Anda di halaman 1dari 55

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

TECHNO ECONOMY LABORATORY

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK


LABORATORIUM TEKNO EKONOMI TAHUN AJARAN 2011/2012

2011-2012

ATURAN PRAKTIKUM

1. Praktikan wajib mengikuti seluruh rangkaian praktikum Tekno Ekonomi baik praktikum perancangan produk maupun praktikum perencanaan bisnis sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Jika praktikan tidak mengikuti salah satu modul praktikum tanpa alasan yang dapat diterima, maka praktikan langsung dinyatakan tidak lulus modul yang bersangkutan dan nilai praktikum Tekno Ekonomi adalah T. Praktikan wajib mengulang modul yang sama tahun depan. 2. Jika ada suatu hal yang membuat praktikan tidak dapat mengikuti praktikum, maka praktikan : a. Dapat melakukan tukar jadwal dengan kelompok lain, dengan memberitahukan hal ini selambatlambatnya 1 hari sebelum praktikum dan harus atas persetujuan asisten. b. Jika berhalangan hadir karena sakit, maka praktikan wajib membawa surat keterangan dokter dan resep obat maksimal 2 hari setelah tanggal praktikum yang berhalangan. c. Jika berhalangan karena terjadi musibah, maka praktikan wajib melaporkan kepada asisten maksimal 1 jam sebelum praktikum dimulai. 3. Aturan pelaksanaan praktikum susulan : Praktikum susulan diberikan kepada praktikan atas hasil koordinasi team asisten dengan Pembina lab. Praktikum susulan akan diumumkan setelah semua modul selesai. 4. Praktikan diharapkan hadir 5 menit sebelum praktikum dimulai. Keterlambatan hadir dari awal dimulainya praktikum akan dikenakan sanksi sebagai berikut : a. Terlambat > 20 : tidak boleh ikut tes awal, jika pada modul tersebut tidak ada tes awal konsekuensinya adalah pengurangan nilai praktikum sebesar 20% pada modul tersebut. b. Terlambat > 30 : tidak boleh ikut praktikum (lihat poin 1) 5. Pada saat praktikum wajib melengkapi hal-hal yang disebutkan dibawah ini : a. Membawa kartu praktikum yang sudah dilengkapi foto dan modul praktikum yang bersangkutan. b. Selama kegiatan praktikum diwajibkan memakai pakaian seragam formal IT Telkom dengan rapi dan sopan. Adapun seragam formal IT Telkom adalah sebagai berikut : - Atasan kemeja putih dengan bawahan biru dongker atau hitam (non jeans) Senin-Sabtu, atau - Atasan batik dengan bawahan biru dongker atau hitam (non jeans) Jumat-Sabtu Praktikan diwajibkan melengkapi keduanya saat mengikuti praktikum hari tersebut. Jika ada yang tidak lengkap maka diwajibkan untuk melengkapi dengan konsekuensi waktu mengikuti praktikum pada poin 4. 6. Praktikan wajib menjaga dan memelihara peralatan praktikum dan jika telah selesai, maka praktikan wajib merapihkannya (komputer, kursi, dan perlengkapan lainnya). Asisten berhak menegur bahkan mengeluarkan praktikan yang melanggar. 7. Praktikan wajib menjaga tutur kata dan sopan dalam bersikap kepada asisten dan praktikan lainnya. Asisten berhak menegur bahkan mengeluarkan praktikan yang melanggar. 8. Praktikan wajib mematikan atau men-silent alat komunikasi pada saat praktikum berlangsung. Praktikan tidak diperkenankan untuk menelepon/menerima telepon dan membaca/mengetik sms. Asisten berhak menegur bahkan mengeluarkan praktikan yang melanggar. 9. Praktikan tidak diperkenankan meninggalkan kegiatan praktikum sampai dinyatakan selesai atau telah diberi izin oleh asisten ybs. Asisten berhak menegur bahkan mengeluarkan praktikan yang melanggar.

TECHNO ECONOMY LABORATORY

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK


10. Proporsi Nilai : Tes Modul Awal I 30% II 30% III 20% IV 30% Integrasi Tes Akhir 40% -

2011-2012

Praktikum 40% 40% 40% 40% -

Jurnal 30% 30% 30% -

Laporan 65%

Presentasi 35%

11. Jurnal atau Tugas Modul Integrasi dikumpulkan ke Asisten Lab. Tekno Ekonomi sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Keterlambatan pengumpulan akan di diskon 10% tiap 10 menit keterlambatan. 12. Jika ditemukan Tugas Modul Integrasi yang sama, maka nilainya nol. 13. Semua pengumuman yang berkaitan dengan praktikum Tekno Ekonomidapat dilihatdi papan pengumuman Lab. Tekno Ekonomi C-312 dan di web Lab. Tekno Ekonomi. 14. Praktikan dapat menggunakan fasilitas Lab. Tekno Ekonomi di luar kegiatan praktikum dengan syarat : a. Tidak ada kegiatan praktikum pada saat itu. b. Mendapat izin dari asisten dan ada asisten yang mengawasi. c. Mematuhi peraturan Lab. Tekno Ekonomi, termasuk peraturan penggunaan computer. d. Menggunakan pakaian seragam lengkap pada saat jam kuliah. 15. Semua kegiatan laboratorium yang berkaitan dengan proses praktikum (misalnya registrasi, prapraktikum, input jadwal, dan seminar) bersifat WAJIB untuk diikuti. Apabila melanggar akan mendapatkan sanksi yang akan ditentukan oleh asisten. 16. Praktikan WAJIB menaati setiap tata tertib yang telah ditentukan. 17. Hal-hal yang belum tercantum dalam aturan ini, akan ditentukan kemudian.

TECHNO ECONOMY LABORATORY

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK


MODULE I MARKETING RESEARCH

2011-2012

PURPOSES 1. Knowing the marketing research scope 2. Students are able to make Questionnaire as a research support tool 3. Students are able to process data from Questionnaire 4. Students are able to analyze data BASIC THEORY 1. Marketing Research 2. Focus Group Discussion 3. Questionnaire LAB WORK PROCEDURES 1. Explanation 2. Focus Group Discussion Simulation 3. Data Processing 4. Analyzing data TOOLS AND MATERIALS 1. Writing equipments 2. Computer 3. Research Data MARKETING RESEARCH The European Society for Opinion and Marketing Research (ESOMAR) defines marketing research as given below: Marketing research is a key element within the total field of marketing information. It links the consumer, customer and public to the marketer through information which is used to - identify and define marketing opportunities and problems - generate, refine, and evaluate marketing actions - monitor marketing performance - improve understanding of marketing as a process and of the way in which specific marketing activities can be made more effective. (Malhotra and Birks, 2007) The American Marketing Association Board of Directors explain that marketing research specifies the information required to address these issues, designs the method for collecting information, manages and implements the data collection process, analyzes the results, and communicates the findings and their implications. Marketing research is the identification, collection, analysis, and dissemination of information systematically and objectively with the aim to make a decision related to identification and solving problems and opportunities in the field of marketing (Malhotra, 1996). A. MARKETING RESEARCH PROCESS Stage 1. Defining the Problem Research can be designed to provide a valuable information if the problems have been formulated clearly and accurately. There are two kinds of problems in marketing research, they are; Marketing decision problem: asks what the decision-maker needs to do Marketing research problem : asks what information is needed and how it can best be obtained

TECHNO ECONOMY LABORATORY

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

The tasks involved in problem definition consist of: - Discussion with a decision-maker - Analysis of readily available secondary data - Qualitative interviews with industry experts - Qualitative research (co: FGD, Depth Interview) Stage 2. Developing an Approach to the Problem Research Approach Components: - Objective/Theoretical Foundations - Hypotheses - Analytical Model - Research Questions Stage 3. Formulating a Research Design Research design is a framework or blueprint to carry out marketing research projects, setting out the procedures to obtain information in solving the problems of marketing. - Define the information needed - Decide whether the overall design is to be exploratory, descriptive or causal - Design the sequence of techniques of understanding and measurement - Construct and pretest an appropriate form for data collection or questionnaire or other research instruments - Specify the qualitative and/or quantitative sampling process and sample size - Develop a plan of the qualitative and/or quantitative data analysis Stage 4. Data Collection or Field Work Stage 5. Data Preparation and Analysis Stage 6. Report Preparation and Presentation B. CLASSIFICATION OF MARKETING RESEARCH DESIGN

Gambar 1.1 Classification of Marketing Research Tabel 1.1 Classification of Marketing Research Exploratory research Conclusive research To provide insights and understanding To test specific hypotheses and examine relationships Information needed is defined only Information needed is clearly loosely. Research process is flexible and defined. Research process is formal unstructured. Sample is small and non and structured. Sample is large and representative. Analysis of primary data representative. Data analysis is is qualitative. quantitative. Tentative Conclusive Generally followed by further Findings used as input into decision exploratory or conclusive research making

Objective Characteristics

Findings/Results Outcome

TECHNO ECONOMY LABORATORY

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK


Methods Expert surveys, pilot surveys, secondary data, qualitative analysis, qualitative research. Descriptive research Describe market characteristics or functions, estimate the percentage of units in a specified population, determine the degree to which marketing variables are associated, determine the perceptions of product characteristics Marked by the prior formulation of specific hypotheses, preplanned and structured design Secondary data, quantitative analysis, surveys, panels, observation

2011-2012
Secondary data, quantitative analysis, surveys, panels, observation, experiments Causal research Determine cause and relationship effect

Objective

Characteristics Methods

Manipulation of one or more independent variables, control of other mediating variable Experiments

Cross-Sectional design: involve the collection of information from any given sample of population elements only once. Single cross-sectional design: only one sample of respondents is drawn from the target of population, and information is obtained from this sample only once. Multiple cross-sectional design: two or more samples of respondents is drawn from the target of population, and information is obtained from each sample only once. Longitudinal design: a fixed sample (or samples) of population elements is measured repeatedly on the same variables. C. FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) The focus group discussion (FGD) is a rapid assessment, semistructured data gatheringmethod in whicha purposively selected set of participants gather to discuss issues and concernsbased on a list of key themes drawn up by the researcher/facilitator (Kumar 1987). A Focus Group Discussion is a discussion by a trained moderator in a non-structured and natural manner with a homogeneous group of participants consists of 6-10 members. The main purpose of focus group is to gain insights by creating a forum where participants feel sufficiently relaxed to reflect and to portray their feelings and behavior, at their pace and using their language and logic. Procedures of FGD: 1. Clarify marketing research problems and objectives 2. Clarify the role of FGD in fulfilling those objectives 3. Specify the issues to be developed in the FGD 4. Specify the types of target respondents to make up groups 5. Specify the locations in which to conduct the focus group. 6. Recruit group members 7. Run an experimental group 8. Conduct FGD 9. Analyze data and findings D. QUESTIONNAIRE Questionnaire, whether it is called a schedule, interview form, or measuring instrument, is a formalized set of questions for obtaining information from respondents. Questionnaire is one of the quantitative research tools.

TECHNO ECONOMY LABORATORY

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Questionnaire Design Process 1. Specify the information needed It can help to review problems and to develop an approach to the problems. 2. Specify the type of interview method Specify the type of interaction between respondents and Questionnaire (means of delivering questions) - Personal interviewing (direct to respondents) - Telephone : traditional telephone, Computer-assisted telephone interview (CATI) - Mail interviewing - Electronic interviewing : email, internet 3. Determine the content of individual questions 4. Overcome the respondents inability and unwillingness to answer - Is the respondent informed? If the respondent is not likely to be informed, filter questions that measure familiarity, product use and past experience should be asked before questions about the topics themselves. - Can the respondent remember? - Minimize the effort required of the respondent. - Make the request for information seem legitimate. - If the information is sensitive: a. Place sensitive topics at the end of the questionnaire b. Hide the question in a group of other questions 5. Choose question structure - Unstructured questions (questions that require respondent to give his/her own answers). - Structured questions (questions in which the answers has been provided by researcher) - Type of questions: Opened questions, closed questions - Avoid double questions in one question - Avoid the questions that will lead to a specific answer 6. Choose questions wording - Define the issue in terms of who, what, when, and where. - Use ordinary words, avoid ambiguous words, avoid leading or biasing questions. 7. Arrange the questions in proper order - The opening questions should be interesting, simple, and non-threatening. - Difficult, sensitive, or complex questions should be placed late in the sequence. 8. Identify the form and layout - The questionnaire should be pre-coded - The questionnaire themselves should be numbered serially. 9. Reproduce the questionnaire Reproduce the questionnaire if there are something should be revised relates to means of questionnaire, paper quality, printing, and number of pages. 10. Eliminate problems by Pilot-testing Test the questionnaire by taking a small sample of respondents (15-30 persons) to identify and to eliminate problems in questionnaire. Questionnaire Content The content of questionnaire should be based on the research variable. There are two things should be considered relate to variable measurements. They are number of variable dimensions and variable manifestation level. The number of variable dimensions determines the completeness of the questions (number of questions), while, variable manifestation level will determine whether it is a direct or an indirect measurement. Variable with a low manifestation level (latent variable) uses indirect measurement through its indicator. There are two kinds of variables. They are simple variable with single dimension and variable with multiple dimensions. Variable such as number of family members, revenue each month, and consumer loyalty are examples of variables with single dimension. While, service quality is considered as a variable with multiple dimensions (service quality is constructed with variable: reliability, assurance,

TECHNO ECONOMY LABORATORY

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

empathy, tangibles, responsiveness, etc (Parasuraman)). All of variable with multiple dimensions should be divided into simple variables with single dimension. From each of this simple variable, minimal one question can be made. E. RELIABILITY AND VALIDITY Reliability refers to the extent to which a scale produces consistent results if repeated measurements are made. In research, the term reliability means "repeatability" or "consistency". A measure is considered reliable if it would give us the same result over and over again Validity of scale may be considered as the extent to which differences in observed scale scores reflect true differences among objects on the characteristic being measured, rather than systematic or random error.

Reference : Malhotra, Naresh K; Birks, Dafid F. 2007. Marketing Research, An Applied approach, Third European edition. Prentice Hall Wiyono.2005. Diktat Kuliah Kuesioner. STT Telkom

TECHNO ECONOMY LABORATORY

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK


MODUL II PRODUCT CONCEPT DEVELOPMENT

2011-2012

TUJUAN PRAKTIKUM 1. Praktikan mengetahui dan mampu memahami konsep tentang perancangan dan pengembangan suatu produk barang atau jasa. 2. Praktikan mampu memahami metode-metode yang digunakan untuk merancang dan mengembangkan sebuah produk barang maupun jasa. 3. Praktikan mengerti tentang salah satu metode yang digunakan dalam perancangan produk yaitu Quality Function Deployment dan mengetahui implementasinya dalam perancangan produk barang atau jasa. 4. Praktikan mampu menggunakan matriks House of Quality dalam metode Quality Function Deployment. 5. Praktikan mampu memahami konsep Servqual dan mengimplementasikannya ke dalam matriks Quality Function Deployment. LANDASAN TEORI 1. Konsep perancangan dan pengembangan produk barang atau jasa. 2. Metode-metode perancangan dan pengembangan produk barang atau jasa. 3. Metode Quality Function Deployment 4. Matriks House of Quality 5. Matriks Part Deployment 6. Matriks Klein Greid 7. Dimensi Servqual PROSEDUR PRAKTIKUM 1. Tes awal 2. Penjelasan materi 3. Pengolahan data dengan Matriks HOQ 4. Analisis hasil pengolahan data ALAT DAN BAHAN 1. Komputer 2. Software Excell 3. Alat tulis DASAR TEORI A. KONSEP PERANCANGAN DAN PENGEMBANGAN PRODUK Pengembangan produk adalah suatu usaha merespon perubahan keinginan konsumen, kecepatan dan perkembangan teknologi serta kerumitan produk dan proses yang dilakukan untuk memperbaiki produk yang sudah ada dengan cara meningkatkan kualitas, menganekaragamkan produk, dan beberapa kegiatan lainnya agar dapat lebih menyesuaikan dengan selera konsumen atau permintaan pasar. Dengan cara menganalisis pasar dan melakukan analisa obyektif terhadap manfaat yang dimiliki suatu produk untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Produk adalah keluaran (output) dari penambahan nilai bahan baku yang diperoleh dari sebuah proses produksi (transformasi) dalam memenuhi kebutuhan manusia maupun organisasi. Produk yang berwujud biasa disebut sebagai barang, sedangkan yang tidak berwujud disebut jasa. Faktor yang mempengaruhi pengembangan produk (Rakhman Prawiraadmadjaja) Menjamin kelangsungan usaha perusahaan Product life cycle yang semakin pendek Kondisi pasar yang berubah Sasaran keuangan

TECHNO ECONOMY LABORATORY

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK


Diversifikasi usaha Regulasi Dapat bertahan dan bersaing dengan perusahaan lain

2011-2012

Perancangan dan pengembangan produk mencakup : Identifikasi keinginan konsumen (peluang) Pengembangan konsep (kebutuhan, target, spesifikasi, analisis ekonomi, perencanaan proyek) Arsitektur produk (model produk, sistem kerja dan skema produk) Prototype (tiruan produk dari dimensi fungsi, penampilan, manfaat, keamanan produk) Analisis biaya (biaya manufaktur, tenaga kerja, riset pengembangan dan pemasaran) Proses pengembangan produk baru dapat dikategorikan menjadi 2 hal yaitu : Improving existing Products : Proses pengembangan dari produk yang lama (optimal incremental innovation). contoh : penambahan layanan speedy untuk PSTN. Creating New Product : Membuat suatu produk yang benar-benar baru (Optimal radical innovation). Contoh : Kartu prabayar yang dikembangkan oleh Telkomsel. Karakteristik pengembangan produk Product development adalah serangkaian keseluruhan proses dimulai dari mengorganisasi, mengonsep ide, kemudian memproduksi, membuat dan mengevaluasi rencana penjualan hingga mengkomersilkan sebuah produk (barang atau jasa). Ada 5 kriteria untuk mengukur performansi dari perancangan dan pengembangan produk : 1. Product Quality Seberapa baik produk yang dihasilkan dari upaya pengembangan? Apakah produk tersebut memuaskan kebutuhan konsumen? Apakah produk tersebut kuat dan handal? Kualitas produk akan mempengaruhi pangsa pasar dan menentukan harga yang ingin dibayar oleh pelanggan untuk produk tersebut. 2. Product Cost Biaya produk menentukan seberapa besar laba yang diperoleh oleh perusahaan dari volume penjualan tertentu dan harga tertentu. Biaya produk meliputi biaya manufaktur yaitu biaya untuk modal peralatan dan alat bantu serta biaya produksi setiap unit produk. 3. Development time Seberapa cepat tim dapat melakukan proses development poduct. Waktu pengembangan akan menentukan kemampuan perusahaan dalam berkompetisi, menunjukkan daya tanggap perusahaan terhadap perubahan teknologi, dan akhirnya akan menentukan kecepatan perusahaan untuk menerima pengembalian ekonomis dari usaha yang dilakukan tim engembangan. 4. Development Cost Seberapa banyak dana yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk mengembangkan produk. Biaya pengembangan biasanya merupakan salah satu komponen yang penting dari investasi yang dibutuhkan untuk mencapai profit. 5. Development Capability Aset perusahaan yang dapat digunakan untuk mengembangkan produk agar menjadi lebih efektif dan ekonomis dimasa yang akan datang. Proses pengembangan produk merupakan aktivitas lintas disiplin yang membutuhkan kontribusi dari hampir semua fungsi perusahaan. Tiga fungsi yang dijadikan dasar dalam merancang konsep pengembangan produk : Kinerja yang baik dari 5 dimensi diatas akan menuju pada kesusksesan ekonomi. Namun, ada criteria lain yang harus dipertimbangkan juga sebagai kegiatan interdisiplin yang membutuhkan kontribusi dari 3 bagian perusahaan yang memegang peranan dominan, yaitu 1. Marketing Fungsi : untuk mengidentifikasi peluang produk mendefinisikan segmen pasar

TECHNO ECONOMY LABORATORY

10

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

mengidentifikasi kebutuhan pelanggan merancang komunikasi antara perusahaan dengan pelanggannya menetapkan target harga mengatur peluncuran dan promosi produk 2. Design : berperan dalam menggambarkan bentuk fisik produk atau layanan yang diinginkan oleh pelanggan. 3. Manufacture : bertanggung jawab untuk merancang dan mengoperasikan sistem produksi untuk memproduksi barang atau jasa. B. METODE PERANCANGAN DAN PENGEMBANGAN PRODUK Beberapa metode perancangan dan pengembangan produk : 1. Analisis Konjoin Analisis Konjoin (Conjoint Analysis, Considered Jointly) merupakan suatu metode analisis dalam analisis multivariat, analisis ini mulai dikembangkan sejak tahun 1970. Analisis ini digunakan untuk membantu mendapatkan kombinasi atau komposisi atribut-atribut suatu produk barang atau jasa baik produk baru maupun lama yang paling disukai konsumen. Hasil analisis konjoin berupa informasi kuantitatif yang dapat memodelkan preferensi konsumen untuk beberapa kombinasi fitur produk. Pada analisis ini konsumen akan diminta untuk membuat suatu pertimbangan pertukaran (trade-off judgement) atribut. Seberapa besar kesukaan konsumen terhadap suatu atribut dinilai cukup untuk mengorbankan atribut lain? atau jika konsumen telah mempertimbangkan untuk mengorbankan suatu atribut untuk mendapatkan atribut lain. Dalam prosesnya analisis konjoin akan memberikan ukuran kuantitatif terhadap tingkat kegunaan (utility) dan kepentingan relatif (relatif importance) suatu atribut dibandingkan dengan atribut lain. Hal ini dilakukan melalui pertimbangan psikologis atau preferensi konsumen (Green & Tull, 1988). Lebih lanjut, nilai-nilai ini dapat digunakan untuk membantu menyeleksi atribut-atribut suatu produk yang akan ditawarkan. Tujuan Analisis Konjoin: a. Menentukan kepentingan relatif dari atribut di dalam pemilihan oleh pelanggan. b. Mengestimasi pangsa pasar merek yang berbeda dalam tingkat level atribut. c. Menentukan komposisi merek yang paling disenangi, features dari merek dapat dibuat bervariasi, dinyatakan dalam level atribut dan utilities yang bersangkutan. d. Membuat segmen pasar berdasarkan pada kemiripan preferensi untuk level atribut. e. Menunjukkan sejauh mana kesediaan individu melakukan pertukaran (trade-off) antar atribut (karakteristik) suatu produk pelayanan, sehingga berguna untuk memutuskan cara optimal dalam memberikan pelayanan denGan keterbatasan sumber daya. Tahapan Analisis Konjoin : a. Perumusan masalah Identifikasi atribut dan tarafnya Identifikasi atribut dapat dilakukan melalui diskusi dengan pakar, dapat juga melalui eksplorasi data sekunder atau melakukan penelitian pendahuluan. Setelah atribut ditentukan, kemudian dibuat taraf/level dari masing-masing atribut. Jumlah atribut yang akan dievaluasi dalam analisis konjoin maksimum 7 atribut dengan taraf masing-masing berkisar 2 hingga 4. Sebagai ilustrasi metode konjoin dalam pemilihan atribut dan tarafnya, berikut adalah hasil evaluasi produk susu oleh para konsumen mahasiswa. Dari hasil kualitatif riset diperoleh 4 atribut yang berperan mempengaruhi pilihan responden seperti pada tabel berikut: Tabel 2.1 Atribut dan Taraf Susu Atribut Taraf Jenis Susu 1 2 Keterangan Bubuk Kental

TECHNO ECONOMY LABORATORY

11

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK


Rasa

2011-2012

3 Murni 1 Susu Putih 2 Susu Coklat 3 Rasa lainnya Kemasan 1 Plastik 2 Karton 3 Kaleng Volume 1 200 gram Kemasan 2 400 gram 3 800 gram Bahan baku 1 Hewani 2 Nabati Kandungan 1 Fat Lemak 2 Non Fat Skala taraf atribut dan model preferensi Dilihat dari sisi skala pengukurannya, atribut dapat berskala kualitatif atau kategori (nominal atau ordinal) atau kuantitatif (interval atau ratio). Ada dua jenis model yang lazim digunakan untuk atribut berskala kuantitatif, yakni : 1) Model vector dan ideal-point Digunakan untuk menggambarkan pola hubungan linear antara nilai taraf dengan kegunaan yang dirasakan konsumen dari peningkatan/penurunan taraf suatu atribut. Ketidaklinearan dapat ditunjukan oleh munculnya efek yang semakin menurun akibat besaran yang ekstrim dari suatu atribut. Sebagai contoh, bila harga pada setiap taraf meningkat dengan jumlah yang sama, maka akan menurunkan nilai yang sama dari kegunaan produk tersebut. Contoh, bila harga meningkat dari Rp 250,- ke Rp 300,-, maka nilai kegunaannya akan sama menurun bila harga meningkat dari Rp 600,- menjadi Rp 650,-. 2) Model ideal-point Digunakan untuk menggambarkan ketidaklinearan aspek kuantitatif atribut dengan kegunaanya. Bila kondisi di atas tidak terpenuhi, dalam artian bahwa penurunan kegunaan lebih besar terjadi pada peningkatan harga pada taraf tertentu saja, maka model kedua yakni ideal point akan lebih sesuai. Dimana dalam model ini akan terjadi penurunan nilai kegunaan yang semakin besar pada level tertentu dari harga. Sebagai misal, konsumen akan lebih kecewa pada kenaikan harga dari Rp 10.000,- menjadi Rp 15.000,- dibandingkan kenaikan yang terjadi pada tingkat harga Rp 40.000,- menjadi Rp 45.000,b. Merancang Kombinasi Atribut (Stimuli) Ada dua pendekatan yang sering digunakan, yaitu : 1. Kombinasi berpasangan (pairwise combination) Pendekatan melalui kombinasi berpasangan atau disebut juga evaluasi dua faktor (two factors evaluations), pada pendekatan ini responden diminta untuk mengevaluasi pasanganpasangan atribut secara bersamaan. Bila ada sejumlah p atribut berarti jumlah pasangan yang dievaluasi ada p(p-1)/2 pasangan. Rasa Bubuk Kental Murni Putih Coklat Lainnya Volume 200 gr 400 gr 800 gr Putih Rasa Coklat Lainnya

Jenis

Gambar 2.1 Contoh Kombinasi Atribut Berpasangan

TECHNO ECONOMY LABORATORY

12

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Metode kombinasi berpasangan pada dasarnya sangat mudah untuk dilakukan evaluasi, namun metode ini mempunyai beberapa kelemahan seperti: Bila jumlah atribut dan tarafnya banyak, maka jumlah kombinasinyapun akan semakin besar, akibatnya cara ini terasa monoton dan membutuhkan banyak pertimbangan setiap kali berganti pasangan atribut, akibatnya akan membosankan bagi konsumen karena memerlukan banyak waktu. Kurang realistis. Hal ini disebabkan konsumen melakukan evaluasi hanya terhadap pasangan-pasangan atribut, yang sebenarnya jarang dijumpai dalam realita. Saat konsumen menentukan pilihan pada kombinasi dua atribut, apa asumsi yang diterapkan untuk atribut yang lain? Hal ini menimbulkan ketakjelasan konsep preferensi, terutama bila konsumen menjumpai atribut harga yang umumnya mencerminkan kualitas produk. Konsumen akan sulit menentukan pilihan saat menghadapi pasangan atribut yang berkorelasi, misalnya pada produk mobil, kecepatan umumnya berkorelasi dengan penggunaan bensin. Bila korelai ini demikian tinggi, maka akan memungkinkan untuk memunculkan atribut majemuk, akibatnya akan menyebabkan kehilangan informasi mengenai komponen atribut. 2. Kombinasi lengkap (Full Profile) Kombinasi ini baik digunakan saat atibut dan taraf atribut tidak terlalu banyak. Jika ada sejumlah n atribut maka, Jumlah kombinasi atribut = semua jumlah taraf atribut untuk masingmasing atribut dikalikan. Kombinasi atribut dapat dikurangi dengan fractional factorial design , dimana metode ini mereduksi kombinasi yang tidak realistis agar mudah dalam mengevaluasi. c. Menentukan Metode Pengumpulan Data 1) Data Nonmetrik : responden disuruh mengurutkan stimuli dari urutan 1 untuk slimuli yang paling disukai sampai urutan terakhir untuk stimuli yang paling tidak disukai. 2) Data Metrik : responden diminta untuk memberI nilai pada masing-masing stimuli, dengan cara sebagai berikut : i. Menggunakan skala lickert mulai dari 1 hingga 9 ( 1 = Paling tidak disukai, 9 = Paling disukai). ii. Menggunakan nilai ranking terbalik, artinya untuk stimuli yang paling disukai diberi nilai tertinggi setara dengan jumlah stimulinya, sedangkan stimuli yang paling tidak disukai diberi nilai 1. d. Memilih Prosedur Analisis Konjoin Secara umum model dasar analisis konjoin dapat dituliskan dalam bentuk:

U ( X ) ij xij
i 1 j 1

ki

dimana: U(X) = Utility total ij = Part worth atau nilai kegunaan dari atribut ke-i taraf ke-j. kI = Taraf ke-j dari atribut ke-i m = Jumlah atribut xij = Dummy variable atribut ke-i taraf ke-j. (bernilai 1 bila taraf yang berkaitan muncul dan 0 bila tidak )

TECHNO ECONOMY LABORATORY

13

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Untuk menentukan tingkat kepentingan atribut ke-i (Ai) ditentukan melalui formula berikut:

Wi

Ii

I
i 1

x 100%
i

dimana: Ii = (max(

ij)

min(

ij)),

untuk setiap i.

e. Hasil analisis dan interpretasinya Dapat digunakan berbagai macam diagram untuk menginterpretasikan atribut dengan berbagai tarafnya serta nilai kegunaan dan presentase nilai kepentingannya kemudian mengevaluasi informasi tersebut. f. Uji Validitas dan Reliabilitas 1) Uji Validitas Validitas sering diartikan sebagai keabsahan dari sesuatu, informasi atau dokumen yang berisi suatu data. Uji validitas kuisioner dilakukan untuk memeriksa kuisioner telah sesuai dengan teori yang mendasarinya dan untuk mengetahui pemahaman responden terhadap kuesioner. Cara untuk verifikasi dilakukan dengan membandingkan pemahaman responden dengan jawaban responden yang bersangkutan pada pertanyaan di kuisioner. Dan dihitung proporsi reponden yang dianggap mengetahui dengan tepat maksud setiap pertanyaan. Nilai proporsi ini menunjukkan validitas teoritis dari alat ukur. 2) Uji Reliabilitas Reliabilitas berarti kemampuan untuk dapat dipercaya, maksudnya adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Hasil pengukuran dapat dipercaya jika menunjukkan hasil pengukuran yang konsisten dari waktu-ke-waktu (dengan catatan kondisi subyek yang diukur belum berubah). Untuk uji reliabilitas dapat dilakukan dengan melakukan pengukuran ulang dan tidak diperlukan reliabilitas internal karena setiap variabel hanya diukur dengan satu item pengukuran. Pendekatan pengukuran (test) ulang dilakukan terhadap sekelompok subjek yang sama dalam jangka waktu tertentu sebanyak 2 (dua) kali, dengan kondisi sekelompok subjek belum berubah. Besarnya nilai reliabilitas diestimasi dari nilai koefisien korelasi sederhana antara hasil pengukuran pertama dan kedua. 2. Taguchi (Robust Design)

TECHNO ECONOMY LABORATORY

14

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Pada era persaingan bisnis yang ketat dan sarat pesaing saat ini, semakin nyata bahwa produk baik berupa barang atau jasa yang mampu bersaing dan sukses di pasar global adalah produk dengan kualitas tinggi dengan harga yang kompetitif. Posisi tawar konsumen semakin besar seiring dengan banyaknya pilihan produk atau layanan jasa sejenis dari brand (merek) yang berbeda. Produk perlu dirancang dan dikembangkan sedemikian sehingga konsumen bisa terpuaskan melalui value yang terkandung di dalamnya. Taguchi memisahkan variabel dalam dua jenis. Faktor kontrol adalah variabel yang dapat dikendalikan secara praktis dan ekonomis, seperti dimensi, parameter bahan, dll faktor Kebisingan adalah variabel yang sulit atau mahal untuk mengontrol dalam praktek, meskipun mereka dapat dikontrol dalam percobaan, seperti suhu lingkungan , pekerja dari pabrik manufaktur, dll Tujuannya adalah untuk menentukan kombinasi dari pengaturan faktor kontrol yang akan membuat produk memiliki ketahanan maksimum untuk variasi yang diharapkan dalam faktor-faktor kebisingan. Ukuran ketahanan adalah rasio sinyal-ke-kebisingan, fungsi log dari pengukuran output yang diinginkan. Dalam rangka untuk mencari tingkat terbaik dari faktor kontrol, percobaan, berdasarkan "array ortogonal", yang seimbang berkenaan dengan semua faktor kontrol dan namun yang minimal jumlahnya. Taguchi mendefinisikan dua jenis kategori masalah: statis dan dinamis. Sementara masalah Dinamis memiliki faktor sinyal (misalnya: rpm mesin), masalah statis tidak memiliki faktor sinyal. Dalam masalah statis, optimasi dicapai dengan menggunakan tiga Sinyal-ke-rasio kebisingan: lebih kecil lebih baik, lebih besar lebih baik, nominal yang terbaik. Dalam masalah yang dinamis, optimasi dicapai dengan menggunakan dua sinyal-to-noise rasio, Metode Taguchi dicetuskan oleh Dr. Genichi Taguchi pada tahun 1949. Metode ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas produk dan proses serta dalam dapat menekan biaya dan resources seminimal mungkin. Sasaran metode Taguchi adalah menjadikan produk robust terhadap noise, karena itu sering disebut sebagai Robust Design. Produk yang robust itu sendiri adalah produk yang performansinya sesuai harapan dan baik walaupun terdapat noise factor Metode Taguchi merupakan pengembangan dari Design of Experiment (DoE) yang bertujuan untuk memperbaiki proses manufaktur produk untuk mencapai kualitas yang baik. Taguchi mengembangkan suatu pendekatan desain dari perspektif desain yang sempurna (robust), dimana produk (barang atau jasa) harus didesain bebas dari cacat (defect) dan berkualitas tinggi. Metode Taguchi merupakan off-line quality control artinya pengendalian kualitas yang preventif, sebagai desain produk atau proses sebelum sampai pada produksi di tingkat shop floor. Off-line quality control dilakukan dilakukan pada saat awal dalam life cycle product yaitu perbaikan pada awal untuk menghasilkan produk (to get right first time). Kontribusi Taguchi pada kualitas adalah: 1. Loss Function: Merupakan fungsi kerugian yang ditanggung oleh masyarakat (produsen dan konsumen) akibat kualitas yang dihasilkan. Bagi produsen yaitu dengan timbulnya biaya kualitas sedangkan bagi konsumen adalah adanya ketidakpuasan atau kecewa atas produk yang dibeli atau dikonsumsi karena kualitas yang jelek. 2. Orthogonal Array: Orthogonal array digunakan untuk mendesain percobaan yang efisisen dan digunakan untuk menganalisis data percobaan. Ortogonal array digunakan untuk menentukan jumlah eksperimen minimal yang dapat memberi informasi sebanyak mungkin semua faktor yang mempengaruhi parameter. Bagian terpenting dari orthogonal array terletak pada pemilihan kombinasi level dari variable-variabel input untuk masing-masing eksperimen. 3. Robustness: Meminimasi sensitivitas sistem terhadap sumber-sumber variasi. Tahapan dalam Desain Produk atau Proses Menurut Taguchi Dalam metode Taguchi tiga tahap untuk mengoptimasi desain produk atau proses produksi yaitu (Ross, 1996): 1. System Design. Yaitu upaya dimana konsep-konsep, ide-ide, metode baru dan lainnya dimunculkan untuk memberi peningkatan produk . Merupakan tahap pertama dalam desain dan merupakan tahap konseptual pada pembuatan produk baru atau inovasi proses. Konsep mungkin berasal dari dari percobaan sebelumnya, pengetahuan alam/teknik, perubahan baru atau kombinasinya. 2. Parameter Design.

TECHNO ECONOMY LABORATORY

15

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Tahap ini merupakan pembuatan secara fisik atau prototipe secara matematis berdasarkan tahap sebelumnya melalui percobaan secara statistik. Tujuannya adalah mengidentifikasi setting parameter yang akan memberikan performansi rata-rata pada target dan menentukan pengaruh dari faktor gangguan pada variasi dari target dengan cara : - Memilih faktor parameter dan level optimalnya. - Mengendalikan factor manajemen variabel proses yang dapat mempengaruhi desain. - Level parameter yang optimal dapat ditentukan dan dihitung melalui eksperimental. 3. Tolerance Design. Penentuan toleransi dari parameter yang berkaitan dengan kerugian pada masyarakat akibat penyimpangan produk dari target. Pada tahap ini, kualitas ditingkatkan dengan mengetatkan toleransi pada parameter produk atau proses untuk mengurangi terjadinya variabilitas pada performansi produk. Misalnya dengan mengembangkan batasan spesifikasi, terjadi setelah design parameter ditentukan. Dan hasilnya sering mengakibatkan peningkatan biaya-biaya produksi. Tahap-tahap dalam Robust Design a. Mengidentifikasi control factors (parameter inputan), noise factors (uncontrollable), dan performance metrics (response). b. Merumuskan objective function (berhubungan dengan respon) untuk optimalisasi performance. Ada beberapa rumusan objective function, sebagai berikut : 1) Maximize : performansi yang lebih baik adalah nilainya yang lebih besar. Object function () = 2 , dimana adalah mean dari hasil observasi. 2) Minimize : performansi yang lebih baik adalah yang nilainya lebih kecil = 1 / 2 3) Target Value : performansi yang paling baik adalah yang mendekati nilai set point yang diinginkan. 4) Signal-to-noise ratio : matrik ideal yang dapat digunakan untuk mendapatkan nilai tebaik /level control factors dalam pengambilan keputusan system desain Dalam pendekatannya robust design berusahan untuk desain produk atau proses agar tidak sensitif terhadap berbagai faktor-faktor penyebab variasi. Untuk menghasilan produk atau proses yang tangguh, dapat dilakukan dengan menggunakan lima pendekatan sebagai berikut 1. Gunakan diagram proses ( P-diagram ) untuk mengenali variabel-variabel yang terkait dengan produk dan proses dan mengklasifikasikannya.kedalam Noise, Controllable Factor, signal dan response. 2. Fungsi ideal dari produk atau proses, serta memetakan hubungan input output sebagai kerangka desain untuk membuat produk atau proses dapat bekerja secara lebih sempurna. 3. Pengunaan quality loss funtion untuk menghitung kerugian yang di harus ditanggung oleh customer akibat variasi dari target performansi. 4. Penggunaan Signal to Noise (S/N) untuk memprediksi field quality melalui eksperimen. 5. Penggunaan orthogonal arrays untuk mengumpulkan informasi yang dapat dipercaya untuk mengendalikan faktor-faktor proses. 4. TRIZ TRIZ adalah sebuah akronim berbahasa Rusia yaitu Teoriya Resheniya Izobretatelskikh Zadach yang dalam bahasa inggris berarti Theory of Inventive Problem Solving atau dalam bahasa Indonesia berarti Teori pemecahan masalah berdaya cipta. TRIZ adalah metode pemecahan masalah berdasarkan logika dan data, tidak intuisi, yang mempercepat proyek tim kemampuan untuk memecahkan masalah tersebut secara kreatif. Ilmu evolusi teknis sistem. TRIZ diperkenalkan oleh Genrich Saulovich Altshuller. Prinsip dasar: Menghilangkan / mereduksi konflik melalui: (1) hukum evolusi sistem rekayasa (produk), (2) efek fisikal, dan (3) prinsip solusi (desain).

TECHNO ECONOMY LABORATORY

16

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Fungsi utama: membuat konsep untuk mereduksi efek negatif (kontradiksi teknikal atau fisikal) guna memperbaiki kinerja dari desain yang ada Model dasar untuk penyelesaian masalah dalam TRIZ diilustrasikan pada gambar berikut.

Gambar 2.2 Model Dasar Penyelesaian Masalah dalam TRIZ Saat Genrich Altshuller menyelesaikan penelitian dasar paten dunia, dia membuat 4 pengamatan utama: Ada lima level invention: Level 5 : menemukan fenomena baru Level 4: penemuan di luar paradigma rancangan memerlukan teknologi baru dari bidang pengetahuan yang berbeda Level 3: penemuan di dalam paradigma rancangan yang memerlukan penyelesaian kontradiksi fisik Level 2: perbaikan dengan penemuan yang memerlukan penyelesaian kontradiksi teknis Level 1: solusi nyata (tidak ada inovasi) dihasilkan dalam perbaikan yang sederhana Permasalahan inventive mengandung setidaknya satu kontradiksi. Altshuller mengenalkan bahwa permasalahan desain yang sama termasuk kontradiksi yang ditujukan oleh sejumlah penemuan dalam area industri yang berbeda-beda. TRIZ menciptakan suatu bentuk yang mewakili inti permasalahan, yaitu, kontradiksi teknis, dan menyediakan suatu tabel petunjuk yang berguna untuk solusi. Kontradiksi teknis adalah suatu kasus dimana jika kita mencoba meningkatkan suatu aspek (atau parameter) sistem, aspek lain akan mengalami penurunan.Dia juga mengamati pengulangan penggunaan solusi dasar yang sama, sering dipisahkan dalam beberapa tahun. Altshuller menyimpulkan bahwa jika akan sangat membantu jika desainer memiliki pengetahuan tentang solusi sebelumnya. Prinsip yang sama digunakan dalam beberapa desain inventive dan oleh karena itu dapat dipertimbangkan pola pemecahannya. Suatu prinsip inventive adalah best practice yang telah digunakan dalam beberapa penerapan dan dikutip dari beberapa industri. Ada pola perkembangan yang baku. Untuk menciptakan sebuah produk atau jasa, penting untuk meramalkan dan membuat analogi ke situasi masa depan pada konsep yang sama dalam hal fungsionalitas desain. Perkembangan sebelumnya dari desain diuji dan kemudian sebuah analogi diterapkan untuk memprediksi masa depan desain yang dikaji. Penelitian yang mendalam dari paten dunia menyatakan bahwa prinsip yang sama digunakan dalam solusi inventif untuk permasalahan di bidang dan industri yang berbeda. Dari analisis sejumlah besar baik paten, Altshuller menyarikannya ke dalam 40 Prinsip Invention. Kontradiksi desain antara dua parameter kinerja dapat diselesaikan dengan menggunakan satu atau lebih 40 dasar inovasi. Dasar penggunaan secara sukses untuk 1263 kontradiksi ditunjukkan dalam sebuah matriks kontradiksi. Untuk mewakili kondisi kontradiksi teknis ini, TRIZ telah memilih 39 parameter sistem dan menyediakan matriks permasalahan berukuran 39 x 39. Kemudian, dengan survey sejumlah besar paten, tiap paten dianalisa untuk menemukan tipe mana (diantara 39 x 39) dari kontradiksi teknis dan prinsip mana dari penemuan yang paling banyak digunakan dalam tiap tipe 39 x 39 permasalahan. 4 prinsip teratas pada tiap-tiap tipe permasalahan dicatat dalam bentuk tabel dari 39 x 39 elemen; tabel hasil disebut Matriks Kontradiksi Altshuller

TECHNO ECONOMY LABORATORY

17

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Gambar 2.3 Priciples of Invention

Gambar 2.4 TRIZ Engeneering Parameters Contoh Kasus TRIZ : Misalkan saja kita ingin mengembangkan sebuah mobil balap yang super cepat, tetapi kita berhadapan dengan sebuah masalah penting: Mobil balap tersebut membutuhkan mesin yang besar, namun siapapun tahu semakin berat sebuah obyek bergerak, semakin lambat kecepatannya. Inilah kontradiksi yang harus kita selesaikan. Untuk menyelesaikan kontradiksi antara berat obyek bergerak dengan kecepatan, kita bisa melihat ke tabel yang dikembangkan Altshuller tersebut. Tabel tersebut berukuran 3939 sesuai dengan jumlah sumber kontradiksi yang ada. Karena berat obyek bergerak diberi

TECHNO ECONOMY LABORATORY

18

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

nomor urut 1 dan kecepatan obyek bernomor urut 9, kita melihat tabel pada perpotongan nomor 1 dan 9. Di perpotongan tersebut kita melihat angka 2, 8, 15, 38. Keempat angka adalah nomor urut prinsipprinsip solusi yang total mencapai 40 prinsip. Keempat alternatif solusi tersebut adalah Extraction (nomor 2), Counterweight (8), Dynamicity (15), dan Use Strong Oxidizers (38). Tentu tidak semua alternatif solusi bisa dipakai. Tetapi biasanya dari daftar-daftar seperti di atas, kita akan menemukan beberapa alternatif yang sesuai. Dalam kasus ini, misalnya, kita bisa mengambil solusi nomor 8 yang memberi kita petunjuk untuk menyelesaikan kontradiksi tersebut dengan membuat obyek bersangkutan berinteraksi dengan gaya-gaya aerodinamika dari lingkungan (prinsip Counterweight). Hal seperti ini telah dilakukan oleh pesawat terbang dengan penggunaan sayap. Mengapa tidak dengan mobil-mobil balap?Tambahkan saja sayap-sayap di bagian kiri, kanan, atau belakang mobil. C. METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) a. Definisi Quality Function Deployment dikembangkan oleh Yoji Akao di Jepang pada tahun 1966. Menurut Akao, QFD adalah metode untuk mengembangkan kualitas desain yang bertujuan untuk memuaskan konsumen dan kemudian menerjemahkan permintaan konsumen menjadi target desain dan poin utama kualitas jaminan untuk digunakan di seluruh tahap produksi. QFD adalah cara untuk menjamin kualitas desain sedangkan produk yang masih dalam tahap desain merupakan sisi yang sangat penting. Manfaat produk ditunjukan ketika tepat diterapkannya QFD yang telah menunjukkan pengurangan pembangunan waktu dengan satu-setengah sampai sepertiga. (Akao, 1990) Fokus utama QFD adalah melibatkan pelanggan dalam proses pengembangan produk sedini mungkin, karena pelnggan tidak akan pus dengan suatu produk, meskipun suatu produk telah dihasilkan secara sempurna. b. Tujuan Ada 3 tujuan utama dalam menerapkan QFD adalah: Memprioritaskan keinginan dan kebutuhan pelanggan secara lisan dan tidak lisan. Menerjemahkan kebutuhan ke dalam karakteristik teknis dan spesifikasi. Membangun dan memberikan kualitas produk atau layanan dengan memfokuskan setiap kepuasan pelanggan. c. Manfaat Manfaat QFD bagi perusahaan yang berusaha meningkatkan daya saingnya melaui perbaikan kualitas dan produktifitasnya secara berkesinambungan adalah sebagai berikut : Meningkatkan Keandalan Produk. Meningkatkan Kualitas Produk. Meningkatkan Kepuasan Konsumen. Memperpendek time to market. Mereduksi biaya perancangan. Meningkatkan komunikasi. Meningkatkan Produktivitas. Meningkatkan keuntungan perusahaan. d. Keunggulan Menyediakan format standar untuk menerjemahkan kebutuhan konsumen menjadi persyaratan teknis, sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Menolong tim perancang untuk memfokuskan proses perancangan yang dilakukan pada fakta yang ada. Memungkinkan proses modifikasi selama tahap perancangan sehingga dapat terus dikaji ulang.

TECHNO ECONOMY LABORATORY

19

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

e. Proses Implementasi 1. Membentuk tim: Tim proyek dibentuk berdasarkan sifat proyek yang akan ditangani. Untuk proses pengembangan produk lama tim terdiri dari personil pemasaran, rekayasa, kualitas, dan produksi. Sedangkan untuk pengembangan produk baru, tim terdiri dari personil riset dan pengembangan. 2. Menyusun prosedur pemantauan: Tiga hal yang perlu dilakukan dalam rangka pemantauan : Apa yang akan dipantau? Bagaimana memantaunya? Berapa kali frekuensi pemantauannya? 3. Memilih proyek : Melalui tahap pengumpalan data, analisis dan evaluasi data, penentuan obyek, dan pelaksanaan. 4. Menyelenggarakan pertemuan tim : Untuk menjelaskan misi tim, peran masing-masing personil, dan parameter yang harus dicapai tim. 5. Melatih tim : Tim dilatih untuk memahami cara kerja QFD. 6. Mengembangkan matrix-matrix : Jika tim sudah memahami QFD maka langkah selanjutnya adalah mengembangkan matrixmatrix QFD. Sebelum memulai untuk menentukan memproduksi suatu barang/jasa yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen, maka perlu dilakukan riset dengan cara mengidentifikasikan kemauan konsumen dan pengaruh-pengaruh eksternal berupa pesaing yang telah ada sebelumnya dan kemungkinan pesaing yang akan datang. Proses QFD melibatkan satu atau lebih matrix yang disebut Quality Tables Menurut Cohen (1992) tahap-tahap dalam menyusun home of quality adalah sebagai berikut: a) Tahap I: Matrik Kebutuhan Pelanggan, Tahap ini meliputi: Memutuskan siapa pelanggan Mengumpulkan data kualitatif berupa keinginan dan kebutuhan konsumen Menyusun keinginan dan kebutuhan tersebut Pembuatan diagram afinitas b) Tahap II :Matrik Perencanaan Tahap ini bertujuan untuk mengukur kebutuhan-kebutuhan pelanggan dan menetapkan tujuan-tujuan performansi kepuasan. c) Tahap III: Respon Teknis Pada tahap ini dilakukan transformasi dari kebutuhan-kebutuhan konsumen yang bersifat non teknis menjadi data yang besifat teknis guna memenuhi kebutuhankebutuhan tersebut. d) Tahap IV :Menentukan Hubungan Respon Teknis dengan Kebutuhan Konsumen Tahap ini menentukan seberapa kuat hubungan antara respon teknis (tahap 3) dengan kebutuhan-kebutuhan pelanggan (tahap 1). e) Tahap V :Korelasi Teknis Tahap ini memetakan hubungan dan kepentingan antara karakterisitik kualitas pengganti atau respon teknis. Sehingga dapat dilihat apabila suatu respon teknis yang satu dipengaruhi atau mempengaruhi respon teknis lainnya dalam proses produksi, dan dapat diusahakan agar tidak terjadi bottleneck. f) Tahap IV :Benchmarking dan Penetapan Target Pada tahap ini perusahaan perlu menentukan respon teknis mana yang ingin dikonsentrasikan dan bagaimana jika dibandingkan oleh produk sejenis

TECHNO ECONOMY LABORATORY

20

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Gambar. Quality Tables Langkah-langkah penjabarannya : 1. Menerjemahkan kebutuhan konsumen menjadi karakteristik teknis dengan matrix House of Quality (HoQ). 2. Menerjemahkan karaktiristik teknis menjadi komponen. 3. Menerjemahkan karakteristik komponen menjadi karakteristik proses. 4. Menerjemahkan karakteristik proses menjadi kebutuhan konsumen. D. HOUSE OF QUALITY Rumah kualitas atau biasa disebut juga House of Quality (HOQ) merupakan tahap pertama dalam penerapan metodologi QFD. Secara garis besar matriks ini adalah upaya untuk mengkonversi voice of costumer secara langsung terhadap karakteristik teknis atau spesifikasi teknis dari sebuah produk (barang atau jasa) yang dihasilkan. Perusahaan akan berusaha mencapai karakteristik teknis yang sesuai dengan target yang telah ditetapkan, dengan sebelumnya melakukan benchmarking terhadap produk pesaing. Benchmarking dilakukan untuk mengetahui posisi-posisi relatif produk yang ada di pasaran yang merupakan kompetitor. Berikut ini bagan yang memberikan penjelasan tentang House of Quality (HOQ) :

Gambar. House of Quality (HoQ)

Penjelasan tentang masingmasing matriks : 1. Bagian A Customer Requirements Berisi data atau informasi terstruktur mengenai kebutuhan dan keinginan konsumen berdasarkan hasil riset pemasaran. Data tersebut diungkapkan dalam bahasa konsumen dan bersifat kualitatif. Data akan ditempatkan secara terstruktur dalam Tree Diagram.

TECHNO ECONOMY LABORATORY

21

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

2. Bagian B : Planning Matrix Untuk mengetahui posisi relatif produk terhadap produk pesaing. Bagian ini berisi tiga tipe informasi: a. Data pasar kuantitatif, yaitu yang mengindikasikan tingkat kepentingan dan kepuasan relative dari tiap kebutuhan dan keinginan konsumen terhadap produk perusahaan dan tingkat kepuasan relative konsumen terhadap produk pesaing. b. Setingan Capaian (Goal setting) untuk poduk atau jasa yang akan diluncurkan. c. Perhitungan untuk pengurutan keinginan dan kebutuhan konsumen. 3. Bagian C : Technical Response Terdiri dari karakteristik teknis yang mendeskripsikan desain layanan dan aplikasi produk yang dirancang. Karakteristik teknis ini diturunkan dari Voice of customer pada bagian A, disebut juga dengan Voice of Company. Secara sederhana dapat disusun dengan bantuan model Whats Vs How. Perlu ditentukan juga arah peningkatan atau target terbaik yang dapat dicapai (Direction of goodness). 4. Bagian D : Inter-Relationships Berisi pertimbangan penilaian keterkaitan hubungan antara elemen-elemen karakteristik teknis (bagian C) dengan setiap kebutuhan pelanggan pada bagian A. 5. Bagian E : Technical Corelations Terdiri dari penilaian tim perancang terhadap implementasi keterkaitan (korelasi) antar elemenelemen karakteristik teknis (bagian C). Korelasi ini tergantung kepada direction of goodness dari masing-masing karateristik teknis. Lima kemungkinan diantaranya adalah : Strong positive impact, artinya mengadakan perubahan pada karakteristik teknis 1 kearah direction of goodness-nya akan menimbulkan pengaruh positif kuat pada direction of goodness karakteristik teknis 2. Moderate positive impact, artinya mengadakan perubahan pada karakteristik 1 kearah direction of goodness-nya akan menimbulkan pengaruh positif yang moderat pada direction of goodness karakteristik teknis 2. No impact, artinya mengadakan perubahan pada karakteristik teknis 1 kearah direction of goodness-nya tidak akan menimbulkan pengaruh pada direction of goodness karakteristik teknis 2. Moderate negative impact, artinya mengadakan perubahan pada karakteristik teknis 1 kearah direction of goodness-nya akan menimbulkan pengaruh negatif pada direction of goodness karakteristik teknis 2. Strong negatif impact, artinya mengadakan perubahan pada karakteristik teknis 1 kearah direction of goodness-nya akan menimbulkan pengaruh negatif kuat pada direction of goodness karakteristik teknis 2. 6. Bagian F : Target Matrix Berisikan tiga macam jenis data, yaitu: a. Tingkat kepentingan (ranking) persyaratan teknis. b. Technical benchmarking dari produk yang dibandingkan. Technical benchmark menguraikan informasi pengetahuan mengenai keunggulan technical response pesaing c. Target kinerja karakteristik teknis dari produk yang dikembangkan.

TECHNO ECONOMY LABORATORY

22

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Gambar Contoh hasil HoQ Langkah dalam pembuatan House of Quality Langkah 1: Mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan konsumen dengan menentukan Voice Of Customer (VoC) Langkah-langkah mendapatkan Customer need / Voice Of Customer (VoC) : a. Mendapatkan suara pelanggan (melalui wawancara, customer complaints) Wawancara sebanyak 30 resonden sudah dianggap cukup menggambarkan kebutuhan konsumen sampai sekitar 90%. b. Mengelompokkan VoC (voice of customer) ke dalam beberapa kategori kebutuhan (need/benefit, dimensi kualitas, dll) didasarkan pada kedekatan hubungan dari setiap variabel atau disebut juga dengan penurunan atribut. Pengelompokkan dilakukan menggunakan tree diagram. Contoh :

TECHNO ECONOMY LABORATORY

23

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK


c. Masukkan variabel hasil penurunan atribut ke dalam Bagian A matrix HOQ.

2011-2012

Langkah 2: Pembuatan Planning Matrix Dalam Matriks Perencanaan ada beberapa kolom yang harus diisi, antara lain : a. Tingkat kepentingan atribut [skala 1 5] Weighted Average Performance (WAP) untuk mengetahui bobot kepentingan bagi pelanggan. Langkahlangkahnya adalah sebagai berikut : 1) Menghitung jawaban responden untuk masing-masing nilai sesuai dengan skala yang ada pada kuisioner. 2) Menghitung Importance Weight untuk setiap kebutuhan, dengan menjumlahkan hasil perkalian antar jawaban dengan skala pada kuisioner. 3) Menghitung Weighted Average Importance Score = Importance Weight / total jumlah responden. b. Tingkat kepuasan yang diberikan oleh produk kita [skala 1 5]. (dari kuisioner, cara menentukan nilainya sama sepeti pada point a. c. Tingkat kepuasan yang diberikan oleh produk pesaing [skala 1 5]. (dari kuisioner, cara menentukan nilainya sama sepeti pada point a. d. Goal (sasaran perbaikan yang ingin dicapai) [skala 1 5]. Penentuan tingkat kepuasan yang ingin dicapai untuk setiap keinginan dan kebutuhan pelanggan,nilainya ditentukan oleh perusahaan (tim) dengan mempertimbangkan tingkat kepuasan terhadap produk pesaing, dan sumber daya yang ada pada perusahaan. e. Ratio perbaikan (Improvement Ratio) = adalah perbandingan antara sasaran yang ingin dicapai dengan tingkat kepuasan pelanggan dengan produk yang sudah diluncurkan. Improvement Ratio = point d / point b f. Sales point [skala yang digunakan : 1= no (tidak ada penambahan value added terhadap produk), 1.2 = medium (value added terhadap produk tidak signifikan) , 1.5 = strong sales point (value added terhadap produk sangat tinggi)] g. Raw weight = point a x point e x point f h. Normalized raw weight = poin g / poin g

Langkah 3: Tingkat Pelanggan dalam kompetisi Untuk mengerti bagaimana kompetisi dalam tingkat pelangganuntuk mendapat keuntungannya luar biasa yang kompetitif. Dalam langkah ini dapat pula menjadi ide yang baik untuk menanyakan pelanggan bagaimana produknya atau tingkat pelayanannya dalam hubungan kompetisi.

TECHNO ECONOMY LABORATORY

24

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Langkah 4: Deskripsi Teknis (Voice of Engineer) Deskripsi teknis adalah atribut tentang produk atau jasa yang dapat diukur dan ditiru untuk melawan kompetisi. Deskripsi teknis terlihat dalam suatu organisasi yang sudah menggunakannya untuk menetukan spesifikasi produk, bagaimanapun pengukuran yang baru dapat dibuat untuk meyakinkan produk sesuai kebutuhan pelanggan.

Langkah 5: Pembuatan Technical Response matrix (Substitute Quality Characteristics=SQC). Karakter teknis merupakan bagian dimana perusahaan melakukan penerapan metode yang mungkin untuk direalisasikan dalam usaha memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen. Untuk menentukan arah peningkatan (Direction of goodness) digunakan simbol sebagai berikut:
Simbol MTB atau LTB atau TB atau Arti The More The Better (semakin tinggi atau banyak semakin bagus) The Less The Better (semakin kecil atau sedikit semakin bagus) o Target is Best (untuk ukuran tertentu sudah bagus)

Langkah 6: Pembuatan Inter-Relationship matrix Menentukan hubungan antara atribut kebutuhan dengan karakteristik teknis dan kemudian menerjemahkannya menjadi suatu nilai yang menyatakan kekuatan hubungan tersebut (impact) : a) Not linked (Blank) : perubahan pada karakteristik teknis tidak akan berpengaruh pada performansi kepuasan pelanggan. b) Possibly linked : Perubahan yang relatif besar pada karakteristik teknis akan memberikan sedikit perubahan pada performansi kepuasan pelanggan. c) Moderate linked : Perubahan yang relatif besar pada karakteristik teknis akan memberikan pengaruh yang cukup berarti pada performansi kepuasan pelanggan. d) Strongly linked : perubahan yang relatif kecil pada karakteristik teknis akan memberikan pengaruh yang berarti pada performansi kepuasan pelanggan.dengan suatu nilai nominal dimana tidak terdapat variasi disekitar nilai tersebut. Simbol Arti Nilai blank Not linked (tidak berhubungan sama sekali) 0 Possibly linked (berhubungan tapi sangat sedikit sekali) 1 Moderately linked (cukup berhubungan) 3 strongly linked (sangat berhubungan) 9

TECHNO ECONOMY LABORATORY

25

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Buat Priority (masih dalam matrix relationship) : a) Priority = (impact x normalized raw weight) pada setiap kolom SQC b) Tingkat Kepentingan Relatif (%) = [Priority / Priority] X 100% c) Makin tinggi nilai tingkat kepentingan relatif berarti makin besar pengaruhnya terhadap tingkat kepuasan konsumen, sehingga harus diberi perhatian lebih besar.

Langkah7: Pembuatan Technical Corelations matrix Menggambarkan peta saling ketergantungan (independancy) dan saling berhubungan (interrelationship) antara karakter teknis.
Simbol Arti pengaruh positif kuat (Strong positive impact ) pengaruh positif sedang (Moderate positive impact ) tidak ada hubungan (No impact ) pengaruh negatif sedang (Moderate negative impact ) pengaruh negatif kuat (Strong negatif impact )

blank

Langkah 8: Kesulitan Perusahaan/Organisasi Tingkat atribut desain dalam pola kesulitan organisasi. Hal ini sangat mungkin untuk beberapa atribut dalam konflik yang secara langsung. Langkah 9: Technical Benchmark Technical Benchmarks merupakan bagian dari technical matrix yang menguraikan informasi pengetahuan mengenai keunggulan technical requirement pesaing. Dilakukan dengan membandingkan masing-masing SQC

TECHNO ECONOMY LABORATORY

26

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Langkah 10: Pembuatan matriks target Pada matriks ini akan ditentukan nilai target yang harus dicapai karakteristik teknis dalam rangka pengembangan produk. Penentuan target ini dilakukan dengan menggunakan input tingkat kepentingan (prioritas) dari karakteristik teknis, tingkat performansi produk pembanding serta kemampuan dari perusahaan. E. MATRIX KLEIN GRID DAN SERVICE QUALITY MATRIX KLEIN GRID Menurut Cohen dalam bukunya Quality Function Deployment : How to Make QFD Work for You, menyatakan bahwa sangatlah mungkin untuk mengklasifikasikan kebutuhan pelanggan ke dalam beberapa kategori yang dapat membantu tim pengembang untuk membuat keputusan-keputusan. Suatu model untuk mengklasifikasikannya telah dikembangkan oelh Robert Klein dari Applied Marketing Science, Inc. Robert Klein mengemukakan bahwa ada dua perbedaan cara untuk mengukur tingkat kepentingan dari kebutuhan pelanggan, yaitu dengan menanyakan secara langsung kepada pelanggan, atau dengan mengambil kesimpulan tingkat kepentingan berdasarkan pada data yang lain. Tingkat kepentingan yang diukur dengan metode secara langsung disebut stated importance. Dan suatu metoda untuk mengambil kesimpulan tingkat kepentingan pada data yang lain adalah dengan mengukur bagaimana kekuatan performansi kepuasan dari suatu atribut yang dihubungkan dengan keseluruhan tingkat kepuasan. Model Klein menggunakan keduanya, yaitu revealed importance dan stated importance setiap atribut dalam mengklasifikasikan kebututhan pelanggan menjadi 4 kategori, yaitu: 1. Expected Adalah kebutuhan dasar yang menurut pelanggan harus dipenuhi. Jika kebutuhan itu tidak terpenuhi maka pelanggan akan menjadi sangat tidak puas. Dan jika kebutuhan itu terpenuhi, maka tingkat kepuasan yang dirasakan pelanggan hanya biasa saja. 2. Low Impact Adalah kebutuhan yang mempunyai pengaruh minimal terhadap keseluruhan tingkat kepuasan pelanggan baik terpenuhi atau tidak. 3. High Impact Adalah kebutuhan yang menyebabkan tingkat kepuasan pelanggan menjadi sangat puas atau sangat puas jika kebutuhan itu terpenuhi dan menyebabkan tingkat kepuasan pelanggan menjadi tidak puas atau sangat tidak puas jika kebutuhan itu tidak terpenuhi. 4. Hidden Adalah kebutuhan dimana pelanggan mengatakan tidak penting terhadap kebutuhan itu atau kebutuhan yang tidak terpikirkan oleh pelanggan namun jika kebutuhan itu dapat dipenuhi maka sangat mempengaruhi kepuasan pelanggan.

TECHNO ECONOMY LABORATORY

27

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Dengan mengetahui apakah kebutuhan pelanggan terdapat pada salah satu dari keempat kateori Klein Grid dapat membantu tim pengembangan untuk memberikan penilaian sasaran performansi kepuasan pelanggan (goals) dan menentukan sales points. Biasanya, goals dinilai tinggi untuk atributatribut yang diklasifikasikan sebagai High Impact dan Expected. Atribut-atribut yang diklasifikasikan sebagai Low Impact, biasanya tidak memerlukan nilai goals yang tinggi (kecuali kalau ada beberapa hubungan tidak langsung pada atribut-atribut di kategori lainnya). Atribut yang diklasifikasikan sebagai Hidden harus dilihat secara teliti untuk menentukan pengaruh strategi yang digunakan dalam menilai goal. F. SERVICE QUALITY Definisi umum tentang service quality atau yang sering disingkat SERVQUAL dinyatakan oleh Zeithaml (1990) taitu a customers judgment of the overall excellence or superiority of a service. Dengan demikian service quality dapat didefinisikan sebagai seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan pelanggan atas pelayanan yang mereka terima. Harapan pelanggan pada dasarnya sama dengan layanan seperti apakah yang seharusnya diberikan perusahaan kepada pelanggan. Harapan para pelanggan ini didasarkan pada informasi dari mulut ke mulut, kebutuhan pribadi, pengalaman di masa lampau, dan komunikasi eksternal (iklan dan berbagai bentuk promosi perusahaan lainnya). Kualitas jasa itu penting karena: Meningkatkan loyalitas pelanggan Meningkatkan pangsa pasar Meningkatkan pendapatan dari investor Meningkatkan loyalitas karyawan Minimasi biaya Quality service merupakan gabungan dari tiga komponen, yaitu: Technical quality: komponen yang berkaitan dengan kualitas output jasa yang diterima pelanggan. Functional quality: komponen yang berkaitan dengan kualitas penyampaian suatu jasa. Corporate image: profil, reputasi, citra umum, dan daya tarik khusus suatu perusahaan. (Gronroos, 1984)

TECHNO ECONOMY LABORATORY

28

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK


DIMENSI SERVQUAL A. Servqual oleh Garvin Garvin (1987) Performanc 5. Durability 1. e 6. Serviceability 2. Features 7. Aesthetics 3. Reliability 8. Perceived quality 4. Conforman ce 5.

2011-2012

1. 2. 3. 4.

Garvin (1996) Communication 6. Reliability Credibility 7. Responsiveness Security 8. Competence Knowing Access customer Courtesy Tangibles

B. Servqual oleh Parasuraman Servqual dibangun atas adanya perbandingan dua faktor utama, yaitu persepsi pelanggan atas layanan nyata yang mereka terima (Perceived Service) dengan layanan yang sesungguhnya dengan yang diinginkan (Expected Service). Jika kenyataan lebih dari yang diharapkan maka layanan dapat dikatakan bermutu, sedangkan jika kenyataan kurang dari yang diharapkan maka layanan dikatakan tidak bermutu. Apabila kenyataan sama dengan harapan maka layanan tersebut memuaskan.

Parasuraman, dkk (1990) menggunakan skala 1-7 (untuk memberikan respons terhadap suatu pernyataan atas satu aspek kualitas jasa), yakni sangat tidak setuju (1) sampai sangat setuju (7). Berikut ini adalah dimensi servqual menurut Parasuraman: 1. Tangibles Kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukan eksistensinya pada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan dan keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa. Ini meliputi fasilitas fisik, teknologi, serta penampilan pegawainya. 2. Reliability Kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. Harus sesuai dengan harapan pelanggan berarti kinerja yang tepat waktu, pelayanan tanpa kesalahan, sikap simpatik dan dengan akurasi tinggi. 3. Responsiveness Suatu kemauan untuk membanu dan memberikan pelayanan yang cepat dan tepat kepada pelanggan dan dengan penyampaian informasi yang kelas. Jika kita membiarkan konsumen menunggu alasan yang jelas menyebabkan persepsi yang negatif pelanggan dengan memberikan layanan yang baik dan cepat. 4. Assurance Merupakan pengetahuan, kesopanan santunan, dan kemampuan para pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya pelanggan kepada perusahaan. Terdiri dari beberapa komponen, yaitu: communication, credibility, security, competence, courtesy. 5. Empathy Memberikan perhatian yang tulus dan bersifat indivisual atau pribadi yang diberikan kepada pelanggan dengan berupaya memahami keinginan konsumen dimana suatu perusahaan diharapkan memiliki suatu pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan, memahami

TECHNO ECONOMY LABORATORY

29

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan.

Referensi : Cohen, Lou. 1995. Quality Function Deployment : How to Make QFD Work for You. Massachussets : Addison Wesley Publishing Company. Ulrich, Karl T dan Steven D Eppinger. .Product Design And Development. Widodo, Imam Djati. 2005. Perencanaan dan Pengembangan Produk. Yogyakarta : UII Press. Hill, McGraw. 2006. Service Management. Singapore: http://qualityengineering.wordpress.com www.qfdi.org http://asal-nulis.blogspot.com/2008/05/analisis-konjoin-cojoint-analysis.html file:///D:/tekmi-lab/modul%202%20perancangan%20produk/Eservqual/Pengertian%20SERVQUAL%20by%20Muji%20Gunarto%20%C2%AB%20Mujigunarto%E2 %80%99s.htm Akao, Y., ed. (1990). Quality Function Deployment, Productivity Press, Cambridge MA. Becker Associates Inc, http://www.becker-associates.com/thehouse.HTM and http://www.becker-associates.com/qfdwhatis.htm Hauser, J. R. and D. Clausing (1988). "The House of Quality," The Harvard Business Review, May-June, No. 3, pp. 63-73 Quality Function Deployment (QFD). Chi-Ming Chen and Victor Susanto. Industrial Engineering 361: Quality Control http://onlinebuku.com/2011/02/18/quality-function-deployment-qfd/

TECHNO ECONOMY LABORATORY

30

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK


MODUL III PRODUCT DESIGN

2011-2012

TUJUAN PRAKTIKUM 1. Praktikan mengetahui dan mampu memahami konsep tentang perancangan dan pengembangan suatu produk barang atau jasa. 2. Praktikan mengerti tentang salah satu metode yang digunakan dalam perancangan produk yaitu Quality Function Deployment hingga iterasi ke 2 dan mengetahui implementasinya dalam perancangan produk maupun jasa pada telekomunikasi. 3. Praktikan mampu menggunakan matriks Part Deployment dalam mendesign suatu produk. 4. Praktikan mampu membuat suatu prototype atau service blueprint dari produk yang telah dirancang sebelumnya. LANDASAN TEORI 1. Desain Industri 2. Matriks Part Deployment 3. Morphological Analysis 4. Prototyping 5. Service Blueprint PROSEDUR PRAKTIKUM 9. Penjelasan materi 10. Pengolahan data dengan matrix Part Deployment 11. Analisis hasil pengolahan data 12. Membuat Prototype atau Service Blueprint Produk 13. Test akhir ALAT DAN BAHAN 1. Komputer 2. Software excell 3. Software desain 4. Alat tulis DASAR TEORI : A. DESAIN INDUSTRI Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang desain industri, industrial design adalah suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi atau komposisi garis atau warna, atau garis dan warna atau gabungan daripadanya yang berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang, komoditas industri atau kerajinan tangan. Perhimpunan Desainer Industri Amerika (IDSA) mendefinisikan Desain Industri sebagai jasa professional dalam menciptakan dan mengembangkan konsep dan spesifikasi guna mengoptimalkan fungsi-fungsi, nilai dan penampilan produk serta sistem untuk mencapai keuntungan yang mutual antara pemakai dan produsen. Tujuan Desain Industri menurut Dreyfuss, 1967 antara lain: 1. Kegunaan : Hasil produksi manusia harus selalu aman dan mudah digunakan. Setiap ciri harus dibentuk sedemikian rupa sehingga memudahkan pemakainya dalam mengetahui fungsinya. 2. Penampilan : Bentuk, garis, proporsi, dan warna digunakan untuk menyatukan produk menjadi satu produk yang sesuai dan enak dipandang. 3. Kemudahan pemeliharaan : Produk harus didesain untuk memberitahukan bagaimana mereka dapat dirawat dan diperbaiki.

TECHNO ECONOMY LABORATORY

31

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK


4. 5.

2011-2012

Biaya rendah : Bentuk dan ciri memegang peranan besar dalam biaya peralatan dan produksi. Oleh karena itu, hal ini harus diperhatikan secara bersama-sama oleh tim. Komunikasi : Desain produk harus dapat mewakili filosofi desain perusahaan dan misi perusahaan melalui visualisasi kualitas produk.

Untuk menilai suatu hasil akhir dari produk sebagai kategori nilai desain yang baik biasanya ada 3 (tiga) unsur yang mendasari, yaitu : 1. Fungsional 2. Estetika 3. Ekonomi Ergonomi merupakan salah satu dari persyaratan untuk mecapai desain yang qualified, certified, dan customer need. Ilmu ini akan menjadi suatu keterkaitan yang simultan dan menciptakan sinergi dalam pemunculan gagasan, proses desain, dan desain final. Ergonomi adalah ilmu ilmu yang menemukan dan mengumpulkan informasi tentang tingkah laku, kemampuan, keterbatasan dan karakteristik manusia untuk perancangan mesin, peralatan, system kerja, dan lingkungan yang produktif, aman, nyaman, dan efektif bagi manusia.
Ergonomi

Proses desain

Dasar/ pertimbangan permintaan klien

Inovasi ergonomi Ergonomi Desain Produksi

Proses Produksi Kualitas baik Desain yang Baik

Fungsi baik

Proses pemasaran

Product qualified certified and customer need

Gambar 3.1.Skema Design Managemant

TECHNO ECONOMY LABORATORY

32

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK


B. QFD ITERASI 2 Matrix Part Deployment Secara umum, Matrix Part Deployment dapat digambarkan sebagai berikut:

2011-2012

C r i t i c a

r t

r a

A k t e

r i s t i k

k n

i s ( D

m K

D a t r i k s h u b u n g a n p a k C r i t i c a l P a r t T e a r a k t e r i s t i k T e k n i s

r h

E r g ,e C t o l u m n W ,e P i ga hr tt S p e c i f i c a t i o n

Gambar 3.2 Matriks Part Deployment 1. Karakteristik teknis Bagian ini berisi hasil karakteristik teknis tertinggi yang didapat pada QFD Iterasi 1. 2. Critical Part Requirement. Bagian inimenunjukkan part-part teknis yang berhubungan dan memiliki kesesuaian dengan karakteristik teknis yang dihasilkan dari matrix HOQ pada QFD Iterasi I. 3. Matrix Hubungan Karakteristik Teknis Dengan Critical Part Bagian ini memetakan hubungan kekuatan antara karakteristik teknis dengan critical part.Setiap hubungan diberikan penilaian tingkat kekuatan hubungannya yang digambarkan dengan simbol tertentu. 4. Part Specification Merupakan satuan dari critical part requirement. 5. Column Weight (Kontribusi Critical Part) Merupakan penjumlahan dari setiap kontribusi relasi antara masing-masing karakteristik teknis dengan critical part. 6. Targets Merupakan spesifikasi yang ingin dicapai kedepannya oleh masing-masing critical part. C. PERANCANGAN PRODUK BARANG 1. Morphological Analysis Istilah morphology berasal dari bahasa yunani yaitu morphe yang berarti ilmu mengenai bentuk atau form.Hal ini diperhatikan dengan struktur dan penyusunan bagian dari suatu objek, dan bagaimana hal tersebut sesuai untuk membuat suatu hal yang baru.Objek dalam pertanyaan dapat berupa hal yang bersifat physic (seperti organisme, anatomi atau ekologi), social (seperti struktur organisasi atau struktur stakeholder), atau mental (seperti linguistic form, konsep atau sistem ide). Pada dasarnya, morphological analysis adalah metode untuk mengidentifikasi dan memeriksa kumpulan kemungkinan hubungan atau konfigurasi yang terkandung dalam problem kompleks yang ada. Atau dengan kata lainmorphological analysis adalah metode yang digunakan dalam penyusunan dan pemeriksaan secara sistematis mengenai keseluruhan kumpulan hubungan yang terkandung dalam multidimensi, biasanya tidak dapat dihitung, problem yang komplek.

TECHNO ECONOMY LABORATORY

33

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Langkah-langkah dalam morphological analysisadalah : 1. Memformulasikan permasalahan 2. Identifikasi parameter 3. Membuat daftar alternative kombinasi dari parameter-parameter yang ada 4. Pengujian Kelayakan setiap alternative 5. Pilih alternative terbaik (Urban and Hauser) Morphological Chart Morphological chart adalah suatu table yang dibuat berdasarkan pada function analysis. Morphological chart merupakan metode atau cara untuk menghasilkan ide-ide secara analitis dan sistematis serta mampu memvisualisasikan kebutuhan fungsional pada produk dan menggali alternatif alternatif lain serta kombinasi yang memungkinkan untuk mencapai fungsi tersebut. Langkah-langkah untuk membuat morfologi Chart adalah : Bentuk fungsi yang dapat diterima setiap produk harus ditampilkan (yaitu melakukan analisis masalah). Membuat Daftar fungsi, satu per baris, dalam sebuah Grafik. Untuk setiap fungsi (baris), Buat daftar rangkaian solusi, satu per kolom. Pilih suatu set sub-solusi yang paling layak, satu untuk masing-masing fungsi. Berikut contoh Morphological Chart :

Gambar 3.2 Contoh Morphological Chart

TECHNO ECONOMY LABORATORY

34

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

2. Prototyping Pengembangan produk hampir selalu membutuhkan pembuatan dan pengujian prototype.Prototype merupakan sebuah penaksiran produk melalui satu atau lebih dimensi yang menjadi perhatian. a. Tipe-tipe Prototipe Prototype dapat diklasifikasikan menjadi dua dimensi.Dimensi yang pertama membedakan antara prototype fisik dan prototype analitik.Prototype fisik merupakan benda nyata yang dibuat untuk memperkirakan produk. Aspek-aspek dari produk yang diminati oleh oleh tim pengembangan secara nyata dibuat menjadi suatu benda untuk pengujian dan percobaan. Contoh prototype fisik meliputi model yang tampilannya seperti produk,.Prototype Analitik menampilkan produk yang tidak nyata, biasanya ditampilkan secara matematis.Contoh protoyipe analitik diantaranya simulasi computer, sistem persamaan penulisan pada kertas computer, dan model computer geometric tiga dimensi. Dimensi yang kedua adalah mengenai tingkatan dimana sebuah prototype ada yang menyeluruh dan ada pula yang terfokus.Prototype yang menyeluruh mengimplementasikan sebagian besar atau semua atribut dari produk.Contohnya sebuah prototype yang diberikan kepada customer untuk mengidentifikasi kekurangan dari desain sebelum memutuskan untuk diproduksi lebih banyak.Sedangkan prototype terfokus mengimplementasikan satu atau sedikit sekali atribut produk.Contoh prototype produk meliputi model busa, untuk menggali bentuk dari prototype dan kabel pada papan sirkuit untuk memeriksa tampilan elektronik dari sebuah rancangan produk. Physical vs. Analytical Prototypes Physical Prototypes Merupakan model nyata dari suatu produk Dapat menampilkan karakteristik/sifat yang tidak dapat didefinisikan secara jelas Beberapa sifat/karakteristik dapat ditampilkan pada produk dari hasil penaksiran Lebih mudah untuk dikomunikasikan Analytical Prototypes Merupakan model matetatis dari suatu produk Hanya dapat menampilkan sifat yang timbul secara jelas mengenai fenomena model Beberapa sifat/karakteristik dapat ditampilkan pada produk dari hasil analisis Seringkali memungkinkan lebih banyak kebebasan dibandingkan percobaan model fisik Focused vs. Comprehensive Prototypes Focused Prototypes Mengimplementasikan hanya satu atau beberapa atribut dari produk Menjawab pertanyaan khusus tentang produk desain Pada umumnya dibutuhkan pada beberapa kasus Comprehensive Prototypes Mengimplementasikan banyak atau seluruh atribut dari produk Menawarkan kesempatan untuk pengujian yang lebih ketat Seringkali terbaik digunkan untuk milestones dan integrasi b. Kategori Dasar Ptototipe 1. Proof-of-Principle Prototype (Model) (disebut juga breadboard). Prototipe jenis ini digunakan untuk menguji beberapa aspek dari desain tanpa bermaksud untuk mencoba mensimulasikan dengan persis tampilan visua, pilihan bahan atau rancangan proses manufakturnya. Prototype tersebut dapat digunakan untuk "membuktikan" sebuah

TECHNO ECONOMY LABORATORY

35

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

pendekatan desain potensial seperti berbagai gerakan, mekanik, sensor, arsitektur, dll. Jenis model ini sering digunakan untuk mengidentifikasi pilihan desain yang tidak dapat bekerja dengan baik, dan juga untuk menentukan pengembangan dan pengujian yang dibutuhkan. 2. Form Study Prototype (Model) Jenis prototipe ini memungkinkan desainer untuk menjelajahi dasar ukuran, tampilan dan nuansa dari sebuah produk tanpa simulasi fungsi yang sebenarnya atau tepat visual tampilan dari produk. Mereka dapat membantu menilai faktor ergonomis dan memberikan gambaran ke dalam aspek visual dari produk akhir formulir. Form Study Prototype biasanya berupa hand-carved atau machined model yang mudah dibuat, bahannya murah(misalnya, busa urethane), tanpa menampilkan produk yang sebenarnya. Karena bahan-bahan yang digunakan, model ini dimaksudkan untuk pengambilan keputusan internal dan biasanya tidak tahan lama dan bukan untuk digunakan oleh user atau konsumen. 3. Visual Prototype (Model) merupakan rancangan yang mewakili gambar desain,warna, tektur dan estetika, akan tetapi tidak benar-benar mewujudkan fungsi (s) dari produk akhir. Model tersebut cocok digunakan dalam riset pasar, eksekutif review dan approval, kemasan mock-ups, dan foto untuk literatur penjualan. 4. Functional Prototype (Model) (juga disebut sebagai working prototype) akan mewakili produk asli sejauh pembuatnya mencoba untuk mensimulasikan desain akhir, estetika, bahan-bahan dan fungsionalitas dari desain yang diinginkan. Fungsional prototype dapat dikurangi dalam ukuran (skala bawah) untuk mengurangi biaya. Pembuatan prototype ini dimaksudkan untuk memeriksa dan mengetahui kekurangan dari desain sebelum proses produksi. c. Kegunaan Prototypes? Learning (Pembelajaran) Menjawab permasalahan mengenai performansi dan kelayakan dari suatu produk. misalnya: proof-of-concept model Communication (komunikasi) Mendemonstrasikan produk untuk mengetahui feedback yang akan diperoleh misalnya: 3D physical models of style or function Integration (Penggabungan) Mengkombinasikan sub-system kedalam model system. Misalnya: alpha or beta test models Milestones Mendemonstrasikan bahwa produk telah mencapai tingkat kegunaan yang diinginkan. misalnya: first testable hardware d. Merencanakan Prototype Langkah1. Menetapkan Tujuan Prototype Pada langkah ini kita mendaftar beberapa kebutuhan. Kebutuhan tersebut beracuan pada Tujuan prototype yaitu pembelajaran, komunikasi, penggabungan dan milestone. Langkah2. Menetapkan Tingkat Perkiraan Konsep Dalam merencanakan sebuah prototype dibutuhkan tingkatan dimana produk akhir yang diperkirakan akan ditetapkan. Pada langkah ini mulai mempertimbangkan metode yang terbaik dari kebutuhan yang telah ditetapkan. Langkah3. Menggariskan Rencana Percobaan Dalam pengembangan produk, peggunaan prototype dapat di anggap sebagai sebuah percobaan. Pada rencana percobaan mulai dijelaskan mengenai identifikasi variable percobaan (jika ada), protocol pengujian, sebuah indikasi pengukuran apa yang akan ditampilkan, dan sebuah rencana untuk menganalisis data hasil. Langkah4. Membuat Jadwal Untuk Perolehan, Pembuatan dan Pengujian Dalam membuat jadwal ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu menetapkan kapan bagian-bagian tersebut akan siap untuk dirangkai, kapan prototype akan diuji untuk

TECHNO ECONOMY LABORATORY

36

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

pertama kali dan kapan prototype diharapkan akan selesai diuji serta dapat memberikan hasil akhir. D. PERANCANGAN PRODUK JASA 1. Service Blueprint Dalam mengembangkan suatu produk jasa yang berdasarkan ide-ide subjektif yang terkandung dalam konsep layanan, sering kali menggunakan trial and error yang memerlukan biaya yang mahal untuk menterjemahkan konsep tersebut menjadi kenyataan.Untuk itulah digunakan Service Blueprint dalam mengembangkan produk jasa.Service Blueprint adalah sebuah perangkat yang menggambarkan proses pelayanan, titik-titik kontak dengan customer dan bukti (evidence) dari pelayanan yang dilihat oleh customer, sehingga bisa digunakan untuk memeriksa, mengimplementasikan, dan memaintain proses pelayanan tersebut.Service blueprint dibuat agar seluruh pihak yang terkait didalamnya dapat memahami peran/konstribusinya masing-masing sehingga proses/aktivitas tersebut dapat berjalan baik. Mengapa harus ada Service Blueprint ? 1. Karena service bersifat tidak terlihat, maka sulit untuk menjelaskan dan mengkomunikasikannya. 2. Karena service disampaikan oleh karyawan ke pelanggan, maka akan sangat heterogen output pelayanannya. 3. Karena service tidak dapat disentuh, di ujicoba, maka orang seringkali berusaha mengatakan dalam usaha mereka untuk menjelaskan apa itu service. Dalam hal ini akan ada resiko sebagai berikut: a. Oversimplification : bahwa kata-kata secara simply tidak cukup untuk menjelaskan tentang keseluruhan sistem pelayanan yang kompleks. b. Incompleteness : dalam menjelaskan service, orang (employee, manager, customer) cendrung untuk menghilangkan detail atau elemen dari service yang mereka sendiri tidak familiar dengan itu. c. Subjectivity : orang dalam menjelaskan tentang service akan sangat subjektif artinya tergantung kepada pengalaman dan pengetahun dia tentang service. d. Biased Interpretation : perbedaan interpretasi antar orang. Manfaat Service Blueprint 1. Penyedia service dapat mengetahui dititik-titik mana saja kemungkinan terjadinya ketidakpuasan pelanggan 2. Dapat menghasilkan standar service dalam layanan 3. Mengetahui moment of truth yang menentukan kepuasan pelanggan Bagaimana membuat sebuah Service Blueprint ? Step 1 Identifikasi siklus pelayanan atau bisnis proses yang akan dilakukan oleh employee dan customer. Step 2 Tentukan siapa segmen pasar yang dituju, apakah orang dewasa atau anak-anak, orang kota atau desa. Step 3 Gambarkan proses yang diinginkan oleh customer berdasarkan pengalaman customer dalam membeli, mengkonsumsi dan evaluasi pelayanan. Step ini membantu untuk menghindari terfokus pada proses dan step tidak punya pengaruh yang kuat pada customer. Step 4 Menggambarkan siapa saja yang terlibat dalam proses mulai dari awal hingga selesai. Siapa front liner, siapa di backstage.

TECHNO ECONOMY LABORATORY

37

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Step 5 Membuat urutan bisnis proses (alur proses yang menggambarkan keterhubungan antar semua bagian dan sistem). Step 6 Menambahkan fasilitas fisik untuk menunjang bisnis proses seperti seragam pegawai, sofa yang nyaman, pendingin ruangan, bangunan yang bagus.

Komponen Service Blueprint

Keterangan : 1. Physical Evidence adalah hal-hal yang dapat dilihat oleh konsumen pada saat datang untuk mendapatkan pelayanan, seperti bnetuk bangunan, halaman parkir, pintu masuk, dekorasi, pakaian karyawan, kursi dan meja, dan hal lainnya yang tampak. 2. Customer Actions adalah kegiatan yang dilakukan oleh konsumen untuk mendapatkan pelayanan. Berhubungan langsung dengan petugas front liner. 3. Onstage Contact Employee Actions adalah kegiatan yang dilakukan oleh petugas front liner dalam melayanan dan memenuhi kebutuhan atau keinginan konsumen. Pada bagian ini terjadi kontak antara konsumen dan karyawan yang sangat menentukan kepuasan pelanggan. 4. Backstage Contact Employee Actions adalah kegiatan yang dilakukan oleh petugas backstage, karyawan dibackoffice yang mendukung pekerjaan karyawan front liner dalam pemenuhan kebutuhan konsumen. Pada bagian ini tidak ada kontak antara konsumen dan karyawan. 5. Support Processes adalah proses pendukung dalam usaha pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan.

TECHNO ECONOMY LABORATORY

38

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK


Contoh Service Blueprint

2011-2012

TECHNO ECONOMY LABORATORY

39

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Referensi : Ulrich, Karl T. and Steven D. Eppinger, Perancangan dan Pengembangan Produk, Desain Industri,pp 197-217. Cohen,Lou, Quality Function Deployment, How to Make QFD Work For You, May 1995. Ulrich, Karl T. and Steven D. Eppinger, Perancangan dan Pengembangan Produk, Membuat prototype,pp 257-273. Fitzsimmons, James A. and Mona J. Fitzsimmons (1998). Service Management, Opertions, Strategy, and Information Technology. Singapore: McGraw-Hill Ginting, Rosnani (2010). Perancangan produk.Indonesia: Graha Ilmu http://www.servicedesigntools.org http://adjie.blogdetik.com http://www.ms.rekayasa.com

TECHNO ECONOMY LABORATORY

40

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK


MODUL IV COST ESTIMATION AND COST PER UNIT

2011-2012

TUJUAN PRAKTIKUM : 1. Praktikan mengetahui metode menghitung biaya suatu produk 2. Praktikan mengetahui elemen-elemen biaya jasa telekomunikasi. 3. Praktikan mengetahui perbedaan berbagai metode perhitungan biayajasa telekomunikasi. LANDASAN TEORI : 1. Activity Based Costing 2. Metode perhitungan biaya jasa telekomunikasi PROSEDUR PRAKTIKUM : 1. Tes Awal Tulis 2. Penjelasan Materi 3. Pengolahan Data (Perhitungan biaya per unit) 4. Laporan Tugas Besar ALAT DAN BAHAN : 1. Komputer 2. Software Excel 3. Alat Tulis DASAR TEORI A. Metode Perhitungan Cost Per Unit Untuk Produk Manufaktur 1. Definisi ABC Activity Based Costing adalah sebuah metoda perhitungan biaya di mana biaya dibebankan kepada setiap cost object berdasarkan konsumsi aktivitasnya. Metoda ini dikembangkan untuk mengurangi overcosting ataupun undercosting yang diakibatkan oleh metoda perhitungan biaya tradisional. 2. Aktivitas Berdasarkan analisis rantai nilai dari Porter, aktivitas terbagi atas dua, yaitu aktivitas primerdan aktivitas sekunder. Aktivitas primer adalah aktivitas organisasi yang ditujukan untuk memproduksi dan mendistribusikan produk hingga konsumen serta after sales service. Termasuk di dalamnya adalah inbound logistics, operasi, outbound logistics, marketing dan after sales service. Sedangkan aktivitas skunder adalah aktivitas yang merupakan aktivitas pendukung aktivitas primer. Pendefinisian aktivitas dapat dilakukan baik secara top down approach maupun metoda partisipatif. 3. Contoh Kasus untuk Manufaktur PT. TEKMI menghasilkan dua jenis produk, yaitu P dan Q. P menggunakan bahan mentah A sebanyak 2 unit per produk dan Q menggunakan bahan mentah A sebanyak 1 unit per produk, di mana harga A adalah $5,19 per unitnya. Untuk memproduksi P dan Q digunakan 3 jenis mesin, yaitu mesin potong, mesin bubut dan mesin drilling. Di mesin potong dan bubut, produk P dan Q mengalami proses yang sama. Produk P dan Q dipotong di mesin potong dalam batch. Satu batch ada 50 unit produk dan 1 batch membutuhkan waktu proses 0,5 jam. Waktu set up mesin potong dapat diabaikan. Untuk mesin bubut, waktu set-up yang dibutuhkan adalah 10 % dari total waktu 1 siklus produksi. Produk P dan Q diproses di mesin bubut selama 2 menit dan mesin diset up ulang

TECHNO ECONOMY LABORATORY

41

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

setiap 100 unit produk. Produk P membutuhkan 3 lubang dan produk Q membutuhkan 1 lubang. Mesin drilling mempunyai kapasitas 60 lubang per jam. Setiap bulannya semua mesin bekerja masing-masing selama 160 jam. Selain aktivitas produksi, aktivitas lain yang dilakukan adalah aktivitas pengelolaan SDM. Diketahui biaya SDM adalah $321 per personil yang bekerja. a. Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk aktivitas primer adalah sbb: Elemen biaya Besarnya biaya ($) Gaji 45.000 Listrik 9.000 Depresiasi 14.000 Suku cadang 17.000 Cleaning material 3.400 Sewa ruangan produksi 5.400 Perawatan 25.000 Total 118.800 Biaya gaji Satu operator mengoperasikan satu mesin. Staf yang ada dan gaji per orang adalah : Mesin Jumlah mesin Gaji operator mesin ($) Potong 3 2000 Bubut 6 3000 Drilling 8 2625 Depresiasi Berdasarkan fixed asset yang ada, maka biaya depresiasi total untuk setiap jenis mesin adalah: Mesin Depresiasi (untuk jumlah mesin yang ada) Potong 4000 Bubut 8000 Drilling 2000 Listrik Biaya listrik terdiri dari biaya kapasitas (kilovolt hours) sebesar $6000 dan biaya konsumsi listrik (kilowatt-hours) sebesar $3000.Data kapasitas maksimum dan konsumsi listrik masing-masing mesin adalah : Mesin Kapasitas maksimum Waktu beroperasi dan konsumsi listrik (kvh) per jam Potong 3000 400 jam @ 7,5 kw/hr Bubut 6000 900 jam @ 10 kw/hr Drilling 1000 1200 jam @ 15 kw/hr Suku cadang Mesin Potong Bubut Drilling Biaya suku cadang 3500 8500 5000

TECHNO ECONOMY LABORATORY

42

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

b. Cleaning material : Cleaning material yang digunakan setiap mesin sama banyaknya Biaya Sewa Biaya sewa dialokasikan ke masing-masing aktivitas dengan menggunakan cost driver luas lantai yang digunakan oleh masing-masing mesin. Perbandingan luas lantai yang digunakan oleh mesin-mesin potong : mesin-mesin bubut : mesin-mesin drilling adalah 100m : 200m : 300m Perawatan Mesin Biaya perawatan Potong 4000 Bubut 9000 Drilling 12000 Yang harus dilakukan : Menentukan biaya produksi per unit (P diproduksi sebanyak 15.000 unit dan Q 10.000 unit) Menghitung wastage yang dibebankan ke setiap unit P dan Q Langkah 1: Identifikasi Cost Object Cost object yang akan diketahui biayanya adalah produk P dan Q Langkah 2 : Identifikasi biaya langsung dan biaya tidak langsung Biaya langsung hanya terdiri dari material langsung Langkah 3 : Identifikasi Aktivitas Aktivitas primer Aktivitas sekunder Potong Set-up bubut SDM Operasi bubut Drilling Langkah 4 Membuat Activity Cost Matrix Activity cost matrix yang akan dibuat dalam contoh ini adalah activity cost matrix untuk aktivitas primer saja, karena activity recovery rate untuk aktivitas sekunder telah diketahui dari data yang diberikan. Activity Cost Matrix (Aktivitas Primer Saja) Cost Element Potong Set-up Bubut Operasi Bubut Drilling Gaji Listrik Kvh Kwh Depresiasi Suku Cadang Cleaning Material Sewa ruangan Perawatan Total 6000 1800 300 4000 3500 600 900 4000 21100 1800 360 90 800 180 3230 16200 3240 810 7200 8500 1200 1620 9000 47770 21000 600 1800 2000 5000 1600 2700 12000 46700

Keterangan : Biaya gaji besarnya adalah jumlah operator untuk masing-masing aktivitas dikalikan dengan besarnya gaji per operator. Aktivitas potong : 3 x 2.000 = 6.000. Aktivitas bubut : 6 x 3.000 = 18.000

TECHNO ECONOMY LABORATORY

43

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

di mana 10 % nya dialokasikan untuk aktivitas set-up (1.800), dan sisanya untuk aktivitas operasi bubut (18.000-1.800 = 16.200 ) Aktivitas drilling : 8 x 2.625 = 21.000 Untuk kapasitas listrik, cost drivernya adalah kapasitas maksimum masing-masing aktivitas. Jumlah total kapasitas adalah: 3.000+6.000+1.000 = 10.000. Aktivitas potong : (3.000/10.000) x 6.000 = 1.800. Aktivitas bubut : (6.000/10.000) x 6.000 = 3.600 tetapi 10 % akan dibebankan ke set-up (360) , dan sisanya untuk operasi bubut (3.600-360 = 3.240). Aktivitas drilling : (1.000/10.000) x 6.000 = 600 Untuk biaya konsumsi listrik, cost drivernya adalah konsumsi listrik untuk masing-masing aktivitas. Konsumsi listrik total adalah (400 x 7,5 + 900 x 10 + 1200 x 15) = 30.000 Kwh. Aktivitas potong : ((400 x 7,5)/30.000) x $3000) = 300. Aktivitas bubut : ((900 x 10)/30.000) x $3000) = 900 dimana 10 % untuk set-up (90) , dan sisanya untuk operasi bubut (900-90 = 810). Aktivitas drilling : ((1200 x 15)/30.000) x $3000) = 1.800 Cost driver untuk biaya cleaning material adalah jumlah mesin. Oleh karena jumlah mesin ada 17, maka biaya cleaning material: Aktivitas potong : (3/17) x 3.400 = 600. Aktivitas bubut : (6/17) x 3.400 = 1.200, dan ini hanya dibebankan ke operasi bubut. Aktivitas set-up tidak mengkonsumsi cleaning material, sehingga tidak dibebani biaya tersebut. Aktivitas drilling : (8/17) x 3.400 = 1.600. Cost driver biaya sewa adalah luas lantai. Perbandingan luas lantai ketiga aktivitas adalah 1 :2 :3. Maka untunk masing-masing aktivitas dibebani biaya Aktivitas potong : (1/6) x 5.400 = 900. Aktivitas bubut : (2/6) x 5.400 = 1.800. Dimana 10% untuk set-up (180), dan sisanya untuk operasi bubut (1800-180=1620). Aktivitas drilling : (3/6) x 5.400 = 2.700. Untuk elemen perawatan adalah berdasarkan fixed asset yang ada. Untuk setiap aktivitas, jumlahkan masing-masing total biaya. Langkah 5: Tentukan Ukuran keluaran untuk masing-masing aktivitas Aktivitas Ukuran keluaran Kapasitas Potong Jumlah batch 3 mesin x160 jam/bulan/mesin x 2 batch/jam = 960 batch/bulan Set-up bubut* Jumlah set-up (10 % x 6 mesin x 160 jam/bulan/mesin) / 0,37 jam = 259 set up/bulan Operasi bubut Jumlah Jam operasi 90 % x 6 mesin x 160 jam/bulan/mesin = 864 jam/bulan Drilling Jumlah lubang 8 mesin x 160 jam/bulan/mesin x 60 lubang/jam = 76800 lubang / bulan

*Keterangan : Waktu operasi 1 siklus adalah : 2 menit x 100 = 200 menit. Ini adalah 90 % waktu produksi untuk 1 siklus. Waktu produksi adalah : (100/90) x 200 menit = 222,222 menit. Waktu untuk 1 kali set up adalah : 10 % x 222,222 menit = 22,222 menit = 0,37 jam.

TECHNO ECONOMY LABORATORY

44

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK


Langkah 6: Menghitung activity recovery rate untuk aktivitas primer Aktivitas Total cost Kapasitas Potong Set-up bubut Operasi bubut Drilling 21100 3230 47770 46700 960 batch 259 set-up 864 jam 76800 lubang

2011-2012

Activity rate (Total cost/Kapasitas) $21,98 per batch $12,47 per set up $55,29 per jam $0,608 per lubang

Langkah 7: Menghitung Combined Activity Rate Aktivitas Primer Biaya primer Biaya SDM (1) (2) (3) Potong 21100 3x321 = 963 Set-up Bubut 3230 10%x6x321 = 193 Operasi bubut 47770 (6x321)-193= 1733 Drilling 46700 8x321 = 2568 Langkah 8: Bill of Activities Aktivitas P ( 15000 unit) Potong 15000/50 = 300 batch Set-up bubut 15000/100 = 150 set up Operasi bubut 15000 x 2/60 = 500 jam Drilling 15000 x 3 = 45000 Langkah 9: Biaya Produksi *Untuk produk P Komponen Biaya/Aktivitas Material Potong Set-up bubut Operasi bubut Drilling Cost/unit produk P = 222114,5/15000 = 14,808 *Untuk produk Q Komponen Biaya/Aktivitas Material Potong Set-up bubut Operasi bubut Drilling Cost/unit produk Q = 83317,235 / 10000 = 8,33

Total (4=2+3) 22063 3423 49503 49268

Kapasitas (5) 960 259 864 76800

Combined rate (4/5) 22,982 13,216 57,295 0,642

Q (10000unit) 10000/50 = 200 batch 10000/100 = 100 set-up 10000 x 2/60 = 333 jam 10000 x 1 = 10000

Jumlah biaya 15000 x 2 x 5,19 = 155700 300 x 22,982 = 6894,6 150 x 13,216 = 1982,4 500 x 57,295 = 28647,5 45000 x 0,642 = 28890 Total : 222114,5

Jumlah biaya 10000 x 1 x 5,19 = 51900 200 x 22,982 = 4596,4 100 x 13,216 = 1321,6 333 x 57,295 = 19079,235 10000 x 0,642 = 6420 Total : 83317,235

TECHNO ECONOMY LABORATORY

45

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

B. Perhitungan Biaya Per unit untuk Layanan Telekomunikasi 1. Biaya Inkremental Banyak hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan harga jasa telekomunikasi. Salah satu karakteristik ekonomi dari jaringan telekomunikasi adalah satu komponen jaringan seringkali digunakan untuk memproduksi beberapa jenis jasa. Umpamanya, jaringan akses PSTN digunakan untuk menyediakan jasa suara (lokal, jarak jauh dan internasional) dan juga layanan data. Efek dari kenyataan ini adalah perlu adanya klasifikasi atas biaya bersama dan biaya inkremental. Biaya inkremental didefinisikan sebagai biaya yang ditanggung oleh satu produk saja. Biaya bersama adalah biaya yang ditanggung bersama oleh beberapa produk. Hubungan antara pendapatan, biaya inkremental total, biaya bersama (grup produk dan perusahaan secara keseluruhan) serta keuntungan corporate dapat dilihat di gambar 1. Dalam gambar 1 di bawah, TIC adalah total incremental cost (biaya inkremental total), yaitu total biaya yang ditanggung oleh satu produk saja.

Revenue A TIC A

Revenue B TIC B

Revenue C TIC C

Revenue D TIC D

Group A & B Common Cost

Group C&D common cost

Corporate Common Cost Corporate profit

Gambar 1. Biaya Inkremental dan Biaya Bersama Suatu perusahaan yang memaksimasi profit tidak akan melanjutkan produksi dari suatu produk jika revenue produk lebih kecil dari biaya inkremental produk tersebut. Misal produk A tidak akan diteruskan jika Revenue A < TIC A. Jika Revenue A > TIC A, maka berarti produk A akan memberi kontribusi sebesar (Revenue A TIC A) untuk menutupi biaya-biaya bersama yang ditanggung bersama oleh produk dalam satu grup (grup A & B common cost) dan corporate common cost. Dengan demikian, beralasan jika biaya inkremental per unit akan menjadi price floor dari suatu produk.Price floor adalah harga minimum yang dapat dikenakan kepada konsumen. Untuk keperluan regulasi, maka biaya jasa telekemunikasi yang dihitung adalah long run incremental cost. Short run adalah suatu jangka waktu di mana biaya tertentu akan tetap, dalam artian tidak bisa dihindari meski pada saat produksi dihentikan. Di sisi lain, long run adalah suatu jangka waktu di mana semua biaya dapat diperlakukan sebagai biaya variabel. Penggunaan long run dalam hal ini berarti biaya yang dianalisis mencakup biaya tetap dan biaya variabel. Untuk keperluan praktis, ada beberapa pendekatan yang dikembangkan oleh badan-badan regulasi telekomunikasi di berbagai negara : European Commission : Long Run Average Incremental Cost (LRAIC) US : Total Element Long Run Incremental Cost (TELRIC) Australia : Total Service Long Run Incremental Cost (TSLRIC)

TECHNO ECONOMY LABORATORY

46

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

2. TSLRIC Misalkan ada dua produk, A dan B. Untuk memproduksi kedua produk tersebut dibutuhkan 3 elemen jaringan, yaitu X, Y dan Z, dengan biaya masing-masing elemen Cx, Cy dan Cz. X dibutuhkan oleh kedua jasa (common cost). Tidak ada pengurangan biaya jika salah satu produk dihentikan. Y adalah switch yang digunakan bersama oleh A dan B, tetapi kapasitas Y tergantung pada trafik yang lewat. Jika salah satu produk dihentikan, biaya Y berkurang 1/3. Z hanya digunakan oleh B TSLRIC dari suatu jasa adalah perbedaan dari total cost yang terjadi ketika perusahaan memproduksi semua produk (termasuk jasa yang dianalisis) dengan total cost yang terjadi ketika perusahaan menset output dari produk yang dianalisis sebesar nol, dengan catatan output dari semua produk lain tetap. Berdasarkan definisi tersebut, untuk contoh yang dibahas, maka : TSLRICA = [Cx + Cy+ Cz] [Cx + 2/3 Cy + Cz ] = 1/3 Cy TSLRICB = [Cx + Cy+ Cz] [Cx + 2/3 Cy] = 1/3 Cy + Cz Common cost = [Cx + Cy+ Cz] [TSLRICA + TSLRICB] = Cx + 1/3 Cy Gambar 2. TSLRICA Jika memproduksi A dan B, maka biaya adalah Cx Cy Cz Jika output A diset nol (memproduksi B saja), maka biaya menjadi : Cx 2/3 Cy Cz Berarti TSLRICA = 1/3 Cy. Mengenai common cost, jika harga semua produk sama dengan LRIC, maka perusahaan rugi karena common cost belum tercover. Biaya bersama perlu dialokasikan ke produk-produk yang diregulasi, inilah yang akan menjadi mark up, maksudnya adalah mark up terhadap biaya inkremental. Alokasi Common Cost umumnya dilakukan berdasarkan minutes of use. Misalnya proporsi common cost yang dialokasikan ke jasa B adalah s, maka TSLRIC+B = TSLRICB + s. CC, di mana CC adalah common cost TSLRIC+B = s Cx + (1+s)1/3 Cy + Cz TSLRIC+A = (1-s) Cx + (2-s) 1/3 Cy Mark Up Mark up perlu memperhatikan 2 hal : Derajat elastisitas harga dari permintaan Hati-hati dalam mengukur true common cost (lihat contoh elemen Y dalam penjelasan sebelumnya) 3. TELRIC Pendekatan TELRIC memodifikasi pendekatan TSLRIC untuk diaplikasikan ke elemen jaringan secara individual. Jadi jaringan untuk menyediakan layanan dibagi atas elemenelemen jaringannya, dan kemudian dihitung biaya untuk setiap elemen. Menggunakan contoh yang sama dengan contoh kasus di TSLRIC, elemen X digunakan bersama oleh produk A dan

TECHNO ECONOMY LABORATORY

47

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

B, maka biaya elemen X atau Cx dialokasikan ke A da B. Jika proporsi yang dialokasikan ke B adalah s dan yang dialokasikan ke A adalah (1-s), maka: TELRICB = s Cx + s Cy + Cz TELRICA = (1-s)Cx + (1-s) Cy 4. Forward Looking Cost Untuk keperluan regulasi, estimasi biaya biasanya dibuat berdasarkan biaya dari the best technology currently available. Jika ada dua teknologi, di mana teknologi kedua adalah teknologi terbaik yang tersedia saat ini dengan biaya lebih rendah dibanding teknologi pertama, maka LRIC akan dihitung berdasar teknologi kedua. 5. Pendekatan Dalam Perhitungan Biaya jasa Telekomunikasi Ada tiga pendekatan dalam menghitung biaya jasa telekomunikasi, yaitu : 1. Pendekatan Top down. Dalam pendekatan ini, perhitungan dilakukan dengan menggunakan data yang bersumber dari general ledger perusahaan, yang mencerminkan biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh perusahaan tersebut. 2. Pendekatan bottom up. Dalam pendekatan ini, maka pertama-tama akan dibuat dulu model jaringan yang efisien untuk melayani jumlah pelanggan dan trafik tertentu. Berdasarkan model jaringan yang efisien tadi maka akan dibuat model biayanya, baru kemudian biaya ini dikonversi ke dalam satuan charging yang dipilih. 3. Pendekatan read across. Dalam pendekatan ini biaya dihitung dengan melakukan perbandingan dengan operator lain. Dalam jangka panjang, seharusnya digunakan top down long run incremental cost. Akan tetapi, pendekatan yang lain juga tetap mempunyai manfaat. Dalam perhitungan biaya interkoneksi yang berbasis biaya (cost based interconnection charge) misalnya, pendekatan bottom up bermanfaat bagi operator yang akan melakukan interkoneksi dalam melakukan pengecekan apakah biaya yang dibebankan oleh operator yang menerima interkoneksi terlalu tinggi atau tidak. Beberapa perbedaan antara pendekatan Bottom Up dan Top Down: Top-Down Bottom-Up Reflects cost reality 3 1 Encourages Effieciency 1 3 Transparent 3 1 Protects confidence of data 1 3 Minimize transaction cost 3 1 Keterangan : 1. Poor 2. Reasonable 3.Good 6. Komponen Biaya Jasa Telekomunikasi Pada dasarnya, biaya penyelenggaraan jasa telekomunikasi oleh satu operator untuk suatu tahun t terdiri atas: 1. Biaya depresiasi tahun ke-t, yang terdiri dari biaya depresiasi peralatan jaringan (switching dan transmition) maupun bangunan. 2. Biaya operasional tahun t, yang antara lain terdiri biaya gaji pegawai, biaya perawatan, dan lain-lain. 3. Biaya atas investasi yang belum didepresiasikan, yang besarnya adalah i x NBV pada tahun (t-1), dimana i adalah cost of capital dan NBV adalah net book value.

TECHNO ECONOMY LABORATORY

48

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Beberapa aspek penting pada perhitungan biaya jasa telekomunikasi dengan pendekatan LRIC; Biaya perlu diukur untuk jangka waktu panjang ke depan, karena jangka panjang memungkinkan untuk menghindari mudahnya terjadi keterbatasan kapasitas atau kendala kapasitas, selain itu berguna untuk memperoleh pengukuran yang benar mengenai profitabilitas masukan. Melihat biaya untuk jangka waktu ke depan mencerminkan pilihan investasi yang dilakukan operator. Efisiensi operator sebaiknya diukur berdasarkan topologi jaringan aktual. 7. Perhitungan Biaya Jasa Telekomunikasi dengan Pendekatan Top Down LRIC Adapun tahapan dalam menghitung biaya dengan pendekatan Top Down LRIC adalah: 1. Tentukan biaya-biaya yang relevan dengan penyediaan suatu jasa , yaitu: - Biaya inkremental. Misalnya untuk layanan interkoneksi, maka biaya inkrementalnya adalah elemen-elemen biaya yang sensitif terhadap trafik - Biaya bersama. Biaya ini mencakup biaya yang diperlukan untuk menyediakan jasa telekomunikasi yang dianalisis yang ditanggung bersama dengan produk lain. 2. Kelompokkan biaya-biaya yang relevan tersebut atas homogeneous cost categories (HCC) Kriteria homogen : - Individual cost driver. Ongkos-ongkos yang dikelompokkan dalam satu HCC harus memiliki cost driver yang sama - Individual cost changes. Contoh : peralatan transmisi. Untuk jaringan PSTN, biaya ducting mempunyai kecenderungan naik, sedangkan kabel, mux merupakan biaya yang cenderung turun. Maka tidak dapat dikelompokkan dalam 1 HCC 3. Lakukan penilaian asset berdasarkan nilai sekarang. - Untuk aset-aset yang berharga rendah dan umur ekonomisnya di bawah 3 tahun, maka tidak perlu dilakukan revaluasi - Aset yang dimiliki dinilai kembali dengan memperkirakan replacement costnya, yaitu aset dianggap diganti dengan aset lain yang memiliki karakteristik dan performansi yang sama dengan aset yang ada saat ini 4. Menghitung CCA(current cost accounting) depresiasi CCA adalah metoda yang digunakan saat perubahan harga cepat, dimana historical cost access tidak lagi memadai. Ada beberapa pendekatan dalam menghitung CCA depresiasi, sesuai dengan perbedaan dalam konsep pemeliharaan modal, yaitu : Operating capital maintenance Mempertimbangkan kapabilitas operasi jastel dari operator, capital dapat dipandang dalam operational term Financial Capital maintenance Mengasumsikan modal keuangan operator telah dicover oleh harga saat ini. Capital dapat dipandang dalam financial terms, sebagai nilai dari shareholders equity. 5. Mendefinisikan cost volume relationship (CVR) Sesuai dengan namanya, maka CVR menggambarkan hubungan antara jumlah biaya dari suatu elemen biaya dengan volume cost driver elemen biaya tersebut. Misalkan biaya billing terdiri dari biaya pengembangan billing system dan biaya pencetakan tagihan. Untuk biaya pengembangan billing system ada biaya bersama untuk semua layanan sebesar Rp 10 milyar dan ada biaya untuk setiap layanan sebesar Rp 2 milyar. Sedangkan biaya pencetakan tagihan terdiri dari biaya printing system yang bersifat tetap (Rp 100 juta) ditambah dengan biaya variabel pencetakan dan pengiriman tagihan ke pelanggan

TECHNO ECONOMY LABORATORY

49

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

sebesar Rp 5000 per pelanggan. Kita lihat bahwa untuk biaya pengembangan billing system, cost drivernya adalah jumlah layanan. Misalkan perusahaan menyediakan 4 jenis layanan yaitu voice (2G), video call (3G), SMS (2G), mobile TV (3G). Untuk biaya billing ini maka cost volume relationshipnya adalah sebagai berikut : Biaya pengembangan billing system = 10 milyar + 2milyar x jumlah layanan Sedangkan untuk biaya pencetakan tagihan, CVR-nya adalah : Biaya pencetakan tagihan = 100 juta + 5000 x jumlah pelanggan 6. Memisahkan biaya suatu layanan dari biaya-biaya jasa lain dengan menggunakan CVR yang telah didefinisikan. Misalkan untuk biaya pengembangan system billing, maka yang merupakan biaya inkremental layanan 3 G adalah Rp 4 milyar (2 milyar x 2 layanan, yaitu video call dan mobile TV). Biaya bersama adalah Rp 10 milyar. 7. Alokasikan seluruh elemen biaya inkremental untuk suatu layanan yang dianalisis yang telah menjalani proses hingga langkah 6 ke tiap elemen jaringan yang ada Pembagian jaringan atas elemen-elemennya dilakukan sesuai granularity yang diinginkan Pengalokasian dilakukan berdasarkan cost driver yang sesuai Contoh : pengalokasian biaya PDH transmission pada PSTN dilakukan dengan menggunakan jumlah channel sebagai cost driver. 8. Hitung annual cost untuk tiap elemen Annual Cost untuk tiap elemen jaringan k = Opexkt + Deprkt + i x NBVk(t-1) Opexkt adalah biaya operasional pada tahun t yang dialokasikan ke elemen jaringan k Deprkt adalah CCA depresiasi pada tahun t yang dialokasikan ke elemen jaringan k NBVk(t-1) adalah net book value pada tahun (t-1) yang dialokasikan ke elemen jaringan k i adalah cost of capital perusahaan 9. Konversi biaya tahunan tiap elemen ke dalam satuan biaya per menit atau satuan lain yang dipilih. Misal charging parameter yang digunakan adalah menit. Pada kenyataannya tidak ada trafik yang menggunakan seluruh elemen jaringan. Untuk menghitung biaya per menit perlu dicari average route factor. Di bawah ini adalah perhitungan average route factor untuk perhitungan biaya interkoneksi di jaringan PSTN.

Gambar 3. Model Jaringan (Interkoneksi terjadi pada call termination 1 dan 4 )

TECHNO ECONOMY LABORATORY

50

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Gambar di atas memperlihatkan 6 route yang mungkin dilalui untuk call termination di dalam suatu jaringan. Kombinasi bisa dilihat di gambar di bawah ini. Call Termination Route 1 Route 2 Route 3 Route 4 Route 5 Route 6 LX 1 2 2 1 2 1 LX-LX (km) 0 0 0 0 5 0 LX-TX (km) 5 10 10 5 0 0 TX 1 1 2 2 0 0 TX-TX (km) 0 0 100 100 0 0 Probability of using route (%) 20 30 15 15 15 5 TX-TX (km) 0 0 15 15 0 0 30

Kalikan kombinasi route dengan probability of using route (%) LX-LX LX-TX Call Termination LX (km) (km) TX Route 1 0.2 0 1 0.2 Route 2 0.6 0 3 0.3 Route 3 0.3 0 1.5 0.3 Route 4 0.15 0 0.75 0.3 Route 5 0.3 0.75 0 0 Route 6 0.05 0 0 0 average route factor 1.6 0.75 6.25 1.1

10. Hitung Biaya permenit dari tiap elemen jaringan Pada tahap ini kita melakukan perhitungan biaya per menit dari masing-masing elemen jaringan dengan cara membagi element demand dengan average route faktor yang didapat dari langkah 9. PERHITUNGAN LX LX-LX LX-TX TX TX-TX COST/ MINUTE total cost ($) 1,200 80 740 475 400 total trafik (menit) 100,000 100,000 100,000 100,000 100,000 average route factor 1.6 0.75 6.25 1.10 30 element demand 160,000 75,000 625,000 110,000 3,000,000 0.75 sen 0.11sen 0.12 sen 0.43 sen 0.01sen cost per unit untuk dollar/ dollar/menit/ dollar/ dollar/ dollar/ tiap elemen jaringan menit km menit /km menit menit /km Keterangan: Total cost = annual cost Total trafik adalah total trafik yang digenerate di seluruh jaringan (sudah diketahui) Element demand = total trafik x average route factor Cost = total cost / element demand 11. Bundle biaya per menit dari tiap elemen jaringan mejadi biaya suatu layanan sesuai dengan elemen jaringan yang digunakan Misal untuk interkoneksi ada 3 layanan : Double tandem call termination : Merupakan rute panggilan yang melalui dua TX Single tandem call termination : Merupakan rute panggilan yang hanya melalui satu TX Local termination : Merupakan rute panggilan yang tidak melalui TX

TECHNO ECONOMY LABORATORY

51

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK


LX-LX (km) 0 0 0 4 LX-TX (km) 5 5 5 0 TX-TX (km) 150 50 0 0

2011-2012
Interconnectio n charge (sen dollar/min) 3,71 2,71 1,76 1,19

Call Termination LX TX Double tandem long 1 2 Double tandem short 1 2 Single tandem 1 1 Local termination 1 0 Keterangan: Interconnection charge = (a x cost/unit a) + (b x cost/unitb) + (c x cost/unitc) +(d x cost/unitd) + (e x cost/unite)

12. Pengalokasian common cost Alokasikan common cost ke masing-masing elemen jaringan Jumlahkan hasilnya dengan incremental cost (hasil langkah 8) Bagi jumlah common cost dan incremental cost untuk tiap elemen jaringan k tersebut dengan volume trafik yang sama seperti pada langkah 9 Hasilnya adalah TELRIC+mark-up 8. Perhitungan Biaya Jasa Telekomunikasi dengan Pendekatan Bottom Up LRIC Berbeda dengan metode top-down yang mengambil data-data biaya dari general ledger, metode bottom-up menghitung biaya dengan cara memodelkan jaringan yang efisien untuk melayani trafik di suatu wilayah, lalu membuat model biaya untuk jaringan tersebut, dan kemudian menghitung biaya per unit. Kelebihan metode ini : Menghasilkan biaya yang efisien, baik dari segi operasional maupun dari segi teknikal. Terhindari dari masalah kerahasiaan data, karena model yang dirancang tidak berdasarkan model aktual operator. Sedangkan kelemahan dari metode ini adalah: Mempunyai kemungkinan untuk menghasilkan biaya yang mempunyai sedikit hubungan dengan biaya aktual Adanya simplikasi saat membuat disain jaringan Sebagian tergantung pada data dari general ledger juga untuk mengestimasi besarnya biaya elemen. Metode ini biasanya digunakan untuk: Menentukan tarif interkoneksi jangka pendek hingga menengah di negara maju Sebagai cara untuk memverifikasi efisiensi jaringan operator jangka panjang. Cocok digunakan pada saat regulator menginginkan forward looking dibanding historic cost.

TECHNO ECONOMY LABORATORY

52

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Langkah-langkah perhitungan biaya telekomunikasi dengan menggunakan metoda bottom up dapat dilihat di gambar 4.

Gambar 4. Langkah perhitungan biaya dengan metoda bottom-up 1. Perancangan Network Design Model Langkah pertama yang harus dilakukan adalah merancang suatu network design yang optimal. Terdapat dua jenis perancangan network yaitu: a. Greenfield : Sama sekali baru b. Scorched node : Node yang dimiliki operator menjadi titik awal 2. Perancangan Network Cost Model Network cost model merupakan suatu model biaya dari jaringan operator yang telah didisain pada langkah sebelumnya. Biaya elemen jaringan yang dimasukkan di sini berdasarkan current cost. 3 Perhitungan Capital Cost per Tahun Langkah selanjutnya adalah menghitung capital costs per tahun dari network elements. Rumus perhitungan Capital cost per tahun ini adalah : Annual Capital Cost : GBVkx i (1-1(1+i)tk) Keterangan : GBVk : Gross Book Value untuk elemen k i : Discounted Rate tk : Economic Life dari elemen

TECHNO ECONOMY LABORATORY

53

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

Gross Book Value adalah nilai asset sebelum depresiasi. Nilai asset ini tidak berasal dari biaya pembelian perangkat saja, namun juga terdiri dari biaya instalasi perangkat tersebut. 4. Perhitungan Relevant Operating Cost per Tahun Untuk memperhitungkan biaya operasional yang seharusnya terjadi ada dua cara yaitu rasio dari capital cost dan model biaya operasional. Namun rasio capital cost tidak direkomendasikan untuk digunakan karena dasar penetapan rasio kurang jelas. Model Biaya Operasional Langkah-langkah dalam melakukan model biaya operasional adalah: a) Identifikasi biaya operasional yang relevan b) Identifikasi cost driver untuk tiap biaya operasi yang relevan. c) Buat cost volume relationship Cost volume relationship menunjukkan hubungan antara total cost dengan cost driver. d) Hitung total biaya operasional. e) Alokasikan biaya operasional total ke masing-masing network element. 5. Pengombinasian Capital Cost Dengan Relevant Operating Cost Menjadi Annual Cost Langkah selanjutnya adalah mengkombinasikan capital cost per tahun yang didapatkan pada tahap 3 dengan relevant operating cost per tahun yang didapatkan pada tahap 4. Annual Cost = Capex + Opex 6. Pengkonversian Annual Cost Menjadi Cost per unit Setelah diketahui total annual cost, maka langkah-langkah berikut sama dengan top down LRIC. Pertama, biaya tersebut dikonversikan menjadi cost per minute, dengan cara yang sama seperti dalam top down LRIC. 7. Pembundlingan Biaya Setiap Network Elemen kedalam Biaya Interkoneksi Berikutnya, dilakukan bundling biaya setiap elemen jaringan menjadi biaya layanan jasa sesuai dengan elemen jaringan yang digunakan. 8 Perhitungan Mark-Up Berikutnya, biaya ini harus ditambahkan dengan mark-up untuk mengcover biaya-biaya bersama (common cost) yang tidak langsung terkait dengan suatu layanan. Perhitungan mark up dilakukan dengan metode konstan yaitu memberikan prosentase yang sama untuk penambahan mark up pada setiap network element. Rumus yang digunakan untuk perhitungan mark-up adalah sebagai berikut :
MarkUp
k

LRIC

k k

xCommonCos

LRIC

k 1

Keterangan LRIC elemen k

: biaya per unit

Perhitungan Total Biaya Langkah terakhir dari perhitungan LRIC adalah menggabungkan biaya yang telah didapatkan pada tahap 5 dengan mark-up pada tahap 8 kemudian dilanjutkan dengan langkah 6 dan 7. Hasil perhitungan ini adalah biaya per unit dari suatu layanan.

Referensi : Farda Hasun. 2006. Diktat Kuliah Akuntansi Biaya ICT regulations toolkit from ITU Panduan Perhitungan Tarif Sewa Jaringan Dirjen Postel Indonesia. 2008. Metode Pengalokasian Biaya Dan Laporan Finansial Kepada Regulator Dirjen Postel Indonesia. 2008. Panduan Perhitungan Biaya Interkoneksi Model Jaringan Bergerak Dirjen Postel Indonesia. 2008.

TECHNO ECONOMY LABORATORY

54

PRAKTIKUM PERANCANGAN PRODUK

2011-2012

TECHNO ECONOMY LABORATORY

55