Anda di halaman 1dari 16

1

PENUGASAN BLOK MEDIKOLEGAL KELOMPOK Sistem Kontrak Dokter dengan Perusahaan Farmasi

Disusun oleh: Bima Achmad Bina N. Danil Eko Priyanto Henry Suryono Firdaus Novan Nasution 08711031 08711149 08711081 08711231

KELOMPOK TUTORIAL 14 Tutor: dr. Asyril A. Saad

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2011

BAB I I.1. Definisi Hubungan bebas antara dokter dan industri obat yang melakukan jual-beli obat telah banyak merugikan pasien. Pasien menjadi ajang permainan bisnis obat para dokter. Adanya iming-iming mencapai target penjualan dari industri obat, telah memicu rusaknya profesi dokter yang sepantasnya menjadi habitus moralitas. Dampaknya nilai kemanusiaan dipertaruhkan guna kepentingan bisnis. Mengerikan lagi, dengan keahliannya, dokter dapat mengarahkan resep obat yang sarat dengan kepentingan bisnis pribadi, lebih-lebih tanpa menghiraukan kemampuan ekonomi pasien. Suatu realitas profesi yang tergadaikan. Lebih memprihatinkan lagi, ketika mendapati dokter yang hanya berorientasi bisnis semata. Pemeriksaan berlangsung singkat dan berakhir hanya dengan penyelesaian memberikan selembar coretan resep obat tanpa memperhatikan hakhak pasien untuk membuka kesempatan berkomunikasi dan memberi informasi penyakitnya lebih mendalam. Agar dokter-dokter tidak berlebihan meresepkan obat keras dari perusahaan farmasi ke pasiennya, Menteri Kesehatan akan mengeluarkan aturan tentang promosi obat oleh dokter. Sudah bukan rahasia lagi kalau perusahaan farmasi kadang memberikan imbalan pada dokter jika meresepkan obat yang diproduksinya. Menurut Menkes dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DrPH saat ini banyak kasus jika dokter meresepkan salah satu obat dari perusahaan farmasi tertentu maka nanti si dokter akan diberikan imbalan. Dengan keluarnya Permenkes tersebut, nantinya hal ini tidak boleh dilakukan. Menkes menuturkan promosi berlebihan disini termasuk memberikan imbalan pada dokter jika ia meresepkan obat tertentu. I.2. Ruang Lingkup

Ruang lingkup dalam hubungan antara dokter dengan pabrik obat adalah antar pihak pabrik sendiri dengan dokternya, pabrik obat biasanya menawarkan berbagai macam bentuk obat dan harga penjualannya. Dengan cara itu pihak pabrik memberi waktu kepada dokter agar obat habis dalam jangka waktu yang telah di tentukan, banyak cara yang dilakukan dokter untuk menghabiskan obat secepat mungkin, dengan selalu memberi obat yang telah diberikan dari pabrik kepada pasien, pasien juga termasuk dalam ruang lingkup hubungan ini. I.3. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan ini adalah agar kita tahu mana batasan-batasan yang perlu dilakukan, mengetahui bagaimana proses konspirasi antara pihak pabrik dan dokter, selain itu perlu diketahui hubungan yang baik antara dokter dan pabrik obat agar tidak terjadi kecurangan atau merugikan pasien karena adanya konspirasi antar keduanya.

BAB II II.1. Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah hubungan profesi dokter dengan perusahaan obat yang

seharusnya terjadi? 2. Siapa yang diuntungkan dalam hubungan ini? 3. Bagaimanakah akibat yang ditimbulkan akibat keirasionalan dokter dalam memberikan obat karena perjanjian dokter kepada pabrik obat tersebut? 4. Bagaimanakah langkah-langkah untuk menindak lanjuti ketidak

profesionalisme kedokteran dalam hubungannya dengan pabrik obat?


5. Bagaimanakah islam menyikapi sikap dokter yang tidak profesional dalam

menjaga hubungannya dengan pabrik obat? II.2. Tujuan Masalah 1. Mengetahui hubungan kerja sama antar dokter kepada perusahaan obat, serta mengetahui batas-batasan dalam melakukan prktik medis dan bisnis. 2. Dengan mengetahui pihak yang diuntungkan, kita dapat mencegah terjadinya ketidak profesionalisme dokter dalam memberikan obat. 3. Ketidak rasionalan dokter dalam memberikan terapi akibat intervensi dari pabrik obat akan merugikan subjek-subjek sekitar dokter, yaitu pasien, dokter itu sendiri, dan pabrik obat yang mengandalakn bisnis seperti itu. 4. Islam membawa manusia ke dalam kebahagiaan, keadilan, dan kesejukan sehingga peranannya jauh dari perasaan menyakiti sesama manusia.

BAB III. PEMBAHASAN III.1. Fakta Etika Secara bioetik yang memiliki empat prinsip, yaitu beneficence, non maleficence, justice, dan otonomy, kolusi dalam sistem peredaran obat akibat dokter yang berkerja sama dengan perusahan farmasi bertentangan dengan nilainilai dokter dalam mengusung nilai-nilai kemanusiaan.
1. Dilihat dari sisi benefieence

Merupakan prinsip bahwa tindakan dokter adalah baik dan membawa kebaikan bagi pasien. Dengan adanya kontrak/ kolusi bahwa nantinya dokter akan membantu proses penjualan obat-obatan dari pihak perusahaan farmasi dalam waktu dan jumlah tertentu, maka ada waktu dimana mendekati target waktu pasien yang tidak mengindikasikan diberikan resep atas obat tersebut akhirnya malah diresepkan. Begitupula saat mendiagnosis maka dokter akan terpaku bagaimana agar obat tersebut dapat berhasil habis teresepkan kepada pasien dalam waktunya nanti. Peresepan yang tidak rasional dapat memberikan efek buruk bagi pasien, sehingga dapat dikatakan dengan jelas bahwa ini tidak sesuai dengan prinsip benefience.
2. Dilihat dari sisi Non Maleficence

Telah dijelaskan di atas, bahwa dokter yang tidak memenuhi kaidah peresepan yang benar akibat intervensi dari perusahaan farmasi agar obat yang ditentukan habis dalam jangka waktu dan jumlah tertentu,

menyebabkan pasien mendapatkan peresepan yang irasional. Peresepan yang irasional dapat berwujud polifarmasi (pemberian kandungan zat yang sama dalam jumlah yang berlebih, biasanya akibat kekurang pahaman mengenai kandungan zat obat), salah dalam pemberian obat (obat yang seharusnya tidak diberikan ikut diberikan), dan pemberian dalam kadar dois yang tidak tepat dan justru dapat membahayakan pasien. Maka pihak pasien lah yang akan menjadi korban akibat dokter dan perusahaan yang tidak profesional dan melanggar garis-garis kode etiknya.
3. Dilihat dari sisi Justice

Dapat diartikan sebagai prinsip kedilan, perataan, atau perlakuan yang sama antar semuanya. Dari perilaku yaitu melakukan kontrak dengan pabrik obat (perusahaan farmasi), maka dokter akan berusaha memberikan obat tersebut kepada semua pasien. Hal ini bertentangan dengan prinsip keadilan, dikarenakan pasien merupakan berbagai orang dengan keluhan kesehatan yang datang kepada dokter dari berbagi kalangn status ekonomi baik rendah, sedang, dan tinggi. Kondisi pasien berada dalam posisi yang sulit karena ketidak tahuan mereka mengenai ilmu kesehatan, disini dokter yang sehrusnya memiliki peran sebagai pemberi nasehat untuk memperbaiki diri pasien dan mengupayakan kesembuhan pasien, berubah mind set nya dengn orientasi bisnis. Maka keadilan yang seharusnya pasien mendapatkan perawatan dan obat yang seharusnya dia dapat, mungkin tidak akan dia dapatkn jika tidak membewa keuntungan bagi diri sang dokter. Selain itu pasien dari golongan status ekonomi rendah disetarakan obat dan biaya pasien dengan status ekonomi di atasnya agar semakin meraup keuntungan.
4. Dilihat dari sisi Otonomy

Pengertiaan di atas berarti kehendak. Di dalam proses pengambilan tindakan medis, sudah menjadi suatu kewajiban bahwa dokter harus meminta surat persetujuan medik yang akan dia jalankan (kecuali kondisi-

kondisi tertentu). Dokter yang telah melakukan kontrak dengan pabrik obat akan bersifat tertutup dan mengada-ada terhadap pengobatan yang akan diberikan agar pasien mau membeli obat dan konsultasi terus kepada dokter tersebut. Selain itu bisa juga dokter memberikan keterangan informasi obat yang tidak lengkap agar cenderung memilih obat yang ingin dokter habiskan. Dan yang lebih parahnya lagi, pasien tidak diberikan informasi atau persetujuan medik sebelumnya, dan tiba-tiba mendapatkan kwitansi pembayaran pada akhir terapi. Sehingga dari penjelasan di atas kita bisa mengerti bahwa prinsip otonomy berlawanan dengan kolusi dalam kerja sama dokter dengan pihak perusahaan farmasi. III.2. Fakta Hukum Pada tahun 2002 Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengantisipasi tindakan kolusi antara dokter dengan pihak perusahaan farmasi melalui perangkat Surat Keputusan (SK) Kepala BPOM No. HK.00.05.3.02706 tentang Promosi Obat. Pasal 9 SK ini memuat sejumlah larangan bagi Industri Farmasi dan/atau Pedagang Besar Farmasi. Mereka dilarang (a) Berkerja sama dengan apotik dan penulis resep; (b)Berkerja sama dalam pengresepan obat dengan apotik dan/atau penulis resep dalam suatu program khusus untuk meningkatkan penjualan obat tertentu;
(c) Memberikan bonus/hadiah berupa uang (tunai, bank draft, pinjaman,

voucher, tiket) dan/atau barang kepada penulis resep yang meresepkan obat produksinya dan/atau yang didistribusikan. Sedangkan pengawasan terhadap kegiatan promosi obat oleh perusahaan farmasi dilakukan sepenuhnya BPOM dengan membentuk komisi independen. Mereka yang melanggar larangan tadi bisa dikenakan sanksi mulai dari peringatan tertulis, penghentian sementara kegiatan, hingga pencabutan izin edar obat bersangkutan. Mengacu pada sanksi pidana sebagaimana dimaksud SK BPOM tadi, pasal 62 Ayat (1) UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

menyebutkan: Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8, pasal 9, pasal 10, pasal 13 Ayat (2), pasal 15, pasal 17 Ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, huruf e, ayat (2) dan Pasal 18 dipidana dengan pidana penjara paling lima tahun atau pidana denda maksimal dua miliar. Tetapi dengan dimunculkannya pembentukan Etika Promosi Obat oleh Departemen Kesehatan yang pada tanggal 11 Juni 2007, cukup banyak kekurang simpatikan masyarakat dikarenakan kekhawatiran akan dimanfaatkan secara tidak semestinya (kelonggaran dalam upaya kolusi dokter dengan perusahaan farmasi). Jika kita tilik lebih dalam lagi, sebenarnya secara tidak langsung sudah ada hal-hal yang saling terkait seperti kerja sama yang cukup jelas pada masing-masing surat ijin praktik dokter dan perusahaan farmasi di lapangan, seperti izin usaha perusahaan farmasi yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan berdasarkan Pasal 4 Ayat (1) SK Menkes RI No.1191/Menkes/SK/IX/2002 tentang Perusahaan Besar Farmasi. Demikian juga izin praktek dokter dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan berdasarkan pasal 37 UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran. Ada beberapa poin dalam Etika Promosi Obat yang patut dikemukakan di sini, yaitu:
1. Dalam hal pemberian donasi kepada profesi kedokteran, perusahaan

farmasi tidak boleh menawarkan hadiah/ penghargaan, insentif, donasi, finansial dalam bentuk lain sejenis, yang dikaitkan dengan penulisan resep atau anjuran penggunaan obat perusahaan tertentu. 2. Dukungan apapun yang diberikan perusahaan farmasi kepada seorang dokter untuk menghadiri pertemuan ilmiah tidak boleh didikaitkan dengan kewajiban untuk mempromosikan atau meresepkan suatu produk. 3. Ikatan Dokter Indonesia harus menyusun dan memverifikasi berbagai kegiatan resmi organisasi, khususnya yang berkaitan dengan sponsorship atau pendanaan dari anggota GP Farmasi Indonesia serta melakukan koordinasi dengan perusahaan farmasi untuk tindak lanjutnya.

4. Pemberian donasi dan atau hadiah dari perusahaan farmasi hanya

diperbolehkan untuk organisasi profesi kedokteran dan tidak diberikan kepada dokter secara individual. 5. Perusahaan farmasi boleh memberikan sponsor kepada seorang dokter secara individual dalam rangka pendidikan kedokteran berkelanjutan, yaitu hanya untuk biaya registrasi, akomodasi dan transportasi dari dan ke tempat acara pendidikan kedokteran berkelanjutan.
6. Perusahaan farmasi dilarang memberikan honorarium dan atau uang

saku kepada seorang dokter untuk menghadiri pendidikan kedokteran berkelanjutan, kecuali dokter tersebut berkedudukan sebagai pembicara atau menjadi moderator.
7. Seorang dokter dalam melakukan pekerjaan kedokterannya tidak boleh

dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi. Kaitannya dengan promosi obat adalah dokter dilarang menjuruskan pasien untuk membeli obat tertentu karena dokter yang bersangkutan telah menerima komisi dari perusahaan farmasi tertentu. Sejak tahun 1983 sebenarnya telah berlaku Kode Etik Kedokteran Indonesia yang mengatur Etika Promosi Obat. Pasal 3 KODEKI menetapkan bahwa dalam melakukan pekerjaannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh pertimbangan keuntungan pribadi. Sukar untuk disangkal bahwa pelayanan medis dokter semakin mengarah pada profit oriente', dibandingkan service oriented atau social oriente'? Sehingga harga obat tetap tinggi dan kolusi diduga tetap berjalan meski sukar untuk dibuktikan. Saat ini Perusahaan farmasi maupun dokter masih dapat terus melakukan kegiatan kolusi dalam peredaran obat dikarenakan belum ada sanksi yang jelas yang mengatur dan ditetapkan dan belum memiliki kekuatan hukum dalam memberikan sanksi. Cara yang lazim sampai saat ini dilakukan antara lain melampirkan brosur seminar/ temu ilmiah pada lembar transfer bank dan mengalokasikan komisi dokter pada jumlah gaji staf marketing guna menghindari keterlibatan perusahaan secara langsung.

10

Keputusan Menteri Kesehatan untuk tidak menaikkan harga obat dan menindak tegas apotik yang tidak mau menjual obat generik telah memberikan sedikit harapan bagi masyarakat untuk berobat murah. Akan tetapi, keputusan ini tidak berarti apapun, jika dokter tidak memberikan obat dengan tepat dan efektif. Pengobatan yang murah tidak hanya tergantung pada harga obat yang murah, tetapi juga peresepan yang berhasil guna dan cost efective. Peresepan yang berhasil guna dilakukan dengan cara pemberian obat yang sesuai dengan prosedur medis (evident base) dan cost efective dicapai dengan penggunaan obat generik. Jika dokter melakukan kedua hal ini maka diharapkan akan dapat meringankan beban masyarakat saat berobat. III.3. Fakta Hukum Islam Ada berbagai unsur-unsur yang perlu kita ketahui dan ada kaitannya dengan kolusi kedokteran dengan perusahaan farmasi dalam bisnis peredaran obat. Kita perlu mengetahui perkara bagaimana Islam menyikapi kegiatan suap menyuap, hadiah kepada pejabat, perantara/ komisi, dan korupsi atau kolusi. Suap Menyuap Risywah atau suap menyuap dilarang keras dalam Islam. Allah azza wa jalla dan Rasul Nya melaknat semua yang terlibat di dalamnya. Rasulullah saw bersabda: Laknat Allah terhadap penyuap dan penerima suap. (HR. Turmudzi dari Abdullah bin Amr). Imam Ahmad, Thabrani, Al Bazar dan Al hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Tsauban, bahwa ia berkata: Rasulullah melaknat Ar Raasyi (penyuap), Al Murtasyi (penerima suap), dan Ar Raa-isy (perantara dalam penyuapan). Celaan yang terungkap dalam lafazh laknat dalam hadits di atas menegaskan haramnya perbuatan suap menyuap. Jika kita cocokkan dengan kondisi kasus kolusi di Indonesia, maka perusahaan farmasi yang sebagai penyuap dan dokter sebagai penerima suap sehingga mau tidak mau akan memberikan peresepan lebih besar dari pada yang dibutuhkan pasien, serta agenagen yang terlibat di dalamnya sebagai perantara dalam penyuapan akan mendapatkan laknat dari Allah azza wa jalla. Oleh karena itu, semua bentuk harta yang diperoleh dari tindakan penyuapan tersebut dipandang haram oleh Islam dan disita oleh negara dan diserahkan

10

11

kepada Baitul Maal. Penerimanya, penyuapnya, maupun perantaranya wajib dijatuhi hukuman berat karena praktek suap sangat besar pengaruhnya terhadap semua alat-alat negara dan merusak kepercayaan masyarakat kepada aparat negara. Lebih-lebih jika praktek suap itu berkaitan dengan kejahatan besar seperti kegiatan mata-mata atau membocorkan rahasia negara dan rahasia militer untuk kepentingan negara asing, kejahatan keji yang bisa membahayakan keselamatan negara dan umat. Yang seperti itu patut diganjar hukuman mati atau penjara 25 tahun (al-baghdady, hal 56). Hadiah untuk Pejabat Hukum asal memberikan hadiah pada orang lain pada dasarnya adalah mubah. Rasulullah saw menganjurkan agar sesama muslim saling memberikan hadiah, sebagaimana sabdanya: Hendaknya kalian saling memberikan hadiah, niscaya kalian akan saling mahabbah (berkasih sayang). Namun hadiah-hadiah yang diberikan kepada seorang penguasa diharamkan dengan maksud mencari keringanan, posisi yang menguntungkan, mupun kepercayaan.. Rasulullah saw bersabda: Hadiah yang diberikan kepada penguasa adalah ghulul (perbuatan curang). (HR. Imam Ahmad dan Al Baihaqy). Al Katib dalam kitabnya Talkhisul Mutasyabih menyebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Hadiah yang diberikan kepada para pejabat adalah suht (haram). Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw telah mengangkat Ibnul Atabiyah menjadi pejabat penarik zakat dari Bani Sulaim. Setelah melaksanakan tugasnya Ibnul Atabiyah menghadap Rasulullah saw, sambil berkata: Ini kuserahkan kepada anda, sedangkan yang ini adalah hadiah yang diberikan kepadaku. Rasul saw menjawab: Jika yang Lalu engkau katakan itu benar, apakah tidak lebih baik kalau engkau duduk-duduk saja di rumah ayahmu atau ibumu sampai hadiah itu datang kepadamu. Rasulullah saw bangkit dan bicara kepada banyak orang. Setelah mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, beliau menjelaskan kasus tersebut dan beliau tutup dengan Demi Allah, siapapun di antara kalian yang mengambil hadiah

11

12

yang bukan haknya, pada hari kiamat kelak ia akan menghadap Allah dengan membawa apa yang diambilnya. Dalam kolusi dokter dengan perusahaan farmasi, sering kali perusahaan menawarkan berbagai hadiah yang sangat besar kepada para dokter, seperti umroh, haji, travel ke keluar negeri, berbagai benda mewah, dan lain-lain. Sudah jelas dari kemua adalah haram hukumnya. Perantara/ Komisi Imam Turmudzi meriwayatkan bahwa Muadz bin Jabal ra berkata: Rasulullah saw mengutusku ke Yaman (menjadi wali/gubernur). Setelah aku berangkat , beliau mengutus orang lain menyusulku. Aku pulang kembali. Rasulullah bertanya kepadaku: Tahukah engkau,mengapa aku mengutus orang menyusulmu? Janganlah engkau mengambil sesuatu untuk kepentinganmu sendiri tanpa seizinku. (Jika hal itu kau lakukan) itu merupakan kecurangan. Dan siapa saja yang berbuat curang pada hari kiamat kelak akan dibangkitkan dalam keadaan memikul beban kecurangan. Untuk itulah engkau kupanggil. Sekarang berangkatlah untuk melaksanakan tugasmu. Islam mengharamkan setiap muslim memperoleh harta dengan jalan tekanan kekuasaan. Yang dimaksud adalah harta kekayaan milik penguasa, pejabat, dan pegawai negara yang berasal dari milik negara atau masyarakat. Termasuk dalam hal ini adalah penyerobotan tanah milik penduduk secara paksa, dengan kekerasan, atau penyalahgunaan wewenang. Rasulullah saw bersabda: Siapa saja yang mengambil harta saudaranya (tanpa izin) dengan tangan kanannya (kekuasaan), ia akan dimasukkan ke dalam neraka dan diharamkan masuk surga. Seorang sahabat bertanya: Ya, Rasulullah, bagaimana kalau sedikit? Beliau menjawab: Walaupun sekecil kayu siwak. (HR Muslim, An Nasai, Ibnu Majah, Ad Darami, dan Imam Malik dalam Al Muwattha). Terhadap penyerobotan dan penggusuran tanah secara paksa, Rasulullah saw bersabda: Siapa saja yang mengambil sejengkal tanah tanpa hak (merebut/menyerobot), pada hari kiamat ia akan dibenamkan ke dalam tujuh lapis bumi. (HR. Ahmad dan Bukhari). Dalam praktik kedokteran, pasien dating untuk menuju ke dokter dengan keadaan sakit dan berharap mendapatkan obat untuk mengobati sakitnya. Dengan

12

13

adanya praktek kolusi oleh dokter kepada perusahaan farmasi akibatnya pasien akan mendapatkan banyak obat yang sebenarnya tidak dibutuhkan disertai harga yang mahal dan berkelanjutan. Akhirnya mau tidak mau pasien merogoh kantongnya demi kesehatannya (keterpaksaan dan pembenanan). Korupsi Korupsi (ikhtilas) adalah suatu jenis penjambretan dan perampasan, karena pada mulanya si pelaku berbuat secara sembunyi-sembunyi. Korupsi tidak sama dengan pencurian, karena itu syariat tidak menetapkan hukum potong tangan bagi pelakunya. Rasulullah saw bersabda: Perampas, koruptor (mukhtalis), dan pengkhianat tidak dikenakan hukuman potong tangan.. (HR. Ahmad, Ashaabus Sunan, dan Ibnu Hibban). Koruptor dihukum sesuai dengan besar harta yang dikorupsi, berupa penjara tahunan hingga mati. Korupsi adalah perbuatan haram yang haramnya lebih berat jika kejahatan itu dilakukan terhadap kekayaan milik umum. Abu Dawud meriwayatkan suatu hadits yang menyebut bahwa Rasulullah saw bersabda: Hai kaum muslimin, siapa saja di antara kalian yang melakukan pekerjaan untuk kami (menjadi pejabat/pegawai negara), kemudian ia menyembunyikan sesuatu terhadap kami walaupun sekecil jarum, berarti ia telah berbuat curang. Dan kecurangannya itu akan ia bawa pada hari kiamat nanti Siapa yang kami beri tugas hendaknya ia menyampaikan hasilnya, sedikit atau banyak. Apa yang diberikan kepadanya dari hasil itu hendaknya ia terima, dan apa yang tidak diberikan janganlah ia ambi. Pada hubungan dokter dengan perusahaan farmasi, pembayaran akibat keterpaksaan akibat tindakan dokter yang tidak rasional dapat dikatakan pemaksaan dapat disamakan dengan korupsi. Hukuman dokter bagi yang korupsi juga adalah menyerahkan semua hartanya ke Baitul Maal.

13

14

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN IV.1. Kesimpulan Dokter yang melakukan kontrak dengan perusahaan farmasi sehingga melakukan sistem pengobatan yang tidak rasional bertentangan dengan nilai-nilai etik kedokteran dan hukum islam. Keputusan Menteri Kesehatan untuk tidak menaikkan harga obat dan menindak tegas apotik yang tidak mau menjual obat generik telah memberikan sedikit harapan bagi masyarakat untuk berobat murah. Akan tetapi, keputusan ini tidak berarti apapun, jika dokter tidak memberikan obat dengan tepat dan efektif. Pengobatan yang murah tidak hanya tergantung pada harga obat yang murah, tetapi juga peresepan yang berhasil guna dan cost efective. Peresepan yang berhasil guna dilakukan dengan cara pemberian obat yang sesuai dengan prosedur medis (evident base) dan cost efective dicapai dengan penggunaan obat generik. Jika dokter melakukan kedua hal ini maka diharapkan akan dapat meringankan beban masyarakat saat berobat. Berkaitan dengan kolusi kedokteran dan perusahaan farmasi dalam bisnis peredaran obat. Para ulama telah sepakat bahwa perbuatan melakukan kontrak dengan perusahaan farmasi, dapat mengubah performa dokter menjadi makhluk yang sama kedudukannya dengan binatang, karena sama-sama makhluk hidup mereka tidak akan melukai sesama kerabatnya atau saudaranya sendiri (sedangkan manusia yang memiliki pikiran malah berpikiran untuk meraup keuntungan sendiri di atas kesusahan orang lain yang telah mempercayakan kehidupannya kepadanya). Islam mengkiaskan kegiatan yang ada di dalam kontrak dan akan

14

15

menyeretnya ke dalam hal-hal yang tidak baik (sudah dijelaskan di atas) seperti kegiatan suap menyuap, hadiah kepada pejabat, perantara/ komisi, dan korupsi atau kolusi merupakan kegiatan yang haram. IV.2. Saran Untuk meminimalkan jumlah pelanggaran yang terjadi maka diperlukan kegiatan saling mengontrol dari anggota IPMG (International Pharmaceutical Manufacturers Group) yang berjumlah 27 perusahaan sehingga kode etik di dalam praktik pembelian obat dapat terjaga. Kemudian bagi yang melanggar akan diberikan sanksi yang bukan hanya bersifat ekonomi saja, melainkan sanksi sosial yaitu pemberitaan kepada media massamengenai kecurangan yang dilakukan perusahaan tersebut. Sehingga perusahaan satu sama lain akan semakin bersaing secara jujur untuk meningkatkan kualitas, bukan dengan iming-iming kepada para dokter yang akan semakin berdampak buruk bagi pasien. Sebagai makhluk yang diberikan anugrah akal, hati, dan ruh, alangkah baiknya jika kita mampu berbuat tanpa mengedepankan ego dan kepentingan pribadi, karena mereka yang datang kepada kita adalah amanah yang datang dari Allah azza wa jalla agar kita mampu berbuat sebaik mungkin sebagai khalifah di muka bumi ini untuk beribadah kepada Nya. Sesungguhnya Allah adalah sebaikbaik tempat kembali. Wallahualam bishawab.

15

16

DAFTAR PUSTAKA 1. -----------, dan Kartono Muhammad, Aspek Hukum dan Etika Kedokteran di 2. Al Baghdady, Serial Hukum Islam, hal 56, 75 3. http://indonesiacorruptioninvestigation.blogspot.com/2011/06/hukumhukum-islam-seputar-korupsi-dan.html pada Kamis, 22 Desember 2011 jam 04.00 WIB. 4. http://www.gpfarmasi.org/ diunduh pada Kamis, 22 Desember 2011 jam 05.00 WIB. 5. http://www.ipmg-online.com/ diunduh pada Kamis, 22 Desember 2011 jam 05.30 WIB. 6. Isfandyarie, Annie. Tanggung Jawab Hukum dan Sanksi bagi Dokter (Buku 1). Prestasi Pustaka, 2006
7. MKEK IDI, 2006. Kode Etik Kedokteran Indonesia dan Pedoman

Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia. USU Repository. 8. Soerjono, S., 2009. Kontrak Terapeutik Antara Pasien dan Tenaga Medis. Temprit, Jakarta.

16