Anda di halaman 1dari 5

Pitiriasis Alba (PA) merupakan suatu kelainan kulit yang biasanya terdapat pada anak-anak dan dewasa muda.

Ditandai dengan adanya gambaran hipopigmentasi bulat sampai oval, makula halus. Bercak dalam berbagai ukuran biasanya diameternya beberapa centimeter, berwarna putih (tetapi bukan depigmentasi) atau merah muda terang.
2,3 1

Biasanya bercak tampak jelas, tetapi mungkin dan sedikit meninggi diluar area hipopigmentasi.

Pitiriasis alba memiliki banyak nama lain di antaranya : pitiriasis streptogenes, impetigo purpura, pitiriasis simpleks, pitiriasis sikka, dan eritema streptogenes.
2

Pitiriasis alba merupakan kelainan kulit yang banyak ditemukan, ditandai dengan makula hipopigmentasi superficial yang seringkali tidak didahului gejala-gejala tertentu dan disertai adanya skuama halus. Pitiriasis alba merupakan tipe dermatitis non spesifik dengan penyebab pasti tidak diketahui. Ditandai dengan timbulnya bercak makula eritem di luar area depigmentasi.
6 5

Lokasi predileksi meliputi muka, leher dan lengan bagian atas. Lesi hipopigmentasi ini menjadi lebih nyata setelah terkena sinar ultra violet. Evaluasi terhadap jamur biasanya dilakukan untuk menyingkirkan tinea versicolor atau suatu dermatofitosis. Penyakit ini tidak berbahaya dan tidak menular.
7 8

Di Amerika Serikat, meskipun insiden terjadinya belum bisa dijelaskan secara pasti, bahwa pada sepertiga dari jumlah anak-anak usia sekolah mungkin menderita kelainan ini. Pitiriasi alba bukanlah penyakit musiman, tetapi biasanya muncul pada musim dingin dimana kondisi udara di dalam rumah relatif lebih kering. Sebagai tambahan, paparan sinar matahari bisa membuat lesi lebih jelas pada musim semi dan musim panas. II. EPIDEMIOLOGI Secara internasional, pada suatu penelitian terhadap 9955 anak sekolah usia 6 daerah tropis, tingkat prevalensi Pitiriasis alba sekitar 9,9 %.
1 1

16 tahun yang tinggal di

Pitiriasis alba lebih banyak mucul pada anak-anak umur 3-16 tahun dengan insiden mencapai 30-40%. Laki-laki dan perempuan sama. Belum ada penelitian lebih lanjut mengenai penyebaran penyakit ini di berbagai negara. Namun frekuensinya di Eropa bagian utara, AS, Mesir, Israel dan India menunjukkan bahwa faktor geografis tidak menentukan insiden pitiriasis alba.
9

Sekitar 90 persen kasus ini terjadi pada anak yang berusia di bawah 12 tahun. Pitiriasis alba kadangkadang juga terjadi pada orang dewasa. III. ETIOLOGI Penyebab pasti Pitiriasis alba belum diketahui. Kemunginan berhubugan dengan kulit yang kering atau kontak antara kulit degan zat kimia.
10 1

Pitiriasis alba selama ini diketahui sebagai manifestasi dari dermatitis atopik.

Pitiriasis alba merupakan gejala inflamasi ringan pada kulit yang penyebabnya tidak diketahui. Biasanya sering terlihat pada orang-orang yang memiliki riwayat asma, alergi atau eksema atopik. Ini bisa menyerupai infeksi jamur pada kulit, tetapi ini tidak ada hubungannya. IV. PATOGENESIS Perubahan histologi hanya dijumpai adanya akantosis ringan, spongiosis dengan hiperkeratosis sedang dan parakeratosis setempat.Pada pemeriksaan dengan mikroskop elektron terlihat penurunan jumlah melanosit yang aktif dan penurunan jumlah dan ukuran melanosom pada area yang terkena.
6 11

Pitiriasis alba mungkin merupakan dermatitis eksematous yag disertai hipomelanosis akibat adanya perubahan pasca inflamasi dan setelah pajanan sinar ultraviolet yang menimbulkan hiperkeratosis dan parakeratosis pada epidermis.
3

Perpindahan

melanosom ke keratinosit

biasanya tidak terganggu. Gambaran histologinya tidak

spesifik. Hiperkreatosis dan parakreatosis tidak memperlihatkan secara konsisten, dan keduanya nampaknya mau tidak mau tetap memegang peranan penting dalam patogenesis hipomelanosit. Suatu derajat variable dari edema interseluler dan lemak intrasitoplasma droplet ada. Hipopigmentasi mungkin terutama terkait dengan pengurangan jumlah melanosit yang aktif dan penurunan ukuran dan jumlah melanosom dalam kulit yang terpengaruh. V. GAMBARAN KLINIS Gejala-gejala pitiriasis alba diantaranya : bercak putih yang kecil, bentuk bulat atau oval lebih terang dibandingkan dengan kulit di sekitarya (hipopigmentasi), makula yang sedikit meninggi, sekuama halus yang mungkin ada mungki juga tidak.
11, 12 1

Pitiriasis alba sering dijumpai pada anak berumur antara 3-16 tahun. Laki-laki dan wanita sama banyak. Lesi berbentuk bulat, oval atau plakat yang tidak teratur, berwarna merah muda atau sesuai warna kulit dengan skuama halus.
6

Pitiriasis alba umumnya asimptomatis, tetapi mungkin saja sedikit gatal. Pasien biasanya akan mengalami tiga tahapan : lesi papula eritem, lesi papula hipokrom, dan lesi hipokrom yang halus.Lesi dalam berbagai ukuran, pada umumnya berdiameter 1 lebih.
1

4 centimeter. Pasien biasanya memiliki jumlah lesi sekitar 4 atau 5 sampai 20 atau

Pada sekitar setengah dari semua pasien, lesi terbatas di daerah muka. Pada anak-anak, lesi lebih sering pada muka yaitu area sekitar mulut, dagu dan pipi. Sekitar 20% anak-anak yang menderita terkena di daerah leher, lengan dan bahu sebagai tambahan terhadap muka. VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pengujian dengan kalium hidroksida (KOH) dilakukan untuk menyingkirkan kelainan kulit lain seperti tinea versicolor, tinea faciei, atau tinea korporis.
1 1

Pada pemeriksaan secara histologi, untuk membantu diagnosis pitiriasis alba dapat diusulkan biopsi pada lesi kulit yang berbentuk papul folikuler dengan ditemukannya : 1. pigmentasi yang tidak teratur dari melanin pada lapisan basal ; 2. follicular plugging; 3. spongiosis folikuler; 4. atropi kelenjar sebasea.
1, 13

Pada mikroskop elektron, terlihat jumlah melanosit yang aktif berkurang dan ukuran serta jumlah melanosom berkurang dalam kulit yang terpengaruh. VII. DIAGNOSIS Tidak adanya bekas garukan dapat digunakan untuk menyingkirkan diagnosis pitiriasis versikolor. Batas yang tidak jelas dan tes dengan lampu wood dapat membedakannya dengan vitiligo.
3 1

Untuk menyingkirkan berbagai diagnosa banding yang mungkin menyerupai gejala pada pitiriasis alba ini dapat dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya seperti pengujian kalium hidroksida (KOH) untuk menyingkirkan kelainan kulit akibat jamur seperti tinea versicolor, tinea facialis dan tinea korporis. Pemeriksaan penunjang lainnya juga dapat dilakukan
1

VIII. DIAGNOSIS BANDING Beberapa masalah yang bisa menjadi bahan pertimbangan adalah : Hipopigmentasi akibat jamur, pada beberapa proses inflamasi pada kulit seperti dermatitis kontak dapat meninggalkan bekas hipopigmentasi setelah penyembuhan, ini bisa terjadi pada kelainan kulit lainnya misalnya yang disebabkan oleh jamur (seperti tinea versicolor), keadaan inflamasi sebelumnya (postinflammatory

hypopigmentation) atau gangguan idiopatik (seperti vitiligo). Hipopigmentasi juga bisa terjadi sebagai akibat efek samping dari pengobatan seperti penggunaan asam retinoic, benzoil peroksida dan steroid topikal.
1

Nevus depigmentosus, bentuk nevus depigmentosus yang pada kulit harus dibedakan dengan noda di daun. Manifestasi kulit yang paling awal dari tuberous sklerosa, sedangkan bentuk yang teratur mungkin terganggu oleh hipomelanosis ilo, gangguan neurokutaneus yang lain. Eksema nummular, eksema nummular yang sangat gatal. Pigmenting Pitiriasis alba, keadaan ini nampak seperti variasi dari pitiriasis alba klasik. Memperlihatkan suatu kaitan dengan infeksi jamur terutama tinea kapitis. Ciri khas dari bentuk pigmen pitiriasis alba suatu area pusat yang hiperpigmentasi dan dikelilingi oleh bentuk yang sedikit bersisik dan hipopigmentasi.
1 1

Psoriasis, pada orang dewasa dan anak-anak yang lebih tua, awal lesi eritem dari pitiriasis alba mungkin menyebabkan salah pengertian terhadap psoriasis, bagaimanapun, distribusi, tanpa adanya makula dan sedikit di kulit kepala, siku dan lutut meniadakan diagnosis ini.
1

Tinea versicolor , lesi tinea versicolor biasanya terdapat pada lengan atas / bahu anak remaja. Pengujian kalium hidroksida terhadap makula menunjukkan bentuk jamur Malassezia furfur. Vitiligo, merupakan suatu gangguan yan didapat, berlawanan dengan nevus depigmentosus dimana leukoderma sejak lahir stabil. Muka adalah suatu lokasi umum untuk vitiligo, tetapi distribusi paling umum di sekitar mulut atau mata, dan, berlawanan dengan pitiriasis alba, kehilangan pigmen lengkap. IX. PENATALAKSANAAN Pengobatan seringkali tidak memuaskan namun dapat sembuh sendiri. Glukokortikoid topikal biasanya dapat membantu. Skuama dapat dikurangi dengan pemberian krim emolien. Untuk lesi yang kronik pada ekstremitas, salep tar dapat membantu. Hidrokortison topikal 1 % dapat membantu mengurangi peradangan yang muncul.
1, 6 1

Pasien perlu mengguakan pelindung matahari yang cukup untuk mencegah kulit menjadi lebih hitam ketika terpapar sinar matahari. Untuk pitiriasis alba yag ekstensif atau luas, oleh para ahli kulit digunakan terapi PUVA (Psoralen plus Ultraviolet A).
1, 3

Tidak ada perawatan khusus untuk pitiriasis alba, tetapi dengan moisturizing cream bisa membantu memperbaiki penampilan kulit yang kering . Jika makula gatal atau merah, steroiddapat digunakan dalam waktu beberapa hari. Sewaktu bercak sudah normal, digunakan obat kulit berupa cairan dan moisturizer untuk membantu kembalinya kelainan kulit.. Tidak digunakan hidricortisone 1% pada muka untuk waktu yang lama tanpa ada persetujuan dari dokter.
10

X. PROGNOSIS Prognosis pitiriasis alba umumnya baik, dengan repigmentasi yang lengkap diharapkan tidak ada efek sisa yang bersifat jangka panjang. Dengan penanganan bisa memperpendek jangka waktu dari lesi hanya beberapa minggu pada kasus tertentu. XI. KESIMPULAN Pityriasis Alba adalah suatu kelainan kulit yang penyebabnya tidak diketahui. Biasanya terjadi pada anakanak yang berusis 3-16 tahun dimana laki-laki dan perempuan sama, yang ditandai dengan hipopigmentasi, bulat sampai oval Lesi dalam berbagai ukuran, berwarna merah muda atau sesuai warna kulit dengan skuama halus pada umumnya berdiameter 1 4 centimeter. Biasanya terdapat pada daerah muka, leher, lengan atas dan bahu.
1,2,3,4,5, 6 1

Pada umumnya tidak ada perawatan khusus untuk pitiriasis alba, akan tetapi pada makula yang gatal atau eritem dapat digunakan steroid tetapi tidak untuk waktu lama. Untuk lesi yang kronik pada ekstremitas, salep tar dapat membantu. Hidrokortison topikal 1 % dapat membantu mengurangi peradangan yang muncul. Pemberian PUVA juga dapat diberikan untuk pitiriasis alba yang luas.
1, 3, 6

DAFTAR PUSTAKA 1. Crowe MA. Pityriasis alba. Available at http://www.emedicine.com Accessed on October 2005. 2. Arnold HL, Odom RB, James WD. Parapsoriasis, pityriasis rosea, pityriasis rubra pilaris. In: Arnold HL, Odom RB, James WD, eds. Andrews disease of the skin. 8th ed. Philadelphia : WB Saunders Company;1990. p. 227, 230-1 3. Ortonne JP, Bahadoran P, Fitzpatrick TB, Mosher DB, Hori Y. Hypomelanoses and hypermelanoses. In: Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI,eds. Fitspatrick s dermatology in general medicine. 6th edition. New York: McGraw-Hill; 2003. p.858. 4. Anonymous. Common skin disorder in young children III white patches in children. Available at

http://www.nsc.gov.sg Accessed 5. Vinod S, Singh G, Dash K, Grover S. Clinico epidemiological study of pityriasis alba. Indian J dermatol venerol leprol (serial online) 2002 (cited 2005 Oct 19);68:338-340. Available at http://www.ijdvl.com. Accessed on October 2005. 6. Burton JL, Holden CA. Eczema, lichenification and prurigo. In: Champion RH, Burton JL, BurnsDA, Breathnach SM,eds.Rook/wilkinson/ebling textbook of dermatology. Volume 1. 6thedition. Blacwell Science. 1998. p. 664-5 7. Beltrani VS, Boguneiwicz M. Atopic dermatitis. Available at http://dermatology.cdlib.org. Accessed on October 2005. 8. Anonymous. Pityriasis alba. Available at http://www.skinsite.com. Accessed on October 2005. 9. Rook A, Wilkinson DS. Eczema, lichen simplex and prurigo. In: Champion RH, Burton JL, Burns DA, Breathnach SM,eds.Rook/wilkinson/ebling textbook of dermatology. Volume 1. 6thedition. Blacwell Science. 1998. p. 318-9 10.Anonymous. Pityriasis alba. Available at http://www.med.umich.edu. Accessed on October 2005. 11.Meisenheimer JL. Pityriasis alba. Available at http://www.orlandoskindoc.com. Accessed on October 2005. 12. Anonymous. Pittyriasis alba information: pityriasis alba treatment. Available at http://www.cosmeticsdiary.com. Accessed on October 2005. 13. Anonymous. Pityriasis alba. Available at http://www.pennhealth.com. Accessed on October 2005. 14. Vargas, Ocampo F. Pityriasis alba: a histologic study. Available at http://www.ncbi.nlm.nih.gov. Accessed on October 2005.

15. Solomon LM. Eczema. In: Mochella SL, Hurley HJ. Dermatology. 2nd edition. Philadelphia: WB Saunders Company.1985. p. 376-7