Anda di halaman 1dari 20

PENDAHULUAN Latar Belakang Sejarah telah mencatat bahwa Revolusi memiliki andil yang besar dalam mengatasi kelaparan

di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Pemerintah memperkenalkan kepada petani teknologi revolusi hijau dengan suatu asumsi bahwa teknologi tersebut akan meningkatkan produksi, serta dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran petani. Pada masa awal, revolusi hijau mengalami perkembangan yang pesat dan dapat mencukupi kebutuhan pangan sesuai laju pertambahan penduduk dunia. Upaya dan banyak dana disediakan untuk program ini sehingga tahun 1984, Indonesia mencapai swasembada beras. Akhir tahun 1969 dengan adanya BIMAS dan INMAS sebagai pelaksana Revolusi Hijau, situasi pertanian dan pedesaan awalnya seolah nampak subur makmur dengan diperkenalkan bibit-bibit IR 5, IR. 8, IR 33, IR 64 dan seterusnya. Namun dalam jangka panjangnya ternyata sangat mengecewakan. Kritik terhadap revolusi hijau adalah terlalu tergantung pada input tinggi, khususnya pupuk kimia dan insektisida kimia. Ratchel Carson secara dini sudah memperingatkan bahaya yang ditimbulkan akibat penggunaan pestisida yang berlebihan. Penulis buku Silent Spring yang merupakan salah satu ahli biologi kelautan mengungkapkan bahwa pestisida sebagai salah satu paket pertanian modern memiliki dampak yang bersifat toksik bagi organisme lain dan mengganggu ekologi tanaman. Revolusi hijau ternyata tidak mampu mengangkat kesejahteraan petani. Revolusi hijau justru meminggirkan petani dan sangat tergantung pada perusahaan besar untuk menjalankan usaha pertanian mereka. Selain memarjinalkan petani revolusi hijau juga membawa dampak kerusakan yang luas terhadap lingkungan. Tanah persawahan semakin lama menjadi semakin keras dan bantat. Penggunaan pupuk kimia meningkat dari waktu kewaktu. Serangan hama menjadi semakin eksplosif dan menuntut penggunaan pestisida yang semakin meningkat pula. Dunia Barat, sebagai penggagas pertanian modern sudah lama menyadari dampak yang ditimbulkan dari penggunaan bahan-bahan kimia sintetis dalam dunia pertanian. Kini mereka sudah beralih kepada sistem pertanian tanpa bahan kimia sintetik atau yang dikenal dengan pertanian organik.Lockeretz et.al. (1981)pertanian organic1 mengemukakan bahwa di Amerika sistem pertanian dengan penggunaan pupuk anorganik dan pestisida dan yang selalu tergantung pada

bahan bakar minyak telah mulai kewalahan dan merasa bahwa ketergantungan tersebut harus dihentikan. Di Indonesia ketergatungan pada pupuk anorganik telah meningkatkan harga pupuk, yang pada akhirnya membuat petani tidak untung. Walaupun produktivitas dengan penggunaan bahanbahan kimia meningkat, tetapi menimbulkan kerentanan terhadap hama dan penyakit dan produk pertanian tidak memiliki nilai jual di pasar dunia, karena alasan terkontaminasi pestisida atau saprotan lainnya. Di sisi lain, meningkatnya penggunaan lahan secara intensif mengakibatkan pengurasan hara dan bahan organik secara terus menerus. Hal ini diperburuk lagi dengan iklim tropis yang memiliki suhu dan curah hujan tinggi sehingga intensifnya tingkat pelapukan dan dekomposisi bahan organik, serta hara mineral mudah hilang melalui pencucian. Kegiatan pertanian yang menghasilkan pencemaran lingkungan, degradasi lahan dan pangan yang tidak sehat akibat pemakaian sarana produksi berbahan anorganik sintetis merupakan pendorong gerakan pertanian organic, sebagai salah satu alternatif pertanian modern. Pertanian organik bertujuan untuk menjadi selaras dengan ekosistem alami. Idenya meliputi seluruh aspek usahatani dimulai dari bagaimana mengendalikan hama penyakit,

mempertahankan kesuburan tanah baik fisik, kimia maupun biologis serta aspek keterpaduannya dengan lingkungan dan kesehatan (Blake, 1994) pertanian organic1. Tanah sangat kaya akan keragaman mikroorganisme, seperti bakteri, aktinomicetes, fungi, protozoa, alga, dan virus. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. Sebagian besar mikroba tanah memiliki peranan yang menguntungkan bagi pertanian, seperti recycling hara tanaman, fiksasi biologis nitrogein, pelarutan fosfat, merangsang pertumbuhan, biokontrol patogen, dan membantu penyerapan unsur hara. Untuk mendorong kesehatan tanah dan tanaman dilakukan melalui suatu praktek pendaurulangan unsur hara dari bahan-bahan organik (seperti kompos dan sampah tanaman), rotasi tanaman, pengolahan yang tepat dan menghindari pupuk sintetis serta pestisida. Dengan demikian, pertanian organik dipandang sebagai suatu cara bertani yang lebih ramah terhadap lingkungan.

Permasalahan Penggunaan jerami sisa panen sebagai kompos merupakan pendaurulangan hara yang mudah dan murah. Namun petani sering mengeluhkan hasil pertanian organik yang produktivitasnya cenderung rendah dan lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Salah satu masalah yang sering ditemui ketika menerapkan pertanian organik adalah kandungan bahan organik dan status hara tanah yang rendah. Petani organik mengatasi masalah tersebut dengan membenamkan jerami ke lahan

khususnya sawah. Jerami merupakan limbah organik yang harus dihancurkan/dikomposkan terlebih dahulu oleh mikroba tanah menjadi unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman. Proses pengomposan alami memakan waktu yang sangat lama, antara enam bulan hingga setahun, sampai bahan organik tersebut benar-benar tersedia bagi tanaman. Pendaurulangan hara dari sisa panen khususnya menggunakan jerami yang difermentasikan menjadi kompos masih tergolong jarang dilakukan petani. Padahal hasil penelitian diperoleh data bahwa nilai tersebut tambah kompos jerami tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan abu jerami yang dibakar. Masalah ini sebenarnya bisa diatasi dengan memanfaatkan bioteknologi berbasis mikroba yang diambil dari sumber-sumber kekayaan hayati yang dinamakan dengan kompos bioaktif. Kompos bioaktif adalah pengomposan yang dilakukan mikroba lignoselulolitik unggul yang tetap bertahan di dalam kompos dan berperan sebagai agensia hayati pengendali penyakit tanaman. Proses pengomposan dapat dipercepat dengan menggunakan mikroba penghancur (dekomposer) yang berkemampuan tinggi. Penggunaan mikroba dapat mempersingkat proses dekomposisi dari beberapa bulan menjadi beberapa minggu saja. Mikroba akan tetap hidup dan aktif di dalam kompos. Ketika kompos tersebut disebarkan ke tanah, mikroba akan berperan dalam mengendalikan organisme patogen penyebab penyakit tanaman. Pada makalah ini penulis mengupayakan pembelajaran teknilogi dan proses yang terjadi pada pengomposan jerami secara fermentasi tersebut sehingga menghasilkan kompos jerami bioaktif yang berhasil guna dalam mendukung kegiatan pertanian organic.

KARAKTERISTIK JERAMI DAN MIKROBA FERMENTASI

Karaktristik Jerami Sebagai Bahan Organik Jerami padi adalah bagian vegetatif dari tanaman padi yang terdiri dari batang, pelepah daun, daun dan tangkai malai. Pada waktu dipanen jerami adalah bagian tanaman yang tidak dipungut. Bagian dari jerami relatif kuat karena mengandung silica, lignin, dan selulosa yang tinggi serta pelapukannya membutuhkan waktu yang lama. Sebatang jerami yang telah dirontokkan gabahnya terdiri atas : 1. Batang (lidi jerami) Bagian batang jerami kurang lebih sebesar lidi kelapa dengan rongga udara memanjang di dalamnya. 2. Ranting jerami Ranting jerami merupakan tempat dimana butiran pada butiran pada menempel. Ranting jerami ini lebih kecil, seperti rambut yang bercabang cabang meskipun demikian ranting jerami mempunyai tekstur yang kasar dan kuat. 3. Selongsong jerami Selongsong jerami adalah pangkal daun pada jerami yang membungkus batang atau lidi jerami. (Trusbus, 2005 dalam Dina NR et all, 2007).biojerami pdf

Gambar 1.

Jumlah kandungan selulosa dalam jerami antara 35 40 %. Kandungan lain pada jerami adalah lignin dan komponen lain yang terdapat pada kayu dalam jumlah sedikit yang terdiri dari: 1. Selulosa Selulosa adalah suatu polimer yang tidak bercabang dari glukosa yang dihubungkan melalui ikatan 1 4 glikosida dan merupakan penyusun utama dinding sel tanaman yang berbentuk serat dan berwarna putih dengan rumus molekul (C6H10O5)n, dimana n adalah derajat polimerisasi. Harga n berkisar antara 1000 1500, tergantung bagaimana selulosa itu diisolasi, diolah dan dimurnikan. Struktur molekul selulosa terlihat seperti gambar 2.

Gambar 2. Struktur Selulosa

2. Lignin Lignin adalah bagian dari tumbuh tumbuhan yang terdapat dalam lamellar tengah dan dinding sel serta berfungsi sebagai perekat antar sel, sehingga lignin tidak dikehendaki. Lignin merupakan salah satu polimer fenilpropanoid terikat di dalam struktur tiga dimensi yang sulit dirombak ("recalcitrant") , oleh karena strukturnya heterogen dan sangat kompleks (Sulistinah N, 2008).lignin diteliti Lignin adalah material yang paling kuat dalam biomassa, namun sangat resisten terhadap degradasi, baik secara biologi, enzimatis, maupun kimia. Karena kandungan karbon yang relatif tinggi dibandingkan denga selulosa dan hemiselulosa lignin memiliki kandungan energi yang tinggi (safan.wordpress.com, 2008 dalam bab1-V enzim selulase). Secara alami lignin berwarna coklat. Kalau jerami berubah warna menjadi agak putih, berarti ada sebagian lignin yang hilang. Lignin membuat jerami jadi keras dan liat. Kalau jerami menjadi lebih lunak dari jerami aslinya, berarti pelindung ligninnya sudah mulai rusak (Isroi, 2008 dalam bab1-V enzim selulase).

Gambar 3. Struktur lignin 3. Hemiselulosa Hemiselulosa mirip dengan selulosa, namun tersusun dari bermacam-macam jenis gula. Monomer gula penyusun hemiselulosa terdiri dari monomer gula berkarbon 5 (C-5) dan 6 (C-6), seperti : xylosa, mannose, glukosa, galaktosa, arabinosa, dan sejumlah kecil rhamnosa, asam glukoroat, asam metal glukoroat, dan asam galaturonat (safan.wordpress.com, 2008). Komposisi kimia jerami padi dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini. Tabel 1. Komposisi kimia jerami padi (Anggorodi, 1979 dalam Dina NR et all, 2007) Senyawa Air (%) Protein (%) Lemak (%) Karbohidrat (%) Komposisi Jerami Kering 12 6,8 2,3 74

Kalsium (mgr/100gr) Phospor (mgr/100gr)

0,32 0,17

Menurut Nandi et al., 2000 dalam selulotik): Komposisi jerami padi dalam 1 mm3 terkandung C-organik 46,13%, N-total 0,52%, selulosa 32%, dan lignin13,3% (. Mishara et al. (2001) dalam selulotik menggunakan sampel jerami padi untuk dekomposisi dan mineralisasi C, N, P dan K pada tanah perkebunan gandum. Pada jerami padi tersebut terkandung 42% C, 5,1% lignin, 40% selulosa, 22% hemiselulosa, 0,55% polifenol, 0,6% N, 0,1% P dan 1,3% K. tian et al dlm t Sabrina c/n 42,3 Jerami padi merupakan satu satunya sumber K yang murah dan mudah tersedia di lahan sawah. Setiap 5 ton jerami mengandung K setara dengan 50 kg KCl. Sekitar 80% K yang diserap tanaman padi berada dalam jerami. Oleh karena itu, mengembalikan jerami ke tanah sawah dapat memenuhi sebagian hara K yang dibutuhkan tanaman. Rata-rata pembakaran jerami mengakibatkan kehilangan hara C 94%, N 91%, P 45%, K 75%, S 70%, Ca 30%, dan Mg 20% dari total kandungan hara tersebut dalam jerami. Tanaman padi yang memproduksi 5 ton ha-1 gabah kering panen mengangkut hara dari tanah sekitar 150 kg N, 20 Kg P, 150 Kg K dan 20 Kg S. Pada saat panen jerami mengandung sekitar sepertiga jumlah hara N, P, dan S dari total hara tanaman padi, sedangkan kandungan K rata-rata 89% (berkisar antara 85 92%) (Tirtoutomo et al,. 2001; Makarim, 2007). Oleh karena itu jerami padi dapat dijadikan sumber hara makro tanaman. Pada tingkat hasil 5 ton ha-1 dihasilkan 2 ton C ha-1 yang secara tidak langsung merupakan sumber hara N. Selanjutnya dekomposisi bahan organik dari jerami ini akan memperkecil volume bahan dasar dan termineralisasinya sehingga menjadi pupuk.dan hara yang segera tersedia bagi tanaman. Adapun kisaran kandungan hara kompos jerami yang dapat disumbangkan ke tanah adalah sebagai berikut (Anisuryani, 2008). Tabel 1. Kandungan hara jerami alami dan yang telah dikomposkan selama tiga minggu

Kandungan Hara Parameter Tidak dikomposkan (%) 44,4 43 0,5 0,8 0,07 0,12 1,2 1,7 0,05 0,10 4-7 46,93 Dikomposkan tiga minggu

(Biodekomposer) (%) 14,50 35,95 2,48 0,33 4,50 Tidak ada data Tidak ada data 55

Rasio C/N C N P2O5 K2O S Si Air

Bobot jerami padi merupakan fungsi dari (a) rejim air, (b) varietas, nisbah gabah/jerami, (c) cara budidaya, (d) kesuburan tanah, dan (e) musim/iklim (Makarim, 2007). Bobot jerami antar varietas berbeda-beda meskipun tumbuh pada rejim air, tanah, dan musim yang sama. Hasil gabah dan jerami sangat dipengaruhi cara budi daya seperti jarak tanam atau populasi tanaman, takaran pupuk, dan pemeliharaan tanaman untuk mencegah kehilangan biomas akibat hama dan penyakit; serta kesuburan tanah. Jerami yang diperoleh merupakan indikasi tingkat kesuburan tanah secara umum. Iklim dan tinggi tempat berpengaruh terhadap bobot jerami sehubungan dengan tinggi rendahnya radiasi surya selama pertumbuhan tanaman, yang mempengaruhi kecepatan fotosintesis dan akumulasi biomassa tanaman.

Karakteristik dan Jenis Mikrobia Biodekomposer Fermentasi Jerami Pengomposan merupakan proses penguraian aerobik - thermophilic dari konstituen organic (misalnya dari sampah / buangan organik alami dan excess sludge dari biological wastewater treatment) menjadi produk akhir yang relatif stabil, menyerupai humus. Ada 3 group mikroorganisme yang berperan, yaitu: bakteria, actinomycetes dan fungi. Fungsi bakteria akan mengurai senyawa golongan protein lipid dan lemak pada kondisi thermophilic serta menghasilkan energi panas. Actinomycetes dan fungi yang selama proses

pengomposan berada pada kondisi mesophilic dan thermophilic berfungsi untuk mengurai senyawa-senyawa organik yang kompleks dan selulosa dari bahan organik atau dari bulking agent. Fermentasi dapat juga didefinisikan sebagai suatu proses biokimia yang menghasilkan energi, komponen organik sebagai penerima energi. Fermentasi merupakan proses metabolisme dimana terjadi perubahan kimia dalam substrat / bahan organik karena aktivitas enzim yang dihasilkan oleh jasad renik.

Lignin diteliti Beberapa kelompok jamur dilaporkan mampu mendegradasi senyawa lignin, seperti misalnya kelompok " White-rotfungi" mampu menggunakan sellulosa sebagai sumber karbon untuk substrat pertumbuhannya dan mempunyai kemampuan mendegradasi lignin. Jamur pendegradasi lignin yang paling aktif adalah white-rot fungi seperti misalnya Phanerochaete chrysosporium an Coriolus versicoloryang mampu merombak hemisellulosa, sellulosa dan lignin dari limbah tanaman menjadi CO2 dan H2O (Paul, 1992; Limura, 1996). Tabel organisme yang terlibat dalam proses pengomposan Kelompok Organisme Organisme Mikroflora Mikrofanuna Makroflora Makrofauna Bakteri; Aktinomicetes; Kapang Protozoa Jamur tingkat tinggi Cacing tanah, rayap, semut, kutu, dll Jumlah/gr kompos 109 - 109; 105 108; 104 - 106 104 - 105

Mikroorganisme perombak bahan organic merupakan activator biologis yang tumbuh alami atau sengaja diberikan untuk mempercepat pengomposan dan meningkatkan mutu kompos. Dalam proses pengomposan fermentasi jerami penggunaan activator seperti Orgadek, EM-4 ataupun Mikroorganisme Lokal (MOL) dapat mempercepat proses tersebut. Larutan MOL adalah hasil fermentasi yang berbahan dasar mikroba dan substrat nutriennya dari sumberdaya setempat. MOL mengandung mikroba decomposer, biostimulant dan agens hayati. Menurut Hadinata (2000) dalam Syaifuddin A et all, bahan utama MOL terdiri atas:

Karbohidratlih pemberdayaan MOL di bakul

Sebenarnya ada beberapa perbedaan yang mendasar dari activator dengan MOL yang dapat dilihat pada table berikut. Tabel . Perbedaan antara Aktivator dengan MOL VARIABEL Bahan pembuatan Aktivator (EM-4) MOL Buah-buahan, Kotoran Hewan yang masih segar, Sampah dapur, Bonggol pisang, Nasi, trasi dll Manfaat Mempercepat kompos, microorganisme pembuatan Mempercepat menambah menambah pembuatan microorganisme kompos, tanah,

dasar Buah-buahan

tanah, menambah kesuburan tanah, bisa digunakan

menambah kesuburan tanah, sebagai pupuk daun bisa digunakan sebagai pupuk daun. Kandungan dan Bakteri Jenis fotosintetik, Tergantung bahan pembuatnya dan masih

Actinomicetes, Bakteri asam perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tetapi Ragi dan jamur pada prinsipnya kandungannya hampir sama

Mikroorganisme laktat,

fermentasi.mengandung asam dengan EM- 4 amino dan unsur mikro, Arti Effective Microorganisme Micro Organisme Lokal (mikroorganisme yang yang bersumber dari bahan tertentu yang bermanfaat bagi pertumbuahan tanaman. Sebagai contoh mikroorganisme dari rumen sapi, rumen kambing, bonggol pisang, nasi,

(Microorganisme

bermanfaat bagi tanaman)

buah-bahan dll) Apliksi tanaman pada Pada daun dan akar tanaman Pada daun dan akar tanaman

Telkomsel ramadhan ceria Teknologi EM-4 merupakan salah satu teknologi pemanfaatan jasad hidup dalam memperbaiki kesuburan tanah, melalui cara kerja dalam tanah dengan menyeimbangkan populasi mikro-organisme yang menguntungkan (beneficial microorganisms) dan menekan populasi mikroorganisme yang merugikan (deleterious microorganisms) (Subadiyasa, 1997: 7). Lima golongan utama microorganisme yang terkandung dalam larutan EM-4 yaitu: lactobacillus sp, ragi (yeast), bakteri fotosintetik, actinomycetes, dan jamur pengurai selulose (streptomyces sp) untuk memfermentasi bahan organik menjadi senyawa organik yang mudah diserap oleh akar tanaman. Mikroorganisme-mikroorganisme tersebut bekerja saling membantu guna mencegah pembusukan bahan organik menjadi proses fermentasi yang dilakukan oleh mikroba peragian dan mengurangi polusi panas, bau busuk serta mengurangi gas beracun lainnya yang timbul akibat proses pembusukan. Teknologi Effective Microorganisms-4 diaplikasikan sebagai inokulan dalam pupuk organik untuk meningkatkan keragaman dan populasi mikroorganisme di dalam tanah. Hal ini dapat memperbaiki dan meningkatkan kesehatan dan kualitas tanah, dan pada gilirannya akan memperbaiki pertumbuhan, kuantitas dan kualitas produksi tanaman secara berkelanjutan. Penerapan TEM-4 merupakan suatu teknologi alternatif yang memberikan peluang seluasluasnya untuk meningkatkan dan menjaga kestabilan produksi tanaman pertanian. Cara kerja TEM-4 dalam tanah yang secara sinergis dapat menekan populasi hama dan penyakit tanaman, meningkatkan kesehatan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Penggunaan TEM dalam pertanian menurut Higa memenuhi beberapa kriteria, yaitu: (1) petani dapat menghasilkan produk pertanian yang bergizi, sehat dan berkualitas untuk peningkatan kesehatan manusia, (2) secara ekonomis dan spritual menguntungkan bagi petani dan konsumen, (3) mudah dipraktekkan, (4) selaras dengan alam, (5) melindungi lingkungan, serta (6) mampu mencukupi bahan pangan umat manusia yang terus bertambah (Higa, 1996: 100-101). Secara

umum pemakaian pupuk organik TEM dalam pertanian di Indonesia dapat menekan biaya sebesar 20-50%, dan menaikkan produksi sekitar 20% (Wididana & Muntoyah, 2001: 21). Dapat disimpulkan bahwa TEM merupakan teknologi alternatif untuk menjawab keterbatasan teknologi produksi pertanian yang ada dan telah dikembangkan selama ini untuk mengatasi kerusakan lingkungan. Fungsi dan kegiatan setiap jenis mikroba tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: a) Bakteri fotosintetik (bakteri fototrofik) Bakteri fotosintetik adalah mikroorganisme yang mandiri dan swasembada. Bakteri ini membentuk zat-zat yang bermanfaat dari sekresi akar-akar tumbuhan, bahan organik dan atau gas-gas berbahaya (misalnya hydrogen sulfide), dengan menggunakan sinar matahari dan panas bumi sebagai sumber energi. Zat-zat bermanfaat tersebut meliputi asam amino, asam nukleik, zat-zat bioaktif dan gula, yang kesemuanya mempercepat pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Hasil-hasil metabolisme tersebut dapat diserap langsung oleh tanaman dan sebagai substrat bagi bakteri yang terus bertambah. gambarrrrrrr b) Bakteri asam laktat (Lactobacillus sp.) Bakteri asam laktat menghasilkan asam laktat dari gula, sedangkan bakteri fotosintetik dan ragi menghasilkan karbohidrat lainnya. Asam laktat dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme yang merugikan dan meningkatkan percepatan perombakan bahan-bahan organik. Selain itu, asam laktat dapat menghancurkan bahan-bahan organik seperti lignin dan selulose, serta memfermentasikannya tanpa menimbulkan pengaruh-pengaruh yang merugikan yang

diakibatkan oleh bahan-bahan organik yang tidak terurai. Bakteri asam laktat mempunyai kemampuan untuk menekan pertumbuhan Fusarium, suatu mikroorganisme yang merugikan, yang menimbulkan penyakit pada lahan-lahan yang terus ditanami. Biasanya pertambahan jumlah populasi Fusarium akan melemahkan kondisi tanaman, yang akan meningkatkan serangan berbagai penyakit dan juga mengakibatkan bertambahnya secara tiba-tiba jumlah cacing yang merugikan. Namun dengan adanya bakteri asam laktat, cacing-cacing tersebut

secara berangsur akan hilang, karena bakteri asam laktat menekan perkembangbiakan dan berfungsinya Fusarium. gambrrrrrar gam c) Ragi (Yeast) Ragi membentuk zat-zat yang anti bakteri (zat-zat bioaktif) seperti hormon dan enzim dariasamasam amino dan gula yang dikeluarkan oleh bakteri fotosintetik, bahan organik dan akar-akar tanaman yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Zat-zat bioaktif seperti hormon dan enzim yang dihasilkan oleh ragi meningkatkan jumlah sel aktif dan perkembangan akar. Sekresi ragi adalah substrat yang baik untuk mikroorganisme efektif seperti bakteri asam laktat dan actinomycetes. gambarrrrr d) Actinomycetes Actinomycetes, yang strukturnya merupakan bentuk antara bakteri dan jamur, menghasilkan zatzat anti mikroba dari asam amino yang dikeluarkan oleh bakteri fotosintetik dan bahan organik. Zat-zat anti mikroba ini menekan pertumbuhan jamur dan bakteri yang merugikan. Actinomycetes dapat hidup berdampingan dengan bakteri fotosintetik. Dengan demikian, kedua spesis ini sama-sama meningkatkan mutu lingkungan tanah, dengan meningkatkan aktivitas anti mikroba tanah. gambarrrr e) Jamur Fermentasi (Streptomyces sp.) Jamur fermentasi (peragian) seperti Aspergilus dan Penicillium menguraikan bahan organik secara cepat untuk menghasilkan alkohol, ester dan zat-zat anti mikroba. Zat-zat tersebut akan

menghilangkan bau dan bersifat racun terhadap hama dan serangga, sehingga mencegah tanaman dari serbuan serangga dan ulat-ulat yang merugikan. gambarrrrrrr Akar-akar tanaman mengeluarkan zat-zat seperti karbohidrat, asam amino dan asam organik serta enzim-enzim. Bakteri dari TEM memanfaatkan zat sekresi tersebut untuk tumbuh. Selama proses ini mereka juga mengeluarkan dan memberikan asam amino dan asam nukleik serta berbagai vitamin dan hormon pada tanaman. Oleh sebab itu, tanaman akan tumbuh dengan baik sekali dalam tanah-tanah yang didominasi oleh bakteri TEM.

POTENSI MIKROBA FERMENTASI JERAMI SEBAGAI PENDUKUNG KEBERHASILAN PERTANIAN ORGANIK Pertanian Organik dan Bioteknologi Pemanfaatan Sisa Panen In-situ

Pertanian organik pada prinsipnya menitik beratkan prinsip daur ulang hara melalui panen dengan cara mengembalikan sebagian biomasa ke dalam tanah, dan konservasi air, sehingga mampu memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional. Pemanfaatan kompos untuk meningkatkan produktivitas tanah-tanah pertanian saat ini terus diupayakan sejalan dengan Program Indonesia Go Organic 2010. Upaya ini dipicu antara lain oleh: (i) makin terus menurunnya kadar bahan organik tanah, (ii) makin meluasnya lahan pertanian yang produktivitasnya mengalami leveling-off (pelandaian produktivitas) (Nuhung, 2006 dalam E. Husen dan Irawan),

(iii) makin mahalnya harga pupuk kimia sintetik. (E. Husen dan Irawan76 Para ahli pertanian berpendapat bahwa pemberian pupuk buatan sama saja memberikan makan tanaman, dan pemberian bahan organik ke dalam tanah sama halnya dengan memberi makan tanah. Hal ini di-sebabkan pada tanah banyak terdapat organisme baik yang bersifat makro mau-pun mikro seperti halnya cacing tanah aktinomicetes, bakteri pengurai dan lain-lain Indikator yang paling mudah dilihat bahwa jika tanah banyak mengandung cacing tanah atau organisme tanah lainnya, maka tanah mempunyai kesuburan yang baik, demikian sebaliknya. Selama ini upaya petani dalam meningkatkan hasil gabah selalu menggunakan pupuk buatan bahkan dalam jumlah yang cenderung meningkat dari musim ke musim, namun jarang sekali memperhatikan kondisi tanah tempat tanaman tumbuh. Oleh karen itu tanah yang merupakan benda yang bersifat dinamis maka pengembalian jerami akan memperbaiki kondisi tanahnya. Padahal sumber bahan organic itu sendiri dapat diperoleh dari sisa panen (in situ). Pengembalian jerami padi atau pemberian bahan organic diharapkan dapat memperbaiki keseimbangan unsur hara sehingga kelestarian kesuburan lahan dapat dipertahankan. Bahan organik harus ditambahkan dalam jumlah yang cukup hingga kandungan bahan organik kembali ideal seperti semula. Pemanfaatan jerami sisa panen padi untuk kompos secara bertahap dapat mengembalikan kesuburan tanah dan meningkatkan produktivitas padi. Sebagai pupuk organik yang sudah dikenal luas, kompos dapat dibuat oleh petani atau kelompok tani dengan teknologi sederhana (skala kecil-menengah) dan industri pupuk dengan teknologi maju. Saat ini, berbagai sumber bahan organik dan mikroba pengompos (dekomposer) lokal dan komersial banyak tersedia, sehingga peluang usaha pembuatan kompos terbuka luas. Penerapan Teknologi Effective Microorganisms seperti EM-4 atau MOL pada jerami adalah sebagai aktivator pada pada proses fermentasi (peragian) pupuk organik jerami. Fermentasi bahan-bahan organik dengan EM-4 atau MOL akan menghasilkan pupuk organik yang dikenal dengan nama bokashi. Dengan kegiatan fermentasi tersebut dapat dimanfaatkan segala macam bahan organik seperti jerami dan bahan sisa-sisa hasil tanaman seperti buah-buah kelapa yang hampa, tepung ikan, kotoran semua jenis ternak, sampah dapur, rumput laut, kulit kerang dan bahan sejenis lainnya.

Namun

yang

penting

diperhatikan

dalam

proses

fermentasi

bahan

organik,

mikroorganisme akan bekerja dengan baik bila kondisinya sesuai. Proses fermentasi akan berlangsung dalam kondisi anaerob, pH rendah (sekitar 3-4), kadar garam dan kadar gula tinggi, kandungan air sedang (30-40%), dan suhu sekitar 40-500 C. Berdasarkan beragamnya bahan pembuatnya, maka nama bokashi yang dihasilkan juga bermacam-macam seperti bokashi jerami, bokashi pupuk kandang, bokashi pupuk kandang dan arang, bokashi pupuk kandang dan tanah, serta bokashi ekspres. Bahan organik yang masih hijau akan menghasilkan bokashi yang kaya senyawa organik karena bahan tersebut kaya asam amino dan asam organik yang bermanfaat untuk pertumbuhan mikrobia EM atau MOL. Sebagai sumber energi atau makanan bagi mikroba aktivator, pada tahap awal sebelum proses fermentasi diperlukan molase (tetes tebu). Bila molase tidak ada dapat diganti dengan gula merah atau gula putih. Dari ketiga bahan tersebut, molase lebih baik dari gula merah dan gula merah lebih baik dari gula putih. Hal ini disebabkan kandungan asam amino dalam molase lebih baik dari gula merah, kandungan asam amino dalam gula merah lebih baik dibandingkan gula putih.

Kinerja Mikroba Fermentasi Sebagai Biodekomposer Jerami Faktor kondisi lingkungan selama operasional sangat berpengaruh terhadap aktivitas mikroorganisme dalam proses oksidasi - dekomposisi tersebut dan pada akhirnya berpengaruh terhadap kecepatan dan siklus proses pengomposan serta kualitas kompos yang dihasilkan. Selama proses pengomposan ada 3 tahapan berbeda dalam kaitannya dengan temperatur yang diamati, yaitu: mesophilic, thermophilic dan cooling (tahap pendinginan). Pada tahap awal mesophilic temperatur proses akan naik dari suhu lingkungan ke ~ 40 oC dengan adanya fungi & bacteria pembentuk asam. Temperatur proses akan terus meningkat ke tahap thermophilic antara 40 70 oC, dimana mikroorganisme akan digantikan oleh bakteria thermopilic, actinomycetes dan thermophilic fungi. Pada range thermopilic temperatur, proses degradasi dan stabilisasi akan berlangsung secara maksimal. Tahap pendinginan ditandai dengan penurunan aktivitas mikroba dan penggantian dari mikroorganisme thermophilic dengan bacteria & fungi mesophilic. Selama tahap cooling, proses penguapan air dari material yang telah

dikomposkan akan masih terus berlangsung, demikian pula stabilisasi pH dan penyempurnaan pembentukan humic acid (wiki).

Aktivitas dan enzim mikroba biodekomposer fermentasi jerami

Mikroorganisme, terutama ragi, telah digunakan selama beberapa ribu tahun untuk membuat bir, minuman anggur, dan beberapa produk fermentasi lain. Namun, baru pada tahun 1878, oleh Kuhne, komponen sel ragi yang bertanggung jawab terhadap fermentasi disebut sebagai enzim (berasal dari bahasa Yunani yang berarti di dalam ragi). Kurang dari dua dasawarsa berikutnya, sifat enzim yang tidak hidup dibuktikan secara jelas dengan menggunakan ekstrak ragi yang bebas sel, ternyata ekstrak tersebut mampu mengkatalisis perubahan glukosa menjadi etanol (Fowler M.W, 1988 dalam bab I-V enz sellulase mikroba). Mikroorganisme di dalam tumpukan bahan organic tidak larut. Mikroorganisme menghasilkan dua sistem enzim..s/d factor pembatas dalam proses pengomposan. (perombak bo ada mikroba)

Selulase Selulase dapat diproduksi oleh fungi, bakteri, dan ruminansia. Produksi enzim secara komersial biasanya menggunakan fungi atau bakteri. Fungi yang bisa menghasilkan selulase antara lain genus Tricoderma, Aspergillus, dan Penicillium. Jenis fungi yang biasa digunakan dalam produksi selulase adalah Aspergillus niger (Usama dkk, 2008; Immanuel dkk, 2006; Ikram dkk, 2005; Omojasola dkk, 2008; Narasimha G dkk, 2006), Aspergillus fumigates (Immanuel dkk, 2006), Aspergillus nidulans (Usama dkk, 2008), Neurospra sitophila (Kurnia dkk, 2002), Tricoderma viride (Ikram dkk,2005), Tricoderma longibrachiatum, dan Saccharomyces cerevisiae (Omojasola dkk, 2008). Sedangkan bakteri yang bisa menghasilkan selulase adalah Pseudomonas, Cellulomonas, Bacillus, Micrococcus, Cellovibrio, dan Sporosphytophaga. Sedangkan untuk pembenihan inokulasi biasanya dilakukan pada medium PDA/Potato Dextrose Agar (Omojasola dkk, 2008; Ikram dkk, 2005; Narasimha G dkk, 2006) atau pada medium Czapek Dox Liquid (Gokhan Coral dkk,2002; Narasimha G dkk, 2006 dalambab I-V enz sellulase mikroba). Enzim yang dapat menghirolisis ikatan (1-4) pada selulosa adalah selulase. Hidrolisis enzimatik yang sempurna memerlukan aksi sinergis dari tiga tipe enzim ini, yaitu :

Endo-1,4- -D-glucanase (endoselulase, carboxymethylcellulase atau CMCase), yang mengurai polimer selulosa secara random pada ikatan internal -1,4-glikosida untuk menghasilkan

oligodekstrin dengan panjang rantai yang bervariasi (Ikram dkk, 2005). Exo-1,4- -D-glucanase (cellobiohydrolase), yang mengurai selulosa dari ujung pereduksi dan non pereduksi untuk menghasilkan selobiosa dan/atau glukosa (Ikram dkk, 2005). glucosidase (cellobiase), yang mengurai selobiosa untuk menghasilkan glukosa (Ikram dkk, 2005 bab I-V enz sellulase mikroba).

Mekanisme hidrolisis selulosa oleh enzim selulase dapat dilihat dalam gambar berikut :

Gambar 2.2. Mekanisme hidrolisis selulosa (en.wikipedia.org/wiki/cellulose dalam bab I-V enz sellulase mikroba ). Jerami padi menjadi rapuh bila diberi mikrobia perombak bahan organic. Widyastuti (1995) meneliti kecernaan dinding sel jerami secara in vitro dengan menggunakan bakteri rumen sellulolitik ( R. flavefasiens 17, F. succinogenes B12, R. flavefasiens 17+ F. succinogenes B12, R. flavefasiens 17 + S. ruminantium JW13 dan R. flavefasiens 17 + F. succinogenes B12 + S. ruminantium JW13 masing-masing adalah 22,6%,23,3%,23,4%,22,3%, dan 25%. Kecernaan

komponen monosakarida tertinggi adalah arabinose (35,4%), diikuti oleh silosa (28,9%) dan glukosa (24,5%) (jerami bakar ada) Lignin-peroksidase (LIPs), Manganese-peroksidase (MNPs) dan Laccase. Pada umumnya basidiomisetes white-rot mensintesis 3 macam enzim, yaitu Lignin-peroksidase (LIPs), Manganese-peroksidase (MNPs) dan Laccase. Ketiga enzim tersebut sangat berperan dalam proses degradasi lignin ( Srinivasan et al., 1995). Enzim-enzim tersebut juga mampu mengoksidasi senyawa-senyawa fenol. Dilaporkan, sebagian besar reaksi degradasi lignin oleh basidiomisetes dikatalisis oleh enzim lignin peroksidase, Mn peroksidase (Addleman etal., 1993; Dozoretz etal., 1993). Beberapa jamur pendegradasi kayu di laporkan mampu mensintesis satu atau dua jenis enzim tersebut di atas, misalnya Phanerochaete chrysosporium, Trametes versicolor mampu mengekskresikan lignin-peroksidase dan manganese-peroksidase ke dalam medium, sedangkan kelompok brown- rot fungi hanya mampu mensintesis lignin-peroksidase saja.

Hasil dan kwalitas perombakan jerami Proses pengomposan dapat terjadi secara aerobik (menggunakan oksigen) atau anaerobik (tidak ada oksigen). Proses yang dijelaskan sebelumnya adalah proses aerobik, dimana mikroba menggunakan oksigen dalam proses dekomposisi bahan organik. Proses dekomposisi dapat juga terjadi tanpa menggunakan oksigen yang disebut proses anaerobik. Namun, proses ini tidak diinginkan, karena selama proses pengomposan akan dihasilkan bau yang tidak sedap. Proses anaerobik akan menghasilkan senyawa-senyawa yang berbau tidak sedap, seperti: asam-asam organik (asam asetat, asam butirat, asam valerat, puttrecine), amonia, dan H2S.(wiki)

Gambar profil suhu dan populasi mikroba selama proses pengomposan Bahan organik merupakan penyangga biologi yang mempunyai fungsi memperbaiki sifat-sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, sehingga tanah dapat menyediakan hara dalam jumlah yang berimbang dan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman.Terdapat hubungan yang linier antara kandungan C-organik tanah dengan hasil padi sawah tanpa pupuk N-anorganik (Karama et al., 1990; H.Muhammad, 2005). Tanah yang miskin bahan organik akan berkurang daya sangganya terhadap pupuk anorganik, sehingga efisiensi pemupukan menurun, karena sebagian besar pupuk hilang melalui pencucian, fiksasi atau penguapan.

Manfaat Pemberian Jerami Fermentasi Terhadap Ketersediaan Hara dan Pertumbuhan Tanaman Efesiensi ketersediaan hara