Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Gigi tiruan dibuat tidak hanya sekedar mengganti gigi yang hilang saja tetapi harus mampu memenuhi syarat-syarat keberhasilan sebuah gigi tiruan serta mampu mempertahankan kesehatan jaringan mulut yang masih tertinggal. Sebuah gigi tiruan yang baik dan memuaskan adalah gigi memperbaiki fungsi estetik dan fonetik. Kebutuhan penggunaan gigi tiruan meningkat pada kelompok usia lanjut karena mengalami perubahan-perubahan fisiologis dalam rongga mulutnya termasuk kehilangan gigi. Usia lanjut yang biasa di kenal sebagai lansia merupakan tahap akhir siklus kehidupan dari perkembangan normal yang dialami dan tidak dapat dihindari oleh setiap individu. Salah satu contohnya adalah kasus kehilangan gigi karena perubahan kondisi fisik pada rongga mulut.Banyaknya jumlah pasien yang kehilangan gigi menyebabkan perawatan gigi diutamakan pada perawatan prostodontik. Resorbsi tulang alveolar merupakan masalah yang sering terjadi pada rahang tanpa gigi, baik pada rahang bawah maupun pada rahang atas.Resorbsi tulang alveolar dapat terjadi secara fisiologik dan patologik. Diduga lamanya tekanan yang terjadi pada permukaan tulang akan berpengaruh pula pada respon yang akan timbul di jaringan tulang yang yang bersangkutan. Resorbsi tulang alveolar sering ditemukan pada pasien yang sudah lama kehilangan gigi sehingga mengakibatkan linggir alveolar menjadi datar atau jaringan lunak sekitarnya yang flabby, Dengan begitu akan menyebabkan gangguan kenyamanan secara psikologik, fisiologi dan lama waktu pemakaian gigi tiruan. Menurut Watt dan Mac Gregor (1986) perawatan linggir yang datar atau linggir dengan jaringan flabby dapat dengan tindakan bedah dan pembuatan gigi tiruan. Perbaikan secara bedah perlu dilakukan untuk memperoleh daerah pendukung gigi tiruan yang lebih luas (Barnes 2006) akan tetapi perawatan gigi tiruan yang mampu

tiruan lebih disukai daripada tindakan bedah yang mempunyai banyak kerugian terutama pada pasien usia lanjut tindakan bedah jarang dibenarkan. Sesuai dengan fungsi gigi bagi manusia maka pada penderita yang telah kehilangan seluruh giginya sebaiknya secepatnya dibuatkan gigi tiruan lengkap (GTL) untuk mengembalikan fungsi kunyah, fungsi bicara, estetik, serta untuk melindungi jaringan di bawah gigi tiruan tersebut agar tidak terjadi kerusakan.

1.1 Rumusan Masalah 1. Apakah tujuan pembuatan GTL ? 2. Apakah Indikasi dan Kontra indikasi GTL? 3. Apakah Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan GTL? 4. Bagaimanakah prosedur pembuatan GTL? 5. Faktor apakah yang mempengaruhi retensi dan stabilisasi? 1.2 Tujuan Masalah 1. Menjelaskan tujuan pembuatan GTL ? 2. Menjelaskan Indikasi dan Kontra indikasi GTL? 3. Menjelaskan bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan GTL? 4. Menjelaskan bagaimana prosedur pembuatan GTL? 5. Menjelaskan faktor apakah yang mempengaruhi retensi dan stabilisasi?

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gigi tiruan secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu gigi tiruan penuh dan gigi tiruan sebagian.Gigi tiruan penuh dibuat pada pasien yang sudah kehilangan seluruh gigi geliginya, sedangkan gigi tiruan lepasan dibuat bila masih ada sebagian gigi yang tersisa.Gigi tiruan sebagian dapat dibagi lagi menjadi gigi tiruan lepasan (yang dapat dilepas pasang sendiri oleh pasien) dan gigi tiruan cekat (yang disemenkan ke gigi pasien secara permanen). Bahan gigi yang digunakan dalam gigi tiruan lengkap yaitu terbuat dari akrilik dan porcelain. Kedua bahan ini memberikan penampilan yang sangat memuaskan. Gigi porcelain melekat pada basis tiruan secara kimiawi, mengirimkan tekanan kunyah yang lebih besar ke mukosa di bawahnya, bila menggigit dengan gigi ini akan timbul bunyi yang lebih keras, bila terdapat benturan yang tiba-tiba cenderung lebih mudah pecah, dan tahan terhadap keausan. Sedangkan gigi melekat pada basis tiruan dengan perantara paku-paku atau lubang-lubang dan mudah aus. (Basker, dkk. 1996) Kestabilan gigi tiruan diperoleh dari kekuatan retentive yang lebih besar dari pada kekuatan yang menggerakkannya dan ditambah dengan dukungan yang cukup.Tekanan retentive yan berperan pada setiap permukaan ada dua tipe utama, yaitu tekanan otot dan tekanan fisik.Tekanan otot diberikan oleh otot-otot bibir, pipi, dan lidah pada permukaan poles gigi tiruan dan oleh otot-otot mastikasi secara tidak langsung melalui permukaan oklusal.Tekanan fisik berhubungan dengan sifat film saliva yang ada di antara mukosa dan gigi tiruan. Cara memperoleh retensi fisik yang optimal yaitu dengan cara tepi gigi tiruan harus dibentuk sedemikian rupa hingga saluran di antara tepi dan jaringan sulkus sekesil mungkin, memaksimalkan perluasan gigi tiruan, sedemikian rupa film saliva di antara gigi tiruan dan mukosa di bawahnya tipis dan memanfaatkan daerah ceruk (undercut) tulang. (Basker, dkk. 1996) Prosedur dalam pembuatan gigi tiruan lengkap yaitu membuat model rahang, desain geligi tiruan, penentuan dimensi vertical dan oklusi sentries,

memilih gigi, penyusunan gigi, wax countering geligi tiruan, flasking, packing, processing/curing, deflaskig, pemasangan kembali dan pengasahan selektif, penyelesaian geligi tiruan serta pemolesan geligi tiruan. (Itjingningsih: 1991) Untuk mendapatkan model rahang, hal pertama yang harus dilakukan yaitu membuat cetakan rahang.Cetakan rahang adalah bentuk negative dari seluruh jaringan pendukung geligi tirua. Setelah dicor maka akan didapatkan bentuk positif dari rahang yang lazim disebut model rahang. Hasil cetakan rahang harus memberikan kekokohan, kemantapan dan dukungan pada geligi tiruan, oleh karena itu rahang harus dicetak seakurat mungkin sehingga landasan geligi tiruan dapat dipertahankan kesehatan jaringan pendukungnya. (Itjingningsih: 1991) Selanjutnya, model dibersihkan dari sisa-sisa gips, kemudian dibuat pola perncanaan atau desain geligi tiruan yang akan dibuat. Desain geligi tiruan lenkap meliputi pembuatan lekuk pengontrol pada dasar model kerja, pembuatan kawat penguat, penarikan garis tengah model kerja rahang atas dan bawah, serta penarikan garis puncak linggir. (Itjingningsih: 1991) Pasien yang sudah kehilangan seluruh giginya berarti suadh kehilangan bidang oklusal, tinggi gigitan/dimensi vertical, dan oklusi sentrik. Ketiga hal ini harus dicari saat membuat geligi tiruan lengkap dengan media tanggul gigitan/ galangan gigit/ oklusal bite rim. Fungsi galangan gigit ini yaitu menentukan dimensi vertical, dan untuk mendapatkan dukungan bibir dan pipi pasien.Bidang orientasi adalah bidang oklusal dalam bentuk tanggul gigitan.Tanggul gigitan terdiri dari bentuk landasan dan galangan malam. (Itjingningsih: 1991) Pemilihan gigi berpedoman pada bentuk wajah, jenis kelamin, dan umur pasien untuk menentukan warna dan tingkat keausan.Sedangkan ukuran gigi disesuaikan dengan garis orientasi pada tanggul gigitan. (Itjingningsih: 1991) Penyusunan gigi dilakukan secara bertahap yaitu penyusunan gigi anterior atas, gigi anterior bawah, gigi anterior atas, gigi M-1 bawah dan gigi posterior bawah lainnya.Dengan syarat utama setiap gigi memiliki 2 macam kecondongan / inklinasi (inklinasi mesio-distal dan inklinasi antero-posterior) serta dilihat dari oklusal berada di atas linggir rahang. (Itjingningsih: 1991)

Wax contouring/waxing dari geligi tiruan adalah membentuk dasar dari geligi tiruan malam sedemikian rupa sehingga harmonis dengan otot-otot orofasial penderita dan semirip mungkin dengan anatomis gusi dan jaringan lunak mulut. Oleh karena kontur geligi tiruan malam yang sama dengan kontur jaringan lunak dalam mulut akan menghasilkan ngeligi tiran yang stabil. (Itjingningsih: 1991) Setelah bentuk kontur permukaan geligi tiruan malam selesai dilakukan, lalu dilakukan flasking. Flasking adalah proses penanaman model dan trial denture malam dalam suatu flask/kuvet untuk membuat sectional mold. Mold bagian bawah dibuat dengan menanam model dalam gips dan bagian atas dibuat dari dua adukan stone yang terpisah di atas denture malam. (Itjingningsih: 1991) Setelah dilakukan flasking, lalu dilakukan packing. Packing merupakan proses mencampur monomer dan polimer resin akrilik. Proses ini memiliki 6 stadium yaitu sandy stage, puddle sand, sticky stage, packing stage, rubbery stage dan stiff stage. (Itjingningsih: 1991) Kemudian dilakukan proses curing yang merupakan polimerisasi antara monomer yang beraksi dengan polimernya bila dipanaskan atau ditambah zat lainnya. Bila curing telah selesai, maka flask dibiarkan mendingin sendiri hingga suhu kamar, baru flask boleh dibuka. Deflasking merupakan pelepasan geligi tiruan resin akrilik dari flask dan bahan tanamnya, tetapi tidak boleh lepas dari model rahangnya supaya geligi tiruan dapat diremounting di articulator kembali persis seperti sebelum proses flasking, packing dan curing. (Itjingningsih: 1991) Selanjutnya dilakukan pemasangan kembali geligi dalam articulator (remounting) yang bertujuan untuk mengkoreksi hubungan oklusi yang tidak harmonis dari geligi tiruan yang baru selesai diproses.Setiap perubahan harus diperbaiki sebelum geligi tiruan akrilik dilepaskan dari model kerjanya. (Itjingningsih: 1991) Penyelesaian geligi tiruan terdiri dari menyempurnakan bentuk akhir geligi tiruan dengan membuang sisa-sisa resin akrilik pada batas geligi tiruan, sisa-sisa resin akrilik atau stone yang tertinggal sekitar gigi, tonolan-tonjolan akrilik pada permukaan landasan geligi tiruan akibat processing. Sedangkan pemolesan geligi

tiruan terdiri dari menghaluskan dan mengkilapkan geligi tiruan tanpa mengubah konturnya. (Itjingningsih: 1991)

2.1 Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan dan Kegagalan Keberhasilan pembuatan GTL tergantung dari retensi dan dukungan jaringan sekitarnya, sehingga dapat mempertahankan keadaan jaringan normal.Hal ini mencakup : a. Kondisi edentulous berupa : processus alveolaris, saliva, batas mukosa bergerak dan tidak bergerak, kompresibilitas jaringan mukosa, bentuk dan gerakan otot-otot muka, bentuk dan gerakan lidah. b.Ukuran, warna, bentuk gigi dan gusi yang cocok c.Sifat dan material yang hampir sama dengan kondisi mulut d.Penetapan / pengaturan gigi yang benar, meliputi : Posisi dan bentuk lengkung deretan gigi Posisi individual gigi Relasi gigi dalam satu lengkung dan antara gigi-gigi RA dan RB

e.Sifat dan material yang hampir sama dengan kondisi mulut. 2.2 Faktor penyebab kegagalan gigi tiruan antara lain berasal dari factor stabilitas, yang antara lain adalah : 1. Manipulasi yang salah: mencetak dan permukaan oklusal yang tidak balance oclution 2. Perluasan landasan geligi tiruan yang tidak memenuhi syarat atau landasan geligi tiruan yang tidak cermat. 3. Oklusi yang tidak layak yaitu relasi sentris, dimensi vertical dan kontak premature yang salah, hubungan sentris dan eksentris serta hubungan tonjol yang kurang seimbang 4. Daya horizontal dari bibir, pipi dan lidah pada gigi-gigi dan sayap geligi tiruan.

2.3 Faktor yang Mempengaruhi Prognosa dari Perwatan Gigi Tiruan Lengkap Prognosis adalah suatu perdiksi terhadap kemungkinan keberhasilan dalam suatu perawatan yang dibuat berdasarkan pengetahuan tentang patogenesis penyakit dan faktor-faktor resikonya.Prognosis ditentukan sesudah diagnosis ditetapkan dan sebelum perawatan dilakukan. Dalam menentukan prognosis,ada beberapa faktor yang perlu

diperhatikan,antara lain: 1. Faktor klinis,seperti usia pasien,keparahan penyakit dan kerja sama pasien. 2. Faktor sistemik,seperti penyakit diabetes dan faktor genetik. 3. Faktor lokal seperti oral hygiene,faktor anantomis dan faktor prostetik

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Tujuan Pembuatan GTL Tujuan pemakaian gigi dengan maksud menghindari akibat-akibat yang tidak diinginkanseperti tersebut di atas, biasanya dibuat gigi tiruan sebagai pengganti gigi yangsudah hilang, antara lain sebagi berikut: 1. Pemulihan Fungsi Estetik Alasan utama seorang pasien mencari perawatan prostodontik biasanya karena masalah estetik. Nampaknya banyak sekali pasien yang dapat menerima kenyataanhilangnya gigi, dalam jumlah besar sekalipun, sepanjang penampilanwajahnya tidak terganggu. Mereka yang kehilangan gigi depan, biasanya memperlihatkanwajah dengan bibir masuk ke dalam, sehingga wajah menjadi depresi pada dasar hidung dan dagu menjadi tampak lebih ke depan. Selain itu, timbul garis yang berjalan dari lateral sudut bibir dan lipatan-lipatanyang tidak sesuai dengan usia penderita. Akibatnya, sulcus labio-nasalis menjadi lebih dalam.Hilangnya gigi depan dapat disebabkan oleh karies, penyakit periodontal, ruda paksa (trauma) atau gigi yang mengalami malposisidan karenanya dicabut. Pada anak-anak, kehilangan gigi depan seringterjadi karena kecelakaan, dengan akibat dicabutnya gigi tadi.Kehilangan gigi seperti ini kemudian mengakibatkan migrasi gigitetangga ke arah gigi yang hilang. Pada usia muda, gigi depan biasanyahilang karena kecelakaan atau karies. Bila karies sebagai

penyebabmaka penderita itu tidak menjaga kesehatan mulutnnya dengan baik.Gigi depan juga hilang karena perawatan saraf, penambalan

atau pembuatan mahkota tiruan. Pada usia tua, kehilangan gigi depan lebih banyak disebabkan oleh penyakit periodontal. Penderita dengan gigi depan malposisi, protrusif atau berjejaldan tak dapat diperbaiki dengan perawatan ortodontik, tetapi tetapingin memperbaiki penampilan wajahnya, biasanya dibuatkan suatugeligi tiruan imidiat yang dipasang langsung segera setelah pencabutangigi. (Aryanto, 1991:33)

2. Peningkatan Fungsi Bicara Alat bicara dibagi dalam dua bagian.Pertama, bagian yang bersifat statis, yaitu gigi, palatum dan tulang alveolar.Kedua yang bersifat dinamis, yaitu lidah, bibir, vulva, tali suara dan mandibula.Alat bicara yang tidak lengkap dan kurang sempurna dapatmempengaruhi suara penderita, misalnya pasien yang kehilangan gigidepan atas dan bawah.Kesulitan bicara dapat timbul, meskipun hanya bersifat sementara. Dalam hal ini geligi tiruan dapat meningkatkandan memulihkan kemampuan bicara, artinya ia mampu kembali mengucapkan kata-kata dan berbicara dengan jelas, terutama bagilawan bicaranya. (Aryanto, 1991:35) 3. Perbaikan dan Peningkatan Fungsi Pengunyahan Sudah menjadi pendapat umum bahwa makanan haruslahdikunyah terlebih dahulu, supaya pencernaan berlangsug dengan baik.Sebaliknya, pencernaan yang tidak sempurna dapat menyebabkankemunduran kesehaatan secara keseluruhan.Bila demikian halnya, lalu timbul pertanyaan: Apa gunanyageligi tiruan?Jawaban betapa yang dijumpai dalam banyak geligi tiruan kasus, dalam

ternyatamenunjukkan

bermanfaatnya

membantu pengunyahan.Pola kunyah penderita yang sudah kehilangan sebagian gigi biasanya mengalami perubahan. Jika kehilangan beberapa gigi terjadi pada kedua rahang, tetapi pada sisi sama, maka pengunyahan akandilakukan semaksimal mungkin oleh geligi asli pada sisi lainnya.Dalam hal ini, tekanan kunyah akan dipikul satu sisi atau bagian saja.Setelah pasien memakai protesa, ternyata ia merasakan perbaikan.Perbaikan ini terjadi karena sekarang tekanan kunyah dapat disalurkansecara lebih merata keseluruh bagian jaringan pendukung. Dengandemikian protesa ini berhasil

mempertahankan atau meningkatkanefisiensi kunyah. (Aryanto, 1991:37) 4. Pelestarian Jaringan mulut yang masih tinggal Pemakaian geligi tiruan berperan dalam mencegah ataumengurangi efek yang timbul karena kehilangan gigi. (Aryanto,1991:38)

5. Pencegahan Migrasi Gigi Bila sebuah gigi dicabut atau hilang, gigi tetangganya dapat bergerak memasuki ruang kosong tadi. Migrasi seperti ini pada tahapselanjutnya menyebabkan renggangnya gigi lain. Dengan demikianterbukalah kesempatan makanan terjebak disitu, sehingga mudahterjadi akumulasi plak interdental. Hal ini menjurus kepadaperadangan jaringan periodontal serta dekalsifikasi

permukaan proksimal gigi.Membiarkan ruang bekas gigi begitu saja akan mengakibatkan pula terjadinyaovererupsigigi antagonis dengan akibat serupa. BilaOvererupsi ini sudah demikian hebat sehingga menyentuh tulangalveolar pada rahang lawanya, maka akan terjadi kesulitan untuk pembuatan protesa di kemudian hari. (Aryanto, 1991:38) 6. Peningkatan Distribusi Beban Kunyah Hilangnya sejumlah besar gigi mengakibatkan bertambah beratnya beban oklusal pada gigi yang masih tinggal.Keadaan inimemperburuk kondisi periodontal, apalagi bila sebelumnya sudah ada penyakit periodontal. Akhirnya gigi jadi goyang dan miring, terutamake labial untuk gigi depan atas. Bila perlekatan periodontal gigi-gigiini kuat, beban berlebih tadi akan menyebabkan abrasi berlebih pula pada permukaan oklusal/insisal atau merusak restorasi yang dipakai.Pembuatan restorasi pada kasus seperti ini menjadi rumit dan perluwaktu lama.Overerupsi gigipada keadaan tertentu dapat

pulamengakibatkan terjadinya kontak oklusi prematureatauinterferensioklusal. Pola kunyah jdi berubah, karena beban pasien oklusal berusaha sekarang

menghindarikontak prematureini.

Walaupun

berkurang.Perubahan pola ini mungkin saja menyebabkan disfungsi otot kunyah.(Aryanto, 1991:39)

3.2 Indikasi dan Kontra Indikasi GTL Indikasi pembuatan GTL antara lain : a. Individu yang giginya telah tanggal atau dicabut

10

b. Individu yang masih punya beberapa gigi yang harus dicabut karena kerusakan gigi yang masih ada dan tidak mungkin diperbaiki c. Bila dibuatkan GTS gigi yang masih ada akan mengganggu

keberhasilannya d. Keadaan umum dan kondisi mulut pasien sehat e. Ada persetujuan mengenai waktu, biaya dan prognosa yang akan diperoleh Kontra Indikasi: a. Adanya kelainan sistemik yang menjadi hambatan, misalnya diabetes mellitus, osteoporosis yang tidak memungkinkan untuk dibuatkannya gigi tiruan b. Oral hygiene pasien tidak mendukung c. Pasien menolak dibuatkannya gigi tiruan

3.3 Bahan-Bahan yang Digunakan untuk Pembuatan GTL 3.3.1 Berdasarkan Bahan Pembuatan GTL 1. denture akrilik jenis gigi ini adalah tipe yang konvensional atau sudah lama dipakai oleh sebagaian besar orang. Keunggulan : 1. Warna menyerupai gigi 2. Mudah direstorasi kembali bila patah tanpa mengalami distorsi

3. Mudah dibersihkan 4. Mudah pengerjaanya dan manipulasinya 5. Kekuatannya cukup

11

6. Harganya cukup murah dan tahan lama

Kelemahan: 1. Mudah patah atau fraktur bila terjadi benturan yang tetrlalu keras 2. Menimbulkan macam-macam porositas 3. Suatu termal konduktor yang baik 4. Dapat mengalami perubahan bentuk 5. Toleransi pasien kurang 6. Dapat menimbulkan alergi 7. Terkadang stain atau noda yang berasal dari makanan bisa menempel ke plat gigi jenis ini.

2. Flexidenture/valpalst. Valplast adalah Nylon Thermoplastic yang lebih tipis dan lebih translucen dari pada gigi palsu biasa. Pasien lebih menyukai karena nyaman dan bebas metal/logam. Valplast flexibel yang tetap kuat tidak bisa patah.

Valplast sangat baik dalam estetika, tidak menggunakan kawat retensi tetapi perlekatan dalam rongga mulut sangat baik. Valplast sebaiknya tidak di gunakan pada Free end unilateral atau bilateral karena akan tidak stabil. Untuk pasien dengan oral hygiene yang buruk akan menyebabkan valplast menjadi berubah warna pada plat. Keuntungan Valplast: 1. Nyaman, ringan, tipis dan flexibel 2. Menunjang estetika dan biokompatibel 3. Tidak perlu preparasi gigi dan jaringan 4. Lebih tahan lama dari pada akrilik

12

Kelemahan Valpast: diperlukan support yang memadai dari tulang rahang atau processus alveolaris karena valplast ini bersifat lentur, dengan demikian diperlukan ridge/landasan dari tulang rahang yang harus bagus kondisinya. Indikasi Valplast: 1. Semua Klasifikasi denture 2. Pasien yang sensitif terhadap metal Kontraindikasi: 1. Gigi semua goyang 2. Hanya terdapat 1 gigi asli Insersi Valplast: Sediakan air panas dalam gelas, sebelum insersi valplast direndam beberapa menit. Hal ini akan menambah flexibilitas dan adaptasi pasien terhadap valplast. Menambah kenyamanan pasien dan mudah di pasang. 3. jenis yang ketiga adalah kedua jenis gigi tiruan yang telah disebut diatas dikombinasikan dengan metal(metal frame) frame atau kerangka dari metal diperlukan sebagai tambahan sebagai stabilisasi denture didalam mulut

3.3.2 Berdasarkan Bahan Gigi Kita mengenal gigi akrilik, gigi porselen yang sering digunakan dan gigi logam, hanya dipakai untuk geraham akhir bila jarak antar rahang sempit Indikasi gigi porselen ialah: - bila jarak antar gigi sempit - posisi linger rahang atas dan bawah sejajar - daya kunyah kuat indikasi gigi akrilik ialah bila jarak antar rahang sempitjangan sekali-kali menggunakan gigi porselen di anterior dan gigi-gigi akrilik di posterior karena kombinasi ini akan menyebabkan kontak berlebih dilingiranterior setelah terjadi

13

keausan pada gigi akrilik posterior dan daya yang berlebih ini akan merusak jaringan pendukung di anterior

3.4 Prosedur Pembuatan GTL 1. Membuat Model Rahang 2. Desain Gigi Tiruan 3. Penentuan Dimensi Vertikal dan Oklusi Sentris a. Membuat bentuk landasan b. Membuat tanggul malam c. Membuat galangan gigit d. Uji coba galangan gigit rahang atas dan rahang bawah e. Penerapan rumus dimensi vertical f. Penentuan oklusi sentrik g. Menarik garis-garis orientasi h. Pemasangan model dalam articulator 4. Memilih gigi 5. Penyusunan gigi Penyusunan gigi dilakukan secara bertahap yaitu penyusunan gigi anterior atas, gigi anterior bawah, gigi posterior atas, gigi M1 bawah dan gigi posterior bawah lainnya. Dengan syarat utama : - Setiap gigi mempunyai 2 macam kecondongan/inklinasi 1. Inklinasi mesio-distal 2. Inklinasi anterio-posterior atau inklinasi

labio/bukopalatal/lingual sesuai dengan kecondongan tanggul gigitan. Bila terlalu kelabial akan tampak penuh dan bila terlalu kepalatal akan tampak ompong. - Dilihat dari oklusal berada diatas lingir rahang - Penyusunan gigi harus disesuaikan dengan keadaan lingir, pada pasien yang sudah lama ompong sering sudah terjadi rresopsi lingir.

14

- Resopsi pada lingir atas berjalan keatas dan kepalatal yang menyebabkan bibir jatuh dan tampak masuk, maka penyusunan gigi tidak dilingir tapi lebih kelabial dan sebaliknya resopsi lingir bawah mengarah keanterior sehingga Berhubung penyusunan gigi lebih kelingual. untuk

dengan tujuan pembuatan

geligi tiruan ialah

memperbaiki fungsi pengunyahan, fungsi bicara dan estetik maka perlu diperhatikan beberapa faktor dalam penyusunan gigi: a. Inklinasi atau posisi setiap gigi b. Hubungan setiap gigi dengan gigi tetangganya dan gigi antagonisnya. c. Hubungan kontak antar gigi atas dan bawah yaitu hubungan : 1. oklusi sentris 2. oklusi protusiv 3. sisi kerja 4. sisi yang mengimbangi d. Overbite dan overjet gigi atas dan bawah dalam hubungan rahang yang normal e. Estetik : 1. bentuk gigi hendaknya sesuai dengan bentuk lengkung rahang, bentuk kepala, bentuk muka, dan jenis kelamin. 2. Besar gigi sesuai dengan besar kecilnya lengkung rahang. 3. Susunan gigi tiruan hendaknya dibuat sewajar mungkin agar bila kelak geligi tiruan dipakai kelihatan wajar. 4. Profil pasien yang menyangkut ketepatan dimensi vertikal dan oklusi sentrik kita tentukan. Dimensi vertikal yang terlalu rendah atau terlalu tinggi akan merubah profil pasien.

A. Penyusunan gigi anterior I. Penyusunan gigi anterior atas, pada permukaan labial setiap gigi yang akan disusun kita tarik porosnya. Tanggul gigitan malam dipotong bertahap supaya tidak kehilangan jejak selebar mesio-distal dan sedalam lebar antero-posterior gigi yang akan

15

disusun ditempat tersebut. Gigi yang disusun harus memenuhi syarat inklinasi mesio-distal dan inklinasi anterio-posteriornya serta dilihat dari bidang oklusal, tepi insisal gigi anterior atas berada diatas lingir rahang dan sesuai lengkung lingir rahang.Untuk memudahkan penyusunan gigi gambaran lengkung puncak lingir rahang kita pindahkan ke meja artikulator dan incisal edge gigi anterior atas menyentuh lengkung ini pada meja artikulator saat penyusunan gigi. 1. Gigi I-1 atas Tanggul gigitan malam dipotong secukup gigi I-1 atas,lalu gigi I-1 atas yang telah digambar porosnya digambar diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal. 2. Gigi I-2 atas Tanggul gigitan malam dipotong secukup gigi I-2 atas, lalu gigi I-2 atas yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan

memperhatikan inklinasi mesio-distal, long axisnya membuat sudut 80 derajat dengan bidang oklusal dan tepi oklusalnya 1 mm diatas bidang oklusal. 3. Gigi C/ kaninus atas Tanggul gigitan malam dipotong secukup gigi C atas lalu gigi C yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal : long axisnya hampir sama dengan gigi I-1 atas atau paling condong garis luar distal tegak lurus bidang oklusi atau meja artikulator dan inklinasi antero posterior : bagian servikal tampak lebih menonjol dan ujung cusp lebih kepalatal dan menyentuh bidang orientasi dilihat dari bidang oklusal.Kemudian gigi I-1, I-2 dan C atas lainnya disusun seperti syarat-syarat diatas. II. Penyusunan gigi anterior bawah pada permukaan labial gigi yang akan disusun kita tarik porosnya. Penyusunan gigi anterior bawah disesuaikan dengan gigi anterior atas yang telah disusun memenuhi estetik dan diutamakan untuk fungsi memotong atau menyobek makanan.Posisi gigi anterior atas dan bawah harus diberi

16

jarak

vertikal/

overbite

dan

jarak

horizontal/overjet

secukupnya

menyesuaikan dengan tinggi bonjol/cusp gigi posterior. Saat gigi anterior berfungsi, gigi anterior bawah maju berkontak tepi lawan tepi dengan gigi anterior atas untuk mengimbanginya kecuali kasus lain. Jalan yang ditempuh gigi anterior bawah akan membentuk sudut dengan bidang horisontal yang disebut sudut insisal atau incisal guidance. 1. Gigi I-1 bawah Tanggul gigitan malam bawah dipotong secukup gigi I-1 bawah lalu gigi I-1 bawah yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal long axisnya membuat sudut 85 derajat dengan bidang oklusal dan tepi insisal 1-2 mm diatas bidang oklusal, inklinasi antero-posterior. 2. Gigi I-2 bawah Tanggul gigitan malam bawah dipotong secukup gigi I-2 bawah lalu gigi I-2 bawah yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio distal, long axisnya membuat sudut 80 derajat dengan bidang oklusal inklinasi antero posterior,long axisnya tegak lurus bidang oklusal, bagian tepi insisal dan bagian servikal sama jaraknya, tepi insisal 1-2 mm diatas bidang oklusal, serta dilihat dari bidang oklusal tepi insisal terletak diatas lingir rahang. 3. Gigi C/kaninus bawah Tanggul gigitan malam bawah dipotong secukup gigi C / kaninus bawah lalu C bawah yang telah digambar porosnya diletakkan ditempatnya dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal : long axisnya miring/ paling condong garis luar distalnya tegak lurus bidang oklusal, inklinasi anteroposterior. Gigi condong kelingual/bagian servikal menonjol serta dilihat dari bidang oklusal ujung cusp terletak diatas lingir rahang, bagian kontak distal berhimpit dengan garis lingir posterior. Saat setiap penyusunan gigi bawah, selalu kita periksa artikulasi keanterior dan lateral dengan menggerakan bagian atas artikulator kearah

17

posterior dan kelateral dimana dapat terlihat tepi tepi insisal saling menyentuh. B. Penyusunan gigi posterior Sebelum menyusun gigi posterior terlebih dahulu kita membuat goresan garis lingir bagian oklusal galangan malam yang sejajar garis lingir pada dasar model. Penyusunan gigi posterior berdasarkan : a. Menyusun diatas rahang sehingga terbentuk lengkung gigi b. Membentuk lengkung/kurva kompensasi c. Hubungan gigi-gigi dirahang :inklinasi, overbite, overjet. III. Penyusunan gigi posterior atas harus disusun sedemikian rupa sehingga terbentuk lengkung/ kurva dari sppe dan kurva dari wilson dan agar tetap berada dalam hubungan yang tepat dengan gigi lawannyatidak saja saat oklusi sentris tetapi juga saat pergerakan protusif dan pergerakan lateral dari rahang bawah selama fungsi pengunyahan. 1. Gigi P-1 atas Tanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi P-1 atas lalu gigi P-1 atas yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal : long axisnya tegak lurus bidang oklusi, inklinasi antero-posterior. Cusp bukal pada bidang oklusi dan cusp palatal kira-kira 1mm diatas bidang oklusi serta dilihat dari bidang oklusi serta dilihat dari bidang oklusal groove developmental sentral terletak diatas lingir rahang. 2.Gigi P-2 atas Tanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi P-2 atas lalu gigi P-2 atas yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal: porosnya tegak lurus bidang oklusal, inklinasi antero-posterior. Cusp bukal dan cusp palatal terletak pada bidang oklusal serta dilihat dari bidang oklusal development groove sentralnya terletak diatas lingir rahang. 3. Gigi M-1 atas

18

Tanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi M-1 atas lalu gigi M-1 atas yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal: porosnya condong kedistal, inklinasi antero-posterior, cusp-cuspnya terletak pada bidang oblique dari kurva antero-posterior yaitu cusp mesio-palatal terletak pada bidang oklusi, cusp mesio-bukal dan disto-palatal sama tinggi kira-kira 1mm diatas bidang oklusi dan cusp disto-bukal kira-kira 2 mm daiatas bidang oklusi serta dilihat dari bidang oklusal cusp-cuspnya terletak pada kurva lateral. 4. Gigi M-2 atas Sisa tanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi M-2 atas lalu gigi M-2 atas yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal: porosnya condong kedistal, inklinasi antero-posterior, cusp-cuspnya terletak pada bidang oblique dari kurva antero-posterior, serta dilihat dari bidang oklusal permukaan bukal gigi M-2 atas terletak pada kurva lateral. IV. Penyusunan gigi posterior bawah disusun sedemikan rupa sehingga terbentuk lengkung sphere dari Monson agar tetap berada dan berhubungan yang tepat terhadap gigi geligi lawannya, tidak saja saat oklusi sentris tetapi juga saat semua gerakan dari rahang bawah selama pengunyahan. 1. Gigi M-1 bawah Tanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi M-1 bawah lalu gigi M-1 bawah diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal: cusp mesio-bukal gigi M-1 atas berada digroove mesio-bukal gigi M-1 bawah. Inklinasi antero-posterior ; cusp bukal gigi M-1 (holding cusp) bawah berada difosa sentral gigi geraham atas dan terlihat adanya overbite dan overjet serta dilihat dari bidang oklusal cusp bukal gigi geraham bawah berada diatas lingir rahang. 2. Gigi P-2 bawah

19

Tanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi P-2 bawah lalu gigi P-2 bawah yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal: porosnya tegak lurus bidang oklusal, inklinasi antero-posteriornya ; cusp bukalnya berada pada di fosa sentral gigi P-1 dan P-2 atas terlihat adanya overjet dan overbite serta dilihat dari bidang oklusal: cusp bukalnya berada diatas lingir rahang. 3. Gigi M-2 bawah Sisa tanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi M-2 bawah lalu gigi M-2 bawah yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal, inklinasi antero-

posteriornya serta dilihat dari bidang oklusal: cusp bukalnya berada diatas lingir rahang. 4. Gigi P-1 bawah Sisa tanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi P-1 bawah lalu gigi P-1 bawah yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal: porosnya tegak lurus bidang oklusal, inklinasi antero-posteriornya ; cusp bukalnya berada pada di fosa sentral gigi P-1 dan C atas serta dilihat dari bidang oklusal: cusp bukalnya berada diatas lingir rahang 6. Wax countouring Gigi Tiruan 3.5 Faktor yang Mempengaruhi Retensi dan Stabilisasi Retensi adalah daya tahan gigi tiruan terhadap gaya yang menyebabkan pergerakan kea rah berlawanan dengan arah pemasangannya. Retensi merupakan kemampuan gigi tiruan untuk tahan terhadap gaya gravitasi, sifat adhesi makanan, dan gaya-gaya yang berhubungan dengan pembukaan rahang, sehingga akan menghasilkan gigi tiruan tetap pada posisinya di dalam rongga mulut. Stabilisasi adalah kemampuan gigi tiruan untuk tetap stabil atau tetap pada posisinya saat digunakan. Stabilisasi mengacu pada suatu tahanan untuk melawan pergerakan horizontal dan tekanan yang cenderung akan mengubah kedudukan basis gigi tiruan dan pondasi pendukungnya pada arah horizontal atau rotasi.

20

Faktor retensi dan stabilisasi adalah faktor yang penting dalamkeberhasilan GTL. 3.5.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi GTL, terutama

GTLrahang atas: 1. Faktor fisis: a. Peripherial seal, efektifitas peripherial seal sangat mempengaruhi efekretensi dari tekanan atmosfer. Posisi terbaik peripherial seal adalahdisekeliling tepi gigi tiruan yaitu pada permukaan bukal gigi tiruan atas,pada permukaan bukal dan lingual gigi tiruan bawah. b. Postdam, diletakkan tepat disebelah anterior garis getar dari palatum molle dekat fovea palatine. 2. Adaptasi yang baik antara gigi tiruan dengan mukosa mulut. Ketepatan kontakantara basis gigi tiruan dengan mukosa dan mulut, tergantung dari yang bersama-sama

efektivitas gaya-gaya fisik dari adhesi dikenal sebagai adhesiselektif.

kohesi,

3. Perluasan basis gigi tiruan yang menempel pada mukosa (fitting surface).Retensi gigi tiruan berbanding langsung dengan luas daerah yang

ditutupi olehbasis gigi tiruan. 4. Residual Ridge, karena disini tidak ada lagi gigi yang dapat dipakai terutama pada rahang atas.

sebagaipegangan

5. Faktor kompresibilitas jaringan lunak dan tulang dibawahnya untuk: a. Menghindari rasa sakit dan terlepasnya gigi tiruan saat berfungsi. b. Ketebalan GTL Ketebalan GTL RA dan RB tidak sama, yaitu protesa RB lebih tebal dibanding protesa RA. Untuk menjaga stabilisasi yang baik harus memperhatikan: a. polishing surface b. occlusal surface c.penyesuaian gigi-gigi tiruan

21

d. artikulasi e.dimensi vertikal, apabila dimensi vertikal kurang maka gigi geligi tidaktampak dan bila terlalu tinggi maka gigi geligi terlihat panjang dan tidakbaik. Retensi gigi tiruan lengkap lepasan didapat dari tiga hal, yaitu: c. ketepatan kontak antara basis gigi tiruan dan mukosa mulut. Kontak yang baik antara basis gigi tiruan dengan mukosa mulut sesuai anatomi rongga mulut akan membuat retensi yang baik. d. perluasan basis gigi tiruan. Basis gigi tiruan ini akan menutupi tepi ridge baik pada bagian fasial maupun palatal/lingual serta puncak ridge. Jika bentuk palatum pasien kurang menguntungkan (bentuk tapeted), maka kontak basis pada bagian ridge ini harus dibuat semaksimal mungkin untuk mendapat retensi yang baik. e. pengap periferi (peripheral seal). Retensi yang baik akan didapat jika terdapat celah yang kecil antara basis dengan mukosa. Dengan demikian, tekanan yang menahan basis ini akan semakin kuat sehingga retensi dari gigi tiruan akan baik. Macam retensi pada gigi tiruan : 1. Gigi tiruan dukungan gigi (tooth borne partial denture atau tooth supported partial denture): gigi tiruan yang memperoleh retensi dari gigigigi didekatnya. Biasanya dijumpai pada gigi tiruan sebagian lepasan. 2. Gigi tiruan dukungan jaringan (tissue borne partial denture atau tissue supported partial denture) : semua dukungan berasal dari jaringan di bawahnya . Biasanya terjadi pada gigi tiruan lengkap. 3. Gigi tiruan dukungan kombinasi (tooth tissue borne partial denture) : retensi diperoleh dari kombinasi antara jaringan dibawahnya dan gigi didekatnya.

22

3.5.2 Faktor yang Mempengaruhi Stabilisasi 1. Ukuran dan bentuk basal seat 2. Kualitas cetakan akhir 3. Kontur permukaan yang halus 4. Susunan gigi tiruan yang baik dan tepat

23

BAB IV KESIMPULAN

1. Tujuan pembuatan gigi tiruan meliputi pemenuhan fungsi estetis, bicara, kunyah, pelestarian lingkungan rongga mulut dan mencegah migrasi gigi. 2. Indikasi pembuatan gigi tiruan meliputi individu yang giginya telah tanggal atau dicabut, individu yang masih punya beberapa gigi yang harus dicabut karena kerusakan gigi yang masih ada dan tidak mungkin diperbaiki, bila dibuatkan GTS gigi yang masih ada akan mengganggu keberhasilannya, keadaan umum dan kondisi mulut pasien sehat dan ada persetujuan mengenai waktu, biaya dan prognosa yang akan diperoleh. Sedangkan kontra indikasinya meliputi adanya kelainan sistemik yang menjadi hambatan, oral hygiene pasien tidak mendukung dan pasien menolak dibuatkannya gigi tiruan. 3. Bahan untuk gigi tiruan dibagi menjadi 2, yang pertama bahan untuk kerangka gigi tiruan meliputi acrilick, valplast dan metal frame. Sedangkan yang kedua ialah bahan untuk pembuatan gigi tiruannya meliputi acrilik, porcelain, logam dan porcelain fused to metal 4. Prosedur pembuatan gigi tiruan melewati tahapmembuat model rahang, desain gigi tiruan, penentuan dimensi vertikal dan oklusi sentris, memilih gigi, penyusunan gigi danwax countouring gigi tiruan 5. Faktor yang mempengaruhi stabilisasi meliputi faktor fisis (peripheral seal), adaptasi yang baik antara gigi tiruan dengan mukosa mulut, perluasan basis gigi tiruan yang menempel pada mukosa (fitting surface), Residual Ridgedan faktor kompresibilitas jaringan lunak dan tulang dibawahnya. Sedangkan yang mempengaruhi stabilitas gigi tiruan meliputi ukuran dan bentuk basal seat, kualitas cetakan akhir, kontur permukaan yang halus dan susunan gigi tiruan yang baik dan tepat

24

DAFTAR PUSTAKA

Itjingningsih. 1991. Geligi Tiruan Lengkap Lepas. Jakarta: EGC Basker, dkk. 1996. Perawatan Prostodontik Bagi Pasien Tak Bergigi. Jakarta: EGC Aryanto, A.G. drg, dkk. 1995. Ilmu Geligi Tiruan Sebagian Lepasan. Jakarta : Hipokrates http://www.digilib.ui.ac.id/file?file=digital/127519-R17-PRO-184Ketinggian%20perlekatan-Literatur.pdf

25