Anda di halaman 1dari 35

BAB I PENDAHULUAN 1.

Latar Belakang Manusia membutuhkan makanan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dalam tubuh Kebutuhan zat gizi setiap orang berbeda-beda sesuai dengan umur dan jenis kelamin Agar kebutuhan zat gizi dapat terpenuhi, maka harus mengonsumsi makanan setiap hari sesuaidengan anjuran gizi Makanan yang dikonsumsi seseorang dapat diketahui jumlah dankandungan zat gizinya dengan cara melakukan penilaian konsumsi makanan atau survei diet Menurut Supariasa (2001) menyatakan bahwa survei konsumsi makanan adalah salahsatu metode yang digunakan dalam penentuan status gizi seseorang atau kelompok Survei konsumsi makanan bertujuan untuk mengetahui kebiasaan makan dan gambaran tingkatkecukupan bahan makanan dan zat gizi pada tingkat kelompok, rumah tangga dan peroranganserta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi makanan tersebut Hasil survey konsumsi makanan tidak dapat menentukan status gizi seseorang atau masyarakat secaralangsung, namun dapat digunakan sebagai bukti awal akan kemungkinann terjadinyakekurangan gizi pada seseorang. Hal terpenting dalam survey konsumsi makanan adalah metode pengumpulan datayang bertujuan untuk mendapatkan data sesuai dengan keadaan yang sebenarnya Pemilihan metode pengumpulan data yang tepat sangat penting untuk mendapatkan data yang benar sehingga kesimpulan yang ditarik dapat sempurna. PUGS merupakan acuan bagi setia p individu untuk berperilaku gizi yang baik dan benar sesuai dengan situasi dan kondisi kesehatan atau gizi seseorang dan lingkungannya (Rai, 1997). PUGS yang terdiri dari 13 pesan dasar, merupakan pedoman bagi setiap individu agar selalu mengkonsumsi makanan yang sehat, seimbang dan aman guna mempertahankan status gizi dan kesehatannya secara optimal. Konsumsi makanan dipengaruhi oleh kebiasaan makan dan ketersediaan pangan dalam keluarga. Kebiasaan makan yaitu kegiatan yang berkaitan dengan makanan menurut tradisi setempat, meliputi hal-hal bagaimana pangan diperoleh, apa yang dipilih, bagaimana menyiapkan, siapa yang memakan dan berapa banyak yang dimakan. Konsumsi pangan merupakan banyaknya atau jumlah pangan, secara tunggal maupun beragam, yang

dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis dan sosiologis. Tujuan fisiologis adalah upaya untuk memenuhi
1

keinginan makan (rasa lapar) atau untuk memperoleh zat-zat gizi yang diperlukan tubuh. Tujuan psikologis adalah untuk memenuhi kepuasan emosional atau selera, sedangkan tujuan sosiologis adalah untuk memelihara hubungan manusia dalam keluarga dan masyarakat (Anonim ,2010). Konsumsi pangan merupakan faktor utama untuk memenuhi kebutuhan gizi yang selanjutnya bertindak menyediakan energi bagi tubuh, mengatur proses metabolisme, memperbaiki jaringan tubuh serta untuk pertumbuhan. Konsumsi, jumlah dan jenis pangan dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor yang sangat mempengaruhi konsumsi pangan adalah jenis, jumlah produksi dan ketersediaan pangan. Konsumsi pangan keluarga merupakan kebutuhan anggota keluarga terhadap pangan yang bertujuan untuk memantapkan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Ketersediaan pangan keluarga juga mempengaruhi jumlah dan banyaknya konsumsi makan anggota keluarga. Semakin baik ketersediaan pangan suatu keluarga, memungkinkan terpenuhnya seluruh kebutuhan gizi. Penilaian konsumsi pangan dilakukan dengan cara survei. Survei konsumsi pangan bertujuan untuk mengetahui konsumsi pangan seseorang, keluarga atau kelompok orang baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Survei secara kuantitatif adalah untuk mengetahui jumlah bahan makanan yang dikonsumsi sedangkan secara

kualitatif adalah untuk mengetahui frekuensi makan, kebiasaan makan (food habit), jenis pangan, dan cara memperolehnya. Salah satu metode yang digunakan pada tugas kali ini adalah Food Record.

2. Rumusan Masalah Permasalahan yang kami angkat dalam laporan ini adalah bagaimana konsumsi pangan individu yang diukur dengan metode food record pada mahasiswa kesehatan masyarakat jurusan administrasi kebijakan kesehatan (AKK) angkatan 2009 universitas Haluoleo. 3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsumsi pangan individu yang diukur dengan metode food record pada mahasiswa kesehatan masyarakat jurusan administrasi kebijakan kesehatan (AKK) angkatan 2009 universitas Haluoleo. 4. Manfaat a) bagi mahasiswa

manfaat yang diperoleh yaitu mahasiswa mampu menentukan pola konsumsi dan status gizi masyarakat dengan menggunakan metode Food Record. b) bagi pemerintah manfaat yang diperoleh yaitu pemerintah dapat membuat kebijakan untuk peningkatan status gizi di dalam masyarakat sehingga dapat menurunkan kasus defisiensi gizi di masyarakat. c) bagi masyarakat manfaat yang diperoleh yaitu masyarakat dapat mengetahui status gizinya sehingga dapat meningkatkan status gizinya sendiri secara mandiri.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penilaian Konsumsi Makanan Dietary assessment atau penilaian konsumsi pangan/asupan makanan merupakan salah satu cara yang biasa dilakukan oleh ahli gizi yang bertujuan untuk mengukur apakah makanan yang dikonsumsi oleh seseorang cukup/sesuai dengan kebutuhannya atau tidak, jika hasilnya tidak sesuai dengan kebutuhannya, maka kemungkinan terjadinya kekurangan gizi sangat besar. Ada beberapa metode yang bisa digunakan antara lain : 1. Food record (inventaris makanan) 2. 24-hours recall (recall makanan 24 jam) 3. Food frequency questionnaire (kuesioner frekuensi makan) 4. Dietary history (riwayat makanan) Yang sering mejadi masalah adalah ketidak mampuan sebagian ahli gizi untuk menentukan metode yang tepat. Untuk menentukan metode yang tepat sangat tergantung terhadap tujuan penelitian/survey yang akan anda lakukan. Secara umum terdapat 4 (empat) tingkatan tujuan yang bisa dijadikan panduan, sebagai berikut : Metode SINGLE Food record atau 24-hours recall atau Weight diet record Level 1 Level 2 Level 3 Level 4 YA TIDAK TIDAK TIDAK MULTIPLE Food record atau 24-hours recall atau Weight diet record TIDAK YA YA YA TIDAK TIDAK YA YA TIDAK TIDAK TIDAK YA Semi Quantitative FFQ

Level Tujuan

Dietary history

Level 1
y

Digunakan jika anda hanya bermaksud melihat rata-rata asupan zat gizi dalam satu group populasi, anda tidak bisa menentukan berapa persen populasi yang memiliki asupan yang cukup atau tidak.

y y

Setiap sampel hanya di ukur satu kali Pastikan semua hari dalam satu minggu terwakili dalam proses pengumpulan data

Level 2
y

Digunakan jika anda ingin melihat berapa proporsi/persen populasi yang memiliki asupan yang cukup atau tidak.

Setiap sampel di ukur minimal 2 kali atau paling tidak sampel yang diukur 2 kali sebanyak 30-40 sampel per kelompok umur per jenis kelamin, beberapa literature mensyaratkan 10-15% per kelompok umur per jenis kelamin, atau tergantung variasi sampel (sebagai pedoman lihat table di bawah)

Setiap zat gizi memiliki jumlah hari pengukuran yang berbeda untuk mendapatkan asupan yang tepat.

Jika anda memutuskan pengukuran 2 hari, pengukuran tidak berturut-turut, jika anda menggunakan pengukuran 3 hari, pengukuran dilakukan berturut-turut

Level 3
y y y

Digunakan jika anda ingin melihat pola asupan seseorang berdasarkan ranking asupan Jumlah hari yang dipersyaratkan sama dengan level 2 Metode yang dipersyaratkan sama dengan level 2 ditambah dengan metode semi qualitative FFQ

Level 4
y y y

Digunakan jika anda ingin melakukan konseling atau analisis korelasi atau regresi Jumlah hari yang dipersyaratkan sama dengan level 2 Metode yang dipersyaratkan sama dengan level 3 ditambah dengan metode dietary history

Tabel jumlah hari yang dibutuhkan untuk memperkirakan rata-rata asupan

Perkiraan jumlah hari yang dibutuhkan Laki-Laki Zat gizi Energy Protein Lemak Karbohidrat Fe Serat kasar Kalsium Phospor Natrium Vitamin A Vitamin B1 Riboflavin Niacin Vitamin C 3 4 6 5 7 9 10 4 6 39 13 7 5 33 3 4 6 4 6 9 7 5 6 44 16 7 6 19 Perempuan

Penilaian Status Gizi Status gizi adalah Ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu, contoh gondok endemik merupakan keadaaan tidak seimbangnya pemasukan dan pengeluaran yodium dalam tubuh. Macam-macam penilaian status gizi 1. Penilaian status gizi secara langsung Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia dan biofisik.
6

a. Antropometri 1) Pengertian Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. 2) Penggunaan Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh. 3) Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) Salah satu contoh penilaian ststus gizi dengan antropometri adalah Indeks Massa Tubuh. Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan alat atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Berat badan kurang dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit infeksi, sedangkan berat badan lebih akan meningkatkan resiko terhadap penyakit degeneratif. Oleh karena itu, mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup yang lebih panjang. Pedoman ini bertujuan memberikan penjelasan tentang cara-cara yang dianjurkan untuk mencapai berat badan normal berdasarkan IMT dengan penerapan hidangan sehari-hari yang lebih seimbang dan cara lain yang sehat. Untuk memantau indeks masa tubuh orang dewasa digunakan timbangan berat badan dan pengukur tinggi badan. Penggunaan IMT hanya untuk orang dewasa berumur > 18 tahun dan tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil, dan olahragawan.
7

Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut: Berat Badan (Kg) IMT = ------------------------------------------------------Tinggi Badan (m) X Tinggi Badan (m) Pada akhirnya diambil kesimpulan, batas ambang IMT untuk Indonesia adalah sebagai berikut: Kategori Kurus Kurus sekali Normal Gemuk Obes Kekurangan berat badan tingkat berat Kekurangan berat badan tingkat ringan Normal Kelebihan berat badan tingkat ringan Kelebihan berat badan tingkat berat IMT <> 17,0 18,4 18,5 25,0 25,1 27,0 > 27,0

Untuk mengukur status gizi anak baru lahir adalah dengan menimbang berat badannya yaitu : jika 2500 gram maka dikategorikan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) jika 2500 3900 gram Normal dan jika 4000 gram dianggap gizi lebih. b. Klinis 1) Pengertian Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (supervicial epithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. 2) Penggunaan Penggunaan metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical surveys). Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda

tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Di samping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fifik yaitu tanda (sign) dan gejala (Symptom) atau riwayat penyakit. c. Biokimia 1) Pengertian Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. 2) Penggunaan Metode ini digunakan untuk suata peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik. d. Biofisik 1) Pengertian Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan. 2) Penggunaan Umumnya dapat digunaakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik (epidemic of night blindnes). Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap. 2. Penilaian gizi secara tidak langsung

Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga yaitu : Survei Konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi. a. Survei Konsumsi Makanan 1) Pengertian Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. 2) Penggunaan Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga dan individu. Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan dan kekurangan zat gizi. Tujuan dilaksanakannya survei konsumsi makanan adalah untuk mengetahui kebiasaan makan, dan gambaran tingkat kecukupan bahan makanan dan zat gizi pada tingkat kelompok, Rumah tangga, dan perorangan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya Secara lebih khusus tujuan pelaksanaan survei konsumsi makanan ini antara lain adalah untuk a) Menentukan tingkat kecukupan konsumsi pangan nasional dan kelompok masyarakat, b) Menentukan status kesehatan dan gizi keluarga dan individu, c) Menentukan pedoman kecukupan makanan dan program pengadaan makanan, d) Sebagai dasar perencanaan dan program pengembangan gizi, e) Sebagai sarana pendidikan gizi masyarakat, f) Menentukan perundang-undangan bidang pangan dan gizi. Metode pengukuran konsumsi pangan berdasarkan jenis data yang diperoleh antara lain adalah pertama Metode kualitatif, meliputi Metode frekuensi makanan (food frequensi); Metode dietary history; Metode telepon; Metode pendaftaran makanan. Dan kedua Metode kuantitatif meliputi Metode recall 24 jam; Perkiraan makanan (estimated food records); Penimbangan makanan (food weighing) ; Metode food account; Metode inventaris (inventory method) ; Pencatatan (household food record) dan ketiga Metode

10

kualitatif dan kuantitatif antara lain Metode recall 24 jam dan Metode riwayat makanan (dietary history) Metode Pengukuran konsumsi tingkat rumah tangga, maka metode yang digunakan antara lain adalah metode Pencatatan (food accoun); Metode pendaftaran (food list); Metode inventaris (inventory method); Pencatatan makanan rumah tangga (household food record). Sedangkan metode yang baik untuk pengukuran konsumsi tingkat individu antara lain: Metode recall 24 jam; Metode estimated food records; Metode penimbangan makanan; Metode dietary history; Metode frequensi makanan (food frequency) Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika melakukan pemilihan metode pengukuran konsumsi makanan antara lain: Tujuan penelitian Jumlah responden yang diteliti Umur dan jenis kelamin responden Keadaan sosial ekonomi responden Ketersediaan dana dan tenaga Kemampuan tenaga pengumpul data Pendidikan responden Bahasa yang digunakan responden Pertimbangan logistik pengumpulan data

Kesalahan dalam konsumsi makanan

Ketika melaksanakan pemilihan metode konsumsi makanan, terjadi beberapa bias, antara lain a) Bias secara acak (random bias) bias acak terjadi karena kesalahan pengukuran b) Bias sistematik terjadi karena. 1) Kesalahan dari kuesioner 2) Kesalahan pewawancara 3) kesalahan dari alat yang tidak akurat 4) kesalahan DKBM

11

Sumber bias dalam pengukuran konsumsi makanan, antara lain adalah kesalahan atau bias dari pengumpul data; karena alat; kesalahan dari responden; kesalahan

kesalahan DKBM dan kesalahan karena kehilangan zat gizi dalam

proses pemasakan. Beberapa cara yang umumnya digunakan untuk mengurangi bias dalam pengukuran konsumsi makanan, antara lain adalah dengan cara menggunakan sampel dalam jumlah besar; Ulangi pengukuran intake konsumsi terhadap subjek atau responden yang sama dalam beberapa waktu; Lakukan kalibrasi terhadap alat ukur; Untuk mengurangi bias yang berhubungan dengan pengetahuan responden, gunakan alat bantu gambar dan food model. b. Statistik Vital 1) Pengertian Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis dan beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan. 2) Penggunaan Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat. c. Faktor Ekologi 1) Pengertian Bengoa mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi dll.

12

2) Penggunaan Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program intervensi gizi. Estimated Food Records Metode food records ataudiary records, yang digunakan untuk mencatat jumlah yang dikonsumsi. Pada metode ii responde diminta untuk mencatat semua yang ia makan dan minum setiap kali sebelum makan dalam Ukuran Rumah Tangga (URT) atau menimbang dalam ukuran berat (gram) dalam periode tertentu (2-4 hari berturut-turut), termasuk dalam persiapan dan pengelolahan makanan tersebut. Langkah-langkah pelaksanaan food record: 1. Responden mencatat makanan dalam ukura URT atau gram (nama makanan, cara persiapan dan pemasakan bahan makanan). 2. Petugas memperkirakan/ estimasi URT kedalam ukuran berat (gram) utuk bahan makanan yang dikonsumsi tadi. 3. Menganalisis bahan makanan kedalam zat gizi dengan DKBM. 4. Membandingkan dengan AKG Metode ini dapat memberikan informasi konsumsi yang mendekati sebenarnya (true intake) tentang jumlah energy dan zat-zat gizi yang konsumsi oleh individu Kelebihan metode estimated food records: 1. Metode ini relative murah dan cepat 2. Dapat menjangkau dalam jumlah besar 3. Dapat diketahui konsumsi zat gizi sehari 4. Hasilnya relative yang akurat Kekurangan metode estimated food records: 1. Metode ini terlalu membebani responden, sehingga sering mengakibatkan respoden merubah kebiasaan makanannya. 2. Tidak cocok untuk responden yang buta huruf. 3. Sangat tergantung pada kejujuran da kemampuan responden dalam mencatat dan memperkirakan jumlah konsumsi.

13

2.2 Hubungan Konsumsi Makanan dengan Status Gizi 2.2.1 Pengertian Gizi Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan,

pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi. Tak satu pun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi, yang mampu membuat seseorang untuk hidup sehat, tumbuh kembang dan produktif. Oleh karena itu, setiap orang perlu mengkonsumsi anekaragam makanan; kecuali bayi umur 0-4 bulan yang cukup mengkonsumsi Air Susu Ibu (ASI) saja. Bagi bayi 0-4 bulan, ASI adalah satusatunya makanan tunggal yang penting dalam proses tumbuh kembang dirinya secara wajar dan sehat. Makan makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat bagi kesehatan. Makanan yang beraneka ragam yaitu makanan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantintasnya, dalam pelajaran ilmu gizi biasa disebut triguna makanan yaitu, makanan yang mengandung zat tenaga, pembangun dan zat pengatur. Apabila terjadi kekurangan atas kelengkapan salah satu zat gizi tertentu pada satu jenis makanan, akan dilengkapi oleh zat gizi serupa dari makanan yang lain. Jadi makan makanan yang beraneka ragam akan menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur. Makanan sumber zat tenaga antara lain: beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar, kentang, sagu, roti dan mi. Minyak, margarin dan santan yang mengandung lemak juga dapat menghasilkan tenaga. Makanan sumber zat tenaga menunjang aktivitas sehari-hari. Makanan sumber zat pembangun yang berasal dari bahan makanan nabati adalah kacang-kacangan, tempe, tahu. Sedangkan yang berasal dari hewan adalah telur, ikan, ayam, daging, susu serta hasil olahan, seperti keju. Zat pembangun berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan seseorang.

14

Makanan sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan. Makanan ini mengandung berbagai vitamin dan mineral, yang berperan untuk melancarkan bekerjanya fungsi organ-organ tubuh. 2.2.2 Masalah Status Gizi di Indonesia Pada saat ini Indonesia menghadapi masalah gizi ganda, yaitu yaitu masalah gizi kurang dan masalah gizi ganda, yaitu masalah gizi kurag dan masalah gizi lebih. Masalah gizi kurang pada umumnya disebabkan oleh kemiskinan, kurangnya persediaan pangan, kurang baikny6a kualitas lingkungan (sanitasi), kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi, menu seimbang dan kesehatan, dan adanya daerah miskin gizi (iodium). Sebaliknya masalah gizi lebih disebabkan oleh masalah kemajuan ekonomi pada masyarakat tertentu disertai denga kurangya pengetahuan masalah gizi, menu seimbang dan kesehatan. a. Masalah Gizi Kurang Keberhasilan pemerintah dalam peningkatan produksi pangan dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap I disertai dengan perbaika distribusi pangan, perbaikan ekonomi, dan peningkatan daya beli masyarakat telah banyak memperbaiki keadaan gizi masyarakat, namun empat masalah gizi kurang yang dikenal sejak PELITA I, hingga sekarang masih ada walaupun dalam taraf jauh berkurang. b. Kurang Energi Protein

Kurang Energi Protein (KEP) disebabkan oleh kekurangan makan sumber energi secara umum dan kekurangan sumber protein. Pada anak-anak, KEP dapat menghambat pertumbuhan, rentan terhadap penyakit terutama penyakit infeksi dan mengakibatkan rendahnya tingkat kecerdasan. Pada orang dewasa, KEP menurunkan produktifitas kerja dan derajat kesehatan sehingga menyebabkan rentan terhadap penyakit. Status gizi balita diklasifikasikan dalam gizi buruk, gizi kurang dan gizi baik.

15

c. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI)

GAKI menyebabkan pembesaran kelenjar gondok (tiroid). Pada anak-anak menyebabkan hambatan dalam pertumbuhn jasmani, maupun mental. Ini

menampakkan diri berupa keadaan tubuh yang cebol, dungu,terbelakang atau bodoh. Penanggulangan masalah GAKI secara khusus dilakukan melalui pemberian kapsul minyak beriodium / iodized oil capsule kepada semua wanita usia subur dan anak sekolah dasar di daerah endemik. Secara umum pencegahan GAKI dilakukan melalui iodisasi garam dapur.

d. Kurang Vitamin A(KVA)

Gejala-gejala mata pada defisiensi vitamin A disebut Xerophthalmia, berurut-turut terdiri atas xerosis congjunctive dan xerosiscorneae, yaitu kekeringan epithel biji mata dan kornea, karena sekresi grandulalacrimarlis menurun. Tampak selaput bola mata keriput dan kusam bila biji mata bergerak. Dari sudut fungsi tejadi hemeralopati atau nictalopia, yang oleh awam disebut buta senja atau buta ayam. Kornea kemudian mengering karena sel-selnya menjadi lunak, disebut keratomalacia, dan dapat memberikan kebutaan. Pada penyembuhn luka korneaini, dapat terjadi luka parut yang terjadi atas jaringan yang tidak tembus cahaya. Luka parit ini kadang-kadang membenjol keputihan/kemerahan disebut leucoma (biji kapas). Mungkin pula terdapat kelainan pada scelera, sebelah laterall dari korea yang di sebut bercak bitot. Kelainan ini tampak sebagai kumpulan gelembung-gelembung busa sabun yang dapat dihapus dengan kapas dan meninggalkan epithel kering dengan pigmen kecoklatan. Banyak kebutaan pada orang dewasa mudah disebabkan oleh defisiensi vitamin A. Kalau kelainan mata belum begitu parah, penyembuhan terjadi berangsur-angsur dengan pengobatan vitamin A.

e. Masalah Gizi Lebih

Masalah gizi lebih baru muncul di permukaan pada tahun-tahun terakhir PJP I, yaitu pada awal tahun 1990-an. Peningkatan pendapatan pada kelompok masyarakat tertentu, terutama di perkotaan menyebabkan perubahan dalam gaya hidup, terutama dalam pola makan. Pola makan tradisional yang tadinya tinggi karbohidrat, tinggi
16

serat kasar, dan rendah lemak berubah ke pola makan baru yangrendah karbohidrat, rendah serat kasa, dan tinggi lemak sehingga menggeser mutumakanan ke arah tidak seimbang. Perubahan pola makan ini dipercepat oleh makin kuatnya arus budaya makanan asing yang disebabkan oleh kemajuan teknologi informasi dan globalisasi ekonomi. Di samping itu perbaikan ekonomimenyebabkan berkurangnya aktifitas fisik masyarakat tertentu. Perubahan pola makan dan aktifitas fisik ini berakibat semakin banyak penduduk golongan tertentu mengalami masalah gizi lebih berupa kegemukan dan obesitas. Makanan berlebihan dikaitkan pula dengan tekanan hidup atau stress. Dampak masalah gizi lebih pada orang dewasa tampak dengan semakin meningkatnya penyakit degeneratif, seperti jantung koroner, DM, hipertensi, dan penyakit hati. Data BPS tahun 1992 dan 199 menunjukkan loncatan besar penyebab kematian. Bila tahun 1972, penyakit jantung dan pembuluh darahmenduduki urutan ke-11 sebagai penyebab kematian dengan morbiditas 1,1 per 1000 penduduk, pada tahun 1992 dan 1995 penyakit ini telah menduduki urutan pertama dalam penyebab kematian, yaitu masing-masing sebesar 15,5% dan 18,9%. Penyakit ini menonjol pada orang dewasa dan lanjut usia di daerah perkotaan di daerah Sumatra, Jawa, dan Bali. Selain itu, penyakit endoktrin dan metabolisme terutama diabetes melitus dan neoplasma (tumor dan kanker) menonjol di perkotaan, khususnya di antara penduduk berpendidikan tinggi. 2.2.3 Solusi Permasalahan Gizi Masyarakat Menurut Hadi (2005), solusi yang bisa kita lakukan adalah berperan bersama-sama. Peran Pemerintah dan Wakil Rakyat (DPRD/DPR). Kabupaten Kota daerah membuat kebijakan yang berpihak pada rakyat, misalnya kebijakan yang mempunyai filosofi yang baik menolong bayi dan keluarga miskin agar tidak kekurangan gizi dengan memberikan Makanan Pendamping (MP) ASI. Peran Perguruan Tinggi. Peran perguruan tinggi juga sangat penting dalam memberikan kritik maupun saran bagi pemerintah agar supaya pembangunan kesehatan tidak menyimpang dan tuntutan masalah yang riil berada di tengah-tengah masyarakat, mengambil peranan dalam mendefinisikan ulang kompetensi ahli gizi Indonesia dan

17

memformulasikannya dalam bentuk kurikulum pendidikan tinggi yang dapat memenuhi tuntutan zaman. Menurut Azwar (2004). Solusi yang bisa dilakukan adalah : 1. Upaya perbaikan gizi akan lebih efektif jika merupakan bagian dari kebijakan penangulangan kemiskinan dan pembangunan SDM. Membiarkan penduduk menderita masalah kurang gizi akan menghambat pencapaian tujuan pembangunan dalam hal pengurangan kemiskinan. Berbagai pihak terkait perlu memahami problem masalah gizi dan dampak yang ditimbulkan begitu juga sebaliknya, bagaimana pembangunan berbagai sektor memberi dampak kepada perbaikan status gizi. Oleh karena itu tujuan pembangunan beserta target yang ditetapkan di bidang perbaikan gizi memerlukan keterlibatan seluruh sektor terkait. 2. Dibutuhkan adanya kebijakan khusus untuk mempercepat laju percepatan peningkatan status gizi. Dengan peningkatan status gizi masyarakat diharapkan kecerdasan, ketahanan fisik dan produktivitas kerja meningkat, sehingga hambatan peningkatan ekonomi dapat diminimalkan. 3. Pelaksanaan program gizi hendaknya berdasarkan kajian best practice (efektif dan efisien) dan lokal spesifik. Intervensi yang dipilih dengan mempertimbangkan beberapa aspek penting seperti: target yang spesifik tetapi membawa manfaat yang besar, waktu yang tepat misalnya pemberian Yodium pada wanita hamil di daerah endemis berat GAKY dapat mencegah cacat permanen baik pada fisik maupun intelektual bagi bayi yang dilahirkan. Pada keluarga miskin upaya pemenuhan gizi diupayakan melalui pembiayaan publik. 4. Pengambil keputusan di setiap tingkat menggunakan informasi yang akurat dan evidence base dalam menentukan kebijakannya. Diperlukan sistem informasi yang baik, tepat waktu dan akurat. Disamping pelaksanaan monitoring dan evaluasi yang baik dan kajian-kajian intervensi melalui kaidah-kaidah yang dapat dipertanggung jawabkan. 5. Mengembangkan kemampuan (capacity building) dalam upaya penanggulangan masalah gizi, baik kemampuan teknis maupun kemampuan manajemen. Gizi bukan satu-satunya faktor yang berperan untuk pembangunan sumber daya manusia, oleh karena itu diperlukan beberapa aspek yang saling mendukung sehingga terjadi

18

integrasi

yang

saling

sinergi,

misalnya

kesehatan,

pertanian,

pendidikan

diintegrasikan dalam suatu kelompok masyarakat yang paling membutuhkan. 6. Meningkatkan upaya penggalian dan mobilisasi sumber daya untuk melaksanakan upaya perbaikan gizi yang lebih efektif melalui kemitraan dengan swasta, LSM dan masyarakat. 2.3 Kecukupan Gizi yang Dianjurkan Pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang dibutuhkan tubuh setiap hari dalam jumlah tertentu sebagai sumber energy dan zat-zat gizi. Kekurangan atau kelebihan dalam jangka waktu lama akan berakibat terhadap kesehatan. Kebutuhan akan energy dan zat-zat gizi bergantung pada berbagai factor, seperti umur, gender, berat badan, iklim, dan aktivitas fisik. Oleh karena itu, perlu disusun angka kecukupan gizi yang dianjurkan yang sesuai untuk rata-rata penduduk yang hidup di daerah tertentu. Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan digunakan sebagai standar guna mencapai status gizi optimal bagi penduduk. Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan di Indonesia pertama kali ditetapkan pada tahun 1968 melalui Widya Karya Pangan dan Gizi yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). AKG ini kemudian ditinjau kembali pada tahun 1978, dan sejak itu secara berkala tiap 5 tahun sekali. a. Pengertian dan Batasan Penggunaan Angka kecukupan gizi yang dianjurkan (AKG) atau Recommended Dietary Allowances (RDA) adalah taraf konsumsi zat-zat gizi esensial, yang berdasarkan pengetahuan ilmiah dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hamper semua orang sehat. Angka kecukupan gizi adalah banyaknya zat-zat gizi minimal yang dibutuhkan seseorang untuk mempertahankan status gizi adekuat. Angka Kecukupan Gizi (AKG) adalah kebutuhan tubuh secara umum untuk rata-rata orang Indonesia. Angka kecukupan gizi bukan merupakan angka yang tepat untuk setiap orang, karena kebutuhan tubuh seseorang juga dipengaruhi jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, aktivitas fisik dan stres.

19

AKG yang diajurkan didasarkan pada patokan berat badan untuk masingmasing kelompok umur, gender, dan aktifitas fisik. Dalam penggunaannya, bila kelompok penduduk yang dihadapi mempunyai rata-rata berat badan yang berbeda dengan patokan yang digunakan, maka perlu dilakukan penyesuaian. Bila berat badan kelompok penduduk tersebut dinilai terlalu kurus, AKG dihitung berdasarkan berat badan idealnya. AKG yang dianjurkan tidak digunakan untuk perorangan. 1. Merencanakan dan menyediakan suplai makanan untuk penduduk atau kelompok. Untuk ii perlu diketahui pola pangan dan distribusi penduduk. Karena AKG yang dianjukan adalah angka kecukupa pada tingkat faali, maka dalam merancang produksi pangan perlu diperhitungkankehilangan pagan yang terjadi pada tiap tahap perlakuan pasca 2. Menginterpretasikan data konsumsi makanan paneperorangan ataupun kelompok. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa dalam penetapan AKG digunakan patokan berat badan tertetu, misalnya pri dewasa 62 kg dan perempuan dewasa 54 kg. bila hasil survey menunjukan bahwa rata-rata berat badan menyimpang dari patokan berat badan yang digunakan, perlu dilakukan penyesuaian terhadap angka kecukupan . demikian pula penyesuaian angka kecukupan perlu dilakukan bila nilai asam amino dan nilai kecernaan hidangan berbeda dengan nilai yang digunakan dalam penetapan AKG yang dianjurkan. Penyesuaian perlu juga dilakukan dalam hal kecukupan energy dan vitamin yang berkaitan dengan penggunaan energy kelompok sebenarnya. 3. Perencanaan pemberian makanan di institusi, seperti rumah sakit, sekolah, industry/ perkantoran, asrama, panti asuhan, panti jompo dan lembaga permasyarakatan. Juga dalam hal ini perlu diperhatikan berat badan ratarata, aktifitas yang dilakukan da untuk rumah sakit kecukupan gizi untuk penyembuhan. Institusi yang tidak menyediakan makanan lengkap sehari perlu memperhatikan proporsi AKG yang perlu dipenuhi melalui penyediaan makana. 4. Menetapkan standar bantuan , misalnya untuk keadaan darurat: membantu para transmigran dan penduduk yag ditipa bencana alam serta memberi makanan tambahan untuk balita, anak sekolah dan ibu hamil. Pertimbangan yang dikemukakan pada butir 2 perlu diperhatikan.
20

5. Menilai kecukupan persediaa pangan nasional, perhatiakan pertimbangan pada butir 1. 6. Merencanakan program penyuluhan gizi. 7. Mengembangkan produk panga baru di industry. 8. Menetapkan pedomanuntuk keperluanlabeling gizi pangan. Biasanya dicantumkan proporsi AKG yang dapat dipenuhi oleh satu porsi pangan tersebut.

21

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Populasi, Sampel dan Sampling a. Populasi Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 2006). Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa jurusan Administrasi Kebijakan Kesehatan angkatan 2009 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Haluoleo pada tahun 2011. b. Sampel Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2002). Jumlah sampel pada penelitian ini sebesar 16 orang angkatan 2009 Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Haluoleo pada tahun 2011. c. Sampling Sampling adalah suatu cara yang ditempuh dengan pengambilan sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan obyek penelitian (Nursalam, 2008). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah random sampling. Random sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana sampel diambil secara acak.

3.2 Pengumpulan Data Pengumpulan data dengan menggunakan teknik pengumpulan data secara tidak langsung yaitu menggunakan teknik Angket (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden). Responden diharuskan mengisi format pengumpulan data mengenai jenis makanan/minuman yang dikonsumsinya selama 3 (tiga) hari. Adapun format angket yang harus diisi oleh responden adalah sebagai berikut Nama Responden: Hari/Tanggal Makanan/Minuman Jenis bahan Makanan URT

22

*) rangkap 3 (tiga), untuk 3 (tiga) hari 3.3 Metode Penelitian Langkah-langkah metode food records (pencatatan makanan) yang Kami gunakan, yaitu:: 1. Responden diberikan copyan angket yang telah kami sediakan untuk diisi dengan benar dengan menjelaskan petunjuk cara pengisian angket tersebut sebelumnya 2. Lakukan rekapitulasi tentang frekuensi penggunaan jenis-jenis bahan makanan terutama bahan makanan yang merupakan sumber-sumber zat gizi tertentu selama periode tertentu pula.

23

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Hasil Hasil penelitian actual intake harian individu yang dijadikan responden pada penelitian ini disajikan dalam tabel 1 (lampiran). 4.2 Pembahasan Tingkat konsumsi energi dan protein dikatakan defisiensi berat apabila tingkat konsumsi di bawah 70% (Depkes 1996). Pengukuran tingkat konsumsi energi dan

zat gizi dapat dilakukan dengan menggunakan rumus seperti berikut : Jumlah konsumsi energi/zat gizi X 100%

AK Energi atau Gizi yang Dianjurkan

Pembahasan

hasil penelitian yang dilakukan tentang pengukuran actual intake individu

unatuk masing-masing responden, yaitu sebagai berikut : a. TRP Actual intake TRP (P,20) , diperoleh data sebagai berikut : Tabel 2.1 : hasil penelitian actual intake beberaa zat gizi dan kesesuaiannya dengan AKG No 1 2 3 4 5 6 7 Nama zat gizi Energi Karbohidrat Lemak Protein Vit C Fe Zn Actual intake 963,2 kkal 153,7 gr 28 gr 38 gr 31,6 mg 4,8 mg 0,56 mg 50 gr 75 mg 26 mg 9,3 mg 76 42 18 6 Tidak cukup Tidak cukup Tidak cukup Tidak cukup AKG 1900kkal % AKG 50,6 Ket. Kecukupan gizi Tidak cukup

Sumber : data primer, 2011 Berdasarkan tabel 2.1 diketahui bahwa actual intake responden TRP untuk beberapa zat gizi yang dihitung tidak mencukupi AKG yang dianjurkan. % AKG Konsumsi energi sebesar 50,6
24

% adalah di bawah 70% dari % AKG maka, responden TRP mengalami defisiensi energi yang berat. b. PIN

Actual intake PIN (P,20), diperoleh data sebagai berikut. Tabel 2.2 : hasil penelitian actual intake beberaa zat gizi dan kesesuaiannya dengan AKG No 1 2 3 4 5 6 7 Nama zat gizi Energi karbohidrat lemak protein Vit C Fe Zn Actual intake 575,6 kkal 69,1 gr 20,8 gr 33,1 gr 49,8 mg 5,87 mg 0,52 mg 50 gr 75 mg 26 mg 9,3 mg 66,2 66 22 5 Tidak cukup Tidak cukup Tidak cukup Tidak cukup AKG 1900 kkal % AKG 30,2 Ket. Kecukupan gizi Tidak cukup

Sumber : data primer, 2011 Berdasarkan tabel 2.2 diketahui bahwa actual intake res ponden PIN untuk beberapa zat gizi yang dihitung tidak mencukupi AKG yang dianjurkan. % AKG Konsumsi energi sebesar 30,2% adalah di bawah 70% dari % AKG maka, responden TRP mengalami defisiensi energi yang berat. c. DS Actual intake DS (P,20), diperoleh data sebagai berikut. Tabel 2.3 : hasil penelitian actual intake beberaa zat gizi dan kesesuaiannya dengan AKG No 1 2 3 4 5 6 Nama zat gizi Energi karbohidrat lemak protein Vit C Fe Actual intake 1554 kkal 241.283 gr 59,103 gr 77,46 mg 30,23mg 15,96 mg 50 gr 75 mg 26 mg 154 40 61 Lebih Tidak cukup Tidak cukup AKG 1900 kkal % AKG 81,2 Ket. Kecukupan gizi Tidak cukup

25

Zn

0,58 mg

9,3 mg

6,3

Tidak cukup

Sumber : data primer, 2011 Berdasarkan tabel 2.2 diketahui bahwa actual intake responden DS untuk beberapa zat gizi yang dihitung mencukupi AKG yang dianjurkan. d. NR

Actual intake NR (P,20) , diperoleh data sebagai berikut : Tabel 2.4 : hasil penelitian actual intake beberaa zat gizi dan kesesuaiannya dengan AKG No 1 2 3 4 5 6 7 Nama zat gizi Energi Karbohidrat Lemak Protein Vit C Fe Zn Actual intake 1755,3 kkal 264,92 gr 60,05 gr 38,68 gr 16,6 mg 27,8 mg 1,21mg 50 gr 75 mg 26 mg 9,3 mg 77 22 106 13 Tidak cukup Tidak cukup lebih Tidak cukup AKG 1900 kkal % AKG 92,3 Ket. Kecukupan gizi Tidak cukup

Sumber : data primer, 2011 Berdasarkan tabel 2.4 diketahui bahwa actual intake responden NR untuk beberapa zat gizi yang dihitung tidak mencukupi AKG yang dianjurkan. Namun, untuk konsumsi Fe sebesar 27, gr telah melebihi AKG yang dianjurkan yaitu 26 mg dengan % AKG Konsumsi energi sebesar 106% maka, responden NR mengalami kelebihan intake Fe. e. AB

Actual intake AB (P,20) , diperoleh data sebagai berikut : Tabel 2.5 : hasil penelitian actual intake beberaa zat gizi dan kesesuaiannya dengan AKG No 1 2 3 Nama zat gizi Energi Karbohidrat Lemak Actual intake 1334,03 kkal 205,01 gr 30,06 gr AKG 1900 kkal % AKG 70,2 Ket. Kecukupan gizi Tidak cukup

26

4 5 6 7

Protein Vit C Fe Zn

70,01 gr 50,2 mg 29,3 mg 0.5 mg

50 gr 75 mg 26 mg 9,3 mg

140 66 112 5,3

Lebih Tidak cukup lebih Tidak cukup

Sumber : data primer, 2011 Berdasarkan tabel 2. 5 diketahui bahwa actual intake responden AB untuk beberapa zat gizi yang dihitung tidak mencukupi AKG yang dianjurkan. Namun, untuk konsumsi protein sebesar 70,01 gr telah melebihi AKG yang dianjurkan yaitu 50 mg/ hari. Hal serupa juga terjadi pada actual intake harian Fe sebesar 29,3 gr yang telah melebihi AKG yang dianjurkan yaitu 26 mg/hari. f. JN Actual intake JN (P,20) , diperoleh data sebagai berikut : Tabel 2.6 : hasil penelitian actual intake beberaa zat gizi dan kesesuaiannya dengan AKG No 1 2 3 4 5 6 7 Nama zat gizi Energi Karbohidrat Lemak Protein Vit C Fe Zn Actual intake 1037,86 kkal 168,63 gr 19,6 gr 52,30 gr 37,43 mg 16,76 mg 0. 83mg 50 gr 75 mg 26 mg 9,3 mg 104 49 64 8,9 Lebih Tidak cukup Tidak cukup Tidak cukup AKG 1900 kkal % AKG 54,6 Ket. Kecukupan gizi Tidak cukup

Sumber : data primer, 2011 Berdasarkan tabel 2.6 diketahui bahwa actual intake responden JN untuk beberapa zat gizi yang dihitung tidak mencukupi AKG yang dianjurkan. Namun, untuk konsumsi protein sebesar 52,30 gr telah melebihi AKG yang dianjurkan yaitu 50 mg/ hari. g. LH Actual intake LH (L,21) , diperoleh data sebagai berikut : Tabel 2.7 : hasil penelitian actual intake beberaa zat gizi dan kesesuaiannya dengan AKG

27

No 1 2 3 4 5 6 7

Nama zat gizi Energi Karbohidrat Lemak Protein Vit C Fe Zn

Actual intake 931,5 kkal 154,5 gr 20,98 gr 48,27gr 6,67 mg 6,1mg 0. 1 mg

AKG 2550 kkal

% AKG 36,5

Ket. Kecukupan gizi Tidak cukup

60 gr 90 mg 13 mg 12,1 mg

80 7,4 46 0,8

Tidak cukup Tidak cukup Tidak cukup Tidak cukup

Sumber : data primer, 2011 Berdasarkan tabel 2.7 diketahui bahwa actual intake responden LN untuk semua zat gizi yang dihitung tidak mencukupi AKG yang dianjurkan h. DM Actual intake DM (L,20) , diperoleh data sebagai berikut : Tabel 2.8 : hasil penelitian actual intake beberaa zat gizi dan kesesuaiannya dengan AKG No 1 2 3 4 5 6 7 Nama zat gizi Energi Karbohidrat Lemak Protein Vit C Fe Zn Actual intake 1675,3kkal 261,86 gr 40,83 gr 58,8 gr 12,33 mg 12,33 mg 9,66 mg 60 gr 90 mg 13 mg 12,1 mg 96 13,7 94 79 Tidak cukup Tidak cukup Tidak cukup Tidak cukup AKG 2550 kkal % AKG 65,6 Ket. Kecukupan gizi Tidak cukup

Sumber : data primer, 2011 Berdasarkan tabel 2.8 diketahui bahwa actual intake responden DM untuk semua zat gizi yang dihitung tidak mencukupi AKG yang dianjurkan.

i.

AA Actual intake DM (L,20) , diperoleh data sebagai berikut : Tabel 2.9 : hasil penelitian actual intake beberaa zat gizi dan kesesuaiannya dengan AKG
28

No 1 2 3 4 5 6 7

Nama zat gizi Energi Karbohidrat Lemak Protein Vit C Fe Zn

Actual intake 1112,7 kkal 167,2 gr 32,53 gr 34,95 gr 9,83 mg 7,69 mg 2,1 mg

AKG 2550 kkal

% AKG 43,6

Ket. Kecukupan gizi Tidak cukup

60 gr 90 mg 13 mg 12,1 mg

58 10,9 54 17

Tidak cukup Tidak cukup Tidak cukup Tidak cukup

Sumber : data primer, 2011 Berdasarkan tabel 2.9 diketahui bahwa actual intake responden AA untuk semua zat gizi yang dihitung tidak mencukupi AKG yang dianjurkan. % AKG Konsumsi energi sebesar 43,6% adalah di bawah 70% dari % AKG maka, responden TRP mengalami defisiensi energi yang berat. j. Hr Actual intake Hr (P,20) , diperoleh data sebagai berikut : Tabel 3.0 : hasil penelitian actual intake beberaa zat gizi dan kesesuaiannya dengan AKG No 1 2 3 4 5 6 7 Nama zat gizi Energi Karbohidrat Lemak Protein Vit C Fe Zn Actual intake 577,2 kkal 76,43 gr 15,33 gr 32,7 gr 6,3 mg 5,73 mg 0,1 mg 50 gr 75 mg 26 mg 9,3 mg 54 7 44 0,8 Tidak cukup Tidak cukup Tidak cukup Tidak cukup AKG 1900 kkal % AKG 30,3 Ket. Kecukupan gizi Tidak cukup

Sumber : data primer, 2011 Berdasarkan tabel 3.0 diketahui bahwa actual intake responden Hr untuk semua zat gizi yang dihitung tidak mencukupi AKG yang dianjurkan. % AKG Konsumsi energi sebesar 30,3% adalah di bawah 70% dari % AKG maka, responden TRP mengalami defisiensi energi yang berat.

29

k.

As Actual intake Hr (P,20) , diperoleh data sebagai berikut : Tabel 3.1 : hasil penelitian actual intake beberaa zat gizi dan kesesuaiannya dengan AKG

No 1 2 3 4 5 6 7

Nama zat gizi Energi Karbohidrat Lemak Protein Vit C Fe Zn

Actual intake 560,4 kkal 73,02 gr 16,71 gr 33,92 gr 13 mg 5,45 mg 0,69 mg

AKG 1900 kkal

% AKG 29,4

Ket. Kecukupan gizi Tidak cukup

50 gr 75 mg 26 mg 9,3 mg

67 17 20 7,4

Tidak cukup Tidak cukup Tidak cukup Tidak cukup

Sumber : data primer, 2011 Berdasarkan tabel 3.1 diketahui bahwa actual intake responden As untuk semua zat gizi yang dihitung tidak mencukupi AKG yang dianjurkan. % AKG Konsumsi energi sebesar 30,2% adalah di bawah 70% dari % AKG maka, responden TRP mengalami defisiensi energi yang berat. l. Sn Actual intake Sn (P,20) , diperoleh data sebagai berikut : Tabel 3.2 : hasil penelitian actual intake beberaa zat gizi dan kesesuaiannya dengan AKG No 1 2 3 4 5 6 7 Nama zat gizi Energi Karbohidrat Lemak Protein Vit C Fe Zn Actual intake 1233,24 kkal 193,63 gr 33,39 gr 53,05 gr 7,5 mg 10,19 mg 01,14 mg 50 gr 75 mg 26 mg 9,3 mg 106 10 39 12 Lebih Tidak cukup Tidak cukup Tidak cukup AKG 1900 kkal % AKG 64,9 Ket. Kecukupan gizi Tidak cukup

Sumber : data primer, 2011

30

Berdasarkan tabel 3.2 diketahui bahwa actual intake responden Sn untuk beberapa zat gizi yang dihitung tidak mencukupi AKG yang dianjurkan. Namun, untuk konsumsi protein sebesar 53,05 gr telah melebihi AKG yang dianjurkan yaitu 50 mg/ hari. m. MI

Actual intake MI (L,20) , diperoleh data sebagai berikut : Tabel 3.3 : hasil penelitian actual intake beberaa zat gizi dan kesesuaiannya dengan AKG No 1 2 3 4 5 6 7 Nama zat gizi Energi Karbohidrat Lemak Protein Vit C Fe Zn Actual intake 1058,5 kkal 159,6 gr 23,2 gr 53,7 gr 28,25 mg 16,4 mg 0,05 mg 60 gr 90 mg 13 mg 12,1 mg 89 31 126 0,4 Tidak cukup Tidak cukup Lebih Tidak cukup AKG 2550 kkal % AKG 41,5 Ket. Kecukupan gizi Tidak cukup

Sumber : data primer, 2011 Berdasarkan tabel 3.3 diketahui bahwa actual intake responden MI untuk semua zat gizi yang dihitung tidak mencukupi AKG yang dianjurkan. Namun, untuk konsumsi Fe sebesar 16,4 gr telah melebihi AKG yang dianjurkan yaitu 13 mg/hari. n. DA Actual intake DA(P,19) , diperoleh data sebagai berikut : Tabel 3.4 : hasil penelitian actual intake beberapa zat gizi dan kesesuaiannya dengan AKG No 1 2 3 4 5 Nama zat gizi Energi Karbohidrat Lemak Protein Vit C Actual intake 2226,3kkal 291 gr 88,49 gr 191,86 gr 45.39 mg 50 gr 75 mg 383 60 Lebih Tidak cukup AKG 1900 kkal % AKG 117 Ket. Kecukupan gizi Lebih

31

6 7

Fe Zn

38,74 mg 7,5 mg

26 mg 9,3 mg

149 80

Lebih Tidak cukup

Sumber : data primer, 2011 Berdasarkan tabel 3.4 diketahui bahwa actual intake responden DA untuk beberapa zat gizi yang dihitung tidak mencukupi AKG yang dianjurkan. Namun, untuk konsumsi protein dan Fe sebesar 191,86 gr dan 38,74 mg telah melebihi AKG yang dianjurkan yaitu 50mg/ hari dan 26 mg. o. ER

Actual intake ER(P,20) , diperoleh data sebagai berikut : Tabel 3.5: hasil penelitian actual intake beberapa zat gizi dan kesesuaiannya dengan AKG No 1 2 3 4 5 6 7 Nama zat gizi Energi Karbohidrat Lemak Protein Vit C Fe Zn Actual intake 848,25 kkal 134,96 gr 19,55 gr 33,36 gr 18,1 mg 13,8mg 0,3 mg 50 gr 75 mg 26 mg 9,3 mg 66 24 53 3,2 kurang kurang Kurag Kurang AKG 1900 kkal % AKG 44,6 Ket. Kecukupan gizi Tidak cukup

Sumber : data primer, 2011 Berdasarkan tabel 3.5 diketahui bahwa actual intake responden ER untuk Semua zat gizi yang dihitung tidak mencukupi AKG yang dianjurkan. p. IF Actual intake IF (P,20) , diperoleh data sebagai berikut : Tabel 3.6 : hasil penelitian actual intake beberaa zat gizi dan kesesuaiannya dengan AKG No 1 2 3 Nama zat gizi Energi Karbohidrat Lemak Actual intake 1675,03 kkal 244,5 gr 40,04 gr
32

AKG 1900 kkal

% AKG 88,1

Ket. Kecukupan gizi Tidak cukup

4 5 6 7

Protein Vit C Fe Zn

76,99 gr 86,83 mg 16,48 mg 0,12 mg

50 gr 75 mg 26 mg 9,3 mg

153 115 63 1,2

Lebih Lebih Tidak cukup Tidak cukup

Sumber : data primer, 2011 Berdasarkan tabel 3.6 diketahui bahwa actual intake responden IF untuk beberapa zat gizi yang dihitung tidak mencukupi AKG yang dianjurkan. Namun, untuk konsumsi protein sebesar 76,99 gr telah melebihi AKG yang dianjurkan yaitu 50 mg/ hari. Hal serupa juga terjadi pada konsumsi Vit.C sebesar 86,83 gr yang telah melebihi AKG yang dianjurkan yaitu 75 mg/hari.

33

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil dan pembahasan kami dapat mengambil kesimpulan bahwa sebagian besar respoden yakni mahasiswa Kesehatan Masyarakat jurusan AKK rata-rata mengalami defisiensi asupan zat gizi baik zat gizi makro maupun zat gizi mikro. B. Saran Sebagian besar responden kami mengalami defisiensi zat gizi, sehingga kami sarankan hal ini dapat menjadi perhatian khusus terhadap pola konsumsi dari masingmasing individu utuk meningkatkan status gizinya, karena mengingat begitu pentingnya zat gizi karena sangat berhubungan dengan kesehatan tubuh, yaitu untuk menyediakan energi, membangun, dan memelihara jaringan tubuh, serta megatur proses-proses kehidupan dalam tubuh, sehingga dapat terhindar dari penyakit.

34

DAFTAR PUSTAKA Almatsier, Sunita, 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Dep. Gizi & Kes. Masy, 2007. Gizi & Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Supariasa, I Dewa Nyoman dkk, 2001. Penilaian Status gizi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Torontju, Akbar, 2010. Diktat Kuliah Ilmu Gizi. Kendari: Universitas Haluoleo.

35