Anda di halaman 1dari 4

FISIOLOGI GINJAL SEBAGAI REABSORBSI (GUYTON) Sewaktu filtrate glomerulus memasuki tubulus ginjal, filtrate ini mengalir melalui

bagian- bagian tubulus secara berurutan, yaitu tubulus proksimalis ansa henle- tubulus distalis-tubulus koligentes-dan akhirnya duktus koligentes. Disepanjang jalan yang dilaluinya beberapa zat direabsorbsi secara selektif dari tubulus kembali ke darah, sedangkan yang lain akan disekresikan dari darah ke dalam lumen tubulus. Reabsorbsi tidak seperti filtrasi glomerulus yang secara relative tidak selektif, reabsorbsi tubulus sangat selektif. Beberapa zat, seperti glukosa dan asam amino direabsorbsi hampir sempurna dalam tubulus. Banyak ion dalam plasma, seperti natrium, klorida dan bikarbonat juga sangat direabsorbsi, tetapi kecepatan reabsorbsinya bervariasi bergantung pada kebutuhan tubuh. Sebaliknya produk buangan tertentu, seperti ureum, dan kreatinin, sulit direabsorbsi dari tubulus dan diekskresi dalam jumlah yang relative besar. Dibawah ini table mengenai jumlah zat yang direabsorbsi oleh tubulus ginjal. (Guyton,2008) Molekul /zat Jumlah difiltrasi 180 4.320 25.560 19.440 756 46,8 1,8 yang Jumlah yang Jumlah yang % muatan yang direabsorbsi diekskresi terfiltrasi yang direabsorbsi 180 0 100 4318 2 >99,9 25.410 150 99,4 19.260 180 99,1 664 92 87,8 23,4 23,4 50 0 1,8 0

Glukosa(g/hari) Bikarbonat(mEq/hari) Natrium (mEq/hari) Klorida(mEq/hari) Kalium(mEq/hari) ureum(g/hari) Kreatinin (g/hari)

Sebelum membahas tentang reabsorbsi yang terjadi di tubulus akan dibahas tentang mekanisme aktif dan pasif proses reabsorbsi di tubulus. Mekanisme Transpor aktif dan Pasif Reabsorbsi di Tubulus Bila suatu zat akan direabsorbsi, pertama zat tersebut harus ditranspor (1) melintasi membrane epitel tubulus ke dalam cairan interstisiil ginjal dan kemudian (2) melalui membrane kapiler peritubulus kembali ke dalam darah. Reabsorbsi melalui epitel tubulus kedalam cairan interstisiil meliputi transport aktif atau pasif dengan mekanisme dasar yang sama. Transpor aktif dapat mendorong suatu zat terlarutmelawan gradient elektrokimia dan membutuhkan energy yang berasal dari metabolisme. Transpor yang berhubungan langsung dengan suatu sumber energy, seperti hidrolisis ATP, disebut sebagai transport aktif primer. Suatu contoh adalah pompa natrium kalium ATPase yang berfungsi pada hampir semua bagian tubulus ginjal. Pada sisi basolateral sel sel epitel tubulus membrane sel mempunyai system natrium kalium ATPase ekstensif yang menghidrolisis ATP dan menggunakan energy yang dilepaskan untuk mentranspor ion natrium keluar dari sel masuk ke dalam interstisium. Pada waktu yang bersamaan, kalium ditranspor dari interstisium ke dalam sel. Cara kerja pompa ion ini mempertahankan konsentrasi natrium intrasel tetap rendah dan kalium intrasel tetap tinggi serta

menciptakan suatu muatan negative akhir kira- kira -70 milivolt didalam sel. Reabsorbsi akhir ion natrium dari lumen tubulus kembali ke dalam darah melibatkan setidaknya tiga tahap : 1. Natrium berdifusi melalui membrane luminal ke dalam sel mengikuti suatu gradient elektrokimia yang terbentuk oleh pompa natrium kalium ATPase pada sisi basolateral membrane 2. Natrium di transport melalui membrane basolateral melawan suatu gradient elektrokimia yang ditimbulkan oleh pompa natrium kalium ATPase 3. Natrium, air, dan zat zat lain direabsorbsi dari cairan interstisiil kedalam kapiler peritubulus dengan cara ultrafiltrasi, yaitu suatu proses pasif yang digerakkan oleh gradient tekanan hidrostatik dan tekanan koloid osmotic. (Guyton,2008) Akibat yang ditimbulkan dari reabsorbsi natrium, ada proses solvent drag yaitu proses reabsorbsi natrium yang diikuti oleh reabsorbsi air. Selain Air, sewaktu natrium direabsorbsi melalui sel epitel tubulus, ion negative seperti klorida ditranspor bersama dengan natrium karena adanya potensial listrik. Dengan demikian, transport ion natrium bermuatan positif keluar dari lumen menjadi bermuatan negative, dibandingkan dengan cairan interstisiil. Hal ini menyebabkan ion klorida berdifusi secara pasif melalui jalur paraselular. Reabsorbsi tambahan ion klorida timbul karena terjadinya gradient konsentrasi klorida ketika air direabsorbsi dari tubulus dengan cara osmosis, sehingga mengkonsentrasikan ion klorida dalam lumen tubulus. Jadi reabsorbsi aktif natrium berpasangan erat dengan reabsorbsi pasif klorida melalui potensial listrik dan gradient konsentrasi klorida. Ureum juga direabsorbsi secara pasif dari tubulus tetapi jauh lebih sedikit daripada ion klorida. Ketika air direabsorbsi dari tubulus , konsentrasi ureum dalam lumen tubulus meningkat. Hal ini menimbulkan gradient konsentrasi yang menyebabkan reabsorbsi ureum. Akan tetapi ureum tidak bisa memasuki tubulus semudah air, kira kira hanya satu setengah ureum yang difiltrasi melalui glomerulus, akan direabsorbsi dari tubulus. Ureum yang masih tersisa akan masuk ke dalam urin. (Guyton, 2008) Dibawah ini skema mekanisme reabsorbsi air, klorida dan ureum yang bersamaan dengan reabsorbsi natrium.
Reabsorbsi Na+

Reabsorbsi H2O

Konsentrasi klorida luminal

Konsentrasi ureum luminal

Reabsorbsi klorida pasif

Reabsorbsi ureum pasif

Reabsorpsi di Sepanjang Bagian Nephron 1. Reabsorbsi Tubulus Proksimal Secara normal sekitar 65 % dari muatan natrium dan air yang difiltrasi, dan nilai persentase yang lebih rendah dari klorida, akan direabsorbsi oleh tubulus proksimal sebelum mencapai ansa Henle. Tubulus proksimal mempunyai kapasitas yang besar untuk reabsorpsi aktif dan pasif. Kapasitas reabsorpsi yang besar dari tubulus proksimal adalah hasil dari sifat- sifat selularnya yang khusus.Sel epitel tubulus proksimal bersifat sangat metabolic dan mempunyai sejumlah besar mitokondria untuk mendukung proses transport aktif yang kuat. Selain itu, sel tubulus proksimal mempunyai banyak brush border pada sisi lumen membrane, dan juga labirin interselular serta kanalis basalis yang luas: semuanya ini menghasilkan area permukaan membrane yang luas pada sisi lumen dan sisi basolateral dari epitel untuk mentranspor ion natrium zat zat lain dengan cepat. Pada pertengahan pertama tubulus proksimal, natrium direabsorbsi dengan cara ko transport bersama sama dengan glukosa, asam amino dan zat terlarut lainnya. Ko transport ini dibantu oleh adanya protein di dinding lumen tubulus. Tetapi pada pertengahan kedua dari tubulus proksimal, hanya sedikit glukosa dan asam amino yang direabsorbsi. Pertengahan kedua tubulus proksimal memiliki konsentrasi klorida yang relative tinggi ( 140 mEq/L) dibandingkan dengan bagian awal tubulus proksimal(105 mEq/L) karena saat natrium direabsorbsi, natrium membawa glukosa, bikarbonat dan ion organic pada bagian awal tubulus proksimal, meninggalkan suatu larutan yang mempunyai konsentrasi klorida yang sangat tinggi. Zat terlarut organic tertentu seperti glukosa , asam amino, dan bikarbonat lebih banyak direabsorbsi daripada air, sehingga konsentrasi zat-zat tersebut menurun dengan nyata disepanjang tubulus proksimal. Zat zat terlarut organic yang lain yang kurang permeable dan tidak direabsorbsi secara aktif seperti, kreatinin konsentrasinya meningkat disepanjang tubulus.

2. Reabsorbsi di Lengkung Henle Ansa henle terdiri dari tiga segmen fungsional yang berbeda, antara lain segmen tipis desenden, segmen tipis asenden, dan segmen tabal asenden. Bagian segmen desenden tipis sangat permeable terhadap air dan sedikit permeable terhadap sebagaian zat terlarut termasuk ureum dan kreatinin. Sekitar 20 % dari air yang difiltrasi akan direabsorbsi di ansa henle dan hampir semuanya terjadi di lengkung tipis asenden. Lengkung asenden termasuk bagian tipis dan bagian tebal sebenarnya tidak permeable terhadap air, suatu karakteristik yang penting untuk memekatkan urin. Segmen tebal dari ansa henle yang dimulai dari asenden mempunyai aktivitas metabolic tinggi dan mampu melakukan reabsorbsi aktif natrium, klorida dan kalium. Sekitar 25 % dari muatan natrium, klorida, dan kalium yang difiltrasi akan direabsorbsi di ansa henle, kebanyakan dilengkung tebal asenden. Pada segmen tebal asenden juga terjadi reabsorbsi paraselular yang bermakna dari katio, seperti Mg2+, Ca++, Na+, dan K+ yang disebabkan oleh muatan lumen tubulus yang lebih positif dibandingkan cairan interstisiil. (Guyton,2008)