Anda di halaman 1dari 85

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH KOTA SEMARANG

  • I. ASPEK GEOGRAFI, GEOLOGI, HYDROLOGI & KLIMATOLOGI Luas dan batas wilayah, Kota Semarang dengan luas wilayah 373,70 Km 2 . Secara administratif Kota Semarang terbagi menjadi 16 Kecamatan dan 177 Kelurahan. Dari 16 Kecamatan yang ada, terdapat 2 Kecamatan yang mempunyai wilayah terluas yaitu Kecamatan Mijen, dengan luas wilayah 57,55 Km 2 dan Kecamatan Gunungpati, dengan luas wilayah 54,11 Km 2 . Kedua Kecamatan tersebut terletak di bagian selatan yang merupakan wilayah perbukitan yang sebagian besar wilayahnya masih memiliki potensi pertanian dan perkebunan. Sedangkan kecamatan yang mempunyai luas terkecil adalah Kecamatan Semarang Selatan, dengan luas wilayah 5,93 Km 2 diikuti oleh Kecamatan Semarang Tengah, dengan luas wilayah 6,14 Km 2 .

Wilayah Administrasi Kota Semarang (Km 2 )

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH KOTA SEMARANG I. ASPEK GEOGRAFI, GEOLOGI, HYDROLOGI & KLIMATOLOGI Luas dan batas

Sumber: Kota Semarang dalam Angka 2009, BPS (data diolah)

Batas wilayah administratif Kota Semarang sebelah barat adalah Kabupaten Kendal, sebelah timur dengan Kabupaten Demak, sebelah selatan dengan Kabupaten Semarang dan sebelah utara dibatasi oleh Laut Jawa dengan panjang garis pantai mencapai 13,6 kilometer. Letak dan kondisi geografis, Kota Semarang memiliki posisi astronomi di antara garis 6 0 50’ – 7 o 10’ Lintang Selatan dan garis 109 0 35’ – 110 0 50’ Bujur Timur. Kota Semarang memiliki posisi geostrategis karena berada pada jalur lalu lintas ekonomi pulau Jawa, dan merupakan koridor pembangunan Jawa Tengah yang terdiri dari empat simpul pintu gerbang yakni koridor pantai Utara; koridor Selatan ke arah kota-kota dinamis seperti Kabupaten Magelang, Surakarta yang dikenal dengan koridor Merapi-Merbabu, koridor Timur ke arah Kabupaten Demak/Grobogan; dan Barat menuju Kabupaten Kendal. Dalam perkembangan dan pertumbuhan Jawa Tengah, Semarang sangat berperan terutama dengan adanya pelabuhan, jaringan transport darat (jalur kereta api dan jalan) serta transport udara yang merupakan potensi bagi simpul transportasi Regional Jawa Tengah dan Kota Transit Regional Jawa Tengah. Posisi lain yang tak kalah pentingnya adalah kekuatan hubungan dengan luar Jawa, secara langsung sebagai pusat wilayah nasional bagian tengah.

Gambar
Gambar

Kota Semarang

Batas wilayah administratif Kota Semarang sebelah barat adalah Kabupaten Kendal, sebelah timur dengan Kabupaten Demak, sebelah
Batas wilayah administratif Kota Semarang sebelah barat adalah Kabupaten Kendal, sebelah timur dengan Kabupaten Demak, sebelah

Letak Kota Semarang Dalam Wilayah Kepulauan Indonesia

Seiring dengan perkembangan Kota, Kota Semarang berkembang menjadi kota yang memfokuskan pada perdagangan dan jasa. Berdasarkan lokasinya, kawasan perdagangan dan jasa di Kota Semarang terletak menyebar dan pada umumnya berada di sepanjang jalan-jalan utama. Kawasan perdagangan modern, terutama terdapat di Kawasan Simpanglima yang merupakan urat nadi perekonomian Kota Semarang. Di kawasan tersebut terdapat setidaknya tiga pusat perbelanjaan, yaitu Matahari, Living Plaza (ex-Ramayana) dan Mall Ciputra, serta PKL-PKL yang berada di sepanjang trotoar. Selain itu, kawasan perdagangan jasa juga terdapat di sepanjang Jl Pandanaran dengan adanya kawasan pusat oleh-oleh khas Semarang dan pertokoan lainnya serta di sepanjang Jl Gajahmada. Kawasan perdagangan jasa juga dapat dijumpai di Jl Pemuda dengan adanya DP mall, Paragon City dan Sri Ratu serta kawasan perkantoran. Kawasan perdagangan terdapat di sepanjang Jl MT Haryono dengan adanya Java Supermall, Sri Ratu, ruko dan pertokoan. Adapun kawasan jasa dan perkantoran juga dapat dijumpai di sepanjang Jl Pahlawan dengan adanya kantor-kantor dan bank-bank. Belum lagi adanya pasar- pasar tradisional seperti Pasar Johar di kawasan Kota Lama juga semakin menambah aktivitas perdagangan di Kota Semarang. Secara topografis Kota Semarang terdiri dari daerah perbukitan, dataran rendah dan daerah pantai, dengan demikian topografi Kota Semarang menunjukkan adanya berbagai kemiringan dan tonjolan. Daerah pantai 65,22% wilayahnya adalah dataran dengan kemiringan 25% dan 37,78 % merupakan daerah perbukitan dengan kemiringan 15-40%. Kondisi lereng tanah Kota Semarang dibagi menjadi 4 jenis kelerengan yaitu lereng I (0-2%) meliputi Kecamatan Genuk, Pedurungan, Gayamsari, Semarang Timur, Semarang Utara dan Tugu, serta sebagian wilayah Kecamatan Tembalang, Banyumanik dan Mijen. Lereng II (2-5%) meliputi Kecamatan Semarang Barat, Semarang Selatan, Candisari, Gajahmungkur, Gunungpati dan Ngaliyan, lereng III (15-40%) meliputi wilayah di sekitar Kaligarang dan Kali Kreo (Kecamatan Gunungpati), sebagian wilayah kecamatan Mijen (daerah Wonoplumbon) dan sebagian wilayah Kecamatan Banyumanik, serta Kecamatan Candisari. Sedangkan lereng IV (> 50%) meliputi sebagian wilayah Kecamatan Banyumanik (sebelah tenggara), dan sebagian wilayah Kecamatan Gunungpati,

terutama disekitar Kali Garang dan Kali Kripik. Kota Bawah yang sebagian besar tanahnya terdiri dari pasir dan lempung. Pemanfaatan lahan lebih banyak digunakan untuk jalan, permukiman atau perumahan, bangunan, halaman, kawasan industri, tambak, empang dan persawahan. Kota Bawah sebagai pusat kegiatan pemerintahan, perdagangan, perindustrian, pendidikan dan kebudayaan, angkutan atau transportasi dan perikanan. Berbeda dengan daerah perbukitan atau Kota Atas yang struktur geologinya sebagian besar terdiri dari batuan beku. Wilayah Kota Semarang berada pada ketinggian antara 0 sampai dengan 348,00 meter dpl (di atas permukaan air laut). Secara topografi terdiri atas daerah pantai, dataran rendah dan perbukitan, sehingga memiliki wilayah yang disebut sebagai kota bawah dan kota atas. Pada daerah perbukitan mempunyai ketinggian 90,56 - 348 mdpl yang diwakili oleh titik tinggi yang berlokasi di Jatingaleh dan Gombel, Semarang Selatan, Tugu, Mijen, dan Gunungpati, dan di dataran rendah mempunyai ketinggian 0,75 mdpl. Kota bawah merupakan pantai dan dataran rendah yang memiliki kemiringan antara 0% sampai 5%, sedangkan dibagian Selatan merupakan daerah dataran tinggi dengan kemiringan bervariasi antara 5%-40%. Secara lengkap ketinggian tempat di Kota Semarang dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel Ketinggian Tempat di Kota Semarang

No.

 

Bagian Wilayah

 

Ketinggian

(MDPL)

1.

Daerah Pantai

 

0,75

2.

Daerah Dataran Rendah

   
 

-

Pusat

Kota

(Depan

Hotel

Dibya

Puri

2,45

Semarang)

 
 

-

Simpang Lima

 

3,49

3.

Daerah Perbukitan

   
 

-

Candi Baru

90,56

 

-

Jatingaleh

136,00

 

-

Gombel

270,00

 

-

Mijen

253,00

 

-

Gunungpati Barat

 

259,00

 

-

Gunungpati Tmur

 

348,00

Sumber : Kota Semarang Dalam Angka Tahun 2009

Kota Semarang sangat dipengaruhi oleh keadaan alamnya yang membentuk suatu kota yang mempunyai ciri khas yaitu terdiri dari daerah perbukitan, dataran rendah dan daerah pantai. Dengan demikian topografi Kota Semarang menunjukkan adanya berbagai kemiringan tanah berkisar antara 0 persen sampai 40 persen (curam) dan ketinggian antara 0,75 – 348,00 mdpl. Kondisi Geologi, Kota Semarang berdasarkan Peta Geologi Lembar Magelang - Semarang (RE. Thaden, dkk; 1996), susunan stratigrafinya adalah sebagai berikut Aluvium (Qa), Batuan Gunungapi Gajahmungkur (Qhg), Batuan Gunungapi Kaligesik (Qpk), Formasi Jongkong (Qpj), Formasi Damar (QTd), Formasi Kaligetas (Qpkg), Formasi Kalibeng (Tmkl), Formasi Kerek (Tmk). Pada dataran rendah berupa endapan aluvial sungai, endapan fasies dataran delta dan endapan fasies pasang-surut. Endapan tersebut terdiri dari selang-seling antara lapisan pasir, pasir lanauan dan lempung lunak, dengan sisipan lensa-lensa kerikil dan pasir vulkanik. Sedangkan daerah perbukitan sebagian besar memiliki struktur geologi berupa batuan beku. Struktur geologi yang cukup mencolok di wilayah Kota Semarang berupa kelurusan- kelurusan dan kontak batuan yang tegas yang merupakan pencerminan struktur sesar baik geser mendatar dan normal cukup berkembang di bagian tengah dan selatan kota. Jenis sesar yang ada secara umum terdiri dari sesar normal, sesar geser dan sesar naik. Sesar normal relatif ke arah barat - timur sebagian agak cembung ke arah utara, sesar geser berarah utara selatan hingga barat laut - tenggara, sedangkan sesar normal relatif berarah barat - timur. Sesar-sesar tersebut umumnya terjadi pada batuan Formasi Kerek, Formasi Kalibeng dan Formasi Damar yang berumur kuarter dan tersier. Berdasarkan struktur geologi yang ada di Kota Semarang terdiri atas tiga bagian yaitu struktur joint (kekar), patahan (fault), dan lipatan. Daerah patahan tanah bersifat erosif dan mempunyai porositas tinggi, struktur lapisan batuan yang diskontinyu (tak teratur), heterogen, sehingga mudah bergerak atau longsor. Pada daerah sekitar aliran Kali Garang merupakan patahan Kali Garang, yang membujur arah utara sampai selatan, di sepanjang Kaligarang yang berbatasan dengan Bukit Gombel. Patahan ini bermula dari Ondorante, ke arah utara hingga Bendan Duwur.

Patahan ini merupakan patahan geser, yang memotong formasi Notopuro, ditandai adanya zona sesar, tebing terjal di Ondorante, dan pelurusan Kali Garang serta beberapa mata air di Bendan Duwur. Daerah patahan lainnya adalah Meteseh, Perumahan Bukit Kencana Jaya, dengan arah patahan melintas dari utara ke selatan. Sedangkan wilayah Kota Semarang yang berupa dataran rendah memiliki jenis tanah berupa struktur pelapukan, endapan, dan lanau yang dalam. Jenis Tanah di Kota Semarang meliputi kelompok mediteran coklat tua, latosol coklat tua kemerahan, asosiai alluvial kelabu, Alluvial Hidromorf, Grumosol Kelabu Tua, Latosol Coklat dan Komplek Regosol Kelabu Tua dan Grumosol Kelabu Tua. Kurang lebih sebesar 25 % wilayah Kota Semarang memiliki jenis tanah mediteranian coklat tua. Sedangkan kurang lebih 30 % lainnya memiliki jenis tanah latosol coklat tua. Jenis tanah lain yang ada di wilayah Kota Semarang memiliki geologi jenis tanah asosiasi kelabu dan aluvial coklat kelabu dengan luas keseluruhan kurang lebih 22 % dari seluruh luas Kota Semarang. Sisanya alluvial hidromorf dan grumosol kelabu tua.

Tabel Penyebaran Jenis Tanah dan Lokasi di Kota Semarang

No

JENIS TANAH

 

LOKASI

% TERHADAP

 

POTENSI

 

WILAYAH

 
 

Mediteran Coklat Tua

  • 1

 

Kec. Tugu

  • 30

 

Tanaman

 

tahunan/keras

Kec Semarang Selatan

Tnaman

 

Holtikultura

Kec. Gunungpati

Tanaman Palawija

Kec. Semarang Timuer

 
 

Latosol Coklat Tua

  • 2

 

Kec. Mijen

  • 26

 

Tanaman

Kemerahan

 

tahunan/keras

Kec. Gunungpati

Tanaman

 

Holtikultura

Tanaman Padi

 
  • 3

Asosiasi Aluvial Kelabu

 

Kec. Genuk

 
  • 22 Tanaman tahunan

dan Coklat kekelabuhan

Kec. Semarang Tengah

 

tidak produktip

 

Alluvial Hidromorf

  • 4

 

Kec. Tugu

  • 22

 

Tanaman Tahunan

Grumosol Kelabu Tua

Kec. Semarang Utara

Tanaman

 

Holtikultura

Kec. Genuk

Tanaman Padi

Kec. Mijen

 

Sumber : BPS Kota Semarang, 2009

Kondisi Hidrologi potensi air di Kota Semarang bersumber pada sungai - sungai yang mengalir di Kota Semarang antara lain Kali Garang, Kali Pengkol, Kali Kreo, Kali Banjirkanal Timur, Kali Babon, Kali Sringin, Kali Kripik, Kali Dungadem dan lain sebagainya. Kali Garang yan bermata air di gunung Ungaran, alur sungainya memanjang ke arah Utara hingga mencapai Pegandan tepatnya di Tugu Soeharto, bertemu dengan aliran Kali Kreo dan Kali Kripik. Kali Garang sebagai sungai utama pembentuk kota bawah yang mengalir membelah lembah-lembah Gunung Ungaran mengikuti alur yang berbelok-belok dengan aliran yang cukup deras. Setelah diadakan pengukuran debit Kali Garang mempunyai debit 53,0 % dari debit total dan kali Kreo 34,7 % selanjutnya Kali Kripik 12,3 %. Oleh karena Kali Garang memberikan airnya yang cukup dominan bagi Kota Semarang, maka langkah- langkah untuk menjaga kelestariannya juga terus dilakukan. Karena Kali Garang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum warga Kota Semarang. Air Tanah Bebas ini merupakan air tanah yang terdapat pada lapisan pembawa air ( aquifer ) dan tidak tertutup oleh lapisan kedap air. Permukaan air tanah bebas ini sangat dipengaruhi oleh musim dan keadaan lingkungan sekitarnya. Penduduk Kota Semarang yang berada di dataran rendah, banyak memanfaatkan air tanah ini dengan membuat sumur-sumur gali (dangkal) dengan kedalaman rata-rata 3 - 18 m. Sedangkan untuk peduduk di dataran tinggi hanya dapat memanfaatkan sumur gali pada musim penghujan dengan kedalaman berkisar antara 20 - 40 m. Air Tanah Tertekan adalah air yang terkandung di dalam suatu lapisan pembawa air yang berada diantara 2 lapisan batuan kedap air sehingga hampir tetap debitnya disamping kualitasnya juga memenuhi syarat sebagai air bersih. Debit air ini sedikit sekali dipengaruhi oleh musim dan keadaan di sekelilingnya. Untuk daerah Semarang bawah lapisan aquifer di dapat dari endapan alluvial dan delta sungai Garang. Kedalaman lapisan aquifer ini berkisar antara 50 - 90 meter, terletak di ujung Timur laut Kota dan pada mulut sungai Garang lama yang terletak di pertemuan antara lembah sungai Garang dengan dataran pantai. Kelompok aquifer delta Garang ini disebut pula kelompok aquifer utama karena merupakan sumber air tanah yang potensial dan bersifat tawar. untuk daerah Semarang yang berbatasan dengan kaki perbukitan air tanah artois ini terletak pada endapan pasir dan

konglomerat formasi damar yang mulai diketemukan pada kedalaman antara 50 - 90 m. Pada daerah perbukitan kondisi artois masih mungkin ditemukan. karena adanya formasi damar yang permeable dan sering mengandung sisipan-sisipan batuan lanau atau batu lempung. Secara Klimatologi, Kota Semarang seperti kondisi umum di Indonesia, mempunyai iklim tropik basah yang dipengaruhi oleh angin monsun barat dan monsun timur. Dari bulan November hingga Mei, angin bertiup dari arah Utara Barat Laut (NW) menciptakan musim hujan dengan membawa banyak uap air dan hujan. Sifat periode ini adalah curah hujan sering dan berat, kelembaban relatif tinggi dan mendung. Lebih dari 80% dari curah hujan tahunan turun di periode ini. Dari Juni hingga Oktober angin bertiup dari Selatan Tenggara (SE) menciptakan musim kemarau, karena membawa sedikit uap air. Sifat periode ini adalah sedikit jumlah curah hujan, kelembaban lebih rendah, dan jarang mendung. Berdasarkan data yang ada, curah hujan di Kota Semarang mempunyai sebaran yang tidak merata sepanjang tahun, dengan total curah hujan rata-rata 9.891 mm per tahun. Ini menunjukkan curah hujan khas pola di Indonesia, khususnya di Jawa, yang mengikuti pola angin monsun SENW yang umum. Suhu minimum rata-rata yang diukur di Stasiun Klimatologi Semarang berubah-ubah dari 21,1 °C pada September ke 24,6 °C pada bulan Mei, dan suhu maksimum rata-rata berubah-ubah dari 29,9 °C ke 32,9 °C. Kelembaban relatif bulanan rata-rata berubah-ubah dari minimum 61% pada bulan September ke maksimum 83% pada bulan Januari. Kecepatan angin bulanan rata-rata di Stasiun Klimatologi Semarang berubah-ubah dari 215 km/hari pada bulan Agustus sampai 286 km/hari pada bulan Januari. Lamanya sinar matahari, yang menunjukkan rasio sebenarnya sampai lamanya sinar matahari maksimum hari, bervariasi dari 46% pada bulan Desember sampai 98% pada bulan Agustus.

Penggunaan lahan di Kota Semarang, Pola tata guna lahan terdiri dari Perumahan, Tegalan, Kebun campuran, Sawah, Tambak, Hutan, Perusahaan, Jasa, Industri dan Penggunaan lainnya dengan sebaran Perumahan sebesar 33,70 %, Tegalan sebesar 15,77 %, Kebun campuran sebesar 13,47 %, Sawah sebesar

12,96 %, Penggunaan lainnya yang meliputi jalan, sungai dan tanah kosong sebesar 8,25 %, Tambak sebesar 6,96 %, Hutan sebesar 3,69 %, Perusahaan 2,42 %, Jasa sebesar 1,52 % dan Industri sebesar 1,26 %. Sebagaimana diatur di dalam Perda Nomor 5 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Semarang Tahun 2000 - 2010, telah ditetapkan kawasan yang berfungsi lindung dan kawasan yang berfungsi budidaya. Kawasan Lindung, meliputi kawasan yang melindungi kawasan di bawahnya, kawasan lindung setempat dan kawasan rawan bencana. Kawasan yang melindungi kawasan di bawahnya adalah kawasan- kawasan dengan kemiringan >40% yang tersebar di wilayah bagian Selatan. Kawasan lindung setempat adalah kawasan sempadan pantai, sempadan sungai, sempadan waduk, dan sempadan mata air. Kawasan lindung rawan bencana merupakan kawasan yang mempunyai kerentanan bencana longsor dan gerakan tanah. Kegiatan budidaya dikembangkan dalam alokasi pengembangan fungsi budidaya. Potensi pengembangan kawasan/wilayah, Berdasarkan deskriptif karakteristik wilayah dan berpedoman pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang, maka wilayah yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya adalah sebagai berikut :

11..

RReennccaannaa KKaawwaassaann PPeerrddaaggaannggaann ddaann JJaassaa

Kawasan

Perdagangan

dan

Jasa,

merupakan

kawasan

yang

dominansi

pemanfaatan

ruangnya

untuk

kegiatan

komersial

perdagangan

dan

jasa

pelayanan.

Pembangunan fasilitas perdagangan dan jasa dilakukan dalam rangka mewujudkan Kota Semarang sebagai sentra perdagangan dan jasa dalam skala regional dan nasional.

Kawasan perdagangan dan jasa ditetapkan tersebar pada setiap Bagian wilayah Kota (BWK) terutama di pusat-pusat BWK sehingga dapat mengurangi kepadatan dan beban pelayanan di pusat kota.

Arahan pemanfaatan ruang kawasan perdagangan dan jasa adalah sebagai berikut:

  • a. Pusat kawasan perdagangan dan jasa dengan lingkup pelayanan skala regional, nasional maupun internasional, berada di kawasan PETAWANGI (Peterongan,Tawang,Siliwangi);

  • b. Kawasan perdagangan dan jasa khusus, yaitu kawasan perdagangan dan jasa dengan perlakuan dan komoditas khusus. Kawasan perdagangan dan jasa dengan perlakuan khusus adalah kawasan Pasar Johar. Kawasan pasar Johar merupakan pasar tradisional skala pelayanan regional yang terletak di pusat kota, selain itu Pasar Johar merupakan bagian dari ikon Kota Semarang. Kawasan perdagangan dan jasa dengan komoditas khusus adalah Pasar Agro yang direncanakan di BWK V. Pasar agro ini digunakan untuk memasarkan produk-produk pertanian yang ada di Kota Semarang dan daerah-daerah yang ada di sekitarnya. Pasar agro ini dirancang untuk memiliki skala pelayanan regional, sehingga diperlukan dukungan jalan sekurang-kurang kolektor sekunder.

  • c. Kawasan perdagangan dan jasa dengan skala pelayanan sebagian wilayah kota sampai dengan kota tersebar pada setiap pusat BWK dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung ruang serta lingkup pelayanannya;

  • d. Kawasan perdagangan dan jasa dengan skala pelayanan lingkungan dapat berlokasi dimanapun sepanjang memiliki dukungan akses jalan sekurang- kurangnya jalan lokal sekunder.

  • e. Kawasan perdagangan dan jasa direncanakan secara terpadu dengan kawasan sekitarnya dan harus memperhatikan kepentingan semua pelaku sektor perdagangan dan jasa termasuk pedagang informal atau pedagang sejenis lainnya;

  • f. Pada pembangunan fasilitas perdagangan berupa kawasan perdagangan terpadu, pelaksana pembangunan/ pengembang wajib menyediakan prasarana lingkungan, utilitas umum, area untuk pedagang informal dan fasilitas sosial dengan dengan proporsi 40% (empat puluh persen) dari keseluruhan luas lahan dan selanjutnya diserahkan kepada Pemerintah Daerah;

g. Pembangunan fasilitas perdagangan dan jasa harus memperhatikan kebutuhan luas lahan, jenis-jenis ruang dan fasilitas pelayanan publik yang harus tersedia, kemudahan pencapaian dan kelancaran sirkulasi lalu lintas dari dan menuju lokasi.

Mempertimbangkan arahan pemanfaatan kawasan perdagangan jasa seperti diatas maka di Kota Semarang juga terdapat beberapa arahan spesifik terkait dengan pemantapan dan pengembangan kawasan fungsi perdagangan dan jasa. Arahan Pemantapan Kawasan Perdagangan Dan Jasa dapat dilihat pada Tabel sebagai berikut :

Tabel Arahan Pemantapan Kawasan Perdagangan dan Jasa

NO

BENTUK

FUNGSI

LOKASI

PEMANTAPAN FUNGSI

 
  • 1 Kegiatan

Kawasan

 

Kawasan

rencana investasi berskala

perdagangan

perdagangan

PETAWANGI

besar

dalam

bentuk

dan

jasa

jasa

dengan

Kawasan

Niaga

modrern

Modern

standar

dan Taman Rekreasi Kota.

Regional/

Pengembangan

kawasan

Nasional/

niga modern di kawasan ini

Internasional

dilakukan

tanpa

menghilangkan

kantong-

kantong

permukiman

yang

telah ada

 
  • 2 Kegiatan

Kawasan

 

Kawasan

Kegiatan perdagangan dan

perdagangan

perdagangan

Pasar Johar

jasa dengan karakter khusus

khusus

jasa

dengan

yang berada di pusat kota

karakter

Kawasan

tetap dipertahankan

khusus

Pasar Agro

keberadaannya, karena pusat tersebut merupakan ciri Kota Semarang.

 
  • 3 Kegiatan

Perdagangan

 

Pusat-Pusat

Untuk

memacu

jasa skala sub

perdagangan

BWK

perkembangan daerah

Mijen, Ngaliyan dan Tugu

kota

jasa

selatan khususnya di daerah

Pedurungan, Tembalang, Banyumanik, Gunungpati,

maka diarahkan untuk pengembangan perdagangan dan jasa baru skala sub kota.

NO

BENTUK

FUNGSI

LOKASI

 

PEMANTAPAN FUNGSI

4

Pasar

Kegiatan

Mijen,

Pasar

formal

tradisional

perdagangan

Gunungpati

ditingkatkan

kualitasnya,

di kawasan

terutama dalam hal sarana

perkampungan

perpasaran,

bidang

non urban.

pemasaran,

bidang

keuangan,

peningkatan

kapasitas pasar

dan

renovasi pasar. Pasar formal diharapkan mampu menampung dan

berperan

dalam

memecahkan

permasalahan

pedagang

informal.

Di

samping

itu

juga

diharapkan

mampu

menertibkan

pasar-pasar

informal

agar

menunjang

pengisian

pasar-pasar

5

Pasar loak

Kegiatan

Pasar Barito

formal yang ada. Pasar ini perlu dicarikan

perdagangan

Pasar

lokasi yang legal dengan

Kokrosono

tetap mempertimbangkan ke-khas-an kegiatan yang ada.

Sumber : RTRW Kota Semarang, 2009

 

RReennccaannaa KKaawwaassaann PPeerrmmuukkiimmaann,, PPeerrddaaggaannggaann ddaann JJaassaa

 

Potensi pergeseran peruntukan non komersial ke arah komersial ini harus diantisipasi dalam kebijakan penataan ruang wilayah Kota Semarang. Hal ini bertujuan untuk mengarahkan perkembangan yang ada agar konflik antar kegiatan kawasan, antar pelaku kegiatan, dan antar jenis kegiatan ekonomi tidak terjadi.

Arahan pemanfaatan ruang kawasan permukiman, perdagangan dan jasa adalah sebagai berikut:

  • a. Pengembangan Fungsi Rencana Kawasan Permukiman, Perdagangan dan Jasa dilakukan di kawasan pusat kota (Central Bussiness Distric/CBD) PETAWANGI (Peterongan – Tawang – Siliwangi);

  • b. Pengembangan jenis kegatan ini di kawasan PETAWANGI bertujuan untuk mendukung terwujudnya kawasan PETAWANGI sebagai kawasan perdagangan dan jasa skala pelayanan regional/ nasional/ internasional;

  • c. Pengembangan kawasan kawasan permukiman, perdagangan dan jasa di kawasan PETAWANGI tetap mempertahankan Kampung Heritage sebagai kawasan permukiman dan pariwisata;

  • d. Pengembangan kegiatan permukiman di kawasan ini dilakukan secara vertikal dengan pola rumah susun/ apartemen/ kondominium.

33..

RReennccaannaa KKaawwaassaann PPeennddiiddiikkaann

Dalam hal pendidikan, Kota Semarang diharapkan dapat berperan sebagai pusat pendidikan khususnya pendidikan tinggi di wilayah Jawa Tengah. Mempertimbangkan hal tersebut, maka rencana pengembangan kawasan pendidikan tinggi di Kota Semarang dilakukan sebagai berikut :

  • a. Mengarahkan pengembangan pendidikan tinggi/akademi dengan skala regional nasional yang berada di kawasan Tembalang, Pedurungan, Sekaran, dan Mijen. Pengembangan fasilitas pendidikan tinggi skala pelayanan regional/ nasional perlu didukung dengan penyediaan infrastruktur dan fasilitas pendukung yang memadai.

  • b. Kawasan Pendidikan Bendan perlu ada pembatasan pengembangan karena kondisi fisiknya yang rawan bencana alam dan kegiatan pendidikannya yang kurang berkembang. Kawasan ini akan dialihkan sebagai kawasan jasa pelayanan untuk penginapan, rapat, pertemuan, seminar, dan sebagainya.

  • c. Pembangunan fasilitas pendidikan menengah dan pendidikan tinggi di pusat kota diarahkan pada lokasi atau kawasan atau ruas jalan yang memadai serta tidak menimbulkan gangguan pada lingkungan.

  • d. Pembangunan fasilitas pendidikan ditepi ruas jalan utama harus mempertimbangkan kelancaran pergerakan pada ruas jalan tersebut.

  • e. Untuk pendidikan dasar dan menengah diarahkan sebagai fasilitas pelayanan lokal, jadi fasilitas ini akan dikembangkan disetiap BWK sebagai bagian dari fasilitas lingkungan dan bagian wilayah kota.

44..

RReennccaannaa KKaawwaassaann PPeemmeerriinnttaahhaann ddaann PPeerrkkaannttoorraann..

Kawasan Pemerintahan, merupakan kawasan yang dominansi pemanfaatan ruangnya adalah penyelenggaraan kegiatan pemerintahan, baik pemerintah pusat, regional Propinsi, maupun pemerintahan kota.

Rencana kawasan pemerintahan dan perkantoran dalam RTRW Kota Semarang ini adalah :

  • a. Kawasan perkantoran pemerintahan Provinsi Kawasan perkantoran utama pemerintah provinsi direncanakan berada di

Jalan Pahlawan dan Jalan Madukoro.

Lokasi pengembangan kantor

pemerintahan provinsi dapat dilakukan dilokasi lain dengan tetap

mempertimbangkan kemudahan jangkauan pelayanan bagi pengguna dan masyarakat Provinsi Jawa Tengah.

  • b. Kawasan perkantoran pemerintahan Kota Semarang

Kawasan pemerintahan Kota Semarang direncanakan di Jalan Pemuda dan Jalan Soekarno-Hatta (didekat kawasan kawasan Masjid Agung Jawa Tengah). Kawasan perkantoran yang ada di Jalan Pemuda direncanakan untuk Kantor Walikota dan DPRD Kota Semarang, kawasan ini sekaligus berfungsi sebagai balai kota (city hall) . Sedangkan kawasan perkantoran pemerintah Kota Semarang yang ada di Jalan Soekarno-Hatta diperuntukkan untuk pelayanan pemerintahan.

  • c. Kawasan Perkantoran Swasta

Kawasan perkantoran menengah dan besar diarahkan pada kawasan perdagangan dan jasa, sedangkan kawasan perkantoran kecil lokasinya dapat dikawasan permukiman dengan memperhatikan akses pelayanan.

Arahan pemanfaatan ruang untuk kawasan perkantoran ini adalah ;

a. Kawasan

pekantoran

yang

harus

memiliki

ruang

parkir

yang

mampu

menampung jumlah kendaraan bagi karyawan atau pihak-pihak yang aktivitasnya terkait dengan kegiatan yang ada di kawasan perkantoran.

  • b. Untuk kawasan balaikota atau Kantor Walikota dan DPRD Kota Semarang dan Kantor Gubernur dan DPRD Provinsi Jawa Tengah harus memiliki ruang

terbuka publik yang dapat digunakan bagi masyarakat untuk berkumpul, menyampaikan aspirasi, dan berinteraksi sosial.

c.

Kegiatan

perkantoran

swasta

pengembangannya

direncanakan sebagai

berikut:

1) Kegiatan perkantoran swasta yang memiliki karyawan sampai dengan 20 orang dapat berlokasi dikawasan permukiman atau kawasan lainnya dengan memperhatikan akses pelayanan. 2) Kegiatan perkantoran yang memiliki jumlah tenaga kerja antara 20-50 orang diarahkan pada kawasan perdagangan dan jasa yang sekurang- kurangnya dilayani jalan lokal sekunder. 3) Kegiatan perkantoran yang memiliki jumlah tenaga kerja lebih dari diatas 50 orang orang diarahkan pada kawasan perdagangan dan jasa dengan pelayanan jalan sekurang-kurangnya kolektor sekunder.

55..

RReennccaannaa KKaawwaassaann IInndduussttrrii

Kawasan Industri, merupakan kawasan yang dominansi pemanfaatan ruangnya untuk kegiatan-kegiatan di bidang industri seperti pabrik dan pergudangan.

Dalam RTRW Kota Semarang 2010-2030 pengembangan kawasan industri lebih dibatasi, hal ini sesuai dengan visi Kota Semarang yang akan lebih mengedepankan pengembangan sektor tersier (perdagangan dan jasa) sebagai penopang utama perekonomian kota. Kawasan industri direncanakan di BWK III (Kawasan industri dan pergudangan Tanjung Emas), BWK IV (Genuk), BWK X (Kawasan Industri Tugu dan Mijen). Kegiatan industri diprioritaskan untuk pengembangan industri modern dengan kadar polusi rendah.

Rencana sebaran industri Kota Semarang adalah sebagai berikut; a. Kawasan Industri Genuk

Kawasan ini direncanakan untuk yang berskala besar, menengah, dan kecil. Areal yang direncanakan adalah seluas ± 1000 ha. Pertimbangan bahwa kawasan ini dapat dikembangkan karena didukung oleh letak yang berdekatan dengan pelabuhan laut, pergudangan dan pusat perdagangan. Selain dilalui jalan raya penghubung Jakarta-Surabaya yang merupakan jalur radial Kota Semarang, kawasan ini juga dekat dengan wilayah tenaga kerja (Genuk dan Sayung) dan arah angin tidak menuju ke pusat kota.

  • b. Kawasan Industri Tugu Direncanakan sebagai Kawasan Industrial Estate, dengan areal seluas ± 795,09 ha. Penetapan kawasan ini sebagai Industrial Estate didukung oleh kedekatannya dengan wilayah tenaga kerja dan areal promosi (PRPP). Selain itu kondisi tanahnya lebih matang daripada Genuk.

  • c. Kawasan Industri Candi Direncanakan sebagai Kawasan Industrial Estate, dengan areal seluas ± 912,04 ha. Penetapan kawasan ini sebagai Industrial Estate didukung oleh kedekatannya dengan wilayah tenaga kerja dan areal promosi Jawa Tengah, Pelabuhan, dan Jalan arteri (termasuk jalan Tol).

  • d. Kawasan industri dan Pergudangan Tanjung Emas Direncanakan sebagai Kawasan Industrial Estate beserta pergudangan yang sangat dekat dengan prasarana pelabuhan.

  • e. Kawasan Industri Mijen Direncanakan sebagai satu kesatuan dengan pengembangan Kota Baru Mijen yaitu pada areal seluas ± 75 ha, dengan jenis industri yang akan dikembangkan adalah industri nonpolutif (rendah polusi baik polusi udara, polusi air, maupun polusi tanah) dan merupakan industri berteknologi tinggi. Kawasan ini perlu memiliki akses langsung ke Pelabuhan Laut Tanjung Emas, sebagai pintu keluar pemasaran produk industri dengan tujuan pasar internasional. Selain itu juga perlu didukung suatu jaringan jalan yang memiliki akses tinggi, dalam hal ini adalah akses jalan yang berfungsi sebagai arteri primer.

  • f. Kawasan Industri Pedurungan Kawasan industri ini tidak dikembangkan menjadi kawasan industri yang besar seperti halnya Genuk dan Tugu. Kawasan industri yang ada di Pedurungan hanya memanfaatkan potensi strategis Jalan Majapahit dan aglomerasi dengan sebaran yang ada di Mranggen. Luas kawasan industri di Pedurungan adalah 57,63 Ha.

Arahan pemanfaatan ruang kawasan industri adalah :

  • a. Pembangunan Kawasan Industri dilakukan secara terpadu dengan lingkungan sekitarnya dengan memperhatikan radius / jarak dan tingkat pencemaran yang dapat ditimbulkan serta upaya-upaya pencegahan pencemaran terhadap kawasan di sekitarnya;

  • b. Pada pembangunan industri berupa industri/pergudangan estate, perusahaan pembangunan industri wajib menyiapkan prasarana lingkungan, utilitas umum, bangunan perumahan untuk pekerja dan fasilitas sosial dengan proporsi 40% (empat puluh persen) dari keseluruhan luas lahan dan selanjutnya diserahkan kepada Pemerintah Daerah;

  • c. Pembangunan industri harus memperhatikan kebutuhan luas lahan, jenis- jenis ruang dan fasilitas pelayanan publik yang harus tersedia (parkir, ruang terbuka hijau, ruang pedagang kaki lima, pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran), kemudahan pencapaian dan kelancaran sirkulasi lalu lintas dari dan menuju lokasi;

  • d. Pembangunan dan pelaksanaan kegiatan industri harus disertai dengan upaya-upaya terpadu dalam mencegah dan mengatasi terjadinya pencemaran lingkungan mulai dari penyusunan AMDAL, Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (UKL dan UPL), Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL), penyediaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dan disertai dengan pengawasan oleh Pemerintah Daerah secara intensif terhadap kegiatan industri yang dilaksanakan.

  • e. Dalam setiap unit kegiatan industri, pengusaha harus menyediakan lahan dikavling industrinya untuk penghijauan sebagai filter udara dan peneduh;

  • f. Lokasi-lokasi industri terpisah (individual) yang masih berada di luar kawasan industri dan terindikasi atau berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan akan direlokasi secara bertahap ke kawasan-kawasan yang direncanakan sebagai kawasan industri, sedangkan lokasi Industri kecil dan Rumah tangga dapat berada di kawasan perumahan sejauh tidak mengganggu fungsi lingkungan hunian.

66..

RReennccaannaa KKaawwaassaann OOllaahh rraaggaa

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan lapangan olahraga, maka selain lapangan olahraga yang benar-benar resmi dan dikelola oleh pemerintah, maka diperlukan suatu areal terbuka, yang dapat difungsikan sebagai lapangan olah raga yang ada di lingkungan masyarakat.

Saat ini di Kota Semarang sudah ada stadion olahraga Gelanggang Olah Raga (GOR) Jatidiri di Kecamatan Gajahmungkur yang berskala regional/nasional. Selain itu juga terdapat stadion lainnya yang berskala kota yaitu Stadion Citarum dan Stadion Diponegoro. Berdasarkan Pedoman Perencanaan Lingkungan Pemukiman Kota, maka standar yang diambil adalah Taman dan Lapangan Olahraga untuk 30.000 penduduk sehingga hal ini dapat mewakili masing- masing kecamatan yang mempunyai jumlah penduduk lebih besar dari jumlah penduduk menurut standar tersebut.

77..

RReennccaannaa KKaawwaassaann WWiissaattaa // RReekkrreeaassii

Kawasan Wisata, merupakan kawasan yang dominansi pemanfaatan ruangnya untuk kegiatan-kegiatan wisata dan rekreasi. Sesuai dengan potensi yang dimiliki, fasilitas rekreasi Kota Semarang direncanakan meliputi:

  • a. wisata bahari/pantai ditetapkan pada BWK III (Kawasan Marina) dan BWK X (direncanakan di kawasan pantai di Kecamatan Tugu) dimana pembangunannya harus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan ekosistem di wilayah pantai/pesisir;

  • b. wisata satwa berada pada di BWK X, yaitu di Kawasan Kebun Binatang yang ditekankan pada upaya pelestarian satwa dan lingkungan alam di dalamnya;

  • c. wisata pertanian (agrowisata) berada pada BWK VI (Kecamatan tembalang), BWK VIII (Kecamatan Gunungpati), dan BWK IX (Kecamatan Mijen) juga berfungsi sebagai pusat penelitian dan pengembangan pertanian perkotaan dan budidaya pertanian.

  • d. Lokasi yang ditetapkan dan rencana pengembangan kawasan wisata Religi dan Religi:

BWK III : Kawasan Gereja Blenduk dan Kuil Sam Po Kong

BWK V : Kawasan Masjid Agung Jawa Tengah BWK VII : Kawasan Vihara Watugong

  • e. Wisata alam dan cagar budaya berada di BWK I : Kampung Pecinan dan Kampung Melayu BWK III : Museum Ronggowarsito, kawasan Maerokoco, kawasan Kota Lama Semarang

BWK VII : Kawasan Hutan Wisata Tinjomoyo BWK VIII : Gua Kreo, Waduk Jatibarang, Lembah Sungai Garang.

BWK X : Taman lele

  • f. Wisata belanja dikembangkan di Kawasan Johar, Simpang Lima dan koridor Jalan Pandanaran.

  • g. Wisata Mainan Anak berada di Wonderia (BWK II) , WaterPark (BWK IX dan BWK III)

Pengembangan kawasan wisata ini direncanakan untuk dapat mendukung fungsi kota Semarang sebagai Kawasan Perkotaan dengan skala regional/ nasional/ internasional.

88..

RReennccaannaa KKaawwaassaann PPeerruummaahhaann ddaann PPeerrmmuukkiimmaann

Kawasan Perumahan dan permukiman, adalah kawasan yang pemanfaatannya untuk perumahan dan permukiman, serta berfungsi sebagai tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Kawasan ini terdiri dari kawasan perumahan yang dibangun oleh penduduk sendiri dibangun oleh perusahaan pembangunan perumahan dan dibangun oleh pemerintah.

Arahan pembangunan dan pemanfaatan kawasan perumahan dan permukiman ditetapkan sebagai berikut :

  • a. pembangunan perumahan dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan

tempat

tinggal yang

layak

bagi masyarakat

dan/atau

untuk pemukiman

kembali (resettlement) sebagai akibat dari pembangunan prasarana dan

sarana kota.

 

b. pembangunan

perumahan

dilakukan

dengan

dengan

pengembangan

perumahan yang sudah ada maupun pembangunan perumahan baru;

 

c. pembangunan

perumahan

baru

dilakukan

secara

intensif

(vertikal

dan

horisontal)

dengan

pemanfaatan

lahan

secara

optimal

pada

kawasan-

kawasan

di

luar

kawasan

lindung

dengan

fungsi

kegiatan

perumahan

permukiman;

 

d. pembangunan perumahan baru dilakukan di masing-masing BWK dengan ketentuan sebagai berikut :

Pengembangan perumahan dengan bangunan vertikal (rumah susun/ apartemen) dilakukan di kawasan pusat kota (BWK I, BWK II, dan BWK III)

Pengembangan perumahan dengan kedatan sedang sampai dengan tinggi

di

BWK IV, V, VI, VII, dan X.

 

Perumahan pada BWK VIII, dan IX direncanakan dengan kepadatan rendah sampai sedang.

e. Pada

pembangunan

perumahan, pelaksana pembangunan

perumahan/pengembang wajib menyediakan prasarana lingkungan, utilitas umum, dan fasilitas sosial dengan proporsi 40% (empat puluh persen) dari keseluruhan luas lahan perumahan, dan selanjutnya diserahkan kepada Pemerintah Daerah;

f. Pembangunan perumahan secara intensif vertikal dilakukan dengan pembangunan rumah susun baik pada kawasan perumahan baru maupun kawasan padat hunian yang dilakukan secara terpadu dengan lingkungan sekitarnya;

g. Pengembangan lokasi perumahan lama dan perkampungan kota ditekankan pada peningkatan kualitas lingkungan, dan pembenahan prasarana dan sarana perumahan;

h. Pembangunan perumahan lama/ perkampungan dilakukan secara terpadu baik fisik maupun sosial ekonomi masyarakat melalui program pembenahan lingkungan, peremajaan kawasan maupun perbaikan kampung.

RReennccaannaa KKaawwaassaann PPeemmaakkaammaann UUmmuumm

 

Pembangunan Tempat Pemakaman Umum dilakukan dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat dan memenuhi kebutuhan tempat pemakaman umum di Kota Semarang. Kawasan Tempat Pemakaman Umum dapat menjadi bagian dari Ruang Terbuka Hijau yang pelaksanaan pembangunannya dilakukan sebagai berikut :

  • a. pembangunan Tempat

Pemakaman

Umum

dilakukan

dengan

pengembangan makam-makam yang telah ada maupun pembangunan makam baru, dan didukung dengan penyediaan prasarana dan sarana permakaman;

  • b. pembangunan Tempat Pemakaman Umum skala kota berada di Bergota yang termasuk di BWK I dan Pemakaman di Kecamatan Gayamsari yang termasuk di BWK V;

  • c. pada skala lingkungan pembangunan tempat pemakaman umum dilakukan dengan pembangunan makam baru pada lahan fasilitas umum atau dengan optimalisasi dan pengembangan lahan makam yang telah ada sesuai dengan kapasitas, kebutuhan, dan lingkup pelayanannya;

  • d. untuk mendukung penyediaan tempat pemakaman umum setiap perusahaan pembangunan perumahan yang melaksanakan pembangunan perumahan, diwajibkan menyediakan lahan pemakaman umum seluas 2% (dua persen) dari keseluruhan luas lahan;

  • e. penyediaan tempat pemakaman umum dapat dilakukan dengan penyediaan lahan pemakaman di sekitar lokasi pembangunan atau berpartisipasi dengan menyerahkan uang yang akan digunakan untuk pengembangan makam Kepada Pemerintah Kota Semarang senilai harga tanah seluas 2% (dua persen) dari keseluruhan luas lahan.

RReennccaannaa KKaawwaassaann KKhhuussuuss

Kawasan Khusus, merupakan kawasan dengan kondisi dan karakteristik yang bersifat khusus karena jenis kegiatan yang diwadahi memiliki kondisi dan perlakuan tertentu. Dalam Kebijakan penataan ruang Kota Semarang, kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan khusus adalah kawasan militer dan kawasan pelabuhan.

Kawasan militer berada di BWK III (Kawasan Bandara Militer A Yani) dan BWK VII (Kawasan Kodam). Kawasan Pelabuhan berada di wilayah BWK III yaitu di Kawasan Pelabuhan Laut Tanjung Emas.

Pelaksanaan pembangunan di kawasan khusus harus tetap memperhatikan keterpaduan dengan lingkungan sekitarnya.

1111..

RReennccaannaa RRuuaanngg TTeerrbbuukkaa NNoonn HHiijjaauu ((RRTTNNHH))

Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH) adalah adalah ruang terbuka di bagian wilayah perkotaan yang tidak termasuk dalam kategori Ruang Terbuka Hijau (RTH), berupa lahan yang diperkeras atau yang berupa badan air, maupun kondisi permukaan tertentu yang tidak dapat ditumbuhi tanaman atau berpori.

Komponen penataan RTNH meliputi :

d. RTNH Pada Lingkungan Bangunan, dikembangkan pada pekarangan Bangunan Hunian dan Halaman Bangunan Non Hunian.

Arahan pemanfaatan RTNH Pada Lingkungan Bangunan adalah :

RTNH pada rumah dengan pekarangan luas dapat dimanfaatkan sebagai tempat parkir mobil (carport) atau jalur sirkulasi, utilitas tertentu (sumur resapan) dan septic tank serta dapat juga dipakai untuk meletakan tanaman pot. RTNH bangunan non hunian yaitu pada halaman perkantoran, pertokoan, dan tempat usaha, selain tempat utilitas tertentu, dapat dimanfaatkan pula sebagai area parkir terbuka, carport, dan tempat untuk menyelenggarakan berbagai aktivitas di luar ruangan seperti upacara, bazar, olah raga, dan lain-lain. d. RTNH Pada Skala Sub-Kawasan dan Kawasan dikembangkan pada kawasan setingkat Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), Kelurahan, Kecamatan

Arahan pemanfaatan RTNH Pada Skala Sub-Kawasan dan Kawasan adalah :

RTNH Rukun Tetangga (RT) dapat dimanfaatkan penduduk sebagai tempat melakukan berbagai kegiatan sosial di lingkungan RT RTNH Rukun Warga (RW) dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan remaja, kegiatan olahraga masyarakat, serta kegiatan sosial lainnya di lingkungan RW.

RTNH kelurahan dapat berupa taman aktif, dengan fasilitas utama lapangan olahraga (serbaguna) yang dapat dimanfaatkan penduduk dalam skala kelurahan RTNH kecamatan dapat taman aktif dengan fasilitas utama lapangan olahraga d. RTNH Pada Wilayah Kota dikembangkan dalam bentuk ; Alun-Alun, Plasa, Bangunan Ibadah, Plasa Monumen, Bawah Jalan Layang/Jembatan

Arahan pemanfaatan RTNH Pada Wilayah Kota adalah :

RTNH dalam bentuk alun-alun direncanakan di kawasan pelayanan umum dimanfaatkan untuk kegiatan upacara atau perayaan hari besar lainnya RTNH dalam bentuk plasa bangunan ibadah terutama dimanfaatkan untuk perluasan kegiatan ibadah pada hari-hari raya keagamaan, dimana bangunan ibadah tidak mampu menampung jemaah yang ada. RTNH dalam bentuk plasa monumen terutama dimanfaatkan untuk memperingati suatu peristiwa tertentu. Ruang bawah jalan layang atau jembatan dapat dimanfaatkan untuk area penunjang ekologis tertentu, seperti taman-taman untuk menunjang estetika kota. d. RTNH Fungsi Tertentu, dikembangkan dalam bentuk Pemakaman dan Tempat Pembuangan Sementara

Arahan pemanfaatan RTNH Fungsi tertentu adalah:

RTNH pada pemakaman hanya terdiri dari area parkir dan jalur sirkulasi manusia. RTNH yang disediakan untuk Tempat Pembuangan Sementara (TPS) hanya diperkenankan dimanfaatkan untuk meletakkan kontainer TPS sebagai tempat pengumpul sementara pada suatu lingkungan tertentu sebelum diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Rencana Luas RTNH di Kota Semarang direncanakan sebagai berikut :

  • a. RTNH pekarangan Bangunan Hunian

:

21.074,13 Ha

  • b. RTNH Halaman Bangunan Non Hunian

:

526,85 Ha

  • c. RTNH Rukun Tetangga (RT)

:

421,48 Ha

  • d. RTNH Rukun Warga (RW)

:

368,80 Ha

  • e. RTNH Kelurahan,

:

316,11 Ha

  • f. RTNH Kecamatan

:

263,43 Ha

  • g. RTNH Plaza & Alun-Alun

:

42,15 Ha

  • h. RTNH Bangunan Ibadah

:

63,22 Ha

  • I. RTNH Pemakaman

:

63,84 Ha

  • j. RTNH Tempat Pembuangan Sementara

:

31,61 Ha

Wilayah rawan bencana, Kota Semarang dengan karakteristik wilayah tersebut

berpotensi terhadap terjadinya bencana alam dengan dominasi bencana banjir, rob dan tanah longsor. Bila ditelaah lebih jauh, ketiga macam bencana di Semarang ini saling terkait, dengan sebab baik karena kondisi awal alamnya maupun karena dampak pembangunan. Banjir sering terjadi di sekitar aliran sungai dan di bagian utara kota yang morfologinya berupa dataran pantai. Kawasan potensi bencana banjir secara umum diklasifikasikan menjadi:

  • 1. Kawasan Pesisir/ Pantai merupakan salah satu kawasan rawan banjir karena kawasan tersebut merupakan dataran rendah dimana ketinggian muka tanahnya lebih rendah atau sama dengan ketinggian muka air laut pasang rata-rata (Mean Sea Level, MSL), dan menjadi tempat bermuaranya sungai-sungai. Di samping itu, kawasan pesisir/pantai dapat menerima dampak dari gelombang pasang yang tinggi, sebagai akibat dari badai angin topan atau gempa yang menyebabkan tsunami.

  • 2. Kawasan Dataran Banjir (Flood Plain Area) adalah daerah dataran rendah di kiri dan kanan alur sungai, yang kemiringan muka tanahnya sangat landai dan relatif datar. Aliran air dari kawasan tersebut menuju sungai sangat lambat, yang mengakibatkan potensi banjir menjadi lebih besar, baik oleh luapan air sungai maupun karena hujan lokal. Kawasan ini umumnya terbentuk dari endapan sedimen yang sangat subur, dan terdapat di bagian hilir sungai. Seringkali kawasan ini merupakan daerah pengembangan kota, seperti permukiman, pusat kegiatan ekonomi, perdagangan, industri dan lain sebagainya. Kawasan ini bila dilalui oleh sungai yang mempunyai Daerah Aliran Sungai (DAS) cukup besar, seperti Kali Garang/ Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur di Kota Semarang, memiliki potensi bencana banjir yang cukup besar juga, karena debit banjir yang cukup besar yang dapat terbawa oleh sungai tersebut. Potensi

bencana banjir akan lebih besar lagi apabila terjadi hujan cukup besar di daerah hulu dan hujan lokal di daerah tersebut, disertai pasang air laut.

  • 3. Kawasan Sempadan Sungai merupakan daerah rawan bencana banjir yang disebabkan pola pemanfaatan ruang budidaya untuk hunian dan kegiatan tertentu.

  • 4. Kawasan Cekungan merupakan daerah yang relatif cukup luas baik di daerah dataran rendah maupun dataran tinggi (hulu sungai) dapat menjadi daerah rawan bencana banjir. Pengelolaan bantaran sungai harus benar-benar dibudidayakan secara optimal, sehingga bencana dan masalah banjir dapat dihindarkan.

Potensi banjir di Kota Semarang sebagian besar berada di daerah pesisir/pantai dan daerah sempadan sungai, berdasarkan aspek penyebabnya, jenis banjir yang ada dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu: banjir limpasan sungai/banjir kiriman; banjir lokal; dan banjir pasang (rob). Banjir pasang (rob) ini terjadi karena pasang air laut yang relatif lebih tinggi daripada ketinggian permukaan tanah di suatu kawasan. Biasanya terjadi pada kawasan di sekitar pantai. Penurunan tanah disebabkan empat hal, yaitu eksploitasi air tanah berlebihan, proses pemampatan lapisan sedimen (yang terdiri dari batuan muda) ditambah pembebanan tinggi oleh bangunan di atasnya serta pengaruh gaya tektonik. Dampak penurunan tanah dapat dilihat adanya luasan genangan rob yang semakin besar. Selain banjir, bencana yang berkaitan dengan musim hujan adalah longsor. Kota Semarang pada beberapa wilayah menunjukkan potensi bencana longsor yang mengancam masyarakat yang juga perlu mendapatkan perhatian. Perubahan iklim global berpengaruh terhadap kondisi iklim di Kota Semarang, musim kemarau menjadi lebih panjang daripada musim hujan sehingga menyebabkan kekeringan di daerah dengan cadangan air tanah yang minimum. Sebagian besar daerah yang mengalami kekeringan terdapat di Semarang atas. Berdasarkan data yang ada pada Buku Rencana Aksi Nasional 2010-2014, potensi

bencana yang ada di Kota Semarang adalah banjir, kekeringan, longsor, kebakaran hutan, erosi, kebakaran gedung dan permukiman dan risiko cuaca ekstrim.

II.

ASPEK DEMOGRAFI

Secara Demografi, berdasarkan data statistik Kota Semarang penduduk Kota

Semarang periode tahun 2005-2009 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,4% per tahun. Pada tahun 2005 adalah 1.419.478 jiwa, sedangkan pada tahun 2009 sebesar 1.506.924 jiwa, yang terdiri dari 748.515 penduduk laki-laki, dan 758.409 penduduk perempuan.

Tabel Jumlah Penduduk Kota Semarang Tahun 2005-2009

No

Tahun

 

Jumlah Penduduk

Pertumbuhan

Laki-Laki

Perempuan

Jumlah

(%)

1

 
  • 2005 705,627

713,851

1,419,478

1.45

2

 
  • 2006 711,755

722,270

1,434,025

1.06

3

 
  • 2007 722,026

732,568

1,454,594

1.43

4

 
  • 2008 735,457

746,183

1,481,640

1.86

5

 
  • 2009 748,515

758,409

1,506,924

1.71

Sumber: Kota Semarang Dalam Angka, BPS Kota Semarang, 2009

Peningkatan jumlah penduduk tersebut dipengaruhi oleh jumlah kelahiran, kematian dan migrasi. Pada tahun 2005 jumlah kelahiran sebanyak 19.504 jiwa, jumlah kematian sebanyak 8.172 jiwa, penduduk yang datang sebanyak 38.910 jiwa dan penduduk yang pergi sebanyak 29.107 jiwa. Besarnya penduduk yang datang ke Kota Semarang disebabkan daya tarik kota Semarang sebagai kota perdagangan, jasa, industri dan pendidikan.

Tabel Perkembangan Penduduk Lahir, Mati, Datang dan Pindah Kota Semarang Tahun 2005 - 2009

No

   

Penduduk (jiwa)

 

Tahun

Lahir

Mati

Datang

Pindah

   
  • 1 8,172

    • 2005 38,910

19,504

   

29,107

   
  • 2 9,023

    • 2006 42,714

21,445

   

32,557

   
  • 3 10,018

    • 2007 43,151

22,838

   

35,180

   
  • 4 10,018

    • 2008 44,187

24,472

   

37,128

   
  • 5 10,373

    • 2009 38,518

25,262

   

34,172

Sumber: Kota Semarang Dalam Angka, BPS Kota Semarang, 2009

Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa penduduk yang datang ke Kota Semarang dan penduduk yang lahir setiap tahunnya lebih besar dari pada penduduk yang pindah dan penduduk yang mati, hal tersebut menggambarkan bahwa peningkatan penduduk Kota Semarang disebabkan oleh penduduk yang datang dan lahir dengan proporsi rata-rata 60,04% per tahun dibanding penduduk pindah dan penduduk yang mati. Penduduk Kota Semarang dilihat dari kelompok umur sebanyak 912.362 jiwa atau 73,96% merupakan penduduk usia produktif ( umur 15 – 65 tahun) dan 26,04% merupakan penduduk tidak produktif (umur 0-14 tahun dan diatas 65 tahun).

Tabel Jumlah Penduduk Kota Semarang Berdasarkan Kelompok Umur

Kelompok

 

J U M L A H

(jiwa)

 

Umur

2005

2006

2007

2008

2009

0

– 4

49.497

49.935

50.721

51.664

52.635

5

– 9

114.216

  • 113.270 116.072

  • 118.230 120.566

10

– 14

117.280

  • 116.321 119.198

  • 121.414 123.840

15

– 19

113.442

  • 112.459 115.241

  • 117.384 119.586

20

– 24

119.829

  • 118.682 121.618

  • 123.879 126.012

25

– 29

153.198

  • 151.571 155.321

  • 158.209 160.805

30

– 34

144.321

  • 142.919 146.455

  • 149.178 151.697

35

– 39

139.631

  • 138.312 141.734

  • 144.369 146.930

40

– 44

119.214

  • 117.958 120.876

  • 123.124 125.351

45

– 49

102.571

  • 101.529 104.041

  • 105.976 107.815

50

– 54

  • 79.698 81.772

    • 80.937 83.292

84.568

55

– 59

  • 52.619 53.921

    • 53.336 54.924

55.630

60

– 64

  • 34.063 34.906

    • 34.522 35.555

35.965

65 +

  • 90.480 92.718

    • 91.593 94.442

95.524

Jumlah

1.419.478

1.434.025

1.454.594

1.481.640

1.506.924

Sumber : BPS Kota Semarang, 2009

Komposisi penduduk kota Semarang ditinjau dari aspek pendidikan (di atas umur 5 tahun) adalah 22,86% telah tamat SD/MI, 21,10% telah tamat SLTA, 20,38% belum tamat SD, 20,28 % telah tamat SLTP, 6,54% tidak/belum pernah sekolah, 4,51% telah tamat SD IV/S1/S2, dan 4,35% telah tamat DI/DII/DIII.

Grafik Penduduk Kota Semarang berdasarkan Pendidikan Tahun 2009

Tamat

DIV/S1/S2/S3

Tamat D1,II,III

4.51%

Tidak Sekolah

4.35% Tamat SLTA 21.10% Tamat SLTP
4.35%
Tamat SLTA
21.10%
Tamat SLTP
6.54% Tidak/Belum tamat SD/MI 20.38% Tamat SD/MI 22.86%
6.54%
Tidak/Belum
tamat SD/MI
20.38%
Tamat SD/MI
22.86%

20.28%

Sumber: Kota Semarang dalam Angka 2009, BPS (data diolah)

Perkembangan jumlah penduduk Kota Semarang berdasarkan mata pencaharian selama periode 2005-2009 sebagaimana tabel berikut.

Tabel Komposisi Penduduk Kota Semarang Berdasarkan Mata Pencaharian

 

JENIS

 

JUMLAH (jiwa)

 

NO

PEKERJAA

         

N

2005

2006

2007

2008

2009

1

Petani Sendiri

30.440

28.185

26.494

 
  • 26.203 38.945

2

Buruh Tani

17.271

22.409

18.992

 
  • 18.783 27.791

3

Nelayan

2.468

2.256

2.506

2.478

3.657

4

Pengusaha

15.771

24.580

51.304

52.514

77.706

5

Buruh Industri

 
  • 185.604 192.473

152.557

152.606

225.897

6

Buruh Bangunan

 
  • 131.453 106.217

71.328

72.771

107.692

7

Pedagang

 
  • 76.672 75.951

73.431

73.457

108.788

8

Angkutan

 
  • 26.614 30.144

22.187

22.195

32.819

9

PNS/ABRI

 
  • 93.707 88.486

86.918

86.949

128.718

 
  • 10 Pensiunan

 
  • 34.208 38.101

32.855

32.667

48.635

 
  • 11 Lainnya

255.717

258.815

76.657

76.684

111.714

 

Jumlah

869.925

867.617

615.229

617.507

912.362

Sumber data : BPS Kota Semarang Tahun 2009

Komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian di Kota Semarang berturut- turut buruh Industri dengan persentase sebesar 24,76%, PNS/ABRI sebesar 14,11%, Lainnya sebesar 12,24%, Pedagang sebesar 11,92%, Buruh Bangunan 1,80%, Pengusaha sebesar 8,52%, Pensiunan sebesar 5,33%, Petani sebesar 4,27%, Angkutan sebesar 3,60%, Buruh tani sebesar 3,05%, dan Nelayan sebesar 0,40 %. Hal ini menggambarkan bahwa aktivitas penduduk Kota Semarang bergerak pada sektor perdagangan dan jasa.

III.

ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Kinerja pembangunan pada aspek kesejahteraan masyarakat merupakan gambaran dan hasil dari pelaksanaan pembangunan selama periode tertentu

terhadap kondisi kesejahteraan masyarakat yang mencakup kesejahteraan dan pemerataan ekonomi, kesejahteraan sosial, seni budaya dan olahraga. Hasil evaluasi pelaksanaan pembangunan pada aspek kesejahteraan masyarakat selama periode 2005-2009 adalah sebagai berikut :

1. Ekonomi.

Kinerja kesejahteraan dan pemerataan ekonomi Kota Semarang selama periode tahun 2005-2009 dapat dilihat dari indikator pertumbuhan PDRB, laju inflasi, PDRB per kapita, dan angka kriminalitas yang tertangani. Perkembangan kinerja pembangunan pada kesejahteraan dan pemerataan ekonomi adalah sebagai berikut :

  • a. Pertumbuhan PDRB Pertumbuhan PDRB merupakan indikator untuk mengetahui kondisi perekonomian secara makro yang mencakup tingkat pertumbuhan sektor- sektor ekonomi dan tingkat pertumbuhan ekonomi pada suatu daerah. Laju Pertumbuhan PDRB Kota Semarang atas dasar harga berlaku selama periode 2005-2009 mengalami pertumbuhan yang meningkat. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku pada tahun 2005 sebesar Rp. 26.624.244,17 sampai dengan tahun 2009 mencapai sebesar Rp. 39.429.568.000,-.

Tabel 2.8 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB 2005 s.d. 2009

     

Tahun ( Rp. Jutaan)

 

No.

 

Sektor Usaha /

2005

2006

2007

2008

2009 *)

Lapangan Usaha

Rp.

%

Rp.

%

Rp.

%

Rp.

%

Rp.

%

                       

A

PDRB

Atas Dasar Harga

23,208,224

 

26,624,244

 

30,515,73 7

 

34,540,949

 

38,459,815

 

Berlaku

1.

Pertanian

 

294,257

 
  • 1.27 365,095

321,780

 
  • 1.21 398,756

 
  • 1.20 442,499

 
  • 1.15 1.15

 

2.

Pertambangan dan

46,997

 
  • 0.20 57,063

52,327

 
  • 0.20 61,694

 
  • 0.19 66,480

 
  • 0.18 0.17

 

Penggalian

 

3.

Industri Pengolahan

6,256,676

26.96

7,147,347

26.85

7,883,533

25.83

8,679 ,006

25.13

9,483,637

24.66

4.

Listrik, Gas dan Air Bersih

443,417

1.91

487,538

1.83

532,280

1.74

574,399

1.66

609,532

1.58

5.

Bangunan

 

3,584,579

 
  • 15.45 5,414,829

4,445,30 8

16.70

   
  • 17.74 6,398,054

 
  • 18.52 7,453,706

19.38

6.

Perdagangan, Hotel dan Restoran

6,788,735

 
  • 29.25 8,635,562

7,480,618

28.10

   
  • 28.30 9,972,004

 
  • 28.87 10,884,995

28.30

7.

Angkutan dan Komunikasi

2,399,867

 
  • 10.34 3,073,387

2,762,149

10.37

   
  • 10.07 3,814,968

3 ,374,753

 
  • 9.7703 9.92

 

8.

Keuangan, Sewa & Jasa Perusahaan

693,463

2.99

772,160

 
  • 2.90 993,471

889,126

2.91

   
  • 2.8762 1,0 75,543

2.80

9.

Jasa

 

2,700,233

11.63

3,155,017

11 .85

3,664,861

12.01

4,088,812

 
  • 11.838 4,628,454

12.03

   

23,208,224

 

26,624,244

 

30,515,73 7

 

34,540,949

 

38,459,815

 
 

B

PDRB

Atas Dasar Harga

                   

Konstan

 

1.

Pertanian

207,455

 
  • 1.28 219,249.83

213,730.87

 
  • 1.25 227,516

 
  • 1.21 234,611

 
  • 1.19 1.16

 
 

2.

Pertambangan dan

28,553

 
  • 0.18 29,992.32

29,043.79

 
  • 0.17 30,726

 
  • 0.17 31,501

 
  • 0.16 0.16

 

Penggalian

 
 

3.

Industri Pengolahan

4,508,130

27.84

4 ,724,893.43

27.60

4,998,705.58

27.55

5,236,51 5

27.33

5,465,109

27.08

 

4.

Listrik, Gas dan Air

217,621

1.34

225,734.02

1.32

235,801.58

1.30

250,626

1.31

260,31 2

1.29

Bersih

 
 

5.

Bangunan

2,230,742

 
  • 13.77 2,708,769.04

2,527,078.34

 
  • 14.76 2,849,024

 
  • 14.93 3,081,148

 
  • 14.87 15.27

 
 

6.

Perdagangan, Hotel

5,025,711

 
  • 31.03 5,493,915.98

5,182,067.45

 
  • 30.27 5,906,984

 
  • 30.28 6,217,358

 
  • 30.83 30.81

 

dan Restoran

 

7.

Pengangkutan dan

1,556,572

 
  • 9.61 1,74 5,291.26

1,640,072.26

 
  • 9.58 1,851,303

9.62

   
  • 9.66 1,952,040

9.6 7

Komunikasi

 

8.

Keuangan, Sewa dan

495,325

 
  • 3.06 526,192.09

507,540.20

 
  • 2.96 548,372

2.90

   
  • 2.86 565,14 4

2.80

Jasa Perusahaan

 

9.

Jasa

1,924,156

11.88

2,068,544.92

12.08

2,184,722.29

12.04

2,255,749

11.78

2,373,356

11.76

 

16,194,265

 

17,118,705

 

18,142,64 0

 

19,156,814

 

20,180,578

 

Sumber : Produk Domestik Regional Bruto Kota Semarang BPS Kota Semarang

Dari tabel tersebut, kontribusi sektor usaha terbesar terhadap PDRB Kota Semarang adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran dan sektor Industri Pengolahan dan sektor usaha bangunan. Pada tahun 2009 kontribusi masing-masing sektor usaha tersebut adalah sebagai berikut : Perdagangan, Hotel dan Restoran sebesar 29,86 %, industri pengolahan sebesar 24,52 %, dan sektor bangunan sebesar 19,27%. Hal tersebut menggambarkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat Kota Semarang didominasi oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor industri pengolahan dan sektor bangunan.

Peningkatan Laju Pertumbuhan PDRB berimplikasi terhadap kondisi perekonomian Kota Semarang secara makro yang ditunjukan dengan Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE). LPE Kota Semarang periode 2005-2009 mengalami pertumbuhan yang positif.

Grafik Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Semarang Tahun 2005-2009

Peningkatan Laju Pertumbuhan PDRB berimplikasi terhadap kondisi perekonomian Kota Semarang secara makro yang ditunjukan dengan Laju

Sumber : Produk Domestik Regional Bruto Kota Semarang 2009, BPS Kota Semarang

Pada tahun 2005 tercatat sebesar 5,14%, kemudian meningkat sebesar 5,71 %, pada tahun 2006, 5,98 % pada tahun 2007, dan 6,03 % pada tahun 2008. Sedangkan pada tahun 2009, pertumbuhan ekonomi kota Semarang tercatat sebesar 5,47 %. Pertumbuhan ekonomi Kota Semarang terjadi penurunan pada tahun 2009 sebesar 0,56 % dari 6,03 % pada tahun 2008 menjadi 5,47 % pada tahun 2009. Penurunan ini lebih dipengaruhi adanya kondisi perekonomian global seperti kebijakan pasar bebas (Asean-China Free Trade Area/ACFTA), kenaikan BBM dan TDL.

  • b. Laju Inflasi Laju inflasi merupakan ukuran yang dapat menggambarkan kenaikan/penurunan harga dari sekelompok barang dan jasa yang berpengaruh terhadap kemampuan daya beli masyarakat. Laju inflasi Kota Semarang selama periode tahun 2005-2009 mengalami pertumbuhan yang fluktuatif. Pada tahun 2005 sebesar 16,46 %, tahun 2006

sebesar 6,08 %, tahun 2007 mencapai 6,75 %, tahun 2008 sebesar 10,34 % dan tahun 2009 sebesar 3,19 %. Besaran laju inflasi yang terjadi lebih diakibatkan pada permintaan masyarakat akan bahan kebutuhan pokok.

Grafik Laju Inflasi Kota Semarang Tahun 2005-2009

sebesar 6,08 %, tahun 2007 mencapai 6,75 %, tahun 2008 sebesar 10,34 % dan tahun 2009

Sumber : Produk Domestik Regional Bruto Kota Semarang 2009, BPS Kota Semarang

  • c. PDRB Perkapita Peningkatan Laju Pertumbuhan PDRB, diikuti dengan kenaikan pendapatan per kapita. Selama periode tahun 2005-2009 PDRB Perkapita Kota Semarang mengalami pertumbuhan yang positif. PDRB Perkapita atas dasar harga berlaku, pada tahun 2005 sebesar Rp. 14.947.472,59 pada tahun 2006 sebesar Rp.17.067.350,89, pada tahun 2007 sebesar Rp.19.394.727,40, pada tahun 2008 sebesar Rp.21.352.860,09, dan tahun 2009 sebesar Rp.23.889.579,87.

Grafik Perkembangan PDRB Perkapita Atas Dasar Harga Berlaku Pemerintah Kota Semarang Tahun 2005-2009

25,000,000.00 20,000,000.00 15,000,000.00 10,000,000.00 5,000,000.00 0.00 2005 2006 2007 2008 2009 PDRB Perkapita 14,947,472.59 17,067,350.89 19,394,727.40
25,000,000.00
20,000,000.00
15,000,000.00
10,000,000.00
5,000,000.00
0.00
2005
2006
2007 2008
2009
PDRB Perkapita
14,947,472.59
17,067,350.89
19,394,727.40
21,352,860.09
23,889,579.87

PDRB per kapita atas dasar harga konstan tahun 2000 dari tahun ke tahun

juga

menunjukkan

peningkatan.

Pada tahun 2005 sebesar Rp.

10.534.628,92,-, pada tahun 2006 sebesar Rp.11.045.072,76,-, pada tahun 2007 sebesar Rp.11.591.578,22, pada tahun 2008 sebesar Rp.11.897.251,91, dan pada tahun 2009 sebesar Rp. 12.338.639,96.

  • d. Indek Pembangunan Manusia (IPM) IPM merupakan salah satu ukuran yang dapat digunakan untuk melihat upaya dan kinerja pembangunan dengan dimensi yang lebih luas karena memperlihatkan kualitas penduduk dalam hal kelangsungan hidup, intelektualias dan standar hidup layak. IPM disusun dari tiga komponen yaitu lamanya hidup, yang diukur dengan harapan hidup pada saat lahir ; tingkat pendidikan, diukur dengan kombinasi antara melek huruf pada penduduk dewasa dan rata-rata lama sekolah ; serta tingkat kehidupan yang layak dengan ukuran pengeluaran perkapita (purchasing power parity). Pada tahun 2009 IPM Kota Semarang telah mencapai skor 76,90, angka tersebut menempati urutan kedua dibawah Kota Surakarta, namun masih jauh diatas angka rata-rata Provinsi Jawa Tengah sebesar 72,10. Selengkapnya IPM Kota Semarang dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel Perkembangan IPM Kota Semarang

No

Tahun

Skor

Ket

 
  • 1 75,3

2005

   
 
  • 2 75,94

2006

   
 
  • 3 77,24

2007

   
 
  • 4 76,54

2008

   
 
  • 5 76,90

2009

   

Sumber : Indeks Pembangunan Kota Semarang BPS Kota Semarang

  • 2. Kesejahteraan Sosial Pembangunan pada fokus kejahteraan sosial meliputi indikator angka melek huruf, angka rata-rata lama sekolah, angka partisipasi kasar, angka pendidikan yang ditamatkan, angka partisipasi murni, angka kelangsungan hidup bayi, angka usia harapan hidup, persentase penduduk yang memiliki lahan, dan rasio penduduk yang bekerja. Kinerja pembangunan kesejahteraan sosial Kota Semarang periode 2005-2009 pada masing-masing indikator sebagai berikut : a. Pendidikan

Pembangunan pendidikan pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sasarannya adalah terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas melalui peningkatan mutu pendidikan, perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan bagi semua masyarakat, tercapainya efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan, serta tercukupinya sarana dan prasarana pendidikan. Beberapa keberhasilan pembangunan bidang pendidikan dapat dilihat dari Angka Melek Huruf (AMH), Rata Lama Sekolah, Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Pendidikan yang ditamatkan. AMH adalah persentase penduduk usia 10 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis huruf latin. AMH tahun 2005 sebesar 95,10 %, tahun 2006 sebesar 95,85 %, tahun 2007 sebesar 95,54 %, tahun 2008 sebesar 99,30 % dan sampai dengan tahun 2009 angka melek huruf sebesar 99,47 %. Angka

pendidikan yang ditamatkan pada seluruh jenjang pendidikan baik SD, SLTP dan SLTA selama 5 tahun menunjukkan peningkatan dari 90,97% tahun 2005 menjadi 96,51%. Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah rasio jumlah siswa, berapapun usianya, yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. Pada tahun 2009 APK SD/MI mencapai 105,27 %, SMP/MTs 114,19, sedangkan SMA/SMA/MA mencapai 116,96 %. Angka Partisipasi Murni (APM) adalah persentase siswa dengan usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikannya dari jumlah penduduk di usia yang sama. Capaian APM SD/MI pada tahun 2009 sebesar 89,68 %, SMP/MTs 79,01 %, SMA/SMK/MA sebesar 79,97 %. Capaian APK dan APM pada masing-masing jenjang pendidikan telah berada di atas rata-rata APK/APM Jawa Tengah kecuali untuk SD/MI. Belum optimalnya angka capaian APK/APM disebabkan oleh mahalnya biaya pendidikan, walaupun dukungan anggaran untuk pendidikan sudah melebihi 20 % dari total anggaran APBD. Oleh karena itu diperlukan upaya pengalokasian anggaran pendidikan yang tepat agar pendidikan menjadi murah namun tetap berkualitas.

Tabel Kinerja Pembangunan Kesejahteraan Sosial Indikator Pendidikan

No

 

Uraian

 

Tahun

2005

2006

2007

2008

2009

1.

Angka Melek Huruf

95,10

95,85

95,94

99,30

99,47

2.

Rata Lama sekolah

9,60

9,80

9,80

9,17

9,20

3.

Angka Partisipasi Kasar

 
 

-

SD/MI

102,54

105,87

112,76

105,79

105,27

 

-

SLTP/MTs

89,94

97,14

103,12

89,21

114,19

 

-

SMA/SMK/MA

89,35

88,71

100,76

90,39

116,96

4.

Angka Partisipasi Murni

 
 

-

SD/MI

86,64

89,6

88,36

89,21

89,68

 

-

SLTP/MTs

66,99

71,27

66,7

65,84

79,01

 

-

SMA/SMK/MA

62,76

63,84

88,8

62,71

79,97

5.

Angka Pendidikan yang ditamatkan

90,97%

89,90%

96,72%

96,51%

96,51%

             

5.

Penduduk Tamat (<SD, SD, SLTP,

SLTA, Univ)

1.291.294

 
  • 1.289.175 1.455.249

1.406.873

1.429.890

 
 

Jumlah Penduduk

1.419.478

 
  • 1.434.025 1.507.826

1.454.594

1.481.640

 

Sumber : Dinas Pendidikan Kota Semarang, 2010 diolah

b. Kesehatan

Selama kurun waktu 5 tahun (2005-2009) kondisi pembangunan Kesehatan menunjukkan perubahan yang fluktuatif, hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator bidang kesehatan. Angka kelangsungan hidup bayi selama 5 tahun menurun dari 98,08 % pada tahun 2005 menjadi 81,40 % tahun 2009. Demikian pula Angka persentase gizi buruk mengalami peningkatan dari tahun 2005 sebesar 0,019 % menjadi 0,04 % tahun 2009. Penurunan angka kelengsungan hidup dan peningkatan angka gizi buruk lebih disebabkan adanya penyakit bawaan dan wabah penyakit yang disebabkan oleh vektor binatang seperti Demam Berdarah. Upaya pengembangan paradigma hidup sehat harus menjadi perhatian utama agar wabah penyakit menulular tidak

terulang. Namun demikian secara keseluruhan Angka Usia harapan Hidup Kota Semarang di Kota Semarang sebesar 72,1, jauh melebihi angka harapan hidup nasional sebesar 69,0 tahun.

Tabel Kinerja Pembangunan Kesejahteraan Sosial Indikator Kesehatan

No

Uraian

 

Tahun

2005

2006

2007

2008

2009

1.

Angka Kelangsungan Hidup Bayi per / 1000 kelahiran hidup (%)

98.08

80.29

81.32

80.29

81.40

2.

Angka Usia Harapan Hidup

71.8

71.9

71.9

72

72.1

3.

Persentase Gizi buruk

0,019 %

0,017%

0,04 %

0,033 %

0,04 %

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Semarang, 2010 diolah

c. Kemiskinan

Selama kurun waktu 5 tahun (2005-2009) jumlah penduduk miskin mengalami pertumbuhan yang fluktuatif, jumlah penduduk miskin tahun 2005- 2008 mengalami peningkatan peningkatan, tahun 2005 sebanyak 94.246 jiwa, tahun 2006 sebanyak 246.448 jiwa, tahun 2007 sebanyak 306.700 jiwa dan tahun 2008 sebanyak 491.747 jiwa, namun pada tahun 2009 mengalami penurunan menjadi sebesar 398.009 jiwa. Begitu pula ratio penduduk miskin terhadap jumlah penduduk kota Semarang semakin meningkat selama 4 tahun terakhir (2005-2008), tahun 2007 sebesar 6,64%, tahun 200617,19%, tahun 2007 sebesar 21,08%, tahun 2008 sebanyak 33,19%, namun tahun 2009 menurun menjadi sebesar 26,41%. Penurunan jumlah dan rasio penduduk miskin sebesar 6,78% disebabkan berbagai program penanggulangan kemiskinan di Kota Semarang semakin menyentuh masyarakat miskin (tepat sasaran). Ketepatan tersebut didukung oleh adanya identifikasi dan verifikasi berdasarkan indikator dan kriteria kemiskinan yang disusun sesuai dengan kondisi lokalitas daerah yang semakin mendekati kenyataan. Kedepan diperlukan upaya untuk melakukan unifikasi data kemiskinan agar proses percepatan penanggulangan kemiskinan dapat dilakukan dengan tepat. Optimalisasi peran masayarakat untuk turut serta dalam menyalurkan program Corpotate Social Responsibility (CSR) perlu didorong terus menerus. Berikut gambaran perkembangan penduduk miskin kota Semarang selama 5 tahun (2005-2009) :

Tabel Rasio Penduduk Miskin

Uraian

 

Tahun

2005

2006

2007

2008

2009

Penduduk Miskin

94.246

246.448

306.700

491.747

398.009

Jml Penduduk

1.419.478

1.434.025

1.454.594

1.481.640

1.506.924

Rasio

6,64%

17,19%

21,08%

33,19%

26,41%

Sumber : Bappeda Kota Semarang, 2010 diolah

  • d. Kepemilikan tanah Berdasarkan sumber dari Kantor Pertanahan Kota Semarang tahun 2010, persentase luas lahan bersertifikat yang tercatat di Kota Semarang mencapai angka rasio 72,8 %, sedangkan untuk rasio kepemilikan tanah mencapai 40,30. Dilihat dari jumlah kepemilikan tanah yang mempunyai sertifikat, menggambarkan bahwa kesadaran masyarakat akan pentingnya tertib administrasi pertanahan yang berarti kepemilikan sertifikat tanah sebagai legalitas atas tanah yang dimiliki semakin menjadi penting,

    • e. Kesempatan Kerja Angka kesempatan kerja dapat dihitung dari jumlah penduduk yang bekerja dibanding dengan angkatan kerja dalam satu wilayah. Rasio penduduk yang bekerja mengalami peningkatan, tahun 2005 sebesar 64,32 %, tahun 2006 sebesar 64,38%, tahun 2007 sebesar 88,61%, tahun 2008 sebesar 88,51%, namun pada tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 7,70% atau menjadi sebesar 81,44%. Penurunan ratio penduduk yang bekerja lebih diakibatkan karena meningkatnya angkatan kerja yang tidak seimbang dengan pertumbuhan lapangan kerja. Oleh karena itu diperlukan upaya perluasan lapangan kerja sebagai upaya mengatasi pengangguran. Berikut gambaran perkembangan ratio penduduk yang bekerja selama 5 tahun (2005-2009) seperti tercantum dalam tabel dibawah ini :

Tabel Rasio Penduduk Bekerja

Uraian

 

Tahun

2005

2006

2007

2008

2009

Penduduk yang Bekerja

465.695

 
  • 537.791 663.053

658.729

563.565

Angkatan Kerja

724.048

 
  • 835.323 748.302

744.239

692.019

Rasio

64,32%

64,38%

88,61%

88,51%

81,44%

Sumber : Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi, 2010 diolah

  • f. Angka Kriminalitas Ratio tindak kriminal selama lima (5) lima tahun terakhir menunjukkan penurunan, tahun 2005 sebesar 0,14 %, Tahun 2006 sebesar 0,10 %, Tahun 2007 sebesar 0,08 % dan tahun 2008 dan tahun 2009 sebesar 0,07 %. Penurunan angka rasio kriminal tersebut menunjukkan makin tingginya rasa aman masyarakat. Kondisi rasa aman dikalangan masyarakat tersebut harus tetap dipertahankan selama 5 tahun kedepan melalui upaya-upaya preventif dan tetap memberikan kepastian hukum kepada masyarakat Berikut gambaran perkembangan ratio kriminal selama 5 tahun (2005-2009) seperti tercantum dalam tabel dibawah ini :

Tabel Rasio Tindak Kriminal

Uraian

 

Tahun

2005

2006

2007

2008

2009

Jumlah Kriminal

195

139

117

107

108

Jumlah Penduduk

1.419.478

1.434.025

1.454.594

1.481.640

1.506.924

Rasio

0,14

0,10

0,08

0,07

0,07

Sumber : Data Pengembangan SIPD, BPS Kota Semarang, 2010

  • 3. Seni dan Budaya. Pembangunan pada fokus seni dan budaya meliputi indikator jumlah grup kesenian dan gedung olahraga. Kinerja pembangunan Seni dan budaya Kota Semarang periode 2005-2009 pada masing-masing indikator adalah sebagai berikut :

    • a. Seni dan Budaya Jumlah grup kesenian di Kota Semarang selama 5 tahun (2005-2009) menunujukkan peningkatan dari 376 buah menjadi 573 buah pada tahun

2009 , demikian pula ratio jumlah grup kesenian terhadap per. 10.000 jumlah penduduk kota Semarang yaitu dari 2,65 pada tahun 2005 menjadi 3,80 pada tahun 2009. Sedangkan jumlah gedung kesenian juga mengalami peningkatan dari 33 buah dengan rasio per 10.000 sebesar 0,23 pada tahun 2005 menjadi sebesar 39 buah dengan rasio per 10.000 penduduk sebesar 0,26 pada tahun 2009. Namun jika dilihat dari ratio jumlah grup kesenian terhadap 10.000 jumlah penduduk masih relatif kecil. Hal ini menunjukkan bahwa masih kurang resposifnya masyarakat terhadap kesenian tradisional. Upaya mengembangkan kesenian tradisional diharapkan akan mampu memberikan dampak kesejahteraan bagi para pelaku seni. Demikian pula dengan perkembangan sarana prasarana gedung kesenian menunjukkan peningkatan dari tahun ketahun namun ratio jumlah gedung kesenian masih relatif kecil terhadap per 10.000 jumlah penduduk yakni sebesar 3,80 pada tahun 2009. Berikut gambaran perkembangan Jumlah Grup dan Gedung Kesenian Kota Semarang selama 5 tahun (2005-2009), sebagaimana tabel berikut :

Tabel Rasio Grup Kesenian

Uraian

 

Tahun

2005

2006

2007

2008

2009

Juml Grup Kesenian

376

386

573

573

573

Juml Penduduk

1.419.478

1.434.025

1.454.594

1.481.640

1.506.924

Rasio/10.000 penduduk

2,65

2,69

3,94

3,87

3,80

Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, 2010 diolah

Tabel Rasio Gedung Kesenian

Uraian

 

Tahun

2005

2006

2007

2008

2009

Juml Gedung Kesenian

33

33

33

33

39

Juml Penduduk

1.419.478

1.434.025

1.454.594

1.481.640

1.506.924

Rasio/10.000 penduduk

0,23

0,23

0,23

0,22

0,26

Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, 2010 diolah

  • b. Olah Raga

Jumlah klub olah raga selama 5 tahun (2005 – 2009) tidak mengalami penambahan atau tetap sebanyak 561 buah pada tahun 2009, namun rationya mengalami penurunan dari 3,95 tahun 2005 menjadi 3,72 pada tahun 2009. Begitu pula kondisi sarana dan prasarana olah raga tidak mengalami pertumbuhan atau tetap sebanyak 3 buah gedung olah raga. Hal tersebut bukan berarti bahwa budaya olah raga dikalangan masyarakat masih rendah, akan tetapi banyak aktivitas olah raga yang dilakukan diluar gedung seperti jalan sehat, bersepeda maupun olahraga luar ruangan yang lain. Namun demikan untuk dapat memacu peningkatan prestasi atlit diperlukan sarana prasarana olah raga yang representative. Berikut gambaran perkembangan klub dan sarpras olahraga sebagaimana tabel dibawah ini :

Tabel Rasio Klub Olah Raga

Uraian

 

Tahun

2005

2006

2007

2008

2009

Juml Klub Olah Raga

561

561

561

561

561

Juml Penduduk

1.419.478

1.434.025

1.454.594

1.481.640

1.506.924

Rasio/10.000 penduduk

3,95

3,91

3,86

3,79

3,72

Sumber : Dinas Sosial Pemuda dan Olah Raga Kota Semarang, 2010, diolah

Tabel 2.18 Rasio Gedung Olah Raga

Uraian

 

Tahun

2005

2006

2007

2008

2009

Juml Gedung Olah Raga

3

3

3

3

3

Juml Penduduk

1.419.478

1.434.025

1.454.594

1.481.640

1.506.924

Rasio/10.000 penduduk

0,02

0,02

0,02

0,02

0,02

Sumber : Dinas Sosial Pemuda dan Olah Raga Kota Semarang, 2010, diolah

III. ASPEK PELAYANAN UMUM

Kinerja pembangunan pada aspek pelayanan umum merupakan gambaran dan hasil dari pelaksanaan pembangunan selama periode tertentu terhadap kondisi pelayanan umum yang mencakup kesejahteraan dan pemerataan ekonomi, kesejahteraan sosial, seni budaya dan olahraga. Kinerja pembangunan pada aspek pelayanan umum merupakan gambaran dan hasil dari pelaksanaan pembangunan selama periode tertentu terhadap kondisi pelayanan umum yang mencakup layanan urusan wajib. Hasil evaluasi pelaksanaan pembangunan pada aspek pelayanan umum selama periode 2005-2009 adalah sebagai berikut :

  • 1. Fokus layanan urusan wajib a. Pendidikan

Kondisi kinerja pembangunan bidang pendidikan selama 5 (lima) tahun terakhir mengalami perubahan fluktuatif, angka partisipasi sekolah pendidikan dasar mengalami peningkatan dari tahun 2005 sebesar 86,64% menjadi 89,76% pada tahun 2009, pendidikan menengah meningkat dari tahun 2005 sebesar 66,99% menjadi 78,95 %, angka kelulusan SD/MI selama 5 tahun dapat mencapai sebesar 99,99%, untuk SMP/MTs mencapai 94,76%, SMA/SMK/MA mencapai 96,47%. Angka ketersediaan sekolah Pendidikan Dasar dari 4 % pada tahun 2005 menjadi 4,30 % tahun 2009, ratio guru terhadap jumlah murid dari 1:28 pada tahun 2005 turun menjadi 1:19 pada tahun 2009, ratio guru terhadap jumlah murid per kelas rata-rata tahun 2005 sebesar 1:28:45 menjadi

1:16:32 pada tahun 2009. Sedangkan untuk Pendidikan Menengah, APS tahun 2005 sebesar 66,99 menjadi 78,95 tahun 2009, ratio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah dari 2,15% pada tahun 2005 menjadi 2,80% pada tahun 2009, ratio guru terhadap murid tahun 2005 sebesar 1:13 menjadi 1:12

pada tahun 2009, ratio guru terhadap murid per kelas rata-rata tahun 2005 adalah 1:13:40 menjadi 1:12:34, perbandingan jumlah penduduk melek huruf >15 tahun terhadap jumlah penduduk kota Semarang tahun 2005 sebesar 95,10% menjadi 99,47% pada tahun 2009. Kondisi fasilitas pendidikan, jumlah sekolah SD/MI dengan kondisi baik tahun 2005 sebanyak 2.349 gedung meningkat menjadi tahun 2.451 gedung, gedung sekolah SMP/MTs tahun 2005 sebesar 1.662 gedung menjadi sebesar 1.761 gedung, sedangkan kondisi gedung sekolah SMA/SMK/MA tahun 2005 sebesar 1.005 gedung meningkat menjadi 1.087 gedung pada tahun 2009. Angka Putus Sekolah dari tahun ketahun selama 5 tahun (2005-2009) mengalami penurunan yang sangat signifikan. Angka putus sekolah SD/MI menurun dari 151 murid pada tahun 2005 menjadi 31 pada tahun 2009. Sedangkan untuk SMP/MTs dari 344 murid menjadi 21 murid, sedangkan untuk SMA/MA/STM menurun dari 527 menjadi 18 murid pada tahun 2009. Kondisi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), jumlah siswa TK/RA/Penitipan anak terhadap jumlah penduduk usia 4-6 tahun sebesar 74,68% tahun 2005 menjadi 78,92% tahun 2009.Perkembangan Angka kelulusan SD/MI dari tahun 2005-2009 tetap sebesar 99,99%, SMP/MTs mengalami peningkatan dari tahun 2005 sebesar 86,60% menjadi 94,76% tahun 2009, SMA/SMK/MA mengalami peningkatan dari 89,31% tahun 2005 menjadi 96,74% pada tahun 2009. Meskipun telah terjadi berbagai peningkatan yang cukup berarti, pembangunan pendidikan belum sepenuhnya mampu memberi pelayanan merata, berkualitas dan terjangkau. Sebagian penduduk tidak dapat menjangkau biaya pendidikan yang dirasakan masih mahal dan pendidikan juga dinilai belum sepenuhnya mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat sehingga pendidikan belum dinilai sebagai bentuk investasi. Berikut gambaran perkembangan pelayanan bidang pendidikan sebagaimana tabel dibawah ini :

Tabel

Aspek Pelayanan Umum Dalam Bidang Pendidikan

No

 

Indikator

 

Tahun

 

2005

2006

2007

2008

2009

1.

Pendidikan Dasar

 
 

a.

Angka Partisipasi Sekolah

 

86,64 %

89,60 %

88,36 %

89,21 %

89,76 %

 

b.

Rasio Ketersediaan Sekolah

 

4 %

4,14 %

4,2 %

4,27 %

4,30%

 

c.

Rasio guru/murid

 

1:28