Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM CRYPTOGAMAE MENGHITUNG JUMLAH MIKROALGA JENIS Scenedesmus sp.

Nama NIM Tgl. Praktikum Tgl. Pengumpulan

: Dyna Kholidaziah : 1210702018 : 11 Oktober 2011 : 01 November 2011

JURUSAN BIOLOGI SAINS

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2011

MENGHITUNG JUMLAH MIKROALGA JENIS Scenedesmus sp.

I.

Tujuan Untuk mengetahui pengaruh media terhadap kandungan klorofil mikroalga. Untuk memiliki keterampilan menghitung jumlah sel mikroalga

II.

Dasar Teori Suatu sifat fisiologi yang hanya dimiliki oleh tumbuhan ialah

kemampuannya untuk menggunakan zat karbon dari udara untuk diubah menjadi bahan organik serta diasimilasikan di dalam tubuh tanaman. Peristiwa ini hanya berlangsung jika ada cukup cahaya, dan oleh Karena itu maka asimilasi zat karbon disebut juga fotosintesis. Lengkapnya kita katakan, bahwa fotosintesis atau asimilasi zat karbon itu suatu proses, dimana zat-zat anorganik H2O dan CO2 oleh korofil diubah menjadi zat organik karbohidrat dengan pertolongan sinar (Dwidjoseputro, 1994). Pengubahan energi sinar menjadi energi kimia (karbohidrat) dan kemudian pengubahan energi kimia ini menjadi energy kerja pada peristiwa pernapasan dalam tubuh tumbuhan, hewan, atau manusia itu merupakan rangkaian proses kehidupan di dunia ini (Dwidjoseputro, 1994). Menurut Dwidjoseputro (1994), lazimnya peristiwa fotosintesis

dinyatakan dengan persamaan reaksi kimia sebagai berikut (Dwidjoseputro, 1994): 6 CO2 + 6 H2O C6 H12 O6 + 6 O2. Peristiwa ini hanya berlangsung jika ada klorofil dan ada cukup cahaya. Klorofil terdapat sebagai butir-butir hijau di dalam kloroplas. Pada umumnya kloroplas itu berbentuk oval, bahan dasarnya disebut stroma, sedang butir-butir yang terkandung di dalamnya disebut grana. Menurut Dwidjoseputro (1994), pada tanaman tinggi ada 2 macam klorofil, yaitu: Klorofil a : C55 H72 O5 N4 Mg (berwarna hijau tua) dan Klorofil b : C55 H70 O6 N4 Mg (berwarna hijau muda)

Rumus bangunnya berupa satu cincin yang terdiri atas 4 pirol dengan Mg sebagai inti. Rumus bangun ini hamper serupa dengan rumus bangun haemin (zat darah), dimana intinya bukan Mg, melainkan Fe. Pada klorofil terdapat suatu rangkaian yang disebut fitil yang terlepas menjadi fitol C20 H39 OH, jika terkena air (hidrolisis) dan pengaruh enzim klorofilase. Fitol itu lipofil (suka akan lemak), sedang sisanya disebut rangka porfin, sifatnya hidrofil (suka akan air) (Dwidjoseputro, 1994). Klorofil itu fluoresen, artinya dapat menerima sinar dan mengembalikannya dalam gelombang yang berlainan. Klorofil-a tampak hijau tua, tetapi jika sinar direfleksikan, tampaknya lalu merah darah. Klorofil-b berwarna hijau cerah tampak merah coklat pada fluoresensi. Klorofil banyak meresap sinar merah dan nila (Dwidjoseputro, 1994). Klorofil tidak larut dalam air, melainkan larut dalam etanol, methanol, eter, aseton, bensol, kloroform. Untuk memisahkan klorofil-a dan klorofil-b beserta pigmen-pigmen lain seperti karotin, xantofil, orang menggunakan suatu teknik yang disebut kromatografi, dimana larutan klorofil dilewatkan suatu tabung berisi bubukan sukrosa yang halus, maka bubukan sukrosa akan meresap zat-zat yang terkandung didalam larutan tersebut menurut sifat zat masing-masing. Dan dengan demikian terjadilah lapisan-lapisan yang beraneka warna pada tiang sukrosa dalam tabung. Lapisan-lapisan itu dapat dipisah dan dilarutkan lagi untuk penelitian lebih lanjut (Dwidjoseputro, 1994). Klorofil merupakan zat hijau daun yang terdapat pada semua tumbuhan hijau yang berfotosintesis. Berdasarkan penelitian, klorofil ternyata tidak hanya berperan sebagai pigmen fotosintesis. Klorofil mempunyai manfaat antara lain, sebagai obat kanker otak, paru-paru, dan mulut [10]. Klorofil juga dapat digunakan sebagai desinfektan, antibiotik dan food suplemen. Klorofil dapat digunakan sebagai food suplemen karena mengandung nutrisi yang dibutuhkan untuk tubuh manusia. (Ika Susanti Hendriyani dan Nintya Setiari, 2009). Adanya manfaat klorofil yang banyak tersebut, maka diperlukan suatu usaha untuk meningkatkan kandungan klorofil pada tanaman. Usaha peningkatan kandungan klorofil tersebut salah satunya bisa dilakukan dengan

volume penyiraman yang sesuai dengan jenis tanaman yang ditanam. Oleh karena itu perlu diketahui volume penyiraman yang tepat pada suatu tanaman agar pertumbuhan dan kandungan klorofilnya maksimal. (Ika Susanti Hendriyani dan Nintya Setiari, 2009). Mikroalga adalah salah satu organisme yang dapat tumbuh pada rentang kondisi yang luas dipermukaan bumi. Mikroalga biasanya ditemukan pada tempat-tempat yang lembab atau benda-benda yang sering terkena air dan banyak hidup pada lingkungan berair pada lingkungan dipermukaan bumi. Mikroalga dapat hidup disemua tempat yang memiliki cukup sinar matahari, air dan karbondioksida. (Ana, 2005) Mikroalga merupakan tanaman yang paling efisien dalam menangkap dan memanfaatkan energi matahari dan CO2 untuk keperluan fotosintesis. Hal ini menyebabkan mikroalga memiliki waktu pertumbuhan yang cepat dibandingkan dengan tanaman darat, yaitu mulai hitungan hari sampai beberapa minggu. Banyak sekali manfaat dari mikroalga hijau ini yang dapat digunakan untuk kepentingan manusia, antara lain sebagai bahan makanan, pakan ternak, obat-obatan, campuran pupuk, dan sumber bahan bakar. (Ana, 2005)

III.

Alat dan Bahan Alat Spektrofometer Bahan Kultur Scenedesmus sp. Centrifuge Gelas ukur Tabung reaksi Gelas bead Aseton 90% etanol 96% atau alga

IV.

Prosedur Kerja Ambil 10 ml sampel kultur mikroalga

sentrifugasi sampel tersebut dengan kecepatan 300rpm selma 10 menit.

buang supernatan dan ambil endapan

tambah aseton 90% atau etanol 96% hingga volume akhir 10 ml

masukkan beberapa butir glass bead

kortekskan suspance tersebut selama 20 menit dan sentrifugasi kembali dengan kecepatan dan waktu yang sama

ukur supernatantan, lalu ukur menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 645 dan 663 nm

hitung kadar klorofil dengan menggunakan rumus berdasarkan Arnon (1979) klorofil a = (12,7. A663) (27. A645) klorofil b = (22,9. A663) (4.7. A645) total (a+b) = (20,2. A663) (8,0. A645)

V.

Hasil A B Total Aerator 0,65 0,643 0,4 Non Aerator 0,45 0,77 0,54

VI.

Analisis Data

 Aerator Klorofil a    Klorofil b      

Klorofil total (a+b)

 

 

 Non Aerator Klorofil a    Klorofil b    Klorofil total (a+b)         

VII.

Pembahasan

1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 -0.2 -0.4 -0.6 -0.8 klorofil a klorofil b klorofil total aerator non aerator

Sesuai data dan grafik, bahwa kultur mikroalga yang mengandung banyak kadar klorofil itu adalah pada kultur dengan menggunakan aerator, dibandingkan dengan non aerator. Tetapi dengan panjang gelombang yang berbeda ternyata yang non aerator lah yang memiliki kadar klorofil paling besar dibandingkan dengan yang aerator. Dan setelah ditotalkan ternyata yang memiliki kadar klorofil yang lebih itu ada di kultur alga yang di perlakuaan aerator. Karena dilihat dari segi warna dan kandungan algnya pun lebih banyk yang diberi aerator dibandingkan dengan non aerator, sebab pada aerator terdapat oksigen sedangkan di non itu tidak ada, tetapi kadar yang lebih tinggi ada di kultur alga non aerator. Kenapa kadar klorofil yang dimiliki itu hanya sedikit ? karena kultur alga yang di gunakan praktikan ini aliran oksigen pada aerator ini minim, sehingga menghambat pertumbuhan sel pada kultur. Dan kultur alga yang digunakan pratikan tidak mendpatkan pencahayaan yang maksimum. Sebab cahaya dan oksigen adalah factor pertumbuhan mikroalga.

VIII.

Kesimpulan Darihasil praktikum ini bahwa kadar klorofil b lebih besar dibandingkan dengan klorofil a, dan kadar klorofil yang lebih tinggi dimiliki oleh non aerator, dibandingkan kadar klorofil aerator, yaitu aerator : 0,4 dan non aerator : 0,54.

IX.

Daftar Pustaka Ana. 2005. Perhitungan Kadar Klorofil.

(http://digilib.its.ac.id/public/ITS). [30 oktober 2011] Dwidjoseputro.1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT. Gramedia Jakarta. Ika Susanti Hendriyani dan Nintya Setiari. 2009. Kandungan Klorofil Dan Pertumbuhan Kacang Panjang (Vigna Sinensis) Pada Tingkat Penyediaan Air Yang Berbeda. Artikel penelitian. J. Sains & Mat. Vol. 17 No. 3, Juli 2009: 145-150.