Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN RESMI

Analisa Kromatografi Kertas

Nama Kelompok : 1. Kiki Wulandari 2. Nurul Fatimah 3. Risali Addini

LAPORAN RESMI

I.

JUDUL Kromatografi

II.

SUBJUDUL Kromatografi Kertas

III.

TUJUAN Agar dapat mengetahui pemisahan zat warna alami yang ada dalam sampel (tumbuhan) secara kromatografi kertas.

IV.

DASAR TEORI Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan campuran berdasarkan perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu. Pada kromatografi, komponen-komponennya akan dipisahkan antara dua buah fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal. Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat. Kromatografi pertamakali dikenalkan oleh Michael Tswest yaitu seorang botani dari Rusia. Dia berhasil mencoba memisahkan klorofil dan pigmen pigmen lain dalam ekstrak tumbuhan dengan menggunakan serbuk kalsium karbonat yang diisikan ke dalam kolom kaca dan petroleum eter sebagai pelarut. Proses pemisahan itu diawali dengan menempatkan larutan cuplikan pada permukaan atas kalsium karbonat, kemudian dialirkan pelarut petroleum eter. Hasilnya berupa pita pita berwarna yang terlihat sepanjang kolom sebagai hasil pemisahan komponen komponen dalam ekstrak tumbuhan.

Dari pita pita berwarna tersebut muncul istilah kromatografi, dari kata choram dan graphein. Menurut bahasa yunani kedua kata itu berarti warna dan menulis. Seluruh bentuk kromatografi memiliki fase diam (berupa padatan atau cairan yang didukung pada padatan) dan fase gerak (cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen dari campuran bersama-sama. Komponen-komponen yang berbeda akan bergerak pada laju yang berbeda pula. Kromatografi kertas dapat digunakan terutama untuk kandungan tumbuhan yang mudah larut dalam air, satu keuntungan utama kromatografi kertas adalah kemudahan dan kesederhanaannya pada pelaksanaan pemisahan, yaitu hanya pada lmbaran kertas saring yang berlaku sebagai medium pemisahan dan penyangga. Dalam kromatografi kertas, fase diam adalah kertas serap yang sangat seragam. Fase gerak adalah pelarut atau campuran pelarut yang sesuai. Kromatografi kertas merupakan bentuk kromatografi yang paling sederhana, mudah dan murah. Jenis kromatografi ini banyak di gunakan untuk identifikasi kualitatif maupun analisa kuantitatif.

V.

ALAT DAN BAHAN a. Alat yang Digunakan : 1. Beaker Glass 2. Kertas Saring 3. Pipet Tetes 4. Lumpang & Alu 5. Pensil 6. Penggaris 7. Gunting

b. Bahan yang Digunakan : 1. Tinta Hitam 2. Tinta Biru 3. Tinta Merah 4. Etanol 5. Aquadest 6. Petroleum Eter 7. Sampel dari Tumbuhan (Daun)

VI.

PROSEDUR KERJA 1. Kromatografi dengan pelarut aquades a. Dipotong kertas saring bentuk persegi dengan panjang 10 cm dan lebar 8 cm. b. Diberi garis batas 1 cm dari bawah keatas, lalu diberi titik atau noda kecil dari sampel pada garis batas. c. Dimasukkan kertas saring dalam ke dalam gelas kimia yang telah diisi aquades yang tingginya sekitar 0,5 cm dan posisi kertas tegak lurus. d. Dibiarkan air merembes naik sekitar 1 cm dibawah batas atas kertas. e. Diambil dan dikeringkan, lalu diukur jarak yang ditempuh pelarut dan komponen noda yang dipisahkan. f. Hitung harga Rf dari masing-masing noda. 2. Kromatografi dengan pelarut etanol a. Dipotong kertas saring bentuk persegi dengan panjang 10 cm dan lebar 8 cm. b. Diberi garis batas 1 cm dari bawah keatas, lalu diberi titik atau noda kecil dari sampel pada garis batas. c. Dimasukkan kertas saring dalam ke dalam gelas kimia yang telah diisi etanol yang tingginya sekitar 0,5 cm dan posisi kertas tegak lurus.

d. Dibiarkan etanol merembes naik hingga sekitar 1 cm dibawah batas atas kertas. 3. Kromatografi dengan pelarut petroleum eter a. Dipotong kertas saring berbentuk persegi dengan panjang 10 cm dan lebar 8 cm. b. Diberi garis batas 1 cm dari bawah keatas. c. Diberi noda sampel yang kecil pada garis batas. d. Dimasukan kertas saring dalam gelas kimia yang telah diisi dietil eter dengan tinggi sekitar 0,5 cm dengan posisi kertas tegak lurus. e. Dibiarkan petroleum eter merembes naik hingga sekitar 1 cm dibawah kertas. f. Diambil dan dikeringkan, lalu diukur jarak yang ditempuh pelarut dan komponen yang dipisahkan. g. Dihitung harga Rf dari masing-masing noda.

VII.

DATA PENGAMATAN No Pelarut Noda Tinta hitam Tinta merah Tinta biru Ekstrak Kunyit Tinta hitam Tinta merah Tinta biru Ekstrak Kunyit Tinta hitam Tinta merah Tinta biru Ekstrak Kunyit Jarak Noda 0 9 8,5 0 4,5 6,8 6,8 4,7 5,8 0 0 5,8 Jarak Pelarut 8 8 8 8 6,5 7 7,8 6,5 5,8 0 0 5,8 Rf 0 1,13 1,06 0 0,69 0,97 0,87 0,72 1 0 0 1

1 Aquades

2 Etanol

Petroleum Eter

VIII. PEMBAHASAN Pada percobaan kali ini kami melakukan kromatografi kertas untuk menentukan kandungan zat warna dari tinta hitam, tinta merah, tinta biru, dan ekstrak kunyit dengan menggunakan fase gerak aquades, etanol, dan petroleum eter dan kertas saring sebagai fase diamnya. Kertas digantungkan pada wadah yang berisi lapisan tipis pelarut atau campuran pelarut yang sesuai didalamnya. Perlu diperhatikan bahwa batas pelarut berada dibawah garis pada bercak diatasnya. Karena pelarut bergerak lambat pada kertas, komponen-komponen yang berbeda dari campuran tinta akan bergerak pada laju yang berbeda dan campuran dipisahkan berdasarkan pada perbedaan bercak warna. Jika menggunakan pelarut non polar sebagai fase diam, seperti etanol dan petroleum eter molekul-molekul polar dalam campuran yang akan dicoba untuk pisahkan akan memiliki sedikit interaksi dengan molekul-molekul pelarut dan molekul-molekul yang melekat pada selulosa, dan karena akan menghabiskan banyak waktunya untuk larut dalam pelarut yang bergerak. Molekul-molekul seperti ini akan bergerak sepanjang kertas diangkut oleh pelarut. Karena molekul-molekul ini menghabiskan waktu untuk larut dalam fase diam dan kurang dalam fase gerak, molekul-molekul tidak akan bergerak sangat cepat pada kertas. Dari percobaan yang dilakukan diperolah nilai Rf dengan menggunakan pelarut aquades yaitu, pada tinta hitam 0, tinta merah 1,13 tinta biru 1,06 dan ekstrak kunyit 0. Untuk percobaan dengan pelarut etanol diperoleh nilai Rf yaitu, pada tinta hitam 0,69 tinta merah 0,97 tinta biru 0,87 dan ekstrak kunyit 0,72. Dan pada percobaan dengan pelarut petroleum eter dipeorleh nilai Rf yaitu, pada tinta hitam 1, tinta merah 0, tinta biru 1 dan ekstrak kunyit 1.

IX.

KESIMPULAN Dari percobaan pemisahan zat warna secara kromatografi kertas yang dilakukan diperolah nilai Rf dengan menggunakan pelarut aquades yaitu, pada tinta hitam 0, tinta merah 1,13 tinta biru 1,06 dan ekstrak kunyit 0. Untuk percobaan dengan pelarut etanol diperoleh nilai Rf yaitu, pada tinta hitam 0,69 tinta merah 0,97 tinta biru 0,87 dan ekstrak kunyit 0,72. Dan pada percobaan dengan pelarut petroleum eter dipeorleh nilai Rf yaitu, pada tinta hitam 1, tinta merah 0, tinta biru 1 dan ekstrak kunyit 1.

X.

DAFTAR PUSTAKA

 Chem-is-try, 2010. Materi Kimia Instrumen Analisis Kromatografi


Kertas, http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/instrumen_analisis/kro matografi1/kromatografi_kertas, diakses tanggal 6 Februari 2012.  Masriani. 2008. Diktat Penuntun Praktikum Dasar-Dasar Pemisahan. Pontianak : FKIP UNTAN.

 Scribd, 2011, Laporan Kromatografi Kertas Dari Zat Warna Dalam


Minuman, http:/www.scribd.com/doc/7801120/laporan-kromatografikertas, diakses 6 Februari 2012.

Instruktur

Praktikan

Ambar Widuri, S.Pd. NIP : 198109202009032006

Kelompok 4