Anda di halaman 1dari 19

Model Temu Kembali (Information Retrieval Modelling)

Masalah utama dalam sistem temu kembali adalah menentukan dokumen yang relavan dengan dokumen yang tidak relavam berdasarkan kueri yang dimasukkan. Berikut ini dijelaskan perkembangan beberapa model sistem temu kembali yang telah ditemukan. 1. Formal karakteristik Sistem Temu Kembali Berikut ini adalah model temu kembali informasi yang terdiri dari notasi [D, Q, F, R(qi, dj)]. D adalah himpunan yang terdiri dari logical view bagi koleksi-koleksi dokumen Q adalah himpunan yang terdiri dari logical view bagi kebutuhan informasi user. Representasi tersebut disebut query. F adalah framework bagi representasi dokumen, query, dan hubungannya R(qi, dj) adalah fungsi rangking (peringkat) yang berasosiasi antara bilangan real dengan query qi Q dan representasi dokumen dj D. Rangking tersebut mendefinisikan urutan di antara dokumen-dokumen yang diambil dengan menggunakan query qi. 2. Taksonomi Model Temu Kembali Secara garis besar, pengelompokkan model sistem temu kembali dapat digambarkan secara berikut :

2.5 Model Klasik Temu Kembali Konsep dasar Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam model klasik untuk sistem temu kembali diantaranya : 1. Konsep a. Dokumen direpresentasikan dengan menggunakan indeks term b. Bobot indeks term menunjukkan spesifikasi untuk dokumen tertentu 2. Model klasik terdiri dari Probabilistik Model Boolean Model Boolean dalam sistem temu kembali merupakan model yang paling sederhana. Model ini berdasarkan teori himpunan dan aljabar Boolean. Dokumen adalah himpunan dari istilah (term) dan kueri adalah pernyataan Boolean yang ditulis pada term. Dokumen diprediksi apakah relevan atau tidak. Model ini menggunakan operator boolean. Istilah (term) dalam sebuah kueri dihubungkan dengan menggunakan operator AND, OR atau NOT. Metode ini merupakan metode yang paling sering digunakan pada`mesin penelusur (search engine) karena kecepatannya. Keuntungan menggunakan model Boolean : 1. Model Boolean merupakan model sederhana yang menggunakan teori dasar himpunan sehingga mudah diimplementasikan. 2. Model Boolean dapat diperluas dengan menggunakan proximity operator dan wildcard operator. 3. Adanya pertimbangan biaya untuk mengubah software dan struktur database, terutama pada sistem komersil. Kerugian menggunakan Model boolean : 1. Model Boolean tidak menggunakan peringkat dokumen yang terambil. Dokumen yang terambil hanya dokumen yang benar-benar sesuai dengan pernyataan boolean/kueri yang diberikan Sehingga dokumen yang terambil bisa sangat banyak atau bisa sedikit. Akibatnya ada kesulitan dalam mengambil keputusan 2. Teori himpunan memang mudah, namun tidak demikian halnya dengan pernyataan Boolean yang bisa kompleks. Akibatnya pengguna harus : Model Boolean, Model Vektor dan Model

memiliki pengetahuan banyak mengenai kueri dengan boolean agar pencarian menjadi efisien 3. Tidak bisa menyelesaikan partial matching pada kueri Untuk mengatasi masalah ini, maka dikembangkan operasi pembobotan dokumen berdasarkan frekuensi kemunculan istilah (term) pada dokumen tersebut. Model Boolean juga dikombinasikan dengan content-based navigation dengan menggunakan konsep lattice, dimana shared term dari dokumen yang terambdil sebelumnya digunakan untuk memperbaiki dan meng-expand kueri. Model Vektor Beberapa karakteristik dari mModel vektor dalam sistem temu kembali adalah 1. Model vektor berdasarkan keyterm 2. Model vektor mendukung partial matching dan penentuan peringkat dokumen 3. Prinsip dasar vektor model adalah sebagaii berikut : (a) dokumen direpresentasikan dengan menggunkan vektor keyterm (b) Ruang dimensi ditentukan oleh keyterms (c) Kueri direpresentasikan dengan menggunakan vektor keyterm (d) Kesamaan document-keyterm dihitung berdasarkan jarak vektor 4. Model vektor memerlukan (a) Bobot keyterm untuk vektor dokumen (b) Bobot keyterm untuk kueri (c) Perhitungan jarak untuk vektor document-keyterm 5. Kinerja (a) Efisien (b) Mudah dalam representasi (c) Dapat diimplementasikan pada document-matching Prosedur model ruang vektor dapat dikelompokkan menjadi tiga tahap yaitu : 1. Pengideks-an dokumen 2. Pembobotan indeks, untuk menghasilkan dokumen yang relevan 3. Memberikan peringkat dokumen berdasarkan ukuran kesamaan (similarity measure) Kesimpulan model vektor 1. Muncul sejak tahun 1960

2. Sangat efisien (a) menggunakan metode matrik sparse (b) Menggunkan aljabar linier yang sederhana (c) Mudah dibuktikan 3. Fleksibel (a) Digunakan dalam resolusi kueri (b) Menggunakan kesamaan dokumen (document to document similarity) (c) Menggunakan kluster 4. Sangat populer dan sering digunakan 5. Kerugian (a) Teoritical Frameworknya tidak jelas (b) Menghasilkan indeks yang berdekatan (c) Asumsi yang digunakan adalah independensi index term Pengindeks-an dokumen Beberapa kata dalam sebuah dokumen, tidak menggambarkan isi dari dokumen tersebut., seperti kata the, is. Kata-kata tersebut dikenal dengan nama kata-kata buagan. Dengan menggunakan automatic document indexing, kata-kata buangan tersebut dihilangkan dari dokumen Pembuatan indeks tersebut dapat berdasarkan frekuensi kemunculan istilah dalam sebuah dokumen. Metode Non Linguistic : Probabilistic Indexing

Pembobotan Indeks (Term Weighting) Pembobotan istilah dalam ruang vektor secara keseluruhan berdasarkan single term statistic. Ada tiga faktor utama dalam pembobotan istilah dengan menggunakan ruang vektor : 1. Term frequency factor 2. Collection frequency factor 3. Length normalization factor Ketiga faktor tersebut diatas dikalikan untuk menghasilkan bobot istilah

Skema pembobotan yang paling umum untuk istilah dalam sebuah dokumen adalah dengan menggunakan frekuensi kemunculan Peringkat Dokumen Ukuran kesamaan (similarity) istilah dalam model ruang vektor ditentukan berdasarkan assosiative coefficient berdasarkan inner product dari document vector dan query vector, dimana word overlap menunnjukkan kesamaan istilah. Inner product umumnya sudah dinormalisasi. Metode Ukuran kesamaan yang paling populer adalah cosine coefficient, yang menghitung sudut antara vektor dokumen dengan vektor kueri. Metode ukuran kesamaan lainnya adalah Jaccard and Dice Coeeficient Model Probabilistic Karakteristik model probabilistik dalam sistem temu kembali adalah sebagai berikut : 1. Melakukan pendugaan page relevansi dengan menggunkan probabilistik 2. Mempunyai teoritical framework yang jelas a. Berdasarkan prinsip statistik b. Relevansi dokumen dapat diupdate c. Adanya feed back dari user 3. Ide dasar a. Kueri dapat menghasilkan jawaban yang benar b. Menggunkan indeks term c. Menggunakan pendugaan awal d. Menggunakan initial hasil e. Feed back dari user dapat memperbaiki probabilitas dari relavansi. Kesimpulan model klasik sistem temu kembali : 1. Model Boolean a. Menggunakan nilai biner untuk bobot index term b. Disjuctive Normal Factor c. Tidak mendukung partial matching

d. Tidak ada peringkat dokumen e. Sederhana dan sangat efisien 2. Model Ruang Vektor a. menggunakan bobot index term b. Adanya vektor dokumen dan kueri c. Perhitungan Cosine menentukan kesamaan query-document 3. Model Probabilistik a. Menggunakan pendugaan probabilistik untuk menentukan dokumen yang relevan dengan keyterm yang diberikan b. Menyediakan strong formal framework untuk temu kembali dokumen c. Cukup kompleks d. Kinerjanya lebih efisien dibandingkan dengan model ruang vektor e. Adanya masalah dalam initial fine-tuning phase f. Probability : Menggunakan semantik Pro Kontra Model Klasik sistem temu kembali : 1. Model Boolean a. Pro i. Efisien ii. Mudah diimplementasikan iii. Berguna bagi pengguna yang tidak memiliki pengetahuan banyak mengenai formulasi kueri b. Kontra i. Tidak ada peringkat dokumen (ranking) ii. Tidak mendukung partial matching iii. Secara keseluruhan tergantung kepada definisi keyterm dan pembobotan 2. Model Ruang Vektor a. Pro i. Adanya pembobotan keyterm ii. Mendukung partial matching iii. Adanya peringkat/rangking

iv. Efisien v. Mudah untuk memahami frame work vi. Fleksibel b. Kontra i. Memiliki sedikit formal framework ii. Asumsi yang digunakan adalah keyterm-independence iii. 3. Model Probabilistik a. Model ini tidak bagus dibandingkan dengan model vektor b. Occams razor dapat di gunakan untuk temu kembali c. Digunakan untuk model novel temu kembali 2.6 Model Teori Himpunan Model Himpunan Fuzzy Misalkan U adalah himpunan semesta. Fuzzy subset dari U dikarakteristikkan dengan fungsi keanggotaan (membership function) A , dimana : setiap uU dipetakan kedalam nilai biner [0,1], atau didalam himpunan. Berikut operasi boolean yang berlaku pada model himpunan fuzzy : . Dengan demikian

setiap elemen diberikan nilai biner yang mengindikasikan nilai keanggotaan elemen

Pada sistem temu kembali, model himpunan fuzzy merupakan perluasan dari model Boolean retrieval. Ada beberapa perluasan yang diperoleh dengan menggunakan model himpunan fuzzy : 1. Partially matching, berdasarkan term-term correlation matrix 2. Direpresentasikan seperti thesaurus 3. Melakukan perhitungan berdasarkan perbandingan antara dokumen yang mengandung pasangan term (pair of terms) dengan jumlah dokumen yang mengandung term tersebut

Menurut coupling (Kessler 1963) dan co-citation (Small 1973), himpunan fuzzy didefinisikan dengan basis keyterm, ki, dan membership function untuk dokumen dj dinyatakan dengan

Dokumen Dj merupakan anggota dari himpunan fuzzy pada saat minimal sejumlah keyterms dalam dokumen dekat dengan Ki Extended Boolean Model Prinsip utama dari model Extended Boolean adalah : (d) Dokumen direpresentasikan dalam ruang term berdimensi n (e) Koordinat x, y dan z ditentukan dengan menggunakan bobot term (f) Tergantung pada conjunction atau disjunction : i. Menentukan vektor jarak dari (0,0) ii. Menentukan vektor jarak dari (1,0) (g) Menghitung jarak i. Menggunakan konsep p-norm ii. Perluasan karakteristik dari extended boolean Pembobotan term dan vektor dokumen dalam boolean term-space Koordinat dokumen pada model extended boolean diberikan berdasarkan bobot term. Jumlah term, t , merupakan dimensi ruang (t-dimensional space). Sebagai contoh, koordinat x dinyatakan dengan

Demikian juga untuk koordinat y. Query Pengukuran kesamaan dokumen (document simmilarity)

Kesamaan dokumen dihitung berdasarkan jarak dokumen. Berikut ilustrasi penggunaan operator AND dan OR untuk menghitung jarak :

dengan ilustrasi diatas, maka dapat dinyatakan perhitungan jarak dokumen sebagai berikut :

Query Pengukuran kesamaan dokumen dengan menggunakan p-norm Secara umum, t-dimensional space menggunakan generalized vector norm : p-norm model. Sebuah parameter
1 p ,

merupakan

General

disjuctive

query

(berdasarkan p-norm) :

dan merupakan General conjuctive query (beradsarkan p-norm) :

2.7 Model Aljabar Generalized Vector Space Model Terdapat himpunan t index term dinyatakan dengan (k1,k2,,kt). Asumsikan bahwa wi,j adalah bobot term dalam dokumen dj [Ki,dj] dan wi,j {0,1} (binary). Dan gi(mj) merupakan bobot index term ki dalam minterm m1. Terdapat 2 t minterms merupakan pola yang mungkin muncul. Sebagai contoh :

maka jika diubah menjadi vektor ortogonal menjadi :

Didefinisikan vektor korelasi sebagai berikut :

Sedangkan untuk vektor keyterm dapat dinyatakan dengan

setelah diperoleh vektor keyterm, maka kueri dapat diubah kedalam bentuk vektor minterm, setelah itu dilakukan perhitungan query-document similarities

Sedangkan korelasi index term merupakan perkalian dari vektor term

Latent Semantic Indexing Model Metode temu kembali yang sudah berkembang sebelumnya tidak mampu menangani masalah sinomin dan polysemi. Sinomim adalah kata yang berbeda namun memiliki makna yang sama. Misalnya pengguna menggunkan kata yang berbeda untuk mencari objek yang sama, sebagai contoh kata car dan automobile. Polysemi adalah kata yang sama, namun memiliki makna yang berbeda, sebagai contoh kata jaguar bisa bermakna tipe kendaraan atau nama binatang. Latent Semantic Indexing (LSI) adalah model temu kembali yang mampu memecahkan macalah sinomim. Dengan menggunakan Singular Value Decomposition (SVD) pada sebuah term dengan menggunakan matrik frekuensi term dari dokumen. Dimensi transformasi ruang di-reduce dengan cara memilih nilai singular (singular value) Keuntungan menggunakan model LSI adalah model ini fully automatic dan tidak menggunakan language expertise, akibatnya panjang vektor dokumen menjadi lebih pendek. Dengan membandingkan Model LSI dengan multidimensional scaling, ternyata ruang dokumen (document space) dengan model LSI lebih optimal pada saat menggunakan inner product similarity function demikian juga dengan menggunakan ukuran kesamaan lainnya. Neural Network Model Model Neural Network dapat digambarkan sebagai berikut :

Dengan asumsi yang sama, maka untuk sistem temu kembali model neural network dapat digambarkan sebagai berikut :

Dari gambar diatas, Model Neural Network pada sistem temu kembali dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Temu Kembali (Retrieval) (h) Level aktivasi terdiri dari lapisan query term (i) Level Aktivasi dihubungkan dengan lapisan document term (j) Dilakukan pembobotan pada query term (k) Melakukan aktivasi Propagasi terhadap lapisan dokumen (l) Dilakukan pembobotan pada istilah dalam dokumen (m)Merupakan esensial dari VSM 2. Iterative Procedure (a) Aktivasi berlangsung dari lapisan dokumen ke lapisan term dokumen (b) Aktifasi balik dilakukan kembali ke dalam lapisan term (c) Aktifasi akan berhenti jika bobot (weight) <0

Query Term dan bobot Document Term Dimulai dari lapisan query term, Aktifasi semua node pada lapisan query term: Activation = 1 (maksimum) Pembobotan query term dengan menggunakan normal vector space model

Lalu dilakukan normalisasi, sehingga menjadi

Nilai aktivasi transmisi dari document terms ke document layer o Bobot document term :

o Normalisasi bobot :

o Peringkat

Neural Network dan Latent Semantic Sistem aljabar lainnya yang menggunakan term dependence pada sistem temu kembali adalah : Neural Network Model dan Latent Semantic Indexing. Teknik dasar kedua metode tersebut menggunakan konsep term-space. Peralihan model Neural Network dan Latent Semantic adalah peralihan dari term-space ke higher-order repsentation

Perbedaan term dependencies antara model Neural Network dan Latent Semantic Indexing : 1. Neural Network (a) Merupakan model yang menggunakan analogi kemampuan otak manusia untuk memproses informasi (b) Feedforward neural network (c) Input layer : term (d) Output Layer : dokumen (e) Propagasi aktivasi node term ke dokumen (f) Two-way communication (Komukasi dua arah) 2. Latent Semantic Indexing (a) Menghasilkan lower-dimensional space (b) Term document matrix berdasarkan Singular Value Decomposition (c) Lower rank approximation (d) Memproyeksikan vektor kueri ke dalam lower-dimensional space (e) Menerjemahkan kembali kedalam bentuk dokumen 2.8 Model Peluang Bayesian Network Model probabilistik lainnya pada sistem temu kembali menggunakan : 1. Bayesian Network Directed Acyclic Grap Node merupakan random variabel Arc menyatakan causal relationship Causal relationship merupakan conditional probability Children bergantung pada parent

2. Inference Network 3. Belief Network Bayesian Network 1. Conditional probability

(a) Children bergantung pada parent (b) Probability dari child ditentukan oleh parent (c) Parent berpengaruh pada children (d) Root tidak memiliki parent

2. Bayesian Network (a) kejadian (evidence) berasal dari lebih satu sumber (b) Children memiliki banyak parent Model bayesian Network

Inference Network Model 1. Prinsip Dasar (a) random variable digunakan untuk

i. dokumen ii. index terms iii. user queries (b) random variable untuk dokumen dj i. event of observing document ii. observing document random variable merupakan index term 2. Query Random Variable (a) kejadian dimana permintaan informasi sudah terpenuhi (b) dipengaruhi oleh random variable yang menyatakan dokumen dan index term 3. Peringkat dokumen Berikut ilustrasi model inference Network

Berdasarkan ilustrasi diatas, Model Inference Network pada sistem temu kembali dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Model Inference Network memungkinkan adanya multiple composite queries. a. Operasi boolean pada query node b. Menggunakan prinsip operasi yang sama 2. Tujuan model ini adalah untuk menentukan probability of relevance berdasarkan kueri yang diberikan Peringkat Dokumen (Document Ranking)

Probability distribution 1. prior probabilities 2. dapat ditentukan sendiri 3. tergantung pada asumsi model a. Uniform b. Boolean c. TFIDF Perhatikan ilustrasi dibawah ini :

Menggabungkan Kejadian (evidence) dari berbagai sumber Untuk mengevaluasi kueri boolean Perhatikan ilustrasi dibawah ini : yang berasal dari berbagai sumber

kejadian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Belief Network Model 1. Model ini menggunakan prinsip yang sama dengan inference network 2. Graph : terms, document, queries adalah node dan edge menyatakan relationship atau degree of belief 3. Retrieval dan peringkat (ranking) a. Konsep node b. Peringkat dokumen : konsep matching relationship antara kueri dengan dokumen Notasi Belief Network

Evaluasi Inference dan Network model 1. Persamaan antara inference dan belief network :

i. Kedua model tersebut sama-sama merepresentasikan kejadian yang merupakan peringkat dokumen ii. Kedua model tersebut direpresentasikan dengan menggunkan grap dimana node menyatakan dokumen dan query term 2. Perbedaan i. Inference Network (epitomological view point) ii. Belief Network (set theoritical view point) 3. Secara umum i. Kedua model diatas merupakan model yang sangat baik, baik dari segi praktik maupun teori ii. High standing application : Inquery iii. Sangat populer, namun belum teruji sepenuhnya dan belum banyak diimplementasikan seperti model lainnya.