Anda di halaman 1dari 68

PANDUAN INSPEKSI PENAATAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN INDUSTRI PENGOLAHAN SUSU

Diterbitkan Oleh : Asisten Deputi Urusan Pengendalian Pencemaran Agroindustri Deputi MENLH Bidang Pengendalian Pencemaran Kementerian Negara Lingkungan Hidup Tahun 2006

Tim Penyusun Pengarah : Ir. Tuti Hendrawati Mintarsih, MPPPM Asisten Deputi Urusan Pengendalian Pencemaran Agroindustri : Ir. Yun Insiani, MSc : 1. Ir. Gagan Firmansyah, MSi 2. Asep Setiawan, SPt 3. Iman Darusman, SPi, MM 4. Irfan Firmansyah, SE 5. Waliyyul Fitry, ST

Ketua Anggota

Alamat

: Asisten Deputi Urusan Pengendalian Pencemaran Agroindustri Jl. D.I Panjaitan Kav.24 Kebon Nanas Jakarta Timur 13410 Gedung B - Lantai 4 Kementerian Negara Lingkungan Hidup : +6221 8517257 : agroindustri@menlh.go.id : www.menlh.go.id

Telp/fax Email Website

iii

iv

KATA PENGANTAR
Asisten Deputi Urusan Pengendalian Pencemaran Agroindustri mempunyai tugas pokok melakukan pengendalian pencemaran dari kegiatan agro industri yang dilakukan melalui kegiatan pengawasan. Pengawasan terhadap industri dapat dilakukan melalui evaluasi terhadap laporan swapantau yang disampaikan oleh perusahaan dan peninjauan langsung ke lapangan (inspeksi). Dalam melakukan pengawasan langsung di lapangan, petugas pengawas dituntut untuk mempelajari dan memahami industri yang akan diinspeksi. Maka dengan disusunnya panduan inspeksi ini, petugas pengawas diharapkan dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang langkah-langkah yang harus dipersiapkan petugas dalam melakukan inspeksi, proses produksi, sumber, jenis dan karakteritik air limbah. Panduan ini juga dilengkapi dengan daftar periksa untuk kegiatan pengolahan air limbah, pengendalian pencemaran udara, persyaratan administrasi perusahaan dan hal-hal lain yang terkait dengan industri pengolahan susu. Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan panduan ini dan mengharapkan saran serta masukan demi penyempurnaan lebih lanjut. Semoga panduan ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam kegiatan pengendalian pencemaran khususnya pada industri pengolahan susu.

Jakarta, September 2006 Asisten Deputi Urusan Pengendalian Pencemaran Agro Industri

Ir. Tuti Hendrawati Mintarsih, MPPPM

vi

DAFTAR ISI
LEMBAR PENYUSUN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR BAB I 1.1 1.2 1.3 BAB II 2.1 PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan dan Sasaran Ruang Lingkup INDUSTRI PENGOLAHAN SUSU Proses Produksi 2.1.1 2.1.2 2.1.3 2.1.4 2.2 Susu Bubuk / Skim Susu Fermentasi Susu Kental Manis Susu Cair III v VII VIII VIII 1 3 4 4 5 7 7 10 14 17 19 23 25 26 26 26 33 34 34 35 37
vii

Sumber dan Karateristik Limbah

BAB III. PELAKSANAAN INSPEKSI 3.1 3.2 Persiapan Inspeksi Pelaksanaan Inspeksi 3.2.1 3.2.2 3.2.3 3.2.4 3.3 3.4. Pertemuan Pendahuluan Pengumpulan Data Dokumentasi Penyusunan Berita Acara Pemeriksaan

Penyusunan Laporan Lain-lain

LAMPIRAN

DAFTAR TABEL
Tabel 1 Limbah yang dihasilkan dari industri pengolahan susu (non fermentasi) Tabel 2 Limbah yang dihasilkan proses produksi susu fermentasi Tabel 3 Baku emisi cerobong (Kepmen LH No. Kep-13/MENLH/iii/1995) 20 21 32

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Diagram Alir Pembuatan Susu Bubuk Gambar 2 Diagram Alir Pembuatan Susu Fermentasi Gambar 3 Diagram Alir Pembuatan Susu Kental Manis Gambar 4 Diagram Alir Pembuatan Susu Cair 10 14 16 19

viii

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

BAB I

PENDAHULUAN

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

ebutuhan nasional terhadap susu segar yang digunakan untuk proses pembuatan susu olahan saat ini baru dapat memenuhi 20 persen dari kebutuhan 1,7 juta liter pertahun. Namun karena tingginya tuntutan masyarakat terhadap produk makanan berbahan dasar susu, hal tersebut bukan merupakan kendala bagi diversifikasi produk susu olahan, karena kekurangan tersebut dapat diatasi dengan cara impor. Adanya peningkatan variasi produk susu olahan, memiliki arti positif karena akan menambah investasi dan mendatangkan devisa, namun menimbulkan kekhawatiran baru karena menimbulkan peningkatan volume limbah, sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan, industri pengolahan susu dituntut untuk mematuhi peraturan lingkungan melalui penerapan proses produksi ramah lingkungan. Upaya mewujudkan industri susu ramah lingkungan perlu didukung oleh pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat. Pemerintah berkewajiban menetapkan kebijakan dan peraturan serta melakukan pembinaan dan pengawasan bersama-sama dengan masyarakat. Sementara pelaku usaha, berkewajiban memenuhi ketentuan UndangUndang Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dimana setiap kegiatan usaha berkewajiban melakukan pencegahan dan pengendalian pencemaran, perusakan lingkungan dan dilarang membuang limbah ke lingkungan tanpa melakukan pengolahan. Untuk mengetahui ketaatan industri terhadap peraturan lingkungan, perlu dilakukan tindakan pengawasan yang berkelanjutan. Mekanisme dan strategi pengawasan terhadap ketaatan perusahaan dapat dilakukan melalui pemeriksaan langsung di lapangan (inspeksi) atau melalui evaluasi terhadap data swapantau (self monitoring) yang dilakukan oleh perusahaan. Kegiatan pengawasan yang dilakukan pada setiap industri biasanya mencakup pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran air, pengelolaan limbah padat dan ketentuan perizinan lainnya. Untuk itu dalam melakukan inspeksi ke industri pengolahan susu, seorang inspektur setidaknya dituntut mengetahui proses produksi, sumber limbah dan permasalahan yang terkait dengan industri yang akan inspeksi.

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Berdasarkan hal tersebut, maka panduan inspeksi ini disusun dengan tujuan agar dapat dijadikan sebagai bahan informasi (acuan) bagi inspektur dalam melakukan pengawasan terhadap industri pengolahan susu, hingga kegiatan pengawasan menjadi lebih efektif dan tepat sasaran. 1. 2 Tujuan dan Sasaran Memberikan pemahaman petugas pengawas tentang proses produksi, sumber, jenis dan karakteristik air limbah, sumber emisi serta kewajiban-kewajiban lain yang harus dilakukan oleh industri pengolahan susu dalam pengelolaan lingkungan 1. 3 Ruang Lingkup Ruang lingkup jenis industri susu yang dibahas dalam panduan inspeksi ini mencakup industri susu bubuk, susu kental manis, susu cair dan susu fermentasi. Informasi yang disajikan dalam panduan menyangkut proses produksi, sumber dan jenis limbah, pengolahan air limbah, pengendalian pencemaran udara, pengelolaan limbah padat non B3, pembuatan dokumentasi, penyusunan laporan dan hal-hal lain yang terkait dengan kegiatan inspeksi.

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

BAB II

INDUSTRI PENGOLAHAN SUSU

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

BAB II INDUSTRI PENGOLAHAN SUSU


2. 1 Proses Produksi

roses pembuatan susu pada setiap industri sangat bervariasi tergantung dari jenis produk yang dihasilkan. Secara garis besar proses produksi pengolahan susu terdiri dari kegiatan penerimaan dan penyimpanan bahan baku, penyiapan bahan baku, proses produksi, pengemasan dan penyimpanan. Untuk menjamin kualitas produk dari pengaruh zat-zat pengotor, proses pengolahan susu dilakukan dengan sistem tertutup (close system) yang dikontrol/dioperasikan dari ruangan khusus. Sebelum proses pengolahan dilakukan, hampir seluruh pabrik melakukan proses awal yang tidak berbeda yaitu penyaringan dan pemisahan krim dari susu tidak terkecuali industri pengolahan susu yang melakukan kegiatan pasteurisasi dan krim melalui pemanasan dan pendinginan.

2.1.1 Susu Bubuk /Skim Salah satu produk susu yang banyak beredar di pasaran adalah susu bubuk. Pembuatan susu bubuk merupakan salah satu upaya untuk mengawetkan susu sehingga dapat tahan lebih lama. Susu jenis ini dapat langsung dibedakan dari bentuk dan penampilannya. Produk susu bubuk merupakan hasil proses penguapan dan pengeringan dengan cara penyemprotan dalam tekanan tinggi. a. Bahan Baku Bahan baku utama yang digunakan dalam pembuatan susu bubuk adalah susu murni. Sumber utama susu segar pada umumnya diperoleh dari peternak sapi perah melalui perkumpulan koperasi. Persyaratan susu murni yang baik yang dapat diterima oleh industri pengolahan susu memiliki kandungan air 87.25% dan total solid 12.75% (kandungan total solid pada susu segar terdiri dari lemak, protein, laktosa dan abu). Bahan baku pendukung atau tambahan yang digunakan susu skim adalah gula, lemak susu, air, minyak nabati, dan vitamin. Susu skim adalah susu sapi yang tidak larut dalam

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

lemak dan vitamin yang tidak larut dalam lemak (vitamin A dan D). Penambahan gula berfungsi sebagai pemanis dan pengawet karena mikro organisme tidak akan tumbuh pada larutan gula yang memiliki tekanan osmosis tinggi. Air yang digunakan memiliki persyaratan tidak berbau, tidak berwarna, tidak mengandung bakteri (jumlah dan jenis) yang dapat mempengaruhi kualitas produk. Minyak nabati berfungsi untuk menggantikan lemak dalam susu yang dapat menurunkan kolesterol. b. Proses Produksi Tahapan proses pembuatan susu bubuk terdiri dari pengujian mutu, proses klarifikasi, pasteurisasi, sterilisasi, evaporasi, homogenasi, pencampuran, pengeringan dan pengemasan. Proses produksi pembuatan susu bubuk yang dilakukan setiap pabrikan secara umum disajikan seperti pada Gambar 1. Bila ada perbedaaan proses biasanya hanya pada persentase komposisi bahan pendukungnya. Pengujian mutu Uji mutu adalah kegiatan pertama yang dilakukan sebelum susu diproses. Pengujian bertujuan untuk memeriksa kualitas bahan baku meliputi rasa, kandungan bakteri dan komposisi protein dan lemak. Setelah susu dinyatakan memenuhi kualitas yang disyaratkan, proses selanjutnya adalah penyaringan. Penyaringan (penjernihan) Proses penyaringan susu bertujuan memisahkan benda-benda pengotor susu yang terbawa saat proses pemerahan. Penyaringan juga bertujuan untuk menghilangkan sebagian leukosit dan bakteri yang dapat menyebabkan kerusakan susu selama penyimpanan. Pasteurisasi Dari tangki penampungan, susu dipasteurisasi dengan cara dipanaskan untuk membunuh bakteri pathogen. Teknis pasteurisasi dapat dilakukan melalui 2 (dua) cara yaitu High Temperature Short Time (HTST) yaitu pasteurisasi dilakukan pada suhu tinggi dengan waktu yang sangat pendek dan pasteurisasi yang dilakukan pada suhu rendah dengan waktu yang cukup lama.

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Evaporasi Evaporasi dilakukan untuk mengurangi kandungan air dengan failing film yang terdapat pada alat evaporasi, sehingga penguapan dapat dilakukan dengan tepat dan waktu kontak dengan media pemanas singkat. Alat pemanas yang digunakan adalah steam yang bekerja pada tekanan vakum, agar penguapan air dalam susu dapat berlangsung pada temperatur yang tidak terlalu tinggi sehingga tidak merusak susu.

Pencampuran Dari tangki penyimpanan susu dipanaskan sebelum dialirkan ke tangki pencampur yang berisi bahan-bahan tambahan seperti protein, mineral, vitamin dan lain-lain. Tujuan pemanasan adalah menurunkan viskositas susu sehingga mempermudah proses pencampuran. Homogenisasi Homogenisasi adalah perlakuan mekanik (mechanical treatment) pada butiran lemak dalam susu dengan tekanan tinggi melalui sebuah lubang kecil. Homogenisasi bertujuan untuk menyeragamkan ukuran globula-globula lemak susu menjadi ratarata 2 mikron, menggunakan sistem High Presure Pump (HPP) yang melewati sebuah lubang kecil dengan alat homogenizer. Pengeringan Susu yang telah dihomogenisasi dipanaskan dalam preheater pada suhu 70oC - 80oC. Setelah itu, dialirkan kedalam pompa bertekanan tinggi dan disemprotkan kedalam dryer melalui nozzle. Hasil dari proses ini adalah susu bubuk siap kemas. Finishing dan Pengemasan Pada proses ini inti bubuk susu yang dihasilkan kemudian dicampurkan dengan bahan lain sesuai dengan formula yang diinginkan. Selanjutnya susu tersebtu masuk dalam tahap pengemasan (dalam kaleng atau aluminium foil) menggunakan mesin filling hooper.

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Gambar 1. Diagram Alir Pembuatan Susu Bubuk

2.1.2 Susu Fermentasi Susu fermentasi adalah jenis produk susu olahan (dairy) yang memiliki sifat khusus akibat penguraian mikroba tertentu. Produk susu fermentasi sangat beragam, namun secara umum dapat diklasifikasikan dalam 3 (tiga) jenis : Acidophilus Milk, yaitu produk yang dibuat dengan memfermentasikan susu dengan Lactobacillus acidophilius.

10

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Cultured Buttermilk, yaitu produk fermentasi susu skim atau low fat dengan Streptococcus Lactis untuk produksi asam dan Leuconostoc Cremoris untuk produksi rasa. Kefir atau Koumiss yaitu susu fermentasi terkarbonasi yang berasal dari Eropa Timur dan Asia Barat dan diperoleh sebagai hasil aktivitas bakteri asam laktat atau ragi.

a. Bahan Baku Bahan baku utama susu fermentasi adalah susu skim (susu lemak rendah). Dalam proses fermentasi, susu berfungsi sebagai sumber nutrien bagi bakteri. Laktosa sebagai sumber karbon dan sumber energi, sedangkan protein sebagai sumber nitrogen bagi asam laktat. Bahan baku tambahan pembuatan susu fermentasi adalah dekstrosa, gula, bakteri, asam laktat dan ekstrak. Dekstrosa adalah karbohidrat yang dapat dimetabolisme oleh mikroorganisme dengan cepat sehingga laju pertumbuhannya tinggi. Bakteri asam laktat yang digunakan untuk memproduksi susu fermentasi biasanya dari golongan Lactobacillus. Bakteri tersebut menyebabkan cita rasa asam pada susu fermentasi dan mengawetkan susu dari pertumbuhan bakteri patogen dan bakteri pembusuk.

b. Proses Produksi Tahapan proses pembuatan susu fermentasi terdiri dari persiapan, penyaringan; sterilisasi, inokulasi, fermentasi, homogenasi, pencampuran dengan sirup dan pengemasan. Tahapan pembuatan susu fermentasi disajikan pada Gambar 2. Persiapan Pada tahap persiapan terdiri dari 3 (tiga) kegiatan yaitu menyiapkan media susu, menyiapkan starter bakteri dan pembuatan sirup. Penyiapan media susu alat utama dissolving tank, filter dan heater. Susu bubuk dan dekstrosa dilarutkan dengan air pada temperatur 85oC. Setelah itu larutan disaring dengan menggunakan filter untuk menghilangkan padatan atau kotoran yang dapat mengganggu proses. Kemudian larutan dipanaskan hingga mencapai 80oC, dengan tujuan mematikan mikroorganisme patogen dan

11

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

menurunkan viskositas larutan. Setelah dipanaskan susu dimasukan ke dalam tangki kultur, tempat dimana akan terjadi fermentasi. Penyiapan starter bakteri alat utama fermentor inokulum (sed tank). Proses persiapan starter diawali dengan sterilisasi medium secara batch pada temperatur 115oC selama 30 menit proses ini dilakukan dalam seed tank yang dialiri uap. Setelah proses sterilisasi temperatur diturunkan sampai 40oC dan dilakukan sampling untuk melihat brix (derajat kemanisan) agar sesuai dengan yang dibutuhkan. Medium starter yang memenuhi persyaratan kemudian didinginkan, ditampung dalam seed tank dan siap untuk digunakan. Pembuatan sirup alat utama dissolving tank dan pemanas Sirup ditambahkan untuk memperkaya rasa susu pada susu hasil fermentasi. Sirup dibuat dengan melarutkan gula pada air dengan temperatur 90oC. Kemudian larutan sirup mengalami proses pasteurisasi dengan metoda HTST untuk mematikan mikroorganisme patogen. Penyaringan (penjernihan) Proses penyaringan bertujuan memisahkan benda-benda pengotor susu serta menghilangkan sebagian leukosit dan bakteri yang dapat menyebabkan kerusakan susu selama penyimpanan. Sterilisasi Susu disterilkan dengan pemanasan pada temperatur 98oC selama 80 menit. Tujuan sterilisasi untuk mematikan mikro organisme termasuk spora yang terkandung dalam susu, meningkatkan sifat nutrisi susu sebagai substrat pertumbuhan kultur yang diakibatkan oleh denaturisasi protein susu dan pelepasan asam-asam amino serta eliminasi senyawa inhibitor. Inokulasi Starter bakteri yang disimpan dalam seed tank (tangki benih) kemudian dialirkan ke tangki kultur atau fermentor yang merupakan tempat berlangsungnya proses fermentasi.

12

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Fermentasi Fermentasi susu merupakan proses pengubahan komponen-komponen susu sebagai hasil aktivitas dari bakteri asam laktat (Lactobacillus). Pengubahan laktosa menjadi asam laktat digambarkan dalam persamaan : C12H22O11 (laktosa) + H2O 4C3H6O3 (asam laktat)

Proses fermentasi kurang lebih berlangsung selama 7 - 8 hari. Selama proses tersebut aktivitas bakteri dipantau dari tingkat keasaman susu yang dinyatakan dalam pH dan TA (Titrable Acidity). Aktivitas bakteri dikendalikan dengan mengatur temperatur proses. Proses berlangsung pada temperatur 30oC - 39oC. Proses fermentasi dihentikan apabila telah mencapai nilai TA dan pH tertentu. Homogenisasi Homogenisasi bertujuan mencegah pembentukan agregat lemak (lapisan krim) serta untuk meningkatkan konsistensi produk, mengoptimalkan stabilitas dengan mereduksi ketidakseragaman ukuran lemak susu. Pencampuran Susu hasil fermentasi dicampurkan dengan sirup, mineral, protein, vitamin dan ekstrak lainnya bertujuan meningkatkan rasa. Pengemasan Setelah susu selesai difermentasi, dimasukan dalam kemasan dan disimpan dalam ruang penyimpanan yang temperaturnya dijaga supaya lebih rendah dari 10oC. Pengemasan merupakan tahapan yang penting untuk jenis susu fermentasi. Pengemas harus memenuhi persyaratan aseptis atau untuk sterilisasi langsung dan memiliki permeabilitas yang rendah terhadap oksigen

13

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Gambar 2. Diagram Alir Pembuatan Susu Fermentasi

2.1.3 Susu Kental Manis (Sweetened Condensed Milk - SCM) Susu kental manis diproduksi dengan cara evaporasi, biasanya dilakukan dengan penambahan zat pemanis (gula). Diagram proses produksi pembuatan susu kental manis disajikan pada Gambar 3. a. Bahan Baku Bahan baku utama yang digunakan memiliki persyaratan kandungan air dan total solid dimana secara umum sama dengan persyaratan susu bubuk.

14

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Bahan baku pendukung yang digunakan adalah gula, air, vitamin dan zat penambah rasa. Gula berfungsi sebagai pemanis dan pengawet karena mikroorganisme tidak akan tumbuh pada larutan gula yang memiliki tekanan osmosis tinggi. Air yang digunakan memiliki persyaratan tidak berbau, tidak berwarna, tidak mengandung bakteri (jumlah dan jenis) yang dapat mempengaruhi kualitas produk. b. Proses Produksi Proses pembuatan susu kental manis terdiri dari pengujian mutu, klarifikasi/penyaringan, evaporasi, pencampuran, pasteurisasi, evaporasi, homogenasi dan pengemasan. Pengujian mutu Sebelum susu diproses, terlebih dahulu dilakukan pengujian untuk memeriksa kualitas bahan baku meliputi rasa, kandungan bakteri dan komposisi protein dan lemak. Setelah susu dinyatakan memenuhi kualitas yang disyaratkan, proses selanjutnya adalah penyaringan. Penyaringan (penjernihan) Proses penyaringan bertujuan memisahkan benda-benda pengotor susu serta menghilangkan sebagian lekosit dan bakteri yang dapat menyebabkan kerusakan susu selama penyimpanan. Pencampuran Susu hasil evaporasi didinginkan di dalam tangki kemudian ditambahkan minyak/ lemak, gula, zat penambah rasa dan lain-lain. Pasteurisasi Proses pasteurisasi bertujuan membunuh bakteri pathogen. Teknis pasteurisasi dapat dilakukan melalui 2 (dua) cara yaitu High Temperature Short Time (HTST) yaitu pasteurisasi dilakukan pada suhu tinggi dengan waktu yang sangat pendek dan pasteurisasi dilakukan pada suhu rendah dengan waktu yang cukup lama.

15

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Evaporasi Evaporasi bertujuan untuk mengurangi kandungan air dengan failing film yaitu alat evaporasi yang memungkinkan penguapan terjadi secara tepat sehingga waktu kontak dengan media pemanas menjadi singkat. Alat pemanas yang digunakan adalah steam yang bekerja pada tekanan vakum, sehingga penguapan air dalam susu dapat berlangsung pada temperatur yang tidak terlalu tinggi agar tidak merusak susu.

Gambar 3. Diagram Alir Pembuatan Susu Kental Manis

16

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Homogenisasi Homogenisasi bertujuan mencegah pembentukan agregat lemak (lapisan krim) serta untuk meningkatkan konsistensi produk, mengoptimalkan stabilitas susu setelah pencampuran. Pengemasan Produk susu kental selanjutnya dikemas dalam kaleng steril dalam kondisi vakum.

2.1.4 Susu Cair a. Bahan Baku Bahan baku utama yang digunakan adalah murni dengan persyaratan kandungan air dan total solid secara umum tidak berbeda dengan produk susu lainnya. Bahan baku pendukung yang digunakan adalah gula, air, vitamin dan zat penambah rasa. Gula berfungsi sebagai pemanis dan pengawet karena mikroorganisme tidak akan tumbuh pada larutan gula yang memiliki tekanan osmosis tinggi. Air yang digunakan memiliki persyaratan tidak berbau, tidak berwarna, tidak mengandung bakteri (jumlah dan jenis) yang dapat mempengaruhi kualitas produk. Diagram proses produksi pembuatan susu cair disajikan pada Gambar 4. b. Proses Produksi Proses pembuatan susu cair terdiri dari pengujian mutu, klarifikasi/penyaringan, pencampuran, homogenisasi, pasteurisasi, homogenisasi, sterilisasi dan pengemasan. Pengujian mutu Uji mutu adalah kegiatan pertama yang dilakukan sebelum susu diproses lebih lanjut. Pengujian bertujuan untuk memeriksa kualitas bahan baku meliputi rasa, kandungan bakteri dan komposisi protein dan lemak. Setelah susu dinyatakan memenuhi kualitas yang disyaratkan, proses selanjutnya adalah penyaringan.

17

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Penyaringan (penjernihan) Proses penyaringan bertujuan memisahkan benda-benda pengotor susu serta menghilangkan sebagian lekosit dan bakteri yang dapat menyebabkan kerusakan susu selama penyimpanan. Pencampuran Susu dari tangki vakum ditambahkan gula, mineral, vitamin, zat penambah rasa lainnya. Homogenisasi Homogenisasi bertujuan mencegah pembentukan agregat lemak (lapisan krim) serta untuk meningkatkan konsistensi produk, mengoptimalkan stabilitas susu setelah pencampuran. Pasteurisasi Proses pasteurisasi bertujuan membunuh bakteri pathogen. Teknis pasteurisasi dapat dilakukan melalui 2 (dua) cara yaitu HTST yaitu pasteurisasi dilakukan pada suhu tinggi dengan waktu yang sangat pendek dan pasteurisasi yang dilakukan pada suhu rendah dengan waktu yang cukup lama. Homogenisasi Homogenisasi ke-2 bertujuan untuk menjaga kestabilan susu setelah dilakukan pemanasan. Sterilisasi UHT Proses sterilisasi dilakukan dengan pemanasan pada suhu (+ 140oC) selama beberapa detik. Tujuan sterilisasi adalah untuk mematikan mikroorganisme termasuk spora dalam susu, meningkatkan sifat nutrisi susu sebagai substrat pertumbuhan kultur yang diakibatkan oleh denaturisasi protein susu dan pelepasan asam-asam amino serta eliminasi senyawa inhibitor.

18

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Pengemasan Produk susu cair selanjutnya dikemas dalam kaleng atau wadah (box) kedap air dan steril.

Gambar 4. Diagram Alir Pembuatan Susu Cair

2.2 Sumber dan Karakteistik Limbah Sumber utama air limbah pada proses pembuatan susu sebagian besar berasal dari produk yang hilang yang ikut selama proses pencucian dan dihasilkan dari tumpahan/ kebocoran selama proses produksi.

19

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Produk yang hilang selama proses produksi diperkirakan mencapai 0.1%-3%. Kehilangan produk juga disebabkan oleh manajemen house keeping dan sistem operasional yang kurang baik terjadi saat pemindahan pipa saluran produksi, mesin evaporasi, proses pengisian dan sisa bahan baku yang rusak. Pada proses klarifikasi/penyaringan dihasilkan limbah padatan yang mengandung zat tersuspensi dan bahan organik yang tinggi. Air limbah yang cukup besar juga dihasilkan dari air pendingin dan kondensat. Namun penanganan air buangan pendingin tersebut biasanya dapat diatasi dengan melakukan recycle melalui sistem tertutup sehingga dapat digunakan kembali. Volume air limbah yang dihasilkan setiap pabrik susu sangat bervariasi. Namun di beberapa negara maju tingkat efisiensi sudah cukup baik, volume air limbah yang dihasilkan dari pabrik susu dasar adalah 3.9 ltr/kg produk susu dan untuk pabrik susu terpadu adalah 11.2 ltr/ kg produk. Untuk Indonesia rata-rata volume yang dihasilkan dari sebuah pabrik susu adalah 2 ltr/kg produk susu. Karakter air limbah industri susu mengandung kadar organik yang cukup tinggi tetapi mudah terurai. Kadar BOD pada air limbah susu + 4000 mg/L dan COD + 2000 mg/L. Perbandingan BOD dan COD setiap pabrik bervariasi namun secara umum adalah 1.75 : 1. Sedangkan kadar padatan tersuspensi air limbah susu adalah + 800 mg/L. Limbah padat yang dihasilkan oleh industri pengolahan susu dihasilkan dari proses pengemasan dan sisa pembungkus bahan baku. Disamping itu ada juga yang dihasilkan dari kegiatan penyaringan pada saat produksi dan pembersihan sludge IPAL. Limbah emisi yang dihasilkan dari industri pengolahan susu berasal dari penggunaan genset dan boiler.

20

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Tabel 1. Limbah yang dihasilkan dari industri pengolahan susu (non fermentasi)

Kegiatan
Penyaringan Proses pengolahan Evaporasi Pencampuran Pengeringan Finishing & pengemasan Pasca produksi Pengemasan Pembersihan IPAL Laboratorium Kondensat dan pendingin

Jenis Limbah Air Limbah


tumpahan bahan baku tumpahan genset/boiler

Limbah Padat
sisa saringan

Emisi
-

tumpahan bahan pendukung dan bahan baku tumpahan produk genset/boiler

tumpahan produk dan sisa kemasan Produk yang tidak memenuhi standar mutu tumpahan saat pengemasan air sisa pencucian sisa reagen air buangan sisa kemasan padatan saat pencucian sludge kemasan bekas reagen -

21

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Tabel 2. Limbah yang dihasilkan proses produksi susu fermentasi

Kegiatan

Jenis limbah Air limbah Limbah Padat


kotoran/padatan dari proses penyaringan medium starter yang tidak memenuhi standar mutu ceceran campuran susu dengan sirop tumpahan starter bakteri

Emisi

Persiapan media susu

Persiapan starter bakteri Inokulasi

22

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

BAB III

PELAKSANAAN INSPEKSI

23

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

24

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

BAB III PELAKSANAAN INSPEKSI

3.1 Persiapan Inspeksi

ebelum melakukan inspeksi ke industri pengolahan susu, petugas pengawas harus menanyakan kepastian waktu produksi. Selain kepastian tentang periode waktu produksi, petugas pengawas perlu mengetahui sistem pembuangan air limbah yang dilakukan (continue atau batch). Setelah seluruh informasi yang terkait dengan pelaksanaan inspeksi diperoleh, maka persiapan lain yang dilakukan adalah: Menyiapkan surat penugasan, tanda pengenal, dokumen inspeksi (berita acara pemeriksaan, berita acara penolakan inspeksi, penolakan pengambilan sampel dan pengambilan foto) Melakukan koordinasi dengan Pemda (Prov dan Kab/Kota) dan petugas laboratorium (bila sampling dilakukan oleh petugas lab) Mempelajari dan membawa peraturan yang terkait dengan pengendalian pencemaran air dan udara a) Undang-undang No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup b) Peraturan Pemerintah Nomor 82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air c) Keputusan Menteri LH No. Kep-51/X/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri d) Peraturan Pemerintah No. 41/1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara e) Keputusan Menteri LH No. Kep-13/MENLH/III/1999 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak f ) Keputusan Kepala Bapedal No. Kep-205/BAPEDAL/VII/1996 tentang Pedoman Teknis Pengendalian Pencemaran Udara Sumber Tidak Bergerak. g) Peraturan yang dikeluarkan Pemerintah Daerah (ex: Izin Pembuangan Air Limbah, SIPA, HO, dll) Dokumen tentang gambaran industri (riwayat ketaatan industri, proses produksi, obyek inspeksi, dan daftar periksa pengawasan bagi perusahaan tersebut. Peralatan kelengkapan inspeksi yaitu handycam/kamera, peralatan sampling, perlengkapan keselamatan kerja dan perlengkapan lain yang dianggap perlu.

25

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

3.2 Pelaksanaan Inspeksi Dalam pelaksanaan inspeksi rangkaian kegiatan yang dilakukan terdiri dari : (1) pertemuan pendahuluan dengan pihak perusahaan (menyerahkan surat tugas dan menyampaikan maksud dan tujuan); (2) melakukan pengamatan ke ruang produksi, (3) pengamatan IPAL, (4) pengamatan ke sumber emisi dan fasilitas pengendalian pencemaran udara, (5) pengamatan kesistem saluran air limbah (6) menyusun BAP (menyampaikan temuan dan perbaikan yang harus dilakukan). 3.2.1 Pertemuan Pendahuluan Sebelum peninjauan kebeberapa lokasi obyek amatan, dilakukan pertemuan pendahuluan dengan pihak industri untuk menyampaikan maksud dan tujuan inspeksi. Dalam pertemuan tersebut juga disampaikan data-data yang harus disiapkan pihak perusahaan, obyek amatan yang akan diinspeksi, dll. 3.2.2 Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan terdiri dari informasi umum perusahaan, identitas penangungjawab, dokumen pelaporan pemeriksaan air limbah, dokumen AMDAL/UKL/ UPL, Perizinan, penghargaan yang pernah diperoleh, dokumen Community Relation dan Community Development dll. Data informasi umum perusahaan dapat berasal dari data sekunder atau informasi/ laporan yang diperoleh dari hasil pengawasan periode sebelumnya. Informasi atau data yang lengkap sangat membantu pengawas membuat ringkasan status perusahaan. a. Data Umum Perusahaan Nama perusahaan. Apabila industri merupakan group, nama groupnya harus dicatat. Jenis industri susu Nama pemimpin perusahaan, pemilik perusahaan (perusahaan induk, komisaris dan direksinya). Alamat perusahaan dan alamat kantor (jika ada) lengkap dengan nomor telepon, faximili, e-mail serta posisi geografisnya (kalau memungkinkan). Kontak person yang dapat dihubungi, (dicatat pula jabatan, no. Telepon/HP. dan e-mail). kontak person diusahakan yang mempunyai tanggungjawab dibidang pengelolaan lingkungan hidup. Tahun mulai operasi.

26

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Kapasitas produksi terpasang, baik produk utama maupun produk sampingan. Keterangan lain tentang perusahaan yang dianggap perlu, petugas dapat meminta company profile dari industri tersebut. Status perusahaan : BUMN, PMDN, PMA, joint venture, BUMD atau lain-lain. Bila perusahaan publik: tercatat di bursa efek mana, serta informasi status lainnya. b. Perizinan, Kajian Lingkungan, dan Penghargaan Dalam dokumen perizinan dicatat secara lengkap nomor izin, tanggal penerbitan izin, tanggal berakhir atau perpanjangannya, instansi penerbit izin dan informasi lain yang terkait dengan masing-masing perizinan (akan lebih baik bila di foto copy). Izin Usaha (Depkes atau BPOM); Izin Mendirikan Bangunan (IMB); Izin HO (Hinder Ordonantie atau Surat lzin Usaha); Izin lokasi; Dokumen AMDAL atau UKL/UPL Izin pengambilan air (air permukaan dan air tanah); Izin pembuangan air limbah Sertifikat keamanan produk (HACCP) Sertifikat lingkungan Perizinan terkait lainnya.

Pelajari persyaratan-persyaratan yang tercantum dalam masing-masing perizinan dan bandingkan dengan kondisi lapangan. Catat bila terdapat pelanggaran yang dilakukan sebutkan pasal-pasal ketentuan perundang-undangan dan atau persyaratan yang dilanggar. Petugas pengawas harus menanyakan dokumen studi lingkungan, mencatat persyaratanpersyaratan yang tercantum dalam dokumen, tanggal persetujuan, konsultan penyusun, pelanggaran yang dilakukan dan butir-butir penting yang belum dilaksanakan oleh perusahaan. Apabila perusahaan memiliki penghargaan di bidang lingkungan catat kapan perusahaan mendapat penghargaan tersebut, badan/organisasi yang memberikan penghargaan, bagaimana skala penghargaan tersebut apakah nasional atau internasional, dalam hal apa perusahaan mendapat penghargaan tersebut dan lain sebagainya.

27

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

c. Data Pendukung Selain data yang terkait dengan ketaatan seperti pengendalian pencemaran air dan udara juga perlu dikumpulkan informasi-informasi lain tentang kegiatan-kegiatan yang terkait dengan operasional perusahaan. Community Relation dan Community Development Data Community Relation dan Community Development perlu ditanyakan dan di periksa ketika melakukan inspeksi. Data-data pendukungnya berupa dokumen/berkas yang menunjukkan bahwa perusahaan telah melakukan hubungan baik dengan masyarakat harus ditanyakan dan diperoleh salinannya, Community Relation merupakan salah satu bentuk hubungan yang dibina perusahaan kepada masyarakat sekitar yang sifatnya berupa bantuan (misalnya sumbangansumbangan kemanusiaan seperti perbaikan jalan, pembangunan sarana ibadah, beasiswa dan lain sebagainya. Community Development adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat oleh perusahaan arahnya pada pembinaan jangka panjang, sehingga membuat masyarakat menjadi mandiri dan tidak selalu tergantung pada perusahaan. Sistem Manajemen Lingkungan Komitmen perusahaan dalam pengelolaan lingkungan dapat tercermin dari kebijakan yang dikeluarkan. Kebijakan tersebut biasanya tertulis dan diketahui oleh semua lapisan karyawan. Apabila perusahaan memiliki kebijakan lingkungan perlu dicatat kebijakan apa yang diterapkan misalnya kebijakan konservasi air, pengelolaan limbah (minimisasi dan pengolahan), penghematan energi dan apakah kebijakan tersebut diketahui oleh semua pegawai dan dijalankan dengan baik. House Keeping Kinerja pengelolaan house keeping sangat terkait dengan efisiensi penggunaan sumberdaya dan sistem operasional pabrik. House keeping yang kurang baik mencerminkan kegiatan produksi yang tidak efisien dan meningkatkan biaya operasional pabrik.

28

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

d. Proses Produksi Dalam pemeriksaan terhadap industri perlu ditelusuri kesesuaian proses dan kapasitas produksi dengan dokumen perizinan. Bila tidak sesuai catat temuan tersebut dan tanyakan, karena proses produksi dan atau penambahan kapasitas produk akan berdampak pada perubahan jenis dan jumlah limbah yang dihasilkan. Dari proses produksi pengawas dapat mengembangkan atau memperkirakan sumber-sumber limbah yang dihasilkan dan merunut alur limbah tersebut sampai ke tempat pembuangan akhir. Kegiatan pengawasan yang dilakukan meliputi: Pengecekan terhadap log book atau catatan produksi bulan senyatanya, apakah sesuai dengan izin yang diperoleh. Jenis dan sumber limbah, proses yang digunakan apakah sistem sesaat (batch) atau kontinyu Lay out pabrik dan luas pabrik, peta saluran limbah pabrik dan sistem perpipaan yang ada. Pengecekan kegiatan proses produksi dan gambarkan diagram alir proses. Jenis dan kebutuhan bahan baku utama dan pendukung yang digunakan dalam proses produksi Penggunaan energi dan sumbernya. e. Pengelolaan Air Limbah Pengecekan terhadap sumber dan volume air limbah berdasarkan rangkaian proses produksi dan air limbah yang dihasilkan. Obyek inspeksi pengelolaan air limbah adalah: Jenis dan dan jumlah bahan kimia yang digunakan untuk mengolah air limbah Pengecekan kondisi fisik Instalasi Pengolahan Air limbah (IPAL), teknik pengolahan air limbah yang digunakan, sistem pembuangan air limbah dan operasional IPAL (batch atau continue) Pengecekan debit air limbah inlet dan outlet (bila tidak ada data harus dilakukan pengukuran lapangan) Pengecekan sistem operasional IPAL (apakah ada peralatan/sistem yang tidak bekerja, atau tanda-tanda pengoperasian yang kurang baik lainnya). Pengecekan kondisi saluran limbah yang masuk dan keluar dari ipal Kapasitas dan skema/lay out IPAL. Pengecekan unit-unit/kegiatan penghasil air limbah dan catat volumenya Pengecekan volume air buangan dari unit utilitas (boiler, kondensor) dan bentuk

29

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

pengelolaannya Pengecekan alat ukur debit air limbah (flow meter) dan debit air limbah yang dibuang ke lingkungan (dapat dilihat pada log book) Pengecekan data swapantau analisa dan laboratoriumnya (apakah sudah terakreditasi) Pengecekan penggunaan air baku (periksa dokumen neraca airnya). Jika tidak ada pengawas harus membuat neraca air (water balance), sehingga dapat diketahui jumlah air yang digunakan dan yang diolah atau dibuang ke lingkungan, sehingga dapat diketahui bila terdapat saluran bypass Pengecekan alat yang berpotensi digunakan untuk by pass di sekitar ipal. (Ex: pompa penyedot, saluran limbah yang bisa buka tutup, dll). Pengecekan pemanfaatan air limbah (reuse, recycle dan reduce). Catat sumber, bentuk pemanfaatannya dan waktu pelaksanaanya Pengecekan terhadap sludge ipal (jumlah dan cara pengelolaanya) Pengambilan sampel air limbah pada setiap outlet air limbah yang dibuang ke lingkungan. Pengecekan saluran air limbah (apakah bercampur dengan saluran air hujan atau ada potensi by pass). Bila ditemukan by pass harus dikonfirmasikan dan minta penjelasan pihak perusahaan, kemudian dilakukan pengambilan sampel) serta diambil foto/ gambarnya. Acuan Baku Mutu Air Limbah yang digunakan untuk kegiatan pengawasan pada industri pengolahan susu mengacu pada Keputusan Menteri LH No. Kep-51/X/1995 Lampiran B tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Industri Susu, Makanan yang terbuat dari Susu (Lampiran II). f. Pengelolaan Limbah Padat Non B3 Penentuan limbah padat non B3 harus melalui serangkaian uji sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Untuk memastikan suatu limbah padat digolongkan sebagai limbah padat non B3 dilakukan melalui evaluasi lanjutan terhadap hasil analisa . Bila hasil analisa menunjukkan bahwa limbah tersebut bukan limbah B3, perusahaan tetap diminta untuk melakukan pengelolaan limbah padat non B3 tersebut secara baik. Untuk mengetahui jumlah limbah padat yang dihasilkan pengawas perlu melakukan pemeriksaan terhadap seluruh tahapan proses produksi. Bila telah diketahui jenis dan jumlah limbah yang dihasilkan perusahaan perlu memiliki catatan pengelolaan limbah yang dilakukan (baik yang dilakukan sendiri maupun yang diserahkan kepada pihak

30

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

ke-3). Catatan yang dibuat menyangkut jumlah limbah yang dihasilkan persatuan waktu, jenis llimbah dan upaya pengelolaan yang dilakukan (dibuang , dimanfaatkan atau di jual ke pihak ke-3). Untuk kegiatan pemanfaatan limbah perusahaan harus mengetahui lokasi pemanfaatan dan produk hasil pemanfaatan, pemasaran produk dan manfaat/penggunaan produk. Kepada perusahaan diminta untuk mengawasi kegiatan pengelolaan yang dilakukan pihak ke-3 karena perusahaan masih dikenai tanggungjawab pengelolannnya. g. Pengendalian Pencemaran Udara Pengawasan pada kegiatan pengendalian emisi dan kualitas udara ambient, dilakukan pemeriksaan terhadap: Data swapantau emisi cerobong dan kualitas udara ambient (catat periode pemeriksaan, lokasi pengujian dan nama laboratorium apakah sudah terakreditasi) Upaya pengendalian pencemaran udara yang dilakukan (sebutkan teknik/alat yang digunakan) Sumber emisi Sarana uji emisi cerobong (bandingkan dengan ketentuan Kepdal 205/BAPEDAL/ VIII/1996) Jenis bahan bakar yang digunakan Keluhan masyarakat/gangguan kualitas udara yang terjadi (bila ada dapat dilakukan cek silang terhadap masyarakat sekitar (data sekunder), Pengendalian kebisingan, getaran dan bau yang dilakukan Bentuk, tinggi dan diameter cerobong serta lokasi lubang sampling Beberapa ketentuan teknis cerobong emisi yang harus diperhatikan sesuai Kepdal 205/ BAPEDAL/07/1996 adalah :

Tinggi cerobong sebaiknya 2.0 - 2.5 kali tinggi bangunan sekitar Diameter lubang pengambilan sampel sekurang-kurangnya 10 cm dan diberi penutup Panjang cerobong minimal 10 kali diameter dalam Cerobong dilengkapi tangga, flatform dan pagar pengaman Lokasi lubang pengambilan sampling tegak lurus dinding cerobong

31

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Ketentuan posisi lubang sampling pada beberapa bentuk cerobong: a) Cerobong berbentuk silinder Lubang sampling berada pada pada posisi 2D dibagian atas dan 8D dibagian bawah (D = diameter cerobong) arah lubang pengambilan sampel tegak lurus dengan dinding cerobong b) Cerobong berbentuk leher angsa Lubang sampling berada pada posisi horizontal 2d (diameter atas) dan 8 D (diameter bawah) c) Cerobong diameter aliran atas lebih kecil (d) dari diameter bawah (D), lubang sampling berada pada posisi De = 2dD / (D + d) De = Diameter ekivalen; D = diameter dalam cerobong bawah; d=diameter dalam cerobong atas d) Cerobong berpenampang empat persegi panjang, lubang sampling berada pada posisi De = 2 LW / (L + W) De= Diameter ekivalen; L=panjang cerobong; W=lebar cerobong Bila Baku Mutu Emisi Nasional belum ditetapkan, sementara ketentuan dari Pemerintah Daerah juga belum ada, parameter kualitas emisi yang dianalisis hanya parameter kunci dari yang terdapat pada Lampiran V B Kepmen LH No. Kep-13/MENLH/iii/1995 untuk Jenis Kegiatan Lain.
Tabel 3. Baku emisi cerobong (Kepmen LH No. Kep-13/MENLH/III/1995)

Parameter Bukan Logam Amonia (NH3) Gas Klorin (Cl2) Hidrogen Klorida (HCL) Hidrogen Fluorida (HF) Nitrogen Oksida (NO2) Opasitas Partikel Sulfur Dioksida (SO2) Total Sulfur Tereduksi (H2S)

Kadar Maksimum (mg/m3) 0.5 10 5 10 1000 30% 350 800 35

32

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Logam Air raksa (Hg) Arsen (As) Antimon (Sb) Kadmium (Cd) Seng (Zn) Timah Hitam (Pb) 3.2.3 Dokumentasi Pengambilan dokumentasi adalah bagian yang sangat penting dalam kegiatan pengawasan karena dapat dijadikan sebagai alat bukti yang menguatkan temuantemuan dilapangan. Foto yang dibuat harus akurat, tepat dan jelas tentang aspek yang dipantau. Dalam konteks pengawasan/inspeksi kasus penggunaanya alat bukti berupa foto dapat digunakan antara lain untuk menggambarkan : Jenis dan bentuk pelanggaran yang ditemukan Keadaan atau kondisi lingkungan di sekitar temuan pelanggaran Lokasi pengambilan sampel Perubahan/pengaruh yang timbul akibat pelanggaran Dampak pelanggaran dibandingkan dengan kondisi lingkungan disekitar yang tidak terkena dampak. 5 8 8 8 50 12

Agar foto dapat dijadikan sebagai acuan (alat bukti) dalam evaluasi selanjutnya, beberapa hal yang perlu diperhatikan : Foto harus memberikan informasi yang jelas dan dapat menjelaskan permasalahanya. Pengambilan foto perlu dibuat berita acaranya Selain obyek amatan, petugas dan saksi perlu masuk dalam gambar Obyek yang diambil antara lain: lingkungan pabrik, papan nama pabrik, sistem saluran limbah, house keeping, kegiatan sampling, kondisi sungai atau lingkungan penerima limbah, temuan pelanggaran, dampak pelanggaran yang terjadi. Sebagai pembanding perlu diambil kondisi yang tidak terkena dampak Saluran by pass IPAL secara keseluruhan, per-bagian, kelengkapan IPAL seperti flowmeter, proses pengolahan dan sebagainya.

33

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Kondisi stack/cerobong Alat pengendalian pencemaran udara (spt : dry scrubber, wet scrubber, dll). Sarana pemantauan emisi (sampling hole, tangga dan lain sebagainya) Pengelolaan limbah padat non LB3 serta hal-hal lain yang menjadi temuan di lapangan yang dapat digunakan sebagai data pendukung dalam evaluasi akhir. Penyusunan Berita Acara Pemeriksaan (BAP)

3.2.4

Setelah pengumpulan data dan pemeriksaan lapangan langkah berikutnya adalah menyusun Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Semua temuan yang bersifat pelanggaran atau kemajuan, upaya perbaikan/tindak lanjut yang dilakukan dan batas waktunya dicantumkan dalam BAP serta diketahui oleh pihak perusahaan. Pihak perusahaan dapat menyampaikan tanggapan, klarifikasi bahkan keberatan atas BAP yang disusun. Bila BAP telah disepakati, langkah selanjutnya adalah penandatanganan BAP oleh pihak industri dan tim pengawas. Selanjutnya kepada masing-masing pihak (industri dan tim pengawas) diberikan satu salinan BAP.

3.3 Penyusunan Laporan Tahap akhir kegiatan inspeksi adalah penyusunan laporan. Bahasa laporan harus dibuat singkat dan jelas. Pendapat pribadi dan asumsi tidak boleh masuk dalam laporan. Dalam penyusunan laporan, langkah-langkah yang harus diperhatikan adalah: Pertama; mengumpulkan kembali data yang diperoleh (checklist, berita acara pemeriksaan, foto-foto, peta, sketsa, berkas-berkas/dokumen perusahaan. Apabila ada kekurangan data dilakukan upaya melengkapi dengan menghubungi kembali penanggungjawab perusahaan. Kedua; menyusun bahan atau materi (cara penyusunan data/bahan harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku dengan memperhatikan kebutuhan dalam cara penyampaiannya Ketiga; pembuatan daftar acuan (pembuatan daftar acuan sangat diperlukan untuk mempermudah mencari hubungan/dasar hukum dengan permasalahan yang ditemukan. Keempat; penyusunan laporan penyusunan laporan dalam bentuk deskripsi dilakukan setelah bahan-bahan dikumpulkan dan tersusun secara lengkap. Laporan tersebut mencakup uraian kegiatan pemeriksaan yang dilakukan dalam temuan-temuan yang

34

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

diperoleh sebagai hasil pemeriksaan. Agar laporan dapat tersusun baik dan benar, data yang disampaikan harus: Akurat data yang ditulis harus berupa fakta yang diperoleh saat inspeksi. Pengamatan harus didasarkan pada pengetahuan yang diperoleh dari tangan pertama dan harus obyektif. Relevan data yang disampaikan harus langsung mengenai pokok permasalahan yang dilaporkan. Kompherensif subyek atau pokok laporan (misal: pelanggaran yang terjadi) harus didukung oleh fakta-fakta dan informasi yang relevan sebanyak mungkin. Terkoordinasi semua informasi harus langsung menyangkut pokok masalah disusun sistimatis dan lengkap menjadi satu paket laporan yang jelas dan mudah dipahami

3.4 Lain-Lain Dalam kegiatan inspeksi petugas pengawas seringkali menghadapi hambatan, sehingga perlu diantisipasi cara untuk mengatasinya. Beberapa hal (kendala) yang mungkin dihadapi pengawas dalam melakukan inspeksi adalah : Perusahaan menolak diinspeksi Bila perusahaan menolak diinspeksi, petugas pengawas menanyakan alasan penolakan tersebut dan memberikan penjelasan tentang kewajiban perusahaaan untuk bersedia diperiksa. Apabila tetap tidak diperkenankan, perusahaan diminta untuk menandantangani berita acara penolakan. Namun bila perusahaan tetap menolak, petugas pengawas membuat keterangan penolakan yang ditandatangani oleh seluruh tim pengawas dan mencatat nama dan jabatan pegawai yang menyampaikan penolakan.

35

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Pengawas dilarang mengambil gambar/foto Bila tidak diperkenankan mengambil gambar/foto, petugas pengawas dapat meminta bantuan pihak perusahaan untuk mengambil gambar/foto pada obyek sesuai dengan arahan pengawas. Apabila tetap tidak bersedia petugas pengawas menanyakan alasan penolakan tersebut dan membuat berita acara penolakan pengambilan foto dan perusahaan diminta untuk menandatangani berita acara penolakan. Apabila tetap menolak menandatangani, petugas pengawas membuat keterangan penolakan yang ditandatangani oleh perusahaan dan menuangkan penolakan keterangan tersebut dalam BAP. Pengawas dilarang mengambil sampel air limbah Bila perusahaan tidak memperkenankan pengawas mengambil sampel air limbah, petugas pengawas menanyakan alasan penolakan tersebut dan meminta perusahaan untuk menandatangani berita acara penolakan. Apabila tetap menolak menandatangani BAP penolakan, petugas pengawas membuat keterangan penolakan tersebut yang ditandatangani oleh seluruh Tim pengawas dan mencatat nama dan jabatan pegawai yang menyampaikan penolakan.

36

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

LAMPIRAN

37

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

38

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

DATA UMUM PERUSAHAAN a. Nama Perusahaan b. Nama Perusahaan Induk/ Holding Company c. Jenis Industri Susu d. Alamat Perusahaan Susu Dasar Susu Terpadu

e. Telp/Fax f. Pimpinan Perusahaan

g. Contact Person/Jabatan h. Status Permodalan PMA Lainnya, sebutkan i. j. Kapasitas Produksi Terpasang ( persatuan besaran) Kapasitas Produksi Real ( persatuan besaran) PMDN BUMN

k. Tahun Mulai Beroperasi l. Jenis Produk Utama Susu Bubuk Susu Cair Susu Fermentasi Susu Kental Manis m. Jumlah Unit Produksi (Plant) n. Produk Sampingan Lainnya (sebutkan)

39

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

II PERIZINAN UMUM Izin Usaha Izin Mendirikan Bangunan Izin HO Izin Lokasi Izin Pengambilan Air Tanah/ Air Permukaan Izin Depkes/BPOM Izin Lainnya, sebutkan Keterangan Tambahan Nomor Nomor Nomor Nomor Nomor Nomor Masa Berlaku s/d Masa Berlaku s/d Masa Berlaku s/d Masa Berlaku s/d Masa Berlaku s/d Masa Berlaku s/d

III PERIZINAN PEMBUANGAN AIR LIMBAH Izin Pembuangan Limbah Cair (IPLC) 1 2 3 4 5 6 Nomor izin Tanggal terbit Tanggal Berakhir Status izin Sumber limbah Baru Effluent IPAL Perpanjangan Sumber lain Sungai Danau : : tahun Instansi Pemberi Izin 1

Media akhir pembuangan air Limbah

Lainnya :

1 Provinsi/Kabupaten/Kota

40

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Izin pembuangan air limbah ke laut 1 2 3 4 5 Nomor izin Tanggal terbit Tanggal Berakhir Status izin Sumber limbah Baru Effluent IPAL Perpanjangan Sumber lain tahun Instansi Pemberi Izin 2

Peraturan Perundang-Undangan yang diacu Kepmen 51 tahun 1995 Kepmen 113 tahun 2003 Kepdal 03 tahun 1998 Perda Provinsi Lainnya: Nomor Kepmen 42 tahun 1996 Kepmen 09 tahun 1997 Kepmen 202 tahun 2004 tahun Nomor

IV KAJIAN LINGKUNGAN YANG DILAKUKAN AMDAL UKL/UPL Lain-lain (sebutkan) Tahun Terbit Instansi yang mengeluarkan Tahun Terbit Tahun Terbit Instansi yang mengeluarkan Instansi yang mengeluarkan

2 Provinsi/Kabupaten/Kota

41

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

DATA PRODUKSI Lama waktu produksi a. . jam / hari b. . hari / bulan

Susu Bubuk Nama Produk 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 Jumlah Produk (persatuan waktu)

a.

Bahan Baku Utama 1. 2. 3. 4.

Jumlah yang dibutuhkan (satuan/ waktu)

Pemasok

b.

Bahan Baku Penolong 1. 2. 3. 4.

Jumlah yang dibutuhkan (satuan/ waktu)

Kegunaan

Susu Cair Nama Produk 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 Jumlah Produk (persatuan waktu)

42

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

a.

Bahan Baku Utama 1. 2. 3. 4.

Jumlah yang dibutuhkan (satuan/ waktu)

Pemasok

b.

Bahan Baku Penolong 1. 2. 3. 4.

Jumlah yang dibutuhkan (satuan/ waktu)

Kegunaan

Susu Kental Manis Nama Produk 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 Jumlah Produk (persatuan waktu)

a.

Bahan Baku Utama 1. 2. 3. 4.

Jumlah yang dibutuhkan (satuan/ waktu)

Pemasok

43

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

b.

Bahan Baku Penolong 1. 2. 3. 4.

Jumlah yang dibutuhkan (satuan/ waktu)

Kegunaan

Jenis Susu Fermentasi Nama Produk 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 Jumlah Produk (persatuan waktu)

a.

Bahan Baku Utama 1. 2. 3. 4.

Jumlah yang dibutuhkan (satuan/ waktu)

Pemasok

b.

Bahan Baku Penolong 1. 2. 3. 4.

Jumlah yang dibutuhkan (satuan/ waktu)

Kegunaan

44

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Penggunaan Air Untuk Produksi Sumber Air Air Tanah Air PDAM Lain-lain (sebutkan) Jumlah Kebutuhan Total (m3/hari)

Pemeliharaan/Pembersihan Alat Produksi No Alat yang Dibersihkan Bahan Kimia yang Digunakan Volume Penggunaan Air Periode Pembersihan

Neraca Penggunaan Air No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Uraian Kegiatan/Proses Jumlah Kebutuhan Air

45

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Penggunaan Energi Sumber Energi Listrik/PLN Gas Genset Jumlah Kapasitas Jenis Bahan Bakar Lainnya (sebutkan) Jumlah Kapasitas Jenis Bahan Bakar Kebutuhan : Kebutuhan : utama cadangan (/satuan waktu) (/satuan waktu) (/satuan waktu) Keterangan utama utama utama cadangan cadangan cadangan

46

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

VI SUMBER DAN VOLUME AIR LIMBAH No Sumber Air Limbah Volume Sistem Pengelolaan diolah di IPAL tanpa diolah dibuang ke lingkungan lain-lain sebutkan diolah di IPAL tanpa diolah dibuang ke lingkungan lain-lain sebutkan diolah di IPAL tanpa diolah dibuang ke lingkungan lain-lain sebutkan diolah di IPAL tanpa diolah dibuang ke lingkungan lain-lain sebutkan diolah di IPAL tanpa diolah dibuang ke lingkungan lain-lain sebutkan diolah di IPAL tanpa diolah dibuang ke lingkungan lain-lain sebutkan

47

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

VII PENGOLAHAN AIR LIMBAH A. Kondisi IPAL Pada Saat Inspeksi1 Normal Black Out Overhaul Keterangan Sistem Operasi Instalasi Pengolahan Air Limbah Batch Kontinyu Kondisi operasi %

B. Kapasitas IPAL dan Debit Air Limbah 1 2 3 4 5 Apakah ada skema / flow diagram IPAL Kapasitas IPAL Debit Air Limbah Saluran Inlet Debit Air Limbah Saluran Outlet Keberadaan Flowmeter Jenis Magnetic Ultra Sonic 6 Titik Penaatan Koordinat : LS BT baik Parshall Flume V-Notch
O O

Ada

Tidak ada M3 M3/Jam M3/Jam buruk Lainnya:__________ Current Meter

1 Berdasarkan surat pernyataan dari perusahaan.

48

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

C. Proses Fisika 1 2 3 4 5 6 Penangkap Pasir Saringan Ekualisasi Pengendapan Oil catcher/Fat Pit Menara Pendingin

Keterangan

D. Proses Kimia 1 2 3 Koagulasi Flokulasi Netralisasi

Keterangan

pH saluran inlet pH saluran outlet Bahan Kimia yang digunakan untuk pengoperasian IPAL 1 Bahan Koagulan : 1. 2. 2 Bahan Polymer : 1. 2. 3 Bahan Netraliasi : 1. 2. Penggunaan Penggunaan Penggunaan Penggunaan Penggunaan Penggunaan / hari / hari / hari / hari / hari / hari

49

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

E.

Proses Biologi 1. Aerobic Lumpur Aktif Lain-lain Keterangan

2.

Anaerobic

Pemanfaatan Gas Methan : Jumlah gas yang dihasilkan Gas yang dihasilkan digunakan utuk : F. Proses Dewatering Sludge Jenis Alat Dewatering

Ada

Tidak

Ada Belt Press Drying Bed

Tidak Filter Press

Pengelolaan Air proses Dewatering :

Diolah ke IPAL Dibuang langsung ke lingkungan

Jumlah Sludge IPAL Pengelolaan Sludge Hasil Dewatering G. Saluran By Pass 1 Apakah ditemukan saluran untuk membuang air limbah dari proses produksi tanpa diolah terlebih dahulu Apakah ditemukan saluran yang berpotensi untuk membuang air limbah tanda diolah terlebih dahulu Apakah terdapat kebocoran saluran yang signifikan

ton/bulan

ya

tidak

Ya

tidak

ya

tidak

50

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Pemanfaatan Air Limbah 1 Apakah perusahaan melakukan pemanfaatan Air limbah (Reuse, Recycle, Recovery) ya tidak

Tujuan Pemanfaatan Air Limbah Air Limbah yang dimanfaatkan berasal dari : 1 2 3 4 Volume Air Limbah yang dimanfaatkan

Pengelolaan Limbah Unit Utilitas 1 Sumber air limbah unit utilitas Boiler Water Treatment Bengkel/Workshop Wet Scrubber 2 3 Apakah air dari unit utilitas diolah Jika ya, sebutkan jenis pengelolaannya : Boiler Water Treatmen Bengkel/workshop Wet scrubber Fisik/Kimia/Biologi Fisik/Kimia/Biologi Fisik/Kimia/Biologi Fisik/Kimia/Biologi Fisik/Kimia/Biologi Dialirkan ke IPAL Dialirkan ke IPAL Dialirkan ke IPAL Dialirkan ke IPAL Dialirkan ke IPAL ya tidak Air scrubber Air back washing Cucian alat Air scrubber Air pendingin Regenerasi resin

51

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Pengelolaan Limbah Padat Non B3 No Jenis Limbah Jumlah (kg/ton/bulan) Sumber Limbah (dari kegiatan) Bentuk Pengelolaan

VIII DATA PENAATAN Beri tanda pada pada tanda kotak status data penaatan perusahaan pada point yang sesuai. Apabila ada yang kurang jelas, mohon buatkan komentar pada kolom keterangan. 1 2 3 Melakukan pengelolaan air limbah sehingga mutu air limbah yang dibuang ke lingkungan memenuhi baku mutu Apakah saluaran pembuangan air limbah yang kedap air, sehingga tidak terjadi perembesan air limbah kelingkungan Tidak melakukan pengenceran air limbah termasuk mencampurkan buangan air bekas pendingin ke dalam aliran pembuangan air limbah Memeriksa kadar parameter baku mutu air limbah secara periodik sekurang-kurangnya 1 bulan sekali Memisahkan saluran pembuangan air limbah dengan saluran limpahan air hujan Melakukan pencatatan produksi bulanan senyatanya Melakukan pengukuran debit air limbah secara rutin Menyampaikan laporan tentang catatan debit harian, kadar parameter BMAL,produksi bulanan senyatanya sekurangkurangnya 3 bulan sekali kepada instansi terkait a. Kementerian Negara Lingkungan Hidup b. Gubernur c. Bupati /Walikota 9 Apakah pemegang izin melakukan pemantauan terhadap kualitas air limbah yang dihasilkan setiap bulan, periksa log book Apakah analisa kualitas air limbah dilakukan oleh laboratorium yang sudah terakreditasi Sebutkan nama laboratorium Ya Ya Ya Tidak Tidak Tidak

4 5 6 7 8

Ya Ya Ya Ya

Tidak Tidak Tidak Tidak

Ya Ya Ya Ya

Tidak Tidak Tidak Tidak

10

Ya

Tidak

52

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Data Kapasitas Produksi Riil dan Debit Tahun No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Kapasitas produksi (ton/bulan) Debit rata-rata (m3)

IX PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA Beri tanda pada pada tanda kotak status data penaatan perusahaan pada point yang sesuai. Apabila ada yang kurang jelas, mohon buatkan komentar pada kolom keterangan. 1 a Data Penataan Apakah perusahaan memiliki sumber emisi udara (apabila ya, lampirkan jumlah dan jenis sumbernya) Apakah setiap sumber emisi memiliki alat pengendalian emisi udara (apabila ya, lampirkan nama-nama alat pengendalinya) Apakah setiap sumber emisi memiliki cerobong (stack) (apabila ya, lengkapi form pengisian pada Tabel dan lengkapi dengan denah lokasi cerobong, contoh terlampir). Apakah setiap cerobong sudah dilengkapi dengan lubang sampling (Lengkapi form pengisian pada Tabel ). Apakah setiap cerobong sudah dilengkapi dengan tangga, lantai kerja, dan pagar pengaman (Jika tidak, lengkapi form pengisian pada lampiran). Ya Tidak

Ya

Tidak

Ya

Tidak

Ya

Tidak

Ya

Tidak

53

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

2 a b

Pemantauan Apakah setiap cerobong dilakukan pemantauan emisi gas buang secara rutin Pemantauan emisi gas buang yang keluar dari cerobong dilakukan secara : - harian - 6 bulan sekali dalam setahun (coret yang tidak perlu) Apakah semua cerobong dilakukan pemantauan emisi secara kontinu Jika tidak, apakah pemantauan dilakukan secara manual Apakah perusahaan melakukan pemantauan kualitas udara ambient di sekitar pabrik (Jika ya, lengkapi form pengisian pada Tabel data). Apakah pemantauan dilakukan menurut peraturan yang berlaku atau sesuai dengan RKL/RPL atau UKL/UPL Apakah pemantauan kualitas udara ambient dilakukan pada satu titik atau lebih (Jika lebih satu titik, lampirkan lokasi titik sampling yang dipantau). Apakah di sekitar lokasi industri dipasang alat ukur arah angin dan kecepatan angin Apakah pemantauan kualitas udara ambient dilakukan secara kontinu (menggunakan alat pemantau udara otomatis). Apakah pemantauan kualitas udara ambient dilakukan secara manual Sebutkan nama laboratorium yang melakukan pengukuran emisi udara dan ambien Ya Ya Tidak Tidak

c d e

Ya Ya Ya

Tidak Tidak Tidak

Ya

Tidak

Ya

Tidak

h i

Ya Ya

Tidak Tidak

j k

Ya Ya

Tidak Tidak

54

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

Pelaporan Apakah hasil pemantauan emisi udara dan kualitas udara ambien dilakukan pelaporan secara rutin 3 bulan atau 6 bulan sekali dan dilaporkan kepada : a b c d Menteri Negara Lingkungan Hidup Gubernur Bupati Walikota Ya Ya Ya Ya Tidak Tidak Tidak Tidak

(apabila ya, periksa dan mintakan salinan pelaporan yang dilakukan kepada masing-masing pihak terkait) 3 Data Pengelolaan Emisi Udara Dan Kualitas Udara Ambien

4.1 Emisi Udara Kapasitas Sumber Emisi Aktual Terpasang Bahan Bakar Cerobong Tinggi (m) Diameter (m) Lubang Sampling Ada Tidak

4.2 Kualitas Udara Ambien Pemantauan Kualitas Udara Ambien Indikator Periode Pemantauan Parameter terpantau Titik / Lokasi Pemantauan Pihak Pelaksana Pemantauan Keterangan

55

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

4.3 Lain-lain a Apakah perusahaan melakukan pengukuran emisi udara kendaraan bermotor yang ada di lingkungan pabrik ( misalnya forklift dll) (Apabila ya, minta hasil pengukurannya). Apakah house keeping di sekitar sarana dan alat pengendali pencemaran udara dan lokasi pabrik dalam keadaan baik Ya Tidak

Ya

Tidak

PENGHARGAAN/SERTIFIKAT No. 1 2 3 4 5 6 7 Penghargaan ISO 14001 ISO 14004 ISO 9001 ISO 900 HACCP Proper Lain--lain (sertifikat, award, dll) Periode Keterangan (peringkat/nilai/scor,penilai dll)

XI

COMMUNITY RELATION & COMMUNITY DEVELOPMENT No 1 2 3 4 5 Uraian Program Waktu Realisasi Masyarakat yang dilibatkan Keterangan

56

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

LAMPIRAN II
Lampiran B Nomor Tentang Tanggal : Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup : Kep-51/MENLH/X/1995 : Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri : 23 Oktober 1995

Baku Mutu Limbah Cair Untuk Industri Susu, Makanan Yang Terbuat Dari Susu BEBAN PENCEMARAN MAKSIMUM PARAMETER BOD5 COD TSS pH Debit limbah maksimum 2,0 L per kg total padatan KADAR MAKSIMUM (mg/L) 40 100 50 PABRIK SUSU DASAR (kg/ton) 0,08 0.20 0,10 69 1,5 L per kg produk susu PABRIK SUSU TERPADU (kg/ton) 0,06 0,15 0,075

Catatan : 1. Pabrik susu dasar menghasilkan susu cair dan krim, susu kental manis dan atau susu bubuk. 2. Pabrik terpadu : menghasilkan produksi dari susu seperti keju, mentega dan atau es krim. 3. Kadar maksimum untuk setiap parameter pada tabel di atas dinyatakan dalam miligram parameter per Liter air limbah. 4. Beban pencemaran maksimum untuk setiap parameter pada tabel di atas dinyatakan dalam kg per ton total padatan susu atau produk susu.

57

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

58

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

DAFTAR PUSTAKA
Environmental Canada. 1990. Inspector Manual. Canada. Environment Canada. 1994. Basic Course for Enviromnet Canada Inspector. Environment Canada. Vancouver Canada. Eusebio, Ben. C. 1996. Standart Operating procedures untuk Program Inspeksi dan Investigasi Pentaatan pada Izin Pembuangan Lbha, BAPEDAL-Legal Mandate Enforcement and Compliance Program Jakarta Hamid, H., B. Pramudyanto. 2003. Pemeriksaan Industri alam Pengendalian Pencemaran: Buku acuan Bagi Pejabat Pengawas Lingkungan dan Praktisi Lingkungan Hidup. Yayasan Bina Karta Lestari. Jakarta Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 2003. PROPER. Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor Kep-51/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor Kep-13/MENLH/III/1999 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 07 Tahun 2001 tentang Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup dan Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup Daerah. Jakarta. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 56 Tahun 2002 tentang Pedoman Umum Pengawasan Penaatan Lingkungan Bagi Pejabat Pengawas Jakarta. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 127 Tahun 2002 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta Keputusan Kepala Bapedal Nomor Kep-205/BAPEDAL/07/1996 tentang Pedoman Teknis Pengendalian Pencemaran Udara Sumber Tidak Bergerak.. Peraturan Pemerintah Nomor 41/1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara Peraturan Pemerintah Nomor 82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Undang-undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup PT. Sucofindo dan Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat. Institut Teknologi Bandung.1999. Laporan Penyusunan Data Base Dampak Lingkungan dari Kegiatan Industri PT. Frisian Flag Indonesia. 2006. Makalah Presentasi Proses Pembuatan Susu Plant Ciracas.. Jakarta PT. Nestle Indonesa. 2006. Makalah Presentasi: Proses Pembuatan Susu. Jakarta

59

Panduan Inspeksi Penataan Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Susu

60