Anda di halaman 1dari 20

MATI TENGGELAM C T Cooke (http://forensik-upnxx.webs.com/chapterxvii.

htm)
I. Pendahuluan Kenyataan bahwa setiap dari keenam ibukota negara di Australia dekat dengan laut menggambarkan pentingnya air terhadap kehidupan manusia. Lagipula, permukaan dunia terutama diselubungi oleh air. Tetapi, tidak diragukan lagi, air sangat mungkin menjadi lingkungan yang bermusuhan bagi kebanyakan hewan penghirup udara-dan seember air sama efektifnya dengan lautan Pasifik untuk merampas suplai oksigen dari hewan-hewan tersebut. Tenggelam, yang kemudian diartikan sebagai terganggunya oksigenasi jaringan akibat terbenam dalam cairan. Batasan near-drowning (=hidup untuk beberapa waktu setelah terendam dalam air dan tercekik sementara) berkenaan dengan kelangsungan hidup setelah suatu episode tenggelam walaupun korban dapat saja meninggal setelahnya sebagai hasil dari akibat-akibat patofisiologik. Tetapi, sebagaimana yang dapat kita lihat, seseorang dapat meninggal di dalam cairan tanpa tenggelam-dan jika tenggelam, tanpa perlu harus menghirup cairan. Angka tepat kematian akibat tenggelam yang terjadi diseluruh dunia masih belum pasti tetapi kemungkinan sekitar 140.000 orang tiap tahunnya. Sekitar satu dari setiap 9 atau 10 insiden tenggelam berakibat kematian, sehingga lebih dari 1 juta orang setahun mengalami episode near-drowning. Di masayarakat barat, tenggelam merupakan penyebab kematian kedua atau ketiga akibat kecelakaan, yang bervariasi dibawah jumlah kematian akibat kecelakaan kendaraan bermotor dan, biasanya dibawah jumlah kematian akibat terjatuh dari ketinggian. Banyak negara melaporkan peningkatan secara bertahap pada jumlah kematian akibat tenggelam selama tahun 1960 dan 1970 tetapi tingkat kenaikan ini telah menjadi stabil atau, bahkan menurun dalam tahun-tahun terakhir. Sebagai contoh, kematian akibat tenggelam di USA berkisar 5000 per tahun dari 1947 hingga 1967 tetapi meningkat hingga 8000 per tahun pada awal pertengahan 1970. Diyakini bahwa peningkatan ini mencerminkan meningkatnya

popularitas olah raga air dan penggunaan fasilitas kolam renang domestik. Yang terbaru, tingkat kematian akibat tenggelam di USA telah turun dengan stabil, menjadi sekitar 5000 pada 1988. Pada 1989 terdapat 410 kematian akibat tenggelam di Australia dengan tingkat kematian sekitar 2.5 setiap 100.000 penduduk. Hal ini dibandingkan dengan 19 setiap 100.000 penduduk untuk kematian akibat kecelakaan lalu lintas dan 6 setiap 100.000 penduduk untuk kematian akibat terjatuh. Angka ini hampir sama dengan jumlah pembunuhan yang tercatat tiap tahunnya. Rincian mengenai cara kematian dari 410 kasus ini antara lain: kecelakaan akibat tenggelam 345 kasus (termasuk 31 kasus akibat kecelakaan trasportasi air), bunuh diri 61 kasus dan pembunuhan 4 kasus. Distribusi usia/jenis kelamin untuk kematian yang diakibatkan kecelakaan ditunjukkan pada tabel 17.1. 61 kasus tenggelam bunuh diri mewakili sekitar 3% dari total kasus bunuh diri pada 1989 dan 4 kasus pembunuhan mewakili sekitar 1.25% dari total jumlah pembunuhan. Insidens yang tinggi pada anak usia pra-sekolah dibicarakan dalam BAB 12. Perbedaan yang mencolok antara jumlah pria:wanita telah ditegaskan dalam penelitian epidemiologi terbaru mengenai tenggelam dari USA dan Belanda. Keamanan pantai-pantai di Australia telah ditingkatkan selama bertahun-tahun oleh sekelompok sukarelawan bersama dengan Surf-Life-Saving Association (SLSA). Sebagian area/lokasi pantai ditugaskan kepada sebuah surf life-saving club, club tersebut bertanggung jawab untuk menjaga keamanan pada siang hari diantaranya bersiaga terhadap adanya hiu, menyelamatkan dari lautan serta diagnosis dan penanganan untuk cedera ringan. Bagian dari pantai yang dianggap cukup aman oleh kelompok patroli ini ditandai dengan bendera-bendera berwarna merah dan kuning; perenang diminta untuk tetap berada diantara bendera-bendera tersebut. Terdapat sekitar 250 surf life-saving clubs diseluruh Australia dan, karenanya, setidaknya terdapat 250 pantai di Australia yang dijaga oleh patroli pantai. Sebuah ulasan yang baru-baru ini diterbitkan telah memeriksa tipe-tipe insiden yang dilaporkan pada pantai yang dipatroli oleh SLSA, selama periode 10 tahun hingga 1983. Termasuk kedalam 391 insiden yang dilaporkan, terdapat 262 kasus tenggelam, 100 diantaranya berakibat kematian. Yang penting disini, hanya 7 kematian berenang diantara bendera selama jam patroli dan setiap dari ketujuh kasus tersebut memiliki kondisi medis yang, menurut pengarang, dapat menyumbangkan pengaruh yang bermakna pada kematian.

Dengan demikian, tidak terdapat kecelakaan murni yang mengakibatkan kematian karena tenggelam pada area yang dipatroli-warga Australia berhutang akan kesaksian nyata kepada organisasi ini.

II. Isi II.1. Anak-anak


Terdapat banyak penelitian-penelitian umum mengenai kematian yang diakibatkan oleh cedera pada masa kanak-kanak, dan hal ini dibicarakan dengan lebih terperinci dalam Bab 12. Tenggelam terus-menerus menjadi penyebab yang mengakibatkan kematian atau cedera dalam masa kanak-kanak tetapi perbedaan-perbedaan utama ditentukan oleh jenis populasi tertentu yang sedang dilakukan penelitian serta lokasi geografisnya. Sebagai contoh, di bagian Utara Australia, 39% dari seluruh kematian yang diakibatkan oleh cedera pada masa kanak-kanak selama tahun 1978-85 terjadi akibat benturan kendaraan bermotor; tenggelam hanya tercatat sebanyak 20%. Bagaimanapun, tenggelam tercatat sebesar 46% dari kematian akibat cedera pada grup usia 0-4 tahun. Juga terdapat perbedaan ras dengan suku Aborigin dimana dari 39% kematian akibat cedera hanya 18% darinya pada grup usia 0-4 tahun meninggal akibat tenggelam. Diduga bahwa anak-anak Aborigin usia pra-sekolah memiliki akses yang lebih sedikit kepada kolam renang lokal. Pearn dan kolega menyelidiki mengenai bahaya utama dari kolam renang-juga dibicarakan dalam Bab 12. Yang penting, bathtub rumah juga sama berbahayanya seperti kolam renang lokal pada grup usia dibawah 18 bulan. Hasil penelitian ini telah disahkan baru-baru ini. Telah diperkirakan bahwa hasil program memagarkan kolam renang akan mencegah satu per tiga dari kemungkinan tenggelamnya anak. Hal yang mirip disebutkan oleh media di New Zealand sebagai mengurangi prevalensi dari masalah yang sama. Penelitian terbaru dari USA telah menegaskan bahwa sifat dasar internasional dari ancaman tenggelam pada anak-anak oleh kolam renang lokal yang tidak dilindungi. Di masyarakat barat, jauh lebih sedikit anakanak yang tenggelam di air asin. Sebagaimana yang dikemukakan dalam editorial dari Medical Journal of Australia, hal ini menyoroti paradox tenggelamnya anak-anak di Australia saat ini. Begitu banyak orang tua yang berdiri dengan bangga diatas papan seluncur yang bergemuruh...[tetapi] tidak melihat bahaya yang mengintai pada kolam renang di halaman belakang yang tidak dipagari.

Bahaya yang lebih jauh dan luar biasa pada lingkungan sekitar terhadap bayi dan anak-anak telah disoroti dalam penelitian terbaru dari USA dimana 12 dari 49 kasus kematian terjadi di dalam ember. Kisaran usia dari bayi-bayi ini adalah antara 9-16 bulan; setiap dari ember tersebut memiliki kapasitas 5 galon (19 liter). Rupanya kesemua anak-anak tersebut ditemukan tergantung pada salah satu sisi ember, dengan kepala terbenam dan kaki menggantung di udara. Lebih jauh risiko datang dari bathtubs dan hot-tubs, spas (jacuzzi) dan whirlpool. Pada pokoknya, setiap timbunan air yang dapat dimasuki merupakan ancaman berbahaya bagi anak-anak. Tenggelam merupakan sebuah kejadian luar biasa pada periode perinatal. Khasnya dijumpai sebagai persalinan spontan kedalam mangkuk toilet atau sebagai akibat dari persalinan presipitatus atau sebagai bagian dari spektrum penyembunyian kelahiran atau infantisid. Seringkali sulit untuk membedakan secara pasti antara lahir hidup dan lahir mati dalam kasus-kasus demikian. Kadang-kadang, tenggelam pada anak yang lebih tua dapat bukan kecelakaan-dapat merupakan bunuh diri (terutama pada remaja) atau, jarang, pembunuhan sebagai bagian dari child abuse. Perbandingan secara teliti dari situasi yang dituduhkan dengan bukti-bukti medis obyektif dapat mensinyalkan praktisioner atau ahli patologi terhadap kemungkinan yang terakhir. Petunjuk kepada penyebab kematian yang bukan kecelakaan termasuk adanya cedera lainnya dan kenyataan bahwa insiden tenggelam terjadi diluar waktu umumnya dalam sehari-diluar waktu mandi pada anak-anak yang secara umum diterima. Dalam proporsi kematian akibat tenggelam pada kanak-kanak, suatu proses penyakit alamiah dapat ditemukan sebagai faktor penyumbang lebih jauh-baik memudahkan terjadinya insiden tenggelam atau mempengaruhi hasil akhir selanjutnya. Sebagai contoh, bisa terdapat riwayat medis suatu bangkitan kejang. Telah didalilkan bahwa hiperventilasi dan kilatan cahaya pada permukaan air, merupakan dua faktor-berhubungan dengan mandi yang dapat mencetuskan terjadinya kejang.

II.2. Remaja
Berbeda dengan tenggelam pada anak-anak, yang umumnya terjadi pada situasi sehari-hari, tenggelam pada remaja terutama terjadi di dalam badan air alamiah. Keadaan-keadaan dari episode tenggelam pada grup usia remaja meliputi seluruh spektrum kecelakaan tenggelam rekreasional termasuk kecelakaan saat berlayar, menyelam kedalam air dangkal yang

mengakibatkan cedera kepala atau leher, menyelam rekreasional, terjebak dalam air dan hipoksia akibat berenang. Patofisiologi dari putaran renang cukup menarik. Untuk meningkatkan penampilan, beberapa anak laki-laki berusaha untuk bernafas(inspirasi dan ekspirasi) lebih banyak (over breathing) selama beberapa waktu sebelum berenang jarak jauh dibawah air. Hal ini menguras karbon dioksida keluar dari darah dan, dengan demikian, mengurangi sensitivitas pusat nafas yang menghilangkan pemicu sinyal penting dan memperbolehkan kadar oksigen dalam otak jatuh hingga ke titik dimana terjadi keadaan tidak sadar. Hal ini dapat terjadi dengan cepat dan diam-diam pada keadaaan tidak terdapatnya kadar karbon dioksida dalam darah yang cukup untuk memaksa perenang naik ke permukaan untuk menarik nafas. Perenang jatuh pingsan pada dasar kolam tanpa ada kesukaran atau perjuangan. Kematian dapat terjadi jika ia berenang sendirian atau tidak diperhatikan. Secara umum, tampaknya bravado dan taksiran berlebih terhadap kecakapan berenang menyumbangkan kepada banyak kematian pada remaja. Sebagaimana kematian pada orang dewasa, alkohol dan penyalahgunaan obat juga dapat menjadi faktor yang bermakna.

II.3. Dewasa
Dua ratus delapan puluh tujuh (70%) dari 410 kematian akibat tenggelam di Australia pada 1989 melibatkan orang dewasa berusia 20 tahun atau lebih; dewasa muda, berusia antara 2029 tahun, merupakan yang tersering. Delapan puluh persen dari kematian akibat tenggelam di pantai Australia yang dipatroli oleh the Surf Life-Saving Association adalah orang dewasa; lagi-lagi, setelah puncak usia remaja/ dewasa muda, grup usia dewasa tampaknya turut mewakili dalam jumlah yang hampir sama. Laki-laki jauh lebih sering daripada wanita. Penemuan umum ini bahwa lebih sering terjadi pada laki-laki dewasa muda cukup dikenal dan bersifat universal. Dibandingkan dengan anak-anak, terdapat variasi yang lebih besar dalam lokasi tenggelam pada dewasa. Kebanyakan kematian terjadi pada timbunan air alamiah; faktor-faktor lokal menentukan apakah kematian terjadi di latutan, danau, sungai, dan sebagainya. Pada grup dewasa tua, bagaimanapun, gambaran lokasi tenggelam mirip dengan bayi dan anak-anakkematian di dalam bathtub dan kolam renang paling sering. Sebagai contoh, tenggelam di dalam bathtub di Los Angeles menunjukkan puncak yang dapat diramalkan pada anak-anak berusia 2 tahun atau kurang dan puncak kedua pada dewasa diatas usia 70 tahun.

Kebanyakan kematian pada dewasa disebabkan oleh kecelakaan, dan jumlah terbesar terjadi selama kegiatan rekreasional, khususnya mandi, berlayar, dan memancing. Secara umum terutama melibatkan laki-laki tetapi jumlah wanita yang tenggelam ketika mandi mendekati jumlah pada laki-laki. Tenggelam dapat terjadi karena bunuh diri. Di Australia pada tahun 1989 cara kematian diputuskan sebagai bunuh diri pada 15% kematian akibat tenggelam. Dalam sebuah penelitian New Zealand, dimana tenggelam pada anak disingkirkan, keadaan ini mencapai 27%. Jumlah wanita yang terlibat sama dengan pria. Tenggelam akibat pembunuhan adalah pengecualian, tampaknya hanya terdapat empat kasus di Australia pada 1989 dan satu kasus dalam penelitian New Zealand. Secara sejarah, tenggelam akibat pembunuhan telah menerima perhatian yang menonjol dalam literatur forensik. Pada tahun 1915 George Joseph Smith dihukum atas penenggelaman berantai terhadap ketiga istrinya dalam bathtub dan ia dijatuhi hukuman gantung. Demonstrasi di ruang pengadilan bagaimana penenggelaman dapat dicapai dalam bathtub hampir menghasilkan korban lagi, demikian ditambahkan pada cerita forensik-seorang polisi wanita yang berperan sebagai `pengantin wanita di dalam bathtub` tampaknya membutuhkan resusitasi setelah pembenaman. Intoksikasi alkohol adalah faktor penyumbang yang bermakna pada banyak kematian akibat tenggelam pada orang dewasa. Sebuah ulasan terbaru dari literatur menyimpulkan bahwa `persentase jumlah korban tenggelam dewasa yang terpajan alkohol...kemungkinan berada antara 25 dan 50%`. Dalam sebuah penelitian Australia, 37% dari 122 laki-laki dewasa korban tenggelam (51% dalam grup usia 30-64 tahun) menunjukkan kadar alkohol darah post-mortem diatas 80 mg/ 100 ml (17 mmol/L); tidak ada satupun dari 13 wanita yang tenggelam melebihi kadar ini. Hampir sepertiga dari pria yang tenggelam memiliki, kenyataannya, kadar alkohol dalam darah melebihi 150 mg/ 100 ml (33 mmol/L). Mereka yang tenggelam setelah kecelakaan berlayar khususnya, tampaknya telah menenggak alkohol sebelumnya. Efek depresan dari alkohol pada sistem saraf pusat, dengan akibat hilangnya kemampuan penilaian dan terganggunya reaksi terhadap keadaan berbahaya dapat memudahkan terjadinya keadaan tenggelam yang tidak terduga. Niat bunuh diri juga dapat dikambuhkan akibat induksi alkohol yang memperparah depresi atau kecemasan. Disamping efek-efek fisiologis ini, bagaimanapun, juga terdapat beberapa kegunaan alkohol terhadap tubuh yang mempengaruhi ketahanan:

Penekanan terhadap glukoneogenesis, menghasilkan hipoglikemi dan kelemahan fisik.

y y

Terganggunya regulasi suhu normal dengan kecenderungan terjadi hipotermia. Peningkatan penerimaan labirin didalam telinga tengah terhadap stimulasi panas, dengan disorientasi.

y y

Mengganggu mekanisme laringospasme protektif saat aspirasi air. Peningkatan refleks spasme arteri koronaria dengan pendinginan tiba-tiba pada kulit. Baik obat-obatan yang diresepkan maupun yang tidak diresepkan dapat turut berperan

terhadap kematian, hal ini umumnya berhubungan dengan alkohol. Dalam sebuah penelitian Amerika, obat-obatan dengan efek yang bermakna terhadap sistem saraf didapatkan pada 9% dari 247 kematian akibat tenggelam yang diperiksa. Sejumlah korban tenggelam dewasa memiliki kondisi medis mendasari yang penting, umumnya keadaan degeneratif yang berhubungan dengan faktor usia seperti atherosklerosis koroner. Sebelas persen dari 100 kematian akibat tenggelam pada pantai Australia yang dijaga oleh kelompok patroli memiliki kondisi medis seperti diatas, termasuk diantaranya 7 orang dengan infark miokard. Sebuah penelitian Amerika menunjukkan bahwa adanya riwayat bangkitan kejang ditemukan memiliki frekwensi sepuluh kali lebih besar dari frekwensi yang diperkirakan pada populasi umum; obat-obatan antikonvulsan ditemukan hanya pada setengah dari 16 orang dengan riwayat seperti diatas yang tenggelam.

II.4. Kematian massa


Kematian multipel akibat tenggelam dari sebuah insiden tidak sering terjadi; mereka timbul paling sering dari bentrokan kapal, terkadang dalam keadaan yang luar biasa. Contoh yang cukup dikenal diantaranya tenggelamnya Titanic pada 1912 dengan hilangnya 1500 nyawa, hingga yang menarik perhatian dari the Spirit of Free Enterprise pada 1987 dekat Zeebrugge dimana 188 nyawa hilang dan bentrokan antara kapal Marchioness dengan sebuah kapal penggali lumpur di sungai Thames pada 1989 yang mengakibatkan 51 kematian. Banjir dan ombak pasang surut juga dapat menghasilkan kematian massa akibat tenggelam. Salah satu insiden tragis tersebut terjadi di Bangladesh pada 13 November 1970. Sebuah typhoon berkembang di Teluk Bengal setelah beberapa hari. Ketika badai menyapu ke utara, ombak raksasa dan air yang meninggi menghasilkan banjir besar. Diperkirakan bahwa antara

300.000 dan 500.000 orang meninggal. Pola bencana yang sama telah terjadi dengan keparahan yang sama pada 1991.

II.5. Patofisiologi
Terendam dalam medium cair mengakibatkan kematian dengan berbagai mekanisme. Kebanyakan kematian individual terjadi akibat dari terhirupnya cairan (typical (khas) atau `wet` drowning / tenggelam basah), menghasilkan gangguan pernapasan dan selanjutnya hipoksia serebri. Sebagian, diperkirakan sekitar 15-20%, tidak menghirup cairan (atypical (tidak khas) atau `dry drowning`/ tenggelam kering). Kemungkinan lain, kematian dapat tertunda, setelah episode near-drowning / hampir tenggelam; kematian biasanya terjadi akibat ensefalopati hipoksia atau perubahan-perubahan sekunder dalam paru-paru. Pada beberapa kasus, khususnya dimana keadaan terapung dipertahankan secara buatan, kematian terjadi akibat hipotermia. Pada tenggelam typical, dimana terjadi inhalasi cairan, terdapat sejumlah rangkaian kejadiankejadian temporal yang dapat dikenali:
y y

Penahanan nafas (menahan nafas) volunter pada tahap awal. Dengan meningkatnya CO2 dan jatuhnya O2 dalam darah, titik patah (breakpoint) dicapai, menghasilkan pernafasan terengah-engah yang involunter.

y y y y y y

Spasme laringeal dapat terjadi mengikuti arus masuk air. Kehilangan kesadaran. Apneu sekunder. Terengah-engah involunter dimulai lagi, mungkin bertahan selama beberapa menit. Kejang-kejang. Henti jantung dan henti nafas. Inhalasi cairan oleh pernafasan yang terengah-engah secara involunter dapat disertai

dengan regurgitasi dan aspirasi isi lambung; sejumlah besar cairan juga dapat tertelan. Terdapat sejumlah perubahan-perubahan akibat hal tersebut pada paru-paru. Refleks vasokonstriksi mengakibatkan hipertensi pulmonal, dan bronkokonstriksi dengan akibat meningkatnya tahanan jalan nafas, keduanya terjadi. Fungsi paru menurun dengan drastis akibat surfaktan mengalami denaturasi; hal ini, bersama-sama dengan kehilangan cepat jaringan paru yang tersedia untuk pernapasan normal, menghasilkan rasio ventilasi/perfusi

yang secara mencolok tampak abnormal. Pada tingkat selular terdapat gangguan luas dari lapisan endotelial vaskular dan sel-sel epitel bronkial/alveolar. Air segar yang diaspirasi dengan cepat melewati septum alveolar dan dinding kapiler dan meninggalkan paru-paru dalam bentuk darah yang kini telah diencerkan. Air laut secara osmotik bersifat hipertonik, 3-4 kali lebih kuat dari plasma (sekitar 3.5% garam terlarut); cairan, karenanya, ditarik keluar dari darah kedalam ruang-ruang alveolar. Walaupun penjelasan tersebut mungkin terkesan sederhana, hal tersebut dimaksudkan untuk menjelaskan penimbunan cairan di dalam jaringan paru setelah inhalasi air laut. Fenomena yang mirip dapat, bagaimanapun, terjadi dengan inhalasi air-segar. Pada hal ini mekanisme yang terjadi berhubungan dengan kemampuan yang lebih besar dari air segar untuk mendenaturasi surfaktan paru. Perubahan yang diakibatkaan pada tegangan permukaan di paru mengakibatkan ketidakstabilan alveoli dan berbagai derajat kolaps. Cairan alveoli yang bocor ini tertimbun dalam ruangan-ruangan udara dan penimbunan cairan sekunder tersebut dalam paru-tenggelam sekunder-dapat mengakibatkan kematian. Derajat edema dapat ditingkatkan oleh faktor-faktor tambahan lebih jauh seperti sifat kimia dari medium cairan yang diinhalasi, adanya muntahan atau infeksi yang teraspirasi. Terdapat perubahan-perubahan patofisiologi sistemik lebih lanjut yang berhubungan dengan inhalasi cairan. Terdapat bukti percobaan yang dimana terdapat perubahan-perubahan yang bermakna terhadap perubahan volume darah, osmolaritas, kekentalan dan kadar elektrolit plasma yang terjadi. Perubahan-perubahan tersebut secara umum tidak dijumpai pada keadaan klinis atau sedikit bermakna secara klinis. Tentu saja, berlainan dengan yang terjadi pada cairan yang dihirup pada insiden near-drowning, pasien dapat mengalami hipovolemik yang bermakna sebagai akibat kehilangan cairan kedalam paru-paru dan jaringan sistemik. Sequelae sistemik lainnya yang mungkin terjadi pada near-drowningseperti disritmia jantung, dficit neurologis atau gangguan ginjal-dipercayai merupakan akibat langsung dari hipoksia ketimbang berhubungan secara khusus dengan tenggelam. Sebagaimana yang sudah diindikasikan, sekitar 15-20% kematian akibat tenggelam merupakan `dry` drowning (tenggelam kering) dimana tidak terdapat inhalasi dalam daripada cairan. Banyak dari kematian tersebut terjadi dengan Sangay tiba-tiba dan tidak terdapat bukti adanya usaha yang bermakna oleh korban. Mekanisme tepat kematian masih spekulatif. Salah satu usulan adalah bahwa masuknya air secara tiba-tiba kedalam mulut dan tenggorok menghasilkan laringospasme yang hebat dengan akibat asfixia. Kemungkinan lain, provokasi

serupa dapat merangsang jalur saraf sensoris simpatis ke derajat tertentu dimana terdapat inhibisi reflex vagal pada jantung dan asystolic cardiac arrest. Plueckhahn menyukai hal ini sebagai cara kematian, menyebutkan dimana terdapat suatu sistem yang menghubungkan spasme arteri koronaria dengan pendinginan tiba-tiba pada kulit. Beberapa faktor secara terpisah dapat memudahkan kematian dengan mekanisme ini:
y

Intoksikasi alkohol (mungkin akibat penekanan aktifitas kortikal yang mempengaruhi akitivitas simpatis dan parasimpatis yang tidak terkekang)

y y y

Adanya penyakit alamiah yang mendasari seperti atherosklerosis koroner. Terendam dalam cairan dengan terkejut, secara tidak terduga Takut atau telah melakukan aktifitas fisik yang penuh semangat sebelumnya (meningkatkan katekolamin yang beredar, bersama dengan timbunan oksigen, dapat memudahkan terjadinya aritmia jantung)

Seorang perenang yang luar biasa kuat dapat menjadi lemah secara bertahap sebagai hasil dari hipotermia dan `tenggelam`. Bila tidak, seorang yang terendam tetapi tetap mengambang dengan mekanisme buatan dapat meninggal sebagai akibat langsung dari hipotermia, tanpa tenggelam. Tubuh yang terendam menghangatkan cairan yang bersentuhan dengannya, dan dengan segera yang berdekatan dengan, permukaan tubuh. Bagaimanapun, air menghantarkan panas sekitar 25 kali lebih cepat daripada udara. Karenanya terdapat kehilangan panas yang cepat dari air yang telah dihangatkan dan, selanjutnya, meninggalkan permukaan tubuh. Tingkat kehilangan panas ini tergantung pada sejumlah faktor diantaranya bentuk tubuh (lemak merupakan insulator), usia (grup usia sangat muda memiliki proporsi permukaan tubuh yang lebih besar dan, karenanya, mendingin lebih cepat), pergerakan seperti berenang (bergerak akan menempatkan air yang hangat tetap dekat dengan tubuh) dan pakaian insulator (seperti baju atau Neoprene wet-suit). Tersedia tabel untuk memperkirakan lama waktu seseorang dengan bentuk tubuh/ berat badan tertentu dapat bertahan dalam air pada berbagai temperatur yang berbeda. Sebagai contoh, seorang pria yang tidak berpakaian dapat bertahan selama satu atau dua jam pada suhu air 5C tetapi jika orang yang sama berpakaian wet-suit dapat bertahan selama lebih dari 12 jam. Terdapat tiga fase klinis dari hipotermia yang dimulai dengan fase eksitatorik, dimana menggigil berhubungan dengan kebingungan mental; fase adinamik, dimana terdapat kekakuan otot dan sedikit penurunan kesadaran, dan, yang terakhir, fase paralitik yang

dicirikan oleh keadaan tidak sadar yang menuntun kepada aritmia jantung dan kematian. Fase-fase ini memiliki hubungan penting terhadap resusitasi pada korban near-drowning, sebagian besar karena fase paralitik dapat menirukan keadaan mati. Reflex menyelam mamalia, dimana terdapat penyaluran kembali darah ke organ-organ penting seperti otak, jantung, dan paru-paru setelah terendam dalam cairan, khususnya terpelihara baik pada anak-anak. Reflex ini, bersama dengan hipotermia, menghasilkan vasokonstriksi perifer yang hebat, memperlambat kerja jantung dan menurunkan tekanan darah; seorang penyelamat, karenanya dapat salah mempercayai bahwa korban telah meninggal. Dalam keadaan ini, resusitasi dapat tampak berhasil dengan `ajaib`.

II.6. Autopsi
Penemuan-penemuan patologis pada pemeriksaan post-mortem dari tubuh yang diangkat dari air tergantung pada sejumlah faktor, termasuk keadaan-keadaan dimana tubuh terendam dan lama waktu tubuh terendam didalam air. Terdapat sejumlah pertanyaan mediko-legal penting dimana ahli patologi harus mengantisipasinya pada seluruh kasus sesuai dengan keadaankeadaan yang tampak pada kematian. Hal ini mencakup:
y y y y

Identitas dari almarhum (pembusukan dapat menghalangi identifikasi visual) Penyebab langsung dari kematian, apakah terendam atau lainnya Pengaruh dari faktor-faktor lainnya yang menyumbang kepada kematian Interval post-mortem dan, selanjutnya, saat terjadinya penenggelaman yang mengakibatkan kematian.

y y

Membedakan cedera ante- dan post-mortem Sebagaimana seluruh pemeriksaan medis forensik, perbandingan dari bukti medis obyektif dengan situasi-situasi yang diduga.

Penemuan khas autopsi pada kecelakaan akibat tenggelam sekarang akan disoroti. Beberapa aspek kematian yang luar biasa akan dipertimbangkan kemudian.

II.7. Pakaian
Pemeriksaan pakaian, terkadang merupakan bagian yang diabaikan dari pemeriksaan medis forensik pada tubuh, dapat menyingkap informasi berguna yang dapat membantu dalam

interpretasi (tafsiran, penerjemahan) penemuan-penemuan fisik pada tubuh dan dalam penyelidikan terhadap dugaan keadaan kematian. Pakaian basah kuyub dari tubuh yang terendam dapat mengandung partikel pasir dan tumbuhtumbuhan laut atau binatang, tidak hanya menegaskan keadaan terendam tetapi, kemungkinan, juga lokasi. Dapat ditemukan jaket penyelamat atau pakaian insulator. Keduanya dapat mengakibatkan cedera post-mortem pada kulit tubuh. Ahli patologi juga harus mencatat setiap bukti malfungsi dari peralatan tersebut. Dapat ditemukan tinja pada pakaian bawah bila terdapat kejang walaupun hal ini tidak spesifik dan dapat merupakan bagian dari fase agonal `normal`. Pemikiran kembali terhadap keadaan yang diduga dapat berfaedah jika pakaian:
y y

Tidak sesuai dengan aktifitas yang diduga pada saat kematian Dalam keadaan berantakan-hal ini dapat terjadi akibat pergerakan tubuh di dalam air atau saat tubuh diangkat dari air tetapi juga dapat mengindikasikan adanya usaha perlawanan atau trauma lainnya yang terjadi sebelum tenggelam.

Menunjukkan perubahan-perubahan tertentu yang berhubungan dengan cederapotongan, lubang, noda darah, dsb.

Terkadang, pakaian dapat mengandung benda berat didalam kantung.

II.8. Pemeriksaan luar umum


Tangan harus diperiksa dengan teliti, baik untuk mencari adanya cedera yang mencurigakan maupun untuk menunjukkan gambaran-gambaran yang menegaskan bahwa korban terendam:
y

Cutis anserina-tampilan `seperti daging angsa` akibat kontraksi otot erektor rambuthal ini cukup dikenal. Cutis anserina tidak spesifik dan dapat dijumpai pada tubuh yang tidak terendam.

Perubahan pada kulit `tangan wanita pencuci`-perendaman yang berkepanjangan menuntun kepada pemutihan dan pengkeriputan kulit, khususnya pada permukaan palmar dari tangan dan telapak kaki. Walaupun tidak dapat ditentukan secara pasti waktu tepat yang mengakibatkan keadaan ini, perubahan dapat dilihat setelah selama satu jam terendam dalam air hangat.

Tumbuhan laut tergenggam dalam tangan. Walaupun jarang ditemukan, mungkin fenomena ini menggambarkan mencengkram tumbuhan laut pada fase akhir dari hidupnya, hal ini berhubungan dengan cadaveric spasme (rigor mortis instan). Cadaveric sejati yang menggenggam tumbuhan diduga kuat bahwa umumnya korban masih hidup saat tenggelam tetapi harus diingat bahwa terjebaknya tumbuhan secara pasif dapat terjadi post-mortem. Interpretasi tergantung pada apakah tumbuhan terjepit dalam tangan yang mencengkram kuat atau tidak.

Pemeriksaan wajah dan kepala dapat menampakkan dua gambaran khas dari terendam:
y

Post-mortem: lebam mayat(lividitas) (hipostasis)-karena pusat gravitasi tubuh mengarah ke kepala, tubuh korban tenggelam biasanya mengambang sebagian dengan kepala-kebawah didalam air. Lebam mayat, karenanya sering menonjol pada wajah dan dan kepala. Warna livor mortis dapat berwarna (tidak biasa) merah-pink-cerah sebagai akibat pengawetan suhu dingin terhadap oksihemoglobin. Dapat ditemukan petechiae yang berhubungan dengan lebam pada dan disekitar mata.

Kerucut foam (champigon de mousse), keluar dari mulut dan lubang hidungBerwarna putih atau agak sedikit terdapat darah, berbusa dan busa yang bertahan kuat dapat mengisi jalan napas dan dapat dilihat dari luar. Busa umumnya memanjang secara vertikal dalam bentuk kerucut yang tampak jika tubuh tidak diganggu, posisi terlentang. Busa terdiri dari campuran medium tempat tenggelam, udara dan sekresi dari kelenjar mukosa bronkhial. Jumlah busa yang tampak dari luar dapat meningkat volumenya sesaat setelah kematian ketika kaku mayat menekan dada.

Sisa pemeriksaan luar umum lainnya harus rutin dilakukan pada kasus-kasus tanpa komplikasi. Sebagaimana jenis kematian yang diakibatkan asfiksia lainnya, penis seorang laki-laki dapat semi-ereksi.

II.9. Cedera
Pemeriksaan teliti, dengan dokumentasi terhadap cedera yang sesuai merupakan bagian tidak terpisahkan dalam autopsi forensik. Insiden cedera post-mortem yang tinggi pada kulit dan jaringan bawah kulit (subkutan) pada tubuh yang terendam menyulitkan interpretasi mereka. Yang patut diperhatikan adalah cedera yang sifatnya mencurigakan. Hal ini mencakup:

Luka-luka jenis `pertahanan` pada jari-jari, tangan, lengan atau kaki (lepasnya kuku jari tangan, terpotongnya kulit).

y y y

Memar/abrasi pada kulit di buku-buku jari tangan Memar atau jejas tipe perlawanan pada kulit di pergelangan tangan atau lengan atas Tanda-tanda kebocoran vaskular pada lengan bawah atau daerah yang dapat diakses lainnya.

y y

Memar/abrasi pada bagian dalam bibir, termasuk cedera pada frenulum. Cedera pada kulit atau jaringan yang lebih dalam pada leher.

Beberapa cedera ante-mortem dapat membantu menjelaskan penyebab kematian pada tenggelam. Sebagai contoh, patah tulang cervical, terkadang mengakibatkan memar pada otot-otot paravertebral, dapat terjadi setelah menyelam kedalam air yang relatif dangkal. Cedera tumpul pada wajah atau dahi juga dapat timbul sebagai akibat kontak kuat dengan dasar air. Di beberapa bagian dunia, sengatan invertebrata dapat mengakibatkan kelumpuhan dengan cepat dan tenggelam; dapat ditemukan jejas-jejas yang tertinggal (terkadang lepuh) pada kulit. Cedera post-mortem pada tubuh korban tenggelam merupakan hal yang sering ditemukan. Sebagai akibat posisi tubuh dengan kepala dibawah pada tubuh yang terendam, mungkin dijumpai cedera tumpul yang bermakna pada wajah dan kepala. Permukaan bebatuan dan koral yang bergerigi dapat menghasilkan memar, abrasi, laserasi dan trauma tembus. Kontak dengan dasar yang berpasir menghasilkan abrasi kulit khas yang difus dan superficial. Selanjutnya pengeringan pada kulit dan lebam mayat yang terjadi, bersamasama memberikan gambaran seperti kertas perkamen pada wajah berwarna merah tua. Hewan-hewan laut dapat mengakibatkan luka-luka yang luas. Contoh diantaranya gambaran melesak kecil, bulat yang diakibatkan oleh lintah laut; ukuran yang bervariasi dan cacat yang tidak teratur pada kulit dan jaringan subkutan dibuat oleh ikan dan crustaciae; dan robekan yang lebih besar dibuat oleh hiu dan buaya. Hiu terbatas hanya pada daerah tropis dan sub-tropis. Binatang atau bagian dari binatang yang dapat diangkat dari luka dapat berguna baik untuk forensik maupun untuk akademik. Kontak post-mortem dengan perahu dapat menghasilkan cedera bermakna, diantaranya trauma tumpul ketika membentur bagian dari lambung kapal atau luka sayat pararel dan

linier yang khas dari baling-baling yang berputar. Terakhir, beberapa luka-terutama pada bibir, gigi atau dada-dapat terjadi dari usaha resusitasi.

II.10. Pemeriksaan dalam


Walaupun terdapat sejumlah perubahan dalam traktus respiratorius yang sering dijumpai pada kematian akibat tenggelam, tidak ada satupun yang patognomonik. Terdapat sedikit atau tidak banyak perubahan yang berhubungan dengan `dry` drowning; sejumlah kecil cairan dapat hadir di saluran nafas atas dan mungkin terdapat sangat sedikit penyumbatan pada paru. Sebaliknya, terdapat peningkatan jumlah cairan di dalam jaringan paru pada `wet` drowning yang mengakibatkan peningkatan berat paru, paru berwarna plum, dan konsistensi paru yang keras. Permukaan pleura visceral dapat sebagian atau seluruhnya tertutup dengan petechiae (Paltauf`s spots). Laring, trakea dan bronkus dapat mengandung cairan berbusa yang berlimpah jumlahnya, berwarna putih atau sedikit berdarah. Juga mungkin ditemukan benda asing seperti pasir yang teraspirasi, tumbuhan laut atau muntahan. Walaupun jelas terendam sejumlah air perubahanperubahan ini pada jaringan paru khususnya berwarna kemerahan setelah aspirasi air garam. Diluar rongga dada, terdapat dua gambaran khas dari tenggelam tetapi, yang lagi-lagi, tidak patognomonik-air yang tertelan dalam lambung dan kongesti atau perdarahan pada mukosa telinga tengah. Yang terakhir ini mungkin akibat dari perubahan tekanan yang berhubungan dengan pergerakan nafas terengah-engah yang kuat-mungkin ditambah dengan hipoksia-menginduksi kerapuhan pembuluh darah. Penemuan lainnya yang dapat merupakan faktor penyumbang yang bermakna terhadap episode tenggelam dan penyebab kematian dapat ditemukan. Sebagai contoh, demonstrasi terdapatnya penyakit yang mendasari dapat membantu untuk menjelaskan kematian tertentu, sebagaimana demonstrasi dari sejumlah makanan dalam jumlah besar, yang baru saja dicerna dalam lambung. Efek perangsangan kardiovaskular dari makanan dalam jumlah besar terkadang diluar perkiraan, sebagaimana derajat kelelahan fisik yang berhubungan dengan mandi; efek gabungan dari setiap hal tersebut dapat cukup untuk menimbulkan ketidakmampuan yang mengakibatkan tenggelam. Penemuan lain yang patut diperhatikan diantaranya sisa dari obat-obatan yang ditelan dalam lambung, atau

noda pada mukosa esofagus; hiperplasia ginggiva yang berhubungan dengan pengobatan epilepsi; dan bau yang berhubungan dengan penelanan alkohol.

II.11. Pemeriksaan mikroskopik


Secara umum, kegunaan praktis dari pemeriksaan menggunakan mikroskop cahaya pada jaringan tubuh dibatasi pada:
y

Menegaskan ada tidaknya penyakit mendasari yang bermakna (sebagai contoh, miokarditis)

Penegasan terdapatnya inhalasi cairan/ benda asing kedalam paru.

Alveoli paru khas ditemukan menggembung, mengandung cairan dan benda asing lainnya, termasuk muntahan yang teraspirasi. Dinding septum alveoli tampak teregang dan menipis; kondisi ini digambarkan sebagai `aqueous emphysema`. Pemeriksaan mikroskopik pada jaringan lainnya biasanya tidak bermakna. Pemeriksaan mikroskopik pada otak dan paru dapat menunjukkan penemuan-penemuan yang bermakna jika kematian tertunda mengikuti episode near-drowning. Pada otak, terdapat gambaran ensefalopati hipoksia dengan neuron `merah` iskemik yang khas. Paru secara khas menunjukkan gambaran sindrom gagal nafas dewasa (adult respiratory distress syndrome)pembengkakan dan proliferasi dari sel-sel alveolar, penebalan septum alveolar dan pembentukan membran-membran hialin. Perubahan-perubahan dari pneumonia infektif dapat menyerupai gambaran tersebut.

II.12. Pembusukan
Pemeriksaan dari tubuh yang membusuk menghadirkan masalah-masalah khusus baik penegasan obyektif dari identitas yang diduga maupun bertambahnya kesulitan dalam menginterpretasi penemuan-penemuan fisik. Bagaimananpun, adalah suatu kesalahan jika memeriksa tubuh yang membusuk dengan tidak teliti atau tidak menggunakan metode yang telah diberikan pada contoh yang telah diawetkan. Terbenamnya tubuh dalam air-garam memperlambat laju pembusukan, terutama jika air bersuhu dingin. Bagaimanapun, pembusukan dimulai kembali semenjak tubuh diangkat dari air dan lebih cepat pada lingkungan yang hangat. Air payau yang hangat mempercepat

laju pembusukan. Perendaman dalam air dingin dapat mengubah lemak tubuh menjadi adipocera. Struktur penting dari tubuh terawetkan dengan sangat baik ketika adiposera telah terbentuk. Pemeriksaan radiologi merupakan langkah awal yang berguna dalam pemeriksaan medis pada tubuh yang membusuk. Foto rontgen dapat berguna untuk identifikasi obyektif dan dapat menunjukkan cedera bermakna yang tidak terduga sebelumnya. Dari luar, tubuh membusuk yang diangkat dari air tampak sama seperti tubuh yang tidak terendam. Terdapat perubahan warna pada kulit dan pembengkakan lemak subkutan dan rongga tubuh. Perubahan `washerwoman (wanita pencuci)` pada kulit tangan dan kaki dapat menghasilkan pengelupasan kulit spontan pada tempat ini. Flap kulit partial-thickness yang kemudian diangkat dapat digunakan untuk identifikasi daktilografik. Pemeriksaan dalam dapat menampakkan beberapa perubahan penting yang dapat menyesatkan. Pertama-tama, perembesan darah ke jaringan ekstravaskular pada lebam mayat di kepala dapat memberikan warna ungu mirip bisul pada permukaan kulit kepala yang mirip dengan daerah memar akibat trauma tumpul. Tentu saja, tidak terdapat cedera pada kepala yang berhubungan. Perubahan ini juga dapat terlihat pada tempat lain, termasuk didalam otototot leher. Kedua, paru dapat lebih tampak kolaps daripada bervolume (sangat besar). Sementara pembusukan berlanjut, terjadi perembesan cairan yang dihirup dari jaringan paru kedalam rongga pleura; khasnya rongga dada mengandung cairan keruh, berwarna coklat dimana terdapat gumpalan lemak yang mengambang. Penemuan ini, bersama dengan perdarahan telinga tengah, yang mana jika ada, biasanya diawetkan pada tubuh yang membusuk, merupakan bukti penegasan yang berharga dari kematian akibat tenggelam. Sayangnya, banyaknya faktor-faktor intrinsik dan faktor-faktor lingkungan yang terlibat dengan pembusukan dalam medium cair membuat penilaian berapa lama korban telah meninggal menjadi kurang akurat daripada kematian pada daratan kering.

II.13. Bunuh diri dan pembunuhan


Masalah apakah kematian terjadi akibat kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan dapat dialamatkan melalui pertimbangan terkoordinasi terhadap keadaan-keadaan yang diduga pada kematian dan bukti-bukti medis obyektif yang ada. Walaupun tidak mutlak spesifik, terdapat beberapa petunjuk yang dikenal baik mengarah kepada bunuh diri. Hal ini diantaranya, tempat yang teratur, mungkin disertai menanggalkan dan melipat pakaian sebelum korban masuk kedalam air-Professor Keith Simpson sering berkomentar pada kebiasaan dimana

bunuh diri pria meninggalkan topi mereka dibelakangnya dan wanita meninggalkan tas tangan mereka dibelakangnya; dapat tertinggal sebuah catatan bunuh diri tetapi harus ditegaskan sebagai tulisan korban; adanya alat-alat lain sebagai metode alternatif bunuh dirisebagai contoh, sebuah senjata atau wadah obat kosong; bukti medis lainnya adanya niat bunuh diri termasuk luka sayat pada pergelangan tangan atau sisa tablet dalam lambung. Bukti-bukti semacam itu harus, bagaimanapun, diartikan dengan teliti. Sebuah bunuh diri dapat memberatkan tubuhnya dengan batu, tetapi sebuah pembunuhan juga akan memberatkan jasad yang telah meninggal dalam upaya untuk mengurangi kemungkinan ditemukannya jasad tersebut. Beberapa petunjuk yang mengarah kepada pembunuhan diantaranya:
y y y y

tempat kejadian perkara yang tidak teratur; pakaian yang kacau; kematian pada waktu yang tidak biasa dalam sehari, khususnya pada anak-anak; adanya cedera yang tidak jelas dari tipe yang mencurigakan

Penting khususnya untuk mempertimbangkan kemungkinan adanya penyiksaan yang mengakibatkan kematian pada anak-anak yang hampir tidak nampak. Adanya memar pada ujung-ujung jari, khususnya pada bagian belakang, hasil dari tekanan pada cengkraman dapat menjadi bukti yang sangat berarti. Dalam praktek, pembunuhan dengan menenggelamkanatau yang dikatakan, didorong keluar kapal-jarang aman dalam lingkungan domestik. Lagilagi, bagaimanapun, dibutuhkan kewaspadaan. George Smith membunuh istri-istrinya dengan menenggelamkan kepala mereka secara tiba-tiba; tetapi mekanisme yang sama tercatat untuk penyebab utama kematian pada anak-anak di dalam bathtub dan hampir semuanya terjadi akibat terpeleset. Pada lingkungan alam, ketertarikan utama pada pembunuhan dengan penenggelaman terletak pada membedakan antara tenggelam yang diakibatkan oleh kecelakaan dan pembuangan tubuh yang sudah meninggal sebelumnya. Disini, prinsip-prinsip umum dalam membuktikan kematian diakibatkan oleh tenggelam atau mengidentifikasi adanya penyebab lain dari kematian yang tidak wajar tersebut harus dikerjakan. Banyak diantaranya, bagaimanapun, dituliskan berdasarkan kegunaan diatom sebagai alat untuk membantu interpretasi.

II.14. Diatom

Diatom adalah alga uniselular, yang ditemukan dimana saja, dimana terdapat air dan cukup cahaya untuk menstimulasi fotosintesis. Lebih dari 10.000 spesies telah digambarkan. Diatom umumnya berukuran panjang atau diameter 40-200 m, tetapi dapat lebih kecil (4-5 m) atau lebih besar (hingga 1 mm). Mereka memiliki bentuk bermacam-macam, mulai dari berbentuk seperti jarum hingga berbentuk bulat. Aspek forensik yang paling berarti dari diatom terletak pada kemampuannya untuk mengelilingi dirinya dengan cangkang silikafrustule. Diatom pertama kali diisolasi dari jaringan paru pada korban tenggelam lebih dari 85 tahun yang lalu; kemudian, mereka ditemukan di organ tubuh lainnya. Sejak saat itu, bagaimanapun, mengundang kontroversi terus dilanjutkan memandang kegunaan dari analisa diatom sebagai tes konfirmasi pada kematian akibat tenggelam. Secara singkat, teknik terbaru untuk isolasi diatom melibatkan pencernaan jaringan oleh asam-umumnya paru, darah, ginjal atau sumsum tulang-selanjutnya disentrifuse dan dibilas. Sisa akhir kemudian diperiksa dengan mikroskop fase kontras untuk mencari adanya alga khusus. Diambil sejumlah air dari tempat yang diduga merupakan tempat kejadian perkara dan kontrol laboratorium yang sesuai juga diperiksa. Penyokong berupa teknik yang menekankan pada penunjukkan terdapatnya sejumlah diatom dalam jumlah yang bermakna yang diperoleh dari tubuh yang diangkat dari air dapat menegaskan:
y y y

Bahwa kematian merupakan akibat dari tenggelam. Bahwa seseorang masih hidup saat air masuk. Tempat tenggelam dengan membandingkan spesies diatom dalam air dan dalam tubuh. Perhatian kritis dipusatkan pada beberapa masalah, dengan tidak mengurangi

spesifisitasnya. Penekanan ditempatkan pada hasil positif palsu yang tampaknya sering terjadi, diatom ditemukan terdapat pada jaringan tubuh yang jelas-jelas tidak tenggelam. Sifat alamiah diatom yang terdapat dimana-mana menjadi pokok masalah; kontaminasi ekstrinsik dari peralatan laboratorium sama mungkinnya dengan kontaminasi dari organ tubuh yang telah mengandung diatom sebelumnya dari sumber-sumber alamiah diatom, baik dengan cara inhalasi maupun dengan penelanan. Hasil negative-palsu dapat terjadi, diatom tampaknya tidak terdapat pada jaringan tubuh seseorang yang hampir pasti tenggelam. Hal ini pasti akan

diduga pada kasus `dry` drowning tetapi kegagalan untuk menemukan diatom juga dapat terjadi pada tenggelam khas `wet` drowning. Pendapat-pendapat, kemudian, bervariasi secara luas mengenai kegunaan analisa diatom dalam penyelidikan kematian akibat tenggelam. Terdapat dukungan yang meyakinkan pada akhir dari kedua spektrum. Pada beberapa laboratorium, analisa diatom dapat memberikan informasi tambahan yang, jika dipertimbangkan dengan seksama bersama-sama dengan parameter lainnya, dapat berguna dalam menilai kematian dari korban yang diangkat dari air. Tidak dapat disangkal bahwa `nilai` tes ini meningkat dengan pengalaman penggunaannya, banyak kegagalan untuk mengambil nilai dapat dikarenakan oleh kegagalan dalam teknik. Tes tenggelam lainnya telah disokong selama beberapa tahun. Salah satu dari yang pertama kali adalah pengukuran kadar klorida dalam darah yang diambil dari sisi kanan dan kiri jantung (tes Gettler`s)-kematian akibat tenggelam dikatakan akan menunjukkan perbedaan lebih dari 25 mg/ 100 ml (7 mmol/ L). Tes ini tidak lagi dianggap dapat diandalkan-terlalu banyak perubahan-perubahan yang tidak dapat diramalkan pada kadar klorida darah yang terjadi post mortem. Saran-saran terbaru untuk tes tenggelam yang mungkin dapat berguna mencakup kadar strontium dan fluorine dalam darah, peptida natriuretik atrial, haptoglobin, dan fosfolipid surfaktan paru. Pada saat ini tidak ada satupun diantaranya yang diterima secara umum sebagai dapat menyediakan bukti forensik adekuat yang dapat diandalkan.

II.15. Lampiran
Sementara buku ini diproduksi, sebuah survey penting mengenai tenggelam pada anak-anak di UK telah diterbitkan. Penemuan-penemuan ini mirip dengan yang ditemukan ditempat lain; penekanan khusus ditempatkan pada peningkatan pengawasan pada anak-anak. 2007
Create a Free Website