Anda di halaman 1dari 30

BAB II TINJAUAN UMUM APOTEK

2.1 Pengertian Apotek Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332 Tahun 2002 apotek adalah suatu tempet dilaksanakannya pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi dan perbekalan farmasi lainnya kepada masyarakat. Menurut UU RI No. 36 Tahun 2009, Sumber daya di bidang kesehatan adalah segala bentuk dana, tenaga, perbekalan kesehatan, sediaan farmasi dan alat kesehatan serta fasilitas pelayanan kesehatan dan teknologi yang dimanfaatkan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah daerah, dan/atau masyarakat Seiring dengan perkembangannya, dikeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian dengan menimbang Bahwa untuk melaksanakan ketentuan pasal 63 Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pekerjaan Kefarmasian. Menurut Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 pasal 1 ayat 1, Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuat sedian termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan, dan pendistribusi atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter,

pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan diselenggarakan untuk melindungi masyarakat dari bahaya penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan mutu, keamanan maupun kemanfaatan. Pekerjaan kefarmasian harus dilakukan dalam rangka menjaga mutu sediaan farmasi yang beredar. Apotek berkewajiban menyediakan, menyimpan dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan keabsahan terjamin. Membahas tentang apotek, maka tidak lepas kaitannya dengan obat. Obat merupakan salah satu unsur yang penting dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. Tujuan pembangunan dibidang obat-obatan menurut Kepmenkes RI No. 47/Menkes/SK/II/1983 tentang kebijakan obat nasional, yaitu : a. Menjamin tersedianya obat dengan jenis dan jumlah yang cukup,

sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat. b. Meningkatkan penyebaran obat secara merata dan teratur sehingga

mudah diperoleh dan terjangkau oleh masyarakat. c. Menjamin khasiat, keamanan, mutu, dan keabsahan obat yang

beredar. d. Melindungi masyarakat dari penyalahgunaan obat dan kesalahan

penggunaan obat

2.2 Tugas dan Fungsi Apotek Tugas dan fungsi apotek menurut PP No. 51 tahun 2009, yaitu : a. Tempat pengabdian profesi apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker. b. c. Sarana yang digunakan untuk melakukan Pekerjaan Kefarmasian Sarana yang digunakan untuk memproduksi dan distribusi sediaan farmasi antara lain obat, bahan baku obat, obat tradisional, dan kosmetika d. Sarana pembuatan dan pengendalian mutu Sediaan Farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. 2.3 Persyaratan Apotek Persyaratan apotek menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1332/Menkes/SK/X/2002, yaitu : a. Untuk mendapatkan izin apotek, apoteker atau apoteker atau apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan lainnya yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain. b. Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi.

c.

Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi.

2.3.1 Lokasi Apotek Lokasi apotek adalah tempat apotek didirikan. Lokasi apotek ditentukan sesuai dengan permohonan pada saat pengajuan izin apotek. Menurut Permenkes No. 244 Tahun 1990 jarak antar apotek tidak dibatasi sehingga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mendapatkan pelayanan obat yang lebih baik. Lokasi apotek sangat mempengaruhi maju atau mundurnya suatu apotek. Apotek sebaiknya didirikan di tempat yang strategis, misalnya di daerah yang ramai, aman, dekat rumah sakit/klinik, mudah dijangkau oleh masyarakat. 2.3.2 Bangunan Apotek Bangunan apotek adalah gedung atau bagian gedung yang dipergunakan untuk mengelola apotek. Menurut Kepmenkes RI No. 278/Menkes/SK/V/1981 tentang persyaratan apotek, bangunan apotek harus mempunyai luas secukupnya dan memenuhi persyaratan teknis, sehingga dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi apotek serta memelihara mutu perbekalan kesehatan di bidang farmasi. Bangunan apotek harus memenuhi persyaratan teknis sebagai berikut : a. Bangunan apotek sekurang kurangnya terdiri dari ruang tunggu, ruang

racik dan penyerahan, ruang administrasi dan apoteker, serta toilet. b. Dinding harus kuat dan tahan air, permukaan sebelah dalam rata, tidak

mudah mengelupas dan mudah dibersihkan.

c.

Bangunan apotek harus memiliki ventilasi dan sistem sanitasi yang baik

serta memenuhi persyaratan hygiene lainnya. d. Ruang apotek harus mempunyai penerangan yang cukup, sehingga dapat

menjamin pelaksanaan tugas dan fungsi apotek dengan baik. e. Apotek harus memasang papan nama pada bagian depan apotek. Pada

papan nama tercantum nama apotek, nama APA, no. surat izin apotek, alamat, no. telepon apotek. 2.3.3 Perlengkapan Apotek Menurut Kepmenkes RI No. 1027 tahun 2004 tentang Standar pelayanan kefarmasian di apotek, perlengkapan apotek adalah semua peralatan yang dipergunakan untuk melaksanakan kegiatan pelayanan kefarmasian di apotek. yaitu : 1. alat pembuatan pengolahan dan peracikan a. timbangan miligram dengan anak timbangan yang sudah ditera. b. timbangan gram dengan anak timbangan yang sudah ditera. c. Perlengkapan lain disesuaikan kebutuhan 2. perlengkapan dan alat perbekalan farmasi: a. leman dan rak untuk penyimpanan obat lumlah sesuai sesuai dengan jumlah kebutuhan b. lemari pendingin c. lemari untuk penyimpanan narkotika dan psikotropika 3. wadah pengemas dan pebungkus a. etiket

b. wadah pengemas dan pembungkus untuk penyerahan kebutuhan obat

4. alat administrasi a. blanko pesanan b. blanko kartu stok c. blanko salinan d. blanko faktur dan e. buku pencatatan f. buku pesanan g. form laporan 5. buku standar dan Farmakope 6. kumpulan peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan apotik 2.3.4 Perbekalan Farmasi Perbekalan farmasi menurut Kepmenkes RI No. 922 Tahun 1993, yaitu :
a. Apoteker berkewajiban menyediakan, menyimpan, dan menyerahkan

perbekalan farmasi yang bermutu baik dan keabsahan terjamin.


b. Obat dan perbekalan farmasi lainnya yang tidak dapat digunakan lagi atau

dilarang digunakan harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau cara lain yang ditetapkan. 2.3.5 Tenaga Kefarmasian Peraturan Pemerintah Nomor 51 tentang Tenaga Kefarmasian

mendefinisikan setiap Tenaga Kefarmasian adalah tenaga yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas Apoteker dan Tenaga Teknis

10

Kefarmasian. Tenaga Kefarmasian dalam melakukan Pekerjaan Kefarmasian pada Fasilitas Produksi Sediaan Farmasi harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang produksi dan pengawasan mutu orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. menurut Permenkes RI No. 1332 Tahun 2002, tenaga kesehatan di apotek terdiri dari apoteker pengelola apotek (APA), apoteker pendamping dan asisten apoteker (AA). Sebuah apotek harus memiliki seorang APA yang dibantu oleh sekurangkurangnya seorang Asisten Apoteker. Jika APA berstatus sebagai pegawai negeri atau ABRI, maka harus ada apoteker pendamping atau AA kepala. Menurut Permenkes RI No. 1332 Tahun 2002 apabila APA berhalangan tugas, maka APA dapat menunjuk apoteker pendamping dan bila APA dan apoteker pendamping tidak berada di tempat selam lebih dari tiga bulan terus menerus, maka dapat digantikan oleh apoteker pengganti. Penggantian tersebut harus dilaporkan ke Dinkes Kota dengan tembusan ke Balai POM setempat. 1. Apoteker Pengelola Apotek (APA) Apoteker pengelola apotek adalah apoteker yang telah diberi surat izin apotek (SIA), yaitu surat izin yang diberikan oleh Menteri Kesehatan kepada apoteker atau apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana untuk

menyelenggarakan apotek di suatu tempat tertentu. 2. Apoteker Pendamping

11

Apoteker pendamping menurut Permenkes RI No. 1332 Tahun 2002 adalah apoteker yang bekerja di apotek disamping APA dan menggantikannya pada jam-jam tertentu pada hari buka apotek. Apoteker pendamping bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas pelayanan kefarmasian selama yang

bersangkutan bertugas menggantikan APA. Apoteker pendamping juga harus memenuhi persyaratan seperti persyaratan untuk APA. 3. Apoteker Pengganti Apoteker pengganti menurut Permenkes RI No. 1332/Menkes/SK/X/2002 adalah apoteker yang bertugas menggantikan APA selama APA tidak berada di tempat lebih dari tiga bulan terus menerus, telah mempunyai surat izin kerja dan tidak bertindak sebagai APA di tempat lain. 4. Asisten Apoteker Menurut Peraturan Pemerintah No 51 tahun 2009 tentang Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apoteker dalam menjalani Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan TenagaMenengah Farmasi/Asisten Apoteker. Asisten apoteker menurut Permenkes RI No. 1332 Tahun 2002 adalah mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai asisten apoteker. 2.4 Peran dan Fungsi Apoteker di apotek Berdasarkan KepMenKes RI No. 1027/MenKes/SK/IX/2004, apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus pendidikan profesi yang telah mengucapkan sumpah berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan

12

berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai apoteker.Apoteker merupakan tenaga kesehatan professional yang banyak berhubungan langsung dengan masyarakat sebagai sumber informasi obat. Oleh karena itu, informasi obat yang diberikan pada pasien haruslah informasi yang lengkap dan mengarah pada orientasi pasien bukan pada orientasi produk. Dalam hal sumber informasi obat seorang apoteker harus mampu memberi informasi yang tepat dan benar sehingga pasien memahami dan yakin bahwa obat yang digunakannya dapat mengobati penyakit yang dideritanya dan merasa aman menggunakannya. Dengan demikian peran seorang apoteker di apotek sungguh-sungguh dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Selain memiliki fungsi sosial sebagai tempat pengabdian dan

pengembangan jasa pelayanan pendistribusian dan informasi obat perbekalan kesehatan, apotek juga memiliki fungsi ekonomi yang mengharuskan suatu apotek memperoleh laba untuk meningkatkan mutu pelayanan dan menjaga kelangsungan usahanya. Oleh karena itu apoteker sebagai salah satu tenaga professional kesehatan dalam mengelola apotek tidak hanya dituntut dari segi teknis kefarmasian saja tapi juga dari segi manajemen. Dalam Keputusan ini tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek dinyatakan bahwa orientasi pelayanan kefarmasian saat ini telah bergeser dari obat ke pasien yang mengacu pada pharmaceutical care. Pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical Care) adalah bentuk pelayanan dan tanggung jawab langsung profesi apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Apoteker Pengelola Apotek terkena ketentuan seperti dimaksud pada

13

Keputusan Menteri Kesehatan 1332/MenKes/SK/X/2002 (Pasal 19 ayat 1) yang menyatakan bahwa apabila Apoteker Pengelola Apotik berhalangan melakukan tugasnya pada jam buka Apotik, Apoteker Pengelola Apotik harus menunjuk Apoteker pendamping. Dari peraturan perundang-undangan tersebut Peran dan Fungsi Apoteker di Apotik yang melayani langsung pasien adalah sebagai
1. Pelayan 2. Manager

Sebagai Pelayan adalah : 1. Membaca resep dengan teliti, meracik obat dengan cepat, membungkus dan menempatkan obat dalam wadah / bungkus yang cocok dan memeriksa serta memberi etiket dengan teliti. 2. Memberikan informasi / konsultasi tentang obat kepada pasien, tenaga kesehatan masyarakat. Sebagai Manajer adalah : -

Menyusun prosedur tetap. Mengelola obat, sumber daya manusia, peralatan dan uang di Apotik. Sebagai Pelayan sesuai dengan standar pelayanan yang sudah ditetapkan

adalah : 1. Melayani resep dan non resep. 2. Promosi dan edukasi. 3. pelayanan residesial (homecare) Sebagai Pelayan Resep melakukan : 1. Skrining / pembacaan resep, melakukan :

14

a. Pemeriksaan persyaratan administrative resep : Nama dokter, alamat, SIP. Tanggal penulisan Paraf / tanda tangan. Nama pasien, alamat, umur, jenis kelamin, berat badan. Signa ( cara pakai ) yang jelas. Informasi lainnya.

b. Kesesuaian farmasetik : Bentuk sediaan. Dosis. Potensi. Stabilitas. Inkomptabilitas. Cara dan lama pemberian.

c. Pertimbangan klinis : Alergi. Efek samping. Interaksi.

d. Penyiapan obat Peracikan ( hitung, sediakan, campur, kemas, label ) Penyerahan obat. Pemberian informasi dan konseling. Monitoring penggunaan obat ( penyakit CVS, DM, TBC ).

15

2. Sebagai tenaga Promosi dan Edukasi, melakukan : a. Swamedikasi ( dengan medication record ). b. Penyebaran brosur, poster tentang kesehatan. 3. Sebagai tenaga Pelayanan Residensi ( home care )Untuk penyakit kronis ( dengan medication record ).Sebagai manajer: - Mengelola sumber daya ( resources ) di Apotik secara efektif dan efisien. - Membuat prosedur tetap untuk masing masing pelayanan. 2.5 Perizinan Apotek

2.5.1 Perlimpahan Wewenang Pemberian Izin Apotek Izin mendirikan apotek semula diberikan oleh Menkes berdasarkan Permenkes RI No. 922/Menkes/Per/X/1993. Namun dengan adanya UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Provinsi sebagai daerah otonom, setiap kabupaten dan kotamadya mempunyai peraturan daerah masing-masing dalam pelaksanaan perizinan apotek, dimana perizinan apotek tidak lagi diberikan oleh Menkes melainkan oleh bupati atau walikota. Menurut Kepmenkes No. 1332/Menkes/SK/X/2002 Pasal 4 tentang pelimpahan wewenang pemberian izin apotek adalah sebagai berikut : a. Izin apotek diberikan oleh Menteri.

16

b. Menteri melimpahkan wewenang pemberian izin apotek kepada Kepala Dinkes Kabupaten/Kota. c. Kepala Dinkes Kabupaten/Kota wajib melaporkan pelaksanaan pembeian izin, pembekuan izin, pencairan izin dan pencabutan izin apotek sekali setahun kepada Menteri dan tembusan disampaikan kepada Dinkes Propinsi. 2.5.2 Tata Cara Pemberian Izin Apotek Menurut Kepmenkes No. 1332/Menkes/SK/X/2002 Pasal 7 tentang cara pemberian izin apotek adalah : 1. Permohonan Kabupaten/Kota. 2. Kepala Dinkes Kabupaten/Kota selambat-lambatnya enam hari kerja setelah menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan apotek untuk melakukan kegiatan. 3. Tim Dinkes Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambat-lambatnya enam hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala Dinkes Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan setempat. 4. Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan (3) bila tidak dilaksanakan apoteker pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Dinkes Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Provinsi. izin apotek diajukan kepada Kepala Dinkes

17

5.

Dalam jangka waktu dua belas hari kerja setelah diteima laporan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) atau (4) Kepala Dinkes Kabupaten/Kota setempat mengelurkan surat izin apotek.

6.

Dalam hasil pemeriksaan Tim Dinkes Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM dimaksud dalam ayat (3) masih belum memenuhi syarat, Kepala Dinkes Kabupaten/Kota setempat dalam mengelurkan surat izin apotek. Dalam waktu dua belas hari kerja mengeluarkan surat penundaan.

7.

Surat penundaan sebagaimana dimaksud ayat (6), apoteker diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambatlambatnya dalam jangka waktusatu bulan sejak tanggal Surat Penundaan.
2.5.3

Pengalihan dan Perubahan Surat Ijin Apotek

Berdasarkan Surat Keputusan Dirjen POM No. 02401/SK/X/1990, perubahan Surat Izin Apotek (SIA) dilakukan apabila: a. b. Terjadi penggantian nama apotek Terjadi perubahan nama jalan dan nomor bangunan pada alamat

apotek tanpa pemindahan lokasi apotek c. d. e. f. PSA g. h. Terjadi pemindahan lokasi apotek APA meninggal dunia Surat Izin Apotek (SIA) hilang atau rusak Adanya penggantian Apoteker Pengelola Apotek (APA) Adanya perubahan Pemilik Sarana Apotek (PSA) Surat Izin Kerja (SIK) APA dicabut dalam hal APA bukan sebagai

18

2.6

Pengelolaan Apotek Pengelolaan Apotek adalah segala upaya dan kegiatan yang dilakukan oleh

seorang APA dalam rangka tugas dan fungsi apotek yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan penilaian. Pengelolaan apotek menurut Permenkes No. 922 Tahun 1993, meliputi : a. Pembuatan, pengolahan, peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran,

penyimpanan dan penyerahan obat atau bahan obat. b. Pengadaan, penyimpanan, penyaluran, dan penyerahan perbekalan farmasi. c. Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi. Pengelolaan apotek berdasarkan Permenkes No. 26/Menkes/Per/I/1981, meliputi : a. b. c. Bidang pelayanan kefarmasian Bidang material Bidang administrasi dan keuangan

d. Bidang ketenagaan e. Bidang lainnya yang berkaitan dengan tugas dan fungsi apotek. 2.6.1 Bidang Pelayanan Kefarmasian Menurut Permenkes RI No. 922/Menkes/Per/X/1993, menyatakan bahwa apotek wajib melayani resep dari dokter, dokter gigi dan dokter hewan sepenuhnya atas tanggung jawab Apoteker Pengelola Apotek (APA). Apoteker wajib melayani resep sesuai dengan tanggung jawab dan keahlian profesinya yang dilandasi pada kepentingan masyarakat.

19

Menurut PP 51 Dalam melakukan Pekerjaan Kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian, Apoteker dapat mengganti obat merek dagang dengan obat generic yang sama komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan dokter dan/atau pasien dan menyerahkan obat keras, narkotika dan psikotropika kepada masyarakat atas resep dari dokter sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pengelolaan di bidang kefarmasian meliputi : a. Pembuatan, pengelolaan, peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran,

penyimpanan dan penyerahan obat atau bahan obat. b. Pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan pebekalan farmasi

lainnya. c. Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi. Selain obat yang diberikan melalui resep, apotek juga dapat menjual obat tanpa resep, meliputi obat bebas, obat bebas terbatas dan obat keras yang dinyatakan sebagai obat wajib apotek yang di tetapkan oleh Menteri Kesehatan. 2.6.2 Bidang Material Pengelolaan bidang material meliputi perbekalan farmasi, bangunan dan perlengkapan. Dalam hal perbekalan farmasi, apotek harus menyediakan obatobatan yang bermutu baik dan terjamin keabsahannya. Untuk itu, apotek memperoleh obat dan perbekalan farmasi harus bersumber dari pabrik farmasi, Pedagang Besar Farmasi atau apotek atau sarana distribusi resmi lainnya.

20

Untuk menjaga agar mutu perbekalan farmasi tetap baik selama disimpan di apotek, perlu diperhatikan cara menyimpan yang baik seperti tertera pada kemasan dari setiap item perbekalan farmasi, misalnya harus pada tempat yang aman, tidak terkena sinar matahari langsung, bersih dan disusun secara sistematis. Setiap item barang diberi kartu stok untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran barang. 2.6.3 Bidang Administrasi dan Keuangan Pengelolaan administrasi di apotek mencakup administrasi pengadaan, penerimaan, penyimpanan, penyaluran, peracikan, penyerahan dan pemusahan perbekalan farmasi. Apotek juga diwajibkan untuk melaporkan penggunaan obat-obat golongan narkotika dan psikotropika. Pengelolaan administrasi keuangan meliputi administrasi pembelian, penjualan, pembukuan keuangan. Pengelolaan keuangan ini memerlukan perencanaan dan penanganan yang baik dan cermat seingga penggunaan dana dapat berjalan secara efektif dan efisien. 2.6.4 Bidang Pelayanan Informasi Obat Menurut Kepmenkes No. 1027 tahun 2004 tentang Standar pelayanan kefarmasian di apotek menyebutkan Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi: cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi.

21

Pengelolaan bidang pelayanan informasi menurut Permenkes RI No. 922 Tahun 1993, meliputi : a. Pelayanan informasi tentang obat dan perbekalan farmasi lainnya yang diberikan kepada dokter dan tenaga kesehatan lainnya maupun kepada masyarakat. b. Pengamatan dan pelaporan informasi mengenai khasiat, keamanan, bahaya dan atau mutu obat dan perbekalan farmasi lainnya. c. Dalam Kepmenkes No. 347 Tahun 1990 tentang Obat Wajib Apotik, dinyatakan bahwa apoteker dapat menyerahkan obat keras tanpa resep dokter kepada pasien di apotek. Hal ini menyebabkan perlunya peran apoteker di apotek dalam pelayanan konsultasi, informasi dan edukasi. Pemberian informasi obat kepada masyarakat juga dapat dilakukan melalui brosur, poster dan artikel-artikel dalam surat kabar atau majalah. 2.7 Pengelolaan Narkotika dan Psikotropika Menurut UU nomor 35 tahun 2009 taentang narkotika mendefenisikan Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, Penyaluran narkotika harus berdasarkan resep dokter dan hanya boleh dilakukan oleh apotek. Apotek dilarang mengulangi penyerahan narkotika atas dasar resep dokter. Apoteker wajib melaporkan mengenai pemasukkan dan pengeluaran narkotika kepada Depkes setiap bulan.

22

Penyimpanan narkotika menurut UU Nomor 35 tahun 2009, meliputi : 1. Narkotika yang berada dalam penguasaan Industri Farmasi, pedagang

besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai pengobatan, dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan wajib disimpan secara khusus. 2. Industri Farmasi, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan

farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai pengobatan, dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan wajib membuat,

menyampaikan, dan menyimpan laporan berkala mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran Narkotikayang berada dalam penguasaannya. 3. Pelanggaran terhadap ketentuan mengenai penyimpanan dikenai sanksi administratif oleh Menteri atas rekomendasi dari Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan berupa: a. teguran; b. peringatan; c. denda administratif; d. penghentian sementara kegiatan; atau e. pencabutan izin. Berdasarkan Undang-undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika, Narkotika dibedakan ke dalam 3 golongan yaitu : 1. Narkotika golongan I, yang dapat digunakan untuk kepentingan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan dilarang digunakan untuk

23

kepentingan lainnya, serta mempunyai potensi yang sangat tinggi untuk menimbulkan ketergantungan. 2. Narkotika golongan II, sebagai pengobatan dan banyak digunakan sebagai pilihan terakhir dalam terapi, untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan mempunyai potensi tinggi untuk menimbulkan ketergantungan. 3. Narkotika golongan III, yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan untuk menimbulkan ketergantungan. Secara garis besar pengelolaan narkotika meliputi : 1. Pemesanan Narkotika. Apotek memesan narkotika ke PBF Kimia Farma dengan menggunakan surat pemesanan yang ditandatangani oleh APA dengan dilengkapi nomor SIK dan stempel apotek. Untuk satu lembar surat pemesanan hanya untuk satu macam narkotika saja. 2. Penyimpanan Narkotika. Permenkes No. 28/Menkes/Per/1987 tentang Tata Cara Penyimpanan Narkotika menyebutkan bahwa apotek harus memiliki tempat khusus untuk menyimpan narkotika, yang memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. kuat. b. Harus mempunyai kunci ganda yang berlainan. Harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang

24

c.

Dibagi dua masing-masing dengan kunci yang berlainan.

- Bagian pertama digunakan untuk menyimpan morfin, petidin dan garam-garamnya serta persediaan narkotika. - Bagian kedua digunakan untuk penyimpanan narkotika lainnya yang digunakan sehari-hari. d. Lemari khusus tersebut berupa lemari dengan ukuran lebih kurang 140 x 80 x 100 cm3, lemari tersebut harus dibuat pada tembok atau lantai. e. Lemari khusus tidak dipergunakan untuk menyimpan bahan lain selain narkotika dan di tempatkan ditempat yang aman. 3. Pelayanan Resep yang mengandung Narkotika. Menurut UU No. 35 tahun 2009 tentang narkotika disebutkan bahwa : a. Narkotika hanya digunakan untuk kepentingan

pengobatan atau ilmu pengetahuan. b. Narkotika hanya dapat diserahkan kepada pasien untuk pengobatan penyakit berdasarkan resep dokter. c. Apotek dilarang mengulangi menyerahkan narkotika atas dasar salinan resep dokter. 4. Pelaporan Narkotika Apotek berkewajiban menyusun dan mengirimkan laporan bulanan yang terdiri dari laporan penggunaan bahan baku narkotika, laporan penggunaan sediaan jadi narkotika, dan laporan khusus pengunaan morfin,

25

petidin, dan derivatnya, yang ditandatangani oleh APA dengan mencantumkan nomor SIK, SIA, nama jelas dan stempel apotek. 5. Pemusnahan Narkotika Menurut Undang-undang RI. No. 35 tahun 2009 tentang narkotika, disebutkan bahwa pemusnahan narkotika dilakukan dalam hal : a. Diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku dan tidak dapat digunakan dalam proses produksi. b. c. Kadaluarsa Tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan untuk pengembangan ilmu pengetahuan d. Berkaitan dengan tindak pidana Pemusnahan narkotika dilaksanakan oleh pemerintah dan disaksikan oleh pejabat yang ditunjuk Menteri Kesehatan. pemusnahan narkotika dilakukan dengan pembuatan berita acara yang memuat: a. b. Nama, jenis, sifat dan jumlah Keterangan tempat, jam, hari, tanggal, bulan, dan tahun dilakukan pemusnahan. c. narkotika d. Tanda tangan dan identitas lengkap pelaksana dan pejabat yang menyaksikan pemusnahan. Keterangan mengenai pemilik atau yang menguasai

26

Kemudian Berita Acara tersebut dikirimkan kepada kepala kantor Departemen kesehatan dengan tembusan kepada: Kepala dinas kesehatan RI, balai pemeriksaan obat dan makanan propinsi setempat dan Arsip. 6. Pengelolaan Narkotika Dalam UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika, disebutkan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan mengenai penyimpanan dan pelaporan narkotika dapat dikenai sanksi administratif oleh menteri kesehatan, yang berupa teguran, peringatan, denda administratif, penghentian sementara kegiatan, atau pencabutan izin. Pelanggaran Terhadap Ketentuan

2.8 Pengelolaan Psikotropika Psikotropika menurut UU No. 5 tahun 1997 adalah merupakan zat atau obat, baik alamiah maupun sintesis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Adapun pengelolaan psikotropika meliputi: 1. Pemesanan Psikotropika Obat-obat psikotropika dapat dipesan apotek dari Pedagang Besar Farmasi (PBF), dengan menggunakan surat pesanan (SP) psikotropika dan ditandatangani oleh APA . 2. Penyimpanan Psikotropika

27

Sampai saat ini penyimpanan untuk obat-obatan psikotropika belum diatur dengan suatu perundang-undangan. Namun karena obat-obatan golongan psikotropika ini cenderung untuk disalahgunakan, maka disarankan agar menyimpan obat-obatan tersebut dalam suatu rak atau lemari khusus dan membuat kartu stok psikotropika. 3. Pelaporan Psikotropika Apotek wajib membuat dan menyimpan catatan kegiatan yang berhubungan dengan psikotropika dan melaporkan kepada Suku Dinas Pelayanan Kesehatan (Sudin Yankes) setempat secara berkala dan dengan tembusan Balai POM Besar DKI Jakarta.

4.

Pemusnahan Psikotropika Menurut pasal 53 UU No. 5 tahun 1997 tentang psikotropika, pemusnahan psikotropika dilakukan apabila: a. Diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan bahan baku yang berlaku dan atau tidak dapat digunakan dalam proses produksi. b. c. Kadaluarsa Tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan.

28

d. dengan tindak pidana. 2.9 Pengelolaan Resep 2.9.1 Definisi Resep dan Penulis Resep Menurut keputusan Menteri Kesehatan

Berkaitan

No

1027/MENKES/SK/IX/2004, Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Resep harus ditulis dengan jelas dan lengkap. Apabila resep tidak dapat dibaca dengan jelas atau tidak lengkap, apoteker harus menanyakan kepada dokter penulis resep. 1. Yang berhak menulis resep adalah : 2. 3. 4. Dokter. Dokter gigi, terbatas pengobatan gigi dan mulut. Dokter hewan, terbatas pengobatan hewan

2.

Isi Resep Dalam resep harus memuat : a. Nama, alamat dan nomor ijin praktek dokter, dokter gigi dan dokter hewan. b. Tanggal penulisan resep (inscriptio) c. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep. Namun setiap obat atau komposisi obat (invocatio).

29

d. Aturan pemakaian obat yang tertulis (signature). e. Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep, sesuai dengan perundang- undangan yang berlaku (subscriptio). f. Jenis hewan dan nama serta alamat pemiliknya untuk resep dokterhewan. g. Tanda seru dan paraf dokter untuk resep yang mengandung

obat yangjumlahnya melebihi dosis maksimal 3. Kaidah kaidah penulisan resep kaidah penulisan resep adalah sebagai berikut; a. Sebaiknya untuk suatu obat dalam resep tidak menuliskan gr. Bilamana yang dimaksud adalah gram. Suatu angka di belakang nama obat otomatis berarti gram sedangkan gr adalah granum yang beratnya hanya 65mg. b. Penggunaan titik desimal untuk dosis obat sebaiknya ditempatkan dengan tepat. Kesalahan penempatan titik desimal dapat

menyebabkan dosis/kekuatan menjadi 10 kali dari dosis/kekuatan yang dimaksud. c. Nama obat dituliskan dengan jelas. Penulisan nama obat tidak jelas dapat menyebabkan obat keliru diberikan kepada penderita. d. Menuliskan dengan jelas kekuatan serta jumlah obat dalam resep. e. Sebaiknya berhati-hati bila memberikan beberapa obat bersamaan berupa : secara

30

beberapa bahan obat yang dicampurkan dalam satu resep racikan.

beberapa bentuk sediaan yang diberikan dalam beberapa resep dalam satu kertas resep, dimana setiap sediaan itu oleh penderita harus diminum pada waktu bersamaan.

f. Dosis tiap obat yang diberikan seharusnya diperhitungkan dengan tepat serta diperhitungkan juga semua faktor individual pasien, terutama umur dan berat badannya. g. Mengetahui lebih dahulu kondisi pasien secara akurat (patofisiologi) sebelum menentukan pengobatan. h. Terapi dengan obat diberikan hanya bila ada indikasi yang

jelas dan tidak karena pasien mendesak meminta suatu obat tertentu. i. Menuliskan aturan pemakaian obat dengan jelas di atas resep sehingga nanti akan tertera pada etiket yang dipasang pada wadah obat. Sebaiknya menghindari pemberian obat terlalu banyak karena bias berbahaya. j. Sebaiknya menghindari pemberian obat dalam jangka waktu yang terlalu lama. k. Pasien diberi informasi dengan jelas tentang tatacara

penggunaan obatnya. l. Pasien diberi informasi akan kemungkinan bahaya bila meminum obat lain di samping obat yang diberikan dokter.

31

m.

Pasien diberi informasi bila obat yang diberikan akan menyebabkan efek samping atau kelainan tertentu.

2.9.2

Copie Resep dan Penulisan Copie Resep 1. Definisi copie resep Copie resep ialah salinan tertulis dari suatu resep. Istilah lain dari copie resep tersebut ialah apograph, exemplum, afschrift.

2.

Penulisan copie resep Salinan memuat semua keterangan yang ada dalam resep asli,copie resep harus memuat pula : a. b. c. d. Nama dan alamat apotek Nama dan nomor S.I.K Apoteker pengelola apotek. Tanda tangan atau paraf Apoteker pengelola apotek. Tanda det = detur untuk obat yang sudah diserahkan, atau

tanda ne det. = ne detur untuk obat yang belum diserahkan. e. Nomor resep dan tanggal pembuatan

2.9.3. Pelayanan Resep Obat Pelayanan resep obat oleh apoteker meliputi : 1. a. Nama, SIP dan alamat dokter. Tanggal penulisan resep. Skrining resep Persyaratan administratif :

32

Tanda tangan/paraf dokter penulis resep. Nama, alamat, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien. Nama obat, potensi, dosis, jumlah obat yang diminta. Cara pemakaian yang jelas. Informasi lainnya. b. Kesesuaian farmasetik : bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian. c. Pertimbangan klinis : adanya alergi, efek samping, interaksi, d. lain lain) Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya bila perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan. 2.9.4 Pemusnahan Resep kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan

Tata cara pemusnahan resep telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 280/MenKes/V/1981 tentang ketentuan dan Tata Cara Pengelolaan Apotek disebutkan tentang resep sebagai berikut :

33

1. Apoteker Pengelola Apotek mengatur resep menurut urutan tanggal dan nomor urutan penerimaan resep dan harus disimpan sekurangkurangnya 3 tahun. 2. Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 3 tahun dapat dimusnahkan. 3. Pemusnahan resep dapat dilakukan dengan cara dibakar atau cara lain oleh Apoteker Pengelola Apotek bersama dengan sekurang kurangnya petugas apotek. Berita acara pemusnahan dikirimkan ke Dinas Kesehatan.