Anda di halaman 1dari 5

10.

SISTEM SILVIKULTUR BERDASARKAN PENGUASAAN LAHAN HUTAN


10.1. Antara hutan negara dan hutan milik di Indonesia Hutan di Indonesia terdiri atas hutan negara dan hutan hak. Hutan negara adalah milik negara yang dikuasakan kepada Pemerintah. Tetapi Pemerintah selain mengurus hutan negara juga harus mengurus hutan milik. Mengurus artinya menentukan peruntukkannya dan menetapkan prinsip cara pengelolaannya. Bahkan negara memutuskan mana daratan untuk dijadikan kawasan hutan tetap (reserved forest), mana kawasan hutan cadangan, dan mana kawasan untuk keperluan lainnya. Sumberdasya yang dikuasai negara pada umumnya sumberdaya sangat strategis atau sumberdaya yang berfungsi memenuhi kebutuhan orang banyak (publik). Dalam pengurusan hutan, maka negara berkewajiban mengurusi hutan fungsi lindung dan hutan fungsi konservasi tanpa harus memaksakan fungsi produksi di kawasan hutan negara, bilamana kawasan hutan negara kurang mendukung. Di fihak lain, semua sumberdaya yang secara finansial menguntungkan dan terjangkau oleh orang kebanyakan dialokasikan untuk dikelola oleh masyarakat, termasuk pengelolaan hutan yang berfungsi produksi. Dengan perkataan lain, fungsi lindung dan fungsi konservasi sedapat mungkin berada di hutan negara, sedangkan hutan masyarakat (hutan adat, hutan masyarakat, dan hutan milik) seyogyanya berada dalam kawasan dengan fungsi produksi. Sejak era reformasi mulai tahun 1998 sampai tahun 2004 terjadi pemberontakan dari masyarakat sekitar hutan negara, berupa pemaksanaan kehendak dari sebagian masyarakat untuk memanen kayu dari hutan negara, tanpa prosedur yang sah versi hukum/peraturan/ perundangan yang berlaku. Sebenarnya tidak semua anggota masyarakat melakukan atau menikmati hasil pelanggaran hukum berupa penebangan liar terhadap kayu dari hutan negara, melainkan dilakukan oleh sekelompok orang saja. Seperti dalam bisnis lainnya, dalam bisnis kayu liar itupun yang menikmati manfaat finansial terbesar adalah penampung dan pedagang kayu, sedangkan masyarakat pedesaan yang ikut melakukan penebangan atau pengangkutan kayu tidak menjadi kaya. Kawasan hutan yang menjadi sasaran perambahan oleh oknum masyarakat adalah hutan negara, baik kawasan hutan yang tidak ada pengelolanya, maupun kawasan hutan yang sedang dikelola perusahaan swasta/BUMN. Karena ingin memperoleh uang dengan cara mudah dan cepat, masyarakat kampung yang semula hidup tertib dan mematuhi hukum, beradat arif, kemudian secara tiba-tiba karena terprovokasi tentanghak-haknyamenjadi beringas tanpa malu memeras perusahaan di sekitar kampung untuk menuntut fee dalam jumlah besar. Tentu saja hasil peemrasan demikian tidak dapat dibagikan dengan adil dan tidak berkelanjutan karena dikonsumsikan segera. Penyebab kehilangan kawasan hutan negara adalah akibat dari: (1) Kawasan hutan negara bersinggungan langsung dengan lahan kehidupan masyarakat seperti kampung, sungai, jalan, tetapi tanpa patok dan batas yang tegas, disepakati, dan dilindungi. (2) Kepastian dan keamanan kawasan hutan negara tidak ada yang mempertahankan. Mewajibkan penyewa lahan hutan (pengusaha IUPHHK/HPH) mempertahankan kawasan dari ancaman konversi oleh masyarakat adalah tidak logis. Pemilik lahanlah yang berkewajiban mempertahankan lahannya, yaitu Pemerintah atas nama Negara. Pada saat ini pemerintah yang paling dekat ke hutan adalah Pemerintah Kabupaten/ Kota. Pada suasana efektivitas pengawasan dan penegakan hukum oleh Pemerintah terhadap keamanan kawasan hutan sangat lemah, maka peran masyarakat dalam merusak atau mempertahankan kawasan hutan menjadi penting. Oleh karena itu tidak lagi logis kalau negara menyatakan secara sefihak penguasaan kawasan hutan nasional sendirian, karena telah terbukti tidak mampu mempertahankannya. Pilihan yang baik adalah membangun buffer zone antara hutan negara dengan luar hutan berupa hutan yang dikelola masyarakat yaitu hutan rakyat, hutan masyarakat, dan hutan adat. Masyarakat perlu dimotivasi untuk segera mengajukan kawasan hutan adat, hutan masyarakat, dan hutan rakyat (milik). Bilamana anggota masyarakat mengelola hutan, maka mereka secara otomatis akan mempertahankan kelestarian hutan mereka, dan kawasan hutan negara akan teramankan juga. Dari mana modal awal pengelolaan hutan rakyat, hutan masyarakat dan hutan adat agar menjadi kawasan hutan produktif? Ya, salah satunya dari Dana Reboisasi. Pembentukan hutan adat, hutan rakyat, dan hutan masyarakat diawali bukan dengan langsung bercocoktanam pohon, melainkan dengan sertifikasi tanah, agar investasi terlindungi secara hukum.

31

10.2. Gagasan silvikultur hutan adat Hutan adat dikelola oleh anggota masyarakat adat, pada umumnya secara subsisten saja. Masyarakat adat perlu memperoleh dukungan profesi kehutanan agar menyadari dan mampu mengelola hutannya secara lebih produktif. Karena ada hukum adat yang dihormati warga adat, pada umumnya hutan adat masih dapat dipertahankan dalam bentuk mirip hutan alami. Hutan adat pada umumnya berupa hutan alami campuran tidak seumur. Seebnarnya keputusan kawasan hutan akan diapakan tergantung kepada rencana tataruang dan tujuan kelola hutan dari pemilik kawasan. Tugas profesi kehutanan adalah mendukung tujuan kelola hutan yang telah ditetapkan agar kegiatan pengelolaan menjadi efisien dan menghasilkan manfaat maksimum bagi pemilik/pengelola. Pada lahan daratan, hutan adat dapat dijadikan hutan dengan fungsi serbaguna, yaitu rotannya dirawat, gaharunya dirawat, madunya dipanen, dan pohon binaan penghasil kayunya dirawat pula. Pada pengelolaan hutan alami dengan sistem tebang pilih, hutan adat dapat menggunakan intensitas pembinaans edang sampai keras, yaitu sistem Binapilih2 dan Binapilih3. Sistem pembinaan Binapilih2 adalah menebang pilih pohon dengan batas diameter 50 cm diikuti dengan pembinaan intensif. Sedangkan Sistem pembinaan Binapilih3 adalah menebang pilih dengan batas diameter 30 cm diikuti pembinaan intensif. Yang dimaksud dengan pembinaan intensif adalah menetapkan dan memetakan 100-200 bt/ha pohon binaan, melakukan 1-2 kali perapihan, dan melakukan 3-4 kali pembebasan tajuk pohon binaan dengan cara meracun pohon penyaing. Rincian kedua sistem ini dapat dilihat dalam bagian berikutnya. Masyarakat adat perlu dimotivasi untuk meningkatkan nilai tambah pengelolaan hutan dengan swakelola, baik memanen kayu, mengolah kayu, memasarkan hasil olahan, dan melakukan keghiatan pemeliharaan pohon binaan. Hasil panen kayu diolah dengan penggergajian milik bersama, sehingga nilai tambah pengolahan kayu dinikmati oleh masyarakat adat. Sistem pembinaan Binapilih3 cocok untuk digunakan di hutan adat bilamana ada industri pengergajian dan atau woodworking lokal. Cara menaksir luas optimal dari sebuah hutan adat akan diuraikan dalam sub-bab hutan masyarakat.

10.3. Gagasan silvikultur hutan masyarakat Sebagai warganegara Indonesia, masyarakat yang tidak lagi terikat dengan adat masyarakat lokal, dapat berpartisipasi dalam pengelolaan hutan nasional dalam bentuk koperasi. Hutan masyarakat dapat berbentuk hutan desa yang dikelola secara kolektif oleh anggota koperasi.Lahan hutan negara dapat sebagian diserahkan pengelolaannya kepada koperasi, misalnya bagian terluar dari IUPHHK atau eks-IUPHHK sebelum sisanya kembali dikontrakkan kepada investor swasta besar. Sistem silvikultur yang sesuai untuk mengelola tegaka produksi hutan masyarakat tidak ada ebndanya dengan sistem silvikultur untuk mengelola hutan adat, yaitu Sistem Binapilih3. Hutan adat dan hutan masyaraklat perlu dihitung luasannya agar tidak terlampau sempit sehingga tidak cukup memakmurkan masyarakat pengelolanya, atau terlampau luas sehingga tidak dapat dikelola langsung oleh anggota adat/koperasi. Bilamana hutan adat atau hutan masyarakat terlampau luas, maka pengelolaan hutan tersebut akan dikontrakkan kepada investor swasta besar, sehingga manfaat finansialnya bagi anggota koperasi tersebut akan terlampau kecil. Bilamana hutan alami produksi dialokasikan sebagai izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu oleh masyarakat (IUPHHK kecil), berisi permudaan pohon meranti-merantian, maka Sistem Binapilih3 dapat digunakan dengan skenario sebagai berikut. Tabel 10.1. Skenario silvikultur dan analisis suaha hutan adat dan atau hutan masyarakat dalam hutan alami meranti luas 1 ha, siklus tebang 20 th.

Luas tebangan dan binaan 1 kk petani peserta 1 ha/th. Luas hutan adat atau hutan masyarakat dikelola 1 kk petani peserta = 20 th x 1 ha = 20 ha. Volume kayu sisa dalam jangka benah 20 th = 100 m/ha, digergaji menjadi 50 m/ha. Volume kayu meranti hasil binaan mulai tahun ke 21 = 300 m/ha, digergaji menjadi 150 m/ha. Upah pekerja = Rp 25.000/hok. Harga kayu gergajian jenis campuran = Rp 1.000.000/m, jenis meranti = Rp 1.500.000,-/m di logpond.

32

NO 1. 1.1. 1.1.1. 1.1.2. 1.1.3. 1.1.4. 1.1.5. 1.1.6. 1.2. 1.3. 1.4. 2. 2.1. 2.1.1. 2.1.2. 2.1.3. 2.2. 2.2.1. 2.3.

RISALAH DALAM JANGKA BENAH TAHUN 1-20: Biaya Penataan wilayah kerja Tebang-sarad-angkut pohon sisa d 30 cm Perapihan 1 kali dalam 20 th Pembebasan 3 kali dalam 20 th Konversi kayu sisa menjadi gergajian PSDH dan pajak pendapatan Subtotal Pendapatan jual gergajian kayu sisa Laba tahunan Laba bulanan HASIL BINAAN TAHUN KE-21 DST.: Biaya Tebang-sarad-angkut kayu hasil binaan d 30 cm Konversi kayu hasil binaan menjadi gergajian PSDH dan pajak pendapatan Subtotal biaya Pendapatan Nilai jual kayu hasil binaan: gergajian Laba petani per bulan

VOLUME

UANG (RP)

200 m/ha = 1 hok x Rp 25.000 100 m/ha x Rp 100.000/m 6 hok/ha x Rp 25.000 3 kali x 6 hok/ha x Rp 25.000 0,5 x 100 m x Rp 200.000/m 100 m x Rp 100.000 50 m x Rp 1.000.000 50.000.000-30.625.000 19.375.000/12

25.000 10.000.000 150.000 450.000 10.000.000 10.000.000 30.625.000 50.000.000 19.375.000 1.600.000

300 m x Rp 100.000/m 0,5 x 300 m x Rp 200.000/m 300 m x Rp 100.000

30.000.000 30.000.000 30.000.000 90.000.000 225.000.000 11.250.000

150 m x Rp 1.500.000/m (225.000.000-90.000.000)/12 bln

Dalam skenario silvikultur diperlihatkan bahwa seorang petani warga adat atau warga koperasi akan mengerjakan hutan alami 1 ha/th dengan luas binaan 20 ha/kk dengan pendapatan bersih pada tahun 1-20: Rp 1.600.000/bl, sedangkan mulai tahun ke-21 = Rp 11.250.000,-/bulan. Bila satu desa adat memiliki warga adat atau warga koperasi 100 kk, maka desa tersebut memerlukan luas hutan adat/hutan desa 100 kk x 20 ha x 1,2 = 2.400 ha yang berupa kebun kayu 2.000 ha dan 400 ha kawasan lindung. Apakah pendapatan Negara akan menurun dengan dikuranginya luas IUPHHK untuk dijadikan hutan adat atau hutan masyarakat? Tentu saja tidak, karena setiap m kayu yang dihasilkan hutan adat/hutan desa tetap harus membayar PSDH kepada negara, karena hutan adat dan hutan koperasi tersebut adalah hutan negara. Pungutan lain seperti Dana Reboisasi tidak boleh ada lagi karena kayu yang dipanen adalah hasil binaan petani.

10.4. Gagasan silvikultur hutan milik (hutan rakyat) Hutan rakyat berada di atas lahan milik perorangan berupa tegalan, belukar bekas ladang, atau berupa kebun. Luasannya bervariasi seadanya, yang di Kalimantan sering memiliki keluasan bekas ladang 5 ha/kk. Kondisi penutupan vegetasi pada lahan milik di Kalimantan misalnya, pada umumnya berupa belukar, sedangkan di Pulau Jawa, Sumatra bagian Selatan, Sulawesi bagian Selatan dan bagian Utara lahan milik itu kebanyakan telah dibudidayakan berupa kebun produktif. Dengan demikian bilamana lahan milik itu diinginkan oleh pemiliknya untuk dijadikan hutan rakyat karena ada Dana Reboisasi yang ditawarkan Pemerintah Kabupaten misalnya, maka komponen pokok jenis tanaman yang akan dibudidayakan haruslah tanaman kehutanan yaitu pohon penghasil kayu dan buah. Untuk memperoleh manfaat finansial maksimum, di dalam hutan rakyat penduduk dianjurkan menanam tanaman pohon penghasil kayu pertukangan kualita vinir bernilai tinggi seperti jati, meranti, dan waru, dan bukan menanam kayu murah yang batangnya tidak dapat membesar seperti akasia, gmelina dan sengon. Nilai tertinggi dari budidaya kebun kayu di lahan milik yang sering juga disebut hutan rakyat, dapat diperoleh dengan sistem tumpangsari antara tanaman pohon bernilai tinggi (jati, meranti, gaharu, dll.) dengan tanaman pertanian yang cepat menghasilkan dalam tahun-tahun pertama. Tanaman pohon dapat dibuat dengan jaraktanam lebar (10x2 m, 7x2 m), agar tanaman pertanian dapat dibudidayakan cukup lama, yaitu 3-5 tahun. Agar hasil budidaya tumpangsari pohon dan pertanian dapat berkelanjutan, bilamana ada lahan yang mencukupi, dianjurkan untuk berladang beberapa hektar sesuai dengan taksiran jangka produksi tanaman pertanian. Misalnya, pada jaraktanam pohon jati 10x2 m, tanaman pertanian dapat dibudidayakan sekurangkurangnya 4 tahun sebelum produksi menjadi terlampau kecil akibat dari penaungan tajuk tanaman jati yang semakin melebar. Dengan rencana daur tanaman jati 20 tahun, maka luas lahan diperlukan minimal = 20 th / 4 th x 1 ha = 5 ha.

33

Dengan luas lahan 5 ha, di masa depan, mulai tahun ke-21 petani akan dapat memanen kayu jati setiap tahun keempat. Perbedaan rancangan hutan adat/masyarat dengan hutan milik adalah bahwa hutan milik yang semula tidak berupa hutan akan merupakan hutan tanaman yang dapat dikelola dengan pola tumpangsari, sehingga segera memberikan hasil sebelum kayu dipanen, dan hasil kayu lebih sedikit daripada hutan berisi penuh pohonpohon penghasil kayu. Skenario biaya dan pendapatan budidaya tanaman jati di hutan milik petani ditampilkan dalam Tabel 10.2. Tabel 10.2. Skenario silvikultur dan analisis usaha hutan rakyat/milik dengan siklus tebang 20 th dikelola dengan pola tumpangsari jati dengan padi.

Jaraktanam jati lebar: 10x2 m = 500 bt/ha. Pada akhir daur tahun ke-20 akan menjadi 200 bt/ha, diameter rataan 40 cm, tinggi batang termanfaatkan 8 m, faktor bentuk batang 0,6. Volume panen = 200 bt/ha x (0,25 x x 0,4 m) x 10 m x 0,6 = 151 m/ha. Ladang bertahan 4 tahun sehingga luas lahan diperlukan: 20 th / 4 tahun = 5 ha. Panen kayu jati mulai tahun ke-21 setiap 4 tahun. Luas tebangan dan binaan 1 kk petani peserta 1 ha/4 th. Upah pekerja = Rp 25.000/hok. Harga kayu bundar jati = Rp 2.000.000/m di logpond. NO 1 2 3 4 RISALAH Tahun ke-1-20: USAHA LADANG PADI Penyiapan lahan ladang padi 1 ha Biaya bibit padi Tanam dan pelihara ladang 1 ha 1 th Biaya panen padi 1500 kg Jumlah biaya ladang padi Nilai jual padi ladang Laba berladang per bulan USAHA KEBUN JATI : LABA MULAI TH-21 Sewa lahan 1 ha per daur jati 20 th Harga bibit jati Pemeliharaan kebun jati lepas ladang 14 th Beli pupuk Urea untuk padi selama 4 th Beli pestisida untuk palawija selama 4 th Menebar pupuk 4 th Tebang-sarad-angkut kayu jati PSDH dan pajak pendapatan Subtotal biaya produksi kayu jati Nilai jual kayu jati Laba petani per bulan dengan ladang 1 ha VOLUME 50 hok x Rp 25.000 50 kg x Rp 2.500 30 hok x Rp 25.000 10 hok x Rp 25.000 1500 kg x Rp 2500 (3.750.000-2.375.000)/6 UANG (RP) 1.250.000 125.000 750.000 250.000 2.375.000 3.750.000 229.000

1 2 3 4 5 6 7 8

20 th x 100.000 600 bt/ha x Rp 3.000 14 th x 10 hok x Rp 25.000 4 th x 400 kg x Rp 2.000/kg 4 th x Rp 100.000 4 th x 2 hok x Rp 25.000 151 m x Rp 100.000/m 151 m x Rp 50.000 151 m x Rp 3.000.000/m (453.000.000-33.750.000)/48 bln

2.000.000 1.800.000 3.500.000 3.200.000 400.000 200.000 15.100.000 7.550.000 33.750.000 453.000.000 8.734.000

Data perhitungan pendapatan petanio dari hutan milik menunjukkan pendapatan mulai tahun ke-21 sebesar Rp 8,7 juta/bl, menunjukkan peningkatan kemakmuran petani peladang dari hasil budidaya kayu jati. Pendapatan serupa akan diperoleh dengan membudidayakan jenis-jenis kayu bernilai tinggi lainnya seperti meranti.

10.5. Teknik pembinaan Binapilih3 untuk pengelolaan hutan alami Seperti telah berulangkali dijelaskan di bab-bab terdahulu, di hutan alami terdapat berbagai jenis vegetasi berupa herba (tumbuhan pendek tak berkayu), semak (tumbuhan pendek berkayu), perambat (tumbuhan yang tidak dapat tegak dengan kekuatan tubuhnya), dan pohon (tumbuhan jangkung berkayu). Pohon-pohonan juga terdiri atas segala fase pertumbuhan dari semai (tinggi < 1,50 m), pancang (tinggi 1,5 m sampai diameter < 10 cm), tiang (diameter 10-19,9 cm), dan pohon (diameter 20 cm). Dengan demikian di hutan terdapat banyak sekali anak-anak pohon, sehingga hutan alami sesungguhnya tidak perlu ditanami apapun. Karena hutan alami fungsi produksi telah banyak berisi permudaan alami jenis pohon komersial, maka untuk meningkatkan produktivitas kayu perdagangan di hutan alami, penanaman tidak diperlukan, melainkan tinggal memilih dan merawat permudaan alami dari jenis dan kerapatan yang dikehendaki. Cara memelihara 34

sejumlah terbatas permudaan alami dari jenis pohon penghasil kayu perdagangan disebut metode binapilih (selective tending). Hutan alami fungsi produksi yang masih primer (belum pernah dipanen kayunya), tidak perlu dibina, karena seluruh permukaan lahannya telah ditutupi ham[pir penuh oleh pohon-pohon dewasa dan tua yang kebanyakan telah miskin riap (tidak lagi membesar dengan kecepatan yang tinggi). Dengan demikian pemeliharaan atau pembinaan tegakan hutan alami fungsi produksi hanya perlu dilakukan terhadap tegakan hutan alami bekas tebang pilih. Karena hutan bekas tebang pilih berisi rumpang-rumpang (tempat-tempat kosong bekas rebahan pohon) yang memungkinkan diisi oleh pohon muda yang masih dapat tumbuh membesar. Metode pembinaan hutan alam yang tidak menanam melainkan merawat sejumlah terbatas (100-200 bt/ha) pohon muda jenis perdagangan disebut metode binapilih, yang dikembangkan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Pohon muda yang dipilih dan dibebaskan dari vegetasi penyaing, disebut pohon binaan. Pohon binaan dipilih dengan kriteria: (1) jaraknya satu sama lain rata-rata 7 m, (2) jenisnya komersial lokal, (3) ukurannya terbesar di tempatnya, (4)_ sehat batang sehat tajuk, (5) pohon jenis dilindungi (tengkawang, manggeris, ulin), pohon besar yang bertubuh sehat (d 40 cm). Menurut intensitas (kekerasan) pembebasan pohon binaan, teknik pembinaan binapilih dapat dibagi menjadi binapilih1, binapilih2, dan binapilih3. Dalam teknik pembinaan binapilih1, pohon yang dipanen berdiameter 50 cm, pohon penyaing yang dibunuh adalah pohon bukan binaan yang tajuknya menaungi/mendesak tajuk pohon binaan, tidak boleh membunuh pohon bukan penyaing walaupun batangnya cacat atau jenisnya non komersial. Teknik pembebasan binapilih2 menetapkan batas diameter pohon dipanen 50 cm, menetapkan 100200 bt/ha pohon binaan, dan membunuh pohon penyaingn. Pohon penyaing dalam teknik pembebasan binapilih2 adalah: (1) menaungi/mendesak pohon binaan, (2) pohon cacat, (3) pohon yang terlampau rapat. Teknik pembebasan Binapilih3 adalah regim silvikultur yang dipakai untuk mengelola hutan alami yang dekat dengan pemukiman sehingga rawan perambahan, dengan prinsip sbb.: pohon dipanend engan diameter 30 cm, pohon binaan ditetapkan dengan kerapatan 100-200 bt/ha, pohon penyaing adalah: (1) menaungi/mendesak pohon binaan, (2) pohon cacat, (3) pohon yang terlampau rapat.

35