Anda di halaman 1dari 10

PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN INTERIM Menurut PSAK 03 revisi 2010 : Laporan keuangan interim merupakan laporan keuangan yang

berisi baik laporan keuangan lengkap (seperti yang dijelaskan di PSAK 1 (revisi 2009): Penyajian Laporan Keuangan) atau laporan keuangan ringkas (seperti yang dijelaskan di Pernyataan ini) untuk suatu periode interim. Periode interim adalah suatu periode laporan keuangan yang lebih pendek dari satu tahun buku penuh.

PSAK 1 (revisi 2009): Penyajian Laporan Keuangan menetapkan laporan keuangan lengkap meliputi: 1. laporan posisi keuangan pada akhir periode; 2. laporan laba rugi komprehensif selama periode; 3. laporan perubahan ekuitas selama periode; 4. laporan arus kas selama periode; 5. catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan informasi penjelasan lain; dan 6. laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali secara retrospektif dari pos-pos dalam laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifi kasi pos-pos dalam laporan keuangannya.

Komponen Minimal Laporan Keuangan Interim Laporan keuangan interim minimal mencakup komponen berikut: a) laporan posisi keuangan ringkas; b) laporan laba rugi komprehensif ringkas, yang disajikan: i. dalam satu laporan laba rugi komprehensif ringkas; Atau ii. dalam satu laporan laba rugi ringkas terpisah dan satu laporan laba rugi komprehensif ringkas.

Pengungkapan Kepatuhan terhadap SAK

Jika laporan keuangan interim mematuhi Pernyataan ini, maka fakta tersebut diungkapkan. Laporan keuangan interim tidak dapat dijelaskan mematuhi SAK kecuali laporan keuangan mematuhi semua persyaratan SAK.

Periode Laporan Keuangan Interim yang Disyaratkan untuk Disajikan Laporan interim mencakup laporan keuangan (ringkas atau lengkap) untuk periodeperiode sebagai berikut: a) laporan posisi keuangan per akhir periode interim berjalan dan laporan posisi keuangan komparatif per akhir tahun buku sebelumnya. b) laporan laba rugi komprehensif untuk periode interim berjalan dan secara kumulatif untuk tahun buku berjalan sampai tanggal interim, dengan laporan laba rugi komprehensif komparatif untuk periode interim yang dapat dibandingkan (periode berjalan dan awal tahun buku sampai tanggal pelaporan) dari tahun buku sebelumnya. Sebagaimana diperkenankan oleh PSAK 1 (revisi 2009): Penyajian Laporan Keuangan, laporan keuangan interim untuk setiap periode dapat menyajikan satu laporan laba rugi komprehensif, atau satu laporan laba rugi terpisah dan satu laporan yang dimulai dengan laba rugi dan menunjukkan pendapatan komprehensif lain (laporan laba rugi komprehensif). c) laporan perubahan ekuitas secara kumulatif untuk tahun buku berjalan sampai dengan tanggal interim, dengan laporan perubahan ekuitas komparatif untuk periode awal tahun buku sampai tanggal pelaporan interim dari tahun keuangan sebelumnya. d) laporan arus kas secara kumulatif untuk tahun buku berjalan sampai dengan tanggal interim, dengan laporan arus kas komparatif periode awal tahun buku sampai tanggal pelaporan interim dari tahun buku sebelumnya.

PENGUNGKAPAN DALAM LAPORAN KEUANGAN TAHUNAN

Jika estimasi atas jumlah yang dilaporkan dalam periode interim berubah secara signifi kan selama periode interim terakhir dari tahun buku tetapi laporan keuangan terpisah tidak

diterbitkan untuk periode interim terakhir tersebut, maka sifat dan jumlah dari perubahan estimasi diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan tahunan untuk tahun buku tersebut.

PSAK 25 (revisi 2009): Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan mensyaratkan pengungkapan sifat dan (jika dapat dipraktikkan) jumlah perubahan estimasi yang memiliki baik dampak material dalam periode berjalan maupun diperkirakan memiliki dampak material dalam periode selanjutnya. Contohnya termasuk perubahan estimasi dalam periode interim terakhir yang berkaitan dengan penurunan persediaan, restrukturisasi, atau rugi penurunan nilai yang dilaporkan dalam periode interim yang lebih awal dalam tahun buku tersebut. Pengungkapan yang disyaratkan oleh paragraf sebelumnya konsisten dengan persyaratan PSAK 25 (revisi 2009) dan dimaksudkan untuk mempersempit ruang lingkup hanya terkait dengan perubahan estimasi. Entitas tidak disyaratkan untuk memasukkan informasi keuangan periode interim tambahan dalam laporan keuangan tahunan.

PENGUNGKAPAN RINGKASAN DATA KEUANGAN INTERIM Apabila perusahaan melaporkan ringkasan informasi keuangan pada tanggal laporan keuangan interim, maka data berikut merupakan data minimum yang harus dilaporkan: 1. Pendapatan atau penjualan kotor, beban, estimasi pajak penghasilan, pos luar biasa (termasuk pengaruh terhadap pajak penghasilan yang terkait), pengaruh kumulatif perubahan akuntansi, perubahan akuntansi, dan laba bersih. 2. Data laba bersih per saham untuk setiap periode interim yang disajikan. 3. Pendapatan dan beban musiman. 4. Perubahan yang penting dalam taksiran pajak penghasilan. 5. Pelepasan suatu segmen usaha, pos luar biasa, transaksi tidak biasa, dan tidak sering terjadi. 6. Kewajiban kontinjen. 7. Perubahan akuntansi. 8. Perubahan yang material pada unsur laporan arus kas.

Laporan keuangan interim terakhir, misalnya laporan keuangan interim triwulan keempat, tidak perlu disusun karena pada dasarnya laporan keuangan tersebut dapat digantikan dengan laporan keuangan tahunan. Dalam hal laporan keuangan interim triwulan keempat hendak diterbitkan, maka penerbitannya dilakukan bersamaan dengan penerbitan laporan keuangan tahunan. Di samping itu, isi dari laporan keuangan interim triwulan keempat harus merupakan selisih dari laporan keuangan tahunan dan laporan keuangan interim sebelumnya tahun yang bersangkutan.

PENAWARAN SAHAM PERDANA Pengertian Initial Public Offering (IPO) Sebuah perusahaan yang akan go public dimana perusahaan tersebut melakukan initial public offering (IPO) sahamnya melalui perusahaan sekuritas yang menjadi penjamin emisi dan melalui agen-agen penjual yang ditunjuk. IPO adalah kegiatan penawaran efek yang dilakukan oleh emiten untuk menjual efek kepada masyarakat (publik) melalui pasar modal. Investor bisa melakukan pembelian dengan memesan melalui penjamin emisi ataupun agen penjual. Pada umumnya, jumlah saham yang didapatkan biasanya cenderung lebih sedikit dari pesanan. Hal ini karena minat investor untuk membeli saham saat IPO biasanya sangat besar sehingga dilakukan penjatahan. Proses Initial Public Offering (IPO) Di Indonesia, prosedur sebuah perusahaan untuk go public mengikuti tiga tahapan utama yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Pasar Modal- LK (BAPEPAM-LK). Tahap pertama adalah persiapan diri, kemudian tahap kedua adalah memperoleh ijin registrasi dari BAPEPAMLK, dan ketiga adalah melakukan penawaran perdana ke publik dan memasuki pasar sekunder dengan mencatatkan efeknya di bursa.

Persiapan Untuk Going Public Secara garis besar, persiapan yang harus dilakukan adalah: 1. Rencana go public harus dibawa dan disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). 2. Perusahaan menyediakan pakar-pakar pasar modal dan institusi-institusi pendukung untuk membantu penyediaan dokumen-dokumen yang dibutuhkan, yaitu:
y

Underwriter (penjamin emisi) yang akan mempersiapkan segala sesuatunya berkaitan dengan proses penempatan saham di pasar primer.

Profesi-profesi yang terdiri dari: kantor akuntan publik yang independen untuk mengaudit laporan keuangan selama dua tahun terakhir dengan pendapat unqualified opinion, notaris publik yang akan mempersiapkan dokumen persetujuan dari pemegang sahamdan persetujuan lainnya yang berkaitan dengan going public dan hasil dari rapat-rapat yang dilakukan, konsultan hukum untuk menyediakan opiniopini yang berhubungan dengan hukum, dan perusahaan penilai (appraisal company) yang akan menilai kembali (jika diperlukan) aktiva-aktiva yang dimiliki oleh perusahaan.

Institusi-institusi pendukung: trustee, penjamin (guarantor), Biro Administrasi Sekuritas, dan kustodian.

3. Mempersiapkan semua dokumen yang diperlukan untuk penawaran ke publik. 4. Mempersiapkan kontrak awal dengan bursa. 5. Mengumumkan ke publik. 6. Menandatangani perjanjian-perjanjian yang berhubungan dengan going public. 7. Untuk yang akan menjual obligasi, perusahaan harus mendaftarkannya ke agen peringkat untuk mendapatkan peringkat untuk obligasi yang ditawarkan. Agen peringkat yang ditunjuk adalah PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) yang didirikan pada tanggal 21 Desember 1993. 8. Mengirimkan pernyataan registrasi dan dokumen-dokumen pendukung lainnya ke BAPEPAM-LK.

Registrasi di BAPEPAM Setelah semua dokumen masuk ke BAPEPAM, maka BAPEPAM melakukan sebagai berikut: 1. Menerima pernyataan registrasi dan dokumen-dokumen pendukung dari perusahaan yang akan going public dan dari underwriter. 2. Pengumuman terbatas di BAPEPAM-LK 3. Mempelajari dokumen-dokumen yang diperlukan. 4. Deklarasi pernyataan registrasi efektif berlaku yang didasarkan pada tiga hal utama, yaitu kelengkapan dokumen, kebenaran dan kejelasan informasi dan pengungkapan (disclosure) tentang aspek-aspek legalitas, akuntansi, keuangan dan manajemen. Jika selama 30 hari BAPEPAM tidak memberi jawaban, maka pernyataan registrasi otomatis efektif. Pencatatan di Bursa Setelah BAPEPAM-LK mendeklarasikan keefektifan dari pernyataan registrasi, selanjutnya underwriter dapat menjual saham perdana tersebut di pasar primer. Setelah penawaran perdana selesai, emiten (perusahaan yang going public) dapat melakukan prosesproses berikut ini untuk mencantumkan sahamnya di pasar sekunder (bursa). 1. Emiten mengisi dan menyerahkan aplikasi yang formulirnya disediakan oleh BEI untuk permintaan mencantumkan sahamnya di bursa efek. 2. BEI akan mengevaluasi aplikasi ini berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan. 3. Jika aplikasi ini memenuhi kriteria yang disyaratkan, BEI akan menyetujuinya. 4. Emiten kemudian harus membayar biaya jasa pencantuman (listing fee). Biaya jasa pencantuman terdiri dari dua macam, yaitu biaya jasa pencantuman awal (initial listing fee) dan biaya jasa pencantuman tahunan (annual listing fee). Untuk initial listing fee ditentukan sebesar minimum Rp 10 juta dan maksimum Rp 150 juta (jika ada tambahan listing berikutnya dibebankan biaya tambahan sebesar minimum sebesar Rp 1 juta untuk setiap kelipatan Rp 1 milyar dari kapitalisasi pasarnya dengan minimum Rp 10 juta dan maksimum sebesar Rp 150 Juta). Untuk annual listing fee ditentukan sebesar Rp

500.000,- untuk setiap Rp 1 milyar dari nominal sahamnya, minimum Rp 5 juta dan maksimum Rp 100 juta. 5. BEI kemudian akan mengumumkan pencantuman dari saham ini. 6. Saham yang sudah tercantum ini sudah siap untuk diperdagangkan. Laporan-laporan yang harus dipersiapkan untuk IPO adalah laporan Rutin yang terdiri dari Laporan Keuangan Tahunan, Laporan Keuangan Tengah Tahunan, Laporan Triwulanan, dan Laporan Penggunaan Dana Hasil Emisi; Laporan Berkala yaitu laporan mengenai terjadinya setiap kejadian penting dan relevan; dan Laporan lainnya yang mencakup laporan mengenai perubahan anggran dasar, rencana RUPS/RULB, perubahan susunan direksi dan komisaris, dan mengenai penyimpangan proyeksi yang dipublikasikan lebih dari 10%. Selain itu perusahaan juga mempersiapkan Prospektus. Prospektus adalah suatu bentuk promosi emiten atas perusahaannya.Emiten akan memasukkan ke dalam prospektus informasi-informasi yang relevan dengan bisnis perusahaan sebagaimana yang disyaratkan oleh Bapepam, dengan harapan dapat menarik banyak calon investor. Penjamin Emisi Efek (Underwriter) Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.8 tahun 1995 tentang pasar Modal, emiten adalah pihak yang melakukan penawaran umum. Sebuah perusahaan yang akan go public di mana perusahaan tersebut melakukan Initial Public Offering (IPO) sahamnya melalui perusahaan sekuritas yang menjadi penjamin emisi dan melalui agen-agen penjual yang ditunjuk. Penjamin emisi efek adalah pihak yang membuat kontrak dengan Emiten untuk melakukan Penawaran Umum bagi kepentingan bagi kepentingan Emiten dengan atau tanpa kewajiban untuk membeli sisa Efek yang tidak terjual. Perusahaan tentunya tidak menginginkan jika dalam pelaksanaan penawaran perdana timbul keraguan, apakah efek yang dilepas ke para investor terjual habis atau tidak, bila setelah dilepas efek tersebut tidak terjual habis, maka ini merupakan bencana bagi perusahaan, hal mana selain mengakibatkan kerugian sebab biaya-biaya yang telah dikeluarkan tidak dapat ditarik kembali, juga akan menjatuhkan reputasi perusahaan. Untuk itulah maka diperlukan perusahaan efek yang bertindak sebagai penjamin emisi efek (underwriter) perusahaan, yang

umumnya dalam praktek di Indonesia, dalam penawaran umum perdana praktis semua penjaminan emisi di lakukan dengan sistem penjaminan full commitment. Maka peran dan tanggung jawab underwriter dalam perjanjian full commitment di pasar perdana sangatlah penting. Peran underwriter dimulai sejak hari pertama emiten berniat menawarkan sahamnya kepada masyarakat. Peran underwriter mulai dari membantu emiten menyiapkan penawaran umum, melakukan due diligence, menyiapkan pernyataan pendaftaran, sampai kepada proses penawaran umum perdana. Underwriter dalam perjanjian full commitment bertanggung jawab atas sisa efek yang tidak terjual, sesuai dengan ketentuan dalam kontrak penjaminan emisi efek yang tunduk kepada UUPM dan KUH Perdata. Adapun kategori penyimpangan oleh underwriter pada proses penawaran umum perdana, antara lain: masalah penjatahan saham yang dapat berakibat pada benturan kepentingan (conflict of interest), manipulasi harga dalam upaya stabilisasi, dan penyimpangan bentuk penjaminan emisi oleh underwriter dan emiten. Akibat hukum yang dikenakan terhadap ketiga kategori penyimpangan ini ditentukan dalam UUPM dan PP No. 45 Tahun 1995, yaitu berupa sanksi administratif dan denda. Mengenai perselisihan antara para pihak dalam perjanjian penjaminan emisi efek, akan diselesaikan secara musyawarah, jika tidak tercapai persesuaian paham, maka diajukan ke Pengadilan Negeri atau diselesaikan melalui Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI).

TUGAS PELAPORAN dan AKUNTANSI KEUANGAN Pengungkapan : Laporan Keuangan Interim, Pelaporan Emiten Berproses IPO, Right Issues

Disusun Oleh Kelas D: ASDAR Dwi Vani Wicaksana Miswar Rohansyah

JURUSAN AKUNTANSI PASCA SARJANA FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012