Anda di halaman 1dari 15

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A. Telaah Pustaka 1. Abortus Inkomplit a. Definisi Abortus InkomPlit (1) Abortus Inkomplit Menurut Prawirohardjo (2006), abortus inkomplitus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal didalam uterus. Pendarahan dapat banyak sekali, sehingga menyebabkan syok dan pendarahan tidak akan berhenti sebelum hasil konsepsi dikeluarkan. Abortus inkomplit adalah peristiwa pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu, dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Abortus inkomplit adalah suatu peristiwa hanya sebagian hasil konsepsi yang keluar, yang tertinggal adalah desidua atau plasenta. Abortus inkomplit adalah perdarahan pada kehamilan muda dimana sebagian dari hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri melalui kanalis servikalis.

b. Etiologi Abortus Inkomplit Penyebab terjadinya abortus inkomplit belum jelas, tetapi ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya abortus inkomplit diantaranya : 1. Usia Ibu hamil Menurut Simkin (2008), usia seseorang dihitung sejak kelahiran, umur merupakan faktor yang sangat penting dalam keberhasilan suatu persalinan. Usia dalam kurun waktu reproduksi dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan yaitu 20-30 tahun. Usia yang paling

menguntungkan bagi wanita untuk hamil adalah antara 20 tahun sampai pertengahan 30 tahun, masalah yang muncul lebih sedikit dibandingkan jika wanita hamil diusia belasan, diusia akhir 30 tahun atau 40 tahun. Pada wanita muda (kurang dari 20 tahun) disebabkan oleh berbagai faktor antara lain gangguan pertumbuhan janin akibat kurangnya nutrisi, ketidak sempurnarm organ

reproduksi dan hormonal. Pada kelompok usia lebih dari 35 tahun terjadi gangguan imunologis, fungsi alat reproduksi sudah mengalami penurunan untuk menerima buah

kehamilan, penurunan daya tahan tubuh dan gangguan siklus (vaskuler) (Richard H, 2000). Idealnya kehamilan berlangsung saat ibu berusia 20 tahun 35 tahun kenyataannya, sebagian perempuan hamil

berusia dibawah 20 tahun dan tidak sedikit pula yang mengandung di atas usia 35 tahun. Padahal kehamilan yang terjadi di bawah usia 20 tahun maupun di atas usia 35 tahun termasuk berisiko, karena dibayang-bayangi beragam faktor gangguan (Grandfa, 2008). Kehamilan di usia kurang dari 2A tahun bisa menimbulkan masalah, karena kondisi fisik belum 100% siap. Kehamilan dan persalinan di usia tersebut,

meningkatkan angka kematian ibu dan jani, 4-6 kali lipat dibanding wanita yang hamil dan bersalin di usia 20-30 tahun (Dewi &Fauzi,2009). Berbeda dengan wanita usia 20-30 tahun yang dianggap ideal untuk menjalani kehamilan dan persalinan. Pada rentang usia ini kondisi fisik wanita dalam keadaan prima. Rahim sudah mampu memberi perlindungan atau kondisi yang maksimal untuk kehamilan. Umumnya secara mental pun sudah siap, yang berdampak pada perilaku merawat dan menjaga kehamilannya secara hati-hati. Sedangkan usia 30-35 tahun sebenamya merupakan masa transisi. Kehamilan pada usia ini masih bisa diterima asal kondisi tubuh dan kesehatan wanita yang bersangkutan, termasuk gizinya dalam keadaan baik (Dewi & Fauzi,2009).

Setelah usia 35 tahun, sebagian wanita digolongkan pada kehamilan berisiko tinggi. Di kurun usia ini, angka kematian ibu melahirkan dan bayi meningkat (Dewi & Fauzi, 2009). Menurut Dewi & Fauzi (2009), beberapa risiko yang ditimbulkan pada kehamilan usia < 20 tahun yaitu : (a) Wanita masih dalam masa pertumbuhan, sehingga panggulnya masih relatif kecil. (b) Biologis sudah siap, psikologis belum matang. (c) Stillbirths (kematian fetus) meningkat. (d) Kematian bayi meningkat. (e) Kecendemngan naiknya tekanan darah. (f) Pertumbuhan janin terhambat. (g) Risiko kanker leher rahim meningkat. Menurut Hartanto (2004), beberapa risiko yang ditimbulkan pada kehamilan usia > 35 tahun yaitu : Problem kesehatan seperti hipertensi, diabetes mellitus, anemi4 penyakitpenyakit kronis lain sehingga berpeluang mengalami keguguran. Cacat bawaan atau kelainan genetik, biasanya yang terjadi kelainan kromosom trisomik yang

mengakibaban lahirnya anak-anak down syndrome yang mengalami kombinasi retardasi mental dan cacat fisik. Janin dengan kromosom abnormal banyak pula berakhir dengan keguguran.

2. Paritas Paritas atau frekuensi ibu melahirkan anak sangat mempengaruhi kesehatan ibu dan anak. Paritas l-3

merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian matemal dan neonatal (Wikjosastro, 2005). Menurut Depkes RI (2000), paritas > 4 merupakan paritas yang memerlukan suatu pengawasill kehamilan yang memadai. Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan kelahiran yang mencapai tahap hidup (28 minggu). Paritas adalah keadaan kelahiran, keadaan wanita yang pemah melahirkan bayi. Pada umunnya abortus sering terjadi pada wanita yang telah mempunyai anak lebih dari lima. Paritas adalah jumlah persalinan yang telah dilakukan ibu. Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas lebih dari 3 mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi

(Prawirohardjo, 2006). Ibu dengan paritas rendah ( paritas < 2) cenderung bayi yang dilahirkan tidak matur atau mengalami abortus karena merupakan pengalaman pertama terhadap

kemampuan alat reproduksi ibu dan kemungkinan akan timbul penyakit dalam kehamilan dan persalinan. Sedangkan ibu dengan paritas tinggi (melahirkan > 3 kali) cenderung

mengalami komplikasi yang akhirnya berpengaruh pada kehamilan dan persalinan (Richard. H,2000). Frekuensi abortus meningkat bersamaan dengan meningkatnya angka graviditas yaitu 6 %o pada kehamilan pertama atan kedua berakhir dengan abortus, angka ini meningkat menjadi 16 % pada kehamilan ke-3 da seterusnya. (Llewellyn, 2001). Menurut Hartanto (2004), kehamilan dengan paritas > 4 anak merupakan kehamilan risiko tinggi yang dapat menyebabkan : (a) Berat badan lahir rendah. (b) Nutrisi kurang. (c) Waktu/lama menyusui kurang. (d) Kompetisi dalam sumber-sumber keluarga. (e) Lebih sering terkena penyakit. (f) Tumbuh kembang sering lambat. (g) Pendidikan/intelegensia dan pendidikan akademis lebih rendah. 3. Jarak kehamilan Kehamilan yang perlu diwaspadai diantaranya jarak kelahiran dengan anak sebelumnya kurang dari 2 tahun (Syafrudin & Hamidah, 2009).

Jarak kehamilan yang terlalu dekat mengakibatkan ibu harus membagi perhatiannnya kepada dua anak yang bersamaan. Anak-anak yang lahir berdekatan diperkirakan berisiko kematian yang tinggi. Sedangkan persalinan yang berturut-turut dalam jangka waktu yang relatif singkat akan mengakibatkan uterus menjadi fibrotik yang menyebabkan kontraksi uterus yang kurang baik. Dibutuhkan waktu 2 - 4 tzhtrtrl untuk memulihkan kondisi ibu tersebut ( FKM UI, 2006). Menurut Hartanto Q004), kehamilan dengan spasing < 2 tahun merupakan kehamilan risiko tinggi yang dapat menyebabkan: (a) Berat badan lahir rendah. (b) Nutrisi kurang. (c) Waktu/lama menyusui kurang. (d) Kompetisi dalam sumber-sumber keluarga. (e) Lebih sering terkena penyakit. c. Faktor-faktor Lain Terjadinya Abortus Inkomplit Pada wanita Hamil l) Faktor Janin Kelainan inilah yang paling umum menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum umur kehamilan 8 minggu. Beberapa faktor yang menyebabkan kelainan ini antara lain kelainan kromosom/kelainan telur, lingkungan tempat

menempelnya hasil pembuahan yang tidak bagus atau kurang sempurna pengaruh zat berbahaya bagi janin seperti obatobatan alkohol (Ptawirohardio, 2006). (a) Kelainan pada Plasenta Kelainan ini bisa berupa gangguan pembentukan pembuluh darah pada plasenta yang disebabkan oleh darah tinggi. Sehingga menyebabkan gangguan

pertumbuhan dan kematian janin (Prawirohardjo, 2006). (b) Penyakit Ibu Penyakit mendadak, seperti pneumonia, tifus

abdominalis, pielonefritis, malaria dapat menyebabkan abortus. Beberapa Toksin, bakteri, virus, atau

plasmodium dapat melalui plasenta masuk kejanin, sehingga menyebabkan kematian jati, dan kemudian terjadilah abortus (Prawirohardjo, 2005).

(c) Kelainan pada Rahim Kelainan pada rahim diketahui berhubungan dengan gugurnya kehamilan sejak pergantian abad ini- Kelainan itu mungkin karena ketidak mampuan serviks, kelainan bawaan pada fundus rahim, dan kelainan dapatan pada fundus rahim (Hacker, 2001).

d. Patofisiologi Abortus InkomPlit Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan disekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing datam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk

mengeluarkan isinya. Pada kehamilan antara 8 sampai 14 minggu villi karioles menembus desidua lebih dalam, sehingga umunnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan banyak pendarahan (Prawirohardjo, 2006). Pada kehamilan 14 minggu keatas umunnya yang dikeluarkan setelah ketuban pecah ialah janin. Disusul beberapa waktu kemudian dengan plasenta. Pendarahan tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap. Sebelum minggu ke-10, hasil konsepsi biasanya dikeluarkan dengan lengkap antara minggu ke 10-12 korion tumbuh dengan cepat dan hubungan villi kariolis dengan desidua makin erat hingga mulai saat tersebut sering sisa sisa korion (plasenta) tertinggal kalau terjadi abortus (Sastrawinata,2005). e. Manifestasi Perdarahan merupakan gejala utama abortus, tetapi tidak semua perdarahan disebabkan oleh abortus pada kehamilan muda. Pada abortus inkomplit sudah terjadi abortus dengan mengeluarkan jaringan tetapi sebagian masih berada didalam uterus. lni

merupaka ancaman terjadinya perdarahan. Pada pemeriksaan dalam pembukaan servik masih ada jaringan sisa masih terab4 perdarahan mungkin bertambah setelah pemeriksaan dalam. Tes kehamilan masih positif, tetapi kehamilan tidak dapat

dipertahankan (Manuaba, 2007). f. Komplikasi Abortus Inkomplit Komplikasi yang berbahaya pada abortus ialah perdarahan, perforasi, infeksi, dan syok. 1) Perdarahan Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian pada perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya (Prawirohardjo, 2006). 2) Perforasi Perforasi uterus dapat terjadi pada pelaksanaan kuret. Jika ada tanda bahaya, perlu segera dilalarkan laparotomi dan tergantung dari ltras dan bentuk perfiorasi. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparotomi harus segera dilalnrkan untuk menentukan luasnya cedera, untuk selanjutnya mengambil tindakan-tindakan seperlunya guna mengatasi komplikasi (Prawirohardjo, 2006).

3. Infeksi Infeksi yang menyebabkan abortus infeksiosus, yaitu abortus yang disertai infeksi pada genitalia. lnfeksi dalam uterus biasanya ditemukan pada abortus inftampletus dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan tanpa

memperhatikan asepsis dan antisepsis. Apabila infeksi menyebar lebih jauh, terjadilah sepsis dengan kemungkinan diikuti oleh syok (Prawirohardjo, 2006). 4) Syok Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat (syok endoseptik) (Prawirohardj o, 2006). g. Perawatan Abortus Inkomplit Seorang wanita yang di diagnosa mengalami abortus inkomplit dan tidak dirawat di rumah sakit, harus segera dikirim kesalah satu rumah sakit. Sebelum dikirim, dokter yang memeriksa boleh memberikan analgesik kepada pasien (jika diperlukan) dan boleh melakukan pemeriksaan vagina. Setiap hasil konsepsi yang didapat menonjol keluar dari serviks harus dikeluarkan dengan jari tangan atau sponge forceps, karena jika ditinggalkan dapat mengakibatkan syok. Jika ibu mengalami perdarahan yang hebat, harus diberikan suntikan ergotamin 0,5 mg intramuscular (Prawirohardjo, 2006)

Di Rumah Sakit diperlukan intervensi kecuali abortusnya berlangsung dengan cepat dan perdarahannya minimal. Apabila ada keraguan mengenai lengkap tidaknya aborfirs, pasien harus dibawa kekamar operasi dan uterus dikosongkan dengan menggunakan sponge forceps diikuti dengan kuret secara cermat. Pada akhir kuretase, diberikan suntikan ergotamin 0,25 mg intravena dan intramuskula (Llewellyn, 2002).

h. Penanganan Abortus Inkomplit Menurut Prawirohardjo (2002), adapun penanganan pada kasus abortus inkomplit adalah sebagai berikut : 1) Tentukan besar uterus (taksir

usia gestasi) kenali dan atasi setiap komplikasi (perdarahan hebat, syok, infeksi/sepsis). 2) Hasil konsepsi yang masih

tersisa pada serviks yang disertai perdarahan hingga ukuran sedang, dapat dikeluarkan secara digital atau cunam ovum. Setelah itu evaluasi perdarahan : (a) Bila perdarahan berhenti

beri ergometrin 0,2 mg intramuskular atau misoprostal 400 mg per oral. (b) Bila perdarahan terus

berlangsullg, evakuasi sisa hasil konsepsi dengan aspirasi vakum manual (AVM) atau dilatasi dan kuretase. Pilihan

tergantung dari usia gestasi, pembukaan serviks dan keberadaan bagian-bagian janin.

3) Bila tidak ada tanda-tanda infeksi, beri antibiotika profilaksis (ampisilin 500 mg oral atau doksisiklin 100 mg). 4) Bila terjadi infeksi, beri ampisilin dan metronidazol 500 mg setiap 8 jam. 5) Bila terjadi perdarahan hebat dan usia gestasi dibawah 16 minggu, segera lakukan evakuasi dengan aspirasi vakum manual (AVM). 6) Bila pasien tampak anemik, berikan sulfas ferosus 600 mg per hari selama 2 minggu (anemia sedang) atau transfusi darah (anemia berat). Menurut (Prawirohardj o, 2002) A b or t u s inko mpl i t erat kaitannya dengan abortus tidak aman, di sebab oleh halhal berikut: 1) Pastikan tidak ada komplikasi

berat seperti sepsis, perforasi uterus atau cedeta intta abdomen (mual/muntah, nyeri punggung, demam, perut kembung, nyeri perut bawah, dinding perut tegang, nyeri tulang lepas).

2)

Bersihkan ramuan tradisional,

jamu, bahan kalistik, kayu atau benda- benda laianya dari segi genita. 3) Berikan boster tetanus toksoid

0,5 ml bila tampak luka kotor pada dinding vagina atau kanalis servisis dan pasien pernah di imunisasi. 4) Bila riwayat pemberian

imunisasi tidak jelas, berikan serum anti tetanus (ATS) 1500 unit intramuskular diikuti dengan pemberian tetanus toksoid 0,5 ml setelah 4 minggu. Konseling untuk kontra sepsi pasca keguguran dan pemantauan lanjut. B. Kerangka Teori Berdasarkan faktor risiko kematian maternal memberikan

kontribusi terhadap kematian perinatal, yaitu: faktor ibu secara langsung maupun secara tidak langsung, faktor pelayanan kesehatan dan faklor lingkungan.