Anda di halaman 1dari 32

CLINICAL SCIENCE SESSION (CSS) HUKUM KESEHATAN

Disusun oleh: Nadia Sabrina Firla Rachmina Irvan Ariko Rahmat Putra Kharina Anjarsari

Preseptor: drg. Nita Gianita, SH., MH.Kes

UN I VE R

S ISLAM TA BA SI
UN G ND

UL TA S

T K EDOK

SMF ILMU KEDOKTERAN KEHAKIMAN RS BHAYANGKARA SARTIKA ASIH BANDUNG FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG 2011

RA N
E

FAK

BAB I HUKUM KESEHATAN 1.1 Definisi Hukum adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh suatu kekuasaan dalam mengatur pergaulan hidup dalam masyarakat. Hukum adalah himpunan peraturan hukum yang mengatur kegiatan kehidupan manusia yang dapat dipaksakan pelaksanaannya. Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Hukum kesehatan menurut Perhimpunan Hukum Kesehatan Indonesia (PERHUKI), adalah semua ketentuan hukum yang berhubungan langsung dengan pemeliharaan/pelayanan kesehatan dan penerapannya. Hal ini menyangkut hak dan kewajiban baik dari perorangan dan segenap lapisan masyarakat sebagai penerima pelayanan kesehatan maupun dari pihak penyelenggara pelayanan kesehatan dalam segala aspeknya, organisasi, sarana, pedoman standar pelayanan medik, ilmu pengetahuan kesehatan dan hukum serta sumber-sumber hukum lainnya. Hukum kesehatan mencakup komponen-komponen hukum bidang kesehatan yang bersinggungan satu dengan yang lainnya, yaitu hukum kedokteran/ kedokteran gigi, hukum keperawatan, hukum farmasi klinik, hukum Rumah Sakit, hukum kesehatan masyarakat, hukum kesehatan lingkungan, dan sebagainya (Konas PERHUKI, 1993). Menurut Soerjono Soekanto, hukum kesehatan merupakan hukum yang secara khusus berisikan perangkat, kaidah, maupun keteraturan sikap tindak yang berkaitan dengan kesehatan. Hukum kesehatan menurut Van der Mijn adalah hukum yang berhubungan langsung dengan pemeliharaan kesehatan yang meliputi perangkat hukum perdata, pidana, dan tata usaha negara. Menurut Leenen Hukum kesehatan meliputi semua ketentuan hukum yg langsung berhubungan dengan pemeliharaan kesehatan dan penerapan dari hukum perdata, hukum pidana, dan hukum administrasi dalam hubungannya tersebut. Pula pedoman internasional, hukum kebiasaan dan juga jurisprudensi yg berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan, hukum otonom, ilmu dan literatur, menjadi sumber hukum kesehatan. Hukum kesehatan merupakan seperangkat kaidah yang mengatur seluruh aspek yang berkaitan denagn upaya dan pemeliharaan di bidang kesehatan.

Hukum Kedokteran merupakan bagian dari hukum kesehatan, yaitu yang menyangkut asuhan/pelayanan kedokteran (medical care/service). Jadi dalam arti sempit, hukum kedokteran merupakan hukum kesehatan. Hukum Kedokteran menurut Fred Ameln, dalam arti luas, yaitu segala hal yang dikaitkan dengan pelayanan medis, baik dari perawat, bidan, dokter gigi, laboratorium meliputi ketentuan hukum dibidang medik. Sedangkan dalam arti sempit, hukum kedokteran itu meliputi ketentuan hukum yang hanya berhubungan dengan profesi dokter saja.

1.2 Ruang lingkup Ruang lingkup hukum kesehatan adalah semua aspek yang berhubungan dengan kesehatan. Sedangkan ruang lingkup hukum kedokteran adalah semua masalah yang berkaitan dengan kedokteran Namun, karena masalah kedokteran juga dalam ruang lingkup kesehatan maka hukum kedokteran merupakan bagian dari hukum kesehatan. Ruang lingkup hukum kesehatan dapat dibagi menjadi:
1. Hukum Kesehatan Individu atau biasa disebut sebagai Hukum Pelayanan Kesehatan

(Hk. Kedokteran). Materi Hukum ini lebih berkaitan dengan pelaksanaan Profesi. Hukum kesehatan individu yang berupa hukum kedokteran, hukum keperawatan, hukum kefarmasian, dan hukum kebidanan.
2. Hukum Kesehatan masyarakat adalah Keseluruhan Aturan Hukum yang mengatur

hubungan antara pemerintah dan Masyarakat, juga hubungan antar lembaga pemerintah yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan masyarakat. Hukum kesehatan masyarakat yang berupa hukum keamanan pangan, hukum epidemi, hukum reproduksi, dan hukum kesehatan lingkungan. 1.3 Hakekat dan Fungsi Hukum Kesehatan a. Hakekat Hukum Kesehatan Adalah penerapan hukum perdata, hukum pidana, dan hukum administrasi negara. b. Fungsi Hukum Kesehatan Fungsinya antara lain adalah untuk ketertiban masyarakat, menyelesaikan sengketa di masyarakat, dan social engineering.

1.4 Sumber Hukum dan Per UU bidang Kesehatan 1.4.1 Dunia Kesehatan a. Sumpah Hippocrates (460 322 SM) 1.4.2 Internasional a. Deklarasi Jenewa / World Medical Association (WMA) tahun 1948 b. Declaration of Human Right United Nation tahun 1968 c. International Code of Medical Ethic tahun 1949 dan 1968 d. Deklarasi Helsinki dan WMA 1.4.3 Indonesia
a. b.

Pancasila (sila ke-3) sebagai jiwa/ falsafah UUD 45 UUD 45, Psl 28 H (1) tiap orang berhak hidup sejahtera lahir & batin ,

bertempat tinggal & mendapatkan lingkungan hidup yg baik & sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan
c. d.

Perundang-undangan Yurisprudensi yaitu Peraturan Pemerintah Peraturan Daerah; Keputusan Mentri; Peraturan Mentri Konvensi atau kebiasaan sebagai peraturan perilaku yang tidak tertulis Doktrin atau ajaran ilmu pengetahuan yang berupa teori, konsep, norma yang berupa putusan pengadilan yang sudah mempunyai

kekuatan hak yang tetap e.


f. g. h.

dapat ditemukan dalam kepustakaan Undang-undang Kesehatan Undang-undang RI No.36 Tahun 2009 tentang kesehatan, berisi peraturan-peraturan hukum yang bertujuan untuk peningkatan derajat kesehatan seluruh anggota masyarakat. Undang-undang kesehatan ini merupakan produk hukum yang bernuansa luas di bidang kesehatan. HAM dalam UU Kesehatan

Pengakuan pada pasien untuk menentukan nasibnya sendiri (the rights of self determination) yang diwujudkan dalam bentuk informed consent

Pasien berhak menentukan apakah ia akan menerima atau menolak tindakan medik Imunisasi tidak disebut apakah wajib atau sukarela

Perundang-undangan di bidang kesehatan


1. UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan 2. UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah sakit

3. UU No. 29/2004 tentang Praktik Kedokteran tentang Pengujian UUPK terhadap UUD45) 4. Berbagai Peraturan Pelaksana Bidang Kesehatan Peraturan Pemerintah
1.

(Putusan MK No. 4/PUU- V/2007

PP No. 1/1998 ttg Masa Bakti dan Praktik dokter/ dokter gigi PP No. 32/ 1996 ttg tenaga kesehatan

2.

Peraturan Pelaksanaan PerUU Kesehatan 1. Permenkes 1419/2005 ttg Praktik Dr yg diubah dg No. 512/2007. 2. Kepmenkes 1239/2001 ttg Registrasi Praktik Perawat 3. Kepmenkes 1363/2001 ttg Registrasi dan Izin Praktik Fisioterapis 4. Kepmenkes 1392/2001 ttg Registrasi dan Izin kerja Perawat Gigi 5. KepMenKes No. 900/VII/2002 ( 11 BAB,47 pasal ) : Registrasi dan Bidan. 6. Kepmenkes 679/2003 ttg Registrasi dan Izin Kerja Asisten Apoteker 7. Permenkes 867/2004 ttg Registrasi dan Izin Prkatik Terapis Wicara 8. Permenkes 269/08 ttg Rekam Medik. 9. Permenkes 290/08 ttg Informed Consent 10. Permenkes 159b/III/1998 ttg Rumah Sakit
11. KepMenKes No. 496/IV/2005 ttg Pedoman Audit Medik RS.

praktik

Undang-Undang Praktik Kedokteran Berbagai upaya hukum yang dilakukan dalam memberikan perlindungan menyeluruh kepada masyarakat sebagai penerima pelayanan, dokter dan dokter gigi sebagai pemberi pelayanan telah banyak dilakukan, akan tetapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran yang berkembang sangat cepat tidak seimbang dengan perkembangan hukum.2

Perangkat hukum yang mengatur penyelenggaraan praktik kedokteran dan kedokteran gigi dirasakan belum memadai selama ini masih didominasi oleh kebutuhan formal dan kepentingan pemerintah, sedangkan porsi profesi masih kurang.2 Oleh karena itu untuk menjembatani kepentingan kedua belah pihak serta untuk melakukan penelitian terhadap kemampuan objektif seorang dokter dan dokter gigi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, diperlukan pembentukan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) yang terdiri atas Konsil Kedokteran dan Konsil Kedokteran Gigi.2 Dalam menjalankan fungsinya Konsil Kedokteran Indonesia bertugas melakukan registrasi terhadap semua dokter dan dokter gigi yang akan menjalankan praktik kedokteran, mengesahkan standar pendidikan profesi dokter dan dokter gigi, dan melakukan pembinaan bersama lembaga terkait lainnya terhadap penyelenggaraan praktik kedokteran.2 Dalam rangka memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum, untuk meningkatkan, mengarahkan dan memberi landasan hukum serta menata kembali berbagai perangkat hukum yang mengatur penyelengaraan praktek kedokteran agar dapat berjalan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka perlu diatur praktik kedokteran dalam undang-undang. Untuk itu perlu dibentuk undang-undang tentang praktik kedokteran.2 Dalam UU ini diatur: 1. Asas dan tujuan penyelenggaraan praktek kedokteran yang menjadi landasan yang didasarkan pada nilai ilmiah serta manfaat, keadilan, kemanusiaan, keseimbangan serta perlindungan dan keselamatan pasien. 2. Pembentukan konsil kedokteran Indonesia 3. Registrasi dokter dan dokter gigi
4. penyusunan, penetapan dan pengesahan standar pendidikan profesi dokter dan dokter

gigi 5. Penyelenggaraan praktek kedokteran Indonesia. 6. Pembentukan majelis kehormatan disiplin kedokteran Indonesia 7. Pembinaan dan pengawasan praktek kedokteran.

8. Pengaturan ketentuan pidana.2

Skema Hak Dasar Hu


Hukum Kesehatan dan Profesi Dokter adalah suatu

1.5

HAK

SOSIAL
Pelaksanaan profesi dokter diatur oleh norma etik dan norma hukum Essensi suatu profesi menurut Bernard Barber :

profesi,
sebagai suatu Profesi memiliki

persyaratan tertentu. Setiap pelaksanaan profesi melekat tanggungjawab professional.

The Right to Health Care

1. Membutuhkan ilmu pengetahuan yg tinggi yg hanya dpt dipelajarai scr sistematik 2. Orientasi primernya lebih ditujukan untuk kepentingan masyarakat 3. Memiliki mekanisme kontrol terhadap perilaku pemegang profesi
4. Memiliki sistem reward.

Hak atas Pelayanan Medis

Setiap tindakan yang dilakukan oleh dokter memiliki risiko, tindakan tersebut adalah: a) Meliputi tindakan yg bersifat intervensi b) Tindakannya dpt dikelompokkan sbg: 1. Tindakan kuratif, 2. Tindakan rehabilitatif 3. Tindakan promotif dan 4. Tindakan preventif c) Tujuan tindakan : 1. Kepentingan Ybs (pasien) 2. Kepentingan orang lain 3. Kepentingan penelitian.

H K

BAB II Informed Consent Dalam aspek hukum kesehatan, hubungan dokter dengan pasien terjalin dalam ikatan transaksi atau kontrak terapeutik. Masing-masing pihak yaitu yang memberi pelayanan (medical providers) dan yang menerima pelayanan (medical receivers) mempunyai hak dan kewajiban yang harus dihormati. Dalam ikatan demikianlah masalah persetujuan tindakan medik (informed consent) ini timbul. 2.1. Definisi Informed Consent Informed consent terdiri dari dua kata yaitu informed yang berarti telah mendapat penjelasan atau keterangan (informasi), dan consent yang berarti persetujuan atau memberi izin. Jadi informed consent mengandung pengertian suatu persetujuan yang diberikan setelah mendapat informasi. Informed consent dapat didefinisikan sebagai persetujuan yang diberikan oleh pasien dan atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya serta resiko yang berkaitan dengannya. Menurut D. Veronika Komalawati, SH , informed consent dirumuskan sebagai suatu kesepakatan/persetujuan pasien atas upaya medis yang akan dilakukan dokter terhadap dirinya setelah memperoleh informasi dari dokter mengenai upaya medis

yang dapat dilakukan untuk menolong dirinya disertai informasi mengenai segala resiko yang mungkin terjadi.
Yang dimaksud informed atau memberi penjelasan disini adalah semua keadaaan yang berhubungan dengan penyakit pasien dan tindakan medik apa yang akan dilakukan dokter serta hal-hal lain yang perlu dijelaskan dokter atas pertanyaan pasien atau keluarga.

Dalam Permenkes no.589 tahun 1989 dijelasakan bahwa yang dimaksud dengan informed consent adalah persetujuan yang diberikan pasien atau keluarga atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut.

Informed consent adalah suatu proses yang menunjukkan komunikasi yang efektif antara dokter dengan pasien, dan bertemunya pemikiran tentang apa yang akan dan apa yang tidak akan dilakukan terhadap pasien.

Informed consent dilihat dari aspek hukum bukanlah sebagai perjanjian antara dua pihak, melainkan lebih ke arah persetujuan sepihak atas layanan yang ditawarkan pihak lain.

Definisi operasionalnya adalah suatu pernyataan sepihak dari orang yang berhak (yaitu pasien, keluarga atau walinya) yang isinya berupa izin atau persetujuan kepada dokter untuk melakukan tindakan medik sesudah orang yang berhak tersebut diberi informasi secukupnya.

2.2.

Aspek Hukum Informed Consent Di Indonesia perkembangan informed consent secara yuridis formal, ditandai dengan

munculnya pernyataan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tentang informed consent melalui SK PB-IDI No. 319/PB/A.4/88 pada tahun 1988. Kemudian dipertegas lagi dengan PerMenKes No. 585 tahun 1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik atau Informed Consent. Baru sekitar tahun 1988 di Indonesia ada peraturan dan pedoman bagi para dokter untuk melaksanakan konsep informed consent dalam praktek sehari-hari yaki berupa fatwa PB. IDI No. 319/PB/A.4/88 tentang informed consent, yang kemudian diadopsi isinya hampir sebagian besar oleh Permenkes No. 585 Tahun 1989 tentang persetujuan tindakan medik. Dengan adanya peraturan Permenkes No.585 Tahun 1989 tentang persetujuan tindakan medik, maka peraturan tersebut menjadi aturan pelaksanaan dalam setiap tindakan medis yang berhubungan dengan persetujuan dan pemberian informasi terhadap setiap tindakan medik. Peraturan tersebut menyebutkan bahwa setiap tindakan medik harus ada persetujuan dari pasien yang diatur dalam Pasal 2 ayat (1) Permenkes No.585 Tahun 1989, yang berbunyi semua tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan.

Adanya pengaturan mengenai informed consent yang terdapat dalam Permenkes No.585 Tahun 1989 tersebut juga diperkuat dengan adanya Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran yang terdapat pada Pasal 45 ayat (1) sampai (6) yang berbunyi : Pasal 45 ayat (1) : Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gig iyang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan.

Pasal 45 ayat (2) : Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat penjelasan secara lengkap. Pasal 45 ayat (3) : Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup : a. Diagnosis dan tata cara tindakan medis b. Tujuan tindakan medis yang dilakukan c. Alternatif tindakan lain dan risikonya d. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi e. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan Pasal 45 ayat (4) : Persetujuan sebagaimana dimaksud padaf ayat (2) dapat diberikan baik secara tertulis maupun lisan. Pasal 45 ayat (5) : Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung risiko tinggi harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. Pasal 45 ayat (6) : Ketentuan mengenai tata cara persetujuan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (30), ayat (4) dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri. Dari Ketentuan Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran tersebut terutama pada pasal 45 ayat (6) menyebutkan bahwa pengaturan mengenai tata cara persetujuan tindakan kedokteran (informend consent) diatur oleh peraturan menteri yaitu Permenkes No.585 Tahun 1989. Menurut PerMenKes no 290/MenKes/Per/III/2008 dan UU no 29 tahun 2004 Pasal 45 serta Manual Persetujuan Tindakan Kedokteran KKI tahun 2008, maka informed consent adalah persetujuan tindakan kedokteran yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekatnya setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran yang akan

dilakukan terhadap pasien tersebut. Menurut Lampiran SKB IDI No. 319/P/BA./88 dan Permenkes no 585/Men.Kes/Per/IX/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis Pasal 4 ayat 2 menyebutkan dalam memberikan informasi kepada pasien/keluarganya, kehadiran seorang perawat/paramedik lainnya sebagai saksi adalah penting. Dalam hubungan hukum, pelaksana dan pengguna jasa tindakan medis (dokter, dan pasien) bertindak sebagai subjek hukum, yakni orang yang mempunyai hak dan kewajiban, sedangkan jasa tindakan medis sebagai objek hukum, yakni sesuatu yang bernilai dan bermanfaat bagi orang sebagai subjek hukum, dan akan terjadi perbuatan hukum yaitu perbuatan yang akibatnya diatur oleh hukum, baik yang dilakukan satu pihak saja maupun oleh dua pihak. Dalam masalah informed consent, dokter sebagai pelaksana jasa tindakan medis, disamping terikat oleh KODEKI (Kode Etik Kedokteran Indonesia) bagi dokter, juga tetap tidak dapat melepaskan diri dari ketentuan-ketentuan hukun perdata, hukum pidana maupun hukum administrasi, sepanjang hal itu dapat diterapkan. Pada pelaksanaan tindakan medis, masalah etik dan hukum perdata, tolak ukur yang digunakan adalah kesalahan kecil (culpa levis), sehingga jika terjadi kesalahan kecil dalam tindakan medis yang merugikan pasien, maka sudah dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum. Hal ini disebabkan pada hukum perdata secara umum berlaku adagium barang siapa merugikan orang lain harus memberikan ganti rugi. Sedangkan pada masalah hukum pidana, tolak ukur yang dipergunakan adalah kesalahan berat (culpa lata). Oleh karena itu adanya kesalahan kecil (ringan) pada pelaksanaan tindakan medis belum dapat dipakai sebagai tolak ukur untuk menjatuhkan sanksi pidana. Aspek Hukum Perdata, suatu tindakan medis yang dilakukan oleh pelaksana jasa tindakan medis (dokter) tanpa adanya persetujuan dari pihak pengguna jasa tindakan medis (pasien), sedangkan pasien dalam keadaan sadar penuh dan mampu memberikan persetujuan, maka dokter sebagai pelaksana tindakan medis dapat dipersalahkan dan digugat telah melakukan suatu perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) berdasarkan Pasal 1365 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer). Hal ini karena pasien mempunyai hak atas tubuhnya, sehingga dokter dan harus menghormatinya. Aspek Hukum Pidana, informed consent mutlak harus dipenuhi dengan adanya pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penganiayaan. Suatu tindakan invasif (misalnya pembedahan) yang dilakukan pelaksana jasa tindakan medis tanpa adanya izin dari pihak pasien, maka pelaksana jasa tindakan medis dapat dituntut telah melakukan tindak pidana penganiayaan yaitu telah melakukan pelanggaran terhadap Pasal 351 KUHP.

Sebagai salah satu pelaksana jasa tindakan medis dokter harus menyadari bahwa informed consent benar-benar dapat menjamin terlaksananya hubungan hukum antara pihak pasien dengan dokter, atas dasar saling memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak yang seimbang dan dapat dipertanggungjawabkan. Ada beberapa kaidah yang harus diperhatikan dalam menyusun dan memberikan informed consent agar hukum perikatan ini tidak cacat hukum, diantaranya adalah : 1. Tidak bersifat memperdaya (Fraud) 2. Tidak berupaya menekan (Force) 3. Tidak menciptakan ketakutan (Fear) Persetujuan yang ditanda tangani oleh pasien atau keluarga terdekatnya tersebut, tidak membebaskan dokter dari tuntutan jika dokter melakukan kelalaian. Tindakan medis yang dilakukan tanpa persetujuan pasien atau keluarga terdekatnya, dapat digolongkan sebagai tindakan melakukan penganiayaan berdasarkan KUHP Pasal 351. Tindakan medis yang dilakukan tanpa izin pasien, dapat digolongkan sebagai tindakan melakukan penganiayaan berdasarkan KUHP Pasal 351 ( trespass, battery, bodily assault ). Menurut Pasal 5 Permenkes No 290 / Menkes / PER / III / 2008, persetujuan tindakan kedokteran dapat dibatalkan atau ditarik kembali oleh yang memberi persetujuan, sebelum dimulainya tindakan (Ayat 1). Pembatalan persetujuan tindakan kedokteran harus dilakukan secara tertulis oleh yang memberi persetujuan (Ayat 2). 2.3. Syarat Informed Consent Suatu informed consent baru sah diberikan oleh pasien jika memenuhi minimal 3 (tiga) unsur sebagai berikut : 1. Keterbukaan informasi yang cukup diberikan oleh dokter 2. Kompetensi pasien dalam memberikan persetujuan 3. Kesukarelaan (tanpa paksaan atau tekanan) dalam memberikan persetujuan Informed consent hakikatnya adalah hukum perikatan, ketentuan perdata akan berlaku dan ini sangat berhubungan dengan tanggung jawab profesional menyangkut perjanjian perawatan dan perjanjian terapeutik. Aspek perdata informed consent bila dikaitkan dengan Hukum Perikatan yang di dalam KUH Perdata BW Pasal 1320 memuat syarat sahnya suatu perjanjian yaitu : 1. Adanya kesepakatan antar pihak, bebas dari paksaan, kekeliruan dan penipuan 2. Para pihak cakap untuk membuat perikatan

3. Adanya suatu sebab yang halal, yang dibenarkan, dan tidak dilarang oleh peraturan perundang undangan serta merupakan sebab yang masuk akal untuk dipenuhi Dari syarat pertama yaitu adanya kesepakatan antara kedua pihak (antara petugas kesehatan dan pasien), maka berarti harus ada informasi keluhan pasien yang cukup dari kedua belah pihak tersebut. Dari pihak petugas harus mendapat informasi keluhan pasien sejujurnya, demikian pula dari pihak pasien harus memperoleh diagnosis dan terapi yang akan dilakukan.

2.4.

Elemen Informed Consent 1. Threshold elements

Pemberi consent haruslah seseorang yang kompeten (cakap). Kompeten diartikan sebagai kapasitas untuk membuat keputusan medis. Secara hukum seseorang dianggap cakap (kompeten) apabila telah dewasa, sadar dan berada dalam keadaan mental yang tidak di bawah pengampuan. Dewasa diartikan sebagai usia telah mencapai 21 tahun atau telah pernah menikah. Keadaan mental yang dianggap tidak kompeten adalah apabila mempunyai penyakit mental sedemikian rupa sehingga kemampuan membuat keputusan menjadi terganggu.

2. Information elements

Elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu, disclosure (pengungkapan) dan understanding (pemahaman). Tenaga medis harus memberikan informasi (disclosure) sedemikian rupa sehingga pasien dapat mencapai pemahaman yang adekuat. Seberapa baik informasi harus diberikan kepada pasien, dapat dilihat dari 3 standar, yaitu : a. Standar praktik profesi Bahwa kewajiban memberikan informasi dan kriteria keadekuatan informasi ditentukan bagaimana biasanya dilakukan dalam komunitas tenaga medis. b. Standar subjektif

Bahwa keputusan harus didasarkan atas nilai-nilai yang dianut oleh pasien secara pribadi, sehingga informasi yang diberikan harus memadai untuk pasien tersebut dalam membuat keputusan.
c. Standar pada reasonable person

Standar ini merupakan hasil kompromi dari kedua standar sebelumnya, yaitu dianggap cukup apabila informasi yang diberikan telah memenuhi kebutuhan umumnya orang awam. 3. Consent elements

Elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu, voluntariness (kesukarelaan, kebebasan) dan authorization (persetujuan). Kesukarelaan mengharuskan tidak ada tipuan, misrepresentasi ataupun paksaan. Pasien juga harus bebas dari tekanan yang dilakukan tenaga medis yang bersikap seolah-olah akan dibiarkan apabila tidak menyetujui tawarannya.

2.5.

Isi Informed Consent Dalam Permenkes No. 585 tahun 1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik

dinyatakan bahwa dokter harus menyampaikan informasi atau penjelasan kepada pasien / keluarga diminta atau tidak diminta, jadi informasi harus disampaikan. Tindakan apa yang dilakukan, tentunya prosedur tindakan yang akan dijalani pasien baik diagnostik maupun terapi dan lain-lain sehingga pasien atau keluarga dapat memahaminya. Ini mencakup bentuk, tujuan, resiko, manfaat dari terapi yang akan dilaksanakan dan alternatif terapi. Secara umum dapat dikatakan bahwa semua tindakan medis yang akan dilakukan terhadap pasien yang harus diinformasikan sebelumnya, namun izin yang harus diberikan oleh pasien dapat berbagai macam bentuknya, baik yang dinyatakan ataupun tidak. Yang paling penting untuk diketahui adalah bagaimana izin tersebut harus dituangkan dalam bentuk tertulis, sehingga akan memudahkan pembuktiannya kelak bila timbul perselisihan. Secara garis besar dalam melakukan tindakan medis pada pasien, dokter harus menjelaskan beberapa hal, yaitu :
1. Garis besar seluk beluk penyakit yang diderita dan prosedur perawatan / pengobatan

yang akan diberikan/diterapkan


2. Resiko yang dihadapi, misalnya komplikasi yang diduga akan timbul 3. Prospek/prognosis keberhasilan ataupun kegagalan

4. Alternatif metode perawatan/pengobatan 5. Hal-hal yang dapat terjadi bila pasien menolak untuk memberikan persetujuan 6. Prosedur perawatan/pengobatan yang akan dilakukan merupakan suatu percobaan

atau menyimpang dari kebiasaan, bila hal itu yang akan dilakukan Dokter juga perlu menyampaikan (meskipun hanya sekilas), mengenai cara kerja dan pengalamannya dalam melakukan tindakan medis tersebut. Informasi/keterangan yang wajib diberikan sebelum suatu tindakan kedokteran dilaksanakan adalah :
1. Diagnosa yang telah ditegakkan 2. Sifat dan luasnya tindakan yang akan dilakukan 3. Manfaat dan urgensinya dilakukan tindakan tersebut 4. Resiko resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi daripada tindakan kedokteran

tersebut.
5. Konsekuensinya bila tidak dilakukan tindakan tersebut dan adakah alternatif cara

pengobatan yang lain


6. Biaya yang menyangkut tindakan kedokteran tersebut

Resiko resiko yang harus diinformasikan kepada pasien yang dimintakan persetujuan tindakan kedokteran :
1. Resiko yang melekat pada tindakan kedokteran tersebut 2. Resiko yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya

Dalam hal terdapat indikasi kemungkinan perluasan tindakan kedokteran, dokter yang akan melakukan tindakan juga harus memberikan penjelasan ( Pasal 11 Ayat 1 Permenkes No 290 / Menkes / PER / III / 2008 ). Penjelasan kemungkinan perluasan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud dalam Ayat 1 merupakan dasar daripada persetujuan (Ayat 2). Pengecualian persetujuan terhadap keharusan pemberian kedokteran adalah informasi sebelum dimintakan dalam PerMenKes no tindakan (tercantum

290/Menkes/Per/III/2008) :
1. Dalam keadaan gawat darurat (emergency), dimana dokter harus segera bertindak

untuk menyelamatkan jiwa


2.

Keadaan emosi pasien yang sangat labil sehingga ia tidak bisa menghadapi situasi dirinya

2.6.

Ruang Lingkup Informed Consent Bagian yang terpenting dalam pembicaraan mengenai informed consent mengenai

informasi atau penjelasan perlu disampaikan kepada pasien atau keluarga. Masalahnya adalah informasi mengenai apa (what), yang perlu disampaikan, kapan disampaikan (when), siapa yang harus menyampaikan (who), dan informasi yang mana (which) yang perlu disampaikan. Dalam Permenkes No 585 tahun 1989 tentang informed consent dinyatakan bahwa dokter harus menyampaikan informasi atau penjelasan kepada pasien atau keluarga baik diminta maupun tidak. Mengenai apa (what) yang harus disampaikan, tentulah segala sesuatu yang berkaitan dengan penyakit pasien. Ini mencakup bentuk, tujuan, risiko, manfaat dari terapi yang akan dilaksanakan, dan alternatif terapi. Penyampaian informasi haruslah secara lisan. Penyampaian formulir untuk ditandatangani pasien atau keluarga tanpa penjelasan dan pembahasan secara lisan dengan pasien atau keluarga tidak memenuhi persyaratan. Mengenai kapan (when) disampaikan, tergantung pada pada waktu yang tersedia setelah dokter memutuskan atau melakukan tindakan invasive yang dimaksud. Pasien atau keluarga pasien harus diberi waktu yang cukup untuk menentukan keputusannya. Yang menyampaikan (who) informasi, tergantung dari jenis tindakan yang akan dilakukan. Dalam Permenkes dijelaskan bahwa tindakan bedah dan tindakan invasif lainnya harus diberikan oleh dokter yang akan melakukan tindakan. Penyampaian informasi ini memerlukan kebijaksanaan dari dokter yang akan melakukan tindakan tersebut atau petugas yang ditunjuk untuk itu dan disesuaikan dengan tingkat pendidikan dan kondisi pasien. Mengenai informasi yang mana (which) yang harus disampaikan dalam Permenkes dijelaskan haruslah selengkap-lengkapnya, kecuali dokter menilai informasi tersebut dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien atau pasien menolak diberikan informasi. 2.7. Persetujuan Inti dari persetujuan adalah persetujuan haruslah didapat sesudah pasien mendapat informasi yang adekuat. Yang harus diperhatikan adalah bahwa yang berhak memberikan persetujuan adalah pasien yang sudah dewasa (diatas 21 tahun atau sudah menikah) dan dalam keadaan sehat mental. Dalam banyak informed consent yang ada selama ini, penandatanganan persetujuan ini lebih sering dilakukan oleh keluarga pasien. Hal ini mungkin berkaitan dengan kesangsian terhadap kesiapan mental pasien, sehingga beban demikian diambil alih oleh keluarga pasien.

Untuk pasien dibawah umur 21 tahun dan pasien penderita gangguan jiwa yang menandatangani adalah orangtua/wali/keluarga terdekat. Untuk pasien dalam keadaan tidak sadar, atau pingsan serta tidak didampingi oleh keluarga terdekat dan secara medik berada dalam keadaan gawat darurat yang memerlukan tindakan medik segera, maka tindak diperlukan persetujuan dari siapapun (pasal 11 Bab IV PERMENKES No 585). Terdapat 5 syarat yang harus dipenuhi untuk sahnya informed consent yaitu : 1. Diberikan secara bebas. 2. Diberikan oleh orang yang sanggup membuat perjanjian. 3. Telah dijelaskan bentuk tindakan yang akan dilakukan sehingga pasien dapat memahami tindakan itu perlu dilakukan. 4. Mengenai sesuatu hal yang khas. 5. Tindakan itu juga dilakukan pada situasi yang sama. 2.8. Penolakan Tidak selamanya pasien atau keluarga setuju dengan tindakan medik yang akan dilakukan dokter. Dalam situasi demikian, kalangan dokter maupun kalangan kesehatan lainnya harus memahami bahwa pasien atau keluaraga mempunyai hak untuk menolak usul tindakan yang akan dilakukan. Ini disebut sebagai informed refusal. Bila dokter gagal dalam meyakinkan pasien pada alternatif tindakan yang diperlukan, maka untuk keamanan dikemudian hari, sebaiknya dokter atau rumah sakit meminta pasien atau keluarga menandatangani surat penolakan terhadap anjuran tindakan medik yang diperlukan. 2.9.

Hakikat Informed Consent Merupakan sarana legimitasi bagi dokter untuk melakukan intervensi medik yang mengandung risiko serta akibat yang tidak menyenangkan. Merupakan pernyataan sepihak, maka yang menyatakan secara tertulis (written consent) hanya yang bersangkutan saja yang seharusnya menandatangani.

2.10.

Pemberian Informed Consent Informed consent adalah suatu persetujuan mengenai akan dilakukannya tindakan

kedokteran oleh dokter terhadap pasiennya. Persetujuan ini bisa dalam bentuk lisan maupun tertulis. Pada hakikatnya informed consent adalah suatu proses komunikasi antara dokter dan pasien tentang kesepakatan tindakan medis yang akan dilakukan dokter terhadap pasien (ada

kegiatan penjelasan rinci oleh dokter), sehingga kesepakatan lisan pun sesungguhnya sudah cukup. Penandatanganan formulir informed consent secara tertulis hanya merupakan pengukuhan atas apa yang telah disepakati sebelumnya. Formulir ini juga merupakan suatu tanda bukti yang akan disimpan di dalam arsip rekam medis pasien. Consent dapat diberikan :
1. Dinyatakan (expressed)

Expressed consent adalah persetujuan yang dinyatakan secara lisan atau tulisan, bila prosedur yang akan dilakukan lebih dari prosedur pemeriksaan dan tindakan yang biasa. Dalam keadaan demikian sebaiknya kepada pasien disampaikan terlebih dahulu tindakan apa yang akan dilakukan supaya tidak sampai terjadi salah pengertian. Misalnya pemeriksaan dalam, rectal touch, mencabut kuku, dan tindakan lain yang melebihi prosedur dan pemeriksaan umum. Namun bila tindakan yang akan dilakukan mengandung risiko seperti tindakan pembedahan atau prosedur pemeriksaan dan pengobatan yang invasif sebaiknya didapatkan informed consent secara tertulis. Dinyatakan secara lisan Dinyatakan secara tertulis Pernyataan tertulis diperlukan apabila dibutuhkan bukti di kemudian hari, umumnya pada tindakan yang invasif atau yang beresiko mempengaruhi kesehatan penderita secara bermakna. Permenkes tentang persetujuan tindakan medis menyatakan bahwa semua jenis tindakan operatif harus memperoleh persetujuan tertulis.
2. Tidak dinyatakan (implied)

Implied consent adalah persetujuan yang diberikan pasien secara tersirat dan tanpa pernyataan tegas. Isyarat persetujuan ini ditangkap dari sikap dan tindakan pasien. Umumnya tindakan dokter disini adalah yang biasa dilakukan atau yang sudah diketahui umum. Misalnya pengambilan darah untuk pemeriksaan laboratorium, melakukan suntikan pada pasien, dan melakukan penjahitan luka. Presumed consent artinya bila pasien dalam keadaan sadar, pasien dianggap akan menyetujui tindakan yang akan dilakukan oleh dokter. Pasien tidak menyatakannya, baik secara lisan maupun tertulis, namun melakukan tingkah laku (gerakan) yang menunjukkan jawabannya.

Meskipun consent jenis ini tidak memiliki bukti, namun consent jenis inilah yang paling banyak dilakukan dalam praktik sehari-hari.

Misalnya

adalah

seseorang

yang

menggulung

lengan

bajunya

dan

mengulurkan lengannya ketika akan diambil darahnya. 2.11. Bentuk Informed Consent Secara umum bentuk persetujuan yang diberikan pengguna jasa tindakan medis (pasien) kepada pihak pelaksana jasa tindakan medis (dokter) untuk melakukan tindakan medis dapat dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu : 1. Persetujuan Tertulis Biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang mengandung resiko besar, sebagaimana ditegaskan dalam PerMenKes No. 585/Men.Kes/Per/IX/1989 Pasal 3 ayat (1) dan SK PB-IDI No. 319/PB/A.4/88 butir 3, yaitu intinya setiap tindakan medis yang mengandung resiko cukup besar, mengharuskan adanya persetujuan tertulis, setelah sebelumnya pihak pasien memperoleh informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan medis serta resiko yang berkaitan dengannya (telah terjadi informed consent). 2. Persetujuan Lisan Biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang bersifat non-invasif dan tidak mengandung resiko tinggi, yang diberikan oleh pihak pasien. 3. Persetujuan dengan isyarat Dilakukan pasien melalui isyarat, misalnya pasien yang akan disuntik atau diperiksa tekanan darahnya, langsung menyodorkan lengannya sebagai tanda menyetujui tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya. 2.12. Tujuan Informed Consent Dalam hubungan antara pelaksana (dokter) dengan pengguna jasa tindakan medis (pasien), berdasarkan Permenkes No. 290/Menkes/Per/III/2008 Pasal 3, maka pelaksanaan informed consent bertujuan untuk : Melindungi pengguna jasa tindakan medis (pasien) secara hukum dari segala tindakan medis yang dilakukan dokter yang sebenarnya tidak diperlukan dan secara medik tidak ada dasar pembenarannya yang dilakukan tanpa sepengetahuannya, maupun tindakan pelaksana jasa tindakan medis yang sewenang-wenang, tindakan malpraktek yang bertentangan dengan hak asasi pasien dan standar profesi medis, serta

penyalahgunaan alat canggih yang memerlukan biaya tinggi atau over utilization yang sebenarnya tidak perlu dan tidak ada alasan medisnya. Memberikan perlindungan hukum terhadap suatu kegagalan dan bersifat negatif, karena prosedur medik modern bukan tanpa resiko, dan pada setiap tindakan medik ada melekat suatu resiko, juga terhadap tuntutan-tuntutan pihak pasien yang tidak wajar, serta akibat tindakan medis yang tak terduga dan bersifat negatif, misalnya terhadap risk of treatment yang tak mungkin dihindarkan walaupun dokter telah bertindak hati-hati dan teliti serta sesuai dengan standar profesi medik. Sepanjang hal itu terjadi dalam batas-batas tertentu, maka tidak dapat dipersalahkan, kecuali jika melakukan kesalahan besar karena kelalaian (negligence) atau karena ketidaktahuan (ignorancy) yang sebenarnya tidak akan dilakukan demikian oleh teman sejawat lainnya. 2.13. Fungsi Informed Consent Perlunya dimintakan informed consent dari pasien karena informed consent mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut : 1. Penghormatan terhadap harkat dan martabat pasien selaku manusia 2. Promosi terhadap hak untuk menentukan nasibnya sendiri 3. Mendorong dokter melakukan kehati-hatian dalam mengobati pasien
4. Menghindari penipuan dan misleading oleh dokter

5. Mendorong diambil keputusan yang lebih rasional 6. Mendorong keterlibatan publik dalam masalah kedokteran dan kesehatan 7. Sebagai suatu proses edukasi masyarakat dalam bidang kedokteran dan kesehatan 2.14. Manfaat Informed Consent

Bagi pasien diantaranya : 1. Mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih adekuat 2. Perlindungan hukum preventif 3. Implementasi hak atas diri sendiri 4. Pasien dapat memilih dan memutuskan dengan benar apa yang akan dilakukan terhadap dirinya Bagi dokter diantaranya :
1. Sebagai legalitas untuk dapat melakukan tindakan medic

2. Sebagai perlindungan hukum preventif 3. Untuk dapat bertindak lebih hati-hati Bagi sarana pelayanan kesehatan diantaranya: 1. Sebagai bagian dari dokumen rekam medis 2. Sebagai bukti administratif & bukti yuridis 3. Sarana yang terkait dengan akreditasi (bagi RS) 2.15. Konteks Informed Consent Pada prinsipnya informed consent diberikan di setiap pengobatan oleh dokter. Akan tetapi, urgensi dari penerapan prinsip informed consent sangat terasa dalam kasus-kasus sebagai berikut : 1. Dalam kasus-kasus yang menyangkut dengan pembedahan/operasi 2. Dalam kasus-kasus yang menyangkut dengan pengobatan yang memakai teknologi baru yang sepenuhnya belum dipahami efek sampingnya 3. Dalam kasus-kasus yang memakai terapi atau obat yang kemungkinan banyak efek samping, seperti terapi dengan sinar laser, dan lain-lain 4. Dalam kasus-kasus penolakan pengobatan oleh klien 5. Dalam kasus-kasus di mana di samping mengobati, dokter juga melakukan riset dan eksperimen dengan berobjekan pasien Informed consent tidak berlaku pada 5 keadaan : 1. Keadaan darurat medis 2. Ancaman terhadap kesehatan masyarakat
3. Pelepasan hak memberikan consent (waiver) 4. Clinical privilege (penggunaan clinical privilege hanya dapat dilakukan pada pasien

yang melepaskan haknya memberikan consent)


5. Pasien yang tidak kompeten dalam memberikan consent

2.16.

Proxy Consent Adalah consent yang diberikan oleh orang yang bukan pasien itu sendiri, dengan syarat bahwa pasien tidak mampu memberikan consent secara pribadi, dan consent tersebut harus mendekati apa yang sekiranya akan diberikan oleh pasien.

Umumnya urutan orang yang dapat memberikan proxy consent adalah suami/istri, anak, orang tua, saudara kandung. Proxy consent hanya boleh dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan ketat. Keluhan Pasien tentang Informed Consent

2.17.

1. Bahasa yang digunakan untuk menjelaskan terlalu teknis 2. Perilaku dokter yang terlihat terburu-buru atau tidak perhatian, atau tidak ada waktu untuk tanya jawab. 3. Pasien sedang dalam keadaan stress emosional sehingga tidak mampu mencerna informasi 4. Pasien dalam keadaan tidak sadar atau mengantuk 2.18. 2. Keluhan Dokter tentang Informed Consent Pasien tak mampu memahami

1. Pasien tidak mau diberitahu 3. Resiko terlalu umum atau terlalu jarang terjadi 4. Situasi gawat darurat atau waktu yang sempit

BAB III Malprakek Kedokteran 3.1 Definisi Malpraktek kedokteran adalah dokter atau orang yang ada dibawah perintahnya dengan sengaja atau kelalaian melakukan perbuatan (aktif atau pasif) dalam praktik kedokteran pada pasiennya dalam segala tingkatan yang ,elanggar standar profesi, standar prosedur, prinsip-prisnip professional kedokteran atau dengan ,elanggar hukum (tanpa wewenang) karena tanpa informed cosent atau diluar informed consent tanpa SIP atau STR, tidak sesuai dengan kebutuhan medis pasien dengan menimbulkan kerugian bagi tubuh, kesehatan fisik, mental, dan atau nyawa pasien sehingga membentuk pertanggungjawaban hukum bagi dokter. 3.2 Tindakan malprektek meliputi 4D 1. Duty 2. Duty Dereliction of Duty 3. Damage 4. Direct Causation 3.2.1 Duty Tidak ada kelalaian jika tidak ada kewajiban untuk mengobati. Hal ini berarti bahwa harus ada hubungan hukum antara pasien dan dokter/rumah sakit. Dengan adanya hubungan hukum. maka implikasinya adalah bahwa sikap tindak dokter/perawat rumah sakit itu harus sesuai dengan standar pelayanan medik agar pasien jangan sampai menderita cedera karenanya. 3.2.2 Duty Dereliction of Duty Jika seorang dokter melakukan tindakan menyimpang dari apa yang seharusnya atau tidak seharusnya dilakukan menurut standar profesinya, maka dokter dapat dipersalahkan. Bukti adanya suatu penyimpangan dapat diberikan melalui saksi ahli, catatan-catatan pada rekam medik, kesaksian perawat dan bukti-bukti lainnya.

3.2.3 Damage Damage yang dimaksud adalah cedera atau kerugian yang diakibatkan kepada pasien. Walaupun seorang dokter atau rumah sakit dituduh telah berlaku lalai, tetapi jika tidak sampai menimbulkan luka/cedera/kerugian (damage, injury, harm) kepada pasien, maka ia tidak dapat dituntut ganti-kerugian. 3.2.4 Direct Causation Penyebab langsung yang dimaksudkan dimana suatu tindakan langsung yang terjadi, yang mengakibatkan kecacatan pada pasien. Untuk berhasilnya suatu gugatan ganti-rugi berdasarkan malpaktek medik, maka harus ada hubungan kausal yang wajar antara sikaptindak tergugat (dokter) dengan kerugian (damage) yang menjadi diderita oleh pasien sebagai akibatnya. Perbuatan pelayanan/perlakuan medis yang dapat dipersalahkan pada pembuatannya harus mengandung sifat melawan hukum, antara lain: 1. Dilanggarnya standar profesi kedokteran 2. Dilanggarnya standar prosedur operasional 3. Dilanggarnya standar hukum, misalnya prakek tanpa STR atau SIP 4. Dilanggarnya kode etik kedokteran (kodeki) 5. Dilanggarnya prinsi-prinsip umum kedokteran 6. Dilanggarnya kesusilaan umum 7. Praktek kedokteran tanpa informed consent 8. Terapi tidak sesuai dengan kebutuhan medis pasien 9. Terapi tidak sesuai dengan informed consent 3.3 Aspek-aspek hukum yang mengatur tentang malptrakterk kedokteran 3.3.1 Aspek hukum perdata malpraktek kedokteran Adanya perbuatan yang melawan hukum Syarat pertama harus ada perbuatan., baik perbuatan aktif maupun pasif. Perbuatan aktif berupa perbuatan yang wujudnya berupa gerakan tubuh atau

bagian dari tubuh. Perbuatan pasif tidak melakukan sesuatu yang seharusnya (dalam keadaan tertentu) diwajibkan untuk melakukan perbuatan tersebut.. Pasal 1365 BW pasien berhak mendapatkan ganti rugi atas perbuatan yang melawan hukum Adanya kesalahan pada diri pembuat Kesalahan adalah suatu sikap batin yang dicela. Kesalahan dalam perbuatan melawan hukum adalah kesengajaan. Sikap batin yang tercela dalam perbuatan melawan hukum harus ditujukan setidak-tidaknya pada tiga hal, yaitu : 1. Wujud perbuatan 2. Sifat melawan hukumnya perbuatan 3. Akibat kerugian oleh perbuatan. Adanya akibat kerugian pasien Kerugian yang dapat dituntut hanyalah kerugian materiil atau kerugian kekayaan atau kerugian yang dapat dinilai dengan uang. Kerugian kebendaan dari melawan hukum kedokteran adalah : biaya prawatan, pembelian obat-obat tanpa hasil, biaya perjalanan, biaya kamar yang telah dikeluarkan. Kerugiaan imateriil pasien berupa : penderitaan sakit, kehilangan bagian tubuh, kehilangan harapan sembuh, cacat fisik atau mental bahkan kematian.. 3.3.2 Aspek hukum pidana malptakterk kedokteran Malpraktik kedokteran bisa masuk ranah hukum pidana apabila memenuhi syarat tertentu dalam 3 aspek, yaitu : a. Syarat dalam sikap batin dokter b. Syarat dalam perlakuan medis c. Syarat mengenai hal akibat Penerapan pasal 351, 359, 360, 344, 346, 347 dan 348 KUHP pada malpraktik kedokteran Ada perbedaan akibat kerugian oleh malpraktik perdata dengan malpraktik pidana. Kerugian karena malpraktik perdata lebih luas daripada pidana a. Penganiyayaan

Malpraktik kedokteran dapat menjadi penganiyayaan jika ada kesengajaan baik terhadap perbuatan maupun akibat perbuatan KUHP membedaakan 5 macam penganiyayaan: penganiyayaan pokok (pasal 351), penganiyayaan ringan (Pasal 352), penganiyayaan berencana ( Pasal 353), penganiyayaan berat (Pasal 354), penganiyayaan berat berencana (PAsal 355). Cara merumuskan tindak pidana penganiyayaan harus meliputi unsurunsur : -adanya kesengajaan -adanya wujud perbuatan -adanya akibat perbuatan -adanya causal verband antara wujud perbuatan dan timbulnya akibat yang terlarang b. Kealpaan yang menyebabkan kematian Pasal 359 KUHP : barang siapa karena kesalahannya menyebabkan orang lain mati c. Kealpaan yang menyebabkan luka-luka Ada dua tindak pidana menurut pasal 360: Ayat 1: ..Karena kesalahannya menyebabkan orang lain mendapatkan luka berat Ayat 2 :.. karena kesalahannya menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa sehingga menimbulkan penyakit atau halangan menja;ankan tertentu.. Pasal 360 KUHP menyebutkan, terdapat tiga macam luka : Luka berat Luka yang menimbulkan penyakit Luka yang menjadi halangan menjalankan pekerjaan Jatuh sakit atau mendapatkan luika yang tidak member harapan sembuh sama sekali atau yang dapat menimbulkan bahaya matu Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan pekerjaan jabatan atau pencarian selama waktu

Pasal 90 KUHP menyebutkan macam-macam luka berat, yaitu:

Kehilangan salah satu panca indera Mendapat cacat berat Menderita sakit lumpuh Terganggunya daya piker selama empat minggu atau lebih Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan

d. Aborsi Hukum pidana dalam memandang praktik aborsi dapat dilihat dari 3 pasal, yakni Pasal 347, 346 dan 348 KUHP. Jika aborsi dilakukan dokter atau tenaga kesehatan yang lain maka pertanggungjawaban pidana diperberat dan dapat ditambah sepertiga dari ancaman pidana yang terdapat pada masing-masing pasal yang terbukti. Serta dapat dicabut hak menjalankan pencarianm SIP atau STR dokter. 3.3.3 Aspek hukum administrasi malpraktik kedokteran UU praktik kedokteran telah merumuskan beberapa kewajiban administrasi dokter. Pasal 51 menetapkan ada 5 kewajiban dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran: a. Kewajiban memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien b. Kewajiban merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lainnya yang memiliki keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan Tidak merujuk pada dokter lain yang lebih ahli melainkan menanganinya sendiri juga melanggar kode etik (pasal 11) c. Kewajiban merahasiaakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan jyga setelah pasien itu meninggal dunia Pada pasien pribadi ada hak pasien untuk mendapatkan keterangan keterangan dari dokter mengenai segala sesuatu mengenai penyakitnya (pasal 52)

Berdasarkan Pasal 52 jo 45 ayat (3) UU No. 29/2004 tentang hak pasien dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu yang yaitu: Diagnosis dan tata cara tindakan medis Tujuan tindakan medis yang dilakukan Alternative tindakan lain dan resikonya Risiko dam komplikasi yang mungkin terjadi Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan melakukan pertolongan darurat atas dasar harus dirahasiakan dokter tentang pasien setidak-tidaknya ada lima maca,

d. Kewajiban

perikemanusiaaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya e. Kewajiban menambah ilmu [engetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran dan kedokteran gigi 3.3.4 Tindak pidana bidang kesehatan Dalam UU No. 29/2004 tentang praktik kedokteran, dirumuskan dalam pasal 75-80: a) Tindak pidana praktik kedokteran tanpa STR : Pasal 75 1. Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dipidana penjara palikg lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah). 2. Setiap dokter atau dokter gigi warganegara asing yang dengan sengaja melakukan praktiknkedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau dengan paling banyak Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah). 3. Setiap dokter atau dokter gigi warga negara asing yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi bersyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda palling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). a) Tindak pidana praktik kedokteran tanpa SIP : Pasal 76

Setiap dokter dan dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa zin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). b) Tindak pidana menggunakan identitas gelar atau bentuk lainnya yang menimbulkan kesan dokter yang mem8iliki STR dan SIP : PAsal 77 Setiap orang dengan sengaja menggunakan identitas berupa gelar atau bentuklain yang menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dokter gigi dan/atau surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). c) Tindak pidana menggunakan alat, metode pelayanan kesehatan yang menimbulkan kesan dokter yang memiliki STR dan SIP : Pasal 78 Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan alat, metode atau cara-cara lain dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menimbulkan kesan seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi atau surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (20 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). d) Tindak pidana dokter praktek yang tidak memasang papan nama, tidak membuat ream medis, dan tidak berdasarkan standar profesi :pasal 79 Dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paloing banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), setiap dokter atau dokter gigi yang: a b c Dengan sengaja tidak memasang papan nama sebagaimana dimaksud pada Pasal 41 ayat (1); Dengan sengaja tidak membuat rekam medis sebagai mana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1); atau Dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban sebagai mana dimaksud dalam Pasal 51 huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e. e) Tindak pidana memperkerjakan dokter tanpa SIP : Pasal 80.

1. setiap orang yang dengan sengaja memperkejakan dokter atau dokter gigi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau dengan paling banyak Rp. 300.000.00,00 (tigaratus juta rupiah). 2. Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh korporasi, maka pidana yang dijatuhkan adalah pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah sepertiga atau dijatuhi hukuman tambahan berupa pencabutan izin.

DAFTAR PUSTAKA

1. Budi Sampurna, Zulhasmar Syamsu, Tjetjep Dwijdja Siswaja, Bioetik dan Hukum Kedokteran, Pengantar bagi Mahasiswa Kedokteran dan Hukum, Penerbit Pustaka Dwipar, Oktober 2005 2. Sofwan Dahlan, 2003, Hukum Kesehatan Rambu-rambu bagi Profesi Dokter, Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang hal 37 3. Budi Sampurna, Zulhasmar Syamsu, Tjetjep Dwijdja Siswaja, Bioetik dan Hukum Kedokteran, Pengantar bagi Mahasiswa Kedokteran dan Hukum, Penerbit Pustaka Dwipar, Oktober 2005
4. Budiyanto A, dkk. Ilmu kedokteran forensik edisi pertama. Jakarta: Bagian

Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1997. Halaman 5570.


5.

Idries AM. Pedoman ilmu kedokteran forensik edisi pertama. Jakarta: Binarupa aksara. 1997. Halaman 169-190.

6. UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran 7. UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. 8. Undang Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.