Anda di halaman 1dari 68

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Menghadapi era globalisasi saat ini dimana masyarakat membutuhkan dan menuntut pelayanan yang profesional dan memuaskan, maka dibutuhkan tenaga yang mempunyai pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang memadai serta memiliki semangat pengabdian yang tinggi sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing. (Surjawati, 2002). Demikian juga halnya dengan pelayanan suatu rumah sakit. Rumah sakit sebagai salah satu lembaga yang memberikan pelayanan kepada masyarakat juga dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang profesional dan memuaskan. Untuk menjawab tantangan tersebut maka rumah sakit harus menyiapkan tenaga-tenaga profesional dan melakukan penataan sedemikian rupa agar tenaga-tenaga profesional tersebut dapat dimaksimalkan dalam memberikan pelayanan. Salah satu tenaga profesional yang terpenting di dalam suatu rumah sakit yaitu perawat. Perawat disebutkan sebagai tenaga terpenting karena sebagian besar pelayanan rumah sakit adalah pelayanan keperawatan. Gillies (1994) menyatakan bahwa 40 - 60% pelayanan rumah sakit adalah pelayanan keperawatan. Bahkan Huber (1996) menyatakan bahwa 90% pelayanan rumah sakit adalah pelayanan keperawatan. Tidak ada satupun rumah sakit yang tidak mempergunakan jasa perawat untuk memberikan pelayanan

kepada klien. Perawat bekerja dan selalu bertemu dengan klien (pasien) selama 24 jam penuh dalam suatu siklus shift, karena itu perawat menjadi ujung tombak bagi suatu rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Sebagai ujung tombak di dalam memberikan pelayanan, maka kebutuhan akan Sumber Daya Manusia (SDM) perawat menjadi prioritas utama di dalam pengorganisasian ruang rawat. Seorang perawat anak

diharapkan memiliki kompetensi meliputi pengetahuan, ketrampilan, pribadi yang menunjang sebagai perawat yang tercermin dari perilaku. Begitu juga dengan perawat yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah Cilacap (RSUD) khususnya ruang Cattleya seyogyanya dapat meningkatkan pelayanan dengan meningkatkan kompetensi pengetahuan dan ketrampilan.

B. TUJUAN 1. Tujuan Umum Dengan melaksanakan program profesi ners pada stase manajemen, mahasiswa mampu meningkatkan pengembangan SDM yang dibutuhkan bagi perawat untuk menunjang model asuhan keperawatan profesional (MAKP). 2. Tujuan Khusus Dengan melaksanakan kegiatan program profesi ners pada stase manajemen, mahasiswa mampu :

a.

Mengidentifikasi

kebutuhan

yang

terkait

dengan

pengembangan SDM yang dibutuhkan bagi perawat untuk menunjang sesuai model asuhan keperawatan profesional (MAKP) b. Menyusun tujuan dan rencana yang terkait dengan

pengembangan SDM yang dibutuhkan bagi perawat untuk menunjang sesuai model asuhan keperawatan profesional (MAKP) c. Menyiapkan kegiataan yang terkait dengan pengembangan

SDM yang dibutuhkan bagi perawat untuk menunjang sesuai model asuhan keperawatan profesional (MAKP) d. Mengevaluasi pelaksanaan kegiataan yang terkait dengan

pengembangan SDM yang dibutuhkan bagi perawat untuk menunjang sesuai model asuhan keperawatan profesional (MAKP) e. Merencanakan follow up dari hasil pelaksanaan kegiataan

yang terkait dengan pengembangan SDM yang dibutuhkan bagi perawat untuk menunjang sesuai model asuhan keperawatan profesional (MAKP)melalui kerjasama dengan unit terkait dengan pelayanan keperawatan di ruang MAKP

C. MANFAAT 1. Bagi mahasiswa Mampu menerapkan ilmu pengetahuan yang telah didapat selama mengikuti perkuliahan pada tatanan nyata di Rumah Sakit, sehingga dapat

melengkapi pengetahuan dan meningkatkan wawasan di dalam penerapan manajemen pelayanan keperawatan profesional. 2. Bagi program Studi Untuk peningkatan kualitas proses belajar mengajar yang melibatkan mahasiswa secara aktif dalam kegiatan yang terkait melalui peningkatan kemampuan mahasiswa dalam memprakarsai perubahan, mempersiapkan pelayanan keperawatan dan meningkatkan pelayanan keperawatan yang profesional dan berkualitas. 3. Bagi Rumah Sakit Mahasiswa dapat membantu cara pendokumentasian proses keperawatan dengan baik dan benar serta membantu mengadakan kegiataan yang terkait dengan pengembangan SDM yang dibutuhkan bagi perawat untuk menunjang sesuai model asuhan keperawatan profesional (MAKP) .

BAB II TINJAUAN TEORI

A. MODEL PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL (MAKP) 1. Pengertian dan Komponen Model Praktik Keperawatan (MAKP) Model Asuhan Keperawatan Profesional adalah sebagai suatu sistem (struktur, proses dan nilai- nilai) yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk

lingkungan untuk menopang pemberian asuhan tersebut (Hoffart & Woods, 1996). Pengembangan MAKP merupakan upaya untuk

meningkatkan mutu asuhan keperawatan dan lingkungan kerja perawat. MAKP terdiri dari lima komponen yaitu nilai-nilai profesional yang merupakan inti dari MAKP, hubungan antar profesional, metode pemberian asuhan keperawatan, pendekatan manajemen terutama dalam perubahan pengambilan keputusan serta sistem kompensasi dan penghargaan. a. Nilai-nilai Profesional Nilai-nilai profesional menjadi komponen utama pada suatu praktik keperawatan profesional. Nilai-nilai tentang penghargaan atas otonomi klien, menghargai klien, melakukan yang terbaik bagi klien dan tidak merugikan klien merupakan nilai-nilai yang harus terus ditingkatkan pada suatu layanan profesional. Dalam

mengimplementasikan nilai-nilai tersebut diperlukan pemahaman dan

komitmen perawat yang tinggi terhadap tugas dan tanggung jawabnya. Pemahaman dan komitmen ini dipelihara dan ditingkatkan dengan adanya sikap perawat untuk terus belajar sehingga selalu dapat memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi. b. Pendekatan Manajemen Fenomena yang menjadi tanggung jawab keperawatan adalah 14 kebutuhan dasar manusia. Pemenuhan kebutuhan ini dilakukan berdasarkan pendekatan penyelesaian masalah sehingga dapat diidentifikasi berbagai tindakan keperawatan yang meliputi tindakan, terapi keperawatan, observasi keperawatan, pendidikan kesehatan dan tindakan kolaborasi. Luasnya cakupan tindakan ini untuk satu klien selama 24 jam memerlukan pendekatan manajemen sehingga tugas dan tanggung jawab setiap tenaga perawat serta kesinambungan asuhan keperawatan dapat dilakukan secara maksimal. c. Metode Pemberian Asuhan Keperawatan Dalam perkembangan keperawatan profesional, digunakan beberapa menuju layanan yang pemberian asuhan

metode

keperawatan mulai dari metode kasus, metode fungsional, metode tim, dan metode keperawatan primer serta manajemen kasus. Dalam

praktik keperawatan profesional, metode yang paling memungkinkan pemberian asuhan keperawatan profesional adalah metode yang menggunakan the breath of keperawatan primer

d. Hubungan Profesional Pemberian asuhan keperawatan kepada klien di perlukan kolaborasi yang baik daari semua dari semua anggota tim kesehatan dan diperlukan kesepakatan tentang cara melakukan hubungan kolaborasi tersebut. e. Sistim Kompensasi dan Penghargaan Kompensasi dan penghargaan yang diberikan pada MPKP dapat disepakati di setiap institusi dengan mengacu pada kesepakatan bahwa pelayanan keperawatan adalah pelayanan profesional. Dengan pengembangan MPKP, diharapkan nilai profesional dapat diaplikasikan secara nyata, sehingga meningkatkan mutu asuhan dan pelayanan keperawatan (Siswono, 2010). Pengembangan MAKP terbukti memberi dampak yang positif bagi pemberian asuhan keperawatan. Berdasarkan penelitian Pearson dan Baker (1992) pada ruang MAKP, nilai rata-rata kepatuhan terhadap standar dokumentasi keperawatan lebih tinggi dibandingkan dengan ruang rawat lainnya. 2. Karakteristik, Manfaat dan Tahapan MAKP Salah satu karakteristik utama praktik profesional adalah praktik yang didasarkan pada nilai-iailai profesional. Empat nilai profesional penting menurut Watson dalam Kozier et at (1997) adalah komitmen yang tinggi untuk melayani, penghargaan atas harkat dan martabat klien sebagai manusia, komitmen terhadap pendidikan dan otonomi. Nilai-nilai tersebut digunakan dalam kode etik keperawatan yang menjadi pedoman

dalam hubungan perawat dan klien, perawat dan paktik, perawat dan masyarakat, perawat dan teman sejawat serta perawat dan profesi. Perawat perlu pemahaman dan komitmen yang tinggi dalam

mengimplementasikan nilai-mlai di atas terhadap tugas dan tanggung jawabnya, sehingga perawat dapat memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi. a. Karakteristik MAKP 1) Penetapan jumlah tenaga keperawatan 2) Penetapan jenis tenaga keperawatan 3) Penetapan standar rencana asuhan keperawatan 4) Penggunaan metode modifikasi keperawatan b. Manfaat MAKP 1) 2) Rumah sakit dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan Prinsip dioptimalkan 3) Lahan praktik yang baik untuk proses belajar mahasiswa penerus generasi keperawatan 4) 5) Menunjang pendidikan berkelanjutan bagi perawat Lingkungan yang kondusif untuk melakukan penelitian keperawatan. c. Tahap Persiapan Langkah-langkah kegiatan yang dilakukan pada persiapan implementasi MAKP, antara lain : pemanfaatan dan penataan tenaga dapat

1) Pembentukan tim MAKP 2) Penilaian mutu asuhan keperawatan 3) Presenatasi MAKP 4) Penetapan tempat/ruang MAKP 5) Identifikasi jumlah klien dan tingkat ketergantungan 6) Penetapan jumlah tenaga keperawatan 7) Penetapan tugas Karu, CCM, PP dan PA 8) Pengembangan SAK 9) Penetapan format dokumentasi 10) Identifikasi fasilitas d. Tahap Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan MAKP dilakukan langkah-langkah berikut ini : 1) Pelatihan MAKP 2) Memberi bimbingan kepada perawat primer (PP) dalam melakukan konferensi 3) Memberi bimbingan kepada PP dalam melakukan ronde dengan perawat asosiet (PA) 4) Memberi bimbingan kepada PP dalam memanfaatkan standar renpra 5) Memberi bimbingan kepda PP dalam membuat kontrak/orientasi dengan klien/keluarga

6) Memberi bimbingan PP dalam melakukan presentasi kasus dalam tim 7) Memberikan bimbingan kepada Critical Care Manager (CCM) dalam membimbing PP dan PA 8) Memberi bimbingan kepada tim tentang dokumentasi

keperawatan, seperti format pengkajian keperawatan, format standar renpra, format implementasi tindakan keperawatan, KARDEK (daftar obat, tekanan darah, nadi, suhu, dan pemeriksaan laboratorium), format catatan perkembangan, format daftar infus, format laporan pergantian dinas, dan resume keperawatan. e. Tahap Evaluasi Evaluasi proses dilakukan dengan menggunakan instrumen evaluasi MAKP oleh CCM. Evaluasi proses dilakukan oleh CCM dua kali dalam seminggu. Evaluasi ini bertujuan untuk

mengidentifikasi secara dini masalah-masalah yang ditemukan dan dapat segera diberi umpan balik atau bimbingan. Evaluasi hasil (outcome) dapat dilakukan dengan : 1) Penilaian mutu asuhan keperawatan (angket kepuasan

pasien) Memberikan instrument evaluasi kepuasan klien/keluarga untuk setiap klien pulang. Berdasarkan evaluasi ini, dapat

10

diketahui berapa persen klien yang dirawat setiap tim yang mempunyai tingkat kepuasan, apakah kurang, cukup, atau baik. 2) Evaluasi kepatuhan perawat terhadap standar dokumentasi Berdasarkan evaluasi ini dapat diketahui bagaimana kepatuhan perawat terhadap standar dokumentasi apakah kurang, cukup, atau baik. 3) Penilaian infeksi nasokomial Penilaian angka infeksi nasokomial biasanya ditetapkan per ruang rawat. Berdasarkan rata-rata angka infeksi nasokomial setiap bulan dapat diketahui apakah setiap bulan ada penurunan. 4) Penilaian rata-rata lama hari rawat Penilaian rata-rata lama hari rawat dapat diketahui setiap bulan. Berdasarkan rata-rata lama hari rawat dapat diketahui apakah ada penurunan. 3. Stuktur Ruang dan Ketenagaan Keperawatan MAKP Pada ruang MAKP, metode pemberian asuhan keperawatan yang digunakan adalah metode modifikasi keperawatan primer. Untuk MAKP pemula jenis tenaga yang ada dalam suatu ruang rawat adalah kepala ruang, clinical care manager (CCM), perawat primer (PP), dan perawat asosiet (PA). Kepala ruang rawat adalah perawat dengan kemampuan DIII keperawatan yang berpengalaman dan bertugas sesuai jam kerja yaitu dinas pagi. CCM adalah SKp / Ners dengan pengalaman, bertugas

11

sesuai jam kerja yaitu dinas pagi dan sebaiknya CCM sudah mempelajari pengalaman sebagai PP minimal 6 bulan. PP adalah perawat lulusan DIII keperawatan dengan pengalaman minimal 4 tahun. PP dapat bertugas pada pagi, sore dan malam hari, namun sebaiknya pada pagi dan sore karena jlka bertugas malam hari, PP akan libur beberapa bari sehingga sulit menilai perkembangan klien. Bila PP bertugas sore hari maka PP harus didampingi oleh minimal I orang PA dari timnya. Hal tersebut bertujuan agar pada sore hari PP mempunyai waktu unluk menilai perkembangan semua kliennya dan ia akan menjadi penanggung jawab pada shift tersebut. PA sebaiknya adalah perawat dengan kemampuan DIII keperawatan. Namun pada beberapa kondisi pendidikan SPK tetapi mempunyai pengalaman yang sudah cukup lama di Rumah Sakit tersebut.

Kepala Ruang Rawat

CCM

PP1

PP2

PP3

Pagi

PA PA

PA PA

PA PA

Sore

PA

PA

PA

12

PA

PA

PA

Malam

PA PA

PA PA

PA PA

Libur

PA PA 9-10 klien

PA PA 9-10 klien

PA PA 9-10 klien

Gambar 2.1 Struktur Ketenagaan Keperawatan pada MAKP 4. Tugas dan Tanggung Jawab Kepala Ruang, CCM, PP dan PA a. Kepala Ruang Mengatur pembagian tugas jaga perawat (jadwal dinas) Mengatur dan mengendalikan kebersihan dan ketertiban ruangan 3) Mengadakan diskusi dengan staf untuk memecahkan masalah di ruangan 4) Membimbing siswa/mahasiswa (bekerjasama dengan

pembimbing klinik) dalam pemberian asuhan keperawatan di ruangan, dengan mengikuti sistem MAKP yang sudah ada 5) Melakukan kegiatan administrasi dan surat menyurat 6) Mengorientasikan pegawai baru, residen, mahasiswa kedokteran, dan mahasiswa keperawatan yang akan melakukan praktek di

13

ruangan (disepakati dengan CCM) dengan menggunakan format orientasi 7) Menciptakan dan memelihara hubungan kerja yang harmonis dengan klien dan keluarga dan tim kesehatan lain, antara lain kepala ruang rawat mengingatkan kembali klien/keluarga tentang perawat atau tim yang bertanggung jawab terhadap mereka di ruangan yang bersangkutan 8) Memeriksa kelengkapan persediaan status keperawatan minimal lima set setiap hari 9) Melaksanakan pembinaan terhadap PP dan PA dalam hal implementasi MAKP termasuk sikap dan tingkah laku profesional 10) Bila PP cuti, tugas dan tanggung jawab PP dapat didelegasikan kepada PA senior (wakil PP pemula yang ditunjuk) tetapi tetap di bawah pengawasan kepala ruang dan CCM 11) Merencanakan dan memfasilitasi ketersediaan fasilitas yang dibutuhkan di ruangan 12) Memantau dan mengevaluasi penampilan kerja semua tenaga

yang ada di ruangan, membuat DP3, dan usulan kenaikan pangkat 13) Melakukan pertemuan rutin dengan semua perawat setiap bulan untuk membahas kebutuhan diruangan 14) Merencanakan dan melaksanakan evaluasi mutu asuhan

keperawatan (bersama dengan CCM) 15) Manbuat peta resiko di ruang rawat

14

b. Tugas dan Tanggung Jawab CCM 1) Membimbing PP pada implementasi MAKP. Kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut : a) Bersama dengan PP memvalidasi setiap diagnosis

keperawatan yang sudah ditetapkan PP. CCM menganalisis data klien berdasarkan dokumentasi, bila perlu CCM melakukan pemeriksaan langsung kepada klien atau bertemu dengan keluarga klien. Beberapa pertanyaan yang perlu dipikirkan : b) Apakah diagnosis sudah sesuai dengan kondisi kilen? c) Apakah ada diagnosis yang belum diidentifikasi?

d) Apakah tindakan keperawatan yang diidentifikasi PP sudah benar? e) Baca setiap tindakan yang ada pada renpra terkait diagnosis tersebut? f) Apakah ada tindakan keperawatan tambahan? Hasil penelitian? 2) Berdasarkan validasi, berikan masukan kepada PP, termasuk pemberian penguatan misal pujian 3) Bila dalam dokumentasi klien belum ada renpra yang sudah dievaluasi PP, maka bersama-sama PP menetapkan diagnosa

15

keperawatan yang sesuai kondisi klien, dengan menggunakan standar renpra yang telah disepakati. 4) Membahas dengan PP, tentang pembagian tugas bagi PA. Apakah penetapan sudah sesuai dengan panduan? Bila belum, berikan masukan! 5) Mengobservasi dan memberi masukan kepada PP terkait dengan bimbingan yang diberikan PP kepada PA. Apakah sudah baik? Beri masukan! 6) Memberi masukan pada diskusi kasus yang dilakukan PP dan PA 7) Mempresentasikan keperawatan 8) Mengidentifikasi pembuktian 9) Mengidentifikasi masalah penelitian, merancang usulan dan melakukan penelitian 10) Menerapkan hasil-hasil penelitian dalam memberikan asuhan keperawatan 11) Bekaja sama dengan kepala ruangan dalam hal: melakukan evaluasi tentang mutu asuhan keperawatan, mengkoordinasi, mengarahkan dan mengevaluasi mahasiswa praktik, serta mernbahas dan mengevaluasi tentang implementasi MAKP. data dan temuan yang memerlukan isu-isu baru terkait dengan asuhan

16

12)

Mengevaluasi pendidikan kesehatan yang dalakukan PP dan memberi masukan untuk perbaikan

13)

Merancang pertemuan ilmiah untuk membahas hasil evaluasi atau penelitian tentang asuhan keperawatan

14)

Mengevaluasi lmplementasi MAKP dengan menggunakan instrumen evaluasi implementasi MAKP oleh CCM.

c. Tugas dan Tanggung Jawab PP 1) Melakukan kontrak dengan klien/keluarga pada awal masuk ruangan sehingga tercipta hubungan terapeutik. Hubungan ini dibina secara terus menerus pada saat melakukan

pengkajian/tindakan kepada klien/keluarga. Panduan orientasi ini sebaiknya dilaminating dan digantung di kamar klien sehingga setiap klien/keluarga dapat membaca kembali 2) Melakukan pengkajian terhadap klien baru atau melengkapi pengkajian yang sndah dilakukan PP pada sore, malam, atau hari libur. 3) Menetapkan rencana asuhan keperawatan berdasarkan analisis standar renpra sesuai hasil pengkajian 4) Menjelaskan renpra yang sudah ditetapkan kepada PA di bawah tanggung jawabnya sesuai klien yang dirawat. (preconference) 5) Menetapkan PA yang bertanggung jawab pada setiap klien, setiap kali giliran jaga (shif). Pambagian klien didasarkan pada jumlah klien, tingkat ketergantungan klien, dan tempat tidur

17

yang berdekatan. Bila pada satu tugas jaga (shift) PP didampingi oleh dua orang PA, maka semua klien dibagi pada semna PA sebagai penanggung jawabnya PP akan membimbing dan membantu PA dalam memberikan asuhan keperawatan. Bila PP hanya didampingi satu orang PA pada satu tugas jaga maka jumlah klien yang menjadi tanggung jawab PP adalah 20% dan klien tersebut termasuk klien dangan tingkat ketergantungan minimal serta klien lainnya menjadi tanggnng jawab PA. Penetapan ini dimaksudkan agar PP memiliki waktu untuk membimbing dan membantu PA dibawah tanggung jawabnya dalam memberikan asuhan keperawatan. 6) Melakukan bimbingan dan evaluasi (mengecek) PA dalam melakukan tindakan keperawatan. apakah sesuai dengan SOP? 7) 8) 9) Memonitor dokumentasi yang dilakukan oleh PA Memantau dan menfasilitasi terlaksananya kegiatan PA Melakukan tindakan keperawatan yang bersifat terapi

keperawatan dan tindakan keperawatan yang tidak dapat dilakukan oleh PA. 10) Mengatur pelaksanaan konsul dan pemeriksaan laboratorium. 11) Melakukan kegiatan serah terima klien di bawah tanggung jawabnya bersama dengan PA. 12) Mendampingi dokter visite klien di bawah tanggung jawabnya. Bila PP tidak ada, didampingi oleh PA sesuai timnya.

18

13) Melakukan evaluasi asuhan keperawatan dan membuat catatan perkembangan kilen setiap hari. 14) Melakukan pertemuan dengan klien/keluarga minimal setiap 2 hari untuk membahas kondisi keperawatan klien (bergantung pada kondisi klien). 15) Bila PP cuti/libur, tugas-tugas PP didelegasikan kepada PA yang telah ditunjuk (wakil PP) dengan bimbingan kepala ruang rawat atau CCM. 16) Memberikan pendidikan kesehatan kepada klien/keluarga 17) Membuat perencanaan pulang 18) Bekerja sama dengan CCM dalam mengidentifikasi isu yang membutuhkan pembuktian sehingga tercipta Evidence Based Practice (EBP). d. Tugas dan Tanggung Jawab PA 1) 2) Membaca renpra yang telah ditetapkan PP Membina hubungan terapeutik dengan klien/keluarga, sebagai lanjutan kontrak yang sudah dilanjutkan PP 3) Manerima klien baru (kontrak) dan mamberikan informasi berdasarkan forrmat orientasi klien/keluarga jika PP tidak ada di tempat. 4) Melakukan tindakan keperawatan pada kliennya berdasarkan renpra.

19

5)

Melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan dan mendokumentasikannya

6) 7) 8) 9)

Mengikuti visite dokter bila PP tidak ada di tempat Memeriksa kerapian dan kelengkapan status keperawatan Membuat laporan pergantian dinas dan setelah selesai diparaf Mengkomunikasikan kepada PP/Pj dinas bila menemukan masalah yang perlu diselesaikan

10)

Menyiapkan klien untuk pemeriksaan diagnostik, laboratorium, pengobatan, dan tindakan

11)

Berperan serta dalam memberikan pendidikan kesehatan pada kilen/keluarga yang dilakukan oleh PP

12) 13) 14)

Melakukan inventarisasi fasilitas yang takait dengan timnya Membantu tim lain yang membutuhkan Memberikan resep dan menerima obat dari keluarga klien yang menjadi tanggung jawabnya dan berkoordinasi dengan PP.

B. MOTIVASI KERJA 1. Pengertian Motivasi Kerja Menurut para ahli (Suarli dan Bahtiar (2002); M.Asad (2001); dan Stoner dan Freeman (1995)), motivasi adalah karakteristik psikologis pada aktifitas manusia untuk memberi kontribusi berupa tingkat komitmen seseorang termasuk faktor-faktor yang menyebabkan, menyalurkan dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah

20

tekad tertentu untuk mencapai keinginan. Aktifitas yang dilakukan adalah aktifitas yang bertujuan agar terpenuhi keinginan individu. Motivasi kerja dapat dipandang sebagai suatu ciri yang ada pada calon tenaga kerja ketika diterima masuk kerja di suatu perusahaan atau organisasi. Hal ini sangat mendukung karena adanya defenisi motivasi kerja adalah suatu kondisi yang berpengaruh untuk membangkitkan, mengarahkan, dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja (Mangkunegara 2000, Munandar 2001). Menurut Siagian (2002), mendefenisikan motivasi kerja sebagai daya dorong bagi seseorang untuk memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya demi keberhasilan organisasi mencapai tujuannya, dengan pengertian bahwa tercapainya tujuan organisasi berarti tercapai pula tujuan pribadi para anggota organisasi yang bersangkutan. Sementara Robbins (2002) mengatakan motivasi kerja sebagai kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi kearah tujuantujuan organisasi, yang dikondisikan oleh kemampuan upaya tersebut untuk memenuhi suatu kebutuhan individu. Sedangkan menurut Hasibuan (2008), motivasi kerja adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan seseorang, agar mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai tujuan. Motivasi kerja merupakan suatu modal dalam menggerakkan dan mengarahkan para karyawan atau pekerja agar dapat melaksanakan

21

tugasnya masing masing dalam mencapai sasaran dengan penuh kesadaran, kegairahan dan bertanggung jawab (Hasibuan, 2008). Motivasi kerja dapat memberi energi yang menggerakkan segala potensi yang ada, menciptakan keinginan yang tinggi dan luhur, serta meningkatkan kebersamaan. Ada dua aspek motivasi, yaitu segi pasif dimana motivasi tampak sebagai kebutuhan dan sekaligus pendorong, dan dari segi statis dimana motivasi tampak sebagai satu usaha positif dalam menggerakkan daya dan potensi tenaga kerja agar secara produktif berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya (Hasibuan,2008). Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja adalah suatu daya penggerak yang mampu menciptakan kegairahan kerja dengan membangkitkan, mengarahkan, dan berperilaku kerja serta mengeluarkan tingkat upaya untuk memberikan kontribusi yang sebesar besarnya demi keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya. 2. Faktor faktor Penggerak Motivasi Kerja Menurut Herzberg dalam Siagian (2002), bahwa karyawan termotivasi untuk bekerja disebabkan oleh dua faktor, yaitu : a. Faktor Intrinsik yaitu faktor daya dorong yang timbul dari dalam diri masingmasing karyawan, berupa :
1) Pekerjaan itu sendiri (the work it self). Berat ringannya tantangan

yang dirasakan tenaga kerja dari pekerjaannya.

22

2) Kemajuan (advancement). Besar kecilnya kemungkinan tenaga

kerja berpeluang maju dalam pekerjaannya seperti naik pangkat.


3) Tanggung jawab (responsibility). Besar kecilnya yang dirasakan

terhadap tanggung jawab diberikan kepada seorang tenaga kerja.


4) Pengakuan

(recognition). Besar kecilnya pengakuan yang

diberikan kepada tenaga kerja atas hasil kerja.


5) Pencapaian (achievement). Besar kecilnya kemungkinan tenaga

kerja mencapai prestasi kerja tinggi. b. Faktor Ekstrinsik yaitu faktor pendorong yang datang dari luar diri seseorang terutama dari organisasi tempatnya bekerja. Faktor ekstrinsik ini mencakup : 1) Administrasi dan kebijakan perusahaan. Tingkat kesesuaian yang dirasakan tenaga kerja terhadap semua kebijakan dan peraturan yang berlaku dalam perusahaan 2) Penyeliaan. Tingkat kewajaran penyelia dirasakan yang oleh tenaga kerja. 3) Gaji. Tingkat kewajaran gaji yang diterima sebagai imbalan terhadap tugas pekerjaan. 4) Hubungan antar pribadi. Tingkat kesesuaian yang dirasakan dalam berinteraksi antar tenaga kerja lain. 5) Kondisi kerja. Tingkat kesesuaian kondisi kerja dengan proses pelaksanaan tugas pekerjaanpekerjaannya.

23

Apabila faktor intrinsik tersebut ada, dapat memberi tingkat motivasi yang kuat dan kepuasan dalam diri seseorang, namun jika faktor ini tidak ada, maka menimbulkan rasa ketidak puasan. Sementara faktor ekstrinsik tersebut ada, tidak perlu memberi motivasi, tetapi jika tidak ada dapat menimbulkan tidak puas. Menurut Rowland dan Rowland (1997) dalam Nursalam (2002), dalam meningkatkan kepuasan karyawan didasarkan pada faktor faktor motivasi, yang meliputi : a. Keinginan untuk peningkatan b. Percaya bahwa gaji yang didapat sudah mencukupi c. Memiliki kemampuan pengetahuan, keterampilan dan nilainilai yang diperlukan. d. Umpan balik e. Kesempatan untuk mencoba f. Instrumen penampilan untuk promosi, kerjasama dan peningkatan keberhasilan. Seseorang memiliki suatu pekerjaan didasarkan pada kemampuan dan keterampilan yang dimiliki. Motivasi akan menjadi masalah, apabila kemampuan yang dimiliki tidak dimanfaatkan dan dikembangkan dalam melaksanakan tugasnya. Dalam keadaan ini, maka persepsi seseorang memegang peranan penting sebelum melaksanakan atau memilih pekerjaannya. Kondisi lingkungan juga memegang peranan penting dalam motivasi (Nursalam, 2002), meliputi : a. Komunikasi

24

1) Penghargaan terhadap usaha yang telah dilaksanakan 2) Pengetahuan tentang kegiatan organisasi 3) Rasa percaya diri berhubungan dengan manajemen organisasi b. Potensial pertumbuhan 1) Kesempatan untuk berkembang, karir dan promosi 2) Dukungan untuk tumbuh dan berkembang : pelatihan, beasiswa untuk melanjutkan pendidikan dan pelatihan manajemen bagi karyawan yang dipromosikan. c. Kebijaksanaan dalam mengakomodasi kebutuhan individu : jadwal, liburan dan cuti sakit serta pembiayaannya. 1) Keamanan pekerjaan 2) Loyalitas organisasi 3) Menghargai staf berdasarkan beragam dan latarbelakang 4) Adil dan konsisten terhadap keputusan organisasi d. Gaji/upah yang cukup untuk kebutuhan hidup e. Kondisi kerja yang kondusif Berdasarkan yang telah dikemukakan para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa faktor faktor penggerak dari motivasi kerja seseorang terdiri dari faktor yang berasal dari dalam diri individu tersebut atau disebut intrinsik dan faktor yang berasal dari luar diri individu atau disebut juga faktor ekstrinsik. 3. Faktor faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Kerja

25

Menurut Siagian (2002) faktor yang mempengaruhi motivasi kerja seseorang dapat diketahui berdasarkan karakteristik dari individu yang bersifat khas yang terdiri dari delapan faktor yaitu : a. Karakteristik Biografi yang meliputi : 1) Usia, hal ini penting karena usia mempunyai kaitan yang erat dengan berbagai segi kehidupan organisasional. Misalnya kaitan usia dengan tingkat kedewasaan teknis yaitu ketrampilan tugas. 2) Jenis Kelamin, karena jelas bahwa implikasi jenis kelamin para pekerja merupakan hal yang perlu mendapat perhatian secara wajar dengan demikian perlakuan terhadap merekapun dapat disesuaikan sedemikian rupa sehingga mereka menjadi anggota organisasi yang bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. 3) Status perkawinan, dengan status ini secara tidak langsung dapat memberikan petunjuk cara, dan teknik motivasi yang cocok digunakan bagi para pegawai yang telah menikah dibandingkan dengan pegawai yang belum menikah. 4) Jumlah tanggungan, dalam hal ini jumlah tanggungan seorang seorang pencari nafkah utama keluarga adalah semua orang yang biaya hidupnya tergantung pada pencari nafkah utama tersebut, tidak terbatas hanya pada istri atau suami dan anakanaknya. 5) Masa kerja, dalam organisasi perlu diketahui masa kerja seseorang karena masa kerja seseorang merupakan satu indikator

kecenderungan para pekerja dalam berbagai segi organisasional

26

seperti ; produktivitas kerja dan daftar kehadiran. Karena semakin lama seseorang bekerja ada kemungkinan untuk mereka mangkir atau tidak masuk kerja disebabkan karena kejenuhan. b. Kepribadian Kepribadian seseorang juga dapat dipengaruhi motivasi kerja seseorang karena kepribadian sebagai keseluruhan cara yang digunakan oleh seseorang untuk bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain. c. Persepsi Interpretasi seseorang tentang kesan sensorinya mengenai

lingkungan sekitarnya akan sangat berpengaruh pada perilaku yang pada gilirannya menentukan faktor faktor yang dipandangnya sebagai faktor organisasional yang kuat. d. Kemampuan belajar Belajar adalah proses yang berlangsung seumur hidup dan tidak terbatas pada pendidikan formal yang ditempuh seseorang diberbagai tingkat lembaga pendidikan. Salah satu bentuk nyata dari telah belajarnya seseorang adalah perubahan dalam persepsi, perubahan dalam kemauan, dan perubahan dalam tindakan. e. Nilai nilai yang dianut

27

Sistem nilai pribadi seseorang biasanya dikaitkan dengan sistem nilai sosial yang berlaku di berbagai jenis masyarakat dimana seseorang menjadi anggota f. Sikap Sikap merupakan suatu pernyataan evaluatif seseorang terhadap objek tertentu, orang tertentu atau peristiwa tertentu. Artinya sikap merupakan pencerminan perasaan seseorang terhadap sesuatu.

g. Kepuasan kerja Kepuasan kerja adalah sikap umum seseorang yang positif terhadap kehidupan organisasionalnya. h. Kemampuan Kemampuan dapat digolongkan atas dua jenis yaitu kemampuan fisik dan kemampuan intelektual. Kemampuan fisik meliputi kemampuan seseorang dalam menyelesaikan tugastugas yang bersifat teknis, mekanistik dan repetatif, sedangkan kemampuan intelektual meliputi cara berfikir dalam menyelesaikan masalah. 4. CiriCiri Individu yang Memiliki Motivasi Kerja

28

Menurut Arep & Tanjung (2004), motivasi seorang pekerja untuk bekerja biasanya merupakan hal yang rumit, ciriciri individu yang motivasi kerja adalah: a. Bekerja sesuai standar, dimana pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat waktu dan dalam waktu yang sudah ditentukan. b. Senang dalam bekerja, yaitu sesuatu yang dikerjakan karena ada motivasi yang mendorongnya akan membuat ia senang untuk mengerjakannya. c. Merasa berharga, dimana seseorang akan merasa dihargai, karena pekerjaannyaitu benar benar berharga bagi orang yang termotivasi. d. Bekerja keras, yaitu seseorang akan bekerja keras karena dorongan yang begitu tinggi untuk menghasilkan sesuai target yang mereka tetapkan. e. Sedikit pengawasan, yaitu kinerjanya akan dipantau oleh individu yang bersangkutan dan tidak akan membutuhkan terlalu banyak pengawasan. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa individu yang memiliki motivasi kerja memiliki ciri ciri antara lain bekerja sesuai standar, senang dalam bekerja, merasa berharga, bekerja keras, dan sedikit pengawasan. 5. Bentuk bentuk Motivasi Kerja Pada umumnya bentuk motivasi kerja yang sering dianut perusahaan meliputi empat unsur utama (Sastrohadiwiryo, 2003) yaitu :

29

a. Kompensasi bentuk uang Salah satu bentuk yang paling sering diberikan kepada tenaga kerja adalah berupa kompensasi dan kompensasi yang sering diberikan berbentuk uang. Pemberian kompensasi bentuk uang sebagai motivasi kerja para pegawai memiliki dua pengaruh perilaku. Keanggotaan adalah pengaruh yang paling luas, yang kedua adalah negatif dari sudut pandang perusahaa adalah dan cenderung terbatas dan hanya pada pekerja yang pendapatannya tidak lebih dari tingkat standar kehidupan yang layak dan cenderung menganggap kompensasi bentuk uang tidak seimbang. b. Pengarahan dan pengendalian Pengarahan maksudnya menetukan apa yang harus mereka kerjakan atau tidak mereka kerjakan, sdangkan pengendalian maksudnya menentukan bahwa tenaga kerja harus mengerjakan hal hal yang telah diinstruksikan. c. Penetapan pola kerja yang efektif Pada umumna reaksi dari kebosanan kerja akan menghambat produktivitas kerja untuk menanggapinya digunakan beberapa teknik : 1) Memperkaya pekerjaan yaitu penyesuaian tuntutan pekerjaan dengan kemampuan tenaga kerja.

30

2) Manajemen partisipatif yaitu penggunaan berbagai cara untuk melibatkan pekerja dalam mengambil keputusan yang

mempengaruhi pekerjaan mereka. 3) Mengalihkan perhatian pekerja dari pekerjaan yang

membosankan kepada instrumen (alat), waktu luang untuk istirahat atau sarana lain yang lebih fantastis. d. Kebajikan Kebajikan dapat didefenisikan sebagai suatu tindakan yang diambil dengan sengaja oleh manajemen untuk mempengaruhi sikap atau perasaan tenaga kerja.

C. KEGAWATDARURATAN ANAK DAN BAYI 1. Pengertian Kegawatdaruratan Anak Dan Bayi Kegawatdaruratan disebut juga critical care artinya adalah pemberian asuhan keperawatan kepada klein /pasien anak dan bayi yang mengalami keadaan gawat darurat melalui pendekatan proses keperawatan dengan menerapkan peran dan fungsi perawat secara profesional, atau suatu upaya melalui proses Keperawatan dengan

31

pemberian asuhan keperawatan klien/pasien yang mengalami keadaan krisis / emergency untuk mencegah kematian dan atau kecacatan.
2.

Konsep Airway, Breathing dan Circulating pada anak dan bayi

a. Airway ( Jalan Nafas )

Pada gangguan Airway atau jalan nafas yang pertama harus dinilai adalah kelancaran jalan nafas. Ini meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas yang dapat disebabkan benda asing, fraktur tulang wajah, fraktur mandibula ataupun maksila, fraktur laring ataupun trakea. Usaha untuk membebaskan airway harus melindungi vertebra servikal. Dalam hal ini dapatdimulai dengan melakukan chin lift dan jaw thrust. Pada penderita yang dapat berbicara dianggap bahwa jalan nafas bersih; walaupun demikian, penilaian ulang terhadap airway harus tetap dilakukan.Pembunuh yang tercepat pada penderita trauma adalah ketidakmampuan untuk mengantarkan darah yang teroksigenisasi ke otak dan struktur vital lainnya. Pencegahan hipoksemia memerlukan airway yang

terlindungi, terbuka dan ventilasi yang cukupmerupakan prioritas yang harus didahulukan dibanding yang lainnya. Bagaimana mungkin dapat memenuhi kebutuhan oksigen apabila jalan napasnya tersumbat, apalagi jika mengalami sumbatan total. Semua penderita trauma memerlukan oksigen. Oleh karena itu setiap gangguan pada airway harus segera ditangani.

32

Gangguan pada airway dapat timbul secara mendadak atau perlahan, dapat sebagian atau total. Penderita dengan penurunan kesadaran mempunyai resiko tinggiterhadap sumbatan airway dan sering kali memerlukan pemasangan airway definitif. Pada penderita trauma terutama yang mengalami cedera kepala, menjaga

oksigenisasi dan mencegah hiperkarbia merupakan hal yang utama Apabila airway penderita tersumbat total atau adanya distress pernapasan maka usaha untuk pemasangan alat airway definitif (intubasi) harus segera dilakukan.Tanda-tanda Obyektif Sumbatan Airway.
1) Lihat ( Look )

Lihat (Look) apakah pasien mengalami agitasi, atau nampak bodoh. Agitasi memberi kesan adanya hipoksia, dan nampak bodoh memberi kesan adanya hiperkarbia. Sianosis

menunjukkan hipoksemia yang disebabkan oleh kurangnya oksigenasi dan dapat dilihat dengan melihat pada kuku-kuku dan kulit di sekitar mulut. Lihat adanya retraksi dan penggunaan otot-otot nafas tambahan yang menandakan adanya gangguan airway
2)

Dengar (Listen) Dengar (Listen) adanya suara-suara abnormal. Pernapasan

yang berbunyi, (suara nafas tambahan) adalah pernapasan yang

33

tersumbat. Suara mendengkur (snoring), berkumur(gurgling), bersiul (crowing sound), dan ngorok (stridor) mungkin berhubungan dengan sumbatan parsial pada faring/laring. Suara parau ( hoarsness, dysphonia ) menunjukkan sumbatan pada laring. Penderita yang melawan dan berkata-katakasar (gaduh gelisah) mungkin mengalami hipoksia dan tidak boleh dianggapkarena

keracunan/mabuk.3.
3)

Raba (Feel) Raba (Feel) lokasi trakea dan dengan cepat tentukan apakah

terdapat deviasi Untuk penanganan pada anak memiliki prinsip yang sama dengan penanganan pada orang dewasa yang dibedakan hanyalah alat yang lebih spesifik dan ukuran yang lebih kecil. Apabila menemukan penderita yang mengalami penurunan kesadaran maka pangkal lidah kemungkinanakan jatuh kebelakang dan menyumbat hipofaring. Sumbatan seperti ini dapat segeradiatasi dengan melakukan

hiperekstensi (ditengadahkan), tetapi tindakan ini tidak diperbolehkan pada penderita trauma yang dicurigai mengelami fraktur servikal (patahtulang leher). pada penderita trauma dengan kecurigaan patah tulang leher maka dapatdiatasi dengan melakukan pengangkatan dagu (Chin lift maneuver) atau denganmendorong rahang bawah kearah

34

depan (jaw thrust maneuver). Airway (jalan napasselanjutnya dapat dipertahankan dengan
1) oropharyngeal airway (atau di rumah sakitterkenan dengan gudel)

atau dengan menggunakan


2) nasopharyngeal airway

Tindakan-tindakan yang digunakan untuk membuka airway dapat menyebabkan atau memperburuk cedera servikal dan spinal. oleh karena itu selama melakukan tindakanharus selalu menjaga kestabilan leher pada posisi segaris (In line immobilization) dengan fikasasi kepala atau menggunakan Neck Collar (Bidai Leher). Berikut teknik dalam penanganan airway : 1) Jaw Thrust Penanganan sumbatan airway karena pangkal lidah pada penderita dengan kemungkinan patah tulang leher dapat dilakukan secara manual dengan tindakan chin liftdan jaw thrust.Tindakan jaw thrust (mendorong rahang) dilakukan dengan cara memegang sudut rahang bawah (angulus mandibulae) dan mendorong rahang bawah kedepan. Keuntunga nmelakukan tindakan ini adalah dapat sekaligus melakukan fiksasi kepala agar selalu padaposisi segaris (in line), selain itu bila cara ini dilakukan sambil baging atau memegang bag-valve dapat dicapai kerapatan yang baik dan ventilasi yang adekuat. 2) Chin Lift

35

Membebaskan jalan napas pada penderita trauma yang dicurigai mengalami patahtulang leher harus selalu menjaga posisi tubuh penderita agar selalu segaris (in line). Pada tindakan membuka jalan napas secara manual, tindakan mengekstensikan kepala harus dihindari. Tindakan yang dapat dilakukan adalan dengan melakukan chin lift atau jawtrust.Tindakan chin lift dilakukan dengan cara jari jemari salah satu tangan diletakan dibawah rahang, kemudian secara hati-hati diangkat keatas arah depan. Ibu jari tangan yang sama, dengan ringan menekan bibir bawah untuk membuka mulut. Ibu jari dapat juga diletakan dibelakang gigi seri bawah dan secara bersamaan mengangkat dagu dengan hati-hati. Manuver chin lift tidak boleh menyebabkan hiperekstensi leher, terutama pada penderita trauma dengan kemungkinan mengalami patah tulang leher yang ditandai dengan : 1) Adanya jejas atau perlukaan diatas klavikula
2) Adanya trauma kepala disertai penurunan kesadaran

3) Multiple trauma 4) Biomekanik mendukung

Penderita dengan GCS 8 biasanya memerlukan pemasangan airway definitif.Adanya gerakan motorik tak bertujuan

mengindikasikan perlunya airway definitif. Airway pada anak mempunyai kekhususan dari segi posisi laring serta ukurannya, 36

sehingga penanganan airway pada anak memerlukan pengetahuan serta alat tersendiri. Selama memeriksa dan memperbaiki airway, harus diperhatikan bahwa tidak diperbolehkan dilakukan ekstensi, fleksi atau rotasi dari leher. Kecurigaan adanya kelainan vertebra servikalis didasarkan pada riwayat perlukaan; pemeriksaan

neurologisyang didapatkan hasil normal, tidak dapat sepenuhnya menyingkirkan adanya kelainan vertebra servikalis. Ketujuh vertebra servikalis dan vertebra torakalis pertama, dapat dilihat dengan foto lateral (foto cervical lateralcross table), meskipun tidak semua jenis fraktur dapat dilihat dengan fotolateral ini. Dalam kadaan kecurigaan fraktur servikal, harus dipakai alati mobilisasi. Jika alat imobilisasi ini harus dibuka untuk sementara, maka harus dilakukan imobilisasi manual terhadap kepala. Alat imobilisasi ini harus dipakai sampai kemungkinan fraktur servikal dapat disingkirkan.Proteksi vertebra servikalis (serta korda spinal) merupakan hal penting. Fotoservikal dapat dilakukan setelah keadaan yang mengancam nyawa telah dilakukan resusitasi. Ingat kita harus menganggap setiap penderita multi trauma mengalami fraktur servikal, terlebih jika ada gangguan kesadaran atau perlukaan di atas klavikula. Harus dilakukan segala usaha untuk menjaga jalan nafas dan memasang airway definitif jika diperlukan. Tidak kalah pentingnya adalah mengenali gangguan airway yang dapat terjadi kemudian, dan ini hanya dapat dikenali dengan re-evaluasiberulang terhadap airway ini.

37

Meskipun segala usaha telah dilakukan, terkadang pengelolaan jalan nafas sangatsulit dan bahkan tidak tercapai. Hal ini dapat terjadi karena gangguan alat, misal lampu laringoskop yang tiba-tiba mati, atau tabung endotrakheal yang yang telah terpasang dengan susah payah, ternyata balonnya (cuff) robek tergigit pasien. Intubasi endotrakheal gagal setelah pemberian relaksan otot, atau usaha krikotirotomi gagal karena pasien gemuk. Usaha intubasi ternyata malah menyebabkan sumbatan total, karena tidak mengetahui adanya fraktur laring, ataupun transeksi parsial laring; kedua keadaan tersebut dapat terjadi tanpa gejala klinis. Kesulitan-kesulitan diatas tidak selalu dapat dicegah, tapi kemungkinannya harusselalu diantisipasi.
b. Breathing ( Pernafasan )

Penanganan breathing atau pernafasan merupakan suatu usaha untuk memperbaiki fungsi ventilasi dengan cara memberikan pernafasan buatan untuk menjamin kebutuhan oksigen dan pengeluaran gas CO2. Tujuanya yaitu menjamin pertukaran udara di paru-paru secara normal. Untuk menegakan diagnosis gangguan breathing bila pada pemeriksaan dengan menggunakan metode Look, Listen dan Feel (lihat kembali pengelolaan jalan nafas) tidak ada pernafasan dan pengelolaan jalan nafas telah dilakukan (jalan nafas aman). Tindakan pengana apabila tidak menggunakan alat yaitu dengan memberikan pernafasan buatan dari mulut ke mulut

38

atau dari mulut ke hidung sebanyak 2 (dua) kali tiupan awal dan diselingi ekshalasi. Apabila ada alat dengan alat Ambu bag (self inflating bag) yang dapat pula ditambahkan oksigen. Dapat juga diberikan dengan menggunakan ventilator mekanik

(ventilator/respirator) Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk gangguan breathing yaitu :


1) Look (Lihat)

Yang harus diperhatikan adalah yang pertama gerak dada, gerak cuping hidung (flaring nostril), retraksi sela iga, gerak dada, gerak cuping hidung (flaring nostril), retraksi sela iga
2) Listen (Dengar)

Yang harus tambahan


3) Feel ( Rasakan)

diperhatikan adalah suara nafas, suara

Yang harus diperhatikan adalah yang pertama udara nafas keluar hidung-mulut 4) Palpasi Yang harus simetris atau tidak. 5) Perkusi diperhatikan adalah gerakan dada, apakah

39

6) Auskultasi (menggunakan stetoskop) : Suara nafas ada, Simetris, Ronki atau whezing 7) Rontgen dada Pemberian nafas buatan merupakan salah satu penanganan caranya yaitu diberikan sebanyak 12-20 kali/menit sampai dada nampak terangkat. Diberikan bila nafas abnormal, tidak usah menunggu sampai apnea dulu Berikan tambahan oksigen bila tersedia. Jika udara masuk ke dalam lambung, jangan dikeluarkan dengan menekan lambung karena akan berisiko aspirasi. Nafas buatan dilakukan dengan in-line immobilisation (fiksasi kepalaleher) agar tulang leher tidak banyak bergerak. Untuk memberikan bantuan pernafasan mulut ke mulut, jalan nafas korban harus terbuka. Perhatikan kedua tangan penolong pada gambar masih tetap melakukan teknik membuka jalan nafas Chin lift. Hidung korban harus ditutup bisa dengan tangan atau dengan menekankan pipi penolong pada hidung korban. Mulut penolong mencakup seluruh mulut korban. Mata penolong melihat ke arah dada korban untuk melihat pengembangan dada. Pemberian pernafasan buatan secara efektif dapat diketahui dengan melihat pengembangan dada korban.Berikan 1 kali pernafasan selama 1 detik, berikan pernafasan biasa.kemudian berikan pernafasan kedua selama 1 detik. Berikan nafas secara biasa untuk mencegah penolong mengalami pusing atau berkunang-kunang.

40

Untuk bayi dan anak, nafas buatan yang diberikan lebih sedikit dari orang dewasa, dengan tetap melihat pengembangan dada.Usahakan hindari pemberian pernafasan yang terlalu kuat dan terlalu banyak karena dapat menyebabkan kembung dan merusak paru-paru korban. Konsentrasi oksigen melalui udara ekspirasi mulut sekitar 17 %. Cara memberikan nafas buatan dari mulut ke stoma (lubang trakeostomi) dengan cara ini diberikan pada pasien trakeostomi. Caranya sama dengan mulut ke mulut hanya saja lubang tempat masuknya udara adalah lubang trakeostomi Ambu bag terdiri dari bag yang berfungsi untuk memompa oksigen udara bebas, valve/pipa berkatup dan masker yang menutupi mulut dan hidung penderita. Penggunaan ambu bag atau bagging sungkup memerlukan keterampilan tersendiri. Penolong seorang diri dalam menggunakan amb bag harus dapat

mempertahankan terbukanya jalan nafas dengan mengangkat rahang bawah, menekan sungkup ke muka korban dengan kuat dan memompa udara dengan memeras bagging. Penolong harus dapat melihat dengan jelas pergerakan dada korban pada setiap pernafasan.

41

Ambu bag sangat efektif bila dilakukan oleh dua orang penolong yang berpengalaman. Salah seorang penolong membuka jalan nafas dan menempelkan sungkup wajah korban dan penolong lain memeras bagging. Kedua penolong harus memperhatikan pengembangan dada korban Ambu bag digunakan dengan satu tangan penolong memegang bag sambil memompa udara sedangkan tangan lainnya memegang dan memfiksasi masker. Pada Tangan yang memegang masker, ibu jari dan jari telunjuk memegang masker membentuk huruf C sedangkan jari-jari lainnya memegang rahang bawah penderita sekaligus membuka jalan nafas penderita dengan membentuk huruf E. Konsentrasi oksigen yang dihasilkan dari ambu bag sekitar 20 %. Dapat ditingkatkan menjadi 100% dengan tambahan oksigen. Untuk kondisi yang mana penderita mengalami henti nafas dan henti jantung, dilakukan resusitasi jantung-paru-otak.
c.

Circulating (Sirkulasi) Penanganan gangguan circulating atau sirkulasi tmerupakan

indakan yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi sirkulasi tubuh yang tadinya terhenti atau terganggu dengan tujuanagar sirkulasi darah kembali berfungsi normal. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menegakan diagnosis gangguan sirkulasi yang mengancam jiwa terutama jika terjadi henti jantung dan syok

42

Diagnosis henti jantung ditegakkan dengan tidak adanya denyut nadi karotis dalam waktu 5 10 detik. Henti jantung dapat disebabkan kelainan jantung (primer) dan kelainan di luar jantung (sekunder) yang harus segera dikoreksi. Diagnosis syok secara cepat dapat ditegakkan dengan tidak teraba atau melemahnya nadi radialis/nadi karotis, pasien tampak pucat, ekstermitas teraba dingin,berkeringat dingin dan memanjangnya waktu pengisian kapiler (capilary refill time > 2 detik). Nadi carotis dapat diraba dengan menggunakan 2 atau 3 jari menempel pada daerah kira-kira 2 cm dari garis tengah leher atau jakun pada sisi yang paling dekat dengan pemeriksa. Waktu yang tersedia untuk mengukur nadi carotis sekitar 5 10 detik. Tanda klinis yang dapat dilihat pada penderita syok yaitu kulit telapak tangan dingin, pucat, basah, capillary refill time kurang dari 2 detik, nafas cepat, nadi cepat lebih dari 100, tekanan darah sistole kurang dari 90-100, kesadaran gelisah sampai dengan koma, pulse pressure menyempit, JVP rendah, produksi urin < 0,5

ml/kgBB/jam. Apabila gangguan sirkulasi berlanjut maka akan terjadi keadaan syok , berikut jenis-jenis syok :

43

1) Syok hipovolemik Penyebabnya yaitu muntah/diare yang sering; dehidrasi karena berbagai sebab seperti heat stroke, terkena radiasi; luka bakar grade II-III yang luas; trauma dengan perdarahan; perdarahan masif oleh sebab lain seperti perdarahan ante natal, perdarahan post partum, abortus, epistaksis,

melena/hematemesis. Diagnosisnya perubahan pada perfusi ekstremitas (dingin, basah, pucat), takikardi, pada keadaan lanjut : takipneu, penurunan tekanan darah, penurunan produksi urin, pucat, lemah dan apatis Tindakannya yaitupemasangan 2 jalur intravena dengan jarum besar dan diberikan infus cairan kristaloid (Ringer Laktat/Ringer Asetat/NaCl 0,9 %) dengan jumlah cairan melebihi dari cairan yang hilang. Untuk perdarahan dengan syok kelas III-IV selain diberikan infus kritaloid sebaiknya disiapkan tranfusi darah segera setelah sumber perdarahan dihentikan. 2) Syok kardiogenik

44

Penyebabnya dapat terjadi pada keadaan-keadaan antara lain kontusio jantung, tamponade jantung, tension

pneumotoraks. Diagnosisnya yaitu hipotensi disertai gangguan irama jantung (bisa berupa bradiaritmia seperti blok AV atau takiaritmia seperti SVT, VT), mungkin terdapat peninggian JVP, dapat disebabkan oleh tamponade jantung (bunyi jantung menjauh atau redup dan tension pneumotoraks (hipersonor dan pergeseran trakea) Tindakanya yaitu pemasangan jalur intravena dengan cairan kristaloid (batasi jumlah cairan), pada aritmia berikan obatobatan inotropik, perikardiosintesis untuk tamponade jantung dengan monitoring EKG, pemasangan jarum torakosintesis pada ICS II untuk tension pneumotoraks 3) Syok septik Dapat disebabkan karena proses infeksi yang berlanjut, Diagnosisnya yaitu fase dini tanda klinis hangat, vasodilatasi; fase lanjut tanda klinis dingin, vasokontriksi. Tindakannya yaitu ditujukan agar tekanan sistolik > 90-100 mmHg (Mean Arterial Pressure 60 mmHg). Tindakan awalnya dengan IVFD cairan kristaloid, beri antibiotika, singkirkan sumber infeksi sedangkan tindakan

45

lanjutnya dengan penggunaan cairan koloid dikombinasi dengan vasopresor seperti dopamine.

4) Syok anafilaksis Dapat disebabkan karena reaksi anafilaksis berat, tandatandanya yaitu tanda-tanda syok dengan riwayat adanya alergi (makanan, sengatan binatang dan lain-lain) atau setelah pemberian obat. Tindakannya dengan resusitasi cairan dan pemberian epinefrin subcutan Tidak semua kasus hipotensi adalah tanda-tanda syok, tapi denyut nadi abnormal, irama jantung abnormal dan bradikardia biasanya merupakan tanda hipotensi. Penanganan pada gangguan sirkulasi yaitu dengan

mengendalikan perdarahan dengan posisi syok yaitu dengan cara angkat kedua tungkai dengan menggunakan papan setinggi 450. 300 500 cc darah dari kaki pindah ke sirkulasi sentral. Sedangkan untuk menghentikan perdarahan (prioritas utama) yaitu dengan tekan sumber perdarahan, kemudian tekankan jari pada arteri proksimal dari luka setelah itu bebat tekan pada seluruh

46

ekstremitas yang luka selanjutnya pasang tampon sub fasia (gauza pack) dan hindari tourniquet (torniquet merupakan usaha terakhir) Perdarahan permukaan tubuh ekstremitas lakukan penekanan, gunakan sarung tangan atau plastik sebagai pelindung, Perdarahan 20 cc/menit = 1200 cc / jam. Kemudian dapat dilakukan dengan pemasangan cairan/darah. Perlu diperhatiakan menilai respon pada penggantian volume adalah penting, bila respon mnmal kemungkinan adanya sumber perdarahan aktif yang harus dihentikan, segera lakukan infus dan pergantian volume darah dengan

pemeriksaan golongan darah dan cross matched, konsultasi dengan ahli bedah, hentikan perdarahan luar yang tampak (misalnya pada ekstremitas) Penggantian darah dapat digunakan darah lengkap (WBC) atau komponen darah merah (PRC). Usahakan jangan memberikan tranfusi yang dingin karena dapat menyebabkan hipotermi.

47

BAB III TINJAUAN KASUS

A.

ANALISIS SITUASI RUANGAN Hasil analisa data tentang pengembangan sumber daya manusia Ruang

Catelya RSUD Cilacap


1.

Motivasi a. Tingkat pengetahuan 1) Untuk item pertanyaan motivasi dilakukan untuk mencapai ketidakseimbangan dalam suatu pekerjaan 6 responden menjawab tidak benar. 2) Untuk item pertanyaan hasil kerja seseorang tidak di pengaruhi oleh motivasi 7 responden menjawab tidak benar. b. Sikap

48

1) Untuk item pertanyaan Saya tidak memikirkan kualitas pekerjaan

yang saya lakukan, yang penting saya sudah menyelesaikan tugas keperawatan saya 6 responden menjawab jarang, dan 1 responden menjawab sering,berdasarkan hasil wawancara dari 5 responden, 4 responden mengatakan kadang kadang memikirkan, dan 1 orang sering memikirkan.
2) Untuk item pertanyaan Karena jumlah pasien yang cukup banyak,

Saya jarang berkomunikasi dengan pasien maupun keluarganya tentang masalah yang sedang dihadapi 7 responden menjawab jarang, dan 1 responden menjawab sering, dan berdasarkan hasil observasi dari 6 responden, 4 responden jarang melakukan komunikasi, dan 2 responden sering melakukan komunkasi. 3) Untuk item pertanyaan Saya akan datang sebelum waktu pergantian jaga karena itu memang kewajiban 2 responden menjawab sering, 2 responden menjawab jarang dan berdasarkan hasil observasi dari 5 responden, 3 responden sering datang tidak tepat waktu dan 2 responden selalu datang tepat waktu.
4) Untuk item pertanyaan Saya mudah menyerah apabila menghadapi

kesulitan dalam melaksanakan tugas saya sebagai perawat 10 responden menjawab jarang, 1 menjawab sering.
5) Untuk item pertanyaan Saya senang bertemu dengan rekan sejawat

dalam organisasi profesi karena dapat menambah pengalaman dan

49

pengetahuan baru yang mendukung profesi saya sebagai perawat 3 responden menjawab jarang, 1 responden menjawab tidak pernah, berdasarkan hasil wawancara dari 6 responden semua mengatakan senang bertemu teman sejawat. 6) Untuk item pertanyaan Karena rutinitas saya padat saya enggan mengikuti seminar, pendidikan dan pelatihan 2 responden menjawab jarang, 6 responden menjawab sering, 3 responden

menjawab selalu, berdasarkan hasil wawancara dari 4 responden, 2 responden mengatakan mau mengikuti seminar dan pelatihan, 2 responden enggan mengikuti seminar dan pelatihan. c. Prilaku

1) Untuk item pertanyaan Karena pasien yang cukup banyak dalam

mencari data subyektif dan obyektif untuk proses pengkajian, cukup dilakukan dengan sepintas lalu 3 responden menjawab jarang, dan 4 responden menjawab sering, dan berdasarkan hasil wawancara dari 6 responden, 4 responden jarang melakukan pencarian data subyektif dan obyektif secara sepintas lalu, dan 2 responden sering melakukan pencarian data subyektif dan obyektif secara sepintas lalu.
2) Untuk item pertanyaan Saya berkomunikasi dengan pasien maupun

keluarganya tentang masalah yang sedang dihadapi 1 responden menjawab jarang, dan 7 responden menjawab sering, dan berdasarkan hasil observasi dari 6 responden, 4 responden jarang

50

melakukan komunikasi, dan 2 responden sering melakukan komunkasi.


3) Untuk item pertanyaan Saya selalu datang sebelum waktu

pergantian jaga karena itu memang kewajiban saya 2 responden menjawab sering, 2 responden menjawab jarang dan berdasarkan hasil observasi dari 5 responden, 3 responden sering datang tidak tepat waktu dan 2 responden selalu datang tepat waktu.
4) Untuk

item

pertanyaan

Saya

telah

melaksanakan

asuhan

keperawatan

berdasarkan proses keperawatan dengan penuh

tanggung jawab 5 responden menjawab sering, 2 responden menjawab jarang dan berdasarkan hasil observasi dari 5 responden, 3 responden sering melakukan asuhan keperawatan berdasarkan proses keperawatan dengan penuh tanggung jawab, dan 2 responden jarang.
2.

Kegawatdaruratan a. Pengetahuan
1) Untuk

item pertanyaan Anak yang mengalami penurunan

kesadaran, tidak berespon terhadap orang, terus menerus menangis, kebingungan, dan disorientasi termasuk dalam keadaan

kegawatdaruratan anak 3 responden menjawab tidak benar.

51

2) Untuk item pertanyaan Anak yang mengalami kaku leher dan sakit

kepala tidak termasuk dalam keadaan kegawatdaruratan anak 5 responden menjawab tidak benar.
3) Untuk item pertanyaan Anak yang secara terus menerus mengalami

sakit pada perut termasuk dalam keadaan kegawatdaruratan anak 6 responden menjawab tidak benar.
4) Untuk item pertanyaan Anak/ bayi yang mengalami luka di kepala

tidak termasuk dalam keadaan kegawatdaruratan anak 7 responden menjawab tidak benar. b. Sikap
1) Untuk item pertanyaan Saya akan melakukan manuver airway,

breathing, circulation pada pasien yang

mengalami penurunan

kesadaran atau tidak berespon 2 responden menjawab sering, dan 1 responden menjawab jarang. Berdasarkan observasi dari 4

responden, 3 responden melakukan manuver ABC, dan 1 responden tidak melakukan.


2) Untuk item

pertanyaan Saya akan melakukan pemasangan

nasogatric tube (NGT) pada anak yang mengalami keracunan 3 responden menjawab jarang melakukan pemasangan nasogatric tube (NGT) pada anak yang mengalami keracunan, dan 2 responden tidak pernah.

52

3) Untuk item pertanyaan Saya akan melakukan fiksasi pada anak

yang mengalami kejang demam 7 responden menjawab sering, dan 2 responden selalu. Berdasarkan hasil observasi dari 3 responden, 2 responden melakukan fiksasi dan 1 responden tidak melakukan fiksasi.
4) Untuk item pertanyaan Saya akan menghitung kebutuhan cairan

pada anak yang mengalami diare 1 responden menjawab jarang, dan 2 responden menjawab tidak pernah, berdasarkan hasil observasi terhadap 4 responden 3 responden jarang, dan 1 responden tidak pernah.
5) Untuk item pertanyaan Saya akan melakukan kompres dingin pada

anak yang mengalami hipertermia 4 responden menjawab sering, dan 4 orang menjawab jarang, berdasarkan hasil observasi terhadap 4 responden 3 responden sering, dan 1 responden jarang. c. Prilaku
1) Untuk item pertanyaan Saya selalu melakukan pemasangan

nasogatric tube (NGT) pada anak yang mengalami keracunan 4 responden menjawab jarang melakukan pemasangan nasogatric tube (NGT) pada anak yang mengalami keracunan, dan 2 responden tidak pernah
2) Untuk item pertanyaan Saya selalu menghitung kebutuhan cairan

pada anak yang mengalami diare 3 responden menjawab jarang, 53

dan 4

responden menjawab tidak pernah, berdasarkan hasil

observasi terhadap 4 responden 3 responden jarang, dan 1 responden tidak pernah.


3) Untuk item pertanyaan Saya selalu melakukan kompres dingin pada

anak yang sermengalami hipertermia 2

responden menjawab

sering, dan 4 orang menjawab jarang, berdasarkan hasil observasi terhadap 4 responden 3 responden sering, dan 1 responden jarang..
4) Untuk item pertanyaan Pasien anak yang mengalami henti nafas

dan henti jantung saya selalu melakukan tindakan RJP dengan menggunakan kedua telapak tangan yang bertumpu pada telapak tangan di atas tulang dada ditengah sternum 8 responden menjawab sering, dan 1 responden menjawab selalu. Berdasarkan observasi terhadap 2 responden, semua responden tidak melakukan RJP.
3.

Pelatihan yang diinginkan oleh perawat ruang Catelya untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah: a) Kegawat daruratan pada anak 8 responden. b) Pemeriksaan fisik pada anak 1 responden. c) Hipnotherapy pada anak 1 responden

B.

ANALISA SWOT

1. Strength (Kekuatan)

54

a. Jumlah perawat di ruang Cateliya berjumlah 12 orang b. Semangat perawat ruang Cateliya yang tinggi untuk menerapkan

MAKP
c. Perawat ruang Cateliya mendukung penerapan MAKP

d. Tersedianya tempat untuk ruang MAKP e. Tersedianya bahan/alat untuk pembentukan ruang MAKP
f. Semangat perawat untuk mengikuti pelatihan motivasi dan seminar

dan pelatihan kegawatdaruratan anak dan bayi.


g. Mayoritas pendidikan perawatnya adalah D3 Keperawatan 2. Weakness (Kelemahan)

a. Keterbatasan jumlah perawat untuk melakukan kegiatan sesuai dengan ruang MAKP
b. Perawat ruang Cateliya belum mengetahui MAKP dan model

penugasan c. Keterbatasan waktu bagi perawat untuk mendapatkan informasi dan tambahan pengetahuan tentang ruang MAKP dan metode penugasan d. Perawat beresiko mendapat tambahan beban kerja untuk

pendokumentasian tindakan dengan penerapan ruang MAKP

55

e. Keterbatasan bagi perawat tentang pengetahuan, sikap, dan

perilaku dalam menghadapi kegawatdaruratan anak


f. Keterbatasan waktu bagi perawat untuk mendapatkan informasi

dan tambahan pengetahuan tentang ruang MAKP dan metode penugasan g. Keterbatasan sarana prasarana dalam mendukung pelaksanaan tindakan keperawatan 3. Opportunity (Kesempatan) a. Keberadaan mahasiswa untuk menerapkan ruang MAKP di ruang Dahlia
b. Kesadaran seluruh pegawai RSUD Cilacap khususnya perawat

ruang Dahlia terhadap manfaat ruang MAKP c. Manajemen dan Staff RSUD Cilacap mendukung penerapan ruang MAKP d. STIKES Al Irsyad Al Islamiyyah Cilacap sangat mendukung kegiatan mahasiswa e. Tersedianya sumber pustaka terkait dengan penerapan /aplikasi ruang MAKP 4. Threatened (Ancaman)

56

a. Memungkinkan perawat ruang Cateliya lupa dengan pelaksanaan

ruang MAKP selepas mahasiswa selesai praktek b. Memungkinkan tidak berlanjutnya pelaksanaan MAKP di ruang Dahlia c. Memungkinkan adanya mutasi perawat antar ruangan di

lingkungan RSUD Cilacap sehingga ada perawat baru yang belum memahami ruang MAKP yang sudah berjalan, sehingga memerlukan waktu untuk beradaptasi C. PERUMUSAN MASALAH Dari hasil analisa data dapat kami rumuskan permasalahan sebagai berikut
1.

Motivasi a. Tingkat pengetahuan perawat ruang Catelya tentang motivasi, sebagian besar sudah baik. b. Sikap perawat ruang Catelya tentang motivasi terhadap pelayanan keperawatan di ruang catelya sebagian besar kurang termotivasi. c. Prilaku perawat ruang Catelya tentang motivasi terhadap pelayanan keperawatan di ruang catelya sebagian kurang termotivasi.

2. a.

Kegawatdaruratan Tingkat pengetahuan perawat ruang Catelya tentang kegawatdaruratan anak sebagian cukup baik.

57

b. Sebagian besar sikap perawat ruang Catelya tentang kegawatdaruratan

anak terhadap pelayanan keperawatan yang diberikan kurang mendukung. c. Sebagian besar prilaku perawat ruang Catelya dalam pelayanan keperawatan kegawatdaruratan anak kurang optimal.

D. NO

POA (PLANING OF ACTION) Jenis Pelatihan Pelaksanaan Penanggung Jawab Tempat

1 2

Motivasi

Jumat, 13 Januari 2012 Kegawatdaruratan pada Sabtu, 28 anak dan bayi Minggu, 29 januari 2012 PENYELESAIAN MASALAH

Inderatmi., RSUD S.Kep Sutiyanti., S.Kep Aula STIKES AlIrsyad Al-Islamiyyah Ciacap

E.

Setelah dilakukan penyusunan POA (Planing Of Action) berdasarkan kesepakatan antar perawat ruang cateliya dengan dilakukan 2 kegiatan utama yaitu : 1. 2. Mengadakan pelatihan motivasi kerja Mengadakan seminar dan pelatihan kegawatdaruratan anak dan bayi

58

BAB III PEMBAHASAN A. KESENJANGAN TEORI DAN PENYELESAIAN Berdasarkan teori yang disajikan, terdapat beberapa kesenjangan dengan kenyataan yang ada di lapangan, antara lain: 1. Dalam penerapan MAKP pemula, masih ada beberapa komponen yang perlu ditingkatkan lagi, seperti pembagian job disknya secara teori perawat primer bertanggung jawab terhadap pasien selama 24 jam dari perawat masuk dampai pasien pulang. Perawat primer bertugas mulai dari melakukan pengkajian pasien atau keluarga pasien sampai perencanaan tindakan keperawatan yang akan dilakukan sesuai dengan diagnosa keperawatan yang muncul. Selanjutnya perawat primer mendelegasikan pasien kepada perawat asosiate untuk melakukan implementasi sesuai intervensi yang ditetapkan dan mendokumentasikannya pada kardek. Namun karena masih dalam proses adaptasi dengan sistem menejemen 59

yang baru, perawat kurang memahami peran dan tugasnya atau karena rasa kebersamaan yang tinggi antar perawat sehingga masih tterdapat tumapng tindih peran dan tugasnya. Kadang kadang perawat primer melakukan tugas perawat asosiat ataupun sebaliknya. Perawat primer bertanggung jawab dan harus memahami kondisi pasien kelolaannya selama dirawat meskipun tidak sedang bertugas dengan cara perawat primer selalu mendapatkan informasi terbaru mengenai perkembangan pasien kelolaannya. Namun pada kenyataannya pernah dijumpai bahwa perawat perawat primer tidak memahami pasiennya sehingga dalam keadaan darurat yang mengharuskan perawat primer tersebut memberi penjelasan kondisi atau perkembangan pasien, perawat tersebut merasa ragu dan kurang yakin dengan penjelasan yang ia berikan. 2. Perawat asosiate secara teori bertugas sebagai perawat pelaksana yang menjalankan tugas setelah mendapatkan pendelegasian dari perawat primer. Namun, dilapangan dijumpai perawat asosiate masih kurang faham akan tugasnya sebagai perawat pelaksana sehingga ketika perawat asosiate melakukan tindakan ke pasien terkadang tidak mendokumentasikan hasil tindakan keperawatannya pada lembar kardek dan tidak melaporkan hasil tindakan keperawatannya kepada perawat primer yang telah

mendelegasikan pasien tersebut. Pada penulisan dokumentasi keperawatan seperti implementasi dan evaluasi keperawatan, sudah menggunakan format yang sesuai dengan pendokumentasian NANDA, NIC- NOC. Agar

60

pendokumentasian ini tetap berjalan sesuai yang diharapkan diperlukan pemantauan, untuk itu mahasiswa mecoba mendampingi dalam

pendokumentasian NANDA, NIC-NOC. 3. Pengembangan MAKP merupakan upaya untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan dan lingkungan kerja perawat. MAKP terdiri dari lima komponen yaitu nilai-nilai profesional yang merupakan inti dari MAKP, hubungan antar profesional, manajemen metode terutama pemberian dalam asuhan

keperawatan,

pendekatan

perubahan

pengambilan keputusan serta sistem kompensasi dan penghargaan. Namun dilapangan ditemukan kurangnya motivasi perawat untuk menunjang model asuhan keperawatan profesional (MAKP). Perawat sebagai salah satu komponen penting dalam rumah sakit membutuhkan motivasi kerja untuk menunjang model asuhan keperawatan profesional (MAKP) untuk itu diperlukan pelatihan motivasi kerja sebagai daya dorong bagi perawat untuk memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya demi keberhasilan mencapai model asuhan keperawatan profesional (MAKP) 4. Perawat disebutkan sebagai tenaga terpenting karena sebagian besar pelayanan rumah sakit adalah pelayanan keperawatan. Gillies (1994) menyatakan bahwa 40 - 60% pelayanan rumah sakit adalah pelayanan keperawatan. Bahkan Huber (1996) menyatakan bahwa 90% pelayanan rumah sakit adalah pelayanan keperawatan. Tidak ada satupun rumah sakit yang tidak mempergunakan jasa perawat untuk memberikan pelayanan kepada klien. Perawat bekerja dan selalu bertemu dengan klien (pasien)

61

selama 24 jam penuh dalam suatu siklus shift, karena itu perawat menjadi ujung tombak bagi suatu rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Maka dari itu perawat ruang catelya sebagai ruang anak yang akan menemukan berbagai kasus yang akan dihadapi diruanagan salah satunya akan dihadapi adalah kasus kegawatdaruratan anak. Namun dilapangan ditemukan kurangnya pengetahuan, sikap dan perilaku dalam menghadapi keadaan kegawatdauratan anak dan bayi oleh karenanya diadakan seminar dan pelatihan kegawatdaruratan anak dan bayi B. ANALISA SWOT Dari hasil pengumpulan data yang diperoleh melalui angket, maka selanjutnya dianalisa menggunakan pendekatan analisa Strength Weakness Oppurtunity Treatned (SWOT) untuk mengetahui perlunya pengadaan pelatihan dan pengadaan sarana prasarana guna menunjang keberhasilan MAKP di Ruang Catelyia RSUD Cilacap sebagai berikut: 5. Kebutuhan Pelatihan
a. Strength (Kekuatan) 1) Jumlah perawat di ruang Catelyia berjumlah 12 orang 2) Semangat perawat ruang Dahlia yang tinggi untuk menerapkan

MAKP
3) Perawat ruang Catelyia mendukung penerapan MAKP

4) Tersedianya tempat untuk ruang MAKP

62

5) Adanya kebutuhan perawat ruang Catelyia terhadap pelatihan

untuk menambah pengetahuan dan menunjang keberhasilan MAKP. 6) Mayoritas pendidikan perawatnya adalah D3 Keperawatan
7) Berdasarkan hasil penyebaran angket yang dilakukan mahasiswa

pada tanggal 4 dan 5 januari 2012 terhadap 11 orang perawat di ruang Dahlia diperoleh data bahwa 100% perawat ruang Catelyia mengatakan membutuhkan adanya pelatihan.
8) Dari hasil angket tersebut menunjukkan hasil bahwa jenis

ketrampilan pelatihan yang dibutuhkan oleh perawat ruang Catelyia adalah sebagai berikut: a) Pelatihan motivasi kerja 80 % b) Pelatihan kegawat daruratan 100 %
b. Weakness (Kelemahan)

1) Keterbatasan waktu perawat dalam mengikuti pelatihan. 2) Kurangnya motivasi kerja


3) Keterbatasan bagi perawat tentang pengetahuan, sikap, dan

perilaku dalam menghadapi kegawatdaruratan anak


4) Keterbatasan waktu bagi perawat untuk mendapatkan informasi

dan tambahan pengetahuan tentang ruang MAKP dan metode penugasan.


c. Opportunity (Kesempatan)

63

1) Adanya kerjasama lembaga pendidikan kesehatan STIKES Al-

Irsyad Al-Islamiyyah Cilacap program Profesi Ners dengan RSUD Cilacap.


2) Kesadaran perawat ruang Dahlia akan manfaat mengikuti

pelatihan.
d. Threatened (Ancaman)

1) Persaingan antar rumah sakit yang semakin kuat di wilayah Cilacap. 2) Adanya tuntutan yang lebih tinggi dari masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang lebih professional.
3) Memungkinkan

adanya mutasi perawat antar ruangan di

lingkungan RSUD Cilacap sehingga ada perawat baru yang belum memahami pelatihan yang pernah diadakan, sehingga

memerlukan waktu untuk beradaptasi. 4) Sumber daya Rumah Sakit lain yang lebih profesional dalam memberikan pelayanan yang disajikan.

64

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Dari identifikasi masalah berdasarkan analisa situasi dan rencana strategis operasional di Ruang Cateliya RSUD Cilacap didapatkan rumusan masalah, sebagai berikut :
1.

Motivasi a. Tingkat pengetahuan perawat ruang Catelya tentang motivasi, sebagian besar sudah baik. b. Sikap perawat ruang Catelya tentang motivasi terhadap pelayanan keperawatan di ruang catelya sebagian besar kurang termotivasi. c. Prilaku perawat ruang Catelya tentang motivasi terhadap pelayanan keperawatan di ruang catelya sebagian kurang termotivasi.

2. Kegawatdaruratan

65

a.

Tingkat pengetahuan perawat ruang Catelya tentang kegawatdaruratan anak sebagian cukup baik.

b. Sebagian besar sikap perawat ruang Catelya tentang kegawatdaruratan

anak terhadap pelayanan keperawatan yang diberikan kurang mendukung. c. Sebagian besar prilaku perawat ruang Catelya dalam pelayanan keperawatan kegawatdaruratan anak kurang optimal.

Dari ketiga rumusan masalah diatas, mahasiswa program profesi ners STIKES Al-Irsyad Al-Islamiyyah stase manajemen telah menawarkan dan melaksanakan intervensi untuk mengatasi masalah-masalah yang ada di Ruang Cateliya RSUD Cilacap, kemudian dilakukan penyusunan POA

(Planing Of Action) berdasarkan kesepakatan antar perawat ruang cateliya dengan dilakukan 2 kegiatan utama yaitu :
1. Mengadakan pelatihan motivasi kerja 2. Mengadakan seminar dan pelatihan kegawatdaruratan anak dan bayi

B. SARAN Berdasarkan program dan kegiatan yang telah dilaksanankan oleh kelompok I gelombang II program profesi ners STIKES Al-Irsyad AlIslamiyyah Cilacap stase manajemen, maka kami dapat memberikan saran : 1. Bagi manajemen RSUD Cilacap agar dapat terus melanjutkan dan memfasilitasi kegiatan pembentukan ruang MAKP yang sudah dibentuk di 66

Ruang Cateliya atas kerjasama pihak RSUD Cilacap dan STIKES AlIrsyad Al-Islamiyyah Cilacap 2. Bagi perawat Ruang Cateliya agar dapat terus melaksanakan dengan sungguh-sungguh metode penugasan MAKP Pemula dan dokumentasi keperawatan NANDA, NIC, NOC yang sudah berjalan selama ini 3. Bagian keperawatan RSUD Cilacap hendaknya terus memantau

pelaksanaan metode penugasan MAKP Pemula dan pendokumentasiannya yang telah berjalan di Ruang Bougenville dan memperjuangkan adanya reward yang harus diterima oleh perawat di ruang yang melaksanakan metode penugasan MAKP Pemula 4. Bagi STIKES Al-Irsyad Al-Islamiyyah Cilacap hendaknya dapat meningkatkan bimbingannya dan memotivasi kelompok II mahasiswa profesi ners stase manajemen untuk melanjutkan pelaksanaan MAKP dan pelatihan-pelatihan yang belum terlaksana dan pemenuhan kebutuhan sarpras bagi perawat Ruang Cateliya RSUD Cilacap 5. Bagi mahasiswa program profesi ners stase manajemen agar dapat meningkatkan IPTEK di bidang manajemen keperawatan, meningkatkan disiplin dan dapat menjadi role model bagi diri sendiri dan perawat lain demi majunya profesi dan melanjutkan perjuangan kami kelompok I di Ruang Cateliya RSUD Cilacap. Demikian apa yang dapat kami sampaikan sebagai laporan, segala kekurangan yang terjadi kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan kami

67

ucapkan terima kasih kepada RSUD Cilacap khususnya perawat Ruang Cateliya yang telah bekerjasama dengan baik.

68