DOL monolog Putu Wijaya DIMAINKAN OLEH LAKI-LAKI/PEREMPUAN SEORANG PEREMPUAN MUNCUL DI KANTOR POLISI DENGAN

SEBUAH EMBER YANG NAMPAKNYA PENUH AIR. IA MEMBERIKAN PENGADUAN. PETUGAS MENCATAT SEMUANYA DENGAN TELITI Nama saya Intan Ratna Menggali. Umur 30 tahun. Saya tinggal di Gang Penggalang, Kebon Kosong. Saya datang ke mari atas kemauan saya sendiri. Tidak ada yang memaksa. Saya mau mengadukan suami saya. Dia sudah memukul saya tiap hari. Tadi kalau saya tidak keburu lari, kali saya sudah jadi mayat sekarang. Saya minta supaya Bapak polisi menangkap dia, sebab orangnya berbahaya sekali. Dia garong. Bandar narkoba. Suka sadis. Saya sudah kenyang disiksa. Sudah cukup. Dia tidak hanya doyan main gampar, nendang, nyulut dengan rokoh, ngeludahin, juga memaki-maki saya anjing, kerbau, kecoak, tikus, ular, buaya, tokek, apa? Ya bekicot juga! Betul. Masak saya disamakan dengan cacing. Dia itu yang kelakuannya seperti kobra. Coba pikir. Masak anaknya sendiri dijual. Saya dipaksa melayani orang. Duitnya dipakai senang-senang main judi dan nyabo. Ya saya berontak. Saya kan bukan perempuan yang tidak bisa diperlakukan semau gue. Saya masih punya harga diri. Saya tahu mana yang boleh mana yang tidak bisa diterima. Saya tidak mau masuk neraka. Biar dia saja yang ke neraka. Saya ingin hidup yang wajar saja. Saya masih punya cita-cita yang belum bisa saya dapat. Saya mau jadi guru. Saya akan ajari murid-murid saya menghormati perempuan. Ibunya, saudara perempuannya, istrinya lalu anak-anaknya. Saya akan ajak murid-murid saya nangkap capung, cari belut di sawah, nangkap katak, mencuri mangga, menaiki pagar orang dan mengintip orang mandi. Apa? Ya itu semuanya perlu. Karena dunia akan kiamat. Kalau kiamat, tidak akan ada lagi orang jualan makanan. Super maket tidak ada. Makanan harus cari sendiri. Kalau tidak bisa mencuri ya mampus. Apa? Ya sudah banyak orang bilang saya gila. Tapi sampai sekarang saya belum gila-gila juga. Sudah banyak orang bersumpah dia tidak gila. Tapi belum selesai sumpahnya dia sudah gila. Supaya tetap waras di tengah oranmg gila itu ada caranya. Berpikir positip. Jangan pikirkan yang kurang menguntungkan. Jadi pikiran kita bersih. Dengan pikiran bersih, dunia yang kotor ini jadi asyik. Kita bisa senang setiap hari, untuk seneng tidak perlu bayar ini-itu segalanya. Senang itu datang sendiri, kalau kita memang dia sukai. Saya disukai senang. Jadi saya senang terus. Ya! (KETAWA MALU) Tapi itulah. Seperti sudah saya katakan tadi, sudah dicatat belum? Catat semuan ya dong, Bapak kan polisi.. Tentang suami saya. Suami saya itu bajingan. Bajingan kelas kakap. Saya minta supaya dia dibunuh saja. Sebab orang seperti itu kalau dibiarkan, negara kita akan rusak. Dia provokator. Tiap hari dia dia menganjurkan supaya orang-orang itu berontak. Dia bilang tidak ada yang beres. Pemerintah sudah tidak mengurus rakyat. Rakyat tidak hormat pada peraturan. Pendidikan membuat anak-anak jadi liar. Dan agama dipakai untuk berantem. Pendeknya semuanya sudah rusak. Hanya dia saja yang waras. Dia mengaku dia itu nabi. Kata dia, dicatat dong! Tidak dicatat? O begitu? (MENGUBAH SUARANYA) Jadi begini. Saya juga mengadukan mertua saya. Dia itu yang menjadi sutradaranya. Dia juga yang menulis skenarionya. Kalau tidak ada dia, suami saya tidak akan jahatnya begitu. Paling juga rongrongan maknya yang sudah bikin suami saya jadi gila.

Dulunya dia baik sekali. Seperti Puntadewa. Tapi kemudian, mau menang sendiri. Tidak pernah ngaku kalau salah. Di samping itu tiap hari dia mukulin saya. Hidung, kepala, semua dia bonyok dipukulin. Tadi hampir saja dia bunuh saya, kalau saya tidak keburu lari, mungkin saya sudah jadi mayat sekarang. Apa? O itu sudah dicatat? Kalau begitu begini. Tetangga saya saja. Tetangga saya itu juga jahat. Semuanya. Yang sebelah kiri, kanan, depan, belakang, semuanya jahat. Yang di atas, di bawah apalagi.Yang baru pindah itu juga. Dari mukanya kita sudah tahu hatinya bengkok. Ini bahaya sekali. Saya minta supaya mereka semua juga ditangkap sekarang. Kalau terlambat, mereka akan jadi teroris. Masak kita biarkan saja ada teroris gentayangan di sekitar kita. Ya. Jangan kura-kura dalam perahu! Teroris itu kan mau benernya sendiri. Apa? Tidak usah dibuktikan lagi. Untuk apa? Sudah jelas yang sudah saya sebut tadi jahat semuanya jahat. Itu tadi sudah saya kurangi, sebenarnya jahatnya lebih tidak ketulungan. Merinding! Percaya saya. Dicatat nggak?! Nyatat-nyatat begini juga untuk apa, tidak ada gunanya. Buangbuang waktu saja. Langsung saja. Potong. Karungin. Supaya semuanya cepat beres. Kalau sudah ada jaminan begitu, saya akan aman. Nanti saya akan pulang. Saya akan bilang sama suami saya, saya sudah lapor. Saya sudah jeritakan blak-blakan semuanya, kan?! Tidak ada yang ditutupi. Apa perlu lebih terbuka. Mau saya buka-bukaan? Baik. (MEMBUKA PAKAIANNYA) Apa? Terimakasih. (TAK JADI MEMBUKA) Nama saya Intan Ratna Menggali. Saya tinggal di Kebon-Kosong. O ya, sudah dicatat semuanya tadi oleh Bapak itu. Apa? Yang mana? Mana?! (MELIHAT DAN MENCARI-CARI DI KEJAUHAN)/Itu? Itu? O perempuan itu? Yang baju merah, yang rambutnya pirang itu? Mobilnya tiga kan? Dan rumahnya lantai tiga. Memang cantik. Darah biru kok. Pernah diminta untuk main film, tapi dia tidak mau. Katanya tidak suka film-film yang dangkal. Dia lebih senang film seks. Ya tahu, tahu sekali. Apa? Yang mana? O itu? Yang baju hijau itu. Ya itu. (KETAWA) Bagaimana tidak kenal. Masak tidak kenal. Lucu! Bapak ini suka guyonan ah. Jangan gitu, saya ini kan belum tua. Saya baru 30 tahun. Untuk ukuran sekarang lagi panas-panasanya. Nama saya Intan. Saya dari Kebon Kosong. Ya itu. Perempuan yang itu kan? Yang punya mobil merah itu. Yang tadi baju merah, tapi sekarang sudah baju hijau? (KETAWA) Keterlaluan masak saya tidak tahu. Kenal? Gila! Masak saya tidak kenal. Itu kan saya. Yang cantik tidak ketulungan itu? Itu saya Pak! Itu saya! (KETAWA) Lho kok tidak percaya. Itu saya, Pak. Itu saya. Nama sata Intan Ratna Menggali. Umur saya 30 tahun. Saya tinggal di Kebon Kosong. Ya itu orangnya, saya itu. Saya datang mau memberikan pengaduan. Saya sudah disiksa oleh suami saya, mertua saya tang brengsek dan tetangga-tetangga saya yang kampungan. Saya minta supaya mereka semuanya ditangkap dan langsung ditembak mati. Tidak perlu! Proses hukum itu tidak praktis. Nanti kalau ngomong terus, hasilnya malah bisa terbalik. Sebab kalau tidak, apa? Ya! Bisa nghelantur, nanti pasti saya yang akan jadi mayat. O sudah? (BERDIRI) Kalau sudah ya sebaiknya saya permisi pulang sekarang. Cuma kalau saya boleh curhat sedikit, Bapak-Bapak dam Ibu-Ibu, Saudara-Saudara semuanya di sini semuanya lambat sekali. Saya datang dengan info yang jujur supaya Bapa-Ibu dan Saudara melakukan tindakan cepat, eee malah diajak ngobrol. Jangan-jangan sekarang sudah pada lari semuanya. Kalau begini terus, tidak akan bisa aman. Bapak-Bapak ini kurang piawai menjalankan tugas. Akan saya adukan nanti pada atasan Bapak supaya Bapak-bapak semuanya dipecat. Atau lebih suka masuk penjara atau dieksekusi? (JALAN MAU PERGI) Tapi jangan bilang kepada siapa-siapa saya sudah datang ke mari. Mereka tidak akan percaya. Mereka lebih tidak percaya lagi, Bapak-bapak kok mau

menghabiskan waktu Bapak untuk mendengarkan orang gila seperti aku?! Bapak kan digaji negara untuk melayani rakyat. Uangnya uang rakyat. Ngapain buang-buang waktu ngeladenin saya? Berarti Bapak-Bapak semua koruptor sudah menghambur-hamburkan uang rakyat. Tapi kok belum ditangkap KPK ya. (KEPADA PENONTON) Ingat, saya Intan Ratna Menggali. Usia saya baru 30. Saya tinggal di Kebon Kosong. Saya mau melaporkan. Tolong catat. Para penonton ini semuanya adalah orangorang sadis yang ingin menertawakan orang lain. Semuanya! Kalau saya tidak gila, tidak akan ada yang mau mendengarkan saya. Tapi karena menyangka saya gila, dari tadi semuanya bengong mendengarkan saya gila. Orang-orang semacam penonton kalian ini yang mesti ditangkap. Berbahaya kalau dibiarkan gentayangan. Diam di situ, jangan pergi. Tunggu sampai petugasnya datang. MENGAMBIL EMBER. Saya akan laporkan semuanya. Kalian penontonlah yang sudah membuat dunia ini rusak. Kalian penontonlah yang maunya ketawa melulu, protes-protes, kecabulan, buka-bukaan, pelanggaran. Kalian penonton yang maunya hanya menonton. Kalian semua orang-orang sakit, orang-orang gila yang harus diseret ke lapangan tembak. Kalian yang sudah bikin televisi tidak moral, bioskop cabul, buku-buku maksiat. Aliran-aliran sesat. Generasi muda letoi, teler, bermental budak. Kalian yang sudah bikin para pemimpin masyarakat jadi badut. Kalian penonton semua maniak. Paranoid! Sesoprenia!Kalian yang sudah mengubah media massa itu menjadi pelacurpelacur, demi iklan, demi oplag, tidak peduli ;lagi keadilan dan kebenaran untuk mencerdaskan masyarakat. Kalian semua akan masuk neraka kalau dunia kiamat! BERGERAK SEPERTI PENARI STRIP. MELEPASKAN PAKAIANNYA SEMUA. TERNYATA DIA SEORANG LAKI-LAKI. (KALAU PEMAINNYA PEREMPUAN, NAMPAK DAGING LEBIH BUATAN MENJULUR) LALU TIBA-TIBA MENGAMBIL EMBER DAN MENUMPAHKAN ISINYA KE PENONTON. LAMPU PADAM.

Rumah Sakit Pertamina, ngantar Irsad, 23 Maret 2010

tetapi jalan pikiran bagaimana nasib setiap orang akan berakhir. begitu nyata. makin tak berdaya. mereka pakai senjata untuk menunjukkan kepercayaan luar negeri sudah mulai pulih. Makin panik. Itu bukan tanda rupiah bebas dari demam berdarah. Gombal! Di depan mata para pakar ekonomi. Mereka melirik rakyat dari layar televisi dengan informasi yang tak kurang seremnya. bergantian menyanyikan kecemasan. ketakutan dan ramalan-ramalannya yang mendirikan bulu roma. Setiap gerak berarti kesakitan. Para pakar dari semua desiplin. seperti semakin benar. kekhawatiran. sebelum hati diiris-iris. kesalahurusan. Ya Tuhan. Hidup tak berguna diteruskan. seperti membuat cerita itu terasa semakin berbobot. tapi ke mana? Sudahi sekarang segalanya. Bukan lagi kesulitan hidup yang menyakitkan. makin putus asa rakyat. itu angin segar dari perbaikan harga Yen. Bukan lagi kelangkaan sembako yang ditakuti. Makin serem. Karnaval kekhawatiran terhadap kesadisan. Di depan 200 juta rakyat yang sudah megap-megap dikunyah taring gila sembako. semakin terasa kejituan para ahli tersebut dalam menyimak. berang dan menghujat segala kebobrokan. Lutut pun langsung lemes. Makin bingung. Tetapi para pengamat ekonomi langsung berkoar. Semua upaya serba tanggung. MEMBANTING TELEVISI. mengapa investor mancanegara tak kujung nongol. Padahal kalau memang pulih. tetapi cerita para ahli. Semua berlomba urun pemikiran dan penafsiran atas kejadian yang sedang berlangsung. Hidup di Indonesia sekarang adalah pesta ketakutan. karena akan lebih sakit dari mati. . MENGHAMBURKAN KORAN-KORAN. prasangka. Masa depan neraka. Tak ada lagi yang bisa dipercaya di atas dunia. Jangan terlalu cepat tertawa. situasi ekonomi di tanah air sudah di tepi jurang kebangkrutan. semuanya terasa begitu benar. kecurangan ketimpangan dan penindasan terhadap kemanusiaan yang sudah terlalu biadab. buat apa disongsong.KROCO monolog Putu Wijaya KROCO TERTIMBUN KORAN SAMBIL NONTON TELEVISI. Pasang-surut rupiah sudah dikonsumsi oleh politik. makin dahsyat. Mereka sudah putus-asa. Aku lantas panik. semakin panik para pendengar. menganga kawah Candradimuka. makin menakutkan. Bukan lagi hidup yang mencemaskan tetapi ancaman-ancaman cerita dasri televisi dan koran yang makin menyeramkan itu. semangat bertahan amburadul. kecurigaan. Lalu apa tidak lebih baik lari. begitu tak terbantah. LALU SAMBAT Nilai rupiah baru saja menguat di sekitar 11 ribu selama hampir satu minggu. Iman hancur. Segala langkah sudah salah. sinis. Tapi para tokoh politik malah jor-joran memproduksi partai.

Bahkan pikiranku menjadi semakin nyaring. Kroco ternyata masih hidup. Jangan menceritakan semua itu. menjerat leher. Lidahku sudah pol terjulur. Selamat tinggal Indonesia tercinta! MENGGANTUNG DIRI Kursi terlempar ke lantai. Mereka akan berlepas tangan kalau keadaan bahaya. Apa gunanya kami ketahui semua itu. aku belum juga mati-mati. Kedua kakiku tergantung di udara. bukan Kroco yang dulu. Nomalnya begitu. Tetapi aku. . karena seluruh berat badan sekarang tergantung dari urat dan daging di bawah daguku. Namun keadaan sudah amat berubah. walau hanya disuap dengan garam. Kesabaranku sudah sampai ke puncak. Lalu memintal kain itu menjadi tambang. karena kita ada di dalamnya? Pemimpin yang buruk tidak akan memikul tanggungjawab. sebab di sanalah gudang para-cerdik pandai memberikan ramalannya yang mengancam. Aku ngeri. Lidahku mulai terjulur dan mataku membelalak. Telepon-telepon aku biarkan menjerit tak kujawab. Tenggorokan rasanya sakit luar biasa. Mereka pasti akan tercampak jadi pengemis di perempatan jalan. "Keluarlah. agar bisa menggantungkan tali itu ke tiang rumah. Segalanya sudah berubah. Akhirnya aku menutup jendela rapat-rapat. Tak usahlah. Tetapi aku Kroco yang mau lari dari himpitan krismon itu. Tapi kalian semua kan pemimpin yang baik? Aku tak sanggup lagi terus mengeluh. supaya wawasan jadi luas. seakan-akan kalian sendiri tidak ada di dalamnya. cari pandangan. kalau membuat kami tidak sanggup berbuat apa-apa. karena takut akan mendapat teori bagaimana lubang kuburku akan dibuat. Bahkan aku takut mendengar nafasku sendiri. Aku memang sudah putus asa dan ingin menyerahkan hidupku. Meskipun sudah lewat lima jam tali sprei itu menjerat leher. Keluar rumah bertemu dengan orang lain pun aku tak kepingin. Bukankah itu semua produk kita. Sudah lama aku tidak menonton televisi. jangan cuma mendokumentasikan.Aku terkatung-katung di air mendidih informasi butek tersebut. Tetapi aku tak sanggup. Lakukan saja sesuatu. jangan seperti pensiunan. melenting ke mana-mana. Berbulan-bulan aku hanya duduk di meja makan. Mengapa kau terus menakut-nakuti kami yang tidak berdaya. Memandang ke luar jendela pun terasa sakit. Hidupnya sudah berhenti. agar kita tahu apa yang harus kita lakukan! Mbok jangan mempercepat kematian kami yang sudah takut. Dalam lima menit seharusnya aku sudah mati. Mengapa kalian para ahli itu tidak bicara dengan ahli yang lain saja. karena tidak makan secara teratur lagi. sambil menendang kursi. "bujuk istriku melihat suaminya putus asa. Melepaskan sprei dari kasur. Sudah lama aku tidak lagi berani membaca koran. mereka akan jadi bandit. tetapi jawab langsung dong. Lha sampeyan sendiri. Nilai-nilai pun sudah ikut bergeser. Menutup pintu. jangan cuma jor-joran bikin takut. Aku memang bertambah ringkih. bergaul dengan tetangga. Kain sprei yang dulu aku beli bersama istri menjelang pernikahan. Aku jadi teringat kepada anak-anakku yang akan akan kutinggalkan. Mengapa hidup bisa begitu buas. Menghayati nasi yang untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya terasa indah. Tamu aku hindari. Nafasku sesak. Lalu mengikat leherku kuat-kuat. Kalau tidak mati muda. kejam dan tak kenal ampun. Sesudah itu mencari sebuah kursi.

Seminggu. Kepala rasanya hendak meledak karena sesak. Aku teringat kepada istriku yang akan berjuang sendirian. Bahkan sekarang begitu berat. Perempuan yang teteknya menggumpal itu akan terpaksa jadi pelacur. digigit-gigit oleh pikiranku sendiri. Sakit pun tidak lagi terasa. Semakin terguncang. Aku tersiksa. Neraka pun tidak sudi menerimaku. Berjam-jam aku terdera. Ya. Aku memang konyol. Saraf-sarafku justru tambah peka. Aku sudah sampai ke puncak tertinggi kesakitan tetapi ternyata tidak mati-mati juga. takdir dan memang pilihanku. baik. Hidup jadi semakin jelas. Hidup tanpa peluang. Sakitnya sajua yang tambahy bertubi-tubi. Aku memang tak sanggup. Karena tak ada yang bisa laku selain tubuhnya. Pikirannya bertambah terang. agar bisa cepat mampus. JATUH KE LANTAI Kakiku patah dan pinggangku bengkok. Karena aku sudah cidera. Pembuluh daraj ke otakku mungkin sudha putus. semakin sakit. Aku terima resikonya. Akhirnya aku melolong. Sebulan. Kepalaku menghantam lantai mengucurkan darah. Tidak ada pintu terbuka. Aku ini ayam sayur. Segalanya memuncak. semakin aku tidka bisa mati. Aku teringat kepada guru-guruku yang pasti merasa tertipu. Tetapi tidak bisa mati. Lantas mengguncang-guncang tubuhku. ya aku tahu. Tapi mau apa lagi. aku tetap saja tidak mati-mati. Berjam-jam aku putus asa. Tetapi tetap saja aku tidak mati-mati. Seratus hari lewat. kalau begini caranya berarti gua harus mengerti! Lalu aku lepaskan lagi belitan tapi gantunganku. Ya Tuhan! Alangkah saktinya orang kecil! Mati pun gua kagak berhak lagi! Astya Puri 30-09-98 . Bukan main banyaknya dan bukan main sakitnya. Dua hari. Ini memang sudah nasib. Baik. Satu hari lewat.untuk bertahan hidup. Aku lemah. Bukannya mati.. Dan saraf-sarafku tidak bekerja. Megap-megap kuterima kembali seluruh beban dunia yang hendak kutinggalkan ini. Tak punya nyali. Mataku seperti pakai miskroskop dikepung jutaan persoalan. Aku meraba sprei yang semakin keras membelit leherku. Aku kalah. Berjam-jam aku kesakitan. air mataku malah bercucuran. Berjam-jam aku tergantung seperti itu. Ternyata aku hanya keok di tanganku sendiri gara-gara tak mampu merebut sembako. Hanya sakitnya tambah deras. Aku ditolak. Sama sekali tak berdaya. Hanya sakitnya yangt tidak ketulungan. Badanku berdentam ke lantai. karena mereka pernah mengharapkanku sebagai bunga harapan bangsa. Pengecut. Tetapi semakin kesakitan. Aku teringat kepada kawan-kawanku yang pasti akan mengadiliku sebagai orang sesat.

pelawak atau caleg. Aslinya garang dan rakus. Buktinya mana?! Maaf Pak. sebenarnya itu terserah pada masing-masing saja. artis. Jadi saya putuskan saya akan tarik anak saya pulang untuk jadi markus! Makelar kasus! Maaf kalau kita beda. Bukan karena setuju. orang bebas berpendapat!” “Habis. kenapa tidak. Kalau duit banyak kan bisa kebal hukum. Mister in de Rechten kemudian turun pamor karena gelar Mr. Yahhhh kalau toh ditangkap. Suaranya lantang dan menantang. Pak? Sorry kalau kita berbeda!” Aku tidak membantah. Biar dia di rumah saja jadi ‘markus’!” Aku tercengang. Ah taek itu semua. itu baru diburu. Semua orang jadi diajar berpura-pura jadi ayam sayur semua. Aku hanya mau menghindarkan bentrokan. di masa lalu. takut dianggap jahat itu yang sudah menyebabkan isi masyarakat kita kotor. memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Dia tertawa mengejek. Sekarang kalau tidak terpaksa orang ogah jadi pegawai negeri. bukan untuk memelet gelar. ini kan negara demokrasi. “Anda masih ingat tidak. tiba-tiba tetangga di sebelah itu langsung berkoar-koar. malah jadi selebriti masuk tv. saya akan tarik anak saya dari sekolahnya di luar negeri. duit masih ada. Kalau menyekolahkan anak tujuannya hanya tiga: jadi dokter. Kenapa mesti ditutup-tutupi. Ketakutan. sebab orang yang keluar penjara masih bisa pegang jabatan dan jadi pemimpin. Kepribadian apa itu? Itu ajaran setan! Semua mau kaya dan menang sendiri! Semua! Tidak ada kecuali! Kalau ada yang mengaku tidak. Ketidakjujuran dipelihara. Untuk apa? “Ya. Keluar-keluar. Jadi pemain bola. Kita sekarang berburu rezeki! Apa yang bisa meningkatkan keahlian . insinyur atau mister. Pak!” Aku terpaksa mengangguk. Dunia berubah. Masuk penjara sebentar. Mau caplok semuanya. Ya nggak. padahal semua setan belang. berbakti kepada negara dan bangsa. itu resiko. . tapi kena gusur. Pak! Daripada jadi orang jujur. Sekolah itu bukan untuk mengantongi pengetahuan. Semua orang mengaku-ngaku alim. semua orang bercita-cita ingin jadi pegawai negeri. Nama juga tidak ada masalah. Alasannya ada jaminan pensiun. Itu kuno. hitung-hitung pengalaman. asal dia untung. jadi duit. “Ya itu terserah. karena ingin diakui sebagai manusia baik? Itu yang sudah bikin masyarakat kita kacau. Bukan zamannya lagi kita mati-matian mempertaruhkan hartabenda untuk membiayai anak sekolah. Ngapain mati berdiri! Tujuan pembelajaran sudah beda. tidak peduli orang lain buntung. Hanya tidak mau bertengkar. diganti jadi sarjana hukum Kedengaran kampungan.” “Tapi Anda pasti tidak setuju kan? Kenapa? Apa salahnya untuk terang-terangan mengakui apa sebenarnya yang kita inginkan. itu bohong! Bapak juga kan? Terus terang saja! Kita semua ini sudah munafik!” Tetangga itu ketawa mengejek. masak kita masih makan tai. tidak apa. jadi penyanyi. Hari gini. “Tapi kalau Tuhan mengizinkan. Tapi bukan setuju. berbakti kepada masyarakat. Penuh dengan kebohongan. tapi mengasah ketrampilan.MARKUS monolog Putu Wijaya LAMPU MENDADAK MENYALA Ketika mendengar aku mengutuk-utuk “markus”. supaya laku. lebih baik jadi jahat sekalian. menjunjung tinggi hukum.

Katanya untuk bayar uang pendaftaran sekolah anaknya di luar negeri. tidak usah marah. itu bukan jambangan bunga dari dinasti Ming yang usianya ratusan tahun dan harganya ratusan juta. Lalu meletakkannya dengan hati-hati di meja televisi. itu palsu. langsung main tarik kembali sumbangannya kepada masyarakat. Aku mau banting. Tapi istriku seperti biasa selalu datang dan mencegah. yang tidak pernah keluar negeri itu. Biar pecah brantakan. Memang Bapak mau anak kita jadi markus?” “Ya tidak!” “Makanya!” “Makanya apa?” “Bapak takut?” . Ini untuk keseratus kalinya aku mau mengamuk karena ditipu mentah-mentah oleh tetangga sendiri. Atas nama kemanusiaan. Malah ada yang terlibat. Itu pikiran orang frustasi!” kata istriku mengeritik. Lihat itu mereka yang gagal jadi caleg. Aku bersumpah. palsu. tapi cakar-cakaran sendiri untuk kepentingan pribadinya. putus sekolah hanya karena biaya. Kalau lebih lama di situ. Dia mengambil lagi jambangan keramik itu. rumahnya ditutup terus. apa salahnya jadi markus? Kalau tidak ada yang jadi markus. kita tidak akan tahu mana yang bukan markus! Kalau tidak ada markus. Jambangan bunga itu dipakai jaminan untuk pinjam uangku yang sudah lima tahun istriku tabung untuk beli rumah. Sebab semuanya sudah pintar bersilat lidah sekarang. hp-nya mati tok. Supaya jelas. Dengan nafas sesak. jahanam itu. Rugi. aku kembali ke rumah. “Tunggu dulu! Sabar Pak. kalau tidak ada markus. apa salahnya jadi markus? Ah? Apa Pak? Kenapa jadi caleg boleh? Jadi markus tidak. Itu jambangan bunga yang dia beli di By Pass paling juga seratus ribu. seteleh dapat kursi. Lihat itu mereka yang bukannya ngurus rakyat. Siapa tidak akan luluh kalau mendengar anak pintar. hitam dan putih itu akan terus kabur!” Aku tak bisa lagi menahan perasaanku. Tapi mestinya tadi itu. Padahal dia juga tahu.Aku menahan diri meskipun tanganku sudha terkepal dan gemetar karena marah. Aku serahkan darahku pada bangsat. jangan sampai salah sangka. tidak akan jelas yang jahat itu seperti apa. Sabar saja. Bapak langsung mendebat. aku akan mengangkat kepalan tanganku yang sudah puluhan tahun tidak pernah nonjok orang. Lihat itu mereka yang menyanyi selangit sebelum terpilih. ketika mendengar kejadian itu. Jadi coba pikir dengan pikiran waras. Kami sudah dikibulin habis! “Sudah Pak. Keramik jambangan bunga yang sudah satu tahun di atas meja. Markus itu yang sudah berjasa! Markus itu yang sudah membuat kita kembali bersatu dan ingat yang baik itu apa? Jadi apa salahnya jadi markus!” Itu sudah kelewat batas. tapi memberikan pendapat. Aku terbakar. “Coba pikir. Padahal aku tahu borg jaminan ini semua cipoa! Dan sekarang dia pura-pura mau menarik anaknya. Kalau Bapak diam saja nanti dikira setuju. aku bujuk istriku dan setengah memaksanya untuk merelakan tabungan itu dipinjamkan. Nanti malah kena tekanan darah tinggi. “Jadi apa salahnya jadi markus? Takut? Kalau takut itu artinya markus beneran!” Aku tak sanggup lagi mendengar. Terpaksa aku beranjak. “Menjawab? Ngapain meladeni orang gila!” “Bukan meladeni. Aku angkat keramik palsu itu. tidak akan ada yang diuber-uber? Tidak akan ada musuh bersama yang bisa menyatukan perhatian masyarakat yang gontokgontokan sendiri? Kalau tidak ada markus. sebagai jaminan hutang itu aku dekati. Meluruskan pikirannya yang keliru . Karena uang yang aku pinjamkan itu sudah lama habis dipakai berjudi! Aku meluap. palsu. Tapi tetangga itu memegang tanganku. pikirannya itu salah.

Tapi hanya mau menjaga perasaannya sebagai tetangga. kita wajib meluruskan pikiran tetangga yang salah. dia kan tetangga kita.” “Pecahin sekalian lebih bagus. seakan-akan itu benar-benar barang ratusan juta. Supaya harga dirinya tidak jatuh di mata keluarganya.” Istriku mengambil jambangan itu dari tanganku dan menaruhnya baik-baik kembali. Terus-terang dulu aku menerimanya bukan karena harganya. Dia bukan saja brutal tapi licik. kalau kita menunjukkan sikap baik sama dia. Aku hanya curiga!” “Itu namanya takut!” “Itu hanya sandiwara!” Istriku tercengang. sekarang juga mesti terus. ngajak bertengkar. itu sudah jahat. Dengan hati-hati sekali. Dia memang mau mengajak berantem!” “Kok Bapak begitu sekarang. Demi kemanusiaan. tidak baik. Tak usah dikembalikan sekarang. Permisiiii!” Darahku tersirap. artinya dia sudah berhasil!” “Siapa bilang aku takut. Aku cepat berbalik mau masuk kamar. “Jangan begitu. taruh lagi baik-baik. Kita anggap saja itu benar-benar peninggalan dinasti Ming yang harganya ratusan juta! Tidak boleh pecah! Itu baru menolong! Itu baru kemanusiaan! Pertolongan itu bukan hanya uang. Meluruskan pikiran tetangga yang anaknya mau dididik jadi markus itu kan salah. Sana cepat pergi. Makanya hargai saja apa yang diakatannya. jadi nanti. Itu baru namanya pejuang. Bagaimana pun dia itu tetangga! Demi kemanusiaaan! Apa salahnya aku mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang sudah keropos di mana-amana? Istriku mengerling. “Permisiiiiii. Jangan cuma dulu berjuang. bahwa dia bukan tidak punya apa-apa karena malas kerja. membuat aku malu. kenapa takut berbuat baik. Suara tetangga itu memberi salam di luar. Mudahmudahan uang kita yang dipinjam itu segera dikembalikan. Ini kan barang palsu!” “Memang. Tiba-tiba pintu diketuk. “Sandiwara bagaimana?” “Dia seperti memancing. nanti dia tersinggung. Lebih baik insaflkan dia. Dengar. Sebagai tetangga. jangan. dikira semua orang bersandiwara. terimalah. Tapi istriku memegang tanganku. jangan sampai pecah. Ya tidak! Walau pun hanya pikiran saja. Bisa dihukum!” Aku tidak bisa mikir lagi.” “Karena kita ingin menghargai dia. di mata tetangga yang lain! Demi kemanusiaan!” “Memang. Dia punya niat busuk.Aku terkejut. itu pikiran orang sesat. Ya kalau orangnya waras. betulkan pikirannya! Dan taruh lagi jambangan itu. Masak bercita-cita anaknya jadi markus. Hanya membantu sedikit kebohongannya. berbuat baik itu banyak tantangannya!” “Berbuat baik itu beresiko tinggi. hisa tenang. Pak. Caranya dia memperlakukan jambangan itu seperti jambangan yang berharga sekali. kalau nanti dia tidak sanggup mengembalikan utangnya. Bapak kan seorang pejuang. jangan sampai pecah. tapi dukungan! Ya tidak?” Aku bimbang. bukan karena aku mau memilikinya. Ini kan sudah telat satu bulan dari . Mentang-mentang pernah jadi pemain sandiwara. dia tidak akan sampai hati berbuat jahat kepada kita. Apa nanti kalau kebeneran bisa jadi markus dan kaya. Tapi kita kan sudak menerimanya sebagai jaminan hutangnya. “Kalau Bapak takut. “Pak. Agar anak-istrinya sedikit menghargai dia.” “Ah Bapak ini. Akhirnya aku angkat lagi jambangan bunga porselen yang sudah dijadikan borg hutangnya itu. “Ayo. senengnya curiga-curiga melulu.

Masak anaknya mau dijadikan markus!” “Jangan! Itu sandiwara! Jelas dia terus mau memancing Bapak supaya mau bertengkar. atau sekalian tidak membayar sama sekali! Itu kan biasa dilakukan sekarang untuk mengalihkan perhatian. Ayo kita tidur!” LAMPU PADAM. Pak! Masak berbuat baik takut? Biar hutangnya dibayar! Kita perlu sekali uang itu sekarang!” “Permisiiiii!” Permisiiiiiiiii!” Aku menarik nafas panjang. . Tapi pintu kamar anakku terbuka. menentang pendapatnya. biarkan. dia akan punya alasan untuk menunda bayar hutang.” Tiba-tiba istriku tersenyum. mengembalikan jambangan itu. Bu!” Aku berteriak dalam hati. Pak!” “Taksu.janjinya?!” Aku tertegun. hanya mau menguji Bapakmu. Bapak. apalagi membantingnya. Dia memegang tanganku “Stttt . “Ya itu yang aku takutkan!” “Pasti itu yang ditakutkan. kalau menyerah. YANG TERBARING SEKARAT. Bapak mau meluruskan pikiran tetangga kita yang sesat. “Permisiii! Permisiiiii!” Jakarta 1 April 10 PERADILAN RAKYAT monolog Putu Wijaya ADEGAN SATU PENGACARA MUDA YANG GAGAH DAN PARLENTE ITU MENDEKATI BAPAKNYA. siapa lagi yang mau membela kemanusiaan di negeri ini?” Lalu aku bergerak mau buka pintu. Berbuat baik itu banyak halangannya. PENGACARA SENIOR. tapi kita tidak boleh menyerah. “Pergilah. Bapakmu mau berbuat baik. “Ya Ibu tahu. jangan. kok belum peka-peka juga. “Betul juga. Kalau sampai Bapak panas. Setelah berpikir matang-matang aku menyerah.

Mustahil untuk dipertemukan. Membongkar apa yang sudah dikatakan oleh para filsuf Yunani dan kemudian Jerman. Setidak-tidaknya aku menolak ditulari virus ganas itu. Aku menyimpan satu pertanyaan. kalau mereka masih ada sekarang. sebab itu juga bagian dari kenyataan. Aku hanya partikel kecil dari sebuah mekanisme mesin raksasa. TERMENUNG Aku tidak ingin menentang apa-apa. Aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini Aku tidak tahu apa yang dikatakan oleh para founding father itu. Aku datang bukan sebagai putramu. Tapi kita juga tidak bisa menghentikan kebiasaan bermimpi. Prancis. Kita sudah menempelkan pikiran-pikiran Nietzche. Itulah kenyataan DUDUK. Maaf inu bukan promosi. yang kutanyakan setiap detik di dalam hidupku. Banyak hal memang mesti berbeda dan akan terus berbeda. Aku tidak datang sebagai putramu. Derida. . Machiavelli. Kompleks. KEMUDIAN DIA MENDEKATI TEMPAT TIDUR. Tidak perlu ada pembahasan yang membuat kita masuk ke dalam lingkaran setan dan akhirnya puluhan tahun berjalan di tempat. TERSENYUM Kita sudah menyelusuri Eropa. Kenapa harus menentang? Tidak. Kenyataan berkata: akulah harapan itu sekarang. Dulu tidak ada yang perlu diragukan. Sudah jelas siapa yang kita hadapi dam kita tahu betul apa yang kita mau. Tapi kalau satu bangsa? Kalau satu satu bangsa semuanya mimpi. akulah ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini. Bahkan yang paling nyata dari semua kenyataan adalah mimpi. MEMBERI ISYARAT SUPAYA ZUSTER YANG MENUNGGUI BAPAKNYA PERGI. Kau fenomena 4 zaman yang selalu mengajarkan aku supaya menerima kenyataan. karena itu yang lebih banyak kita lakukan. Kita mesti menerima kenyataan. aku tidak ikut bermimpi. Fucou dan lupa bahwa kita sebenarnya punya seorang pengacara muda yang ambissius tapi praktis dan memiliki impian yang benar-benar dibutuhkan oleh negerinya sekarang. Tapi apa boleh buat.Selamat malam. Satu orang bermimpi tentang persatuan membuat dia menjadi pahlawan dalam sejarah. Karl Marx. Di segala lini terjadi kemerosotan. Freud. kita akan masuk lubang hitam terbelit kesulitan besar seperti sekarang. Sekarang jadi absurd. ini hasilnya. tetapi fakta konktrit. karena kodratnya memang begitu. So what? SENYUM. Bahkan boleh dikatakan mundur.

Kau fenomena yang tidak bisa diragukan. TAPI KEMUDIAN ZUSTER MASUK DAN MEMBERI ISYARAT TIDAK BOLEH MEROKOK. Kita mesti menerima kenyataan. darah dan air mata ini. Pikiranku tidak bisa berkembang kalau aku tidak memegang sesuatu yang konkrit. Bahkan mimpilah paling nyata dari semua kenyataan. Mustahil untuk dipertemukan. MEROGOH SAKU MENGELUARKAN CERUTU DAN MAU MENYALAKAN . Dunia ini sama sekali baru. ini pribadi. Aku satu-satunya yang terbangun dengan pikiran masih waras. Mari kita pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. pengorbanan yang dibayar dengan nyawa. Tapi kita juga tidak bisa menghentikan kebiasaan bermimpi. karena itu yang lebih banyak kita lakukan. Apa boleh buat. Kaumesti mengerti maksudku. Tinggalkan dulu kami berdua. sebab itu juga bagian dari kenyataan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Kau pernah muda. Banyak hal memang berbeda dan akan terus berbeda. cita-cita sebenarnya. Itulah kenyataan. TERTAWA KECIL Aku memang tidak pernah berhenti lapar.TERSENYUM. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu. Orang-orang itu terlalu sibuk main politik dan dikubur oleh ilmu pengetahuan yang dicurinya dari berbagai tempat sehingga lupa. namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kau pasti mengerti apa maksudku. Aku menolak kalau penderitaan ratusan tahun. Ini bukan tindakan orang yang kurangajar untuk memberu publikasi. bahkan bertentangan. BERDIRI. otentik di awal badai yang akan menghancurkan ini. Siapa lagi yang harus memujiku kalau bukan aku sendiri yang paham betul apa yang sudah terjadi. karena kodratnya memang begitu. Aku orang yang terlalu realistik. kemaruk memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan. Aku tidak rela. Sempat membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis oleh di sebuah kampus kelas satu di Amerika? Mereka menyebutku Singa Lapar. Tetapi fakta-fakta yang terlalu kurangajar itu memang harus dibersihkan dengan cara yang kurangajar. ZUSTER KELUAR. PENGACARA MUDA ITU MENGANGGUK Ini hanya untuk dipegang. Teriamakasih . Aku tidak. Ya mungkin juga kurangajar. rakus. Aku tidak terlalu jauh dari keadaanmu waktu masih muda. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negerin ini. akan habis begitu saja.

aku tidak boleh lupa aku harus memberimu pujian! Seluruh prestasimu adalah monumen sejarah. bukan keluarga dengan segala tetekbengek dan pernik basa-basi yang menghabiskan waktu itu.DIA MENCIUM-CIUM CERUTU. Aku hanya mencoba menunjukkan sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Sampai di mana tadi. O. yang dengan sisa-sisa keperkasaannya bukannya berjuang tetapi malah menikmati. MENGAMBIL KEMBALI CERUTU Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. akan jadi kesalahan fatal. Meskipun bukan bebas dari kritik. Tapi itu dulu. Dulu bukan sekarang. aku tidak akan surut! Akan aku katakan apa yang harus aku katakana meskipun kamu tidak setuju atau kamu tidak mau aku mengatakannya. Pemburu Keadilan.Sekarang. Kita harus cari jalan lain! Perubahan total! Karena semua kebijakan masa lalu itu sekarang salah! Maaf. kau yang selalu berhasil dan sempurna. Itulah akhir dari sejarah kita yang besar! So what! MEMBANTING CERUTU Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Kenyataan kita! Generasi tua loyo. Tapi inilah kenyataannhya. Menikmati kebangkrutannya. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Kamu melakukannhya dengan sempurna. ini terlalu memalukan. untuk memandang perjuangan keadilan yang kini seperti macan ompong itu. TIBA-TIBA MELEDAK Kita seakarang sedang sekarat! ZUSTER MASUK LAGI DAN MENGINGATKAN.Dan itu semua itu tidak ada yang bisa diperbaiki lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih. Jangan tersinggung. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dilawan. Ini semua juga tidak lepas dari hasil gembelenganmu yang tidak kenal ampun! TERTAWA Aku harus memuji. DIA MEMBERI TANDA MENGERTI DAN MEMINTA ZUSTER PERGI. Tidak. Terlalu tidak masuk akal. Aku hanya mencoba mengangkat daguku. Aku tidak akan menjad sensor terhadap diriku sendiri. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Berarti kita akan selalu bisa bicara sungguh-sungguh sebagai professional. kalau itu dilakukan. Rakyat berlomba-lomba menggali kuburannya sendiri.. Oke. ini fakta. generasi muda bodo. Aku tidak tertarik untguk bunuh diri! Aku tidak bisa lagi mundur! Tapi aku sama . tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri.

karena setelah negara menerima baik penolakanku. Aku ingin mengatakan TIDAK kepada negara. tak boleh menjadi sebuah teater. Lalu? . yang sepantasnya mendapat hukuman mati. karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini.. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak sampai mati. Pihak keluarga korban pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya.sekali bukan orang yang terjebak oleh diskripsi-diskripsi atau doktrin-doktrin beku. Dan itulah yang aku tentang. Walhasil. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak.dalam tidur sekali pun: kau diperlukan oleh bangsamu! PENGACARA ITU MENGELUARKAN SAPUTANGAN DAN MENGELAP TANGAN SERTA MUKANYA. sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani. tetap kejahatan. Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih. dibela oleh siapa pun. sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini. bahwa pada akhirnya negara cukup adil. Maaf. karena pencarian keadilan. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler. Aku mau berdialog. sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson. supaya aku bersedia untuk membelanya. Penjahat yang paling kejam. Aku datang ke mari. karena aku yang menjadi jaminannya. BERHENTI SEBENTAR Anda masih mendengarkan kan? Tapi aku datang ke mari bukan untuk minta pertimbanganmu. walau pun sudah dibela oleh team pembela seperti aku. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia. Seperti mata air di pegunungan aku hanya mengalir. itu bukan istilahku.begini. tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin dan beku. sudah ada kebangkitan baru. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di dalam hatiku selalu ada suara tajam yang terus-menerus kudengar. kesimpulanku. Di situ aku mulai berpikir. bahwa kejahatan. Aku datang ke mari ingin mendengar suaramu. maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda. Aku bicara akan sebebasbebasnya sekarang. aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku. Kenapa? Karena aku yakin. negara sudah memainkan sandiwara. LALU DUDUK DI SAMPING BAPAKNYA. gemericik. (MENARIK NAFAS PANJANG) Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar. bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat. SUARANYA LEBIH TENANG. Tetapi aku tolak mentah-mentah. negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. bersama suara alam.

Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebagai seorang pengacara professwional. Aku men olak tawaran negara. LALU BERHENTI Jadi sebenarnya itu yang ingin aku tanyakan. aku akan berhasil keluar sebagai pemenang. Karena aku memutuskan akan membelanya.Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Apakah keputusanku suah betul? Apakah keputusanku sudah betul? Itu. aku menerimanya? MANGGUT-MANGGUT Sebab Anda kenal betul siapa aku! KETAWA Ya aku menerimanya! Sebab aku seorang profesional. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Supaya dia menang? Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Aku tidak meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. karena sebagai professional aku tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar aku membelanya dari praktek-praktek pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang palingt tepat. aku menerimanya sebagai klienku MENATAP KEMBALI Apa keputusanku salah? Seperti yang aku katakan tadi. tawaran yang sama dari seorang penjahat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Asal aku tidak membelanya karena ketakutan. sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan. Demi memuliakan proses itulah. Sebagai pembela. BERDIRI DAN BERJALAN MONDAR-MANDIR PERLAHAN-LAHAN. Tapi bagaimana aku menunjukkan diriku sebagai professional. malah aku terima baik.PENGACARA ITU TERKEJUT Bagaimana Anda tahu. kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati. Namun. Bukan! Aku tidak pernah bisa dibli! Bukan! Lalu karena apa? (TERSENYUM) Karena aku akan membelanya. Tapi aku akan menang. Sebab kebenaran sejati. karena di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Hanya ada kemungkinan kalau aku membelanya. aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya. aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. antara lain. Bagaimana bisa tahu aku akan menang? . Tidak! Kenapa takut? Sama sekali tidak! Bukan juga karena uang. Kalah-menang bukan masalah lagi.

Bukan karena aku ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negara kita. Itu karena aku mencintai negeri ini. Keputusan apapun aku sudah bisa baca walau pun perkara belum mulai. bukan karena disogok. bukan? Bukan! Kenapa mesti takut?! Tidak ada yang sudah mengancamku! Mengacam bagaimana? Mengancam dengan apa? Jumlah uang yang terlalu besar. Supaya kesalahan seperti ini jangan lagi terjadi nanti! Seperti yang selalu Anda bilang. Aku tidak takut. Jangan main-main dengan hukum! Kejahatan itu terlalu untuk dijadikan tempat bermain! DIAM DAN NGOMEL SENDIRI PADA DIRINBYA TAK JELAS Anhajmmakajuyetgalkamjakamnhamkjhj. Tidak ada makelarmakelaran. Polisinya bego dan jaksa-jaksanya malas dan bodo! Terlalu bodo!!! (SAMBIL MENUTUP MUKANYA DENGAN SAPUTANGAN ) ZUSTER MASUK. Jujur saja. Tapi ini bukan soal memberikan angka-angka! Tidak! Hanya karena aku tidak bisa dibeli! PENCACARA ITU TERKEJUT. Oke aku sudah selesai. O tidak. Ini bukan mafia peradilan! Tidak ada yang menyogok. tetapi karena soal-soal sampingan. Ia minta tolong. Bukan. Tidak ada sama sekali pembicaraan soal pembayaran! Ini semua gratis! Inik profesional! Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang! Ini bukan bisnis Rumah Sakit. TERTAWA KECIL Aku terlalu besar untuk kalah saat ini.Betul. Aku menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau aku perlukan dalam kampanye. memang sebuah ancaman. Keputusanku untuk memberi pelajaran penting kepada pemerintah sudah final. ini proses pengbadilan yang bersih! Dan aku akan menang! Aku pasti menang! Ah? Apa jadinya kalau penjahat itu sampai menang? Negara akan mendapat pelajaran penting. supaya tidak terlambat besok menghadiri sidang. Aku akan memenangkan perkara ini. Sama sekali tidak! Sumpah!Q Akui membela dia bukan karena takut. Penjahat itu akan dibebaskan karena aku memenangkan perkaranya sebab negara tidak punya bukti kuat. Bukan! Sumpah! Karena Negara tidak siap! Mereka tidak punya bukti yang kuat. MENGHELA NAFAS PAN JANG Itu bukan kesombongan tapi kesedihan. Itu yang membuat aku sedih. tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku akan menang. penegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan.SENYUM Bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Aku sama sekali tidak bimbang lagi. Tolong beri aku dua menit lagi. (EKMBALI KEPADA BAPAKNYA) Aku pulang dulu sekarang. . Dan aku membelanya bukan karena takut. Bukan karena materi perkara itu.

PENGACARA MUDA ITU MENGANGUK HORMAT. Manusianyalah yang hidup. Dan dengan begitu harapanku semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Hukum baru hidup kalau manusianya hidup dan menegakkan hukum dengan semua persaratann tegaknya. SUDAH SANGAT BERBEDA. Aku telah memenangkan perkara itu dan itu berarti aku sudah membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini. Zuster sudah mengusirku. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Anda ingin kamu bangun. bahkan kalau perlul licik! . tersenyum dan kita akan bicara lagi panjang lebar. PENCARA MUDA ITU BERSIMPUH DI KAKI ORANGNYA DAN MENCIUM KAKINYA. ADEGAN DUA LAMPU MENYALA. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak. Aku pulang sekarang.seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Harus cerdik. MENARIK NAFAS PANJANG. ZUSTER MASUK LAGI. Sudah jelas. kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang professional. bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Ya. PERLAHAN-LAHAN SEAKAN TAKUT MENGANGGU DIA MENDEKATI BAPAKNYA. TERDENGAR SUARA RIBUT-RIBUT DAN KEMUDIAN BERAKHUIR DENGAN SUARA-SUARA TEMBAKAN. Begitu bebas dia langsung terbang lepas kembali seperti burung di udara. DIA NAMPAK SANGAT SEDERHANA. Oke. Aparat tidak cukup hanya berani tapi harus lihai! Rakyat tidak cukup hanya mengepalkan tangan dan berkoar-koar. Jumlah banyak dan kuat saja bukan jaminan untuk memenangkan perkara. karena hukum hanya instrumen mati. Selamat malam. TAK ADA YANG BEFRUBAH. karena besok kalau semuanya suah menjadi sejarah. Ya. Selamat malam Ayah. Seperti yang pernah aku katakan kepada ayahanda. Hukum tidak akan bisa tegak sendiri. MENARIK NAFAS DALAM. LALU BERBALIK DAN BERJALAN KELUAR DENGAN GAGAH. PENGACAR MUDA ITU MUNCUL KEMBALI. Tidak ada yang harus dibahas lagi. LAMPU PERLAHAN-LAHAN PADAM. Maafkan. Silakan meneruskan beristirahat. aku baru bisa datang sekarang. MENGURUT KAKI BAPAKNYA.

disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya? Kalau berhadapan dengan sebuah perkara. Harusnya aku mendengarkan apa yang dikatakan zuster itu. ketika seorang penjahat besar musuh rakyat dibebaskan. buah hatimu. Bukankah sudah aku ingatkan. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. MENARIK NAFAS PANJANG Semua yang aku rencanakan sudah menjadi kenyataan. Tanpa hukum. LALU BICARA DENGAN SUARA YANG SAMA SEKALI BERBEDA. aku rindu kepada putraku. Kekuasaan tidak bisa berlaku semena-mena sebab keadilan tertinggi ada di tangan hukum. IA BERDIRI. pongah dan keblinger mengklaim dirinya realistis membela amanat penderitaan rakyat. menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. kita akan menjadi bangsa yang liar dan lalai. aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. rinci dan sempurna di negeri ini oleh semua mereka yang tidak pernah menghendaki kita ada. Dengan gemilang dan mudah aku mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Tetapi bukan itu . Penyandang dana tunggalnya penjahat yang sudah kubebaskan itu. Itu bohong! Juga bukan karena aku jenius yang tidak terkalaghkan. Kau minta yang datang putramu. apa pun alasannya. tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Putraku. Dan aku. Tidak mungkin dijamah lagi. setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai professional.BERHENTI SEBENTAR. Rakyat pun ngamuk. itu akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini! . lalu meloncat ke mancanegara dengan seluruh keluarga dan harta bendanya yang berasal dari rakyat. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan. PENGACARA MUDA ITU MENGHAPUS AIR MATANYA. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk. bukan seorang pengacara muda yang ambisius. tetapi sebenarnya tak lebih dari sel-sel subversive yang sudah ditumbuhkan dengan begitu cerdas. Dan itu bukan karena bukti-bukti yang dimiliki negara lemah. Hakimnya diburu-buru. TETAPI KEMUDIAN DIA SEPERTI DIRASUKI OLEH JIWA BAPAKNYA. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang professional. putramu satu-satunya ini diculik. Bohong besar! Itu semua karena keadilan dan kebenaran bisa ditawar! Hakim-hakim dan jaksanya semua bisa dibeli! PENGACARA ITU MENANGIS MENCIUM KAKI BAPAKNYA.

Cirendeu 1-3-03 .PENGACARA MUDA ITU MENANGIS.

langsung memasukkan potret itu. aku kenal peristiwa itu. ya. Kemudian ia memberi isyarat supaya aku sabar. tetapi kemudian ternyata bukan lagi. tapi ternyata tak pas betul dengannya Dia menyebutkan lagi sebuah peristiwa yang menarik. Kemudian mencari-cari dalam gudang kepala. mengeluarkan potret lain dari bawah potret wanita itu. Dia menyerahkan dompet itu. Dia menyebutkan sebuah nama yang rasa-rasa sering keluar-masuk telinga. . masih ingat tidak. Kepalanya botak. Kemudian ia mengeluarkan potret lain. karena potret seperti itu sama sekali tak akan mungkin mengingatkan kepada seseorang. aku belum pernah melihat dua jari kaki yang putus. Kecewa. Aku menggeleng. merasa berhasil memojokkan aku pada kenangan yang dimaksudnya. Aku langsung teringat pada Budi yang selalu memakai kaos kaki bolong. lalu menunjukkan sebuah potret. Mukanya jadi lucu tanpa topi.lalu hendak melanjutkan perjalanan. Ia bersandar ke tembok toko lalu membuka sepatunya. Kaos kakinya dobel tapi kedua-duanya bolong. katanya dengan mata bersinar-sinar. Aku jadi ngeri.Tapi sungguh mati.Sekarang potret seekor anjing. Dengan agak masam kemudian ia membuka kaos kakinya. catatan-catatan dan lepitan ingatan. Dalam kepalaku muncul Bang Satria yang buntung tangannya karena kecelakaan. dia senang melihat aku lupa. Tidak mmenyimlan kisah apa-apa. ia mulai kelihatan putusasa. aku tak ikut mengalaminya. Aku tak bisa menahan rasa geli. Muncul Nyeneng yang putus kakinya. Aku langsung menggeleng. Samar-samar aku disengat bau busuk. Hee. Dia menyebutkan sebuah nama. tapi tak ketemu. aku tahan saja. lalu menoleh seperti minta maaf. Dua buah jari kaki orang itu putus. seakan-akan teringat oleh sesuatu. Dia menggeleng-geleng tetapi belum menyerah. Aku terperengah. Ini mungkin orang gila.Tapi potret itu biasa sekali. Ini bukan Harjo yang berasal dari Yogya.AUT monolog oleh: Putu Wijaya Di tengah jalan. Orang itu terkejut. menarik sekali. Kemudian ia tertawa ngakak. Ia menjadi orang lain yang mengingatkan aku kepada raksasa gundul yang selalu kalah dalam wayang. seakan-akan mengingatkan aku pada kenangan bersama. Orang itu terkekeh-kekeh.Tetapi karena tak ingin menyinggung.Tapi orang itu tak aku kenal. sekarang hampir. tapi. Lalu aku tersenyum minta maaf. Seorang wanita yang sedang memegang kelapa. Ia tertawa. langsung aku kejar.Tetapi orang ini bukan Budi.Tapi orang itu cepat memegang tanganku. hampir terpegang. Aku mulai curiga. sedih dan agaknya juga curiga kalau-kalau aku tak berterus terang. Aku menolak. Ia buru-buru mengeluarkan dompet. Mungkin bau itu akan menolongku untuk menembus kenangan yang sudah membeku. pengemis di kota kelahiranku yang putus seluruh bagian bawah badannya. lalu buru-buru melihat sendiri potret itu.Ia melirik. Lalu aku menggeleng. Dia keliru. Tapi kemudian aku terpaksa memalingkan muka karena tak tahan. Lalu dia mengejapkan mata. Karena aku masih tersesat dalam keterangannya yang bertubi-tubi itu. Berjuta-juta wanita seperti itu di dunia. Senyumnya masih panas. Orang ini pasti tak kukenal. Aneh juga Lalu dia membuka topinya. seseorang menegurku tiba-tiba. Kemudian dia sendiri. Muncul Lanus. . supaya aku perhatikan lebih dekat. Aku menggeleng.

Mestinya dari awal aku tak peduli tadi. aku ikut cemas. di dadanya yang ditumbuhi sejemput bulu ada tatoo kecil. Hebat. Terimakasih tadi taksi macat. Aku lbergegas pergi. karena reflek tak mau tertipu. Aku pernah punya seorang teman bernama Maria bertahun-tahun yang lalu. Orang itu tidak keluar dari masa laluku. menyangka aku seseorang. Aku berlari dari jaring yang berbahaya itu. Menyatakan perasaan gembira.Ingat ? Aku ingin sekali ingat. Aku menyeruduk lagi mencari. Perhatianku sudah menyebabkan ia memilihku.Teteknya menonjol. Orang itu menggapai tanganku. Aku ikut memikirkan jalan keluar. Orang-orang di pinggir jalan sudah mulai memperhatikan kami. Aku selalu mengikuti perkembanganmu dari jauh dengan perasaan bangga. Maria. membongkar ke sana-ke mari.kamu berhasil. Di setiap sudut jalan ada penipu sekarang. seakan-akan salah seorang kawan lama. aku juga menolak. Lalu ia mengeluarkan permen. tapi luput. Aku sudah salah dari awal. semacam reflek sebab tak mau bertanggungjawab. Terimakasih. katanya sambil langsung membuka bajunya. Hee tunggu duluuuu ! Aku mempercepat langkah. Dia tersenyum. Ia terus memegang tanganku dan mengguncangnya keras-keras. Ini sudah terlalu. Aku bengong.kalau ini pasti ingat. Ia tak putus asa. Aku mencoba mengenalinya. Pertama karena potret itu potret orang bugil. aku tak akan bertemu dengan kamu lagi. Aku pura-pura tak terlibat pada peristiwa itu. Ia berdiri di depanku tanpa baju.ini pasti orang jahat yang ingin bikin malu aku di tengah jalan. Aku menolak. Tapi ini bukan Maria itu. tak tersangka dan tiba-tiba. raut wajahnya seperti nyangkut dalam sumur tua. Kamu memang jempolan. Dia mengulurkan tangan dan menjabat tanganku erat. Kemudian aku dengar ia berlari menyusul.Orang itu menyorongkan potret itu lebih dekat lagi. Selamat. Tunggu. orang itu sudah membuka jaketnya. Aku bangga salah seorang di antara kita sudah berhasil. tapi cukup membuat ingin tahu. Mengucapkan syukur. Ini bahaya. Pertemuan tak terduga. Kedua. Aku bingung sampai ia merogoh saku dan menawarkan rokok. Syukur semuanya sekarang sudah lewat. Aku mencari alasan yang kuat untuk menghindar. Dia memanggil-manggil. Senang juga rasanya diguncangguncang. tapi sia-sia.Tubuhnya gendut. Setelah itu kaos dalam. Ia menunjuk ke restoran di sebelah dan mengajak makan. katanya dengan aneh. Kalau bukan orang gila.Sekarang potret wanita telanjang. minta pengertian. karena salah seorang kawannya kembali bertemu. Kemudian ia membuka kemeja. Pasti bukan. Aku cepat menolak. tetap seakan-akan ia kenal betul aku. Kalau tidak. tunggu sebentar ! Coba lihat ini. Aku mundur. aku terus berbalik dan angkat kaki cepat-cepat. ketika dulu kamu mendapat kesulitan besar. coba ! Aku tak mau menoleh. meskipun aku tetap tidak ingat siapa orang ini. Aku menggeleng lalu menjelaskan mungkin sekali ia telah keliru sejak semula.Tak menghiraukan sopansantun lagi.Tapi orang itu cepat memegang tanganku. . Aku terpesona. Aku langsung mendapat firasat buruk. Orang itu mengangguk-angguk. kalau diceritakan kamu sedang mendapat keruwetan. supaya jarak semakin jauh. Coba tunggu. bisik orang itu yakin seperti mendapat kemenangan. Lalu membuka lagi kaos oblong. Aku sebutkan namaku. Kalau tidak aku tidak akan lewat jalan ini. Aku ikut terombang-ambing. Kemudian aku sebutkan juga apa kedudukanku sekarang. Langkahnya makin dekat.Tak beranjak.Tidak terlalu cantik. namaku yang lengkap dan asal-usulku.

Ia melompat dari balik sudut pertokoan. Atau aku sudah terlalu banyak nonton film action. Aku terpaksa memutuskan ketika melihat di depan jalan mulai lengang dan membelok ke bagian yang sunyi. Masuk ke dalam sebuah restoran Padang yang ramai. Itu yang namanya kematangan jiwa. tidak boleh terus bertahan. harus menyerang. Kalau getaran kita pas. Sekarang aku memerlukan pos polisi. aku meneruskan membelah jalan. aku harus bersiap bertempur setiap saat. Atau mungkin dikerahkan total untuk mengamankan kemacetan lalu-lintas. Meskipun tidak lapar. Aneh.Punggungku dingin mendadak. pasti bisa meluputkan aku dari bencana ini. Mataku melirik ke jalanan. Kalau tidak. Begitu banyak orang di jalanan yang akan menolong kalau terjadi apa-apa. tunggu sebentar. yang terpenting kata mereka. cemas kalau orang itu ikut masuk. Aku selamat. Aku keras dan tak peduli. harus menolong diri sendiri. senang dan untung. kalau-kalau orang itu menunggu di situ. Setidak-tidaknya kalau aku kalah dia juga akan dapat tanda-mata dan tidak mengagap enteng. Tak sepantasnya aku ketakutan. tegak menghadang. Baru kalau ada bahaya kita akan berpikir. Mataku galak dan gerak-gerikku pasti. Bahaya adalah pahala. kalau tidak mau diinjak-injak.Tapi tidak ada.Dia telanjang-bugil . Dengan sikap semacam itu. Aku selamat. tanpa selembar pakaian pun di tubuhnya.Untung sekali tidak. Jalanan adalah medan perang. berlibur atau ke mana.Ternyata semuanya tergantung dari kita sendiri. Mungkin juga sedang rapat. Selesai makan. Tunggu. Lalu dengan rasa percaya diri.hanya perasaanku saja yang memburu. Hatiku masih berdebar-debar. kalau sudah dialami. tadi. Aku harus kembali utuh seperti orang lain. Suaranya memanggil makin tak mempedulikan keramaian jalan. menendang. Sudah ingat sekarang ? Ya Tuhan! Aku kaget.Ya. Benar kata kawan-kawan yang terlebih dulu dapat pengalaman. adalah getaran kita sendiri. Sekarang aku benar-benar memerlukan seorang petugas itu.Tapi langkah itu terus menguntit. mengambil batu atau kayu dan balik menyerangnya.semuanya bisa muncrat dengan sendirinya seperti tadi. Aku putus asa. Selalu kalau sudah begini. Beginilah kalau terlalu banyak punya pengalaman buruk. Aku berbahaya buat mereka yang mencoba-coba. Aku merasa mendapat pengalaman berharga hari itu. sebenarnya bisa distel dari dalam pikiran juga. Setidak-tidaknya aku bisa memukul.Tak akan ada yang berani kepadaku lagi. Akhirnya aku berlari. Pakaian seragamnya. Binatang saja bisa melindungi dirinya. aku akan selamanya menjadi bulan-bulanan empuk. masak tidak ingat ini ! Orang banyak sudah mulai menonton. Tiba-tiba di depanku orang itu lagi. Tapi di mana sih mereka. yang tak akan mungkin aku yakini. rasa aman itu. Aku memandangi mukaku yang berkeringat di kaca kamar kecil. aku keluar restoran. aku pesan makanan dan bir untuk menambah keberanian. di mana pun kita akan selalu selamat. Mungkin ia sama sekali tak mengejarku tadi. aku berhasil mengumpulkan diriku lagi yang retak. Aku tak punya kesalahan. Ini semacam slogan. Rasa-rasa tangannya memegang kedua pundakku. Aku hanya tak punya kepercayaan diri. masak aku tidak. Mungkin. Dengan perasaan malu. Apa semuanya sedang sibuk memburu penjahat. Setidak-tidaknya seorang Hansip atau petugas keamanan yang lain. untuk membebaskan. makan siang. yang sudah menjadi ilmu hidup dengan sendirinya. aku tak cepat keluar. berjuang lalu membalikkan kelemahan kita menjadi kekuatan. seandainya orang asing itu tidak tiba-tiba muncul. meminjam kesombongan beberapa orang-orang kawan yang sudah berhasil. Aku sendiri kalau tidak gugup bisa melindungi diriku sendiri. Aku tukar arah berlari.

seratus prosen. Sesudah makan, pasti ingat kan, katanya sambil berkacak pinggang.Tak sengaja aku memandang ke alat kelaminnya yang berjuntai dan terasa mengejek. Ini mulai serius. Orang-orang di pinggir jalan tertawa, melihat kami seperti dua jagoan yang mau berduel. Orang itu tersenyum manis lalu mengembangkan tangannya, seakan-akan masa lalu yang menanti aku berlari menembusnya. Orang makin ramai tertawa. Di situ aku tersinggung! Aku bukan orang yang tadi gugup dan ketakutan. Aku sudah menelan rendang, otak sapi, sambal cabe hijau dan dua botol bir. Aku sudah utuh dan memiliki harga diri. Aku merasa dihina, ditantang, dipermalukan di depan orang banyak. Aku merasa jalanku dihalang-halangi. Ini sama sekali bukan salahku! Ini adalah perkosaan! Ini penindasan! Ini kesewenang-wenangan! Ini penipuan! Ini semua sudah direncanakan. Aku tidak terima! Ayo! Dengan luapan marah yang tiba-tiba menerbangkan seluruh pertimbangan akal sehat, aku terbakar.Kalap dan meledak. Aku raih, apa saja yang bisa aku comot. Aku sambar samurai yang dijual pedagang kaki lima. Sambil mengeluarkan teriakan bengis, aku hunus samurai itu dan menerjang musuh. Aku tebas lehernya seperti di dalam film silat. Aku cencang tubuhnya sampai berkeping-keping. Aku musnahkan bangsat yang gila itu. Aku buktikan aku ini manusia yang punya hak! Orang-orang baru berhenti tertawa. Mereka berteriak ketakutan dan menghindar. Aku tegak bagai monumen di atas reruntuhan orang asing itu. Aku tak kenal siapa dia, apa maksudnya, mengapa dia memburu-buruku. Aku hanya ingin bebas dan membuktikan bahwa aku tidak ingin diganggu. Aku bisa meledak seperti bom kalau sakit. Sama seperti orang lain! Tapi tak lama kemudian aku sadar kembali. Seperti pelembungan kempes, aku gagap menemukan diriku mendadak menjadi jagoan. Aku gugup dan gemetar. Setiap kali bergerak, semua oang mundur ketakutan. Dengan samurai berlumuran darah, aku berjalan ke pos polisi. Sesal tak berkeputusan. Aku mengutuk dendam yang bersembunyi di sela-sela urat batinku yang telah membuatku edan. Ini semua di luar pertimbanganku. Semua menepi memberiku kesempatan. Sambil menghunus kelewang yang berdarah, aku laporkan semuanya dengan teliti, jelas dan tuntas. Sama sekali tidak aku curi kesempatan untuk memihak diriku. Setiap bilah kata, titik dan koma, kuulangi sebagaimana adanya, tanpa perasaan. Kuberikan pertimbangan, kemungkinan, kebenaran-kebenaran yang barangkali milik orang yang kubunuh itu. Lalu kutunjukkan posisiku, kelemahan-kelemahan dan kemungkinan kesalahankesalahanku. Aku akui terus-terang, barangkali tidak perlu terjadi pembunuhan, kalau aku bisa melihat semua kejadian itu sebagai lelucon. Mengapa aku mesti mabok karena soal-soal sepele begitu yang setiap hari berserakan di jalan ? Orang lain pasti akan dengan mudah menyelesaikannya dengan hati lapang. Aku merasa susut sekali. Memang masa laluku telah mendidik aku buas dan liar, tapi apa salah orang itu, kataku pada polisi. Aku menyerah, aku siap menerima pala karmaku. Masuk neraka pun, oke! Petugas mendengarkan semua pengakuanku. Mereka mencatat dengan teliti. Tiga kali mereka menanyakan siapa aku, di mana, apa pekerjaan dan apa tujuanku. Karena takut keliru, mereka minta aku menulis semuanya itu dengan tanganku sendiri dan kemudian menandatanganinya.

Setelah itu mereka mengangguk dan mengucapkan terimakasih atas bantuanku. Lalu menunjuk ke pintu keluar. Terimakasih, Bapak boleh pulang sekarang. Astaga. Aku terkejut. Gila. Ini ngenyek bagaimana ? Tapi saya sudah bunuh orang dan saksinya banyak,lihat samurai ini masih meneteskan darah segar ! Petugas itu mengangguk sabar. Betul.Tapi sekarang memang bunuh orang, sudah boleh

Cornell, Ithaca,20 April 1987

DAMAI monolog Putu Wijaya Di sebuah padang lepas, lautan rumput hijau merentang sampai ke kaki langit. Bunga-bunga semak liar, bergetar dikibas angin yang ramah dari penjelajahannya yang ribuan kilometer. Langit yang terbuka dengan warna biru yang medok, terang benderang, menurunkan hujan damai. Hidup terasa tenteram. Pekik burung yang menoreh angkasa merambat panjang memasuki telinga khewan-khewan yang mencari makan tanpa ketakutan. Barangkali ketenteraman itu hanya sebuah lamunan. Memang. Namun keindahannya begitu nyata, sehingga kehadirannya sulit untuk ditolak. Memimpikannya saja, sudah cukup untuk sedikit meredam segala kecemasan yang semakin hari semakin gila dalam kehidupan nyata yang membuas ini, karena perang berkecambuk di mana-mana. Tetapi aneh, walau hanya mimpi, kecantikan itu tetap saja sudah terjamah. Para pemimpin jeli yang memburu wilayah yang masih bisa dimanfaatkan, telah menciumnya. Lalu tiba-tiba saja terdengar suara entakan kaki mendekat. Mula-mula hanya telinga-telinga rusa yang bergetar menyadari kehadirannya. Lalu serangga-serangga kecil menggetarkan sayap karena habitatnya terganggu. Tiba-tiba ratusan ribu bahkan mungkin berjuta-juta kaki menapak ke atas padang, membawa wajah-wajah manusia yang sedang dahaga oleh berbagai harapannya tentang kedamaian, keadilan, kesejahteraan serta masa depan yang lebih bahagia. Semuanya bagaikan terhisap oleh magnit raksasa yang dipancarkan dari dia yang akan menyampaikan orasi. Baru beberapa kejap, padang tak terbatas itu sudah tak punya ruang lagi. Di mana-mana wajah manusia yang penuh pertanyaan, memandang ke atas altar di tengah. Kepala-kepala mendongak seperti mau lepas dari lehernya, ketika aku naik untuk berbicara. Pekik-sorak gemuruh mengeluelu. Semua mata nyalang membidik ke depan. Dengan wajah sebersih bocah, nyaris tanpa dosa, aku berdiri di depan massa. Aku bagaikan sebatang pohon mengkudu dengan daun-daun yang gembur berwarna hijau rimba, menjanjikan penawar bagi seribu macam penyakit. Mataku yang adem membuat matahari tersipu, lalu menghindar ke balik awan-awan tipis, membiarkan peristiwa itu lewat sendirian dengan kodratnya. Ketika kuangkat tanganku, seluruh padang mendadak mati. Tak ada lagi yang berani bertepuk dan berbicara. Bahkan nafas pun ditahan, takut menganggu ucapanku. “Hari ini kita berkumpul lagi di sini untuk menyatukan tekad kita untuk menyerukan kepada seluruh dunia, kepada seluruh umat manusia, kepada saudara-saudaraku di seluruh dunia, di mana saja kini kau berada, dunia berada di dalam bahaya, kita semua sedang di tebing keruntuhan!” Kuangkat tangan, seperti hendak mengangkat nasib buruk itu. “Bangkitlah, saudaraku, waspada, bangunkan dirimu untuk menyongsong dunia yang lebih baik, yang lebih damai, sejahtera dan membahagiakan. Dengarkan suaraku, sebagai wakil dari hasrat batinmu yang mengharapkan masa depan yang lebih damai. Di masa lalu, seorang yang sangat besar, berjasa, luhur jiwa dan mulia perbuatannya telah mengucapkan sebuah tonggak yang sampai kini menjadi kajian dunia. Kata beliau: Perang adalah alat yang berguna untuk memelihara perdamaian dunia. Senjata, kekuasaan, pembunuhan diperlukan untuk membuat

Semua mengepalkan tangan mau main pukul. main bunuh untuk mengakkan perdamaian. Perang untuk damai. Semua orang jadi gemar berperang! Kawula muda mudah beringas. “Benar!!!!!’ “Benar sekali! Seandainya beliau. ratusan tahun lalu. tokoh sejarah dunia yang besar itu.” Orang-orang itu tertegun. Aku sudah tahu. katakan sama-sama seratus kali dengan suaramu yang mantap. sempat melihat betapa buasnya perang. Lihatlah kenyataan di atas dunia ini. sebab aku tidak bisa lagi bertanya kepada beliau. Aku jadi muak! Dengar: Perang adalah perang. Orang-orang tua cepat tersinggung. tetapi anjing-anjing srigala liar yang gila yang kelaparan membunuh umat manusia lebih cepat. melontarkan seruan yang sama: “Perang adalah binatangt buas pemakan perdamaian!” Mereka bersorak. Damai hanya mungkin lewat perang. Perang ternyata bukan anjing gembala penjaga perdamaian. Tak percaya pada apa yang mereka dengar. sebagai manusia yang masih waras yang mencintai sesama sesuai dengan perintahNya. Perang dan damai bertentangan! Ayo. gegap-gempita: Perang adalah perang. Benar tidak?” Semua mengangkat tangan dan menjawab serentak. Itu berarti jiwa mereka benar-benar merindukan damai. aku yakin beliau tidak akan sampai hati mengucapkan apa yang sudah digariskannya dan menjadi panutan manusia untuk membenarkan peperangan sampai sekarang. Tapi aku selalu curiga selalu ada udang di balik batu. Lalu mereka mengangkat senjata. Agar mencapai kesetaraan di masa depannya yang lebih baik. Damai adalah . Perang di mana-mana tidak hanya membunuh para serdadu. anak-anak.manusia takut kehilangan damai. Ketika kita semua masih lugu. Perang adalah benteng terakhir perdamaian. Perang adalah binatang liar yang menghancurkan perdamaian!” Aku angkat suaraku lebih keras: “Perang adalah binatang buas pemakan perdamaian!” Bagaikan kena hipnotis. Kutu-kutu busuk perang masih gentayangan “Ingat saudara-saudara! Masih ada orang-orang di sekitar kita yang dengan pongah mengatakan bahwa Perang dan Damai adalah dua wajah di satu mata uang. memeluk dan mengupayakan perdamaian sepanjang hidupnya. “Banyak orang bunuh-bunuhan. sebagai manusia yang sadar dan beriman. kata mereka. sehingga ia akan senantiasa memuja. lebih keji. Tetapi sekali perang berkobar. Banyak orang berkelahi untuk membela kemanusian yang diinjak kekuasaan. Perang adalah anjing penjaga perdamaian. pertanyaan itulah yang akan melanjutkan ucapanku. mengobarkan perang. “Tetapi ini dulu. hasutnya menjual peperangan ke mana-mana! Maka tak heran kalau bagaikan narkoba. aku bertanya kepada diriku. Aku mengangkat tangaku dan berseru: tidak!!!!” Langsung semua memantulkan suaraku lebih keras: “Tidak!!! Tidak!!! Tidak!!!!” Tidak ada yang tidak setuju. untuk merebut kemerdekaannya. untuk membunuh lawan sampai ke akarakarnya. Karena itu aku menentang. orang tua dan khususnya para perempuan. dia akan menjadi mesin buas yang tidak puas hanya membunuh. Sekarang aku sangsi. Ketika banyak orang belum tahu. Damai adalah damai. Banyak orang berkelahi untuk menegakkan keadilan. membela kebenaran. tidak hanya melukai orang-orang bersenjata yang berperang. perang juga akan memusnakan segala-galanya. menjangkiti dan meracuni jiwa. Perang zaman sekarang lebih banyak lagi melukai dan membunuh rakyat sipil. seluruh tangan terangkat dan mulut terkuak. tak peduli itu salah-kaprah. Lalu kutembakkan suaraku kembali. perang mulai menggigit.

Perang dan damai. Semua menanti. Dor! Dor! Aku terpaksa menembak. Tetapi tepat ketika tercipta lorong sunyi itu. Kembali lautan padang hijau itu hening sepi. Mataku menyala-nyala. damai adalah perang. lalu mengangkat tangan membungkam suasana. damai adalah damai. tetapi isinya yang menantang. Aku meniup asap pistol. Buku-bukunya berserak. Tapi anak kecil itu tidak takut. Perang dan damai bertentangan!” Pada seruan yang kesembilan. Perang dan damai dua kutub yang tidak pernah bertemu!” “Dua kutub yang selalu ketemu!” “Bego! Tidak pernah ketemu!” “Bertemu!” “Tidak!” “Bertemu!” “Tidak!” “Bertemu!!!!!!!” Plak! Aku gampar.Tiga kali ledakan pistolku mencabik Lalu padang itu tiba-tiba terasa sunyi. “Perang adalah damai. nyeletuk suara anak anak kecil tajam. bertentangan!” Mereka serentak berkoar: “Perang adalah perang. baru pulang dari sekolah. Semua langusng memalingkan muka. satu kubu yang selalu bertemu!” Aku membentak “Salah! Perang dan damai. Bahkan terlalu sunyi. lalu naik ke mimbar. dua kubu yang pantang bersatu!” “Satu kubu yang selalu ketemu!” Aku terperanjat. “Sialan. terpukau oleh ucapannya sendiri. . Damai adalah damai. Siapa kamu? Kemari!” Pelajar itu menguakkan massa. aku menarik nafas lega. “Apa kamu bilang? Dengar baik-baik! Perang adalah perang. keblinger kamu!! Guru kamu busuk! Perang dan damai tidak bisa ketemu!” “Selalu ketemu!” “Tidak! “Ketemu!” “Tidak!” “Ketemu” “Tidak!” “Ketemuuuuu! “Brengsek!” Aku cabut pistol. memasukkan senjata itu kembali ke sarungnya.damai. Siapa dia? Seorang pelajar dengan buku-buku pelajaran di tangan. Anak itu tumbang ke tanah. mulutnya masih hangat. “Perang dan damai.Tapi dia terus berteriak: “Perang dan damai selalu bertemu!” “Bangsat. dua kubu yang selalu bertemu!” Suara itu tidak keras. Ia malah tambah berkoar: “Perang dan damai dua kutub yang selalu ketemu!” “Bangsat! Tidak ketemu!” “Ketemu!” “Tidak!” “Ketemu! Ketemu! Ketemu!!!! Dor.

” Cirendeu. mulai berhamburan ke sarangnya yang sudah porak-poranda terinjak. Damai adalah damai Perang dan damai dua kutub yang tidak boleh bertemu. Semua mengikuti bagaikan sebuah sungai raksasa. damai tanpa peperangan! Damai abadi. damai tanpa darah. Di bibirnya masih menggeliat sisa-sisa perkataan yang belum semua berhasil ia ucapkan. Menghentak-hentak mengapai matahari. damai tanpa kekerasan… dstnya. damai tanpa peperangan. “Damai abadi. mengalir sambil memekik-mekik histeris: “Damai tanpa senjata. Semuanya memekik histeris. 27 November 2002 . damai tanpa pembunuhan. damai tanpa kekerasan. damai abadi. perang bunuh mati! Damai abadi! Perang bunuh mati! Damai abadi! Bunuh perang sampai mati!” Perlahan-lahan padang itu kembali sunyi. damai tanpa pembunuhan . Lalu aku turun. Di atas mimbar tubuh pelajar kecil itu terbaring bersimbah darah. sadarlah. berjalan menembus padang ke kaki langit. bersama-sama kita songsong dunia baru! Damai lewat perang adalah jurang kehancuran! Damai lewat pembunuhan adalah kebiadaban! Damai lewat kekerasan adalah kebiadaban! Damai lewat lautan darah adalah kesesatan! Damai harus tanpa senjata! Tanpa darah! Damai tanpa benci! Damai tanpa kemenangan. Bangkit segera. Serangga yang menghilang. Ulurkan tanganmu. Damai tanpa kekalahan. sambil menghunus senjata. damai abadi!” “Damai abadi. perang bunuh mati!” Seruan memekik-mekik memenuhi padang. Damai abadi! Bunuh perang sampai mati!” Massa tak bisa lagi membendung diri. Kepalanya pecah. Namun semua itu tertutup oleh nyanyian perdamaian yang sayup-sayup terus menggeliat di atas wajah pelajar yang telah kaku: “Damai tanpa senjata.“Saudara-saudara. damai tanpa darah. Perang memusnahkan segala. Buku-buku yang berserakan di sekitarnya seperti meratap sia-sia. Rumput-rumput rebah diam-diam meregang untuk tegak. Akan aku tembah siapa saja yang berani menghalangi damai. damai tanpa kekejaman. pegang tanganku. damai tanpa kekerasan. Serukan dengan keras: Perang adalah perang. dunia dalam bahaya. bunuh perang sampai mati!” “Perang mati. Kijang-kijang yang ketakutan muncul dari balik semak-semak mencium-cium amis bau darah.

Terserah kalian masingmasing. buat apa tinggal bersama-sama dalam satu badan. Peraturan juga sudah berhasil kita buat. Dan kalau ada kesempatan pasti akan menerkam setiapsaat untuk merebut kemenangan itu. berunding saja terus. Berat badanku sudah kontan melorot 100 kilogram. Kata-kata dan kalimat yang paling tajam. Jadi praktis tidak mampu meramp[ungkan apa-apa. Afghanistan. Jadi memang bikin pusing. Pokoknya semrawut. Dalam pemilihan umum yang konon demokratis dan fair pun. Hari gini. Tetapi kemenangan hanya ada di tangan satu juara. Pergi sana! Jangan bikin ribut lagi di sini. Berunding. hijau. Kemenangan menjadi cita-cita setiap kepala. kanan. Akhirnya tangan tidak bisa lagi berdiam diri. kasar. Sudah banyak sekali uang habis untuk biaya siding. IA NAMPAK SANGAT KESAL. Raja Alengkaini jadi kehilangan kesabaran. Maka sebaliknya dari bekerja dalam satu tim yang kompak. Ke Amerika. kalau bisa melenyapkan sama sekali. Ada merah. bitru. Ada lagi yang mengaku tidak berwarna. kecuali kalau ada yang menang. India.DASAMUKA monolog Putu Wijaya DASAMUKA SEDANG BICARA DENGAN KESEMBILAN BUAH KEPALANYA YANG LAIN YANG BERJAJAR DI MEJA. perang mulut itu ternyata tidak bisa diselesaikan hanya dengan mulut. Saling cacad. Dia terus saja menyerang dengan garang. Australia. Perang saudara sudah meletus. Tapi kalau menang pasti hanya satu. Darah segar manusia sudah tidak manis. gua udah muak dengan semua itu! Emang cuma elhu-elhu yang gua pikirin?!!!!” . silakan. kita selalu berbeda dan mau menang sendiri. monggo. walau pun bukan haknya. kuning. lainnya kask-kusuk dan itu. Seluruh tenaga dikerahkan untuk mengalahkan lawan. memaki dan kemudian mengutuk. Ya sudah kalau memang terus bertengkar. Makanan tidak ada yang enak lagi. tengah. Singapura. kita pakai untuk memukuli kepala kita sendiri. kita berpisah saja. Ada yang kiri.Meskipun awalnya sudah ada kata sepakat akan memberikan aku yang terpilih sebagai pemimpin untuk berkuasa. pada prakteknya kalian terus saja mendongkel. Sepuluh pasang tangan yang harusnya kita pakai untuk banting tulang. putih ada juga yang abu-abu. berbisa dan pedih sudah diobral. lebih kejam dari persetruan dengan musuh sebenarnya. mana ada orang yang sudi kalah. juga tidak lagi menarik. Arab. kita akan selamanya gontokgontokan. bahkan juga menyumpah. ya sudah. Cina. Perbedaan idiologi memang tidak akan mungkin menemukan kesepakatan. tetapi hati belum puas. Setelah kupikir-pikir. Karena. Sisanya berarti kalah. Walhasil. Rusia. Perawan-perawan tinting yang dijarah dari mancanegara dengan kecantikan melebihi Dewi Shinta. ternyata kesepuluh kita semuanya menganut idiologi yang berbeda. Tak cukup mengalahkam. Pusing aku! Mulai sekarang terserah kalian semuanya! Kalau memang sudah berbeda dan tidak mau bertenggang rasa hidup berdampingan. Mau pergi ke mana saja. mencela. NAMUN BERUSAHA TETAP BERBICARA DENGAN JELAS TAPI TEGAS. Semua juga tahu perkelahian di antara saudara bisa lebih berdarah. Tapi tidak ada yang jalan baik. yang kalah tak mau menyerah. menghina. MARAH DAN TAK SABARAN.

Sunyi yang menggigit-gigit. Kesempatan yang berabadabad aku tunggu-tunggu barang sekarang ini sudah terbuka. (DIMAINKAN JUGA OLEH DASAMUKA DASAMUKA BERDIRI DAN KETAWA Bagus. Mimpi apa ini. LANGSUNG MENDENGKUR. tidak perlu mencari timing yang pas. Untuk pertama kali. Aku akan masuk ke dalam lelap yang dalam nikmat tanpa ujung. MEJA MENGGELIMPANG DAN KEPALA BERSERAKAN. Ini kehidupan baru! Itu lihat! Semuanya meloncat ke arah yang berbeda-beda. SALAH SATU KEPALA MENYAMBUT. TIBA-TIBA DIA TERBANGUN. Inilah baru kehidupan. MENUMPAHKAN SEMUA KEPALANYA. Aku sambut. semuanya sudah bisa hengkang. Aku tidak perlu lagi beres-beres. Tinggal cabut! Lebih baik kabur sekarang daripada berubah pikiran. Aku akan menancap dalam mimpi perjalanan ke surga dan tidak usah digebrak-gebrak bangunbangun lagi untuk menebar kejahatan. Tak perlu lagi beradu argument.DASAMUKA MENGGEBRAK MEJA DAN MENENDANGNYA . DAN BERSIAP. Dalam sekejap mata. Seperti katak yang nyemplung di danau hutan senyap dalam haiku Baso. tak usah menyusun pembelaan. Apa: bukan musuh? Hanya suara angin menggasak daun jendela? Gila. Dan kenapa begitu sepi. Biasanya subuh-subuh sudah ada yang memaki-maki dan brrkelahi. Meskipun keputusan itu terdorong emosi. (KETAWA) Hening dan sunyi sekarang menyanyi. kebisingan yang biasa memekakkan sekarang sunyi. BERJALAN DAN TERKEJUT. BANGUN. aku akan bisa tidur nikmat. Sudah pagi? Kenapa tidak ada yang membangunkan aku? Fajar tidak pernah mendahuluiku. (SUARA KAPAL) Stop! (MENUTUP TELINGA) Dengung sayap nyamuk itu seperti satu skuadron helikopter. sejak ribuan tahun yang penuh dengan kehebohan. . Kenapa tiba-tiba lain. TERKEJUT. aku tak ambil pusing. Aku akan mendengkur sepuas-puasnya. Merdeka! Detik ini juga aku minggat. sehingga kaca-kaca jendela pecah. MELEMPAR BADANNYA DAN JATUH DALAM POSISI TIDUR. Selamat tinggal badan yang sudah memenjarakan aku bertahun-tahun! Tidak ada yang lebih membahagiakan dari kemerdekaan. Sudah sejak puluhan tahun semua barang sudah aku pak rapih. Sekarang aku akan menentukan langkah dan tujuanku sendiri dengan bebas. Badanku rindu meresapi tidur sempurna yang sempurna. INI DASAMUKA YANG SUDAH DITINGGAL OLEH 9 KEPALANYA. tidak seperti dulu. tapi itu keputusan yang sah. BERJALAN-JALAN. Biar pun itu diucapkan oleh otak yang lagi senewen. sehingga nafas waktu yang bergeser kedengaran jelas. kenapa jadi seperti . (SUARA LEDAKAN KERAS) DASAMUKA LANGUSNG MENGGAPAI SENJATANYA.

Aduh! Aku tidak kuat! Sepi lebih menyakitkan dari keributan. Jantungku berdebar-debar. AKHIRNYA IA MENJERIT-JERIT Stoooop! BUNYI NYARING BERHENTI. berbisa. aku jadi ngambang. Tidak ada yang protes. DASAMUKA MENUTU TELINGANYA DAN BERGULING-GULING MENAHGAN SAKIT. Tetapi SUARA KETAWA BERDERAI DI MKEJAUAHAN. betul. Aduh ini baru sakit. Sunyi ini seperti bor enusuk ke dalam rongga dada menyerang hati. mereka semua melarikan diri. LALU MEMUNGGUTNYA. Ini kan anggota kepalaku? MENOLEH DAN MENEMUKAN KEPALA-KEPALA YANG LAIN. Nafasklu sesak! Pasti. Kalau sendiri. Kepalaku! Batok mkepalaku kosong. DIA MENGUMPULKANNYA DAN MEMEMANGKUNYA. Dan aku tidak peduli! BENGONG Jadi kalau begitu sekarang aku tinggal sendiri? SUARA KETAWA DI KEJAUHAN Itu mereka. Jangan! Hentikan! Aku tidak kuat! BUNYI NYARING MEMEKAKKAN. aku bisa pastikan aku diserbu rongga kosong yang nyaring berdering. Jadi aku sudah tidak punya sepuluh kepala lagi? Hanya tinggal satu? Sembilan kepala dan sembilan pasang tangan smbilan pasang kaki sudah kabur?! Ya. menggigit. Hee ini sakit apa kok sakit sekali! Berhenti!!!! Tidak. memang hidup menjadi lebih tenang. . dilontar ke tempat yang asing begini.gedebur musik heavy metal? DIA MENGAMAT-AMATI KEPALA SEBUAH . Ya Tuhan. tidak bisa! Aku sudah terbiasa dikepung keributan. Rasanya seperti disedot. PANIK Aduh! Telinganku ditusuki jarum! Kesepian ini liar. DASAMUKA MEMEGANG KEPALANYA YANG BERDENYUT. Tidak mereka sudah izin baik-baik.

biar berbeda latar belakang. Sudah! Sudah! Berhenti! Wah. Sunyi sekali. enakan juga punya banyak kepala! DASAMUKA KEMBALI BERUSAHA MENGUMPULKAN KEPALA-KEPALA ITU. AKHIRNYA IA PENASARAN. berseberangan kepercayaan. Tidak ada yang peduli. Ayo. Aku sembah. Aku tidak kuat kesepian. berbeda bahasa. wah. LALU MENCOBA MEMBUJUK. Biar berbeda nasib. DENGAN PUTUS ASA IA KEMBALI KE TEMPAT DUDUKNYA. KESAKITAN MEMEGANG DADANYA. berlawanan kepentingan. Kembalilah. IA MENGAMBIL SAPU DAN MENCOBA MENYAPU KUMPULKAN KEPALAKEPALANYA. IA MENGAMBIL KAIN DAN BERUSAHA MENANGKAP KEPALA-KEPALANYA TAPI TAK BERHASIL. Aku tidak mau mati! Ayo kembali. LALU MEMUKUL-MUKUL KEPALANYA. Tak ada yang menjawab. Lihat baru beberapa hari aku . SEPERTI MENANGKAP MAHLUK LIAR YANG TIDAK MAU DIKUASAI. daripada sendiri begini seperti mati dan dibuang. Biar berbeda agama. Aku akan mati. IA HANYA BISA MELIHAT KEPALA-KEPALA ITU BERSERAKAN. KEPALA-KEPALA ITU TERLEPAS DARI GENGGAMANNYA.Edhan! Kenapa jadi begini? Kenapa jadi begini? Heee jawab! MELIHAT KE SEKELILING Biasanya kalau aku bertanya pasti kepala-kepala itu akan rebutan menyahut. wah. TAPI TAK BERHASIL. lain nkebutuhan. Ayo kembali!!! Pulangg lagi! Pulang!!! BANGUN DAN MENGUMPULKAN KEPALA-KEPALANYA. Ayo kenapa kamu? Aku rumah kamu! Aku trah kamu! Aku asal-muasal kamu! Kembali! Bersatu lagi! Bersatu!!!!! IA MENJADI TERLALU CAPEK AKHIRNYA JATUH. Sekarang suaranya tidak ada yang mendengar. TAPI TAK BERHASIL. kalau begini caranya. Aku sudah terbiasa dengan kamu semua. berbeda suku. ATAU MENTAL KETIKA DIA SENTUH. biarin. biar selalu gontok-gontokan. itu kan namanya romantika kehidupan. Gila. aku mohon.. tapi ayo. TAPI TIDAK BERHASIL. Jangan biarkan aku sendirian. aku tidak bisa begini! Aku tidak kuat! DIA BERGULING KARENA KESAKITAN. Aku sendirian! Seperti keris panjang sepi menusuk menusuk jantungku perlahan-lahan. Tak ada yang memprotes. ayolah kembali. MENGELAk. Kembalilah! Biar kita semua berbeda idiologi. KEMBALI BERSERAKAN. TAPI TAK SATU PUN BERHASIL IA JAMAH. tiap hari ribut. LUPUT.

MERAUNG. banyak macan di situ. . Pulang. karena itu memang tugasku. pulang semuanya! Aku membutuhkan kalian. kembalilah. mereka tidak akan takut lagi. KARENA TIDAK BERHASIL. aku akan berikan kesempatan. karena kita berbeda tapi dalam kesatuan. DASAMUKA MENCOBA MENDIRIKAN MEJA. jangan tinggalkan aku sendiri. Aku suka keributan. Aku perlukan suaramu. Rezeki kita bagi sama-sama.sudah lemes. disumpah-sumpah. Ini hutan rimba buas. Aku tidak akan memerintah-merintah lagi. Kembali. Satu rasa. kalau mereka tahu aku hanya punya kepala satu sekarang. protes-protes kamu. Ayo pulang cepat! Aku sudah rindu! Aku akan mencintai perbedaan! MERAUNG-RAUNG SEPERTI TARZAN. sama rata. Aku perlu pergolakan. Aku ingin lagi mendengar sumpah serapahmu. DAN KEMUDIAN MERAUNG SEPERTI TARZAN. SUDAH ITU NAIK BERDIRI DI ATAS KURSI. Pulang semua! Gontok-gontakan di sini di rumahmu. LANTAS MENARUH KURSI DI ATAS MEJA. Bertengkarlah di sini. . Aku mohon kembalii! TURUN DARI KURSI DAN MERAYAP. Ayo. Aku suka didongkel. Aku butuh pendapatmu. . Mereka tidak akan punya rasa hormat lagi terhadap kita yang mereka kagumi sebagai keajaiban.

lebih baik aku putus sekarang. Aku mau berpisah dengan tanganku ini. tanpa bermaksud untuk mengajari. Jadi begini. Orang lapangan seperti kita mana bisa istirahat. Alam menerobos tubuhku dan menyuruh aku ketawa. Bingung. MENUNJUKKAN TANGAN KANANNYA. khusuk mengasah iman. Aku dongkol sekali. Itu tidak mungkin. Tidak kerja berarti tidak ada uang. bete diganggu terus. Padahal aku berani bertaruh aku lebih beriman daripada dia. tanganku selalu kesleao menulis kata babi. mungkin sekali aku sedang berubah untuk menjadi gila. Setelah aku pikir-pikir lama dengan mempertimbangkan semua kemungkinan. BERHADAPAN DENGAN DOKTER UNTUK MENJELASKAN MASALAHNYA Setiap kali mau menulis namaku sendiri . Daripada bosok. Aku yakin benar. Aku sudah pusing tujuh keliling. Tapi hasilnya nol. Aku juga sudah datang mengadukan nasibku pada seorang pintar. Lebih cepat lebih baik. MEMPERLIHATKAN SELURUH TANGAN. Atau aku perlu buka baju? . rajin sembahyang. Memang. Aku sudah mengunjungi seorang ahli ilmu jiwa. Kawan-kawan memberi nasehat supaya ambil cuti dan beristirahat total. Dengan segala kerendahan hati. MENGGULUNG LENGAN BAJU KANANNYA. Tidak ada uang berarti nyawa melayang. konyol. aku minta Dokter sudi memotong tanganku ini. Aku terlalu mencintai hidup ini. resiko dan kemampuanku sendiri aku membuat keputusan. TERTAWA Orang gila biasa tertawa tanpa sebab.BABI monolog Putu Wijaya SEBUAH KURSI. Aku tidak kuat lagi menerima pemberontakan tangan kananku ini. tetapi dia hanya menasehati aku agar lebih. tawakal. Akhirnya atas inisiatipku sendiri aku putuskan datang ke dokter bedah. Sudah jelas. Ini bahaya. ANWAR DUDUK MENGHADAP PENON TON. SEBUAH PAPAN PUTIH ATAU LEMBARAN KERTAS YANG BIASA DIPAKAI UNTUK MEN ULISKAN CATATAN-C ATATAN KALAU ADA MEETING. Dokter. idiologi kami berbeda.

DUDUK KEMBALI Seperempat jam? Baik Dokter. kita tetap harus berpisah. tidak ada yang sulit untuk dilakukan. Apa? Okelah. Yang kiri oke. ya. Jangan salah. saya tidak akan menyesal. harus dipotong Dokter! (TERUS BERJUANG. Tidak Dokter. Disuruh nyebok tiap pagi sore dan malam juga tidak pernah protes. Baik. baik saya tidak akan beri komentar lagi. Orang sakit mana mungkin rileks. TERJADI PERGUMULAN Dokter! Cepat! (TERUS MEMEGANGI TANGAN KANANN YANG BERONTAK) Saya kira tidak ada jalan lain. (MENGGULUNG LENGAN BAJU KIRI) Lihat. saya setuju aku tidak boleh cepat terpancing. Masak Dokter tidak percaya. Saya tahu bagi professional dan professor seperti Dokter yang sudah banyak pengalaman. Yak! Saya paham. Maksudnya? BERDIRI. Apa? Tangan kanan ini bukan tangan kiri. Karena itu saya datang ke mari. aku tidak terburu nafsu. mengapa aku harus rileks. Aku serius Dokter. memang dia tidak akan mungkin bertindak serampangan (MENGENGUK) O ya? Dokter khawatir ini hanya sekedar pancingan. Tidak suka membantah. AKHIRNYA . ini hanya tattoo kecantikan bukan tanda aku pernah masuk penjara. TANGAN KIRI CEPAT MEMBANTU MELINDUN GI ANWAR DENGAN MEMEGANG TANGAN KANAN . Itu bukan karakterku. karena itu aku datang ke mari. Jangan takut. renungkan apa yang hendak dilakukan sebelum bertindak. Kalau tidak sakit. Tapi terus-terang saja. DOKTER PERGI. Yang kanan ini yang keterlaluan. (MENCOPOT SEMUA HIASAN DI TANGAN KANANNYA DAN MEMINDAHKAN KE TANGAN KIRI) Aku terpaksa melepaskan semua asesoris ini. O. saya dengar dokter sudah memotong ribuan tangan orang. (MENOLEH) Faktor-faktor sampingan? Faktor sampingan apa? Memang saya belum terlalu yakin apa dia betul nekat menganut idiologi berbeda. yang kiri ini tidak apa-apa Dokter. cari penyakit aja! (MEMPERHATIKAN DAN MERABA-RABA TANGAN KANANNYA YANG MEMAKAI BEBERPA CINCIN DAN JAM TANGAN) Apa boleh buat. Dia tidak pernah membantah. Aku tidak mengerti. Saya akan rileks. Anteng. Sorry. TERTEGUN.MAU MEMBUKA BAJU. Silakan istitrahat dulu. Aku sudah mencoba menghilangkan tapi belum bersih betul. Saya harus berpikit sejenak. Saya akan coba tenang. TIBA-TIBA TANGAN KANAN YANG SUDAH DILUCUITI ITU MENAMPAR DAN MEMUKUL. Banyak tingkah. Saya sudah membaca. silakan saja. Ya. LALU MENGULURKAN TANGAN KIRINYA. kalau ya. kanan. buat apa ke mari.

Dia kan hanya tangan. Rasain! (MAU MEMUKUL SEKALI LAGI TAPI DICEGAH DOKTER) Oke. tangan kiri itu diam-diam menutup mata saya. itu kebiasaan. oke. ya. oke Dokter. Itu milik saya! Ya kan tangan ini mau dipotong! Jam dan cincinnya saya pindah ke mari. Bagaimana mungkin. itu cukup m asuk akal. jangan salah! Yang nyeleweng yang kanan bukan yang kiri! Dokter! (TERKEJUT) Stttt? Kenapa Stttt? (TERBELALAK) Politik? Politik bagaimana? (MEMPERHATIKAN DENGAN SEKSAMA) Masak bisa begitu Dokter? Itu namanya jungkir balik. kelihatannya saja tangan kanan yang salah. Ajaib. ANWAR BINGUNG. lho kenapa diikat Dokter? Yang jahat yang kanan! (MENOLEH DAN TERKEJUT) Ya Tuhan. pelaksana saja. menjadi. LALU M EMUKULNYA KERAS. biar dia punya desiplin sedikit. TANGAN KANAN BEBAS DAN MENGAMBIL TALI. dia akan menganggap saya hanya kurang tegas. .MENGINJAKNYA DENGAN KAKI BARU TANGAN ITU DIAM) Bangsat! (MENOLEH KE DOKTER) Kenapa Dokter? Potong saja cepat! Ah? Ada sesuatu yang lain pada tangan ini? Ya memang. Sandiwara. ya. sebab cincin dan jam tangannya sudah saya copot. Lho. Saya tidak percaya. otaknya tangan kiri? O ya? Jadi tangan kiri merasa rendah diri karena ada tattoo. DIA CEPAT MENGIKATNYA LEBIH KUAT BAHKAN MENENDANG DAN MAU MENGINJAKNYA. TIBA-TIBA DOKTER MEMBERANGUS TANGAN KIRI ITU. Dan dia juga iri karena tangan kanan pakai jam tangan dan cincin kawin berlian? Aduh keterlaluan! Lalu dia mencoba melakukan sabotase? Ah? Jadi sementara tangan kanan saya menulis. (MENUNJUKKAN TANGAN KIRINYA YANG BERISI CINCIN DAN JAM) Bahkan jadi lebih keren kalau di pakaikan di tangan kiri. Kalau tidak meludah sedikit. Dokter mau memotong tangan kiri saya? Tunggu! Tunggu. Nggak kepikiran betul itu!. menjadi apa yang biasa yang tulis? Babi? Ya! Itu yang biasa saya tulis: babi! Kalau mau menuliskan nama saya selalu menulis: Babi! BERPIKIR DAN MULAI MARAH O jadi begitu? Kurangajar. ( TANGAN KIRI BERGERAK SEDIKIT) Hee diam lhu! Mau lagi ya?!! Oke. LALU IKUT MENGIKAT TANGAN KIRI KE KURSI. sekarang bagaimana? Kita potong saja? Jangan? (MENDENGARKAN) Terus? Apa? Saya harus menulis? Menulis? Menulis apa? Di mana? O di situ? (MENUNJUK PAPAN/KERTAS YANG BIASA DISIAPKAN KALAU ADA MEETING) Menulis apa? MENDEKAT DAN MENGAMBIL CUPIDOL BESAR.Sialan juga! TANGAN KIRI BERONTAK. lalu apa? Lalu menggosok tulisan itu menjadi. saya ini yang Bos! Ngerti kagak. lhu! (MELUDAH) KETAWA Maaf Dokter. kamu!. tapi sebetulnya biang keroknya. saya cuma gertak sambal Dokter.

Saya bingung Dokter. Dokter akan menguji untukmembuktikan bahwa tangan kanan saya akan bisa bekerja normal kembali menuliskan namaku dengan betul. Ini tidak gampang Dokter. Saya takut gagal lagi. KELIHATAN SANGAT SULIT. Aku tahu Dokter mau meyakinkan bahwa aku bisa membaca atau tidak. TANGAN KANAN JUGA SIAP UNTUK MENULIS. Aku harus menulis apa? O ya! Namaku! Oke! DIA MENDEKATI TEMPAT MENULIS. saya mengerti. Saya bisa. Tunggu. AKHIRNYA IA MEMENANGKAN JUGA PERTARUNGAN ITU. SETELAH LAMA BERJUANG AKHIRNYA DIA BERHASIL MENULISKAN NAMANYA DENGAN HURUP KAPITAL DAN BESAR DENGAN BAGUS SERTA JELAS DIBACA: ANWAR SETELAH MENULISKAN NAMAN YA YANG TAMPAK MENGHABISKAN SELURUH TENAGANYA. Saya tidak bisa dipaksa Dokter. Tapi saya tidak bisa. MATANYA MELOTOT. Ini negara merdeka kan? Demokrasi lagi. Sebentar saja. aku akan baca. Begitu kan? Saya tahu maksud Dokter. DAN SETELAH MENJALANI PROSES GEMETAR. Bukan. Maksud saya. Untuk menenangkan pikiran saya harus jalan-jalan seidikit. (DENGAN GELAGAPAN MENCARI . (BERPIKIR) BERJALAN-JALAN DAN MENYERET KURSI YANG MENGIMKAT TANGAN KIRINYA. Tapi sebentar. LALU MENULISKAN NAMANYA. URAT-URATNYA TEGANG.. mana kacamataku. supaya tidak berbuntut panjang lagi. Aku akan selesaikan di sini secara jantan. LALU MENGHIRUP NAFAS PANJANG. Jadi bagaimana Dok? (MENDENGARKAN) Aku berhasil atau tidak? Apa? Aku harus membacanya? Dokter menyuruh aku membaca.Menulis nama saya? Nama saya? (BERPIKIR) O. Aku mau baca sekarang. (BERBALIK MEMANDANG KE TULISANNYA SENDIRI) Oke. NGEDEN DAN HAMPITR KALAH. kalau saja tidak ada gangguan ini. IA MELURUSKAN KAKI UNTUK RILEKS AGAR MEMPEROLEH KETENANGAN. apa Dokter buta huruf? KETAWA Baik. Ya saya mengerti. Biarkan saya tenang dulu. Saya hanya. saya khawatir. IA DUDUK DAN MENGHAPUS PELUHNYA YANG BERCUCURAN. Bukan.. Saya bukan buta huruf. Saya tidak bisa dipaksa. Tunggu dulu. IA MEMANDANG DOKTER. Tunggu. SETELAH MEMEJAM MATA. Oke. Dokter. BICARA SOPAN DAN SANGAT TENANG. Jadi setelah mengikat tangan kiri yang biasa melakukan sabotase itu. Yak! Aku sidap! Aku akan tulis sekarang. Saya tidak berani melihat ada kegagalan lagi. Saya sudah hampir ngambis S2. DIA BERJUANG. Makanya diam dulu! Kasih saya waktu! BERJUANG SEPERTI MENCOBA MEMENANGKAN PERTEMPURAN YANG TERJADI DI DALAM DIRINYA. Tapi (BERPIKIR) TANGAN KIRINYA BERGERAK-GERAK. oke.

Sabar. (MENGELUARKAN HP DAN MENYOROKAN KE TULISAN ITU. Oke. Boleh buka jen delanya sedikit? Oke. 9 Desember 1979 . Jakarta. SETELAH KETEMU MENCOBA MEMBERSIHKANNYA LEBIH DAHULU) Tenang Dokter. tenang. MENGERAHKAN SELURUH TENAGANYA UNTUK MEMBACA LALU BERTERIAK: Babi! LAMPU PADAM. TAPI NAMPAKN YA SUKAR SEKALI. cukup. (MEMASANG KACCA MATA) BERDIRI DI DEPAN TULISAN DAN MEMBACA. Sabar. aku akan baca. Aku akan baca.KACAMATANYA. TAPI NAMPAKNYA MASIH SULIT) Sabar Dokter. Tunggu Dokter! Aku perlu penerangan sedikit.

Saya bertahan. Atmosfirnya begitu menggoda. tubuh saya berontak. Saya menjerit untuk menutupi rasa pedih itu. Di dalam kamar saya tertindih oleh pikiran-pikiran tentang kemerdekaan. tetapi ia selalu kembali. Sesuatu yang masih asing karena saya mencium bau yang belum pernah saya hirup sebelumnya. Sebagai sebuah disket yang salah format. waktu bangun tidur. Saraf-saraf dan kelenjar gairat saya terangsang. Rasa itu tidak kelihatan.RASA monolog Putu Wijaya Pada suatu pagi saya terbangun dan tidak lagi merasa diri saya orang Asia. kaki saya terus melangkah dan jari telunjuk saya hampir saja menarik picu senjata. tepat ke arah kepala saya sendiri. Lalu saya gebrak pintu dan meloncat keluar siap menembak. Lebih menyerang dan lebih merangsang. Mata dan rambut saya masih hitam. Tapi kemudian jari-jari tangan. seluruh bagian tubuh saya tercabut dan ditelan dinding ruang yang buas itu. Tetapi baru saya coba menjajaki. Pakaian saya tercabik sampai saya telanjang bulat. . seperti bumerang. Bukan main sakitnya. saya sampai ke pintu yang lain. Rasa itu bisa tercerabut dan mengalir ke mana saja menerobos jarak. Saya adalah sebuah pasar hidup dari produk teknologi dan industri alam pikiran liberal dengan semangat individualisme yang membuat saya benci kepada keluarga dan semangat gotongroyong dalam masyarakat. Tetapi di depan pintu ternyata terbentang ruang yang lain. Senjata terlepas dari tangan dan tubuh saya tertarik dari segala arah. Bentuk saya pun sudah lain. tiba-tiba saya ingin bersatu tubuh dengannya. kesetaraan dan kemanusiaan yang diagungkan di seluruh dunia. Sekarang saya bukan lagi hanya kehilangan identitas Asia. Perasaan saya. tapi saya sudah terkontaminasi. ternyata masih ada yang tersisa. Tetapi satu hal yang menakjubkan. Hidup adalah sebuah peperangan dan itu mungkin dimulai dari depan pintu. kulit coklat dan tulang pipi menonjol. telinga. waktu dan segala hukum. keadilan. karena masa depan tidak semestinya hanya ditentukan oleh masa lalu. Saya sudah menjadi sesuatu yang baru dan sekaligus juga virus. Walau saya tekadkan untuk berhenti beberapa saat. Nama saya menjadi beban. Saya sudah memilih yang lain. kebenaran. Ia tidak lagi berada di bawah kekuasaan saya. karena saya tetap harus membela diri kalau diserang oleh lingkungan. Bukan yang biasa saya kenal. Kemudian bulu-bulu badan saya tercabut dari tubuh. Saya terpesona. Dengan ragu-ragu saya keluar dari kamar sambil membawa senjata. oleh saudara-saudara bahkan oleh anak-istri yang tak kenal karenanya tak bisa menerima kehadiran saya lagi. tetapi seluruh pembaruan yang terjadi. karena saya mengkonsumsi dan dihiasi dengan asesoris yang tak lagi berasal dari lingkungan alam sendiri. lengan. Terseret oleh kekuatan yang di luar kekuasaan saya. saya mengalami erosi dan abrasi. tidak memiliki volume. karena citra saya tidak sanggup mengangkat simbol-simbol dalam bunyi itu. Ruang itu lebih dahsyat dari yang sebelumnya. tetapi kadang terasa sangat bertentangan dengan cita-cita adat dan tradisi Asia. hidung. Pintu yang perlahan-lahan terbuka ketika tubuh saya mencoba menerobosnya. Dari seluruh dindingnya keluar tenaga yang seperti menghisap seluruh tubuh saya. kaki. Untuk itu saya masih memiliki hak untuk melawan dan akan saya pergunakan. tidak berwarna. saya bangkrut atas seluruh kehadiran saya. Pintu yang menghantarkan saya keluar tetapi sekaligus ke dalam ruang yang lain.

bukan agama. tetapi sebuah konsep sebagaimana juga Afrika. Saya orang Indonesia. sepatu kets dan referensi berpikir Barat? Sekali kamu lahir sebagai orang Asia. Australia dan Antartika. Amerika. karena saya lahir di Bali dari keluarga Bali. bukan idiologi.Dengan rasa itulah saya menyaksikan ratusan. bisiknya. bukan ras. tulang pipi menonjol. bukan paham. hidung pesek. Tapi saya percaya setiap rasa akan tetap rasa dan akan menjadi lebih rasa karena pertemuan ini. tapi saya sudah dalam pikiran orang lain. Hari ini dengan seluruh rasa itulah kita bertemu. bukan teritorial. aku selalu berdiri di belakangmu. topeng siapa pun yang kamu mainkan. Asia adalah sebuah fenomena rasa. berdiri Asia. Apa pun yang kamu lakukan. Entah tapa yang akan terjadi. bukan hanya kekuatan moral dan politik. Di depan saya. kamu sudah terkutuk sebagai Asia. Ini kekalahan terbesar Asia yang tak boleh lagi diulangi. tepatnya di belakang saya. ribuan. Tetapi begitu berbalik. Mata sipit dan kulit sawo matang. tetapi apakah saya Bali? Wajah saya bulat. Saya sudah tersesat ke dalam rencana orang lain. berjuta-juta bahkan milyardan pintu menunggu di depan dalam era globalisasi. aku tetap di belakangmu. saya kembali terpesona. kata Asia yang tibatiba masuk ke lubuk hati. Pulang dan bertahan adalah jalan terakhir yang terbaik. Eropa. Apa pun yang kamu lakukan. Saya berbalik dan bergegas hendak kembali. tetapi jean. Aku bukan bangsa. Berhakkah saya menyebut diri saya Indonesia? Apakah saya sudah menjadi orang asing setelah saya tidak lagi memakai kain sarung. Lalu saya peluk rasa yang sekarang menjadi nyawa saya. Jakarta 2004 . Saya takjub lalu yakin bahwa saya sedang memasuki alam pikiran orang lain.

MENGHAMPIRI SATU ORANG. Sudah digulung lagi. SEHINGGA KELIHATAN YANG MATI DIBUNGKUS KAIN KAFAN DI DALAMNYA. Aku memang diberikan kesempatan hidup lagi. MULA-MULA TANGANNYA. MAYAT ITU BERGERAK PERLAHAN-LAHAN SEPERTI ORANG BANGUN TIDUR. Ini bukan mimpi. Barangkali aku belum waktunya menghadap Dia. Aku tidak jadi mati. BARU NGEH IA SUDAH DIPERSIAPKAN UNTUK DIKUBUR. SEMUA ORANG-ORANG MEJAUH. Tidak. . TIDAK ADA YANG MENJAWAB. TIBA-TIBA DIA DUDUK MASIH DALAM PETI :LALU MELIHAT KE SEKITANYA DENGAN TAKJUB. 15 Agustus 1980. Kalian tidak percaya? KELUAR DARI PETI. YANG MATI ITU TERKEJUT. Sekarang aku dikembalikan kepada kalian lagi. Jkt 18 Maret 2010) SEBUAH PETI MATI. KEMUDIAN KEPALANYA MUNCUL MENDENGARKAN LAGU ITU. Diperlukan waktu supaya kalian percaya keajaiban ini. Diracik jadi drama GERR dimainkan di TIM pada tahun yang sama. Jangan. Kalian dengar? MEMANDANG KE SEMUA ORANG. TETAPI HANYA RANGKANYA. BIMA. Aku dikembalikan pada kalian. Tolong dibawakan di beberapa kampus di Amerika. LALU BANYAK ORANG.TOLONG monolog Putu Wijaya (Monolog ini berawal dari sebuah cerpen berjudul TOLONG. Ini sungguh-sungguh. Aku tahu. Panas. TERDENGAR SUARA TANGIS ANAK-ANAK. Lihat (MENUNJUKKAN TANGANNYA) Lihat tanganku gemetar karena lapar. ADA SUARA TANGISAN PILU DARI SATU ORANG KEMUDIAN BEBERAPA ORANG. Aku juga lapar sekarang. Aku masih diberikan kesempatan hidup. KEMUDIAN ORANG MENYANYIKAN TEMBANG DUKA. jangan kain kafan begini. Tabir yang tadinya sudah dibuka sekarang dibatalkan. Kasih aku pakaian biasa. Aku tidak mati. LAGU BERHENTI. Darahku sudah berjalan lagi.

Ya. Dengan kesal aku lanjutkan perjalanan. Jadi tidak usah menangis lagi. Apa salahku anak itu nyebrang sampai tanganku patah dan semangatku terbang karena kaget. Aku sadar seratus persen dan waras. kita baru turun dari gunung setelah mencoba liburan bersama berdua saja. Tapi belum sempat berbuat apa-apa. Baik aku mengerti. Ya. Aku bapak anak-anak. meskipun persoalannya sepele. Ini bapakmu. (MENOLEH) Tidak. Aku bersama kamu Isah. (MENARIK NAFAS PANJANG DAN TERTAWA KECIL PEDIH TAPI BAHAGIA. Kau lihat ada cahaya kehidupan. Aku tidak jadi mati. (MENGANGUK-ANGGUK) Nggak tahu! Ini tanda KebesaranNya. Dan aku lapar. Ya. ini rahasia. Dia memukulku. apa yang terjadi tiga hari yang lalu. Lebih baik cepat ambil makanan. Aku hidup lagi. Aku dan Isah sudah tidak cocok lagi. Aku ingat. Apa? (MENDENGARKAN) Ya. Ya Mas. Untuk selama-lamanya. Kembali kepada kalian seperti sebelumnya. . Dia Yang Di Sana yang mengatur. Sama dengan kalian semuanya. KEMBALI KE DEKAT PETI DAN DUDUK DI KERANGKA PETI. Betul. Masalahnya aku ada persoalan. Ya aku selalu meledak-ledak kalau sudah marah. Aku tidak terima. anak muda itu kabur. aku bukan bayangan roh! Tidak ada yang mencoba meninggalkan badanku. Tubuh dan jiwaku masih satu. Aku masih normal. Lihat darahku sudah mengalir lagi. Tiba-tiba ada lagi anak kecil begitu saja nyebrang jalan. Jangan takut! Aku bukan roh gentayangan. Aku dipulangkan lagi.Percayalah! SENYUM. Apa salahku kena pukul di depan kamu Isah. Maksudku dia merasa sudah tidak bisa lagi mendampingiku sebagai teman hidup. Aku Bima Nek Aku Bima Bu. Betul. Kenapa aku terus jadi sasaran? Aku meledak. IA MEMBEBASKAN DIRINYA DARI KAIN KAFAN YANG MEMBUNGKUS. Maksudku dia. ORANG-ORANG KETAKUTAN. Ya. TAPI YANG MENYAKSIKAN PINGSAN) TERKEJUT. kami memang sudah merencanakan akan bercerai. Ini terlalu panjang ceritanya. Coba tatap mataku. Jantungku berdetak. Aku bukan hantu. aku juga. Lalu semua itu terjadi. Ada orang muda yang marah-marah karena kena serempet. sampai waktu yang ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Jangan takut. apa yang Dia Kehendaki terjadi. BERGERAK. Aku Bima. Betul! Sungguh mati! Apa? Buktinya? BINGUNG. Aku masih segar bugar.. Pikiran dan perasaanku masih utuh. terlalu sulit buat kalian. Pak! Aku Bima Isah. sampai aku kaget. aku lapar. MENGHADAP KE TEMPAT LAIN. Aku tidak bisa lagi menahan perasaan. tapi mungkin kalian sudah tahu juga.

Betul Nek. Bu. Terus-terang perasaanku kacau Isah mikirin anak-anak yang masih kecil. Aku tahu bercerai itu tidak baik. Meskipun dokter bilang sudah mati. Tapi untuk apa perceraian dibenarkan. Aku dikirim lagi pulang untuk merawat anak-anak. Jangan menangis lagi! Nanti kita nonton sirkus lagi seperti dulu. Aku yakin semuanya sudah berusaha menyelamatkan. Jadi setiap ada kesempatan marah aku meledak. Jelek-jelek begini. Beli ketoprak (MENOLEH) KEPADA SEMUA . melaksanakannya sulit. Ya? Begitu? KETAWA PEDIH Mungkin tidak. Tiga hari tiga malam aku dengar semuanya menangis. kalau Yang Di Atas situ punya rencana lain. Sekarang jantungku sudah berdetak lagi. Tiap hari perang mulut. Bapak pulang anak-anak. Betul sekali. Tapi ngomong memang enak. MELIHAT KE ISAH. kalau tidak ada gunanya. MELIHAT KE BAPAKNYA Ya tak usah kaget.MENAHAN PERASAAN. Ya. tapi kamu tidak dapat apa-apa. Mungkin masih ada yang harus saya selesaikan. mobil bekas dan tabungan tipis. Bukan cuma saya yang bisa hidup setelah mati. Saya hidup kembali. atau baru nyahok sebenarnya jelek-jelek aku ini suamimu dan kamu masih sayang. jadi panggilanNya ditunda dulu sementara. Jadi bercerai itu jalan keluar kalau sudah mentok. Tidak bernafas lagi berarti memang mati. Apa kamu menangis karena malu kalau tidak menangis. Terutama buat aku yang akan ditinggal. Kamu menangis mungkin karena merasa rugi tujuh tahun melayani aku dan melahirkan tiga orang anak. Atau mungkin sudah tahu. siapa bisa menghalangi. anak dan tetangga akhirnya akan tahu. Waktu itulah jantungku berhenti. Tapi kemudian dokter menetapkan aku sudah mati. Bagaimana nanti mereka. suamimu sepukul dua pukul bisa cari nafkah. Termasuk kamu juga Isah. Pak. Rumah hanya BTN. Mungkin kamu menangis karena sekarang baru kebayang bagaimana susahnya nanti menghidupi tiga orang anak tanpa suami. KEPADA NENEK. apa harus dibagi? Apa perasaan bisa dibagi? Yang paling gampang adalah marah. Meskipun ditutup-tutupi. Ya akan? MELIHAT KE IBUNYA. Banyak kejadian. Buat apa lagi hidup bersama kalau setiap hari tidak cocok. Aku tahu aku dilarikan ke Rumah Sakit.

ANAK-ANAKLNYA BERONTAK. Aku ini bapaknya. DIA TERKEJUT DAN MELIHAT SEMUANYA. para tetangga sekalian. . Pak Rw. MEMEGANG ANAK-ANAKNYA. Tolong berikan saya makan sekarang. Lho kalian kok diam saja semua? Kenapa kalian? Saya lapar! Saya sakit! Saya minta minum! Airrrr! Bapak! Apa? MENCOBA BANGUN. Baru tiga hari. Aku yang dulu mencuci popoknya! Ya! Aku akan pergi. Perut saya melilit karena kosong. (MEMEGANG PERUT) Maaf saya lapar. Tidak usah minta maaf! Lho Bapak kok menyuruh saya pergi. Aku sudah tahu. Mengganggu bagaimana? Siapa yang mengganggu? Aku lapar! Tidak ada yang harus dimaafkan. Tidak perlu kamu ceritakan. Aku tidak perlu informasi. Apa yang sudah kamu bisikkan kepada mereka. MENGGIGIT. Pergi dengan tenang! Tunggu! Pergi ke mana? Aku tidak pergi ke mana-mana. BIMA TERTEGUN. DIA BERUSAHA BERDIRI. Jelek-jelek begini aku bapaknya. sebab aku belum siap! Ya! Aku mengerti! Aku tidak tolol! Terlalu banyak perbedaan! Tidak ada yang harus dipikirkan lagi. Aku! Tidak. (MENAHAN SAKIT) Aduh. Terimalah saya kembali aktif sebagai warga. tapi jangan ajari mereka melempari aku batu. mereka separuhnya milik bapaknya. DIA BERDIRI TAPI KARENA KESAKITAN TERSANDUNG DAN JATUH KELUAR DARI PETI. Tapi kasih aku waktu.? Pergi ke mana? Ini rumah saya! Bapak ngusir saya? Kenapa? (TERKEJUT) Ibu! IBUNYA PINSAN. Tidak! Tidak bisa! Mereka bukan milik kamu sendiri. ISTRINYA MENGHAMPIRI. Agus! Eko! Ratih! Ini Bapak! Ini Bapak. boleh ambil. KETIKA DIA MAU BERDIRI. Aku mau pulang sekarang! Isah! Isah! MEMEGANG TANGAN ISAH. Aku! Aku akan merelakan. mereka sudah berani melempar aku dengan batu. Memang! Kalau memang itu mau kamu. Isah? Kenapa anak-anak itu tidak kenal aku lagi. Saya haus! Lapar! Tolong airnya! TAK ADA YANG MENOLONG. MENAHAN RASA SAKIT SAMPAI TERJATUH KEMBALI KE DALAM PETI. aku belum mati. TIBA-TIBA DIA MEMELUK SALAH SATU ANAKNYA. ANAK-ANAK YANG LAIN MENARIK SAUDARANYA DAN MELEMPARI. SAMBIL MEMEGANG PERUTNYA DIA MENCOBA BERDIRI. ambil mereka semua. Nanti saya bisa ikut ronda.Maaf saya sudah menyusahkan Pak Rt.

BIMA TERKEJUT. ISAH MENYENTAKKAN TANGAN BIMA. BIMA MAU MENGEJAR TAPI DICEGAH OLEH PACAR ISAH. Tapi bukan ke neraka. Aku tidak ingin mempertahankan apa yang ingin kamu miliki. Tidak perlu! Itu bukan anak kamu. Kenapa orang-prang itu tidak percaya. Apa? Rumahku sudah dijual? Mobil juga sudah ditukar supaya semua lupa sama aku? Uang simpanan sudah dibagikan? Anak-anak mau dibawa pindah ke rumah si Koko? Cukup! Diammmmmm! Bangsat! MASUK KE DALAM PETI DAN MENGOBRAK_ABRIK PETI.. Ibu. Itu urusan kalian. Maaf? Maaf telek! Pergiiiii! MENGAMBIL BATU DAN HENDAK MELEMPAR. nggak usah ngomong.. SEMAKIN MARAH. Aku masih hidup. aku hanya mempertahankan kehormatanku sebagai suami yang kau hina. terus kami tinggalkan. BIMA MELUDAH. buktikan. TAPI KEMUDIAN IBUNYA DATANG. aku terhina sebagai laki-laki kalau sampai anak-anakku makan tahi tangan kamu. kamu goda dia. Bersumpah di depan Isah saja. Koko! (SANGAT MARAH) Jangan panggil aku Mas! Tidak perlu minta maaf! Tidak ada yang harus dimaafkan! Nggak usah! Tidak perlu bersumpah apa-apa di depanku. Terserah! Itu bukan urusanku! Kalau kamu betul-betul cinta sama dia. kamu tiduri dia tidap malam. Kalian semua terlalu! Kalian sudah preteli sebelum aku betul-betul masuk kubur! Kalian tidak . DIA TIDAK JADI MENGEJAR ISAH. Pergi anjinggg! TAPI KOKO TIDAK PERGI. tai kucing. Dalam tujuh tahun apa kamu bisa lebih membahagiakan dia dari aku. Aku tidak jadi mati. Cinta tulus. Apa mereka semua sudah dibeli oleh Koko bajingan itu? Tidak? Lalu kenapa? Apa? Aku akan tuntut semua ini. DIA MENATAP KOKO DENGAN MATA MENYALA. Aku. terserah. Aku tidak mati Ibu. kamu pelet. Kenapa mereka lebih percaya kepada Koko? Apa salahku? Apa kekuranganku? Aku kan selalu baik dan menlong mereka. O ya aku pasti! Pasti!! Aku akan pergi tanpa kamu minta. Kamu salah sangka. kamu cinta. aku akan seret dia ke pengadilan! BIMA TERCENGANG. KEDUANYA SALING MENATAP. Dengerin.Aku belum selesai bicara. HATINYA LULUH. Aku akan jadi saksi bagaimana kamu menipu keluargaku! Bajingan! MENDEKAT. LALU LARI. Itu masih darahku. MENGHAMBURHAMBURKAN ISI PETI. MEMUKUL-MUKUL PETI.

Aku mau rebut kembali semua! Istriku! Anakku! Tabunganku! Mobilku! Rumahku! Hak-hakku! Semua! Mana!!!! MELEMPARKAN PETI KEPADA SEMUA ORANG. MUNDUR. DENGAN SENJATA-SENJATA MEREKA MENGEPUNG. TOLONG! Tolong! Tolonggg!!!!! TERIAKAN BIMA MAKIN SAYUP.bisa sabar sedikit menunggu perasaan-perasaanku lenyap dari sini. Tolong! Tolong! Tolonggggggg! BIMA MENCOBA MELAWAn TAPI DIA TERIS DIGEBUKI. ORANG-ORANG MEMUKULI BIMA.MAKIN SAYUP. ORANG_ORANG TERUS MEMBURUNYA. DIA MELONCAT DAN LARI KELUAR. BIMA TERUS BERLARI. Tolong! Tolong! Tolonggggg! AKHIRNYA BIMA SEMPAT MELEPASKAN DIRI. BIMA MENCOBA BERLINDUNG DI DALAM PETI. Kalian rendah semua! Tidak! Aku tidak terima! MENGANGKAT PETI. DAN AKHIRNYA JATUH. TERDENGAR TERIAKAN BIMA DI LUAR. SEMUANYA MALAH MENDEKAT. SMEUA MENGEJAR. 1980 . DAN HILANG. TAPI KEMUDIAN TIBA-TIBA BIMA BERLARI LAGI MASUK. KARENA ORANG-ORANG ITU TIDAK TAKUT. Tolongggggggggggg! Jakarta 15 Agustus. BIMA MUNDUR. Tolong! Tolongg! Tolonggggg!. SEMUA TERUS MEMUKULI. Minggir! Minggir! MENGANGKAT PETI SEKALI LAGI. TAPI BEBERAPA SAAT KEMUDIAN TIBA-TIBA TERDENGAR TERIAKAN LANTANG DAN KERAS. Tolong! Tolong! Tolong!!!!!! TERIAKAN BIMA MAKIN SAYUP. TAPI KEMUDIAnN DIA TERKEJUT.

HADIAH PERNIKAHAN PERAK monolog Putu Wijaya Untuk merayakan ulang tahun pernikahan perak. Heran kenapa mereka kalah dan takjub kenapa aku yang berhasil menggondol kamu. Sejak pertokoan dibuka. Jadi aku tidak jadi membeli apa-apa. rasakan saja niat baik di dalamnya. Tidak punya kans. semua kelihatan jelek. lebih bagus dari niat yang tulus yang ada di dalam hati. mungkin itu semua sudah tertulis di dalam skenario bahwa tak ada hadiah yang cukup bagus. Aku orang kecil dari dusun yang terlalu biasa. Karena takut menyesal. Memang bener aku pernah berniat untuk pakai jalan belakang. Tapi setelah makan sangat enak. tidak punya warisan. mereka minta Mercy Sport. penghargaanku kepadamu. apa hadiah yang tepat. Dengan uang ini. Atau meraup duit jadi markus. Kartuku kartu mati. Lalu aku memutuskan. dari yang biasa sampai yang teraneh. sudah lama aku jadi caleg. Tak mungkinlah. aku menenangkan pikiranku dengan makan enak. Karena semua barang-barang yang dipajang di situ dari yang paling murah sampai yang paling mahal. aku bingung. karena kamu memilihku. Tapi sabuk apa? Kalau kata punya. jadi kaget. Mereka semua terpukau. tanpa harta lewat jasa dukun. Kamu yang membuat aku jadi menang. tapi sampai menjelang malam. Ada yang menduga aku punya sabuk. Tapi modalnya darimana? Dukundukun sekarang mahal. Sebab sebagus-bagus pilihanku. Amplop ini mewakili seluruh rasa hormatku. kamu bisa memilih hadiah apa saja yang paling kamu inginkan. Tapi begitu masuk dengan mengantongi seluruh tabungan selama 10 tahun yang siap dibelanjakan. Tapi begitu mau dibeli. Tampangku juga mirip salah satu anak Semar. Tidak tahu apa yang harus dibeli. Mungkin tidak harus membeli apa-apa. Bagaimana merebut kamu tanpa rupa. tanpa masa depan dan tidak ada yang bisa dibanggakan. Mereka menuduh aku sudah main pelet. Aku bersaing dengan tangan kosong. kalau kamu yang menerima hadiah tidak cocok. Uang di dalam kantong aku bawa pulang kembali tanpa kurang sekepeng pun. Takut salah. tapi terlalu banyak pilihan juga tambah ruwet. Tidak punya trah. tidak ada yang sanggup untuk mewakili perasaan yang ingin aku tumpahkan dengan hadiah itu. semahal-mahal harganya. kenyang dan puas. Di atas kertas aku tidak punya nomor antrean. bagaimana kalau uang ini saja yang aku serahkan. Ketika memikat kamu untuk jadi pacar. Bersaing bebas mestinya aku pasti akan kalah total. pilihan itu belum juga kunjung tiba. Semua barang kelihatannya bagus. Kepalaku dijual juga tidak cukup untuk beli peleknya. Kamu yang membuat tanganku yang . aku bersaing dengan puluhan leaki-laki yang memiliki begitu banyak kelebihan. sehingga puluhan sainganku itu yang tadinya tidak melihatku dengan sebelah mata. Hasrat ingin membeli sesuatu untuk dihadiahkan pada istri. Tidak ada pilihan sudah susah. Tetapi aku menjadi istimewa. Aku jadi terjepit. Jadi terimalah amplop ini. aku sudah masuk. Tidak mau keliru. Jadi. aku pergi ke toko swalayan yang terbesar. aku belum berhasil memilih. akhirnya hadiah akan mubazir. Jangan isinya yang dilihat. tidak ada pekerjaan. tidak usah dihitung.

kita dapat saja uang. Apalagi setelah kita punya anak. aku akan menerima. menemaniku. Keceriaan kamu itu membuat aku sebagai laki-laki tidak tertekan. Dokter kemudian menetapkan akulah yang mandul. Ada orang baru setahun menikah. indah. Melayang-layang di udara. Matamu terus hanya melihat ke depan dengan tabah. Kamu berikan aku dorongan. Tak sekali pun kamu pernah membandingkan aku dengan laki-laki lain. tapi tidak diuber-uber oleh penagih hutang. Kamu seperti garam dalam masakan. Kamu terus saja melangkah di sampingku. Itu membuatku semakin hormat kepadamu. Kamu selalu tabah. Kamulah bukan aku. Ya Tuhan! Tiba-tiba saja kita mendapat karunia. Bahkan kalau aku sampai kelu langkah. Aku berjanji di dalam hati. Aku berserah kepadamu. bahagia dan lengkap. Dan ketika keluargaku juga ikut main gerpol kasak-kasuk kamu mandul sambil mencarikan aku jodoh baru. Kamu punya hak untuk meninggalkan aku. menyayangimu selama-lamanya. yang memberikan rasa sedap. sepuluh tahun. Tidak punya tabungan. Aku hanya laki-laki yang dibuat sejati oleh istri. aku tak sanggup membahagiakan kamu. Matamu yang terus memandang ke depan tidak berkedip tiba-tiba menembus tirai hitam itu. kamu hanya senyum. kalau sudah sampai di rumah karena melihat kamu senyum. aku akan terus kosong. Sejak melahirkan. Hidup kita begitu sederhana. Kamu tak peduli. Bahkan ketika ada yang mau meminjam rahimmu untuk mengandungkan anaknya. Tanpa kamu . bisa makan atau tidak. sebab aku bukan laki-laki sejati. kita lakoni semuanya. pendeknya menjadi teman hidupku. Terombang-ambing dan akhirnya akan dicaplok setan karena tak punya pegangan. sudah cerai. Seorang istri adalah tempat berpegang. Cinta barangkali yang sudah membuat kekosonganku menjadi berarti. Entah bagaimana jalannya. Puluhan tahun kita tinggal di rumah tua ini. Tapi kita. Tapi setelah menjadi istriku. kamu sama sekali tidak tertarik malah memberikan komentar bahwa kamu masih punya iman. meladeniku. Merawatku. dan mempersilakan kamu ingin berbuat apa saja. Aku hanya ingin agar kamu tersenyum. karena tanpa punya apa-apa aku berhasil menggaetmu. akan mencintai. Mereka saling tuduh. lalu jadi mahasiswi seperti sekarang. Tak ada kendaraan. Tanpa kamu. Aku heran. Kamu punya hak untuk tidak peduli kepadaku. membantuku. Aku memikul hutang budi yang tidak terkira. Kamu bikin kosongku jadi berisi. Begitu besar. Itu yang namanya seni. untuk menghadapi semua tantangan dengan sabar. Isi yang kau tumpahkan untuk memenuhi kekosonganku begitu besar. Lama kita tidak punya anak. kamu tenang saja. karena belum punya keturunan. kenapa kamu sama sekali seperti tidak mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Nolten itu. Kamu terima aku dengan seluruh kekuranganku. Tidak ada. Kreativitas. kamu juga tetap ketawa. Apa pun yang kamu lakukan aku hargai. Tidak besar. sampai membesarkan anak. karena sama sekali tidak berdaya. kamu senyum. seperti yang terjadi di manacanegara sana. Makan saja selalu dikerubuti dengan rasa cemas setiap hari. Ada. Kita dipercaya untuk memiliki momongan yang nanti pada tanggal 20 April berulang tahun ke-14.kosong itu jadi berisi. kamulah yang kemudian membuat mereka kagum. kapan. Aku menangis waktu itu. Itulah yang sudah membuat aku hormat kepadamu. Perasaanku tidak penting. Tapi kita tidak pernah hutang. Lelahku hilang. dengan tetap hati kamu membantu. mendampingiku sebagai istri. menemaniku sebagaimana mestinya. Keluargamu menyindirnyindir kapan. silakan. Tempat laki-laki yang konyol seperti aku punya tujuan.

apalagi mencoba menyeimbangkan. Bahkan yang belum aku lakukan pun sudah kamu pahami. penuh dan berat. menilai. karena uangnya sudah kandas ketika lewat di depan bandar judi gelap. istriku. aku hanya bisa ngomong. Maksudku jalan pintas mau melipatkan duit membalas jasa istri. kalau suka bertindak tanpa konsultasi. Tapi tak ada benda yang dijual di pasar swalayan yang cukup untuk mewakili perasaanku itu. Hari ini aku ingin sekali berterimakasih. istriku Kamu tersenyum. kalau toh kado terimakasih yang bobot nya setara dengan jasamu itu benar-benar ada. Kamu adalah sebuah jangkar yang membuat kapal tak hanyur dalam gelombang. Isinya amplop yang lain. bersembunyi di balik kata-kata. sayang. aku tidak jadi memberikan kepadamu. Pemberianmu yang tak ternilai itu memang barangkali kodratnya untuk diterima orang yang lemah seperti suamimu ini. uang di dalam amplop ini pun tidak cukup. amplop yang lain. Itulah resikonya. amplop itu kelihatannya saja besar. Biarlah aku tetap berhutang budi. bersilat lidah. karena kamu mengerti segala-galanya. Jakarta 7 April 2010 . Sementara itu. Itulah hadiahku. tetapi sebenarnya isinya sudah tak ada. amplop yang lain. Kamu tahu. Tanpa kamu aku akan dipermainkan gelombang. kalau aku mencoba untuk melunasi hutang budi pada istri. untuk membeli. memang tidak mungkin dibalas. Lebih terharu lagi perasaanku sekarang. aku tidak perlu mengukur. Aku hanya akan bisa merasakannya dan tidak mungkin membalasnyadengan seimbang. mungkin sekali ada baiknya. Dengan tangan gemetar kubuka amplop itu. Kamu tidak membantah. berterimakasih dan terus terikat kepadamu. Maka lebih baik.aku akan jadi laki-laki yang bimbang. Tapi akibatnya bunuh diri. Jadi. Karena kamu tahu. Jasamu yang tak ternilai itu. Akan menjadi kesalahan dan dosa berikutnya. Apalagi kalau mau dikecilkan artinya dengan amplop yang sangat materiliastis ini. Kamu perempuan sejati.

. Ini amat berbahaya sebab Bapak memimpin kami semua". Tapi sebetulnya Bapak selalu mengikuti tekanan-tekanan dari orang yang berpengaruh. sehingga menjadi mentah. aku tancap lagi. kalau Bapak sendiri tak sanggup mengatasi persoalan-persoalan Bapak sendiri ? Seringkali persoalan rumah-tangga Bapak masuk menjadi persoalan kita semua. Kalau keberanian berarti kesanggupan untuk melaksanakan apa yang digagas. Kelihatannya memang Bapak yang menjadi pemimpin kami di sini. Aku sudah terengah-engah. menyenangkan. Penempatan manusia di dalam kantor ini tidak lagi berdasarkan prestasi. bisa berpura-pura menyokong Bapak. Saya punya alasan mengapa saya tidak suka. Tetapi meskipun dadaku masih sesak. Karena itu aku berangkat menemui majikanku untuk menyampaikan langsung. pasti akan mendapat tempat yang aman. bahwa aku tidak menyukai dia . Kelemahan Bapak dimanfaatkan oleh orang-orang yang pintar menjilat. Dan kalau Bapak sudah tak punya karakter boleh disimpulkan bahwa segala keputusan Bapak juga tidak memiliki kharisma lagi. Bapak tak memiliki prinsip. Bapak tidak bisa memutuskan sesuatu. Semuanya tergantung pada perasaan Bapak saja. maupun terhadap orang lain. "Pak terus-erang saya tidak suka kepada Bapak. Bagaimana Bapak akan memimpin. "Bapak juga sangat lemah. dalam berondongan yang pertama itu. Siapa di antara kami yang bisa memuji . Ini namanya tidak punya karakter. tanpa memberikan kesempatan bicara. Pertama. maka tindakan nyata menjadi amat penting. "Bapak juga penuh dengan hipokrisi. orang yang bapak takuti ". Ada yang sudah sempat Bapak putuskan. Tak memiliki rencana. DIA MELIHAT KE JAM TANGANNYA LALU BERCERITA PADA PENONTON.RAJA monolog Putu Wijaya BEL TANDA KANTOR MULAI AKTIF BERBUNYI SEORANG PEGAWAI MUNCUL DENGAN PAKAIAN KANTOR LENGKAP DENGAN TASNYA. Bapak menghadapi semuanya dengan kepura-puraan. Semuanya Bapak gantung sehingga terkatung-katung. Baik terhadap wanita. karena saya merasa Bapak ini tidak bisa memimpin. tetapi berdasarkan rasa persahabatan pribadi. tetapi esoknya cepat dilanggar lagi. Ini admnistrasi yang tidak sehat dan boleh dikatakan konyol".

padahal kantor inilah yang memberi kami makan. bahwa Bapak akan berhasil. hanya karena fitnah. ia sudah pucat-pasi. "Sebaiknya Bapak juga meminta maaf kepada kami semua. Sudah. "Saya tahu. Banyak yang lain masuk padahal goblok-goblok."Bapak juga tidak pernah bersungguh-sungguh memikirkan nasib kita semua. Beberapa tahun lewat begitu saja. "Hanya saya. tetapi jalan mereka buntu. karena meereka tidak bisa menjilat. Semua mereka takut kehilangan pekerjaan. Kemudian berikan kepada kami untuk menentukan siapa sebenarnya yang layak menjadi pemimpin. tetap saja malas dan bertambah gendut. Berikan mereka kesempatan sebelum terlambat betul !". ini kurang-ajar. Di kantor ini yang kerja betul. sudah terlalu parah. Kadangkala ia ingin menjawab. Bagi Bapak. tetapi memang pintar menyerpis. Sebaliknya Bapak selalu memberi kesempatan orang-orang yang bodoh untuk menjabati jabatan penting. Saya berani mengambil resiko apa saja. kalau Bapak mau mencova mengakui. Tidak ada jalan lain. Banyak pegawai-pegawai yang pintar. tetapi aku tak memberinyta kesempatan. Saya tahu tidak seorang pegawai pun yang berani berbicara seperti saya. tetapi kepada seluruh keluarga kami yang ikut tersia-sia oleh ulah Bapak". tidak pernah mendapat promosi. Dedikasi kami luar biasa. Bapak hanya memikirkan urusan Bapak sendiri. Bapak sudah menyebabkan kami semua menyia-nyiakan hidup kami selama ini. Bapak yang tidak tepat memimpin kami". Jelas ini tidak adil !" "Coba lihat. Aku tak mau menahan-nahan. lalu dilepaskan. Bapak tidak pernah berhubungan dengan keadaan kita yang nyata. aku cepat menyambar. Sejak awal unek-unekku. Banyak di kantor ini yang bisa memimpin. Direktur itu tercengang. sedangkan yang enak-enak. tenang saja. Bapak berdosa bukan saja kepada kami. Bapak letakkan saja jabatan baik-baik. berbakat. untuk melindungi diri mereka sendiri. terus-terang saja. Buat apa mempertahankan kursi itu. yang tidak peduli semua itu. Bapak boleh tendang saya sekarang. Hidup kami semua melarat. orang-orang yang bisa membebek dan tak berbahaya. kalau-kalau pada akhirnya mereka menendang Bapak. Saya siap. hanya janji-janji kosong. karena kami sudah tertipu untuk berkorban-berkorban terus. kalau sudah jelas tidak ada jaminan sampai kapan pun. Bapak boleh pecat saya sekarang. Kini ia benar-benar seperti terbakar. Ini juga sebagian dosa. Tetapi masih ada setengahnya lagi yang harus segera dikeluarkan. serahkan kepada kami yang lebih punya wawasan. Setengah unek-unekku sudah tumpah. Hanya karena mereka kaku. Kita harus berani membongkar dan mengakui bahwa semua ini sebetulknya berasal dari kesalahan kecil. . diperas sampai mati. Tapi hasilnya nol besar. karena saya punya bukti. Mereka semua hanya tersenyum dan memuji. karena itu Bapak tidak pernah mendapat input yang sebetulnya. Tetapi ketika ia seperti hendak menggerakkan mulutnya. dan sama sekali bukan perusahaan ini". Aku menarik nafas panjang. Relakan saja. Atau barangkali karena Bapak takut mempromosikan mereka. kantor ini hanya sebagian kecil urusan Bapak. Mila ini. Ini benar-benar tidak sehat !" "Saya minta supaya Bapak mundur saja. Bapak beristirahat saja. Mereka telah memasang filter di seluruh kantor ini. Siapa yang paling punya potensi membawa perusahaan ini ke puncak. "Banyak pegawai-pegawai kelas satu.

Kemudian setelah menarik nafas panjang aku memandang dia kembali dengan kaku. Semuanya sudah dimuntahkan. . tetapi dadaku sebenarnya sudah bertambah kempes. Setelah ia bisa menyelesaikan itu dalam dirinya. lalu ia mengambil map dari laci mejanya dan melihat-lihat. tegang. padahal mereka tidak tahu apa-apa. Aku tertegun. Silakan!". meskipun mukanya kelihatan bengkak. memandangi map itu dengan tegang. Betul ! Dan silakan kalau Bapak mau memecat saya. Ia berusaha menenangkan dirinya dan menunggu apa lagi yang akan aku katakan. tidak. merah padam. Gaji saya dari dulu sampai sekarang tetap saja. Saya tidak bisa terima semua yang tidak adil. kemudian ia berbalik dan mengulurkan map itu. Akhirnya aku hanya diam saja. apa buktinya. sebab saya sudah bicara demi Tuhan dengan sejujur-jujurnya !" Aku menggerakkan mulutku lagi. silakan ambil. Mereka semua hanya cucunguk yang mengandalkan orang-orang seperti saya. tapi Bapak harus berani melihat kenyataan. Jangan orang-orang yang main politik. jangan hanya mereka yang di atas yang ditarik yang diundang yang dihormati. Hati saya sudah senang. Bapak boleh sakit hati. menjadi berkuasa. bukan. Kami juga ikut memiliki perusahaan ini. Ini benar-benar di luar perhitungan akal sehat. semua diangkat satu per satu menjadi kepala. Bahkan saya sering memakai uang saya sendiri untuk membantu diri saya supaya bisa bekerja dengan baik di sini. Tidak terlalu lama. "Ya ini. Tapi Bos lama membatu. Setelah itu ia berbalik membelakangiku dan menulis. Saya tak bisa hidup dengan pekerjaan ini. semua orang menyembah. Saya tidak pernah mendapat perhatian. Kalau salah. Berikan perhatian kepada kami orang kecil. Lihat saja. "Saya bekerja di sini bertahun-tahun tanpa janji. anak bandel ini. "Ini". Sementara orang-orang lain. Aku mati langkah. Mala. Saya hanya minta perlakuan yang lebih baik. Kalau tidak ada kami perusahaan ini juga tidak akan jadi apa-apa. Aku memang masih berusaha untuk menembakkan peluruku yang terakhir . Saya tidak terima. karena semua ini nyata. Namun masih ada peluru-peluru terakhir di situ. Ia berusaha untuk menguasai dirinya.karena saya bicara atas kebenaran. Setelah itu ia meraih megaphone dan mencoba menanyakan sesuatu. tetapi sudah kehabisan kata-kata. menjadi tangan kanan. Perusahan ini akan lumpuh tanpa kami !" Bosku itu gemetar. . Ini sama sekali tidak Bapak ketahui. Mala harus bicara dengan apa adanya. kaku. Kasihan !" "Saya tidak minta apa-apa. ini betul atau tidak. Tidak ada yang berani mengatakan sesuatu dengan jujur. semua orang takut. Tapi itu semua tidak ada yang memperhatikan. Kalau betul. Aku makin terengah-engah. fakta. walaupun itu akan berakibat fatal". "Saya tidak terima ini. menunggu apa yang akan dikatakannya. Ini informasi pertama yang paling jujur yang Bapak terima selama ini. Hargai orang yang sudah bekerja.

mengutuk. "Bukan ini yang saya harapkan Pak. masih ada manusia yang punya perasaan waras. Dadaku seperti mau meletus. "Baik. mengangguk memberikan hormat. Sekarang saya tahu. Tidak ada yang berani bicara seperti ini kecuali saya. Saya bukan menantang untuk dipecat. guna melakukan study banding di berbagai perusahaan terkenal Disertai sebuah cek bernilai satu milyar yang boleh aku pakai untuk mengurus semua keperluan selama perjalanan. Terimakasih Pak". saya menerima baik semua ini bersama keluarga saya. "Jadi bagaimana ?" Aku keluarkan map. kamu hebat dong !" Aku menggeleng. Aku berdiri. Saya tidak mau menjilat. "Jailah! Wah. Saya bicara dengan hati-nurani saya mewakili kebenaran. Rekanrekanku yang sejak tadi menunggu di luar ruangan. Ada surat perintah kerja untuk keliling dunia. Orang itu tidak bisa diperbaiki lagi. Dia raja". Aku tak menjawab. karena semua orang takut. untuk membuktikan bahwa di kantor ini masih ada kejujuran. dia bukan seorang pemimpin. lalu pergi ke luar ruangan dengan sempoyongan.Suaraku gemetar dan kering. Mereka semua sudah tahu. Saya terima semua ini dengan ikhlas. "Aku akan minta berhenti. saya puas. kita tidak akan maju. Bapak jangan keliru. Dari lubuk hati yang paling dalam. Tidak semua orang di sini takut dan menjilat!" Aku perhatikan sekali lagi isi mapa itu. termasuk biaya yang harus dikeluarkan untuk keperluan pribadi dan keluarga. Tanganku gemetar. wah. wah. menyumpah-nyumpah di belakang. Semua orang ternganga. Aku beberkan isinya. tapi saya kira kalau begini terus. "Kamu dipecat ?" Aku menggeleng. saya benar-benar ikut bekerja dan membina perusahaan ini. . "Kamu dipecat ?"tanya mereka cemas. langsung menyerbu. Harus ada orang yang berani bicara dengan jujur kepada Bapak. karena aku sudah berbulan-bulan menggerutu. Lalu dengan hati-hati kumasukkan map itu ke dalam tasku.

Apa gunanya aku jadi pahlawan?! BEL TANDA KANTOR BUBAR. LAMPU PADAM Ithaca. menaburi setiap kepala mereka. lalu melemparkan kepingan surat perintah kerja dan cek itu.Lalu aku robek surat dan cek itu sampai berkeping-keping di depan mata mereka semuanya. TAPI KEMUDIAN MASUK LAGI. seperti yang sudah dilakukan para pemimpin zaman sekarang. PERGI KELUAR. . Supaya mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri. Sampai di rumah aku baru menyesal. aku berjuang tidak untuk kepentinganku. Lalu aku meloncat turun. Aku naik ke atas meja. tapi untuk memperbaiki nasib mereka. mengambil semua barang-barangku dan pulang. 11 Maret 1987.

telor dan sekalian ayamnya. Pak Budiman. Mula-mula aku tak peduli. Ada juga yan melaporkan ada tai anjing di atas meja.tetapi binatang itu tak terjangkau.ESTAFET monolog Putu Wijaya Anjing yang biasa kulempari makanan di bawah tiang listrik. bahkan tape. menggigit orang. semuanya putus-asa. Tak akan kurang dari satu hari untuk memindahkan semuanya. Ia masuk ke bawah tumpukan kayu. masak harus bersaing dengan anjing !" . Mereka berkumpul di sekitar tumpukan kayu. satu kali beranak bisa tiga-empat ekor. memandang dan mengibaskan ekornya. Semua orang jadi kesal. aku kemudian selalu membawa sedikit sisa makanan. Tetapi ketika dicoba.sambil mencaci-maki. Tapi entah bagaimana mulainya. membuka kaca jendela dan melempari anjing itu sisa-sisa sarapan. Ada yang mengusulkan untuk memindahkan kayu-kayu itu. Lalu muncul cerita-cerita yang mengobarkan kebencian. Ternyata Ali hampir setiap minggu kehilangan daging. Setiap orang memegang alat pemukul. Dan ini bukan dosanya yang pertama kali. karena alasan-alasan pribadi. "Bunuh saja daripada selalu ngerusuhi. ia mesti menunggu di bawah tiang listrik di depan pasar."Kalau dibiarkan terus dia nanti malah beranak. Satu hari lagi untuk mengembalikan ke tempatnya semula. Orang-orang berusaha melempar-lempar dan menyodoknya dengan galah.mungkin membawa rabies !"kata Pak Mantri membawa linggis. Namun kebencian orang tak lenyap karena terhalang. Satu balok saja memerlukan tiga orang. tulang-tulang atau apa saja. Bayangkan saja. Setahun lagi.setiap pagi mobilnya selalu basah. karena dikencingi. Warga lain menemukan tai anjing di sudut rumah. Jadi bagaimana mungkin aku melihatnya terbunuh ? Aku bersyukur ia tak berhasil ditangkap. kalau hendak ke kantor. Ali. di depan pasar. Aku kenal anjing itu. pemilik warung mekehilangan ikan asin. Kegiatan itu seperti bagian dari upacara berangkat ke kantor.ikan yang sedang hendak digoreng tiba-tiba lenyap. Bahkan seseorang selalu mencium bau anjing di tempat tidurnya. tukang daging juga sudah sampai pada puncak kesabarannya karena dagangannya sering dicuri. ah semua mengangap itu tolol. Hampir setahun aku selalu melambatkan mobil di depan pasar. Seorang anak mengatakan anjing itu kalau sudah malam meraung memanggil setan. Binatang itu tersengal-sengal kehabisan nafas karena dikejar-kejar keamanan pasar. kampung ini penuh dengan anjing. padahal dulu ia sendiri meminta anjing itu diampuni. Dari beberapa ibu rumah tangga ada pengaduan. ketika pertama kali menggigit warga. baru satu balok. Aku sendiri tak menyetujui pembunuhan itu. hanya untuk seekor anjing. Kita saja susah cari makan. Ada juga yang menembak-nembak dengan senapan angin. Seisi pasar naik pitam karena yang jadi korban putera Pak Gun dermawan yang selalu menyokong kegiatankampung. tempe. Pemilik mobil yang biasa parkir depan pasar mengadu. Tak seorang pun berhasil menyuruhnya keluar. untung tak berhasil. nafsu membunuh mereka malah makin menggebu-gebu. Setiap kali lewat pagi-pagi untuk berangkat ke kantor.

seorang anak mencoba diam-diam masuk ke bawah tumpukan kayu. Di situ. Ia tak ngomong apa-apa. Kemudian datang anakku. mobil kujalankan lambat.Celakanya lagi. Ia tidak suka pada semua binatang. Anakku menyerahkan buntalan kecil. Bayangkan. Orang-orang mencoba menolong.sebelum aku sempat berpikir. Aku yakin suasana kantor tak akan pernah lagi damai. tapi sulit keluar. Aku tak bisa mendengar suara itu sendirian.Mulutnya terbuka. Sambil tertawa kutolak. Tiba-tiba aku terkejut. makin marah orang-orang itu. binatang itu tak menyerah. itu suara lolong anjing itu. Pagi itu aku berangkat ke kantor dengan pikiran kusut.Tetapi tiba-tiba entah kenapa. Kubangunkan suamiku. Kepala anak itu berdarah. Perselisihan semacam itu amat menyakitkan. Seharian. Dengan pikiran teler aku jalankan mobil milik perusahaan. Tetapi hanya sebentar sekali. Ia tidak suka pada anjing. apa yang akan aku perbuat seandainya aku yang terkepung mau dibunuh ? Tengah malam aku terjaga. ia menjerit-jerit karena anjing itu mengeram. Anakku bengong. Aku ngeri karena tak dapat menolak khayalanku sendiri. kemudian cepat-cepat pergi dipanggil teman-temannya yang biasa sama-sama ke sekolah.s emuanya menunggu sambil menggertak-gertak agar anjing itu keluar. Orang banyak menganggap itu bagian dosa anjing. Ia meratap putus asa. Semua orang setuju. ia bisa menyelusup masuk. kata kepala bagian pengembangan perusahaan dalam rapat yang terakhir. karena sibuk mengikuti acara film tv.Aku ceritakan anjing itu akan dibunuh karena sudah mengigit. berganti-ganti. Malam-malam. ia ketakutan mendengar ratapan anjing itu. Tapi bagaimana caranya? Di rumah. Darahku tersirap. Akhirnya hanya aku yang termangu-mangu. Setiap pagi. Jam menunjukkan pukul delapan seperempat.Terpaksa aku mendengar sendirian.yang mungkin tak lama lagi harus aku lepaskan.sisa-sisa sarapannya. . Ada perselisihan dalam organisasi. seluruh orang-orang di pasar serentak maju . ia selalu urun menyumbang. serta matanya berkilat-kilat penuh persahabatan.Semua orang makin mantap untuk membunuh. Dan seperti tak sadar. Hampir satu jam baru bisa. Salah satu di antara kami harus keluar. kami mulai tak akur setelah berhasil. Namun sampai malam. . seperti ada yang menangis. aku sebut-sebut anjing itu pada suamiku. Pagi hari di meja makan. hanya suaranya saja mengerang-ngerang seperti minta tolong. pikiranku penuh dengan soal-soal kantor. Lalu menjelaskan bahwa sejak hari itu tak usah ada bungkusan untuk anjing lagi . Anehnya makin sedih lolongannya. kadang-kadang bagian terbaik sarapannya direlakan untuk anjing itu. seakan-akan aku sendiri anjing itu. Aku tahu ia tidak setuju. karena sudah terbiasa. Di depan pasar. aku menoleh ke kanan sambil membuka kaca jendela. anjing itu sudah menunggu.yang menyebabkan aku memecah persahabatan dengan seorang kolega yang sebenarnya sudah aku anggap saudara . Persis di tempat biasanya. dengan pikiran masih di dalam konflik kantor. karena api sudah mulai menyala. Tiba-tiba aku terkejut. "Bunuh saja sekarang !"teriak bapak anak itu.Tetapi baru satu meter. Ia menggapai-gapai putus asa seperti maut sudah meraihnya. atau minta ampun. Tetapi suamiku marah-marah. Ketika aku perhatikan.lidahnya terjulur.Kami bekerja bersama-sama seperti tangan kiri dan tangan kanan. Tetapi ia tak peduli. Aku ajak ia mendengar. karena ia ingin tidur enak. Lalu berhenti di samping tiang listrik. Tak seorang pun yang akan menolongnya lagi. memanggil. hanya meletakan bungkusan itu di mobil.

lalu perlahan-lahan menjalankan mobil ke kantor. Tiga ekor anjing lain sudah menunggu di situ. Otomatis hampir saja tanganku hendak merogoh bungkusan makanan yang biasa ada di bawah kaki. Anak-anak masih tetap melempar-lempar meskipun binatang itu sudah tidak berkutik lagi. Lalu menoleh. di tempat biasa berhenti. Aku bengong. Lalu kutolak sambil menjelaskan itu tak perlu lagi. tak sadar aku menginjak rem. Esok paginya. Mati seketika di depan mataku . Untung temanteman sekolahnya berteriak memanggil. di depan tiang listrik.dengan bermacam-macam senjata dan membetot anjing itu. Anakku bengong memandangku seperti hendak memprotes.Pebruari Ithaca. Dan sepatuku menyentuh bungkusan sisa makanan yang diletakkan anakku. Tetapi tak lama kemudian.waktu hendak berangkat. karena binatang itu sudah mati.tanpa sempat mengeluarkan suara. Astaga. Madison. Aku amat terharu. ketika selesai sarapan.12 Mei 1987 . anakku menyerahkan bungkusan urunan sebagaimana biasanya. Aku hanya gedek-gedek. Sekarang seluruh pikiranku sama sekali tak ada di kantor lagi. dasar anak kecil.

semuanya fakta. Ada suara yang menggeledek. Hidup menjadi indah. Pikirannya tidak ketinggalan jaman. “Aku bapaknya! Aku sudah membiayai dia sejak orok! Suruh mereka keluar. Mobil. Mau tak percaya. Belum pernah kulihat sulapan sedahsyat itu.” Bangsat! Aku benci mesin. Untuk orang sebaik kau. kekuasaan. Ting. Mengamuk sambil berteriak. kehormatan. layak permintaanmu dikabulkan. halloooo. Berdiri paling depan sebagai ujung tombak dunia!” Tidak ada jawaban. beres. “Maaf. Semua anak-anakku makmur. Tidak sempoyongan dikepot resesi dunia. keluar. duit. Tapi begitu aku bangun. silakan meninggalkan pesan sesudah bunyi berikut ini. permintaanku terkabul. Aku penasaran. Ingin membantah. Baru pertama kali dalam hidup aku kelenger oleh realita yang lebih asyik dari mimpi. apa Bapak sudah ada janji?” Jani? Janji apaan! Gila! Memangnya aku siapa? Kembali aku mengamuk. Tetapi di pintu depan rumahnya. halllo. Waktu itu aku setuju untuk bersyukur. Sandang-pangan-papan berlimpah ruah. menyembah dan cium kakiku. yang menjawab semua hanya mesin. Hallo. halooooooo! Tetapi sama saja. harus aku hajar mereka bagaimana menghormati orang tua. Kami sedang tidak ada di tempat. Ting. kedudukan.IL U S I monolog Putu Wijaya Aku bermimpi. Aku mau bicara dengan manusia. Karena begitu aku mencoba menelpun anak-anakku. Kontan aku samperin rumah anak-anak itu. Aku ingin anak-anakku semuanya makmur dan maju. “Atas permintaan pelanggan. kau orang baik. untuk sementara nomor ini tak bisa dihubungi. Aku gamparin kepalanya yang jadi kegedean mentang-mentang sudah makmur dan maju! . Apa yang paling kau inginkan di dalam kehidupan yang sudah carut-marut ini?” Tanpa pikir panjang aku menjawab. segala fasilitan yang dirindukan. Makan-minum berkelimpahan. Sebelum jadi kebiasaan. Kucoba menggapai mereka lewat HP. Apa saja yang diinginkan tersedia. Terimakasih Tuhan! Tetapi itu tidak lama. Silakan meninggalkan pesan di kotak suara. Aku tidak ingin berhubungan dengan mesin. jelas sekali pesannya: “Bung. satpam mencegatku. Aku takjub. kok nyata. “Maaf. “Hah! Itu yang aku inginkan? Pucuk dicinta ulam tiba. sesudah bunyi berikut ini.” Sialan! Tensi darahku langsung meluap.

Aku juga tidak kepingin menunggu jawaban. Jadikan anak-anakku menjadi manusia yang berbudi! Manusia yang menghormati kedudukan orang tua!” Suara geledek itu tidak menjawab. Luar biasa! Ternyata semua kuncinya pada kemauan. bermoral. Aku telah melakukan kesalahan besar. punya karakter manusia Timur! Berbudi. berjuang untuk keluarga. kembali tidur. keberadaan dan suara generasi tua. Semua di rumah. Dan betul. bersedia melakukan apa saja sesuai dengan kehendak orang tua. Bahkan mati pun mereka bersedia. Kemakmuran dan kemajuan lenyap. tahu?! Kalau tidak dia jadi kere semua di bawah jembatan!” Tetapi yang datang kemudian petugas keamanan yang lain. Aku sumpahi anak-anak yang sudah sesat itu. kalau begitu!. sebagaimana yang aku harapkan. Semua siap mengangguk dan mengucapkan: ya. tidak boleh dua paket sekaligus!” “Kok pelit ?!” “Memang aturannya begitu! Kalau tidak mau. Generasi muda menghargai jasa. Mereka semua duduk anteng di beranda rumah. Tapi kenapa aku mau! Anjing! Aku jadi edan. Apa yang lebih membahagiakan kita para orang tua sepuh dari. begitu mendusin kembali. mengaku orang tua Bos?!. Bung. Tidak ada yang sedang bertugas. tidak ada paksaan kok. Makin maju kok makin brengsek. Tapi di belakang aku yakin dia nggerundel: masak lelaki manula segembel ini. “Tuhan. Tai kebo semua itu! Aku hanya mau anak-anakku tetap berkepribadian. dihargai! Keluargaku telah kembali kompak. Menyadari kekeliruan yang fatal itu. berganti dengan kebaikan hati. Kalau ada kemauan. ya atas apa saja yantg aku katakan. “Ralat apa Bung?” “Aku tidak butuh kemakmuran yang tanpa budi! Itu eror! Kekayaan harus komplit! Moril dan materiil harus seimbang! Itu mutlak!” “Tapi permintaannya hanya boleh satu. Aku tidak perlu kemakmuran dan kemajuan. Setiap saat mereka siap. Tidak ada yang berkilah sakit. Itu kan dahsyat! Ini yang namanya bahagia. hak. Begitu masuk ke dalam mimpi aku berkoar. Maksudku diseret pulang secara halus. ya. Disembelih pun mereka akan manut-manut .” “Tunggu! Tunggu! Oke. pasti ada jalan. Dijamin tidak ada yang akan mengucapkan tidak. nyahok tata-krama dan tepo sliro. semoga segala yang baik terjadi. Tidak ada yang tidak mungkin buat orang yang bertekad berjuang. semuanya terkabul. Aku meloncat saja kembali ke alam sadar tempatku berdoa. Kita tidak minta dihormati yang penting daulat kita sebagai manusia.Panggil cepat! Kemakmuran ini berkat doa-doaku. Segalanya bisa terjadi asal kita hajati. aku buru-buru meloncat. dibujuk dengan sopan. baik-budi. Lalu aku diantar pulang. Tidak ada yang pura-pura ngacir rapat. Mangan ora mangan pokoke kumpul!. Putra-putriku kembali miskin tapi menjadi santun. Pastilah itu penipuan atau orang gila. Jelas permintaanku sudah cacad. Kemakmuran dan kemajuan ternyata tidak satu paket dengan budi pekerti. ya . walau pun itu bertentangan dengan kemauannya sendiri. pikir mereka. menunggu orang tuanya keluar memberikan perintah-perintah harian. bahwa kita dihormati. hormat pada orang tua. Aku ditenteramkan. interupsi! Interupsi! Ada ralat!” Suara geledek itu mendehem lembut.

Mereka hanya tembok. Gedobrak! . istriku tersenyum. Ketawa mereka berkepanjangan.” Ya Tuhan. tetapi kebahagiaan! Dan dengar! Aku hanya bisa bahagia kalau istriku tersenyum dan anakku-anakku tertawa! Aku ulangi: aku hanya bisa bahagia kalau istriku tersenyum dan anak-anakku tertawa. getol dan pantang menyerah selalu akan berhasil! Lihat di beranda. tertawa yang penuh. Tunggu! Gila! Senyum mereka tidak kunjung henti. “Kenapa. Dan semuanya kembali terkabul. Tetapi. Lihat orang yang sabar. “Tuhan Yang Maha Esa! Jangan salah! Kembalikan anak-anakku semuanya seperti semula! Komplit! Balikkan! Tidak perlu makmur. kenapa mata mereka tidak bercahaya?” Kenapa muka mereka tidak bersinar? Tak ada yang menjawab. bukan kehormatan. istri dan anak-anakku menjadi gila. Angka tiga adalah angka terakhir. sesak nafas dan tak berkutik. Senyuman yang ikhlas. mesin. menyapa. Aku terpaksa menjawab diriku sendiri. bukan tanda-tanda jasa. Senyum dan ketawa yang berkelimpahan bukan cirri bahagia tapi tanda-tanda ketidakwarasan alias terganggu. tidak perlu maju! Tidak perlu baik! Jadikan mereka apa adanya saja! Kurangajar juga tidak apa apa asal jangan mampus!” Suara geledek itu menjawab. bukan kedudukan. la. Mereka hanya abdi dari keluarga dan orang tuanya. yang terakhir. nomor dan abdi! Bulu kudukku meremang. titelo. Tuhan Maha pengasih dan Penyaytang. Dunia sudah kiamat! Aku tidak kuat! Tolong! Tolong! Di situ aku benar-benar terbangun. ini permintaanmu yang ketiga. menjadi kenyataan. aku langsung meloncat kembali ke alam nyata. aku meloncat kembali ke tempat tidur. Permintaanku yang ketiga. Pikirkan matang-matang apa yang kau inginkan!” “Tidak usah mikir lagi! Aku sudah hapal apa yang aku mau. “Bung.lu para tetrangga menyapa! Itu!” Karena takut akan ditolak. Tetapi tiba-tiba aku terperanjat. Anak-anak semua tertawa. tetapi tunggu dulu. menyapa sampai aku terkepung. bukan kemulyaan yang kita kejar di dunia. Kau tidak bisa meralat lagi. Naluriku merinding. Tidak lagi memiliki perasaan dan opini. “Wah kalau begitu sama dengan mati?” “Lebih dari mati!” “Maksudnya?” “Mereka adalah bangkai hidup. Kembalikan lagi anak-anakku seperti semula! Bukan harta. Ya Tuhan. mengintip ke beranda. robot. aku berteriak histeris. aduhhhhh. “Sebab mereka tidak lagi memiliki jiwa dan kehendak. Ada yang salah. ampun! Akibat permintaanku. lalu langsung menggugat. “Tidakkkkk! Ini kacau! Bukan ini maksudku!” Secepat kilat. Mana ada orang bahagia kalau anak-istrinya gila? Belum lagi para tetangga yang tak berhenti menyapa. Aku terperanjat.saja. Gelagapan aku bangkit dari tempatr tidur.

Bengong dan merasa bego. ia menatapku sambil mundur lalu lari keluar. “Mimpi buruk lagi Pak?” Aku mengangguk. Aku terkejut lalu berteriak: “Jangan senyum!!!!!” Istriku terperanjat. Apa sebenarnya yang sudah terjadi? Istriku menghampiri sambil menyapa. Melihat aku tidur memakai mantel musim dingin. Ya! “Makanya jangan suka nonton film setan!” lanjut istriku sambil tersenyum. oleh-oleh kawannya yang baru pulang dari luar negeri. “Taksuuuuu! Bapakmu kesurupan!” Anakku langsung masuk ke kamar.Keringat bercucuran di sekujur tubuh. dia tertawa terbahak-bahak. Ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha “Diammm!!!!!!! Jangan ketawaaaaaaa! Diammmmm!!!” Jakarta 9-01-10 . Kepalaku pusing.

Kredit kan? Karena itulah kami mulai mencoba apa saja ihktiar yang lain. Hujan pun tak bisa dianggap teman lagi. Tak jelas siapa yang sebenarnya bertanggung jawab terhadap perubahan itu. kaki kuat. mudah tersenyum dan kelihatannya sedikit bodoh. Pasalnya begini. Di hidung kami mulai ada gangguan kalau menghirup bau orang orang lain yang lebih berduit. sedangkan orang lain pada punya milik ? Ada yang istrinya sudah empat. Dapat dipercaya. Siang malam kendaraan roda tiga ini kami genjot. entah kenapa tiba tiba kami merasa malang. Kami sudah mencoba untuk berjudi. muka kami membaja akan tetapi tidak menakutkan. kami menyimpulkan. kata Bos menggerundel.BECAK Monolog Putu Wijaya MUNCUL KAMI MENDORONG BECA. Kami memiliki persyaratan yang tepat untuk seorang pekerja kasar. "Ya Tuhan. nasib kami tidak akan berubah. Bos kami tak berani lagi memujikan kami sebagai anak buah teladan. "Ini adalah hal yang wajar karena setiap orang harus berkembang. aku bisa tenteram menjadi pengusaha becak. Kata Bos: "Kalau saja aku punya seratus tukang becak seperti si Amin. kenapa aku tetap miskin sampai sekarang. Padahal sekarang sudah zamannya motor.. tidak mudah kena penyakit. kalau kami terus brtahan natrik. Sejak itulah kami mulai berubah. tidak peduli panas atau hujan. Tidak suka utang. Aku sudah memikirkan untuk memberikan becak itu pada orang lain. Dan barangkali berkat rakhmat Gusti Allah Yang maha Pemurah dan Kuasa Yang lihat segala-galanya dari atas sana. meskipun mula-mula kalah. Malamnya becak jadi mubazir. Sampai sampai kami sendiri tak percaya bisa pegang duit sebanyak itu. Setelah genap 10 tahun menerima nasib sebagai abang becak. . Asyik! Kata orang fantastik. Punya duit 500 sudah bisa pegang kunci. kuping lebih mencorong lalu kami memutar leher kami keliling tigaratus enampuluh derajat. Ia tidak mengenal hari Minggu. Kami tukang becak yang baik. akan tetapi perkembangan itu membuat kamu tidak cocok pada pekerjaanmu lagi. Kaki kami yang kukuh mulai enggan. Keluh kami kalau pikiran lagi ngelantur. tapi suatu kali kami berhasil menang banyak. pas. Majikan kami menganggap lelaki seperti kami ini contoh tukang becak teladan. Napas panjang. Tidak suka mencampuri urusan orang lain. tidak pernah absen. tidak pernah merusakkan becak. 10 tahun melebar ke depan. tidak usah lagi memikirkan sumber lain. Mata kami membuka lebih lebar. Genkot terus. Cahaya matahari yang biasa ramah tiba tiba menggigit. Persoalan kami berhenti narik malam itu ada sebabnya. Kami rajin. Tubuh kami gempal. karena sekarang kamu hanya mau narik siang. masa depanku cerah. Langsung kepala kami jadi pusing. Apa teman teman main gaplek kami ? Apa karena disengat oleh bola liar yang disepak tiba tiba dari sononya ? Apa lantaran usia kami yang sudah semakin tua ? Atau karena jatuh cinta ? Yang pasti. Betul betul langkah kanan. tidak mencoba cari tambahan. Setorannya selalu tepat. Kalaui kami hitung hitung.

Kita boleh bersaing. MEMPERAGAKAN JALANNYA Bos kaget.. Jalannya agak miring sebelah. anggaop ini sebagai imbalan kami bekerja dengan jujur selama 15 tahun ini. Bos jangan marah. hebat kau. Dikiranya itu hanya gertakan. lantas meletakkan uangnya di atas meja. Tapi mengayuh becak dengan perasaan yang berbeda. Kalau capek berhenti. Memang dari rumah sudha tak paspaskan. babak baru bagi seorang buruh kecil yang dengan usahanya banti8ng-tulang selama 15 tahun sekarang mencoba menjadi pemilik. Itu mestinya difoto. Jadi bebas. tolong. Pakai sandal japit lagi. karena kami ingin berwiraswastai. pasrah dan nrimo. Oke Amin. Bangga. jajajn dulu sambil menghirup kopi panas dan mengebulkan asap rokok. Pon. Kami sekarang boleh nggenjot becak dengan bersiul-siul. Rasanya kaki kami narik becak seratus kali lebih ringan dari sebelumnya. Selasa. roh. Tapi kemudian dia mulai menghitung uang yang kami sodorkan itu. Terus-terang. kata kami kepada istri-istri kami. Dahinya berkerut tidak percaya. tidka peduli. Jalau penumpangnya terlalu rewel nawar. maaf. itu normal. Kami merasa punya jiwa. Jadi begitu rupanya rasanya orang punya milik. katanya sambil menepuk-nepuk pundak kami. masa depan. karena di kantong kanan keberatan dompet yang penuh dengan uang. setelah kaget Bos berpikir sebentar. Bos tabah kaget lagi. kami berhenti narik becak bapak. Maaf. Cofcok. Sebab itu sebuah sejarah. Siapa yang tidka marah kalau tukang bevcak teladannya mau berhenti. Kalau dia marah. Plong. tubuh. Bagaimana Bos. ya ditinggal saja. Asal kamu jangan tiba-tiba naikkan harganya. Datangnya kok agak siang. kami kami dalam hati. Begini. Bos. Biarin saja. itu namanya lintah darat. Terhitung mulai hari ini. Esoknya kami kontan bertamu ke rumah Bos. Nah jadi begitu. Bos tambah kaget. Bos mengambil uang itu dan memasukkan ke sakunya. Tanpa banyak cingcong. Lalu kami memngeluarkan dompet kami yang susah dikeluarkan dari kantong akrena penuhnya.Barangkali inilah buah hasil dari orang yang kerja 10 tahun dengan jujur. Maksud kami. Ini baru negara merdeka yang beneran. Baru satu soalnya. Lalu kami berjabatan tangan. boleh? Anehnya. Itu memang resiko kalau orang mau maju. kata Bos sambil tersenyum. kata kami kalem. Mana sepatu kets yang biasa dipakai nggenjot? Begini Bos. Tidak ada lagi perasaan diuber-uber atau ditekan-tekan. Sekarang kita sama-sama pemilik becak. Eh ternyata semuanya tokcer-tolcer saja. istri kami. dunia dan tentu saja beca. kepala. KETAWA PUAS . Padahal kaki yang itu-itu juga. Bawalah becak itu dan kerja baik baik. Bagaimana Bos? Bos manggut manggut sehingga kami deg-degan juga. kami mohon kami diizinkan untuk membeli becak yang bisa kami genjot itu untuk jadi milik kami. Tak bedanya dengan harga pasaran becak. otak. Tapi bersaing dengan jujur ya.

TIDURAN DI JOK BECA SAMBIL NGANGKAT KAKI Jadi alon-alon asal klakon itu. Kalau ada matahari terbit dan terbenam. Kenapa mesti ngoyo. Kalau ada langganan dicatat di sini. Kalau daia datang. Alasannya nampak sombong karena narik becanya sendiri. Untuk apa mengejar gunung yang tidak lari.Sebagai dampak dari semua itu. Rumah Sakit sekarang tidak akan terima kalau kita tidak punya askes. Cukup asal dapat makan. tinggal kontrak lewat HP. bukan ongkang ongkangan. Kalau sudah cape harus istirahat dan kalau segan tidak usah narik demi kesehatan jasmani dan rohani. Sombong? Salah! Itu kan harga diri kami? Apa kami-kami yang miskin dan hanya punya beca ini tidak boleh sombong sedikit? Ini kan bukan sombong. Biasa-biasa saja. hutang sudah menumpuk Istri marah-marah. Habis siapa lagi yang akan ngewongkan kami kalau bukan kami sendiri.. Masak nggenjot 5 Km hanya bayar seperak. Orang kecil seperti kami harus bisa ngewongke dirinya sendiri. Dan rokok pun sudah tidak kuat lagi dibeli. hutan. Coba ini nggenjot sendiri tak bayarin seratus satu kilometer di tanjakan! MENUNGGU PENUMPANG TAPI APES TERUS. Kalau dekat gunung ya hanya tanah tinggi. kalau bikin asap dapur saja sudah Senen-Kamis? MENGELUARKAN HP DAN MEMUTAR LAGU Ini bukan barang mewah. Mariah? Gimana? Lho kok begitu. CEKAKAK-CEKIKIK) TIBA-TIBA MEMATIKAN HP Tapi anehnya. . otomatis rezekinya pun seret. Lho apa salahnya orang punya beca sendiri. kalau sakit siapa yang akan ngurus. NGALOR-NGIDUL. Walhasil kami bekerja dengan rileks. Dikejar pun tidak ada gunanya. kita lantas jemput di stasiun atau di hotel. Tenang. Sebab kalau tidak. LALU BICARA. Ini untuk bekerja. (NGOBROL GAUL. HANYA MENUNGGU DISAPA DENGAN KAKI NAIK KE ATAS SEHINGGA PENUMPANG MALAS MENDEKAT Dalam tempo hanya 1 bulan sejak kami punya beca sendiri. lalu belum-nelum mereka ogah nyamperin. Itu hanya bikin badan cepat rusak dan usia cepet lengser. Anak-anak menangis mau dibelikan jajanan di warung. belum lagi lahar panas kalau meletus. Ya bagaimana mau bikin askes. Ini nama nya kami ngewongake diri sendiri. walau pun alasannya ngurus kesehatan jasmani dan rohani. MENEKAN NOMOR NGONTAK SESEORANG. maska begitu sih …. Jadi hidup lebih realistis. kalau premilik beca mulai malas narik beca sendiri. Santai-santai saja. begitu jalan pikiran kami. karena kami sekarang pemilik beca. langit merah dan burung-burung terbang. ini kan tanda kami punya gengsi. memang maknanya adalah kami harus bisa menjaga kesehatan sendiri. Gua kan sudah minta maaf. Gunung bagusnya dilihat dari jauh. KARENA DIA TIDAK BERUSAHA KERAS UNTUK MENDAPATKAN. kami merasa sudah tidak zamannya lagi kerja setengah mati untuk mengejar setoran.

Sejak itu kami mulai narik beca lagi. karena sudah banyak yang rusak. Amin. tak biarin saja. Beca pun sudah setengah digadaikan. Aku bilang sama teman-teman kamu. Di situ kami mulai berpikir lagi. bannya kempes. Kami cepat dan banyak belajar! Kamu memang tukang beca teladan! TERTAWA Ya kami hanya bisa tertawa. Dan pinjam duit untuk membebaskan lilitan hutang yang nanti dibayar cicil dengan menaikkan setoran. kata Bos akhirnya. dulu waktu belum jadi milik. Masuk bulan kedua terus-terang. ya oleh kami sendiri. remnya tidak makan.terpaksa munggutin puntung-puntung di jalanan. Mau jadi pemilik. kami bangkrut. Baru dua bulan kamu sudah. Lho meskipun beca kok necis rasanya seperti mobil Mercy? Tapi setelah jadi milik. nanti ditabrak truk. Maaf. Tidak mau lagi melihat kenyataan. Untuk apa punya beca kalau rezeki tambah seret? Untuk apa jadi wiraswastawan kalau yang numpuk hanya hutang. Tapi kamu jauh lebih cepat. peleknya bengkok. beca bisa pindah tangan. Mengapa tidak. tapi banyak juga tidka bagusnya. Berpikir dan berpikir lagi. Pemilik kan mestinya menikmati. Sepatu kets kebanggaan yang dihadiahkan oleh Bos ketika jadi tukang beca teladan. Walhasil. itu ada penumpang. kalau rezeki tetap seret. boleh? Bos hanya manggut-manggut. Lalu terpaksa kami minta pertolongan agar diberikan kesempatan untuk menarik becak kembali. Sorry ya! MELONCAT KE SADEL BECAK DAN GENJOT BECAKNYA SAMBIL MEMBUNYIKAN BEL. Sekarang yang jelas-jelas saja. sudah dijual. kami akhirnya berhenti berpikir. Emang jadi pemilik itru enak? Berani taruhan tidak sampai 3 bulan dia akan kembali jual becanya k emari. Back to Bang Becak. Jakarta 1980 . Rajin. sebab membuat rezeki tipis. Bagaimana Bos. kami selalu ngelap beca supaya mengkilap. persis sebagaimana yang sudah aku ramalkan. Ini pelajaran buat kamu Amin. nrimo dan pasrah pada nasibnya.. Pokoknya susah. Bahkan lebih cepat. Akibat kurang diopeni oleh siapa. Jadi lebih baik banting stir kembali. lihat si Amin sudah mulai kurangajar. Meskipun di dalam hati menangis. ulet dan mati matian. balik. dengan terpaksa kami datang lagi ke rumah Bos untuk menjual becak itu kembali. kata Bos. Berpikir memang bagus. Boleh Bos? Kenapa tidak boleh. bempernya peyot nabrak tiang. jadi penunpamngnya seneng. Satu bulan lagi. Tapi berpikir juga menghabiskan waktu. Susahnya lagi. Seperti istri. hasil penjualan beca itu kembali pada Bos tak cukup untuk menutup utang. Habis masak pemilik mesti jadi budak miliknya. KETAWA Hari itu. Tidak bisa narik sambil berpikir. Bahkan kalau konslet bisa hilang ingatan. Dengan harga setengah dari harga pembelian dulu. karena setoran dianikkan dua kali lipat.

tahu-tahu orang tak mendengarnya. Satu ketika ia tidak mengatakan apa-apa. Semua orang menganggap ia untuk pertama kalinya mengatakan ya. Diajak arisan jawabnya tidak. bingung dan frustasi. Aku selalu harus mengatakan ya-ya-ya. karena terlalu banyak bilang tidak. satu ketika dapat kesempatan mengatakan tidak. Tahu-tahu aku mendengar suaraku sendiri seperti meneriakkan: yaaaa Orang yang lain yang selalu juga mengatakan ya-ya-ya. Lalu aku tidak berani lagi mengatakan apa-apa. Aku sakit karena terhimpit. Bisnisku bangkrut. ternyata aku mengatakan ya juga. Setiap hari aku berselisih dengan tetangga karena soal ya dan tidak. Aku kaget. Jebulnya hasilnya betul-betul tidak. Kalau ada orang bilang ya. Aku tetap disangka mengatakan ya. satu ketika dapat kesempatan mengatakan tidak. Hidup buatku tak ramah dan mengancam. tidak. Bahkan dengan anggota keluargaku sendiri. hidupnya dikucilkan masyarakat. dapat serangan jantung dan mati. Tapi ia tetap memilih mengatakan ya. Banyak orang yang tidak bilang tidak dan tidak bilang ya. mereka menganggapnya tak penting. Aku yang selalu mengatakan ya-ya-ya satu ketika dapat kesempatan mengatakan tidak. Tahu-tahu hasilnya. Aku dicap terlalu individualistik. Pucat.YA DAN TIDAK Monolog Putu Wijaya SATU Wajahku seperti Arif yang baru pulang dari luar negeri. atau bilang tidak. Tetapi orang sudah tahu bahwa sebenarnya yang dibilang pasti ya. Ya dan tidak adalah rimba yang ruwet. Aku yang selalu harus mengatakan ya-ya-ya. Betapa tidak. Tukang becak naik pitam hampir membacoknya karena ya dan tidak. . Masyarakat seperti tak punya budaya dan kejam. Ada orang yang mengatakan tidak-tidak-tidak selalu. akuf tak dapat lagi mempercayainya Aku celaka ketika percaya ya itu ya dan tidak itu tidak. Ternyata tak ada yang peduli. Apa saja yang bersifat sosial dan mengeluarkan uang ekstra. Aku dimusuhi banyak orang karena dianggap kurang lentur. Ketika kukatakan tidak. satu ketika dapat kesempatan mengatakan tidak. satu ketika waktu dapat kesempatan mengatakan tidak. karena soal ya dan tidak. aku sempat tak saling menyapa bertahun-tahun. DUA Aku stress dalam lalu-lintas ya-tidak dan tidak-ya yang amburadul tersebut. aku selalu bilang tidak. bahkan bilang tidak-ya atau ya-tidak. Diajak masuk kelompok jawabannya mesti tidak. Aku yang selalu harus mengatakan ya-ya-ya.

Hanya terkumpul sekitar tujuh jawaban ya. Semua orang sebenarnya . itu hanya penghalusan dari perintah. Aku pun sadar. EMPAT Demikianlah aku mulai paham. Tetapi kemudian perlombaan tarik tambang itu berlangsung sukses. meskipun tidak ikut melaksanakannya. lebih banyak. aku dapat pelajaran. nyatanya harus ya. termasuk aku sendiri. aku memilih diam. Ia merasa sudah cukup memberitahukan. Menghindar makin jauh. Tetapi tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. ya dan tidak. tetapi juga penyadaran kembali bahwa kita memiliki kepentingan yang sama. ''Perayaan ini penting sekali untuk menyadarkan kita sebagai sebuah kelompok. Bahwa kita juga memiliki arah yang sama meskipun pekerjaan kita berbeda-beda. Jadi tarik tambang mungkin bisa diartikan menarik tambang di lapangan. TIGA Satu ketika salah seorang tetanggaku . Lalu ia pergi dan mengetuk pintu rumah lainnya. Aku nampak menarik dengan sungguh-sungguh. Setiap detik aku hidup dengan ilmu mengapung. seakanakan akhir pertandingan itu menentukan hidup dan mati. mengetok pintu. tak mempersoalkan ya dan tidak. Aku kebingungan. di beberapa rumah lain tidak. Kita harus mempertimbangkan keduanya.yang akan menarik tambang ada 20 orang. Di atas kertas lomba tarik tambang antar RT itu gagal. Apa pun persoalannya. Karena makin jelas. Keduanya berjajar bersinggungan dalam gradisi yang amat nyelimet. Manfaatnya bukan hanya peringatan. aku akan berusaha untuk tidak menjawab. kalau harus menjawab antara ya dan tidak. Ya kan ?'' Pak RT tak sabar mendengar penjelasan itu. maknanya sama.RT lain -. Aku hidup tiarap sejak matahari terbit sampai tenggelam. Aku berlagak gagu. setiap pertanyaan ternyata bukan pertanyaan. bodoh atau sakit. tidak berseberangan. tak berbeda. Ya atau tidak. Semua warga harus ikut menghayati kesempatan yang hanya datang sekali setahun ini.Lantaran takut. menanyakan apakah aku akan ikut tarik tambang dalam acara menyambut 17 Agustus. tiba-tiba karena gugup aku memberikan uraian. meskipun tidak berarti ia tidak setuju dengan apa yang terjadi.T. tetapi juga bisa menarik tambang di dalam hati. Dari pengalaman itu. Karena toh kalau bilang tidak. Dengan ikut tarik tambang. Setiap pertanyaan ya dan tidak. Setelah dijumlahkan ternyata jumlah jawaban tidak. yang penting bukan jawabannya. juga tak ada soal kalau aku terus hidup mengapung. Bahkan tak ada celaan buat yang diam membisu terkatung-katung antara ya dan tidak. kita mengingatkan kepada diri kita sendiri bahwa kita adalah bagian dari keutuhan. untuk menyembunyikan ya di balik tidak dan tidak di balik bunyi ya. Padahal musuh -. Di beberapa rumah ia mendapat jawaban ya. sehingga pada akhirnya hanya bunyinya yang lain.pengurus R. tetapi alurnya. Di luar dugaan. karena tak mau mati konyol. Orang punya hak untuk bilang ya atau tidak. tak kurang dari 25 orang tampil dari RT-ku. Ada orang yang di dalam batinnya tetap mengikuti semua gerakgerik peringatan itu. Ada orang yang harus bekerja. Bersandiwara. Pokoknya tak mengganggu. melakukan yang lain-lain.

aku selalu menarik paling di depan dan belepotan debu. Dan komunikasi dianggap sudah berlangsung. Dan itu awal dari bahagia. Jawaban ya atau tidak. Karena toh jawaban itu tak ada artinya. Aku adalah wajahmu. meskipun kelihatan bertanya. Ilmu ya-tidak atau tidak-ya. aku tak ingat lagi bilang ya atau tidak. Masyarakat pun menyukainya. Aku jawab asal mangap saja. Langsung saja dijawab. Ah aku mulai mapan. tidak bisa dibendung. asal cepat. kalau mau hidup selamat.bagaimana enaknya waktu sedang bicara. Pokoknya asal kemudian kalau tarik tabang dilangsungkan. Resep satu-satunya yang paling manjur saat ini. TUJUH Kalau ada tetangga datang dan menanyakan apa aku akan ikut tarik tambang. sesuai dengan kebutuhan mulut . Pokoknya kalau ditanya. Sekarang aku hidup sehat. LIMA Hidup bermasyarakat buatku kemudian enteng dan tak serius. aku pun ikut tak muncul di lapangan. Inilah sejatinya seni hidup! Tapi kemudian harus disambungnya lirih: ''tapi jangan menyangka aku menyukainya. Mereka menganggap aku seorang warga yang baik. tetapi terowongan yang menerobos zaman. aku lebih doyan sebaliknya''. Ithaca. kalau bisa memilih. tidak terlalu perlu. Makmur dan terkenal. Belum kelihatan ada jalan lain. Ini bukan sandiwara. Apa yang terjadi sudah harus terjadi. Itu perlu. Santun. Ya atau Tidak. sudah aku kuasai. Aku mulai sabar. Walhasil aku mulai merasa aman. bisa dianggap tak punya perhatian. Karena bagaimana pun. wajah kita. Tak ada pengaruhnya sama sekali di belakang. Semua pertanyaan bisa dijawab dengan: kadang-kadang ya dan kadang-kadang tidak. Itu semua hanya aturan alias basa-basi permainan bersama. Dan perintah yang di-iya-kan tidak mengharuskan orang menuruti. kalau tidak. Aku berubah. Dosa kita bersama. Aku tidak melihat lagi pertentangan antara binis pribadi dengan kewajibanku sebagai warga masyarakat. 22 Mei 1987 . Cukup.kombinasi yang dianggap sudah amat langka. kecuali sebagai catatan bahwa yang diajak bicara sudan mendengar. Seorang pintar yang juga bijaksana .memerintah. rencana sudah dibuat tak akan bisa berubang. Dan kalau seandainya tidak jadi dilaksanakan. Mungkin yang penting adalah kehadirannya sebagai bunyi. ENAM Kini aku kembali berani mempergunakan jawaban ya atau tidak. tidak usah pikir terlalu panjang.

di sini rasanya aman. renungi masa depanmu sebelum terlambat. Lihat. BENCANA ALAM. Aku lebih suka membaca. IA MENGINTAI KELUAR. sudah waktunya kau menatap dunia. SEHINGGA IA MEMUTUSKAN UNTUK MENOLAK LAHIR. Biarkan aku sendirian di sini. Kalau ada orang lain. pelajari. di situ ada anjing. Ayo sempurnakan karunia hidup ini dengan jiwa yang tulus. TEROR. Menjalani takdirmu sebagai ayam. Taman Impian Jaya Ancol atau Kebun Binatang itu buang-buang duit. Lihat di sana juga ada anak-anak nakal. aku tidak suka bergaul. KEGANASAN. Aku tidak suka bersenang-senang. Tidak perlu mengalami bahaya seperti orang lain. Aku tidak mau berbagi.TOK-TOK-TOK monolog Putu Wijaya SEEKOR ANAK AYAM MENGINTAI DUNIA DARI BALIK TELUR INDUKNYA. KEGARANGAN. kamu bisa tersesat dalam gelap. Keluar sekarang? Kenapa? Apa semua ayam harus lahir. tunjukkan padaku kau seorang anak yang baik. SAMAR-SAMAR IA MELIHAT KEJADIAN-KEJADIAN YANG SAMA MASIH BERULANG. Keluar dari telur yang sudah melindungiku selama ini dari segala ancaman? Tidak aku lebih senang di sini. cerdas dan memiliki pikiran yang jernih. ANAK AYAM ITU TERBANGUN. Lagipula di sini banyak . Bangun! Bangun! Jangan malas! Jangan biarkan matahari meninggalkan kamu di belakang. berarti aku harus berbagi. PERANG. Tidak ada yang bisa menjamahku. Mereka akan menginjakku. Keluarlah. Kalau tidak cepat keluar. Kenali. GEDORAN BERTAMBAH SERU. LALU IA CEPAT-CEPAT TIDUR KETIKA MENDENGAR INDUKNYA MENGETUK PINTU TOK TOK TOK Bangun. kucing. burung elang yang siap menyambar kalau aku keluar sekarang. Keluarlah! Dunia sudah menanti! ANAK AYAM ITU MASUK KE DALAM SELIMUT. Bangun! Lihat saudara-saudaramu yang lain sudah berlari-lari di halaman mencari cacing. bangun anakku. Untuk apa ke Dufan atau Disney Land. kalau sudah bisa belajar dari bacaan. Aku tidak perlu hiburan. IA MELIHAT ANCAMAN. Aku tidak mau dijadikan mainan. Aku tidak perlu teman. EPIDEMI DAN SEBAGAINYA DI DUNIA. karena aku tidak mau berkelahi. meskipun sendirian. Bersiaplah mengarungi kehidupan. malam akan datang.

IA MENUNGGU SEBENTAR. IAMENGITIP DARI BALIK SELIMUT DAN MEMASANG KUPINGNYA. Apa salahku? Kenapa yang lain dibawa aku tidak. Manis lagi. Di sini aku sudah betah. Kalau keluar dari sini. TAPI TAK ADA TANDA-TANDA KETUKAN. Dagingku sehat dan segar. menyiram kebun dan membantu ibu di dapur. Aku tidak mau lahir. meskipun yang makan itu anak pejabat atau cucunya konglomerat. IA BERHARAP SUARA KETOKAN ITU AKAN KEDENGARAN LAGI. Bangun tidur aku harus bersihkan rumah. TOK TOK TOK Untuk apa buang-buang waktu jalan-jalan. Apa mereka semua sudah pergi? Pergi ke mana? Masak aku ditinggalkan sendiri di sini. TOK TOK TOK Tidak! ANAK AYAM ITU KEMBALI MELONCAT MASUK KE DALAM SELIMUTNYA. Keluar-keluar semuanya sudah mati. Aku tidak mau dimakan. Ibu! Ibu! Ibuuuuuu! . Berhenti di mana saja aku suka. Aku melihat sinar matahari. TETAPI TERNYATA TIDAK. Untuk apa lagi lahir? TOK TOK TOK Aku lihat ayam-ayam dimasukkan ke dalam kerangkeng dibawa naik truk. TAPI TIDAK ADA SUARA. Tidak ada orang di luar sana. bulu-bulunya gundul semua dicabuti. Lalu masuk ke dalam pabrik. AKHIRNYA IA BANGUN DAN MENGINTIP. Dari sini juga dunia sudah kelihatan. Apa aku tidak disayang? Kenapa aku tidak disayang? Karena aku jelek? Tapi aku ayam sehat yang cantik. Melihat galaksi dan bima sakti. Aku lihat kendaraan berseliweran. Daging ayam dipestakan di restoran. TOK TO TOK Aku lebih suka tidur. Kalau dipanggang sekarang pasti maknyus. Kalau tidur aku bisa terbang ke langit.pekerjaan. TOK TOK TOK Tidak. Mobil-mobil larinya kencang dan semuanya pernah menabrak ayam tanpa pernah dihukum. aku pasti akan celaka. Digantung dijual di pinggir jalan. Lho kok sepi. Kan rumah yang bersih tanda hati kita juga putih. kerlip bintang dan kelap-kelip lampu jalanan. Dalam mimpi aku bisa mengembara ke jagatraya.

!Aku benci kepada kemalasan! Aku benci pada kedengkian! Aku benci pada kemalasan! Aku benci kepada orang yang kerjanya hanya tidur melulu. Puisi yang paling aku sukai adalah puisi tentang bunga: Kupetik bunga dari dalam hatiku Kupersembahkan kepadamu Ibu Bermula aku takut lahir karena dunia Nampak hanya diisi oleh bencana Tapi kini menatap dan memegang Langit biru hamparan padang hijau Aku tahu semua itu hanya ilusi Dunia masih menyisakan keramahan Bagi dia yang tak malas mencari Dunia ini harus diperbaiki Bagi dia yang sudah melihat bahayanya TOK TOK TOK Ayo bangun. bangun. sudah waktunya kau menatap dunia. Lihat langit biru sekali. bangun anakku. Aku hanya bisa membaca puisi. Tidak seperti waktu aku di dalam sana? Ternyata dunia indah ya! Wah. Menari-nari. Keluarlah. Menyanyi juga suara jelek. Tidak. aku tidak malu. angin menggoyangkan pucuk-pucuk lalang. Mereka mengajak aku main. Ada yang goreng ikan asin di situ. Menjalani takdirmu sebagai ayam. Bangun. Burung-burung.TAK ADA JAWABAN Ibuuuuuu! Jangan tinggalkan aku di sini! Apa salahnya aku tidur! Apa salahnya aku tidak mau lahir? Apa salahnya aku tidak mau menderita? Apa salahnya aku benci pada kekerasan. Bersiaplah mengarungi kehidupan. Namaku Cinta! Tapi aku tidak bisa menari. Ada bunga-bunga jambu berguguran. cerdas dan . Karena aku selalu baca buku. capung. waduh apa itu? Aku mencium bau harum. Udaranya segar. Ada anak-anak ayam seperti aku berlari-larian. Aku memang tidak bisa. Lho ini di mana? Kok enak. mereka melambaiku. tunjukkan padaku kau seorang anak yang baik. bangun IA BERUBAH MENJADI INDUK AYAM YANG MEMANGGIL ANAKNYA SUPAYA JANGAN RAGU-RAGU LAHIR MEMASUKI KEHIDUPAN. Aku benci pada diriku sendiri! MEMUKUL-MUKUL DAN TIBA-TIBA TELUR ITU PECAH. IA LAHIR.

pelajari. Bangun! Lihat saudara-saudaramu yang lain sudah berlari-lari di halaman mencari rahasia-rahasia kehidupan TOK TOK TOK BERJALAN MENGETUK-NGETUK PINTU TELUR-TELUR YANG SEHARUSNYA SUDAH MENETAS Bangun! Bangun! Bangun! Jakarta 11 April 10 . kamu bisa tersesat dalam gelap. Kalau tidak cepat keluar.memiliki pikiran yang jernih. Kenali. malam akan datang. Keluarlah! Dunia sudah menanti TOK TOK TOK Bangun! Bangun! Jangan malas! Jangan biarkan matahari meninggalkan kamu di belakang. renungi masa depanmu sebelum terlambat. Ayo sempurnakan karunia hidup ini dengan jiwa yang tulus.

Dengan begitu.” Pada saat yang sama Ibu juga menghampiri suaminya dan berbisik. Ibu sudah menumbuhkan kepercayaan diri pada Pak Amat. Menyayanginya. Tidak semua lelaki itu kuat. Banyak di antaranya yang lemah. Ibu benar-benar sudah menunjukkan bagaimana seorang Ibu yang berkepribadian Timur seharusnya bersikap di dalam keluarga. Itulah yang ingin saya sampaikan kepada semua perempuan Indonesia. Jangan hanya menerima kekurangannya. berusaha dan awas terus di dalam kehidupan. anak tetap tertawa di dalam rumah. agar dia bisa menjadi laki-laki sejati. Namun pelihara api asmaramu tetap menyala. Namun ada satu permintaan yang ingin saya sampaikan. “Terimakasih Pak Amat. Mula-mula terima. Ibu dengan bijaksana. Bu Amat. menghormati. sehingga kebanggaannya sebagai kepala rumah tangga tidak berkurang. sehingga dia tetap merasa dirinya berguna. asal sudah berusaha secara maksimal. jangan segan-segan bertindak dan menegurnya secara keras. menjaga perasaan suami Ibu. Kalau perlu. hanya menghasilkan sebuah rumah yang sederhana dan kehidupan yang tidak bisa dikatakan mewah. Bahkan begitu lemahnya. bahkan memanjakannya. juga jalan teman hidupmu yang telah kau pilih sebagai teman hidupmu selama-lamanya. Lelaki tidak seharusnya merasa dirinya . Di saat ia sakit. Bagusnya lagi adalah kendati maksimal yang ia bisa lakukan. kata Ibu. Ibu juga tidak pernah membanding-bandingkan sumai Ibvu dengan suami-suami yang lebih sukses. jangan dikurangi hanya karena merasa sudah tua. Kalah dan gagal pun tak jadi apa. sehingga pernikahan buat dia adalah mencari teman hidup. Bahkan di saat ia menjadi begitu brengsek. Jadikanlah dirimu cahaya yang tidak hanya menerangi jalan kaummu. Dan ibu sudah melakukannya dengan baik sekali. Di saat ia merasa dirinya lemah. Ibu cepat-cepat menyadarkannya kembali untuk bekerja. Jangan berhenti mendorongnya untuk terus meningkatkan diri. tetapi Ibu selalu menerima dan menghargainya. untuk menolongnya tegak. Ia seperti sebatang pohon merambat yang memerlukan penyangga untuk berkembang. sungguh indah. Sikap Bapak dalam memperlakukan istri mau pun putri Bapak. bahkan agung. dengan penuh kasih saying merawatnya. bahkan sering mengutamakannya dengan mengenyampingan perasaan Bapak. sungguh mulia. tingkatkan dan arahkan. Tetapi begitu Pak Amat mulai menemukan kembali dirinya. Sehingga walau pun Amat tak sanggup memberikan keluarga segala yang diharapkan oleh keluarga dari seorang kepala rumah tangga. Usaha Bapak untuk membuat istri selalu bisa senyum. Itu sangat baik. Terimakasih banyak atas semua yang sudah Bu Amat perbuat kepada suami ibu serta putri Ibu selama ini. Ibu tak pernah mengurangi kasih sayang Ibu. tetapi kemudian tolong tumbuhkan. mampu serta dicintai. Ibu nampak selalu berusaha untuk menghargai.KARTINI monolog Putu Wijaya Ibu datang ke kamar perempuan yang sudah ibu-ibu itu dan menyapa: “Selamat malam. dengan selalu menghargai dan menghormati pendapatnya. tetapi dia sudah mampu bertahan dan mengembangkan dirinya secara maksimal.

Bukan Ibu menyuruh putrid-putri Indonesia memakai pakaian menirukan Ibu. Bukan sanggul atau gelungan Ibu yang hendak Ibu wariskan. Terhadap putrid Bapak. bergerak sesuai dengan kodrat dan kebutuhan masing-masing pribadinya dengan memperhatikan budaya Timur. mungkin Ibu juga akan memakai apa yang kamu pakai dan berpikir seperti apa yang kamu pikirkan. tetapi isinya. Kamu telah dengan berani bisa menentang Bapak dan Ibu kamu. itu yang tidak baik. kalau bukan anak yang harus memperbaikinya? Tapi kalau mereka benar. Bapak telah memberikan kesempatan seluas-luasnya pada istri dan anak Bapak untuk mengembangkan pikiran dan perasaan mereka. Ibu hidup di masa lalu. Bapak memperlakukan putri Bapak dengan begitu baiknya. ya terus. serta keluarganya. Dan karena kamu anak perempuan. putrinya. Takut akan menyebabkan orang bisa berbohong. putri semata wayang mereka berdua. Bapak tidak peduli. katakan apa yang Bapak inginkan.lebih penting dan lebih bertanggungjawab di dalam keluarga. Dan satu hal yang ingin Ibu sampaikan. Bapak tetap tenang. Bohong dapat menimbulkan perselisihan. Tidak selamanya orang tua itu benar. mereka akan bertambah jauh nanti dan bisa-bisa malah sama sekali tidak mempedulikan Bapak. lebih mengutamakan kepentingan dirinya. Bapak selalu berusaha untuk mengertikan kenapa istri dan putrid Bapak berpendapat lain. Jangan biarkan istri Bapak sibuk dengan dirinya dan putri Bapak merasa bapaknya terlalu tegar sehingga tidak memerlukan bantuan. “Ami. tetapi cara berpikir. Bukan karena tak sayang. Akhirnya Ibu juga menemui Ami. kalau mereka salah. tetapi apa yang menyala di dalam hatinya. Dan kalau mereka membuat kesalahan. sehingga mirip memanjakan. Kalau Ibu hidup di masa kamu hidup sekarang. Bapak juga sudah bersikap adil. Seorang anak memang harusnya begitu. Bahkan ketika istri Bapak tidak pernah lagi membelai-belai pak Amat. Kamulah yang seharusnya membuat rumah menjadi bercahaya.. Bahkan ketika Bu Amat sama sekali tidak mempedulikan apa yang sudah Bapak lakukan untuk keluarga. supaya mereka merasa dirinya berguna. Ami. Bapak selalu mengatakan bahwa bukan apa yang dilakukan istri Bapak yang Bapak nilai. dari perjalanan Ibu di masa lalu yang harus kamu simak. bahwa Bapak memerlukan mereka. Jangan menutup mulut. Perempuan Indonesia berhak bersuara. siapa lagi. seperti waktu masih pacaran. mereka juga tetap . apa yang sudah kamu lakukan bagus sekali. Sebagai seorang anak. orang jadi merasa bahwa memang Pak Amato rang kuat yang tidak memerlukan kasih sayang. tetapi dia juga cahaya rumah. Tapi karena mereka menyangka. Itu tidak boleh terjadi. Kamu bertambah maju. Tapi Bapak tidak. Jadi ke depan. ketika Bu Amat seperti tidak mengacuhkan Bapak. Kalau tidak. Cara mendudukkan permasalahan. Budaya Timur itu apa Ami? Bukan hanya pakaiannya. sesudah kamu menyadarinya. Menghormati tidak berarti harus takut atau bilang ya. Jadi mungkin dengan segala kebaikan Bapak itu. Semoga kamu mengerti apa yang Ibu maksudkan. Dia bukan hanya cahaya hati di hati orang tua. walau pun tugasnya memang berat. kamu menjadi contoh bagaimana menghormati orang tua. Banyak orang merindukan anak lelaki dan kecewa karena hanya punya anak perempyuan. Ibu hanya berharap jangan tampak luarnya. orang tuamu. memang Bapak lebih senang sendiri. keduanya sudah semakinn tua. kamu juga harus dengan ikhlas menyatakan dirimu keliru. Bahkan dalam kesibukannya. Walaupun Bu Amat tiidak pernah atau jarang sekali mengucapkan maaf kalau melakukan kesalahan. Bapak tetap tegar. Nah. Bapak tetap bersabar. Tunjukkan kepada mereka. Di dalam berbeda pendapat. Perempuan Indonesia jangan pernah merasa dirinya lemah dan berserah saja. Ibu benar-benar ingin bicara kepadamu sekarang antara perempuan dengan perempuan. jangan takut untuk memperlihatkan kelemahan.

Benarkah pada setiap orang. Semoga masa depanmu cerah anakku. “Pesannya apa?” Amat terdiam dan berpikir.” Bu Amat. Itulah kepribadian kita. “Ayo pesannya apa. Bicaralah! Tunjukkan gigimu!” Amat. Pak Amat dan Ami. tetapi lebih arif-bijaksana dan lebih luas pandangannya dari generasi yang lebih tua. Sekarang ini bukan zaman Ibu. sebab Ibu sudah ketinggalan zaman. Usia tidak menjadi ukuran kedewasaan. Ibu sudah terlalu memanjakan suamimu Ibu. Hormati mereka!” “O ya?” “Ya! Kalau sama Ibu dia ngomong apa?” Bu Amat berpikir. Ami. ketiga-tiganya sangat kaget dengan pengalaman yang bersamaan itu. Mulai sekarang tingkatkan penghargaanmu. “Ayo terus terang!” “Kartini bilang. tetapi kemampuan mereka tidak lagi selincah kamu. kamu belum benar-benar menghargai istri dan anakmu sebagai perempuan. sekarang adalah era kamu Ami. Kartini berpesan kepadaku: Amat. kalau tidak nanti dia karatan!” Amat terkejut. Bu Amat menoleh suaminya. tapi kenyataannya Raden Ajeng Kartini semalam datang kepadaku dan berpesan!” kata Amat.berusaha untuk maju. Jangan ngarang?” “Oke. tapi kalian jangan terkejut. Pagi esoknya ketika sarapan di meja makan. “Percaya tidak percaya. Ibu berbunyi lain-lain? Manado 13 April 2010 . katanya. “Ami juga disamperin Ibu kita Raden Ajeng Kartini. ketiganya saling mengusut dan mencocokkan. sampai-sampai dia jadi malas dan kurang memperhatikan istri dan anaknya! Sebagai perempuan kamu harus keras pada suamimu. Generasi baru harus bukan hanya lebih berani saja. Bu Amat dan Ami pandang-pandangan. Ibu tidak berani lagi memberikan komentar. aku tidak berani lagi sekarang bicara kepada kamu. Dia dia bilang. “Masak begitu?” Ami tertawa. Jadi kamu jangan tertipu. Usia bukan ukuran kematangan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful