Anda di halaman 1dari 8

Gumboro Virus Gumboro hanya ditularkan secara horisontal dengan media penular utama ialah feses.

Virus IBD di dalam feses masih infektif (mampu menginfeksi ayam lain,red) hingga 122 hari setelah dieksresikan (dikeluarkan) oleh ayam. Sedangkan virus di dalam air minum dan pakan ayam masih infektif hingga 52 hari setelah dieksresikan. Tempat air minum, pakan, kandang dan benda-benda lain juga dapat berperan sebagai media penular jika terkontaminasi feses yang mengandung virus Gumboro. Transmisi virus secara vertikal (dari induk ke anak atau via telur) tidak terjadi. Begitupun dengan ayam yang carrier atau ayam yang membawa virus tapi tidak sedang sakit Gumboro, juga tidak ditemukan sehingga ayam yang sembuh dari Gumboro tidak berpotensi menularkan virus ke lingkungan. Anak ayam berumur 22-35 hari ternyata paling rentan terhadap serangan Gumboro. Keterangan ini diperkuat dengan data Technical Service Medion selama tahun 2006-2009 yang menyebutkan Gumboro paling sering menyerang ayam pedaging umur 22-28 hari dan ayam petelur umur 29-35 hari (Grafik 1). Immunosuppressive Immunosuppressive menjadi karakteristik yang paling dikhawatirkan dari infeksi Gumboro. Hal ini dikarenakan virus ini akan menyerang sistem kekebalan tubuh ayam khususnya organ bursa Fabricius yang terletak di bagian atas lubang dubur (kloaka) ayam. Bursa Fabricius dapat ditemukan hingga 6 bulan, meski begitu pada umur lebih muda (4-5 bulan) bisa saja organ ini sudah tidak ditemukan karena proses menghilangnya organ ini turut dipengaruhi oleh hormon reproduksi. Gejala Klinis dan Patologi Anatomi Kasus Gumboro 1. Gumboro subklinis Seperti namanya, Gumboro ini tidak menampakkan gejala klinis. Penyakit ini biasa terjadi pada ayam yang berumur kurang dari 3 minggu. Meski tidak menampakkan gejala klinis, Gumboro subklinis dapat dideteksi dengan beberapa cara yaitu:
y

Recording bisa menjadi alarm peringatan dini yang baik karena bisa mendeteksi adanya penurunan produktivitas ayam misalnya penurunan laju pertambahan bobot badan. Tanda ini mengindikasikan ada gangguan pada tubuh anak ayam. Pengambilan sampel darah anak ayam di umur 1-4 hari dimana anak ayam dengan titer antibodi (induk,red) rendah beresiko terserang Gumboro subklinis. Bedah bangkai. Tindakan ini akan meneguhkan terjadinya infeksi Gumboro subklinis dimana akan ditemukan atrofi (mengecilnya ukuran) bursa Fabricius khususnya sebelum 20 hari dimana bursa Fabricius seharusnya membesar.

y y

Gumboro subklinis menyerang bursa Fabricius ketika perkembangan jumlah limfosit B di bursa Fabricius sangat pesat. Gangguan pada fase ini sulit dikompensasi di umur selanjutnya. Jika sudah begitu, tubuh ayam tidak bisa membentuk antibodi secara optimal sehingga ayam dalam kondisi immunosuppressive yang lama. Kondisi ini akan membawa gangguan-gangguan antara lain:
y

Ayam menjadi rentan terhadap berbagai macam infeksi sekunder. Infeksi tersebut bisa berasal Pasteurella multocida, Mycoplasma gallisepticum, virus ND, IB, AI dan sebagainya. Jika terjadi kematian maka akan berlangsung lama dengan jumlah yang meningkat dari hari ke hari. Kegagalan vaksinasi disebabkan oleh ketidakoptimalan tubuh ayam menggertak antibodi terhadap virus vaksin yang masuk. Gejala yang paling sering ditemui ialah reaksi post vaksinasi yang lebih besar terutama pada vaksinasi menggunakan vaksin aktif

Meski tidak menimbulkan kematian (kecuali ada infeksi sekunder), Gumboro subklinis tetap menimbulkan kerugian. Penelitian pada farm pedaging komersial di Eropa menunjukkan infeksi Gumboro subklinis menyebabkan kerugian 28% dibanding farm yang sehat. Kerugian ini berasal dari penurunan pertambahan bobot badan, peningkatan FCR dan sebagainya.

2. Gumboro klinis Gumboro ini biasanya menyerang ayam di atas umur 3 minggu. Gumboro ini dapat dideteksi dengan gejala klinis berupa diare putih, bulu kusam, ayam sering mematuki bulu di sekitar dubur, peradangan di sekitar dubur, gemetar dan ayam tampak lesu. Gejala ini akan tampak 2-3 hari setelah infeksi (masa inkubasi). Tingkat kematian karena infeksi ini bervariasi antara 0,5 60%. Kematian mulai terjadi sejak hari kedua infeksi lalu meningkat terus hingga 2-3 hari kemudian dan akan menurun secara cepat pada hari ke-7 atau ke-8 (pemulihan kurang dari 1 minggu). Pada bedah bangkai, akan ditemukan pembengkakan dari bursa Fabricius disertai edema, kekuningan dan kadang-kadang berdarah terutama pada ayam yang telah mati. Juga terdapat pembesaran limpa dan buluh darah serta perdarahan garis di otot dada dan paha sering terjadi. Ditemukan pula pembengkakan ginjal disertai endapan asam urat (warna putih,red) di tubulus

akibat

dari

dehidrasi

(kekurangan

cairan).

Gambar Gumboro klinis. Ayam meringkuk (A), pada bedah bangkai ditemukan perdarahan bergaris di otot paha (B), peradangan dan pembengkakan bursa Fabricius (C) pembengkakan ginjal (D) (Sumber : Tony Unandar)

Update Gumboro Berbicara tentang Gumboro berarti membicarkan gangguan tanggap kebal tubuh ayam yaitu immunosuppressive. Dalam keadaan immunosuppressive ayam mudah terserang penyakit lain semisal CRD, CRD kompleks, colibacillosis, ND, AI, kolera, korisa dan lain-lain. Data Technical Services Medion sepanjang tahun 2006-2009 memperlihatkan bahwa penyakit CRD dan juga ND adalah penyakit yang paling sering muncul bersama Gumboro. Pada ayam pedaging tercatat juga Gumboro sering berkomplikasi dengan CRD kompleks, korisa dan colibacillosis sedangkan di ayam petelur ada korisa, koksidiosis dan kolera. Di antara penyakit tersebut, komplikasi ND dan Gumboro perlu diperhatikan karena keduanya disebabkan virus yang hingga kini belum ada obatnya sehingga memerlukan keputusan yang cermat saat melakukan penanganan. Penanganan Kasus Gumboro Saat terjadi kasus Gumboro, pertimbangkan baik-baik mana yang lebih dahulu ditangani. Jika terjadi komplikasi dengan penyakit lain, umumnya penanganan kasus Gumboro lebih diprioritaskan dibanding kasus lain dengan alasan immunosuppressive. Berikut adalah tindakan yang dapat dilakukan jika ada kasus Gumboro :

1. Isolasi, desinfeksi dan pengeluaran feses Penyakit Gumboro sangat mudah menular dengan tingkat morbiditas (kesakitan) mencapai 100%. Tingginya tingkat morbiditas ini ditunjang dengan adanya ayam sakit yang terus mengeluarkan partikel virus serta keberadaan virus di feses. Oleh karena itu, lakukan pemisahan ayam yang sakit. Juga jika memungkinkan keluarkan feses (dan litter,red) saat terjadi outbreak Gumboro untuk menghilangkan sumber penularan virus (yang bersembunyi di feses,red). Tempat minum ayam (TMA dan TMAO) dan tempat ransum ayam (TRA) perlu didesinfeksi dengan Neo Antisep. Desinfeksi air minum juga perlu dilakukan dengan menggunakan Neo Antisep atau bisa juga dengan Desinsep.

2. Terapi pendukung (supportive therapy) Berikan air gula 2-5% untuk memulihkan stamina ayam. Tambahkan vitamin (Vita Stress atau Fortevit) serta menghidupkan pemanas/ IGM untuk meringankan gejala penyakit dan mengurangi tingkat stres ayam. Pada kasus Gumboro yang mengalami pembengkakan ginjal, berikan Gumbonal untuk membantu meringankan gejala penyakit. Antibiotik spektrum luas seperti Proxan-C, ProxanS atau Doctril (pilih salah satu) dapat digunakan untuk mencegah infeksi sekunder. Tindakan revaksinasi tidak dianjurkan mengingat tidak optimalnya tanggap kebal ayam.

Pencegahan Kasus Gumboro Selanjutnya Setelah Gumboro berlalu, peternak harus mengevaluasi beberapa hal agar kasusnya tidak terulang kembali. Beberapa yang bisa dilakukan untuk mencegah terulangnya kasus Gumboro :

1. Mengoptimalkan masa persiapan kandang Optimalisasi masa persiapan kandang dapat membantu mengeliminasi virus Gumboro. Lakukan desinfeksi kandang dengan baik dan benar mulai dari penurunan litter dan pengeluaran feses dari farm. Kemudian kandang disikat dan disabun lalu lalu dibiarkan hingga kering. Lalu didesinfeksi dengan Formades atau Sporades.

Sanitasi juga peralatan kandang dengan Neo Antisep misalnya TMA, TRA dan TMAO. Lalu dikeringkan dengan cara diangin-anginkan. Hindari mengeringkan dengan sinar matahari agar tidak merusak peralatan. Terakhir, taruh peralatan kandang yang sudah disanitasi dalam kandang yang sudah didesinfeksi. Tutup tirai kandang dan istirahatkan selama minimal 14 hari sebelum chick in. Jangan lupa untuk melakukan penyemprotan insektisida untuk mengeliminasi kumbang Alphitobius diaperinus yang berperan menyebarkan virus Gumboro (vektor).

Kumbang Alphitobius diaperinus yang berperan sebagai vektor Gumboro (Sumber : entnemdept.ufl.edu)

2. Evaluasi program vaksinasi Ada dua hal yang perlu diperhatikan saat mengevaluasi program vaksinasi yaitu cara memvaksinasi, kapan vaksinasi dilakukan dan vaksin apa yang digunakan. Untuk itu, diperlukan recording yang baik. Ambil contoh jika di suatu farm pedaging komersial sering terjadi kasus Gumboro di umur 24-26 hari. Tingkat kematian sebesar 9% sedangkan vaksinasi hanya sekali dengan Medivac Gumboro B umur 18 hari. Pertanyaannya apakah yang dilakukan sudah tepat ? Tindakan di atas masih belum tepat. Evaluasi pertama ialah terlalu dekatnya jarak waktu kejadian penyakit dengan waktu vaksin (+7 hari). Padahal antibodi hasil vaksinasi aktif paling cepat baru mencapai titer protektif pada +14 hari post vaksinasi. Saran yang diberikan ialah memajukan vaksinasinya menjadi di umur 10 hari. Bila pada periode pemeliharaan berikutnya masih terjadi kasus Gumboro, ubah kembali program vaksinasi menjadi 7 dan 14 hari

Sanitasi dan Desinfeksi Kandang yang Tidak Optimal

Penyebaran penyakit Gumboro umumnya terjadi secara horizontal. Oleh karena itu manajemen yang meliputi sanitasi dan biosekuriti sangat berpengaruh. Munculnya kasus Gumboro dipicu dengan perlakuan sanitasi yang kurang tepat,

masih ditemukan adanya sisa-sisa kotoran/tumpukan karung yang berisi feses di sekitar lokasi kandang saat DOC tiba. Seperti kita ketahui bersama, feses merupakan media utama penularan Gumboro. Virus IBD di dalam feses masih infektif hingga 122 hari setelah diekskresikan (dikeluarkan). 2. Hal lain yang terkadang masih terjadi adalah penyemprotan desinfektan tanpa dilakukan pembersihan kandang terlebih dahulu atau pembersihan tidak optimal (masih terdapat sisa litter/feses di sela-sela kandang). Kondisi ini tentunya akan mengakibatkan kerja desinfektan tidak akan optimal,
y

1.

Minimnya Monitoring Level dan Kesegaraman Antibodi Maternal

Program vaksinasi Gumboro (vaksin aktif) sangat dipengaruhi oleh status antibodi maternal. Vaksin Gumboro aktif yang diberikan ketika antibodi maternal masih tinggi dapat mengakibatkan virus vaksin akan dinetralkan oleh antibodi maternal. Alhasil vaksin yang diberikan tidak mampu memberikan perlindungan secara optimal (De Wit. J.J et all.,).
y

Aplikasi Vaksinasi yang Kurang Tepat

Aplikasi vaksin Gumboro aktif dilakukan per oral baik secara tetes mulut/ cekok maupun air minum. Aplikasi secara tetes mulut/cekok akan lebih menjamin setiap ayam mendapatkan 1 dosis penuh. Metode aplikasi ini terkait dengan bagaimana virus Gumboro secara alami menginfeksi ayam yaitu secara per oral. Jumlah virus dalam 1 dosis vaksin Gumboro aktif minimal hanya 102 atau sama dengan 100, bandingkan dengan vaksin ND yang 1 dosis vaksin minimal mengandung 107 atau 10 juta. Bila handling dan aplikasi vaksinasi Gumboro tidak tepat maka jumlah virus yang sampai ke target organ tidak sesuai lagi dengan minimal dosis dan memerlukan waktu yang lebih lama. Akibatnya pembentukan antibodi tidak optimal dan tidak bisa protektif. Praktek di lapangan aplikasi vaksinasi Gumboro masih dominan dilakukan melalui air minum. Meskipun praktis, aplikasi via air minum memiliki kekurangan yang berpeluang menyebabkan hasil vaksinasi tidak optimal karena tidak konsistensinya dosis vaksin yang diterima ayam. Dosis vaksin yang diterima ayam tergantung pada jumlah konsumsi air minum serta terkendala oleh batas waktu vaksinasi dimana 2 jam harus habis terkonsumsi. Beberapa hal lain yang juga menjadi kendala saat vaksinasi air minum, yaitu : Kualitas air tidak sesuai (mengandung logam berat, sadah, pH tidak netral, terkontaminasi bahan kimia seperti desinfektan/klorin) Tempat minum yang berisi vaksin terpapar sinar ultraviolet dari sinar matahari, terlalu dekat brooder sehingga menyebabkan kerusakan virus vaksin
y

Manajemen Brooding yang Tidak Optimal

Periode brooding merupakan periode pemeliharaan dari DOC (chick in) hingga umur 1421 hari (hingga lepas pemanas). Masa pemeliharaan ini ikut menentukan baik tidaknya performa ayam di masa berikutnya. Apabila terjadi kesalahan manajemen pada periode ini seringkali tidak bisa dipulihkan dan berdampak negatif terhadap performa ayam di fase

berikutnya. Hal yang terkait erat dengan keberhasilan vaksinasi yaitu pada masa ini terjadi perkembangan pesat organ kekebalan tubuh ayam. Pada umur satu minggu perkembangan organ limfoid sudah mencapai 70%. Perkembangan optimal dari organ limfoid ini berkaitan erat dengan penggertakan kekebalan aktif yang akan menggantikan peran kekebalan pasif yang diturunkan dari induk ke anak ayam. Oleh karena itu perlu diingat jika berat badan ayam tidak mencapai standar maka perkembangan organ limfoid pun terganggu sehingga akan berpengaruh terhadap keberhasilan vaksinasi yang dilakukan pada periode ini.

Adanya Faktor Immunosuppressant yang Mempengaruhi Keberhasilan Vaksinasi

Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam keberhasilan vaksinasi yaitu memastikan tidak ada faktor-faktor yang bersifat immunosuppressant. Vaksinasi Gumboro umumnya dilakukan pada umur akhir minggu pertama atau masuk minggu kedua. Pada umur ini adakalanya mulai terjadi kesalahan manajemen pemeliharaan seperti keterlambatan pelebaran kandang, pembukaan tirai kandang atau penambahan bahan litter. Praktek manajemen yang kurang tepat akan menyebabkan kualitas udara dalam kandang tidak segar, bau amonia mulai muncul. Kondisi ini merupakan faktor pemicu munculnya kasus penyakit terutama penyakit pernapasan seperti CRD atau penyakit pencernaan (koksidiosis). Kedua penyakit ini bersifat immunosuppressant sehingga akan mempengaruhi keberhasilan vaksinasi yang dilakukan. Pada periode umur satu sampai dengan dua minggu merupakan masa padat vaksinasi, selain vaksinasi Gumboro anak ayam juga menerima vaksinasi yang lain seperti ND (4 hari), IB (4 hari) serta AI (10 hari). Padatnya jadwal vaksinasi ini jika tidak diimbangi dengan manajemen pemeliharaan yang baik akan beresiko menimbulkan stres pada anak ayam. Kita ketahui bersama stres merupakan faktor yang juga dapat menekan keberhasilan vaksinasi. Oleh karenanya menjadi hal penting untuk mempersiapkan anak ayam dalam kondisi optimal saat menerima vaksinasi. Berikan ransum, air minum sesuai kebutuhan dan support dengan pemberian multivitamin (Vita Stress).

Gumboro klinis ditandai oleh ayam lesu, perdarahan bergaris di otot paha, peradangan dan pembengkakan bursa Fabricius dan pembengkakan ginjal (Sumber: Dok. Medion)