Anda di halaman 1dari 19

I.

Memahami dan Menjelaskan Anatomi Makroskopik dan Mikroskopik Saluran Nafas Atas Anatomi Makroskopik Saluran Napas Atas Anatomi Hidung Terbentuk oleh tulang (os nasal), tulang rawan (cartilago) dan otot. Bagian penting yg terdapat pada hidung adalah y Nares anterior = apertura nasalis anterior (lubang hidung), Vestubulum nasi, Cavum nasi (rongga) dan Septum nasi (sekat). y Vestubulum nasi merupakan tempat muara nares anterior (batas epitel kulit dgn mucusa hidung). Terdapat cilia yang kasar yang berfungsi sebagai saringan udara yang masuk ketika inspirasi. y Cavum nasi adalah bagian dalam rongga hidung yang bebrbentuk terowongan. Dimulai dari nares anterior sampai ke nares posterior keluar di nares posterior (choana) dan dilanjutkan ke daerah nasopharyng. y Septum nasi merupakan sekat yang membatsi antara kedua rongga hidung yang berasal dari tulang dan tulang rawan serta jaringan mucusa. Yang berasal dari tulang dan cartilago sbb : 1. Cartilago septi nasi 2. Os. vomer 3. Lamina perpendicularis os ethmoidalis Dinding superior rongga hidung sangat sempit dibentuk oleh lamina cribroformis ethmoidalis, yang memisahkan rongga tengkorak dgn rongga hidung dan dinding inferior rongga hidung dibentuk oleh os maxilla dan os palatinum. Dalam cavum nasi terdapat concha nasalis, yaitu tonjolan yg terbentuk dari tulang tipis dan ditutupi mucusa yang dapat mengeluarkan lendir. Dalam cavum nasi, terdapat 3 buaha concha nasalis, yaiutu : 1. Concha nasalis superior 2. Concha nasalis media 3. Concha nasalis inferior Ada 3 buah saluran keluar cairan melalui hidung, yaitu : 1. Meatus nasalis superior 2. Meatus nasalis media 3. Meatus nasalis inferior Pada sudut mata medial terdapat hubungan hidung dan mata melalui ductus nasolacrimalis tempat keluarnya air mata ke hidung melalui meatus inferior. Pada nasopharyng terdapat hubungan antara hidung dengan rongga telinga, melalui O.P.T.A (Osteum Pharyngeum Tuba Auditiva) yg dikenal dengan Eustachii.

Pada tulang neurocranium dan splanchnocranium terdapat rongga-rongga yang disebut dengan sinus. Sinus-sinus yang berhubungan dengan cavum nasi dikenal dengan Sinus-sinus paranalis, antara lain : 1. 2. 3. 4. Sinus sphenoidalis Sinus frontalis Sinus maxillaris Sinus ethmoidalis

Persarafan hidung Persarafan sensorik dan sekremotorik hidung : bagian depan dan atas cavum nasi mendapat persarafan sensoris dari cabang nervus opthalmicus (v.1). Bagian lainnya, termasuk mucusa hidung dipersarafi oleh ganglion pterygopalatinum. Nervus olfactorius keluar dari cavum cranii melalui lamina cribrosa ethmoidalis. Sel-sel reseptorpenciuman terletak pada 1/3 atas depan mucusa hidung septum dan conchae nasalis. Serabut-serabut n.olfactorius bukan untuk mensarafi hidung, tapi hanya untuk fungsional penciuman. Proses penciuman dimulai dari : gyrus frontalis (pusat penciuman) menembus lamina cribrosa ethmoidalis tractus olfactorius bulbus olfactorius serabut n.olfactorius pd mucusa atas depan cavum nasi. Vascularisasi hidung/pendarahan hidung Berasal dari cabang-cabang A.opthalmica dan A.maxillaris interna 1. Arteria ethmoidalis anterior dengan cabang-cabang nya sbb : a.nasalis externa dan lateralis, a.septalis anterior 2. Arteria ethmoidalis posterior dgn cabang-cabang nya : a.nasalis posterior, lateralis dan septal, a.palatinus majus 3. Arteria sphenopalatinum cabang a.maxillaris interna Ketiga pembuluh darah di atas pada mukusa hidung membentuk anyaman kapiler pembuluh darah yang disebut plexus kisselbach. Plexus ini mudah pecah oleh trauma/infeksi, sehingga sering menjadi sumber epistaxis (pendarahan hidung, terutama pada anak-anak). Larynx Dimulai dari aditus laryngis sampai batas bawah cartilago cricoid. Rangka laryng terbentuk oleh tulang dan tulang rawan. Berbentuk tulang adalah os.hyoid (1 buah), dapat diraba di daerah batas atas leher dengan batas bawah dagu. Berbentuk tulang rawan adalah thyroid (1 buah), arytenoid (2 buah), epiglotis (1 buah) pada arytenoid bagian ujung (apex) terdapat tulang rawan kecil cartilago cornuculata dan cuneiforme (sepasang).

Larynx merupakan bagian terbawah dari saluran nafas bagian atas, menyerupai limas yg disebut cavum laryngis bagian atas adl aditus laryngis (pintu) lebih besar dari bagian bawah, yaitu cartilago cricoid yang berbentuk lingkaran. Os Hyoid (1 buah) Terbentuk dr jaringan tulang, seperti besi telapak kuda Mempunyai 2 buah cornu, cornu majus dan minus Dapat diraba pada batas antara batas atas leher dengan pertengahan dagu Berfungsi sebagai tempat perlekatan otot mulut dan cartilago thyroid

Cartilago Thyroid (1 buah) Terletak di bagian depan dan dapat diraba tonjolan, yang dikenal dengan prominens laryngis atau Adams Apple atau jakun pada laki-laki. Melekat ke atas dengan os hyoid dan ke bawah dengan cartilago cricoid, ke belakang dengan arytenoid. Jaringan ikat ny adalah membrana thyrohyoid. Memiliki cornu superior dan cornu inferior. Pendarahan dari a.thyroidea superior dan inferior.

Cartilago Arytenoid (2 buah) Terletak posterior dari lamina cartilago thyroid dan di atas dari cartilago cricoid. Berbentuk seperti burung pinguin, ada cartilago cornuculata dan cuneiforme. Kedua arytenoid dihubungkan oleh m.arytenoideus tranversus.

Epiglotis (1 buah) Tulang rawan berbentuk sendok. Melekat diantara kedua cartilago arytenoid. Berfungsi membuka dan menutup aditus laryngis. Berhubungan dgn cartilago arytenoid melalui m.aryepiglotica. Pada waktu biasa epiglotis terbuka, tetapi pada waktu menelan epiglotis menutup aditus laryngis supaya makanan jgn masuk ke larynx.

Cartilago Cricoid Batas bawah cartilago thyroid (daerah larynx). Berhubungan dengan thyroid dengan ligamentum cricothyroid dan m.cricothyroid medial lateral. Batas bawah adalah cincin pertama trachea. Berhubungan dengan cartilago arytenoid dengan otot m.cricoarytenoideus posterior dan lateralis.

Pada bagian belakang (posterior) akan terlihat : cartilago arytenoideus, cartilago cornuculata dan lig.vocalis di posisi atas cartilago cricoid. Pada posisi lateral regio larynx akan terlihat : linea obliq cartilago thyroid, lig.cricothyroid medial dan lateralis.

Otot-otot larynx, yaitu : A. Otot extrinsik larynx 1. M.cricothyroideus 2. M.thyroepigloticus 3. M.thyroarytenoideus B. Otot instrinsik larynx 1. M.cricoarytenoideus posterior 2. M.cricoarytenoideus lateralis 3. M.arytenoideus tranversus dan arytenoideus obliq 4. M.vocalis 5. M.aryepiglotica Otot-otot external larynx yg membantu pergerakan larynx adalah otot-otot suprahyoid menarik larynx ke bawah (m.digastricus, m.geniohyoideus dan m.sternohyoideus). Otot-otot infrahyoid menarik larynx ke atas (m.sternohyoideus, m.omohyoideus, m.thyrohyoideus). Otot-otot internal larynx, M.cricoarytenoideus posterior berfungsi untuk membuka kedua pita suara, jika ada gangguan, dapat menyebabkan orang bisa tercekik dan bisa mati dikarenakan rima glotis ny tertutup. M.cricoarytenoideus posterior dikenal sebagai safety muscle of larynx, dan m.cricoarytenoideus lateralis berfungsi untuk menutup rima glotis. Dalam cavum laryngis terdapat : 1. Plica vocalis = pita suara asli 2. Plica ventricularis = pita suara palsu Plica vocalis adalah pita suara yang lig.ventricularis. terbentuk dari lipatan mucusa lig.vocale dan

Bidang antara plica vocalis kiri dan kanan disebut dengan rima glotis, sedangkan antara kedua plica ventriculi disebut rima ventriculi Pada rima glotis terdapat m.vocalis, m.cricoarytenoideus posterior dan disamping nya m.thyroarytenoideus.

Rima glotis terbuka disebut abduksi plica vocalis, sedangkan rima glotis menutup yang menyebabkan udara tidak bisa masuk disebut adduksi plica vocalis yang terjadi bila m.cricoarytenoideus posterior relaksasi.

Menjelaskan Anatomi Mikroskopis

Rongga hidung :

Vestibulum: bagian paling anterior dan paling lebar dari rongga hidung. Di sekitar permukaan dalam nares terdapat banyak kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Di dalam vestibulum, epitelnya tidak berlapis tanduk lagi dan beralih menjadi epitel respirasi sebelum memasuki fosa nasalis. Fosa nasalis (Cavum Nasi): dari masing-masing dinding lateral terdapat concha. Concha media dan inferior ditutupi oleh epitel respirasi sedangkan concha superior ditutupi epitel olfaktorius khusus. Di dalam lamina propria concha terdapat plexus vena besar yang dikenal sebagai badan pengembang (swell bodies)

Saluran pernafasan atas :

II.

Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Saluran Napas Atas

Proses Sistem Pernapasan/Respirasi Pada Manusia Pengertian pernafasan atau respirasi adalah suatu proses mulai dari pengambilan oksigen, pengeluaran karbohidrat hingga penggunaan energi di dalam tubuh. Menusia dalam bernapas menghirup oksigen dalam udara bebas dan membuang karbondioksida ke lingkungan. Respirasi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu : 1. Respirasi Luar yang merupakan pertukaran antara O2 dan CO2 antara darah dan udara. 2. Respirasi Dalam yang merupakan pertukaran O2 dan CO2 dari aliran darah ke sel-sel tubuh. Dalam mengambil nafas ke dalam tubuh dan membuang napas ke udara dilakukan dengan dua cara pernapasan, yaitu : 1. Respirasi / Pernapasan Dada y Otot antar tulang rusuk luar berkontraksi atau mengerut y Tulang rusuk terangkat ke atas y Rongga dada membesar yang mengakibatkan tekanan udara dalam dada kecil sehinggaudara masuk ke dalam badan. 2. Respirasi / Pernapasan Perut y Otot difragma pada perut mengalami kontraksi y Diafragma datar y Volume rongga dada menjadi besar yang mengakibatkan tekanan udara pada dada mengecil sehingga udara pasuk ke paru-paru. Normalnya manusia butuh kurang lebih 300 liter oksigen perhari. Dalam keadaan tubuh bekerja berat maka oksigen atau O2 yang diperlukan pun menjadi berlipat-lipat kali dan bisa sampai 10 hingga 15 kalilipat. Ketika oksigen tembus selaput alveolus, hemoglobin akan mengikat oksigen yang banyaknya akan disesuaikan dengan besar kecil tekanan udara. Pada pembuluh darah arteri, tekanan oksigen dapat mencapat 100 mmHg dengan 19 cc oksigen. Sedangkan pada pembuluh darah vena tekanannya hanya 40 milimeter air raksa dengan 12 cc oksigen. Oksigen yang kita hasilkan dalam tubuh kurang lebih sebanyak 200 cc di mana setiap liter darah mampu melarutkan 4,3 cc karbondioksida / CO2. CO2 yang dihasilkan akan keluar dari jaringan menuju paruparu dengan bantuan darah. Proses Kimiawi Respirasi Pada Tubuh Manusia : 1. Pembuangan CO2 dari paru-paru : H + HCO3 ---> H2CO3 ---> H2 + CO2 2. Pengikatan oksigen oleh hemoglobin : Hb + O2 ---> HbO2 3. Pemisahan oksigen dari hemoglobin ke cairan sel : HbO2 ---> Hb + O2 4. Pengangkutan karbondioksida di dalam tubuh : CO2 + H2O ---> H2 + CO2

III.

Memahami dan Menjelaskan Rinitis Alergi

Definisi Rinitis alergi menurut WHO (2001) adalah kelainan pada hidung setelah mukosa hidung terpapar oleh alergen yang diperantarai oleh IgE dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal pada hidung dan hidung tersumbat. Klasifikasi Ada 2 jenis rhinitis alergika: 1. Rhinitis alergika perennial 2. Rhinitis alergika seasonal Rhinitis Alergika Perennial y Alergi terjadi sepanjang tahun y Alergen yang memicu terutama debu, bulu binatang, tungau, bau bahan-bahan kimia. Alergen ini ditemui sepanjang tahun Rhinitis Alergika Seasonal y Alergi terjadi pada musim-musim tertentu y Alergen berupa serbuk sari bunga, kayu, rumput dll Berdasarkan frekuensi serangan, WHO Initiative Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma 2000 membagi rinitis alergi menjadi 2 jenis : 1. Yaitu intermiten, bila gejala <4 hari tiap minggu atau <4 minggu 2. Persisten , bila gejala >4 hari tiap minggu atau >4 minggu. Epidemiologi dan etiologi Laporan menunjukkan sekitar 14% penduduk di Amerika Serikat mengalami penyakit ini. Dua faktor utama yang dapat menimbulkan manifestasi RA adalah sensitivitas terhadap alergen dan keberadaan alergen di lingkungan. RA dapat bersifat musiman dan tahunan. Alergen inhalan merupakan alasan utama untuk kedua hal tersebut. Sekitar 20% kasus musiman, 40% sepanjang tahun, dan 40% campuran keduanya. Penyebab RA tersebut adalah serbuk sari di udara (biasa terjadi di musim semi), rumput (di awal dan akhir musim panas). Sedangkan pada RA yang bersifat sepanjang tahun dapat dikarenakan tungau debu rumah, jamur, dan bulu hewan. Patogenesis Pajanan terhadap alergen pada orang atipik menyebabkan produksi IgE dan infiltrasi mukosa hidung oleh sel-sel inflamasi. Reaksi klinis pada paparan ulang dengan alergen disebut sebagai fase respon awal dan fase respon alergi akhir. Pelekatan IgE pada permukaan sel mast oleh alergen menginisiasi respon awal, yang dikarakterisasikan dengan terjadinya degranulasi sel

mast dan pengeluaran mediator inflamasi, seperti histamin, prostaglandin E2, dan leukotrien sisteinil. Target di mukosa hidung adalah kelenjar mukus, saraf, pembuluh darah dan sinus vena. Respon akhir terjadi setelah 4-8 jam terpapar oleh alergen dan disertai dengan infiltrasi sel T yang mensekresi sitokin dan eosinofil dengan sekresi protein, protein dengan sifat kation dan leukotrien yang dapat menyebabkan kerusakan epitel. Hal ini akan menimbulkan gejala klinis dan histologi yang nyata pada alergi yang kronik. Manifestasi klinis Gejala klinik rinitis alergi, yaitu : Bersin patologis. Bersin yang berulang lebih 5 kali setiap serangan bersin. Rinore. Ingus yang keluar. Gangguan hidung. Hidung gatal dan rasa tersumbat. Hidung rasa tersumbat merupakan gejala rinitis alergi yang paling sering kita temukan pada pasien anak-anak. Gangguan mata. Mata gatal dan mengeluarkan air mata (lakrimasi). Allergic shiner. Perasaan anak bahwa ada bayangan gelap di daerah bawah mata akibat stasis vena sekunder. Stasis vena ini disebabkan obstruksi hidung. Allergic salute. Perilaku anak yang suka menggosok-gosok hidungnya akibat rasa gatal Allergic crease. Tanda garis melintang di dorsum nasi pada 1/3 bagian bawah akibat kebiasaan menggosok hidung

Diagnosis Anamnesis Pada anamnesis umumnya ditanyakan hal-hal seperti berikut : a. Kapan gejala timbul dan apakah mulainya mendadak atau berangsur. Umur permulaan timbulnya gejala dapan menuntun kita untuk membedakan apakah kondisi tersebut
9

b.

c.

d.

e. f. g. h.

i. j.

k.

diperantarai IgE atau tidak. Sebagai contoh, lebih dari 90% pasien dengan gejala rinitis yang mucul sebelum umur 10 tahun menunjukkan tes kulit yang positif, sedangkan pada pasien yang gejalanya timbul setelah 40 tahun kurang dari 40% yang menunjukkan sensitivitas terhadap alergen. Karakter, lama. Frequensi dan beratnya gejala. Utrikaria akut lebih mungkin disebabkan oleh alergen dibandingkan untikaria yang kronik. Frequensi dan beratnya gejala diperlukan untuk menentukan apakah diperlukan untuk menentukan apakah diperlukan pengobatan terus menerus atau hanya saat timbulnya gejala. Saat timbulnya gejala. Apakah keluhan paling hebat di waktu pagi, atau tidak menentu. Alergi dapat intermiten, setiap tahun, atau berhubungan dengan musim. Di Indonesia, karena tidak ada musim gugur, semi, dingin atau panas, keluhan lebih banyak menetap sepenjang tahun. Gejala yang menetap sepanjang tahun biasanya di hubungkan dengan aeroalergen seperti tungau debu rumah, kecoa, jamur, atau serpihan kulit binatang peliharaan. Pekerjaan dan hobi. Keluhan pasien dapat saja timbul saat berada di rumah, di sekolah, atau di tempat kerja. Sekitar 5% kasus asma berhubungan dengan tempat kerja. Demikian juga dengan kejadian pajanan lateks, binatang percobaan, atau produk kimia di tempat kerja. Bagaimana perjalanan penyakit dari permulaan sampai sekarang, apakah bertambah baik, tidak berubah, atau bertambah berat. Bagaimana pengaruh pengobatan sebelumnya. Adakah jangka waktu palinglama tanpa serangan, bagaimana dan dimana. Apakah timbul keluhan setelah mengeluarkan tenaga. Faktor-faktor yang memperngaruhi serangan penting ditanyakan dalam rangka penanganan pasien, misalnya faktor musim, faktor tempat, faktor hewan, faktor kelelahan, kurang tidur, penghentian cuaca, hawa dingin, debu, makanan, obat, emosi, kehamilan asap bau-bauan, dan lain-lain. Kebiasaan merokok, dan beberapa batang sehari. Dalam usaha mencari alergen, hubungan antara alergi dengan waktu dan tempat sangat penting. Dengan mengenal timbulnya gejala pada waktu tertentu, kecurigaan akan penyakit alergi lebih dipertegas. Begitu juga halnya dengan faktor tempat. Dalam hal ini kita harus mempunyai pengetahuan dengan alergen sekeliling pasien. untuk itu yang ditanyakan adalah tentang : - Keadaan rumah, apakah sudah tua, masih baru, dan kelembabannya. - Kamar tidur, karena di tempat ini banyak dijumpai D, pteronyssinus. - Keadaan sekeliling pasien, apakah banyak hewan peliharaan seperti anjing, kucing, burung, dan sebagainya. Pada pasien asama atau alergi saluran nafas lain ditanyakan juga tentang dahak : jumlahnya (banyak, sedang, sedikit), warnanya ( putih, kuning, hijau), kekentalan (encer, kental).

10

l.

Pengaruh terhadap kualitas hidup. Apakah keluhan tersebut mempengaruhi pekerjaan, absensi sekolah, menganggu aktivitas olahraga atau hobi lainnya, atau mengganggu tidur. m. Perlu juga ditanyakan riwayat alergi pada keluarga, apakah ada keluarga sedarah yang menderita asma, rinitis, eksim, alergi makanan, atau alergi obat.

Pemeriksaan fisis Pemeriksaan fisis yang lengkap harus dibuat, dengan perhatian di tujukan terhadap penyakit alergi bermanifestasi kulit, konjungtiva, nasofaring, dan paru. Kalau seseorang datang dengan keluhan hidung, maka perhatian lebih lanjut di tujukan lagi terhadap pemeriksaaan hidung dan kerongkongan, baik dari luar maupun dari dalam rongga hidung. Hidung Pada pemeriksaan hidung bagian luar di bidang alergi ada beberapa tanda yang sudah baku, walaupun tidak patognomonik, misalnya : allergic salute, yaitu pasien dengan menggunakan telapak tangan menggosok ujung hidungnya kearah atas untuk menghilangkan rasa gatal dan melonggarkan sumbatan ; allergic crease, garis melintang akibat lipatan kulit ujung hidung. Kemudian allergic facies, terdiri dari pernapasan mulut, allergic shiners, dan kelainan gigi-geligi. Bagian dalam hidung diperkisa dengan menggunakan spekulum hidung dengan bantuan senter untuk menilai warna mukosa, jumlah dan bentuk sekret, edema, polip hidung, dan abnormalitas anatomi seperti deviasi septum. Mulut dan orofaring Pemeriksaan ditijukan untuk menilai eritema, edema, hipertrofi tonsil, post nasal drip. Pada rinitis alergi, sering terlihat mukosa orofaring kemerahan, edema atau keduanya. Oral trush juga perlu diperhatikan pada pasien yang menggunakan kortikosteroid inhalasi. Palatum yang cekung kedalam, dagu yang kecil, serta tulang maksila yang menonjol kadang disebabkan oleh penyakit alergi yang kronik. Dada Diperiksan secara inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi, baik terhadap organ paru maupun jantung. Pada waktu serangan asma kelainan dapat berupa hiperinflasi, penggunaan otot bantu pernafasan dan mengi, sedangkan dalam keadaan normal mungkin tidak ditemukan kelainan.

Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan laboratorium hanya memperkuat dugaan adanya penyakit alergi, jadi tidak untuk menetapkan diagnosis. Selain itu, pemeriksaan lab juga dipakai untuk pemantauan pasien, misalnya untuk menilai timbulnya penyulit penyakit dan hasil pengobatan.
11

Jumlah leukosit dan hitung jenis sel Pada penyakit alergi jumlah leukosit normal, kecuali kalau disertai infeksi. Sel eosinofil pada sekret konjungtiva, hidung dan sputum. Semasa periode simtomatik sel eosinofil banyak dalam sekret, tetapi kalau ada infeksi, sel neutrofil lebih dominan. Serum IgE total Meningkatnya serum IgE total menyokong adanya penyakit alergi, tetapi hanya didapatkan pada sekitar 60-80% pasien. IgE Spesifik Dilakukan untuk mengukur IgE terhadap alergen tertentu secara in vitro dengan cara RAST (radio allergo sorbent test) atau ELISA ( enzym linked immuno sorbent assay). Keuntungan pemeriksaan IgE spesifik dibandingkan tes kulit adalah resiko pasien tidak ada dan hasilnya kuantitatif, tidak dipengaruhi obat atau keadaan kulit, alergen lebih stabil. Tes Kulit Tes kulit sebagai sarana penunjang diagnosis penyakit alergi, telah dilakukan sejak lebih 100 tahun yang lalu, karena cara pelaksanaannya cukup sederhana dan terbukti mempenyai koralasi yang baik dengan kadar IgE spesifik atau dengan tes provokasi. Tes tusuk (prick test) Pembacaan dilakukan setelah 15-20 menit dengan mengukur diameter bentol dan eritema yang timbul, juga pseupoda yang terjadi. Hasil negatif, didapatkan bila hasil tes sama dengan kontrol negatif. Hasil positif dinilai berdasarkan bantol atau eritema dengan penilaian sebagai berikut : Hasil negatif = sama dengan kontrol negatif. Hasil +1 Hasil +2 Hasil +3 Hasil +4 = 25% dari kontrol positif. = 50% dari kontrol positif. = 100% dari kontrol positif. = 200% dari kontrol positif.

Tes tempel (patch test) Dilakukan dengan cara menempelkan suatu bahan yang dicurigai sebagai penebab dermatitis alergi kontak. Jika pada penempelan bahan kulit menunjukkan reaksi, mungkin pasien alergi terhadap bahan tersebut, ataupun bahan atau benda lain yang mengandung unsur tersebut. Pembacaan dilakukan setelah 48 jam. Kemudian menunggu selama - 1 jam. Reaksi alergi lebih jelas sesudah 96 jam.
12

0 +/1+ 2+ 3+

= tidak ada reaksi = eritema riingan, meragukan = reaksi ringan ( eritema dengan edema ringan) = reaksi kuat (papular eritema dengan edema) = reaksi sangat kuat (vesikel atau bula)

Tes Provokasi Tes provokasi adalah tes alergi dengan cara memberikan alergen secara langsung kepada pasien sehingga timbul gejala. Tes provokasi nasal Pada tes ini diberikan pada mukosa hidung baik dengan disemprotkan atau menghisap alergen yang kering melalui satu lubang hidung sedang hidung yang lain di tutup. Tes dianggap positif bila dalam beberapa menit timbul bersin-bersin, pilek, hidung tersumbat, batuk, atau pada kasus berat menjadi gejala yang sama. Pada pemeriksaan hidung tampak bengkak sehingga menyumbat rongga hidung. Tes provokasi bronkial Digunakan untuk tes pada pasien dengan asma dengan rangsangan yang bersifat alergen maupun non alergen. Diagnosis Banding Rinitis alergika harus dibedakan dengan: 1. Rinitis vasomotor 2. Rhinitis bacterial 3. Rinitis virus 4. Influenza (Flu)

13

Perbedaan rhinitis alergika dan influenza: 1. Rinitis Alergi ( RA ) : Sesudah kontak dengan hal-hal pencetus alergi langsung timbul gejala. Influenza ( I ) : Sesudah masuknya virus influenza selama 1 3 hari baru gejal timbul. 2. RA : Memiliki gejala hidung yang berlendir encer tanpa disertai demam. I : Lendir dari encer / cair, mengental kekuningan dan disertai dengan demam. 3. RA : Serangan yang terjadi dapat dalam kurun waktu selama masih ada kontak dengan penyebab dan belum diobati. I : Serangan 5 6 hari tergantung daya tahan tubuh dan efektifitas Komplikasi rhinitis alergi yang sering adalah : 1. Polip Hidung Beberapa peneliti mendapatkan bahwa alergi hidung merupakan satu faktor penyebab terbentuknya polip hidung 2. Otitis media yang sering residif, terutama pada anak-anak 3. Sinusitis paranasan 4. Asma bronkial. Pasien alergi hidung memiliki resiko 4 kali lebih besar mendapat asma bronkial. Kedua komplikasi yang terakhir bukanlah sebagai akibat langsung dari rhinitis alergi, tetapi karena adanya sumbatan hidung sehingga menghambat drainase. Prognosis Rhinitis Alergika Prognosis Rhinitis Alergika sulit dipastikan. Terdapat kesan bahwa gejala-gejala klinis alergika berkurang dengan bertambahnya usia.

14

IV.

Memahami dan Menjelaskan Penatalaksanaan Rinitis Alergi

Terapi Non Farmakologi Pengobatan alergi hidung bergantung pada beberapa faktor. Yang pertama, bila mungkin agen alergi harus disingkirkan. Dalam hal alergi serbuk bunga, pasien harus mengadakan perubahan lingkungan yang sesuai seperti, mencegah paparan yang tak perlu terhadap serbuk rumputrumputan. Pemakaian AC dirumah atau dikendaraan, demikian pula penggunaan filter udara listrik dapat sangat membantu. Pasien yang peka terhadap debu harus hidup dalam lingkungan sebersih mungkin, setiap ruangan sungguh-sungguh dijaga bebas dari benda-benda pengumpul debu seperti karpet dan gorden. Pasien yang peka terhadap kapang harus menghindari tidur ditempat yang lelmab seperti, kamar tidur di lantai bawah tanah. Jendela harus tertutup pada malam hari, karena udara malam seringkali mengandung kapang. Pasien yang peka terhadap asap harus menghindari ruanan penuh asap, serta hubungan dengan perokok dalam ruang tertutup, seperti mobil. Pasien yang diketahui peka terhadap makanan tertentu harus berusaha menyingkirka makanan tersebut dari diet mereka. Hal ini mungkin tidak mudah, karena makanan olahan seringkali mengandung beberapa zat, dimana informasi mengenai zat-zat tersebut seringkali tidak diketahui konsumen. Terapi Farmakologi Antihistamin Terapi simtomatis dilakukan melalui pemberian antihistamin dengan atau tanpa vasokonstriktor atau kortikosteroid peroral atau lokal. Terdapat lima kelas antihistamin, dan mungkin perlu dilakukan uji coba sebelum menentukan mana yang paling efektif dengan efek samping terkecil. Antihistamin kelas H1 adalah obat terpilih dalam penanganan rhinitis alergi. Obat ini mengganggu kerja histamin dengan menghambat tempat histamin H1. Pseudoefedrin dan fenilpropanolamin oral juga dapat digunakan bula gejala utama thinitis alergi berupa kongesti. Obat ini efektif digunakan bersama antihistamin karena memiliki efek samping berupa rangsangan berlebihan dan insomnia. Natrium kromolin intranasal dapat digunakan sebagai profilaksis, karena obat ini dapat menghambat pelepasan histamin dari sel mast paru-paru dan tempat-tempat tertentu.

15

Tabel Klasifikasi Antihistamin Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 4 Kelas 5 Kortikosteroid Berdasarkan pemakaiannya, kortikosteroid dibagi menjadi 2 yaitu topikal dan sistemik. Kortikosteroid topikal menjadi pilihan pertama untuk penderita rinitis alergi dengan gejala sedang sampai berat dan persisten (menetap), karena mempunyai efek antiinflamasi jangka panjang. Kortikosteroid topikal efektif mengurangi gejala sumbatan hidung yang timbul pada fase lambat. Efek spesifik kortikosteroid topikal antara lain menghambat fase cepat dan lambat dari rinitis alergi, menekan produksi sitokin Th2, sel mast dan basofil, mencegahswitching dan sintesis IgE oleh sel B, menekan pengerahan lokal dan migrasi transepitel dari sel mast, basofil, dan eosinofil, menekan ekspresi GM- CSF, IL-6, IL-8, RANTES, sitokin, kemokin, mengurangi jumlah eosinofil di mukosa hidung dan juga menghambat pembentukan, fungsi, adhesi, kemotaksis dan apoptosis eosinofil. Studi meta-analisis oleh Weiner JM dkk, seperti dilansir dariBritish Medical Journal 1998, menyimpulkan bahwa kortikosteroid intranasal lebih baik digunakan sebagai terapi lini pertama rinitis daripada antihistamin, ditilik dari segi keamanan dancos t- effectiv e-nya. Kortikosteroid sistemik hanya digunakan untuk terapi jangka pendek pada penderita rinitis alergi berat yang refrakter terhadap terapi pilihan pertama. Dekongestan Dekongestan dapat mengurangi sumbatan hidung dan kongesti dengan cara vasokonstriksi melalui reseptor adrenergik alfa. Preparat topikal bekerja dalam waktu 10 menit, dan dapat bertahan hingga 12 jam. Efek samping adalah rasa panas dan kering di hidung, ulserasi mukosa, serta perforasi septum. Yang terakhir jarang terjadi. Takifilaksis dan gejalarebound (rinitis medikamentosa) dapat terjadi pada pemakaian dekongestan topikal jangka panjang.Efek terapi dari preparat oral dirasakan setelah 30 menit dan berakhir 6 jam kemudian, atau dapat lebih lama (8-24 jam) bila bentuk sediaanya adalah tablet lepas lambat (sustained release). Efek samping berupa iritabilitas, pusing melayang (dizziness), sakit kepala, tremor, takikardi, dan insomnia. Penstabil Sel Mast Contoh golongan ini adalah sodium kromoglikat. Obat ini efektif mengontrol gejala rinitis dengan efek samping yang minimal. Sayangnya, efek terapi tersebut hanya dapat digunakan
16

Etanolamin adalah antagonis H1 yang sangat poten dan efektif. ES : terutama sedasi, gangguan pada saluran cerna jarang terjadi Etlendiamin adalah antagonis H1 yang sangat efektif. ES : gangguan saluran cerna Alkilamin merupakan salah satu antagonis H1 yang paling efektif, jarang menimbulkan sedasi. Piperazin adalah antagonis H1 dengan masa kerja memanjang Fenotiazin addalah antagonis H1 dengan efek sedatif berat

sebagai preventif. Preparat ini bekerja dengan cara menstabilkan membran mastosit dengan menghambat influks ion kalsium sehingga pelepasan mediator tidak terjadi. Kelemahan lain adalah frekuensi pemakaiannya sebanyak 6 kali per hari sehingga mempengaruhi kepatuhan pasien Immunoterapi Mekanisme immunoterapi dalam menekan gejala rinitis adalah dengan cara mengurangi jumlah IgE, neutrofil, eosinofil, sel mast, dan limfosit T dalam peredaran darah. Salah satu contoh preparat ini adalah omalizumab. Omalizumab merupakan antibodi anti-IgE monoklonal yang bekerja dengan mengikat IgE dalam darah. Penelitian menunjukkan, omalizumab berhasil menurunkan kadar IgE bebas dan memperbaiki gejala rinitis. Uji klinis fase II memaparkan, dosis omalizumab adalah 300 mg secara subkutan, 1 kali setiap 3-4 minggu. Secrist H dkk dalam Journal of Experimental Medicine 2006 memaparkan, immunoterapi dapat mengurangi IL-4 yang diproduksi oleh limfosit T CD4+. Dengan demikian, produksi IgE pun akan berkurang.

17

V.

Memahami Anatomi Pernafasan Menurut Agama Islam

Berwudhu dapat melindungi seseorang dari kuman penyakit. Penelitian membukatikan bahwa jumlah kuman pada orang yang berwudhu lebih sedikit dibanding orang yang tidak berwudhu. Para ilmuwan membuktikan bahwa wudhu dapat mencegah lebih dari 17 penyakit seperti influenza, batuk rejan, radang amandel, penyakit- penyakit telinga, penyakit-penyakit kulit. Dalam berwudhu ada istilah istinsyaq dan istintsar. Istinsyaq adalah menghirup air ke dalam hidung sedangkan istintsar adalah mengeluarkan air nafasnya. Rasulullah sangat menyempuranakan kedua perbuatan tersebut. Jumlah kuman di dalam hidung akan berkurang setengahnya setelah istinsyaq pertama lalu berkurang menjadi seperempatnya setelah istinsyaq kedua dan menjadi sangat sedikit setelah istinsyaq ketiga. Penelitian menyebutkan, hidung manusia setelah bersih dari kuman setelah istinsyaq akan tetap bersih selama 5 jam sebelum akhirnya tercemar lagi. Oleh karena itu manusia perlu membersihkannya lagi dengan cara wudhu yang disertai istinsyaq. Istinsyaq berulang kali setiap akan sholat adalah cara efektif untuk membersihkan, mensterilkan, dan mengurangi kuman-kuman yang bersembunyi di dalamnya. Rasulullah SAW bersabda, Sempurnakanlah wudhu, ratakanlah air di antara jarijemari, bersunguhlah dalam istinsyaq kecuali kamu berpuasa (HR Bukhari dan Muslim).

18

Daftar Pustaka y y y y y y Adams, Boies, Higler.1997. Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. EGC: Jakarta Sherwood Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem Edisi 2. EGC: Jakarta Dr.H.Inmar Raden. Anatomi Kedokteran. Ganong, William F. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 20. EGC: Jakarta http://www.scribd.com/doc/28061419/Skenario-I http://www.scribd.com/doc/31033909/Rhinitis-Alergi

19