Anda di halaman 1dari 7

BIOFISIKA MATA

Biofisika molekuler adalah cabang dari ilmu fisika yang fokus bahasannya mengenai sifat fisik dari biomolekul (molekul besar seperti protein dan asam nukleat yang terdapat dalam kehidupan) dan mekanismenya sehingga mereka bisa mengisi sistem biologis. selain itu juga ilmu ini membahas berbagai aspek seperti : Membahas berbagai cara untuk mengisolasi dan memanipulasi biomolekul, terutama dari sudut pandang ilmu fisika. Aspek fisika yang terlibat : gesekan mekanis, mekanisme interaksi antara cahaya dan foton dengan system biologis (mata, kulit), gaya sentrifugal, listrik, difraksi cahaya yang melewati mata, sifat koligatif larutan, berat jenis, termodinamika, entropi, dan lain-lain. Mengingat demikian luasnya aspek bahasan tersebut, maka biofisika molekuler berkambang menjadi ilmu tersendiri, hal ini disebabkan oleh fenomena molekul yang tidak hidup, dalam sistem biologi menjadikan molekul-molekul tersebut seakan-akan tampak hidup. contohnya proses pelipatan protein (protein folding) yang terjadi secara otomatis dan dalam waktu yang sangat singkat (dalam hitungan mikro hingga nano detik) Banyaknya fenomena unik yang berkaitan dengan sifat biomolekul seperti : Mampu menahan gaya regang dan gaya tekan (biomolekul pengisi matrix tulang). Sifat elastis yang dimiliki biomolekul (struktur kulit dan jaringan tendo). Mekanisme penyimpanan karbohidrat dalam sel tanaman dan sel hewan yang menyebabkan perbedaan struktural antara pati dan glikogen (struktur pati memiliki ranytai cabang yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan struktur glikogen).

Peranan biomolekul yang umumnya bersifat higroskopik dan memiliki daya rekat seperti putih telur yang bisa digunakan sebagai lem/ perekat, pelincir (coba anda pegang permukaan tubuh hewan yang hidup di air seperti belut). Oleh sebab itu, masih sangat banyak peranan biomolekul dalam kehidupan, baik yang bersifat internal/ fisiologis, maupun yang bersifat penerapan diluar sistem biologis. Pengembangan dan penggunaan sistem biosensor merupakan salah satu penerapan biomolekul yang terus berkembang hingga saat ini. Jika kita kaji lebih lanjut, semua itu memerlukan pemahaman aspek biofisika untuk bisa mempelajarinya dan mengerti bagaimana mekanisme yang terjadi

ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA

Sklera (bagian putih mata) : merupakan lapisan luar mata berupa selubung berserabut putih dan relatif kuat. Konjungtiva : selaput tipis yang melapisi bagian dalam kelopak mata dan bagian luar sklera. Kornea : struktur transparan yang menyerupai kubah, merupakan pembungkus dari iris, pupil dan bilik anterior serta membantu memfokuskan cahaya. Memiliki diameter sekitar 12 mm dan jari-jari kelengkungan sekitar 8 mm. Lapisan koroid : lapisan tipis di dalam sklera yang berisi pembuluh darah dan suatu bahan pigmen, tidak menutupi kornea. Pupil : daerah hitam di tengah-tengah iris. Iris : jaringan berwarna yang berbentuk cincin, menggantung di belakang kornea dan di depan lensa; berfungsi mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata dengan cara merubah ukuran pupil. Lensa : struktur cembung ganda yang tergantung diantara humor aqueus dan vitreus; berfungsi membantu memfokuskan cahaya ke retina. Retina : lapisan jaringan peka cahaya yang terletak di bagian belakang bola mata, berfungsi mengirimkan pesan visuil melalui saraf optikus ke otak. Retina terbagi menjadi 10 lapisan dan memiliki reseptor cahaya aktif yaitu sel batang dan sel kerucut pada lapisan ke-9. Saraf optikus : kumpulan jutaan serat saraf yang membawa pesan visuil dari retina ke otak. Bintik buta : cakram op k yang merupakan bagian fovea dekat hidung, merupakan tempat percabangan serat saraf dan pembuluh darah ke re na, dak mengandung sel batang ataupun kerucut, terletak pada region sekitar 13 18. Humor aqueous : cairan jernih dan encer yang mengalir di antara lensa dan kornea (mengisi segmen anterior mata), serta merupakan sumber makanan bagi lensa dan kornea; dihasilkan oleh prosesus

siliaris. Humor vitreous : gel transparan / cairan kental yang terdiri dari bahan berbentuk serabut, terdapat di belakang lensa dan di depan retina (mengisi segmen posterior mata). DAYA AKOMODASI Dalam hal memfokuskan objek pada retina, lensa mata memegang peranan penting. Kornea mempunyai fungsi memfokuskan objek secara tetap demikan pula bola mata )diameter bola mata 20-23 mm). Kemampuan lensa mata untuk memfokuskan objek disebut daya akomodasi. Selama mata melihat jauh, tidak terjadi akomodasi. Makin dekat benda yang dilihat semakin kuat mata/lensa berakomodasi. Daya akomodasi ini tergantung kepada umur. Usia semakin tua daya akomodasi semakin menurun. Hal ini disebabkan kekenyalan lensa/elastisita lensa semakin berkurang. Jarak terdekat dari benda agar masih dapat dilihat dengan jelas dikatakan benda terletak pada titik dekat /punktum proksimum. Jarak punktum proksimum terhadap mata dinyatakan P (dalam meter) maka 1/p disebut AP (Aksial Proksimum). Jarak terjauh bagi benda agar masih dapat dilihat dengan jelas dikatakan benda terletak pada titik jauh/punktum remotum. Jarak punctum remotum terhadap mata dinyatakan r(dalam meter) maka 1/r disebut Ar; pada saat ini mata tidak berakomodasi/lepas akomodasi. Selisih Ap dengan Ar disebut lebar akomodasi, dapat dinyatakan :

Ac = Ap Ar Ac = lebar akomodasi yaitu perbedaan antara akomodasi maksimal lepas dengan lepas akomodasi maksimal. Secara empiris Ac = 0,0028(80 thn L)^2 diptri L = umur dalam tahun Bertambah jauhnya titik dekat akibat umur disebut mata presbyop. Presbyop ini bukan merupakan cacat penglihatan. Ada satu dari sekian jumlah orang tidak mempunyai lensa mata. Mata demikian disebut mata afasia

RETINA SEBAGAI DETEKTOR CAHAYA Retina mengubah bayangan cahaya menjadi impuls listrik saraf yang dikirim ke otak. Penyerapan suatu foton cahaya oleh sebuah fotoreseptor menimbulkan suatu reaksi fotokimia di fotoreseptor yang melalui suatu cara akan memicu timbulnya sinyal listrik ke otak, yang disebut suatu potensial aksi. Foton harus di atas energy minimum untuk dapat menimbulkan reaksi. Ada 2 tipe umum reseptor cahaya di retina, yaitu :

a. Sel Kerucut - Jumlahnya sekitar 6,5 juta di masing-masing mata. - Digunakan untuk penglihatan siang hari (fotopik). - Berguna untuk melihat detail halus dan mengenali beragam warna. - Tersebar di seluruh retina, terutama di fovea sentralis. - Memiliki sensitivitas maksimum di panjang gelombang sekitar 550 nm pada region kuning-hijau. b. Sel Batang - Jumlahnya sekitar 120 juta di masing-masing mata. - Digunakan untuk penglihatan malam hari (skotopik). - Berguna untuk penglihatan perifer. - Tidak tersebar merata di re na namun memiliki kepadatan maksimum di sudut sekitar 20. - Memiliki sensitivitas maksimum di panjang gelombang sekitar 510 nm pada region biru-hijau.

PEMBEDAAN WARNA Penglihatan warna terjadi melalui dua tingkatan proses, yaitu pada tingkat reseptor sesuai dengan teori triwarna, sedangkan pada saraf optik dan di luarnya sesuai dengan teori antagonis. Teori triwarna menganggap bahwa pada retina terdapat 3 macam pigmen yang mempunyai penyerapan maksimum terhadap warna biru, hijau, dan merah pada spectrum. Pigmen-pigmen ini terdapat pada reseptor secara terpisah yang masing-masing mengirimkan impuls-impuls yang dapat dibedakan ke otak. Teori antagonis menganggap bahwa retina mempunyai aktivitas yang lebih kompleks. Ada 6 macam tanggapan retina yang terjadi dalam bentuk pasangan antagonistik. Rangsangan yang menghasilkan setiap tanggapan tunggal dapat menekan kegiatan anggota pasangan lain. Ukuran saraf batang dan kerucut yang begitu kecilnya, jika dikombinasikan dengan indeks bias relatifnya yang tinggi menunjukkan bahwa mereka dapat bertindak sebagai pemandu gelombang optik, yang secara selektif mentransmisikan energi hanya di dalam suatu pita gelombang karakteristik sempit bagi saraf batang atau kerucut. Secara teoritis, energi cahaya dalam suatu pemandu yang berupa serat ditransmisikan dalam bermacam ragam yang karakteristik, artinya, ada selektivitas warna dalam retina.

KEPEKAAN DAN KETAJAMAN MATA Ada tiga macam ukuran kepekaan / ketajaman mata, yaitu : a. Ambang kuantum Ambang kuantum merupakan jumlah minimum foton yang diperlukan untuk merangsang sebuah tanggapan sensor. Ambang kuantum ini berperan untuk menentukan ketajaman penglihatan seseorang di tempat gelap seseorang dengan ambang kuantum yang baik, akan memiliki penglihatan yang lebih

baik di tempat gelap, artinya dengan sedikit foton saja sudah mampu mengaktifkan sensor optikus (sel batang dan kerucut). b. Ambang penerangan Ambang penerangan merupakan ukuran kepekaan relatif mata terhadap cahaya dengan aneka macam panjang gelombang. Penglihatan untuk adaptasi gelap disebut skotopik dan terang disebut fotopik. c. Ketajaman Ketajaman yang dimaksud merupakan ukuran ketajaman penglihatan dan diukur dengan pemisahan sudut minimum terhadap dua buah objek dan bukan satu. Batas terendah teoritis untuk resolusi dua buah titik cahaya adalah sebesar 0,1 mrad, sedangkan pada kenyataannya, dengan penglihatan paling tajam dan kondisi yang optimum manusia dapat memisahkan sudut pemisahan sekitar 0,2 mrad.

CACAT MATA a. Miopia (penglihatan dekat) Mata ametopria yang mempunyai P dan r terlalu kecil. Karakteristik : titik jauh kurang dari tak berhingga, bayangan jatuh di depan retina. Penyebab umum : bola mata panjang atau kornea terlalu lengkung. Diperbaiki dengan : lensa negatif / cekung / minus. b. Hiperopia (penglihatan jauh) Mata ametropia yang mempunyai P dan r terlalu besar.

Karakteristik : titik dekat lebih dari punctum proximum mata normal, yaitu 25 cm, bayangan jatuh di belakang retina. Penyebab umum : bola mata pendek atau kelengkungan kornea kurang. Diperbaiki dengan : lensa positif / cembung / plus. c. Astigmatisme Karakteristik : benda titik nampak bergaris-garis sedangkan benda bergaris-garis dilihat baik hanya pada arah tertentu saja. Penyebab umum : kelengkungan kornea tidak merata. Diperbaiki dengan : lensa silindris atau lensa kontak keras. d. Presbiopia (mata tua) Karakteristik : titik dekat lebih dari 25 cm, titik jauh kurang dari tak berhingga. Penyebab umum : kurangnya akomodasi. Diperbaiki dengan : lensa bifokal atau trifokal.

e. Buta warna Buta warna adalah suatu kelainan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu akibat faktor genetis. Buta warna merupakan kelainan genetik / bawaan yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya, kelainan ini sering juga disebaut sex linked, karena kelainan ini dibawa oleh kromosom X. Artinya kromosom Y tidak membawa faktor buta warna. Hal inilah yang membedakan antara penderita buta warna pada laki dan wanita. Seorang wanita terdapat istilah pembawa sifat hal ini menujukkan ada satu kromosom X yang membawa sifat buta warna. Wanita dengan pembawa sifat, secara fisik tidak mengalami kelalinan buta warna sebagaimana wanita normal pada umumnya. Tetapi wanita dengan pembawa sifat berpotensi menurunkan faktor buta warna kepada anaknya kelak. Apabila pada kedua kromosom X mengandung faktor buta warna maka seorang wanita tsb menderita buta warna. Saraf sel di retina terdiri atas sel batang yang peka terhadap hitam dan putih, serta sel kerucut yang peka terhadap warna lainnya. Buta warna terjadi ketika syaraf reseptor cahaya di retina mengalami perubahan, terutama sel kerucut. OPHTALMOSKOP Perangkat ini dibagi atas 3 bagian 1. Atas Bagian ini sering disebut sebagai Projector Head dan di sinilah lokasi dari sumber sinar dan media okuler tersedia yang letaknya saling bertolak belakang. Beberapa perusahaan memberikan bantalan di atas bagian okuler ( bagian paling atas ) atau menyediakan asesoris tambahan berupa plastik sepanjang kirakira 5 cm yang berguna sebagai sandaran dahi agar supaya pengaplikasiannya lebih mudah. 2. Sleeve atau lengan Sleeve ini identik dengan pembentukan sinar yang anda inginkan. Berkas sinar melebar dengan ketajaman sinar yang rendah disebut Sleeve Up, sedangkan berkas sinar ramping ( seperti asesoris stenopic slit pada trial lens ) dengan ketajaman sinar yang tinggi dikenal sebagai sleeve down. Persis dibawah sleeve ada alat pemutar sudut dari berkas sinar yang pada nantinya berkas sinar bisa tampil secara vertikal, horizontal dan miring tergantung pada axis yang dibentuk oleh media mata pasien. 3. Battery Bagian ini adalah tempat tangan anda menggengam retinoskop dan juga pengaturan intensitas sinar yang ingin anda hasilkan. Patut digaris bawahi sebaiknya intensitas sinar jangan terlalu tinggi dimana bila ini terjadi pasien akan merasa silau dan pedih. Retinoskop digunakan sebagai salah satu alternatif pemeriksaan obyektif ( baca pasien tidak berperan aktif ). Tatkala pasien kurang kooperatif dan autoref tidak bisa mengeluarkan hasil alias error. Kemudahan penggunaan dan efektifdalam waktu pemeriksaan menjadikannya sebagai idola di atas idola bagi para praktisi yang memilikinya.