Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 4 No. 1. Desember 2009

PILIHAN KEBIJAKAN PENDANAAN DAN DEVIDEN BAGI PERUSAHAAN YANG MEMILIKI PELUANG INVESTASI (Investment Opportunity Set) Oleh :

Aniek Murniati*)

Abstrak Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan pilihan kebijakan akuntansi (kebijakan pendanaan dan dividen) bagi perusahaan yang memiliki set peluang investasi (investment opportunity set). Peluang investasi tidak dapat diobservasi secara langsung sehingga diperlukan beberapa proksi yang mewakili investment opportunity set.Pilihan kebijakan akuntansi yang dihubungkan dengan pertumbuhan perusahaan didasarkan atas contracting theory.Perusahaan yang memilih pada perspektif efficiency contracting akan mencari solusi contract yang baik dalam implementasi satu set kebijakan pendanaan dan kebijakan deviden yang dapat diterima oleh pihak manajemen maupun pemegang saham. Kebijakan deviden dapat dihubungkan melalui arus kas perusahaan. Perusahaan bertumbuh memiliki kebijakan pendanaan melalui hutang dalam struktur modalnya lebih rendah dibandingkan perusahaan tidak tumbuh karena ingin meminimalkan agency cost. Kata kunci: Kebijakan pendanaan, Kebijakan deviden, Investment opportunity set, Contracting theory *) Dosen Akuntansi STIE ASIA Malang

Pendahuluan Perkembangan riset empiris dibidang akuntansi, secara cross sectional berusaha menganalisis perbedaan keputusan kebijakan perusahaan. Riset akuntansi dalam (Jensen dan Meckling, 1976), Myers (1997) dan dalam Gaver & Gaver (1992) menjelaskan bahwa contracting cost menerangkan pilihan kebijakan perusahaan yang keputusannya tergantung pada investment opportunity set (IOS). Smith dan Watts (1992), menjelaskan adanya asosiasi yang signifikan antara set kesempatan investasi, kebijakan pendanaan, kebijakan deviden. Hasil penelitiannya mendukung penyelesaian konflik antara pihak internal dan eksternal perusahaan yang melakukan kontrak. Smith dan Watts (1992) menyatakan bahwa potensi pertumbuhan perusahan terlihat pada kesempatan investasi yang diproksikan (diwakilkan) dengan berbagai macam kombinasi nilai set kesempatan investasi (IOS). Gaver dan Gaver (1993) mengatakan bahwa pilihan bertumbuh bagi perusahaan merupakan sesuatu yang melekat bersifat tidak dapat diobservasi. Oleh karena itu suatu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 13

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 4 No. 1. Desember 2009

proksi

diperlukan untuk melakukan observasi terhadap pertumbuhan perusahaan. Untuk

mengurangi measurement error yang ada, digunakan proksi Investement Opportunity Set (IOS) dengan rasio individual. Beberapa peneliti telah melakukan alternatif pilihan pertumbuhan dengan menggunakan proksi gabungan IOS (Smith dan Watts 1999). Alternatif proksi gabungan pernah dilakukan oleh Gaver dan Gaver (1993), Smith dan Watts (1992), Kallpur dan Trombley (1993), Hartono (1999), Prasetyo (2000), Subekti dan Kusuma (2001), Fitrijanti dan Hartono (2002), Nugroho dan Hartono (2002). Hasilnya menunjukkan beberapa proksi atau rasio individual dapat menjelaskan pertumbuhan perusahaan. Asosiasi antara set kesempatan investasi (IOS) dengan kinerja manajemen ditunjukkan oleh adanya pertumbuhan nilai perusahaan yang dikelola oleh manajemen. Nilai investment opportunity set suatu perusahaan juga mempengaruhi kebijakan perusahaan. Asosiasi antara pertumbuhan dengan kebijakan pendanaan, dividen, kompensasi perusahaan telah dibuktikan oleh Smith dan Watts (1992), Gaver dan Gaver (1993), Kallapur dan Trombley (1999), Hartono (1999), dan Sami dkk. (1999). Asosiasi antara investment opportunity set dan kebijakan pilihan prosedur akuntansi telah dibuktikan oleh Skinner (1999), Cahan dan Hossain (1996). Contracting Theory menjelaskan bahwa tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik atau pemegang saham, Pihak manajemen atau manajer perusahaan sering mempunyai tujuan lain yang bertentangan dengan tujuan utama tersebut (masing-masing pihak ingin merealisasikan kepentingannya). Hal ini akan menimbulkan konflik dan membutuhkan pengawasan. Penerapan sejumlah kebijakan merupakan bagian dari monitoring perusahaan. Dalam perspektif efficiency contracting, secara khusus manajer akan memilih metode akuntansi yang akan meminimalkan agency cost. Perusahaan yang memilih pada perspektif efficiency contracting akan mencari solusi contracting yang baik dalam implementasi satu set kebijakan pendanaan dan prosedur akuntansi yang dapat diterima oleh pihak manajemen maupun pemegang saham (Skinner 1993). Sebaliknya pandangan manajemen yang opportunitism akan mengasumsikan bahwa perbedaan dalam kebijakan akuntansi dan pendanaan muncul sebagai akibat dari manajemen dalam merespon kontrak yang dapat mengoptimalkan kepentingannya. Efficiency contracting membuktikan bahwa pertumbuhan perusahaan akan mempengaruhi sejumlah kebijakan yang dibuat oleh perusahaan (kebijakan pendanaan, kebijakan deviden serta kompensasi). Pada tulisan ini akan mencoba menjelaskan tentang set kesempatan investasi yang dapat diproksikan oleh beberapa rasio individual serta pilihan kebijakan akuntansi bagi perusahaan yang tumbuh. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 14

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 4 No. 1. Desember 2009

Pengertian Investment Opportunity Set Menurut Smith and Watts (1992), Investment Opportunity Set (IOS) merupakan komponen dari nilai perusahaan dan hasil dari pilihan-pilihan untuk membuat investasi yang akan datang. Menurut Gaver & Gaver (1993) investment opportunity set (IOS) merupakan nilai perusahaan yang besarnya tergantung dari pengeluaran-pengeluaran yang ditetapkan manajemen dimasa yang akan datang dan pada saat ini merupakan pilihan investasi yang diharapkan menghasilkan return lebih besar. Kondisi ini membutuhkan kemampuan perusahaan yang lebih, dalam mengeksploitasi kesempatan mengambil keuntungan yang sifatnya tidak dapat diobservasi. Nilai investment opportunity set (IOS) merupakan variabel yang tidak dapat diobservasi, oleh karena itu diperlukan proksi. Berbagai variabel yang digunakan sebagai proksi telah banyak diteliti dan diuji pada berbagai penelitian. Menurut Kallapur dan Trombley (1999), proksi IOS dapat diklasifikasikan menjadi tiga proksi, yaitu proksi berbasis harga, proksi berbasis investasi dan proksi berbasis varian. Proksi berbasis harga mendasarkan perbedaan antara asset dan nilai perusahaan, oleh karena itu proksi ini tergantung pada harga saham. Proksi berbasis investasi menunjukkan tingkat aktivitas investasi yang tinggi, yang kemudian dikonversi menjadi asset yang dimiliki. Sedangkan proksi berbasis varian didasarkan pilihan pertumbuhan akan menjadi lebih bernilai sebagai variabilitas dari return dengan mendasarkan pada peningkatan asset (Kallapur dan Trombley, 1999). Menurut Kallapur dan Trombley (1999) asumsi investment opportunity set (IOS) secara rata-rata mengarah ke investasi aktual, investment opportunity set diduga kuat memiliki korelasi dengan realisasi pertumbuhan perusahaan pada periode berikutnya. Berdasarkan pemikiran tersebut, Kallapur dan Trombley (1999) menguji korelasi berbagai proksi IOS secara Khusus dengan berbasis pada realisasi pertumbuhan . beberapa rasio individual yang diukur adalah book to market value of asset, Tobin-Q, depreciation expense to market value, earning per-share to price, research and development to market value of asset, research and development to sale, capital expenditure to book value of asset variance of return and beta. Menurut Sami dkk (1999) menunjukkan bahwa variabel yang memiliki korelasi cukup tinggi terhadap factor utama Investment Opportunity Set (IOS) adalah book to market value of asset, market value equity, PPE/BVE, capital expenditure. DEPBVA, CAPX Incure/BVA. Proksi IOS tersebut mengidentifikasikan pertumbuhan perusahaan.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

15

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 4 No. 1. Desember 2009

Berdasarkan penelitian (Subekti dan Kusuma, 2001) dengan comfirmatory factor analysis, ada beberapa proksi IOS yang dapat digunakan untuk mengukur pertumbuhan perusahaan, yang hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 1 Proksi Pertumbuhan Perusahaan
Proksi IOS Keterangan Communalities nilai IOS

PPE/BE (Rasio book value of gross proferty, plant and equipment )

Proksi ini menunjukkan adanya investasi tetap yang produktif , PPE/BVE yang besar pada struktur aktiva dapat menunjukkan adanya potensi pertumbuhan perusahaan dimasa depan karena aktiva tetap bersifat produktif. Proksi ini mencerminkan bahwa pasar menilai return investasi dimasa depan akan lebih besar dari return yang diharapkan pada equitasnya. Perusahaan yang berpotensi tumbuh akan memiliki skor nilai pasar terhadap nilai buku yang lebih tinggi. Proksi ini menggambarkan perilaku pasar financial atas manajemen dan organisasi perusahaan bersangkutan. Perusahaan yang memiliki rasio MVA/BVA yang tinggi akan memiliki pertumbuhan aktiva yang besar. Proksi P/E dapat mempresentasikan aliraran laba masa depan. Proksi ini menunjukkan adanya aliran tambahan modal saham perusahaan, tambahan modal saham dapat dimanfaatkan perusahaan untuk tambahan investasi aktiva produktifnya sehingga potensi pertumbuhan perusahaan akan meningkat.

0,545

MVE/BVE (Market to book value of equity)

0,887

MVA/BVA (Market Value Asset)

to

Book

0,389

P/E (Price Earning)

0,905

CAP/BVA (rasio capital addition to assets book value)

0,522

Berdasarkan tabel 1 diatas, bahwa investment opportunity set atau pertumbuhan perusahaan dapat diproksikan dengan beberapa rasio individual. Proksi-proksi tersebut tidak semuanya cocok untuk menilai pertumbuhan perusahaan. Ada beberapa rasio individual yang menunjukkan indikator

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

16

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 4 No. 1. Desember 2009

yang cocok untuk menilai pertumbuhan perusahan. Berdasarkan penelitian Subekti dan Kusuma (2001) hanya ada lima proksi yang cocok dalam menilai pertumbuhan perusahaan. Kebijakan Akuntansi (Kebijakan Pendanaan dan Deviden) dalam Hubungannya dengan Teori Contracting Contracting Theory menjelaskan bahwa tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik atau pemegang saham. Pihak manajemen atau manajer perusahaan sering mempunyai tujuan lain yang bertentangan dengan tujuan utama tersebut ( masing-masing pihak ingin merealisasikan kepentingannya). Hal ini akan menimbulkan konflik dan membutuhkan pengawasan. Adanya mekanisme pengawasan ini akan menimbulkan biaya yang disebut agency cost. Menurut Watts dan Zimmermen (1986) (dalam Skinner 1993), ada dua hal yang menentukan pilihan kebijakan akuntansi, yaitu: (1) pentingnya menentukan prosedur akuntansi dalam memecahkan agency problem (perspektif pilihan kebijakan akuntansi dikenal dengan efficient contracting). (2) manajer akan memilih kebijakan yang penting untuk meminimalkan agency cost yang diterapkan dalam kebijakan pendanaan dan prosedur akuntansi (mempertimbangkan cost and benefit). Penerapan sejumlah kebijakan merupakan bagian dari monitoring perusahaan. Dalam perspektif efficiency contracting, secara khusus manajer akan memilih metode akuntansi yang akan meminimalkan agency cost. Perusahaan yang memilih pada perspektif efficiency contracting akan mencari solusi contract yang baik dalam implementasi satu set kebijakan pendanaan dan prosedur akuntansi yang dapat diterima oleh pihak manajemen maupun pemegang saham (Skinner, 1993). Sebaliknya pandangan manajemen yang opportunitism akan mengasumsikan bahwa perbedaan dalam kebijakan akuntansi dan pendanaan muncul sebagai akibat dari manajemen dalam merespon kontrak yang dapat mengoptimalkan kepentingannya. Berdasarkan penelitian Smith dan Watts (1992) yang menguji efficiency contracting, menemukan bukti bahwa pertumbuhan perusahaan akan mempengaruhi sejumlah kebijakan yang dibuat oleh perusahaan (kebijakan pendanaan, kebijakan deviden dan kompensasi). Perusahaan yang memiliki level IOS tinggi mempunyai debt to equity yang lebih rendah dalam struktur modalnya, atau menunjukkan bahwa hubungan yang negative antara utang dan kesempatan untuk tumbuh. Pendanaan perusahaan dengan modal sendiri cenderung mengurangi masalah-masalah agensi yang berpotensial berasosiasi dengan ekstensi utang yang beresiko dalam struktur modalnya.. Hasil penilaian Smith dan watts (1992) menunjukkan hubungan negatif antara

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

17

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 4 No. 1. Desember 2009

equity/value dengan asset perusahaan yang didukung penelitian Gaver & Gaver (1993). Hasil penelitian Prasetyo (2000), Fitrujanti dan Hartono (2002) konsisten dengan penelitian sebelumnya, yaitu perusahaan bertumbuh memiliki kebijakan pendanaan melalui hutang dalam struktur modalnya lebih rendah dibandingkan perusahaan tidak tumbuh.. Signaling theory menjelaskan asimetri informasi, yang menyebabkan perilaku manajemen dalam menentukan kebijakan deviden yang dijadikan sinyal bagi prospek perusahaan yang akan datamg. Deviden merupakan alat bagi shareholder untuk mendorong manajemen agar mendapatkan modal dipasar kompetitif..Pembayaran deviden akan mempengaruhi retained earning yang ada diperusahaan Hasil pengujian Smith dan Watts (1992) juga menunjukkan bahwa equity/value berkorelasi negatif dengan kebijakan deviden. Hal ini disebabkan perusahaan yang lebih memiliki pilihan pertumbuhan akan memilik debt/equity rendah, sehingga untuk membatasi diri terhadap new issue market dan mengantisipasi kebutuhan dana ketika membutuhkan investasi baru, perusahaan cenderung memiliki kebijakan dividen yang relative rendah. Berdasarkan contracting hyphothesis, Smith &Watts (1992) mengidentifikasikan bahwa kebijakan deviden dan kebijikan investasi dapat dihubungkan melalui arus kas perusahaan. Semakin besar jumlah investasi dalam satu periode tertentu semakin besar dividen yang diberikan, karena perusahaan bertumbuh diidentifikasi sebagai perusahaan yang free cash flownya rendah (Jansen 1986 dalam Smith dan Watts 1992). Hal ini sesuai dengan hipotesis pecking order (Myers, 1984) bahwa perusahaan yang profitable memiliki dorongan membayar dividen yang relatif rendah dalam rangka memiliki dana internal lebih banyak untuk membiayai proyek-proyek investasinya. Penelitian tersebut juga didukung oleh penelitian Smith dan Watts (1992), jika sinyal meningkat karena adanya disparitas informasi besar, yaitu perusahaan yang memiliki pertumbuhan kecil, maka perusahaan akan membayar deviden lebih tingi sebagai sinyal bahwa kondisi perusahaan baik. Hasil penelitian Gaver & Gaver (1993) menujukkan bahwa dividend yield signifikan memiliki hubungan negatif dengan IOS, namun koefisien dalam model dividend payout ratio tidak signifikan. Hasil pengujian yang dilakukan oleh Subekti dan Kusuma (2001) menunjukkan adanya perbedaan kebijakan deviden antara perusahaan tumbuh dan tidak tumbuh. Perusahaan yang mempunyai potensi pertumbuhan yang semakin tinggi akan mempunyai kebutuhan dana yang semakin besar untuk keperluan investasinya. Sebagai solusinya perusahaan menggunakan dana internal yang relatif lebih murah biaya modalnya (melalui deviden yang tidak dibagikan), ini menunjukkan perusahaan tudak tergoda untuk membayar bagian yang lebih besar

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

18

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 4 No. 1. Desember 2009

labanya kepada pihak luar. Hasil penelitiannya juga mengidentifikasikan bahwa perusahaan yang tumbuh telah menganut teori contracting yang mengutamakan kebijakan perusahaan untuk meningkatkan nilai perusahaan. Kerangka Konseptual Contracting theory mengidentifikasikan bahwa kebijakan deviden dan kebijikan investasi dapat dihubungkan melalui arus kas perusahaan. Semakin besar jumlah investasi dalam satu periode tertentu semakin besar dividen yang diberikan, karena perusahaan bertumbuh diidentifikasi sebagai perusahaan yang free cash flownya rendah (Jansen 1986 dalam Smith dan Watts 1992). Dalam perspektif efficiency contracting, secara khusus manajer akan memilih metode akuntansi yang akan meminimalkan agency cost. Perusahaan yang memilih pada perspektif efficiency contracting akan mencari solusi contract yang baik dalam implementasi satu set kebijakan pendanaan dan prosedur akuntansi yang dapat diterima oleh pihak manajemen maupun pemegang saham (Skinner, 1993) dalam Subekti dan Kusuma (2001). Sebaliknya pandangan manajemen yang opportunitism akan mengasumsikan bahwa perbedaan dalam kebijakan deviden dan pendanaan muncul sebagai akibat dari manajemen dalam merespon kontrak yang dapat mengoptimalkan kepentingannya. Berikut ini merupakan kerangka konseptual investment opportunity set terhadap kebijakan pendanaan dan deviden. Gambar 1 Kerangka konseptual

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

19

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 4 No. 1. Desember 2009

Sumber: Subekti dan Kusuma, 2001

Kesimpulan Investment Opportunity Set (IOS) merupakan komponen nilai perusahaan dan hasil dari pilihan-pilihan untuk membuat investasi yang akan datang. Pilihan pertumbuhan tidak dapat diobservasi langsung, Oleh karena itu dibutuhkan proksi. berbagai rasio individual digunakan untuk mengobservasi pertumbuhan perusahaan antara lain, expense to market value, earning per-share to price, research and development to market value of asset, research and development to sale, capital expenditure to book value of asset variance of return and beta. Menurut Sami dkk (1999) menunjukkan bahwa variabel yang memiliki korelasi cukup tinggi terhadap factor utama IOS adalah book to market value of asset, market value equity, PPE/BV, capital expenditure. DEPBVA, CAPX Incure/BVA. Namun tidak rasio individual dapat digunakan untuk menilai pertumbuhan perusahaan, hal ini harus dilakukan pengujian, rasio mana saja yang merupakan proksi investment opportunity set. Ada beberapa teori yang menghubungkan pertumbuhan perusahaan (investment opportunity set) dengan kebijakan deviden dan pendanaan. Contracting Theory menjelaskan bahwa tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 20

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 4 No. 1. Desember 2009

atau pemegang saham. Dalam perspektif efficiency contracting, secara khusus manajer akan memilih metode akuntansi yang akan meminimalkan agency cost. Perusahaan yang memilih pada perspektif efficiency contracting akan mencari solusi contract yang baik dalam implementasi satu set kebijakan pendanaan dan prosedur akuntansi yang dapat diterima oleh pihak manajemen maupun pemegang saham. Berdasarkan contracting hyphothesis mengidentifikasikan bahwa kebijakan deviden dan kebijikan investasi dapat dihubungkan melalui arus kas perusahaan. Semakin besar jumlah investasi dalam satu periode tertentu semakin besar dividen yang diberikan, karena perusahaan bertumbuh diidentifikasi sebagai perusahaan yang free cash flownya rendah. Sedangkan perusahaan yang memiliki level IOS tinggi mempunyai debt to equity yang lebih rendah dalam struktur modalnya, atau menunjukkan bahwa hubungan yang negatif antara utang dan kesempatan untuk tumbuh. Pendanaan perusahaan dengan modal sendiri cenderung mengurangi masalah-masalah agensi yang berpotensial pada ekstensi utang yang beresiko dalam struktur modalnya.. sehingga perusahaan bertumbuh memiliki kebijakan pendanaan melalui hutang dalam struktur modalnya lebih rendah dibandingkan perusahaan tidak tumbuh. Secara umum dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang tumbuh telah menganut teori contracting yang mengutamakan kebijakan perusahaan untuk meningkatkan nilai perusahaan.

Daftar Pustaka Baker, George, P. 1993, Growth, Corporate Policies and Investment Opportunity Set,Journal Accounting and Economics,16.161-165. Cahan, Steven F., dan Hossain M,1996, The Investment Opportunity Set and Disclosure Policy: Some Malaysian Evidence,Asia Fasific Journal of Management Vol.13, No.1 65-85 Gaver, Jennifer J., dan Kennth M. Gaver,1993, Additional Evidience on the Association the Invesment Opportunity Set and Corporate Financing, Devidend. Compensation Polities, Journal of Accounting Economics 16, 125-160. Fitrijanti, Tettet, dan Jogianto H.,2002 Analisis Korelasi Pokok IOS dengan Realisasi Pertumbuhan, Kebijakan Deviden dan Pendanaan, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol.5,1, Hal.35-63. Hartono, Jogianto,1999, Teori Fortofolio dan Analisis Investasi, Yogyakarta:BPFE. Jensen C. Michael,1986, Agency Cost of Free Cash Flow.Corporate Finance and Takeovers. American Economic Review.Vol.76.323-329. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 21

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 4 No. 1. Desember 2009

Kallapur, Sanjay, dan Mark A. Trombley, 1999 The Assotiation Between Investment Opportunity Set Proxies and Realized Growth , Journal of Bussines and Accounting, 505-519. Myers,S.,1997, Determinat of Corporate Borrowing,Journal of Financing Economics No.5,147175. Nugroho dan Hartono J, 2002, Confirmatory Factor Analysis Gabungan Proksi Investment Opportunity Set dan Hubungannya terhadap Realisasi Pertumbuhan, Makalah symposium Nasional akuntansi. Pasetyo, A.,2001, Asosiasi antara Investment Opportunity Set (IOS) dengan Kebijakan Pendanaan, Kebijakan Deviden, Kebijakan Kompensasi, Beta dan Perbedaan Reaksi Pasar, Makalah Simposium Nasional Akuntansi. Sami, H.,1999, Assotiation between the Investment Opportunity Set snd Corporating Financing, Devidend, Leasing and Compensation Policy: Some evidience from and Emirging Market, Working Paper,(Temple University, Philadelphia). Skinner, Dauglas j.,1993, The Investment Opportunity Set and Accounting Prosedure Choice, Journal of Accounting Economic 16,407-445. Smith Jr., Clifford W., dan Ross L. Watts 1992, The Investment Opportunity Set and Compensation Policies, Journal of Financial Economics 32,263-292. Subekti, Imam, dan Kusuma, I 2001., Asosiasi antara Set Kesempatan Investasi dengan Kebijakan Pendanaan dan dividen perusahaan, serta Implikasinya pada perubahan harga Saham, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol .4.44-63.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

22