Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Umur Alamat Pekerjaan Agama NRM Tgl Pemeriksaan : An.J : Perempuan : 6 tahun : Karanganyar 1/1 Cililin. Kab. Bandung Barat : Di bawah Umur : Islam : 385742 :07 Februari 2011

Tempat Pemeriksaan : Poliklinik THT

II. ANAMNESIS Anamnesis : Auto dan Alloanamnesis

Keluhan Utama Nyeri telinga kanan dan kiri Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan keluhan nyeri telinga kanan dan kiri sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri dirasakan didalam telinga, telinga terasa berdengung diakui, keluar cairan, gatal dan pendengaran berkurang disangkal. Sebelumnya pasien mengalami batuk pilek dan panas badan sejak 3 hari yang lalu, merasa gelisah dan sukar tidur. Keluhan nyeri tenggorakan dan menelan disangkal, serta keluhan sakit gigi dan mengkorek-korek telinga disangkal. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat pernah keluar cairan disangkal Riwayat batuk pilek diakui Riwayat alergi disangkal

Riwayat trauma disangkal Riwayat Penyakit Keluarga Di keluarga tidak ada yang menderita penyakit yang sama III. PEMERIKSAAN FISIK Status generalis Keadaan umum Status lokalis 1) Telinga Telinga kanan Aurikula Edema (-), hiperemis (-), massa (-) Edema (-), hiperemis (-), massa (-) Edema (-), hiperemis (-), massa (-) Nyeri pergerakan aurikula (-), nyeri tekan tragus (-) Edema (-), hiperemis (-), sekret (-), cerumen (-) Telinga kiri Edema (-), hiperemis (-), massa (-) Edema (-), hiperemis (-), massa (-) Edema (-), hiperemis (-), massa (-) Nyeri pergerakan aurikula (-), nyeri tekan tragus (-) Edema (-), hiperemis (-), sekret (-), cerumen (-) : Baik :

Preaurikula

Retroaurikula

Palpasi

Canalis aurikularis eksterna Membran timpani

Perforasi (-), Hiperemis (+), cone of light (-)

Perforasi (-), Hiperemis (+), cone of light (-)

2) Hidung Bentuk dan Ukuran Sekret Concha inferior Septum Dekstra Tidak Hiperemis Tidak ada deviasi Sinistra Tidak Hiperemis

Polip/tumor Pasase udara

Tidak ada +

Tidak ada +

3) Tenggorokan Keterangan Mukosa Tonsil Hiperemis (-) Hiperemis (-), hipertropi (-) T1 T1

4) Kelenjar Getah Bening Tidak teraba pembesaran KGB IV. RESUME Pasien datang dengan keluhan nyeri telinga kanan dan kiri sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri dirasakan didalam telinga, telinga terasa berdengung diakui, keluar cairan, gatal dan pendengaran berkurang disangkal. Sebelumnya pasien mengalami batuk pilek dan panas badan sejak 3 hari yang lalu, merasa gelisah dan sukar tidur. Keluhan nyeri tenggorakan dan menelan disangkal, serta keluhan sakit gigi dan mengkorek-korek telinga disangkal. Dari pemeriksaan fisik ditemukan membrane timpani kiri dan kanan hiperemis dan cone of light negative.

V. DIAGNOSA BANDING Otitis Media Akut Stadium Hiperemis Auris dextra Sinistra VI. DIAGNOSA KLINIK Otitis Media Akut Stadium Hiperemis Auris dextra Sinistra VII. TERAPI Umum : 1. Menjaga agar telinga tidak kemasukan air 2. Tidak mengorek telinga 3. Kontrol teratur
3

Khusus : Clindamycin ( Antibiotik ) Metil prednisolon ( Kotikosteroid ) Pseudoefedrin HCl

VIII. KONSELING
y y y y

Kontrol jika obat habis. Minum obat secara teratur, terutama antibiotik harus dihabiskan. Bila sebelum obat habis terdapat keluhan lain, segera kontrol. Bila terdapat gejala batuk, pilek, dan radang tenggorokan segera diobati untuk mencegah terjadinya infeksi yang berkelanjutan pada telinga. Telinga jangan banyak dimanipulasi misalnya dikorek-korek dengan cutton bud.

IV. PROGNOSIS Quo ad vitam : ad bonam Quo ad functionam : ad bonam

ANALISA KASUS Anamnesis Berdasarkan anamnesis didapatkan, pasien datang dengan keluhan nyeri telinga kanan dan kiri sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri dirasakan didalam telinga, telinga terasa berdengung diakui, keluar cairan, gatal dan pendengaran berkurang disangkal. Sebelumnya pasien mengalami batuk pilek dan panas badan sejak 3 hari yang lalu, merasa gelisah dan sukar tidur. Keluhan nyeri tenggorakan dan menelan disangkal, serta keluhan sakit gigi dan mengkorek-korek telinga disangkal. Hal ini menunjukkan bahwa pencetus terjadinya OMA ialah infeksi saluran napas atas. Pemeriksaan Fisik y Membran timpani telinga kanan dan kiri hiperemis Membran timpani pada telinga sehat umumnya dalam keadaan intak dan berwarna putih keabuan, namun pada pasien didapatkan membran timpani telinga kanan dan kiri hiperemis. Pasien termasuk dalam otitis media akut stadium hiperemis. y Cone of light telinga kanan dan kiri negative Pemeriksaan membran timpani pada telinga sehat dengan menggunakan otoskop didapatkan pantulan cahaya otoskop pada membran timpani (cone of light), namun pada pasien ini tidak didapatkan cone of light pada membran timpani telinga kanan dan kiri. Hal ini dikarenakan pembuluh darah yang melebar di membrane timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis. Pengelolaan dan Terapi a. Pemberian antibiotik Clindamycin obat pilihan untuk bakteri anaerob (streptokokus, stafilokokus, pneumokokus) berguna untuk mengatasi invasi kuman yang terjadi pada telinga tengah. b. Pemberian Metil prednisolon berguna sebagai anti inflamasi. c. Pemberian Pseudoefedrin HCl berguna untuk meredakan gejala pilek yang diderita oleh pasien.

Otitis Media Akut (OMA)

ANATOMI TELINGA Anatomi telinga dibagi menjadi 3, yaitu : a. Telinga Luar b. Telinga Tengah c. Telinga Dalam

Telinga Luar Telinga luar, yang terdiri dari aurikula (daun telinga) dan canalis auditorius eksternus ( liang telinga ), dipisahkan dari telinga tengah oleh struktur seperti cakram yang dinamakan membrana timpani (gendang telinga). Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama oleh kartilago, kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada lobus telinga. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus. Canalis auditorius eksternus berbentuk seperti huruf S dan panjangnya sekitar 2,5 3 cm. Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat di mana kulit terlekat. Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis. Canalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani. Kulit dalam kanal mengandung kelenjar khusus, glandula seruminosa, yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut serumen. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian luar tetinga. Serumen nampaknya mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit.

Telinga Tengah Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) di sebelah lateral dan kapsul otik di sebelah medial celah telinga tengah terletak di antara kedua Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas lateral telinga, Membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis normalnya berwarna kelabu mutiara. Telinga tengah merupakan rongga berisi udara merupakan rumah bagi osikuli (tulang telinga tengah) dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian mastoid tulang temporal. Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen, yang membantu hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval/ tingkap lonjong dan dinding medial telinga tengah, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval, di mana suara dihantar telinga tengah. Jendela bulat/ tingkap bulat memberikan jalan ke getaran suara. Jendela bulat ditutupi oleh membrana sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis, atau struktur berbentuk cincin. anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe. Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm, menghubngkan telinga tengah ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii tertutup, namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau menguap atau menelan. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer.

Gambar 2. Perbedaan anatomi tuba eustachius anak dan dewasa

Telinga Dalam Telinga dalam terdiri dari koklea ( rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli. Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibule sebelah atas, skala timpani di sebelah bawah dan skala media ( ductus koklearis ) diantaranya. Skala vestibule dan timpani berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa. Ion dan garam yang terdapat pada perilimfa berbeda dengan endolimfa. Hal ini penting untuk pendengaran. Dasar skala vestibule ( Reissners Membrane) sedangkan skala media adalah membrane basalis. Pada membrane ini terletak Organ Corti. Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membrane tektoria, dan pada membrane basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel rambut luar, dan Kanalis Corti, yang membentuk organ corti. Fisiologi Pendengaran

Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energy bunyi oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut menggetarkan membrane timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang
8

pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membrane timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakan tingkap lonjong sehingga perilimfa pada skala vestibule bergerak. Getaran diteruskan melalui membrane Reissner yang mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan ggerak relative antara membrana Reissners yang mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relative antara membrane basilaris dan membrane tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel tambut, sehingga menglepaskan neurotransmitter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nucleus auditorius sampai ke korteks pendengaran ( area 39 40 ) di lobus temporalis.

Definisi Otitis Media Akut Otitis media akut (OMA) adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. OMA terjadi karena faktor pertahanan tubuh yang terganggu. Sumbatan tuba Eustachius merupakan faktor penyebab utama dari otitis media. Faktor pencetus terjadinya otitis media supuratif akut (OMA), yaitu : Infeksi saluran napas atas. Otitis media akut (OMA) dapat didahului oleh infeksi saluran napas atas yang terjadi terutama pada pasien anak-anak. Gangguan faktor pertahanan tubuh. Faktor pertahanan tubuh seperti silia dari mukosa tuba Eustachius, enzim, dan antibodi. Faktor ini akan mencegah masuknya mikroba ke dalam telinga tengah. Tersumbatnya tuba Eustachius merupakan pencetus utama terjadinya otitis media akut (OMA). Usia pasien. Bayi lebih mudah menderita otitis media akut (OMA) karena letak tuba Eustachius yang lebih pendek, lebih lebar dan lebih horisontal. Adenoid (adenoid: salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh) pada anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi adenoid berdekatan dengan muara saluran Eustachius sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya saluran Eustachius. Selain itu adenoid sendiri dapat terinfeksi di mana infeksi tersebut kemudian menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.

Etiologi Kuman penyebab OMA adalah bakteri piogenik, seperti Streptococcus hemoliticus, Staphylococcus aureus, Pneumococcus, Haemophilus influenza, Escherichia coli,

Streptococcus anhemolyticus, Proteus vulgaris, Pseudomonas aeruginosa. Sejauh ini Streptococcus pneumonia merupakan organisme penyebab tersering pada semua kelompok umur. Sedangkan Haemophilus influenza adalah patogen tersering yang ditemukan pada anak di bawah usia lima tahun. Meskipun juga patogen pada orang dewasa.

Patogenesis Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran, dan datangnya selsel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Menjadi berat jika cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya merobek gendang telinga karena tekanannya.

Ada 5 stadium otitis media supuratif akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah, yaitu : 1. Oklusi tuba Eustachius 2. Hiperemis (pre supurasi) 3. Supurasi 4. Perforasi 5. Resolusi
10

1.

Stadium Oklusi Tuba Eustachius

Stadium oklusi tuba Eustachius terdapat sumbatan tuba Eustachius yang ditandai oleh retraksi membrana timpani akibat tekanan negatif dalam telinga tengah karena terjadinya absorpsi udara. Selain retraksi, membrana timpani kadang-kadang tetap normal atau hanya berwarna keruh pucat atau terjadi efusi.Stadium oklusi tuba Eustachius dari otitis media supuratif akut (OMA) sulit kita bedakan dengan tanda dari otitis media serosa yang disebabkan virus dan alergi. 2. Stadium Hiperemis (Pre Supurasi)

Stadium hiperemis (pre supurasi) akibat pelebaran pembuluh darah di membrantimpani yang ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis, edema mukosa dan adanya sekret eksudat serosa yang sulit terlihat.

3.

Stadium Supurasi

Stadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat purulen (nanah). Selain itu edema pada mukosa telinga tengah makin hebat dan sel epitel superfisial hancur.Ketiganya menyebabkan terjadinya bulging (penonjolan) membrana timpani ke arah liang telinga luar. Pasien akan tampak sangat sakit, nadi & suhu meningkat dan rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Anak selalu gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak. Stadium supurasi yang berlanjut dan tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan ruptur membran timpani akibat timbulnya nekrosis mukosa dan submukosa membrane timpani. Daerah nekrosis terasa lebih lembek dan berwarna kekuningan. Nekrosis ini disebabkan oleh terjadinya iskemia akibat tekanan kapiler membran timpani karenapenumpukan nanah yang terus berlangsung di kavum timpani dan akibat tromboflebitis vena-vena kecil.Keadaan stadium supurasi dapat kita tangani dengan melakukan miringotomi. Bedah kecil ini kita lakukan dengan membuat luka insisi pada membran timpani sehingga nanah akan keluar dari telinga tengah menuju liang telinga luar. Luka insisi pada membran timpani akan mudah menutup kembali sedangkan ruptur lebih sulit menutup kembali. Bahkan membran timpani bisa tidak menutup kembali jika membran timpani tidak utuh lagi.
11

4.

Stadium Perforasi

Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga sekret berupa nanah yang jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Kadang-kadang pengeluaran sekret bersifat pulsasi (berdenyut). Stadium ini sering disebabkanoleh terlambatnya pemberian antibiotik dan tingginya virulensi kuman.Setelah nanah keluar, anak berubah menjadi lebih tenang, suhu menurun dan bisa tidurnyenyak. Jika membran timpani tetap perforasi dan pengeluaran sekret (nanah) tetap berlangsung selama lebih 3 minggu maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. Jika kedua keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih 1,5-2 bulan maka keadaan itu disebut otitis media supuratif kronik (OMSK).

5. Stadium Resolusi Stadium resolusi ditandai oleh membran timpani berangsur normal hingga perforasi membran timpani menutup kembali dan sekret purulen tidak ada lagi. Stadium ini berlangsung jika membran timpani masih utuh, daya tahan tubuh baik, dan virulensi kuman rendah. Stadium ini didahului oleh sekret yang berkurang sampai mongering. Apabila stadium resolusi gagal terjadi maka akan berlanjut menjadi otitis mediasupuratif kronik (OMSK). Kegagalan stadium ini berupa membran timpani tetapperforasi dan sekret tetap keluar secara terus-menerus atau hilang timbul.Otitis media supuratif akut (OMA) dapat menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa otitis media serosa. Otitis media serosa terjadi jika sekret menetap di kavum timpani tanpa mengalami perforasi membran timpani Gejala Klinik Otitis Media Akut (OMA)  Gejala klinik otitis media supuratif akut (OMA) tergantung dari stadium penyakit dan umur penderita. Gejala stadium supurasi berupa demam tinggi dan suhu tubuh menurun pada stadium perforasi. Gejala klinik otitis media supuratif akut (OMA)berdasarkan umur penderita, yaitu:

12

 Bayi dan anak kecil Gejalanya : demam tinggi bisa sampai 390C (khas), sulit tidur, tiba-tiba menjerit saat tidur, mencret, kejang-kejang, dan kadang-kadang memegang telingayang sakit.  Anak yang sudah bisa bicara Gejalanya : biasanya rasa nyeri dalam telinga, suhu tubuh tinggi, dan riwayat batuk pilek.  Anak lebih besar dan orang dewasa Gejalanya : rasa nyeri dan gangguan pendengaran(rasa penuh dan pendengaran berkurang).

Diagnosis Diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut.


y y

Penyakitnya muncul mendadak (akut) Ditemukannya tanda efusi (efusi: pengumpulan cairan di suatu rongga tubuh) di telinga tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut:
o o o o

menggembungnya gendang telinga terbatas/tidak adanya gerakan gendang telinga adanya bayangan cairan di belakang gendang telinga cairan yang keluar dari telinga

Adanya tanda/gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut:
o o

kemerahan pada gendang telinga nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal

Terapi Otitis Media Supuratif Akut (OMA)  Terapi otitis media supuratif akut (OMA ) tergantung stadium penyakit, yaitu : 1. Oklusi tuba Eustachius . tujuan terapi di khususkan untuk membuka kembali tuba eustachius. Diberikan obat tetes hidung, selain itu, sumber infeksi juga harus diobati dengan memberikan antibiotik. 2. Hiperemis (pre supurasi) Diberikan antibiotik, obat tetes hidung, dan analgesik. Bila membran timpani sudah hiperemi difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Antibiotik yang diberikan ialah penisilin atau eritromisin. Jika terdapat resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavunalat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan
13

penisilin IM agar konsentrasinya adekuat di dalam darah. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Pada anak diberikan ampisilin 4x50-100 mg/KgBB, amoksisilin4x40 mg/KgBB/hari, atau eritromisin 4x40 mg/kgBB/hari. 3. Supurasi Selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk dilakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh. Selain itu, analgesik juga perlu diberikan agar nyeri dapat berkurang. 4. Perforasi Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. 5. Resolusi Biasanya akan tampak sekret mengalir keluar. Pada keadaan ini dapat dilanjutkan antibiotik sampai 3 minggu, namun bila masih keluar sekret diduga telah terjadi mastoiditis. Aturan pemberian obat tetes hidung :  Bahan. HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologis untuk anak berusia dibawah 12 tahun.HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologis untuk anak berusia diatas 12 tahun dan orang dewasa.Tujuan. Untuk membuka kembali tuba Eustachius yang tersumbat sehingga tekanan negatif dalam telinga tengah akan hilang. Aturan pemberian obat antibiotik :  Stadium oklusi. Berikan pada otitis media yang disebabkan kuman bukan otitis media yang disebabkan virus dan alergi (otitis media serosa).Stadium hiperemis (pre supurasi). Berikan golongan penisilin atau ampisilin selama minimal 7 hari. Golongan eritromisin dapat kita gunakan jika terjadi alergi penisilin.Penisilin intramuskuler (IM) sebagai terapi awal untuk mencapai konsentrasi adekuat dalam darah. Hal ini untuk mencegah terjadinya mastoiditis, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Berikan ampisilin 50-100 mg/kgbb/hr yang terbagi dalam 4 dosis, amoksisilin atau eritromisin masing-masing 50 mg/kgbb/hr yang terbagi dalam 3 dosis pada pasien anak.Stadium resolusi. Lanjutkan pemberiannya sampai 3 minggu bila tidak terjadi resolusi.Tidak terjadinya resolusi dapat disebabkan berlanjutnya edema mukosa telinga tengah.Curigai telah terjadi mastoiditis jika sekret masih banyak setelah kita berikan antibiotic selama 3 minggu. Aturan tindakan miringotomi :  Stadium hiperemis (pre supurasi). Bisa kita lakukan bila terlihat hiperemis difus.Stadium supurasi. Lakukan jika membran timpani masih utuh. Keuntungannya yaitu gejala klinik lebih cepat hilang dan ruptur membran timpani dapat kita hindari.
14

Aturan pemberian obat cuci telinga :  Bahan. Berikan H2O22 3% selama 3-5 hari.Efek. Bersama pemberian antibiotik yang adekuat, sekret akan hilang dan perforasi membran timpani akan menutup kembali dalam 7-10 hari.Komplikasi Otitis Media Supuratif Akut (OMA).

Ada 3 komplikasi otitis media supuratif akut ( OMA), yaitu : 1. Abses subperiosteal. 2. Meningitis. 3. Abses otak. Dewasa ini, ketiga komplikasi diatas lebih banyak disebabkan oleh otitis media supuratif kronik (OMSK) karena maraknya pemberian antibiotik pada pasien otitis media supuratif akut (OMA). Komplikasi yang serius adalah: 1. Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah ( mastoiditis atau petrositis ) 2. Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler ) 3. Kelumpuhan pada wajah 4. Tuli 5. Peradangan pada selaput otak (meningitis ) 6. Abses otak.Tanda-tanda terjadinya komplikasi:  sakit kepala  tuli yang terjadi secara mendadak  vertigo(perasaan berputar)  demam dan menggigil.

15

DAFTAR PUSTAKA

1. Djaafar, ZA. 2007. Kelainan Telinga Tengah. Telinga Hidung Tenggorokan, Edisi ke 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2. Boies, dkk. 1997. Buku ajar penyakit THT Edisi 6. Jakarta : EGC 3. Efiaty, dkk.2009.Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher Edisi Keenam. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

16