Anda di halaman 1dari 9

Pendahuluan

Nyeri bahu merupakan keluhan yang seringkali ditemukan pada populasi atlet. Nyeri bahu seringkali menjadi petunjuk adanya cedera pada daerah bahu yang bisa disebabkan karena cedera akut maupun kronis (overuse) Cedera akut dapat terjadi pada cabang-cabang olahraga kontak seperti football, rugby, hoki, lacrosse, olahraga bela diri seperti taekwondo, aikido, karate, judo, gulat, juga bisa terjadi akibat jatuh seperti pada olahraga ski es, balap sepeda, mendaki gunung, dan lain-lain. Sedangkan cedera kronis pada bahu seringkali terjadi pada olahraga yang membutuhkan ayunan tangan melampaui kepala seperti pada olahraga tenis, baseball, bola voli dan renang. Diagnosis untuk nyeri bahu atau ketidakstabilan bahu terkadang sulit untuk ditegakkan kecuali bila disebabkan oleh adanya trauma yang nyata. Riwayat keluhan yang disampaikan oleh pasien sangatlah penting untuk dikaji, karena begitu banyak penyebab yang menimbulkan keluhan nyeri pada daerah bahu, mulai dari nyeri alih dari struktur vertebra cervicalis, kelainan vaskular dan neurologis, robekan otot, kelainan tendon, gangguan fungsional akibat postur tubuh yang salah, dan lain sebagainya. Pennggunaan alat bantu sebagai penunjang untuk menegakkan diagnosis fungsionil dari nyeri bahu terkadang dibutuhkan, seperti pemeriksaan menggunakan ultrasound atau MRI. Terkadang pasien sering meminta opini dari beberapa dokter yang pada akhirnya menjadi bingung terhadap nasehat dan terapi yang diberikan oleh masing-masing dokter. Sangatlah penting menggunakan pendekatan yang sistematis dalam menegakkan diagnosis nyeri bahu, termasuk membedakan apakah gejalanya merupakan yang pertama kali muncul atau berulang. Untuk itu, pengertian mengenai struktur dasar penyusun bahu harus lebih dahulu dikenali.

ANATOMI
Bahu manusia merupakan sendi yang paling mobile dari seluruh sendi tubuh manusia. Hal ini menyebabkan sendi bahu memiliki rentang gerak (Range of Motion) yang sangat luas seperti gerakan adduksi, abduksi, fleksi, ekstensi, rotasi interna, rotasi eksterna, dan gerakan berputar (sirkumduksi) 360o pada bidang sagital. Sedangkan pada bagian posterior dapat terjadi gerakkan seperti protraksi scapula, retraksi, elevasi, dan depresi. Namun adanya rentang gerak yang sangat luas ini di satu pihak menyebabkan sendi bahu menjadi tidak stabil. Oleh karena itu, terdapat beberapa struktur lain dalam sendi bahu yang berguna untk menjaga stabilitas sendi bahu, dikenal dengan istilah rotator cuff, yang terdiri atas otot-otot, ligament, tendon dan labrum. Bahu sendiri merupakan bagian tubuh yang menghubungkan akstremitas atas dengan sumbu tubuh. Struktur dasar pada bahu terdiri atas: 1. Tulang : scapula, clavicula dan humerus 2. Artikulasi: Sternoclavicular joint, Acromioclavicular joint, Glenohumeral joint

3. 4. 5. 6.

Labrum Ligamen: Coracoclavicular, Glenohumeral, Coracohumeral Rotator Cuff: terdiri atas otot supraspinatus, infraspinatus, teres minor, dan subskapularis Bursa Subacromial/ Subdeltoid

Gbr.1 Tulang-tulang pembentuk bahu

Gbr. 2 Artikulasi bahu

Gbr. 3 Labrum

Gbr. 4 Ligamen-ligamen pada sendi bahu

Gbr. 5 Otot-otot Rotator cuff

Gbr 6. Bursa

Cedera Bahu Akut


Fraktur Clavicula

I.

Latar Belakang Fraktur adalah hilangnya kontinuitas jaringan tulang, biasanya disertai dengan cedera di jaringan sekitarnya. Clavicula merupakan salah satu tulang yang sering mengalami fraktur apabila terjadi cedera pada bahu karena letaknya yang superfisial. Fraktur clavicula bisa disebabkan oleh benturan ataupun kompressi yang berkekuatan rendah sampai yang berkekuatan tinggi yang bisa menyebabkan terjadinya fraktur tertutup ataupun trauma multipel. Klasifikasi fraktur clavicula: 1. Fraktur mid clavicula ( Fraktur 1/3 tengah klavikula) paling banyak ditemui. Mekanisme trauma berupa trauma langsung atau tak langsung ( dari lateral bahu) 2. Fraktur 1/3 distal clavicula Mekanisme trauma pada type ini biasanya karena kompresi dari bahu. 3. Fraktur 1/3 medial clavicula Insiden jarang, hanya 5% dan seluruh fraktur clavicula. Mekanisme trauma dapat berupa trauma langsung dan trauma tak langsung pada bagian lateral bahu yang dapat menekan clavicula ke sternum. Jatuh dengan tangan terkadang dalam posisi abduksi juga bisa menyebabkan fraktur clavicula tipe ini.

Gambar 7. Klasifikasi fraktur clavicula II. Penegakkan Diagnosis Fungsional a. Anamnesis Diagnosis dari fraktur clavicula biasanya didasari adanya mekanisme trauma yang nyata yang mengenai daerah bahu, bisa akibat bertabrakan dengan gaya yang cukup besar maupun akibat terjatuh. Sering terjadi pada atlet-atlet olahraga rugby, hoki es, balap sepeda, dan berkuda. Pasien biasanya mengeluh nyeri setelah terjadi trauma dan sulit untuk mengangkat lengan atau bahu. Nyeri dirasakan sepanjang sisi anterior dari bahu, pasien biasanya mendengar suara "crack" pada saat trauma terjadi, pasien juga mampu menunjuk lokasi fraktur dimana biasanya juga timbul bengkak, merah dan nyeri saat disentuh.

b.

III.

Pemeriksaan Fisik Fraktur pada bagian tengah clavicula, pada inspeksi bahu biasanya asimetris, agak jatuh kebawah, lebih kedepan ataupun lebih ke posterior. Tampak pembengkakan yang terlokalisir,tampak pula adanya deformasi. Bisa juga terjadi komplikasi neurologis (ditegakkan dengan melakukan tes refleks, tes fungsi sensoris lengan bawah, dan tes kekuatan otot lengan bawah) c. Pemeriksaan Penunjang Diagnosis pasti untuk fraktur clavicula ialah berdasarkan pemeriksaan radiologi. Secara praktis diagnostik dibuat berdasarkan anamnesis misalnya apakah ada riwayat trauma, dan pemeriksaan fisik biasa didapatkan pembengkakan daerah clavicula atau aberasi, diagnosanya akan lebih mudah apabila yang terjadi adalah fraktur terbuka. d. Diagnosis Banding y Dislokasi Sternoclavicular y Dislokasi Acromioclavicular y Fraktur costa Tatalaksana Dilakukan pembebatan menggunakan brace berbentuk angka 8 atau biasa disebut figure of eight brace. Pembebatan ini dimaksudkan untuk mengurangi nyeri, dan membetulkan posisi fraktur ke posisi yang terbaik untuk berlangsungnya pemulihan. Pembebatan biasanya dilakukan selama 6-8 minggu, dan hanya kasus-kasus yang tertentu saja yang memerlukan pembedahan, seperti kasus fraktur terbuka dan kasus yang mengalami komplikasi.

Gbr. 8 Figure of eight brace

Dislokasi Glenohumerale
I. Latar Belakang Dislokasi adalah keluarnya caput humeri dari cavitas glenoidalis. Bila hanya sebagian yang bergeser disebut subluksasi dan bila seluruhnya disebut dislokasi. Dislokasi bahu dapat terjadi ke beberapa arah, dibedakan menjadi dislokasi anterior (yang paling sering, lebih dari 90%), dislokasi posterior, dan dislokasi inferior.

Gbr. 9 Dislokasi Anterior

Gbr. 10 Dislokasi Posterior

Gbr. 11 Dislokasi Inferior Dislokasi bahu anterior biasanya terjadi saat ekstremitas tubuh bagian atas terpapar gaya ekstrim pada posisi rotasi eksternal dan abduksi. Olahraga yang sering menyebabkan dislokasi bahu adalah sepak bola dan hoki, serta olah raga yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam, voli. II. Penegakkan Diagnosis Fungsional a. Anamnesis Pasien yang mengalami dislokasi bahu akan mengeluhkan nyeri bahu yang hebat segera setelah mengalami suatu trauma disertai dengan terbatasnya rentang gerak sendi bahu yang terkena. b. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang mungkin ditemukan pada dislokasi bahu anterior adalah adanya rotasi eksternal dengan abduksi ringan pada lengan yang terkena. Terdapat juga nyeri dan keterbatasan dalam melakukan gerakan rotasi internal. Sedangkan pemeriksaan fisik yang c. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan diagnostik seperti Rontgen dan MRI bisa dilakukan untuk melihat adanya fraktur atau cedera jaringan lunak sekitar sendi yg mengalami dislokasi. Pemeriksaan rontgen yang diminta untuk menilai adanya fraktur glenoid atau kerusakan permukaan kartilago (disebut sebagai lesi Hill Sachs) adalah Rontgen AP dan Axillary views. Pada atlet muda, pemeriksaan rontgen juga dianjurkan sebelum melakukan reposisi, untuk menilai keadaan skeletalnya yang masih belum matur. d. Diagnosis Banding y Cedera Acromioclaviculare y Fraktur clavicula y Fraktur humerus III. Tatalaksana 1. Fase akut Kunci utama dalam penanganan dislokasi sendi adalah segera lakukan reposisi. Ada beberapa teknik reposisi yang bisa dilakukan dalam menangani dislokasi bahu anterior: a. Metode Hippocratic Dilakukan traksi longitudinal lengan pasien pada posisi berbaring terlentang, dengan telapak kaki pemeriksa ditempatkan pada axila pasien. Manuver ini diiringi dengan rotasi internal dan eksternal

Gbr. 12 Metode Hippocratic b. Metode Stimson Pasien dalam posisi pronasi, lengan terjuntai disamping tempat tidur dan diberi beban dibagian distalnya

Gbr. 13 Metode Stimson c. Manuver Milch Pasien dalam posisi supinasi, pemeriksa kemudian melakukan abduksi lengan pasien sampai 90o diikuti dengan rotasi eksternalsampai 90o

Gbr. 14 Manuver Milch 2. Terapi konservatif Dilakukan pembidaian pada lengan yang mengalami dislokasi bahu (arm sling) selama 10 hari sampai 6 minggu. Rehabilitasi dimulai setelah 3 minggu lengan diistirahatkan, biasanya dimulai dengan aktivitas yang bertujuan memperluas rentang gerak, sampai akhirnya latihan untuk stabilisasi scapula. 3. Terapi Bedah Terapi bedah bisa dipertimbangkan pada populasi khusus, misalnya atlet yang rentan mengalami dislokasi berulang akibat aktivitas olahraganya.

Daftar Pustaka Morgado N, Herrera J E , Shoulder Injuries dalam Herrera J E, Cooper G: Essential Sports Medicine, 2008 Rolf C, The Sports Injuries Handbook, Diagnosis and Management, 2007

Cooper G, Picket Guide to Musculoskeletal Diagnosis. 2006


Acute Shoulder Injuries: http://emedicine.medscape.com/article/1899211-overview#a30

Tseng GY._Shoulder Dislocations. In: Levey DS, Coombs BD, Reinus WR, Krasny RM, Chew FS, 2007 Available from: URL: http://www.emedicine.com Housner JA, Kuhn JE. Clavicle Fractures, 2003 December [cited 2008 Agust 5]; Vol 31. No 12. Available from: URL:http://www.sportsmedicine.com