Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Percobaan dasar Mendel telah di coba berulang kali dengan menggunakan berbagai jenis organisme. Banyak di antara eksperimen tersebut membutuhkan jangka waktu yang lama untuk mendapatkan generasi F1. tetapi dengan menggunakan Drosophila sp, waktu yang dibutuhkan kurang dari satu bulan. Drosophila merupakan spesimen yang baik untuk percobaan hereditas, sebab: 1. mudah sekali di pelihara di laboraturium, sebab makanan / tempat hidupnya sangat sederhana. 2. Siklus hidup hewan ini pendek, hanya 7-8 hari (di Indonesia) 3. keturunan sangat banyak 4. Memiliki banyak variasi Telur lalat ini kecil, berbentuk elips, di letakkan di atas permukaan makanan. Telur ini akan menetas menjadi larva dalam waktu 24 jam. Larva makan terus menerus sambil melubangi medium makanannya. Larva yang telah dewasa menempel di dinding botol. Kemudian larva menjadi pupa. Imago yang baru muncul dari pupa sangat fragile, warnanya pucat dan sayapnya belum berkembang. tetapi hanya butuh waktu beberapa jam saja, kulitnya sudah berubah gelap dan sayapnya berkembang. lalat yang dewasa dapat hidup selama satu bulan. Imago yang berumur >10 jam sudah siap kawin. Siklus hidup Drosophila dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan. Di antara faktor tersebut, suhu adalah faktor penting, yaitu; (1) pada suhu 20C siklus hidup lalat ini 12 hari, (2) pada suhu 25C siklus ini hanya membutuhkan waktu 10 hari. B. Rumusan Masalah Bagaimanakah menguji Hukum Mendel dengan perkawinan Drosophila C. tujuan Menguji prinsip Mendel dengan eksperimen perkawinan silang Drosophila sp

BAB II KAJIAN TEORI


Lalat buah (Drosophila sp) merupakan salah satu hama pada tanaman holtikultura, yang sasaran utamanya antara lain; belimbing manis jambu air, mangga, nangka, dan buahbuahan yang terlalu masak. Sifat khas dari lalat buah adalah hanya dapat bertelur dalam buah, sehingga buah menjadi busuk dan jatuh dari pohon. Lalat buah : Kingdom Phylum Classis Ordo Family Subfamily Genus Species : Animalia : Arthropoda : Insecta : Dipterae : Drosophilidae : Drosophilinae : Drosophila : Drosophila melanogaster

Terdiri atas 4000 spesies yang terbagi dalam 5000 genus. Stadium lalat buah yang paling merusak adalah stadium larva, yang pada umumnya berkemnag dalam buah. Secara biologis lalat buah memiliki empat stadium metamorfosis, yaitu telur, larva, pupa, dan imago (lalat dewasa). Adapun ciri-cirinya sebagai berikut : Telur, diletakkan di dalam buah dengan memasukkan ovipositor-nya (alat peletak telur). Dan memiliki ciri-ciri ysaitu: telur berwarna putih, bentuk lonjong dan diletakkan berkelompok, yang mana di setiap sekali bertelur dapat menghasilkan 140 butir /hari. Larva, dengan ciri bentuk dan ukuran pada umumnya bermacam-macam, tergantung pada zat gizi esensial dalam media makanannya. Larva berwarna putih kekuningan, berbentuk bulat panjang dengan salah satu ujungnya runcing. Larva lalat buah terdiri dari tiga bagian: yaitu kepala, toraks (3 ruas dan 8 abdomen). Larva membuat saluran-saluran di dalam media makanan dan juga menghisap cairan di media. Pupa, adapun ciri-ciri pupa adalah berbentuk oval, warnanya kecoklatan, panjang nya 4mm. masa pupa adalah 4-10 hari dan setelah itu menjadi lalat dewasa. Imago, imago lalat buah rata-rata 0,7mm X 0,3mm dan terdiri atas kepala, toraks, dan abdomen. Di mana toraks terdiri dari tiga ruas: berwarna orange, merah

kecoklatan, coklat, atau hitam; dan memiliki sepasang sayap transparan. Sedangkan pada ujung abdomen pada lalat betina lebih runcing dan mempunyai alat peletak telur, sebaliknya pada lalat jantan tubuhnya lebih bulat. Penentuan jenis kelamin Perbedaan seks pada makhluk hidup dipengaruhi oleh dua faktor: 1. faktor lingkungan, yang biasanya ditentukan oleh keadaan fisiologis. Apabila kadar hormon kelamin dalam tubuh tidak seimbang penghasilannya, maka pernyataan fenotip mengenai kelaminnya dari satu makhluk dapat berubah. 2. faktor genetik, yang ditentukan oleh komposisi kelamin dari kromosom, karena bahan genetik terdapat di dalam kromosom. Ada beberapa tipe penentuan jenis kelamin : Type xy, pada lalat Drosophila melanogaster. 1. 3 pasang (6buah kromosom) pada lalat jantan maupun betina bentuknya sama. kromosom ini disebut kromosom tubuh (autosom) di singkat dengan huruf A. 2. 1 pasang (2buah) kromosom yang disebut kromosom kelamin (sex-kromosom). X = yang berbentuk batang lurus. lalat betina mempunyai 2 kromosom X. Y = yang lebih pendek daripada kromosom X dan sedikit membengkok pada salah satu ujungnya. Lalat jantan mempunyai sebuah kromosom X dan sebuah kromosom Y. Formula untuk lalat buah adalah sebagai berikut: Lalat betina = 3 AAXX (3 pasang autosom + 1 pasang kromosom X) Lalat jantan = 3 AAXY (3 pasang autosom + 1 kromosomX + 1 kromosom Y) Terjadinya anak lalat jantan dan betina P : jantan AAXX G : AX >< betina AAXY AX,AY

F1 : AAXX , AAXY (betina) , (jantan) Prosentase kemungkinan terjadinya anak jantan dan betina adalah 50% : 50%

BAB III METODE PENELITIAN


A. Alat dan Bahan Alat : Bahan : Pisang Gelas / botol / toples Kapas Plastik Alkohol 70% Kertas bentuk kipas Kuas halus Loup (kaca pembesar) Karet gelang Mikroskop cahaya Kain kasa

B. Prosedur kerja 1. Penangkapan lalat buah : a. Menaruh buah yang masak ke dalam gelas dengan keadaan terbuka b. Meletakkan gelas-gelas tersebut di tempat terbuka c. Membiarkan sampai lalat buah mengerumuni dan masuk ke dalam gelas d. Menutup gelas plastik yang di kerumuni lalat buah dengan kain kasa. 2. Membuat media makanan yaitu dengan menghaluskan pisang yang telah di kupas kulitnya kemudian dimasukkan ke dalam gelas, lalu memasak agar berwarna putih. Memasukkan agar tersebut dalam gelas / botol, setelah hangat- hangat kuku, letakkan kertas yang berbentuk kipas lalu menaburkan fermipan secukupnya di atas permukaan agar. 3. Menyiapkan selang plastik transparan dengan ukuran besar dan kecil, di mana di sisipkan kain kasa dalam lubang selang untuk memindahkan lalat 4. Mengidentifikasi lalat yang sudah tertangkap dalam gelas di pisahkan dulu dari makannya karena lalat akan lengket pada makanannya bila terbius. Cara membius dengan mengambil kapas yang telah di beri alkohol. Dengan diusahakan agar alkohol tidak terlalu basah, agar tidak menetes. Uap dari alkohol akan mengendap ke dasar gelas dan membius lalat. Meletakkan lalat yang sudah terbius di atas kaca obyek, kemudian

mengidentifikasi, jantan dan betina nya. Lalat tidak boleh terbius lebih dari satu menit, karena akan mati. lalat buah mudah rusak, karena itu menggunakan kuas halus untuk membalik tubuh lalat. 5. Memasukkan 3 pasang lalat yang telah teridentifikasi ke dalam wadah media baru yang telah dipersiapkan. 6. Mengamati perkembangan lalat buah setiap harinya, dan mencatat hasilnya.

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN


A. Data Hasil Percobaan Dari pengamatan pada percobaan tersebut didapatkan data sebagai berikut: (terlampir) Hasil pengamatan pada percobaan didapatkan data sebagai berikut : Hasil identifikasi F1 lalat buah: Jantan sebanyak = 20 ekor 1 (induk)=19 Betina sebanyak = 24 ekor 1 (induk0=23 B. Analisis Data Fenotip Jantan Betina Jumlah F1 = 42 ekor Jantan = x 42 = 21 ekor Betina = x 42 = 21 ekor Derajat kebebasan = fenotip 1 = 2-1 =1 X hitung = 0,38 Dengan menggunakan derajat signifikasi 0,5 X hitung > X tabel C. Pembahasan Dari hasil pengamatan lalat dewasa dari generasi F1 mulai bermunculan pada hari ke tujuh, ini terhitung lebih cepat bila dibandingkan dengan perkembanagn lalat buah di Amerika yaitu setelah 10-12 hari baru muncul lalat dewasa dari generasi F1. Hal ini disebabkan oleh factor lingkungan di Indonesia lebih cocok. Dari perhitungan perbandingan jantan dan betina, ternyata tidak sesuai dengan prinsip Mendel. Hal ini disebabkan karena beberapa factor, salah satunya adalah hormon kelamin. Apabila kadar hormone kelamin dalam tubuh tidak seimbang penghasilannya, maka pernyataan fenotip mengenai kelaminnya dari suatu makhluk dapat berubah. Mungkin yang tadinya ini dijelaskan dalam penyimpangan semu hukum Mendel. O 19 23 42 e 21 21 42 d (o-e) -2 2 0 0,19 0,38 d/e 0,19

Berdasarkan hasil dari perhitungan data yang telah kami lakukan, didapatkan nilai X = 0,38. Nilai tersebut diatas nilai standar yang terdapat pada tabel Chi-Square yakni 0,5.

BAB V

PENUTUP
Kesimpulan Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa hasil perbandingan jantan dan betina dari generasi F1 ialah perbandingan prosentase Drosophila jantan dan betina adalah 45% dan 55% Artinya hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan prinsip Mendel dengan perbandingan presentase 50% dan 50%. Hal ini dikarenakan adanya factor genetic, factor lingkungan, dan kurang telitinya pengidentifikasiaan. Siklus hidup Drosophila terdiri atas stadium telur-larva-pupa-imago. Persilangan Drosophilla menghasilkan generasi F1 setelah sembilan hari (9 hari) karena Indonesia berada pada daerah khatulistiwa, sehingga suhunya lebih tinggi daripada Amerika. Semakin jrendah suhu, maka siklus hidup Drosophilla akan semakin panjang. Saran 1. Hendaknya lebih teliti dalam pengidentifikasian, sehingga diharapkan hasilnya lebih valid. 2. Hendaknya percobaan ini dilakukan sesuai dengan prosedur.

DAFTAR PUSTAKA

Yatim, Wildan. 1986. Genetika. Edisi ke-4. Bandung : Penerbit Tarsito. Suryo. 2001. Genetika Manusia. Jogjakarta : Gadjah Mada University Press. Kuswadi. 2001. Lalat Buah. Jurnal Panduan Lalat Buah (http//www.google.com,diakses 30 November 2007)