Anda di halaman 1dari 14

Conjungtivitis bacterialis ..

2010

PENDAHULUAN 1-4 Seorang laki-laki usia 24 tahun, dating kepada dokter umum dengan keluhan kedua matanya merah, keluhan tersebut dirasakan sejak 3 hari yang lalu. Keluhan mata merah disertai dengan keluar air mata dan kotoran mata berwarna kining, gatal dan rasa seperti berpasir. Kelihan tidak disertai pandangan berburam. Sudah diobati dengan obat-obatan warung tetapi keluhan tidak berkurang. Riwayat trauma sebelumnya disangkal. Status oftalmologi palpebra ODS:edema,s pasme, Kunjungtiva bulbi ODS:hiperemis, injeksi konjungitva, secret (+) kuning, kornea jernih.

Bacterial conjunctivitis Konjungtiva merupakan selaput yang tipis, translucent ,dan juga lapisan tisu yang elastic bulbar pada garisan konjungtiva mengelilingi bola mata sementara palpebra melapisi bagian dalam kelopak mata. Bagian dalam konjungtiva terdiri sclera, episklera dan lapisan tisu uveal.

Conjungtivitis bacterialis .. 2010

Berdasarkan kasus diatas, hipotesis untuk penyakit yang diderita oleh laki-laki tersebut ialah konjungtivitis akut.konjungtivitis merupakan radang konjungtiva atau selaput lender yang menutupi belakang kelopak dan bola mata. Konjungtivitis dibedakan bentuk akut dan kronis. Konjungtivitis dapat disebabkan oleh bakteri seperti konjungtivitis gonokok,virus. Klamidia, alergi, toksik dan molluscum contagiosum. Gambaran klinis yang terlihat pada konjungtiva dapat berupa hiperemi konjungtiva bulbi( injeksi konjungtiva), lakrimasi, eksudat dengan secret yang lebih nyata di pagi hari, pseudoptosis akibat kelopak membengkak, kemosis, hipertrofi papil, folikel, membrane, pseudomembran, granulasi , flikten, mata terasa seperti adanya benda asing dan adenopati preaurikular. Biasanya sebagai reaksi konjungtivitia akibat virus berupa terbentuknya folikel pada konjungtiva. Bilik mata dan pupil dalam bentuk yang normal. Istilah klinis mata merah diaplikasi untuk pelbagai infeksi dan inflamasi ocular pada proses penyakit yang melibatkan 1 atau lebih lapisan tisu pada mata. Mata merah masalah paling sering terjadi . istilah konjungtivitis pula mempresentasikan radang pada selaput konjungtiva. Inflamasi dapat hiperakut, akut atau kronik yang terjadi akibat sumber infeksi atau noninfeksi. Konjungtivitis merupakan penyebab tersering mata merah. Konjungtivitis sering disebabkan infeksi bacterial atau viral. Penularan melalui seksual seperti pada infeksi yang disebabkan kuman chlamydial dan gonorrhea jarang terjadi. Walaubagaimanapum, infeksi ini menjadi berleluasa dan berbahaya serta perlu diambil kira karena berhubungan dengan sistemik, ocular dan terdapat implikasi pada masalah social. Konjungtivitis alergi merupakan major penyebab konjungtivitis kronik. Blepharitis, mata kering dan penggunakan lama pengobatan mata, kontak lensa menyebabkan juga inflamasi kronik konjungtivitis. ANAMNESIS1 Kebanyakan kasus konjungtivitis bakterialis berlaku pada individu yang sehat. Maka riwayat yang perlu diambil kira dalam melakuakn anamnesis ialah : Usia mengambil peran karena dari usia kita dapat mengetahui tahap kekuatan system pertahanan tubuhnya sebagai contoh orang tua lebih mudah terkena infeksi traktur urinarius dan traktur

Conjungtivitis bacterialis .. 2010

respiratorius. Maka dengan ini kita dapat mengetahui sumber infeksi dan tipe bacterial yang menginfeksi. Untuk pasien yang lebih muda atau sexual active mungkin kita boleh fikirkan penyakit veneral seperti infeksi Neisseria Ghonorhea. Dengan ini kultur bacterial sepeti Thayermartin dan agar coklat diperlukan untuk mendiagnosis pasti lagi tipe kuman yang terinfeksi. Factor lain ialah durasi infeksi dan riwayat pengambilan obat. Biasanya gejala akan timbul setelah beberapa hari dan minggu terinfeksi. Riwayat riwayat lain yang perlu diambil kira ialah, riwayat penyakit sistemik, jenis pekerjaan, alergi terhadap obat-obatan, pemakaian kemoterapi dan kontaminasi kontak lensa. PEMERIKSAAN FISIK1. Pemeriksaan fisik yang perlu dievaluasi adalah seperti berikut: Injeksi konjungtiva mungkin terpresentasi dalam bentuk segmen atau difus. bentuk konjungtiva palpebral mungkin menunjukkan tanda-tanda etiologi radang. Dengan menggunakan slit lamp biomicroscopy inflamasi pada konjungtiva daar diklasifikasikan secara folikular atau papilari. Bentuk folikular mempunyai pembuluh darah yang mengelilingi lesi yang terevalasi. Biasanya radang ini disebabkan virus dan chlamydial. Manakala radang yang disebabkan bakteri atau reaksi alergi biasanya pembuluh darah berasal dari central lesi tersebut. Konjungtivitis yang disebabkan bakteri lebih purulen berbanding viral yang lebih serosa. Selain itu edema ringan pada palpebra sering dijumpai pada infeksi bakteri. Untuk edema palpebra yang berat dapat dijumpai pada infeksi N. gonorrhea. Konjungtivitis bakterialis jarang menyebabkan pandangan buram dan pupil juga bereaksi normal. Mata yang merah harus difikirkan sekiranya terdapat glaucoma atau iritis posterior synechiae. PEMERIKSAAN LABORATORIUM 2. Kerukan konjungtiva dan kultur sering dilakukan untuk memastikan keputusan laboratorium yang tepat.kultur yang lengkap dapat dilakukan pada viral, chlamydial dan agen bakteri.untuk N. gonorrhoeae memerlukan prosedur yang spesifik karena kuman kuman ini infeksius. Kultur jamur jarang dilakukan kecuali terdapat kasus-lasus yang berkaitan degan ulcus corneal yang disebabkan pemakaian lensa kontak. Kerukan konjungtiva dilakukan dengan menggunakan anestetik topila; dam spatula platinum tumpul. Gram stain sangat berguna untuk mengidentifikasi karakteristik kuman terutamanya chlamydial. Dengan ini proses inflamasi merupakan reaksi

Conjungtivitis bacterialis .. 2010

reflek respons selular. Limfosit yang predominasi pada infeksi viral, neutrofil predominasi pada infeksi bacterial dan eosinofil predominasi pada reaksi alergi.

DIAGNOSIS KERJA1-4 Diagnosis kerja untuk kasus ini konjungtivitis bakterialis. Bacterial Conjunctivitis 3 Hyperacute Bacterial Conjunctivitis Hyperacute bacterial conjunctivitis merupakan infeksi berat yang memerlukan rawatan dan pengurusan yang cekap dan cepat. Infeksi ini mempunyai onset yang mendadak dan progresif dengan ditandai sekret kuning kehijauan yang purulen sehingga apabila dibersihkan tetap berakumulasi semula. Antara manifestasi klinisnya ialah, kemerahan, iritasi, sakit apabila dipalpasi, ditandai injeksi konjungtiva, kemosis, edema palpebra dan preaurikular adenopati. Kebanyakan kuman penyebab adalah dari golongan N. gonorrhoeae dan N. meningitidis. Manifestasi klinis kedua kuman ini sama dan hanya dibedakan melalui pemeriksaan mikrobiologi. Infeksi gonoccocal sering pada neonatal dan dewasa muda yang aktif sexual. Infeksi pada bayi terjadi melalui jalan lahir setelah 3 hingga 5 hari dilahirkan. Pada dewasa transmisi kuman melalui genital-tangan-mata. Sekiranya infeksi gonococcal tidak diatasi maka akan berlaku komplikasi seperti ulserasi kornea sehingga menyebabkan kebutaan permanen. Infeksi pada bayi pula menyebabkan komplikasi seperti rhinitis, proctitis, arthiris, meningitidis, pneumonia dan sepsis. Antibiotik yang digunakan untuk bakteria gram negatif ialah ceftriaxon, cephalosporin generasi ketiga, spectinomycin. FIGURE 4. Neonatal hyperacute
purulent conjunctivitis caused by Neisseria gonorrhoeae.

Conjungtivitis bacterialis .. 2010

Acute Bacterial Conjunctivitis 3 Acute bacterial conjunctivitis biasanya hadir dengan manifestasi klinis seperti rasa terbakar, iritatif, keluar air mata dengan sekret purulen atau mukopurulen. Pasien juga sering melaporkan ketika bangun pagi mata melekat akibat adanya krusta atau sekret yang mengering. Konjungtiva juga ngkak dan palpebra edema. Gejala klinis infeksi akut tidak seberat infeksi hiperakut. Tiga kuman utama penyebab konjungtivitis ialah Streptococcus pneumoniae, haemophilus influenza dan Streptococcus aureus. Infeksi golongan syreptococci dan Haemophylus sering pada anakanak sedangan infeksi kuman Staphylococci sering pada dewasa. Walaupun infeksi ini bisa membaik sendiri dan tidak menyebabkan komplikasi berat namun terdapat aspek-aspek yang dijustifikasi. Ini termasuk mengurangkan angka morbiditas dan memendekkan durasi perjalanan penyakit, mengurangi penyebaran dari individu ke individu lain dan mengurangi risiko komplikasi seperti ulserasi korneal dan mengelak dari risiko penyebaran penyakit -penyakit ektraokular . diagnosis kuman dari kerukan konjungtiva pasien dan dikultur. Pengobatan topikal selamat dan murah dilakukan pada banyak kasus yang ringan. Bagi pemberian antibiotik haruslah tepat karena pemberian tunggal antiobiotik kurang efektif untuk membunuh baktria patogen ini. Oleh karena pada dewasa sering terkena kuman penyebab bakteria gram positif maka pemberian antiobiotik yanga dekuat diberikan. Sebagai contoh , eritromisin, kombinasi bacitrasin-polymyxin B. FIGURE 5. Acute bacterial conjunctivitis
caused by Streptococcus pneumoniae.

Conjungtivitis bacterialis .. 2010

TABLE 3 PATOFISIOLOGI 2,3 Konjuntiva selalu berhubungan dengan dunia luar sehingga kemungkinan sangat terinfeksi besar. dengan ada
Children Streptococcus pneumoniae Haemophilus influenzae Staphylococcus species Moraxella species Adults Staphylococcus species, including Staphylococcus aureus, Staphylococcus

Major Pathogens in Acute Bacterial Conjunctivitis

mikroorganisme

Apabila

mikroorganisme yang dapat menembus pertahanan konjungtiva berupa tear film yang juga berfungsi untuk melarutkan kotoran-kotoran dan bahan-bahan toksik melalui meatus nasi inferior maka dapat terjadi konjungtivitas. Pada permukaan lapisan tisu mata terdapat

epidermidis and others Streptococcus species Gram-negative organisms Escherichia coli Pseudomonas species Moraxella species

kolonisasi kuman flora normal seperti streptococci, staphylococci dan Corynebacterium. Perubahan pada mekanisme pertahanan tubuh dan bakteria

menyebabkan infeksi klinikal. Perubahan flora juga terjadi jika terdapat kontaminasi eksternal atau melalui jalan pembuluh darah. Mekanisme

pertahanan pertama adalah lapisan epitelial yang menutupi selaput konjungtiva. Kerusakan atau distrupsi barries ini akan menyebabkan infeksi. Mekanisme pertahanan kedua ialah sistem imunologi yang dibawa oleh vaskularisasi konjungtiva, immnunoglobulin A , lysozim , pengeluaran air mata dan kedipan mata. ETIOLOGI DAN MANIFESTASI KLINIS 2,3,4 Riwayat pasien mengidao konjungtivitis meliputi laporan medikal, penggunaan obat-obatan , riwayat keluarga dan gaya hidup. Dengan ini dapat menentukan kondisi radang sama ada akut, hiperakut, kronik, unilateral, bilateral, pengaruh persekitaran dan pendedahan toksik ketika bekerja. Banyak gejala klinis konjungtivitis yang tidak spesifik seperti, lakrimasi, pedih, rasa terbakar, dan iritasi. Namun masih terdapat simptom yang kuat yang bisa mendiagnosis lebih tepat.

Conjungtivitis bacterialis .. 2010

Mata merah( hyperemi) Mata merah merupakan keluhan penderita yang sering kita dengar. Keluhan ini timbul akibat perubahan warna bola mata yang sebelumnya putih menjadi merah. Pada mata normal sklera berwarna putih karena sklera dapat terlihat melalui bagian konjungtiva dan kapsul Tenon yang tipis dan tembus sinar. Hiperemia konjungtiva terjadi akibat bertambahnya supan pembulh darah ataupun berkurangnya pengeluaran darah seperti ada pembendungan darah. Bila terjadi perlebaran pembuluh darah konjngtiva atau epislera atau perdarahan antara konjungtiva dan sklera mereka akan terlihat warna merah. Bila terjadi pelebaran pembuluh darah maka mata menjadi merah. Selain melebarnya pembuluh darah , mata merah terjadi akibat pecahnya pembuluh darah dan darah tertimmbun di bawah jaringan konjungtiva. Keadaan ini dinamakan perdarahan subkonjungtiva.. umumnya mata merah terjadi akibat konjungtivitis akut, iritis akut, keratitis, tukak kornea, sklertitis, episkleritis, glaukoma akut, endophthalmitis dan panoftalmitis. Injeksi konjungtival. Melebarnya pembuluh darah artei konjungtiva posterior atau injeksi konjungtival dapat terjadi akibat mekanis, alergi, ataupun infeksi pada jaringan konjungtiva.injeksi konjungitval mempunyai sifat: 1. Mudah digerakkan dari dasarnya. Hal ini disebabkan arteri konjungtiva posterior melekat secara longgar pada konjungtiva bulbi yang mudah dilepaskan dari dasarnya sklera. 2. Pada radang konjungtiva pembuluh darah ini terutama didapatkan di daerah forniks. 3. Ukuran pembuluh darah makin besar ke bagian perifer karena asalnya dari bagian perifer atau arteri siliar anterior. 4. Berwarna pembuluh darah merah segar. 5. Dengan titis adrealin 1:1000 injeksi akan lenyap sementara. 6. Gatal 7. Fotofobia tidak ada 8. Pupil ukuran normal dengan reaksi normal.

Conjungtivitis bacterialis .. 2010

Gatal. Gatal merupakan tanda bagi konjungtivitis alergi. Gatal dapat ringan smpai berat. Pada umumnya mata yang merah tanpa gatal bukan disebabkan alergi. Riwayat kekambuhan gatal pada individu yang mempunyai riwayat keluarga menderita hay fever, alergi rhinitis, dermatitis aktopik , dan asma menunjukkan apsien adalah alergi. Gatal yangs edang juga menunjukkan penyakit plepharitis, mata kering dan konjungtiva viral dan bakterialis. sekret jenis-jenis sekret adalah serosa, mukoid, mukopurulent, purulen dapat mendeterminasi penyebab inflamasi.sekret yang serosa lebih menandai infeksi viral atau alergi pada mata kering. Sekret yang mukopurulen dan sering membentuk krusta ata mata ketika bangun pagi menunjukkan infeksi bakterialis Unilateral or Bilateral Conjunctivitis Konjungtivitis alergi bersangkutan dengan persekitaran, maka sering mempunyai simptom bilateral. Infeksi yang disebabkan virus dan bakteria ditransmisi melalui tangan ke mata. Sering infeksi ini dimulai dengan sebelah mata kemudian pada beberapa hari baru diikuti pada mata sebelahnya.

DIAGNOSIS DIFFERENSIAL 2,3,4 Viral Conjunctivitis Adenovirus merupakan penyebab infeksi konjungtivitis viral. Konjungtivitis viral muncul pada epidemic kommuniti dan sering ditransmisi di tempat ramai orang seperti sekolah, tempat bekerja. Kondisi seperti ini sering ditransimisi lewat kontaminasi jari, instrument, air dan kawasan renang. Pasien yang mengidap konjungtivitis viral akan mata merah akut, serpsa, konjungtiva bengkak, nyeri pada preauricular node dan beberapa kasus akan fotofobia. Ada juga kasus yang terdapat perdarahan subkonjungtiva. Kedua mata dapat terinfeksi serentak atau salah satu mata duluan. Terdapat pasien juga sama-sama menderita infeksi saluran nafas.

Conjungtivitis bacterialis .. 2010

FIGURE 9. Acute
adenovirus conjunctivitis with subconjunctival hemorrhage.

FIGURE 10. Bilateral acute


adenovirus conjunctivitis.

FIGURE 11. Toxic


conjunctivitis secondary to topical neomycin therapy and characterized by a lymphoid follicular reaction of the tarsal conjunctiva.

Allergic Conjunctivitis

Alergi okular sering manifestasi klinisnya gatal. Kondisi yang sering disebabkan rhinoconjungtivitis alergika juga disebut sebagai demam hay rhinoconjungtivitis. Alergi ini adalah akibat reaksi hipersensitivitas Ig-E mediated. Pasien akan merasa gatal, lakrimasi, mata merah dan edema palpebra. Biasanya pasien mempunyai riwayat keluarga yang menderita atopik, rhinitis, asma dan eczema. Pengobatannya dengan menjauhi sumber yang bisa menimbulkan alergi, vasokinstriktor, antihistamin dan topikal NSAID. Trakoma 4

Trachomatous inflammation, intense (TI) is pronounced inflammatory thickening of the upper tarsal conjunctiva that obscures more than one half the normal deep tarsal vessels. Photograph courtesy of Allen Foster, MD.

Conjungtivitis bacterialis .. 2010

Trakoma merupakan suatu bentuk konjungtivitis folikular kronik yang disebabkan oleh Chlamydial trachomatis. Penyakit ini dapat mengenai segala umur tapi lebih banyak pada orang muda dan anak-anak. Daerah yang banyak terkena adalah semenanjung Balkan. Ras yang banyak terkena ditemukan pada ras yahudi, penduduk asli Australia, dan Indian America atau daerah yang higenitas kurang. Cara penularan penyakit kontak langsung dengan sekret penderita trakoma, handuk , alat kecantikan dan lain-lain. Masa inkubasi rata-rata 7 hari( berkisar 5 sampai 14 hari). Secara histopatologik pada pemeriksaan kerokan konjungtivitis dengan pewarnaan Giemsa terutama terlihat reaksi sel-sel polimorfonuklear, tetapi sel-sel plasma, sel leber, sel folikel dapat ditemukan. Sel leber menyokong diagnosis trakoma tetapi sel lomfoblas adalah tanda terpenting diagnosis trakoma. Keluhan pasien adalah fotofobia, mata gatal, mata berair.

10

Conjungtivitis bacterialis .. 2010

11

Conjungtivitis bacterialis .. 2010

PENATALAKSANAAN 3
Medika mentosa. Rawatan tetap untuk mengatasi konjungtivitis bakterialis ialah terapi topikal antibiotik. Antibiotik sistemik diperlukan untuk kuman penyebab N. gonorrhoeae dan infeksi chlamydial. Untuk infeksi bakteri kumsetaman yang ringan sampai sedang sering digunakan antibiotik berspektrum luas dan sentiasa berhati hati dalam mendiagnosis serta tindakan lanjut jika tidak ada sebarang perbaikan atau berlaku masalah penglihatan. Agen antibiotik yang digunakan sebagai lini pertama ialah Sodium sulfacetamide, gentamicin, tobramycin, neomycin, kombinasi trimethoprim dan polymyxin B, ciprofloxacin, ofloxacin, gatifloxacin, dan erythromycin. Obat tetes mata juga bagus karena tidak menganggu masalah penglihatan. Non mendika mentosa Tindakan pembedahan tidak diperlukan pada infeksi bakteri konjungtivitis kecuali apabila terdapat kasus seperti hordeolum, sumbatan duktus nasolakrimal dan sinusitis. PENCEGAHAN. 3 Menjaga kebersihan dan menjauhi dari kontak orang yang terinfeksi merupakan kunci utama supaya tidak tertular daripada infeksi ini. KOMPLIKASI 3 Konjungtivitis bakterialis jarang sekali menyebabkan komplikasi. Secara general komplikasi yang bisa terjadi termasuk pembentukan lapisan membran dan jaringan parut pada punctum lakrimal, ulserasi korneal dan inflamasi berat. Pada mata yang melakukan surgeri intraokular berpotensi terkena endophthalmitis.

PROGNOSIS3.
12

Conjungtivitis bacterialis .. 2010

Prognosis baik pada infeksi konjungtivitis bakterialis. Hanya beberapa kasus yang ekstrem seperti Chlamydial trachomatis dan N. gonnorrhoeae yang boleh menyebabkan komplikasi jika tidak ditangani segera.

EPIDEMIOLOGI 3. Infeksi konjungtivitis bakterial merupakan kasus yang sering dan kebanyakan pasien mengalami secara episodik. Namun kasus ini ringan dan dapat diterapi dengan baik. Kasus ini juga merupakan perkara biasa pada peringkat international. Kasus kebutaan dapat berlaku pada infeksi Chlamydial trachomatis. Jumlah kematian konungtivitis bakterial dapat terjadi akibat kegagalan mengidentifikasi dan merawat penyakit ini. Sepsis dan meningtidis merupakan komplikasi berbahaya oleh kuman penyebab N. gonorrhoeae. Manakala infeksi chlamydial pada neonatus menyebabkan pneumonia dan otitis media Angka morbiditas berkaitan dengan ketidakselesaan,kemerahan mata menyebabkan tidak hadir ke sekolah dan kerja. Konjungtivitis bakterial terjadi pada semua ras dan yang membedakan frekuensinya adalah variasi dan prevalensi kuman patogen. Lelaki atau perempuan dapat terinfeksi sama-sama dan yang membedakan jumlah ialah gaya hidup, jenis pekerjaan dan higenitas. Umur berperan dalam signifikans kuman penyebab infeksi. Contohnya transmisi seksual sering oleh kuman N gonorrhoeae dan Chlamydial yang menginfeksi dewasa muda dan neonatus melalui jalan lahir.

KESIMPULAN. 1-4 Konjungtivitis dapat disebabkan pelbagai etiologi sama ada virus, bakteri atau alergi. Infeksi ini dapat ringan sehingga berat berdasarkan jenis kuman penyebab. Sebagai contoh infeksi Srettococcus pneumonia, Haemophylus influenza dan Staphylococcus aureus menyebabkan radang ringan dan dapat dirawat dengan antibiotik spektrum luas. Manakala N. gonorrhoeae dan N. meningitidis menyebabkan infeksi berat pada neonatal dan dewasa. Bila tidak dirawat dengan segera akan menyebabkan kerusakan kornea atau ulserasi kornea sehingga menyebabkan kebutaan. Antiobiotik yang digunakan untuk infeksi berat ialah antiobiotik yang mencapai ke sistemik. Diagnosis pasti dengan melakukan pemeriksaan laboratorium kultur

13

Conjungtivitis bacterialis .. 2010

kuman dengan mengambil kerukan konjungtival. Pencegahan awal dan murah dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan dan menjauhi kontak dengan orang yang terinfeksi.

REFERENSI. 1. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik Konjungtivitis Bakterialis . Diunduh dari URL :http://emedicine.medscape.com/article/1191730-overview. 24 Maret 2010. 2. Conjunctivitis Bacterial.David S Marlin, MD, Consulting Staff, Department of Ophthalmology, Kaiser Foundation Hospital, Los Angeles Medical Center. Diunduh dari URL : http://emedicine.medscape.com/article/1191730-overview. 26 Maret 2010. 3. Conjunctivitis .GARY L. MORROW, M.D.Toronto East General and Orthopedic Hospital, Toronto, Ontario, Canada ,RICHARD L. ABBOTT, M.D.University of California, San Francisco, and Francis I. Proctor Foundation, San Francisco, California. Diunduh dari URL : http://www.aafp.org/afp/980215ap/morrow.html. 26 Maret 2010. 4. Buku Ajar Mata. Prof dr Sidarta SpM. Edisi Ketiga. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, jakarta 2010.

14