Anda di halaman 1dari 2

Pengantar Logika

Judul Pengarang Data Publikasi Oleh : Dzulvita Arifah Saragih, 1106021802 : Pengantar Logika : Bagus Takwin : Buku Ajar I, Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi A, Universitas Indonesia, Depok, 2011

Apakah Logika Itu ? Secara umum logika dapat diartikan sebagi kajian tentang prinsip, hukum, metode, dan cara berpikir yang benar untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Dalam ilmu filsafat logika diartikan sebagai cabang filsafat yang mengkaji prinsip, hukum dan metode berpikir yang tepat dan lurus. Dalam matematika logika mengkaji seluk-beluk perumusan pernyataan, khususnya pernyataaan yang menggunakan bahasa formal. Bahasa formal adalah simbol matematis, sedangkan bahasa alamiah adalah bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Logika diperlukan dalam kajian ilmu pengetahuan serta kehidupan sehari-hari. Berbagai persoalan dapat diselesaikan dengan logika. Logika membantu manusia meningkatkan kualitas hidupnya dan mengembangkan peradabannya. Logika adalah penalaran yang benar. Penalaran adalah proses penarikan kesimpulan berdasarkan alasan yang relevan. Logika juga memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang dikaji , berupa sumber pengetahuan, batas pengetahuan, dan keabsahan pengetahuan. Sebagai kajian tentang penalaran dan matematika, logika juga berhubungan dengan bahasa alamiah. Logika menggunakan simbol matematis dan juga menggunakan bahasa alamiah dalam kesehariannya sebagai media pemahaman. Logika adalah ilmu pengetahuan yang menjelaskan suatu kebenaran atau fakta. Kebenaran logis adalah satu kebenaran yang diungkapkan dengan representasi secara logis tanpa mengikuti pendapat lain. Fokus kajian dalam logika adalah pikiran dan juga bahasa. Sesat Pikir Sesat pikir adalah kekeliruan dalam penalaran berupa penarikan kesimpulankesimpulan dengan langkah-langkah yang tidak sah, yang disebabkan oleh dilanggarnya kaidah-kaidah logika. Penggolongan sesat pikir menurut Copi(1986) : Sesat Pikir Normal A. Dalam Deduksi : bentuk penalaran yang tidak sesuai dengan bentuk deduksi yang baku. 1. Empat Term : ada empat term yang diikutsertkan dalam silogisme yang sahih hanya mempunyai tiga term 2. Term Tengah : silogisme kategoris yang term tengahnya tidak menghubungkan term mayor dan term minor. 3. Proses Ilisit : perubahan tidak sahih dari term mayor atau term minor. 4. Premis-premis afirmatif tetapi kesimpulannya negatif : premisnya menggunakan pernyataan yang benar (afirmatif) tetapi kesimpulannya menjadi bermakna negatif. 5. Premis negativf dan kesimpulan afirmatif : premisnya menggunakan proposisi negatif, tetapi kesimpulannya menjadi bermakna benar(afirmatif). 6. Dua Premis Negatif : kedua premis yang digunakan adalah proposisi negatif.

7. Mengafirmasi konsekuensi : pembuatan kesimpulan kesimpulan yang diturunkan dari pernyataan yang hubungan anteseden dan konsekuensinya tidak niscaya tetapi diperlukan seolah-olah hubungan itu suatu keniscayaan. 8. Menolak anteseden : sama seperti mengafirmasi konsekuensi, tetapi dalam bentuk ini yang ditolak antesedennya. 9. Mengiyakan suatu pilihan dalam suatu susunan argumentasi disjungsi subkonkret: dua hal diperlakukan sebagai pengingkaran padahal belum tentu menunjukkan pengingkaran. 10. Menginkari suatu pilihan dalam suatu disjungsi yang kontrer(dan) : hal yang dihubungkan seolah-olah memiliki nilai kebenaran yang sama walaupun hal yang dihubungkan itu berdiri sendiri atau dipisah. Sesat Pikir Nonformal 1. Perbincangan dengan ancaman : pembuatan kesimpulan didasarkan ancaman. 2. Salah guna(abusive) : penyalahgunaan pertimbangan-pertimbangan yang secara logis tidak relevan. 3. Argumentasi berdasarkan kepentingan : penarikan kesimpulan untuk kepentingan pihak tertentu. 4. Argumentasi berdasarkan ketidaktahuan : menilai suatu tindakan tidak berdasarkan isi dan bentuk argumentasinya. 5. Argumentasi berdasarkan belas kasihan : menilai benar atau salahnya sesuatu berdasarkan belas kasihan, bukan berdasarkan isi dan bentuk argumennya. 6. Argumentasi yang disangkutkan dengan orang banyak : penentuan benar atau salahnya argumentasi berdasarkan argumentasi kebanyakan orang. 7. Argumentasi dengan kewibawaan ahli walaupun keahliannya tidak relevan : membenarkan kesimpulan berdasarkan kewibawaan ahli tanpa memperhatikan relevan atau tidaknya argumentasi itu. 8. Accident : menjadikan satu sifat yang berbeda atau sama sebagai dasar menyimpulkan bahwa keduanya sama atau berbeda. 9. Perumusan yang tergesa-gesa :pembuatan kesimpulan yang didasari oleh alasan tak memadai atau tanpa alasan sama sekali. 10. Sebab yang salah : pembuatan kesimpulan berdasarkan satu dugaan yang tak terbukti dan tetap dipertahankan. 11. Penalaran sirkular : menjadikan kesimpulan sebagai ala an. 12. Sesat pikir karena terlalu banyak pertanyaan yang harus dijawab sehingga jawaban tak sesuai pertanyaan. 13. Kesimpulan tak relevan : argumentasi yang kesimpulannya tidak sejalan dengan alasannya. 14. Makna ganda :argumen yang menggunakan term yang bermakna ganda. 15. Makna ganda ketata-bahasaan : menggunakan term yang bermakna ganda dari segi ketata-bahasaan. 16. Sesat pikir karena perbedaan logat atau dialek bahasa. 17. Kesalahan komposisi : memperlakukan kebenaran pada bagian sebagai kebenaran pada keseluruhan. 18. Kesalahan divisi : mengklarifikasikan keseluruhan argumen dalam bagianbagian tertentu. 19. Generalisasi tak memadai : argumentasi yang didasarkan pada data dan fakta yang tak memadai.