Anda di halaman 1dari 17

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DI INSTALASI KEDOKTERAN NUKLIR RSUP DR KARIADI SEMARANG

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Keselamatan dan Kesehatan Kerja Semester 5

Disusun oleh : Aldi Zadri Arlina Prihandini Aziz dwi Setiyanto Irnanto Marichatul Jannah Menik Purwaningsih P.Wahyu Kristanto Puput Khusniatul M. P174301090 P17430109008 P17430109011 P17430109026 P17430109029 P17430109031 P17430109035 P17430109036

PRODI D III TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG 2011

BAB I PENDAHULUAN

1) Latar belakang Perkembangan IPTEK bidang kedokteran nuklir dan penggunaan radionuklida dan/atau radiofarmaka di bidang kesehatan telah menunjukkan peningkatan yang sangat pesat. Radionuklida dan radiofarmaka tidak saja digunakan untuk diagnostik tetapi juga untuk pengobatan berbagai penyakit. Walaupun pelayanan kedokteran nuklir mempunyai manfaat yang sangat besar, namun dapat menimbulkan bahaya yang sangat besar baik bagi pasien, lingkungan maupun petugas itu sendiri. Dalam setiap kegiatan di kedokteran nuklir harus memiliki persyaratan prosedur kerja yang benar, mempunyai peralatan keselamatan yang memadai dan memakai alat pelindung diri yang sesuai bagi petugas guna mengurangi kecelakaan atau kesalahan dalam bekerja dan mengurangi kelebihan dosis yang diterima yang diakibatkan oleh radiasi dan bisa membahayakan kesehatan, petugas juga memperoleh proteksi radiasi karena selain

melaksanakan pekerjaannya tetapi juga memperhatikan faktor keselamatan radiasi. Untuk itu penulis ingin mengetahui sistem kesehatan dan keselamatan kerja di Instalasi Kedokteran Nuklir RSUP DR. Karyadi Semarang. 2) Rumusan masalah Bagaimana sistem kesehatan dan keselamatan kerja di instalasi Kedokteran Nuklir RSUP DR Karyadi Semarang? 3) Tujuan Mengetahui sistem kesehatan dan keselamatan kerja di instalasi kedokteran nuklir di RSUP DR.Karyadi Semarang

BABA II TINJAUAN TEORI 1) Kesehatan Dan Keselamatan Kerja ( K3 ) a) Pengertian Adalah kegiatan yang bertujuan untuk menjamin agar para pekerja dapat melaksanakan pekerjaannya dalam kondisi sehat baik fisik, mental dan sosial sehingga dapat terhindar dari resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja. b) Tujuan Mencegah terjadinya cacat/ kematian pada tenaga kerja, mencegah kerusakan tempat dan peralatan kerja, mencegah pencemaran lingkungan dan masyarakat disekitar tempat kerja dan norma kesehatan kerja diharapkan menjadi instrumen yang menciptakan dan memelihara derajat kesehatan kerja. 2) Peraturan perundang-undangan a) UU No. 10 tahun 1997 (Ketenaganukliran ) Dalam undang-undang ketenaganukliran mencangkup i) Ketentuan umum (1) Ketenaganukliran adalah hal yang berkaitan dengan pemanfaatan, pengembangan, dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir serta pengawasan kegiatan yang berkaitan dengan tenaga nuklir. (2) Tenaga nuklir adalah tenaga dalam bentuk apa pun yang dibebaskan dalam proses transformasi inti, termasuk tenaga yang berasal dari sumber radiasi pengion. (3) Radiasi pengion adalah gelombang elektromagnetik dan partikel bermuatan yang karena energi yang dimilikinya mampu

mengionisasi media yang dilaluinya.

(4) Pemanfaatan adalah kegiatan yang berkaitan dengan tenaga nuklir yang meliputi penelitian, pengembangan, penambangan,

pembuatan, produksi, pengangkutan, penyimpanan, pengalihan, ekspor, impor, penggunaan, dekomisioning, dan pengelolaan limbah radioaktif untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. (5) Bahan nuklir adalah bahan yang dapat menghasilkan reaksi pembelahan berantai atau bahan yang dapat diubah menjadi bahan yang dapat menghasilkan reaksi pembelahan berantai. (6) Bahan galian nuklir adalah bahan dasar untuk pembuatan bahan bakar nuklir. (7) Bahan bakar nuklir adalah bahan yang dapat menghasilkan proses transformasi inti berantai. (8) Limbah radioaktif adalah zat radioaktif dan bahan serta peralatan yang telah terkena zat radioaktif atau menjadi radioaktif karena pengoperasian instalasi nuklir yang tidak dapat digunakan lagi. (9) Zat radioaktif adalah setiap zat yang memancarkan radiasi pengion dengan aktivitas jenis lebih besar dari pada 70 kBq/kg (2 nCi/g). (10) Pengelolaan pengelompokan, limbah radioaktif adalah pengumpulan, penyimpanan,

pengolahan,

pengangkutan,

dan/atau pembuangan limbah radioaktif. (11) Radioisotop adalah isotop yang mempunyai kemampuan untuk memancarkan radiasi pengion. (12) Instalasi nuklir adalah : (a) reaktor nuklir; (b) fasilitas yang digunakan untuk pemurnian, konversi, pengayaan bahan nuklir, fabrikasi bahan bakar nuklir dan/atau pengolahan ulang bahan bakar nuklir bekas; dan/atau (c) fasilitas yang digunakan untuk menyimpan bahan bakar nuklir dan bahan bakar nuklir bekas. (13) Reaktor nuklir adalah alat atau instalasi yang dijalankan dengan bahan bakar nuklir yang dapat menghasilkan reaksi inti berantai

yang terkendali dan digunakan untuk pembangkitan daya, atau penelitian, dan/atau produksi radioisotop. (14) Dekomisioning adalah suatu kegiatan untuk menghentikan beroperasinya reaktor nuklir secara tetap, antara lain, dilakukan pemindahan bahan bakar nuklir dari teras reaktor, pembongkaran komponen reaktor, dekontaminasi, dan pengamanan akhir. (15) Kecelakaan nuklir adalah setiap kejadian atau rangkaian kejadian yang menimbulkan kerugian nuklir. (16) Kerugian nuklir adalah setiap kerugian yang dapat berupa kematian, cacat, cedera atau sakit, kerusakan harta benda, pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh radiasi atau gabungan radiasi dengan sifat racun, sifat mudah meledak, atau sifat bahaya lainnya sebagai akibat kekritisan bahan bakar nuklir dalam instalasi nuklir atau selama pengangkutan, termasuk kerugian sebagai akibat tindakan preventif dan kerugian sebagai akibat atau tindakan untuk pemulihan lingkungan hidup. (17) Pengusaha instalasi nuklir adalah orang perseorangan atau badan hukum yang bertanggung jawab dalam pengoperasian instalasi nuklir. (18) Pihak ketiga adalah orang atau badan yang menderita kerugian nuklir, tidak termasuk pengusaha instalasi nuklir dan pekerja instalasi nuklir yang menurut struktur organisasi berada di bawah pengusaha instalasi nuklir. ii) Kelembagaan (1) Badan Pelaksana (BATAN), bertanggung jwb kpd Presiden, yg bertugas melaksanakan pemanfaatan tenaga nuklir (2) Badan Pengawas (BAPETEN), bertanggung jwb kpd Presiden, yg bertugas melaksanakan pengawasan thd segala kegiatan

pemanfaatan tenaga nuklir, melalui penyelenggaraan peraturan, perijinan dan inspeksi

(3) Majelis Pertimbangan Tenaga Nuklir, bertugas memberikan saran dan pertimbangan mengenai pemanfaatan tenaga nuklir (4) Pemerintah dpt membentuk BUMN, yg berkaitan dg pemanfaatan tenaga nuklir secara komersial (termasuk koperasi dan/atau badan swasta) iii) Penelitian dan pengembangan Penelitian dan pengembangan tenaga nuklir harus diselenggarakan dalam rangka penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir untuk keselamatan, keamanan, ketenteraman, dan kesejahteraan rakyat. Penelitian dan pengembangan diselenggarakan terutama oleh dan menjadi tanggung jawab Badan Pelaksana yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatif pemanfaatan tenaga nuklir. iv) Pengusahaan Penyelidikan umum, eksplorasi, dan eksploitasi bahan galian nuklir hanya dilaksanakan oleh Badan Pelaksana selain itu Produksi bahan baku utk pembuatan, produksi bahan bakar nuklir, Produksi

radioisotop utk keperluan litbang dan Pengolahan limbah radioaktif juga dilaksanakan oleh badan pelaksana. v) Pengawasan Pengawasan terhadap pemanfaatan tenaga nuklir dilaksanakan oleh Badan Pengawas.Pengawasan dilaksanakan melalui peraturan, perizinan, dan inspeksi. (1) Perijinan Setiap pemanfaatan tenaga nuklir wajib memiliki izin, kecuali dlm hal-hal tertentu yg diatur lebih lanjut oleh Peraturan Pemerintah. Setiap izin dikenakan biaya yg ditetapkan dg keputusan Menteri Keuangan. Setiap petugas yg mengoperasikan reaktor nuklir dan petugas tertentu di dalam instalasi nuklir lainnya

dan di dalam instalasi yg memanfaatkan sumber radiasi pengion wajib memiliki izin, Persyaratan utk memperoleh izin akan diatur oleh badan pengawas (2) Inspeksi Inspeksi thd instalasi nuklir dan instalasi yg memanfaatkan radiasi pengion dilaksanakan oleh badan pengawas (Bapeten) dlm rangka ditaatinya syarat-syarat dlm perizinan dan peraturan perUU-an di bidang keselamatan nuklir . Inspeksi dilaksanakan oleh inspektur yg diangkat dan diberhentikan Badan Pengawas (Ketua BAPETEN) dan dilaksanakan scr berkala dan sewaktu-waktu Tujuan pengawasan antara lain : (a) terjaminnya masyarakat; (b) menjamin keselamatan dan kesehatan pekerja dan anggota masyarakat serta perlindungan terhadap lingkungan hidup; (c) memelihara tertib hukum dalam pelaksanaan pemanfaatan tenaga nuklir; (d) meningkatkan kesadaran hukum pengguna tenaga nuklir untuk menimbulkan budaya keselamatan di bidang nuklir; (e) mencegah terjadinya perubahan tujuan pemanfaatan bahan nuklir; dan (f) menjamin terpeliharanya dan ditingkatkannya disiplin petugas dalam pelaksanaan pemanfaatan tenaga nuklir. vi) Pengolahan radioaktif Pengelolaan limbah radioaktif dilaksanakan untuk mencegah timbulnya bahaya radiasi terhadap pekerja, anggota masyarakat, dan lingkungan hidup. Pengolahn limbah radioaktif dikelompokan dalam jenis limbah radioaktif tingkat rendah, tingkat sedang, dan tingkat tinggi, pengolahan ini dilaksanakan oleh Badan Pelaksana yang dapat kesejahteraan, keamanan, dan ketenteraman

bekerja sama dengan atau menunjuk Badan Usaha Milik Negara, koperasi, dan/atau badan swasta. vii) Pertanggungjawaban kerugian nuklir Pengusaha instalasi nuklir wajib bertanggung jawab atas kerugian nuklir yang diderita oleh pihak ketiga yang disebabkan oleh kecelakaan nuklir yang terjadi dalam instalasi nuklir tersebut. Pertanggungjawaban pengusaha instalasi nuklir terhadap kerugian nuklir paling banyak Rp 900.000.000.000,00 (sembilan ratus miliar rupiah) untuk setiap kecelakaan nuklir, baik untuk setiap instalasi nuklir maupun untuk setiap pengangkutan bahan bakar nuklir atau bahan bakar nuklir bekas. viii) Ketentuan pidana

(1) Rektor nuklir tanpa izin dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan menimbulkan kerugian nuklir dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah), apabiala tidak mampu membayar denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), terpidana dipidana dengan kurungan paling lama 1 (satu) tahun. (2) Petugas tidak ada SIB dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), apabila tidak mampu membayar denda terpidana dipidana dengan kurungan paling lama 6 (enam) bulan. (3) Non reaktor tanpa izin dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) apabila tidak mampu membayar denda sebagaimana dimaksud dipidana dengan kurungan paling lama 1 (satu) tahun.

(4) Limbah Radioaktif Tingkat Tinggi tidak dikelola dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). Limbah radioaktif tingkat rendah dan tingkat sedang dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) apabila, tidak mampu membayar denda dipidana dengan kurungan paling lama 1 (satu) tahun. b) PP no. 63 tahun 2000 (Keselamatan Dan Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion) i) Ketentuan umum (1) Keselamatan dan kesehatan terhadap pemanfaatan radiasi pengion yang selanjutnya disebut keselamatan radiasi adalah upaya yang dilakukan untukmenciptakan kondisi yang sedemikian agar efek radiasi pengion terhadap manusia dan lingkungan hidup tidak melampaui nilai batas yang ditentukan. (2) Tenaga nuklir adalah tenaga dalam bentuk apapun yang dibebaskan dalam proses transformasi inti, termasuk tenaga yang berasal dari sumber radiasi pengion. (3) Instalasi adalah instalasi zat radioaktif dan atau instalasi sumber radiasi pengion. (4) Radiasi pengion adalah gelombang elektromagnetik dan partikel yang karena energi yang dimilikinya mampu mengionisasi media yang dilaluinya. (5) Nilai batas dosis adalah dosis terbesar yang diizinkan oleh Badan Pengawas yang dapat diterima oleh pekerja radiasi dan anggota masyarakat dalam jangka waktu tertentu tanpa menimbulkan efek genetik dan somatik yang berarti akibat pemanfaatan tenaga nuklir. (6) Dosis radiasi adalah jumlah radiasi yang terdapat dalam medan radiasi atau jumlah energi radiasi yang diserap atau diterima oleh materi yang dilaluinya.

(7) Catatan dosis adalah catatan tentang nilai dosis yang diterima oleh pekerja radiasi selama bekerja di medan radiasi. (8) Pengusaha instalasi adalah pimpinan instalasi atau orang lain yang ditunjuk untuk mewakilinya dan bertanggung jawab pada instalasinya. (9) Petugas proteksi radiasi adalah petugas yang ditunjuk oleh pengusaha instalasi dan oleh Badan Pengawas dinyatakan mampu melaksanakan pekerjaan yang berhubungan dengan proteksi radiasi. (10) Pekerja radiasi adalah setiap orang yang bekerja di instalasi nuklir atau instalasi radiasi pengion yang diperkirakan menerima dosis radiasi tahunan melebihi dosis untuk masyarakat umum. (11) Kecelakaan radiasi adalah kejadian yang tidak direncanakan termasuk kesalahan operasi, kerusakan ataupun kegagalan fungsi alat atau kejadian lain yang menjurus timbulnya dampak radiasi, kondisi paparan radiasi dan atau kontaminasi yang melampaui batas keselamatan. (12) Badan Pelaksana adalah badan yang bertugas melaksanakan pemanfaatantenaga nuklir. (13) Badan Pengawas adalah badan yang bertugas melaksanakan pengawasan terhadap segala kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir. ii) Ruang Lingkup Dan Tujuan Peraturan Pemerintah ini mengatur tentang persyaratan sistem pembatasan dosis, sistem manajemen keselamatan radiasi, kalibrasi, kesiapsiagaan dan penanggulangan kecelakaan radiasi dan bertujuan untuk menjamin keselamatan, keamanan, dan ketentraman, kesehatan pekerja dan anggota masyarakat, serta perlindungan terhadap lingkungan hidup.

iii) Sistem Pembatasan Dosis (1) prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan sebagai berikut : (a) setiap pemanfaatan tenaga nuklir harus mempunyai manfaat lebih besar dibanding dengan risiko yang ditimbulkan; (b) penerimaan dosis radiasi terhadap pekerja atau masyarakat tidak melebihi nilai batas dosis yang ditetapkan oleh Badan Pengawas; (c) kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir harus direncanakan dan sumber radiasi harus dirancang dan dioperasikan untuk menjamin agar paparan radiasi yang terjadi ditekan serendahrendahnya. (2) Pengusaha instalasi yang merancang, membuat, mengoperasikan dan atau merawat sistem dan komponen sumber radiasi yang mempunyai potensi bahaya radiasi harus mencegah terjadinya penerimaan dosis yang berlebih. System dan komponen tersebut dibuat sesuai dengan standar yang diatur lebih lanjut dengan Keputusan Kepala Badan Pengawas. (3) Apabila dalam satu lokasi terdapat beberapa fasilitas pemanfaatan tenaga nuklir, pengusaha instalasi menetapkan tingkat dosis yang lebih rendah untuk masing-masing instalasi, agar dosis kumulatif tidak melampaui nilai batas dosis dan tidak boleh mengakibatkan nilai batas dosis untuk masyarakat dilampaui. (4) Dalam menerapkan dosis untuk keperluan medik dengan tujuan diagnostik dan terapi, pengusaha instalasi harus memperhatikan perlindungan pasien terhadap radiasi.Tingkat acuan untuk dosis, laju dosis dan aktivitas yang diberikan untuk keperluan.diagnostik dan terapi diatur lebih lanjut dengan Keputusan Kepala Badan Pengawas. iv) Sistem Manajemen Keselamatan Radiasi (1) Organisasi Proteksi Radiasi

Pengusaha instalasi harus memiliki organisasi proteksi radiasi yang sekurang-kurangnya terdiri atas unsur pengusaha instalasi, petugas proteksi radiasi dan pekerja radiasi. (a) Setiap pengusaha instalasi yang memanfaatkan tenaga nuklir harus mempunyai sekurang-kurangnya 1 (satu) orang petugas proteksi radiasi. (b) Pengusaha instalasi wajib menunjuk orang lain atau dirinya sendiri sebagai petugas proteksi radiasi. (2) Pemantauan Dosis Radiasi dan Radioaktivitas Pengusaha instalasi harus mewajibkan setiap pekerja radiasi untuk memakai peralatan pemantau dosis perorangan, sesuai dengan jenis instalasi dan sumber radiasi yang digunakan. Peralatan tersebut diolah dan dibaca oleh instansi atau badan yang telah terakreditasi dan ditunjuk oleh Badan Pengawas. Pengusaha instalasi harus melakukan pemantauan daerah kerja secara terus menerus, berkala dan atau sewaktu-waktu berdasarkan jenis instalasi dan sumber radiasi yang digunakan dan mencatat seta mendokumentasikan hasil pemantauan daerah kerja. Pengusaha instalasi harus melakukan pemantauan tingkat radioaktivitas buangan zat radioaktif ke lingkungan hidup, secara terus menerus, berkala, dan atau sewaktu-waktu dan tidak boleh melebihi nilai batas radioaktivitas yang diatur lebih lanjut dengan Keputusan Kepala Badan Pengawas serta mencatat dan

mendokumentasikan hasil pemantauan (3) Peralatan Proteksi Radiasi Pengusaha instalasi harus menyediakan dan mengusahakan peralatan proteksi radiasi, pemantau dosis perorangan, pemantau

daerah kerja dan pemantau lingkungan hidup, yang dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan jenis sumber radiasi yang digunakan. (4) Pemeriksaan Kesehatan Setiap orang yang akan bekerja sebagai pekerja radiasi harus sehat jasmani dan rohani serta serendah-rendahnya berusia 18 (delapan belas) tahun. Dan pemeriksaan kesehatan bagi setiap pekerja radiasi secara berkala selama bekerja sekurang-kurangnya sekali dalam1 (satu) tahun. Hasil pemeriksaan kesehatan pekerja harus diberikan kepada pekerja radiasi yang bersangkutan. Pengusaha instalasi harus melaksanakan pencatatan hasil

pemeriksaan kesehatan setiap pekerja radiasi dalam kartu kesehatan dan menyimpan kartu tersebut di bawah pengawasan dokter atau petugas lain yang ditunjuk oleh pengusaha instalasi. (5) Penyimpanan Dokumentasi Pengusaha instalasi harus tetap menyimpan dokumentasi yang memuat catatan dosis, hasil pemantauan daerah kerja, hasil pemantauan lingkungan dan kartu kesehatan pekerja selama 30 (tiga puluh) tahun terhitung sejak pekerja radiasi berhenti bekerja. (6) Jaminan Kualitas Pengusaha instalasi harus membuat program jaminan kualitas bagi instalasi yang mempunyai potensi dampak radiologi tinggi untuk kegiatan perencanaan, pembangunan, pengoperasian dan perawatan instalasi, serta pengelolaan limbah radioaktif kemudian disampaikan kepada Badan Pengawas untuk disetujui. (7) Pendidikan dan Pelatihan

Setiap pekerja radiasi harus memperoleh pendidikan dan pelatihan tentang keselamatan dan kesehatan kerja terhadap radiasi.

v) Kalibrasi (1) Pengusaha instalasi wajib mengkalibrasikan alat ukur radiasi secara berkala sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun sekali. (2) Pengusaha instalasi wajib mengkalibrasi keluaran radiasi (output) peralatan radioterapi secara berkala sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun sekali. (3) Kalibrasi alat tersebut dilakukan oleh instansi yang telah terakreditasi dan ditunjuk oleh Badan Pengawas. vi) Penanggulangan Kecelakaan Radiasi Pengusaha instalasi yang mempunyai instalasi dengan potensi dampak radiologi tinggi harus memiliki Rencana Penanggulangan Keadaan Darurat untuk mengatasi potensi bahaya dari kecelakaan radiasi yang mungkin terjadi selama pengoperasian instalasi tersebut. (1) Jenis/klasifikasi kecelakaan yang mungkin terjadi pada instalasi; (2) Upaya penanggulangan terhadap jenis/klasifikasi kecelakaan tersebut; (3) Organisasi penanggulangan keadaan darurat; (4) Prosedur penanggulangan keadaan darurat; (5) Peralatan penanggulangan yang harus disediakan dan

perawatannya; (6) Personil penanggulangan keadaan darurat; (7) Latihan penanggulangan keadaan darurat; (8) Sistem komunikasi dengan pihak lain yang terkait dalam penanggulangan keadaan darurat.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 1) Hasil Berdasarkan peninjauan yang telah kami lakukan di Instalasi Radioterapi RSUP DR Kariadi Semarang, diperoleh data sebagai berikut a) Sistem pembatasan dosis Bagi pekerja diberi monitoring ( film bade ) yang dikirim 1 bulan sekali ke BPFK untuk dicek b) Sistem manajemen keselamatan radiasi i) Organisasi proteksi radiasi (1) petugas proteksi radiasi ( 1 orang ) (2) pekerja radiasi ii) pemantauan dosis pemantauan dosis dilakukan dengan cara setiap pekerja diberi alat monitoring radiasi ( film bade ), yang setiap 1 bulan sekali dikirim k BPFK untuk dicek. iii) Peralatan proteksi radiasa (1) apron ( digunakan setiap kali pemeriksaan ) (2) sarung tangan PB iv) pemeriksaan kesehatan di RSDK untuk kedokteran nuklir dilakukan setiap 1 tahun sekali v) penyimpanan dokumentasi (1) Hasil pemeriksaan dan film badge pekerja radiasi yang telah didokumentasikan dan dilaporkan kepada Pengusaha Instalasi dan setiap pekerja radiasi. (2) Hasil kalibrasi alat didokumentasi dan disimpan sebagai bahan evaluasi. (3) Hasil pemeriksaan kesehatan pemeriksaan kesehatan

vi) Pendidikan dan pelatihan Dalam 1 tahun 3x dilakukan pelatihan dan pendidikan bagi pekerja yang biasanya diselenggarakan oleh BAPETEN c) Kaliberasi Kaliberasi alat dilakukan 1 tahun sekali oleh BATAN d) Upaya yang dilakukan untuk tidak melampaui batas dosis i) Pekerja Diberi monitoring dosis ( film bade ) ii) Pasien (1) Setelah radiofarmaka masuk ke dalm tubuh , pasien diisolasi dikamar tersendiri (2) Terdapat kamar mandi khusus pasien e) Pengolahan limbah radioaktif Limbah radioaktif dibuang pada kantong-kantong kontainer yang sudah tersedia. f) Pekerja yang melebihi batas dosis i) Istirahat sampai dosis yang diterima sesuai dengan standar yang ditetapkan (1) Rutin memeriksakan ke dokter (2) Mengkonsumsi suplemen yang bergizi

2) Pembahasan Untuk keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di RSUP Karyadi khususnya di instalasi kedokteran nuklir sudah baik, yaitu pembatasan dosis yang safety, sistem manajemen keselamatan radiasi yang baik dengan pemantauan dosis petugas secara rutin, mempunyai organisasi proteksi radiasi, mempunyai peralatan proteksi radiasi, dilakukan pemeriksaan kesehatan dan pendidikan / pelatihan bagi petugas dan kaliberasi alat.

BAB IV PENUTUP 1) Kesimpulan Sistem pembatasan dosis di Instalasi Kedokteran Nuklir RSUP Dr. Karyadi semarang dilakukan dengan cara setiap pekerja diberi monitoring (film bade ) yang dicek setiap bulan sekali, untuk sistem manajemen sudah sesuai dengan teori yaitu terdapat organisasi proteksi radiasai. Pemantauan dosis yang dilakukan setiap 1 bulan sekali, terdapat lat proteksi radiasi, pemeriksaan kesehatan dilakukan 1 tahun sekali dan setiap 1 tahun dilakuakan 3 kali pendidikan dan pelatihan yang biasanya diselenggarakan oleh BAPETEN. Keliberasi alat dilakukan 1 tahun sekali oleh BAPETEN. 2) Saran