Anda di halaman 1dari 1

Bilangan Iodium (BI) Bilangan iodium menerangkan ketidakjenuhan asam lemak penyusun minyak dan lemak.

Asam lemak tak jenuh mampu mengikat iod dan membentuk persenyawaan yang jenuh. Banyaknya iod yang diikat menunjukkan banyaknya ikatan rangkap. Lemak yang tidak jenuh dengan mudah dapat bersatu dengan iodium (dua atom iodium ditambahkan pada setiap ikatan rangkap dalam lemak). Semakin banyak iodium yang digunakan semakin tinggi derajat ketidakjenuhannya. Asam lemak jenuh biasanya padat dan asam lemak tidak jenuh adalah cair. Bilangan iodium dinyatakan sebagai banyaknya gram iod yang diikat oleh 100 gram minyak atau lemak. Penentuan Bilangan iodium dapat dilakukan dengan cara Hanus atau cara Kaufmaun dan cara Von Hubl atau cara Wijs. Pada cara Hanus, larutan iod standarnya dibuat dalam asam asetat pekat (glasial) dan ditambah iodium bromida untuk mempercepat reaksi. Pereaksi iodomonobromida bereaksi dengan ikatan olefenik. Pereaksi iodomonobromida ditambahkan ke dalam sampel yang dilarutkan dalam kloroform menggunakan buret. Campuran dikocok, kemudian disimpan dalam wadah tertutup rapat, dan terhindar dari cahaya (di tempat gelap). KI dan iodium yang telah dibebaskan ,ditambahkan ke dalam campuran, dan kemudian campuran dititrasi dengan natrium tiosulfat 0,1N menggunakan indikator kanji. Kemudian, dilakukan titrasi blangko. Sedangkan cara Wijs, digunakan larutan iod dalam asam asetat pekat yang mengandung iodium klorida sebagai pemicu reaksi. Bilangan iodium dihitung dengan rumus: Bilangan Iod = di mana : V1 = Volume peniter untuk sampel (mL) V = Volume peniter untuk blanko (mL)

V  V1 x N x 12,69g
Wg

W = bobot sampel (g) N = normalitas peniter (N)

Pada percobaan kali ini, tidak dilakukan penentuan bilangan iodium. Apabila dilakukan penentuan bilangan iodium dan hasilnya lebih tinggi dari normal maka disimpulkan bahwa sampel tersebut tidak murni, yaitu ditambahkan jenis asam lemak lain yang memiliki bilangan iod lebih tinggi sedangkan bila bilangan iodiumnya lebih rendah dari normal maka disimpulkan bahwa sampel tersebut telah mengalami perlakuan khusus, misalnya hidrogenasi (penjenuhan) atau berupa penguraian lemak untuk memisahkan asam oleat dari trigliserida.