Oleh : Dr. Gatot Sugiharto Laboratorium Ilmu Faal Fak.

Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma SurabayaSurabaya-2004

PENDAHULUAN
• Adanya aktifitas listrik dlm otot jantung berkaitan erat dg kontraksi otot jantung • Impuls mulai dari SA Node  seluruh jantung  menyebar melalui cairan tbh sktr jantung  permukaan tbh (tubuh sebagai electrical conduktor) • Bila s/ elektroda diletakkan di permukaan tbh & menghadap jantung  potensial listrik dpt dicatat dg Electrocardiography • Gambar hsl pencatatan potensial listrik yg timbul dlm hubungannya dg aktivitas listrik jantung _ _ Electrocardiogram • Tehnik penempatan elektroda dikenalkan o/ Einthoven
Klh Klasikal EKG- Gatot S. 2

1

KEGUNAAN ECG
EKG dpt mendeteksi kelainan jantung spt : • Hipertrofi atrium / ventrikel • Aritmia/kelainan irama • Infark myocard • Pericarditis • Penyakit sistemik yg pengaruhi jantung • Pengaruh obat jtg (Digitalis, Quinidine, dll) • Perubahan elektrolit (K+, Na+) • Kelainan konduksi • Kelainan posisi/sumbu jantung Alat : String galvanometer, amplifier dengan penulis, dpt dilengkapi dg layar fluoresen , komputer , dll
Klh Klasikal EKG- Gatot S. 3

SIFAT LISTRIK SEL JANTUNG
• Susunan ion sel otot jtg berbeda antara intraseluler dg extraseluler,yg terpenting K+ & Na+ • Kadar K+ intraseluler ± 30 X > extrasel, kadar Na+ extraseluler ± 30 x > intrasel • Membran sel otot jantung ternyata > permeabel utk K+ dp Na+ • Dlm keadaan istirahat , pot. membran luar & dlm tdk sama, membran sel otot jantung saat istirahat dlm keadaan polarisasi, dg bgn luar berpotensial + polarisasi, dibanding bgn dlm
Klh Klasikal EKG- Gatot S. 4

2

• Selisih potensial disebut potensial mem bran yg dlm keadaan istirahat (Resting Membran Potencial) sekitar – 90 mV • Bila membran otot jtg dirangsang  sifat permeabel membran berubah  Na+ masuk sel ( depolarisasi )  potensial membran berubah dari – 90 mV mjd + 20 mV (potensial diukur intraseluler thp extraseluler) • Stlh depolarisasi selesai, pot. membran kembali mencapai keadaan semula  repolarisasi
++++++++++ -----------Na + K+ ------------++++++++++ K +

Na +
Klh Klasikal EKG- Gatot S. 5

PROSES DEPOLARISASI
• Dilukiskan dg tanda positif di bgn dlm & tanda negatif di bagian luar yg berjalan dari kiri ke kanan . Sebagian mengalami depolarisasi , sebagian sisanya mengalami polarisasi
0 + +

---------++++++++ +++++++--------Gel depolarisasi ++++++-----------------++++++++ Klh Klasikal EKG- Gatot S. 6

3

Gatot S.+++++ ------.0 • Depolarisasi tlh meliputi seluruh serabut otot jantung .negatif 0 + + +++++------------.Gatot S. • Rekaman kembali ke garis nol ( kedua elektroda mempunyai kenegatifan yg sama • Gelombang positif lengkap = gel depolarisasi + + --------------+++++++++++ +++++++++++ --------------Klh Klasikal EKG. 8 4 . 7 PROSES REPOLARISASI • Ditandai dg tanda negatif di bagian dlm & tanda positif di bagian luar • Galvanometer merekam gel.+++++ ++++++-----Gel repolarisasi Klh Klasikal EKG.

Potensial itu adlh : – Dep.Gatot S. listrik yg timbul dpt direkam dr luar : Surface Electrocardiografi . 9 SISTEM KONDUKSI JANTUNG Terdiri dari : • SA NODE • INTERNODAL PATHWAY • Pot. rekaman kembali ke nol . 10 5 . ventrikel = QRS complex – Repolarisasi ventrikel = gel T – BACHMAN – THOREL – WENCHEBACH • AV NODE • BUNDLE OF HIS – RIGHT BUNDLE OF HIS – LEFT BUNDLE OF HIS • LEFT ANTERIOR FASICULUS • LEFT POSTERIOR FASICULUS • SISTEM PURKINJE Klh Klasikal EKG. • Gelombang negatif lengkap = gelombang repolarisasi 0 + + ++++++++++ ---------------------------+++++++++++ - Klh Klasikal EKG.Gatot S.• Repolarisasi meliputi seluruh serabut otot. atria = gel P – Dep.

Gatot S. Sandapan Bipolar mengukur beda potensial antara 2 tempat • Bipolar Standard Leads / Extremitas Leads (Bidang frontal) 2. Jantung & extremitas terletak dalam satu bidang frontal Klh Klasikal EKG. 12 6 .HIPOTESA EINTHOVEN 1. Tubuh dianggap sebagai suatu bola dengan cairan tubuh & alat tubuh mempunyai tahanan yang sama 3. Aktifitas listrik jantung merupakan sumber listrik & terletak di tengah tubuh 2. Sandapan Unipolar mengukur bsr potensial yg terjadi di tempat itu sdr • • Sandapan “Augmented “ Unipolar Leads (Bidang frontal) Sandapan Unipolar Precordial / Chest Leads (Bidang Horisontal) Klh Klasikal EKG.Gatot S. kaki kiri terletak sama jauh dari jantung dan satu sama lainnya 4. lengan kanan . Lengan kiri . 11 SANDAPAN EKG Pada EKG dikenal 2 macam sandapan 1.

14 7 . JUMLAH POTENSIAL = NOL RA + + LL + : LA L I + L II + L III = O HUKUM EINTHOVEN : KUTUB L II DIBALIK RA + LL Klh Klasikal EKG.Gatot S.L II + L III = 0 L I + L III = L II Bipolar Standard Leads = Extremitas Leads SANDAPAN I • Mencatat perbedaan potensial antara lengan kiri (kutub positif) dg lengan kanan (kutub negatif) SANDAPAN II • Mencatat beda potensial antara lengan kanan (kutub negatif) dg tungkai kiri (kutub positif) SANDAPAN III Mencatat perbedaan potensial antara tungkai kiri (kutub positif) dengan lengan kiri (kutub negatif) Klh Klasikal EKG.Gatot S. 13 + + LA L I .HUKUM KIRCHOV DLM S/ RANGKAIAN ARUS YG TERTUTUP .

Gatot S. 15 SANDAPAN UNIPOLAR • Mencatat besar potensial yg terjadi di tempat tsb • Menggunakan elektroda pencatat & elektroda jauh (indifferent electrode) • WILSON ( 1932 ) : – Satu elektroda diletakkan dekat dg sumber listrik  mencatat bsr potensial di tempat itu – Elektrode lain di tempatkan jauh  mencatat potensial yg besarnya nol (dlm praktek tak mgkn dilakukan ) • GOLDBERGER : – Menyatukan lengan kanan.Gatot S. 16 8 .Bipolar Chest Leads (Jrg dipakai) Dada (C) positif & extremitas negatif Hasil : CF : DADA – KAKI CR : DADA – LENGAN KANAN CL : DADA – LENGAN KIRi Klh Klasikal EKG. lengan kiri & kaki kiri  CENTRAL TERMINAL (POTENSIAL HAMPIR NOL) Klh Klasikal EKG.

17 VL • VL : Mencatat perbedaan antara lengan kiri dg reference elektode Klh Klasikal EKG. 18 9 .Gatot S.Gatot S.Sandapan Unipolar Extremitas VR • VR : Mencatat perbedaan potensial antara lengan kanan dg reference elektrode Klh Klasikal EKG.

000 ohm pd tiap hubungan antara central terminal & tempat yg disandap  gangguan hilang tapi defleksi lbh kecil • GOLDBERGER melepas satu sandapan dari CT ke extremitas yg akan diperiksa  didptkan defleksi yg 50 % lbh besar  AUGMENTED UNIPOLAR LEADS (aVR. 19 • Ternyata defleksi pd sandapan unipolar tsb byk mengalami gangguan. 20 10 . maka Wilson meletakkan tahanan 5.VF • VF : Mencatat perbedaan potensial antara kaki kiri dg reference elektrode Klh Klasikal EKG.Gatot S.Gatot S. aVF. aVL) • Sandapan Unipolar “augmented “ = sandapan unipolar “augmented extremitas yg diperkuat Klh Klasikal EKG.

Gatot S. 22 5000 ohm 11 .Gatot S.AUGMENTED UNIPOLAR EXTREMITAS LEADS Klh Klasikal EKG. 21 UNIPOLAR EXTREMITAS LEADS LA RA LF 0 CT - + E 0 WILSON RA LA R R R CT - + LF E 5000 ohm GOLDBERGER RA LF 0 R R CT - + LA E Klh Klasikal EKG.

V5R .Gatot S.Gatot S. 23 Klh Klasikal EKG. V4R.extremitas. 24 12 .V6R dst yg letaknya berseberangan Klh Klasikal EKG.V4 V2: ICS V medioclavicular line : setinggi V4 anterior axillar line sinistra : setinggi V4 medial axillar line sinistra : setinggi V4 posterior axillar line sinistra : setinggi V4 posterior scapular line sinistra : setinggi V4 melalui spina scapularis sinistra • Kadang diperlukan elektroda precordial kanan mis V3R.Sandapan Unipolar Precordial (Chest Leads) • Merekam potensial jantung pd bidang horizontal • Sandapan precordial tdk pernah augmented • Central Terminal ttp berhubungan dg ke-3 extreke. elektroda pencatat diletakkan di tmpt sbb : – – – – – – – – – V1 V2 V3 V4 V5 V6 V7 V8 V9 : ICS IV sebelah kanan sternum : ICS IV sebelah kiri sternum : Antara V2.

26 13 . ukuran kecil. bila ada hrs positif (negatif  ischemia) Klh Klasikal EKG.Gatot S. tdk sll muncul. 25 Klh Klasikal EKG.Gatot S. uk.Anatomi EKG Gelombang P : Hasil depolarisasi atria ka-ki. komplex QRS & gel T Gelombang T : Gel repolarisasi ventrikel kanan & kiri Gelombang U : Asal gelombang tdk jelas. Gel P & komplek QRS QT Interval : Jarak dari awal QRS komplek s/d akhir gel T Komplex QRS : Hasil depolarisasi ventrikel kanan & kiri • Gel Q : Defleksi negatif yg pertama • Gel R : Defleksi positif yg pertama • Gel S : Defleksi negatif setelah gel R ST Segmen : Garis isoelektrik yg menghub. kecil kaPR Interval : Jarak dari awal gel P s/d awal komplek QRS PR Segmen : Garis isoelektrik yg meng hub.

1 mV) • Stardard voltase bisa diubah 0. kec bisa diubah menjadi 50 mm/det MENGHITUNG HEART RATE • HEART RATE = 1500 RR Int atau 1500 PP Int • Sumbu Y menunjukkan tingginya voltase • Pada EKG standard 1 mV = 10 mm. V1 ( bifasik / negatif ). teratur. 28 14 .5 mm • Positif kecuali di aVR.• Sumbu X menunjukkan fungsi waktu • Pada EKG standard. kecepatan perekaman = 25 mm /det (dlm 1 detik kertas berjalan sepanjang 25 mm) • Jadi 1 mm = 1/25” = 0. (1 mm = 0.Gatot S.5 mV = 10 mm atau 2 mV = 10 mm Klh Klasikal EKG.11 “ – Tinggi < 2.Gatot S. normal berasal dari sinus – Lebar < 0. banyak.04 “ • Dlm 1 menit direkam = 60 x 25 mm= 1500 mm • Selain kecepatan 25mm/det. sumbu pada bidang frontal • Berubah bila ada pembesaran atrium ka/ki atau gangguan irama di atrium MACAM MACAM BENTUK GELOMBANG P : • Gel P tegak = positif • Gel P terbalik = negatif • Gel P bifasik • Gel P tinggi & runcing  RAH • Gel P lebar dengan 2 puncak  LAH • Gel P kecil. jelas terlihat di V1 & L II. spt gergaji = atrial flutter Klh Klasikal EKG. tak teratur = atrial fibrilasi • Gel P banyak. 27 GELOMBANG P • Menunjukkan depolarisasi atrium.

V6 < 26 mm • V1. normal dalamnya < ¼ tinggi gel R • Q patologis. V6 R V1 V2 V3 V4 V5 V6 Gel R Patologis : • R tinggi  Hypertrophi ventrikel • R rendah  voltage rendah • Tidak ada R  seluruh tebal myocard mengalami infark (nekrosis ) Klh Klasikal EKG. bila > ¼ R ( > 5 mm ) :  menunjukkan nekrosis / infark myocard Klh Klasikal EKG.12” – 0.06 “ – 0.20”  AV block QRS COMPLEX • Gambaran depolarisasi ventrikel • Harga normal : 0. V5.Gatot S.10” ( dihitung dari awal Q s/d akhir S ) • QRS complex yang lebar ( > 0. 29 GEL R : • Defleksi positif I. makin meninggi ke arah V5. III • Ketentuan tinggi gel R : LI. LGL – syndrom – Memanjang > 0. puncak tinggi terutama Lead I.20” (3-5 mm) (3– Memendek < 0.V2 = R kecil .III < 20 mm.II.12 “  WPW. II.PR INTERVAL • Menunjukkan waktu hantaran Atrio-Ventrikuler Atrio• Diukur dari permulaan gel P  permulaan gel Q • Harga normal : 0.10 “ )  patologis. 30 15 .Gatot S. misalnya : – RBBB = Right Bundle Branch Block – LBBB = Left Bundle Branch Block GEL Q : • Gel negativ I. aVL < 14 mm. aVF < 20 mm.

1 mV  blh 1 mm di atas/di bawah grs isoelektris • Keadaan patologis/abnormal : – ST ELEVASI  tanda Acute Myocard Infarct – ST DEPRESI  tanda iskemia otot jantung Klh Klasikal EKG.Gatot S.38 “ – Nadi 100  0.43 ” – Nadi 80  QT < 0. 31 QT INTERVAL : • Menunjukkan lamanya sistole • Tergantung heart rate (ada tabel) – Nadi 60  QT < 0.Gatot S.35 “ • Normal tidak lebih dari 0. 32 16 .42 “ (HR makin cepat  QT mkn pendek) ST SEGMEN : • Menunjukkan selesainya depolarisasi ventrikel s/d mulainya fase repolarisasi (mulai akhir S s/d permulaan T) • Merupakan garis lurus = isoelektrik • Normal 0.MACAM MACAM BENTUK GEL QRS QS atau Q saja Rs qRs RSR’ qR QR rSr’ rSR Klh Klasikal EKG.

konfigurasi serta vektor P tetap PR interval tetap & normal : 0. Konfigurasi dari V1 – V6  R makin tinggi. 6. 3. 34 4.Gatot S. Gel T positif & normal (kecuali di V1 . maximal < 2/ 3 tinggi R (dilihat di V3 –V6) Gel T Abnormal : • T tinggi : > 2/ 3 tinggi R di V3 – V6  HYPERKALEMIA • T datar. 17 .V5. 2.5 mm).11 “ . aVR). negatif  INSUFFISIENSI KORONER Gel T datar Gel T negatif Klh Klasikal EKG.V4. V3. II. QT normal Sumbu gel P & QRS normal Klh Klasikal EKG.Gatot S. Gelombang P : bentuk/besar : normal (lebar < 0. aVF. 8. Q kecil di V5.GEL T : • Gelombang repolarisasi Ventrikel • Positif Di I. V6 • Boleh negatif di V1 ( V2 pada orang tua ) • Lead III : bisa positif / negatif / bifasik • Tinggi T : min > 1/ 7 tinggi R. 5.16 “) Heart Rate 60 – 100 x/menit ST normal.20 “ QRS kompleks besarnya : 0. 7. V6 Setiap gelombang P diikuti oleh QRS kompleks yang normal PP interval/RR interval tetap boleh bervariasi < 0. aVL. isoelektrik.06 “ – 0. tinggi < 2.10 “. S makin dangkal.12 “ – 0. Gel T tinggi 33 Kriteria EKG normal 1.

KONSEP VEKTOR DLM EKG BESARAN FISIKA : • SKALAR : tidak mempunyai arah. contoh : kecepatan. contoh : temperatu . gaya.Gatot S. volume • VEKTOR : mempunyai arah. panjang. 35 PENGGABUNGAN VEKTOR • 2 VEKTOR DPT DIGABUNGKAN MENJADI 1 VEKTOR DG JAJARAN GENJANG • HASIL PENGGABUNGAN  VEKTOR RESULTANTE V1 VR V2 V V1 V2 PENGURAIAN VEKTOR • 1 VEKTOR DPT DIGANTI DGN 2 VEKTOR (ATAU >) DG MEMAKAI JAJARAN GENJANG VEKTOR Klh Klasikal EKG. 36 18 . Dinyatakan dengan anak panah : – panjang = besar vektor – arah = arah vektor 20 kg tali Gaya 20 kg Mobil V = 80 km / jam Besar vektor tetap Arah vektor berubah Besar vektor tetap Arah vektor berubah Klh Klasikal EKG.Gatot S. gaya listrik.

Vektor Ruang Vektor Bidang Datar • Untuk mempelajari s/ vektor dlm s/ bidang datar. ventrikel & repolarisasi ventrikel (P.Gatot S. – Panjang anak panah = besar vektor – Arah anak panah = arah vektor • Dlm 1 siklus jantung terjadi gaya listrik selama depolarisasi atria. dipakai 3 bidang koordinat yg saling tegak lurus dg 3 sumbu koordinat. 37 Vektor Pada EKG • Gaya listrik mempunyai besar & arah (Besaran vektor)  dinyatakan dg anak panah . Vektor Bidang Datar 2. aVR.ADA 2 JENIS VEKTOR : 1. biasanya dipakai susunan sumbu koordinat X & Y F Y V Vy Vx 0 X Vz F VR Vx Vy H Vektor Ruang • Untuk mempelajari s/ vektor dlm ruang.V3. • Vektor VR dlm ruang dpt diganti dg vektor Vx . T) • P. Vy . Vz Klh Klasikal EKG. QRS. LII.V6 Klh Klasikal EKG. T  vektor ruang yg sll berubah besar & arahnya • Jantung berada dlm ruang  sistem sumbu ruang yg tdd 3 bidang saling tegak lurus – Bidang horizontal ( H ) – Bidang frontal ( F ) – Bidang sagital ( S ) • Sandapan bid FRONTAL  LI.V4. QRS. aVL. aVF • Sandapan bid HORIZONTAL  V1. LIII.Gatot S. 38 19 .V2.V5.

Gatot S. 4) diproyeksikan pada bidang frontal.Gatot S. 39 Contoh Vektor P • Vektor P selama proses depolarisasi atria. 3. 40 4 I 3 Bulatan vektor P pada bidang Frontal 1 aVF M 2 20 .Klh Klasikal EKG. maka dpt dibuat suatu bulatan tertutup yg berawal dari 0 & kembali ke titik 0  bulatan P • Dari bulatan P dpt dibuat satu vektor yg mewakili semua vektor  vektor M (Vektor rata-2) (Vektor rata• Arah & besar Vektor M menggammenggambarkan proses depolarisasi atrium secara keseluruhan  dpt dicari dan dinilai adakah kelainan sumbu atrium pada bidang frontal • Hal sama dapat diterapkan pada DeDepolarisasi Ventrikel (QRS) & RepoRepolarisasi Ventrikel (T) Klh Klasikal EKG. besar & arahnya berubahberubah-2 • Apabila vektor P (1. 2.

300 aVF = + 900 41 SUMBU JANTUNG BIDANG HORISONTAL D S post V6 (00) ant V5 (220) V4 (470) V1 (1150) V2 (940) V3 (580) Klh Klasikal EKG.SUMBU JANTUNG BIDANG FRONTAL .Gatot S.1500 aVL= . 42 21 . II aVR= .Gatot S.900 aVR 300 1800 600 0 I II III = pusat jantung = garis datar = 00 = + 600 = + 1200 00 I aVL III aVF + 900 Klh Klasikal EKG.

Menentukan sumbu QRS pada bidang Frontal 1.Gatot S. misal LI & aVF Tentukan jumlah aljabar dari defleksi pada masing masing sandapan Gambarkan sebagai vektor pada masing masing sumbu dari ke 2 vektor I Buar resultante yang akan menggambarkan sumbu QRS +7 mm -3 mm +5 mm -3 mm +2 +4 I + + aVF Klh Klasikal EKG. maka sumbu QRS tegak lurus terhadap sandapan tersebut • Contoh Jumlah aljabar LII = 0. 4. +2 mm -5 mm - aVL + LI + LII 44 22 . 2. Pilih (minimal) 2 sandapan yg saling tegak lurus. 43 Lead I R = +7 mm S = -3 mm Σ = +4 Lead aVF R = +5 mm S = -3 mm Σ = +2 CARA LAIN : • Bila satu sandapan mempunyai defleksi dg jumlah aljabar nol ( defleksi positif = defleksi negatif).Gatot S. maka sumbu QRS pasti tegak lurus thd LII  aVL • Langkah brktnya lihat sumbu aVL (atau sumbu lain) u/ menentukan arahnya pos/neg +4 mm -4 mm + Lead II R = +4 S = -4 Σ=0 Lead aVL R = +2 S = -5 Σ = -3 aVF Klh Klasikal EKG. 3.

320 Zona TRANSISI  NORMAL di V3 atau V4 • V1 –V2 : R kecil.300 00 Right Axis Deviation Normal + 90 0 Kelainan sumbu QRS pada bidang Frontal 45 Klh Klasikal EKG. S dlm & lebar (R/S < 1)  (menggambarkan keadaan ventrikel kanan) • V3 – V4 : R = S ( R/S = 1 )  transtitional zone  (menggambarkan keadaan septum interventrikularis) • V5 – V6 : Q kecil.30 s/d . R tinggi.Gatot S. (R/S >1)  (menggambarkan keadaan ventrikel kiri) V6 (00) V1 (1150) V3 (580) 46 Klh Klasikal EKG.300 s/d + 900 • Deviasi sumbu kiri : . 23 .900 (Left Axis Deviation/LAD) • Deviasi sumbu kanan : + 900 s/d -1800 (Right Axis Deviation/RAD) • Sumbu Superior : + 1800 s/d -900 . S kecil. Menentukan sumbu QRS pada bidang Horizontal • Cari sandapan yg defleksi nya nol.900 Sumbu Superior 1800 Left Axis Deviation .Gatot S.• NORMAL : . pada sandapan precordial • Vektor QRS tegak lurus padanya (Perkiraan kasar) V1 V2 V3 V4 V5 V6 .

Gatot S. 48 24 .Gatot S.• Bila daerah transisi berpindah ke V5 – V6  ke arah jarum jam (dilihat dari arah tungkai) tungkai) sumbu QRS mengalami rotasi searah jarum jam = CLOCKWISE ROTATION v V6 (00) V1 V2 V3 V4 V5 V6 V5 (220) TRANSISI Klh Klasikal EKG. 47 • Bila daerah transisi berpindah ke V2 = berlawanan jarum jam (COUNTER CLOCKWISE ROTATION) V6 (00) V1 V2 V3 V4 V5 V6 V V2 (940) TRANSISI Klh Klasikal EKG.

Rotasi Sumbu Transversal Klh Klasikal EKG.300 s/d +900 (rata-2 +600) (rataAda 5 macam posisi jantung normal yaitu : Vertical ( > + 750) Horizontal (00) Intermediate (+ 300) Semi Vertical (+ 600) Semi Horizontal (00 . 49 Rotasi Sumbu Anteroposterior ( Frontal ) • • – – – – – Sumbu listrik pada org dewasa normal = . bisa dari ventrikel kiri &/ kanan Klh Klasikal EKG.300) • Perubahan dlm sumbu listrik rata-2 terjadi krn perubahan relatif posisi anatomi jantung.Gatot S.Gatot S. Rotasi Sumbu Panjang ( Horizontal ) 3. 50 25 .Pengaruh Posisi Jantung Terhadap EKG Rotasi jantung dpt terjadi dlm 3 bidang : 1. Rotasi sumbu anreroposterior ( Frontal ) • • • • • Left Axis Deviation Right Axis Deviation Sumbu Superior Clockwise Rotation Counter Clockwise Rotation 2.

anak .LEFT AXIS DEVIATION = Deviasi sumbu ke kiri • PERUBAHAN SUMBU LISTRIK : -300 s/d – 900 • DEVIASI SUMBU KE KIRI DAPAT TERJADI PADA : – Orang normal dgn badan gemuk / sdg berbaring – Left Ventrikel Hipertrophi. yg timbul krn hipertensi. saat inspirasi.900 Klh Klasikal EKG. kurus. 51 ROTASI SUMBU PANJANG (BIDANG HORIZONTAL) • Dicari dari sandapan precordial (V1–V6) (V1– • Pedoman : arah rotasi dilihat dari kaki • Normal : SEPTUM INTERVENTRIKEL terletak di V3– V3– V4 (TRANSITIONAL ZONE)  defleksi R = S COUNTER CLOCKWISE ROTATION CLOCKWISE ROTATION : • Transtitional zone bergeser ke kiri (V5–V6)  ventrikel kiri (V5– bergeser lebih ke belakang • Sumbu QRS mengalami rotasi searah jarum jam • Saat inspirasi  jantung lebih vertical dan cenderung clockwise rotation • Transtitional zone bergeser ke kanan (V1–V2)  ventrikel (V1– kanan terletak > ke belakang • Sumbu QRS berputar berlaberlawanan dg jarum jam • Saat expirasi.Gatot S. kelainan katub pulmonal – Hemiblock Posterior Kiri – Infark Miocard Anterolateral – Penyakit Paru Kronis SUMBU SUPERIOR PERUBAHAN SUMBU LISTRIK +1800 S/D .Gatot S. – Right Ventrikel Hipertrophi  timbul krn tahanan pembuluh darah paru. jantung > horizontal cenderung counter clockwise rotation Klh Klasikal EKG. 52 26 . kelainan katub jantung kiri – Hemiblock Anterior Kiri – Pacu jantung buatan – Infark Miocard Inferior – Hiperkalemia – Emphisema RIGHT AXIS DEVIATION = Deviasi sumbu ke kanan • Perubahan sumbu listrik + 900 s/d – 1800 • Deviasi sumbu ke kanan dpt terjadi pada : – Orang normal yg berdiri.

54 27 . msh reversible (ST elevasi) • Nekrosis : kerusakan sel miocard permanen/ irreversible (Q wave) Endo cardium Iskemia Injuri Klh Klasikal EKG.Gatot S. 53 • EKG merupakan sarana diagnostik yg penting utk peny. reversibel (ST depresi) • Injuri : kelainan > berat.ROTASI SUMBU TRANSVERSAL ( Sagital plane ) • Diketahui dg sandapan oesophagus (jarang dipakai) • FORWARD ROTATION OF THE APEX  apex jantung berputar ke depan bawah • BACKWARD ROTATION OF THE APEX apex jantung berputar ke belakang  ventrikel kiri pindah ke belakang atas Klh Klasikal EKG.Gatot S. jtg koroner  kelainan miokard yg disebabkan o/ terganggunya aliran koroner Epicar dium Nekrosis • Kerusakan miokard dibagi menjadi 3 tingkat : • Iskemia : kelainan yg plg riringan.

T inversi spesifik 55 • Inversi U = gel U negatif terhadap T  cukup spesifik untuk iskemia • INJURI  Ciri-ciri : elevasi ST Inversi gel U Injuri subepicard Elevasi non spesifik Injuri subendocard ST depresi dalam > 4 mm NEKROSIS • Gel Q patologis  lebar & dlm.Gatot S.Gatot S. 56 28 .• Iskemia & injuri  menyebabkan kelainan proses repolarisasi dari miocard  segmen ST & gel T • Nekrosis  menyebabkan gangguan proses depolarisasi  gel QRS ST depresi Non spesifik ST depresi spesifik ISKEMIA • Depresi ST = merupakan ciri dasar iskemia miocard  bermakna bila > 1 mm.04 “ – Dalam ≥ 4 mm – atau ≥ 25 % tinggi R Klh Klasikal EKG. dg syarat : – Lebar ≥ 0. makin dlm makin spesifik • Inversi T = gelombang negativ  vektor T berlawanan arah dg vektor QRS Klh Klasikal EKG.

Takikardia sinus Bradikardia sinus Aritmia sinus Henti sinus Extrasistol Atrial ( Premature Atrial Contraksi Tachicardia Atrial Gelepar Atrial ( Atrial Flutter ) Fibrilasi Atrial ( Atrial Fibrilasi ) Pemacu Kelana Atrial Klh Klasikal EKG. Gangguan Pembentukan Impuls 1. 1. 57 Gangguan pembentukan &/ penghantaran impuls 1. 2. 4. Pembentukan Impuls di Atria 29 . Gangguan pembentukan Impuls di sinus 1. 5.Gatot S.qR Nekrosis dg miocard masih cukup sehat Qr Nekrosisi tebal. 3.Gatot S. 58 2. 4. sisa miocard Sehat tipis QS Nekrosis slrh tebal miocard = transmural Lokasi dinding ventrikel yang paling sering terkena iskemia miocard = ventrikel kiri Klh Klasikal EKG. 2. 3.

60 30 . 5. Block Intraventrikel . rate > 100 x / menit (Maximal heart rate = 220 – umur) a b c a=b=c Sinus Bradicardia Syarat : irama sinus.Gatot S. Extrasistol ventrikel Tachicardia ventrikel Gelepar ventrikel Fibrilasi Ventrikel Henti Ventrikel Irama lolos Ventikel 2. 6. rate < 60 x/ menit a b c a=b=c Klh Klasikal EKG. Block Atrio Ventrikel 3. 4. Block Sino Atrial 2. Klh Klasikal EKG.Gatot S. Pembentukan impuls di ventrikel 1. 2. Gangguan Penghantaran Impuls 1. 59 Sinus Tachicardia Syarat : Irama sinus. . 3.3.

Gatot S.Gatot S. maka fungsi diambil alih oleh focus di bawahnya.Sinus Aritmia Syarat : irama sinus  PP Interval satu dg yg lain tdk sama (> 0. 62 31 . 61 Berbagai Bentuk Aritmia yg Penting Klh Klasikal EKG. sebagai usaha penyelamatan. Bila tidak ada  CARDIAC ARREST Klh Klasikal EKG.16 detik) a b c a#b# c Sinus Arrest = henti sinus • Syarat : Tidak ada gelombang P • Karena SA Node tidak berfungsi .

64 32 . 63 Ventrikel Takikardia (VT) & Ventrikel Fibrilasi (VF) Klh Klasikal EKG.Prematur Ventricular Contraction (PVC) Klh Klasikal EKG.Gatot S.Gatot S.

Klh Klasikal EKG.Gatot S. 65 33 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful