut ini disajikan keragaan komoditas panili serta proyeksi penawaran dan permintaannya untuk beberapa tahun ke depan. bahan obat-obatan. 2007).Perkebunan 2009 « BAB VII. PANILI Tanaman panili (Vanilla planifolia Andrews) merupakan salah satu tanaman rempah yang bernilai ekonomi cukup tinggi. Ditemukannya panili sintetis menyebabkan harga panili jatuh pada kondisi yang tidak menguntungkan petani. Volume ekspor panili Indonesia tidak sebesar komoditas perkebunan lainnya. Hasil ini disebabkan sebagian besar buah panili yang diekspor bermutu rendah. Mengingat saat ini kebutuhan dunia akan panili sangat tinggi seiring dengan meningkatnya industri berbasis panili. Polong tanaman ini digunakan untuk bahan penyegar. antara lain mutu EP. Untuk mengetahui perkembangan komoditas panili dan prospeknya. seperti lahan. Di pasaran internasional panili Indonesia dikenal dengan sebutan Java Vanilla Beans (Anonim. kelapa sawit dan karet.» Outlook Pertanian . sehingga sumbangan terhadap pendapatan devisa negara relatif kecil. penyedap dan pengharum makanan. minuman.35% panili murni) (Anonim. 2008b). seperti kakao. maka sebenarnya Indonesia masih mempunyai peluang yang sangat besar dalam pengembangan komoditas panili. tenaga kerja serta ditemukannya benih-benih panili unggul melalui teknologi bio fob. iklim. sedangkan yang dijual oleh eksportir ke pasaran internasional berbentuk polong kering.

1).000 30. Pada periode tersebut pertumbuhan luas areal panili Indonesia rata-rata mencapai 7. Jika sebelum tahun 1997 terjadi peningkatan luas yang relatif cukup tinggi dengan rata-rata peningkatan sebesar 8.000 20.91% per tahun.Perkebunan 2009 « tahapan pengembangan komoditas panili.1. PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS PANILI DI INDONESIA Perkembangan luas areal perkebunan panili di Indonesia pada periode tahun 1977-2008 menunjukkan kecenderungan meningkat dengan pola perkembangan yang serupa dengan pola perkembangan luas areal perkebunan panili rakyat (Gambar 7. Perkembangan Luas Areal Panili di Indonesia.000 5. Krisis moneter yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997-1998 ternyata juga berdampak pada perkembangan luas areal panili. Secara umum perkembangan luas areal panili PR lebih lambat dibandingkan luas areal panili 142 Pusat Data dan Informasi Pertanian . 1977-2008 Berdasarkan jenis pengusahaannya.97% per tahun (Tabel 7.000 PR PBN PBS 2007 2005 2003 2001 1999 1997 1995 1993 1991 1989 1987 1985 1983 1981 1979 1977 0 Indonesia Gambar 7. PERKEMBANGAN LUAS AREAL.000 10. (Ha) 35. maka setelah tahun 1997 terjadi penurunan luas areal panili hingga tahun 2003.» Outlook Pertanian . 7.1. Menginjak tahun 2004 mulai terjadi peningkatan luas areal panili. panili hanya diusahakan oleh perkebunan rakyat (PR) dan perkebunan besar swasta (PBS). sehingga rata-rata pertumbuhan luas areal panili tahun 1998-2008 mencapai 5. Hal ini disebabkan luas areal panili di Indonesia didominasi oleh perkebunan rakyat (PR).000 15.000 25.1).98% per tahun.

25 0.72 1998-2008 6.51 0.1.68 12.00 99.00 0.25% dari total luas areal panili di Indonesia (Tabel 7. Seperti halnya perkembangan luas areal panili.43 - Kontribusi (%) 1977-2008 99.00 1. Hal ini disebabkan adanya penurunan luas areal panili PBS. Produksi panili Indonesia pada periode tersebut rata-rata meningkat sebesar 12.91 12. 1977 – 2008 Tahun Luas Areal PR PBN Produksi PBS Total PR PBN PBS Total Pertumbuhan (%) 1977-2008 7. Tabel 7.04% per tahun.34 14.99% per tahun. Setelah tahun 1997 pertumbuhan luas areal panili PR melambat menjadi sebesar 6.00 1977-1997 98.06 100.» Outlook Pertanian .99 8.98 14.62 5. Rata-rata Laju Pertumbuhan dan Kontribusi Luas Areal dan Produksi Panili di Indonesia.54 0.53 0. diolah Pusdatin Pada periode tahun 1977-2008 sebagian besar luas areal perkebunan panili di Indonesia dikuasai oleh perkebunan rakyat dengan persentase mencapai 99.1).2). Pada periode yang sama produksi panili PR rata-rata mengalami Pusat Data dan Informasi Pertanian 143 .47 100.13% per tahun (Tabel 7.62% per tahun (Tabel 7.75 100.00 Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan. Produksi panili Indonesia didominasi oleh panili PR. khususnya sebelum krisis ekonomi. secara umum perkembangan produksi panili di Indonesia pada periode 1977-2008 juga menunjukkan kecenderungan meningkat meskipun lebih berfluktuasi (Gambar 7.51 100.94 0.00 0.92 -100.00 30.63 7.13 1977-1997 8.95 -100.1). sedangkan luas areal panili PBS justru turun 1.16 - 103.1).00 0.39 7.49 - 270.46 100. Jika pertumbuhan luas areal perkebunan panili rakyat setelah tahun 1997 cenderung melambat. maka kontribusinya menunjukkan sedikit kenaikan dibandingkan periode sebelumnya. oleh karenanya pola perkembangan panili Indonesia serupa dengan pola perkembangan panili PR.97 7.00 0.00 47.00 0.00 99. Pada tahun 1977-1997 pertumbuhan luas areal panili PR rata-rata sebesar 8.49 100.04 -1.00 1998-2008 99.1.95% per tahun dan PBS sebesar 47.Perkebunan 2009 « PBS.00 99.49 0.73 - -4. Perkembangan luas areal panili di Indonesia menurut jenis pengusahaannya secara rinci disajikan dalam Lampiran 7.

Daerah sentra produksi panili di Indonesia dan kontribusinya disajikan pada Lampiran 7. PR PBS 2007 2005 2003 2001 1999 1997 1995 1993 1991 1989 1987 1985 1983 1981 1979 1977 (Ton) 4. Provinsi Jawa Barat dan Sulawesi Tengah juga menjadi daerah sentra produksi panili namun kontribusinya masing-masing hanya 9.51% terhadap total produksi panili Indonesia. sedangkan produksi panili PBS meningkat 103.000 1. Sentra produksi panili terbesar di Indonesia adalah Provinsi Sulawesi Selatan yang memberikan kontribusi rata-rata sebesar 23.500 1.2.500 3.46% dan 10.» Outlook Pertanian .2.78%.000 2.13%.11%.68% per tahun dan berkontribusi 0.000 500 0 Indonesia Gambar 7. sedangkan provinsi-provinsi lainnya rata-rata memberikan kontribusi kurang dari 5% (Gambar 7. 1977-2008 Berdasarkan data rata-rata produksi panili Indonesia lima tahun terakhir (2004-2008).16% per tahun dan berkontribusi sebesar 99.500 2.40%. Provinsi Sulawesi Utara dan Jawa Timur berada di peringkat ketiga dan keempat dengan kontribusi masing-masing sebesar 13.Perkebunan 2009 « peningkatan 12. 144 Pusat Data dan Informasi Pertanian .3. Secara rinci perkembangan produksi panili disajikan pada Lampiran 7.49% dari total produksi panili Indonesia.03%. diikuti oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur di peringkat kedua dengan kontribusi sebesar 17. daerah sentra produksi panili Indonesia terdapat di 6 provinsi dengan kontribusi kumulatif mencapai 78.64% dan 5. Perkembangan Produksi Panili di Indonesia.3).000 3.

Dari jenis pengusahaannya. Dengan demikian sebenarnya produksi panili dalam negeri masih dapat ditingkatkan dengan upaya budidaya yang lebih intensif. dan kembali terjadi penurunan Tahun 2008 tingkat produktivitas panili tidak mengalami perubahan sehingga rata-rata produktivitas pada kurun waktu 2003-2008 sebesar 262.10 kg/ha (tahun 2004) dan 239.72 kg/ha. Pada tahun 2003 produktivitas panili Indonesia sebesar 305. namun dua tahun berikutnya mengalami penurunan berturut-turut menjadi 242. Pusat Data dan Informasi Pertanian 145 .3.77 kg/ha dengan laju pertumbuhan sebesar -2. kecuali tahun 2006. Mengingat sebagian besar panili di Indonesia diusahakan oleh rakyat maka tingkat produktivitas yang dicapai sekarang belum merupakan tingkat produktivitas yang maksimal.38 kg/ha (tahun 2005). Pada tahun 2006 terjadi lonjakan produktivitas panili hingga mencapai 329. produktivitas panili yang diusahakan oleh PR relatif lebih rendah dibandingkan produktivitas panili yang diusahakan oleh PBS. Kontribusi Sentra Produksi Panili di Indonesia.4).Perkebunan 2009 « Gambar 7.73 kg/ha.2). Rata-rata 2004-2008 Perkembangan produktivitas panili di Indonesia selama tahun 2003-2008 secara umum berfluktuasi (Gambar 7. Tingkat produktivitas yang tinggi tersebut tidak dapat dipertahankan hingga tahun berikutnya produktivitas panili menjadi 229.92% per tahun (Tabel 7.99 kg/ha.» Outlook Pertanian .

00 20.73 200.Perkebunan 2009 « (Kg/Ha) 350. (%) 519.00 50.12 2006 330. Perkembangan Produktivitas Panili di Indonesia Menurut Status Pengusahaan.66 1. (Rata-rata 2003-2008) Tabel 7.73 -30.67 229.25 5. Perkembangan Produktivitas Panili di Indonesia.10 -20.00 239.16 -42.77 -2.10 239.20 262.32 2008*) 229.00 100.96 242.4.67 -0.71 -30. Konsumsi panili dipergunakan baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk ekspor.99 242.39 39.72 37.00 229.47 333.2.41 374.00 2003 2004 2005 2006 2007 2008*) Gambar 7.00 229.74 2007 229.92 Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan.88 2005 236.88 -2.31 Indonesia Pertumb.02 459.38 300. (%) PBS Pertumb.73 0.02 400.76 0. 2003-2008 Produktivitas (Kg/Ha) Tahun PR Pertumb.72 329.00 329.2.48 263.27 -47. diolah Pusdatin Keterangan : *) Angka Sementara 7.00 250.00 150.00 Rata-rata 251.07 270.59 305.99 2004 241. Konsumsi panili di Indonesia pada periode tahun 2004-2008 secara umum 146 Pusat Data dan Informasi Pertanian .00 0.33 26. PERKEMBANGAN KONSUMSI PANILI DI INDONESIA Karena keterbatasan ketersediaan data maka konsumsi panili di Indonesia dihitung berdasarkan pendekatan produksi dan volume ekspor impor panili.38 -1. (%) 2003 241.» Outlook Pertanian .72 305.46 70.73 229.

000 1.86 Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan dan BPS. Dengan demikian rata-rata pertumbuhan konsumsi panili dalam kurun waktu tahun 20042008 mencapai 20.24 2007 3.5. (Ton) 3.326 55. (%) 2004 2.177 10 540 2.912 ton.500 2. diolah Pusdatin Keterangan : *) Angka Sementara untuk produksi panili Pusat Data dan Informasi Pertanian 147 .142 38.326 ton.3).911 9.3.500 2004 2005 2006 2007 2008*) Gambar 7. Perkembangan Konsumsi Panili di Indonesia.5).Perkebunan 2009 « menunjukkan peningkatan (Gambar 7.000 2.» Outlook Pertanian .86% per tahun (Tabel 7. Tahun 2008 konsumsi panili sedikit meningkat menjadi 2. Konsumsi tertinggi terjadi pada tahun 2006 sebesar 3.182 151 421 2.252 34 741 1.648 -20.768 57 499 3. 2004-2008 Tabel 7.500 3.64 2006 3. 2004-2008 Tahun Produksi (Ton) Impor (Ton) Ekspor (Ton) Konsumsi (Ton) Pertumb.366 54 278 2. Tahun 2007 terjadi penurunan konsumsi menjadi 2. Perkembangan Konsumsi Panili di Indonesia.96 Rata-rata Pertumbuhan (%/tahun) 2004-2008 20.545 2005 2.38 2008*) 3.648 ton.

000 2008 2005 2002 1999 1996 1993 1990 1987 0 Gambar 7.000 100.3. (Rp/Kg) 600. Pada tahun 2000 total volume ekspor panili Indonesia hanya sebesar 350 ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 8. dan meningkat pada tahun 2001 menjadi 469 ton dengan nilai ekspor mencapai US$ 19.01% per tahun (Lampiran 7.01% per tahun. maka setelah tahun 2001 harga panili lebih berfluktuasi dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 44. yaitu pada tahun 2001 dan 2005 (Gambar 7.000 400.6.000 200. Krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 tampaknya tidak terlalu berpengaruh pada harga panili karena kenaikan harga yang cukup signifikan justru terjadi setelah krisis ekonomi.48% per tahun.503 ribu.000 300. Total volume ekspor panili Indonesia selama periode tahun 2000-2003 cenderung meningkat.Perkebunan 2009 « 7. 148 Pusat Data dan Informasi Pertanian .4.7). tetapi kemudian mengalami penurunan pada tahun berikutnya (Gambar 7.309 ribu.6). Jika sebelum tahun 2001 harga panili cenderung stabil dengan laju pertumbuhan rata-rata mencapai 8. Perkembangan Harga Rata-rata Panili di Pasar Domestik di Indonesia.4). 1987-2008 7.000 500. PERKEMBANGAN HARGA PANILI DI INDONESIA Perkembangan harga panili di pasar domestik di Indonesia selama kurun waktu tahun 1987-2008 menunjukkan kecenderungan naik dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 22. PERKEMBANGAN EKSPOR-IMPOR PANILI INDONESIA Ekspor dan impor panili Indonesia dilakukan dalam bentuk panili utuh dan olahan.» Outlook Pertanian .

Pada tahun 2004 terjadi penurunan volume ekspor menjadi 741 ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 16.7).160 ribu (tahun 2002) dan US$ 19.000 6. Hal ini disebabkan menurunnya mutu panili Indonesia dan ditemukannya panili sintetis yang menyebabkan harga panili Indonesia di pasar dunia menurun drastis.275 ribu (tahun 2003).347 ribu. Ekspor Vol. Sementara itu perkembangan volume impor panili Indonesia mempunyai pola yang hampir serupa dengan ekspornya (Gambar 7. Surplus neraca perdagangan panili Indonesia pada tahun 2008 sebesar US$ 5.502 ribu.337 ribu (Lampiran 7.000 0 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Vol. Setelah tahun 2002 impor panili semakin menurun. dimana selama tahun 2000-2008 masih menunjukkan posisi surplus.5).598 ton dan 6.Perkebunan 2009 « Tahun 2002 dan 2003 terjadi lonjakan ekspor panili masing-masing menjadi sebesar 3. (Ton) 7.515 ton dengan nilai impor sebesar US$ 1.565 ribu (Lampiran 7.7.5). Impor Gambar 7.000 2. 2000-2008 Pusat Data dan Informasi Pertanian 149 . Berdasarkan nilai ekspor dan nilai impor tersebut diperoleh neraca perdagangan panili Indonesia.000 3.363 ton.» Outlook Pertanian . namun nilai ekspor yang diperoleh justru lebih rendah dibandingkan nilai ekspor panili tahun 2001.000 4.000 1. Nilai ekspor panili pada dua tahun tersebut masing-masing sebesar US$ 19. Tahun 2008 ekspor panili Indonesia sebesar 421 ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 5. tetapi tahun 2008 sedikit naik menjadi 151 ton dengan nilai impor sebesar US$ 228 ribu. Perkembangan Volume Ekspor dan Impor Panili Indonesia.000 5. Volume impor panili terbesar terjadi pada tahun 2002 yang mencapai 1. Tahun-tahun berikutnya volume maupun nilai ekspor panili cenderung menurun.

000 10.43%. Pada tahun 1970 total luas tanaman menghasilkan panili di dunia tercatat sebesar 11.000 40.000 0 Gambar 7. Indonesia menempati peringkat kedua dengan kontribusi rata-rata sebesar 16.17% per tahun dari total luas tanaman menghasilkan panili dunia.000 60. Rata-rata kontribusi keempat negara tersebut pada tahun 2003-2007 mencapai 97. maka pada tahun 2007 naik menjadi 77.000 30.88% per tahun.26% dari total luas tanaman menghasilkan panili di dunia.5.12% per tahun. Secara rinci perkembangan luas tanaman menghasilkan panili disajikan pada Lampiran 7.» Outlook Pertanian .9). terdapat empat negara dengan luas tanaman menghasilkan panili terbesar di dunia (Gambar 7.6. Kontribusi negara-negara lainnya terhadap luas tanaman 150 Pusat Data dan Informasi Pertanian .095 ha.8) Rata-rata pertumbuhan luas tanaman menghasilkan panili pada periode tersebut sebesar 7.000 20. Peningkatan yang cukup signifikan terjadi pada tahun 1980 dan tahun 2005 masing-masing sebesar 135. 2006 2003 2000 1997 1994 1991 1988 1985 1982 1979 1976 1973 1970 (Ha) 80.66% per tahun.075 ha.000 70.807 ha per tahun dan memberikan kontribusi sebesar 77. Perkembangan Luas Tanaman Menghasilkan Panili Dunia. 1970-2007 Berdasarkan data FAO. Peringkat ketiga dan keempat ditempati oleh China dan Mexico dengan kontribusi masing-masing sebesar 2. PERKEMBANGAN LUAS TANAMAN MENGHASILKAN.8.Perkebunan 2009 « 7.09% dan 1.14% dan 96. Madagaskar berada di peringkat pertama dengan luas tanaman menghasilkan rata-rata sebesar 48. PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS PANILI DUNIA Perkembangan luas tanaman menghasilkan panili di dunia pada tahun 19702007 secara umum berfluktuasi namun menunjukkan peningkatan (Gambar 7.000 50.

» Outlook Pertanian .35% per tahun (Gambar 7. 1970-2007 Pusat Data dan Informasi Pertanian 151 . Perkembangan produksi panili di dunia secara rinci disajikan pada Lampiran 7.000 5.000 4.000 2.000 1.6. perkembangan produksi panili dunia selama tahun 1970-2007 juga menunjukkan kecenderungan meningkat dengan rata-rata peningkatan sebesar 6. Perkembangan produksi panili dunia. Gambar 7.7.10).000 6. Beberapa negara dengan luas tanaman menghasilkan panili terbesar di dunia disajikan pada Lampiran 7.Perkebunan 2009 « menghasilkan panili di dunia kurang dari 1%. Jika pada tahun 1970 produksi panili dunia sebesar 1.438 ton.000 8.9.10.000 3. 2006 2003 2000 1997 1994 1991 1988 1985 1982 1979 1976 1973 1970 (Ton) 9. maka tahun 2007 telah mencapai 8. Rata-rata 2003-2007 Seiring dengan perkembangan luas tanaman menghasilkan panili. Negara dengan Luas Tanaman Menghasilkan Panili Terbesar di Dunia.000 0 Gambar 7.736 ton.000 7.

152 Pusat Data dan Informasi Pertanian . Indonesia berada di peringkat pertama dengan rata-rata produksi sebesar 2. Secara kumulatif. Negara-negara produsen panili lainnya mempunyai kontribusi rata-rata kurang dari 2% per tahun.47 kg/ha tetapi cenderung menurun hingga mencapai tingkat produktivitas terendah pada tahun 1980.89% terhadap total produksi panili dunia (Gambar 7.11.55% dari total produksi panili dunia.11).15%). pada tahun 20032007 keempat negara tersebut memberikan kontribusi rata-rata sebesar 91.644 ton per tahun dan memberikan kontribusi sebesar 41. yaitu sebesar 69.87% berada di peringkat kedua. Rata-rata 2003-2007 Perkembangan produktivitas panili dunia selama periode tahun 1970-2007 menunjukkan pola yang berfluktuasi (Gambar 7. Negara-negara Produsen Panili Terbesar di Dunia. Tahun 2007 tingkat produktivitas panili dunia mencapai 109. Madagaskar.48 kg/ha.12). diikuti oleh China (16. Setelah tahun 1980 produktivitas panili dunia tetap berfluktuasi namun cenderung meningkat.12 kg/ha. Madagaskar dengan kontribusi sebesar 28. yaitu Indonesia. Pada tahun 1970 tingkat produktivitas panili dunia sebesar 156. Laju pertumbuhan produktivitas panili dunia selama kurun waktu 1970-2007 sebesar 1.Perkebunan 2009 « Menurut FAO. China dan Mexico. Gambar 7.63%) dan Mexico (4.96% per tahun (Lampiran 7.6). produksi panili di dunia didominasi oleh empat negara. Beberapa negara produsen panili terbesar di dunia disajikan pada Lampiran 7.8.» Outlook Pertanian .

1970-2007 Dalam lima tahun terakhir (2003-2007) terdapat enam negara dengan tingkat produktivitas panili rata-rata terbesar di dunia.12. Negara-negara lainnya belum mampu menyamai China.00 200.38 kg/ha) dan Malawi (250. Mexico. Tonga. Uganda yang berada di urutan kedua mempunyai tingkat produktivitas sebesar 500. Indonesia dan Malawi.00 200. Perkembangan Produktivitas Panili Dunia. (Kg/Ha) 788.00 400.64 kg/ha).» Outlook Pertanian . yaitu China.00 Gambar 7.00 600. diikuti oleh Tonga (455.00 455. Uganda.58 800. China berada di peringkat pertama dengan tingkat produktivitas panili mencapai 788.00 100. Mexico (368.38 250. (rata-rata 2003-2007) Pusat Data dan Informasi Pertanian 153 .13).00 50.00 500.00 2006 2003 2000 1997 1994 1991 1988 1985 1982 1979 1976 1973 1970 0. Negara dengan produktivitas panili terbesar dunia.58 kg/ha.00 kg/ha.98 kg/ha).13.00 ton/ha) (Gambar 7.00 150.00 Gambar 7.Perkebunan 2009 « (Kg/Ha) 250. Indonesia (269.98 368.00 Malawi Indonesia Mexico Tonga Uganda China 0.64 269.

Indonesia berada di peringkat kedua dengan rata-rata volume ekspor panili sebesar 506.6.Perkebunan 2009 « 7. Singapura.22 ribu ton per tahun (Gambar 7. (Ton) 1.00 ton per tahun. Papua Nugini. Jerman dan Spanyol berada di urutan berikutnya dengan rata-rata volume impor masing-masing sebesar 349.67 ton per tahun.050 700 506.33 ton per tahun. Indonesia berada di peringkat ke-16 dunia.227.15). disusul oleh Perancis dengan rata-rata volume impor sebesar 537.33 ton).33 270.00 423.00 350 0 Madagaskar Indonesia Papua Nugini Perancis Amerika Serikat Gambar 7.227. Perancis (270.33 ton. Negara Eksportir Panili Terbesar di Dunia. Peringkat kedua diduduki oleh Belanda dengan rata-rata volume impor sebesar 603.00 ton).67 ton per tahun. Peringkat berikutnya berturut-turut adalah Papua Nugini (423.» Outlook Pertanian . PERKEMBANGAN EKSPOR-IMPOR PANILI DUNIA Ekspor panili selama periode tahun 2004-2006 didominasi oleh lima negara.14). Perancis dan Amerika Serikat (Gambar 7. 154 Pusat Data dan Informasi Pertanian .67 ton dan 232 ton.400 1. 291. Rata-rata 2004-2006 Sementara itu impor panili dilakukan oleh hampir semua negara di dunia. yaitu Madagaskar. Madagaskar yang merupakan negara eksportir terbesar mempunyai rata-rata volume ekspor panili sebesar 1.67 1.33 ton) dan Amerika Serikat (270. Negara importir panili terbesar adalah Amerika Serikat dengan rata-rata volume impor panili tahun 2004-2006 sebesar 1. Indonesia.14.33 270. Sebagai negara importir.

» Outlook Pertanian .15 2009 3.085.01 3.22 Angka Tetap.286. 2004-2006 7.392.000 603.20 Rata-rata Pertumbuhan (%/tahun) Keterangan : 1) 2.244. Hasil proyeksi produksi panili dengan nilai MAPE=19 seperti disajikan pada Tabel 7. Hasil proyeksi produksi panili di Indonesia. Dari beberapa uji coba pemodelan.4 dan gamma (trend)=0.4.00 1.200 1.177.96 3. 2008-2010 Tahun Produksi Panili (Ton) Pertumbuhan (%) 20071) 3. dipilih model terbaik pada konstanta pemulusan alpha (level)=0. PROYEKSI PENAWARAN PANILI 2008-2010 Proyeksi penawaran panili didasarkan pada proyeksi produksi panili.67 600 349.91 0. Direktorat Jenderal Perkebunan Pusat Data dan Informasi Pertanian 155 .181.67 232.33 400 291. Negara Importir Panili Terbesar Dunia. Tabel 7.30 2010 3.00 2008 3.15.33 800 537.400 1. Mengingat keterbatasan ketersediaan data maka pemilihan model untuk memperoleh angka estimasi menggunakan metode pemulusan eksponensial berganda (double exponential smoothing).4.Perkebunan 2009 « (Ton) 1.00 200 0 Amerika Belanda Perancis Singapura Jerman Serikat Spanyol Gambar 7.7.

45 ton pada tahun 2008.5.) Keterangan : 156 Pertumbuhan (%) Tahun 1) 8. Hasil Proyeksi Permintaan Panili di Indonesia.86 ton dan akan terus meningkat hingga tahun 2010 sebesar 3.181.26% per tahun.20 ton.355.22% per tahun.648.20% (tahun 2010) sehingga produksi panili tahun 2009 diperkirakan akan mencapai 3.017. 2008-2010 Konsumsi Panili (Ton) 20071) 2.017.86 3.20 11.91 ton.01 ton. Secara absolut konsumsi panili diperkirakan akan mencapai 2.911.15% dimana produksi panili diperkirakan mencapai 3. diolah Pusdatin Pusat Data dan Informasi Pertanian .Perkebunan 2009 « Produksi panili di Indonesia diperkirakan akan meningkat pada tahun 20082010 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 2.286. 7.30% (tahun 2009) dan 3. Nilai MAPE diperoleh sebesar 44.00 2008 2.65 2010 3.911.18 Rata-rata Pertumbuhan (%/Th. Hasil proyeksi menunjukkan adanya peningkatan konsumsi panili selama periode tahun 2008-2010 dengan rata-rata peningkatan sebesar 8.45 9. Tabel 7.96 ton dan tahun 2010 mencapai 3.26 Angka Tetap. tahun 2009 sebesar 3.8. Pada tahun 2008 laju peningkatan hanya sebesar 0. Pada tahun 2009 dan 2010 laju pertumbuhan produksi panili diperkirakan akan meningkat cukup tinggi masing-masing sebesar 3.355. PROYEKSI PERMINTAAN PANILI 2008-2010 Proyeksi permintaan panili dilakukan dengan menggunakan metode trend linier.79.392. Ditjen Perkebunan dan BPS.95 2009 3.» Outlook Pertanian .

81 ton (Tabel 7.10 ton dan tahun 2010 menjadi 36. dapat menjadi pasar yang sangat menjanjikan bagi upaya pengembangan panili Indonesia.86 269. tahun 2009 turun menjadi 269. PROYEKSI SURPLUS/DEFISIT PANILI 2008-2010 Berdasarkan hasil proyeksi penawaran dan permintaan panili di Indonesia diperoleh proyeksi surplus/defisit panili. Peningkatan permintaan panili tahun 2008-2010 masih mampu diimbangi dengan produksi dalam negeri sehingga diperkirakan masih akan terjadi surplus hingga tahun 2010.9.392.355. dan sebagainya.911.01 3.1 2010 3.45 270. Proyeksi surplus/defisit panili di Indonesia. farmasi.96 3.6). Semakin berkembangnya industri yang menggunakan panili sebagai salah satu bahan bakunya.Perkebunan 2009 « 7. Tabel 7. Hal ini juga didukung oleh hasil proyeksi yang menunjukkan bahwa konsumsi panili akan semakin meningkat di masa mendatang.91 2. seperti industri makanan dan minuman. wangi-wangian.6. Beberapa upaya dapat dilakukan dalam rangka pengembangan tanaman panili.81 Melihat hasil proyeksi surplus/defisit panili tersebut.017.286.» Outlook Pertanian .181. seperti peningkatan standar mutu produksi panili segar maupun panili Pusat Data dan Informasi Pertanian 157 . Dengan laju pertumbuhan konsumsi panili yang lebih besar dibandingkan laju pertumbuhan produksinya.20 36. 2008-2010 Tahun Produksi Panili (Ton) Konsumsi Panili (Ton) Surplus/Defisit (Ton) 2008 3. maka surplus panili tersebut akan semakin mengecil dan dikhawatirkan setelah tahun 2010 akan terjadi defisit panili di Indonesia.46 ton.46 2009 3. Tahun 2008 surplus panili diperkirakan sebesar 270. sebenarnya masih sangat terbuka peluang bagi pelaku usaha komoditas panili untuk mengembangkan usaha budidaya panili.

158 Pusat Data dan Informasi Pertanian . fasilitas sarana pengolahan dan produk hukum yang dapat memberi sanksi bagi pelanggarnya. rehabilitasi/peremajaan maupun pengutuhan di wilayah potensial. Untuk itu diperlukan bimbingan dan pengawalan teknis. Terkait dengan kondisi agribisnis panili saat ini. kegiatan intensifikasi. 2008a) mengupayakan fokus pembinaan komoditas panili kedepan untuk memperkuat daya saing yang antara lain diarahkan untuk : • Menerapkan kaidah-kaidah "Good Agriculture Practices" dan "Good Manufacture Practices". diperlukan dukungan hasil penelitian dan kajian ilmiah yang menunjukkan keutamaan dan keunggulan panili alam terhadap kesehatan serta partisipasi para eksportir panili dan Atase Pertanian Luar Negeri serta fasilitas dari Departemen terkait. • Mengadakan kampanye penggunaan panili alam untuk melawan penggunaan panili sintetis yang cenderung meningkat jumlahnya ke negara-negara pengguna seperti Amerika Serikat dan negara Eropa. • Promosi pasar perlu dilakukan secara intensif dan berkelanjutan antara lain melalui berbagai pameran.Perkebunan 2009 « olahan terutama yang digunakan untuk keperluan ekspor serta penumbuhan wilayah binaan untuk pengembangan komoditas panili. Sasaran yang akan dicapai adalah peningkatan produktivitas. Dalam mendukung pelaksanaan tersebut diperlukan dukungan kebun induk. Adanya issue kandungan air raksa (merkuri) pada panili Indonesia perlu ditindaklanjuti dan ditangani dengan tuntas. • Meningkatkan mutu hasil sehingga memenuhi persyaratan SNI yang dilakukan dengan memperbaiki sistim pemetikan buah dan pengolahan hasil di tingkat petani dan pedagang serta menghindari pencampuran benda –benda asing. Untuk itu.» Outlook Pertanian . minimal mencapai 750 kg/ha panili kering. maka Departemen Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan (Anonim. market inteligen dan temu bisnis. misi dagang. sehingga menghasilkan panili yang berkualitas dan bermutu tinggi termasuk pengembangan produk organik. Upaya tersebut perlu dilakukan melalui perbaikan kedalam/internal dan keluar seperti anti "black campaign" tentang issue tersebut.

APBD maupun swadaya masyarakat. diperlukan dukungan stake holder terkait seperti Ditjen Perdagangan Luar Negeri. BPEN. Gabungan Kelompok Tani.Perkebunan 2009 « Untuk itu.» Outlook Pertanian . hasilnya diinformasikan kepada pengguna dan dikawal penerapannya di tingkat lapangan melalui berbagai sumber pendanaan baik APBN. Kelembagaan Eksportir panili. • SDM merupakan modal dasar dalam pengembangan agribisnis panili yang memerlukan pelatihan. eksportir serta untuk Kedudukan pemerintah dalam kerjasama ini adalah sebagai fasilitator dalam mensinergiskan kepentingan masing-masing pihak. Pusat Data dan Informasi Pertanian 159 . Atase Pertanian dan para eksportir panili. Atase Perdagangan. • Meningkatkan penelitian di bidang panili sesuai dengan tuntutan kebutuhan. Koperasi dan Asosiasi Petani Panili Indonesia. dan Dewan Rempah Indonesia stakeholder (DRI) tersebut yang serta tugasnya mensinergikan mengoptimalkan peran seluruh pemanfaatan organisasi petani tingkat International yang dikenal dengan nama ITFN [International Tropical Farmers Network]. pendampingan dan asistensi yang tidak hanya berorientasi pada seluruh aspek agribisnis dan kelembagaannya tetapi juga bertumpu pada proses perubahan pola pikir dan peningkatan spirit manajemen kemitraan. • Kelembagaan petani diarahkan untuk terbentuknya Koperasi melalui penumbuhan Kelompok Tani. • Menumbuhkembangkan Kerjasama Kemitraan Usaha (KKU) antara petani panili dan pengusaha yang bergerak di bidang panili untuk memperoleh kepastian bahan baku bagi memperoleh kepastian pasar bagi petani. Ditjen PPHP.

417 9.92 -100.78 3.258 16.09 12.12 5.66 31.35 12.12 23.739 7.248 18.653 24.97 Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan Keterangan : *) Angka Sementara PR = Perkebunan Rakyat 160 PBN = Perkebunan Besar Negara PBS = Perkebunan Besar Swasta Pusat Data dan Informasi Pertanian .564 2.924 13.94 -88.00 7.518 4.99 8.807 31. (%) 4.13 102.93 5.42 -6.25 Rata-rata Pertumbuhan (%) 1977-2008 7.30 37.26 -6.00 47.571 14.12 37.78 2.252 31.60 5.67 (Ha) 4.65 13.19 1.19 -19.76 0.033 13.522 4.55 29.877 7.796 15.00 0.02 11.502 14.142 16.175 5.59 13.18 -5.39 7.03 -5.31 0.18 94.47 3.00 2.69 54.92 4.953 19.369 31.19 12.786 4.14 33.751 4.416 16.28 66.07 6.65 55.879 3.018 3.91 1977-1997 8.14 0.778 10.74 8.95 -12.34 5.39 7.33 -7.46 -6.36 11.55 -95.98 1998-2008 6.734 17. (%) Pertumb.41 -18.46 27.630 14. (%) (Ha) -100.11 -19.95 -100.134 25.836 19.963 11.63 560.Perkebunan 2009 « Lampiran 7.79 -3.06 37.57 53.95 -1.05 4.029 3.881 3.01 0.01 -1.723 19.29 6.788 7.871 11.84 4.207 5.51 33.04 -2.536 24.44 -8.12 1.872 3.09 23.861 15.79 3.62 12.486 31.692 14.532 12.863 3.766 15.58 28.89 -37.36 8.168 3. (%) 7. 1977 – 2008 PR Tahun (Ha) 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008*) PBN Pertumb.751 15.801 31.922 15.62 5.80 9.251 25.73 9.04 - -1.36 0.00 8.358 19.00 - 4 7 11 17 22 18 35 32 49 99 93 128 846 100 95 109 118 110 113 113 116 132 128 121 125 126 117 117 117 127 6 10 75.89 4.616 17.379 31.41 11.887 Pertumb.624 15.1 Perkembangan Luas Areal Panili Indonesia Menurut Status Pengusahaan.749 15.06 -2.» Outlook Pertanian .586 2.49 -7.04 -6.318 9.52 11.151 3.883 15.066 19.378 13.99 7.67 31.14 54.91 -12.00 57.73 0.24 (Ha) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Indonesia PBS Pertumb.00 30.091 12.00 14.525 16.80 -7.41 13.84 -38.00 0.

49 PBS Pertumb.17 -31.00 -20.61 -18.791 2000 1.730 2003 1.16 14.453 2.792 1.40 -15.02 -13.236 1.731 1.88 48.00 25.768 3.00 103.00 0.67 -23.026 1998 1.196 2002 2.198 2.681 2.366 3.68 0.20 30.69 1.32 -39.00 -10.042 1997 2.54 33.84 14.00 -33.17 -37.738 2007 3.18 73.78 -7. (%) 1977 294 1978 418 1979 726 1980 755 1981 663 1982 456 1983 602 1984 519 1985 1. 1977 – 2008 PR Tahun (Ton) PBN Pertumb.10 -37.19 -6.16 12.00 100.035 1.020 1996 2.73 7.63 (Ton) 295 418 726 761 676 466 617 520 1.009 1.33 -100.177 3.051 2.030 2.03 0.184 1.67 100.27 34.33 0.86 15.08 -3.06 15.890 1.26 -15.76 24.00 14.65 19.12 0.182 Pertumb.680 2001 2.71 24.00 -41.873 1999 1.68 -18.68 4.031 1.84 14.83 33.257 1.762 1995 2.176 2008*) 3.180 Rata-rata Pertumbuhan (%) 1977-2008 1977-1997 1998-2008 Sumber 42.79 98.34 270.00 -93.00 70.29 25.528 1. Perkembangan Produksi Panili Pengusahaan.770 2.832 1988 2.19 61.25 -39.252 1991 1.004 1990 1.69 73.00 0.569 1993 1.659 2.09 -0.07 32.230 1987 1.449 1989 2.00 0.72 7.13 14.13 12.85 -2.00 -50.02 4.89 -94.521 1994 1.00 0.99 -12.43 -5.13 -5.74 5.52 -5.82 -11.72 98.222 2005 2.81 32.19 30.252 2.00 2.08 50.03 -0. (%) 41.68 3.Perkebunan 2009 « Lampiran 7.30 48.031 1986 1.38 -6.658 2004 2.55 -4.315 2006 3.2.18 -96.00 88.78 -7.00 116.64 1.900.94 33.22 32.06 59.47 -15.19 -31.» Outlook Pertanian .836 2.68 -4.43 : Direktorat Jenderal Perkebunan Keterangan : *) Angka Sementara PR = Perkebunan Rakyat Pusat Data dan Informasi Pertanian PBN = Perkebunan Besar Negara PBS = Perkebunan Besar Swasta 161 .00 75. (%) 1 0 0 6 13 10 15 1 0 6 4 4 5 5 5 4 7 8 10 9 9 17 1 1 2 1 1 30 51 30 1 2 Menurut -100.179 1992 1.27 19.573 1.25 35. (%) (Ton) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Indonesia - (Ton) - Status Indonesia Pertumb.

78 Provinsi Lainnya 380 443 669 816 821 626 21.22 100.52 3 Sulawesi Utara 373 328 266 509 509 397 13.13 78.Perkebunan 2009 « Lampiran 7.40 2 Nusa Tenggara Timur 501 507 611 452 452 505 17.177 3. Produksi (Ton) Provinsi 2004 2005 2006 Share (%) 2007 2008*) Rata-rata Share Kumulatif (%) 1 Sulawesi Selatan 614 697 702 719 719 690 23.00 : Direktorat Jenderal Perkebunan.03 64.182 2.768 3. diolah Pusdatin Keterangan : *) Angka Sementara 162 Pusat Data dan Informasi Pertanian .65 6 Sulawesi Tengah 89 83 102 241 241 151 5.40 23. 2004 .949 Indonesia Sumber 100.64 73.01 5 Jawa Barat 199 204 509 255 255 284 9.98 4 Jawa Timur 96 104 909 185 185 296 10.366 3.3.252 2.11 40.2008 No. Provinsi Sentra Produksi Panili di Indonesia.46 53.» Outlook Pertanian .00 2.

551 272.4.500 60.472 52. Perkembangan Harga Rata-rata Panili di Pasar Domestik.10 22.86 -10.333 275.» Outlook Pertanian .871 301.087 32.13 -24.658 27.99 -1.08 -7.34 4.026 55.08 125.19 19.01 Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan Keterangan : *) Jenis mutu : polong kering Pusat Data dan Informasi Pertanian 163 .601 226.398 62.13 -14.531 54.73 20.75 -56.958 231.21 19.46 -2.01 8.277 Pertumbuhan (%) -33.118 79.088 31.02 44.938 523.48 44.75 2.726 300.761 66. 1987 – 2008*) Tahun Harga (Rp/Kg) 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Pertumbuhan (%) 1987-2008 1987-2000 2001-2008 40.611 50.39 73.833 269.27 -8.628 56.Perkebunan 2009 « Lampiran 7.38 10.78 6.91 277.38 16.514 33.

736 2001 469 33.95 10 -81.038 2008 421 -21.93 5.11 15.26 151 1.5. 2000-2008 Ekspor Tahun 2000 Impor Volume Pertumb. diolah Pusdatin 164 Pusat Data dan Informasi Pertanian .363 76.77 1.35 16.814 2003 6.78 868 13.79 228 730.55 5.64 2.347 -67.543 2004 741 -88.309 127.Perkebunan 2009 « Lampiran 7.892 10. Nilai (Ton) (%) (000 US$) 350 Pertumb.502 -14. Perdagangan (000 US$) (%) (000 US$) 766 7.85 5.68 27 -90.598 667.066 2.53 5.442 2002 3.515 560.96 19. Perkembangan Ekspor Impor Panili Indonesia.01 6.60 1.46 205 -91.83 19.347 55.88 14.31 3.160 -0. (%) 8.39 34 -70.430 -34.24 18.20 17.732 177.19 57 5.60 54 57.354.071 2005 278 -62.10 229 289.33 19.06 275 33.68 5.14 6.565 -8.275 0.141 2006 499 79.503 (Ton) (%) 59 Neraca Nilai Pertumb.337 Sumber : Badan Pusat Statistik.617 2007 540 8. Volume Pertumb.74 5.» Outlook Pertanian .60 117 -92.

896 2005 76.611 1995 35.81 -33.90 4.40 189.90 74.61 -33.30 -6.951 8.777 2003 39.74 -12. Produksi dan Produktivitas Panili Dunia.33 107.931 1987 35.638 6.677 5.17 18.136 1.29 -12.28 43.752 2000 37.52 13.119 1983 29.27 132.60 10.44 3.43 3.54 -18.26 2.75 -9.96 12.16 -45.45 1.925 1992 42.29 -4.98 -1.69 4.20 105.75 -16.740 1.13 14.58 -12.50 -11.32 77.437 3.97 20. (%) 34.64 31.27 -49.81 -15.67 (Kg/Ha) 156.880 2001 38.20 -10.795 2.542 4. (%) 27.72 18.986 1998 40.64 3.13 -0.47 Produksi (Ton) 1.220 1994 34.44 142.62 2.43 0.01 -6.581 2002 38.23 132.27 7.96 7.» Outlook Pertanian .95 0.095 1971 11.83 99.25 1.96 32.37 118.286 8.85 -6.30 -14.31 1.82 96.27 10.39 121.35 5.64 2.562 4.85 116.680 2007 77.61 -13.55 -2.24 -4.21 1.804 1985 32.43 22.15 5.16 9.07 15.348 3.66 6.47 198.100 7.11 5.989 1.58 4.55 83.19 17.024 2.06 108.46 108.133 4.736 2.983 2.96 106.52 16.84 -51.79 154.819 1988 36.556 4.725 1974 15.22 112.81 -4.47 -8.41 3.01 2.948 1978 12.61 69.98 3.217 2004 38.17 15.201 1980 28.75 156.06 109.76 -8.57 -8.18 36.46 132.26 115.821 4.13 10.80 2.05 -22.405 2006 76.50 8.733 1976 14.654 1997 39.57 15.438 Produktivitas Pertumb.117 3.37 -6.75 -3.99 9.811 3.150 3.31 -12.600 1999 38.861 4.51 99.905 1991 35.217 3.12 85.14 -2.939 1.390 2.477 1990 40.075 Rata-rata Pertumbuhan (%/tahun) 1970-2007 1970-1997 1998-2007 5.53 24.689 1981 27.711 1977 12.48 Pertumb.337 2.73 112.84 1.53 15.40 96.41 Sumber : F A O Pusat Data dan Informasi Pertanian 165 .19 106.51 1.082 2.56 2.37 39.81 149.27 156.093 4.52 30.36 12.83 6.005 1975 15.52 -0.243 3. 1970-2007 Tahun Luas Tanaman Menghasilkan (Ha) Pertumb.398 2.79 101.844 3.982 1996 38.66 32.81 91. (%) 1970 11.142 1984 29.74 -4.54 -4.483 1993 36.6.01 18.85 0.36 0.03 9.15 0.69 6.94 61.61 4.57 8.586 1.03 135.91 38.75 -15.54 199.81 -2.992 4.756 1972 15.25 -14.846 1982 28.96 1.92 114.48 52.906 1986 33.22 16.230 3.06 1.72 -29.94 0.714 1979 12.28 -6.83 104.Perkebunan 2009 « Lampiran 7.34 4. Perkembangan Luas Tanaman Menghasilkan.988 4.01 89.754 1989 38.525 1973 15.529 3.52 7.

244 100.644 41.55 5 Negara Lainnya 698 484 487 561 438 534 8.76 3 China 800 900 1.000 64.925 1.000 48.12 97.829 10.200 1.717 8.915 6.500 1.428 13.534 2.613 2.822 28.904 63.00 Dunia Sumber : F A O 166 Pusat Data dan Informasi Pertanian .89 41.17 77.922 4.733 2.350 1.252 2. 2003 – 2007 No.177 2.45 100.7.74 100.000 1.00 38.354 7.17 1 Madagaskar 2 Indonesia 8.302 9.807 77.200 1.289 79.26 5 Negara Lainnya 1.300 1.00 Dunia Sumber : F A O Lampiran 7.570 1.88 94.87 70.312 100.108 81.200 1.600 1.685 1.00 3.825 1. Negara Produsen Panili Terbesar Dunia. 2003 – 2007 No.Perkebunan 2009 « Lampiran 7.14 4 Mexico 826 575 681 710 750 708 1.050 26.884 11. Negara dengan Luas Tanaman Menghasilkan Panili Terbesar Dunia.652 6.» Outlook Pertanian .935 9.63 87.320 2.220 63.400 1. Negara Luas Tanaman Menghasilkan (Ha) Rata-rata Share (%) Share Kumulatif (%) 2003 2004 2005 2006 2007 26.768 3. Negara Produksi (Ton) Share Share (%) Kumulatif Rata-rata (%) 2003 2004 2005 2006 2007 1.15 91.40 4 Mexico 240 177 251 291 350 262 4.89 1 Indonesia 2 Madagaskar 525 839 2.660 1.676 16.936 38.366 3.050 16.764 64.982 77.659 2.05 3 China 1.8.09 96.

borneol. pohon jantan dan betina.zonanak.moschata adalah Pusat Data dan Informasi Pertanian 167 . Pala termasuk tanaman berumah dua. B1 dan C.go. Bijinya mengandung minyak terbang.Perkebunan 2009 » VIII. pati gula. Buah pala mengandung zat-zat : minyak terbang (myristin.» Outlook Pertanian .id). Pala diperdagangkan dalam bentuk buah.Tetapi pada tahun 1772 Pierre Poivre seorang botani asal Perancis berhasil menyelundupkan 3. yang kemudian disusul oleh pelaut Inggris dan Belanda (www. gliseda (asam-miristinat. Biji pala dikenal sebagai Myristicae Semen yang mengandung biji Myristica Fragrans dengan lapisan kapur. Tumbuhnya mencapai 20 m. protein. Buahnya berbentuk lonjong seperti lemon.com). giraniol). India dan Srilanka sampai ke Grenada (Amerika Tengah) yang hingga kini menjadi negara penghasil pala terbesar ke 2 di dunia setelah Indonesia (www. dan memiliki wangi dan rasa aromatis yang agak pahit. Buah dan biji pala merupakan bahan rempah-rempah yang sangat terkenal didunia sejak awal abad ke 16. dan usianya mencapai ratusan tahun. pohon pala sangat terbatas penyebarannya di Maluku sehingga menjadi komoditas yang mudah dimonopoli oleh Vereenidge OostIndische Compagnie (VOC). vitamin A. Satu buah menghasilkan satu biji berwarna coklat. pinen safrol. asam-oleat. berdaging dan beraroma khas karena mengandung minyak atsiri.ditjenbun. Pada awalnya. PALA Pala (Myristica fragrans) merupakan tanaman asli Indonesia dari Pulau Banda (Maluku). lemak. iso-eugenol. setelah fulinya disingkirkan. Minyak tetap mengandung trimyristin. kemudian menyebar ke Penang (Malaysia).com). yarg dikenal sebagai Nux moschata M. Kegunaan khusus dari biji Pala. kamfen (zat membius).deptan. Para pelaut dan pedagang Portugis dan Spanyol adalah bangsa asing yang paling awal menemukan kepulauan Maluku. dipenten. daunnya berbentuk elips langsing.17% minyak terbang yang ditawarkan merupakan bahan yang terpenting pada fuli.zonaanak. Sebanyak 8 .000 batang pala yang kemudian ditanam di Mauritius. eugenol. pinen. alkohol). fuli dan biji pala (www.

742 ha pada tahun 1967 menjadi 74.29% dikelola oleh perkebunan swasta (PBS) (Gambar 8. DAN PRODUKTIVITAS PALA DI INDONESIA Gambar 8. Berdasarkan status pengusahaannya sejak tahun 1967 hingga tahun 2007 (rata-rata).72% perkebunan pala di Indonesia diusahakan oleh rakyat (PR).2). sembelit.17% dikelola oleh perkebunan besar negara (PBN) dan sebesar 0.» Outlook Pertanian .asiamaya.com). PERKEMBANGAN LUAS AREAL. 1967-2007 Perkembangan total luas areal pala di Indonesia sejak tahun 1967 hingga 2007 relatif berfluktuatif namun cenderung mengalami peningkatan.Perkebunan 2009 « sebagai obat homoeo-pathi. Biji kerasnya setelah dicuci untuk menghilangkan kapurnya. mencret dan penyakit sulit tidur atau perut kembung (www. 97.1). Obat homoeopathis berguna untuk mengobati sakit histeri. dibuat menjadi tinktur (direndam dalam alkohol) atau tepung.1. PRODUKSI. Sedangkan sisanya sebesar 2.1.1 dan Lampiran 8.35% per tahun (Gambar 8. Perkembangan Luas Areal Pala di Indonesia. total luas areal pala di Indonesia meningkat dari 12. 168 168 Pusat Data dan Informasi Pertanian .530 ha pada tahun 2007 atau meningkat rata-rata 5. 8. Selama kurun waktu tersebut.

Pada Gambar 8.2).3). Gambar 8. Pertumbuhan yang sangat tinggi pada kurun waktu tersebut terjadi pada perkebunan besar negara (PBN) sebesar 100.92%.2.87%. Perkembangan Produksi Pala di Indonesia.» Outlook Pertanian . 1967-2007 Pusat Data dan Informasi Pertanian 169 .78% (Lampiran 8.3 terlihat perkembangan produksi biji pala yang cenderung meningkat dari tahun 1967 hingga tahun 2002.41%. Rata-rata pertumbuhan produksi biji pala nasional pada kurun waktu 1967-2007 sebesar 3. (Rata-rata 1967 – 2008) Produksi pala di Indonesia adalah dalam bentuk biji pala.Perkebunan 2009 » Gambar 8. Pada tahun 2000 produksi biji pala di Indonesia kembali meningkat namun pada tahun 2004 terjadi penurunan yang sangat signifikan hingga mencapai 53. begitu pula pada tahun 2005 yang turun sebesar 20. walaupun sempat terjadi penurunan yang sangat tinggi pada tahun 1999 sebesar 30.53% (Lampiran 8.3. Kontribusi Rata-rata Luas Areal Perkebunan Pala di Indonesia Menurut Status Pengusahaan.

perkembangan produktivitas pala di Indonesia sejak tahun 1994 hingga 2007 cenderung menurun (Gambar 8. Sementara produktivitas PR yang 170 170 Pusat Data dan Informasi Pertanian . Maluku. Provinsi Sentra Produksi Pala di Indonesia. dan Jawa Barat seperti terlihat pada Gambar 8. Peningkatan produktivitas pala yang cukup signifikan terjadi pada tahun 2006.5). ada tujuh provinsi sebagai sentra produksi biji pala di Indonesia yang memberikan kontribusi sebesar 93. setelah terjadi penurunan yang cukup drastic pada tahun-tahun sebelumnya. Papua.4. Maluku Utara merupakan provinsi dengan rata-rata produksi biji pala terbesar yakni 2.53% terhadap total produksi biji pala nasional.29% per tahun. Hal inilah yang menyebabkan produksi pada kurun waktu tersebut juga mengalami penurunan.65% dari total produksi biji pala di Indonesia. Pertumbuhan produktivitas nasional juga didongkrak oleh pertumbuhan PBN yakni sebesar 191. Sumatera barat.45% per tahunnya.93 ribu ton atau berkontribusi sebesar 24. Sulawesi Utara. disusul Nangro Aceh Darusalam. Peningkatan produktivitas yang terjadi pada tahun 2006 ini yang menyebabkan rata-rata perkembangan produktivitas pala nasional sejak tahun 1994 hingga 2007 sedikit meningkat yakni sebesar 1.Perkebunan 2009 « Berdasarkan rata-rata produksi biji pala tahun 2003-2007. (Rata-rata 2003-2007) Berbeda dengan perkembangan luas areal. Gambar 8. Produksi biji pala pada provinsi sentra beserta besarnya kontribusi secara rinci dapat dilihat pala Lampiran 8.3.» Outlook Pertanian .4.

00 0.86 % 322.20 % 350.00 411.6. Rata-rata Produktivitas Pala Menurut Status Pengusahaan.86 kg/ha (Gambar 8.00 50.00 100.21 kg/ha.1994 – 2007 Berdasarkan angka rata-rata produktivitas pala tahun 1994 hingga tahun 2007 PR memiliki rata-rata produktivitas sebesar 480.00 PR PBN PBS Indonesia Gambar 8.Perkebunan 2009 » merupakan pengelola perkebunan pala terbesar di Indonesia mengalami penurunan produktivitas sebesar 3.» Outlook Pertanian .00 400.00 108.36 % 200.00 250. Secara nasional.5. Perkembangan Produktivitas Pala di Indonesia.83% per tahunnya (Tabel 8.00 150. Gambar 8.1. (Ratarata 1994 – 2007) Pusat Data dan Informasi Pertanian 171 .21 % 450.00 300.1). Secara rinci rata-rata pertumbuhan produktivitas lada pada periode 1994-2007 di Indonesia menurut jenis usaha perkebunan tersaji pada Tabel 8.6). produktivitas pala di Indonesia adalah sebesar 411. 430.

48 2004 244 -54. Artinya bahwa pertumbuhan konsumsi biji pala sebesar 38.20 411.08 0 241 1.21 -3. Berdasarkan gambar 8.23 488 -2.42 562 5. % (Kg/ha) 1994 528 1995 507 -3.62 447 2529.43 346 1.10% pertahun umumnya 172 172 Pusat Data dan Informasi Pertanian .37 1997 489 -1. Pala yang dikonsumsi oleh masyarakat ini adalah biji pala. PERKEMBANGAN KONSUMSI PALA DI INDONESIA Data konsumsi pala di Indonesia bersumber dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan Oleh Badan Pusat Statistik (BPS) setiap 3 tahun sekali.00 456 -5.85 340 -15. Konsumsi pala ini merupakan konsumsi rumah tangga.86 1.33 0 -100.1.» Outlook Pertanian . % 524 -31.24 30 30.33 340 -1.7 di bawah.01 138 2.25 23 -94.69 2007 245 1.84 534 11.Perkebunan 2009 « Tabel 8.12 0 238 101.82 188 8. bukan daging buah pala segarnya ataupun olahan daging buahnya. % 173 (Kg/ha) Pertumb.2. bukan konsumsi industri.04 93 -4.48 361 0.48 97 130.26 430.48 PBS = Perkebunan Swasta PBN = Perkebunan Besar Negara 8.43 322.28 537 -4.39 480 -0. % 198 (Kg/ha) Indonesia Pertumb.10% pertahunnya (Tabel 8.22 352 87.95 0 118 -15.41 400 10.80 480 0.00 139 -73.2).39 4.73 25 -81.56 42 -2.56 482 -1.67 503 -4.83 108. Perkembangan Produktivitas Pala Menurut Status Pengusahaan. 1994 – 2007 PBN PR Tahun (Kg/ha) Pertumb.00 361 0.77 17 -32.98 135 -2.11 2006 242 12. konsumsi pala perkapita pertahun di Indonesia pada periode 1087 hingga 2007 sangat fluktuatif.73 533 -4.76 558 5.00 476 4.23 -5.24 94 1.29 Rata-rata 1994-2007 Sumber : Ditjen Perkebunan Keterangan : PR = Perkebunan Rakyat 10.21 1998 461 1999 483 2000 2001 2002 2003 PBS Pertumb.45 43 43.17 361 2.36 191.98 135 1996 495 -2.92 2005 216 -11. Secara rataan pertumbuhan konsumsi pala pada peride tersebut meningkat sebesar 38.00 530 10.

diolah Pusdatin Pusat Data dan Informasi Pertanian 173 .33 2002 1.» Outlook Pertanian .521 1990 1.10 Sumber : BPS.2.043 -33.00 1999 1.00 1996 1.00 1993 1.564 50.043 0.Perkebunan 2009 » dikonsumsi hanya sebagai bahan penyedap atau bumbu dapur saja. Perkembangan Konsumsi Pala di Indonesia.043 0. Perkembangan Konsumsi Biji Pala di Indonesia.564 200. 1987-2007 Tabel 8.7. 1987 – 2007 Tahun Konsumsi Pertumbuhan (kg/kapita) (%) 1987 0.043 100.00 Rata-rata Pertumbuhan 1987-2007 38.521 -50. Gambar 8.00 2004 0.00 2007 1.

Bentuk ekspor pala adalah pala berkulit. Gambar 8.81% pertahun.97 ribu ton dari sebesar 10.46 ribu ton pada tahun 2000.8. 1996 . Perkembangan ekspor pala secara lengkap tersaji pada Lampiran 8.2008 Gambar 8. Perkembangan Volume Ekspor Pala Indonesia.Perkebunan 2009 « 8.4.9. walaupun sempat terjadi penurunan yang cukup signifikan sebesar 23. pala kupasan dan bunga pala. namun kemudian volume ekspor pala tersebut kembali turun pada tahun 2007 hingga 2008 dengan ratarata pertumbuhan sebesar 5. sementara nilai ekspor tumbuh sebesar 16. Perkembangan Volume Impor Pala Indonesia.2008 174 174 Pusat Data dan Informasi Pertanian . 1996 . Pada tahun 2002 ekspor pala kembali meningkat hingga tahun 2006.8.3.» Outlook Pertanian . PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PALA DI INDONESIA Perkembangan volume ekspor pala di Indonesia terlihat meningkat sejak tahun 1996 hingga tahun 2006 seperti terlihat pada Gambar 8.77% pada tahun 2001 menjadi 7. 56% pertahun pada periode 1996-2008.

Hasil proyeksi disajikan pada Tabel 8. dengan model terbaik yang diperoleh adalah Quadratik. Walupun pertumbuhan impor pala jauh lebih tinggi dari ekspor pala. perkembangan volume impor pala pada periode 1996. 8. Secara rinci perkembangan ekspor dan impor pala dapat dilihat pada Lampiran 8. Wujud pala yang diimpor sama dengan wujud pala yang diekspor yaitu pala berkulit. padahal pada tahun yang sama pertumbuhan volume impor turun sebesar 61.22%. namun bila dilihat dari neraca perdagangan pala yang positif (surplus) menandakan bahwa peluang usaha tani pala di Indonesia sangatlah prospektif. dengan Mape sebesar 18. Pada analisis ini dilakukan pemodelan berdasarkan series data produksi tahunan. TAHUN 2008-2010 Proyeksi panawaran pala di Indonesia dilakukan hanya dengan menggunakan satu pendekatan yaitu produksi.» Outlook Pertanian .4.37. Pusat Data dan Informasi Pertanian 175 .9 sangatlah berfluktuatif. dapat diartikan bahwa kualitas pala impor cukuplah tinggi.Perkebunan 2009 » Berbeda dengan tren perkembangan volume ekspor.4. Pertumbuhan yang cukup tinggi ini dapat disebabkan tingginya nilai pertumbuhan impor pala pada tahun 2003 yaitu sebesar 422.11%. Seperti halnya volume impor.2008 berdasarkan Gambar 8. dan bunga pala.1.3. jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan volume ekspornya walaupun secara kuantitatif volume ekspor jauh lebih besar. pala kupasan. Dilihat dari rata-rata pertumbuhan nilai impornya yang begitu tinggi. PROYEKSI PENAWARAN BIJI PALA. Proyeksi dilakukan dengan menggunakan software Minitab seri 13.35% pertahun pada periode yang sama. rata-rata pertumbuhan nilai impor pala cukup tinggi yaitu sebesar 65. dan bila dilihat dari sejarah memang pala adalah tanaman asli Indonesia yang berasal dari Pulau Banda (Maluku).60% pertahun. Rata-rata pertumbuhan volume impor pala pada periode 1996-2008 sebesar 103.

1).864 -7.53%) sudah sangat tua dan kurang perawatan.528 2009 10. TAHUN 2008-2010 Proyeksi permintaan pala nasional didekati melalui indikator konsumsi nasional biji pala. 8.50% per tahun. Ini terjadi diduga karena perkebunan pala yang ada di Indonesia. Bila dilihat dari rata-rata pertumbuhan produktivitas PR (karena berdasarkan data produksi.32 ribu ton pada tahun 2007 (Tabel 8.99% perkebunan pala di Indonesia diusahakan oleh rakyat) yang turun sebesar 3.98 Rata-rata pertumbuhan (%) -7. sehingga produktivitas berkurang.Perkebunan 2009 « Tabel 8.3).53 ribu ton dari sebesar 9.651.02 2010 9.4. dan sentra produksi adalah Maluku Utara (24. walaupun sebenarnya produksi pala diperkirakan meningkat pada tahun 2008 menjadi 11. 98. Penurunan produksi diperkirakan terus terjadi hingga pada tahun 2010 menjadi 9. Proyeksi Produksi Biji Pala Indonesia. PROYEKSI PERMINTAAN BIJI PALA. Tahun 2008-2010 Tahun Produksi (Ton) Pertumbuhan (%) 2008 11. Dengan menggunakan model tersebut.86 ribu ton.3. Ratarata penurunan produksi pala dari tahun 2008 – 2010 diperkirakan sebesar 7. hal ini sejalan dengan tendensi produksi pala yang terus menurun. maka dilakukan proyeksi permintaan konsumsi biji pala Indonesia seperti tersaji pada Tabel 8.50 Hasil proyeksi produksi biji pala diperkirakan pada tahun 2009 terjadi penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.» Outlook Pertanian . 176 176 Pusat Data dan Informasi Pertanian .719 -7.83% pertahun sejak tahun 1994 hingga 2007 (Tabel 8.5. Hasil pemodelan analisis fungsi permintaan konsumsi diperoleh model termaik adalah Double Exponential Smoothing dengan nilai MAPE sebesar 23.

602 3. 2008 .633 ton.5.19 2010 0. konsumsi biji pala nasional diperkirakan akan terus meningkat sebesar 1. 8.4. Surplus biji pala Indonesia terlihat semakin berkurang hingga tahun 2010.876 ton pada tahun 2010. seperti tersaji pada Tabel 8. dan akan terus meningkat hingga mencapai 3. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut.4. Perhitungan ini hanya untuk konsumsi biji pala saja. namun surplus biji pala terlihat semakin berkurang.19 Berdasarkan hasil proyeksi seperti yang tersaji pada Tabel 8.19 Rata-rata pertumbuhan (%) Pertumbuhan (%) 1.988 ton pada tahun 2010. PROYEKSI SURPLUS/DEFISIT BIJI PALA.941 1. Pada tahun 2008 konsumsi biji pala Indonesia diperkirakan sebesar 3.Perkebunan 2009 » Tabel 8.» Outlook Pertanian .017 229. Proyeksi Konsumsi Biji Pala Indonesia. dan diperkirakan akan menjadi sebesar 5.017 231. pada tahun 2008 diperkirakan ketersediaan biji pala di Indonesia masih mengalami surplus sekitar 7.017 234.988 1.6. TAHUN 2008-2010 Berdasarkan hasil perhitungan fungsi penawaran dan fungsi permintaan.2010 Tahun Konsumsi per kapita (Kg/kapita) Jumlah penduduk (000 orang) Konsumsi nasional (Ton) 2008 0.843 3. Surplus Pusat Data dan Informasi Pertanian 177 .895 2009 0.19% per tahun hingga tahun 2010.895 ton. Tendensi peningkatan konsumsi biji pala nasional diperkirakan karena memang jumlah penduduk Indonesia yang terus mengalami peningkatan. maka diperoleh proyeksi penawaran dan permintaan biji pala nasional tahun 2008 hingga tahun 2010.117 3.

941 6.528 3.» Outlook Pertanian .864 3. Tabel 8.778 2010 9.633 2009 10.Perkebunan 2009 « biji pala tersebut diperkirakan merupakan permintaan industri dan ekspor pala nasional.988 5. Proyeksi Surplus/Defisit Biji Pala Indonesia.876 Pusat Data dan Informasi Pertanian .895 7.719 3.5. 2008-2010 178 178 Tahun Produksi (Ton) Konsumsi (Ton) Surplus/Defisit (Ton) 2008 11.

75 -3.859 73.14 -0.22 4.349 42.53 12.724 23.652 63.828 43.64 11.08 -1.34 19.00 -8.86 Luas Areal (Ha) PBN Pertumb.237 61.00 -13.100 58.14 494 1.325 20.17 -60.15 10.00 1.28 191 708 0.58 11.742 14.37 -0.143 64.307 64.25 9.855 66.09 -7.033 59.700 -6.95 303 2.99 182 302 -39.66 5.45 1.60 -0.002 -46. % 11.218 32.538 69.20 55.815 81.62 5.08 -0.945 61.73 -1.95 3.94 2.576 26.95 0.008 48.65 -9.00 4.60 -4.610 44. Nasional Pertumb.03 0.360 55.595 57.113 268.099 64.28 500 1.91 8.867 59.35 12.387 59.196 61.68 3.45 12.90 8.65 -9.417 Pertumb.00 710 -9.16 2.676 57.335 1.723 55.71 0.286 9.090 67.102 67.669 59.46 -1.87 -61.46 2.68 15.488 58.83 2.01 2.322 52.113 0. PBS % 2.530 11.92 785 0.00 0.205 66.81 Pertumb.00 191 534 -24.028 57.76 -8.951 69.593 74.25 -0.08 8.78 -6.052 55.98 -25.79 0.19 3.00 166 1.891 -19.00 497 1.680 30.41 1.14 30 510 -17.80 2.975 59.34 904 -46.954 60.22 1.928 59.90 2.74 7.671 63.49 -0.00 182 710 0.60 -0.36 -4.Perkebunan 2009 » Lampiran 8.15 -2.714 62.00 1.00 166 302 0.932 30.00 0.454 63.045 58.28 -1.98 7.55 2.06 -4.76 1.22 -0.17 20.09 1.71 -1.327 74.79 3.113 0.95 24 548 -11.169 22.215 68.467 28.113 0.993 -14.975 57.20 39. Perkembangan Luas Areal Pala Menurut Jenis Pengusahaan.059 25.82 : Ditjen Perkebunan diolah Pusdatin : PR : Perkebunan Rakyat PBN : Perkebunan Besar Negara PBS : Perkebunan Swasta Pusat Data dan Informasi Pertanian 179 .425 68.00 191 708 -0.21 19.24 -5.52 3.29 -3.53 0.55 17.00 9.58 182 534 0.71 17.008 63.20 -7.97 6.1.806 69.00 Rata-rata Laju Pertumbuhan 4.90 4.54 1.551 58.24 5.053 59.82 44.548 57.906 62.934 -14.166 68.65 40.63 0.00 63 620 -14.67 497 1.270 69.06 -3.534 47.879 -11.49 -0.74 26 785 53.170 64.716 64.» Outlook Pertanian .36 7.118 0.080 9.01 4.33 -26.00 -4.499 62.333 50.742 14.468 49.84 182 302 0.00 0.279 61.99 2.61 25 620 13.600 27.13 45.00 182 502 -5.87 -7.35 5.429 61.544 44.82 168 729 -19.146 57.927 58. 1967 – 2007 Tahun 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 1967-2007 1967-1997 1998-2007 Sumber Ket PR 12.35 1.01 -3.579 60.97 -7.00 64.01 8.118 0.00 -4.92 36.016 59.36 161 729 0.88 9.55 710 0.480 73. % % 0.33 -100.169 19.54 5.349 58.83 5.71 0.261 -1.86 3.558 68.71 -0.70 3.098 5.28 2.27 303 2.80 5.781 62.36 10.16 -2.

84 -6.214 16.46 -0.450.736 19.85 2.030 21.98 -14.12 5.777 18.292 18.99 -53.83 10.12 100 -92.64 9.00 60 -33.26 337.374 19.389 4.95 7.75 3.88 0.93 108.764 18.45 10.85 Ditjen PR PBN PBS Produksi (Ton) Pertumb.69 5 18.14 -5.60 8.21 10 -43.13 -14.33 -15.71 494.092 18.327 17.060 14.26 -4.23 -18.42 -1.33 60 2.62 9.47 2.184 15.00 40 -95.46 24.43 -81.316 20.136 16.09 4.13 105. % 17.614 15.422 14.20 -20. Nasional Pertumb.00 -26.278 17.42 34 28.817 21.00 0.717 15.87 9.78 33.97 -3.78 16.575 23.100 8.00 -33.39 -48.74 22.612 5.158 18.069 18.846 10.23 1.19 3.16 62.64 7.00 40.70 78.198 8.78 2.57 2 0.335 19.62 4.10 9.48 -4.943 14.350 7.158 9.88 2.00 -5.622 23.29 6.158 10.39 109.005 10.45 10.17 -30.20 -3.09 4 70.078 15.92 6.21 -30. % % 21.38 -28.06 17.12 -3.22 -21.952 18.593 15.849 9.64 -4.00 60 80.00 36 944.235 10.51 3.157 18.63 55.08 0.57 -3.590 19.79 -75.342 14.155 22.470 8.902 14.237 18.00 -76.112 22.57 3.38 10.25 4.33 28 21.224 1967-2007 1967-1997 1998-2007 Sumber Ket 180 180 : : Pertumb.62 10.63 4. PBS % 39.634 14.43 -3.27 11.00 -25.46 7.20 -2.77 5.41 -20.72 -1.292 14.83 23 -33.16 -2.961 18.245 15.83 -4.217 14.05 22 26.57 36 0.531 17.25 -4.359 12.82 -17.12 -2.44 4.350 7.54 -9.52 6 13.53 56.470 7.79 17.08 100 -37.353 18. Perkembangan Produksi Biji Pala Menurut Jenis Pengusahaan.31 -19.97 -53.33 5.82 25.684 19.53 23.266 8.802 20.382 14.883 16.00 -20.838 16.27 3.Perkebunan 2009 « Lampiran 8.22 21.081 17.038 14.21 -12.72 8.220 20.74 -21.360 8.50 75 0.07 17.318 17.442 10.» Outlook Pertanian . 1967 – 2007 Tahun 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 PR 6.44 Pertumb.570 12.00 0.2.29 0.004 15.12 -1.09 -3.908 14.82 -47.981 18.51 3.21 17.485 19.11 -2.092 16.24 PBN 160 223 159 284 313 274 342 282 255 255 188 195 211 120 246 57 38 46 58 99 117 38 43 70 17 101 8 5 5 9 6 153 7 9 9 94 98 94 94 Rata-rata 3.881 16.943 9.82 Perkebunan diolah Pusdatin : Perkebunan Rakyat : Perkebunan Besar Negara : Perkebunan Swasta Pusat Data dan Informasi Pertanian .00 5.338 17.428 12.00 -14.998 9.28 -4.06 22.90 -2.18 7 -67.87 7.74 -21.40 33.883 13.25 6.22 1.190 10.93 6.00 Laju Pertumbuhan 100.

037 2000 10.791 2007 14.16 12 -87.656 1.50 37 68.70 39. 1996-2008 Tahun Neraca Volume Ekspor Nilai Ekspor Volume Impor Nilai Impor Volume Pertumb.702 9.648 1.279 2.53 46.3.508 8 8 557 525 531 277 356 59 22 1.212 1.70 60.187 -1.237 2003 10.053 3.125 1.81 16.21 54 -61.277 9. 2003-2007 No.298 25.30 23 389.53 22.17 14.33 94 135.117 26.946 2.255 41. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Provinsi Malut NAD Sulut Maluku Sumbar Papua Jabar Sulsel Sultra Lainnya Nasional Sumber 2003 4.52 211 54.75 18 50.22 29.31 50.753 79.893 28.125 692 8 565 290 21 188 9.501 5.762 6.705 1.38 29.844 2.97 71.23 21.92 30. Nilai Pertumb.60 65.293 7.666 0.648 2.752 1.099 1.656 -12.51 28. Perkembangan Ekspor-Impor Pala di Indonesia.606 14.32 50.38 30 87.239 32.45 28 671.77 21.» Outlook Pertanian .239 Produksi (Ton) 2004 2005 2006 2.102 1997 7.Perkebunan 2009 » Lampiran 8.284 1.51 18 -56.045 2001 7.56 103.369 -56.357 2002 10.318 587 1.124 900 595 320 223 214 11.285 -3.294 1.68 1.62 39. Nilai Pertumb.876 1.200 8.047 0.020 20 177 202 220 10.00 137 -48.00 40 -31.695 1999 9.139 25.25 51.680 1.666 35.945 Share (%) 24.69 50.01 49.171 1.67 93.58 7 -43.60 16.13 88.21 137 34. Provinsi Sentra Produksi Biji Pala di Indonesia.41 7.123 1.930 2.480 2. Perdagangan (Ton) (%) (000 US$) (%) (Ton) (%) (000 US$) (%) (000 US$) 1996 7.21 50.00 30.191 2004 14.689 2007 2.408 -2. Volume Pertumb.342 2.4.76 28.427 2006 16.976 Rata-rata pertumbuhan 1996-2008 5.79 Komulatif Share (%) 24.68 66 56.00 49.21 : Ditjen Perkebunan diolah Pusdatin Lampiran 8.992 1998 9.54 4.30 36 -83.124 8 22 14.15 239 127.49 15 87.970 799 620 34 285 22.98 2.75 32 143.35 Sumber : BPS diolah Pusdatin Pusat Data dan Informasi Pertanian 181 .31 39.72 81.457 10.87 1.27 10.971 -23.91 73 100.11 94 422.942 -11.319 Rata-rata Produksi 2.75 9.59 49.29 102 -57.43 105 11.561 2005 15.077 911 663 1.03 39.40 39.65 96.029 13.077 35.910 2008 12.33 98.18 15.70 39.50 58 56.456 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful