Anda di halaman 1dari 4

Tujuan pembelajaran Multiplexing

IT TELKOM fak. Teknik elektro Bahan Rujukan Roger L. Freeman , Telecommunication system engeneering. Disusun oleh Gideon Jonatan

Mempunyai persepsi tentang multiplexing Memahami multiplexing dalam rangkaian proses sistem transmisi Membedakan multiplexing analog (Frequency Division Multiplexing)dan multiplexing digital(time division multiplexing). Mempunyai kepekaan tentang hirarchi dan kapasitas multiplexing

Dasar multiplexing analog


Bandwidth suara manusia yang diteruskan oleh provider telekomunikasi 0.3 3.4KHz Proses multiplexing dilakukan dengan mengambil output dari sentral. Menggunakan multiplexing berarti menggunakan transmisi 4 kawat. Inti dari multiplexing adalah modulasi AM/SSB suppress carrier yang memindahkan frekuensi sinyal (informasi) Pengaturan seperti ini disebut FDM ( frequency Division multiplexing).
Ch1 Ch2 Multiplexing Frequency domain Ch n

Dasar kerja Proses multiplexing


Konsep dasar multiplexing FDM adalah memindahkan informasi VBW (0.3 3.4 KHz) suatu frekuensi
x

M=mixer 0.3 -3.4 fc fc-3.4 fc-0.3 fc fc+0.3 fc+3.4 sinyal carrier modulated carrier(carrier termodulasi) osc as ac am Secara matema s sbb. ambil satu frekuensi sinyal fs Sinyal as = A sin st ac= A sin ct s= 2fs c=2fc Carrier ac= A sin ct am= A sin ct A sin st Modulated carrier am = a sin ct sin st = A= a

Ch1

Ch2 ch3

Ch n

(carrier termodulasi ) = A sin (c+s)t + A sin (c-s)t Pada gambar diatas maka frekuensi fc fs di filter hingga tidak keluar jadi yang keluar hanya fc + fs atau fc -3.4 s/d fc 0.3 KHz Pemindah frekuensi seperti ini disebut mixer

Multiplexing berjenjang
Group(12 VBW), supergroup (5 group),master group (5 super group), super master group(3 master group atau 15 supergroup) Berdasarkan rekomendasi ITU CCITT, pada gb dibawah ini carilah frekwensi pemindahnya masing masing. Hit jml VBW tiap tingkat!
Ch1 Ch2 ch3 Ch 12 ambil side band bawah 60 Sg1 64 68 KHz Sg2 Sg3 Sg4 Sg5 108 group 60 108 KHz ambil side band atas

Power output multiplexing


Tergantung pada : - jumlah channel yang masuk dan rata rata power tiap channel - Kecepatan silabus pembicaraan - Jarak dari pembicara ke multiplexing. Karena variabel diatas sangat bervariasi, maka ITU merekomendasikan dengan rumus (ccitt Rec G.223): Pav = -15 + 10 log N (n240) dan -1+4 log N(N < 240) dbm dimana N=jumlah vbw yang dibawanya. Power ini merupakan power input untuk modulator yang digunakan.

312 Sg1

360 408 Sg2 Sg3

456 504 Sg4 Sg5

552 KHz

super group 312 552 KHz ambil side band bawah

812

1060

1308

1556

1804

2204 KHz

master grp 812-2204 KHz

Untuk selanjutnya rincian multiplexing analog ini tidak dibahas lagi, karena sekarang sudah era digital dan multiplexing yang dipakai adalah mul plexing digital TDM.

8516

9836

11156

12388

ambil side band atas supermaster grp 8516-12388 KHz

Beda sinyal digital dan analog


Transmisi digital adalah transmisi yang menyalurkan sinyal sinyal berbentuk bit (binary 0/1 low / high voltage) tegangan Sinyal analog Sebab itu semua bentuk sinyal jika ditransmisikan secara digital harus dirubah menjadi deretan bit 1 atau 0. Untuk merubah (kode) sinyal waktu suara menjadi digital dilakukan proses sampling dan kwantisasi. tegangan Di penerima dilakukan proses Sinyal digital pengkodean kembali dekwantisasi dan desampling 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 untuk mengembalikan ke sinyal awal. waktu

Perubahan analog menjadi digital.


2. Quantizing memberi skala pada sampling 3. Skala tsb di kode jadi digital.

1. Sinyal analog di cuplik beberapa kali

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Semakin banyak cuplikan semakin baik . Mengapa? 1 hz minimal dibutuhkan 2 sampling untuk membentuk sinusoida. Jika VBW 0.3 3.4 KHz (maksimum 4 KHz) sampling 8000 perde k. Satu sampling di skala (quantisasi) misalnya menjadi 256 skala. Semakin banyak skala maka error karena kuantisasi semakin kecil. why ? Tinggi sampling (mis 47.3) di kodekan jadi digital dirubah menjadi 8 bit 00101111 = 0x128+0x64+1x32+0x16+1x8+1x4x1x2+1x1 Bit stream ini yang dikirim. Kecepatan bit stream= 8000 sampx 8 bit/samp= 64 kbps

Distorsi karena kuantisasi


transmisi analog dan digital berbeda di penerimaan. Sinyal digital yang rusak di perjalanan karena noise , dipenerima dapat di regenerasi sehingga menjadi bit yang sempurna noise hilang. Sedangkan pada sistem transmisi analog, noise yang terjadi pada sinyal tetap ikut ketika di dekodekan. Sebab itu sistem transmisi digital menghasilkan penerimaan yang sangat bagus dan bebas dari noise. Tetapi proses kuantisasi menimbulkan distorsi. Contoh kuan sasi untuk sampling yang ngginya 47.3 47(error 0.3) atau 46.6 47 (error 0.4). Error max = 0.5 Sinyal yang terbentuk diterima akan terdistorsi karena proses kuantisasi. S/D ( power signal to power distorsi ) dinyatakan dengan rumus : S/D = 6 n + 1.8 dimana n = jumlah bit pengkodean utk 1 sampling. ( kalau rumus ingin dibuktikan nanti dalam kuliah) Contoh : untuk 64 kbps berarti skala 256 (2 ) dan dikodekan dengan 8 bit maka S/D = 6 x 8 + 1.8 = 49.8 dB

Ch 00 s Ch00 a m p l i Ch31 n g

0 1 selektor

Multiplexing digital
kirim

Quan m S011.S311 tizer 101101.101 od Sinyal PCM & ul S001 encod at er 31 or

1. Sinyal analog tiap sinyal disampling. 2. Sampling itu diambil secara bergantian oleh selektor dari ch 0 s/d ch 31 sesudah itu selektor kembali ke ch 0 untuk mengambil sampling kedua 3. Sementara itu sampling berikut dari tiap tiap ch berganti dengan sampling berikutnya. 4. Selektor sudah harus kembali keposisi ch 0 dalam waktu 1 sampling = 1/8000 sec. Dalam waktu itu selektor mengambil 32 samling. Tiap sampling di kode dengan 8 bit. Maka bit stream menjadi 8000 x 32 x 8 = 2048 kbps. Ini adalah multiplexing tingkat pertama ( 30 ch+ 1 ch sinkronisasi dan signaling di ch 0 dan ch 15) 5. Sementara itu di penerima, sinyal dikembali kan dalam bentuk semula dengan proses yang sebaliknya.

Multiplexing digital tingkat 2 keatas


Prosesnya mirip dengan tingkat pertama Hanya yang diambil selektor bukan sampling tetapi bit bit kode dari tiap PCM Jumlah group adalah 4 sehingga output multiplexer 4x2048+256 (untuk sinkronisasi antar PCM) = 8448 kbps demikian seterusnya Ada dua skema multiplexing digital eropa / jepang Amerika dengan beda sebagai berikut : Eropa Jepang /Amerika PCM kanal kbps kanal kbps Tk satu 30 2 048 (E1) 24 1 544(T1) Tk dua 120 8 448 96 6 312 Tk tiga 480 34 368 480 32 064 Tk empat 1920 139 264 1440 97 728 Tk lima 7680 565 148 5760 297 200

Skema multiplexing yang lain


Hirarchi multiplexing diatas disebut PDH (plesiosinchronous Digital Hirarchi ) ar nya hirarchi multiplexing yang kaku dan tidak bisa berubah. Dengan berkembangnya teknologi media fiber optik dengan kecepatan tinggi, maka skema hirarchi multiplexing juga berkembang dengan SONET ( Synchronous Optical Network) dikembangkan untuk Amerika utara atau SDH ( synchrounous digital hirarchi untuk Eropa ). Sebenarnya keduanya hampir sama. Hanya standard basic yang digunakan (T1 1544 Kbps ) dan E1 (2048 Kbps) Dalam kuliah ini skema multiplexing ini tidak dibahas, karena merupakan suatu bahan tersendiri yang cukup komplex dan panjang.

Bit reduction
Kecepatan 64 kbps cukup besar, jika menggunakan modulator BPSK maka bandwidth yang dibutuhkan = 64x1.2 kHz. Bandingkan dengan bandwidth sinyal yang asli (VBW) hanya 0-3.4 ( 4 KHz) Sebab itu terdapat keinginan untuk mengurangi bandwidth tersebut dengan berbagai teknik pengurangan ( kompresi ) Beberapa teknik kompresi adalah : - ADPCM mengurangi BW menjadi 50% 64 kbps 32 kbps - Sub- Band coding ( SBC) mengurangi BW menjadi 25% (16 kbps bahkan 9.6 kbps ) - RELP (residual exited Linier Predic ve) mengurangi BW menjadi 4 s/d 16 kbps - CELP (Codebook excitation Linier predictive) - A CELP

Kualitas hasil kompresi


Tentu BW lebih besar akan menghasilkan kualitas lebih baik wajar. Masalahnya seberapa jauhkan kualitas akan berkurang? (Dengan cara apakah kualitas akan diukur. ) Pengukuran kualitas dilakukan dengan cara MOS ( most opinion score) dengan mekanisme penliaian sebagai berikut: - Kepada 100 orang diperdengarkan suara asli, suara yang di kode dengan PCM, ADPCM dan lain lain. Tentu kepada mereka tidak diberi- tahukan teknik apa yang digunakan. Yang diberi tahu hanya suara aslinya. - Mereka diminta untuk menuliskan apakah suara yang didengar itu asli atau kompress. - Dari tanggapan mereka, maka evaluasi dibuat. Hasilnya (persentasi tak dapat membedakan sebagai berikut: PCM = 100 % ADPCM= 96% 16 Kbps RELP =90 % 8 kbps RELP = 88% 5.3 Kbps A-CELP = 92% Berarti hasil kompresi tersebut dapat dikatakan baik.

ADPCM(adaptive differencial PCM)


PCM normal menggunakan skala kuan sasi 256 ( 2 kode 8 bit) Dalam perioda 1/8000 detik sampling, perubahan sampling tidak terlalu besar maksimum 8 skala ( 2 kode 3 bit + 1 yang menyatakan perubahan naik atau turun ). Bit rate ADPCM = 8000sampl/sec x 4b/sampl=32kbps. Mul plexing sebanyak 32 channel 32x32kbps=1024 kbps Menghemat sarana transmisi dengan nya. Dengan Bandwidth yang sama diperoleh kapasitas transmisi dua kali lipat.
Speech seq. ADPCM seq
Adaptive quantizer Predictor

Pemakaian teknik kompresi pada telepon bergerak

Rx ADPCM

speech seq.

+ +
decoded seq
Predictor

Pada telepon bergerak GSM maupun pada CDMA dengan bit rate 9.6 Kbps per subscriber. Jika pelanggan terlalu banyak, maka bit rate tersebut dapat diturunkan lagi menjadi 4.8 kbps sehingga kapasitas transmisinya menjadi double. secara rela p kualitas suara agak menurun. Pesawat pelanggan ( HP) mempunyai kemampuan untuk merubah modus kompresi dan menyesuaikannya dengan modus kompresi yang di pakai oleh BTS. Modus kompresi ini tidak berpengaruh pada operasi penyambungan oleh MSC. Karena modus kompresi hanya berkaitan dengan proses pengolahan sinyal suara.

Untuk teknik kompresi yang lain tidak dibahas dalam pelajaran ini

Teknik kompresi pada DLC ( digital loop carrier) Persepsi DLC jaringan lokal pada jarak jauh.
Sentral DLC Sisi sentral DLC Sisi remote R K K P K P Daerah yang jauh > 6 km dilayani oleh sentral

Channel multiplier.
Pada dasarnya channel multiplier adalah DLC. Hanya bedanya , bukan sisi sentral dan sisi remote karena di kedua ujung adalah sentral dengan output 2 MBPS.
Sentral I Digital multiplier transmisi Digital multiplier Sentral 2

Pelanggan di daerah yang jauh harus dilayani, sebagai pengganti kabel primer dipakai DLC. DLC adalah perangkat transmisi yang dapat menyalurkan banyak voice dengan kompresi. Jika transmisi antara DLC sisi sentral ke remote mempunyai kecepatan 2 Mbps dengan kompresi sampai 8 kbps maka dapat dilayani 250 pelanggan. DLC dilengkapi oleh teknik DSI ( digital speech Interpolation )

Pemakaian kanal oleh tiap pelanggan hanya 40 % ( voice activation) Dengan cara buffer maka 60% kanal kosong dapat dimanfaatkan untuk kanal - kanal tambahan yang lain. Dengan demikian jumlah plg terlayani 250 x 2.5 (DSI)=500 Bukan 625 karena magin untuk antisipasi masalah freeze faktor.

Dengan cara ini maka multiplexing yang menyalurkan E1 dengan 2 Mbps ( 30 kanal) dengan digital multiplier ADPCM / DSI menjadi 2(ADPCM_x30 (PCM) x 2(DSI) = 120 saluran. Jika kompresinya dilakukan dengan cara lain misalkan RELP 8 kbps maka jumlah multipliernya menjadi : 500 / 30 untuk transmisi 2 mbps. Penyaluran fax dengan multiplier. Seperti diketahui bahwa bit rate untuk fax hanya berkisar antara 300 bps sampai 9.6 kbps. Oleh sentral informasi fax ini di salurkan dengan kecepatan 64 kbps karena dianggap sebagai informasi suara. Di perangkat multiplier dipasang perangkat fax detektor. Perangkat ini akan mendeteksi kanal fax, kemudian dikembalikan ke bitrate awal untuk ditransmisikan. terjadi penghematan bandwidth.

Selanjutnya untuk komunikasi data bisa dilihat pada bab 10. komunikasi data. Dibahas terpisah karena tidak ada kaitannya dengan multiplexing.