Anda di halaman 1dari 30

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Perkembangan dan kemajuan yang telah dicapai dalam melaksanakan

pembangunan nasional telah berhasil meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat. Masyarakat memiliki kemudahan untuk memperoleh dan memanfaatkan hasil-hasil industri baik produksi dalam negeri maupun luar negeri. Namun disamping itu terdapat pula dampak negatif akibat terjadinya kontak kulit manusia dengan produk-produk industri atau pekerjaan yang dilakukannya. Diantaranya adalah penyakit dermatitis kontak yang merupakan respon peradangan terhadap bahan eksternal yang kontak pada kulit. Dikenal dua macam jenis dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan yang merupakan respon non imunologik dan dermatitis kontak alergik yang diakibatkan oleh mekanisme imunologik spesifik, keduanya dapat bersifat akut maupun kronis. Bahan penyebab dermatitis kontak alergik pada umumnya adalah bahan kimia yang terkandung dalam alat-alat yang dikenakan oleh penderita (asesoris, pakaian, sepatu, kosmetika, obat topikal dll), atau yang berhubungan dengan pekerjaan atau hobi (semen, sabun cuci, pestisida, bahan pelarut, bahan cat, tanaman dll) dapat pula oleh bahan yang berada disekitarnya (debu semen, bulu binatang atau polutan yang lain). Disamping bahan penyebab ada faktor penunjang yang mempermudah timbulnya dermatitis kontak tersebut yaitu suhu udara, kelembaban, gesekan dan oklusi. Dermatitis kontak alergik pada lingkungan kerja terjadi lebih sedikit dari pada dermatitis kontak iritan, namun bila hanya ditinjau dari statistik yang ada hal ini dapat menyesatkan karena sesungguhnya banyak dermatitis kontak alergi yang tidak terdiagnosis sehingga tidak dilaporkan. Salah satu penyebab utamanya adalah tidak tersedianya alat / bahan uji tempel (patch test) sebagai sarana diagnostik.

1 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

Menurut Dinas Kesehatan RI, 90% klaim kesehatan akibat kelainan kulit pada pekerja diakibatkan oleh dermatitis kontak. Antigen penyebab utamanya adalah nikel, potasium dikromat dan parafenilendiamin. Konsultasi ke dokter kulit sebesar 4-7% diakibatkan oleh dermatitis kontak. Dermatitis tangan mengenai 2% dari populasi dan 20% wanita akan terkena setidaknya sekali seumur hidupnya. Anak-anak dengan dermatitis kontak 60% akan positif hasil uji tempelnya. Dermatitis kontak alergik yang terjadi akibat kontak dengan bahan-bahan di tempat pekerjaan disebut dermatitis kontak alergik akibat kerja (DKAAK) yang mencapai 25% dari seluruh dermatitis kontak akibat kerja (DKAK). Dermatitis kontak akibat kerja mencapai 90% dari dermatosis akibat kerja (DAK). Prevalensi DKAAK berbeda-beda di tiap negara tergantung macam serta derajat industrialisasi Negara tersebut. Dermatitis kontak akibat kerja yang merupakan salah satu penyakit kelainan kulit yang sering timbul pada industri dapat menurunkan produktifitas pekerja. (Trihapsoro, 2003, Dermatitis Kontak Alergik). 1.2 Rumusan Masalah Dermatitis kontak alergik akibat kerja terjadi sebagai akibat terpajannya kulit oleh bahan yang bersifat alergen di tempat kerja pada individu yang telah tersensitisasi, melalui mekanisme hipersensitivitas tipe lambat. Secara statistik insiden dermatitis kontak alergik akibat kerja lebih sedikit daripada dermatitis kontak iritan akibat kerja ( 20 : 80), dan masih banyak kasus-kasus dermatitis kontak alergik akibat kerja yang tidak terdiagnosis atau dilaporkan. Timbulnya bahan pemeka potensial yang baru, akan meningkatkan insiden dermatitis kontak akibat kerja pada pekerja. Pada saat yang sama beberapa alergen yang semula sering menimbulkan dermatitis kontak akibat kerja akan berkurang atau menghilang. Insiden kepekaan terhadap suatu substansi individual akan tergantung dari banyak variabel seperti faktor individu, jumlah paparan, konsentrasi maksimal yang digunakan dan cara pemakaian.banyaknya kasus dermatitis kontak alergik akibat kerja yang tidak terdiagnosis membuat tim penulis ingin mengetahui gambaran umum dermatitis kontak alergik akibat kerja dan manajemen risikonya. Oleh karena itu, makalah ini diharapkan dapat

2 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

memberikan gambaran umum penyakit dermatitis kontak alergik akibat kerja serta memberikan rekomendasi dalam melakukan manajemen risiko di tempat kerja dan upaya pencegahan penyakit penyakit dermatitis kontak alergik akibat kerja untuk menurunkan risiko pekerja yang terkena penyakit dermatitis kontak alergik akibat kerja. 1.3 Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimanakah anatomi fisiologi kulit ? 2. Apakah hazard atau pajanan yang terdapat pada tempat kerja dan

menjadi penyebab penyakit dermatitis kontak alergik akibat kerja ?


3. Bagaimana mekanisme terjadinya penyakit dermatitis kontak alergik

akibat kerja ?
4. Bagaimana Tes/uji untuk diagnosis penyakit dermatitis kontak alergik

akibat kerja ?
5. Bagaimana cara pencegahan dan pengobatan penyakit dermatitis kontak

alergik akibat kerja ? 1.4 Tujuan Penulisan Dalam suatu industri, aspek K3 penting untuk diterapkan karena menyangkut keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan para pekerjanya yang merupakan refleksi dari kualitas industri. Melalui makalah ini, tim penulis ingin memaparkan mengenai gambaran kejadian penyakit dermatitis kontak alergik pada pekerja secara khusus dan masyarakat pada umumnya serta upaya pencegahan penyakit dermatitis kontak alergik. Selain itu, penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Penyakit Akibat Kerja. 1.5 Metode Penulisan Dalam penulisan makalah ini, tim penulis menggunakan metode kepustakaan atau studi literatur. Beberapa literatur yang digunakan meliputi buku, jurnal ilmiah, dan artikel yang diperoleh dari media cetak dan elektronik.

3 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

1.6

Sistematika Penulisan Makalah ini terdiri dari tiga bab. Bab I merupakan pendahuluan yang

terdiri dari latar belakang, tujuan, rumusan masalah, pertanyaan penelitian, metode penulisan, dan sistematika penulisan. Selanjutnya, Bab II merupakan Tinjauan Pustaka mengenai Dermatitis Kontak Alergik. Kemudian, Bab III merupakan penutup dari makalah ini yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

4 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Anatomi Kulit

Kulit merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh yang menjadi pembungkus seluruh permukaan tubuh yang bersifat elastis dan berfungsi untuk melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan. Kulit memiliki ketebalan yang bervariasi, mulai dari 0,5 mm sampai 6 mm, tergantung dari letak, umur, dan jenis kelamin. Kulit Kulit tipis terletak pada kelopak mata, penis, labium minus dan kulit bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, punggung, bahu, dan bokong. Secara embriologis, kulit terbagi menjadi tiga lapisan pokok, yaitu lapisan luar (epidermis) yang merupakan suatu lapisan epitel, dermis atau korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat, dan jaringan subkutan atau subkutis.

Gambar 1: Tiga Lapisan Kulit Manusia

5 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

(Sumber: Sylvia S. Mader, Inquiry into Life, 8th edition yang dikutip dalam Bantas, 2009. Materi Presentasi Mata Ajar Anatomi Fisiologi).

2.1.1. Kulit bagian Epidermis Epidermis merupakan membran epithel yang tipis yang terletak di lapisan kulit bagian paling luar dan terdiri dari sel-sel epithel squameus yang berlapis. Sel-sel ini secara kontinyu melakukan proliferasi dimulai dari lapisan terbawah, lalu menuju ke sel matang, hingga dibawa ke permukaan. Tebal lapisan epidermis kurang lebih 1 mm dan berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh. Bagian tubuh yang memiliki lapisan epidermis paling tebal yaitu telapak tangan dan kaki. Ketebalan epidermis hanya sekitar 5% dari seluruh ketebalan kulit. Biasanya, regenerasi lapisan epidermis terjadi setiap 4-6 minggu. Sel-sel yang terdapat di dalam epidermis yaitu sel-sel keratinosit yang berfungsi mensintesa keratin apabila terjadi proses diferensiasi dan sel-sel melanosit yang berfungsi sebagai tempat memproduksi melanin yang memberi warna pada kulit. Selain itu epidermis berfungsi untuk melakukan proteksi atau perlindungan barier, pengenalan allergen pada sel Langerhans, sintesis vitamin D dansitokin, dan organisasi sel. Epidermis terdiri dari 5 lapisan yang diurutkan dari lapisan paling atas sampai yang terdalam,
1. Stratum corneum

Stratum corneum tediri dari lebih kurang 20 lapisan sel-sel mati dengan berbagai tingkat. Pembentukan stratum corneum dibutuhkan waktu selama 2 minggu
2. Stratum lucidum

Stratum lucidum terletak di bawah stratum corneum, merupakan lapisan tipis seperti lilin. Biasanya, terdapat pada area kulit tebal telapak tangan dan kaki. Stratum lucidum tidak tampak pada kulit tupis.
3. Stratum granulosum

Berisi 3-5 lapis sel poligonal gepeng yang intinya terletak di tengah dan sitoplasma yang terisi oleh granula basofilik kasar yang dinamakan granula keratohialin. Granula keratohialin ini mengandung protein yang kaya akan histidin yang nantinya akan tumbuh menjadi keratin.
6 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

4. Stratum spinosum

Stratum spinosum merupakan lapisan yang palng tebal dan ketebalannya dapat mencapai 0,2 mm. Stratum spinosum terdiri dari 10 lapisan sel-sel yang terikat satu sama lain dan terdapat berkas-berkas filamen yang dinamakan tonofibril. Filamen-filamen tersebut memegang peranan penting untuk mempertahankan kohesi sel dan melindungi terhadap efek abrasi. Sel-selnya disebut spinosum karena apabila kita lihat di bawah mikroskop sel-selnya terdiri dari sel yang bentuknya polygonal (banyak sudut) dan mempunyai tanduk (spina). Epidermis pada tempat yang terus mengalami gesekan dan tekanan mempunyai stratum spinosum dengan lebih banyak tonofibril. Stratum basale dan stratum spinosum disebut sebagai lapisan Malfigi.
5. Stratum basale (stratum germinativum)

Stratum basale merupakan bagian terdalam dari epidermis. Disebut juga stratum germinativum atau lapisan malphigi yang terdiri dari sel-sel berbentuk silindris (tabung) dengan inti yang lonjong dan mengandung melanosit yang terletak pada lamina (membran) basalis. Sel tersebut disusun seperti pagar (palisade). Sel-sel basalis dengan membran basalis merupakan batas terbawah dari lapisan epidermis dengan lapisan dermis. Batas ini tidak datar, namun bergelombang. Terdapat aktifitas mitosis yang hebat dan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis secara konstan. Epidermis diperbaharui setiap 28 hari secara konstan. Epidermis diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke permukaan dan dipengaruhi oleh letak, usia, dan faktor lainnya. (Bantas, 2009. Materi Presentasi Mata Ajar Anatomi Fisiologi).

7 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

Gambar 2: Lapisan Epidermis Kulit Manusia (Sumber: Sylvia S. Mader, Inquiry into Life, 8th edition yang dikutip dalam Bantas, 2009. Materi Presentasi Mata Ajar Anatomi Fisiologi).

Epidermis juga mengandung kelenjar ekrin, kelenjar apokrin, kelenjar sebaseus, rambut dan kuku. Kelenjar ekrin dan apokrin merupakan kelenjar keringat yang berfungsi untuk mengatur suhu tubuh dan menyebabkan panas dilepaskan dengan cara penguapan. Kelenjar ekrin terdapat di semua daerah di kulit, tetapi tidak terdapat pada lendir. Jumlahnya antara 2 sampai 5 juta dan yang terbanyak terdapat di telapak tangan. Sekretnya cairan jernih, kira-kira 99% mengandung klorida, asam laktat, nitrogen, dan zat lain. Kelenjar apokrin adalah kelenjar keringat besar yang bermuara ke folikel rambut dan terdapat di ketiak, daerah anogenital, putting susu, dan areola. Kelenjar sebaseus terdapat di seluruh tubuh, kecuali di telapak tangan, tapak kaki, dan punggung kaki. Rambut terdapat diseluruh tubuh, rambut tumbuh dari folikel rambut yang berada di dalam epidermis. Folikel rambut dibatasi oleh epidermis sebelah atas dimana dasarnya terdapat papilla yang menjadi tempat rambut tumbuh.
8 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

Kuku merupakan lempeng yang terbuat dari sel tanduk yang menutupi permukaan dorsal ujung jari tangan dan kaki. Lempeng kuku terdiri dari3 bagian, yaitu pinggir bebas, badan dan akar yang melekat pada kulit dan dikelilingi oleh lipatan kulit lateral dan proksimal. Fungsi kuku menjadi penting waktu mengutip benda-benda kecil. 2.1.2. Kulit bagian Dermis Dermis merupakan lapisan kedua pada kulit manusia. Dermis memiliki ketebalan yang sedikit lebih tebal dari tebal epidermis. Batas dengan epidermis dilapisi oleh membran basalis dan di sebelah bawah berbatasan dengan subkutis. Akan tetapi batas sebelah bawah tidak terlihat jelas, sehingga ditetapkan bahwa batas sebelah bawah epidermis dengan demis adalah mulainya terdapat sel lemak. Dermis terdiri dari dua lapisan yaitu bagian atas, pars papilaris (stratum papilar) dan bagian bawah, retikularis (stratum retikularis). Pars papilaris maupun pars retikularis terdiri dari jaringan ikat longgar yang tersusun dari serabutserabut yaitu serabut kolagen, serabut elastis dan serabut retikulus. Serabut ini saling beranyaman dimana masingmasing mempunyai tugas yang berbeda. Serabut kolagen mempunyai tugas untuk memberikan kekuatan kepada kulit sedangkan retikulus, terdapat terutama di sekitar kelenjar dan folikel rambut bertugas untuk memberikan kekuatan pada alai tersebut. Pada lapisan dermis kulit manusia terdapat pembuluh darah dan titik-titik saraf. Selain itu, terdapat juga limposit, sel mast, histiosit, dan leukosit. Dermis juga memiliki adneksa yang menjadi tempat asal mula tumbuhnya rambut, kuku, serta sebagai tempat terdapatnya apokrin dan sebacea (Ahira, 2011. Anatomi Fisiologi Kulit Manusia).

9 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

Gambar 3: Lapisan Dermis Kulit Manusia (Sumber: Sylvia S. Mader, Inquiry into Life, 8th edition yang dikutip dalam Bantas, 2009. Materi Presentasi Mata Ajar Anatomi Fisiologi).

2.1.3. Lemak subkutan Lemak subkutan merupakan lanjutan dari dermis dimana lapisan subkutan ini terdiri dari jaringan ikat. Lemak subkutan berfungsi untuk proteksi terhadap goncangan mekanis dan membentuk kontur tubuh. Pada bagian kulit ini, terdapat juga kelenjar keringat dan kelenjar sebacea (Bantas, 2009. Materi Presentasi Mata Ajar Anatomi Fisiologi). Subkutis terdiri dari kumpulankumpulan selsel lemak dan di antara gerombolan ini berjalan serabutserabut jaringan ikat dermis. Selsel lemak ini bentuknya bulat dengan intinya terdesak ke pinggir, sehingga membentuk seperti cincin. Lapisan lemak ini disebut penikulus adiposus yang tebalnya tidak sama pada tiaptiap tempat dan juga pembagian antar lakilaki dan perempuan tidak sama (berlainan). Guna penikulus adiposus adalah sebagai shock braker atau pegas bila tekanan trauma mekanis yang menimpa pada kulit, isolator panas atau untuk mempertahankan suhu, penimbunan kalori, dan tambahan untuk kecantikan tubuh. Di bawah subkurtis terdapat selaput otot kemudian baru terdapat otot.

10 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

Gambar 4. Bagian-bagian Kulit Manusia (Sumber: Sylvia S. Mader, Inquiry into Life, 8th edition yang dikutip dalam Bantas, 2009. Materi Presentasi Mata Ajar Anatomi Fisiologi).

2.2. Fisiologi Kulit

Kulit merupakan organ paling luas permukaannya yang membungkus seluruh bagian luar tubuh sehingga kulit sebagai pelindung tubuh terhadap bahaya bahan kimia, cahaya matahari mengandung sinar ultraviolet dan melindungi terhadap mikroorganisme serta menjaga keseimbangan tubuh terhadap lingkungan. Kulit menjadi indikator bagi seseorang untuk memperoleh kesan umum dengan melihat perubahan yang terjadi pada kulit. Misalnya menjadi pucat, kekuningkuningan, kemerahmerahan atau suhu kulit yang meningkat, dapat memperlihatkan adanya kelainan yang terjadi pada tubuh berupa gangguan kulit yang disebabkan oleh penyakit tertentu. Gangguan psikis juga dapat menyebabkan kelainan atau perubahan pada kulit. Misalnya karena stress, ketakutan ataupun berada dalam keadaaan marah, akan menyebabkan terjadinya perubahan pada kulit wajah. Perubahan struktur
11 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

kulit dapat menentukan apakah seseorang telah lanjut usia atau masih muda. Wanita atau pria juga dapat membedakan penampilan kulit. Warna kulit juga dapat menentukan ras atau suku bangsa misalnya kulit hitam suku bangsa negro, kulit kuning bangsa mongol, kulit putih dari eropa dan lain-lain. Perasaan pada kulit adalah perasaan reseptornya yang berada pada kulit. Pada organ sensorik kulit terdapat 4 perasaan yaitu rasa raba/tekan, dingin, panas, dan sakit. Kulit mengandung berbagai jenis ujung sensorik termasuk ujung saraf yang tidak bermielin. Pelebaran ujung saraf sensorik terminal dan ujung yang berselubung ditemukan pada jaringan ikat fibrosa dalam. Saraf sensorik berakhir sekitar folikel rambut, tetapi tidak ada ujung yang melebar atau berselubung untuk persarafan kulit. Penyebaran kulit pada berbagai bagian tubuh berbeda-beda dan dapat dilihat dari keempat jenis perasaan yang dapat ditimbulkan dari daerah-daerah tersebut. Pada pemeriksaan histologi, kulit hanya mengandung saraf tidak bermielin yang berfungsi sebagai mekanoreseptor yang memberikan respon terhadap rangsangan raba. Ujung saraf sekitar folikel rambut menerima rasa raba dan gerakan rambut menimbulkan perasaan (raba taktil). Walaupun reseptor sensorik kulit kurang menunjukkan ciri khas, tetapi secara fisiologis fungsinya spesifik. Satu jenis rangsangan dilayani oleh ujung saraf tertentu dan hanya satu jenis perasaan kulit yang disadari.
2.3. Fungsi Kulit

Kulit pada manusia mempunyai fungsi yang sangat penting selain menjalin kelangsungan hidup secara umum yaitu : 1. Proteksi Kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisik atau mekanis, misalnya terhadap gesekan, tarikan, gangguan kimiawi yang dapat menimbulkan iritasi (lisol, karbol dan asam kuat). Gangguan panas misalnya radiasi, sinar ultraviolet, gangguan infeksi dari luar misalnya bakteri dan jamur. Karena adanya bantalan lemak, tebalnya lapisan kulit dan serabut serabut jaringan penunjang berperan sebagai pelindung terhadap gangguan

12 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

fisik. Melanosit turut berperan dalam melindungi kulit terhadap sinar matahari dengan mengadakan tanning (pengobatan dengan asam asetil). 2. Proteksi rangsangan kimia Proteksi terhadap rangsangan kimia dapat terjadi karena sifat stratum korneum yang impermeable terhadap berbagai zat kimia dan air. Di samping itu terdapat lapisan keasaman kulit yang melindungi kontak zat kimia dengan kulit. Lapisan keasaman kulit terbentuk dari hasil ekskresi keringat dan sebum yang menyebabkan keasaman kulit antara pH 5-6,5. Ini merupakan perlindungan terhadap infeksi jamur dan selsel kulit yang telah mati melepaskan diri secara teratur. 3. Absorbsi Kulit yang sehat tidak akan mudah menyerap air, larutan ataupun benda padat, tetapi cairan yang mudah menguap lebih mudah diserap, begitu juga yang larut dalam lemak. Permeabilitas kulit terhadap O2, CO2 dan uap air memungkinkan kulit ikut mengambil bagian pada fungsi respirasi. Kemampuan absorbsi kulit dipengaruhi tebal tipisnya kulit, hidrasi, kelembapan dan metabolisme. Penyerapan dapat berlangsung melalui celah di antara sel, menembus selsel epidermis, atau melalui saluran kelenjar dan yang lebih banyak melalui selsel epidermis. 4. Pengatur panas Suhu tubuh tetap stabil meskipun terjadi perubahan suhu lingkungan. Hal ini dikarenakan adanya penyesuaian antara panas yang dihasilkan oleh pusat pengatur panas, medulla oblongata. Suhu normal dalam tubuh yaitu suhu visceral 36-37,5C untuk suhu kulit lebih rendah. Pengendalian persarafan dan vasomotorik dari arterial kutan ada dua cara yaitu : vasodilatasi merupakan pelebaran kapiler yang menyebabkan kulit menjadi panas dan kelebihan panas dipancarkan ke kelenjar keringat sehingga terjadi penguapan cairan pada permukaan tubuh; dan vasokonstriksi merupakan pembuluh darah yang mengerut dan menyebabkan kulit menjadi pucat dan dingin, hilangnya keringat dibatasi, dan panas suhu tubuh tidak dikeluarkan.

13 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

5. Ekskresi Kelenjarkelenjar kulit mengeluarkan zatzat yang tidak berguna lagi atau zat sisa metabolisme dalam tubuh berupa NaCl, urea, asam urat, dan amonia. Sebum yang diproduksi oleh kulit berguna untuk melindungi kulit karena lapisan sebum (bahan berminyak yang melindungi kulit) ini menahan air yang berlebihan sehingga kulit tidak menjadi kering. Produksi kelenjar lemak dan keringat menyebabkan keasaman pada kulit. 6. Persepsi Kulit mengandung ujungujung saraf sensorik di dermis dan subkutis. Respons terhadap rangsangan panas diperankan oleh dermis dan subkutis, terhadap dingin diperankan oleh dermis, peradaban diperankan oleh papila dermis dan markel renvier, sedangkan tekanan diperankan oleh epidermis. Serabut saraf sensorik lebih banyak jumlahnya di daerah yang erotik. 7. Pembentukan Pigmen Sel pembentukan pigmen (melanosit) terletak pada lapisan basal dan sel ini berasal dari rigi saraf. Melanosit berfungsi untuk membentuk warna kulit. Enzim melanosum yang dibentuk oleh alat golgi dengan bantuan tirosinase, ion Cu, dan O2 terhadap sinar matahari dapat memengaruhi melanosum. Pigmen disebar ke epidermis melalui tangantangan dendrit sedangkan lapisan di bawahnya dibawa oleh melanofag. Warna kulit tidak selamanya dipengaruhi oleh pigmen kulit melainkan juga oleh tebal-tipisnya kulit, reduksi Hb dan karoten. 8. Keratinisasi Keratinosit dimulai dari sel basal yang mengadakan pembelahan. Sel basal yang lain akan berpindah ke atas dan berubah bentuk menjadi sel spinosum. Makin ke atas sel ini semakin gepeng dan bergranula menjadi sel granulosum. Semakin lama intinya menghilang dan keratinosit ini menjadi sel tanduk yang amorf. Proses ini berlangsung terus menerus seumur hidup. Keratinosit melalui proses sintasis dan degenerasi menjadi lapisan tanduk yang berlangsung kirakira 14-21 hari dan memberikan perlindungan kulit terhadap infeksi secara mekanis fisiologik.

14 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

9. Pembentukan vitamin D Dengan mengubah dehidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar matahari. Tetapi kebutuhan vitamin D tidak cukup dengan hanya dari proses tersebut. Pemberian vitamin D sistemik masih tetap diperlukan. (Bantas, 2009. Materi Presentasi Mata Ajar Anatomi Fisiologi).
2.4. Interaksi Pajanan di Tempat Kerja

Interaksi terhadap berbagai jenis pajanan di tempat kerja dapat menyebabkan gangguan kulit. Gangguan kulit yang banyak terjadi di tempat kerja adalah dermatosis akibat kerja, salah satunya adalah dermatitis kontak akibat kerja. Dermatitis kontak akibat kerja merupakan suatu respon dari kulit dalam bentuk peradangan yang dapat bersifat akut maupun kronik, karena paparan dari bahan iritan eksternal yang berasal dari tempat kerja yang mengenai kulit, (LaDau, 1997 yang dikutip dalam Lestari dan Utomo, 2007). Terdapat dua jenis dermatitis kontak akibat kerja yaitu, dermatitis kontan iritan akibat kerja dan dermatitis kontak alergik akibat kerja. Dermatitis kontak iritan akibat kerja merupakan suatu reaksi inflamasi lokal pada kulit yang bersifat non imunologik, ditandai dengan adanya eritema dan edema setelah terjadi pajanan bahan kontaktan dari luar yang berada di tempat kerja. Bahan kontak ini dapat berupa bahan fisika atau kimia yang dapat menimbulkan reaksi secara langsung pada kulit. Pada beberapa literatur, Dermatitis Kontak Iritan terbagi dalam dua tipe yaitu tipe akut dan tipe kronis, (Firdaus, 2002 yang dikutip dalam Lestari dan Utomo, 2007). Sedangkan dermatitis kontak alergik akibat kerja merupakan dermatitis kontak alergik yang didasari oleh reaksi imunologis berupa reaksi hipersensitivitas tipe IV dengan perantara sel limfosit T, (Putro, 1985 yang dikutip dalam Lestari dan Utomo, 2007). 2.5. Dermatitis Kontak Alergik dan Penyebabnya Dermatitis kontak alergik akibat kerja dapat terjadi karena beberapa tahap. Pekerja mungkin saja mengalami kontak tanpa disadari secara terus menerus dengan allergen tanpa menunjukkan gejala apapun yang bisa berlangsung seumur hidup atau beberapa hari saja. Dermatitis kontak alergik akibat kerja didefinisikan

15 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

sebagai bentuk hipersensitivitas tipe lambat (tipe IV) yang berasal dari pengembangan sel limfosit T imunitas pada tubuh individu yang mengalami kontak dengan allergen. Pengaruh allergen tergantung pada kemampuannya mengubah permukaan luar lapisan kulit yang bekerja sebagai barier pertahanan kulit terhadap bahan beracun. Beberapa allergen mampu menyingkirkan lemak, minyak serta air dari lapisan terluar kulit yang dengan sendirinya mengurangi daya proteksi kulit dan membuat zat itu lebih mudah berpenetrasi ke dalam kulit. Saat penetrasi terjadi, bahan kimia bergabung dengan protein kulit kemudian dibawa oleh leukosit (limfosit T) ke seluruh tubuh. Periode dari terkena kontak dengan respon imunitas berkisar dari 5-21 hari. Selama periode ini berlangsung, belum ada tanda-tanda perusakan kulit. Terjadinya dermatitis kontak alergik akbat kerja berlangsung dalam dua tahap, yaitu tahap induksi (sensitivitasi) dan tahap elisitasi. Menurut Firdaus (2002) yang dikutip dalam Lestari dan Utomo (2007), tahap sensitivitasi dimulai dengan masuknya antigen (hapten berupa bahan iritan) melalui epidermis. Kemudian sel langerhans yang terdapat di epidermis menangkap antigen tersebut selanjutnya akan diproses dan diinterpretasikan pada sel limfosit T. Limfosit T merupakan bagian dari sistem imun yang melindungi tubuh dari kuman atau benda asing. Sistem imun memiliki memori untuk mengenali dan menetralkan kuman atau benda asing yang masuk ke tubuh lebih dari sekali. Limfosit T mengalami proliferasi dan diferensiasi pada kelenjar getah bening, sehingga terbentuk limfosit T yang tersensitivitasi. Fase elisitasi terjadi jika terdapat pajanan ulang dari antigen yang sama. Antigen yang telah dikenali akan mempengaruhi limfosit T yang telah tersensitivitasi yang kemudian bereaksi dengannya dan juga dilepaskannya zat kimia yang merusak jaringan yang disebut histamine atau limfokin. Histamine ini menyebabkan peradangan pada kulit lokal dengan gejala rasa gatal, nyeri, eritema, urtika, dan pembentukan vesikel atau bulla pada kulit sebagai bentuk dermatitis kontak alergik. Peradangan/inflamasi biasanya terbatas pada tempat kontak dengan allergen, tetapi pada kasus yang berat dapat menyebar ke seluruh bagian tubuh. Biasanya dimulai dalam 12 jam sejak terpajan dan akan memburuk setelah 3 sampai 4 hari, dan secara lambat

16 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

akan membaik dalam waktu 7 hari. Hal inilah yang selanjutnya menimbulkan gejala klinis dermatitis kontak alergik pada pekerja. Dermatitis kontak alergik akibat kerja dapat berlangsung seumur hidup, namun apabila tidak ada kontak lanjutan dengan allergen, tingkat sensitivitasinya secara lambat akan menurun. Kurang lebih 25-30 % dari seluruh kasus dermatitis kontak di tempat kerja merupakan kasus dermatitis kontak alergik.

17 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

F sensitisasi ase

Gambar 5. Fase Sensitisasi dan Elisitasi Sumber: http://www.scribd.com/doc/36286589/Dermatitis

18 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

2.6. Pekerja Berisiko Menurut Keefner (2004) yang dikutip dalam Febriani (2009), di Indonesia, pekerja yang memiliki risiko menderita penyakit dermatitis kontak alergik akibat kerja adalah petugas kehutanan, nelayan, polisi lalu lintas, pembuat parfum, dan sebagainya.

Gambar 6. Bagian-bagian Kulit yang Terkena Dermatitis Kontak Alergik Sumber: http://www.scribd.com/doc/36286589/Dermatitis

2.7. Gejala Klinik dan Dasar Diagnosis Gejala Klnik Gejala awal dari dermatitis kontak alergik akibat kerja biasanya ditandai dengan rasa gatal di area kulit yang menjadi tempat terjadinya kontak dengan allergen. Area gatal tersebut dapat berkembang menjadi daerah kemerahan

19 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

yang ringan dan berlangsung hanya sekejap sampai kepada pembengkakan hebat bahkan lepuhan kulit yang terasa gatal (vesikel). Apabila paparan allergen berlanjut, maka kulit pekerja dapat menjadi kering, bersisik tebal, dan lebih parahnya lagi dapat menyebabkan perubahan pigmentasi (warna kulit). Dasar Diagnosis Dasar diagnosis untuk penyakit dermatitis kontak alergik akibat kerja umumnya sama dengan gambaran klinis penyakit kulit yang bukan akibat kerja. Identifikasi agen etiologis dermatitis kerja dapat dibedakan dengan membedakan paparan kerja terhadap resin epoksi. Gambaran untuk mendiagnosis penyakit kulit akibat kerja antara lain:
Gambaran klinis, lokalisasi, dan perjalanan penyakit harus sepenuhnya

sesuai dengan ciri- ciri penyakit kerja yang pasti


Paparan kerja terhadap agen berbahaya perlu dipastikan Harus ada hubungan waktu yang masuk akal antara timbulnya penyakit

kulit dan paparan terhadap agen yang dicurigai (masa laten- masa inkubasi pada penyakit infeksi, timbulnya sensitisasi pada dermatitis)
Uji tempel memberi hasil yang positif dan dapat dikonfirmasi dengan

pemeriksaan laboratorium lainnya


Timbulnya penyakit kulit memberi petunjuk bahwa penyakit tersebut

beretiologi kerja Harus ada respon positif terhadap penjauhan pekerjaan dengan paparan. Sebagai acuan, ketika penyakit menyembuh jika tidak hadir di tempat kerja. Contohnya, pada waktu libur sembuh namun kambuh setelah kembali bekerja. (WHO, Deteksi Dini Penyakit Akibat Kerja). Metode Diagnosis Melakukan anamnesis Dalam melakukan anamnesis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Diantaranya yaitu:
Alat ukur yang digunakan adalah Pedoman Pemeriksaan Fisik untuk

Dermatitis Skin Examination yang diadopsi dari Health and Safety Executive Inggris (HSE UK).
20 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

Data-data terkait dengan bahan kimia yang digunakan oleh pekerja

dimana data ini diperoleh dari data sekunder perusahaan atau datadata yang terdapat pada label atau MSDS bahan kimia tersebut. Datadata pada arsip, catatan serta laporan mengenai berbagai kasus penyakit akibat kerja juga dikumpulkan dari pihak klinik perusahaan.
Pengukuran keluhan subyektif juga dilakukan untuk mengetahui

keluhan subyektif pada sampel penelitian dengan cara wawancara menggunakan kuesioner yang diadopsi dari HSE UK19. Observasi di tempat kerja juga dilakukan untuk mengetahui kondisi yang dapat berpengaruh terhadap terjadinya dermatitis kontak alergik akibat kerja. Pemeriksaan klinis Pemeriksaan penunjang dan IgE. Pemeriksaan kadar IgE total dan IgE spesifik. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menunjang diagnosis penyakit dermatitis kontak alergi. Apabila kadar IgE serum meningkat pada pekerja, maka derajat peningkatannya sejajar dengan luas dan beratnya penyakit.
Pemeriksaan lainnya (sesuai kriteria yang dipakai atau atas indikasi),

Pemeriksaan laboratorium rutin: darah tepi, urin, tinja, eosinofil total,

apabila diperlukan, maka dapat dirujuk ke dokter spesialis kulit atau rumah sakit rujukan dari klinik perusahaan (Sumber: Buku Panduan Dermatitis Atopic, FKUI). Uji Spesifik Atopy Patch Test (APT) atau Uji Tempel Uji spesifik yang dilakukan yaitu, Atopy Patch Test (APT) atau uji tempel, yang digunakan untuk mendiagnosis alergi makanan dan allergen hirup pada pekerja. Larutan yang berisi ekstrak makanan atau allergen hirup ditempelkan pada kulit. Bila dikombinasi dengan hasil pemeriksaan IgE spesifikpenempelan alergen yang dicurigai dengan kadar non-iritatif pada suatu bagian kulit pekerja yang tidak terkena selama 24-28 jam. Namun, diagnosa ini menyalahi kode etik karena pada mulanya pekerja yang akan
21 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

dilakukan uji tempel tidak alergi. Tetapi setelah dilakukan uji tersbeut pekerja mungkin saja menjadi sensitif terhadap alergen yang diuji.

Uji Eliminasi dan Provokasi Oral

Uji ini dapat mendeteksi reaksi alergi yang diperantarai oleh IgE maupun yang tidak diperantarai IgE. Kekurangan uji ini adalah memerlukan waktu yang lama, dan karena dapat menimbulkan reaksi alergi yang berat. (Sumber: Buku Panduan Dermatitis Atopic, FKUI). 2.8. Metode Surveilans Surveilans adalah suatu rangkaian kegiatan yang dimulai dengan tahapan kegiatan pengumpulan data, dilanjutkan dengan analisis data dengan menggunakan frekuensi distribusi penyakit berdasarkan determinan yang diduga sebagai faktor risiko, kemudian dikomunikasikan untuk selanjutnya dapat diambil tindakan pencegahan. Ruang lingkup surveilans kesehatan kerja adalah sumber hazard di lingkungan kerja dan efek kesehatan pada pekerja yang ditimbulkan oleh pajanan hazard terkait (Kurniawidjaja, 2010). 2.8.1. Surveilans Hazard Kesehatan Surveilans hazard kesehatan adalah serangkaian kegiatan identifikasi, pengukuran pajanan, analisis dan komunikasi hazard kesehatan yang spesifik bagi populasi pekerja berisiko dengan cara yang sistematis dan kontinu untuk digunakan bagi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Kurniawidjaja, 2010). Hazard kesehatan yang perlu dilakukan identifikasi untuk mengetahui potensinya dalam menyebabkan dermatitis kontak alergik akibat kerja, yaitu: Hazard Lingkungan 1. Hazard Kimia - Iritan primer
- Sensitizer

: logam dan garam-garamannya (kromium, nikel, kobalt); resin 9 epoksiresin, formaldehid, vinil); tanam-tanaman (primula dan chrysanthemum)

- Agen-agen aknegenik : naftalen


- Photosensitizer : hidrokarbon aromatik klor, pewarna akridin

22 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

2. Hazard Fisik - Panas Lingkungan kerja yang panas menyebabkan pekerja mudah berkeringat sehingga dapat melarutkan beberapa jenis serbuk kimia serta meningkatkan toksisitasnya. - Kelembaban udara Kelembaban udara yang rendah di tempat kerja dapat menyebabkan udara di sekitar tempat kerja menjadi kering. Udara kering di tempat kerja dapat menyebabkan kulit pekerja menjadi retak-retak dan meningkatkan potensi terjadinya dermatitis kontak alergik. 3. Hazard Biologik Hazard biologik dapat berupa mikroorganisme, seperti fungi, mikroba, dan parasit. Hazard Perilaku Hazard perilaku dapat berupa tidak mencuci tangan setelah melakukan kontak dengan hazard-hazard yang ada di tempat kerja sehingga dapat meningkatkan potensi terjadinya dermatitis kontak alegik akibat kerja. Hazard Pengorganisasian dan Budaya Kerja Lama Kerja Lama kerja mempengaruhi kejadian dermatitis kontak akibat kerja. Lama kontak dengan bahan kimia yang terjadi akan meningkatkan terjadinya dermatitis kontak akibat kerja. Semakin lama kontak dengan bahan kimia, maka peradangan atau iritasi kulit dapat terjadi sehingga menimbulkan kelainan kulit. Frekuensi kerja Frekuensi kerja yang berulang untuk bahan yang mempunyai sifat sensitisasi akan menyebabkan terjadinya dermatitis kontak jenis alergi, yang mana bahan kimia dengan jumlah sedikit akan menyebabkan dermatitis yang berlebih baik luasnya maupun beratnya tidak proporsional.

23 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

Kebiasaan memakai APD

Kebiasaan memakai APD seperti sarung tangan juga harus diperhatikan untuk emnghindari pajanan bahan-bahan yang berpotensi menimbulkan dermatitis kontak alergik. 2.8.2. Surveilans Efek Kesehatan Pekerja Merupakan serangkaian kegiatan pengumpulan, analisis, komunikasi data kesehatan yang spesifik bagi populasi pekerja berisiko dengan cara sistematis dan kontinu untuk digunakan bagi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Kurniawidjaja, 2010). Faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan penyakit dermatitis kontak alergik akibat kerja berdasarkan karakteristik pekerja adalah sebagai berikut. Kontak dengan bahan kimia Kontak dengan bahan kimia merupakan penyebab terbesar dermatitis kontak alergik akibat kerja. Faktor keturunan Faktor keturunan mempengaruhi timbulnya reaksi kepada tenaga kerja yang bervariasi meskipun disebabkan oleh allergen yang sama. Umur pekerja Ras Ras dapat mempengaruhi timbulnya reaksi sensitivitas pada pekerja. Ras kaukasia memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan ras negro. Jenis kelamin 2.9. Program Promosi dan Pencegahan Menurut Leavell dan Clarck, ada 5 tingkat pencegahan penyakit. Di mana tahap 1 dan 2 merupakan pencegahan primer, pencegahan sekunder adalah tahap ke-3 dan 4, dan pencegahan tersier adalah tahap ke-5. 1. 2. 3. Promosi kesehatan Perlindungan khusus Deteksi dini dan pengobatan segera
24 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

4. 5.

Pembatasan kecacatan Rehabilitasi Dalam kaitannya dengan dermatitis kontak alergik berikut adalah program-

program pencegahan yang dapat dilakukan berdasarkan ke-5 tingkat pencegahan tersebut. 1. Pencegahan Primer Dalam pencegahan primer terdapat promosi kesehatan dan perlindungan khusus. Memberikan informasi, komunikasi, dan edukasi terkait bahaya dan risiko penyakit kulit yang muncul di tempat kerja merupakan langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam tingkat pencegahan ini. Mengedukasi terkait bahaya dan risiko yang terdapat di lingkungan kerja serta pelatihan penanganan proses kerja yang dapat menimbulkan risiko. Memberikan intervensi seperti pentingnya mencuci tangan. Mencuci tangan menggunakan sabun tertentu yang dapat menghilangkan bahan kimia dapat yang menempel pada tangan agar mencegah semakin parahnya kondisi kulit karena tangan yang lembab akibat menempelnya bahan kimia di tangan. Hal tersebut berguna untuk meningkatkan pekerja atas kesadaran untuk menjaga dan merawat kebersihan diri. Selain itu menjaga kebersihan pakaian dengan mencuci pakaian terutama untuk mengurangi potensi bahaya DKA akibat terjadinya kontak dengan bahan kimia yang menempel di pakaian. Selain itu petugas kesehatan mampu mendorong pekerja menjadi perhatian terhadap penyakit kulit di sekitar lingkungan kerjanya dengan melaporkan kasus pekerja yang sakit. 2. Pencegahan Sekunder Deteksi dini dan pengobatan segera serta pembatasan kecacatan termasuk ke dalam bagian pencegahan sekunder. Petugas surveilans kesehatan dalam hal ini petugas kesehatan kerja mendeteksi munculnya gejala awal dermatitis kontak alergik seperti kulit kering dan kemerahan. Kondisi awal kesehatan memudahkan prognosis yang lebih baik. Selain itu petugas kesehatan kerja dapat melihat surveilans kesehatan kerja untuk melakukan diagnose awal penyakit Dermatitis kontak alergik. Macam-macam diagnosis dini:

25 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

Pemeriksaan sebelum penempatan pekerja Pemeriksaan sebelum penempatan meliputi riwayat medis dan pemeriksaan fisik dengan perhatian khusus pada kulit (seluruh tubuh) dan alergi (atopi). Pemeriksaan berkala Uji tempel tidak dianjurkan untuk skrining subjek yang tidak menimbulkan gejala. Selang waktu pemeriksaan biasanya antara 6 bulan sampai 2 tahun, tergantung pada tingkat paparan di tempat kerja. (WHO, Deteksi dini penyakit akibat kerja). Petugas kesehatan kerja wajib mencatat pekerja yang dinilai memiliki risiko terhadap penyakit Dermatitis kontak alergik untuk mengontrol pajanan yang menyebabkan risiko tersebut agar tidak mengenai pekerja lain. Selain itu pekerja yang mungkin berisiko segera dirujuk kepada pihak medis untuk melihat benar atau tidaknya pekerja menderita penyakit akibat kerja untuk dapat dilakukan upaya pertolongan segera. 3. Pencegahan Tersier (Rehabilitasi) Mendorong pekerja untuk mematuhi segala peraturan dan melakukan upaya pencegahan atau pengendalian kontak dengan zat alergen agar pekerja tidak kambuh alerginya. Kemudian pihak manajemen dapat melakukan pemindahan pekerja ke area kerja yang tidak menimbulkan alergi. Pekerja dengan dermatitis kontak alergika hampir selalu dipindahkan dengan ke tempat kerja lain yang bebas dari alergen penyebab. Pemindahan kerja permanen mungkin diperlukan untuk menjauhkan selamanya dari paparan agen penyebab. Namun jenis pengendalian ini dilihat terasa kurang manusiawi karena memunculkan pekerja baru untuk terkena penyakit yang sama dengan pekerja sebelumnya. 2.10. Rekomendasi dan Pengendalian Ada beberapa rekomendasi yang dapat tim penulis berikan untuk mengendalikan risiko timbulnya dermatitis kontak alergik di tempat kerja, yaitu: Eliminasi Pada tahap eliminasi, yang dapat dilakukan yaitu menghilangkan zat-zat yang menyebabkan kontak allergen.
26 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

Subtitusi Pada tahap subsitusi, yang dapat dilakukan adalah mengganti zat berbahaya dengan zat yang kurang berbahaya sehingga dapat meminimalisir terjadinya dermatitis kontak alergik akibat kerja. Engineering

Menggunakan local exhaust system untuk mengalirkan zat- zat

berbahaya dari ruang kerja. Menggunakan alat (handling tool) untuk menghindari kontak

langsung antara zat dengan pekerja. Administratif

Membatasi jumlah dan lama kontak pekerja dengan zat tertentu

penyebab allergen. Pembatasan tersebut dengan melihat Occupational Exposure Limits (OELs) atau Threshold Limit Values (TLVs) yang dapat diterapkan bagi pekerja yang melakukan kontak dengan bahan kimia selama rata-rata 8 jam per hari. Menerapakan peraturan seperti CHIP Regulations (Chemicals

Hazard Information and Packaging for Supply) dengan memperhatikan label dan SDS pada bahan kimia berbahaya yang digunakan pada proses kerja.

Penyediaan fasilitas kebersihan seperti keran air, sabun yang

mampu membersihkan bahan kimia dari tangan namun tidak merusak lapisan tangan.
Alat Pelindung Diri (APD)

Menggunakan pakaian pelindung, sarung tangan, sepatu safety, dan

penutup wajah. Menggunakan sarung tangan yang baik (tidak rusak, robek).

Kemudian segera mengganti sarung tangan yang sudah rusak.

27 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

Menggunakan krim pelindung tangan, yang dapat dipakai

berbarengan dengan penggunaan sarung tangan.

PENUTUP

3.1. Simpulan Dermatitis kontak alergik akibat kerja didefinisikan sebagai bentuk hipersensitivitas tipe lambat (tipe IV) yang berasal dari pengembangan sel limfosit T imunitas pada tubuh individu yang mengalami kontak dengan allergen. (Sumber: Buku Panduan Dermatitis Atopic, FKUI) Terjadinya dermatitis kontak alergik akbat kerja berlangsung dalam dua tahap, yaitu tahap induksi (sensitivitasi) dan tahap elisitasi. Tahap sensitivitasi dimulai dengan masuknya antigen (hapten berupa bahan iritan) melalui epidermis. Sedangkan fase elisitasi terjadi jika terdapat pajanan ulang dari antigen yang sama. . 3.2. Saran Saran yang dapat diberikan oleh tim penulis adalah sebagai berikut.
Pekerja yang bekerja di tempat kerja yang memiliki risiko tinggi terjadinya

dermatitis kontak alergik harus melakukan pemeriksaan secara berkala


Pekerja yang terpajan dengan bahan-bahan allergen harus melaporkan

setiap keluhan yang dirasakan


Bagian HSE (Health Safety Environmental) harus cepat dalam mengambil

tindakan terhadap keluhan yang dirasakan setiap pekerja


28 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

Perlunya progam pencegahan dan pengendalian dermatitis kontak yang

memadai untuk mencegah terjadinya penyakit dermatitis kontak alergik akibat kerja pada pekerja
Perlunya dilakukan pengawasan terhadap pekerja dan area kerja yang

terpajan oleh zat-zat alergen


Penyediaan APD yang sesuai dengan tempat kerja

Referensi: Bantas, Krisnawati. 2009. Materi Presentasi Mata Ajar Anatomi Fisiologi. FKM UI Depok. Bigby, Michael E. 2005. Contact Dermatitis. Preventing Occupational Disease and Injury Second Edition. American Public Health Association: Washington DC. Lestari, Fatma dan Hari Suryo Utomo. 2007. Faktor- Faktor yang Berhubungan dengan Dermatitis Kontak pada Pekerja di PT Inti Pantja Press Industri. Makara Kesehatan Vol. 11, No. 2, Desember 2007: 61-68). Health and Safety Executive. 2008. Work Related Contact Dermatitis: Disease Reduction Programme (DRP) Skin Disease Program. (Diakses pada http://www.hse.gov.uk/foi/internalops/fod/inspect/dermatitis.pdf, pada 31 Oktober 2011, pukul 20.05 WIB) Health and Safety Authority. 2009. Guidelines on Occupational Dermatitis. James Joyce Street, Dublin. (Diakses melalui http://www.hsa.ie/eng/Publications_and_Forms/Publications/Occupational_Healt h/Guidelines_on_Occupational_Dermatitis.pdf, pada 28 Oktober 2011, pukul 16.35)

29 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011

Dermatitis, Allergic Contact. (diakses melalui http://www.ccohs.ca/oshanswers/diseases/allergic_derm. pada 28 Oktober 2011, pukul 17.00) Hudyono J. Dermatosis akibat kerja. Majalah Kedokteran Indonesia . November 2002.

30 Dermatitis Kontak Alergik Kelompok 11-Penyakit Akibat Kerja-2011