Anda di halaman 1dari 5

Teknologi Panen Air Hujan (Rain harvesting), sebagai teknologi konservasi air untuk mensiasati kekeringan dan banjir.

Indonesia menduduki urutan nomor lima negara yang kaya air di dunia, memiliki curah hujan cukup tinggi (sekitar 2.000-4.000 mm/tahun), Tingginya curah hujan yang terjadi di Indonesia, tentunya sangat cocok dengan proses panen dan pemanfaatan hujan. Lalu muncul pertanyaan, untuk apa kita panen dan manfaatkan air hujan, sementara Indonesia kaya akan air. Jawabnya adalah, untuk menjaga keberadaan air tanah yang kini mulai terancam akibat meningkatnya populasi dan eksploitasi air tanah yang berlebih. Rain harvesting atau panen air hujan sebenarnya sudah ada sejak lama, tapi mungkin belum banyak yang tahu. Apa, sih , panen air hujan itu? Sederhananya, panen air hujan adalah menampung air hujan yang turun, untuk dimanfaatkan lagi. Misalnya, untuk menyiram tanaman, mencuci kendaraan, mengepel lantai, atau menyiram toilet. Idealnya tiap rumah minimal mengalokasikan 25 persen dari luas lahannya untuk kolam penampungan air hujan bila satu rumah memiliki tangki penampungan air hujan berkapasitas 10 meter kubik, atau yang diameternya 5 persen dari luas bangunan rumah, tentunya air endapan itu bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak usah memikirkan cara yang rumit, kita pakai cara yang sederhana saja. Siapkan wadah penampungan. Bisa membuat bak, seperti bak mandi atau drum plastik. Tempatkan di bawah talang air, untuk menampung air hujan yang mengalir dari atap. Seberapa besar bak atau drum yang harus ditempatkan? Sesuaikan saja dengan kebutuhan dan selera. Untuk menyaring air hujan, tempatkan jaring kawat atau kain kasa, di permukaan bak atau drum. Kemudian taburkan batu-batu koral di atas jaringnya. Batu koral berperan sebagai penyaring air hujan, sebelum ditampung. Kalau Anda punya budget lebih, bisa membuat filter serupa filter air kolam. Jadi air hujan bisa tersaring lebih baik. Dengan demikian, air hujan siap untuk digunakan. Supaya mudah untuk mengambil air dari wadah penampungan, buat saluran dengan pipa, dari wadah ke luar. Lengkapi juga dengan keran. Sebaiknya, manfaatkan air hujan yang sudah ditampung untuk keperluan-keperluan non konsumsi. Tidak disarankan memanfaatkannya untuk air minum, karena diperlukan penelitian lebih lanjut apakah air hujan aman dikonsumsi atau tidak. Satu lagi, jangan lupa juga untuk menutup rapat dan menguras wadah penampungan secara teratur. Supaya tidak jadi sarang nyamuk demam berdarah Contoh perhitungan kebutuhan air dan konstruksi tampungan air Hujan: 1. Perhitungan debit air hujan yang bisa ditangkap

Misal luas atap (A) = 100 m

Intensitas hujan rata-rata (I) = 25 mm/jam = 0,025 m/jam Run off () = 0,9 Koefisien distribusi hujan () = 1 Maka didapatkan debit (Q) = . . I . A = 0,9 . 1 . 0,025 . 100 = 2,25 m Jika diasumsikan dalam sehari terjadi hujan selama 1,5 jam dan 2 kali dalam seminggu, maka debit air hujan yang dapat ditampung adalah Q total = 2,25 . 1,5 . 2 = 6,75 m 2. Perhitungan kebutuhan air rumah tangga dalam 1 minggu

Asumsi kebutuhan sehari-hari: Mandi 152 = 30 liter Wudhu 55 = 25 liter Minum = 8 liter Cuci baju = 20 liter Cuci piring = 5 liter Dll = 37 liter Sehingga total = 125 liter/hari Jika diasumsikan jumlah anggota keluarga 5 orang maka kebutuhan air dalam 1 minggu adalah 125 . 5 . 7 = 4375 liter = 4,375 m Sehingga air hujan yang bisa ditangkap oleh teknologi ini bisa memenuhi kebutuhan air dalam 1 rumah dengan 5 anggota keluarga untuk 1 minggu. Memanen air hujan dapat digunakan untuk mengatasi kekeringan dan banjir. Jika air hujan dikumpulkan semua, banjir lokal bisa ditunda. Bayangkan kalau tiap rumah mempunyai penampungan air hujan, maka run off nya menjadi kecil sekali, Untuk setiap 100 meter persegi atap, bisa dibuat penampungan dengan kapasitas 2 hingga 10 meter kubik. Jika dalam 1 minggu terjadi 2 hingga 3 kali hujan dengan durasi hujan selama 1,5 jam, maka tangki bisa terisi penuh. Hanya saja pemanfaatan air hujan masih terkendala mind set yang berkembang di masyarakat bahwa penggunaan air hujan dianggap kuno Nah , mumpung sekarang musim hujan. Kita panen air hujan, yuk ! Buat mencuci kendaraan atau mengepel lantai, kita gak perlu ambil air PAM atau air tanah. Jadi, kita bisa menghemat pengeluaran untuk air. 3. KONSTRUKSI TAMPUNGAN AIR HUJAN Konstruksi untuk pemanenan air hujan dapat dibuat dengan cepat karena cukup sederhana dan mudah dalam pembuatannya. Komponen-komponen utama konstruksi tanpungan air hujan terdiri dari atap rumah, saluran pengumpul (collector channel), filter untuk menyaring daun-daun atau kotoran lainnya yang terangkut oleh air, dan bak penampung air hujan. Masing-masing komponen tersebut dapat dilihat pada gambar-gambar berikut.

Gambar 1. Teknik panen air hujan dengan atap rumah

Gambar 2. Bak penampung air hujan

Gambar Bak Penampung air hujan sederhana

SISTEM MEMANEN AIR HUJAN GEDUNG DENGAN BIOPORI & SUMUR RESAPAN
Dalam rangka meningkatkan daya resap air tanah, mengurangi dampak banjir dan penerapan sistem pemanen air hujan, setiap gedung perkantoran/mall dapat merancang bangunan yang ramah lingkungan yaknik dilengkapi dengan lubang-lubang resapan (biopori), sumur resapan (bioretensi), dan bak tandon air hujan Lubang Resapan Biopori Biopori adalah lubang-lubang dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai aktifitas organisme di dalamnya seperti cacing, perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah lainnya. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara dan akan menjadi tempat berlalunya air dalam tanah (sumber:biopori.com). Lubang resapan biopori adalah metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi banjir dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Metode ini pertama kali dicetuskan oleh Ir. Kamir R Brata, M.Sc, salah satu peneliti dari Institut Pertanian Bogor (sumber:id.wikipedia.org). Pada perkembangannya peningkatan daya resap air dalam tanah dilakukan dengan membuat lubang pada tanah dan menimbunnya dengan sampah organik untuk menghasilkan kompos. Sampah organik yang ditimbunkan pada lubang ini kemudian dapat menghidupi fauna tanah, yang seterusnya mampu menciptakan pori-pori di dalam tanah. Bioretensi Teknologi bioretensi diaplikasikan dalam bentuk sumur resapan. Sumur bioretensi adalah sumur atau lubang pada permukaan tanah yang dibuat untuk menampung air hujan/aliran permukaan agar dapat meresap ke dalam tanah (sumber: Pedoman Umum Pembangunan Sumur Resapan dalam Rangka Antisipasi Kekeringan). Cara pembuatan sumur bioretensi cukup sederhana, yaitu dengan menggali tanah seluas minimal satu meter persegi dengan kedalaman 2,7 meter. Bagian dasar sumur diisi dengan batu kali dan ijuk setinggi 1,7 meter untuk menahan pondasi. Kemudian di tiap-tiap sisi dinding sumur bagian atas dipasang buis (cetakan beton satu meter persegi dengan empat lubang). Dalam lubang buis itulah dimasukkan batu kali dan ijuk untuk menghindari masuknya sedimen tanah ke dalam sumur. Kemudian lubang sumur ditutup dengan cetakan beton dan ditutup lagi dengan tanah. Sumur bioretensi bisa dibuat di halaman rumah, selokan, trotoar, taman, lahan parkir dan gang-gang sempit yang padat penduduk. Teknologi bioretensi ini merupakan upaya mengendalikan air limpasan sekaligus memanen air hujan pada saat musim kemarau.