Anda di halaman 1dari 15

Makalah Ilmiah Deviasi Septum Ella Rhinsilva 070100043

DEPARTEMEN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER (THT-KL) FK USU --------------------------------------------------------------------------------------------Saya yang bertandatangan di bawah ini telah menyerahkan hard copy dan soft copy makalah ilmiah :

Nama Ella Rhinsilva Yang menerima

Judul Deviasi Septum

Full Text

Power Point

Softcopy

Tanda Tangan

Telah disetujui PPDS Pembimbing

(dr. Nova)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nyalah pembuatan karya tulis ilmiah berupa tinjauan pustaka yang berjudul Deviasi Septum ini dapat tersusun dan terselesaikan tepat pada waktunya. Terima kasih diucapkan kepada dr. Nova selaku supervisor yang telah memberikan arahan di dalam penyelesaian tulisan ini. Adapun pembuatan tulisan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang Deviasi Septum sehingga dapat melakukan deteksi, diagnosis dan penatalaksanaan yang baik. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih banyak terdapat kekurangannya. Oleh karena itu, penulis sangat berterima kasih atas kritik dan saran yang bersifat membangun dan mendukung.

Medan, Januari 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR............................................................................ DAFTAR ISI .......................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ....................................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................ 2.1.Anatomi ............................................................................... 2.2.Definisi dan Etiologi ............................................................. 2.3.Epidemiologi ........................................................................ 2.4.Klasifikasi............................................................................. 2.5.Gejala Klinis ........................................................................ 2.6.Diagnosis .............................................................................. 2.7.Penatalaksanaan .................................................................... BAB III KESIMPULAN........................................................................ DAFTAR PUSTAKA.............................................................................

i ii 1 2 2 4 5 5 7 8 9 11 12

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kelainan septum yang sering ditemukan ialah deviasi septum, hematoma

septum dan abses septum. Bentuk septum normal ialah lurus di tengah rongga hidung, tetapi pada orang dewasa biasanya septum nasi tidak lurus sempurna digaris tengah.Deviasi septum nasi memiliki nilai yang signifikan karena cukup berpengaruh terhadap sebagian besar masalah rinologis. Akan tetapi, gambaran yang paling sering kita gunakan untuk mendeskripsikannya seperti ; severe septal deviation to right atau left septal spurdidasari pada penilaian subjektif dan tidak menunjukkan gambaran morfologi dan lokasi dari deviasi septum yang tepat.1,2 Derajat yang bervariasi dari deformitas septum nasi terjadi pada saat lahir dan diperkirakan meningkat dengan pertambahan pertumbuhan dan usia. Hal ini dapat disebakan oleh trauma pada saat kelahiran paksa atau pengeluaran fetus pada jalan lahir yang sempit atau trauma yang tidak disengaja.3 Berdasarkan Journal of Pharmaceutical Sciences and Research di Pakistan pada tahun 2011, didapati dari 25 pasien dengan deviasi septum nasi 88% terjadi pada laki-laki dan 12% pada perempuan. Hal ini disebabkan oleh trauma kecelakaan yang sering terjadi pada laki-laki. Dari studi ini juga didapati 76% kasus disebabkan oleh trauma dan 24% kasus disebabkan oleh trauma pada saat lahir.4

1.2

Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan tentang otosklerosis sehingga dapat melakukan deteksi, diagnosis dan penatalaksanaan yang baik. Selain itu, makalah ini bertujuan untuk melengkapi tugas di Departemen Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher, Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Anatomi Hidung bagian luar berbentuk piramid yang terdiri dari; pangkal hidung

(bridge), batang hidung (dorsum nasi), puncak hidung (hip), ala nasi, kolumela, dan lubang hidung (nares anterior). Hidung bagian luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan. Kerangka tulang terdiri dari tulang hidung (os nasal), prosesus frontalis os maksila dan prosesus nasalis os frontal. Kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa tulang rawan kartilago septum.1 Rongga hidung atau kavum nasi kanan dan kiri dipisahkan oleh septum nasi dibagian tengah. Lubang masuk bagian depan disebut nares anterior dan bagian belakang disebut nares posterior atau koana yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring. Tepat dibelakang nares anterior terdapat vestibulum yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrise. Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding ; dinding medial, lateral, inferior dan posterior. Dinding medial terdiri dari septum nasi. Dinding lateralterdapat 4 buah konka yaitu; konka inferior, konka media, konka superior dan konka suprema (biasanya rudimenter). Diantara konka-konka dan dinding lateral terdapat rongga sempit yang disebut meatus.1 Hidung luar menerima suplai darah dari arteri fasial yang berasal dari arteri carotis eksternal dan dari arteri oftalmika yang berasal dari arteri carotis interna. Hidung bagian dalam menerima darah dari arteri karotis interna dan arteri karotis eksterna; cabang terminal dari arteri spenopalatina yang berasal dari arteri maksilaris dan arteri etmoidalis anterior dan posterior yang berasal dari arteri optalmika. Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a. Sfenopalatina, a. Etmoidalis anterior, a.labialis superior dan a. Palatina mayor yang disebut pleksus kiesselbach (littles area). Vena-vena hidung memiliki nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya.1,5 yaitu; sepasang kartilago nasalis

lateralis superior, sepasang kartilago nasalis lateralis inferior dan tepi anterior

Gambar I: struktur tulang dan kartilago

Gambar II: anatomi dinding lateral hidug

Gambar III: littles area

2.2.

Definisi dan Etiologi Tidak ada definisi standard deviasi septum, tapi biasanya deviasi septum

mengarah kepada konveksitas septum ke satu sisi dengan adanya deformitas dari struktur midline. Deviasi septum merupakan bengkoknya atau berlekuknya septum nasi yang diakibatkan oleh trauma atau congenital.5,6 Pada pasien dengan deviasi septum nasi, biasanya terdapat riwayat trauma nasal atau midfasial yang merupakan sumber awal perubahan anatomi hidung. Penempatan forsep yang tidak tepat atau kelahiran melalui panggul yang sempit dapat menyebabkan deviasi septum pada perkembangan awal anatomis. Trauma dapat merubah anatomi secara eksternal, seperti tulang hidunng, atau secara internal kartilago lateral bagian atas ataupun kombinasi keduanya. Deviasi internal dapat disebabkan oleh perubahan tunggal atau multipel terhadap porsi tulang keras ataupun tulang rawan dari septum, akan tetapi perubahan tulang keras jarang terjadi. Penyebab lain dari deviasi septum ialah ketidaseimbangan pertumbuhan. Tulang rawan septum nasi terus tumbuh meskipun batas superior dan inferior telah menetap.1,7
7

2.3.

Epidemiologi Deformitas septum nasi memilki derajat yang bervariasi. Berbagai

penelitian epidemiologis mengenai prevalensi deviasi septum nasi pada manusia telah dilakukan pada berbagai kelompok usia dengan klasifikasi yang bervariasi. Belum adanya suatu system klasifikasi yang dapat diterima secara universal masih menimbulkan perdebatan. Berdasarkan jenis kelamin rasio laki-laki dan perempuan adalah 1,8:1 dengan insidensi tertinggi ada pada kelompok usia 21-40 tahun. Sekitar 89% pasien dengan fraktur nasal setelah trauma kebanyakan di diagnosis dengan deviasi septum yang telah lama.3,6

2.4.

Klasifikasi Beberapa system klasifikasi telah diajukan, cottle membagi septum nasi

menjadi 5 bagian area yaitu; vestibular, valvar, turbinal, attic, dan area koana posterior. Dia juga membagi deviasi septum menjadi 3 tipe berdasarkan keparahan yaitu; deviasi sederhana, obstruksi dan impaksi. Mladina

memperkenalkan metode objektif untuk mengklasifikasikan deviasi septum nasi. Mladina menyatakan terdapat 7 klasifikasi deviasi septum yaitu;3 a. Tipe 1 deviasi anterior ringan yang tidak mengganggu fungsi Terdapat celah unilateral di region katup nasal yang tidak menyebar ke seluruh septum dan tidak kontak langsung dengan dinding lateral. b. Tipe 2 deviasi vertical anterior yang menggangu fungsi Terdapat celah vertical unilateral yang kontak langsung dengan area katup nasal. c. Tipe 3 deviasi vertical posterior Terdapat celah unilateral disebelah puncak turbinate bagian tengah. d. Tipe 4 septum bentuk S Terdapat celah vertical bilateral, ini merupakan kombinasi dari tipe 2 dan 3 e. Tipe 5 spur horizontal Spur ini hampir selalu menyentuh dinding nasal lateral dengan atau tanpa deviasi tinggi ke sisi lain. f. Tipe 6, tipe 5 dengan potongan horizontal yang dalam di sisi lain

g. Tipe 7 Septum rusak (mengkerut) : kombinasi lebih dari satu tipe.

Gambar IV: tipe deviasi septum menurut mladina

Deprtment of Otolaryngology Asan Medical Center, South Korea klasifikasi deviasi septum di fokuskan pada deformitas dorsal yang tampak dari depan dan tidak menggabungkan deformitas caudal hidung pada sistem kilasifikasi ini. Mereka mengklasifikasikan kedalam 5 tipe:8 a. Tipe 1: piramida tulang yang miring dengan kubah tulang rawan miring kearah sebaliknya b. Tipe 2 : piramida tulang yang miring dengan kubah tulang rawan berbentuk cekung atau cembung c. Tipe 3 : piramida tulang yang lurus parallel terhadap garis tengah wajah dan kubah tulang rawan yang miring d. Tipe 4 :piramida tulang yang lurus parallel terhadap garis tengah wajah dan kubah tulang rawan yang bengkok e. Tipe 5 : piramida tulang yang miring dengan pangkal tulang rawan yang miring ke arah yang sama

Gambar V: klasifikasi deviasi hidung berdasarkan 5 tipe

2.5.

Gejala Klinis Keluhan yang paling sering pada deviasi septum adalah sumbatan hidung.

Sumbatan hidung biasanya unilateral, dapat pula bilateral, sebab pada sisi deviasi terdapat konka hipotrofi, sedangkan pada sisi sebelahnya terjadi konka yang hipertrofi, sebagai mekanisme kompensasi. Keluhan lainnya ialah rasa nyeri di kepala dan disekitar mata. Selain itu penciuman dapat terganggu apabila terdapat deviasi pada bagian atas septum. Deviasi septum juga dapat menyumbat ostium sinus, sehingga merupakan factor predisposisi terjadinya sinusitis. Spur septal yang besar hingga menyebabkan kontak dengan turbinate inferior dapat menyebabkan timbulnya epistaksis.3,5,7

Gambar VI: gambaran endoskopik menunjukkan tulang septum yang menyentuh turbinate inferior yang menyebabkan epistaksis

10

2.6.

Diagnosis Deviasi septum biasanya sudah dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa

dan pemeriksaan fisik langsung. Namun, diperlukan juga pemeriksaan radiologis untuk menegakkan diagnose pasti. Dari anamnesa didapati sumbatan hidung yang biasanya unilateral, terkadang bilateral, selain itu didapati nyeri kepala, ganguan penciuman dan epistaksis. Dari pemeriksaan fisik didapati bentuk hidung yang asimetris. Dari pemeriksaan rinoskopi anterior dapat dilihat penonjolan septum ke arah deviasi, hal ini dapat dilihat pada deviasi yang berat. Pada deviasi ringan biasanya lebih terlihat normal. Temuan yang kita dapat dari pemeriksaan fisik bersifat subjektif dan rentan mengalami bias. Pengukuran yang objektif sering tidak berkorelasi dengan gejala-gejalanya.1,5,6 Selain tanda-tanda yang dijumpai pada pemeriksaan fisik, mukosa yang robek dapat juga disebut sebagai fraktur septal dimana ditemukan kebanyakan pasien memiliki deviasi septum yang sudah lama tanpa adanya robekan mukosa atau perdarahan permukaan septum dan gangguan mobilitas septum. Untuk pemeriksaan fisik yang lebih dalam dapat digunakan endoskopi, yang dapat menilai perubahan morfologi dari septum nasi. Untuk menentukan derajat sumbatan hidug yang terjadi akibat deviasi septum dapat menggunakan rinomonometri.5,6 CT-scan dapat digunakan untuk evaluasi struktur paraseptum dan penyakit sinus yang kronis yang berhubungan dengan deviasi septum dimana terdapat peningkatan keparahan penyakit sinus bersamaan dengan peningkatan sudut dari deviasi septum. CT scan juga dapat menunjukkan adanya suatu asosiasi deviasi septum nasi dengan penebalan mukosa sinus maksilaris yang akan menyebabkan penyempitan region kompleks osteomeatal. CT-scan dapat juga digunakan untuk melihat hipertrofi turbinate pada pasien dengan deviasi septum nasi yang menunjukkan pembesaran tulang dan mukosa yang signifikan di segmen anterior dan media dari turbinate inferior. Gambaran CT scan juga dapat digunakan untuk menetukan penatalaksanaan septum nasi dan hipertrofi turbinate.3

11

2.7.

Penatalaksanaan Terapi inisial dari deviasi septum biasanya ditujukan untuk mengatasi

keluhan pasien seperti kongesti nasal dan post nasal drips. Pengobatan berpusat pada penggunaan aerosol atau nasal spray, antihistamin dapat juga diberikan jika dicurigai terdapat rhinitis alergi. Penggunaan spray dekongestan seharusnya dihindari karena obstruksi nasal anatomis merupakan suatu masalah kronis dan penggunaan obat ini dapat menyebabkan rhinitis medikamentosa. Pengobatan medis mungkin tidak dapat meringankan gejala pasien akibat berbagai komplikasi yang disebabkan oleh deviasi septum, pada pasien-pasien seperti ini dibutuhkan penatalaksanaan pembedahan.4,7 Penatalaksanaan pilihan untuk deviasi septum adalah pembedahan (septoplasti). Prosedur ini dilakukan dengan cara menggeser tulang rawan yang berdeviasi dan porsi tulang septum bersamaan dengan spur dan celah dan memasang kembali sesuai posisi yang tepat pada garis tengah wajah. Septoplasti diindikasikan pada deviasi septum yang menyebabkan gangguan fungsi pernafasan. Indikasi septoplasti harus diperhatikan pada anak anak dan remaja yang berusia di bawah15-17 tahun, harus dilakukan pendekatan konserfatif dalam memilih pasien. Perlakuan yang salah pada pasien yang lebih muda dapat merusak pertumbuhan tulang septum yang menyebabkan masalah yang berkepanjangan.5 Penatalaksanaan operatif yang tepat untuk kondisi ini memerlukan analisa pre operatif dan intra operatif yang lengkap terhadap komponen anatomis dari tulang-tulang nasal. Manuver pembedahan juga harus dilakukan secara tepat. Pembedahan dilakukan melalui pendekatan endonasal atau eksternal. Pendekatan endonasal dilakukan pada kasus-kasus deviasi tipe 1 dan 2 dimana deformitasnya tidak begitu parah. Jika dibutuhkan dapat juga dilakukan osteotomi medial dan lateral melalui rute endonasal. Akan tetapi, pada sebagian besar pasien pendekatan eksternal atau terbuka lebih dipilih karena pendekatan tersebut menyediakan gambaran yang jelas terhadap dorsum nasal dan memberikan manuver yang luas pada saat pemasangan graft.8 Selain teknik septoplasti terdapat teknik klasik yang disebut dengan reseksi submukosa (SMR), akan tetapi teknik ini jarang digunakan dikarenakan

12

dapat terjadi komplikasi setelah dilakukan SMR seperti perforasi, epistaksis dan adesi. SMR dilakukan jika tidak terdapat operator dan instrument untuk melakukan septoplasti.

13

BAB III PENUTUP

3.1

Kesimpulan Deviasi septum merupakan bengkoknya atau berlekuknya septum nasi

yang diakibatkan oleh trauma atau congenital. Deviasi septum memiliki 7 type yang bergantung pada bentuk deviasi yang terjadi. Pada deviasi septum yang ringan tidak terlalu menimbulkan keluhan. Deviasi septum yang berat menyebabkan hambatan aliran udara yang bersifat unilateral dan terkadang didapati bilateral. Untuk menegakkan diagnose selain anamneses dan pemeriksaan fisik juga di butuhkan pemeriksan tambahan seperti endoskopi dan CT-scan. Tindakan intevensi segera dilakukan pada pasien dengan hambatan aliran udara, dimana dilkakukan septoplasti. Pada septoplasti perlu diperhatikan usia pasien, dimana pasien dibawah 15-17 tahun tidak diindikasikan untuk septoplasti. Hal ini dikarenakan dapat menghambat pertumbuhan tulang septum. Terapi inisial dibutuhkan untuk mengatasi keluhan pasien seperti kongesti dan post nasal drips.

14

DAFTAR PUSTAKA

1. Nizar, N., W., dan Mangungkusumo E., Kelainan Septum. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok-Kepala dan Leher. Soepardi E., A., Iskandar N., Bashiruddin J., Restuti R., D., (eds). Ed. 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2007. Hal: 126 2. Jin H., R., Lee, J., Y., Jung, W., J., New Description Method and Classification System for Septal Deviation. Original article J Rhinol 14 (1), 2007. Page : 2731 3. Chalabi, Y.,E., Khadim, H., Clinical Manifestations in Different Types of Nasal Septal Deviation. The New Iraqi Journal of Medicine 6 (3): 2010. page: 24-29. 4. Mahmood, K., T., et al. Management of Deviated Nasal Septum. Journal of Pharmaceutical Sciences and Research 6(1) :2011. Page 918-922. 5. Grevers, G., Disease of The Nose, Paranasal Sinuses and Faces In: Basic Otorhinolaryngology. Probst R, Grevers G, and Iro H (eds). Germany: Georg Thieme Verlag; 2006. Page: 30 6. Behnoud, F., Nasab, M.,S., Alizamir, A., Comparison of The Frequency of Old Septal Deviation in Patients with and without Traumatic Nasal Bone Fracture. Acta Medica Iranica 48(5); 2010.page: 304-307. 7. Jafek, B., W., and Dodson B., T., Nasal Obstruction In: Head and Neck Surgery Otolaryngology Third Edition, Calhoun, K., H., et al. 2001. 8. Jang, Y., J., Wang, J., H., Lee, B., J., Classification of The Deviated Nose and Its Treatment. Arch Ortolaryngol Head Neck Surg. 134(3);2008. Page : 311315

15