Anda di halaman 1dari 125

Aslimeri, dkk.

TEKNIK
TRANSMISI
TENAGA LISTRIK
JILID 3

SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan


Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang

TEKNIK
TRANSMISI
TENAGA
LISTRIK
JILID 3
Untuk SMK
Penulis : Aslimeri
Ganefri
Zaedel Hamdi

Perancang Kulit : TIM

Ukuran Buku : 18,2 x 25,7 cm

ASL ASLIMERI
t Teknik Transmisi Tenaga Listrik Jilid 3 untuk SMK /oleh
Aslimeri, Ganefri, Zaenal Hamdi ---- Jakarta : Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan
Nasional, 2008.
ix, 121 hlm
Daftar Pustaka : Lampiran. A
ISBN : 978-979-060-159-8
ISBN : 978-979-060-161-1

Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
KATA SAMBUTAN

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia
Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan
penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk
disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK.

Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang
memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran
melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008.

Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh


penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para
pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia.

Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen
Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan,
dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk
penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi
ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft
copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya
sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah
Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar
ini.

Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya,


kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat
memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini
masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat
kami harapkan.

Jakarta,
Direktur Pembinaan SMK
Kata Pengantar
Akhir-akhir ini sudah banyak usaha penulisan dan pengadaan buku-
buku teknik dalam Bahasa Indonesia. Namun untuk Teknik Elektro, hal ini
masih saja dirasakan keterbatasan-keterbatasan terutama dalam
mengungkapkan topik atau materi yang betul-betul sesuai dengan
kompetensi dalam bidang Transmisi Tenaga Listrik untuk Sekolah
Menengah Kejuruan. Hal inilah yang mendorong penulis untuk menyusun
buku ini agar dapat membantu siapa saja yang berminat untuk
memperdalam ilmu tentang Transmisi Tenaga Listrik.

Dalam buku ini dibahas tentang : pemeliharaan sistim DC, pengukuran


listrik, tranformator, gandu induk ,saluran udara tegangan tinggi, kontruksi
kabel tenaga dan pemeliharaan kabel tenaga .

Penulis menyadari masih banyak kekurangan- kekurangan baik


dalam materi maupun sistematika penulisan, untuk itu saran-saran dan kritik
yang membangun guna memperbaiki buku ini akan diterima dengan senang
hati.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak-banyak terima


kasih kepada Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat
Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depertemen
Pendidikan Nasional yang telah memberikan kesempatan kepada penulis
untuk menulis buku ini dan Drs.Sudaryono, MT yang telah bersedia menjadi
editor buku ini. Juga penulis megucapkan terima kasih kepada Maneger
PLN (persero) Udiklat Bogor yang telah banyak membatu penulis dalam
menyediakan bahan untuk penulisan buku ini .

Harapan penulis semoga buku ini ada mamfaatnya untuk


meningkatkan kecerdasan bangsa terutama dalam bidang teknik elektro .

Penulis

i
Daftar Isi

Kata Pengantar …………….................................................... i


Daftar isi ……………………….......................... ii
Diagram Pencapaian Kompetensi ............................................... ix

JILID 1
BAB. I. PEMELIHARAAN DC POWER .................................. 1
1.1. Hukum Ohm ………....................... 1
1.2. Hukum Kirchoff ......… ........................ 3
1.3. Daya Dalam Rangkaian DC ………………............. 6
1.3.1. Prinsip Dasar Rangkaian DC …............................... 7
1.3.2. Hubungan Antara Arus Tegangan dan Tahanan ............. 8
1.4. Komponen Semikonduktor ……………….................. 15
1.5. Sistem DC Power ………………...................................... 20
1.6. Charger (Rectifier) …………………………………….. 25
1.6.1. Jenis Charger …....................................................... 25
1.6.2. Prinsip Kerja Charger ........................................... 26
1.6.3. Bagian-Bagian Charger ............................... 27
1.7. Automatic Voltaga Regulator ………………........................ 29
1.7.1. Komponen Pengantar Seting Tegangan ....................... 30
1.7.2. Komponen Pengantar Seting Floating ....................... 31
1.7.3. Komponen Pengantar Seting Equalizing ....................... 31
1.7.4. Komponen Pengantar Seting Arus ....................... 31
1.8. Rangkaian voltage Dropper ………………............................ 33
1.9. Rangkaian Proteksi Tegangan Surja Hubung....................... 34
1.10. Pengertian beterai ..................................................... 37
1.10.1. Prinsip kerja baterai ............................................... 37
1.10.2. Prinsip kerja baterai asam-timah ................................. 38
1.10.3. Poses pengisian baterai ....................... ………............. 38
1.10.4. Prinsip kerja baterai alkali.................................................... 39
1.11. Jenis-jenis Baterai ………………................... ... 39
1.12. Bagian-bagian Utama Baterai ………………......................... 46
1.13. Instalasi Sel Baterai ………………...................................... 48
1.14. Pentilasi Ruang Baterai ……………….......................... 52
1.15. Pengertian pemeliharaan DC power ................................... 54
1.15.1. Tujuan Pemeliharaan ............................................... 54
1.15.2. Jenis Pemeliharaan ............................................... 54
1.15.3. Pelaksanaan Pemeliharaan ....................... ………. 55
1.15.4. Kegiatan Pemeliharaan ....................... 56
1.15.5. Pemeliharaan Charger ……………….................................. 58
1.15.6 Pengukuran Arus Output Maksimum .................................... 61
1.16 Jadwal dan Chek list Pemeliharaan Charger ........................ 63
1.16.1. Pemeliharaan Baterai ............................................... 63
1.16.2. Cara pelaksanaan pengukuran tegangan ....................... 64
1.16.3. Pengukuran Berat Jenis Elektrolit ………......................... 65

ii
1.16.4. Pengukuran Suhu Elektrolit ................................... 68
1.16.5. Jadwal pemeliharaan periodik baterai ....................... 70
1.17. Pengujian dan shooting pada DC Power................................. 73
1.17.1. Pengujian Indikator Charger ..................................... 73
1.17.2. Pengujian Kapasitas Baterai ............................................... 75
1.17.3. Pengujian kadar Potassium Carbonate ( KZC03 ) ............. 81
1.18. Trouble shooting ................................... 90
1.18.1. Kinerja Baterai ……………….................................. 91
1.19. Keselamatan kerja ……………….................................... 95

BAB. II. PENGKURAN LISTRIK ……………….............. 97


2.1. Pengertian Pengukuran ………………........................... 97
2.2. Besaran Satuan dan dimensi ……………….......................... 98
2.3. Karaktaristik dan Klasifikasi Alat Ukur ………...................... 101
2.4. Frekuensi Meter ………………....................................... 109
2.5. Kwh Meter ……….............. .................................................... 111
2.6. Megger ……………………............................... 111
2.7. Fase Squensi ………………............................................ 112
2.8. Pengukuran Besaran Listrik …………................................. 114
2.9. Prinsip kerja Kumparan Putar ……………….......................... 116
2.10. Sistem Induksi ………………................................................ 117
2.11. Sistem Elektro Dinamis …........................................... 118
2.12. Sistem Kawat Panas ................................................ 120
2.13. Alat Ukur Elektronik …................................................... 120
2.14. Alat Ukur dengan Menggunakan Transformator …........ 121
2.15. Macam-macam alat ukur untuk keperluan pemeliharaan........ 123
2.15.1.Meter Tahanan Isolasi ........................................................... 123
2.15.2.Meter Tahanan Pentanahan .................................... 123
2.15.3.Tester Tegangan tinggi .................................... 125
2.15.4.Tester Tegangan tembus .................................... 127

BAB. III. TRANSFORMATOR …………………...................... 128


3.1. Prinsip induksi ………………..................................... 128
3.2. Kumparan Transformator ………………......................... 130
3.3. Minyak Transformator ………………..................................... 131
3.4. Bushing ………………............................................................ 132
3.5. Tangki Konservator .......................................................... 132
3.6. Peralatan Bantu Pendingin Transformator …………........ 133
3.7. Tap Changer …………….................................................... 135
3.8. Alat Pernapasan Transformator …………................. .............. 135
3.9. Alat Indikator Transformator ………………......................... 137
3.10.Peralatan Proteksi Internal ............................................... 137
3.11.Peralatan Tambahan Untuk Pengaman Transformator ........... 142
3.12.Rele Proteksi Transformator dan Fungsinya ....................... 144
3.13.Announciator Sistem Instalasi Tegangan Tinggi ............... 150
3.13.Parameter/Pengukuran Transformator ................................... 153

iii
JILID 2

BAB IV. SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI ……………...... 159


4.1. Saluran Udara ………........................................................... 160
4.2. Saluran Kabel ……………............................ ........................ 160
4.3. Perlengkapan SUTT/SUTETI .................................... 161
4.3.1.Tower .................................................................................... 161
4.3.2.Bagian-bagian tower ......................................................... 165
4.4. Kondukror .........……………................................. 170
4.5. Kawat Tanah .........…...................... ......................... 172
4.5.1.Bahan Kawat Tanah ................................................ 173
4.5.2.Jumlah dan Posisi Kawat Tanah ........................................ 173
4.5.3.Pentanahan Tower ............................................................ 173
4.6. Isolator ………………………................................................... 174
4.6.1.Isolator Piring ............................................................ 174
4.6.2.Nilai Isolator ....................................................................... 178
4.6.3.Jenis Isolator ...................................................................... 178
4.6.4.Speksifikasi isolator. ........................................................... 180

BAB V. GARDU INDUK ................................................. 184


5.1. Busbar …………………................................................ 184
5.1.1. Jenis Isolasi Busbar ……….................................................. 184
5.1.2. Sistem Busbar (Rel) .................................................. 184
5.1.3. Gardu Induk dengan single busbar ..................................... 185
5.1.4. Gardu Induk dengan Doble busbar ..................................... 186
5.1.5. Gardu Induk dengan satu setengah / one half busbar ............ 186
5.2. Arrester …………………............................................................ 187
5.3. Transformator Instrumen ………....................................... 188
5.3.1. Transformator Tegangan ………....................................... 188
5.3.2. Transformator Arus ………....................................... 190
5.3.3. Transformator Bantu ………....................................... 191
5.3.4 Indikator Unjuk kerja Transformator Ukur ………................ 192
5.4. Pemisah (PMS) ………................................................... 194
5.4.1. Pemisah Engsel ……….................................................. 195
5.4.2. Pemisah Putar .............................................................. 195
5.4.3. Pemisah Siku .............................................................. 195
5.4.4. Pemisah Luncur ……….................................................. 196
5.5. Pemutus tenaga listrik (PMT) ...................................... 199
5.5.1. Jenis Isolasi Pemutus Tenaga ............................................ 199
5.5.2, PMT dengan Media pemutus menggunakan udara …………. 201
5.5.3. PMT dengan Hampa Udara ................................................. 204
5.5.4. PMT dengan Media pemutus menggunakan Minyak.......... 206
5.5.5. PMT dengan Sedikit Minyak ..................................... 207
5.6. Jenis Penggerak Pemutus Tenaga .................................... 209
5.6.1. Mekanik Jenis Spering ………........................................... 209
5.6.2. Mekanik Jenis Hidrolik ……….................................................. 212

iv
5.6.3. Penutupan PMT .................................................................. 216
5.6.4. Pembukaan PMT ................................................................. 216
5.7. Kompesator ........................................................................ 220
5.7.1. Kompensator shunt ................................................. 221
5.7.2. Kompensator reaktor shunt .................................... 222
5.8. Peralatan SCADA dan Telekomunikasi................................. 223
5.8.1. Prinsip Dasar PLC ................................................ 223
5.8.2. Peralatan Kopling ................................................ 224
5.8.3. Kapasitor Kopling ................................................ 225
5.8.4. Wave trap .................................. ......................... 226
5.8.5. Prinsip Kerja Dasar Wave trap .................................... 227
5.8.6. Line Matching Unit ............................................................ 230
5.9 . Peralatan Pengaman ............................................................ 231
5.9.1. Lightning Arester ................................................. 232
5.10. Aplikasi PLC ............................................................. 233
5.10.1. Komunikasi Suara ................................................. 233
5.10.2. Penggunaan Kanal Suara ..................................... 234
5.10.3. Teleproteksi Protection Signalling ............................... 234
5.10.4. Ramute Terminal Unit (RTU) Tipe EPC 3200........................ 235
5.11. Simbul-simbul yang ada pada Gardu Induk ..................... ... 236
5.12. Rele Proteksi dan Annunsiator .................................... 238

BAB VI. SISTEM PENTANAHAN TITIK NETRAL ............ 246


6.1. Sistem Pentanahan Titik Netral ................................... 246
6.2. Tujuan Pentanahan Titik Netral .................................... 247
6.2.1. Sistem Yang tidak Ditanahkan ….................................. 247
6.2.2. Metode Pentanahan titik Netral ..................................... 247
6.3. Pentanahan Titik Netral Tampa Impedansi .......................... 247
6.4. Pentanahan Titik Netral Melalui Tahanan ………............... 248
6.5. Pentanahan Titik Netral Melalui Kumparan Peterson .............. 251
6.6. Tranformator Pentanahan ………........................... 252
6.7. Penerapan Sistem Pentanahan di Indonesia .............. 253
6.8. Pentanahan Peralatan ............................................... 254
6.9. Exposur tegangan ................................................ 256
6.10. Pengaruh Busur Tegangan Terhadap Tenaga Listrik.......... 258
6.10.1.Pengaruh tahanan Pentanahan Terhadap Sistem ............... 258
6.10.2.Macam-macam Elektroda Pentanahan .............. .......... 258
6.11. Metode Cara Pentanahan ................................................. 260
6.11.1.Pentanahan dengan Driven Ground. .......................... 260
6.11.2.Pentanahan Dengan Mesh atau Jala .............. .................. 261
6.12. Tahanan Jenis Tanah ............................................................. 262
6.13. Pengkuran Tahanan Pentanahan .................................... 263

BAB VII. KONTRUKSI KABEL TENAGA ........................ 265


7.1. Kabel Minyak .......................................................................... 265
7.1.1. Bagian-bagian Kabel Minyak …................................... 265

v
7.1.2. Konduktor ................................................. 265
7.1.3. Isolasi Kabel ........................................................................ 266
7.1.4. Data Kimia ........................................................................ 267
7.2. Karakteristik Minyak ............................................................. 268
7.3. Macam-macam Minyak Kabel ................................................. 270
7.4. Tangki Minyak ............................................................. 272
7.5. Perhitungan Sistem Hidrolik ..................................... 278
7.6. Keselamatan Kerja ….............................................. 280
7.7. Crossbonding dan Pentanahan .......................... 290
7.8. Cara Kontruksi Solid bonding …................................. 292
7.9. Tranposisi dan sambung Silang …................................ 294
7.10. Alat Pengukur Tekakan …................... .............. 299
7.11. Tekanan Pada Kabel Minyak ….................................. 300
7.12. Kabel Tenaga XLPE ….............................................. 303
7.13. Kontruksi Kabel Laut ….............................................. 307

JILID 3
BAB VIII. PEMELIHARAAN KABEL TEGANGAN TINGGI ......... 310
8.1. Manajemen Pemeliharaan ................................................. 310
8.1.1. Manajemen Pemeliharaan Peralatan .................................. 310
8.1.2. Perencanaan ................................................ 311
8.1.3. Pengorganisasian ........................................................... 312
8.1.4. Penggerakan ........................................................................ 313
8.1.5. Pengendalian ........................................................................ 314
8.2. Pengertian dan tujuan Pemeliharan .................................... 314
8.3. Jenis-jenis Pemeliharaan ............................................... 315
8.4. Pemeliharaan Yang Dilakukan Terhadap Kabel Laut
Tegangan Tinggi ................................................................ 318
8.5. Prosedur Pemeliharaan ................................................ 321
8.6. Dekumen Prosedur Pelaksanan Pekerjaan .......................... 330
8.7. Pemilihan Instalasi Kabel Tanah Jenis Oil Fillied .............. 332
8.8. Spare Kabel ........................................................................ 335
8.9. Termination ....................................................................... 335
8.10. Tank Chanber Umum ............................................................. 337
8.11. Anti Crossbonding Coverting ..................................... 338
7.12. Cara mengukur Tekanan Minyak Dengan Manometer......... 342
8.13. Penggelaran Kabel ................................................ 348
8.14. Regangan maksimum yang diizinkan pada Kabel ............. 349
8.15. Perhitungan Daya tarik Horizontal ........................ 350
8.16. Peralatan Pergelaran kabel .................................... 353
8.17. Jadwal Pemeliharaan ................................................ 353
8.18. Kebocoran minyak Kabel Tenaga ......................... 354
8.19. Gangguan kabel pada lapisan pelindung P.E. oversheath..... 360
8.19.1.Methoda mencari lokasi gangguan pada lapisan pelindung
kabel....................................................................................... 360
8.19.2.Methoda Murray ............................................................. 360

vi
8.20. Memperbaiki Kerusakan Kabel ......................... 366
8.20.1.Memperbaiki kerusakan lead sheath kabel .......................... 366
8.20.2.Mengganti Kabel yang rusak ...................................... 367
8.21. Auxiliary Cable. .................................................................... 370

BAB . IX. PROTEKSI SISTEM PENYALURAN ........................ 372


9.1. Perangkat Sistem Proteksi .................................... 373
9.1.1. Elemen Pengindra .............................. .............. 373
9.1.2 Elemen Pembanding ............................................... 373
9.1.3 Elemen Pengukur ............................................................ 373
9.2. Fungsi dan Peralatan Rele Proteksi ..................................... 374
9.2.1. Sensitif. .............................. ................................ 374
9.2.2. Selektif .......................................................... 374
9.2.3. Cepat .................................................................................... 374
9.2.4. Handal .................................................................................... 375
9.2.5. Ekonomis ..................................................................... ... 375
9.2.6. Sederhana ........................................................................ 375
9.3. Penyebab Terjadinya Kegagalan Proteksi ......................... 375
9.4. Gangguan pada sistem Penyaluran ..................................... 376
9.4.1. Gangguan Sistem ......................... .................... 376
9.4.2 Gangguan Non Sistem .................................... 376
9.5. Proteksi Pengantar ............................................................. 376
9.6. Sistem Proteksi SUTET ................................................. 378
9.7. Media Telekomunikasi ................................................. 379
9.8. Relai Jarak ........................................................................ 379
9.8.1. Prinsip Kerja Relai Jarak ............................. ................ 379
9.8.2. Pengukuran Impedansi Gangguan Oleh Relai Jarak ............ 381
9.8.3 Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa ......................... 381
9.8.4 Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ......................... 381
9.8.5 Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa Ke Tanah.................. 382
9.9. Karakteristik Rele Jarak ................................................. 383
9.9.1. Karakteristik Impedansi ............................. .................. 383
9.9.2. Karakteristik Mho ............................................................ 383
9.9.3 Karakteristik Reaktance ................................................. 384
9.9.4 Karakteristik Quadrilateral .................................... 385
9.10. Pola Proteksi ........................................................... 386
9.10.1. Pola Dasar ........................................................... 386
9.10.2. Pola PUTT ........................................................... 386
9.10.3. Pola Permissive Underreach Transfer Trip ......................... 387
9.10.4. Pola Blocking ....................................................................... 387
9.11. Current Differential Relay ................................................ 390
9.12. Proteksi Transformator Tenaga ..................................... 397
9.13. Rele Arus Lebih ................................................ 400
9.14. Proteksi Penyulang 20 KV ............................................... 401
9.15. Disturbance Fault ............................................................ 402
9.16. Basic Operation ................................................ 404
vii
9.17. Auto Recloser ............................................................ 405
BAB . X. PEMELIHARAAN SUTT/SUTETI BEBAS TEGANGAN.. 410
10.1. Tujuan Pemeliharaan ........................................................... 410
10.2. Jenis-jensi pemeliharaan ............................................. 410
10.2.1. Pemeliharaan Rutin : ........................................................... 410
10.2.2. Pemeriksaan Rutin................................................................ 410
10.2.3. Pemeriksaan Sistematis........................................................ 411
10.2.4. Pemeliharaan Korektif............................................................ 412
10.2.5. Pemeliharaan Darurat........................................................... 412
10.3. Prosedur Pemeliharaan SUTT/SUTET ......................... 413
10.3.1. Peralatan yang dipelihara .................................................... 413
10.3.2. Peralatan Kerja ........................................................... 418
10.3.3. Petunjuk Pemeliharaan Peralatan ................................. .. 420
10.3.4. Pelaporan Pekerjan Pemeliharaan ................................. .. 421

LAMPIRAN :
Daftar Pustaka . ....................................................................... A

viii
DIAGRAM PENCAPAIAN KOMPETENSI
menunjukan tahapan atau tata urutan kompetensi yang diajarkan dan dilatihkan kepada peserta didik dalam kurun
waktu yang dibutuhkan serta kemungkinan multi exit-multi entry yang dapat diterapkan.

TIG.CBH. Asisten
TGM.HRB Asist 5 Teknisi
3 en 8 Konstruks
2 Tekn i&
Teknisi isi TIG.CIS.0 Pemelihar
TGM.HRB Konstr P
1
3 uksi &
8
2
Pemeli TIG.CBH. TIG.CBH.0
TGM.HRB TGM.HRE TMP.HPN. 4 4
3 3 2 4 4
2 4 Tekn 4
isi TIG.CIT.0 TIG.CIT.0
TGM.CIF. TIG.CIP.0 Instal TMP.HPN. 9 9
1 1 asi 2 4 4
TIG.CIF.0 2 2 Listri
4 TIG.CIC.0
3 2 TNP.HPG.
4 TIG.CIF.0
k TMP.PN.0 1 2
3 TIG CIT 0
2 7 1
2 4 4
TIG.CIF.0 TIG.CBH. TIG CIT 0 TIG.CIP.0
1 3 TMP HPN 8 1
5 5 2 TIG CIT 0 Asisten 4 4
4 1 Teknisi
8 TIG CIF 0 Asisten
Konstruks Asist Teknisi
TIG.CIF.0 TIG.CIT.0 i&
2
1 1 en Konstruksi
8 1 Pemelihar Tekn &
4 TIG.CIT.0 isi P lih
TMC.Mmc 1 Kons
2 TGU.HW 4
2 3 t k
2 TIG CIP 0
TSU.HSC. Asiste TGC.HWC
1
3 4
1 n 3
Teknis 8 TIG.CIP.0
TIG.CIS.0 i 1
2 Konstr 4
8
TIG.CIF.0
2
Keterangan 4

: 6
TIG.CIT.0

Nomor Kompetensi dari daftar 4


keseluruhan kompetensi program keahlian = Outlet
teknik transmisi
Nomor Kode
Kompetensi
Jam Pencapaian
Kompetensi

ix
BAB VIII
PEMELIHARAAN KABEL TEGANGAN TINGGI

8.1. Manajemen Pemeliharaan sebagian besar pemeliharaan itu


Pada umumnya lokasi sumber memerlukan pembebasan tegangan
energi primer konvensional tidak yang berarti bahwa peralatan yang
selalu dekat dengan pusat beban dipelihara harus dikeluarkan dari
sehingga pusat pembangkit listrik operasi.
dibangun pada lokasi yang terpisah
jauh dari pusat beban maka Keluarnya beberapa peralatan
penyaluran daya diselenggarakan dari operasi selama pemeliharaan
melalui instalasi penyaluran dapat menyebabkan berkurangnya
(saluran transmisi dan gardu keandalan penyaluran, berkurang-
Induk). Instalasi penyaluran ini nya kemampuan penyaluran
melalui daerah perkotaan atau bahkan padamnya daerah yang
melalui laut. Untuk itu instalasi dipasok oleh peralatan tersebut.
penyaluran didaerah ini terpaksa Permasalahan tersebut juga
menggunakan Kabel Tenaga yang dialami oleh pemeliharaan Kabel
berupa Kabel tanah maupun kabel Tenaga dengan memelihara Kabel
laut. Tenaga menyebabkan pemadaman
Kabel Tenaga tersebut. Untuk
Perkembangan selanjutnya, mempercepat pekerjaan tersebut
beberapa sistem tenaga listrik maka diperlukan managemen
(sebagai contoh : Jawa barat, Jawa pemeliharaan.
Tengah, Jawa Timur dan bali)
8.1.1.Manajemen Pemeliharaan
diinterkoneksikan membentuk satu
Peralatan Penyaluran
grup operasi. Peranan instalasi
penyaluran semakin penting, Suatu sistem tenaga listrik
konfigurasi jaringan semakin mempunyai jumlah dan jenis
kompleks dan peralatan semakin peralatan instalasi penyaluran yang
banyak, baik dari segi jumlah sangat banyak yang dihubungkan
maupun ragamnya. satu dengan lainnya membentuk
Peralatan utama yang suatu sistem penyaluran.
terpasang di gardu induk dan Peralatan dengan jumlah dan
saluran transmisi adalah : jenis yang banyak itu harus
Sebagaimana peralatan pada dipelihara untuk mempertahankan
umumnya, peralatan yang unjuk kerjanya.
dioperasikan dalam instalasi
penyaluran tenaga listrik perlu Sehubungan dengan
dipelihara agar unjuk kerjanya pemeliharaan peralatan sistem
dapat dipertahankan. tenaga listrik pada umumnya
membutuhkan dikeluarkannya
Pemeliharaan peralatan peralatan tersebut dari operasi
penyaluran tenaga listrik diperlukan serta menyangkut jumlah yang
untuk mempertahankan unjuk sangat banyak, maka
kerjanya namun di lain pihak penanganannya perlu didasari
310
pemikiran manajemen yang baik. - Jenis penggunaan listrik yang
Dalam hal ini perlu perencanaan dipasok
(planning), pengorganisasian
(organizing), penggerakan Ada penggunaan listrik sebagai
(actuating) dan pengendalian penggerak suatu proses yang
(controlling) dengan baik. tidak boleh terganggu.
Prosesnya hanya berhenti pada
8.1.2. Perencanaan jadwal yang telah ditentukan
Perencanaan pemeliharaan
peralatan penyaluran tenaga listrik Apabila tidak ada alternatif
meliputi koordinasi antara pasokan daya listrik selama
kebutuhan akan pemeliharaan dan pelaksanaan pemeliharaan,
kondisi (keandalan) sistem. Dalam maka diperlukan kompromi yang
hal ini diupayakan agar kedua dapat diperoleh dari hasil
kebutuhan itu terpenuhi sebaik koordinasi.
mungkin.
- Hal Khusus
Hasil dari perencanaan ini
adalah jadual dan jenis pekerjaan Ada keadaan-keadaan khusus
yang akan dilaksanakan untuk yang menyangkut acara-acara
setiap peralatan antara lain : kenegaraan yang harus
dipertimbangkan dalam
- Setiap Peralatan Memerlukan perencanaan pemeliharaan.
Pemeliha- raan Dalam hal ini diupayakan untuk
menghindari segala sesuatu
- Petunjuk pabrik pembuat
yang kemumingkinan dapat
peralatan pada umumnya
menyebabkan menurunnya
memberikan periode dan jenis
keandalan atau terjadinya
pemeliharaan untuk peralatan
pemadaman, termasuk
tersebut.
pemeliharaan.
- Dalam hal tidak ada petunjuk
Hasil perencanaan pemeliharaan
dari pabrik maka pengalaman
peralatan instalasi penyaluran ini
masa lalu (Statistik kerusakan)
adalah Rencana Pemeliharaan
dapat dipakai sebagai dasar
yang mencakup
perencanaan jadwal dan jenis
pemeliharaan.  Jenis Pemeliharaan
- Kondisi lokal dimana Peralatan  Jadwal Pelaksanaan
Tersebut Terpasang  Keterangan lain berupa perlu/
Perlu dipertimbangkan, apakah tidaknya peralatan
ada alternatif pemasokan dikeluarkan dari operasi.
menghindari pemadaman selama  Efisiensi Pemeliharaan
peralatan yang dipelihara
dikeluarkan dari operasi. Selama ini pedoman dasar
untuk melakukan pemeliharaan
peralatan instalasi listrik adalah SE
311
Direksi No.032/PST/1984 tanggal - Rincian Pekerjaan Yang Harus
23 Mei 1984 tentang Himpunan Dilaksanakan
Buku Petunjuk Operasi dan Rincian ini perlu dibuat untuk
Pemeliharaan Peralatan membantu kelancaran
Penyaluran Tenaga Listrik dimana pelaksanaan sekaligus
yang menjadi dasar utama untuk menghindari kesalahan.
melakukan pemeliharaan adalah Dalam hal ini tingkat rincian yang
rekomendasi pabrik serta diperlukan tergantung kesiapan
instruction manual dari masing- yang akan melaksanakan
masing peralatan instalasi listrik. pekerjaan itu.
Dengan pengurangan siklus - Pembagian Pekerjaan
pemeliharaan ini dapat dipastikan Kegiatan-kegiatan spesifik yang
akan memberikan efisiensi dalam sejenis dikelompokkan dengan
bidang pemeliharaan, antara lain : memperhatikan kesamaan
 Mengurangi biaya pemeliharaan. pelaksanaan.
 Mengurangi kebutuhan man- Diupayakan agar dalam
haurs per peralatan. pelaksanaan pekerjaan, tidak
ada seseroang yang berbeban
 Mengurangi waktu pemadaman.
terlalu berat atau terlalu ringan
 Meningkatkan mutu pelayanan
serta tidak ada yang dibebani
dengan tingkat keandalan dan
pekerjaan diluar kemampuan-
kesiapan peralatan yang lebih
nya.
tinggi.
- Mengalokasikan sumber Daya
 Berikut ini merupakan langkah 'Who does what' disusun agar
efisiensi yang dilakukan berupa seluruh tahapan pekerjaan
perubahan siklus pemeliharaan terlaksana dengan baik atau
peralatan. tidak terjadi saling mengelak
Hal yang sama diberlakukan juga diantara personil untuk
terhadap PMT. melaksanakan suatu pekerjaan.
8.1.3. Pengorganisasian Pengalokasian personil ini harus
mempertimbangkan :
Rencana pemeliharaan sebagai x Kemampuan masing-masing
hasil perencanaan diatas personil
merupakan dasar dalam x Beban kerja yang menjadi
pengaturan orang, alat, tugas, tanggung jawab masing-masing
tanggungjawab dan wewenang personil.
untuk terlaksananya pekerjaan x Urutan tahapan pekerjaan.
pemeliharaan. Peralatan yang diperlukan untuk
Pengorganisasian ini perlu tiap tahapan pekerjaan
dalam mengalokasikan sumber diinventarisir dengan jumlah yang
daya yang ada atas pekerjaan- memadai.
pekerjaan yang diperlukan agar Tidak lengkapnya peralatan,
dapat dimanfaatkan seefisien dan selain mengakibatkan waktu
seefektif mungkin. pelaksanaan lebih panjang juga
mutu pekerjaan yang lebih rencah.
Demikian juga halnya dengan
312
material. Kondisi yang tidak baik
Dasar penyusunan yang utama (pusing, kurang tidur, letih dan lain-
adalah pengalaman dalam lain) dapat membahayakan dirinya
pelaksanaan yang lalu. serta orang lain. Selanjutnya
- Koordinasi Pekerjaan diskusi mengenai apa yang akan
Mekanisme koordinasi harus dikerjakan akan sangat membantu
jelas, mengingat : pelaksanakan pekerjaan.
x Tuntutan waktu pelaksanaan - Persiapan Peralatan
seminimum mungkin Kondisi dan kesiapan
x Menghindari kecelakaan peralatan perlu diperiksa
tegangan listrik sebelum saat pelaksanaan,
x Menghindari gangguan terutama yang menyangkut
Kesalahan koordinasi dapat keselamatan jiwa seperti
berakibat fatal pada instalasi sabuk pengaman, pelindung
bahkan jiwa personil yang tubuh, tangga, alat uji
melaksanakan pekerjaan. tegangan,Gas
cheker,Blower,Baju tahan api
8.1.4. Penggerakan dan lain-lain.
Setelah ada rencana kerja, - Kepemimpinan dan Motivasi
kemudian pengalokasian sumber Dalam rangka pelaksanaan
daya, tibalah saatnya pada pemeliharaan mulai dari
pelaksanaan pekerjaan persiapan sampai akhir
pemeliharaan. Untuk mencapai pekerjaan diperlukan proses
sasaran dengan baik seorang mempengaruhi dan
atasan/pimpinan melakukan proses mengarahkan orang menuju
mempengaruhi kegiatan seseorang ke pencapaian tujuan yaitu
atau suatu kelompok kerja dalam terlaksananya pekerjaan
usaha melaksanakan rencana kerja pemelihara an dengan baik.
yang telah disusun. Ada berbagai gaya
Proses ini disebut kepemimpinan yang secara
penggerakan. Pada tahap ini umum dikenal namun sulit
sumber daya manusia merupakan untuk menyatakan satu gaya
salah satu penentu bagi yang terbaik.
keberhasilan pencapaian sasaran Pemimpin yang efektif
sehingga kepemimpinan, motivasi menyesuaikan tingkah laku
dan komunikasi. kepemimpinannya pada
- Persiapan Personil kebutuhan yang dipimpin dan
Kondisi personil harus dalam lingkungannya. Dalam hal ini
keadaan baik, mental dan perlu diperhatikan tingkat
jasmani. Kesiapan ini harus kedewasaan serta perilaku
dinyatakan saat sebelum manusia yang dipimpin.
memulai pekerjaan dan masing- Ciptakanlah situasi yang
masing personil menyatakan memungkinkan timbulnya
kesiapannya secara tertulis motivasi pada setiap personil
dalam blanko-blanko yang sudah untuk berperilaku sesuai
disiapkan. dengan tujuan. Salah satu
313
faktor penting disini adalah x Kecurangan,
unsur kewibawaan. x Perbedaan pemahaman/
8.1.5. Pengendalian penafsiran atas sesuatu,
x Keengganan merubah sesuatu
Dalam upaya tercapainya yang sudah dianggap mapan
sasaran seperti yang direncanakan, (kebiasaan cara kerja ).
seorang atasan / pimpinan perlu
melakukan pengendalian karena 8.2. Pengertian Dan Tujuan
pada umumnya terjadi perubahan Pemeliharaan
situasi dan lingkungan serta
kesalahan pada saat pelaksanaan. Pemeliharaan peralatan listrik
Melalui pengendalian ini, tegangan tinggi adalah serangkaian
penyimpangan yang terjadi dapat tindakan atau proses kegiatan
dideteksi sedini mungkin sehingga untuk mempertahankan kondisi dan
tindakan koreksi dapat meyakinkan bahwa peralatan dapat
memperbaiki pelaksanaan berfungsi sebagaimana mestinya
Dalam mencapai tujuan sesuai sehingga dapat dicegah terjadinya
dengan yang direncanakan, gangguan yang menyebabkan
diperlukan pengendalian agar kerusakan.
penyimpangan dapat dideteksi Tujuan pemeliharaan peralatan
sedini mungkin. Penyimpangan listrik tegangan tinggi adalah untuk
dalam pelaksanaan dapat saja menjamin kontinyunitas penyaluran
terjadi oleh kemungkinan- tenaga listrik dan menjamin
kemungkinan : keandalan, antara lain :
x Adanya perubahan karena
lingkungan, 1. Untuk meningkatkan
x Terjadinya kesalahan karena reliability, availability dan
informasi kurang jelas, effiency.
x Terjadi kesalahan karena
kemampuan personil yang tidak Faktor yang paling dominan
memadai, dalam pemeliharaan peralatan
x Ditemukan masalah lain diluar listrik tegangan tinggi adalah pada
yang sudah direncanakan. sistem isolasi. Isolasi disini meliputi
Untuk dapat melaksanakan isolasi minyak, udara dan gas atau
pengendalian diperlukan sasaran vacum. Suatu peralatan akan
pengendalian, indikator - indikator sangat mahal bila isolasinya sangat
dan standar yang jelas. bagus, dari isolasi inilah dapat
Pelaksanaan pekerjaan dievaluasi, ditentukan sebagai dasar
hasil yang dicapai dibandingkan pengoperasian peralatan.dengan
terhadap standar dan demikian isolasi merupakan bagian
melaksanakan tindakan koreksi bila yang terpenting dan sangat
diperlukan. Unsur manusia adalah menentukan umur dariperalatan.
hal yang paling utama dalam Untuk itu kita harus memperhatikan
pengendalian yang menyangkut : /memelihara sistem isolasi sebaik
x Kelemahan (kesalahan, mungkin, baik terhadap isolasinya
kemalasan, ketidaktahuan ), maupun penyebab kerusakan
314
isolasi. Pemeriksaan atau monitoring
dapat dilaksanakan oleh operator
Dalam pemeliharaan peralatan
atau petugas patroli setiap hari
listrik tegangan tinggi kita
dengan sistem check list atau
membedakan antara pemeriksaan /
catatan saja. Sedangkan
monitoring (melihat, mencatat,
pemeliharaan harus dilaksanakan
meraba serta mendengar) dalam
oleh regu pemeliharaan.
keadaan operasi dan memelihara
(kalibrasi / pengujian, koreksi /
resetting serta memperbaiki /
membersihkan ) dalam keadaan
padam.
8.3. Jenis jenis Pemeliharan
Jenis jenis Pemeliharan pada kabel adalah sebagai berikut :
1. Pemeliharaan harian
Pemeliharaan harian seperti tabel 8.1
Tabel 8.1.Pemeliharaan harian
Jadwal : HARIAN
: OPERASI
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN

PERALATAN/KOMPONEN YANG
NO. URAIAN PELAKSANAAN
DIPERIKSA

1 2 3
1. Manometer tekanan Minyak Periksa secara visual dan catat
Kabel tekanan minyak pada sealing end
pada manometernya.
2. ROW Periksa secara visual : rambu
(patok-patok), jembatan kabel, tutup
crosbonding dan box culvert serta
kegiatan pembangunan atau
kegiatan diatas/sekitar jalur sktt.
3. Terminasi Kabel head (sealing a Periksa secara visual klem terminasi
end) kabel head dan bagian yang
bertegangan dari benda asing.
b Periksa sistem pentanahan sealing
end (kabel head).

2. Pemeliharan Mingguan.

315
Pemeliharaan berupa monitoring saluran Kabel Tanah Tegangan Tinggi
yang dilakukan oleh petugas patroli setiap Mingguan serta dilaksanakan
dalam keadaan operasi, seperti tabel 8.2.
Tabel 8.2.Pemeliharaan Mingguan

JADWAL : MINGGUAN
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : OPERASI

PERALATAN/KOMPONEN
NO. URAIAN PELAKSANAAN
YANG DIPERIKSA
1 2 3

1. Manometer tekanan Minyak Periksa tekanan minyak pada


Kabel sealing end secara visual pada
manometernya.

2. ROW Periksa secara visual : rambu


(patok-patok), jembatan kabel, tutup
crosbonding dan box culvert serta
kegiatan pembangunan atau
kegiatan diatas/sekitar jalur sktt.

3. Terminasi Kabel head (sealing a Periksa secara visual klem terminasi


end) kabel head dan bagian yang
bertegangan dari benda asing.
b Periksa sistem pentanahan sealing
end (kabel head).
Manometer tekanan Minyak Periksa secara visual dan catat
Kabel tekanan minyak pada manometer di
4
setiap Stop Joint yang dapat
diperiksa.

3. Pemeliharaan Semesteran

316
Pemeliharaan berupa monitoring saluran Kabel Tanah Tegangan Tinggi
yang dilakukan oleh petugas patroli setiap Semester serta dilaksanakan
dalam keadaan operasi. seperti tabel 8.3.

Tabel 8.3. Pemeliharaan Semester


JADWAL : SEMESTER
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : OPERASI

PERALATAN/KOMPONEN
NO. URAIAN PELAKSANAAN
YANG DIPERIKSA
1 2 3
1. Minyak Kabel Periksa secara visual dan catat
tekanan minyak pada Stop Joint dan
Sealing end (kabel head) .
2. Terminasi Sealing End (Kabel a Pengukuran noktah panas pada
head) dan bagian yang klem sealing end (kabel head) dan
bertegangan bagian berteganan dengan infrared
thermovision.
b Pengukuran Partial Discharge pada
Sealing end (kabel head) dengan
alat uji Partial Discharge

4. Pemeliharaan Tahunan

Pemeliharaan yang berupa Pengukuran dan pengujian untuk Kabel Tanah


Tegangan Tinggi dan dilakukan oleh petugas Pemeliharaan setiap tahun dan
dilaksanakan dalam keadaan Padam, seperti tabel 8.4.
Tabel 8.4. Pemeliharaan Tahunan
JADWAL : Tahunan
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : Padam

PERALATAN/KOMPONEN
NO. URAIAN PELAKSANAAN
YANG DIPERIKSA
1 2 3

1. Tahanan Isolasi Kabel Pengukuran tahanan isolasi kabel


dengan Megger dan dengan metoda
polarisasi indeks (PI).
2. Cable Covering Protection Unit Pengukuran arus bocor pada CCPU
(Non Linier Resistor) dan mengukur tahanan isolasinya

317
Pengukuran arus bocor pada lead
3 Lead Sheath. (timah pelindung) sheath dan mengukur tahanan
isolasinya

4. Mano Meter Pengetesan fungsi penunjukan


tekanan minyak dan sistem
pengaman tekanan minyak kabel
(alarm dan tripping).
5. Boks Cross bonding dan Stop Pemeriksaan dan pembersihan
Join serta Oil Tank Chamber terhadap Manometer, Tangki
maupun Oil Tank Sunseal minyak, instalasi pipa minyak,
kandungan Gas berbahaya maupun
kelembaban .
6. Kabel pilot. Pengukuran tahanan isolasi kabel
pilot.
7 Pressure Control Cabinet (Panel Pemberihan kabinet, seal pintu
Box kontrol tekanan) panel, pengukuran tahanan variabel
untuk mengatur tegangan sistem
pengaman (proteksi tekanan
minyak/supervisi).
8.4. Pemeliharaan yang dilakukan terhadap Kabel Laut Tegangan Tinggi
adalah:
1. Pemeliharaan Kabel Laut Harian.
Pemeliharaan berupa monitoring untuk Kabel Laut Tegangan Tinggi yang
dilakukan oleh petugas Patroli dan dilaksanakan secara Harian dalam keadaan
operasi, seperti tabel 8.5.
Tabel 8.5. Pemeliharaan Kabel Laut Harian
JADWAL : HARIAN
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : OPERASI

PERALATAN/KOMPONEN
NO. URAIAN PELAKSANAAN
YANG DIPERIKSA
1 2 3

1. R.O.W Pantau lalu lintas kapal agar tidak


lego jangkar pada daerah koridor
kabel laut
2. Lampu Suar Pantau kedipan lampu rambu suar
apakah masih bekerja baik.
3. Pelampung suar Periksa pelampung suar apakah
masih berada pada tempat yang
ditentukan.

318
2. Pemeliharaan kabel laut mingguan

Pemeliharaan berupa monitoring untuk Kabel Laut Tegangan Tinggi


yang dilakukan oleh petugas Patroli dan dilaksanakan setiap Mingguan dalam
keadaan operasi, seperti tabel 8.6.

Tabel 8.6. Pemeliharaan Kabel Laut mingguan


JADWAL : MINGGUAN
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : OPERASI
PERALATAN/KOMPONEN URAIAN PELAKSANAAN
NO.
YANG DIPERIKSA
1. Terminasi Kabel head dan bagian Periksa terminasi
yang bertegangan kabel head dan
bagian yang
bertegangan dari
benda asing
secara visual.
2. Tegangan Suplay AC/DC untuk Periksa tegangan suplay AC
alat bantu. maupun DC untuk alat bantu
apakah masih normal.
3. Tekanan minyak Periksa tekanan minak kabel
4. Terminasi. Periksa terminasi kabel apakah
masih baik secara visual.

319
3. Pemeliharaan kabel laut Semester

Pemeliharaan yang berupa monitoring untuk Kabel Tanah Tegangan


Tinggi dan dilakukan oleh petugas Patroli setiap Semester dan dilaksanakan
dalam keadaan operasi, seperti tabel 8.7.

Tabel 8.7. Pemeliharaan Kabel Laut Semester


JADWAL : Semester
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : OPERASI

PERALATAN/KOMPONEN
NO. URAIAN PELAKSANAAN
YANG DIPERIKSA
1 2 3

1. Terminasi Kabel head dan Pengukuran noktah panas pada


bagian yang bertegangan kabel head dan bagian berteganan
dengan infrared thermovision.

2. Terminasi Kabel head dan Pengukuran Partial Discharge pada


bagian yang bertegangan kabel head dengan alat uji Partial
Discharge

3. Terminasi Kabel head dan Pembersihan bushing kabel head


bagian yang bertegangan terdapap kristal garam serta
pembersihan isolator string pada
gantry, dead end tower.
4. Terminasi Kabel head dan Pembersihan terminasi/sealing end
bagian yang bertegangan kabel.
5. Peralatan kontrol minyak dan Periksa apakah peralatan kontrol
alat bantu khusus daan alat bantu khusus dapat
berfungsi dengan baik.

320
4. Pemeliharaan Kabel Laut Tahunan.

Pemeliharaan yang berupa Pengukuran dan pengujian untuk Kabel Tanah


Tegangan Tinggi dan dilakukan oleh petugas Pemeliharaan setiap tahun dan
dilaksanakan dalam keadaan Padam, seperti tabel 8.8.

Tabel 8.8. Pemeliharaan Kabel Laut Tahunan

JADWAL : Tahunan
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : Padam

PERALATAN/KOMPONEN
NO. URAIAN PELAKSANAAN
YANG DIPERIKSA
1 2 3

1. Sistem pentanahan Pemeriksaan dan pengukuran


sistem pentanahan kabel laut
dengan Megger pentanahan.
2. Tahanan isolasi Kabel Laut Ukur tahanan isolasi kabel laut
dengan Megger.
3. Mano Meter Uji fungsi manometer apakah masih
bekerja baik.
4 Boks Cross bonding dan Stop Pemeriksaan dan pembersihan
Join serta Oil Tank Chamber terhadap Manometer, Tanki, Gas
maupun Oil Tank Sunseal. berbahaya maupun kelembaban
dalam kondisi operasi
5 Tahanan isolasi kabel pilot a Ukur tahanan isolasi dari kabel pilot
apakah masih baik.
b Ukur tahanan kabel pilot (Rdc).
7 Rambu-rambu a Periksa kelengkapan rambu-rambu
dan pelampung suar seperti Batere,
lampu dan panel solar sel.
b Pelihara kelengkapan rambu-rambu
dan pelampung suar penggantian
elektroda anti korosi setiap 5 tahun..
8 ROW Periksa ROW kabel dengan Scan
sonar apakah kabel masih tetap
pada posisi nya setiap 5 tahun.

321
8.5. Prosedur Pemeliharaan

Prosedur pemeliharaan kabel dan kabel laut dapat dilihat pada tabel 8.9

Tabel 8.9. Prosedur pemeliharaan kabel dan kabel laut

LATAR BELAKANG Kesinambungan penyaluran energi listrik yang


dikelola oleh PLN UBS P3B salah satunya ditentukan
oleh kesiapan operasi gardu induk dan saluran
transmisi. Kesiapan operasi gardu induk dan saluran
transmisi harus didukung oleh pemeliharaan
peralatan secara aman, baik dan benar. Didalam
pelaksanaannya, jika terjadi kesalahan prosedur, akan
mengakibatkan gangguan pada sistem tenaga listrik
dan kerusakan pada peralatan bahkan dapat
mengakibatkan kecelakaan manusia.
Untuk lebih meningkatkan keamanan dan
keselamatan dalam melaksanakan pekerjaan di
instalasi listrik, maka perlu dibuat prosedur
pelaksanaan pekerjaan pada instalasi listrik tegangan
tinggi / ekstra tinggi sebagai penyem- purnaan dari
buku “Manuver Peralatan Instalasi Tegangan Tinggi &
Ekstra Tinggi serta Dokumen Keselamatan Kerja”.
Sesuai Surat Keputusan General Manager PT. PLN
(Persero) UBS P3B No. 005.K / 021 / GM.UBS. P3B /
2002, tanggal 07 Januari 2002, perihal
“Pembentukan Tim Penyempurnaan Prosedur
Operasi Sistem dan Pemeliharaan PT. PLN (Persero)
UBS P3B”, maka diterbitkan buku “Prosedur
Pelaksanaan Pekerjaan Pada Instalasi Listrik
Tegangan Tinggi / Ekstra Tinggi”.
MAKSUD DAN x Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan Pada Instalasi
TUJUAN Listrik Tegangan Tinggi / Ekstra Tinggi ini adalah
prosedur yang harus ditaati dan dilaksanakan
oleh semua personil dalam melaksanakan tugas
pekerjaan pada instalasi listrik tegangan tinggi /
ekstra tinggi.
x Dengan prosedur ini setiap pekerjaan pada
instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi dapat
terlaksana dengan aman dan lancar serta selamat
(safety process) sehingga tercapai Zero Accident.

Ruang Lingkup Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan Pada Instalasi


322
Listrik Tegangan Tinggi / Ekstra Tinggi ini berlaku
untuk semua pekerjaan pada instalasi listrik tegangan
tinggi / ekstra tinggi yang meliputi :
Manuver pembebasan tegangan.
Pelaksanaan pekerjaan pada instalasi dalam
keadaan tidak bertegangan.
Manuver pemberian tegangan.

1. PENGORGANISASIAN KERJA

Pengorganisasian Dalam melaksanakan pekerjaan pada instalasi listrik


Kerja tegangan tinggi / ekstra tinggi, diperlukan
pengorganisasian kerja yang melibatkan unsur /
personil sebagai berikut :
x Penanggung Jawab Pekerjaan.
x Pengawas K3.
x Pengawas Manuver.
x Pelaksana Manuver.
x Pengawas Pekerjaan.
x Pelaksana Pekerjaan.
Pengawas Manuver, Pengawas Pekerjaan dan
Pengawas K3 tidak boleh dirangkap dan harus berada
dilokasi selama pekerjaan berlangsung.

Peranan Personil Peranan personil pada butir 2.1 adalah sebagai


berikut :
Bertanggung jawab terhadap seluruh rangkaian
PENANGGUNG pekerjaan yang akan dan sedang dilaksanakan pada
JAWAB PEKERJAAN instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi.
Penanggung Jawab Pekerjaan adalah kuasa pemilik
asset yaitu Manager UPT.
Bertugas sebagai pengawas Keselamatan dan
PENGAWAS K3 Kesehatan Kerja (K3) pada pekerjaan instalasi listrik
tegangan tinggi / ekstra tinggi, sehingga keselamatan
manusia dan keselamatan instalasi listrik terjamin.
Personil yang ditunjuk sebagai Pengawas K3 harus
memiliki kualifikasi Pengawas K3.
Bertugas sebagai pengawas terhadap proses
PENGAWAS manuver (pembebasan / pengisian tegangan) pada
instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi, se-
323
MANUVER hingga keselamatan peralatan dan operasi sistem
terjamin.
Personil yang ditunjuk sebagai Pengawas Manuver
harus memiliki kualifikasi keahlian setingkat Operator
Utama.
PELAKSANA Bertindak selaku eksekutor manuver pada instalasi
MANUVER tegangan tinggi / ekstra tinggi.
Pelaksana Manuver adalah Operator Gardu Induk /
Dispatcher Region / Dispatcher UBOS yang dinas
pada saat pekerjaan berlangsung.
Bertugas sebagai pengawas terhadap proses
PENGAWAS pekerjaan pada instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra
PEKERJAAN tinggi.
Personil yang ditunjuk sebagai Pengawas Pe- kerjaan
harus memiliki kualifikasi minimal setingkat Juru
Utama Pemeliharaan.
Bertugas melaksanakan pekerjaan pada instalasi
PELAKSANA listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi.
PEKERJAAN Personil Pelaksana Pekerjaan ditunjuk oleh
Pengawas Pekerjaan.
Tugas dan tanggung jawab masing-masing personil
TUGAS DAN pada butir 2.2. adalah sebagai berikut :
TANGGUNG JAWAB

x Mengelola seluruh kegiatan pekerjaan yang


PENANGGUNG meliputi : personil, peralatan kerja, perlengkapan
JAWAB PEKERJAAN K3 dan material pekerjaan.
x Melakukan koordinasi dengan Unit lain yang
terkait.
Mencegah terjadinya kecelakaan kerja dengan cara
PENGAWAS K3 sebagai berikut :
x Memeriksa kondisi personil sebelum bekerja.
x Mengawasi kondisi / tempat-tempat yang ber-
bahaya.
x Mengawasi pemasangan dan pelepasan taging,
gembok dan rambu pengaman.
x Mengawasi tingkah laku / sikap personil yang
membahayakan diri sendiri atau orang lain.
x Mengawasi penggunaan perlengkapan kesela-
matan kerja.
Menjaga keamanan instalasi dan menghindari
PENGAWAS kesalahan manuver yang dilakukan oleh Operator
Gardu Induk dengan cara sebagai berikut :
324
MANUVER
x Mengawasi pelaksanaan manuver.
x Mengawasi pemasangan dan pelepasan taging di
panel kontrol serta rambu pengaman / gembok di
switch yard.
x Mengawasi pemasangan dan pelepasan sistem
pentanahan.
x Melakukan eksekusi manuver peralatan instalasi
PELAKSANA listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi.
MANUVER
x Melakukan pemasangan dan pelepasan taging di
panel kontrol serta rambu pengaman / gembok di
switch yard.
x Melakukan penutupan dan pembukaan PMS
tanah.
x Menunjuk personil Pelaksana Pekerjaan sebagai
Pelaksana Pengamanan Instalasi listrik untuk
memasang dan melepas taging, gembok, dan
rambu pengaman.
x Memasang dan melepas pentanahan lokal.
PELAKSANA
PEKERJAAN x Memasang dan melepas taging, gembok dan
rambu pengaman.

x Melaksanakan pekerjaan.

Pendelegasian tugas dapat diberikan kepada peja-


PENDELEGASIAN bat atau personil yang mempunyai kemampuan
TUGAS (Formulir 8), dalam hal :
x Personil yang ditunjuk berhalangan melak-
sanakan tugasnya.
x Dalam satu pekerjaan diperlukan beberapa
pengawas.

Pelaksanaan pendelegasian dilaksanakan sebagai


berikut :
Asisten Manager Pemeliharaan atau Ahli Muda
PENANGGUNG bidang terkait dengan catatan kedua pejabat tersebut
JAWAB tidak sedang menjadi pengawas lainnya (tidak
PEKERJAAN merangkap).

Operator Utama atau Personil yang mempunyai


PENGAWAS pengalaman dan keahlian dalam bidang manuver.

325
MANUVER

Personil yang mempunyai ketrampilan,


PENGAWAS PEKERJAAN pengalaman dan keahlian dalam bidang
pemeliharaan.
Personil yang mempunyai pengalaman
PENGAWAS K3 serta keahlian dalam bidang K3.

2. TAHAPAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

Tahapan yang Diperlukan Tahapan pelaksanaan prosedur pekerjaan pada


instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi
adalah sebagai berikut :
Persiapan a. Briefing tentang rencana kerja yang akan
dilaksanakan kepada seluruh personil yang
terlibat dalam pekerjaan dilaksanakan oleh :
Pengawas Pekerjaan :
x Memberikan penjelasan mengenai
pekerjaan yang akan dilaksanakan
dengan baik dan aman.
x Membagi tugas sesuai dengan
kemampuan dan keahlian personil
(Formulir 3).
Pengawas K3 :

326
x Memberikan penjelasan mengenai
penggunaan alat pengaman kerja /
pelindung diri yang harus dipakai (Formulir
1).
x Memberikan penjelasan pengamanan
instalasi yang akan dikerjakan.
x Menjelaskan tempat-tempat yang
berbahaya dan rawan kecelakaan
terhadap Pelaksana Pekerja.
Pengawas Manuver :

x Menyampaikan hasil koordinasi dengan


unit terkait.
x Menjelaskan langkah-langkah untuk
manu- ver pembebasan dan pengisian
tegangan (Formulir 4 dan 7).
b. Pengawas Pekerjaan memeriksa alat kerja
dan material yang diperlukan.
c. Pengawas K3 memeriksa peralatan kesela-
matan kerja yang diperlukan (Formulir 1).
d. Pengawas K3 memeriksa kesiapan jasmani /
rohani personil yang akan melaksanakan
pekerjaan (Formulir 2).

Izin Pembebasan Instalasi Dispatcher (UBOS / Region) memberi izin pembe-


untuk Dikerjakan
basan instalasi kepada Pengawas Manuver.

Pelaksanaan Manuver Pelaksana Manuver melaksanakan :


Pembebasan Tegangan
a. Memposisikan Switch Lokal / Remote ke
posisi Lokal.
b. Manuver pembebasan tegangan, sesuai
rencana manuver yang telah dibuat (Formulir
4).
c. Pemasangan taging pada panel kontrol dan
memasang gembok pengaman pada box
PMT, PMS Line, PMS Rel dan PMS Tanah.
Semua pekerjaan manuver tersebut diatas
diawasi oleh Pengawas Manuver dan Pengawas

327
K3.
Apabila lokasi pekerjaan di luar jangkauan
pengamatan Operator Gardu Induk, maka
Pengawas Manuver dan Pengawas Pekerjaan
agar menjalin komunikasi.

Pernyataan Bebas Pengawas Manuver membuat pernyataan bebas


Tegangan tegangan diserahkan kepada Pengawas
Pekerjaan disaksikan oleh Pengawas K3

Pelaksanaan Pekerjaan Pelaksana Pekerjaan melaksanakan :


a. Pemeriksaan tegangan pada peralatan /
instalasi yang akan dikerjakan dengan
menggunakan tester tegangan.
b. Pemasangan pentanahan lokal pada
peralatan / instalasi listrik yang akan
dikerjakan.
Perhatikan urutan pemasangan (kawat
pentanahan lokal dipasang pada sistem
grounding / arde terlebih dahulu, baru
kemudian dipasang pada bagian instalasi
yang akan dikerjakan), jangan terbalik
urutannya.
c. Pengaman tambahan (pengaman berlapis)
seperti : memasang gembok, lock-pin, dan
memblokir rangkaian kontrol dengan
membuka MCB / Fuse / Terminal.
d. Pemasangan taging, gembok dan rambu
pengaman di switchyard pada daerah
berbahaya dan daerah aman.
e. Pekerjaan dilaksanakan sesuai rencana.
Semua pekerjaan tersebut diatas diawasi oleh
Pengawas Pekerjaan dan Pengawas K3.
Jika pekerjaan belum selesai dan akan
diserahkan ke regu yang lain,

Pekerjaan Selesai Bila pekerjaan telah selesai Pelaksana Pekerjaan


melaksanakan :
a. Melepas pentanahan lokal.
Perhatikan urutan melepas (kawat
pentanahan lokal pada bagian instalasi
328
dilepas terlebih dahulu, kemudian kawat
pentanahan lokal pada bagian sistem
grounding / arde dilepas).
b. Melepas pengaman tambahan seperti
gembok dan lock-pin, mengaktifkan rangkaian
kontrol dengan menutup MCB / Fuse /
terminal.
c. Melepas taging, gembok dan rambu
pengaman di switchyard.
d. Merapikan peralatan kerja.
Semua pekerjaan tersebut diatas diawasi oleh
Pengawas Pekerjaan dan Pengawas K3.

Pernyataan Pekerjaan Pengawas Pekerjaan membuat Pernyataan


Selesai Pekerjaan Selesai dan diserahkan kepada
Pengawas Manuver disaksikan oleh Pengawas
K3

Pernyataan Instalasi Siap Pengawas Manuver menyatakan kepada


Diberi Tegangan Dispatcher (UBOS / Region) bahwa instalasi
listrik siap diberi tegangan kembali.

Pelaksanaan Manuver Pelaksana Manuver melaksanakan :


Pemberian Tegangan a. Melepas gembok pengaman pada PMS Line
dan PMS Rel serta PMS Tanah.
b. Membuka PMS Tanah.
c. Melepas taging pada panel kontrol.
d. Memposisikan switch Lokal / Remote pada
posisi Remote.
Jika remote kontrol Dispatcher gagal, maka
berdasarkan perintah Dispatcher, posisi
switch Lokal / Remote diposisikan Lokal dan
Pelaksana Manuver melaksanakan manuver
penutupan PMT untuk pemberian tegangan.
Semua pekerjaan tersebut diatas diawasi oleh
Pengawas Pekerjaan dan Pengawas K3.

329
8.6. Dokumen Prosedur Pelasanaan Pekerjaan ( DP3 )
Dokumen Prosedur Pelasanaan Pekerjaan dapat dilihat pada tabel 8.10

Tabel 8.10 Dokumen Prosedur Pelasanaan Pekerjaan

1. Daerah Berbahaya dan Daerah berbahaya (danger area) adalah suatu


Daerah Aman. tempat (daerah) disekitar peralatan (bagian)
bertegangan, yang batasnya (jaraknya) tidak
boleh dilanggar.

Batas (jarak) daerah berbahaya tergantung


pada besarnya tegangan nominal sistem.
Sedangkan jarak aman (safety distance)
adalah jarak di luar daerah bahaya, dimana
orang dapat bekerja dengan aman dari bahaya
yang ditimbulkan oleh peralatan (bagian) yang
bertegangan.
Untuk berjalan melintas disekitar daerah
peralatan / instalasi yang bertegangan, harus
sangat berhati-hati. Pastikan bahwa peralatan
yang dibawa tidak mencuat / menonjol keatas
ataupun kesamping , usahakan untuk tidak
dipanggul atau dibawa secara melintang.
Jarak aman minimum diperlihatkan pada tabel
berikut ini :
Sistem tegangan Jarak aman*
(kV) (cm)
20 70
30 85
70 100
150 150
500 500
4 * mengacu pada Electrical Safety Advices
(ESA) dan PUIL 1987

330
2 Formulir DP3 Formulir-formulir yang digunakan untuk
( Formulir Terlampir ) menerapkan prosedur pelaksanaan
pekerjaan pada instalasi tegangan tinggi /
ekstra tinggi ini yang disebut DP3 adalah
terdiri dari :
x Formulir 1 :
Prosedur pengamanan pada instalasi
tegangan tinggi / ekstra tinggi.
Lampiran formulir 1 :
Rencana pengamanan pekerjaan pada
instalasi tegangan tinggi / ekstra tinggi.
x Formulir 2 :
Pemeriksaan kesiapan pelaksana sebelum
bekerja pada instalasi tegangan tinggi /
ekstra tinggi.
x Formulir 3 :
Pembagian tugas dan penggunaan alat
keselamatan kerja.
x Formulir 4 :
Manuver pembebasan tegangan instalasi
tegangan tinggi / ekstra tinggi.

331
x Formulir 5 :
3.10.1 Pernyataan bebas tegangan.

x Formulir 5 lanjutan :
Serah terima pekerjaan.
x Formulir 6 :
.10.2 Pernyataan pekerjaan selesai.

x Formulir 7 :
.10.3 Manuver pemberian tegangan instalasi
listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi.

x Formulir 8 :
Surat pendelegasian tugas.
x Formulir 9 :
.10.4 Permintaan izin kerja, berlaku untuk
pekerjaan yang dilaksanakan oleh pihak
diluar PT PLN UBS P3B.
Jika ada pihak luar yang akan
melaksanakan suatu pekerjaan di Unit
Pelayanan Transmisi, maka harus mengisi
formulir Permintaan Ijin Kerja sebelum
mengisi formulir / dokumen K3 lainnya.

8.7. Pemelihaan Instalasi Kabel Tanah Jenis Oil Filled

Operasi dan pemeliharaan membahayakan sistem atau harus


yang baik akan menghilangkan memadamkan kabel. Walaupun
penyebab kabel beroperasi secara sistem instalasi kabel sebenarnya
darurat. Operator yang baik akan bebas pemeliharaan, pentingnya
mengetahui sistem kabel,sehingga operasi yang tepat memerlukan
secara cepat operator akan pemeriksaan pemeliharaan yang
mengetahui maslah yang hati-hati dari pada memelihara
timbul,operator akan mengetahui secara rutin peralatan. Apabila
langkah-langkah yang harus diperlukan pemeliharaan tingkat
dilakukan untuk memisahkan yang pemeliharaan dan keahlian
ada masalah, periksa dan lakukan pelaksana harus mempunyai
perbaikan atau kompetensi yang tinggi.
pembetulan.umumnya tanpa
332
1. Pemelihaan Instalasi Kabel 1. Kaki segitiga
2. Helm
Pemeliharaan kabel tanah 3 Takel rantai
secara periodik sebenarnya tidak 4 Sepatu karet
diperlukan,tetapi karena kabel 5..pompa lumpur/air
tersebut berisi minyak sebagai 6. sarung tangan
isolasi maka tekanannya harus 7..generator
selalu dipantau.Pemasok minyak 8. masker
untuk mempertahankan sifat isolasi 9 .tangga aluminium/bambu
kabel tetap kondisi baik,maka 10 tabung oksigen
bergantung pada panjang rute 11 .blower
kabel,makin panjang instalasi 12 .baju tahan api
kabel, maka jumlah seksi pemasok 13 .batere/senter
minyak akan bertambah,misalnya
instalasi dengan satu seksi tekanan 3. Pelaksanaan Pemeriksaan
minyak,dua seksi dan tiga seksi.
Masing-masing seksi perlu Sebelum melakukan pekerjaan
diperiksa tekanannya setiap minggu pemeliharaan tekanan minyak,jika
untuk mengetahui kenaikan dan tangki berada didalam ruang bawah
atau penurunan masing-masing tanah maka yakinkan bahwa tidak
seksi tekanan ada gas didalam ruangan bawah
tanah.
2. Peralatan yang digunakan. 1.Bersihkan pcc(panel control
kabinet)
Untuk melaksanakan 2.Bersihkan manometer
pemeliharaan tekanan minyak 3.catat penunjukan manometer
diperlukan peralatan kerja sebagai a.setting
berikut: b.Alarem
c.tripping
a. Alat kerja dan Alat K3

4. Daftar pemeriksaan tekanan minyak


SKTT : …………………………………
Joint /OTC :
UPT :

No Tangga Tekanan minyak Keterang


l an
1
2 R S T R S T
3
4
5

334
8.8. Spare Kabel maupun kegiatan rumah tangga,
contohnya terkena bor pembuatan
Kabel cadangan merupakan
arde telkom,bor sumur warga dan
material yang harus tersedia di
,terkena begho .
gudang .Umumnya material ini
Tujuan memelihara kabel
panjangnya kurang lebih 500 m dan
cadangan adalah untuk mengetahui
terpasang pada haspel serta
kondisi kesiapan kabel cadangan
dilengkapi dengan tangki tekanan
tersebut kapan diperlukan.
minyak . Besarnya tekanan tangki
tersebut antara 0,8 sampai 1,2 bar
1. Peralatan yang digunakan
dan dilengkapi dengan manometer
Peralatan kerja
Instalasi kabel tanah tegangan
Tidak diperlukan peralatan kerja
tinggi 70 kV maupun 150 kV
untuk memeriksa tekanan minyak
umumnya digunakan pada saluran
kabel cadangan.
transmisi tegangan tinggi didaerah
perkotaan. Jalur kabel untuk
2. Peralatan K3
menanam dan menggelar instalasi
malalui daerah pemukiman dan a. Helm
atau disisi jalan raya. Adanya b Sepatu tahan benturan
kegiatan pembangunan yang c. kaca mata
hampir berlangsuing tanpa d. Baterre senter
kordinasi membuat instalasi kabel e.Tangga aluminium panjang 3
tegangan tinggi tersebut terancam m
terkena gangguan. f. Jas hujan
Bedasarkan pengalaman
instalasi kabel sering mendapat
gangguan dari pekerjaan proyek

Daftar Hasil tekanan minyak kabel spare


Gudang /Upt : …………………….
Bulan / tahun : ……………………..

No Tanggal Merk/Type Penampang Tekanan Keterangan


/panjang (m) Minyak (bar)

8.9. Termination. yang tertanam di bawah tanah, atau


mengeluarkan konduktor yang
Sealing end atau terminasi
terpasang di dalam kompartemen
merupakan peralatan yang
GIS. Ada dua jenis sealing end
digunakan untuk mengeluarkan
pada instalasi kabel yaitu indoor
konduktor (inti kabel) dari kabel
335
sealing end dan outdoor sealing terminasi atau sealing end adalah
end. Perbedaan fisik yang nyata membersihkan porselin isolator.
antara kedua terminasi tersebut
a. Peralatan dan material yang
adalah pada bagian luar terminasi
digunakan
menggunakan porselen.
1.tool kit
Pemeliharaan terminasi adalah
2.lap kain yang tidak berserat
sebagai berikut:
3.sakapen
1. Kondisi bertegangan 4.alkohol 90 %
5.semen remover
Pada kondisi bertegangan
6.Sabun rumah tangga
pemeliharaan yang dilakukan
adalah memeriksa secara fisik 3. Cara Pelaksanaan pemeliharaan
bushing tersebut apakah kondisinya
Pemeliharaan bushing pada
normal atau ada gangguan.
waktu beroperasi yaitu pengecekan
2. Kondisi tidak bertegangan. secara fisik apakah kondisinya
baik,dan pada kondisi tidak
Pada waktu pemeliharaan
bertegangan ialah dengan cara
preventive bersamaan dengan
membersihkan permukaan bushing
pemeliharaan peralatan yang
menggunakan sabun rumah tangga
lain, maka yang dilakukan terhadap
atau sakapen.
4. Hasil Pemeliharaan out door termination
SKTT 70/150 kV : ……………………………………..
Pelaksana : ………………………………………
UPT : …………………………………..
LOKASI GI : ………………………………………

No Tanggal Terminasi Bushing Fasa Keterangan


Kabel I Kabel II
R S T R S T

5. Hasil Pemeliharaan indoor termination


SKTT 70/150 kV : ……………………………………..
Pelaksana : ………………………………………
UPT : …………………………………..
LOKASI GI : ………………………………………

No Tanggal Terminasi Bushing Fasa Keteranga


Tekanan minyak Kabel Tekanan Minyak Kabel n
I II
R S T R S T

8.10. Tank Chamber Umum


336
Instalasi kabel tanah tegangan
tinggi jenis menggunakan minyak 1. Peralatan kerja
dilengkapi dengan instalasi
Untuk melaksanakan pekerjaan
pemasok minyak yang berfungsi
pemeliharaan tangki minyak perlu
menjaga kondisi tekanan didalam
disediakan peralatan- peralatan
kabel selalu positip. Pemasok
sebagai berikut:
minyak menggunakan tangki-tangki
yang bertekanan, yang akan
a.Kaki tiga 3 ton
memberikan tekanan pada kondisi
b.Blower dan slang
kabel bebannya rendah dan tangki
c.Tangga aluminium panjang 3 m
juga berfungsi untuk menampung
d.Generator 5 kw
kelebihan tekanan pada waktu
e.Takel rantai
kabel tersebut dibebani .
f.Tool set
g.Pompa lumpur
Fungsi tangki minyak pada
instalasi kabel tegangan tinggi terisi
2. Peralatan K3
minyak sangat penting . Umumnya
pemasangan tangki berada
a.Baju tahan api
ruangan dibawah tanah,sehingga
b.Helm
seacara fisik tangki minyak berada
c.Oksigen
pada tempat yang lembab dan
d.Sepatu kerja
kemungkinan terendam air.Tangki
e.Obat-obatan
minyak ini tertentu
f. Senter
jumlahnya,bergantung pada profile
kabel,makin rendah kabel tersebut
ditanam,maka tangki minyak yang 3. Prosedur pemeliharaan
harus disediakan bertambah dan a. tangki diatas tanah
karakteristi- nyapun berbeda.Untuk b. lakukan pembersihan fisik tangki
menjaga peralatan ini bekerja dan karat
dengan baik dan andal serta terjaga c. Lakukan pengecatan(jika perlu)
kondisinya maka perlu dilakukan
pemeliharaannya. 4. Dibawah tanah
Baik yang dipasang diatas
maupun dibawah tanah harus a. Buka tutup ruangan tangki
selalu dilakukan pemeliharaannya, b. Pasang pompa air
namun untuk tangki yang dipasang c. Sedot air dalam ruangan tangki
dibawah tanah lebih sering d. Pasang blower dan
diperiksa khusunya pada musim kelengkapannya
hujan. Untuk melakukan e. Lakukan evakuasi ruangan
pemeliharaan tangki-tangki tersebut f. Petugas masuk ke ruangan
dapat dilakukan dengan kondisi tangki menggunakan peralatan
ionstalai dalam keadaan k3 lengkap
bertegangan yaitu dapat dipakai g. Membersihkan ruang dan tangki
tangki cadangan,untuk mengganti h. Mengecat tangki (jika perlu)
tangki yang dilakukan j. Mengganti tangki minyak (jika
pemeliharaan. perlu)
338
k. Membersihkan pipa-pipa minyak dari lumpur dan karat.

5. Hasil pemeliharaan

SKTT 70/150 kV :……………………………….


UPT : ……………………………………………..
UJT : ………………………………………………
Pelaksana :…………………………………….

NO. Tanggal TANK Type


A ………….. B……………… H…………………

8.11. Anti crossbonding,


Converting Pada kondisi kabel
bertegangan ,maka akan timbul
Anti corrosion covering tegangan induksi pada anti
merupakan perangkat srtuktur corrosion covering. Besarnya
kabel yang penting fungsinya, yaitu tegangan induksi pada ketiga kabel
sebagai pelindung karat susunan dengan susunan flat formation tidak
kabel dan sebagai jalan balik arus sama, yaitu kabel yang berada
gangguan ke tanah apabila terjadi ditengah akan lebih tinggi
kebocoran arus konduktor utama ke dibandingkan dua kabel sebelahnya
tanah. Logam yang digunakan ,maka pemasangannya dilakukan
untuk kebutuhan struktur susunan transposisi.
kabel tersebut adalah logam yang
sesuai,karena material tersebut Anticorrosion covering perlu
akan terkena medan magnet dan dilakukan pengujiannya ,karena
medan listrik jika kabel material ini sesuai fungsinya dalam
bertegangan. sistem crosbonding harus dalam
Penampangnya disesuaiakn kondisi selalu mengambang yaitu
dengan besarnya arus gangguan tidak terkena tanah dalam satu
satu fasa ke tanah sistem dimana major section. Untuk mengetahui
kabel tersebut dipasang. apakah material ini kondisinya baik
Pemasangan instalasi kabel tanah ,maka pengujian menggunakan HV
150 kV single coremenggunakan test dilakukan setiap 6 bulan,yaitu
sistem transposisi dan untuk mengetahui apakah sistem
crossbonding, yaitu sistem crossbonding yang digunakan
pemasangan instalasi kabel yang masih memenuhi syarat serta
diharapkan dapat menghilangkan instalasi dilakukan pengujian dalam
atau mengurangi rugi-rugi transmisi keadaan tidak bertegangan.
menggunakan kabel.

339
1. Peralatan yang digunakan Instalasi kondisi off (ditanahkan
sesuai kebutuhan)
Untuk melaksanakan pekerjaan
pengujian anticorrosion covering Pasang pagar pengaman antara
diperlukan peralatan peralatan lokasi yang diuji
sebgai berikut: Buka tutup crossbonding (kedua
a. Kaki tiga 3 ton boks yang diuji)
b. Blower dan slang
c. Tangga aluminium panjang 3 m (untuk boks pentanahan buka link
d. Generator 5 kw dan pentanahan,untuk boks
e. Takel rantai tahanan crosbonding, buka link dan
f. Tool set CCPU)
g. Pompa lumpur Pompa air keluar(jika ada)
h. Meger 5000 vOlt
i. Alat uji Hv test 0-30 kV,10 A Periksa tekanan N2
j. Alat uji tahanan tanah buka tutupnya boks crossbonding
pada dua sisi yang diuji
2 Peralatan K3
pasang pentanahan lokal jika perlu
a. Baju tahan api
buka pisau-pisau
b. Helm
crossbonding(r,s,t)
c. Oksigen
d. Sepatu kerja Lakukan uji per fasa (misal fasa R)
e. Obat-obatan
pasang Hv test
f. Senter
g. Tenda .kabel tegangan tinggi pada
h. tandu konduktor acc dan kabel yang lain
i. Masker ke tanah
j. Alat Pemadam Api
atur tegangan sampai 5 kV
3 Material catat arus bocornya
a. kain Majun .lakukan selama satu menit
b. Nitrogen (jika tidak dapat dilakukan
c. Anti karat pengujian berarti ada kebocoran ke
d. paking karet tanah)
e. kompon
f. gas LPG + blender Setelah selesai pasang link bar
g. Amplas (sebelum memasang tutupnya uji
Untuk melaksanakan pekerjaan dahulu CCPU seperti par 7)
pengujian peralatan ini,dapat
dilakukan satu sistem (major Pemeliharaan CCPU
section,Joint 0 sampai joint 3) dan Cable covering protection unit
jika tidak dapat dilakukan maka diuji (CCPU) adalah peralatan instalasi
seksi yang pendek (minor kabel menggunakan sistem
section,joint 0 sampai joint 1) cosbonding yang berfungsi
sebagai berikut: mengamankan selubung
339
logam(acc) dari tegangan lebih c.tangga aluminium panjang 3 m
akibat tegangan d.Generator 5 kw
surja.Pemasangannya didalam e.takel rantai
boks crossbonding bersamaan f.tool set
dengan link bar crossbonding. g.pompa lumpur
Masing –masing fasa sebelum h.Megeer 5000 volt
selubung logam dihubungkan ke i.Alat uji Hv test 0-30 kV,10 A
tanah pada boks crosbonding 10.Alat uji tahanan tanah
terlebih dahulu dihubungkan
dengan 4 . Peralatan K3
a.Baju tahan api
CCPU. Karakteristik CCPU adalah
b.Helm
sejenis arrester yaitu menggunakan
c.Oksigen
prinsip tahanan tak linier, pada
d.sepatu kerja
kondisi tegangan normal maka
e.Obat-obatan
berfungsi sebgai isolator dan pada
f.gas LPG + blender
kondisi ada tegangan lebih surja
g.Amplas
atau sejenis maka bersifat sebagai
konduktor. 5. Metarial yang digunakan
a.kain Majun
3. Tujuan pemeliharaan
b.Nitrogen
Pemeliharaan CCPU c.Anti karat
dalakukan bersamaan dengan d.paking karet
pengujian acc karena kedua- e.kompon
duanya perlu memadamkan f.senter
instalasi.Kondisi CCPU yang baik g.Tenda
akan berfungsi mengamankan 8.tandu
kabel dari tekanan tegangan lebih
yang dapat merusak sistem 4.Cara pemeliharaan
crossbonding. Pemeliharaan CCPU
tidak hanya dilakukan pada waktu Bersamaan dengan pekerjaan
pemeliharaan kabel dilaksanakan pemeliharaan dan pengujian
namun perlu dilakukan anticorrosion covering (ACC)
pemeriksaan apabila instalasi kabel sebagai berikut:
mengalami gangguan yang berat. a. buka ccpu dari dudukannya
b. Lakukan pengujian per buah
(satu fasa)
c. lakukan pengukuran tahanan
isolasi dengan megger 1000 volt
a. Peralatan yang digunakan
antara koonduktor dengan
Untuk melaksanakan pekerjaan tanah
pengujian anticorrosion covering d. pasangkan HV test antara
diperlukan peralatan peralatan konduktor dengan tanah (ujung-
sebgai berikut: ujungnya)
a.Kaki tiga 3 ton e. atur tegangan dari 0 sampai
b.Blower dan slang 2 kV*
340
f. Catat arus bocornya g.Jika selesai pasang kembali.
* Ref kabel produksi china

VOLTAGE TEST
ONCORROSION COVERING AND CCPU

SKTT ( LINK) : ……………………………………………….


Tanggal/Bln /Th : …………/………………/…………………….
Pelaksana/P.Jawab : ………………………………………………
UPT :…………………………………………………
A.Anti Corossion Covering
I.Tahanan Isolasi

Peralatan Merah Kuning Biru


( (0: ) ( (0: ) ( (0: )
MEGGER
Merk :

IITegangan tinggi ( 5 kV DC)

Peralatan Merah Kuning Biru Keterangan


(mA) (mA) (mA)
BICCO Test 103

B .Uji CCPU
1. Uji Tegangan Tinggi
Tegangan Fasa 3,5 kV* 6 kV* Keterangan
uji dan arus R *)
(mA) S
T

Harga yang I<0,1 I>1


diharapkan
(mA)
*) Periksa manual book Kabel

2.MEGGER CCPU 1000 Volt


Isolasi CCPU harus lebih besar 10 M:

Peralatan FASA R (M:) FASA S (M:) FASA T (M:)

Megger

341
1000Volt

* Ref.kabel STK

8.12. Cara Memeriksa Tekanan angka yang ditunjukan sebagai


Minyak Dengan Manometer tekanan yang sebenarnya dari
minyak kabel. Gambar 8.2(c).
8.12.1.Manometer biasa dengan teknologi maka manometer
ini dilengkapi dengan saklar yang
Manometer biasa adalah difungsikan sebagai alat pemutus
tabung yang dipasangkan pada atau penyambung arus dan
suatu bejana, pipa atau kanal untuk dihubungkan dengan indicator atau
mengukur tekanan. Persamaan rele proteksi sehingga manometer
hydrostatic digunakan untuk akan berbungsi sebagai alat Bantu
menentukan tekanannya. Sehingga untuk mengindikasikan tekanan
dari manometer ini dapat diketahui alarm dan trip atau tekanan
besarnya tekanan bahkan dapat berlebih.
digunakan untuk mengetahui
tekanan dari benda cair yang Nilai absolute adalah
mengalir. penunjukan atau nilai tekanan yang
Untuk menjamin terhadap berbasis pada tekanan nol bar,
pembacaan tekanan karena pada umumnya manometer
akselerasi/percepatan pada menunjukan nilainya berdasarkan
manometer diperlukan suatu tabung tekanan udara 1 bar sebagai
yang pada didingnya diberi skala tekanan atsmosfer.
dan angka yang terpasang secara
parallel dengan garis aliran dan 8.12.2. Manometer
tidak terganggu pada saat
pembukaan. Jika manometer berisi Manometer Vacuun adalah
cairan pada suatu bejana manometer yang dapat
berhubungan seperti pada gambar menunujukan kevacuuman suatu
8.1(d). sehingga diperlukan bejana ruangan yang secara absolute
yang cukup panjang(tinggi) jika (referensinya 0 bars) berarti vakum
tekanannya tinggi maka dibuat disini adalah nilai tekanan ruang
suatu manometer dengan bentuk dibawah nilai 1 bar dari tekanan
khusus dilengkapi jarum penunjuk atsmosfer. Satuan nya seperseribu
yang bebas bergerak sesuai bar atau millibars. Walaupun tidak
dengan tekanan dari benda cair ada ruang hampa yang mutlak
yang diukur. kosong/hampa atau vacuum.
Tekanan minyak ditunjukan
nilainya oleh jarum pada Tujuan mevacuum suatu
manometer yang mempunyai peralatan seperti kabel TT, trafo
prinsip kerja berdasarkan tekanan dan alat-alat lain adalah untuk
minyak dan pegas yang porosnya mengupayakan setelah kondisi
dipasangkan jarum penunjuk, vacuum atau kondisi tidak ada
dimana pada kondisi seimbang benda asing berada didalam ruang

342
tsb sehingga pada saat diisi dengan terjebak yang sering berakibat
minyak atau gas isolasi (sf6) akan panas dan terjadi flash
dapat mengisi ruang-ruang hingga over/gangguan yang cukup fatal
terkecil maka didapat pengisian serta kerusakan breakdown isolasi
yang baik tanpa ada ruang yang peralatan.
berisi udara atau terdapat udara

p wh
pa p kPa
hb hb  v
w w
Pa

m
o
n
w=berat jenis. Valve
(a)
(c)

h
c hm
c
c hp
l l
r

pl w ph p  pc
pc wh c
Gambar 8.1. dasar manometer (d)
(b)

343
Gambar 8.2. dasar Manometer tekanan minyak

8.12.3. Pemeliharaan Pilot Kabel berubah,sehingga akan


dan Manometer mempengaruhi kinerja proteksi.
Agar perubahan nilai tahanan dan
Pada instalasi kabel tanah tahanan isolasi kabel pilot dapat
tegangan tinggi selain kabel power diketahui maka kabel tersebut perlu
yang tertanam dibawah tanah ,juga dilakukan pengukuran dan
memerlukan kabel lain dalam satu pengujian dengan waktu tertentu.
saluran,yaitu kabel pilot. Kabel pilot
merupakan instalasi yang 1. Peralatan kerja dan K3
digunakan sebagai kabel-kabel
Untuk memelihara kabel pilot
pengaman yaitu : kabel 7 pair untuk
diperlukan peralatan sebagai
mengamankan tekanan minyak baik
berikut:
tekanan yang memberikan alrem
a Meger 0 sampai 5000 Volt
maupun mentripkan kabel,kabel 19
b. Meger 0 sampai 1000 Volt
pair merupakan kabel penghubung
c. Pompa air
pengaman kabel terhadap
d. Pompa Lumpur
gangguan listrik yaitu sebagai
e. Alat kaki tiga
pemasok power ke proteksi
f. Takel rantai
diferential kabel dan kabel 28 pair
digunakan sebagai fasilitas untuk 2. Material
komunikasi data dan suara. Kabel
a. Contact cleaner
tersebut tertanam dekat dengan
b. anti karat
kabel power sehingga
memungkinkan terkena induksi c. Majun Pembersih
,untuk itu memerlukan desain yang
khusus. Desain khusus dimaksud 3. Cara Pemeliharaan Manometer
adalah kabel pilot dilengkapi
dengan isolasi yang mampu Manometer sebagai pengindera
terhadap tegangan tinggi lebih dari tekanan minyak sepanjang waktu
15 kV. harus mempunyai kinerja yang
benar, karena ketidakakuratan
Kabel pilot secara khusus tidak manometer dapat menyebabkan
memerlukan pemeliharaan, namun salah kerja yang mengakibatkan
dengan adanya perubahan akibat kerugian atau dapat mengurangi
umur dan lokasi sekitar ,sehingga keandalan sistem operasi kabel
kabel pilot perlu dilakukan tanah tegangan tinggi.
pemeliharaan. Sebagai contoh Manometer dimaksud
bahwa nilai dari tahanan konduktor mempunyai jarum penunjuk yang
berfungsi menjalankan alarem

345
(tingkat 1) dan tripping (tingkat 2). manometer tidak berfungsi dengan
Kedua posisi jarum tersebut harus baik yang menyebabkan gangguan
akurat penunjukkannya,karena dan kerusakkan kabel.
berkaitan dengan naik dan turunnya
tekanan minyak sepanjang kabel. 8.12.4.Pemelihharaan yang
Tekanan Minyak akan dilakukan pada
mengembang pada saat beban manometer adalah :
kabel tinggi dan akan turun pada
waktu beban turun /rendah atau x Pengujian terhadap kinerja
suhu luar rendah. jarum penunjuk
Jarum yang lain adalah jarum x Pengujian setting tekanan
berwarna merah,yang berfungsi normal
untuk mengetahui tekanan tertitnggi x Pengujian terhadap setting
yang pernah dicapai sepanjang tekanan alalrem
operasi kabel. Dari pengalaman x Pengujian setting tripout
dilapangan diketahui beberapa

Hasil pemeliharaan Manometer

SKTT 70/150 kV : :……………………………….


UPT : ……………………………………………..
UJT :…… ………………………………………………
Pelaksana :…………………………………….

Tekanan(bar, Manometer fasa Keterangan


No Tanggal Kpa,Kg/cm/,p R S T R S T *)
si,mmbar)
Normal
Alarem
Tripping
Tertingggi
pernah
dicapai

1. Pilot Kabel. control cabinet yang ada didalan


underground tank chamber maupun
Seperti kabel instalasi yang
yang ada di sunshilled tank atau
lain,apalagi kabel pilot tertanam
panel kontrol. Semua terminal klem
dengan kedalaman kurang lebih 2,5
tersebut mempunyai resiko
meter dibawah tanah dengan suhu
kelembaban atau bersentuhan
tanah yang panas maka akan
/berhubungan dengan peralatan
terpengaruh oleh kondisi
yang lain yang dapat menyebabkan
lingkungan disekitarnya. Khususnya
kondisi isolasi kabel pilot menurun
pada terminal kabel pada panel
atau nol sama sekali. Untuk
mmengetahui perubahan kinerja
346
kabel pilot harus dilakukan pengukuran-pengukurannya.

2. HASIL PEMELIHARAAN KABEL PILOT

SKTT 70/150 kV :………………………………………………..


UPT : ……………………………………………..
UJT :…… ………………………………………………
Pelaksana :…………………………………….

1. Kabel pilot 7 pair


Cable pair Keterangan
P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 *)
No Tanggal Karakteristi
k
1. Tahanan
isolasi
2.Tahanan
DC

*) Menggunakan meger 5000V


2.Kabel pilot 19 pair
No Tanggal Karakteristik Cable pair
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tahanan
isolasi
Tahanan DC

31
3.Kabel pilot 28 pair

No Tanggal Karakte- Cable pair


ristik
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 1 1 1
1 2 3 4
Tahanan
isolasi
Tahanan
DC

8.13. Penggelaran kabel diperlihatkan pada kertas lampiran


no. 2272/78/A
8.13.1. Penggelaran kabel Belokan ditempatkan terutama
Penarikan dengan mesin pada salah satu ujung sambungan
Winch yang pada umumnya dapat dipilh
pada waktu penempatan ‘cable
Penarikan kabel yang biasa drums’ pada ujung, ini
dilaksanakan dimaksud adalah dimaksudkan melewati daerah
menggunakan tenaga mesin Winch belokan2 ini dengan pengurangan
(mesin bensin atau motor listrik) peregangan langsung.
dengan menempatkan ‘roler kabel’ ‘Cable Drum’ ini dapat diatur di
sepanjang rute dengan jarak antara dua sisi arah secara bertahap dan
2+3 M pada porsi kelurusan dengan berlanjut. Kekencangan penerikan
titik belok max 0,4 m harus secara terus menerus
Pembuatan belokan biasa dikontrol dengan menggunakan
dilakukan dengan menyesuaikan sebuah dynamometer. Karena
roler yang umum yang diatur baik kekencangan ini ditimbulkan oleh
secara horizontal maupun vertikal konduktor kabel, dimana mata(titik)
(sesuai kebutuhan); secara teknik tarikan dikaitkan
adalah penyelesaian yang lebih
andal, karena dapat menekan hal ini kadang kadang dapat
keregangan langsung antara kabel menjadi gangguan terhadap
dan rolernya , bisa didapatkan komponen kabel yang lain
dengan menggunakan struktur yang sebagaimana terlihat pada tabel
(mengidikasikan keregangan
347
maksimum yang diizikan untuk panjangnya dua kali lipat terhadap
bebagai kmponen kabel). rute yang dikehendaki.
Dari semua kasus antara
titik(mata) tarikan kabel dan
tambang(tali) penarikan, harus
digunakan sebuah alat kusus yang 2. Peralatan gelar.
bernama “swivel”, alat ini
mempunya fungsi ganda dapat Peralatan gelar yang
meringankan kenaikan torsi tarikan diperlukan dalam penarikan kawat
tambang dan memudahkan dalam adalah katrol, meter dll
meliwati roler rolel.
Pada rute yang penggelaran 8.14. Regangan maksimum yang
berbelok belok dan penghitungan diizinkan pada kabel.
regangan tarikan mungkin melebihi
angka reganganya ini diindikasikan 8.14.1. Porsi Lurus
pada poin 3.0 berikut yang perlu
diikuti, kemudian ini perlu juga Ini adalah aturan yg baik dalam
untuk mengikuti sistem penarikan menggunakan regangan tarikan
alternative yang lain dan disini untuk konduktor, dimana secara
akan diuraikan umum adalah bagian yg paling
rawan. Dia kadang baik dan cocok
8.13.2. Penarikan dengan roler untuk menggunakan ukuran
bertenaga. keregangan dan componen kabel
lainnya.
Ini bisa jadi mengadopsi kedua
bagian bagian yang diandalkan 8.14.2. Tarikan ujung, dengan
dengan tujuan menekan regangan mata tarikan diikatkan
tarikan mesin Winch, dan sebagai pada konduktor
bagian andalan, apabila diatur
sesuai dengan keadaan parit - Kabel pole tunggal tembaga
(galian) 6 kg/mm2 Cu . section
- Alminium 3 kg/mm2 Al. section
1. Metoda ikat berlanjut - Kabel tiga pole tembaga
5 kg/mm2 total Cu section
Regangan tarikan yg - Alminium 3 kg/mm2 total Al
diakibatkan oleh sebuah tambang section
baja dimana kabel diikatkan pada nilai peregangan ini adalah sesuai
jarak 2 m tali penarik yang dibuat untuk koduktor berpenguat, pada
supaya kabel bergerak. conductor berpenguat
Hal ini perlu untuk dimungkinkan menerima
mempersiapkan tambang yang regangan yg lebih tinggi (14 kg/
sesuai dengan belokan belokan mm2 Cu. dan 8 kg/mm2 untuk Al.)
dan jalan-jalan raya persimpangan. 8.14.3.Tarikan ujung dengan
Dengan tujuan untuk melaksanakan mata tarik diikatkan pada
tipe ini , gelaran tambang Armouring.

349
Tarikan ujung dengan mata tarik
diikatkan pada Armouring dilakukan
pada kawat tipe kawat lempengan
baja 8 kg/mm2 total section dari 3. Belokan2 dengan penyangga
amouring tsb. bersambung ( peluncur dan
pipa2)
1.Ujung tarikan dengan bungkus
baja Tekanan paksa antara kabel
dengan permukaan penyangga
- digunakan tarikan ujung tidak boleh melebihi :
dengan pembungkus baja pada - Kabel bungkus alminium :
kabel berbungkus almn.: 3 2000 kg/m
kg/mm2 sheat section - kabel ber‘lead sheath’ :
- digunakan pada kabel ber ‘lead 500 kg/m
sheathed’ : 1 kg/mm2 sheath - Kabel tanpa pembungkus metal:
section 400 kg/m

1. Porsi belok 8.15. Perhitungan Daya Tarik


Horizontal)
Aturan umum radius belok tidak
boleh lebih kecil dari 30 kali dari 1. Porsi lurus
lingkaran luar kabel
Daya tariknya adalah:
F = l . p . f ( kg )
2. Belokan dilengkapi dengan
Dimana:
roler. Tekanan paksa antara
F = regangan tarik
kabel dengan roler tak boleh
l = panjang gelaran porsi lurus
melebihi:
p = berat kabel per meter
x Kabel bebungkus almn. : f = koifisien gesek ( ab. 0.1 )
200 kg
x Kabel ber ‘lead sheathed ’ : 2. Porsi belok
50 kg
x Kabel tanpa bunkus metal : Dengan rumus berikut ini kita
50 kg bisa melakukan evaluasi panjang
x Tekanan paksa harus dihitung rute lefel equifalen dengan
dengan rumus berikut: sempurna, bersamaan dengan
krtegangan tarikan yang sama yang
T .d akan terjadi, apabila penggelaran
F0 = (kg ) menggunakan roler :
R
Dimana :
R
F0 = tekanan paksa antara kabel L2 = L1 . cos hk ˜ + V1 + sin hk ˜
dan roler (m) k L .1
T = kekencangan tarik setelah
belokan (m) dimana :
R = Radius belok kabel (m) L1 = panjang equifalen inlet
d = Jarak antar roler(m) K = koifisien gesek ( ab. O.1 )
350
˜ = sudut belok ( radiant ) Yang mana arti simbol2 telah kita
L 2 = panjang equifalen outlet ketahui.
panjang equifalen dikalikan
dengan berat kabel dan koifisien 3. Gelaran Didalam Saluran Atau
gesek, dengan cara ini besar Pipa
tarikan setelah belokan dapat
didapat. Permukaan pipa/saluran harus
Hal ini perlu lebih jauh untuk halus/licin tanpa bendolan.
menentukan jumlah roler yang Karena alasan ini maka plastic
dihitung yang ada, dengan tujuan saluran/pipa tadi harus dipilih.
untuk menghindari tekanan kabel Bagaimanapun juga kita berikan
terhadap roler melebihi nilai yang koifisien gesek yang berbeda untuk
terindikasi. ; rumus hitungan tipe permukaan pipa- saluran.
sebagai berikut ;

Ft = L2 . p . f (kg)
Tabel 8.11. Bahan pipa saluran
Bahan pipa saluran gesek Pembungkus luar kabel Koifisien
PVC Lead 0,25
PVC Polyethylene 0,25
Asbestos- cement Lead 0,45
Asbestos- cement Polyethylene 0,33
Beton Jute 0,80
Beton Lead 0,50
Beton Polyethylene 0,40

Untuk menurunkan koifisien Radius belokan pipa harus


gesek bisa digunakan pelumas, tidak pernah lebih kecil dari 40 kali
seperti : diameter lingkaran luar kabel.
- Air dengan bubuk grafit
- Sabun bubuk dengan air dan grafit 4.Porsi lurus
Dengan pelumasan seperti ini
Regangan tarik adala :
penurunan koifisien gesek sampai
F = l . p . f ( kg )
30% dapat dicapai . Diameter
Dimana simbol2 mempunyai arti
dalam dari pipa saluran harus
yang sama dengan rumus pada
paling tidak 1,5 kali dari diameter
luar cabel. Aturan yang baik adalah
hanya diizinkan 1 kabel didalam 1 5, Porsi belok
saluran . Radius belok yang Regangan tarik setelah belokan
diizinkan untuk pipa/saluran dievaluasi kurang lebih seperti
tergantung pada jumlah posisi rumus berikut:
belokan sepanjang rute dan
peregangan bertahap terjadi antara F2 = F1 . e f˜ ( kg)
kabel dan pipa saluran Dimana:
F1 = kuat tarik pada
inlet(masuk)
351
f = koifisien gesek Jadi belokan2 dipertimbangkan
˜ = sudut perubahan arah sebagai ‘ titik2 perubahan
(dalam radius) kecenderungan”; krena alasan
Setelah itu perlu dicek bahwa inilah panjangnya dari porsi lurus
regangan bertabah dalam batas antara dua belokan harus
maksimum. Apa bila kasusnya diperpanjang sesuai dengan dua
berlawanan hal ini perlu sisi panjangnya terhadap
membesarkan radius belokan. belokannya.
Perhitungan kuat tarik pada posisi miring .

P sin ‫ސ‬ h
P cos ‫ސ‬
‫ސ‬ P

Gambar 8.2 Kuat tarik pada posisi miring .


Dimana :
F1 = l . p . f . cos ‫ ސ‬± 1 . p . h

l = panjang porsi pada posisi miring


p = berat kabel per meter
f = koifisien gesek
h = perbedaan level
± = sebagai fungsi arah tarikan
apabila sudut ‫ ސ‬kecil, cos ‫ = ސ‬1, kemudian

F1 = l . p . f ± p . h ( kg )

352
8.16. Peralatan Pergelaran .
Peralatan pergelaran dapat dilihat pada table 8.12.
Tabel 8.12 Peralatan pergelaran
Jumlah Uraian keterangan

1 Kawat penarik ‘winch’ 10 H.P Kecepatan tarik 17 dan 23


meter/menit
Kekuatan 3000 kg
1 Dram besi tambang baja JUMLAH ISI ± 15 m3

1 Frame untuk said winch Jumlah berat ± 5.5000 kg

1 Pasang trestles penyangga dram

300 Pasang trestless lengkap (shaft


dan hidrolik) jack untuk
mengangkat dram dengan
kemampuan diatas 20 ton

1 Dinamometer 3 ton dan


timbangan

2 Roler kabel

3 Claher roler swivel

1 Gripn (pemegang) penarik


pasang walkie - talkie Jackj
pengangkat

8.17. Jadwal Pemeliharan Saluran kabel Tegangan tinggi .


Jadwal Pemeliharan Saluran kabel Tegangan tinggi seperti table 8.13.

Tabel 8.13. Jadwal Pemeliharan Saluran kabel Tegangan tinggi .

NO Nama Alat Pemeliharaan Periode


1 Kabel minyak - tekanan minyak 1 minggu
Kabel minyak - tekanan minyak
2 1 minggu
cadangan
Terminal Sealing - Visual inspeksi
3 3 bulan
End
- pembersihan isolator 1 tahun
4 Tank Chamber - Visual inspeksi 3 bulan
353
- pembersihan dan
1 tahun
pengecatan
Sistem - HV DC test pada
5 6 bulan
crossbonding pelindung anti korosi
- HV DC Test pada
6 bulan
CCPU
- Pembersihan
1 tahun
crossbonding
Sistem Alarm - pemeriksaan lampu
6 indicator pada panal 1 minggu
kontrol
- pemeriksaan kontak 6 bulan
signal dari manometer

8.18. Kebocoran Minyak


Bila alarm tentang kebocoran minyak terjadi maka proses
penanggulangan dapat dilakukan seperti flowchart dibawah ini :

354
start

Alarm terjadi dan


diketahui operator

Catatan tekanan
sebelumnya

Periksa dan analisa


besarnya perubahan
tekanan minyak.

Perubahan tekanan
minyak tidak dapat Jika perubahan
diperiksa/dianalisa tekanan minyak sangat
dalam periode besar atau tekanan
beberapa jam minyak sudah menuju
ke trip (switch out).

Kebocoran minyak kecil


jika perubahan tekanan < Kebocoran minyak
1.00 kPa/hari besar.
Jika perubahan tekanan

Gambar alir 8.3 : langkah bila terjadi kebocoran minyak kabel

kebocoran minyak kecil jika 1. Kebocoran Kecil.


perbedaan tekanan pada ketiga
fasa pada seksi yang sama. Tindak lanjut yang lebih detail
Pemeriksaan dimulai jika diperlukan untuk setiap terjadi
perbedaan tekanannya adalah 30 kebocoran yang dijelaskan sebagai
kPa. berikut :
Nilai perubahan tekanan dinyatakan 2. Kebocoran minyak kecil.
medium jika kebocoran minyaknya
Bila terjadi kebocoran minyak kecil
mengakibatkan tekanan berubah
dari pengalaman disebabkan
antara 1.0 kPa/hari <P<10.0
karena paking, konektor dan pada
kPa/hari.
355
saat pembersihan permukaan kabel diketahui lokasi kebocorannya.
dengan benda tajam. Tekanan minyak selalu di catat
Tindakan yang paling penting dan setiap jam sampai perbaikan
segera tidak diperlukan, hasil selesai.
pemantauan selama satu minggu
baru dilakukan tindakan jika sudah
3. Bagan Alir tindakan untuk kebocoran kecil :

Kebocoran minyak kecil jika


perubahan tekanan < 1.00
kPa/hari

Apakah
kebocoran
diantara katup
pd panel dan

Sambungan sementara untuk Sambungan sementara


pasokan minyak. untuk pasokan minyak.

Dilokalisir dan perbaikan perbaikan kebocoran. Reset


kebocoran. Reset rangkaian minyak.
rangkaian minyak.

Gambar alir 8.4 : langkah awal bila terjadi kebocoran minyak kabel
4. Kebocoran Besar.
Pada masalah ini penyebab utama kejadian ini harus diketahui terutama
penyebab kerusakan dari luar (eksternal). Kecepatan tindakan sangat
diperlukan untuk itu dapat dilakukan tindakan sesuai bagan alir dibawah ini :

bagan alir kebocoran besar

356
Kebocoran minyak besar.
Jika perubahan tekanan >
10.00 kPa/hari

Apakah kebocoran
minyak diantara pipa
pemasok minyak antara
tangki bertekanan dan
katup serta manometer
pada panel ?
Apakah Apakah
tekanan tekanan
minyak minyak
dibawah dibawah
level level
alarm ?

Apakah Kabel
Kabel
kabel operasi
operasi Apakah
harus kabel
harus

Diproses
dengan Diproses dengan
operasi katup A
Cari lokasi

Lanjutkan
pasokan minyak
Pencegahan kebocoran
Pencegahan sementara
kebocoran
sementara

357
1

Perbaikan permanen atau mengganti


kabel yang rusak atau accesories
kabelnya

Mengembalikan setting pengaman dari


sistem minyak.

Pengoperasian kembali kabel

selesai

Gambar alir 8.5 : langkah bila terjadi kebocoran minyak kabel


cukup besar

5. Memperbaiki kabel minyak yang bocor.


Setelah diketemukan lokasi kebocoran maka segera dilakukan perbaikan
dengan urutan sbb :

Perbaikan
Lokasi kebocoran minyak Perbaikan sementara
permanen
Sealing end pada Gas
a. Flange tembaga bagian Periksa kekencangan baut- Ganti gasketnya
bawah tabung bautnya
b. kebocoran pada x Dengan menggunakan Instalasi
permukaan kabel palu untuk memukul kembali.
permukaan sehingga
menutup kebocoran tsb
x Melapisi permukaan
dengan plastik tape.
c. Konektor pipa pemasok Periksa kekencangan baut- Instalasi
minyak. bautnya kembali.
d. isolator penghubung Periksa kekencangan baut- Ganti isolator
bautnya penghubung

358
dengan yang
baru.
Tangki tekanan.
a. Katup. Bungkus dengan isolasi Ganti katupnya
/plastik tape
b. Konektor Periksa kekencangan baut- Instalasi
bautnya kembali.
Pipa pemasok minyak
a. Konektor Periksa kekencangan baut- Ganti dgn yg
bautnya baru atau
Instalasi kembali
Kabel Tenaga
a. Pelindung kabel (lead x Dengan menggunakan Ganti bagian
sheath) palu untuk memukul kabel yang
permukaan sehingga bocor.
menutup kebocoran tsb
x Melapisi permukaan
dengan plastik tape.

Yang paling penting untuk 2. Pipa penghubung untuk


perbaikan kabel dan alat bantunya pengeluaran minyak dari tangki
(accesories) adalah tekanan yang dihubungkan dengan ‘chek
agak sedikit rendah dari pada conector’ yang ditempatkan
tekanan normal dan dipertahankan pada meter tekanan dan “valve
setiap saat sebagai usaha untuk panel”.
menjaga agar kandungan udara 3. Katup no 4 dibuka.
yang lembab masuk kedalam 4. Alrian minyak tekanan tinggi dari
sistem kabel. tangki akan terlihat pada meter
dan “valvepanel” sehingga
6. Tindakan yang dilakukan untuk penunjukan meter tekanan
minyak dengan tekanan tinggi. berada dibawah batas dari
tekanan minyak tertinggi yang
Prosedure pada kejadian perbolehkan.
gangguan minyak dengan tekanan 5. perbaikan sehingga rangkaian
tinggi sangat diperlukan karena menjadi seperti semula.
tekanan minyak maka ke hati-hatian
dan konsentrasi pada masalah
sangat diperlukan. Adapun 8.19. Gangguan kabel pada
prosedurenya adalah sbb : lapisan pelindung P.E.
Pengoperqasian katup(valve). oversheath.
Sebagai contoh adalah minyak
tekanan tinggi pada salah satu 8.19.1. Methoda mencari lokasi
phasa maka : gangguan pada lapisan
1. Katup no 4 harus selalu tertutup pelindung kabel.
dengan baik.

359
Sebagai hasil pemeriksaan mana sebenarnya awal dari
rutine pada lapisan pelindung kabel sederhana ini berkembang menjadi
diketahui terjadi kerusakan lapisan seperti kondisi sekarang.
pelindung kabel maka perlu
ditindaklanjuti dengan mencari 8.19.2. Methoda Murray.
lokasi kerusakan lapisan pelindung Methoda ini diketemukan oleh
kabel. Jhon Murray yang berprinsip dari
Untuk mengatasi kerusakan cara pengukuran tahanan dengan
lapisan pelindung perlu mencari methoda jembatan Weatstone.
lokasi untuk itu diperlukan Prinsip kerjanya dengan
pengukuran, sehingga kabel menghubungkan salah satu ujung
tersebut harus tidak dioperasikan kabel antara konduktornya dan
(bebas Tegangan). Digunkan lapisan pelindung dan diujung yang
bermacam –macam metoda untuk lain dipasangkan sumber tegangan
mencari lokasi keruskan lapisan DC lengkap dengan saklarnya dan
pelindung dari yang sederhana tahanan geser yang center tapnya
hingga yang paling modern dan disambungkan ke galvanometer.
cukup canggih. Disini akan
dijelaskan cara sederhana yang

L
R1

R2 G

Gambar 8.6 : mencari lokasi kerusakan PE oversheath dgn jembatan Murray

Jika galvanometer menunjuk R 2 L  X


1
angka nol setelah mengatur posisi
R X
center tap pada tahanan geser 2

maka akan diperoleh persamaan


seperti rumus pada sistem R 2 .2 L
jembatan Weatstone : X
R1  R 2

360
dimana ; R1 dan R2 = tahanan lokasi gangguan pada lapisan
geser diantara c pelindung kabel.
L = panjang kabel ( 2L karena
rangkaian tertutup). 1. Cara pengukuran.
X = Jarak lokasi kerusakan dari
a. Mengisolasi kabel gangguan
titik ukur.
dengan cara melepas plat
penghubung diantara kedua sisi
Tahanan geser mempunyai
pada links boxes.
tingkat dari 0 – 100, yang akan
b. Hubungkan alat ukur jembatan
dibaca dan menjadi acuan
Murray ke terminal dari lead
perhitungan prosentase jarak untuk
sheath dari kabel yang rusak.
menentukan jarak dari titik ukur ke
Seperti gambar dibawah ini .

6 atau 12 Volt
(aki mobil)

sheath

G
+ -
E

Gambar 8.7 : mencari lokasi kerusakan PE oversheath dgn jembatan Murray

x Sambungkan kabel pelindung sistem Murrsay seperti pada


(PE oversheaths) pada terminal gambar.
‘ + ‘ dan konduktor utama x Nyalakan alat dengan menekan
disambungkan pada terminal ‘ saklar on dan biarkan beberapa
– ‘ pada alat ukur Murray. menit untuk pemanasan alat.
Hubungkan batere sehingga x Masukan saklar ‘S’ dari batere
menjadi rangkaian tertutup eksternal dan atur nilai R1 dan

361
R2 sehingga galvanometer didalam diluar permukaan tanah
menunjuk nilai ‘0’. Dan akan yang disebabkan oleh mengalirnya
diperoleh prosentasi jarak arus ke dalam dan keluar dari titik
lapisan pelindung kabel yang gangguan, arus yang secara tiba-
mengalami kerusakan. tiba menjadi besar atau maksimum
maka arus sebagai indikasi yang
c. Mendeteksi lokasi gangguan PE berupa arah jarum dan besarnya
oversheath di kabel dengan tegangan (polarity) dan menjadi
sistem elektrode. petunjuk perbedaan (arah dari arus
bocor) arus DC antara konduktor
dan lapisan pelindung dan dari
tanah. Perbedaan potensial tsb
diatas terjadi diatas permukaan
jalur kabel sehingga dengan
menggunakan voltmeter atau
galvanometer yang dilengkapi
dengan elektrode sebagai
2. Prinsip kerja penghantar dan pendeteksi lokasi
gangguan.
Metode ini menggunakan sifat
karakteristik dari potensial listrik

362
Galvanometer atau voltmeter

elektrode

Electric potential

Power source
Immediately above
Electric difference
the fault point

Gambar 8.8 : mencari lokasi kerusakan PE


c. metoda pengukuran. Tentukan arah arus dilihat dari
arah penunjukan jarum dari
x Kabel yang gangguan diisolir voltmeter atau galvanometer
dengan cara melepas plat sehingga dapat diketahui lokasi
penghubung diantara kedua gangguan. (ketika tegangan
ujung link boxes. sumber DC ‘+’ tersambung pada
x Sambungkan sumber DC salah satu elektrode dan pointer
(generator DC tegangan tinggi) pada galvanometer akan membuat
ke terminal pada link boxes arah penyimpangan semakin besar
yang tersambung dengan berarti sudah dekat dengan lokasi
lapisan pelindung (leadsheath) gangguan dan akan berbalik jika
dari kabel yang gangguan. lokasi gangguan terlewati).
x Alirkan arus DC dengan bentuk x Persempit electrode pada
pulsa ke kabel yang gangguan. lokasi dimana penyimpangan
x Masukan batang elektroda jarum paling besar.
diatas permukaan tanah
dimana kabel yang gangguan.
363
kabel

DC
POWER
SUPPLA - G G G G

+
diketanahkan
Lokasi ggangguan

Gambar 8.9. Metoda pengukuran


Penyimpangan jarum
Penyimpangan berbalik

G G G G

Lokasi
PVC/ PE sheath

Lead sheath

Batere (DC /pulse)

Pembacaan
sisi l t

+
_
Gambar 8.10. Metoda pengukuran

364
d. Memperbaiki P.E. oversheath pada kabel.

Jika P.E. oversheath pada kabel mengalami kerusakan, dan telah dibuktikan
maka prioritas selanjutnya adalah perbaikan. Setelah diperbaiki maka untuk
membuktikan bahwa kabel sudah layak dioperasikan maka perlu dilakukan
pengujian-pengujian untuk menjamin bahwa kabel laik untuk dioperasikan.
aminannya adalah hasil pekerjaan yang benar yaitu langkah2 perbaikan yang
baik dan benar seperti berikut :.

Kerusakan pada P.E.


over sheath dari
suatu kabel.

X
A

Pelapisan pelindung
dengan resin / glass
tape atau heat
shrinkcabel tube.

X
B

Anti – corrosion tape


( polyethylene) P.E.
Adhesive tape.
X

Adhesive tape
Water proof tape.

D
Gambar 8.11. Metoda pengukuran

365
Metoda perbaikan P.E. & PVC over- 1.Case A : Kerusakan
sheath. diperkiraan tidak dari
3.1. pertama bagian yang rusak luar kabel.
pada P.E atau PVC over
sheath berupa serabut kawat Pada kasus ini kabel harus
atau sejenis tape yang dipadamkan segera (tidak
berserabut dibersihkan. dioperasikan).
3.2. bersihkan dengan sikat dan Lakukan pemeriksaan sebagai
bersihkan seluruh permukaan. berikut :
3.3. lakukan separuh (½) dari a. Perubahan yang terjadi pada
lapisan epoxy resin dan glass bentuk lead sheath.
tape. b. Kerusakan pada screen/lapisan
3.4. gunakan pelindung dari pelindung.
heatshrink tube atau PVC c. Kerusakan pada isolasi kabel.
adhesive tape dan ½ lapis anti d. Air didalam kabel.
corrosive tape (polyethylene). e. Benda asing yang
3.5. gunakan dua ½ lapis dari mengakibatkan kontaminasi.
water-proof tape dan dua ½ lap f. Gas yang sudah terkontaminasi
lapisan P.E dan PVC adhesive pada kabel.
tape. Berdasarkan penjelasan
tersebut diatas ketentuan yang
8.20. Memperbaiki kerusakan harus dilakukan dapat diputuskan.
Kabel (kerusakan Jika kabel dengan kondisi
eksternal). dapat diperbaiki maka perbaikan
sesuai dengan kondisinya, tetapi
8.20.1.Memperbaiki kerusakan jika tidak dapat maka kabel baru
lead sheath kabel. digunakan untuk menyambung
yang rusak.
Perbaikan dapat dilaksanakan
jika telah diketemukan lokasi 2. Case B:
kerusakan pada sheath dan
dilakukan setelah memenuhi. Terdapat lubang atau keretakan
petunjuk yang dijelaskan dibawah pada lead sheath. Setelah
ini. penggalian tanah diatas kabel
x Kabel harus bebas tegangan. selesai maka P.E over sheath dan
x Case A : Kerusakan serat pelindung maka perbaikan
diperkiraan tidak dari luar dapat dilaksanakan dengan
kabel. langkah-langkah sbb :.
x Case B : Terdapat lubang a. Jika kondisi terjadi kebocoran
atau keretakan pada lead kecil karena tertusuk benda
sheath. runcing atau karena retak kecil
maka.
1). Sumbat lubang bocor dan
dengan menggunakan palu
serta pemukulan yang tidak
terlalu keras sehingga lubang
366
tertutup. Sama caranya untuk glass diatas semua permukaan
menutup keretakan digunakan lapisan tahan minyak.
palu dan lubang keretakan 4). Gunakan 4 lapis lembaran dari
ditutup dulu kemudian dapat F-CO tape (anti corrosive
digunakan cara plumbing yang tape/polyenthylene) dan
disapukan disekitar lokasi yang ditambah 2 lapisan lembaran
retak. BALCO (waterproof tape) dan 2
2). Gunakan fibrous tape dan lapisan lembaran P.E adhesive
reinforcement tape untuk tape.
melapisi lead sheath c.pada Multymetal.
i.
lokasi kerusakan serta Setelah melapisi P.E
oversheath, fibrous tape dan
3). Perbaikan oversheath dari reinforcement, dilakukan
kabel tsb. pembersihan ditempat terjadi
Langkah tersebut diatas sudah kerusakan.
mencukupi untuk mengatas 5). Tutup valve dikedua sisi
kebocoran karena lubang atau pengisian minyak kabel dan
retak pada lead sheath sehingga gunakan campuran multymetal
tidak terjadi kebocoran. untuk melapisi di daerah yg
mengalami kerusakan.
b. Jika kondisi tersebut diatas, 6). (lakukan langkah seperti pada
walaupun sedikit kebocoran kasus 2) – (3 – 4).
tetapi mempunyai
kecenderungan menjadi 8.20.2. Mengganti Kabel yang
kebocoran yang lebih besar rusak.
maka.
1). Setelah mengupas P.E. Jika kerusakan terjadi pada
oversheath, fibrous tape dan kabelnya sendiri, tetapi jika screen
reinforcement , diperlukan dan insulation paper tidak rusak
penguat dengan cara maka kabel dapat dioperasikan
mensolder pada daerah yg dalam waktu yang cukup lama
mengalami kerusakan. setelah lead sheath, P.E.
2). Gunakan 6 lapisan tape yang oversheath dan pembersihan/filter
tahan minyak dari pita plastik minyak isolasi telah dilakukan pada
pada pada daerah yg kabel tsb.
mengalami kerusakan. Kabel yang telah mengalami
3). Kemudian gunakan 4 lapisan kerusakan maka kabel dipotong
tape epoxy resin impregnated dan tidak digunakan lagi sehingga
perlu kabel baru sebagai pengganti.

367
Lokasi gangguan

Kabel yang diganti


Sambungan Kabel
Kabel lama

Kabel baru

Gambar 8.12. Metoda pengukuran

panjang kabel pengganti sangat pentanahan menggunakan alat


tergantung dengan kondisi yang bertegangan 1000 volt dc,
kerusakan seperti kandungan air hasil ukurnya harus lebih besar
pada isolasi, tingkat kontaminasi 100 Mȍ. Pengukuran ini pertama
minyak kabel dan kondisi kali dilakukan setelah kabel
disekitar selesai disambung.
permukaan tanah dari jalur
kabel 2). Tahanan DC dari konduktor.
tersebut.
Pengukuran tahanan dc
sambungan konduktor yang
1. Testing setelah kabel
setelah diperbaiki, hasil
diperbaiki.
pengukuran tahanan dc pada 20º
C adalah 0.0754 ȍ/Km (max)
Pelaksanaan testing dilakukan
pada kabel minyak uk 240 mm².
oleh petugas yang berkompetensi
Jenis Pengukuran yang kedua
enginir untuk menjamin kelayakan
dilakukan setelah kabel selesai
kabel tersbut apakah dapat
disambung.
dioperasikan apa tidak setelah
diperbaiki. Semua hasil pengujian
3). Pengujian oversheath.
dicatat dan dianalisa untuk
menentukan kelayakan kabel tsb. Pengujian dilakukan setelah
surge diverters dilepas agar pada
a. Kabel minyak saat pengujian tidak mengakibatkan
kerusakan akibat tegangan uji.
1). Pengujian tahanan isolasi
Semua instalasi yang menjadi
kabel.
ketentuan seperti sheats insulatios,
external joint insulation, terminal
Pengukuran isolasi
base insulation pada bonding leads
dilaksanakan dengan
dan link boxes, insulation sections
mengukur tahanan isolasi
pada pipa minyak serta yang
diantara konduktor terhadap
lainnya dari kabel yang perbaiki
368
akan menjadi subyek pengujian (tergantung route dan profil dan
tahanan dengan memberikan satuannya (KN/m²).
tegangan DC 10 kV selama 5 Q = nilai aliran (liter per detik).
menit. Jenis Pengukuran yang L = panjang seksi kabel (m).
ketiga dilakukan setelah kabel b = koefisien gesekan minyak pada
selesai disambung dan telah kabel (MN/m6 ).
teriisi minyak kembali. atau pipa bulat adalah:
3
2 , 54 n u 10
b. Test tegangan tinggi. b
r4
Perbaikan sirkit kabel yang rusak
Dimana n = viskositas dari minyak
setelah selesai perbaikan tekanan
9centipoise) pada temperatur pengujian.
minyak telah normal harus
r = radius bagiandalam (mm) daratau
dilakukan pengujian dengan
kabel diukur bagian dalam (r = 7 mm)
tegangan tinggi DC antara
konduktor dan sheats selama 15
Jika Kabelnya single core maka secara
menit. Pengujian ini semua seksi
teori tekanan nya aliran minyak akan
dari kabel harus disambung
memberikan tekanan pada setiap kabel
walaupun secara temporary. Arus
adalah sbb :
tegangan searah akan mengalir
pada kabel melalui alat test uang
(2)
disambung pada ujung kabel P QbL u 10
(sealing end) baik yang sf6 maupun
yang konvensional yang telah Dimana : P = perbedaan tekanan
dilepas dengan sambungan ke GIS pada seksi kabel tsb. (tergantung route
atau peralatan lain. dan profil dan satuannya (KN/m²).
Q = nilai aliran (liter per detik).
c. Pengujian aliran Minyak. (oil L = panjang seksi kabel (m).
flow test). b = koefisien gesekan minyak pada
kabel (MN S/m6 ).
Setelah perbaikan, setiap seksi Untuk kabel atau pipa bulat
minyaknya harus diukur alirannya, adalah:
hal tersbut untuk menjamin tidak
ada ketidak normalan aliran minyak 2 , 54 n u 10 3
b
pada saluran Kabel minyak tsb. r4
Pengukuran dilaksanakan
dengan menuangkan/mengalirkan Dimana n = viskositas dari minyak
minyak bertekanan keluar sebagai 9centipoise) pada temperatur pengujian.
salah satu mengukur aliran minyak r = radius bagian dalam (mm) dari pipa
bertekanan. atau kabel diukur bagian dalam (r = 7
Teori drop tekanan dengan mm)
rumus sbb :
P QbL perbandingan aliran yang diperoleh dari
Dimana : P = perbedaan kabel yang baru selesai dipasang harus
tekanan pada seksi kabel tsb. diingatkan bahwa hal tsb sudah
termasuk semua sambungan pada seksi

369
kabel tsb dan hal tersebut hanya
menjadi gambaran dalam 1 Kg 7.35559 u 10 2 mmHg
cm 2
pemeliharaan dan petunjuk.
Perhitungan itu tidak menunjukan 1 Kg 98 .067 KN
gangguan tak semestinya dari cm 2 m2
sistem kabel tsb. 1 Bar 1 .02 kg
cm 2
Dalam membandingkan aliran yang
d. Test kooefisient impregnasi. diperoleh pada kabel yang sehat, harus
diingat bahwa semua joint akan ikut
Setelah selesai secara terukur dan secara gambaran teoritis
lengkap penggelaran kabel dan hanya beberapa saja yang kondisinya
penyambungannya, setiap seksi baik dan dijadikan referensi.
minyaknya harus diperiksa dengan Hasil pengujian menunjukan tak
tujuan efisiensi dari minyak semestinya tidak ada gangguan pada
impregnasi dengan cara sbb : sistim. Tetsting ini akan dikerjakan
manometer air raksa (mercury) setelah penggantian kabel atau isolasi
dihubungkan ke kabel dimana sambungan.
sistim instalasi minyaknya ditutup
dan sisakan sedikit minyak,
8.21. Auxiliary Cable.
biarkan beberapa menit agar
1. Continyuity Test
stabil, kemudian diukur jumlahnya
minyak yang tarikannya
Setelah kabel digelar maka sebelum
menyebabkan penurunan tekanan
disambung diperlukan periksa
yang telah diketahui. Koefisient
kontinyuitas dari semua konduktor
impregnasi K didifinisikan sebagai
sebagai konfirmasi.
berikut, tidak boleh leibih besar
dari 4.5x 10-4 :
2. test tegangan pada lapisan anti
dV 1
K u karat (anti corrosion sheath)
V dP
Dimana : Panjang kabel kabel akan tetap
dV = volume minyak yang tersisa setelah digelar dan sebelum
(liter) disambung tegangan DC 4 kV per
dP = dorpnya tekanan (mmHg). mm dari tebalnya lapisan (seperti
V = volume minyak didalam seksi yang tertulis pada spesifikasi teknik
kabel (liter) termasuk isolasi dari kabel tsb) digunakan untuk
penghubung tangki. menguji ketahanan lapisan terhadap
armour dan permukaan luar untuk
Ketika kondisi kabel dalam beberapa menit.
keadaan alat monitornya terpasang
setiap kabel akan diuji secara 3. test tahanan isolasi
terpisah.
Setelah kabel digelar maka sebelum
disambung harus diukur tahanan
isolasi secara individu diantara setiap
kabel serta terhadap armour.

370
Menggunakan alat ukur tahanan
dengan tegangan operasi 500
Volt DC untuk satu menit dan
jangan menggunakan alat
dengan tegangan 5000 V dan
temperatur 20ºC. Pengukuran
tahanan isolasi dilanjutkan lagi
setiap kabel telah tersambung
dengan kabel yang lain dan hasil
tidak boleh lebih kecil dari 50
MǷ/km dan lebih kecil 90 % jika
hasil pengukuran lebih besar
dari 1000 Mȍ/km.

4. Test Ketahanan Tegangan.


Setelah lengkap memasang
kabel maka kabel tersebut harus
diuji ketahanan terhadap
tegangan. Ketahanan Tegangan
kabel adalah antara konduktor
dan konduktor lainnya dan
terhadap armournya yang
terhubung ketanah. Tegangan
dinaikan secara bertahap dan
dipertahanankan selama 1 (satu)
menit. Beberapa hal yang harus
diperhatikan yaitu :
Kabel type 15 kV. Maka
digunakan tegangan 15 kV DC
antara konduktor dan armour.
Jika kabel telah dihubungan
dengan beban yang mungkin
berbentuk koil maka spesifikasi
koil dan beban lain sangat
diperhatikan dan jika perlu
didiskusikan terlebih dulu
dengan engineer yang lebih ahli.

5. Cross Talk.
Cross talk antara urat
(pair) kabel diukur dan tidak
boleh lebih jelek lagi dari nilai 74
dB pada frekuensi 1300 Hz dan
kondisi kabel pada keadaan
seimbang.

371
BAB IX.
PROTEKSI SISTEM PENYALURAN

Relai adalah suatu alat yang diamankan ke Relai (besaran


bekerja secara otomatis untuk listrik sekunder)
mengatur/ memasukan suatu 3. Pemutus Tenaga (PMT) untuk
rangkaian listrik (rangkaian trip atau memisahkan bagian sistem yang
alarm) akibat adanya perubahan terganggu.
lain. 4. Baterai beserta alat pengisi
(bateray charger) sebagai
9.1.Perangkat Sistem Proteksi. sumber tenaga untuk bekerjanya
relai, peralatan bantu triping.
Proteksi terdiri dari
5. Pengawatan (wiring) yang terdiri
seperangkat peralatan yang
dari sirkit sekunder (arus
merupakan sistem yang terdiri dari
dan/atau tegangan), sirkit triping
komponen-komponen berikut :
dan sirkit peralatan bantu.
1. Relai, sebagai alat perasa untuk
Secara garis besar bagian dari
mendeteksi adanya gangguan
Relai proteksi terdiri dari tiga bagian
yang selanjutnya memberi
utama, seperti pada blok diagram
perintah trip kepada Pemutus
(gambar.9.1), dibawah ini :
Tenaga (PMT).
2. Trafo arus dan/atau trafo
tegangan sebagai alat yang
mentransfer besaran listrik
primer dari sistem yang
Ke rangkaian
Pemutus/sinyal

Elemen Elemen
Elemen Pengindera Pengukur
Pembanding

Gambar 9.1 . Blok Diagram Relai proteksi

372
Masing-masing elemen/bagian Sebagai alat pembanding sekaligus
mempunyai fungsi sebagai berikut : alat pengukur adalah relai, yang
bekerja setelah mendapatkan
9.1.1.Elemen pengindera. besaran dari alat pengindera dan
membandingkan dengan besar
Elemen ini berfungsi untuk
arus penyetelan dari kerja relai.
merasakan besaran-besaran listrik,
Apabila besaran tersebut tidak
seperti arus, tegangan, frekuensi,
setimbang atau melebihi besar arus
dan sebagainya tergantung relai
penyetelannya, maka kumparan
yang dipergunakan.
Relai akan bekerja menarik kontak
Pada bagian ini besaran yang
dengan cepat atau dengan waktu
masuk akan dirasakan keadaannya,
tunda dan memberikan perintah
apakah keadaan yang diproteksi itu
pada kumparan penjatuh (trip-coil)
mendapatkan gangguan atau dalam
untuk bekerja melepas PMT.
keadaan normal, untuk selanjutnya
Sebagai sumber energi/penggerak
besaran tersebut dikirimkan ke
adalah sumber arus searah atau
elemen pembanding.
baterai.
9.1.2. Elemen pembanding.
Gambar 9.2. Rangkaian Relai
Elemen ini berfungsi menerima proteksi sekunder
besaran setelah terlebih dahulu
besaran itu diterima oleh elemen Relai
oleh elemen pengindera untuk
membandingkan besaran listrik C
pada saat keadaan normal dengan
besaran arus kerja relai.

9.1.3. Elemen pengukur/penentu.


Elemen ini berfungsi untuk
mengadakan perubahan secara
Rangkaian
cepet pada besaran ukurnya dan
akan segera memberikan isyarat
untuk membuka PMT atau
memberikan sinyal. 9.1.4. Fungsi dan Peranan Relai
Pada sistem proteksi Proteksi
menggunakan Relai proteksi
sekunder seperti gambar 9. 2 Maksud dan tujuan pemasangan
Relai proteksi adalah untuk
Transformator arus ( CT ) mengidentifikasi gangguan dan
berfungsi sebagai alat pengindera memisahkan bagian jaringan yang
yang merasakan apakah keadaan terganggu dari bagian lain yang
yang diproteksi dalam keadaan masih sehat serta sekaligus
normal atau mendapat gangguan. mengamankan bagian yang masih

373
sehat dari kerusakan atau kerugian gangguan tersebut dengan
yang lebih besar, dengan cara : rangsangan minimum dan bila
1. Mendeteksi adanya gangguan perlu hanya mentripkan pemutus
atau keadaan abnormal lainnya tenaga (PMT) untuk memisahkan
yang dapat membahayakan bagian sistem yang terganggu,
peralatan atau sistem. sedangkan bagian sistem yang
2. Melepaskan (memisahkan) sehat dalam hal ini tidak boleh
bagian sistem yang terganggu terbuka.
atau yang mengalami keadaan
abnormal lainnya secepat 9.2.2. Selektif.
mungkin sehingga kerusakan
Selektivitas dari relai proteksi
instalasi yang terganggu atau
adalah suatu kualitas kecermatan
yang dilalui arus gangguan
pemilihan dalam mengadakan
dapat dihindari atau dibatasi
pengamanan. Bagian yang terbuka
seminimum mungkin dan
dari suatu sistem oleh karena
bagian sistem lainnya tetap
terjadinya gangguan harus sekecil
dapat beroperasi.
mungkin, sehingga daerah yang
3. Memberikan pengamanan
terputus menjadi lebih kecil.
cadangan bagi instalasi lainnya.
Relai proteksi hanya akan
4. Memberikan pelayanan
bekerja selama kondisi tidak normal
keandalan dan mutu listrik yang
atau gangguan yang terjadi
tbaik kepada konsumen.
didaerah pengamanannya dan tidak
5. Mengamankan manusia
akan bekerja pada kondisi normal
terhadap bahaya yang
atau pada keadaan gangguan yang
ditimbulkan oleh listrik.
terjadi diluar daerah
pengamanannya
9.2. Syarat-syarat Relai Proteksi
Dalam perencanaan sistem 9.2.3. Cepat.
proteksi, maka untuk mendapatkan
Makin cepat relai proteksi
suatu sistem proteksi yang baik
bekerja, tidak hanya dapat
diperlukan persyaratan-persyaratan
memperkecil kemungkinan akibat
sebagai berikut :
gangguan, tetapi dapat
memperkecil kemungkinan
9.2.1. Sensitif.
meluasnya akibat yang ditimbulkan
Suatu Relai proteksi bertugas oleh gangguan.
mengamankan suatu alat atau
suatu bagian tertentu dari suatu 9.2.4. Andal.
sisitem tenaga listrik, alat atau
Dalam keadaan normal atau
bagian sisitem yang termasuk
sistem yang tidak pernah terganggu
dalam jangkauan pengamanannya.
relai proteksi tidak bekerja selama
Relai proteksi mendetreksi
berbulan-bulan mungkin bertahun-
adanya gangguan yang terjadi di
tahun, tetapi relai proteksi bila
daerah pengamanannya dan harus
diperlukan harus dan pasti dapat
cukup sensitif untuk mendeteksi
374
bekerja, sebab apabila relai gagal dihindari dan kestabilan sistem
bekerja dapat mengakibatkan dapat terjaga.
kerusakan yang lebih parah pda Sebaliknya jika proteksi gagal
peralatan yang diamankan atau bekerja atau terlalu lambat bekerja,
mengakibatkan bekerjanya relai lain maka arus gangguan ini
sehingga daerah itu mengalami berlangsung lebih lama, sehingga
pemadaman yang lebih luas. panas yang ditimbulkannya dapat
.Untuk tetap menjaga mengakibatkan kebakaran yang
keandalannya, maka relai proteksi hebat, kerusakan yang parah pada
harus dilakukan pengujian secara peralatan instalasi dan ketidak
periodik. stabilan sistem.
Tangki trafo daya yang
9.2.5. Ekonomis. menggelembung atau jebol akibat
gangguan biasanya karena
Dengan biaya yang sekecilnya-
kegagalan kerja atau kelambatan
kecilnya diharapkan relai proteksi
kerja proteksi. Kegagalan atau
mempunyai kemampuan
kelambatan kerja proteksi juga akan
pengamanan yang sebesar-
mengakibatkan bekerjanya proteksi
besarnya.
lain disebelah hulunya (sebagai
remote back up) sehingga dapat
9.2.6. Sederhana.
mengakibatkan pemadaman yang
Perangkat relai proteksi lebih luas atau bahkan runtuhnya
disyaratkan mempunyai bentuk sistem (collapse).
yang sederhana dan fleksibel.
Kegagalan atau kelambatan
9.3. Penyebab Terjadinya kerja proteksi dapat disebabkan
Kegagalan Poteksi antara lain oleh :

Jika proteksi bekerja - Relainya telah rusak atau tidak


sebagaimana mestinya, maka konsisten bekerjanya.
kerusakan yang parah akibat - Setelan (seting) Relainya tidak
gangguan mestinya dapat benar(kurang sensitif atau
dihindari/dicegah sama sekali, atau kurang cepat).
kalau gangguan itu disebabkan - Baterainya lemah atau
karena sudah adanya kerusakan kegagalan sistem DC suply
(insulation break down di dalam sehingga tidak mampu
peralatan), maka kerusakan itu mengetripkan PMT-nya.
dapat dibatasi sekecilnya. - Hubungan kotak kurang baik
Proteksi yang benar harus pada sirkit tripping atau
dapat bekerja cukup cepat, selektif terputus.
dan andal sehingga kerusakan - Kemacetan mekanisme tripping
peralatan yang mungkin timbul pada PMT-nya karena kotor,
akibat busur gangguan atau pada karat, patah atau meleset.
bagian sistem/peralatan yang - Kegagalan PMT dalam
dilalalui arus gangguan dapat memutuskan arus gangguan
375
yang bisa disebabkan oleh arus dengan sendirinya bila PMT
gangguanya terlalu besar terbuka, misalnya sambaran petir
melampaui kemampuan yang menyebabkan flash over pada
pemutusan (interupting isolator SUTT. Pada keadaan ini
capability), atau kemampuan PMT dapat segera dimasukan
pemutusannya telah menurun, kembali, secara manual atau
atau karena ada kerusakan. otomatis dengan AutoRecloser.
- Kekurang sempurnaan Gangguan permanen adalah
rangkaian sistem proteksi gangguan yang tidak hilang dengan
antara lain adanya hubungan sendirinya, sedangkan untuk
kontak yang kurang baik. pemulihan diperlukan perbaikan,
- Kegagalan saluran komunikasi misalnya kawat SUTT putus.
tele proteksi.
- Trafo arus terlalu jenuh. 9.4.2. Gangguan Non Sistem
PMT terbuka tidak selalu
9.4. Gangguan Pada Sistem
disebabkan oleh terjadinya
Penyaluran
gangguan pada sistem, dapat saja
PMT terbuka oleh karena relai yang
Jaringan tenaga listrik yang
bekerja sendiri atau kabel kontrol
terganggu harus dapat segera
yang terluka atau oleh sebab
diketahui dan dipisahkan dari
interferensi dan lain sebagainya.
bagian jaringan lainnya secepat
Gangguan seperti ini disebut
mungkin dengan maksud agar
gangguan bukan pada sistem,
kerugian yang lebih besar dapat
selanjutnya disebut gangguan non–
dihindarkan.
sistem.
Gangguan pada jaringan
Jenis gangguan non-sistem
tenaga listrik dapat terjadi
antara lain :
diantaranya pada pembangkit,
ƒ kerusakan komponen relai ;
jaringan transmisi atau di jaringan
ƒ kabel kontrol terhubung singkat ;
distribusi. Penyebab gangguan
ƒ interferensi / induksi pada kabel
tersebut tersebut dapat
kontrol.
diakibatkan oleh gangguan sistem
dan non sistem.
9.5. Proteksi Penghantar
9.4.1. Gangguan Sistem Jaringan tenaga listrik secara
garis besar terdiri dari pusat
Gangguan sistem adalah
pembangkit, jaringan transmisi
gangguan yang terjadi di sistem
(gardu induk dan saluran transmisi)
tenaga listrik seperti pada
dan jaringan distribusi, seperti
generator, trafo, SUTT, SKTT dan
diperlihatkan pada gambar 9.3.
lain sebagainya. Gangguan sistem
dapat dikelompokkan sebagai
gangguan permanen dan gangguan
temporer. Gangguan temporer
adalah gangguan yang hilang
376
PUSAT LISTRIK TRANSMISI GARDU DISTRIBUSI
INDUK

P G
M

Gambar 9.3. Jaringan sistem tenaga listrik

Dalam usaha untuk meningkatkan Blok diagram Sistem proteksi


keandalan penyediaan energi listrik, Penghantar diperlihatkan pada
kebutuhan sistem proteksi yang Gambar 9. 4.
memadai tidak dapat dihindarkan.

Perintah buka

Transmisi

Relai Sinyal kirim Relai


Masukan
Proteksi Sinyal terima Proteksi
besaran arus
dan tegangan

Catu Daya
(battere)

Indikasi relai
Evaluasi
Data Scada

Disturbance Recorder

Gambar 9.4. Blok diagram sistem proteksi Penghantar

377
Sistem proteksi jaringan (SUTT Jawa dan untuk selanjutnya akan
dan SUTET) terdiri dari Proteksi disebut sebagai pola standar.
Utama dan Proteksi Cadangan. Namun demikian, disamping pola
Relai untuk proteksi utama yang yang standar terdapat dua pola lain
dikenal saat ini : yang non standar.
a) Distance Relai Pola non standar yang pertama
ƒ Basic atau Step mempunyai dua LP, yaitu : i) LP(a)
ƒ PUTT berupa Directional Comparison
ƒ POTT (DC) dari jenis Non-Impedance
ƒ Blocking Relai, yang di-backup oleh sebuah
b) Differential Relai Distance Relai tanpa Tele Proteksi,
ƒ Pilot ii) LP(b) berupa distance Relai +
ƒ Current DEF dengan Tele Proteksi, yang di-
ƒ Phase backup oleh sebuah Distance Relai
c) Directional Comparison Relai tanpa Tele Proteksi. Pola ini hanya
ƒ Impedance digunakan pada SUTET Saguling -
ƒ Current Cirata 1.
ƒ SuperImposed Pola non standar yang kedua
Proteksi Cadangan adalah sebagai mempunyai LP(a) berupa Phase
berikut : Comparison yang di backup oleh
ƒ Sistem proteksi cadangan lokal Distance Relai tanpa Tele Proteksi,
: OCR & GFR dan LP(b) berupa Distance Relai +
ƒ Sistem proteksi cadangan jauh : DEF dengan Tele Proteksi yang di-
Zone 2 GI remote backup oleh Distance Relai tanpa
Tele Proteksi. Pola ini hanya
9.6. Sistem Proteksi SUTET digunakan pada SUTET Saguling -
Cirata 2.
Pada dasarnya, hanya ada
satu pola pengaman SUTET yang
dipakai pada sistem transmisi 500
kV di pulau Jawa, yaitu suatu pola
yang menggunakan dua Line
Protection (LP) berupa Distance
Relai (Z) + Tele Proteksi (TP) yang
identik, disebut LP(a) dan LP(b).
Pada setiap LP terdapat Directional
Earth Fault Relai (DEF) sebagai
komplemennya.
Pola ini selanjutnya dilengkapi
dengan Reclosing Relai untuk
melakukan SPAR. Pola ini dipakai
di hampir seluruh SUTET PLN di

378
Tabel 9.1. Pola Standar

Pola LPa LPb


Main Backup Main Backup
Pola standar Z+DEF+TP Z Z+DEF+TP Z
Pola non DC Z Z+DEF+TP Z
standar I
Pola non PC Z Z + TP Z
standar II

9.7. Media Telekomunikasi


9.8. Distance Relai ( Relai Jarak)
Media PLC dapat digunakan
untuk Distance Relai, Comparison Relai jarak digunakan sebagai
Directional Relai, dan Comparison pengaman utama (main protection)
Phase Relai. Media Fibre Optic pada SUTT/SUTET dan sebagai
dapat digunakan untuk Distance backup untuk seksi didepan. Relai
Relai, relai directional comparison, jarak bekerja dengan mengukur
relai phase comparison, dan relai besaran impedansi (Z) transmisi
current differential. dibagi menjadi beberapa daerah
Media Micro Wave dapat cakupan yaitu Zone-1, Zone-2,
digunakan untuk distance Relai, Zone-3, serta dilengkapi juga
relai directional comparison, relai dengan teleproteksi (TP) sebagai
phase comparison, dan relai current upaya agar proteksi bekerja selalu
differential. Kabel Pilot dapat cepat dan selektif di dalam daerah
digunakan untuk relai pilot pengamanannya.
differential.

Zone-3

Zone-2

Zone-1

Gambar .9.5. Daerah pengamanan relai jarak

9.8.1. Prinsip Kerja Relai Jarak arus, maka impedansi sampai titik
terjadinya gangguan dapat di
Relai jarak mengukur tegangan
tentukan. Perhitungan impedansi
pada titik relai dan arus gangguan
dapat dihitung menggunakan
yang terlihat dari relai, dengan
rumus sebagai berikut :
membagi besaran tegangan dan
379
Zf = Vf/If ƒ Bila harga impedansi ganguan
Dimana : lebih kecil dari pada impedansi
Zf = Impedansi (ohm) seting relai maka relai akan
Vf = Tegangan (Volt) trip.
If =Arus gangguan ƒ Bila harga impedansi ganguan
Relai jarak akan bekerja lebih besar dari pada impedansi
dengan cara membandingkan seting relai maka relai akan
impedansi gangguan yang terukur tidak trip.
dengan impedansi seting, dengan Gambar 9.6. merupakan block
ketentuan : diagram relai jarak yang terpasang
di instalasi yang terdiri dari :

HV APPARATUS MK PANEL RELAI

M MCB VT Bus
PMS
REL

Close
PMT

Trip Syncro
Chek (25)
CT
Rang. Arus

M Auto
Posisi PMT Rec (79)
PMS
LINE Mekanik PMT
PMS
TANAH Distance
Relai (21)

MCB VT Line

PANEL PLC

CR
CS

Gambar 9.6. Block diagram relai jarak

280
1. Peralatan tegangan tinggi (HV
apparatus) Pada saat terjadi gangguan
ƒ PMT tiga fasa yang simetris maka
ƒ PMS amplitudo tegangan fasa
ƒ CT VR,VS,VT turun dan beda fasa
ƒ PT Line dan Bus tetap 120 derajat. Impedansi yang
2. Marshalling Kios diukur relai jarak pada saat terjadi
ƒ MCB PT gangguan hubung singkat tiga fasa
ƒ MCB sumber AC/DC adalah sebagai berikut :
ƒ Terminal rangkaian arus (CT)
dan tegangan (PT). Vrelai = VR
ƒ Terminal limit switch PMT dan
Irelai=IR
PMS
ƒ Terminal rangkaian trip dan ZR= VR /IR
reclose
3. Panel Relai
Dimana,
ƒ MCB AC dan DC
ZR = impedansi terbaca oleh relai
ƒ Relai Jarak
VR = Tegangan fasa ke netral
ƒ Relai Lock Out
IR = Arus fasa
ƒ Aux. Relai
ƒ
9.7.4.Gangguan Hubung Singkat
4. Panel PLC
Dua Fasa
ƒ Sinyal Kirim (carrier send)
ƒ Sinyal terima (carrer reciept)
Untuk mengukur impedansi
ƒ Sinyal CIS
pada saat terjadi gangguan
hubung singkat dua fasa,
9.8.2. Pengukuran Impedansi
tegangan yang masuk ke
Gangguan Oleh Relai Jarak
komparator relai adalah tegangan
fasa yang terganggu, sedangkan
Menurut jenis gangguan pada
arusnya adalah selisih (secara
sistem tenaga listrik, terdiri dari
vektoris) arus-arus yang
gangguan hubung singkat tiga fasa,
terganggu. Maka pengukuran
dua fasa, dua fasa ke tanah dan
impedansi untuk hubung singkat
satu fasa ke tanah. Relai jarak
antara fasa S dan T adalah
sebagai pengaman utama harus
sebagai berikut :
dapat mendeteksi semua jenis
gangguan dan kemudian
V relai = VS – VT
memisahkan sistem yang terganggu
dengan sistem yang tidak terganggu. I relai = IS - IT

9.8.3. Gangguan Hubung Singkat


Tiga Fasa

381
Sehingga,
VS  VT
ZR =
IS  IT

Tabel. 9.2. Tegangan dan arus masukan relai untuk gangguan hubung
singkat dua fasa

Fasa yang Tegangan Arus


terganggu
R-S VR-VS IR - IS
S-T VS-VT I S - IT
T-R VT-VR IR - I T

9.8.5. Gangguan Hubung Singkat terganggu, sedangkan arus fasa


Satu Fasa Ke Tanah terganggu di tambah arus sisa dikali
factor kompensasi.
Untuk mengukur impedansi pada Misalnya terjadi gangguan hubung
saat hubung singkat satu fasa ke singkat satu fasa R ke tanah, maka
tanah, tegangan yang dimasukkan pengukuran impedansi dilakukan
ke relai adalah tegangan yang dengan cara sebagai berikut :

Tegangan pada relai : Vrelai = VR


Arus pada relai : I relai = IR+K0.In
Arus netral : In = IR + IS + IT
Kompensasi urutan nol : K0=1/3(Z0 - Z1/Z2)
Z1=VR/(IR+K0.In)

Tabel.9.3.Tegangan dan arus masukan relai untuk gangguan hubung singkat


satu fasa ke tanah

Fasa yang Tegangan Arus


terganggu
R-N VR IR + K0.In
S-N VS IS + K0.In
T-N VT IS + K0.In

Impedansi urutan nol akan timbul tersebut. Sehingga impedansi yang


pada gangguan tanah. Adanya K0 terukur menjadi benar.
adalah untuk mengkompensasi
adanya impedansi urutan nol
382
9.9. Karakteristik Relai Jarak sehingga mempunyai sifat non
directional. Untuk diaplikasikan
Karakteristik relai jarak sebagai pengaman SUTT perlu
merupakan penerapan langsung ditambahkan relai directional.
dari prinsip dasar relai jarak, ƒ Mempunyai keterbatasan
karakteristik ini biasa digambarkan mengantisipasi gangguan tanah
didalam diagram R-X. high resistance.
ƒ Karakteristik impedan sensitive
9.9.1. Karakteristik impedansi oleh perubahan beban,
terutama untuk SUTT yang
Ciri-ciri nya : panjang sehingga jangkauan
lingkaran impedansi dekat
ƒ Merupakan lingkaran dengan dengan daerah beban.
titik pusatnya ditengah-tengah,

X
ZL

Z1 Z2 Z3
R

Directional

Gambar 9.7. Karakteristik Impedansi

9.9.2. Karakteristik Mho ƒ Mempunyai keterbatasan untuk


mengantisipasi gangguan tanah
Ciri-ciri : high resistance.
ƒ Untuk SUTT yang panjang
ƒ Titik pusatnya bergeser dipilih Zone-3 dengan
sehingga mempunyai sifat karakteristik Mho lensa geser.
directional.

383
X
ZL

Z1 Z2 Z3

Gambar 9.8. Karakteristik Mho

X
ZL

Z1 Z2 Z3
R

Gambar 9.9. Karakteristik Mho


Z1,Z2 parsial Cross-polarise Mho, Z3 Lensa geser

9.9.3. Karakteristik Reaktance gangguan tanah dengan


tahanan tinggi.
Ciri-ciri :
ƒ Karateristik reaktance
mempunyai sifat non directional.
Untuk aplikasi di SUTT perlu
ditambah relai directional.
ƒ Dengan seting jangkauan
resistif cukup besar maka relai
reactance dapat mengantisipasi

384
X Z

Z3

Z2

Gambar 9. 10. Karakteristik Reaktance dengan Starting Mho

9.9.4. Karakteristik Quadrilateral

Ciri-ciri : karakteristik relai quadrilateral


ƒ Karateristik quadrilateral dapat mengantisipasi gangguan
merupakan kombinasi dari 3 tanah dengan tahanan tinggi.
macam komponen yaitu : ƒ Umumnya kecepatan relai lebih
reactance, berarah dan resistif. lambat dari jenis mho.
ƒ Dengan seting jangkauan
resistif cukup besar maka

X ZL

Z3

Z2

Z1
R

Gambar 9.11. Karakteristik Quadrilateral

385
9.10. Pola Proteksi 9.10.1. Pola Dasar
Agar gangguan sepanjang Ciri-ciri Pola dasar :
SUTT dapat ditripkan dengan ƒ Tidak ada fasilitas sinyal PLC
seketika pada kedua sisi ujung ƒ Untuk lokasi gangguan antara
saluran, maka relai jarak perlu 80 – 100 % relai akan bekerja
dilengkapi fasilitas teleproteksi. zone-2 yang waktunya lebih
lambat (tertunda).

Z1 Z1
TRIP TRIP

Z2 TZ2 OR OR TZ2
Z2

T
Z3
TZ3 TZ3 Z3

Z2 = Timer zone 2
TZ3 = Timer zone 3

Gambar 9.12. Rangkaian logic Basic Scheme


9.10.2. Pola PUTT (Permissive zone-2 bekerja disertai dengan
Underreach Transfer Trip) menerima sinyal. (carrier
receipt).
Prinsip Kerja dari pola PUTT : ƒ Bila terjadi kegagalan sinyal
ƒ Pengiriman sinyal trip (carrier PLC maka relai jarak kembali ke
send) oleh relai jarak zone-1. pola dasar.
ƒ Trip seketika oleh teleproteksi ƒ Dapat menggunakan berbeda
akan terjadi bila relai jarak type dan relai jarak.
.
CS CS

Z1 Z1
TRIP TRIP

Z2 TZ2 OR OR TZ2
Z2

C AND AND
C

CS = sinyal kirim Z2 = trip zone 2


CR = sinyal terima TZ2 = waktu trip zone 2

Gambar 9. 13. Rangkaian logic Pola PUTT


386
9.10.3. Permissive Overreach zone-2 bekerja disertai dengan
transfer Trip menerima sinyal (carrier
receipt).
Prinsip Kerja dari pola POTT : ƒ Bila terjadi kegagalan sinyal
ƒ Pengiriman sinyal trip (carrier PLC maka relai jarak kembali ke
send) oleh relai jarak zone-2. pola dasar.
ƒ Trip seketika oleh teleproteksi ƒ Dapat menggunakan berbeda
akan terjadi bila relai jarak type dan relai jarak.

CS CS

Z1 Z1
TRIP TRIP

Z2 TZ2 OR OR TZ2
Z2

CR AND AND
CR

CR = sinyal terima tZ2 = waktu trip zone 2


Gambar 9.14. Rangkaian logic Pola POTT

9.10.4. Pola Blocking (Blocking tidak ada penerimaan sinyal


Scheme) block. (carrier receipt).
Prinsip Kerja dari pola Blocking : ƒ Bila terjadi kegagalan sinyal
ƒ Pengiriman sinyal block (carrier PLC maka relai jarak akan
send) oleh relai jarak zone-3 mengalami mala kerja.
reverse. ƒ Membutuhkan sinyal PLC
ƒ Trip seketika oleh teleproteksi cukup half duplex.
akan terjadi bila relai jarak ƒ Relai jarak yang dibutuhkan
zone-2 bekerja disertai dengan merk dan typenya sejenis.
Z1 Z1
TRIP TRIP

TZ2 OR OR TZ2 Z2
Z2

AND AND
CR CR

Z3 TZ3 TZ2 Z3
Rev Re
v

AND CS AND
CS

Gambar 9. 15. Ranglaian Logic Blocking Scheme


287
9.10.5. Penyetelan Daerah Jangkauan pada Relai Jarak

Local bus Near and bus far and bus

Zone-3(A) Zone-3(B)

Zone-2(A) Zone-2(B)

Zone-1(A) Zone-1(B)

A B C

Gambar 9.16. Daerah penyetelan Relai jarak tiga tingkat

Relai jarak pada dasarnya 9.10.6. Penyetelan Zone-1


bekerja mengukur impadansi
Dengan mempertimbangkan
saluran, apabila impedansi yang
adanya kesalahan-kesalahan dari
terukur / dirasakan relai lebih kecil
data saluran, CT, PT, dan peralatan
impedansi tertentu akibat gangguan
penunjang lain sebesar 10% - 20 %
( Zset < ZF ) maka relai akan bekerja.
, zone-1 relai disetel 80 % dari
Prinsip ini dapat memberikan
panjang saluran yang diamankan.
selektivitas pengamanan, yaitu
Zone-1 = 0,8 . Z L1 (Saluran) ....
dengan mengatur hubungan antara
Waktu kerja relai seketika, (t1= 0)
jarak dan waktu kerja relai.
tidak dilakukan penyetelan waktu .
Penyetelan relai jarak terdiri dari
tiga daerah pengamanan,
9.10.7. Penyetelan Zone-2
Penyetelan zone-1 dengan waktu
kerja relai t1, zone-2 dengan waktu Prinsip peyetelan Zone-2
kerja relai t2 , dan zone-3 waktu adalah berdasarkan pertimbangan-
kerja relai t3 . pertimbangan sebagai berikut :

Zone-2 min = 1,2 . ZL1

388
Zone-2 mak = 0,8 (Z L1 + 0,8. ZL2) 1. Mendeteksi adanya
gangguan.
Dengan : ZL1 = Impedansi saluran 2. Menentukan jenis gangguan
yang diamankan. dan memilih fasa yang
ZL1 = Impedansi saluran berikutnya terganggu.
yang terpendek (: ) Prinsip penyetelan starting di bagi
2, yaitu :
Waktu kerja relai t2= 0.4 s/d 0.8 dt. 1. Starting arus lebih :
I fasa-fasa = 1.2 CCC atau ct
9.10.8. Penyetelan zone-3 I fasa-netral = 0.1. CCC atau ct
2. Starting impedansi
Prinsip penyetelan zone-3 Zsmin = 1.25 x Zone-3
adalah berdasarkan pertimbangan- Zs max= 0.5 x kV/(CCC atau
pertimbangan sebagai berikut : Ct x¥3)

Zone-3min = 1.2 ( ZL1 + 0,8.ZL2 ) 9.10.11. Penyetelan Resistif reach


Fungsi penyetelan resistif
Zone-3mak1 = 0,8 ( ZL1 + 1,2.ZL2 )
reach adalah mengamankan
gangguan yang bersifat high
Zone-3mak2 = 0,8 ( ZL1 + k.ZTR ) resistance. Prinsip penyetelan
resistif reach (Rb) tidak melebihi
Dengan : L1 = Impedansi saluran
dari kreteria setengah beban (1/2 Z
yang diamankan
beban ).
ZL2 = Impedansi saluran berikutnya
x Untuk system 70 kV :
yang terpanjang
Rb = 15 x Zone-1 x k0 x 2.
Waktu kerja relai t3= 1.2 s/d 1.6 dt.
x Untuk system 150 dan 500 kV :
Rb = 8 x Zone-1 x k0 x 2
9.10.9. Peyetelan zone-3 reverse
Fungsi penyetelan zone-3 9.10.12. Directional Comparison
reverse adalah digunakan pada Relai.
saat pemilihan teleproteksi pola
blocking. Dasar peyetelan zone-3 Relai penghantar yang prinsip
reverse ada dua jenis : kerjanya membandingkan arah
x Bila Z3 rev memberi sinyal trip. gangguan, jika kedua relai pada
Zone-3 rev = 1.5 Z2-ZL1 penghantar merasakan gangguan
x Bila Z3 rev tidak memberi sinyal di depannya maka relai akan
trip. bekerja. Cara kerjanya ada yang
Zone-3 rev = 2 Z2-ZL1. menggunakan directional
impedans, directional current dan
9.10.10. Penyetelan Starting superimposed.
Fungsi starting relai jarak adalah :

389
A B

t DIR DIR
t

T T

& R Signalling channel &


R

Gambar 9.17. Directional comparison relai

9.11. Current Differential Relai


Prinsip kerja pengaman differensial arus saluran transmisi mengadaptasi
prinsip kerja diferensial arus, yang membedakannya adalah daerah yang
diamankan cukup panjang sehingga diperlukan :
ƒ Sarana komunikasi antara ujung-ujung saluran.
ƒ Relai sejenis pada setiap ujung saluran.
Karena ujung-ujung saluran transmisi dipisahkan oleh jarak yang jauh
maka masing-masing sisi dihubungkan dengan :
ƒ kabel pilot
ƒ saluran telekomunikasi : microwave, fiber optic.

End A End B

I
IA IB

Relai A Relai B
Gambar 9.18. Relai arus differensial Transmisi

390
 Tanpa gangguan atau gangguan eksternal
IA +IB = 0
 Keadaan gangguan internal
IA +IB z 0 (= IF)

9.11.1. Pilot Relai

OP OP

B B
v v

Gambar 9. 19. Balanced Voltage

B B
I
OP OP

I
Gambar 9. 20. Circulating Current

Umumnya diterapkan untuk diferensial dengan circulating


mengatasi kesulitan koordinasi current atau relai diferensial dengan
dengan relai arus lebih pada balanced voltage seperti pada
jaringan yang kompleks atau sangat gambar.9.21.
pendekdan kesulitan koordinasi
dengan relai jarak untuk jaringan 9.11.2. Phase Comparison Relai
yang sangat pendek. Pada saluran
Prinsip kerja membandingkan
udara faktor pembatas dari relai ini
sudut fasa antara arus yang masuk
adalah panjang dari rangkaian pilot,
dengan arus yang keluar daerah
sedangkan pada saluran kabel
pengaman. Prinsip kerja diperlihat-
adalah arus charging kabel dan
kan pada gambar, 9.21. dimana
sistem pentanahan.
pada saat gangguan internal output
Prinsip kerja relai diferensial
dari comparator memberikan nilai 1
arus saluran transmisi yaitu relai

..
391
A B A B

a. Fasa arus di A

b. Logic fasa arus di A

c. Fasa arus di B

d. Logic fasa arus di B

Output comparator di A :
e=b+d

Output discriminator
Stability

Gangguan eksternal Gangguan internal

Gambar 9. 21. Gelombang sudut fasa pada Phase Comparison Relai

9.11.3. Super Imposed Directional Untuk gangguan di depan : ' Vr


Relai ‘-ø rep dan ' ir mempunyai
Elemen directional mengguna- polaritas yang berlawanan
kan sinyal superimposed sedangkan untuk gangguan di
belakang : ' Vr ‘ -ø rep dan ' ir
Superimposed = faulted - unfaulted mempunyai polaritas yang sama
Selama gangguan tegangan dan Arah ditentukan dari persamaan :
arus berubah sebesar 'Vr dan 'ir, Dop = | ' Vr ‘ -ø rep - ' ir | - | '
perubahan ini dikenal sebagai Vr ‘ -ø rep + ' ir |
besaran superimposed. Dop positip untuk gangguan arah
depan dan Dop negatip untuk
gangguan arah belakang

392
Forward Fault
' ir

t=0 ' Vr
Zs

- ' Vr - ' Vr
' ir = ' ir = ‘ -ø s
R Zs |Zs|
' ir ZL

' Vr
t=0
Zs

+ ' Vr + ' Vr ‘ -ø LS
' ir = ' ir =
Zs + ZL |Zs + ZL|

Gambar 9. 22. Prinsip pengukuran superimposed tegangan dan arus

Pht 1
67G
50G
67G
Pht 2

Gambar 9. 23. Rangkaian pengukuran Relai tanah selektif

393
9.11.4. Relai tanah selektif penghantar 1 > 67G penghantar 2.
(selection ground Relai) Apabila salah satu pmt penghantar
lepas relai 50 G tidak akan bekerja.
Rangkaian relai tanah selektif Setting waktu relai 50G umumnya <
(50G) dihubungkan seperti pada setting waktu 67G.
gambar. Jika ada gangguan satu Relai ini dipasang pada
fasa ke tanah pada penghantar 1 penghantar dengan sirkit ganda dan
maka relai 50G akan merasakan tidak dapat dioperasikan jika ada
gangguan demikian juga relai pencabangan dalam penghantar
directional ground (67G). tersebut (single phi atau single T).
Penghantar 1 akan trip karena 50G
kerja dan arus yang dirasakan 67G

9.11.5. Relai tanah terarah (directional ground Relai)


A
B
C

VRES

Gambar 9. 24. Rangkaian open delta trafo tegangan

9.11.6 Relai Cadangan (Back Up


Relai arah hubung tanah
Protection)
memerlukan operating signal dan
polarising signal. Operating signal
Diperlukan apabila proteksi
diperoleh dari arus residual melalui
utama tidak dapat bekerja atau
rangkaian trafo arus penghantar
terjadi gangguan pada sistem
(Iop = 3Io) sedangkan polarising
proteksi utama itu sendiri. Pada
signal diperoleh dari tegangan
dasarnya sistem proteksi cadangan
residual. Tegangan residual dapat
dapat dibagi menjadi dua katagori,
diperoleh dari rangkaian sekunder
yaitu
open delta trafo tegangan seperti
a. Sistem proteksi cadangan lokal
pada Gambar 9.25.
(local back up protection
VRES = VAG + VBG + VCG = 3Vo system)
394
Proteksi cadangan lokal adalah kecepatan kerja (operating time)
proteksi yang dicadangkan Relai, kecepatan buka pemutus
bekerja bilamana proteksi tenaga (circuit breaker) dan waktu
utama yang sama gagal kirim sinyal teleproteksi. Fault
bekerja. Contohnya : clearing time menurut SPLN 52-1
penggunaan OCR atau GFR. 1984 untuk sistem 150 kV sebesar
b. Sistem proteksi cadangan jauh 120 ms dan untuk sistem 70 kV
(remote back up protection sebesar 150 ms.
system) Besaran fault clearing time
Proteksi cadangan jauh berhubungan dengan mutu tenaga
adalah proteksi yang listrik di sisi konsumen, batasan
dicadangkan bekerja bilamana Kedip menurut SE Direksi PT PLN
proteksi utama di tempat lain (PERSERO) No. 12.E / 012 / DIR /
2000 adalah 140 ms untuk
gagal bekerja. Proteksi cadangan
bekerjanya proteksi utama sistem
lokal dan jauh diusahakan 150 kV dan 170 ms untuk
koordinasi waktunya dengan bekerjanya proteksi utama di sistem
proteksi utama di tempat 70 kV, sedangkan untuk proteksi
berikutnya. Koordinasi waktu cadangan maksimum sebesar 500
dibuat sedemikian hingga ms.
proteksi cadangan dari jauh Fault clearing time proteksi
bekerja lebih dahulu dari proteksi cadangan sebesar 500 ms dapat
cadangan lokal. Hal ini berarti dicapai dengan memanfaatkan
bahwa kemungkinan sekali proteksi cadangan zone 2 distance
bahwa proteksi cadangan dari Relai dari GI remote. Dari kedua hal
di atas maka untuk PLN UBS P3B
jauh akan bekerja lebih efektif
fault clearing time di sistem 150 kV
dari proteksi cadangan lokal. adalah 120 ms untuk bekerja
Dengan penjelasan di atas
proteksi utama dan 500 ms untuk
berarti bahwa waktu penundaan
bekerja proteksi cadangan,
bagi proteksi cadangan lokal cukup
sedangkan di sistem 70 kV adalah
lama sehingga mungkin sekali
150 ms untuk bekerja proteksi
mengorbankan kemantapan sistem
utama dan 500 ms untuk bekerja
demi keselamatan peralatan.
proteksi cadangan.
Dengan demikian berarti pula
Untuk memenuhi fault clearing
bahwa proteksi cadangan lokal
time di atas maka perlu ditetapkan
hanya sekedar proteksi cadangan
batasan operating time dari relai itu
terakhir demi keselamatan
sendiri. Dengan mempertimbang-
peralatan.
kan waktu kerja pmt dan waktu
yang diperlukan teleproteksi maka
9.11.7. Operating Time dan Fault
operating time relai proteksi utama
Clearing Time
di sistem 150 kV adalah tipikal ” 30
ms dan pada SIR 10 dan reach
Kecepatan pemutusan gangguan
setting 80 % sebesar ” 40 ms,
(fault clearing time) terdiri dari
sedangkan di sistem 70 kV adalah
395
tipikal ” 35 ms dan pada SIR 10 antara lain adalah a/. kerusakan
dan reach setting 80 % sebesar ” instalasi b/. timbulnya masalah
50 ms. stabilitas transient, c/.
dimungkinkan OCR dan GFR di
9.11.8. Relai Proteksi Busbar.
sistem bekerja sehingga pemutusan
Sebagai proteksi utama Busbar menyebar.
adalah relai Differensial, yang Persyaratan yang diperlukan
berfungsi mengamankan pada untuk proteksi busbar adalah :
busbar tersebut terhadap gangguan 1. Waktu pemutusan yang cepat
yang terjadi di busbar itu sendiri. (pada basic time)
Konfigurasi Busbar ada 3 macam : 2. Bekerja untuk gangguan di
1. Busbar tunggal ( Single Busbar ). daerah proteksinya.
2. Busbar ganda ( Double Busbar ). 3. Tidak bekerja untuk gangguan di
3. Busbar 1,5 PMT. luar daerah proteksinya.
Gangguan pada busbar relatif 4. Selektfi, hanya mentripkan pmt-
jarang (kurang lebih 7 % ) pmt yang terhubung ke seksi
dibandingkan dengan gangguan yang terganggu.
pada penghantar (kurang lebih 60 5. Imune terhadap malakerja,
%) dari keseluruhan gangguan [1] karena proteksi ini mentripkan
tetapi dampaknya akan jauh lebih banyak PMT.
besar dibandingkan pada gangguan Jenis/pola proteksi busbar
penghantar, terutama jika pasokan banyak ragamnya, tetapi yang akan
yang terhubung ke pembangkit di bahas disini adalah proteksi
tersebut cukup besar. busbar diferensial dengan jenis low
Dampak yang dapat ditimbulkan impedans dan high impedans
oleh gangguan di bus jika
gangguan tidak segera diputuskan
..

1 2 3 4 5 6 7 8

1 2 3 4 5 6 7 8

1
2
R R

Gambar.9. 25. Wiring diagram sistem proteksi untuk konfigurasi double busbar

396
9. 12. Proteksi Transformator instalasi yang terganggu atau
Tenaga yang dilalui arus gangguan
dapat dihindari atau dibatasi
Proteksi transrmator daya seminimum mungkin dan
terutama bertugas untuk mencegah bagian sistem lainnya tetap
kerusakan transformator sebagai dapat beroperasi.
akibat adanya gangguan yang 4. Memberikan pengamanan
terjadi dalam petak/bay cadangan bagi instalasi lainnya.
transformator, disamping itu 5. Memberikan pelayanan
diharapkan juga agar pengaman keandalan dan mutu listrik yang
transformator dapat berpartisipasi terbaik kepada konsumen.
dalam penyelenggaraan selektifitas 6. Mengamankan manusia
sistem, sehingga pengamanan terhadap bahaya yang
transformator hanya melokalisasi ditimbulkan oleh listrik.
gangguan yang terjadi di dalam
petak/bay transformator saja. 9.12.2. Gangguan pada Trafo
Tenaga
9.12.1. Tujuan pemasangan Relai
proteksi Trafo Tenaga. Gangguan pada transformator
daya tidak dapat kita hindari,
Maksud dan tujuan namun akibat dari gangguan
pemasangan relai proteksi pada tersebut harus diupayakan
transformator daya adalah untuk seminimal mungkin dampaknya.
mengamankan peralatan /sistem Ada dua jenis penyebab gangguan
sehingga kerugian akibat gangguan pada transformator, yaitu gangguan
dapat dihindari atau dikurangi eksternal dan gangguan internal.
menjadi sekecil mungkin dengan
cara : 1. Ganggauan eksternal.

1. Mencegah kerusakan Gangguan eksternal sumber


transformator akibat adanya gangguan- nya berasal dari luar
gangguan/ketidak normalan pengamanan transformator, tetapi
yang terjadi pada transformator dampaknya dirasakan oleh
atau gangguan pada bay transformator tersebut, diantaranya
transformator. - gangguan hubung singkat pada
2. Mendeteksi adanya gangguan jaringan
atau keadaan abnormal lainnya - beban lebih
yang dapat membahayakan - surja petir .
peralatan atau sistem.
3. Melepaskan (memisahkan) 2. Gangguan internal
bagian sistem yang terganggu
atau yang mengalami keadaan Gangguan internal adalah
abnormal lainnya secepat gangguan yang bersumber dari
mungkin sehingga kerusakan
397
daerah pengamanan/petak bay 9.12.4. Metoda Pentanahan Titik
transformator, diantaranya : Netral Trafo Tenaga.
- gangguan antar fasa pada
belitan Metoda-metoda pentanahan
- fasa terhadap ground antar titik netral transformator daya
belitan transformator adalah sebagai berikut :
- gangguan pada inti a) Pentanahan mengambang
transformator (floating grounding)
- gangguan tap changer b) Pentanahan melalui tahanan
- kerusakan bushing (resistance grounding)
- kebocoran minyak c) Pentanahan melalui reaktor
atauminyak terkontaminasi (reactor grounding)
- suhu lebih. d) Pentanahan langsung (effective
grounding)
9.12.3. Sistem Pentanahan Titik e) Pentanahan melalui reaktor
Netral Trafo Tenaga. yang impedansinya dapat
berubah-ubah (resonant
Adapun tujuan pentanahan titik grounding) atau pentanahan
netral transformator daya adalah dengan kumparan Petersen
sebagai berikut : (Petersen Coil).
1. Menghilangkan gejala-gejala
busur api pada suatu sistem. 9.12.5. Jenis Proteksi Trafo
2. Membatasi tegangan-tegangan Tenaga.
pada fasa yang tidak terganggu
(pada fasa yang sehat). Trafo tenaga diamankan dari
3. Meningkatkan keandalan berbagai macam gangguan,
(realibility) pelayanan dalam diantaranya dengan peralatan
penyaluran tenaga listrik. proteksi (sesuai SPLN 52-1:1983
4. Mengurangi/membatasi Bagian Satu, C) :
tegangan lebih transient yang x Relai arus lebih
disebabkan oleh penyalaan x Relai arus hubung tanah
bunga api yang berulang-ulang x Relai beban lebih
(restrike ground fault). x Relai tangki tanah Relai
5. Memudahkan dalam ganggauan tanah terbatas
menentukan sistem proteksi (Restricted Earth Fault)
serta memudahkan dalam x Relai suhu
menentukan lokasi gangguan x Relai Bucholz
x Relai Jansen
x Relai tekanan lebih
x Relai suhu
x Lightning arrester
x Relle differensial

398
.

P51N

NP51

96T
26 87T
63

S51-1 S51-2

PU

64V

Gambar 9. 26. Blok Diagram Proteksi Trafo Tenaga

399
9.13. Relai Arus Lebih (Over Pengaman yang bekerja karena
Current Relay) adanya besaran arus dan tegangan
yang dapat membedakan arah arus
Relai ini berfungsi untuk gangguan. Relai ini terpasang pada
mengamankan transformator Jaringan Tegangan tinggi,
terhadap gangguan hubung singkat Tegangan menengah juga pada
antar fasa didalam maupun diluar pengaman Transformator tenaga
daerah pengaman transformator, dan berfungsi untuk mengamankan
seperti terlhat pada foto dibawah ini peralatan listrik akibat adanya
gangguan phasa-phasa maupun
Phasa ketanah.
Relai Ini Mempunyai 2 buah
parameter ukur yaitu Tegangan dan
Arus yang masuk ke dalam Relai
untuk membedakan arah arus ke
depan atau arah arus ke belakang.
Pada pentanahan titik netral
trafo dengan menggunakan
tahanan, relai ini dipasang pada
Gambar 8.26 Relai arus lebih penyulang 20 KV. Bekerjanya relai
ini berdasarkan adanya sumber
Juga diharapkan relai ini arus dari ZCT (Zero Current
mempunyai sifat komplementer Transformer) dan sumber tegangan
dengan relai beban lebih. relai ini dari PT (Potential Transformers).
berfungsi pula sebagai pengaman Sumber tegangan PT
cadangan bagi bagian instalasi umumnya menggunakan
lainnya.
rangkaian Open-Delta, tetapi
9.13.1. Relai Gangguan Tanah
tidak menutup kemungkinan ada
Terbatas (Restricted Earth yang menggunakan koneksi
fault Relay ) langsung 3 Phasa. Untuk
membedakan arah tersebut
Mengamankan transformator maka salah satu phasa dari arus
terhadap tanah didalam daerah harus dibandingakan dengan
pengaman transformator khususnya Tegangan pada phasa yang lain.
untuk gangguan didekat titik netral
yang tidak dapat dirasakan oleh x Relai connections
Relai differensial. Adalah sudut perbedaan antara
arus dengan tegangan masukan
9.13.2. Relai arus lebih Berarah . relai pada power faktor satu.

Directional over current Relai x Relai maximum torque angle


atau yang lebih dikenal dengan Adalah perbedaan sudut antara
Relai arus lebih yang mempunyai arus dengan tegangan pada relai
arah tertentu merupakan Relai
400
yang menghasilkan torsi maksimum.

Max. torque
line Reference
V

Ii

T I
I
Zero
torque line
D
RESTRAIN Iv
Iv

RESTRAIN

Gambar 9.28 Diagram phasor Torsi

9.13.3. Relai gangguan hubung


9.14. Proteksi Penyulang 20 KV
tanah.
Jenis Relai proteksi yang
Relai ini berfungsi untuk terdapat pada penyulang 20 kV
mengamankan transformator ganggu- adalah sebagai berikut :
an hubung tanah, didalam dan diluar
daerah pengaman transformator. 9.14.1.Relai Arus Lebih ( Over
Relai arah hubung tanah memerlukan Current Relai )
operating signal dan polarising signal. Relai ini berfungsi untuk
Operating signal diperoleh dari arus memproteksi SUTM terhadap
residual melalui rangkaian trafo arus gangguan antar fasa atau tiga
penghantar (Iop = 3Io) sedangkan fasa.
polarising signal diperoleh dari
tegangan residual. Tegangan residual 9.14.2. Relai Arus Lebih
dapat diperoleh dari rangkaian berarah ( Directional
sekunder open delta trafo tegangan OCR )
seperti pada Gambar 9.24 Relai ini berfungsi untuk
memproteksi SUTM terhadap
VRES = VAG + VBG + VCG = 3Vo gangguan antar fasa atau tiga
401
fasa dan hanya bekerja pada satu sistem tenaga listrik termasuk
arah saja. Karena Relai ini dapat sistem proteksi serta peralatan
membedakan arah arus gangguan. terkait lainnya yang pada
akhirnya membantu dalam
9.14.3. Relai Hubung Tanah analisa dan memastikan bahwa
(Ground Fault Relay) sistem telah bekerja dengan baik.
DFR akan bekerja secara real
Relai ini berfungsi untuk time untuk memonitor kondisi
memproteksi SUTM atau SKTM dari listrik dan peralatan terkait
gangguan tanah. Relai Beban Lebih lainnya pada saat terjadi
(Over Load Relai). Relai ini dipasang gangguan, karena menggunakan
pada SKTM yang berfungsi untuk sistem digital maka semua data
memproteksi SKTM dari kondisi beban dikonversikan ke bentuk digital
lebih. dan disimpan di memori., hasil
monitor tersebut akan tersimpan
9.14.4. Relai Penutup Balik secara permanen dalam bentuk
Reclosing Relay ). hasil cetakan di kertas dan data
memori.
Relai ini berfungsi untuk Manfaat Disturbance Fault
memproteksi SUTM terhadap Recorder (DFR )
gangguan antar fasa atau tiga fasa ƒ Mendeteksi penyebab
dan hanya bekerja pada satu arah gangguan
saja. Karena Relai ini dapat ƒ Mengetahui lamanya
membedakan arah arus gangguan. gangguan ( fault clearing time
)
9.14.5. Relai Frekwensi Kurang ƒ Mengetahui besaran listrik
(Under Freqwency Relay) seperti Arus (A),Tegangan(V)
dan Frekuensi (F)
Relai ini berfungsi untuk melepas ƒ Mengetahui unjuk kerja
SUTM atau SKTM bila terjadi sistem proteksi terpasang
penurunan frekwensi system. ƒ Melihat harmonik dari sistem
tenaga Listrik
9.15. Disturbance Fault Recorder
(DFR ) ƒ Melihat apakah CT normal /
tidak ( jenuh)
Disturbance Fault Recorder ƒ Memastikan bahwa PMT
(DFR) suatu alat yang dapat bekerja dengan baik
mengukur dan merekam besaran ƒ Dokumentasi
listrik seperti arus ( A ), tegangan ( V ) Pengembangan DFR :
dan frekuensi ( Hz ) pada saat ƒ Time Synchronizing (GPS)
sebelum, selama dan setelah ƒ Master Station
gangguanDisturbance Fault Recorder ƒ Monitoring Frekuensi
( DFR ) yang saat ini sudah ƒ DC Monitoring
merupakan suatu kebutuhan, yang Bagian dari DFR
dapat membantu merekam data dari (Disturbance Fault Recorder) :
402
DAU (Data Acquisition Unit), AC/DC
Power Supply
Communication Channel, Sistem
Alarm

ANALOG
16 Channel
PRINTER
EVENT COMM
32 Channel DAU
HANNE KE
Data MASTER DFR
Acquisition ALARM
RELAi
Unit
SYNCHR

KEY
BOARD
&
SCREEN
DC POWER
AC POWER
EXTERNAL

Gambar 9.29 Disturbance Fault Recorder

Mencetak / print out ulang ƒ Jangan lupa kembali ke Auto


Record gangguan yang pernah setelah selesai, dengan tombol
direkam : Auto
ƒ DFR II harus dalam kondisi ƒ Kita dapat juga memilih nomor
Manual Mode record dengan menggunakan
ƒ Tekan tombol Record Select tombol Panah Keatas /
display akan tampil Record Kebawah.
Select ƒ Apabila nomor record yang akan
ƒ Tekan kunci panah kebawah, dicetak sudahdiperagakan, maka
display tampil : Rec No …. kita cukup menekan tombol
ƒ Setelah ini tekan / masukkan Enter.
nomor yang diinginkan kemudian
tekan tombol Enter. Printer akan Mencetak Setup Parameter
bekerja, dan layar akan terbaca ƒ DFR II harus dalam kondisi
Printing. Manual Mode
ƒ Tunggu sampai selesai ƒ Tekan tombol Print Setup
mencetak, atau Cancel untuk ƒ Tekan tombol Panah Kebawah
membatalkan. kemudian printer akan bekerja

403
ƒ Tekan sampai selesai mencetak, dalam keadaan siap akan merekam
atau Cancel untuk membatalkan data gangguan/fault secara
ƒ Jangan lupa kembali ke Auto otomatis.
setelah selesai, dengam tombol Catatan :
Auto. Dalam kondisi ini Lampu Status
Indicator yang menyala adalah:
9.16. Basic Operation Auto dan Data Memory (kalau ada
data ). Apabila Lampu Status
Switch on : Menyalakan DFR
Indicator lain ada yang menyala,
Pertama kali dinyalakan DFR II berarti ada gangguan didalam DFR,
akan memeriksa keadaan didalam contoh lampu Off Line, artinya DFR
rangkaian elektroniknya dan dalam keadaan tidak siap merkam.
menghitung Memorinya sampai Lihat bagian Trouble Shooting.
4096 KB. Setelah semuanya dalam
kondisi baik, maka secara otomatis 9,16.2 Manual Mode :
display/peragaan di DFR II akan Posisi manual operation :
menampilkan Jam dan Nomor
Record yang ada didalam DFR. Merubah ke kondisi manual
Apabila kita ingin mempercepat untuk dirubah / dioperasikan oleh
pemeriksaan dan test memory, operator / manusia Pada posisi ini
tekan tombol Panah Kebawah dan kita dapat :
display akan menampilkan Jam dan ƒ Merubah Parameter dari DFR
Rec No. ƒ Melakukan pengetesan/
Misalnya : pemeriksaan komponen
JJ : MM : SS REC …. elektronis
15 : 06:32 REC 041 ƒ Meminta rekaman data, ataupun
Setelah itu tekan tombol Reset memanipulasikan data rekaman
Alarm Indicator, maka seluruh Dari kondisi Automatic kita dapat
lampu Alarm Indicator harus merubah ke kondisi manual dengan
padam/tidak menyal. Apabila ada cara :
Alarm Indicator yang menyala,
maka lihat petunjuk bagian Trouble Tekan tombol Manual, pada
Shooting. display akan tampil Manual Mode.
Berarti kita sudah ada pada posisi
9.16.1 Automatic Mode : Posisi Manual dan Lampu Status Manual
DFR siap/otomatis akan menyala.

Pada kondisi Jam dan Nomor 9.16.4. Kembali ke posisi /


Record tampil dilayar, dan Status kondisi Automatic mode
Indicator Led Auto menyala, kondisi
ini disebut Automatic Mode. Dalam Untuk kembali ke posisi
kondisi ini semua key kecuali Automatic mode, setelah kita
Manual Mode dan Reset Alarm dan selesai dengan posisi Manual
Sensor Target tidak dapat mode, kita harus kembali ke
difungsikan. Pada posisi ini DFR tampilan layar Manual Mode, yaitu
404
dengan menekan tombol Cancel gangguan tersebut (sekitar 80 %)
beberapa kali(tergantung diposisi bersifat temporer[2] yang akan
mana kita sedang berada). Lalu segera hilang setelah Pemutus
tekan tombol Auto, maka pada layar Tenaga (PMT) trip. Agar
akan tampil JAM dan Record No kesinambungan pelayanan/ suplai
untuk mempercepat peragaan, energi listrik tetap terjaga serta
tekan tombol Panah Kebawah atau batas stabilitas tetap terpelihara
Cancel. maka PMT dicoba masuk kembali
Cara menganalisa : sesaat setelah kejadian trip diatas.
1. Pada kondisi normal, arus dan Dengan memasukan kembali PMT
tegangan akan menggambarkan ini diharapkan dampak gangguan
sinusoidal ( 50 Hz ) yang yang bersifat temporer tersebut
sempurna. dapat dikurangi Untuk mengurangi
2. Besaran arus dan tegangan dampak gangguan tersebut
tersebut dapat diukur dengan terhadap keandalan penyediaan
memperhatikan skala rekaman, tenaga listrik, khususnya pada saat
serta ratio CT dan PT. terjadi gangguan temporer, maka
3. Setiap trigger karena besaran pada SUTT/ SUTET tersebut
analog yang diluar normal, DFR dipasang auto recloser (A/R).
akan menggambarkan pada Pengoperasian auto-recloser
bagian sensor digital, serta diharapkan dapat meningkatkan
bentuk sinusoidal arus/tegangan availability (ketersediaan) SUTT/
akan berubah menjadi lebih SUTET, hal ini berarti peluang
besar atau Lebih kecil. (lama dan frekuensi) konsumen
4. Apabila perubahan besaran terjadi padam dapat dikurangi.
analog ini diikuti dengan Namun sebaliknya, pengoperasian
bekerjanya proteksi maka diikuti A/R secara tidak tepat dapat
dengan perubahan status input menimbulkan kerusakan pada
digital. peralatan, sehingga dapat
5. Bila PMT juga bekerja, maka menimbulkan dampak pemadaman
dapat dilihat status PMT sebagai meluas serta waktu pemulihan yang
input digital yang berubah. lebih lama.
6. Setiap trigger karena perubahan
status input digital, DFR akan 9.17.1. Kaidah Penyetelan A/R
menggambarkannya pada Penentuan dead time.
bagian digital, dimana garisnya
akan berubah menjadi terputus Penentuan dead time harus
mempertimbangkan hal berikut :
9.17. Auto Recloser.
a. Stabilitas dan sinkronisasi
Saluran udara tegangan tinggi sistem.
(SUTT/SUTET) merupakan salah
satu bagian sistem yang paling x Tidak berpengaruh pada
sering mengalami gangguan, jaringan radial tetapi
sebagian besar dari sumber berpengaruh pada jaringan
405
yang memiliki lebih dari satu b. Karakteristik PMT.
sumber (pembangkit atau IBT).
Waktu yang diperlukan oleh
x Dead time dipilih sesuai
PMT untuk trip dan reclose
dengan kebutuhan sistem dan
harus diperhitungkan, khususnya
keamanan peralatan.
untuk A/R cepat.
x Waktu de-ionisasi udara seperti
tabel 9.4

Tabel 9.4. Waktu de-ionisasi udara

Tegangan Sistem (kV) Waktu De-ionisi (detik)

66 0.1
110 0.15
132 0.17
220 0.28
275 0.3
400 0.5

x Operating time PMT (0.05 - 0.1 (instanteneous) pertimbangan


detik). ini tidak diperlukan.
x Waktu reset mekanik PMT (0.2 2) Reclaim time harus
detik). memperhitungkan waktu yang
Selain itu pengaruh penurunan diperlukan oleh mekanisme
kemampuan PMT karena umur closing PMT agar PMT tersebut
harus dipertimbangkan dalam siap untuk reclose kembali.
menentukan pola dan waktu Umumnya untuk sistem
operasi ( lambat atau cepat) A/R. hidraulik memerlukan waktu 10
detik.
c. Karakteristik peralatan
proteksi. e. Kriteria Seting Untuk SPAR :
1). Dead time :
Harus diperhitungkan waktu
yang dibutuhkan untuk reset - lebih kecil dari seting discrepancy
peralatan proteksi. dan seting GFR
- lebih besar dari operating time
d. Penentuan reclaim time. pmt, waktu reset mekanik pmt,
dan waktu pemadaman busur
1) Reclaim time harus lebih lama api + waktu deionisasi udara.
dari waktu kerja relai proteksi, - Tipikal set 0.5 s/d 1 detik.
namun untuk basic time

406
2). Reclaim time : 4). Reclaim time :
- Memberi kesempatan pmt untuk
- Memberi kesempatan pmt
kesiapan siklus O-C-O
untuk kesiapan siklus O-C-O
berikutnya.
berikutnya.
- Tipikal 40 detik.
- Tipikal 40 detik.
g. Faktor Teknis Dalam
f. Kriteria Seting Untuk TPAR
Pengoperasian Auto Reclose
1). Dead time : (A/R)

- lebih besar dari operating time Auto Recloser tidak boleh bekerja
pmt, waktu reset mekanik pmt, pada kondisi, sebagai berikut :
dan waktu pemadaman busur a. PMT dibuka secara manual atau
api + waktu deionisasi udara. beberapa saat setelah PMT
- Tipikal set 5 s/d 60 detik. ditutup secara manual.
b. PMT trip oleh Circuit Breaker
2). Seting berbeda untuk kedua Failure (CBF) atau Direct
sisi : Transfer Trip (DTT).
c. PMT trip oleh pengaman
- Untuk sumber di kedua sisi maka cadangan (Z2, Z3, OCR/GFR).
sisi dengan fault level rendah d. PMT trip oleh Switch On To
reclose terlebih dahulu baru Fault (SOTF).
kemudian sisi lawannya. e. Bila relai proteksi SUTT tidak
- Untuk sumber di satu sisi (radial dilengkapi dengan fungsi SOTF,
double sirkit) bila tidak terdapat maka perlu ditambahkan sirkit
S/C untuk operasi manual yang A/R blok untuk menunda fungsi
terpisah dari S/C untuk A/R A/R setelah PMT dimasukan
maka untuk keperluan manuver secara manual. Lama waktu
operasi, reclose pertama dapat tunda sirkit A/R blok akan
dilakukan dari sisi sumber. ditentukan kemudian.
f. PMT trip oleh out of step
3) SUTT yang tersambung ke protection.
pembangkit : g. Terjadi ketidak normalan
peralatan teleproteksi di sisi
- A/R untuk SUTT yang kedua sisi terima
tersambung ke Pembangkit Auto Reclosertidak boleh
maka pola yang dipilih TPAR dioperasikan pada :
(inisiate gangguan 1 fasa) - SKTT
dengan seting dead time lebih - SUTT yang tersambung ke trafo
lama. dengan sambungan T.
- SUTT yang hanya satu sisi Mempertimbangkan dampak
tersambung ke pembangkit terhadap kerusakan peralatan pada
maka pola yang dipilih TPAR saat gangguan permanen maka
dengan pola S/C di sisi A/R dioperasikan hanya dengan
pembangkit diseting DL/DB out. single shot.

407
Pola A/R yang dapat diterapkan c. salah satu sisi tersambung ke
adalah : unit pembangkit.
- Auto Recloser cepat untuk 1 d. penutupan dua pmt yang tidak
(satu) fasa, 3 (tiga) fasa dan 1+3 serentak
(satu atau tiga) fasa.
- Auto Recloser lambat untuk 3 i Pengoperasian High Speed
(tiga) fasa Auto Recloser
Pemilihan pola diatas dengan
mempertimbangkan batasan- Pengoperasian A/R cepat dapat
batasan yang dijelaskan di bawah diterapkan bila persyaratan di
ini. bawah ini dipenuhi, sebagai berikut:
a. Siklus kerja (duty cycle) dari
h. Faktor Yang Mempengaruhi PMT sesuai untuk operasi
Pola dengan A/R cepat.
b. Sistem proteksi di semua ujung
Auto Recloser Pemilihan pola saluran bekerja pada basic
single phase auto reclosing (SPAR) time/ instantenous.
atau three phase auto reclosing c. Kemampuan poros turbin
(TPAR) dengan waktu reclose (terutama yang berporos
cepat atau lambat harus panjang) dan belitan stator
mempertimbangkan batas stabilitas generator perlu diperhatikan ,
sistem, karaktesitik PMT dan sehingga pengoperasian high
peralatan proteksi yang digunakan. speed A/R 3 fasa pada
Pertimbangan ini menyangkut SUTT/SUTET di GI pembangkit
besarnya nilai setelan untuk dead atau yang dekat pembangkit
time dan reclaim time. dilakukan setelah ada
Pemilihan pola single phase kepastian bahwa operasi high
auto reclosing (SPAR) atau three speed A/R 3 fasa tidak
phase auto reclosing (TPAR) membahayakan turbin dan
dengan waktu reclose cepat atau generator.
lambat harus mempertimbang- kan d. Operasi high speed A/R 3 (tiga)
konfigurasi jaringan seperti dibawah fasa khususnya pada sistem
ini 500 KV (SUTET) tidak boleh
a. Jaringan radial sirkit tunggal. diterapkan bila hasil studi
b. Jaringan radial sirkit ganda. menunjukan bahwa high speed
c. Jaringan looping sirkit tunggal. reclosing akan dapat
d. Jaringan looping sirkit ganda. menimbulkan tegangan lebih
transien yang melebihi nilai
Pemilihan pola A/R dengan desain yang diijinkan.
waktu reclose cepat atau lambat Penerapan A/R cepat 1(satu) fasa
harus mempertimbangkan Dapat diterapkan pada konfigurasi
persyaratan pada kedua ujung atau sistem berikut :
saluran antara lain a. SUTET
a. kemungkinan reclose pada b. SUTT jaringan radial sirkit
gangguan permanen. tunggal atau ganda.
b. kemungkinan gagal sinkron c. SUTT jaringan looping sirkit
pada saat reclose. tunggal atau ganda.
408
a. Penerapan A/R cepat 3 (tiga) interkoneksi, juga memberikan
fasa Dapat diterapkan pada resiko berupa kemungkian
konfigurasi atau sistem berikut : terjadinya gangguan yang lebih
x SUTT jaringan radial sirkit parah bila operasi A/R pada saat
x tunggal atau ganda. ada gangguan permanen.
x SUTT jaringan looping sirkit Dengan demikian maka
tunggal atau ganda. pengoperasian high speed A/R
x Pengoperasian high speed A/R 3 3 (tiga) fasa harus didahului dengan
fasa , disamping memberikan keyakinan (berupa hasil studi)
keuntungan pada sistem yaitu bahwa pengoperasian A/R akan
memperbaiki stability margin, memberi manfaat yang besar
mengurangi terjadinya dengan resiko yang kecil
pembebanan kritis akibat
gangguan pada SUTT/SUTET
maupun pada saluran

409
BAB X
PEMELIHARAAN SUTT/SUTETI BEBAS TEGANGAN

Saluran Udara Tegangan Tinggi paling sederhana hingga yang


(SUTT) dan Saluran Udara rumit. Beberapa jenis pemeliharaan
Tegangan Ekstra Tinggi (SUTETI) antara lain :
adalah sarana instalasi tenaga - Pemeliharaan rutin (Preventive
listrik diatas tanah untuk Maintenance)
menyalurkan tenaga listrik dari - Pemeliharaan Korektif
Pusat Pembangkit ke Gardu Induk (Corrective Maintenance)
(GI) atau dari GI ke GI lainnya - Pemeliharaan darurat
(antar GI). (Emergency Maintenance)
- Pemeliharaan yang berdasar
SUTT/SUTETI merupakan kondisi / karakter peralatan
peralatan buatan manusia. (Condition Base Maintenance /
Peralatan ini pada dasarnya bisa CBM)
rusak baik karena salah
pengoperasian, kesalahan saat 10.2.1. Pemeliharaan Rutin :
konstruksi maupun telah melampaui
masa kerjanya (life time). Pemeliharaan rutin merupakan
Pengertian Pemeliharaan adalah kegiatan / usaha yang secara
kegiatan yang meliputi: periodik dilakukan untuk
- Perawatan/pemeriksaan mempertahankan kondisi jaringan
- Perbaikan agar selalu dalam keadaan baik
- Penggantian dengan keandalan dan daya guna
- Pengujian yang optimal.
Dalam pelaksanaannya
10.1. Tujuan Pemeliharaan pemeliharaan rutin terdiri dari :

- Mempertahankan kemampuan - Pemeliharaan tahunan


kerja peralatan - Pemeliharan lima tahunan
- Memperpanjang live time
peralatan 10.2.2. Pemeriksaan Rutin
- Menghilangkan, mengurangi
resiko kerusakan Pemeriksaan rutin merupakan
- Mengembalikan kemampuan pemeriksaan secara visual
kerja peralatan (inspeksi):
- Mengurangi kerugian secara - Ground patrol
ekonomis - Climb up inspection
- Memberi keyakinan keandalan
operasinya Hasil pemeriksaan merupakan
data yang dapat dipakai:
10.2. Jenis-jensi pemeliharaan - Evaluasi / perencanaan/
pengembangan
Banyak metoda pemeliharaan - Penanggulangan dan
yang dilakukan mulai dari yang pencegahan
410
- Perbaikan / perubahan/ kerusakan dapat segera
modifikasi ditanggulangi yang pada akhirnya
- Penggantian keandalan penyaluran tenaga listrik
tetap terjaga dengan baik.
10.2.2.1. Ground patrol
10.2.3. Pemeriksaan Sistematis
Ground patrol adalah jenis
pekerjaan Pemeriksaan Sistematis
pemantauan/pemeriksaan harian adalah pekerjaan pengujian yang
terhadap jalur transmisi tanpa dimaksudkan untuk menemukan
memanjat tower dilakukan oleh Line kerusakan atau gejala kerusakan
walker secara terjadwal. Obyek yang tidak dapat ditemukan atau
yang diperiksa adalah : diketahui pada saat inspeksi untuk
kemudian disusun saran-saran
- Kawat penghantar perbaikannya.
- Ground wire
- Ruang bebas (Right of Pelaksanaan Pemeriksaan
Way/ROW) Sistematis ini lebih luas dan lebih
- Tower dan halamannya teliti dari pada pemeriksaan rutin.
- Lingkungan dan aktifitas Untuk memperoleh tingkat ketelitian
masyarakat sekitarnya yang tinggi dipergunakan peralatan
bantu.
10.2.2.2. Climb up inspection
Contoh dari pemeriksaan ini
Climb up inspection adalah jenis misalnya adalah pengujian
pekerjaan pemeriksaan terhadap kemampuan isolator di
tower berikut perlengkapannya laboratorium, pemeriksaan kondisi
dilakukan oleh Climber dengan cara sambungan dengan menggunakan
memanjat tower pada Infra red thermovision, pemeriksaan
SUTT/SUTETI yang dalam keadaan tegangan tembus isolator dengan
bertegangan. corona detector,

Obyek yang diperiksa adalah: Beberapa hal yang mempengaruhi


- Besi Tower dan kelengkapannya pola pemeliharaan rutin antara lain :
- Kawat penghantar sekitar tower
- Ground wire sekitar tower - Kondisi alam setempat
- Klem pemegang kawat dan polutif alami, polutif industri,
asesorisnya gempa, kondisi normal,
- Isolator dan asesorisnya pertumbuhan tanaman
- Benda asing yang terdapat sepanjang jalur dan disekitar
pada tower , isolator dan kawat jalur, petir, longsoran dan lain
sebagainya.
Melalui pemeriksaan ini - Karakteristik kerja peralatan
diharapkan secara dini dapat biasanya berdasarkan buku
ditemukan abnormaly atau petunjuk pabrik atau
kelainan-kelainan yang dapat pengalaman yang terjadi
menimbulkan gangguan. sehingga

411
selama ini: isolator gelas yang 10.2.6. Pemeliharaan berdasarkan
sering pecah kondisi/karakter
- Sosial kemasyarakatan peralatan (CBM)
penggalian liar, pencurian :
grounding – member tower dan Pemeliharaan ini tidak lagi
lain sebagainya. berdasar waktu, namun berdasar
kondisi/karakter peralatan. Dalam
10.2.4. Pemeliharaan Korektif satu tahun bisa saja dilakukan
beberapa kali kunjungan atau
Pemeliharaan Korektif pemeriksaan tergantung tingkat
(corrective maintenance) adalah potensi gangguan.
pekerjaan pemeliharaan yang
dilakukan karena peralatan Kerusakan yang terjadi
mengalami kerusakan atau menjadi statistik dan dapat
memerlukan penyempurnaan. disimpulkan sebagai trend
Pemeliharaan korektif kebanyakan peralatan. Namun adakalanya
terjadi karena jarang atau tidak kerusakan akibat fenomena alam
pernah dilakukan pemeriksaan yang tidak terlihat sewaktu patroli.
rutin. Contoh yang dapat dilakukan CBM
adalah :
10.2.5. Pemeliharaan Darurat
- Pemeriksaan isolator dan
Pemeliharaan Darurat asesoris isolator maupun clamp
dilakukan karena telah terjadi pada daerah yang polusinya
kerusakan pada SUTT/SUTET yang tinggi.
disebabkan oleh hal-hal diluar - Pemeriksaan jarak tower dan
rencana seperti : banjir, gempa lendutan kawat pada kawasan
bumi, longsor, gunung meletus, luas yang mengalami longsor
kebakaran, tertabrak kendaraan secara perlahan
dan lain sebagainya. - Pemeriksaan kondisi pondasi
Pemeliharaan jenis ini pada daerah longsoran
sifatnya darurat dan memerlukan - Pemeriksaan isolator pada
penanganan ekstra serta segera daerah yang sering tersambar
untuk mengatasinya. Biayanya petir
tentu saja tidak bisa direncanakan - Pengukuran nilai pentanahan
dan mungkin bisa dimasukkan tower pada daerah pegunungan
dalam katagori biaya tak terduga atau musim kemarau.
karena memang kejadiannya diluar
kendali manusia. Salah satu 10.2.7. Contoh Pemeliharaan
solusinya ialah memasang tower SUTT / SUTET
emergency.
Berbagai macam pemelihara-
an yang pernah terjadi di jaringan
SUTT/ SUTET antara lain :
a. Penggantian isolator pecah atau
rusak lapisan permukaannya

412
b. Pembersihan isolator karena u. Pemasangan kembali / reposisi
polusi damper yang melorod ke
c. Perbaikan kawat rantas tengah gawang
d. Perbaikan kawat putus v. Penggantian lampu aviasi yang
e. Pengencangan klem-klem mati/rusak
jumper w. Penyambungan kembali kawat
f. Pembersihan kawat dari layang- yang putus atau rusak berat
layang x. Penggantian asesoris / clamp
g. Ground patrol yang karatan
h. Climb up inspection y. Perbaikan klem kawat jumper
i. Pemeriksaan stabilatas pondasi yang putus
tower (leveling, retak) z. Pemasangan pengaman
j. Pemeriksaan kelengkapan halaman tower
tapak tower (patok tanda batas
tanah PLN, urugan tanah tapak 10.3. Prosedur Pemelihan
tower) SUTT/SUTET
k. Pengecekan Tahanan
Pembumian Langkah kerja pemeliharaan
l. Pemeriksaan jarak bebas SUTT/SUTETI adalah :
konduktor dengan benda di 1. Adanya laporan dari petugas
sekitarnya lapangan maupun masyarakat
m. Perbaikan tower yang atau hasil evaluasi data laporan
mengalami deformasi / yang masuk
bengkok-bengkok akibat tanah 2. Melakukan Analisa
sekeliling pondasi longsor Keselamatan Pekerjaan dengan
n. Pondasi turun/amblas karena meninjau lapangan
tanah dasar pondasi mengalami 3. Membahas hasil AKP dan
sliding/gelincir oleh arus air rencana tindak lanjut yang
bawah tanah diperlukan
o. Pengelasan baut-baut tower 4. Mempersiapkan: SDM;
untuk mencegah pencurian peralatan; metoda pengerjaan;
p. Perbaikan spacer yang le[pas material pengganti maupun
dari konduktor pendukung lainnya dan
q. Penggantian pentanahan tower organisasi kerja
/grounding 5. Menjadwalkan pekerjaan dan
r. Penebangan pohon atau antena persetujuannya
komunikasi yang tumbang ke 6. Melakukan persiapan pekerjaan
arah konduktor (diluar row) setelah adanya persetujuan
s. Penggantian besi tower karena 7. Melaksanakan pekerjaan
pencurian 8. Melakukan evaluasi
t. Penggantian Tension clamp 9. Membuat laporan kerja
konduktor

413
10.3.1. Peralatan yang dipelihara

Peralatan yang dipelihara pada saluran udara tegangan tinggi dan saluran
udara tegangan ektra tinggi seperti tabel 10.1. berikut ini

Tabel 10.1. Peralatan yang dipelihara pada saluran udara tegangan tinggi dan
saluran udara tegangan ektra tinggi

I Ruang Bebas / Lingkungan


1 Jarak pepohonan thd kawat fasa
2 Jarak bangunan thd kawat fasa
3 Jarak pohon terhadap kawat fasa
bila tumbang ke arah kawat
4 Jarak bangunan thd kawat fasa
bila roboh ke arah kawat
5 Jarak jaring pengaman thd kawat
6 Jarak kawat ke tanah
7 Jarak kawat ke tiang perahu/kapal
bila air pasang
8 Kegiatan layang-layang
9 Struktur tanah dekat tiang
II Tiang / Menara / Tower
1 Konstruksi tiang
2 Batang rangka besi
3 Tangga / baut panjat
4 Penghalang panjat (ACD)
5 Plat rambu bahaya
6 Plat nomor / pht / tanda fasa
7 Baut sambungan rangka
8 Indicator lamp (air traffict light)
9 Cat / galvanis badan tiang
10 Klem kawat grounding
11 Kawat grounding
12 Batang penangkal petir
13 Alat penangkal petir lainnya

III Isolator
1 Piringan isolator
2 Arcing horn sisi tiang
3 Arcing horn sisi kawat pht.
4 Assesories isolator (pin, dll)
5 Suspension clamp
6 Tension clamp
7 Ikatan isolator
8 Armour rod
414
9 Posisi rencengan isolator

IV Pondasi & Halaman Tiang


1 Pondasi / chimney
2 Kaki tiang / stub
3 Tumbuhan di halaman tiang
4 Pagar pengaman halaman tiang
5 Patok batas halaman tiang
6 Stabilitas tanah sekitar hal. tiang
7 Talud pengaman
8 Kegiatan pihak lain di halaman tiang

V kawat penghantar
1 Kawat fasa
2 Peredam getaran (Vibr. damper)
3 Spacer
4 Midspan compression joint
5 Repair sleeve
6 Jumper wire
7 Sagging
8 Armour rod
9 Jarak antar kawat fasa
10 Indicator lamp (induction)

VI Kawat Petir & Kawat Optik


1 Kawat petir
2 Peredam getaran (Vibr. damper)
3 Midspan compression joint
4 Repair sleeve
5 Tension clamp
6 Suspension clamp
7 Jumper wire
8 Sagging
9 Armour rod
10 Sign ball (bola pengaman)
11 Klem sambungan ke grounding
12 Kotak sambungan kawat optik
13 Kawat yang turun ke kotak kwt optik

415
10.3.1.1. Jenis-jenis kelainan.

Jenis-jenis kelainan pada saluran udara tegangan tinggi dan saluran


udara tegangan ektra tinggi seperti tabel 10.2

Tabel 10.2 Jenis-jenis kelainan pada saluran udara tegangan tinggi dan saluran
udara tegangan ektra tinggi

No. Jenis Kelainan


1 Amblas
2 Andongan rendah
3 Bahaya I
4 Bahaya II
5 Bahaya III
6 Bengkok
7 Benda asing
8 Cat pudar
9 Dekat jalan
10 Erosi
11 Hilang
12 Karatan
13 Kendor
14 Kotor
15 Kritis
16 Longsor
17 Mekar / rantas
18 Melorod
19 Miring
20 Pecah / retak
21 Putus
22 Rusak
23 Semak belukar
24 Tertimbun
25 Tergenang
26 Tidak seimbang

416
10.3.1.2. Jenis-jenis penanggulangan
Jenis-jenis penanggulangan pada saluran udara tegangan tinggi dan
saluran udara tegangan ektra tinggi, seperti tabel 10.3

Tabel 10.3 Jenis-jenis penanggulangan pada saluran udara tegangan tinggi


dan saluran udara tegangan ektra tinggi

1 Ditinggikan chimneynya
2 Dinaikkan kawatnya
3 Dibongkar
4 Ditebang / dipangkas
5 Diluruskan
6 Dibersihkan
7 Digalvanis / dicat ulang
8 Ditanggul
9 Diganti
10 Dikencangkan
11 Dibabat
12 Dipasang patok
13 Dinormalkan
14 Diarmor rod / dipress
15 Disambung
16 Diposisikan kembali seperti semula
17 Diperbaiki
18 Diperiksa
19 Diseimbangkan

10.3.1.3. Contoh Abnormality Peralatan


1. Kerusakan pada isolator
Kerusakan pada isolator dapat dilihat pada gambar 10.1

Gambar 10.1 Kerusakan pada Isolator

417
2. Kerusakan pada menara
Kerusakan pada menara dapat dilihat pada gambar 10.2

Gambar 10. 2 Kerusakan pada menara

3. Kerusakan pada Kerusakan pada isolator gantung


Kerusakan pada Kerusakan pada isolator gantung dapat dilihat pada
gambar 10.3

Gambar 10. 3 Kerusakan pada isolator gantung


418
3. Kerusakan pada kawat pentanahan
Kerusakan pada kawat pentanahan dapat dilihat pada gambar 10.3

Gambar 10. 4 Kerusakan pada kawat pentanahan

10.3.2. Peralatan kerja - Ranging meter


- Obeng minus besar
10.3.2.1. Peralatan kerja
- Stop meter (5 meter)
Pemeliharaan
- Clinometer
- Palu godam 5 kilogram
- Transportasi peralatan ke-atas/
- Theodolit
bawah : tali, katrol dll
- Water pas
- Lever hoist
- Gimpole/ tiang pengangkat
- Sling
- Sling mata itik
- Karpet
- Shackle 5/8”
- Pengait pin isolator
- Alat ukur pentanahan (tahanan
- Palu plastik
kaki tiang )
- Kunci-kunci ( Inggris dan
- Gergaji besi
pas/ring)
- Corona detector
- Came along (tiang tension)
- Mesin press hydraulic
- Conductor lifter (tiang
- Infra red thermovision
suspension)
- Kikir plat besar
- Shackle
- Rol meter
- Peralatan bantu
- Chain saw
- BV lier
- Teropong
- Sling panjang
- Pakaian kerja
- Tambang
- HT bagi koordinator dan
- Kunci ring-pas
pengendali mutu Pekerjaan
- Angle level
- Mesin potong
- Parang
- Mesin bor
- Tang kombinasi
- Mesin las
419
- Tir for x Kacamata UV
- Capstan winch x Pakaian kerja
- Capstan hoist x Sabuk pengaman
- Kunci ring x Lanyard
- Kunci sok x Sepatu pengaman
x Sarung tangan
10.3.2.2. Peralatan K3 - Rambu-rambu peringatan
- Grounding + stick - Rambu K3
- Voltage detector - Kotak P3K
- Alat komunikasi / HT - Tandu
- Buku working permit - Jas hujan
- APD : - Lampu penerangan
x Topi pengaman

1. TOPI PENGAMAN
1
2. KACAMATA ULTRA VIOLET
2 (U.V)
3. PAKAIAN KERJA (WERK
PACK)

8 4. LANYARD

5. SABUK PENGAMAN
3

4 6. SARUNG TANGAN

7. SEPATU PANJAT
3 6

8. HANDY TALKY (HT)


5

Gambar 10.5 Peralatan kerja pemeliharaan jaringan

420
10.3.2.3. Meterial Pemeliharaan meyelesaikan pekerjaan secara
runtut/bertahap; tertib; lancar dan
1. Material pengganti existing:
aman.
isolator; besi diagonal, kawat
penghantar, ground wire, dan
Instruksi Kerja Peralatan
lain sebagainya
transmisi antara lain:
2. Repair sleeve
3. Mid span joint
1. Pemeliharaan isolator
4. Armor rod
2. Pemeliharaan kawat
5. BBM mesin
penghantar
6. Minyak hydraulic
3. Pemeliharaan ground wire
7. Sakapen
4. Pemeliharaan rangka tower
8. Majun
5. Pemeliharaan halaman tower
9. Minyak WD4
6. Pemeliharaan ruang bebas
10.3.3. Petunjuk Pemeliharaan
10.3.4. Pelaporan Pekerjan
Peralatan
Pemeliharan
10.3.3.1. Pemeliharaan alat kerja.
Pekerjaan pemeliharaan yang
1. Setiap peralatan kerja yang telah diselesaikan harus dilaporkan
berupa mesin maupun alat ukur ke pemberi tugas yang memuat :
wajib mengikuti buku instruksi - Proses persiapan
yang dikeluarkan oleh pabrikan - Tanggal, hari, jam pelaksanaan
2. Setiap alat kerja wajib diketahui - Personel yang terlibat
Safe Working Loadnya (SWL) - Organisasi kerjanya
3. Setiap beban yang akan - Peralatan yang dipakai
ditanggung oleh alat kerja wajib - Material yang digunakan
diketahui besarannya - Tata laksana kerja
4. Setiap petugas wajib - Kendala yang dihadapi
mengetahui Safety faktor (SF) - Solusi yang telah diterapkan
5. Setiap petugas wajib - Pelaksanaan/penerapan K3
mengetahui tanda-tanda - Masalah lingkungan
kerusakan pada alat kerja - Biaya yang telah dikeluarkan
6. Setiap alat kerja tidak boleh - Saran dan usulan untuk
digunakan kecuali sebagai perbaikan
fungsinya - Kesimpulan

10.3.3.2. Pemeliharaan Peralatan Manfaat laporan pekerjaan :


Transmisi 1. Data
2. Bahan analisa untuk pebaikan
Pemeliharaan peralatan dan pengembangan
transmisi wajib mengikuti prosedur 3. Penilaian unjuk kerja
kerjanya atau Instruksi Kerja, agar 4. Lain-lain
tercapai satu kesepakatan untuk

421
Lampiran : A

DAFTAR PUSTAKA

Bernad Grad ( 2002) Basic Electronic Mc Graw Hill Colage New- York
David E Johnson (2006) Basic Electric Circuit Analisis John Wiley & Sons.Inc
New- York
Diklat PLN Padang . (2007) Transmisi Tenaga Listrik Padang
Diklat PLN Pusat . (2005) Transmisi Tenaga Listrik Jakarta
Fabio Saccomanno (2003) Electric Power System and Control John Wiley &
Sons.Inc New- York
John D. McDonald (2003) Electric Power Substation Engginering CRC Press
London
Jemes A.Momoh (2003) Electric Power System CRC Press London
Luces. M . (1996) Electric Power Distribution and Transmision Prantice Hall
New- York
Oswald (2000) Electric Cables for Pewer Transmision John Wiley & Sons.Inc
New- York
Paul M Anderson (2000) Analisis of Faulted Power System John Wiley &
Sons.Inc New- York
Panagin.R.P ( 2002) Basic Electronic Mc Graw Hill Colage New- York
Stan Stawart (2004) Distributet Swichgear John Wiley & Sons.Inc New- York
Stepen L. Herman (2005) Electrical Transformer John Wiley & Sons.Inc
New- York
Hutauruk (2000)Tranmisi Daya listrik Erlangga Jakarta.

A-1