Anda di halaman 1dari 75

DOL monolog Putu Wijaya DIMAINKAN OLEH LAKI-LAKI/PEREMPUAN SEORANG PEREMPUAN MUNCUL DI KANTOR POLISI DENGAN SEBUAH EMBER

YANG NAMPAKNYA PENUH AIR. IA MEMBERIKAN PENGADUAN. PETUGAS MENCATAT SEMUANYA DENGAN TELITI Nama saya Intan Ratna Menggali. Umur 30 tahun. Saya tinggal di Gang Penggalang, Kebon Kosong. Saya datang ke mari atas kemauan saya sendiri. Tidak ada yang memaksa. Saya mau mengadukan suami saya. Dia sudah memukul saya tiap hari. Tadi kalau saya tidak keburu lari, kali saya sudah jadi mayat sekarang. Saya minta supaya Bapak polisi menangkap dia, sebab orangnya berbahaya sekali. Dia garong. Bandar narkoba. Suka sadis. Saya sudah kenyang disiksa. Sudah cukup. Dia tidak hanya doyan main gampar, nendang, nyulut dengan rokoh, ngeludahin, juga memaki-maki saya anjing, kerbau, kecoak, tikus, ular, buaya, tokek, apa? Ya bekicot juga! Betul. Masak saya disamakan dengan cacing. Dia itu yang kelakuannya seperti kobra. Coba pikir. Masak anaknya sendiri dijual. Saya dipaksa melayani orang. Duitnya dipakai senang-senang main judi dan nyabo. Ya saya berontak. Saya kan bukan perempuan yang tidak bisa diperlakukan semau gue. Saya masih punya harga diri. Saya tahu mana yang boleh mana yang tidak bisa diterima. Saya tidak mau masuk neraka. Biar dia saja yang ke neraka. Saya ingin hidup yang wajar saja. Saya masih punya cita-cita yang belum bisa saya dapat. Saya mau jadi guru. Saya akan ajari murid-murid saya menghormati perempuan. Ibunya, saudara perempuannya, istrinya lalu anak-anaknya. Saya akan ajak murid-murid saya nangkap capung, cari belut di sawah, nangkap katak, mencuri mangga, menaiki pagar orang dan mengintip orang mandi. Apa? Ya itu semuanya perlu. Karena dunia akan kiamat. Kalau kiamat, tidak akan ada lagi orang jualan makanan. Super maket tidak ada. Makanan harus cari sendiri. Kalau tidak bisa mencuri ya mampus. Apa? Ya sudah banyak orang bilang saya gila. Tapi sampai sekarang saya belum gila-gila juga. Sudah banyak orang bersumpah dia tidak gila. Tapi belum selesai sumpahnya dia sudah gila. Supaya tetap waras di tengah oranmg gila itu ada caranya. Berpikir positip. Jangan pikirkan yang kurang menguntungkan. Jadi pikiran kita bersih. Dengan pikiran bersih, dunia yang kotor ini jadi asyik. Kita bisa senang setiap hari, untuk seneng tidak perlu bayar ini-itu segalanya. Senang itu datang sendiri, kalau kita memang dia sukai. Saya disukai senang. Jadi saya senang terus. Ya! (KETAWA MALU) Tapi itulah. Seperti sudah saya katakan tadi, sudah dicatat belum? Catat semuan ya dong, Bapak kan polisi.. Tentang suami saya. Suami saya itu bajingan. Bajingan kelas kakap. Saya minta supaya dia dibunuh saja. Sebab orang seperti itu kalau dibiarkan, negara kita akan rusak. Dia provokator. Tiap hari dia dia menganjurkan supaya orang-orang itu berontak. Dia bilang tidak ada yang beres. Pemerintah sudah tidak mengurus rakyat. Rakyat tidak hormat pada peraturan. Pendidikan membuat anak-anak jadi liar. Dan agama dipakai untuk berantem. Pendeknya semuanya sudah rusak. Hanya dia saja yang waras. Dia mengaku dia itu nabi. Kata dia, dicatat dong! Tidak dicatat? O begitu? (MENGUBAH SUARANYA) Jadi begini. Saya juga mengadukan mertua saya. Dia itu yang menjadi sutradaranya. Dia juga yang menulis skenarionya. Kalau tidak ada dia, suami saya tidak akan jahatnya begitu. Paling juga rongrongan maknya yang sudah bikin suami saya jadi gila.

Dulunya dia baik sekali. Seperti Puntadewa. Tapi kemudian, mau menang sendiri. Tidak pernah ngaku kalau salah. Di samping itu tiap hari dia mukulin saya. Hidung, kepala, semua dia bonyok dipukulin. Tadi hampir saja dia bunuh saya, kalau saya tidak keburu lari, mungkin saya sudah jadi mayat sekarang. Apa? O itu sudah dicatat? Kalau begitu begini. Tetangga saya saja. Tetangga saya itu juga jahat. Semuanya. Yang sebelah kiri, kanan, depan, belakang, semuanya jahat. Yang di atas, di bawah apalagi.Yang baru pindah itu juga. Dari mukanya kita sudah tahu hatinya bengkok. Ini bahaya sekali. Saya minta supaya mereka semua juga ditangkap sekarang. Kalau terlambat, mereka akan jadi teroris. Masak kita biarkan saja ada teroris gentayangan di sekitar kita. Ya. Jangan kura-kura dalam perahu! Teroris itu kan mau benernya sendiri. Apa? Tidak usah dibuktikan lagi. Untuk apa? Sudah jelas yang sudah saya sebut tadi jahat semuanya jahat. Itu tadi sudah saya kurangi, sebenarnya jahatnya lebih tidak ketulungan. Merinding! Percaya saya. Dicatat nggak?! Nyatat-nyatat begini juga untuk apa, tidak ada gunanya. Buangbuang waktu saja. Langsung saja. Potong. Karungin. Supaya semuanya cepat beres. Kalau sudah ada jaminan begitu, saya akan aman. Nanti saya akan pulang. Saya akan bilang sama suami saya, saya sudah lapor. Saya sudah jeritakan blak-blakan semuanya, kan?! Tidak ada yang ditutupi. Apa perlu lebih terbuka. Mau saya buka-bukaan? Baik. (MEMBUKA PAKAIANNYA) Apa? Terimakasih. (TAK JADI MEMBUKA) Nama saya Intan Ratna Menggali. Saya tinggal di Kebon-Kosong. O ya, sudah dicatat semuanya tadi oleh Bapak itu. Apa? Yang mana? Mana?! (MELIHAT DAN MENCARI-CARI DI KEJAUHAN)/Itu? Itu? O perempuan itu? Yang baju merah, yang rambutnya pirang itu? Mobilnya tiga kan? Dan rumahnya lantai tiga. Memang cantik. Darah biru kok. Pernah diminta untuk main film, tapi dia tidak mau. Katanya tidak suka film-film yang dangkal. Dia lebih senang film seks. Ya tahu, tahu sekali. Apa? Yang mana? O itu? Yang baju hijau itu. Ya itu. (KETAWA) Bagaimana tidak kenal. Masak tidak kenal. Lucu! Bapak ini suka guyonan ah. Jangan gitu, saya ini kan belum tua. Saya baru 30 tahun. Untuk ukuran sekarang lagi panas-panasanya. Nama saya Intan. Saya dari Kebon Kosong. Ya itu. Perempuan yang itu kan? Yang punya mobil merah itu. Yang tadi baju merah, tapi sekarang sudah baju hijau? (KETAWA) Keterlaluan masak saya tidak tahu. Kenal? Gila! Masak saya tidak kenal. Itu kan saya. Yang cantik tidak ketulungan itu? Itu saya Pak! Itu saya! (KETAWA) Lho kok tidak percaya. Itu saya, Pak. Itu saya. Nama sata Intan Ratna Menggali. Umur saya 30 tahun. Saya tinggal di Kebon Kosong. Ya itu orangnya, saya itu. Saya datang mau memberikan pengaduan. Saya sudah disiksa oleh suami saya, mertua saya tang brengsek dan tetangga-tetangga saya yang kampungan. Saya minta supaya mereka semuanya ditangkap dan langsung ditembak mati. Tidak perlu! Proses hukum itu tidak praktis. Nanti kalau ngomong terus, hasilnya malah bisa terbalik. Sebab kalau tidak, apa? Ya! Bisa nghelantur, nanti pasti saya yang akan jadi mayat. O sudah? (BERDIRI) Kalau sudah ya sebaiknya saya permisi pulang sekarang. Cuma kalau saya boleh curhat sedikit, Bapak-Bapak dam Ibu-Ibu, Saudara-Saudara semuanya di sini semuanya lambat sekali. Saya datang dengan info yang jujur supaya Bapa-Ibu dan Saudara melakukan tindakan cepat, eee malah diajak ngobrol. Jangan-jangan sekarang sudah pada lari semuanya. Kalau begini terus, tidak akan bisa aman. Bapak-Bapak ini kurang piawai menjalankan tugas. Akan saya adukan nanti pada atasan Bapak supaya Bapak-bapak semuanya dipecat. Atau lebih suka masuk penjara atau dieksekusi? (JALAN MAU PERGI) Tapi jangan bilang kepada siapa-siapa saya sudah datang ke mari. Mereka tidak akan percaya. Mereka lebih tidak percaya lagi, Bapak-bapak kok mau

menghabiskan waktu Bapak untuk mendengarkan orang gila seperti aku?! Bapak kan digaji negara untuk melayani rakyat. Uangnya uang rakyat. Ngapain buang-buang waktu ngeladenin saya? Berarti Bapak-Bapak semua koruptor sudah menghambur-hamburkan uang rakyat. Tapi kok belum ditangkap KPK ya. (KEPADA PENONTON) Ingat, saya Intan Ratna Menggali. Usia saya baru 30. Saya tinggal di Kebon Kosong. Saya mau melaporkan. Tolong catat. Para penonton ini semuanya adalah orangorang sadis yang ingin menertawakan orang lain. Semuanya! Kalau saya tidak gila, tidak akan ada yang mau mendengarkan saya. Tapi karena menyangka saya gila, dari tadi semuanya bengong mendengarkan saya gila. Orang-orang semacam penonton kalian ini yang mesti ditangkap. Berbahaya kalau dibiarkan gentayangan. Diam di situ, jangan pergi. Tunggu sampai petugasnya datang. MENGAMBIL EMBER. Saya akan laporkan semuanya. Kalian penontonlah yang sudah membuat dunia ini rusak. Kalian penontonlah yang maunya ketawa melulu, protes-protes, kecabulan, buka-bukaan, pelanggaran. Kalian penonton yang maunya hanya menonton. Kalian semua orang-orang sakit, orang-orang gila yang harus diseret ke lapangan tembak. Kalian yang sudah bikin televisi tidak moral, bioskop cabul, buku-buku maksiat. Aliran-aliran sesat. Generasi muda letoi, teler, bermental budak. Kalian yang sudah bikin para pemimpin masyarakat jadi badut. Kalian penonton semua maniak. Paranoid! Sesoprenia!Kalian yang sudah mengubah media massa itu menjadi pelacurpelacur, demi iklan, demi oplag, tidak peduli ;lagi keadilan dan kebenaran untuk mencerdaskan masyarakat. Kalian semua akan masuk neraka kalau dunia kiamat! BERGERAK SEPERTI PENARI STRIP. MELEPASKAN PAKAIANNYA SEMUA. TERNYATA DIA SEORANG LAKI-LAKI. (KALAU PEMAINNYA PEREMPUAN, NAMPAK DAGING LEBIH BUATAN MENJULUR) LALU TIBA-TIBA MENGAMBIL EMBER DAN MENUMPAHKAN ISINYA KE PENONTON. LAMPU PADAM.

Rumah Sakit Pertamina, ngantar Irsad, 23 Maret 2010

KROCO monolog Putu Wijaya

KROCO TERTIMBUN KORAN SAMBIL NONTON TELEVISI, LALU SAMBAT

Nilai rupiah baru saja menguat di sekitar 11 ribu selama hampir satu minggu. Tetapi para pengamat ekonomi langsung berkoar. Jangan terlalu cepat tertawa. Itu bukan tanda rupiah bebas dari demam berdarah, itu angin segar dari perbaikan harga Yen. Pasang-surut rupiah sudah dikonsumsi oleh politik, mereka pakai senjata untuk menunjukkan kepercayaan luar negeri sudah mulai pulih. Padahal kalau memang pulih, mengapa investor mancanegara tak kujung nongol. Gombal! Di depan mata para pakar ekonomi, situasi ekonomi di tanah air sudah di tepi jurang kebangkrutan. Di depan 200 juta rakyat yang sudah megap-megap dikunyah taring gila sembako, menganga kawah Candradimuka. Lutut pun langsung lemes, semangat bertahan amburadul. Iman hancur. Hidup tak berguna diteruskan, karena akan lebih sakit dari mati. Tapi para tokoh politik malah jor-joran memproduksi partai. Mereka melirik rakyat dari layar televisi dengan informasi yang tak kurang seremnya. Segala langkah sudah salah. Semua upaya serba tanggung. Tak ada lagi yang bisa dipercaya di atas dunia. Masa depan neraka, buat apa disongsong. Setiap gerak berarti kesakitan. Lalu apa tidak lebih baik lari, tapi ke mana? Sudahi sekarang segalanya, sebelum hati diiris-iris. Para pakar dari semua desiplin, bergantian menyanyikan kecemasan, kekhawatiran, prasangka, kecurigaan, ketakutan dan ramalan-ramalannya yang mendirikan bulu roma. Mereka sudah putus-asa, sinis, berang dan menghujat segala kebobrokan, kesalahurusan, kecurangan ketimpangan dan penindasan terhadap kemanusiaan yang sudah terlalu biadab. Ya Tuhan, semuanya terasa begitu benar, begitu nyata, begitu tak terbantah. Hidup di Indonesia sekarang adalah pesta ketakutan. Karnaval kekhawatiran terhadap kesadisan. Semua berlomba urun pemikiran dan penafsiran atas kejadian yang sedang berlangsung. Makin serem, makin dahsyat, makin menakutkan, seperti semakin benar. Makin panik, makin tak berdaya, makin putus asa rakyat, seperti membuat cerita itu terasa semakin berbobot. Makin bingung, semakin panik para pendengar, semakin terasa kejituan para ahli tersebut dalam menyimak. Bukan lagi kelangkaan sembako yang ditakuti, tetapi cerita para ahli. Bukan lagi kesulitan hidup yang menyakitkan, tetapi jalan pikiran bagaimana nasib setiap orang akan berakhir. Bukan lagi hidup yang mencemaskan tetapi ancaman-ancaman cerita dasri televisi dan koran yang makin menyeramkan itu. Aku lantas panik.

MEMBANTING TELEVISI. MENGHAMBURKAN KORAN-KORAN,

Aku terkatung-katung di air mendidih informasi butek tersebut. Sudah lama aku tidak lagi berani membaca koran, karena takut akan mendapat teori bagaimana lubang kuburku akan dibuat. Sudah lama aku tidak menonton televisi, sebab di sanalah gudang para-cerdik pandai memberikan ramalannya yang mengancam. Aku ngeri. Keluar rumah bertemu dengan orang lain pun aku tak kepingin. Mengapa hidup bisa begitu buas, kejam dan tak kenal ampun. Berbulan-bulan aku hanya duduk di meja makan. Menghayati nasi yang untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya terasa indah, walau hanya disuap dengan garam. "Keluarlah, bergaul dengan tetangga, cari pandangan, supaya wawasan jadi luas, jangan seperti pensiunan, "bujuk istriku melihat suaminya putus asa. Tetapi aku tak sanggup. Telepon-telepon aku biarkan menjerit tak kujawab. Tamu aku hindari. Bahkan aku takut mendengar nafasku sendiri. Memandang ke luar jendela pun terasa sakit. Segalanya sudah berubah. Hidupnya sudah berhenti. Mengapa kalian para ahli itu tidak bicara dengan ahli yang lain saja. Mengapa kau terus menakut-nakuti kami yang tidak berdaya. Apa gunanya kami ketahui semua itu, kalau membuat kami tidak sanggup berbuat apa-apa. Lha sampeyan sendiri, jangan cuma mendokumentasikan, jangan cuma jor-joran bikin takut, tetapi jawab langsung dong, agar kita tahu apa yang harus kita lakukan! Mbok jangan mempercepat kematian kami yang sudah takut. Tak usahlah. Lakukan saja sesuatu. Jangan menceritakan semua itu, seakan-akan kalian sendiri tidak ada di dalamnya. Bukankah itu semua produk kita, karena kita ada di dalamnya? Pemimpin yang buruk tidak akan memikul tanggungjawab. Mereka akan berlepas tangan kalau keadaan bahaya. Tapi kalian semua kan pemimpin yang baik? Aku tak sanggup lagi terus mengeluh. Kesabaranku sudah sampai ke puncak. Akhirnya aku menutup jendela rapat-rapat. Menutup pintu. Melepaskan sprei dari kasur. Lalu memintal kain itu menjadi tambang. Sesudah itu mencari sebuah kursi, agar bisa menggantungkan tali itu ke tiang rumah. Lalu mengikat leherku kuat-kuat, sambil menendang kursi. Selamat tinggal Indonesia tercinta!

MENGGANTUNG DIRI

Kursi terlempar ke lantai. Kedua kakiku tergantung di udara. Kain sprei yang dulu aku beli bersama istri menjelang pernikahan, menjerat leher. Nafasku sesak. Lidahku mulai terjulur dan mataku membelalak. Dalam lima menit seharusnya aku sudah mati. Nomalnya begitu. Tetapi aku Kroco yang mau lari dari himpitan krismon itu, bukan Kroco yang dulu. Aku memang bertambah ringkih, karena tidak makan secara teratur lagi. Aku memang sudah putus asa dan ingin menyerahkan hidupku. Namun keadaan sudah amat berubah. Nilai-nilai pun sudah ikut bergeser. Meskipun sudah lewat lima jam tali sprei itu menjerat leher, aku belum juga mati-mati. Lidahku sudah pol terjulur. Tenggorokan rasanya sakit luar biasa, karena seluruh berat badan sekarang tergantung dari urat dan daging di bawah daguku. Tetapi aku, Kroco ternyata masih hidup. Bahkan pikiranku menjadi semakin nyaring, melenting ke mana-mana. Aku jadi teringat kepada anak-anakku yang akan akan kutinggalkan. Mereka pasti akan tercampak jadi pengemis di perempatan jalan. Kalau tidak mati muda, mereka akan jadi bandit,

untuk bertahan hidup. Aku teringat kepada istriku yang akan berjuang sendirian. Perempuan yang teteknya menggumpal itu akan terpaksa jadi pelacur. Karena tak ada yang bisa laku selain tubuhnya. Aku teringat kepada kawan-kawanku yang pasti akan mengadiliku sebagai orang sesat. Pengecut. Tak punya nyali. Neraka pun tidak sudi menerimaku. Aku teringat kepada guru-guruku yang pasti merasa tertipu, karena mereka pernah mengharapkanku sebagai bunga harapan bangsa. Ternyata aku hanya keok di tanganku sendiri gara-gara tak mampu merebut sembako. Bukannya mati, air mataku malah bercucuran. Ya, ya aku tahu. Aku memang konyol. Aku lemah. Aku kalah. Aku ini ayam sayur. Tapi mau apa lagi. Aku memang tak sanggup. Aku terima resikonya. Ini memang sudah nasib, takdir dan memang pilihanku. Aku meraba sprei yang semakin keras membelit leherku. Lantas mengguncang-guncang tubuhku, agar bisa cepat mampus. Semakin terguncang, semakin sakit. Tetapi semakin kesakitan, semakin aku tidka bisa mati. Sakitnya sajua yang tambahy bertubi-tubi.. Saraf-sarafku justru tambah peka. Pikirannya bertambah terang. Kepala rasanya hendak meledak karena sesak. Tetapi tidak bisa mati. Hanya sakitnya yangt tidak ketulungan. Berjam-jam aku tergantung seperti itu. Berjam-jam aku kesakitan. Berjam-jam aku terdera. Berjam-jam aku putus asa. Segalanya memuncak. Aku sudah sampai ke puncak tertinggi kesakitan tetapi ternyata tidak mati-mati juga. Aku tersiksa, digigit-gigit oleh pikiranku sendiri. Satu hari lewat. Dua hari. Seminggu. Sebulan. Seratus hari lewat, aku tetap saja tidak mati-mati. Hanya sakitnya tambah deras. Hidup jadi semakin jelas. Mataku seperti pakai miskroskop dikepung jutaan persoalan. Bukan main banyaknya dan bukan main sakitnya. Akhirnya aku melolong. Baik, baik, kalau begini caranya berarti gua harus mengerti! Lalu aku lepaskan lagi belitan tapi gantunganku. Badanku berdentam ke lantai.

JATUH KE LANTAI

Kakiku patah dan pinggangku bengkok. Kepalaku menghantam lantai mengucurkan darah. Pembuluh daraj ke otakku mungkin sudha putus. Dan saraf-sarafku tidak bekerja. Tetapi tetap saja aku tidak mati-mati. Megap-megap kuterima kembali seluruh beban dunia yang hendak kutinggalkan ini. Aku ditolak. Tidak ada pintu terbuka. Hidup tanpa peluang. Bahkan sekarang begitu berat. Karena aku sudah cidera. Sama sekali tak berdaya. Sakit pun tidak lagi terasa, Ya Tuhan! Alangkah saktinya orang kecil! Mati pun gua kagak berhak lagi!

Astya Puri 30-09-98

MARKUS monolog Putu Wijaya

LAMPU MENDADAK MENYALA Ketika mendengar aku mengutuk-utuk markus, tiba-tiba tetangga di sebelah itu langsung berkoar-koar. Suaranya lantang dan menantang. Tapi kalau Tuhan mengizinkan, saya akan tarik anak saya dari sekolahnya di luar negeri. Biar dia di rumah saja jadi markus! Aku tercengang. Dia tertawa mengejek. Anda masih ingat tidak, di masa lalu, semua orang bercita-cita ingin jadi pegawai negeri. Alasannya ada jaminan pensiun. Kalau menyekolahkan anak tujuannya hanya tiga: jadi dokter, insinyur atau mister. Mister in de Rechten kemudian turun pamor karena gelar Mr. diganti jadi sarjana hukum Kedengaran kampungan. Sekarang kalau tidak terpaksa orang ogah jadi pegawai negeri. Ngapain mati berdiri! Tujuan pembelajaran sudah beda. Dunia berubah. Hari gini, masak kita masih makan tai. Sekolah itu bukan untuk mengantongi pengetahuan, bukan untuk memelet gelar, tapi mengasah ketrampilan. Bukan zamannya lagi kita mati-matian mempertaruhkan hartabenda untuk membiayai anak sekolah. Itu kuno. Kita sekarang berburu rezeki! Apa yang bisa meningkatkan keahlian , supaya laku, jadi duit, itu baru diburu. Jadi pemain bola, jadi penyanyi, artis, pelawak atau caleg. Jadi saya putuskan saya akan tarik anak saya pulang untuk jadi markus! Makelar kasus! Maaf kalau kita beda, Pak! Aku terpaksa mengangguk. Tapi bukan setuju. Aku hanya mau menghindarkan bentrokan. Ya itu terserah, ini kan negara demokrasi, orang bebas berpendapat! Habis, kenapa tidak, Pak! Daripada jadi orang jujur, tapi kena gusur, lebih baik jadi jahat sekalian. Kalau duit banyak kan bisa kebal hukum. Yahhhh kalau toh ditangkap, itu resiko. Masuk penjara sebentar, tidak apa, hitung-hitung pengalaman, malah jadi selebriti masuk tv. Keluar-keluar, duit masih ada. Nama juga tidak ada masalah, sebab orang yang keluar penjara masih bisa pegang jabatan dan jadi pemimpin. Ya nggak, Pak? Sorry kalau kita berbeda! Aku tidak membantah. Bukan karena setuju. Hanya tidak mau bertengkar. Untuk apa? Ya, sebenarnya itu terserah pada masing-masing saja. Tapi Anda pasti tidak setuju kan? Kenapa? Apa salahnya untuk terang-terangan mengakui apa sebenarnya yang kita inginkan. Kenapa mesti ditutup-tutupi. Ketidakjujuran dipelihara, karena ingin diakui sebagai manusia baik? Itu yang sudah bikin masyarakat kita kacau. Semua orang mengaku-ngaku alim, menjunjung tinggi hukum, memperjuangkan keadilan dan kebenaran, berbakti kepada masyarakat, berbakti kepada negara dan bangsa. Ah taek itu semua. Buktinya mana?! Maaf Pak. Ketakutan, takut dianggap jahat itu yang sudah menyebabkan isi masyarakat kita kotor. Penuh dengan kebohongan. Semua orang jadi diajar berpura-pura jadi ayam sayur semua, padahal semua setan belang. Aslinya garang dan rakus. Mau caplok semuanya, tidak peduli orang lain buntung, asal dia untung. Kepribadian apa itu? Itu ajaran setan! Semua mau kaya dan menang sendiri! Semua! Tidak ada kecuali! Kalau ada yang mengaku tidak, itu bohong! Bapak juga kan? Terus terang saja! Kita semua ini sudah munafik! Tetangga itu ketawa mengejek.

Aku menahan diri meskipun tanganku sudha terkepal dan gemetar karena marah. Coba pikir, apa salahnya jadi markus? Ah? Apa Pak? Kenapa jadi caleg boleh? Jadi markus tidak. Lihat itu mereka yang gagal jadi caleg, langsung main tarik kembali sumbangannya kepada masyarakat. Lihat itu mereka yang menyanyi selangit sebelum terpilih, seteleh dapat kursi, rumahnya ditutup terus, hp-nya mati tok. Lihat itu mereka yang bukannya ngurus rakyat, tapi cakar-cakaran sendiri untuk kepentingan pribadinya. Malah ada yang terlibat. Jadi coba pikir dengan pikiran waras, apa salahnya jadi markus? Kalau tidak ada yang jadi markus, kita tidak akan tahu mana yang bukan markus! Kalau tidak ada markus, tidak akan ada yang diuber-uber? Tidak akan ada musuh bersama yang bisa menyatukan perhatian masyarakat yang gontokgontokan sendiri? Kalau tidak ada markus, hitam dan putih itu akan terus kabur! Aku tak bisa lagi menahan perasaanku. Terpaksa aku beranjak. Tapi tetangga itu memegang tanganku. Tunggu dulu! Sabar Pak, jangan sampai salah sangka. Supaya jelas, kalau tidak ada markus, tidak akan jelas yang jahat itu seperti apa. Sebab semuanya sudah pintar bersilat lidah sekarang. Markus itu yang sudah berjasa! Markus itu yang sudah membuat kita kembali bersatu dan ingat yang baik itu apa? Jadi apa salahnya jadi markus! Itu sudah kelewat batas. Aku terbakar. Jadi apa salahnya jadi markus? Takut? Kalau takut itu artinya markus beneran! Aku tak sanggup lagi mendengar. Kalau lebih lama di situ, aku akan mengangkat kepalan tanganku yang sudah puluhan tahun tidak pernah nonjok orang. Dengan nafas sesak, aku kembali ke rumah. Keramik jambangan bunga yang sudah satu tahun di atas meja, sebagai jaminan hutang itu aku dekati. Aku bersumpah, itu bukan jambangan bunga dari dinasti Ming yang usianya ratusan tahun dan harganya ratusan juta. Itu jambangan bunga yang dia beli di By Pass paling juga seratus ribu. Jambangan bunga itu dipakai jaminan untuk pinjam uangku yang sudah lima tahun istriku tabung untuk beli rumah. Katanya untuk bayar uang pendaftaran sekolah anaknya di luar negeri. Siapa tidak akan luluh kalau mendengar anak pintar, putus sekolah hanya karena biaya. Atas nama kemanusiaan, aku bujuk istriku dan setengah memaksanya untuk merelakan tabungan itu dipinjamkan. Aku serahkan darahku pada bangsat, jahanam itu. Padahal aku tahu borg jaminan ini semua cipoa! Dan sekarang dia pura-pura mau menarik anaknya, yang tidak pernah keluar negeri itu. Karena uang yang aku pinjamkan itu sudah lama habis dipakai berjudi! Aku meluap. Aku angkat keramik palsu itu. Aku mau banting. Biar pecah brantakan. Ini untuk keseratus kalinya aku mau mengamuk karena ditipu mentah-mentah oleh tetangga sendiri. Tapi istriku seperti biasa selalu datang dan mencegah. Dia mengambil lagi jambangan keramik itu. Lalu meletakkannya dengan hati-hati di meja televisi. Padahal dia juga tahu, itu palsu, palsu, palsu. Kami sudah dikibulin habis! Sudah Pak, tidak usah marah. Rugi. Nanti malah kena tekanan darah tinggi. Sabar saja. Tapi mestinya tadi itu, Bapak langsung mendebat, pikirannya itu salah. Itu pikiran orang frustasi! kata istriku mengeritik, ketika mendengar kejadian itu. Menjawab? Ngapain meladeni orang gila! Bukan meladeni, tapi memberikan pendapat. Meluruskan pikirannya yang keliru . Kalau Bapak diam saja nanti dikira setuju. Memang Bapak mau anak kita jadi markus? Ya tidak! Makanya! Makanya apa? Bapak takut?

Aku terkejut. Kalau Bapak takut, artinya dia sudah berhasil! Siapa bilang aku takut. Aku hanya curiga! Itu namanya takut! Itu hanya sandiwara! Istriku tercengang. Sandiwara bagaimana? Dia seperti memancing, ngajak bertengkar. Ah Bapak ini, senengnya curiga-curiga melulu. Mentang-mentang pernah jadi pemain sandiwara, dikira semua orang bersandiwara. Lebih baik insaflkan dia, itu pikiran orang sesat, tidak baik. Masak bercita-cita anaknya jadi markus. Apa nanti kalau kebeneran bisa jadi markus dan kaya, hisa tenang. Ya tidak! Walau pun hanya pikiran saja, itu sudah jahat. Bisa dihukum! Aku tidak bisa mikir lagi. Akhirnya aku angkat lagi jambangan bunga porselen yang sudah dijadikan borg hutangnya itu. Terus-terang dulu aku menerimanya bukan karena harganya, bukan karena aku mau memilikinya, kalau nanti dia tidak sanggup mengembalikan utangnya. Tapi hanya mau menjaga perasaannya sebagai tetangga. Hanya membantu sedikit kebohongannya, bahwa dia bukan tidak punya apa-apa karena malas kerja. Agar anak-istrinya sedikit menghargai dia. Bagaimana pun dia itu tetangga! Demi kemanusiaaan! Apa salahnya aku mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang sudah keropos di mana-amana? Istriku mengerling. Pak, jangan. Tak usah dikembalikan sekarang, nanti dia tersinggung. Sebagai tetangga, kita wajib meluruskan pikiran tetangga yang salah. Bapak kan seorang pejuang. Jangan cuma dulu berjuang, sekarang juga mesti terus. Itu baru namanya pejuang. Sana cepat pergi, betulkan pikirannya! Dan taruh lagi jambangan itu, jangan sampai pecah. Pecahin sekalian lebih bagus. Ini kan barang palsu! Memang. Tapi kita kan sudak menerimanya sebagai jaminan hutangnya. Karena kita ingin menghargai dia. Supaya harga dirinya tidak jatuh di mata keluarganya, di mata tetangga yang lain! Demi kemanusiaan! Memang. Makanya hargai saja apa yang diakatannya. Kita anggap saja itu benar-benar peninggalan dinasti Ming yang harganya ratusan juta! Tidak boleh pecah! Itu baru menolong! Itu baru kemanusiaan! Pertolongan itu bukan hanya uang, tapi dukungan! Ya tidak? Aku bimbang. Ayo, Pak, taruh lagi baik-baik, jangan sampai pecah. Istriku mengambil jambangan itu dari tanganku dan menaruhnya baik-baik kembali. Dengan hati-hati sekali, seakan-akan itu benar-benar barang ratusan juta. Caranya dia memperlakukan jambangan itu seperti jambangan yang berharga sekali, membuat aku malu. Tiba-tiba pintu diketuk. Suara tetangga itu memberi salam di luar. Permisiiiiii. Permisiiii! Darahku tersirap. Aku cepat berbalik mau masuk kamar. Tapi istriku memegang tanganku. Jangan begitu, terimalah, dia kan tetangga kita, berbuat baik itu banyak tantangannya! Berbuat baik itu beresiko tinggi. Ya kalau orangnya waras. Dia bukan saja brutal tapi licik. Dia punya niat busuk. Dia memang mau mengajak berantem! Kok Bapak begitu sekarang. Demi kemanusiaan, kenapa takut berbuat baik. Meluruskan pikiran tetangga yang anaknya mau dididik jadi markus itu kan salah. Dengar, jadi nanti, kalau kita menunjukkan sikap baik sama dia, dia tidak akan sampai hati berbuat jahat kepada kita. Mudahmudahan uang kita yang dipinjam itu segera dikembalikan. Ini kan sudah telat satu bulan dari

janjinya?! Aku tertegun. Pergilah, Pak! Masak berbuat baik takut? Biar hutangnya dibayar! Kita perlu sekali uang itu sekarang! Permisiiiii! Permisiiiiiiiii! Aku menarik nafas panjang. Setelah berpikir matang-matang aku menyerah. Betul juga. Berbuat baik itu banyak halangannya, tapi kita tidak boleh menyerah. kalau menyerah, siapa lagi yang mau membela kemanusiaan di negeri ini? Lalu aku bergerak mau buka pintu. Tapi pintu kamar anakku terbuka. Dia memegang tanganku Stttt , jangan, Pak! Taksu, biarkan, Bapakmu mau berbuat baik. Bapak mau meluruskan pikiran tetangga kita yang sesat. Masak anaknya mau dijadikan markus! Jangan! Itu sandiwara! Jelas dia terus mau memancing Bapak supaya mau bertengkar. Kalau sampai Bapak panas, menentang pendapatnya, mengembalikan jambangan itu. apalagi membantingnya, dia akan punya alasan untuk menunda bayar hutang, atau sekalian tidak membayar sama sekali! Itu kan biasa dilakukan sekarang untuk mengalihkan perhatian, Bu! Aku berteriak dalam hati. Ya itu yang aku takutkan! Pasti itu yang ditakutkan, Bapak. Tiba-tiba istriku tersenyum. Ya Ibu tahu, hanya mau menguji Bapakmu, kok belum peka-peka juga. Ayo kita tidur! LAMPU PADAM. Permisiii! Permisiiiii! Jakarta 1 April 10

PERADILAN RAKYAT monolog Putu Wijaya

ADEGAN SATU

PENGACARA MUDA YANG GAGAH DAN PARLENTE ITU MENDEKATI BAPAKNYA, PENGACARA SENIOR, YANG TERBARING SEKARAT.

Selamat malam. MEMBERI ISYARAT SUPAYA ZUSTER YANG MENUNGGUI BAPAKNYA PERGI. KEMUDIAN DIA MENDEKATI TEMPAT TIDUR. Aku datang bukan sebagai putramu. Aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini Aku tidak tahu apa yang dikatakan oleh para founding father itu, kalau mereka masih ada sekarang. Dulu tidak ada yang perlu diragukan. Sudah jelas siapa yang kita hadapi dam kita tahu betul apa yang kita mau. Tidak perlu ada pembahasan yang membuat kita masuk ke dalam lingkaran setan dan akhirnya puluhan tahun berjalan di tempat. Bahkan boleh dikatakan mundur. Di segala lini terjadi kemerosotan. Sekarang jadi absurd. Kompleks. Banyak hal memang mesti berbeda dan akan terus berbeda, karena kodratnya memang begitu. Mustahil untuk dipertemukan. Kita mesti menerima kenyataan. Tapi kita juga tidak bisa menghentikan kebiasaan bermimpi, sebab itu juga bagian dari kenyataan. Bahkan yang paling nyata dari semua kenyataan adalah mimpi, karena itu yang lebih banyak kita lakukan. Satu orang bermimpi tentang persatuan membuat dia menjadi pahlawan dalam sejarah. Tapi kalau satu bangsa? Kalau satu satu bangsa semuanya mimpi, kita akan masuk lubang hitam terbelit kesulitan besar seperti sekarang. Tapi apa boleh buat. Itulah kenyataan DUDUK. TERMENUNG Aku tidak ingin menentang apa-apa. Kenapa harus menentang? Tidak, aku tidak ikut bermimpi. Setidak-tidaknya aku menolak ditulari virus ganas itu. Aku menyimpan satu pertanyaan, yang kutanyakan setiap detik di dalam hidupku. So what? SENYUM. Aku tidak datang sebagai putramu. Aku hanya partikel kecil dari sebuah mekanisme mesin raksasa. Maaf inu bukan promosi, tetapi fakta konktrit. Kenyataan berkata: akulah harapan itu sekarang. Kau fenomena 4 zaman yang selalu mengajarkan aku supaya menerima kenyataan, ini hasilnya, akulah ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini. TERSENYUM Kita sudah menyelusuri Eropa. Membongkar apa yang sudah dikatakan oleh para filsuf Yunani dan kemudian Jerman, Prancis. Kita sudah menempelkan pikiran-pikiran Nietzche, Karl Marx, Machiavelli, Freud, Derida, Fucou dan lupa bahwa kita sebenarnya punya seorang pengacara muda yang ambissius tapi praktis dan memiliki impian yang benar-benar dibutuhkan oleh negerinya sekarang.

TERSENYUM. Kau pasti mengerti apa maksudku. Siapa lagi yang harus memujiku kalau bukan aku sendiri yang paham betul apa yang sudah terjadi. Orang-orang itu terlalu sibuk main politik dan dikubur oleh ilmu pengetahuan yang dicurinya dari berbagai tempat sehingga lupa, cita-cita sebenarnya. Aku tidak. Aku satu-satunya yang terbangun dengan pikiran masih waras, otentik di awal badai yang akan menghancurkan ini. Aku tidak rela. Aku menolak kalau penderitaan ratusan tahun, pengorbanan yang dibayar dengan nyawa, darah dan air mata ini, akan habis begitu saja. Banyak hal memang berbeda dan akan terus berbeda, bahkan bertentangan, karena kodratnya memang begitu. Mustahil untuk dipertemukan. Kita mesti menerima kenyataan. Tapi kita juga tidak bisa menghentikan kebiasaan bermimpi, sebab itu juga bagian dari kenyataan. Bahkan mimpilah paling nyata dari semua kenyataan, karena itu yang lebih banyak kita lakukan. Apa boleh buat. Itulah kenyataan. Dunia ini sama sekali baru. Kau pernah muda. Kau fenomena yang tidak bisa diragukan. Kaumesti mengerti maksudku. Ini bukan tindakan orang yang kurangajar untuk memberu publikasi. Ya mungkin juga kurangajar. Tetapi fakta-fakta yang terlalu kurangajar itu memang harus dibersihkan dengan cara yang kurangajar. BERDIRI. Mari kita pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Aku tidak terlalu jauh dari keadaanmu waktu masih muda. Sempat membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis oleh di sebuah kampus kelas satu di Amerika? Mereka menyebutku Singa Lapar. TERTAWA KECIL Aku memang tidak pernah berhenti lapar, rakus, kemaruk memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negerin ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu. MEROGOH SAKU MENGELUARKAN CERUTU DAN MAU MENYALAKAN , TAPI KEMUDIAN ZUSTER MASUK DAN MEMBERI ISYARAT TIDAK BOLEH MEROKOK. PENGACARA MUDA ITU MENGANGGUK Ini hanya untuk dipegang. Pikiranku tidak bisa berkembang kalau aku tidak memegang sesuatu yang konkrit. Aku orang yang terlalu realistik. Tinggalkan dulu kami berdua, ini pribadi. ZUSTER KELUAR. Teriamakasih

DIA MENCIUM-CIUM CERUTU. Sampai di mana tadi. Oke. Aku hanya mencoba mengangkat daguku, untuk memandang perjuangan keadilan yang kini seperti macan ompong itu, yang dengan sisa-sisa keperkasaannya bukannya berjuang tetapi malah menikmati. Menikmati kebangkrutannya. O, ini terlalu memalukan. Terlalu tidak masuk akal. Tapi inilah kenyataannhya. Kenyataan kita! Generasi tua loyo, generasi muda bodo. Rakyat berlomba-lomba menggali kuburannya sendiri. Itulah akhir dari sejarah kita yang besar! So what! MEMBANTING CERUTU Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dilawan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku hanya mencoba menunjukkan sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri. MENGAMBIL KEMBALI CERUTU Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita akan selalu bisa bicara sungguh-sungguh sebagai professional, Pemburu Keadilan, bukan keluarga dengan segala tetekbengek dan pernik basa-basi yang menghabiskan waktu itu. TIBA-TIBA MELEDAK Kita seakarang sedang sekarat! ZUSTER MASUK LAGI DAN MENGINGATKAN. DIA MEMBERI TANDA MENGERTI DAN MEMINTA ZUSTER PERGI. Ini semua juga tidak lepas dari hasil gembelenganmu yang tidak kenal ampun! TERTAWA Aku harus memuji, aku tidak boleh lupa aku harus memberimu pujian! Seluruh prestasimu adalah monumen sejarah.Dan itu semua itu tidak ada yang bisa diperbaiki lagi. Kamu melakukannhya dengan sempurna. Tapi itu dulu. Dulu bukan sekarang.Sekarang, kalau itu dilakukan, akan jadi kesalahan fatal. Kita harus cari jalan lain! Perubahan total! Karena semua kebijakan masa lalu itu sekarang salah! Maaf, ini fakta. Jangan tersinggung.. Tidak, aku tidak akan surut! Akan aku katakan apa yang harus aku katakana meskipun kamu tidak setuju atau kamu tidak mau aku mengatakannya. Aku tidak akan menjad sensor terhadap diriku sendiri. Aku tidak tertarik untguk bunuh diri! Aku tidak bisa lagi mundur! Tapi aku sama

sekali bukan orang yang terjebak oleh diskripsi-diskripsi atau doktrin-doktrin beku. Seperti mata air di pegunungan aku hanya mengalir, gemericik, bersama suara alam. Di dalam hatiku selalu ada suara tajam yang terus-menerus kudengar.dalam tidur sekali pun: kau diperlukan oleh bangsamu! PENGACARA ITU MENGELUARKAN SAPUTANGAN DAN MENGELAP TANGAN SERTA MUKANYA. LALU DUDUK DI SAMPING BAPAKNYA. SUARANYA LEBIH TENANG. Aku datang ke mari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog. Aku bicara akan sebebasbebasnya sekarang. Maaf,.begini. (MENARIK NAFAS PANJANG) Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga korban pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani. Aku ingin mengatakan TIDAK kepada negara, karena pencarian keadilan, tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin dan beku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan, dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak sampai mati, walau pun sudah dibela oleh team pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang. Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini. BERHENTI SEBENTAR Anda masih mendengarkan kan? Tapi aku datang ke mari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang ke mari, karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat, supaya aku bersedia untuk membelanya. Lalu?

PENGACARA ITU TERKEJUT Bagaimana Anda tahu, aku menerimanya? MANGGUT-MANGGUT Sebab Anda kenal betul siapa aku! KETAWA Ya aku menerimanya! Sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara professwional, aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya. BERDIRI DAN BERJALAN MONDAR-MANDIR PERLAHAN-LAHAN, LALU BERHENTI Jadi sebenarnya itu yang ingin aku tanyakan. Apakah keputusanku suah betul? Apakah keputusanku sudah betul? Itu, antara lain.Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi bagaimana aku menunjukkan diriku sebagai professional. Aku men olak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, karena di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah aku terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai professional aku tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar aku membelanya dari praktek-praktek pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang palingt tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Asal aku tidak membelanya karena ketakutan. Tidak! Kenapa takut? Sama sekali tidak! Bukan juga karena uang. Bukan! Aku tidak pernah bisa dibli! Bukan! Lalu karena apa? (TERSENYUM) Karena aku akan membelanya. Karena aku memutuskan akan membelanya. Supaya dia menang? Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku MENATAP KEMBALI Apa keputusanku salah? Seperti yang aku katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau aku membelanya, aku akan berhasil keluar sebagai pemenang. Aku tidak meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan. Tapi aku akan menang. Bagaimana bisa tahu aku akan menang?

SENYUM Bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan apapun aku sudah bisa baca walau pun perkara belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. TERTAWA KECIL Aku terlalu besar untuk kalah saat ini. MENGHELA NAFAS PAN JANG Itu bukan kesombongan tapi kesedihan. Jujur saja. Aku akan menang. Penjahat itu akan dibebaskan karena aku memenangkan perkaranya sebab negara tidak punya bukti kuat. Itu yang membuat aku sedih.Betul. O tidak. Sama sekali tidak! Sumpah!Q Akui membela dia bukan karena takut, bukan? Bukan! Kenapa mesti takut?! Tidak ada yang sudah mengancamku! Mengacam bagaimana? Mengancam dengan apa? Jumlah uang yang terlalu besar, memang sebuah ancaman. Tapi ini bukan soal memberikan angka-angka! Tidak! Hanya karena aku tidak bisa dibeli! PENCACARA ITU TERKEJUT. Tidak ada sama sekali pembicaraan soal pembayaran! Ini semua gratis! Inik profesional! Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang! Ini bukan bisnis Rumah Sakit. Tidak ada makelarmakelaran. Ini bukan mafia peradilan! Tidak ada yang menyogok, ini proses pengbadilan yang bersih! Dan aku akan menang! Aku pasti menang! Ah? Apa jadinya kalau penjahat itu sampai menang? Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan hukum! Kejahatan itu terlalu untuk dijadikan tempat bermain! DIAM DAN NGOMEL SENDIRI PADA DIRINBYA TAK JELAS Anhajmmakajuyetgalkamjakamnhamkjhj. Aku akan memenangkan perkara ini. Dan aku membelanya bukan karena takut, bukan karena disogok. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut. Aku menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau aku perlukan dalam kampanye. Bukan karena aku ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negara kita. Bukan. Bukan! Sumpah! Karena Negara tidak siap! Mereka tidak punya bukti yang kuat. Polisinya bego dan jaksa-jaksanya malas dan bodo! Terlalu bodo!!! (SAMBIL MENUTUP MUKANYA DENGAN SAPUTANGAN ) ZUSTER MASUK. Oke aku sudah selesai. Tolong beri aku dua menit lagi. (EKMBALI KEPADA BAPAKNYA) Aku pulang dulu sekarang, supaya tidak terlambat besok menghadiri sidang. Aku sama sekali tidak bimbang lagi. Keputusanku untuk memberi pelajaran penting kepada pemerintah sudah final. Itu karena aku mencintai negeri ini. Supaya kesalahan seperti ini jangan lagi terjadi nanti! Seperti yang selalu Anda bilang, penegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan,

seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang professional. ZUSTER MASUK LAGI. Oke. Zuster sudah mengusirku. Tidak ada yang harus dibahas lagi. Sudah jelas. Aku pulang sekarang. Silakan meneruskan beristirahat, karena besok kalau semuanya suah menjadi sejarah, Anda ingin kamu bangun, tersenyum dan kita akan bicara lagi panjang lebar. Selamat malam. PENGACARA MUDA ITU MENGANGUK HORMAT, LALU BERBALIK DAN BERJALAN KELUAR DENGAN GAGAH. LAMPU PERLAHAN-LAHAN PADAM. TERDENGAR SUARA RIBUT-RIBUT DAN KEMUDIAN BERAKHUIR DENGAN SUARA-SUARA TEMBAKAN. ADEGAN DUA LAMPU MENYALA. TAK ADA YANG BEFRUBAH. PENGACAR MUDA ITU MUNCUL KEMBALI. SUDAH SANGAT BERBEDA. DIA NAMPAK SANGAT SEDERHANA. PERLAHAN-LAHAN SEAKAN TAKUT MENGANGGU DIA MENDEKATI BAPAKNYA. Selamat malam Ayah.

PENCARA MUDA ITU BERSIMPUH DI KAKI ORANGNYA DAN MENCIUM KAKINYA. Maafkan, aku baru bisa datang sekarang. MENARIK NAFAS PANJANG. MENGURUT KAKI BAPAKNYA. Ya. Ya. Seperti yang pernah aku katakan kepada ayahanda, bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku telah memenangkan perkara itu dan itu berarti aku sudah membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini. MENARIK NAFAS DALAM. Begitu bebas dia langsung terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan dengan begitu harapanku semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Hukum tidak akan bisa tegak sendiri, karena hukum hanya instrumen mati. Manusianyalah yang hidup. Hukum baru hidup kalau manusianya hidup dan menegakkan hukum dengan semua persaratann tegaknya. Aparat tidak cukup hanya berani tapi harus lihai! Rakyat tidak cukup hanya mengepalkan tangan dan berkoar-koar. Jumlah banyak dan kuat saja bukan jaminan untuk memenangkan perkara. Harus cerdik, bahkan kalau perlul licik!

BERHENTI SEBENTAR. Kekuasaan tidak bisa berlaku semena-mena sebab keadilan tertinggi ada di tangan hukum. Tanpa hukum, kita akan menjadi bangsa yang liar dan lalai. MENARIK NAFAS PANJANG Semua yang aku rencanakan sudah menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah aku mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara dengan seluruh keluarga dan harta bendanya yang berasal dari rakyat. Tidak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun ngamuk. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Dan aku, putramu satu-satunya ini diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi bukan itu . Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah. Penyandang dana tunggalnya penjahat yang sudah kubebaskan itu. PENGACARA MUDA ITU MENGHAPUS AIR MATANYA. Harusnya aku mendengarkan apa yang dikatakan zuster itu. Kau minta yang datang putramu, buah hatimu, bukan seorang pengacara muda yang ambisius, pongah dan keblinger mengklaim dirinya realistis membela amanat penderitaan rakyat, tetapi sebenarnya tak lebih dari sel-sel subversive yang sudah ditumbuhkan dengan begitu cerdas, rinci dan sempurna di negeri ini oleh semua mereka yang tidak pernah menghendaki kita ada. Dan itu bukan karena bukti-bukti yang dimiliki negara lemah. Itu bohong! Juga bukan karena aku jenius yang tidak terkalaghkan. Bohong besar! Itu semua karena keadilan dan kebenaran bisa ditawar! Hakim-hakim dan jaksanya semua bisa dibeli! PENGACARA ITU MENANGIS MENCIUM KAKI BAPAKNYA. TETAPI KEMUDIAN DIA SEPERTI DIRASUKI OLEH JIWA BAPAKNYA. IA BERDIRI, LALU BICARA DENGAN SUARA YANG SAMA SEKALI BERBEDA. Putraku, setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai professional, aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang professional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya? Kalau berhadapan dengan sebuah perkara, ketika seorang penjahat besar musuh rakyat dibebaskan, apa pun alasannya, itu akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini!

PENGACARA MUDA ITU MENANGIS.

Cirendeu 1-3-03

AUT monolog oleh: Putu Wijaya

Di tengah jalan, seseorang menegurku tiba-tiba. Hee, masih ingat tidak, katanya dengan mata bersinar-sinar. Aku terperengah. Kemudian mencari-cari dalam gudang kepala, catatan-catatan dan lepitan ingatan.Tapi orang itu tak aku kenal. Lalu aku tersenyum minta maaf. Dia menyebutkan sebuah nama, langsung aku kejar, tapi tak ketemu. Dia menyebutkan sebuah nama yang rasa-rasa sering keluar-masuk telinga, tapi ternyata tak pas betul dengannya Dia menyebutkan lagi sebuah peristiwa yang menarik, menarik sekali, aku kenal peristiwa itu, tapi, aku tak ikut mengalaminya. Aneh juga Lalu dia membuka topinya. Kepalanya botak. Mukanya jadi lucu tanpa topi. Ia menjadi orang lain yang mengingatkan aku kepada raksasa gundul yang selalu kalah dalam wayang. Aku tak bisa menahan rasa geli, ya, sekarang hampir, hampir terpegang, tetapi kemudian ternyata bukan lagi. Ini bukan Harjo yang berasal dari Yogya. Lalu aku menggeleng. Orang itu terkekeh-kekeh, dia senang melihat aku lupa. Dia menggeleng-geleng tetapi belum menyerah. Senyumnya masih panas. Lalu dia mengejapkan mata, seakan-akan teringat oleh sesuatu. Kemudian ia memberi isyarat supaya aku sabar. Ia bersandar ke tembok toko lalu membuka sepatunya. Kaos kakinya dobel tapi kedua-duanya bolong. .Ia melirik, seakan-akan mengingatkan aku pada kenangan bersama. Aku langsung teringat pada Budi yang selalu memakai kaos kaki bolong.Tetapi orang ini bukan Budi. Karena aku masih tersesat dalam keterangannya yang bertubi-tubi itu, ia mulai kelihatan putusasa. Kecewa, sedih dan agaknya juga curiga kalau-kalau aku tak berterus terang. Dengan agak masam kemudian ia membuka kaos kakinya. Samar-samar aku disengat bau busuk.Tetapi karena tak ingin menyinggung, aku tahan saja. Mungkin bau itu akan menolongku untuk menembus kenangan yang sudah membeku. Tapi kemudian aku terpaksa memalingkan muka karena tak tahan. Dua buah jari kaki orang itu putus. Ia tertawa, merasa berhasil memojokkan aku pada kenangan yang dimaksudnya. Aku jadi ngeri. Dalam kepalaku muncul Bang Satria yang buntung tangannya karena kecelakaan. Muncul Nyeneng yang putus kakinya. Muncul Lanus, pengemis di kota kelahiranku yang putus seluruh bagian bawah badannya.Tapi sungguh mati, aku belum pernah melihat dua jari kaki yang putus. Orang ini pasti tak kukenal. Dia keliru. Aku menggeleng,lalu hendak melanjutkan perjalanan.Tapi orang itu cepat memegang tanganku. Ia buru-buru mengeluarkan dompet, lalu menunjukkan sebuah potret. Seorang wanita yang sedang memegang kelapa.Tapi potret itu biasa sekali. Berjuta-juta wanita seperti itu di dunia. Tidak mmenyimlan kisah apa-apa. Aku mulai curiga. Ini mungkin orang gila, karena potret seperti itu sama sekali tak akan mungkin mengingatkan kepada seseorang. Aku menggeleng. Dia menyerahkan dompet itu, supaya aku perhatikan lebih dekat. Aku menolak. Kemudian dia sendiri, mengeluarkan potret lain dari bawah potret wanita itu.Sekarang potret seekor anjing. Aku langsung menggeleng. Orang itu terkejut, lalu buru-buru melihat sendiri potret itu. Kemudian ia tertawa ngakak, lalu menoleh seperti minta maaf, langsung memasukkan potret itu. Kemudian ia mengeluarkan potret lain.

Sekarang potret wanita telanjang. Aku terpesona. Pertama karena potret itu potret orang bugil. Aku mencoba mengenalinya.Tidak terlalu cantik, tapi cukup membuat ingin tahu. Kedua, raut wajahnya seperti nyangkut dalam sumur tua, seakan-akan salah seorang kawan lama.Orang itu menyorongkan potret itu lebih dekat lagi. Aku mundur, semacam reflek sebab tak mau bertanggungjawab. Maria, bisik orang itu yakin seperti mendapat kemenangan.Ingat ? Aku ingin sekali ingat. Aku pernah punya seorang teman bernama Maria bertahun-tahun yang lalu. Tapi ini bukan Maria itu. Pasti bukan. Aku menggeleng lalu menjelaskan mungkin sekali ia telah keliru sejak semula, menyangka aku seseorang. Aku sebutkan namaku, namaku yang lengkap dan asal-usulku. Kemudian aku sebutkan juga apa kedudukanku sekarang, supaya jarak semakin jauh. Orang itu mengangguk-angguk, tetap seakan-akan ia kenal betul aku. Dia mengulurkan tangan dan menjabat tanganku erat. Mengucapkan syukur. Menyatakan perasaan gembira, karena salah seorang kawannya kembali bertemu. Pertemuan tak terduga, tak tersangka dan tiba-tiba. Terimakasih, katanya dengan aneh, Terimakasih tadi taksi macat. Kalau tidak aku tidak akan lewat jalan ini. Kalau tidak, aku tak akan bertemu dengan kamu lagi. Aku bangga salah seorang di antara kita sudah berhasil. Aku selalu mengikuti perkembanganmu dari jauh dengan perasaan bangga. Aku ikut terombang-ambing, aku ikut cemas, kalau diceritakan kamu sedang mendapat keruwetan. Aku ikut memikirkan jalan keluar, ketika dulu kamu mendapat kesulitan besar. Syukur semuanya sekarang sudah lewat. Kamu memang jempolan,kamu berhasil. Hebat. Selamat. Ia terus memegang tanganku dan mengguncangnya keras-keras. Senang juga rasanya diguncangguncang, meskipun aku tetap tidak ingat siapa orang ini. Aku menyeruduk lagi mencari, membongkar ke sana-ke mari, tapi sia-sia. Orang itu tidak keluar dari masa laluku. Aku bingung sampai ia merogoh saku dan menawarkan rokok. Aku menolak. Lalu ia mengeluarkan permen, aku juga menolak. Ia tak putus asa. Ia menunjuk ke restoran di sebelah dan mengajak makan. Aku cepat menolak, karena reflek tak mau tertipu. Ini bahaya. Di setiap sudut jalan ada penipu sekarang. Aku mencari alasan yang kuat untuk menghindar.Tapi orang itu cepat memegang tanganku, minta pengertian. Coba tunggu,kalau ini pasti ingat, katanya sambil langsung membuka bajunya. Aku bengong.Tak beranjak, orang itu sudah membuka jaketnya. Kemudian ia membuka kemeja. Lalu membuka lagi kaos oblong. Setelah itu kaos dalam. Ia berdiri di depanku tanpa baju.Tubuhnya gendut, di dadanya yang ditumbuhi sejemput bulu ada tatoo kecil.Teteknya menonjol. Dia tersenyum. Aku langsung mendapat firasat buruk. Ini sudah terlalu. Kalau bukan orang gila,ini pasti orang jahat yang ingin bikin malu aku di tengah jalan.Tak menghiraukan sopansantun lagi, aku terus berbalik dan angkat kaki cepat-cepat. Orang itu menggapai tanganku, tapi luput. Aku lbergegas pergi. Dia memanggil-manggil. Tunggu, tunggu sebentar ! Coba lihat ini, coba ! Aku tak mau menoleh. Orang-orang di pinggir jalan sudah mulai memperhatikan kami. Aku pura-pura tak terlibat pada peristiwa itu. Aku berlari dari jaring yang berbahaya itu. Aku sudah salah dari awal. Mestinya dari awal aku tak peduli tadi. Perhatianku sudah menyebabkan ia memilihku. Hee tunggu duluuuu ! Aku mempercepat langkah. Kemudian aku dengar ia berlari menyusul. Langkahnya makin dekat.

Punggungku dingin mendadak. Rasa-rasa tangannya memegang kedua pundakku. Akhirnya aku berlari.Tapi langkah itu terus menguntit. Suaranya memanggil makin tak mempedulikan keramaian jalan. Tunggu, tunggu sebentar, masak tidak ingat ini ! Orang banyak sudah mulai menonton. Sekarang aku memerlukan pos polisi. Setidak-tidaknya seorang Hansip atau petugas keamanan yang lain, untuk membebaskan. Pakaian seragamnya, pasti bisa meluputkan aku dari bencana ini. Sekarang aku benar-benar memerlukan seorang petugas itu. Tapi di mana sih mereka. Apa semuanya sedang sibuk memburu penjahat. Atau mungkin dikerahkan total untuk mengamankan kemacetan lalu-lintas. Mungkin juga sedang rapat, makan siang, berlibur atau ke mana. Aku putus asa. Selalu kalau sudah begini, harus menolong diri sendiri. Aku terpaksa memutuskan ketika melihat di depan jalan mulai lengang dan membelok ke bagian yang sunyi. Aku tukar arah berlari. Masuk ke dalam sebuah restoran Padang yang ramai. Hatiku masih berdebar-debar, cemas kalau orang itu ikut masuk.Untung sekali tidak. Aku selamat. Meskipun tidak lapar, aku pesan makanan dan bir untuk menambah keberanian. Mataku melirik ke jalanan, kalau-kalau orang itu menunggu di situ.Tapi tidak ada. Aku selamat. Mungkin,hanya perasaanku saja yang memburu. Mungkin ia sama sekali tak mengejarku tadi. Beginilah kalau terlalu banyak punya pengalaman buruk,semuanya bisa muncrat dengan sendirinya seperti tadi. Atau aku sudah terlalu banyak nonton film action. Selesai makan, aku tak cepat keluar. Aku memandangi mukaku yang berkeringat di kaca kamar kecil. Tak sepantasnya aku ketakutan. Aku tak punya kesalahan. Aku hanya tak punya kepercayaan diri. Begitu banyak orang di jalanan yang akan menolong kalau terjadi apa-apa. Aku sendiri kalau tidak gugup bisa melindungi diriku sendiri. Binatang saja bisa melindungi dirinya, masak aku tidak. Setidak-tidaknya aku bisa memukul, menendang, mengambil batu atau kayu dan balik menyerangnya.Ya, tidak boleh terus bertahan, harus menyerang, kalau tidak mau diinjak-injak. Setidak-tidaknya kalau aku kalah dia juga akan dapat tanda-mata dan tidak mengagap enteng. Dengan perasaan malu, aku berhasil mengumpulkan diriku lagi yang retak. Aku harus kembali utuh seperti orang lain. Jalanan adalah medan perang, aku harus bersiap bertempur setiap saat. Kalau tidak, aku akan selamanya menjadi bulan-bulanan empuk. Lalu dengan rasa percaya diri, meminjam kesombongan beberapa orang-orang kawan yang sudah berhasil, aku keluar restoran.Tak akan ada yang berani kepadaku lagi. Aku keras dan tak peduli. Mataku galak dan gerak-gerikku pasti. Aku berbahaya buat mereka yang mencoba-coba. Dengan sikap semacam itu, aku meneruskan membelah jalan. Aneh, rasa aman itu, sebenarnya bisa distel dari dalam pikiran juga.Ternyata semuanya tergantung dari kita sendiri. Benar kata kawan-kawan yang terlebih dulu dapat pengalaman, yang terpenting kata mereka, adalah getaran kita sendiri. Kalau getaran kita pas, di mana pun kita akan selalu selamat, senang dan untung. Ini semacam slogan, yang sudah menjadi ilmu hidup dengan sendirinya, kalau sudah dialami. Aku merasa mendapat pengalaman berharga hari itu, yang tak akan mungkin aku yakini, seandainya orang asing itu tidak tiba-tiba muncul, tadi. Bahaya adalah pahala. Baru kalau ada bahaya kita akan berpikir, berjuang lalu membalikkan kelemahan kita menjadi kekuatan, Itu yang namanya kematangan jiwa. Sudah ingat sekarang ? Ya Tuhan! Aku kaget. Tiba-tiba di depanku orang itu lagi. Ia melompat dari balik sudut pertokoan, tegak menghadang, tanpa selembar pakaian pun di tubuhnya.Dia telanjang-bugil

seratus prosen. Sesudah makan, pasti ingat kan, katanya sambil berkacak pinggang.Tak sengaja aku memandang ke alat kelaminnya yang berjuntai dan terasa mengejek. Ini mulai serius. Orang-orang di pinggir jalan tertawa, melihat kami seperti dua jagoan yang mau berduel. Orang itu tersenyum manis lalu mengembangkan tangannya, seakan-akan masa lalu yang menanti aku berlari menembusnya. Orang makin ramai tertawa. Di situ aku tersinggung! Aku bukan orang yang tadi gugup dan ketakutan. Aku sudah menelan rendang, otak sapi, sambal cabe hijau dan dua botol bir. Aku sudah utuh dan memiliki harga diri. Aku merasa dihina, ditantang, dipermalukan di depan orang banyak. Aku merasa jalanku dihalang-halangi. Ini sama sekali bukan salahku! Ini adalah perkosaan! Ini penindasan! Ini kesewenang-wenangan! Ini penipuan! Ini semua sudah direncanakan. Aku tidak terima! Ayo! Dengan luapan marah yang tiba-tiba menerbangkan seluruh pertimbangan akal sehat, aku terbakar.Kalap dan meledak. Aku raih, apa saja yang bisa aku comot. Aku sambar samurai yang dijual pedagang kaki lima. Sambil mengeluarkan teriakan bengis, aku hunus samurai itu dan menerjang musuh. Aku tebas lehernya seperti di dalam film silat. Aku cencang tubuhnya sampai berkeping-keping. Aku musnahkan bangsat yang gila itu. Aku buktikan aku ini manusia yang punya hak! Orang-orang baru berhenti tertawa. Mereka berteriak ketakutan dan menghindar. Aku tegak bagai monumen di atas reruntuhan orang asing itu. Aku tak kenal siapa dia, apa maksudnya, mengapa dia memburu-buruku. Aku hanya ingin bebas dan membuktikan bahwa aku tidak ingin diganggu. Aku bisa meledak seperti bom kalau sakit. Sama seperti orang lain! Tapi tak lama kemudian aku sadar kembali. Seperti pelembungan kempes, aku gagap menemukan diriku mendadak menjadi jagoan. Aku gugup dan gemetar. Setiap kali bergerak, semua oang mundur ketakutan. Dengan samurai berlumuran darah, aku berjalan ke pos polisi. Sesal tak berkeputusan. Aku mengutuk dendam yang bersembunyi di sela-sela urat batinku yang telah membuatku edan. Ini semua di luar pertimbanganku. Semua menepi memberiku kesempatan. Sambil menghunus kelewang yang berdarah, aku laporkan semuanya dengan teliti, jelas dan tuntas. Sama sekali tidak aku curi kesempatan untuk memihak diriku. Setiap bilah kata, titik dan koma, kuulangi sebagaimana adanya, tanpa perasaan. Kuberikan pertimbangan, kemungkinan, kebenaran-kebenaran yang barangkali milik orang yang kubunuh itu. Lalu kutunjukkan posisiku, kelemahan-kelemahan dan kemungkinan kesalahankesalahanku. Aku akui terus-terang, barangkali tidak perlu terjadi pembunuhan, kalau aku bisa melihat semua kejadian itu sebagai lelucon. Mengapa aku mesti mabok karena soal-soal sepele begitu yang setiap hari berserakan di jalan ? Orang lain pasti akan dengan mudah menyelesaikannya dengan hati lapang. Aku merasa susut sekali. Memang masa laluku telah mendidik aku buas dan liar, tapi apa salah orang itu, kataku pada polisi. Aku menyerah, aku siap menerima pala karmaku. Masuk neraka pun, oke! Petugas mendengarkan semua pengakuanku. Mereka mencatat dengan teliti. Tiga kali mereka menanyakan siapa aku, di mana, apa pekerjaan dan apa tujuanku. Karena takut keliru, mereka minta aku menulis semuanya itu dengan tanganku sendiri dan kemudian menandatanganinya.

Setelah itu mereka mengangguk dan mengucapkan terimakasih atas bantuanku. Lalu menunjuk ke pintu keluar. Terimakasih, Bapak boleh pulang sekarang. Astaga. Aku terkejut. Gila. Ini ngenyek bagaimana ? Tapi saya sudah bunuh orang dan saksinya banyak,lihat samurai ini masih meneteskan darah segar ! Petugas itu mengangguk sabar. Betul.Tapi sekarang memang bunuh orang, sudah boleh

Cornell, Ithaca,20 April 1987

DAMAI monolog Putu Wijaya Di sebuah padang lepas, lautan rumput hijau merentang sampai ke kaki langit. Bunga-bunga semak liar, bergetar dikibas angin yang ramah dari penjelajahannya yang ribuan kilometer. Langit yang terbuka dengan warna biru yang medok, terang benderang, menurunkan hujan damai. Hidup terasa tenteram. Pekik burung yang menoreh angkasa merambat panjang memasuki telinga khewan-khewan yang mencari makan tanpa ketakutan. Barangkali ketenteraman itu hanya sebuah lamunan. Memang. Namun keindahannya begitu nyata, sehingga kehadirannya sulit untuk ditolak. Memimpikannya saja, sudah cukup untuk sedikit meredam segala kecemasan yang semakin hari semakin gila dalam kehidupan nyata yang membuas ini, karena perang berkecambuk di mana-mana. Tetapi aneh, walau hanya mimpi, kecantikan itu tetap saja sudah terjamah. Para pemimpin jeli yang memburu wilayah yang masih bisa dimanfaatkan, telah menciumnya. Lalu tiba-tiba saja terdengar suara entakan kaki mendekat. Mula-mula hanya telinga-telinga rusa yang bergetar menyadari kehadirannya. Lalu serangga-serangga kecil menggetarkan sayap karena habitatnya terganggu. Tiba-tiba ratusan ribu bahkan mungkin berjuta-juta kaki menapak ke atas padang, membawa wajah-wajah manusia yang sedang dahaga oleh berbagai harapannya tentang kedamaian, keadilan, kesejahteraan serta masa depan yang lebih bahagia. Semuanya bagaikan terhisap oleh magnit raksasa yang dipancarkan dari dia yang akan menyampaikan orasi. Baru beberapa kejap, padang tak terbatas itu sudah tak punya ruang lagi. Di mana-mana wajah manusia yang penuh pertanyaan, memandang ke atas altar di tengah. Kepala-kepala mendongak seperti mau lepas dari lehernya, ketika aku naik untuk berbicara. Pekik-sorak gemuruh mengeluelu. Semua mata nyalang membidik ke depan. Dengan wajah sebersih bocah, nyaris tanpa dosa, aku berdiri di depan massa. Aku bagaikan sebatang pohon mengkudu dengan daun-daun yang gembur berwarna hijau rimba, menjanjikan penawar bagi seribu macam penyakit. Mataku yang adem membuat matahari tersipu, lalu menghindar ke balik awan-awan tipis, membiarkan peristiwa itu lewat sendirian dengan kodratnya. Ketika kuangkat tanganku, seluruh padang mendadak mati. Tak ada lagi yang berani bertepuk dan berbicara. Bahkan nafas pun ditahan, takut menganggu ucapanku. Hari ini kita berkumpul lagi di sini untuk menyatukan tekad kita untuk menyerukan kepada seluruh dunia, kepada seluruh umat manusia, kepada saudara-saudaraku di seluruh dunia, di mana saja kini kau berada, dunia berada di dalam bahaya, kita semua sedang di tebing keruntuhan! Kuangkat tangan, seperti hendak mengangkat nasib buruk itu. Bangkitlah, saudaraku, waspada, bangunkan dirimu untuk menyongsong dunia yang lebih baik, yang lebih damai, sejahtera dan membahagiakan. Dengarkan suaraku, sebagai wakil dari hasrat batinmu yang mengharapkan masa depan yang lebih damai. Di masa lalu, seorang yang sangat besar, berjasa, luhur jiwa dan mulia perbuatannya telah mengucapkan sebuah tonggak yang sampai kini menjadi kajian dunia. Kata beliau: Perang adalah alat yang berguna untuk memelihara perdamaian dunia. Senjata, kekuasaan, pembunuhan diperlukan untuk membuat

manusia takut kehilangan damai, sehingga ia akan senantiasa memuja, memeluk dan mengupayakan perdamaian sepanjang hidupnya. Perang adalah anjing penjaga perdamaian. Perang adalah benteng terakhir perdamaian. Orang-orang itu tertegun. Tak percaya pada apa yang mereka dengar. Aku sudah tahu, pertanyaan itulah yang akan melanjutkan ucapanku. Lalu kutembakkan suaraku kembali. Tetapi ini dulu, ratusan tahun lalu. Ketika kita semua masih lugu. Ketika banyak orang belum tahu. Sekarang aku sangsi, aku bertanya kepada diriku, sebab aku tidak bisa lagi bertanya kepada beliau. Lihatlah kenyataan di atas dunia ini. Perang di mana-mana tidak hanya membunuh para serdadu, tidak hanya melukai orang-orang bersenjata yang berperang. Perang zaman sekarang lebih banyak lagi melukai dan membunuh rakyat sipil, anak-anak, orang tua dan khususnya para perempuan. Benar tidak? Semua mengangkat tangan dan menjawab serentak. Benar!!!!! Benar sekali! Seandainya beliau, tokoh sejarah dunia yang besar itu, sempat melihat betapa buasnya perang, aku yakin beliau tidak akan sampai hati mengucapkan apa yang sudah digariskannya dan menjadi panutan manusia untuk membenarkan peperangan sampai sekarang. Perang ternyata bukan anjing gembala penjaga perdamaian, tetapi anjing-anjing srigala liar yang gila yang kelaparan membunuh umat manusia lebih cepat, lebih keji. Perang adalah binatang liar yang menghancurkan perdamaian! Aku angkat suaraku lebih keras: Perang adalah binatang buas pemakan perdamaian! Bagaikan kena hipnotis, seluruh tangan terangkat dan mulut terkuak, melontarkan seruan yang sama: Perang adalah binatangt buas pemakan perdamaian! Mereka bersorak. Banyak orang bunuh-bunuhan, untuk merebut kemerdekaannya. Banyak orang berkelahi untuk menegakkan keadilan, membela kebenaran. Agar mencapai kesetaraan di masa depannya yang lebih baik. Banyak orang berkelahi untuk membela kemanusian yang diinjak kekuasaan. Lalu mereka mengangkat senjata, mengobarkan perang, untuk membunuh lawan sampai ke akarakarnya. Tetapi sekali perang berkobar, dia akan menjadi mesin buas yang tidak puas hanya membunuh, perang juga akan memusnakan segala-galanya. Karena itu aku menentang. Aku mengangkat tangaku dan berseru: tidak!!!! Langsung semua memantulkan suaraku lebih keras: Tidak!!! Tidak!!! Tidak!!!! Tidak ada yang tidak setuju. Itu berarti jiwa mereka benar-benar merindukan damai. Tapi aku selalu curiga selalu ada udang di balik batu. Kutu-kutu busuk perang masih gentayangan Ingat saudara-saudara! Masih ada orang-orang di sekitar kita yang dengan pongah mengatakan bahwa Perang dan Damai adalah dua wajah di satu mata uang. Perang untuk damai, kata mereka. Damai hanya mungkin lewat perang, hasutnya menjual peperangan ke mana-mana! Maka tak heran kalau bagaikan narkoba, perang mulai menggigit, menjangkiti dan meracuni jiwa. Semua orang jadi gemar berperang! Kawula muda mudah beringas. Orang-orang tua cepat tersinggung. Semua mengepalkan tangan mau main pukul, main bunuh untuk mengakkan perdamaian, tak peduli itu salah-kaprah. Aku jadi muak! Dengar: Perang adalah perang. Damai adalah damai. Perang dan damai bertentangan! Ayo, sebagai manusia yang sadar dan beriman, sebagai manusia yang masih waras yang mencintai sesama sesuai dengan perintahNya, katakan sama-sama seratus kali dengan suaramu yang mantap, gegap-gempita: Perang adalah perang. Damai adalah

damai. Perang dan damai, bertentangan! Mereka serentak berkoar: Perang adalah perang, damai adalah damai. Perang dan damai bertentangan! Pada seruan yang kesembilan, aku menarik nafas lega, lalu mengangkat tangan membungkam suasana. Kembali lautan padang hijau itu hening sepi. Semua menanti. Tetapi tepat ketika tercipta lorong sunyi itu, nyeletuk suara anak anak kecil tajam. Perang adalah damai, damai adalah perang, dua kubu yang selalu bertemu! Suara itu tidak keras, tetapi isinya yang menantang. Semua langusng memalingkan muka. Siapa dia? Seorang pelajar dengan buku-buku pelajaran di tangan, baru pulang dari sekolah, mulutnya masih hangat, terpukau oleh ucapannya sendiri. Perang dan damai, satu kubu yang selalu bertemu! Aku membentak Salah! Perang dan damai, dua kubu yang pantang bersatu! Satu kubu yang selalu ketemu! Aku terperanjat. Mataku menyala-nyala. Sialan. Siapa kamu? Kemari! Pelajar itu menguakkan massa, lalu naik ke mimbar. Apa kamu bilang? Dengar baik-baik! Perang adalah perang. Damai adalah damai. Perang dan damai dua kutub yang tidak pernah bertemu! Dua kutub yang selalu ketemu! Bego! Tidak pernah ketemu! Bertemu! Tidak! Bertemu! Tidak! Bertemu!!!!!!! Plak! Aku gampar. Anak itu tumbang ke tanah. Buku-bukunya berserak.Tapi dia terus berteriak: Perang dan damai selalu bertemu! Bangsat, keblinger kamu!! Guru kamu busuk! Perang dan damai tidak bisa ketemu! Selalu ketemu! Tidak! Ketemu! Tidak! Ketemu Tidak! Ketemuuuuu! Brengsek! Aku cabut pistol. Tapi anak kecil itu tidak takut. Ia malah tambah berkoar: Perang dan damai dua kutub yang selalu ketemu! Bangsat! Tidak ketemu! Ketemu! Tidak! Ketemu! Ketemu! Ketemu!!!! Dor. Dor! Dor! Aku terpaksa menembak.Tiga kali ledakan pistolku mencabik Lalu padang itu tiba-tiba terasa sunyi. Bahkan terlalu sunyi. Aku meniup asap pistol, memasukkan senjata itu kembali ke sarungnya.

Saudara-saudara, sadarlah, dunia dalam bahaya. Perang memusnahkan segala. Bangkit segera. Serukan dengan keras: Perang adalah perang. Damai adalah damai Perang dan damai dua kutub yang tidak boleh bertemu. Ulurkan tanganmu, pegang tanganku, bersama-sama kita songsong dunia baru! Damai lewat perang adalah jurang kehancuran! Damai lewat pembunuhan adalah kebiadaban! Damai lewat kekerasan adalah kebiadaban! Damai lewat lautan darah adalah kesesatan! Damai harus tanpa senjata! Tanpa darah! Damai tanpa benci! Damai tanpa kemenangan. Damai tanpa kekalahan. Damai abadi! Bunuh perang sampai mati! Massa tak bisa lagi membendung diri. Semuanya memekik histeris. Damai abadi, bunuh perang sampai mati! Perang mati, damai abadi! Damai abadi, perang bunuh mati! Seruan memekik-mekik memenuhi padang. Menghentak-hentak mengapai matahari. Lalu aku turun, berjalan menembus padang ke kaki langit, sambil menghunus senjata. Akan aku tembah siapa saja yang berani menghalangi damai. Semua mengikuti bagaikan sebuah sungai raksasa, mengalir sambil memekik-mekik histeris: Damai tanpa senjata, damai tanpa darah, damai tanpa kekerasan, damai tanpa kekejaman, damai tanpa pembunuhan , damai tanpa peperangan! Damai abadi, perang bunuh mati! Damai abadi! Perang bunuh mati! Damai abadi! Bunuh perang sampai mati! Perlahan-lahan padang itu kembali sunyi. Rumput-rumput rebah diam-diam meregang untuk tegak. Serangga yang menghilang, mulai berhamburan ke sarangnya yang sudah porak-poranda terinjak. Kijang-kijang yang ketakutan muncul dari balik semak-semak mencium-cium amis bau darah. Di atas mimbar tubuh pelajar kecil itu terbaring bersimbah darah. Buku-buku yang berserakan di sekitarnya seperti meratap sia-sia. Kepalanya pecah. Di bibirnya masih menggeliat sisa-sisa perkataan yang belum semua berhasil ia ucapkan. Namun semua itu tertutup oleh nyanyian perdamaian yang sayup-sayup terus menggeliat di atas wajah pelajar yang telah kaku: Damai tanpa senjata, damai tanpa darah, damai tanpa kekerasan, damai tanpa pembunuhan, damai tanpa peperangan, damai abadi, damai tanpa kekerasan dstnya.

Cirendeu, 27 November 2002

DASAMUKA monolog Putu Wijaya

DASAMUKA SEDANG BICARA DENGAN KESEMBILAN BUAH KEPALANYA YANG LAIN YANG BERJAJAR DI MEJA. IA NAMPAK SANGAT KESAL, MARAH DAN TAK SABARAN, NAMUN BERUSAHA TETAP BERBICARA DENGAN JELAS TAPI TEGAS. Setelah kupikir-pikir, ternyata kesepuluh kita semuanya menganut idiologi yang berbeda. Ada yang kiri, kanan, tengah. Ada merah, hijau, bitru, kuning, putih ada juga yang abu-abu. Ada lagi yang mengaku tidak berwarna. Pokoknya semrawut. Maka sebaliknya dari bekerja dalam satu tim yang kompak, kita akan selamanya gontokgontokan. Saling cacad, mencela, menghina, bahkan juga menyumpah, memaki dan kemudian mengutuk.Meskipun awalnya sudah ada kata sepakat akan memberikan aku yang terpilih sebagai pemimpin untuk berkuasa, pada prakteknya kalian terus saja mendongkel. Jadi praktis tidak mampu meramp[ungkan apa-apa. Berunding, berunding saja terus. Sudah banyak sekali uang habis untuk biaya siding. Peraturan juga sudah berhasil kita buat. Tapi tidak ada yang jalan baik. Karena, kita selalu berbeda dan mau menang sendiri. Walhasil, perang mulut itu ternyata tidak bisa diselesaikan hanya dengan mulut. Kata-kata dan kalimat yang paling tajam, kasar, berbisa dan pedih sudah diobral, tetapi hati belum puas. Perbedaan idiologi memang tidak akan mungkin menemukan kesepakatan, kecuali kalau ada yang menang. Tapi kalau menang pasti hanya satu, lainnya kask-kusuk dan itu. Akhirnya tangan tidak bisa lagi berdiam diri. Sepuluh pasang tangan yang harusnya kita pakai untuk banting tulang, kita pakai untuk memukuli kepala kita sendiri. Perang saudara sudah meletus. Semua juga tahu perkelahian di antara saudara bisa lebih berdarah, lebih kejam dari persetruan dengan musuh sebenarnya. Seluruh tenaga dikerahkan untuk mengalahkan lawan. Tak cukup mengalahkam, kalau bisa melenyapkan sama sekali. Kemenangan menjadi cita-cita setiap kepala. Tetapi kemenangan hanya ada di tangan satu juara. Sisanya berarti kalah. Hari gini, mana ada orang yang sudi kalah. Dalam pemilihan umum yang konon demokratis dan fair pun, yang kalah tak mau menyerah. Dia terus saja menyerang dengan garang. Dan kalau ada kesempatan pasti akan menerkam setiapsaat untuk merebut kemenangan itu, walau pun bukan haknya. Jadi memang bikin pusing. Berat badanku sudah kontan melorot 100 kilogram. Makanan tidak ada yang enak lagi. Darah segar manusia sudah tidak manis. Perawan-perawan tinting yang dijarah dari mancanegara dengan kecantikan melebihi Dewi Shinta, juga tidak lagi menarik. Raja Alengkaini jadi kehilangan kesabaran. Ya sudah kalau memang terus bertengkar, buat apa tinggal bersama-sama dalam satu badan. Pusing aku! Mulai sekarang terserah kalian semuanya! Kalau memang sudah berbeda dan tidak mau bertenggang rasa hidup berdampingan, ya sudah, kita berpisah saja. Terserah kalian masingmasing. Mau pergi ke mana saja, silakan. Ke Amerika, Rusia, Australia, Arab, Afghanistan, Cina, Singapura, India, monggo. Pergi sana! Jangan bikin ribut lagi di sini, gua udah muak dengan semua itu! Emang cuma elhu-elhu yang gua pikirin?!!!!

DASAMUKA MENGGEBRAK MEJA DAN MENENDANGNYA . MENUMPAHKAN SEMUA KEPALANYA. MEJA MENGGELIMPANG DAN KEPALA BERSERAKAN. SALAH SATU KEPALA MENYAMBUT. (DIMAINKAN JUGA OLEH DASAMUKA DASAMUKA BERDIRI DAN KETAWA Bagus. Meskipun keputusan itu terdorong emosi, tapi itu keputusan yang sah. Aku sambut. . Biar pun itu diucapkan oleh otak yang lagi senewen, aku tak ambil pusing. Kesempatan yang berabadabad aku tunggu-tunggu barang sekarang ini sudah terbuka. Mimpi apa ini. Tak perlu lagi beradu argument, tak usah menyusun pembelaan, tidak perlu mencari timing yang pas, semuanya sudah bisa hengkang. Merdeka! Detik ini juga aku minggat. Aku tidak perlu lagi beres-beres. Sudah sejak puluhan tahun semua barang sudah aku pak rapih. Tinggal cabut! Lebih baik kabur sekarang daripada berubah pikiran. Selamat tinggal badan yang sudah memenjarakan aku bertahun-tahun! Tidak ada yang lebih membahagiakan dari kemerdekaan. Sekarang aku akan menentukan langkah dan tujuanku sendiri dengan bebas, tidak seperti dulu. Inilah baru kehidupan. Ini kehidupan baru! Itu lihat! Semuanya meloncat ke arah yang berbeda-beda. Dalam sekejap mata, kebisingan yang biasa memekakkan sekarang sunyi. Sunyi yang menggigit-gigit, sehingga nafas waktu yang bergeser kedengaran jelas. Seperti katak yang nyemplung di danau hutan senyap dalam haiku Baso. (KETAWA) Hening dan sunyi sekarang menyanyi. BERJALAN-JALAN. Untuk pertama kali, sejak ribuan tahun yang penuh dengan kehebohan, aku akan bisa tidur nikmat. Aku akan mendengkur sepuas-puasnya, sehingga kaca-kaca jendela pecah. Aku akan menancap dalam mimpi perjalanan ke surga dan tidak usah digebrak-gebrak bangunbangun lagi untuk menebar kejahatan. Aku akan masuk ke dalam lelap yang dalam nikmat tanpa ujung. Badanku rindu meresapi tidur sempurna yang sempurna.

MELEMPAR BADANNYA DAN JATUH DALAM POSISI TIDUR, LANGSUNG MENDENGKUR. TIBA-TIBA DIA TERBANGUN. INI DASAMUKA YANG SUDAH DITINGGAL OLEH 9 KEPALANYA. TERKEJUT. Sudah pagi? Kenapa tidak ada yang membangunkan aku? Fajar tidak pernah mendahuluiku. BANGUN. BERJALAN DAN TERKEJUT. Dan kenapa begitu sepi. Biasanya subuh-subuh sudah ada yang memaki-maki dan brrkelahi. Kenapa tiba-tiba lain. (SUARA KAPAL) Stop! (MENUTUP TELINGA) Dengung sayap nyamuk itu seperti satu skuadron helikopter. (SUARA LEDAKAN KERAS)

DASAMUKA LANGUSNG MENGGAPAI SENJATANYA. DAN BERSIAP. Apa: bukan musuh? Hanya suara angin menggasak daun jendela? Gila, kenapa jadi seperti

gedebur musik heavy metal?

DIA MENGAMAT-AMATI KEPALA SEBUAH . LALU MEMUNGGUTNYA. Ya Tuhan. Ini kan anggota kepalaku? MENOLEH DAN MENEMUKAN KEPALA-KEPALA YANG LAIN. DIA MENGUMPULKANNYA DAN MEMEMANGKUNYA. Jadi aku sudah tidak punya sepuluh kepala lagi? Hanya tinggal satu? Sembilan kepala dan sembilan pasang tangan smbilan pasang kaki sudah kabur?! Ya, betul, mereka semua melarikan diri. Tidak mereka sudah izin baik-baik. Dan aku tidak peduli! BENGONG Jadi kalau begitu sekarang aku tinggal sendiri? SUARA KETAWA DI KEJAUHAN Itu mereka. Kalau sendiri, memang hidup menjadi lebih tenang. Tidak ada yang protes. Tetapi SUARA KETAWA BERDERAI DI MKEJAUAHAN. DASAMUKA MEMEGANG KEPALANYA YANG BERDENYUT. Kepalaku! Batok mkepalaku kosong. Rasanya seperti disedot. Aduh ini baru sakit. Hee ini sakit apa kok sakit sekali! Berhenti!!!! Tidak, tidak bisa! Aku sudah terbiasa dikepung keributan, dilontar ke tempat yang asing begini, aku jadi ngambang. Aduh! Aku tidak kuat! Sepi lebih menyakitkan dari keributan.

PANIK

Aduh! Telinganku ditusuki jarum! Kesepian ini liar, menggigit, berbisa. Sunyi ini seperti bor enusuk ke dalam rongga dada menyerang hati. Jantungku berdebar-debar. Nafasklu sesak! Pasti, aku bisa pastikan aku diserbu rongga kosong yang nyaring berdering. Jangan! Hentikan! Aku tidak kuat! BUNYI NYARING MEMEKAKKAN. DASAMUKA MENUTU TELINGANYA DAN BERGULING-GULING MENAHGAN SAKIT. AKHIRNYA IA MENJERIT-JERIT Stoooop! BUNYI NYARING BERHENTI.

Edhan! Kenapa jadi begini? Kenapa jadi begini? Heee jawab! MELIHAT KE SEKELILING Biasanya kalau aku bertanya pasti kepala-kepala itu akan rebutan menyahut. Sekarang suaranya tidak ada yang mendengar. Tak ada yang menjawab. Tak ada yang memprotes. Tidak ada yang peduli. Sunyi sekali. Aku sendirian! Seperti keris panjang sepi menusuk menusuk jantungku perlahan-lahan. KESAKITAN MEMEGANG DADANYA. KEPALA-KEPALA ITU TERLEPAS DARI GENGGAMANNYA, KEMBALI BERSERAKAN. Gila, aku tidak bisa begini! Aku tidak kuat! DIA BERGULING KARENA KESAKITAN. Sudah! Sudah! Berhenti! Wah, wah, wah, kalau begini caranya, enakan juga punya banyak kepala! DASAMUKA KEMBALI BERUSAHA MENGUMPULKAN KEPALA-KEPALA ITU. TAPI TAK SATU PUN BERHASIL IA JAMAH. LUPUT, MENGELAk, ATAU MENTAL KETIKA DIA SENTUH. Ayo kembali!!! Pulangg lagi! Pulang!!!

BANGUN DAN MENGUMPULKAN KEPALA-KEPALANYA, TAPI TAK BERHASIL. IA MENGAMBIL SAPU DAN MENCOBA MENYAPU KUMPULKAN KEPALAKEPALANYA, TAPI TAK BERHASIL. IA MENGAMBIL KAIN DAN BERUSAHA MENANGKAP KEPALA-KEPALANYA TAPI TAK BERHASIL. AKHIRNYA IA PENASARAN, LALU MEMUKUL-MUKUL KEPALANYA, SEPERTI MENANGKAP MAHLUK LIAR YANG TIDAK MAU DIKUASAI, TAPI TIDAK BERHASIL. Ayo kenapa kamu? Aku rumah kamu! Aku trah kamu! Aku asal-muasal kamu! Kembali! Bersatu lagi! Bersatu!!!!! IA MENJADI TERLALU CAPEK AKHIRNYA JATUH. DENGAN PUTUS ASA IA KEMBALI KE TEMPAT DUDUKNYA. IA HANYA BISA MELIHAT KEPALA-KEPALA ITU BERSERAKAN. LALU MENCOBA MEMBUJUK. Kembalilah. Aku tidak kuat kesepian. Aku sudah terbiasa dengan kamu semua.. Ayo, aku mohon. Aku sembah. Kembalilah! Biar kita semua berbeda idiologi, tiap hari ribut, biar selalu gontok-gontokan, biarin, itu kan namanya romantika kehidupan, daripada sendiri begini seperti mati dan dibuang. Aku tidak mau mati! Ayo kembali. Biar berbeda agama, berseberangan kepercayaan, berlawanan kepentingan, lain nkebutuhan, biar berbeda latar belakang, berbeda suku, berbeda bahasa. Biar berbeda nasib, tapi ayo, ayolah kembali. Jangan biarkan aku sendirian. Aku akan mati. Lihat baru beberapa hari aku

sudah lemes. Ini hutan rimba buas, banyak macan di situ, kalau mereka tahu aku hanya punya kepala satu sekarang, mereka tidak akan takut lagi. Mereka tidak akan punya rasa hormat lagi terhadap kita yang mereka kagumi sebagai keajaiban, karena kita berbeda tapi dalam kesatuan. Ayo. Kembali, kembalilah, Aku mohon kembalii! TURUN DARI KURSI DAN MERAYAP. Aku tidak akan memerintah-merintah lagi. Rezeki kita bagi sama-sama. Satu rasa, sama rata. KARENA TIDAK BERHASIL, DASAMUKA MENCOBA MENDIRIKAN MEJA. LANTAS MENARUH KURSI DI ATAS MEJA. SUDAH ITU NAIK BERDIRI DI ATAS KURSI. DAN KEMUDIAN MERAUNG SEPERTI TARZAN. . Pulang, pulang semuanya! Aku membutuhkan kalian. Aku perlukan suaramu. Aku butuh pendapatmu, protes-protes kamu. Aku ingin lagi mendengar sumpah serapahmu. Bertengkarlah di sini, aku akan berikan kesempatan. Pulang semua! Gontok-gontakan di sini di rumahmu, jangan tinggalkan aku sendiri. Aku suka keributan. Aku perlu pergolakan. Aku suka didongkel, disumpah-sumpah, karena itu memang tugasku. Ayo pulang cepat! Aku sudah rindu! Aku akan mencintai perbedaan! MERAUNG-RAUNG SEPERTI TARZAN. MERAUNG. .

BABI monolog Putu Wijaya

SEBUAH KURSI. SEBUAH PAPAN PUTIH ATAU LEMBARAN KERTAS YANG BIASA DIPAKAI UNTUK MEN ULISKAN CATATAN-C ATATAN KALAU ADA MEETING. ANWAR DUDUK MENGHADAP PENON TON, BERHADAPAN DENGAN DOKTER UNTUK MENJELASKAN MASALAHNYA Setiap kali mau menulis namaku sendiri , tanganku selalu kesleao menulis kata babi. Aku dongkol sekali. Aku sudah mengunjungi seorang ahli ilmu jiwa. Tapi hasilnya nol. Aku juga sudah datang mengadukan nasibku pada seorang pintar, tetapi dia hanya menasehati aku agar lebih, tawakal, rajin sembahyang, khusuk mengasah iman. Padahal aku berani bertaruh aku lebih beriman daripada dia. Kawan-kawan memberi nasehat supaya ambil cuti dan beristirahat total. Itu tidak mungkin. Orang lapangan seperti kita mana bisa istirahat. Tidak kerja berarti tidak ada uang. Tidak ada uang berarti nyawa melayang. Aku terlalu mencintai hidup ini. Bingung. Memang. Aku sudah pusing tujuh keliling. Aku yakin benar, mungkin sekali aku sedang berubah untuk menjadi gila. TERTAWA Orang gila biasa tertawa tanpa sebab. Alam menerobos tubuhku dan menyuruh aku ketawa. Ini bahaya. Akhirnya atas inisiatipku sendiri aku putuskan datang ke dokter bedah. Jadi begini, Dokter. Setelah aku pikir-pikir lama dengan mempertimbangkan semua kemungkinan, resiko dan kemampuanku sendiri aku membuat keputusan. Aku mau berpisah dengan tanganku ini. MENUNJUKKAN TANGAN KANANNYA. Sudah jelas, idiologi kami berbeda. Daripada bosok, konyol, bete diganggu terus, lebih baik aku putus sekarang. Lebih cepat lebih baik. Aku tidak kuat lagi menerima pemberontakan tangan kananku ini. Dengan segala kerendahan hati, tanpa bermaksud untuk mengajari, aku minta Dokter sudi memotong tanganku ini. MENGGULUNG LENGAN BAJU KANANNYA, MEMPERLIHATKAN SELURUH TANGAN. Atau aku perlu buka baju?

MAU MEMBUKA BAJU. Aku serius Dokter. Apa? Tangan kanan ini bukan tangan kiri. Yang kiri oke. Anteng. Tidak suka membantah. Disuruh nyebok tiap pagi sore dan malam juga tidak pernah protes. Yang kanan ini yang keterlaluan. Banyak tingkah. Tidak Dokter. Jangan salah, aku tidak terburu nafsu. Itu bukan karakterku. Apa? Okelah, silakan saja. TERTEGUN. LALU MENGULURKAN TANGAN KIRINYA. Tapi terus-terang saja, yang kiri ini tidak apa-apa Dokter. Dia tidak pernah membantah. Masak Dokter tidak percaya. (MENGGULUNG LENGAN BAJU KIRI) Lihat. O, ini hanya tattoo kecantikan bukan tanda aku pernah masuk penjara. Aku sudah mencoba menghilangkan tapi belum bersih betul. (MENOLEH) Faktor-faktor sampingan? Faktor sampingan apa? Memang saya belum terlalu yakin apa dia betul nekat menganut idiologi berbeda, kalau ya, memang dia tidak akan mungkin bertindak serampangan (MENGENGUK) O ya? Dokter khawatir ini hanya sekedar pancingan. Maksudnya? BERDIRI. Ya, ya, saya setuju aku tidak boleh cepat terpancing. Saya harus berpikit sejenak, renungkan apa yang hendak dilakukan sebelum bertindak. Baik, baik saya tidak akan beri komentar lagi. Saya akan rileks. DUDUK KEMBALI Seperempat jam? Baik Dokter. Saya akan coba tenang. Saya tahu bagi professional dan professor seperti Dokter yang sudah banyak pengalaman, tidak ada yang sulit untuk dilakukan. Saya sudah membaca, saya dengar dokter sudah memotong ribuan tangan orang. Karena itu saya datang ke mari. Jangan takut, saya tidak akan menyesal. Yak! Saya paham. Silakan istitrahat dulu. DOKTER PERGI. Aku tidak mengerti, mengapa aku harus rileks. Orang sakit mana mungkin rileks, karena itu aku datang ke mari. Kalau tidak sakit, buat apa ke mari, cari penyakit aja! (MEMPERHATIKAN DAN MERABA-RABA TANGAN KANANNYA YANG MEMAKAI BEBERPA CINCIN DAN JAM TANGAN) Apa boleh buat, kita tetap harus berpisah, kanan. Sorry. (MENCOPOT SEMUA HIASAN DI TANGAN KANANNYA DAN MEMINDAHKAN KE TANGAN KIRI) Aku terpaksa melepaskan semua asesoris ini. TIBA-TIBA TANGAN KANAN YANG SUDAH DILUCUITI ITU MENAMPAR DAN MEMUKUL. TANGAN KIRI CEPAT MEMBANTU MELINDUN GI ANWAR DENGAN MEMEGANG TANGAN KANAN . TERJADI PERGUMULAN Dokter! Cepat! (TERUS MEMEGANGI TANGAN KANANN YANG BERONTAK) Saya kira tidak ada jalan lain, harus dipotong Dokter! (TERUS BERJUANG, AKHIRNYA

MENGINJAKNYA DENGAN KAKI BARU TANGAN ITU DIAM) Bangsat! (MENOLEH KE DOKTER) Kenapa Dokter? Potong saja cepat! Ah? Ada sesuatu yang lain pada tangan ini? Ya memang, sebab cincin dan jam tangannya sudah saya copot. Itu milik saya! Ya kan tangan ini mau dipotong! Jam dan cincinnya saya pindah ke mari. (MENUNJUKKAN TANGAN KIRINYA YANG BERISI CINCIN DAN JAM) Bahkan jadi lebih keren kalau di pakaikan di tangan kiri. TIBA-TIBA DOKTER MEMBERANGUS TANGAN KIRI ITU. TANGAN KANAN BEBAS DAN MENGAMBIL TALI, LALU IKUT MENGIKAT TANGAN KIRI KE KURSI. ANWAR BINGUNG. Lho, lho kenapa diikat Dokter? Yang jahat yang kanan! (MENOLEH DAN TERKEJUT) Ya Tuhan, Dokter mau memotong tangan kiri saya? Tunggu! Tunggu, jangan salah! Yang nyeleweng yang kanan bukan yang kiri! Dokter! (TERKEJUT) Stttt? Kenapa Stttt? (TERBELALAK) Politik? Politik bagaimana? (MEMPERHATIKAN DENGAN SEKSAMA) Masak bisa begitu Dokter? Itu namanya jungkir balik. Sandiwara. Ajaib. Saya tidak percaya. Bagaimana mungkin, kelihatannya saja tangan kanan yang salah, tapi sebetulnya biang keroknya, otaknya tangan kiri? O ya? Jadi tangan kiri merasa rendah diri karena ada tattoo, ya, ya, itu cukup m asuk akal. Dan dia juga iri karena tangan kanan pakai jam tangan dan cincin kawin berlian? Aduh keterlaluan! Lalu dia mencoba melakukan sabotase? Ah? Jadi sementara tangan kanan saya menulis, tangan kiri itu diam-diam menutup mata saya, lalu apa? Lalu menggosok tulisan itu menjadi, menjadi, menjadi apa yang biasa yang tulis? Babi? Ya! Itu yang biasa saya tulis: babi! Kalau mau menuliskan nama saya selalu menulis: Babi! BERPIKIR DAN MULAI MARAH O jadi begitu? Kurangajar, kamu!. Nggak kepikiran betul itu!.Sialan juga! TANGAN KIRI BERONTAK. DIA CEPAT MENGIKATNYA LEBIH KUAT BAHKAN MENENDANG DAN MAU MENGINJAKNYA. LALU M EMUKULNYA KERAS. Rasain! (MAU MEMUKUL SEKALI LAGI TAPI DICEGAH DOKTER) Oke, oke, saya cuma gertak sambal Dokter, biar dia punya desiplin sedikit. Dia kan hanya tangan, pelaksana saja, saya ini yang Bos! Ngerti kagak, lhu! (MELUDAH) KETAWA Maaf Dokter, itu kebiasaan. Kalau tidak meludah sedikit, dia akan menganggap saya hanya kurang tegas. ( TANGAN KIRI BERGERAK SEDIKIT) Hee diam lhu! Mau lagi ya?!! Oke, oke Dokter, sekarang bagaimana? Kita potong saja? Jangan? (MENDENGARKAN) Terus? Apa? Saya harus menulis? Menulis? Menulis apa? Di mana? O di situ? (MENUNJUK PAPAN/KERTAS YANG BIASA DISIAPKAN KALAU ADA MEETING) Menulis apa? MENDEKAT DAN MENGAMBIL CUPIDOL BESAR.

Menulis nama saya? Nama saya? (BERPIKIR) O, saya mengerti. Jadi setelah mengikat tangan kiri yang biasa melakukan sabotase itu, Dokter akan menguji untukmembuktikan bahwa tangan kanan saya akan bisa bekerja normal kembali menuliskan namaku dengan betul. Begitu kan? Saya tahu maksud Dokter. Tapi (BERPIKIR) TANGAN KIRINYA BERGERAK-GERAK. TANGAN KANAN JUGA SIAP UNTUK MENULIS. Tunggu dulu. Saya bingung Dokter. Saya tidak bisa dipaksa. Bukan. Saya bukan buta huruf. Saya sudah hampir ngambis S2., kalau saja tidak ada gangguan ini. Saya hanya. Tunggu. Tunggu. Biarkan saya tenang dulu. Saya tidak bisa dipaksa Dokter. Ini negara merdeka kan? Demokrasi lagi. Sebentar saja. (BERPIKIR) BERJALAN-JALAN DAN MENYERET KURSI YANG MENGIMKAT TANGAN KIRINYA. Untuk menenangkan pikiran saya harus jalan-jalan seidikit. Ini tidak gampang Dokter. Saya bisa.. Tapi saya tidak bisa. Bukan. Maksud saya, saya khawatir. Saya takut gagal lagi. Saya tidak berani melihat ada kegagalan lagi. Ya saya mengerti. Makanya diam dulu! Kasih saya waktu! BERJUANG SEPERTI MENCOBA MEMENANGKAN PERTEMPURAN YANG TERJADI DI DALAM DIRINYA. MATANYA MELOTOT. URAT-URATNYA TEGANG. DAN SETELAH MENJALANI PROSES GEMETAR, NGEDEN DAN HAMPITR KALAH, AKHIRNYA IA MEMENANGKAN JUGA PERTARUNGAN ITU. Yak! Aku sidap! Aku akan tulis sekarang. Aku akan selesaikan di sini secara jantan, supaya tidak berbuntut panjang lagi. Aku harus menulis apa? O ya! Namaku! Oke! DIA MENDEKATI TEMPAT MENULIS, LALU MENULISKAN NAMANYA. KELIHATAN SANGAT SULIT. DIA BERJUANG. SETELAH LAMA BERJUANG AKHIRNYA DIA BERHASIL MENULISKAN NAMANYA DENGAN HURUP KAPITAL DAN BESAR DENGAN BAGUS SERTA JELAS DIBACA: ANWAR SETELAH MENULISKAN NAMAN YA YANG TAMPAK MENGHABISKAN SELURUH TENAGANYA, IA DUDUK DAN MENGHAPUS PELUHNYA YANG BERCUCURAN. IA MELURUSKAN KAKI UNTUK RILEKS AGAR MEMPEROLEH KETENANGAN. LALU MENGHIRUP NAFAS PANJANG. SETELAH MEMEJAM MATA, IA MEMANDANG DOKTER. BICARA SOPAN DAN SANGAT TENANG. Jadi bagaimana Dok? (MENDENGARKAN) Aku berhasil atau tidak? Apa? Aku harus membacanya? Dokter menyuruh aku membaca, apa Dokter buta huruf? KETAWA Baik. Aku tahu Dokter mau meyakinkan bahwa aku bisa membaca atau tidak. Oke. (BERBALIK MEMANDANG KE TULISANNYA SENDIRI) Oke, Dokter, oke, aku akan baca. Aku mau baca sekarang. Tapi sebentar, mana kacamataku. (DENGAN GELAGAPAN MENCARI

KACAMATANYA. SETELAH KETEMU MENCOBA MEMBERSIHKANNYA LEBIH DAHULU) Tenang Dokter, tenang, aku akan baca. Sabar. Aku akan baca. (MEMASANG KACCA MATA) BERDIRI DI DEPAN TULISAN DAN MEMBACA. TAPI NAMPAKN YA SUKAR SEKALI. Tunggu Dokter! Aku perlu penerangan sedikit. (MENGELUARKAN HP DAN MENYOROKAN KE TULISAN ITU, TAPI NAMPAKNYA MASIH SULIT) Sabar Dokter. Sabar. Boleh buka jen delanya sedikit? Oke. Oke, cukup. MENGERAHKAN SELURUH TENAGANYA UNTUK MEMBACA LALU BERTERIAK: Babi!

LAMPU PADAM.

Jakarta, 9 Desember 1979

RASA monolog Putu Wijaya

Pada suatu pagi saya terbangun dan tidak lagi merasa diri saya orang Asia. Mata dan rambut saya masih hitam, kulit coklat dan tulang pipi menonjol, tapi saya sudah terkontaminasi. Sebagai sebuah disket yang salah format, saya mengalami erosi dan abrasi. Nama saya menjadi beban, karena citra saya tidak sanggup mengangkat simbol-simbol dalam bunyi itu. Di dalam kamar saya tertindih oleh pikiran-pikiran tentang kemerdekaan, keadilan, kebenaran, kesetaraan dan kemanusiaan yang diagungkan di seluruh dunia, tetapi kadang terasa sangat bertentangan dengan cita-cita adat dan tradisi Asia. Bentuk saya pun sudah lain, karena saya mengkonsumsi dan dihiasi dengan asesoris yang tak lagi berasal dari lingkungan alam sendiri. Saya adalah sebuah pasar hidup dari produk teknologi dan industri alam pikiran liberal dengan semangat individualisme yang membuat saya benci kepada keluarga dan semangat gotongroyong dalam masyarakat. Saya sudah menjadi sesuatu yang baru dan sekaligus juga virus. Dengan ragu-ragu saya keluar dari kamar sambil membawa senjata, karena saya tetap harus membela diri kalau diserang oleh lingkungan, oleh saudara-saudara bahkan oleh anak-istri yang tak kenal karenanya tak bisa menerima kehadiran saya lagi. Hidup adalah sebuah peperangan dan itu mungkin dimulai dari depan pintu, waktu bangun tidur. Saya sudah memilih yang lain. Untuk itu saya masih memiliki hak untuk melawan dan akan saya pergunakan, karena masa depan tidak semestinya hanya ditentukan oleh masa lalu, tetapi seluruh pembaruan yang terjadi. Lalu saya gebrak pintu dan meloncat keluar siap menembak. Tetapi di depan pintu ternyata terbentang ruang yang lain. Bukan yang biasa saya kenal. Sesuatu yang masih asing karena saya mencium bau yang belum pernah saya hirup sebelumnya. Atmosfirnya begitu menggoda. Saraf-saraf dan kelenjar gairat saya terangsang, tiba-tiba saya ingin bersatu tubuh dengannya. Tetapi baru saya coba menjajaki, tubuh saya berontak. Ia tidak lagi berada di bawah kekuasaan saya. Walau saya tekadkan untuk berhenti beberapa saat, kaki saya terus melangkah dan jari telunjuk saya hampir saja menarik picu senjata, tepat ke arah kepala saya sendiri. Terseret oleh kekuatan yang di luar kekuasaan saya, saya sampai ke pintu yang lain. Pintu yang perlahan-lahan terbuka ketika tubuh saya mencoba menerobosnya. Pintu yang menghantarkan saya keluar tetapi sekaligus ke dalam ruang yang lain. Saya terpesona. Ruang itu lebih dahsyat dari yang sebelumnya. Lebih menyerang dan lebih merangsang. Dari seluruh dindingnya keluar tenaga yang seperti menghisap seluruh tubuh saya. Senjata terlepas dari tangan dan tubuh saya tertarik dari segala arah. Saya bertahan. Pakaian saya tercabik sampai saya telanjang bulat. Kemudian bulu-bulu badan saya tercabut dari tubuh. Bukan main sakitnya. Saya menjerit untuk menutupi rasa pedih itu. Tapi kemudian jari-jari tangan, lengan, kaki, telinga, hidung, seluruh bagian tubuh saya tercabut dan ditelan dinding ruang yang buas itu. Sekarang saya bukan lagi hanya kehilangan identitas Asia, saya bangkrut atas seluruh kehadiran saya. Tetapi satu hal yang menakjubkan, ternyata masih ada yang tersisa. Perasaan saya. Rasa itu tidak kelihatan, tidak berwarna, tidak memiliki volume. Rasa itu bisa tercerabut dan mengalir ke mana saja menerobos jarak, waktu dan segala hukum, tetapi ia selalu kembali, seperti bumerang.

Dengan rasa itulah saya menyaksikan ratusan, ribuan, berjuta-juta bahkan milyardan pintu menunggu di depan dalam era globalisasi. Saya takjub lalu yakin bahwa saya sedang memasuki alam pikiran orang lain. Saya sudah tersesat ke dalam rencana orang lain. Ini kekalahan terbesar Asia yang tak boleh lagi diulangi. Lalu saya peluk rasa yang sekarang menjadi nyawa saya. Saya berbalik dan bergegas hendak kembali. Pulang dan bertahan adalah jalan terakhir yang terbaik. Tetapi begitu berbalik, saya kembali terpesona. Di depan saya, tepatnya di belakang saya, berdiri Asia. Apa pun yang kamu lakukan, aku selalu berdiri di belakangmu, bisiknya. Saya orang Indonesia, karena saya lahir di Bali dari keluarga Bali, tetapi apakah saya Bali? Wajah saya bulat, hidung pesek, tulang pipi menonjol. Mata sipit dan kulit sawo matang, tapi saya sudah dalam pikiran orang lain. Berhakkah saya menyebut diri saya Indonesia? Apakah saya sudah menjadi orang asing setelah saya tidak lagi memakai kain sarung, tetapi jean, sepatu kets dan referensi berpikir Barat? Sekali kamu lahir sebagai orang Asia, kamu sudah terkutuk sebagai Asia. Apa pun yang kamu lakukan, topeng siapa pun yang kamu mainkan, aku tetap di belakangmu, kata Asia yang tibatiba masuk ke lubuk hati. Aku bukan bangsa, bukan ras, bukan teritorial, bukan idiologi, bukan paham, bukan agama, bukan hanya kekuatan moral dan politik, tetapi sebuah konsep sebagaimana juga Afrika, Eropa, Amerika, Australia dan Antartika. Asia adalah sebuah fenomena rasa. Hari ini dengan seluruh rasa itulah kita bertemu. Entah tapa yang akan terjadi. Tapi saya percaya setiap rasa akan tetap rasa dan akan menjadi lebih rasa karena pertemuan ini.

Jakarta 2004

TOLONG

monolog Putu Wijaya

(Monolog ini berawal dari sebuah cerpen berjudul TOLONG, 15 Agustus 1980. Diracik jadi drama GERR dimainkan di TIM pada tahun yang sama. Tolong dibawakan di beberapa kampus di Amerika. Jkt 18 Maret 2010)

SEBUAH PETI MATI. TETAPI HANYA RANGKANYA, SEHINGGA KELIHATAN YANG MATI DIBUNGKUS KAIN KAFAN DI DALAMNYA. ADA SUARA TANGISAN PILU DARI SATU ORANG KEMUDIAN BEBERAPA ORANG, LALU BANYAK ORANG. KEMUDIAN ORANG MENYANYIKAN TEMBANG DUKA. MAYAT ITU BERGERAK PERLAHAN-LAHAN SEPERTI ORANG BANGUN TIDUR. MULA-MULA TANGANNYA. KEMUDIAN KEPALANYA MUNCUL MENDENGARKAN LAGU ITU. LAGU BERHENTI. TERDENGAR SUARA TANGIS ANAK-ANAK. BIMA, YANG MATI ITU TERKEJUT. TIBA-TIBA DIA DUDUK MASIH DALAM PETI :LALU MELIHAT KE SEKITANYA DENGAN TAKJUB, BARU NGEH IA SUDAH DIPERSIAPKAN UNTUK DIKUBUR.

Tidak. Jangan. Aku tidak mati. Aku tidak jadi mati. Aku masih diberikan kesempatan hidup. Kasih aku pakaian biasa, jangan kain kafan begini. Panas. Kalian dengar? MEMANDANG KE SEMUA ORANG. TIDAK ADA YANG MENJAWAB. Aku juga lapar sekarang. Lihat (MENUNJUKKAN TANGANNYA) Lihat tanganku gemetar karena lapar. Darahku sudah berjalan lagi. Kalian tidak percaya? KELUAR DARI PETI. SEMUA ORANG-ORANG MEJAUH. Aku tahu. Diperlukan waktu supaya kalian percaya keajaiban ini. Tabir yang tadinya sudah dibuka sekarang dibatalkan. Sudah digulung lagi. Aku dikembalikan pada kalian. MENGHAMPIRI SATU ORANG. Ini bukan mimpi. Aku memang diberikan kesempatan hidup lagi. Barangkali aku belum waktunya menghadap Dia. Sekarang aku dikembalikan kepada kalian lagi. Ini sungguh-sungguh.

Percayalah! SENYUM. Ya, Aku dipulangkan lagi. (MENGANGUK-ANGGUK) Nggak tahu! Ini tanda KebesaranNya. Dia Yang Di Sana yang mengatur, apa yang Dia Kehendaki terjadi. Jadi tidak usah menangis lagi. Lebih baik cepat ambil makanan, aku lapar. Apa? (MENDENGARKAN) Ya. Betul. Aku tidak jadi mati. (MENARIK NAFAS PANJANG DAN TERTAWA KECIL PEDIH TAPI BAHAGIA. TAPI YANG MENYAKSIKAN PINGSAN) TERKEJUT. Jangan takut. Ya. Ya. Aku hidup lagi. Betul. Kembali kepada kalian seperti sebelumnya. Untuk selama-lamanya, sampai waktu yang ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Betul! Sungguh mati! Apa? Buktinya? BINGUNG. IA MEMBEBASKAN DIRINYA DARI KAIN KAFAN YANG MEMBUNGKUS. Lihat darahku sudah mengalir lagi. Jantungku berdetak. Dan aku lapar.. (MENOLEH) Tidak, aku bukan bayangan roh! Tidak ada yang mencoba meninggalkan badanku. Tubuh dan jiwaku masih satu. Pikiran dan perasaanku masih utuh. Aku masih normal. Sama dengan kalian semuanya. BERGERAK. ORANG-ORANG KETAKUTAN. Jangan takut! Aku bukan roh gentayangan. Aku Bima. Aku Bima Nek Aku Bima Bu, Pak! Aku Bima Isah, Aku bapak anak-anak. Ini bapakmu. Aku sadar seratus persen dan waras. Coba tatap mataku. Kau lihat ada cahaya kehidupan. Aku bukan hantu. Baik aku mengerti, terlalu sulit buat kalian, aku juga. Ini terlalu panjang ceritanya. KEMBALI KE DEKAT PETI DAN DUDUK DI KERANGKA PETI. Aku ingat, apa yang terjadi tiga hari yang lalu. Aku masih segar bugar. Aku bersama kamu Isah, kita baru turun dari gunung setelah mencoba liburan bersama berdua saja. Lalu semua itu terjadi. Ada orang muda yang marah-marah karena kena serempet. Dia memukulku. Aku tidak terima. Tapi belum sempat berbuat apa-apa, anak muda itu kabur. Dengan kesal aku lanjutkan perjalanan. Tiba-tiba ada lagi anak kecil begitu saja nyebrang jalan, sampai aku kaget. Aku tidak bisa lagi menahan perasaan. Apa salahku kena pukul di depan kamu Isah. Apa salahku anak itu nyebrang sampai tanganku patah dan semangatku terbang karena kaget. Kenapa aku terus jadi sasaran? Aku meledak. Ya aku selalu meledak-ledak kalau sudah marah, meskipun persoalannya sepele. Masalahnya aku ada persoalan. MENGHADAP KE TEMPAT LAIN. Ya Mas, ini rahasia, tapi mungkin kalian sudah tahu juga. Aku dan Isah sudah tidak cocok lagi. Maksudku dia merasa sudah tidak bisa lagi mendampingiku sebagai teman hidup. Ya, kami memang sudah merencanakan akan bercerai. Maksudku dia.

MENAHAN PERASAAN. Aku tahu bercerai itu tidak baik. Tapi untuk apa perceraian dibenarkan, kalau tidak ada gunanya. Buat apa lagi hidup bersama kalau setiap hari tidak cocok. Tiap hari perang mulut. Meskipun ditutup-tutupi, anak dan tetangga akhirnya akan tahu. Atau mungkin sudah tahu. Jadi bercerai itu jalan keluar kalau sudah mentok. Tapi ngomong memang enak, melaksanakannya sulit. Terutama buat aku yang akan ditinggal. MELIHAT KE ISAH. Terus-terang perasaanku kacau Isah mikirin anak-anak yang masih kecil. Bagaimana nanti mereka, apa harus dibagi? Apa perasaan bisa dibagi? Yang paling gampang adalah marah. Jadi setiap ada kesempatan marah aku meledak. Waktu itulah jantungku berhenti. Ya akan? MELIHAT KE IBUNYA. Aku tahu aku dilarikan ke Rumah Sakit, Bu. Aku yakin semuanya sudah berusaha menyelamatkan. Tapi kemudian dokter menetapkan aku sudah mati. Tidak bernafas lagi berarti memang mati. Tiga hari tiga malam aku dengar semuanya menangis. Termasuk kamu juga Isah. Apa kamu menangis karena malu kalau tidak menangis, atau baru nyahok sebenarnya jelek-jelek aku ini suamimu dan kamu masih sayang. Ya? Begitu? KETAWA PEDIH Mungkin tidak. Kamu menangis mungkin karena merasa rugi tujuh tahun melayani aku dan melahirkan tiga orang anak, tapi kamu tidak dapat apa-apa. Rumah hanya BTN, mobil bekas dan tabungan tipis. Mungkin kamu menangis karena sekarang baru kebayang bagaimana susahnya nanti menghidupi tiga orang anak tanpa suami. Jelek-jelek begini, suamimu sepukul dua pukul bisa cari nafkah. MELIHAT KE BAPAKNYA Ya tak usah kaget, Pak. Saya hidup kembali. Bukan cuma saya yang bisa hidup setelah mati. Banyak kejadian. Mungkin masih ada yang harus saya selesaikan, jadi panggilanNya ditunda dulu sementara.

KEPADA NENEK. Betul Nek. Betul sekali. Meskipun dokter bilang sudah mati, kalau Yang Di Atas situ punya rencana lain, siapa bisa menghalangi. Sekarang jantungku sudah berdetak lagi. Aku dikirim lagi pulang untuk merawat anak-anak. Ya, Bapak pulang anak-anak. Jangan menangis lagi! Nanti kita nonton sirkus lagi seperti dulu. Beli ketoprak (MENOLEH) KEPADA SEMUA

Maaf saya sudah menyusahkan Pak Rt, Pak Rw, para tetangga sekalian. Terimalah saya kembali aktif sebagai warga. Nanti saya bisa ikut ronda. (MEMEGANG PERUT) Maaf saya lapar. Tolong berikan saya makan sekarang. Perut saya melilit karena kosong. (MENAHAN SAKIT) Aduh. MENAHAN RASA SAKIT SAMPAI TERJATUH KEMBALI KE DALAM PETI. Saya haus! Lapar! Tolong airnya! TAK ADA YANG MENOLONG. DIA TERKEJUT DAN MELIHAT SEMUANYA. SAMBIL MEMEGANG PERUTNYA DIA MENCOBA BERDIRI. Lho kalian kok diam saja semua? Kenapa kalian? Saya lapar! Saya sakit! Saya minta minum! Airrrr! Bapak! Apa? MENCOBA BANGUN. Mengganggu bagaimana? Siapa yang mengganggu? Aku lapar! Tidak ada yang harus dimaafkan. Tidak usah minta maaf! Lho Bapak kok menyuruh saya pergi.? Pergi ke mana? Ini rumah saya! Bapak ngusir saya? Kenapa? (TERKEJUT) Ibu! IBUNYA PINSAN, DIA BERDIRI TAPI KARENA KESAKITAN TERSANDUNG DAN JATUH KELUAR DARI PETI. DIA BERUSAHA BERDIRI, TIBA-TIBA DIA MEMELUK SALAH SATU ANAKNYA. Agus! Eko! Ratih! Ini Bapak! Ini Bapak. MEMEGANG ANAK-ANAKNYA. ANAK-ANAKLNYA BERONTAK, MENGGIGIT. ANAK-ANAK YANG LAIN MENARIK SAUDARANYA DAN MELEMPARI. BIMA TERTEGUN. KETIKA DIA MAU BERDIRI, ISTRINYA MENGHAMPIRI. Isah? Kenapa anak-anak itu tidak kenal aku lagi. Apa yang sudah kamu bisikkan kepada mereka. Baru tiga hari, mereka sudah berani melempar aku dengan batu. Aku ini bapaknya. Tidak! Tidak bisa! Mereka bukan milik kamu sendiri, mereka separuhnya milik bapaknya. Aku! Tidak. Tidak perlu kamu ceritakan. Aku tidak perlu informasi. Aku sudah tahu. Aku! Aku akan merelakan. Tapi kasih aku waktu, sebab aku belum siap! Ya! Aku mengerti! Aku tidak tolol! Terlalu banyak perbedaan! Tidak ada yang harus dipikirkan lagi. Memang! Kalau memang itu mau kamu, boleh ambil, ambil mereka semua, tapi jangan ajari mereka melempari aku batu. Jelek-jelek begini aku bapaknya. Aku yang dulu mencuci popoknya! Ya! Aku akan pergi. Pergi dengan tenang! Tunggu! Pergi ke mana? Aku tidak pergi ke mana-mana, aku belum mati. Aku mau pulang sekarang! Isah! Isah! MEMEGANG TANGAN ISAH.

Aku belum selesai bicara. Dengerin. Kamu salah sangka. Aku.. ISAH MENYENTAKKAN TANGAN BIMA, LALU LARI. BIMA MAU MENGEJAR TAPI DICEGAH OLEH PACAR ISAH. BIMA TERKEJUT. DIA TIDAK JADI MENGEJAR ISAH. DIA MENATAP KOKO DENGAN MATA MENYALA. KEDUANYA SALING MENATAP. Koko! (SANGAT MARAH) Jangan panggil aku Mas! Tidak perlu minta maaf! Tidak ada yang harus dimaafkan! Nggak usah! Tidak perlu bersumpah apa-apa di depanku. Bersumpah di depan Isah saja. Itu urusan kalian, kamu cinta, kamu goda dia, kamu pelet, kamu tiduri dia tidap malam, terus kami tinggalkan, terserah. Terserah! Itu bukan urusanku! Kalau kamu betul-betul cinta sama dia, nggak usah ngomong, buktikan. Dalam tujuh tahun apa kamu bisa lebih membahagiakan dia dari aku.. Tidak perlu! Itu bukan anak kamu. Itu masih darahku, aku terhina sebagai laki-laki kalau sampai anak-anakku makan tahi tangan kamu. SEMAKIN MARAH. O ya aku pasti! Pasti!! Aku akan pergi tanpa kamu minta. Tapi bukan ke neraka. Aku masih hidup. Aku akan jadi saksi bagaimana kamu menipu keluargaku! Bajingan! MENDEKAT. Aku tidak ingin mempertahankan apa yang ingin kamu miliki, aku hanya mempertahankan kehormatanku sebagai suami yang kau hina. Pergi anjinggg! TAPI KOKO TIDAK PERGI. BIMA MELUDAH. Cinta tulus, tai kucing. Maaf? Maaf telek! Pergiiiii! MENGAMBIL BATU DAN HENDAK MELEMPAR. TAPI KEMUDIAN IBUNYA DATANG. HATINYA LULUH. Ibu. Aku tidak mati Ibu. Aku tidak jadi mati. Kenapa orang-prang itu tidak percaya. Kenapa mereka lebih percaya kepada Koko? Apa salahku? Apa kekuranganku? Aku kan selalu baik dan menlong mereka. Apa mereka semua sudah dibeli oleh Koko bajingan itu? Tidak? Lalu kenapa? Apa? Aku akan tuntut semua ini, aku akan seret dia ke pengadilan! BIMA TERCENGANG. Apa? Rumahku sudah dijual? Mobil juga sudah ditukar supaya semua lupa sama aku? Uang simpanan sudah dibagikan? Anak-anak mau dibawa pindah ke rumah si Koko? Cukup! Diammmmmm! Bangsat! MASUK KE DALAM PETI DAN MENGOBRAK_ABRIK PETI. MENGHAMBURHAMBURKAN ISI PETI. MEMUKUL-MUKUL PETI. Kalian semua terlalu! Kalian sudah preteli sebelum aku betul-betul masuk kubur! Kalian tidak

bisa sabar sedikit menunggu perasaan-perasaanku lenyap dari sini. Kalian rendah semua! Tidak! Aku tidak terima! MENGANGKAT PETI. Aku mau rebut kembali semua! Istriku! Anakku! Tabunganku! Mobilku! Rumahku! Hak-hakku! Semua! Mana!!!! MELEMPARKAN PETI KEPADA SEMUA ORANG. Minggir! Minggir! MENGANGKAT PETI SEKALI LAGI. TAPI KEMUDIAnN DIA TERKEJUT, KARENA ORANG-ORANG ITU TIDAK TAKUT. SEMUANYA MALAH MENDEKAT. DENGAN SENJATA-SENJATA MEREKA MENGEPUNG. BIMA MUNDUR. MUNDUR. DAN AKHIRNYA JATUH. ORANG-ORANG MEMUKULI BIMA. BIMA MENCOBA BERLINDUNG DI DALAM PETI. SEMUA TERUS MEMUKULI. Tolong! Tolong! Tolonggggggg! BIMA MENCOBA MELAWAn TAPI DIA TERIS DIGEBUKI. Tolong! Tolong! Tolonggggg! AKHIRNYA BIMA SEMPAT MELEPASKAN DIRI. DIA MELONCAT DAN LARI KELUAR. SMEUA MENGEJAR. TERDENGAR TERIAKAN BIMA DI LUAR. Tolong! Tolong! Tolong!!!!!!

TERIAKAN BIMA MAKIN SAYUP. TAPI KEMUDIAN TIBA-TIBA BIMA BERLARI LAGI MASUK. Tolong! Tolongg! Tolonggggg!. ORANG_ORANG TERUS MEMBURUNYA. BIMA TERUS BERLARI. TOLONG! Tolong! Tolonggg!!!!! TERIAKAN BIMA MAKIN SAYUP- MAKIN SAYUP. DAN HILANG. TAPI BEBERAPA SAAT KEMUDIAN TIBA-TIBA TERDENGAR TERIAKAN LANTANG DAN KERAS. Tolongggggggggggg! Jakarta 15 Agustus, 1980

HADIAH PERNIKAHAN PERAK monolog Putu Wijaya

Untuk merayakan ulang tahun pernikahan perak, aku pergi ke toko swalayan yang terbesar. Hasrat ingin membeli sesuatu untuk dihadiahkan pada istri. Tapi begitu masuk dengan mengantongi seluruh tabungan selama 10 tahun yang siap dibelanjakan, aku bingung. Semua barang kelihatannya bagus. Tapi begitu mau dibeli, semua kelihatan jelek. Aku jadi terjepit. Tidak tahu apa yang harus dibeli. Takut salah. Tidak mau keliru. Sejak pertokoan dibuka, aku sudah masuk, tapi sampai menjelang malam, aku belum berhasil memilih, apa hadiah yang tepat. Tidak ada pilihan sudah susah, tapi terlalu banyak pilihan juga tambah ruwet. Karena takut menyesal, aku menenangkan pikiranku dengan makan enak. Tapi setelah makan sangat enak, kenyang dan puas, pilihan itu belum juga kunjung tiba. Lalu aku memutuskan, mungkin itu semua sudah tertulis di dalam skenario bahwa tak ada hadiah yang cukup bagus, lebih bagus dari niat yang tulus yang ada di dalam hati. Jadi aku tidak jadi membeli apa-apa. Uang di dalam kantong aku bawa pulang kembali tanpa kurang sekepeng pun. Mungkin tidak harus membeli apa-apa. Karena semua barang-barang yang dipajang di situ dari yang paling murah sampai yang paling mahal, dari yang biasa sampai yang teraneh, tidak ada yang sanggup untuk mewakili perasaan yang ingin aku tumpahkan dengan hadiah itu. Jadi, bagaimana kalau uang ini saja yang aku serahkan. Dengan uang ini, kamu bisa memilih hadiah apa saja yang paling kamu inginkan. Sebab sebagus-bagus pilihanku, semahal-mahal harganya, kalau kamu yang menerima hadiah tidak cocok, akhirnya hadiah akan mubazir. Jadi terimalah amplop ini. Jangan isinya yang dilihat, tidak usah dihitung, rasakan saja niat baik di dalamnya. Amplop ini mewakili seluruh rasa hormatku, penghargaanku kepadamu. Ketika memikat kamu untuk jadi pacar, aku bersaing dengan puluhan leaki-laki yang memiliki begitu banyak kelebihan. Bersaing bebas mestinya aku pasti akan kalah total. Di atas kertas aku tidak punya nomor antrean. Kartuku kartu mati. Tidak punya trah, tidak punya warisan, tidak ada pekerjaan, tanpa masa depan dan tidak ada yang bisa dibanggakan. Tampangku juga mirip salah satu anak Semar. Aku orang kecil dari dusun yang terlalu biasa. Tidak punya kans. Tetapi aku menjadi istimewa, karena kamu memilihku. Kamu yang membuat aku jadi menang, sehingga puluhan sainganku itu yang tadinya tidak melihatku dengan sebelah mata, jadi kaget. Mereka semua terpukau. Heran kenapa mereka kalah dan takjub kenapa aku yang berhasil menggondol kamu. Mereka menuduh aku sudah main pelet. Memang bener aku pernah berniat untuk pakai jalan belakang. Bagaimana merebut kamu tanpa rupa, tanpa harta lewat jasa dukun. Tapi modalnya darimana? Dukundukun sekarang mahal, mereka minta Mercy Sport. Tak mungkinlah. Kepalaku dijual juga tidak cukup untuk beli peleknya. Ada yang menduga aku punya sabuk. Tapi sabuk apa? Kalau kata punya, sudah lama aku jadi caleg. Atau meraup duit jadi markus. Aku bersaing dengan tangan kosong. Kamu yang membuat tanganku yang

kosong itu jadi berisi. Cinta barangkali yang sudah membuat kekosonganku menjadi berarti. Kamulah bukan aku, kamulah yang kemudian membuat mereka kagum, karena tanpa punya apa-apa aku berhasil menggaetmu. Itu yang namanya seni. Kreativitas. Tapi setelah menjadi istriku, aku tak sanggup membahagiakan kamu. Puluhan tahun kita tinggal di rumah tua ini. Tak ada kendaraan. Tidak punya tabungan. Makan saja selalu dikerubuti dengan rasa cemas setiap hari, bisa makan atau tidak. Apalagi setelah kita punya anak. Entah bagaimana jalannya, kita lakoni semuanya. Sejak melahirkan, sampai membesarkan anak, lalu jadi mahasiswi seperti sekarang, kita dapat saja uang. Tidak besar. Tapi kita tidak pernah hutang. Hidup kita begitu sederhana, tapi tidak diuber-uber oleh penagih hutang. Kamu selalu tabah. Ada, kamu senyum. Tidak ada, kamu juga tetap ketawa. Keceriaan kamu itu membuat aku sebagai laki-laki tidak tertekan. Lelahku hilang, kalau sudah sampai di rumah karena melihat kamu senyum. Tak sekali pun kamu pernah membandingkan aku dengan laki-laki lain. Kamu terima aku dengan seluruh kekuranganku. Bahkan kalau aku sampai kelu langkah, karena sama sekali tidak berdaya, dengan tetap hati kamu membantu. Kamu berikan aku dorongan, untuk menghadapi semua tantangan dengan sabar. Kamu bikin kosongku jadi berisi. Lama kita tidak punya anak. Ada orang baru setahun menikah, sudah cerai, karena belum punya keturunan. Mereka saling tuduh. Tapi kita, sepuluh tahun, kamu tenang saja. Keluargamu menyindirnyindir kapan, kapan, kamu hanya senyum. Dan ketika keluargaku juga ikut main gerpol kasak-kasuk kamu mandul sambil mencarikan aku jodoh baru. Kamu tak peduli. Matamu terus hanya melihat ke depan dengan tabah. Dokter kemudian menetapkan akulah yang mandul. Aku menangis waktu itu. Aku berserah kepadamu, dan mempersilakan kamu ingin berbuat apa saja, silakan, aku akan menerima. Kamu punya hak untuk meninggalkan aku. Kamu punya hak untuk tidak peduli kepadaku, sebab aku bukan laki-laki sejati. Aku hanya laki-laki yang dibuat sejati oleh istri. Bahkan ketika ada yang mau meminjam rahimmu untuk mengandungkan anaknya, seperti yang terjadi di manacanegara sana, kamu sama sekali tidak tertarik malah memberikan komentar bahwa kamu masih punya iman. Itulah yang sudah membuat aku hormat kepadamu. Apa pun yang kamu lakukan aku hargai. Aku hanya ingin agar kamu tersenyum. Perasaanku tidak penting. Aku heran, kenapa kamu sama sekali seperti tidak mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Nolten itu. Kamu terus saja melangkah di sampingku, mendampingiku sebagai istri, menemaniku sebagaimana mestinya. Merawatku, meladeniku, membantuku, menemaniku, pendeknya menjadi teman hidupku. Matamu yang terus memandang ke depan tidak berkedip tiba-tiba menembus tirai hitam itu. Ya Tuhan! Tiba-tiba saja kita mendapat karunia. Kita dipercaya untuk memiliki momongan yang nanti pada tanggal 20 April berulang tahun ke-14. Itu membuatku semakin hormat kepadamu. Aku berjanji di dalam hati, akan mencintai, menyayangimu selama-lamanya. Isi yang kau tumpahkan untuk memenuhi kekosonganku begitu besar. Begitu besar. Aku memikul hutang budi yang tidak terkira. Tanpa kamu, aku akan terus kosong. Melayang-layang di udara. Terombang-ambing dan akhirnya akan dicaplok setan karena tak punya pegangan. Seorang istri adalah tempat berpegang. Tempat laki-laki yang konyol seperti aku punya tujuan. Kamu seperti garam dalam masakan, yang memberikan rasa sedap, indah, bahagia dan lengkap. Tanpa kamu

aku akan jadi laki-laki yang bimbang. Tanpa kamu aku akan dipermainkan gelombang. Kamu adalah sebuah jangkar yang membuat kapal tak hanyur dalam gelombang. Hari ini aku ingin sekali berterimakasih. Tapi tak ada benda yang dijual di pasar swalayan yang cukup untuk mewakili perasaanku itu. Sementara itu, uang di dalam amplop ini pun tidak cukup, untuk membeli, kalau toh kado terimakasih yang bobot nya setara dengan jasamu itu benar-benar ada. Jasamu yang tak ternilai itu, istriku, memang tidak mungkin dibalas. Aku hanya akan bisa merasakannya dan tidak mungkin membalasnyadengan seimbang. Jadi, mungkin sekali ada baiknya, aku tidak perlu mengukur, menilai, apalagi mencoba menyeimbangkan. Pemberianmu yang tak ternilai itu memang barangkali kodratnya untuk diterima orang yang lemah seperti suamimu ini. Apalagi kalau mau dikecilkan artinya dengan amplop yang sangat materiliastis ini. Akan menjadi kesalahan dan dosa berikutnya, kalau aku mencoba untuk melunasi hutang budi pada istri. Maka lebih baik, aku tidak jadi memberikan kepadamu. Biarlah aku tetap berhutang budi, berterimakasih dan terus terikat kepadamu, istriku Kamu tersenyum. Kamu tidak membantah. Lebih terharu lagi perasaanku sekarang, karena kamu mengerti segala-galanya. Bahkan yang belum aku lakukan pun sudah kamu pahami. Kamu perempuan sejati. Karena kamu tahu, aku hanya bisa ngomong, bersilat lidah, bersembunyi di balik kata-kata. Kamu tahu, amplop itu kelihatannya saja besar, penuh dan berat, tetapi sebenarnya isinya sudah tak ada. Dengan tangan gemetar kubuka amplop itu. Isinya amplop yang lain, amplop yang lain, amplop yang lain, karena uangnya sudah kandas ketika lewat di depan bandar judi gelap. Maksudku jalan pintas mau melipatkan duit membalas jasa istri. Tapi akibatnya bunuh diri. Itulah resikonya, kalau suka bertindak tanpa konsultasi. Itulah hadiahku, sayang. Jakarta 7 April 2010

RAJA monolog Putu Wijaya

BEL TANDA KANTOR MULAI AKTIF BERBUNYI SEORANG PEGAWAI MUNCUL DENGAN PAKAIAN KANTOR LENGKAP DENGAN TASNYA. DIA MELIHAT KE JAM TANGANNYA LALU BERCERITA PADA PENONTON.

Kalau keberanian berarti kesanggupan untuk melaksanakan apa yang digagas, maka tindakan nyata menjadi amat penting. Karena itu aku berangkat menemui majikanku untuk menyampaikan langsung, bahwa aku tidak menyukai dia . "Pak terus-erang saya tidak suka kepada Bapak. Saya punya alasan mengapa saya tidak suka. Pertama, karena saya merasa Bapak ini tidak bisa memimpin. Bapak tidak bisa memutuskan sesuatu. Semuanya Bapak gantung sehingga terkatung-katung. Ada yang sudah sempat Bapak putuskan, tetapi esoknya cepat dilanggar lagi, sehingga menjadi mentah. Bapak tak memiliki prinsip. Tak memiliki rencana. Semuanya tergantung pada perasaan Bapak saja. Ini amat berbahaya sebab Bapak memimpin kami semua". Aku sudah terengah-engah, dalam berondongan yang pertama itu. Tetapi meskipun dadaku masih sesak, tanpa memberikan kesempatan bicara, aku tancap lagi. "Bapak juga penuh dengan hipokrisi. Bapak menghadapi semuanya dengan kepura-puraan. Ini namanya tidak punya karakter. Dan kalau Bapak sudah tak punya karakter boleh disimpulkan bahwa segala keputusan Bapak juga tidak memiliki kharisma lagi. Bagaimana Bapak akan memimpin, kalau Bapak sendiri tak sanggup mengatasi persoalan-persoalan Bapak sendiri ? Seringkali persoalan rumah-tangga Bapak masuk menjadi persoalan kita semua. Kelihatannya memang Bapak yang menjadi pemimpin kami di sini. Tapi sebetulnya Bapak selalu mengikuti tekanan-tekanan dari orang yang berpengaruh, orang yang bapak takuti ". "Bapak juga sangat lemah. Baik terhadap wanita, maupun terhadap orang lain. Kelemahan Bapak dimanfaatkan oleh orang-orang yang pintar menjilat. Siapa di antara kami yang bisa memuji , menyenangkan, bisa berpura-pura menyokong Bapak, pasti akan mendapat tempat yang aman. Penempatan manusia di dalam kantor ini tidak lagi berdasarkan prestasi, tetapi berdasarkan rasa persahabatan pribadi. Ini admnistrasi yang tidak sehat dan boleh dikatakan konyol".

"Bapak juga tidak pernah bersungguh-sungguh memikirkan nasib kita semua. Bapak hanya memikirkan urusan Bapak sendiri. Bagi Bapak, kantor ini hanya sebagian kecil urusan Bapak, padahal kantor inilah yang memberi kami makan. Jelas ini tidak adil !" "Coba lihat, terus-terang saja, kalau Bapak mau mencova mengakui. Banyak pegawai-pegawai yang pintar, berbakat, tidak pernah mendapat promosi, karena meereka tidak bisa menjilat. Hanya karena mereka kaku. Atau barangkali karena Bapak takut mempromosikan mereka, kalau-kalau pada akhirnya mereka menendang Bapak. Sebaliknya Bapak selalu memberi kesempatan orang-orang yang bodoh untuk menjabati jabatan penting, orang-orang yang bisa membebek dan tak berbahaya. Ini benar-benar tidak sehat !" "Saya minta supaya Bapak mundur saja. Tidak ada jalan lain, sudah terlalu parah. Bapak letakkan saja jabatan baik-baik. Kemudian berikan kepada kami untuk menentukan siapa sebenarnya yang layak menjadi pemimpin. Siapa yang paling punya potensi membawa perusahaan ini ke puncak. Relakan saja. Buat apa mempertahankan kursi itu, kalau sudah jelas tidak ada jaminan sampai kapan pun, bahwa Bapak akan berhasil. Sudah, tenang saja, Bapak beristirahat saja. serahkan kepada kami yang lebih punya wawasan. Banyak di kantor ini yang bisa memimpin, tetapi jalan mereka buntu. Berikan mereka kesempatan sebelum terlambat betul !". Aku menarik nafas panjang. Setengah unek-unekku sudah tumpah. Tetapi masih ada setengahnya lagi yang harus segera dikeluarkan. Aku tak mau menahan-nahan. "Sebaiknya Bapak juga meminta maaf kepada kami semua. Bapak sudah menyebabkan kami semua menyia-nyiakan hidup kami selama ini. Beberapa tahun lewat begitu saja, hanya janji-janji kosong. Hidup kami semua melarat, karena kami sudah tertipu untuk berkorban-berkorban terus. Dedikasi kami luar biasa. Tapi hasilnya nol besar. Bapak berdosa bukan saja kepada kami, tetapi kepada seluruh keluarga kami yang ikut tersia-sia oleh ulah Bapak". "Banyak pegawai-pegawai kelas satu, hanya karena fitnah, lalu dilepaskan. Banyak yang lain masuk padahal goblok-goblok, tetapi memang pintar menyerpis. Di kantor ini yang kerja betul, diperas sampai mati, sedangkan yang enak-enak, tetap saja malas dan bertambah gendut. Ini juga sebagian dosa. Kita harus berani membongkar dan mengakui bahwa semua ini sebetulknya berasal dari kesalahan kecil. Bapak yang tidak tepat memimpin kami". Direktur itu tercengang. Sejak awal unek-unekku, ia sudah pucat-pasi. Kadangkala ia ingin menjawab, tetapi aku tak memberinyta kesempatan. Kini ia benar-benar seperti terbakar. Tetapi ketika ia seperti hendak menggerakkan mulutnya, aku cepat menyambar. "Saya tahu, ini kurang-ajar. Saya tahu tidak seorang pegawai pun yang berani berbicara seperti saya. Semua mereka takut kehilangan pekerjaan. Mereka semua hanya tersenyum dan memuji, karena itu Bapak tidak pernah mendapat input yang sebetulnya. Bapak tidak pernah berhubungan dengan keadaan kita yang nyata. Mereka telah memasang filter di seluruh kantor ini, untuk melindungi diri mereka sendiri, dan sama sekali bukan perusahaan ini". "Hanya saya, Mila ini, yang tidak peduli semua itu. Bapak boleh pecat saya sekarang. Bapak boleh tendang saya sekarang. Saya siap. Saya berani mengambil resiko apa saja, karena saya punya bukti,

karena saya bicara atas kebenaran, karena semua ini nyata, fakta. Bapak boleh sakit hati, tapi Bapak harus berani melihat kenyataan. Lihat saja, ini betul atau tidak. Kalau salah, apa buktinya. Kalau betul, silakan ambil. Ini informasi pertama yang paling jujur yang Bapak terima selama ini, bukan. Tidak ada yang berani mengatakan sesuatu dengan jujur, semua orang takut, semua orang menyembah. Mala, anak bandel ini, tidak. Mala harus bicara dengan apa adanya, walaupun itu akan berakibat fatal". Aku makin terengah-engah, tetapi dadaku sebenarnya sudah bertambah kempes. Semuanya sudah dimuntahkan. Namun masih ada peluru-peluru terakhir di situ. "Saya bekerja di sini bertahun-tahun tanpa janji. Saya tidak pernah mendapat perhatian. Gaji saya dari dulu sampai sekarang tetap saja. Saya tak bisa hidup dengan pekerjaan ini. Bahkan saya sering memakai uang saya sendiri untuk membantu diri saya supaya bisa bekerja dengan baik di sini. Tapi itu semua tidak ada yang memperhatikan. Sementara orang-orang lain, semua diangkat satu per satu menjadi kepala, menjadi tangan kanan, menjadi berkuasa, padahal mereka tidak tahu apa-apa. Mereka semua hanya cucunguk yang mengandalkan orang-orang seperti saya. Ini sama sekali tidak Bapak ketahui. Kasihan !" "Saya tidak minta apa-apa. Saya hanya minta perlakuan yang lebih baik. Hargai orang yang sudah bekerja. Jangan orang-orang yang main politik. Berikan perhatian kepada kami orang kecil, jangan hanya mereka yang di atas yang ditarik yang diundang yang dihormati. Kami juga ikut memiliki perusahaan ini. Kalau tidak ada kami perusahaan ini juga tidak akan jadi apa-apa. Perusahan ini akan lumpuh tanpa kami !" Bosku itu gemetar. Ia berusaha menenangkan dirinya dan menunggu apa lagi yang akan aku katakan. Aku memang masih berusaha untuk menembakkan peluruku yang terakhir . "Saya tidak terima ini. Saya tidak bisa terima semua yang tidak adil. Ini benar-benar di luar perhitungan akal sehat. Saya tidak terima. Betul ! Dan silakan kalau Bapak mau memecat saya. Hati saya sudah senang, sebab saya sudah bicara demi Tuhan dengan sejujur-jujurnya !" Aku menggerakkan mulutku lagi, tetapi sudah kehabisan kata-kata. Akhirnya aku hanya diam saja, tegang, kaku, menunggu apa yang akan dikatakannya. Tapi Bos lama membatu. Ia berusaha untuk menguasai dirinya, meskipun mukanya kelihatan bengkak, merah padam. Setelah ia bisa menyelesaikan itu dalam dirinya, lalu ia mengambil map dari laci mejanya dan melihat-lihat. Setelah itu ia meraih megaphone dan mencoba menanyakan sesuatu. Setelah itu ia berbalik membelakangiku dan menulis. Tidak terlalu lama, kemudian ia berbalik dan mengulurkan map itu. . "Ini". Aku tertegun, memandangi map itu dengan tegang. "Ya ini. Silakan!". Aku mati langkah. Kemudian setelah menarik nafas panjang aku memandang dia kembali dengan kaku.

Suaraku gemetar dan kering. "Bukan ini yang saya harapkan Pak. Bapak jangan keliru. Saya bicara dengan hati-nurani saya mewakili kebenaran. Tidak ada yang berani bicara seperti ini kecuali saya, karena semua orang takut. Saya tidak mau menjilat. Saya bukan menantang untuk dipecat, tapi saya kira kalau begini terus, kita tidak akan maju. Harus ada orang yang berani bicara dengan jujur kepada Bapak, untuk membuktikan bahwa di kantor ini masih ada kejujuran, masih ada manusia yang punya perasaan waras. Tidak semua orang di sini takut dan menjilat!" Aku perhatikan sekali lagi isi mapa itu. Tanganku gemetar. Dadaku seperti mau meletus. Lalu dengan hati-hati kumasukkan map itu ke dalam tasku. "Baik. Saya terima semua ini dengan ikhlas. Sekarang saya tahu, saya puas, saya benar-benar ikut bekerja dan membina perusahaan ini. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya menerima baik semua ini bersama keluarga saya. Terimakasih Pak". Aku berdiri, mengangguk memberikan hormat, lalu pergi ke luar ruangan dengan sempoyongan. Rekanrekanku yang sejak tadi menunggu di luar ruangan, langsung menyerbu. Mereka semua sudah tahu, karena aku sudah berbulan-bulan menggerutu, mengutuk, menyumpah-nyumpah di belakang. "Kamu dipecat ?"tanya mereka cemas. Aku tak menjawab. "Kamu dipecat ?" Aku menggeleng. "Jadi bagaimana ?" Aku keluarkan map. Aku beberkan isinya. Ada surat perintah kerja untuk keliling dunia, guna melakukan study banding di berbagai perusahaan terkenal Disertai sebuah cek bernilai satu milyar yang boleh aku pakai untuk mengurus semua keperluan selama perjalanan, termasuk biaya yang harus dikeluarkan untuk keperluan pribadi dan keluarga. Semua orang ternganga. "Jailah! Wah, wah, wah, kamu hebat dong !" Aku menggeleng. "Aku akan minta berhenti. Orang itu tidak bisa diperbaiki lagi, dia bukan seorang pemimpin. Dia raja".

Lalu aku robek surat dan cek itu sampai berkeping-keping di depan mata mereka semuanya. Supaya mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri, aku berjuang tidak untuk kepentinganku, seperti yang sudah dilakukan para pemimpin zaman sekarang, tapi untuk memperbaiki nasib mereka. Aku naik ke atas meja, lalu melemparkan kepingan surat perintah kerja dan cek itu, menaburi setiap kepala mereka. Lalu aku meloncat turun, mengambil semua barang-barangku dan pulang. PERGI KELUAR. TAPI KEMUDIAN MASUK LAGI. Sampai di rumah aku baru menyesal. Apa gunanya aku jadi pahlawan?! BEL TANDA KANTOR BUBAR. LAMPU PADAM

Ithaca, 11 Maret 1987.

ESTAFET monolog Putu Wijaya

Anjing yang biasa kulempari makanan di bawah tiang listrik, di depan pasar, menggigit orang. Binatang itu tersengal-sengal kehabisan nafas karena dikejar-kejar keamanan pasar. Seisi pasar naik pitam karena yang jadi korban putera Pak Gun dermawan yang selalu menyokong kegiatankampung. Dan ini bukan dosanya yang pertama kali. Ali, tukang daging juga sudah sampai pada puncak kesabarannya karena dagangannya sering dicuri, padahal dulu ia sendiri meminta anjing itu diampuni, ketika pertama kali menggigit warga. Aku sendiri tak menyetujui pembunuhan itu, karena alasan-alasan pribadi. Aku kenal anjing itu. Setiap kali lewat pagi-pagi untuk berangkat ke kantor, ia mesti menunggu di bawah tiang listrik di depan pasar, memandang dan mengibaskan ekornya. Mula-mula aku tak peduli. Tapi entah bagaimana mulainya, aku kemudian selalu membawa sedikit sisa makanan, tulang-tulang atau apa saja, kalau hendak ke kantor. Hampir setahun aku selalu melambatkan mobil di depan pasar, membuka kaca jendela dan melempari anjing itu sisa-sisa sarapan. Kegiatan itu seperti bagian dari upacara berangkat ke kantor. Jadi bagaimana mungkin aku melihatnya terbunuh ? Aku bersyukur ia tak berhasil ditangkap. Ia masuk ke bawah tumpukan kayu. Tak seorang pun berhasil menyuruhnya keluar. Orang-orang berusaha melempar-lempar dan menyodoknya dengan galah,tetapi binatang itu tak terjangkau. Semua orang jadi kesal. Mereka berkumpul di sekitar tumpukan kayu,sambil mencaci-maki. Ada yang mengusulkan untuk memindahkan kayu-kayu itu. Tetapi ketika dicoba, baru satu balok, semuanya putus-asa. Satu balok saja memerlukan tiga orang. Tak akan kurang dari satu hari untuk memindahkan semuanya. Satu hari lagi untuk mengembalikan ke tempatnya semula, hanya untuk seekor anjing, ah semua mengangap itu tolol. Namun kebencian orang tak lenyap karena terhalang, nafsu membunuh mereka malah makin menggebu-gebu. Setiap orang memegang alat pemukul. Ada juga yang menembak-nembak dengan senapan angin, untung tak berhasil. Lalu muncul cerita-cerita yang mengobarkan kebencian. Ternyata Ali hampir setiap minggu kehilangan daging. Pak Budiman, pemilik warung mekehilangan ikan asin, tempe, bahkan tape, telor dan sekalian ayamnya. Dari beberapa ibu rumah tangga ada pengaduan,ikan yang sedang hendak digoreng tiba-tiba lenyap. Seorang anak mengatakan anjing itu kalau sudah malam meraung memanggil setan. Pemilik mobil yang biasa parkir depan pasar mengadu,setiap pagi mobilnya selalu basah, karena dikencingi. Warga lain menemukan tai anjing di sudut rumah. Ada juga yan melaporkan ada tai anjing di atas meja. Bahkan seseorang selalu mencium bau anjing di tempat tidurnya. "Bunuh saja daripada selalu ngerusuhi,mungkin membawa rabies !"kata Pak Mantri membawa linggis."Kalau dibiarkan terus dia nanti malah beranak. Bayangkan saja, satu kali beranak bisa tiga-empat ekor. Setahun lagi, kampung ini penuh dengan anjing. Kita saja susah cari makan, masak harus bersaing dengan anjing !"

Semua orang makin mantap untuk membunuh. Seharian, berganti-ganti,s emuanya menunggu sambil menggertak-gertak agar anjing itu keluar. Namun sampai malam, binatang itu tak menyerah, hanya suaranya saja mengerang-ngerang seperti minta tolong, atau minta ampun. Anehnya makin sedih lolongannya, makin marah orang-orang itu. Malam-malam, seorang anak mencoba diam-diam masuk ke bawah tumpukan kayu.Tetapi baru satu meter, ia menjerit-jerit karena anjing itu mengeram.Celakanya lagi, ia bisa menyelusup masuk, tapi sulit keluar. Orang-orang mencoba menolong. Hampir satu jam baru bisa. Kepala anak itu berdarah. Orang banyak menganggap itu bagian dosa anjing. "Bunuh saja sekarang !"teriak bapak anak itu. Semua orang setuju. Tapi bagaimana caranya? Di rumah, aku sebut-sebut anjing itu pada suamiku. Tetapi ia tak peduli, karena sibuk mengikuti acara film tv. Ia tidak suka pada anjing, Ia tidak suka pada semua binatang. Akhirnya hanya aku yang termangu-mangu. Aku ngeri karena tak dapat menolak khayalanku sendiri, seakan-akan aku sendiri anjing itu. Bayangkan, apa yang akan aku perbuat seandainya aku yang terkepung mau dibunuh ? Tengah malam aku terjaga, seperti ada yang menangis. Ketika aku perhatikan, itu suara lolong anjing itu. Ia meratap putus asa. Tak seorang pun yang akan menolongnya lagi. Ia menggapai-gapai putus asa seperti maut sudah meraihnya. Aku tak bisa mendengar suara itu sendirian. Kubangunkan suamiku. Aku ajak ia mendengar. Tetapi suamiku marah-marah, karena ia ingin tidur enak. .Terpaksa aku mendengar sendirian. Kemudian datang anakku, ia ketakutan mendengar ratapan anjing itu. Pagi hari di meja makan, pikiranku penuh dengan soal-soal kantor. Ada perselisihan dalam organisasi,yang menyebabkan aku memecah persahabatan dengan seorang kolega yang sebenarnya sudah aku anggap saudara .Kami bekerja bersama-sama seperti tangan kiri dan tangan kanan.Tetapi tiba-tiba entah kenapa, kami mulai tak akur setelah berhasil. Perselisihan semacam itu amat menyakitkan. Tiba-tiba aku terkejut. Anakku menyerahkan buntalan kecil,sisa-sisa sarapannya. Setiap pagi, ia selalu urun menyumbang, kadang-kadang bagian terbaik sarapannya direlakan untuk anjing itu. Sambil tertawa kutolak. Lalu menjelaskan bahwa sejak hari itu tak usah ada bungkusan untuk anjing lagi .Aku ceritakan anjing itu akan dibunuh karena sudah mengigit. Anakku bengong. Aku tahu ia tidak setuju. Ia tak ngomong apa-apa, hanya meletakan bungkusan itu di mobil, kemudian cepat-cepat pergi dipanggil teman-temannya yang biasa sama-sama ke sekolah, memanggil. Pagi itu aku berangkat ke kantor dengan pikiran kusut. Aku yakin suasana kantor tak akan pernah lagi damai, karena api sudah mulai menyala. Salah satu di antara kami harus keluar, kata kepala bagian pengembangan perusahaan dalam rapat yang terakhir. Dengan pikiran teler aku jalankan mobil milik perusahaan,yang mungkin tak lama lagi harus aku lepaskan. Di depan pasar, karena sudah terbiasa, mobil kujalankan lambat. Lalu berhenti di samping tiang listrik. Jam menunjukkan pukul delapan seperempat. Dan seperti tak sadar, dengan pikiran masih di dalam konflik kantor, aku menoleh ke kanan sambil membuka kaca jendela. Tiba-tiba aku terkejut. Di situ. Persis di tempat biasanya, anjing itu sudah menunggu.Mulutnya terbuka,lidahnya terjulur, serta matanya berkilat-kilat penuh persahabatan. Darahku tersirap. Tetapi hanya sebentar sekali, .sebelum aku sempat berpikir, seluruh orang-orang di pasar serentak maju

dengan bermacam-macam senjata dan membetot anjing itu. Mati seketika di depan mataku ,tanpa sempat mengeluarkan suara. Anak-anak masih tetap melempar-lempar meskipun binatang itu sudah tidak berkutik lagi. Aku bengong, lalu perlahan-lahan menjalankan mobil ke kantor. Sekarang seluruh pikiranku sama sekali tak ada di kantor lagi. Esok paginya, ketika selesai sarapan,waktu hendak berangkat, anakku menyerahkan bungkusan urunan sebagaimana biasanya. Aku amat terharu. Lalu kutolak sambil menjelaskan itu tak perlu lagi, karena binatang itu sudah mati. Anakku bengong memandangku seperti hendak memprotes. Untung temanteman sekolahnya berteriak memanggil. Aku hanya gedek-gedek, dasar anak kecil. Tetapi tak lama kemudian, di depan tiang listrik, di tempat biasa berhenti, tak sadar aku menginjak rem. Otomatis hampir saja tanganku hendak merogoh bungkusan makanan yang biasa ada di bawah kaki. Lalu menoleh. Astaga. Tiga ekor anjing lain sudah menunggu di situ. Dan sepatuku menyentuh bungkusan sisa makanan yang diletakkan anakku.

Madison,Pebruari Ithaca,12 Mei 1987

IL U S I monolog Putu Wijaya

Aku bermimpi. Ada suara yang menggeledek, jelas sekali pesannya: Bung, kau orang baik. Untuk orang sebaik kau, layak permintaanmu dikabulkan. Apa yang paling kau inginkan di dalam kehidupan yang sudah carut-marut ini? Tanpa pikir panjang aku menjawab. Hah! Itu yang aku inginkan? Pucuk dicinta ulam tiba. Aku ingin anak-anakku semuanya makmur dan maju. Sandang-pangan-papan berlimpah ruah. Tidak sempoyongan dikepot resesi dunia. Pikirannya tidak ketinggalan jaman. Berdiri paling depan sebagai ujung tombak dunia! Tidak ada jawaban. Tapi begitu aku bangun, permintaanku terkabul. Semua anak-anakku makmur. Makan-minum berkelimpahan. Apa saja yang diinginkan tersedia. Mobil, duit, kedudukan, kehormatan, kekuasaan, segala fasilitan yang dirindukan, beres. Hidup menjadi indah. Aku takjub. Belum pernah kulihat sulapan sedahsyat itu. Mau tak percaya, kok nyata. Ingin membantah, semuanya fakta. Baru pertama kali dalam hidup aku kelenger oleh realita yang lebih asyik dari mimpi. Waktu itu aku setuju untuk bersyukur. Terimakasih Tuhan! Tetapi itu tidak lama. Karena begitu aku mencoba menelpun anak-anakku, yang menjawab semua hanya mesin. Maaf. Kami sedang tidak ada di tempat, silakan meninggalkan pesan sesudah bunyi berikut ini. Ting. Bangsat! Aku benci mesin. Aku tidak ingin berhubungan dengan mesin. Aku mau bicara dengan manusia. Aku penasaran. Kucoba menggapai mereka lewat HP. Hallo, halllo, halloooo, halooooooo! Tetapi sama saja. Atas permintaan pelanggan, untuk sementara nomor ini tak bisa dihubungi. Silakan meninggalkan pesan di kotak suara, sesudah bunyi berikut ini. Ting. Sialan! Tensi darahku langsung meluap. Kontan aku samperin rumah anak-anak itu. Sebelum jadi kebiasaan, harus aku hajar mereka bagaimana menghormati orang tua. Tetapi di pintu depan rumahnya, satpam mencegatku. Maaf, apa Bapak sudah ada janji? Jani? Janji apaan! Gila! Memangnya aku siapa? Kembali aku mengamuk. Mengamuk sambil berteriak. Aku bapaknya! Aku sudah membiayai dia sejak orok! Suruh mereka keluar, keluar, menyembah dan cium kakiku. Aku gamparin kepalanya yang jadi kegedean mentang-mentang sudah makmur dan maju!

Panggil cepat! Kemakmuran ini berkat doa-doaku, tahu?! Kalau tidak dia jadi kere semua di bawah jembatan! Tetapi yang datang kemudian petugas keamanan yang lain. Aku ditenteramkan, dibujuk dengan sopan. Tapi di belakang aku yakin dia nggerundel: masak lelaki manula segembel ini, mengaku orang tua Bos?!. Pastilah itu penipuan atau orang gila, pikir mereka. Lalu aku diantar pulang. Maksudku diseret pulang secara halus. Tapi kenapa aku mau! Anjing! Aku jadi edan. Aku sumpahi anak-anak yang sudah sesat itu. Makin maju kok makin brengsek. Kemakmuran dan kemajuan ternyata tidak satu paket dengan budi pekerti. Jelas permintaanku sudah cacad. Aku telah melakukan kesalahan besar. Menyadari kekeliruan yang fatal itu, aku buru-buru meloncat, kembali tidur. Begitu masuk ke dalam mimpi aku berkoar. Tuhan, interupsi! Interupsi! Ada ralat! Suara geledek itu mendehem lembut. Ralat apa Bung? Aku tidak butuh kemakmuran yang tanpa budi! Itu eror! Kekayaan harus komplit! Moril dan materiil harus seimbang! Itu mutlak! Tapi permintaannya hanya boleh satu, Bung, tidak boleh dua paket sekaligus! Kok pelit ?! Memang aturannya begitu! Kalau tidak mau, tidak ada paksaan kok. Tunggu! Tunggu! Oke, kalau begitu!. Aku tidak perlu kemakmuran dan kemajuan. Tai kebo semua itu! Aku hanya mau anak-anakku tetap berkepribadian, punya karakter manusia Timur! Berbudi, bermoral, nyahok tata-krama dan tepo sliro. Jadikan anak-anakku menjadi manusia yang berbudi! Manusia yang menghormati kedudukan orang tua! Suara geledek itu tidak menjawab. Aku juga tidak kepingin menunggu jawaban. Aku meloncat saja kembali ke alam sadar tempatku berdoa, semoga segala yang baik terjadi. Dan betul, sebagaimana yang aku harapkan, begitu mendusin kembali, semuanya terkabul. Luar biasa! Ternyata semua kuncinya pada kemauan. Kalau ada kemauan, pasti ada jalan. Segalanya bisa terjadi asal kita hajati. Tidak ada yang tidak mungkin buat orang yang bertekad berjuang. Kemakmuran dan kemajuan lenyap, berganti dengan kebaikan hati. Putra-putriku kembali miskin tapi menjadi santun, baik-budi, hormat pada orang tua. Mereka semua duduk anteng di beranda rumah, menunggu orang tuanya keluar memberikan perintah-perintah harian. Setiap saat mereka siap, bersedia melakukan apa saja sesuai dengan kehendak orang tua, walau pun itu bertentangan dengan kemauannya sendiri. Bahkan mati pun mereka bersedia. Itu kan dahsyat! Ini yang namanya bahagia. Apa yang lebih membahagiakan kita para orang tua sepuh dari, bahwa kita dihormati. Generasi muda menghargai jasa, hak, keberadaan dan suara generasi tua. Kita tidak minta dihormati yang penting daulat kita sebagai manusia, dihargai! Keluargaku telah kembali kompak. Mangan ora mangan pokoke kumpul!. Tidak ada yang pura-pura ngacir rapat. Tidak ada yang sedang bertugas. Tidak ada yang berkilah sakit. Semua di rumah, berjuang untuk keluarga. Semua siap mengangguk dan mengucapkan: ya, ya, ya , ya atas apa saja yantg aku katakan. Dijamin tidak ada yang akan mengucapkan tidak. Disembelih pun mereka akan manut-manut

saja. Tetapi tiba-tiba aku terperanjat. Ada yang salah. Kenapa, kenapa mata mereka tidak bercahaya? Kenapa muka mereka tidak bersinar? Tak ada yang menjawab. Aku terpaksa menjawab diriku sendiri. Sebab mereka tidak lagi memiliki jiwa dan kehendak. Tidak lagi memiliki perasaan dan opini. Mereka hanya abdi dari keluarga dan orang tuanya. Mereka hanya tembok, robot, mesin, nomor dan abdi! Bulu kudukku meremang. Naluriku merinding. Wah kalau begitu sama dengan mati? Lebih dari mati! Maksudnya? Mereka adalah bangkai hidup. Ya Tuhan, aduhhhhh, aku berteriak histeris. Tidakkkkk! Ini kacau! Bukan ini maksudku! Secepat kilat, aku meloncat kembali ke tempat tidur, lalu langsung menggugat. Tuhan Yang Maha Esa! Jangan salah! Kembalikan anak-anakku semuanya seperti semula! Komplit! Balikkan! Tidak perlu makmur, tidak perlu maju! Tidak perlu baik! Jadikan mereka apa adanya saja! Kurangajar juga tidak apa apa asal jangan mampus! Suara geledek itu menjawab. Bung, ini permintaanmu yang ketiga. Angka tiga adalah angka terakhir. Kau tidak bisa meralat lagi. Pikirkan matang-matang apa yang kau inginkan! Tidak usah mikir lagi! Aku sudah hapal apa yang aku mau. Kembalikan lagi anak-anakku seperti semula! Bukan harta, bukan kedudukan, bukan kehormatan, bukan tanda-tanda jasa, titelo, bukan kemulyaan yang kita kejar di dunia, tetapi kebahagiaan! Dan dengar! Aku hanya bisa bahagia kalau istriku tersenyum dan anakku-anakku tertawa! Aku ulangi: aku hanya bisa bahagia kalau istriku tersenyum dan anak-anakku tertawa, la;lu para tetrangga menyapa! Itu! Karena takut akan ditolak, aku langsung meloncat kembali ke alam nyata. Gelagapan aku bangkit dari tempatr tidur, mengintip ke beranda. Dan semuanya kembali terkabul. Tuhan Maha pengasih dan Penyaytang. Permintaanku yang ketiga, yang terakhir, menjadi kenyataan. Lihat orang yang sabar, getol dan pantang menyerah selalu akan berhasil! Lihat di beranda, istriku tersenyum. Senyuman yang ikhlas. Anak-anak semua tertawa, tertawa yang penuh. Tetapi, tetapi tunggu dulu. Tunggu! Gila! Senyum mereka tidak kunjung henti. Ketawa mereka berkepanjangan. Aku terperanjat. Senyum dan ketawa yang berkelimpahan bukan cirri bahagia tapi tanda-tanda ketidakwarasan alias terganggu. Ya Tuhan, ampun! Akibat permintaanku, istri dan anak-anakku menjadi gila. Mana ada orang bahagia kalau anak-istrinya gila? Belum lagi para tetangga yang tak berhenti menyapa, menyapa, menyapa sampai aku terkepung, sesak nafas dan tak berkutik. Dunia sudah kiamat! Aku tidak kuat! Tolong! Tolong! Di situ aku benar-benar terbangun. Gedobrak!

Keringat bercucuran di sekujur tubuh. Kepalaku pusing. Bengong dan merasa bego. Apa sebenarnya yang sudah terjadi? Istriku menghampiri sambil menyapa. Mimpi buruk lagi Pak? Aku mengangguk. Ya! Makanya jangan suka nonton film setan! lanjut istriku sambil tersenyum. Aku terkejut lalu berteriak: Jangan senyum!!!!! Istriku terperanjat, ia menatapku sambil mundur lalu lari keluar. Taksuuuuu! Bapakmu kesurupan! Anakku langsung masuk ke kamar. Melihat aku tidur memakai mantel musim dingin, oleh-oleh kawannya yang baru pulang dari luar negeri, dia tertawa terbahak-bahak. Ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha Diammm!!!!!!! Jangan ketawaaaaaaa! Diammmmm!!!

Jakarta 9-01-10

BECAK Monolog Putu Wijaya

MUNCUL KAMI MENDORONG BECA. Kami tukang becak yang baik. Kami memiliki persyaratan yang tepat untuk seorang pekerja kasar. Tubuh kami gempal. Napas panjang, kaki kuat, tidak mudah kena penyakit, muka kami membaja akan tetapi tidak menakutkan. Kami rajin. Dapat dipercaya. Tidak suka mencampuri urusan orang lain, mudah tersenyum dan kelihatannya sedikit bodoh. Majikan kami menganggap lelaki seperti kami ini contoh tukang becak teladan. Setorannya selalu tepat, pas. Tidak suka utang, tidak pernah merusakkan becak, tidak pernah absen. Ia tidak mengenal hari Minggu. Siang malam kendaraan roda tiga ini kami genjot, tidak peduli panas atau hujan. Kata Bos: "Kalau saja aku punya seratus tukang becak seperti si Amin, masa depanku cerah, aku bisa tenteram menjadi pengusaha becak, tidak usah lagi memikirkan sumber lain. Setelah genap 10 tahun menerima nasib sebagai abang becak, entah kenapa tiba tiba kami merasa malang. Mata kami membuka lebih lebar, kuping lebih mencorong lalu kami memutar leher kami keliling tigaratus enampuluh derajat. Langsung kepala kami jadi pusing. Kaki kami yang kukuh mulai enggan. Cahaya matahari yang biasa ramah tiba tiba menggigit. Hujan pun tak bisa dianggap teman lagi. Di hidung kami mulai ada gangguan kalau menghirup bau orang orang lain yang lebih berduit. "Ya Tuhan, kenapa aku tetap miskin sampai sekarang, sedangkan orang lain pada punya milik ? Ada yang istrinya sudah empat. Keluh kami kalau pikiran lagi ngelantur.. Sejak itulah kami mulai berubah. Tak jelas siapa yang sebenarnya bertanggung jawab terhadap perubahan itu. Apa teman teman main gaplek kami ? Apa karena disengat oleh bola liar yang disepak tiba tiba dari sononya ? Apa lantaran usia kami yang sudah semakin tua ? Atau karena jatuh cinta ? Yang pasti, Bos kami tak berani lagi memujikan kami sebagai anak buah teladan. "Ini adalah hal yang wajar karena setiap orang harus berkembang, akan tetapi perkembangan itu membuat kamu tidak cocok pada pekerjaanmu lagi. Aku sudah memikirkan untuk memberikan becak itu pada orang lain, karena sekarang kamu hanya mau narik siang. Malamnya becak jadi mubazir, kata Bos menggerundel. Persoalan kami berhenti narik malam itu ada sebabnya. Kami sudah mencoba untuk berjudi. Pasalnya begini. Kalaui kami hitung hitung, kami menyimpulkan, 10 tahun melebar ke depan, kalau kami terus brtahan natrik. tidak mencoba cari tambahan, nasib kami tidak akan berubah. Genkot terus. Padahal sekarang sudah zamannya motor. Punya duit 500 sudah bisa pegang kunci. Kredit kan? Karena itulah kami mulai mencoba apa saja ihktiar yang lain. Dan barangkali berkat rakhmat Gusti Allah Yang maha Pemurah dan Kuasa Yang lihat segala-galanya dari atas sana, meskipun mula-mula kalah, tapi suatu kali kami berhasil menang banyak. Betul betul langkah kanan. Asyik! Kata orang fantastik. Sampai sampai kami sendiri tak percaya bisa pegang duit sebanyak itu.

Barangkali inilah buah hasil dari orang yang kerja 10 tahun dengan jujur, pasrah dan nrimo, kata kami kepada istri-istri kami. Maksud kami, istri kami. Baru satu soalnya. Nah jadi begitu. Esoknya kami kontan bertamu ke rumah Bos. Jalannya agak miring sebelah, karena di kantong kanan keberatan dompet yang penuh dengan uang. Begini. MEMPERAGAKAN JALANNYA Bos kaget. Datangnya kok agak siang. Pakai sandal japit lagi. Mana sepatu kets yang biasa dipakai nggenjot? Begini Bos. Terus-terang, Bos jangan marah. Terhitung mulai hari ini, Selasa, Pon, kami berhenti narik becak bapak, kata kami kalem. Bos tambah kaget. Dahinya berkerut tidak percaya. Dikiranya itu hanya gertakan. Lalu kami memngeluarkan dompet kami yang susah dikeluarkan dari kantong akrena penuhnya, lantas meletakkan uangnya di atas meja. Bos, maaf, kami mohon kami diizinkan untuk membeli becak yang bisa kami genjot itu untuk jadi milik kami, karena kami ingin berwiraswastai. Maaf, tolong, anggaop ini sebagai imbalan kami bekerja dengan jujur selama 15 tahun ini. Bos tabah kaget lagi. Biarin saja. Itu memang resiko kalau orang mau maju. Bagaimana Bos, boleh? Anehnya, setelah kaget Bos berpikir sebentar. Tapi kemudian dia mulai menghitung uang yang kami sodorkan itu. Tak bedanya dengan harga pasaran becak. Cofcok. Memang dari rumah sudha tak paspaskan. Bagaimana Bos? Bos manggut manggut sehingga kami deg-degan juga. Kalau dia marah, itu normal. Siapa yang tidka marah kalau tukang bevcak teladannya mau berhenti. Asal kamu jangan tiba-tiba naikkan harganya, itu namanya lintah darat, kami kami dalam hati. Eh ternyata semuanya tokcer-tolcer saja. Tanpa banyak cingcong, Bos mengambil uang itu dan memasukkan ke sakunya. Oke Amin, hebat kau, katanya sambil menepuk-nepuk pundak kami. Bawalah becak itu dan kerja baik baik. Sekarang kita sama-sama pemilik becak. Kita boleh bersaing. Tapi bersaing dengan jujur ya, kata Bos sambil tersenyum. Lalu kami berjabatan tangan. Itu mestinya difoto. Sebab itu sebuah sejarah, babak baru bagi seorang buruh kecil yang dengan usahanya banti8ng-tulang selama 15 tahun sekarang mencoba menjadi pemilik. Rasanya kaki kami narik becak seratus kali lebih ringan dari sebelumnya. Padahal kaki yang itu-itu juga.. Tapi mengayuh becak dengan perasaan yang berbeda. Bangga. Tidak ada lagi perasaan diuber-uber atau ditekan-tekan. Plong. Kami merasa punya jiwa, roh, tubuh, kepala, otak, masa depan, dunia dan tentu saja beca. Jadi begitu rupanya rasanya orang punya milik. Kami sekarang boleh nggenjot becak dengan bersiul-siul. Kalau capek berhenti, jajajn dulu sambil menghirup kopi panas dan mengebulkan asap rokok. Jalau penumpangnya terlalu rewel nawar, ya ditinggal saja, tidka peduli. Jadi bebas. Ini baru negara merdeka yang beneran. KETAWA PUAS

Sebagai dampak dari semua itu, karena kami sekarang pemilik beca, kami merasa sudah tidak zamannya lagi kerja setengah mati untuk mengejar setoran. Kenapa mesti ngoyo. Itu hanya bikin badan cepat rusak dan usia cepet lengser. Biasa-biasa saja. Tenang. Cukup asal dapat makan. Kalau sudah cape harus istirahat dan kalau segan tidak usah narik demi kesehatan jasmani dan rohani. Walhasil kami bekerja dengan rileks, bukan ongkang ongkangan. Santai-santai saja. Untuk apa mengejar gunung yang tidak lari. Dikejar pun tidak ada gunanya. Gunung bagusnya dilihat dari jauh. Kalau ada matahari terbit dan terbenam, langit merah dan burung-burung terbang. Kalau dekat gunung ya hanya tanah tinggi, hutan, belum lagi lahar panas kalau meletus. Jadi hidup lebih realistis. Ini nama nya kami ngewongake diri sendiri. Habis siapa lagi yang akan ngewongkan kami kalau bukan kami sendiri. Orang kecil seperti kami harus bisa ngewongke dirinya sendiri, begitu jalan pikiran kami. TIDURAN DI JOK BECA SAMBIL NGANGKAT KAKI Jadi alon-alon asal klakon itu, memang maknanya adalah kami harus bisa menjaga kesehatan sendiri. Sebab kalau tidak, kalau sakit siapa yang akan ngurus. Rumah Sakit sekarang tidak akan terima kalau kita tidak punya askes. Ya bagaimana mau bikin askes, kalau bikin asap dapur saja sudah Senen-Kamis? MENGELUARKAN HP DAN MEMUTAR LAGU Ini bukan barang mewah. Ini untuk bekerja. Kalau ada langganan dicatat di sini. Kalau daia datang, tinggal kontrak lewat HP, kita lantas jemput di stasiun atau di hotel. MENEKAN NOMOR NGONTAK SESEORANG. LALU BICARA. Mariah? Gimana? Lho kok begitu. Gua kan sudah minta maaf, maska begitu sih .. (NGOBROL GAUL, NGALOR-NGIDUL, CEKAKAK-CEKIKIK) TIBA-TIBA MEMATIKAN HP Tapi anehnya, kalau premilik beca mulai malas narik beca sendiri, walau pun alasannya ngurus kesehatan jasmani dan rohani, otomatis rezekinya pun seret. Alasannya nampak sombong karena narik becanya sendiri, lalu belum-nelum mereka ogah nyamperin. Lho apa salahnya orang punya beca sendiri. Sombong? Salah! Itu kan harga diri kami? Apa kami-kami yang miskin dan hanya punya beca ini tidak boleh sombong sedikit? Ini kan bukan sombong, ini kan tanda kami punya gengsi. Masak nggenjot 5 Km hanya bayar seperak. Coba ini nggenjot sendiri tak bayarin seratus satu kilometer di tanjakan! MENUNGGU PENUMPANG TAPI APES TERUS, KARENA DIA TIDAK BERUSAHA KERAS UNTUK MENDAPATKAN, HANYA MENUNGGU DISAPA DENGAN KAKI NAIK KE ATAS SEHINGGA PENUMPANG MALAS MENDEKAT Dalam tempo hanya 1 bulan sejak kami punya beca sendiri, hutang sudah menumpuk Istri marah-marah. Anak-anak menangis mau dibelikan jajanan di warung. Dan rokok pun sudah tidak kuat lagi dibeli,

terpaksa munggutin puntung-puntung di jalanan. Masuk bulan kedua terus-terang, kami bangkrut. Sepatu kets kebanggaan yang dihadiahkan oleh Bos ketika jadi tukang beca teladan, sudah dijual. Beca pun sudah setengah digadaikan. Satu bulan lagi, kalau rezeki tetap seret, beca bisa pindah tangan. Di situ kami mulai berpikir lagi. Berpikir dan berpikir lagi. Tapi berpikir juga menghabiskan waktu.. Tidak bisa narik sambil berpikir, nanti ditabrak truk. Berpikir memang bagus, tapi banyak juga tidka bagusnya, sebab membuat rezeki tipis. Bahkan kalau konslet bisa hilang ingatan. Walhasil, kami akhirnya berhenti berpikir. Sekarang yang jelas-jelas saja. Untuk apa punya beca kalau rezeki tambah seret? Untuk apa jadi wiraswastawan kalau yang numpuk hanya hutang. Jadi lebih baik banting stir kembali. Back to Bang Becak. KETAWA Hari itu, dengan terpaksa kami datang lagi ke rumah Bos untuk menjual becak itu kembali. Dengan harga setengah dari harga pembelian dulu, karena sudah banyak yang rusak. Akibat kurang diopeni oleh siapa, ya oleh kami sendiri. Seperti istri, dulu waktu belum jadi milik, kami selalu ngelap beca supaya mengkilap, jadi penunpamngnya seneng. Lho meskipun beca kok necis rasanya seperti mobil Mercy? Tapi setelah jadi milik, bannya kempes, peleknya bengkok, remnya tidak makan, bempernya peyot nabrak tiang, tak biarin saja. Habis masak pemilik mesti jadi budak miliknya. Pemilik kan mestinya menikmati. Pokoknya susah. Susahnya lagi, hasil penjualan beca itu kembali pada Bos tak cukup untuk menutup utang. Lalu terpaksa kami minta pertolongan agar diberikan kesempatan untuk menarik becak kembali. Dan pinjam duit untuk membebaskan lilitan hutang yang nanti dibayar cicil dengan menaikkan setoran. Bagaimana Bos, boleh? Bos hanya manggut-manggut. Boleh Bos? Kenapa tidak boleh, kata Bos akhirnya. Mengapa tidak, persis sebagaimana yang sudah aku ramalkan. Bahkan lebih cepat. Aku bilang sama teman-teman kamu, lihat si Amin sudah mulai kurangajar. Tidak mau lagi melihat kenyataan, nrimo dan pasrah pada nasibnya. Mau jadi pemilik. Emang jadi pemilik itru enak? Berani taruhan tidak sampai 3 bulan dia akan kembali jual becanya k emari. Tapi kamu jauh lebih cepat, Amin. Baru dua bulan kamu sudah, balik. Kami cepat dan banyak belajar! Kamu memang tukang beca teladan! TERTAWA Ya kami hanya bisa tertawa. Meskipun di dalam hati menangis, karena setoran dianikkan dua kali lipat. Ini pelajaran buat kamu Amin, kata Bos. Sejak itu kami mulai narik beca lagi. Rajin, ulet dan mati matian. Maaf, itu ada penumpang. Sorry ya! MELONCAT KE SADEL BECAK DAN GENJOT BECAKNYA SAMBIL MEMBUNYIKAN BEL.

Jakarta 1980

YA DAN TIDAK

Monolog Putu Wijaya

SATU Wajahku seperti Arif yang baru pulang dari luar negeri. Pucat, bingung dan frustasi. Betapa tidak. Aku selalu harus mengatakan ya-ya-ya, satu ketika waktu dapat kesempatan mengatakan tidak, ternyata aku mengatakan ya juga. Tahu-tahu hasilnya, tidak. Aku yang selalu harus mengatakan ya-ya-ya, satu ketika dapat kesempatan mengatakan tidak. Ketika kukatakan tidak, tahu-tahu orang tak mendengarnya. Aku tetap disangka mengatakan ya. Aku yang selalu mengatakan ya-ya-ya satu ketika dapat kesempatan mengatakan tidak. Jebulnya hasilnya betul-betul tidak. Aku kaget, dapat serangan jantung dan mati. Aku yang selalu harus mengatakan ya-ya-ya, satu ketika dapat kesempatan mengatakan tidak. Tahu-tahu aku mendengar suaraku sendiri seperti meneriakkan: yaaaa Orang yang lain yang selalu juga mengatakan ya-ya-ya, satu ketika dapat kesempatan mengatakan tidak. Tapi ia tetap memilih mengatakan ya. Ternyata tak ada yang peduli, mereka menganggapnya tak penting. Ada orang yang mengatakan tidak-tidak-tidak selalu. Satu ketika ia tidak mengatakan apa-apa. Semua orang menganggap ia untuk pertama kalinya mengatakan ya. Banyak orang yang tidak bilang tidak dan tidak bilang ya. Tetapi orang sudah tahu bahwa sebenarnya yang dibilang pasti ya. Ya dan tidak adalah rimba yang ruwet.

DUA Aku stress dalam lalu-lintas ya-tidak dan tidak-ya yang amburadul tersebut. Lalu aku tidak berani lagi mengatakan apa-apa. Kalau ada orang bilang ya, atau bilang tidak, bahkan bilang tidak-ya atau ya-tidak, akuf tak dapat lagi mempercayainya Aku celaka ketika percaya ya itu ya dan tidak itu tidak. Bisnisku bangkrut, hidupnya dikucilkan masyarakat. Aku dimusuhi banyak orang karena dianggap kurang lentur. Aku dicap terlalu individualistik, karena terlalu banyak bilang tidak. Diajak arisan jawabnya tidak. Diajak masuk kelompok jawabannya mesti tidak. Apa saja yang bersifat sosial dan mengeluarkan uang ekstra, aku selalu bilang tidak. Aku sakit karena terhimpit. Hidup buatku tak ramah dan mengancam. Masyarakat seperti tak punya budaya dan kejam. Setiap hari aku berselisih dengan tetangga karena soal ya dan tidak. Bahkan dengan anggota keluargaku sendiri, aku sempat tak saling menyapa bertahun-tahun, karena soal ya dan tidak. Tukang becak naik pitam hampir membacoknya karena ya dan tidak.

Lantaran takut, kalau harus menjawab antara ya dan tidak, aku memilih diam. Apa pun persoalannya, aku akan berusaha untuk tidak menjawab. Aku berlagak gagu, bodoh atau sakit. Setiap detik aku hidup dengan ilmu mengapung. Aku hidup tiarap sejak matahari terbit sampai tenggelam, karena tak mau mati konyol. TIGA Satu ketika salah seorang tetanggaku - pengurus R.T, mengetok pintu, menanyakan apakah aku akan ikut tarik tambang dalam acara menyambut 17 Agustus. Aku kebingungan, tiba-tiba karena gugup aku memberikan uraian. ''Perayaan ini penting sekali untuk menyadarkan kita sebagai sebuah kelompok. Manfaatnya bukan hanya peringatan, tetapi juga penyadaran kembali bahwa kita memiliki kepentingan yang sama. Bahwa kita juga memiliki arah yang sama meskipun pekerjaan kita berbeda-beda. Dengan ikut tarik tambang, kita mengingatkan kepada diri kita sendiri bahwa kita adalah bagian dari keutuhan. Semua warga harus ikut menghayati kesempatan yang hanya datang sekali setahun ini. Tetapi tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Ada orang yang harus bekerja, melakukan yang lain-lain, meskipun tidak berarti ia tidak setuju dengan apa yang terjadi. Ada orang yang di dalam batinnya tetap mengikuti semua gerakgerik peringatan itu, meskipun tidak ikut melaksanakannya. Kita harus mempertimbangkan keduanya. Jadi tarik tambang mungkin bisa diartikan menarik tambang di lapangan, tetapi juga bisa menarik tambang di dalam hati. Ya kan ?'' Pak RT tak sabar mendengar penjelasan itu. Ia merasa sudah cukup memberitahukan. Lalu ia pergi dan mengetuk pintu rumah lainnya. Di beberapa rumah ia mendapat jawaban ya, di beberapa rumah lain tidak. Setelah dijumlahkan ternyata jumlah jawaban tidak, lebih banyak. Hanya terkumpul sekitar tujuh jawaban ya. Padahal musuh -- RT lain -- yang akan menarik tambang ada 20 orang. Di atas kertas lomba tarik tambang antar RT itu gagal. Tetapi kemudian perlombaan tarik tambang itu berlangsung sukses. Di luar dugaan, tak kurang dari 25 orang tampil dari RT-ku, termasuk aku sendiri. Aku nampak menarik dengan sungguh-sungguh, seakanakan akhir pertandingan itu menentukan hidup dan mati. Dari pengalaman itu, aku dapat pelajaran. Setiap pertanyaan ya dan tidak, yang penting bukan jawabannya. Karena toh kalau bilang tidak, nyatanya harus ya.

EMPAT Demikianlah aku mulai paham, ya dan tidak, tak berbeda. Ya atau tidak, tidak berseberangan. Keduanya berjajar bersinggungan dalam gradisi yang amat nyelimet, sehingga pada akhirnya hanya bunyinya yang lain, tetapi alurnya, maknanya sama. Orang punya hak untuk bilang ya atau tidak, untuk menyembunyikan ya di balik tidak dan tidak di balik bunyi ya. Bahkan tak ada celaan buat yang diam membisu terkatung-katung antara ya dan tidak. Aku pun sadar, juga tak ada soal kalau aku terus hidup mengapung. Menghindar makin jauh. Bersandiwara. Pokoknya tak mengganggu, tak mempersoalkan ya dan tidak. Karena makin jelas, setiap pertanyaan ternyata bukan pertanyaan, itu hanya penghalusan dari perintah. Semua orang sebenarnya

memerintah, meskipun kelihatan bertanya. Dan perintah yang di-iya-kan tidak mengharuskan orang menuruti. Itu semua hanya aturan alias basa-basi permainan bersama.

LIMA Hidup bermasyarakat buatku kemudian enteng dan tak serius. Aku tidak melihat lagi pertentangan antara binis pribadi dengan kewajibanku sebagai warga masyarakat. Walhasil aku mulai merasa aman. Dan itu awal dari bahagia. Aku berubah. Aku mulai sabar. Santun. Masyarakat pun menyukainya. Mereka menganggap aku seorang warga yang baik. Seorang pintar yang juga bijaksana - kombinasi yang dianggap sudah amat langka.

ENAM

Kini aku kembali berani mempergunakan jawaban ya atau tidak. Karena toh jawaban itu tak ada artinya. Tak ada pengaruhnya sama sekali di belakang. Mungkin yang penting adalah kehadirannya sebagai bunyi. Pokoknya kalau ditanya, tidak usah pikir terlalu panjang. Langsung saja dijawab. Ya atau Tidak. Semua pertanyaan bisa dijawab dengan: kadang-kadang ya dan kadang-kadang tidak, sesuai dengan kebutuhan mulut - bagaimana enaknya waktu sedang bicara. Karena bagaimana pun, rencana sudah dibuat tak akan bisa berubang. Apa yang terjadi sudah harus terjadi, tidak bisa dibendung. Jawaban ya atau tidak, tidak terlalu perlu, kecuali sebagai catatan bahwa yang diajak bicara sudan mendengar. Dan komunikasi dianggap sudah berlangsung. Cukup. Ini bukan sandiwara, tetapi terowongan yang menerobos zaman. Resep satu-satunya yang paling manjur saat ini. Belum kelihatan ada jalan lain, kalau mau hidup selamat. Ah aku mulai mapan.

TUJUH Kalau ada tetangga datang dan menanyakan apa aku akan ikut tarik tambang, aku tak ingat lagi bilang ya atau tidak. Aku jawab asal mangap saja, asal cepat. Itu perlu, kalau tidak, bisa dianggap tak punya perhatian. Pokoknya asal kemudian kalau tarik tabang dilangsungkan, aku selalu menarik paling di depan dan belepotan debu. Dan kalau seandainya tidak jadi dilaksanakan, aku pun ikut tak muncul di lapangan. Sekarang aku hidup sehat. Makmur dan terkenal. Ilmu ya-tidak atau tidak-ya, sudah aku kuasai. Inilah sejatinya seni hidup! Tapi kemudian harus disambungnya lirih: ''tapi jangan menyangka aku menyukainya, kalau bisa memilih, aku lebih doyan sebaliknya''. Aku adalah wajahmu, wajah kita. Dosa kita bersama. Ithaca, 22 Mei 1987

TOK-TOK-TOK monolog Putu Wijaya

SEEKOR ANAK AYAM MENGINTAI DUNIA DARI BALIK TELUR INDUKNYA. IA MELIHAT ANCAMAN, KEGARANGAN, KEGANASAN, PERANG, TEROR, BENCANA ALAM, EPIDEMI DAN SEBAGAINYA DI DUNIA, SEHINGGA IA MEMUTUSKAN UNTUK MENOLAK LAHIR. LALU IA CEPAT-CEPAT TIDUR KETIKA MENDENGAR INDUKNYA MENGETUK PINTU TOK TOK TOK Bangun, bangun anakku, sudah waktunya kau menatap dunia. Bersiaplah mengarungi kehidupan. Menjalani takdirmu sebagai ayam. Keluarlah, tunjukkan padaku kau seorang anak yang baik, cerdas dan memiliki pikiran yang jernih. Ayo sempurnakan karunia hidup ini dengan jiwa yang tulus. Keluarlah! Dunia sudah menanti! ANAK AYAM ITU MASUK KE DALAM SELIMUT. GEDORAN BERTAMBAH SERU. Bangun! Bangun! Jangan malas! Jangan biarkan matahari meninggalkan kamu di belakang. Kalau tidak cepat keluar, malam akan datang, kamu bisa tersesat dalam gelap. Kenali, pelajari, renungi masa depanmu sebelum terlambat. Bangun! Lihat saudara-saudaramu yang lain sudah berlari-lari di halaman mencari cacing. ANAK AYAM ITU TERBANGUN. IA MENGINTAI KELUAR. SAMAR-SAMAR IA MELIHAT KEJADIAN-KEJADIAN YANG SAMA MASIH BERULANG. Keluar sekarang? Kenapa? Apa semua ayam harus lahir. Keluar dari telur yang sudah melindungiku selama ini dari segala ancaman? Tidak aku lebih senang di sini, meskipun sendirian, di sini rasanya aman. Tidak ada yang bisa menjamahku. Lihat, di situ ada anjing, kucing, burung elang yang siap menyambar kalau aku keluar sekarang. Lihat di sana juga ada anak-anak nakal. Mereka akan menginjakku. Aku tidak mau dijadikan mainan. Aku tidak perlu teman, karena aku tidak mau berkelahi. Kalau ada orang lain, berarti aku harus berbagi. Aku tidak mau berbagi, aku tidak suka bergaul. Biarkan aku sendirian di sini. Aku tidak perlu hiburan. Untuk apa ke Dufan atau Disney Land, Taman Impian Jaya Ancol atau Kebun Binatang itu buang-buang duit. Aku tidak suka bersenang-senang. Aku lebih suka membaca. Tidak perlu mengalami bahaya seperti orang lain, kalau sudah bisa belajar dari bacaan. Lagipula di sini banyak

pekerjaan. Bangun tidur aku harus bersihkan rumah, menyiram kebun dan membantu ibu di dapur. Kan rumah yang bersih tanda hati kita juga putih. TOK TOK TOK Tidak. Aku tidak mau lahir. Di sini aku sudah betah. TOK TOK TOK Untuk apa buang-buang waktu jalan-jalan. Dari sini juga dunia sudah kelihatan. Aku melihat sinar matahari, kerlip bintang dan kelap-kelip lampu jalanan. Aku lihat kendaraan berseliweran. Mobil-mobil larinya kencang dan semuanya pernah menabrak ayam tanpa pernah dihukum. Untuk apa lagi lahir? TOK TOK TOK Aku lihat ayam-ayam dimasukkan ke dalam kerangkeng dibawa naik truk. Lalu masuk ke dalam pabrik. Keluar-keluar semuanya sudah mati, bulu-bulunya gundul semua dicabuti. Digantung dijual di pinggir jalan. Daging ayam dipestakan di restoran. Aku tidak mau dimakan, meskipun yang makan itu anak pejabat atau cucunya konglomerat. TOK TO TOK Aku lebih suka tidur. Kalau tidur aku bisa terbang ke langit. Dalam mimpi aku bisa mengembara ke jagatraya. Melihat galaksi dan bima sakti. Berhenti di mana saja aku suka. Kalau keluar dari sini, aku pasti akan celaka. TOK TOK TOK Tidak! ANAK AYAM ITU KEMBALI MELONCAT MASUK KE DALAM SELIMUTNYA. IA BERHARAP SUARA KETOKAN ITU AKAN KEDENGARAN LAGI. TETAPI TERNYATA TIDAK. IA MENUNGGU SEBENTAR, TAPI TIDAK ADA SUARA. IAMENGITIP DARI BALIK SELIMUT DAN MEMASANG KUPINGNYA, TAPI TAK ADA TANDA-TANDA KETUKAN. AKHIRNYA IA BANGUN DAN MENGINTIP. Lho kok sepi. Tidak ada orang di luar sana. Apa mereka semua sudah pergi? Pergi ke mana? Masak aku ditinggalkan sendiri di sini. Apa salahku? Kenapa yang lain dibawa aku tidak. Apa aku tidak disayang? Kenapa aku tidak disayang? Karena aku jelek? Tapi aku ayam sehat yang cantik. Dagingku sehat dan segar. Manis lagi. Kalau dipanggang sekarang pasti maknyus. Ibu! Ibu! Ibuuuuuu!

TAK ADA JAWABAN Ibuuuuuu! Jangan tinggalkan aku di sini! Apa salahnya aku tidur! Apa salahnya aku tidak mau lahir? Apa salahnya aku tidak mau menderita? Apa salahnya aku benci pada kekerasan. !Aku benci kepada kemalasan! Aku benci pada kedengkian! Aku benci pada kemalasan! Aku benci kepada orang yang kerjanya hanya tidur melulu. Aku benci pada diriku sendiri! MEMUKUL-MUKUL DAN TIBA-TIBA TELUR ITU PECAH. IA LAHIR. Lho ini di mana? Kok enak. Udaranya segar. Tidak seperti waktu aku di dalam sana? Ternyata dunia indah ya! Wah, waduh apa itu? Aku mencium bau harum. Ada yang goreng ikan asin di situ. Lihat langit biru sekali. Burung-burung, capung, angin menggoyangkan pucuk-pucuk lalang. Ada bunga-bunga jambu berguguran. Ada anak-anak ayam seperti aku berlari-larian. Menari-nari, mereka melambaiku. Mereka mengajak aku main. Namaku Cinta! Tapi aku tidak bisa menari. Menyanyi juga suara jelek. Tidak, aku tidak malu. Aku memang tidak bisa. Aku hanya bisa membaca puisi. Karena aku selalu baca buku. Puisi yang paling aku sukai adalah puisi tentang bunga: Kupetik bunga dari dalam hatiku Kupersembahkan kepadamu Ibu Bermula aku takut lahir karena dunia Nampak hanya diisi oleh bencana Tapi kini menatap dan memegang Langit biru hamparan padang hijau Aku tahu semua itu hanya ilusi Dunia masih menyisakan keramahan Bagi dia yang tak malas mencari Dunia ini harus diperbaiki Bagi dia yang sudah melihat bahayanya TOK TOK TOK Ayo bangun, bangun, bangun IA BERUBAH MENJADI INDUK AYAM YANG MEMANGGIL ANAKNYA SUPAYA JANGAN RAGU-RAGU LAHIR MEMASUKI KEHIDUPAN. Bangun, bangun anakku, sudah waktunya kau menatap dunia. Bersiaplah mengarungi kehidupan. Menjalani takdirmu sebagai ayam. Keluarlah, tunjukkan padaku kau seorang anak yang baik, cerdas dan

memiliki pikiran yang jernih. Ayo sempurnakan karunia hidup ini dengan jiwa yang tulus. Keluarlah! Dunia sudah menanti TOK TOK TOK Bangun! Bangun! Jangan malas! Jangan biarkan matahari meninggalkan kamu di belakang. Kalau tidak cepat keluar, malam akan datang, kamu bisa tersesat dalam gelap. Kenali, pelajari, renungi masa depanmu sebelum terlambat. Bangun! Lihat saudara-saudaramu yang lain sudah berlari-lari di halaman mencari rahasia-rahasia kehidupan TOK TOK TOK BERJALAN MENGETUK-NGETUK PINTU TELUR-TELUR YANG SEHARUSNYA SUDAH MENETAS Bangun! Bangun! Bangun!

Jakarta 11 April 10

KARTINI monolog Putu Wijaya

Ibu datang ke kamar perempuan yang sudah ibu-ibu itu dan menyapa: Selamat malam, Bu Amat. Terimakasih banyak atas semua yang sudah Bu Amat perbuat kepada suami ibu serta putri Ibu selama ini. Ibu benar-benar sudah menunjukkan bagaimana seorang Ibu yang berkepribadian Timur seharusnya bersikap di dalam keluarga. Ibu nampak selalu berusaha untuk menghargai, menghormati, menjaga perasaan suami Ibu. Dengan begitu, Ibu sudah menumbuhkan kepercayaan diri pada Pak Amat, sehingga dia tetap merasa dirinya berguna, mampu serta dicintai. Tidak semua lelaki itu kuat. Banyak di antaranya yang lemah. Bahkan begitu lemahnya, sehingga pernikahan buat dia adalah mencari teman hidup, untuk menolongnya tegak. Ia seperti sebatang pohon merambat yang memerlukan penyangga untuk berkembang. Dan ibu sudah melakukannya dengan baik sekali. Sehingga walau pun Amat tak sanggup memberikan keluarga segala yang diharapkan oleh keluarga dari seorang kepala rumah tangga, tetapi dia sudah mampu bertahan dan mengembangkan dirinya secara maksimal. Bagusnya lagi adalah kendati maksimal yang ia bisa lakukan, hanya menghasilkan sebuah rumah yang sederhana dan kehidupan yang tidak bisa dikatakan mewah, tetapi Ibu selalu menerima dan menghargainya, sehingga kebanggaannya sebagai kepala rumah tangga tidak berkurang. Ibu juga tidak pernah membanding-bandingkan sumai Ibvu dengan suami-suami yang lebih sukses. Ibu tak pernah mengurangi kasih sayang Ibu. Di saat ia sakit. Di saat ia merasa dirinya lemah. Bahkan di saat ia menjadi begitu brengsek, Ibu dengan bijaksana, bahkan agung, dengan penuh kasih saying merawatnya. Menyayanginya, bahkan memanjakannya. Tetapi begitu Pak Amat mulai menemukan kembali dirinya, Ibu cepat-cepat menyadarkannya kembali untuk bekerja, berusaha dan awas terus di dalam kehidupan. Kalah dan gagal pun tak jadi apa, asal sudah berusaha secara maksimal, kata Ibu. Itu sangat baik. Itulah yang ingin saya sampaikan kepada semua perempuan Indonesia. Jadikanlah dirimu cahaya yang tidak hanya menerangi jalan kaummu, juga jalan teman hidupmu yang telah kau pilih sebagai teman hidupmu selama-lamanya. Namun ada satu permintaan yang ingin saya sampaikan. Jangan berhenti mendorongnya untuk terus meningkatkan diri. Jangan hanya menerima kekurangannya. Mula-mula terima, tetapi kemudian tolong tumbuhkan, tingkatkan dan arahkan, agar dia bisa menjadi laki-laki sejati. Kalau perlu, jangan segan-segan bertindak dan menegurnya secara keras. Namun pelihara api asmaramu tetap menyala, jangan dikurangi hanya karena merasa sudah tua. Pada saat yang sama Ibu juga menghampiri suaminya dan berbisik. Terimakasih Pak Amat. Sikap Bapak dalam memperlakukan istri mau pun putri Bapak, dengan selalu menghargai dan menghormati pendapatnya, bahkan sering mengutamakannya dengan mengenyampingan perasaan Bapak, sungguh mulia. Usaha Bapak untuk membuat istri selalu bisa senyum, anak tetap tertawa di dalam rumah, sungguh indah. Lelaki tidak seharusnya merasa dirinya

lebih penting dan lebih bertanggungjawab di dalam keluarga, walau pun tugasnya memang berat. Bapak telah memberikan kesempatan seluas-luasnya pada istri dan anak Bapak untuk mengembangkan pikiran dan perasaan mereka. Di dalam berbeda pendapat, Bapak selalu berusaha untuk mengertikan kenapa istri dan putrid Bapak berpendapat lain. Bahkan dalam kesibukannya, ketika Bu Amat seperti tidak mengacuhkan Bapak, lebih mengutamakan kepentingan dirinya, putrinya, serta keluarganya, Bapak tetap bersabar. Bahkan ketika Bu Amat sama sekali tidak mempedulikan apa yang sudah Bapak lakukan untuk keluarga, Bapak tetap tegar. Walaupun Bu Amat tiidak pernah atau jarang sekali mengucapkan maaf kalau melakukan kesalahan, Bapak tidak peduli. Bahkan ketika istri Bapak tidak pernah lagi membelai-belai pak Amat, seperti waktu masih pacaran, Bapak tetap tenang. Bapak selalu mengatakan bahwa bukan apa yang dilakukan istri Bapak yang Bapak nilai, tetapi apa yang menyala di dalam hatinya. Terhadap putrid Bapak, Bapak juga sudah bersikap adil. Banyak orang merindukan anak lelaki dan kecewa karena hanya punya anak perempyuan. Tapi Bapak tidak. Bapak memperlakukan putri Bapak dengan begitu baiknya, sehingga mirip memanjakan. Jadi mungkin dengan segala kebaikan Bapak itu, orang jadi merasa bahwa memang Pak Amato rang kuat yang tidak memerlukan kasih sayang. Nah, itu yang tidak baik. Jadi ke depan, jangan takut untuk memperlihatkan kelemahan. Jangan menutup mulut, katakan apa yang Bapak inginkan. Jangan biarkan istri Bapak sibuk dengan dirinya dan putri Bapak merasa bapaknya terlalu tegar sehingga tidak memerlukan bantuan. Tunjukkan kepada mereka, bahwa Bapak memerlukan mereka, supaya mereka merasa dirinya berguna. Kalau tidak, mereka akan bertambah jauh nanti dan bisa-bisa malah sama sekali tidak mempedulikan Bapak. Bukan karena tak sayang. Tapi karena mereka menyangka, memang Bapak lebih senang sendiri. Akhirnya Ibu juga menemui Ami, putri semata wayang mereka berdua. Ami, apa yang sudah kamu lakukan bagus sekali. Sebagai seorang anak, kamu menjadi contoh bagaimana menghormati orang tua. Menghormati tidak berarti harus takut atau bilang ya, ya terus.. Takut akan menyebabkan orang bisa berbohong. Bohong dapat menimbulkan perselisihan. Itu tidak boleh terjadi. Kamu telah dengan berani bisa menentang Bapak dan Ibu kamu, kalau mereka salah. Tidak selamanya orang tua itu benar. Dan kalau mereka membuat kesalahan, siapa lagi, kalau bukan anak yang harus memperbaikinya? Tapi kalau mereka benar, kamu juga harus dengan ikhlas menyatakan dirimu keliru, sesudah kamu menyadarinya. Kamulah yang seharusnya membuat rumah menjadi bercahaya. Seorang anak memang harusnya begitu. Dia bukan hanya cahaya hati di hati orang tua, tetapi dia juga cahaya rumah. Dan karena kamu anak perempuan, Ibu benar-benar ingin bicara kepadamu sekarang antara perempuan dengan perempuan. Bukan sanggul atau gelungan Ibu yang hendak Ibu wariskan. Bukan Ibu menyuruh putrid-putri Indonesia memakai pakaian menirukan Ibu. Ibu hidup di masa lalu. Kalau Ibu hidup di masa kamu hidup sekarang, Ami, mungkin Ibu juga akan memakai apa yang kamu pakai dan berpikir seperti apa yang kamu pikirkan. Ibu hanya berharap jangan tampak luarnya, tetapi isinya, dari perjalanan Ibu di masa lalu yang harus kamu simak. Perempuan Indonesia jangan pernah merasa dirinya lemah dan berserah saja. Perempuan Indonesia berhak bersuara, bergerak sesuai dengan kodrat dan kebutuhan masing-masing pribadinya dengan memperhatikan budaya Timur. Budaya Timur itu apa Ami? Bukan hanya pakaiannya, tetapi cara berpikir. Cara mendudukkan permasalahan. Semoga kamu mengerti apa yang Ibu maksudkan. Dan satu hal yang ingin Ibu sampaikan, orang tuamu, keduanya sudah semakinn tua. Kamu bertambah maju, mereka juga tetap

berusaha untuk maju, tetapi kemampuan mereka tidak lagi selincah kamu. Jadi kamu jangan tertipu. Generasi baru harus bukan hanya lebih berani saja, tetapi lebih arif-bijaksana dan lebih luas pandangannya dari generasi yang lebih tua. Usia tidak menjadi ukuran kedewasaan. Usia bukan ukuran kematangan. Itulah kepribadian kita. Semoga masa depanmu cerah anakku. Bu Amat, Pak Amat dan Ami, ketiga-tiganya sangat kaget dengan pengalaman yang bersamaan itu. Pagi esoknya ketika sarapan di meja makan, ketiganya saling mengusut dan mencocokkan. Percaya tidak percaya, tapi kenyataannya Raden Ajeng Kartini semalam datang kepadaku dan berpesan! kata Amat. Bu Amat menoleh suaminya. Pesannya apa? Amat terdiam dan berpikir. Ayo pesannya apa. Jangan ngarang? Oke, tapi kalian jangan terkejut. Kartini berpesan kepadaku: Amat, kamu belum benar-benar menghargai istri dan anakmu sebagai perempuan. Mulai sekarang tingkatkan penghargaanmu. Hormati mereka! O ya? Ya! Kalau sama Ibu dia ngomong apa? Bu Amat berpikir. Ayo terus terang! Kartini bilang, Ibu sudah terlalu memanjakan suamimu Ibu, sampai-sampai dia jadi malas dan kurang memperhatikan istri dan anaknya! Sebagai perempuan kamu harus keras pada suamimu, kalau tidak nanti dia karatan! Amat terkejut. Masak begitu? Ami tertawa. Ami juga disamperin Ibu kita Raden Ajeng Kartini. Dia dia bilang, aku tidak berani lagi sekarang bicara kepada kamu, Ami, katanya, Ibu tidak berani lagi memberikan komentar, sebab Ibu sudah ketinggalan zaman. Sekarang ini bukan zaman Ibu, sekarang adalah era kamu Ami. Bicaralah! Tunjukkan gigimu! Amat, Bu Amat dan Ami pandang-pandangan. Benarkah pada setiap orang, Ibu berbunyi lain-lain?

Manado 13 April 2010