Anda di halaman 1dari 5

A.

Pengertian Pengukuran, Tes, dan Penilaian Pengertian Pengukuran mencakup segala cara memperoleh informasi yang dapat dikuantikasikan, baik segala Tes maupun cara-cara lain. Sedangkan pengertian Tes adalah alat pengukur untuk menetapkan apakah berbagaibagai faset dari kesat yang kita perkirakan dari seseorang adalah benar merupakan fakta, juga adalah cara untuk menggambarkan bermacam-macam faset ini seobyektif mungkin. (Conny Semiawan Stamboel, 1982. P. 24-25). Kemudian pengertian penulisan atau evaluation menekankan penggunaan informasi yang diperoleh dengan pengukuran maupun dengan cara lain untuk menentukan pendapat dan membuat keputusan-keputusan. Dari uraian tentang pengertian pengukuran, tes dan penilaian tersebut dapat diketengahkan hubungan ketiganya sebagai berikut : 1. Hubungan antara Pengukuran dan Tes Berdasarkan atas pengertian pengukuran dan tes diatas dapat disimpulkan bahwa dalam prosedur pengukuran, tes merupakan salah satu alat untuk memperoleh informasi tentang tingkah laku seseorang, untuk selanjutnya dideskrepsikan dengan sistem skala angka atau kategori lain. 2. Hubungan Pengertian Tes dan Penilaian Dari uraian tentang pengertian tes dan penilaian tes tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa hasil testing yang merupakan salah saatu ujud atau bentuk hasil pengukuran itu menjadi salah satu bahan dasar untuk mengambil keputusan atau pendapat tentang subyek yang di test. Dengan demikian dalam prosedur penilaian yang diakhiri dengan penentuan pendapat atau keputusan, tes merupakan salah satu cara atau alat untuk mendapatkan bahan dasar penentua pendapat atau pengambilan keputusan B. JENIS DAN TINGKATAN PENGUKURAN 1. Jenis Pengukuran Dari segi sasaran pengukuran, pengukuran dapat dibedakan atas: a. Pengukuran alamiah, yaitu pengukuran yang ditujukan pada sasaran objek alam benda. b. Pengukuran sosial, yaitu pengukuran yang ditujukan pada sasaran objek struktur dan kehidupan sosial.

c. Pengukuran psikologis, yaitu pengukuran dengan memfokuskan sasaran obyek pada tingkah laku sebagai cerminan daripada keadaan psikis seseorang atau individu. Dari segi sifat objek pengukuran, dapat dibedakan atas: a. Pengukuran kualitas, yaitu pengukuran yang ditujukan pada segi mutu atau kualitas objek pengukuran. b. Pengukuran kuantitas, yaitu pengukuran yang menitik beratkan pada segi jumlah/volume atau kuantita dari objek pengukuran. 2. Tingkatan Pengukuran Empat tingakatan pengukuran; a. Pengukuran nominal (skala pengukuran nominal), yaitu pengukuran yang menggunakan bilangan sebagai tanda kenal daripada suatu gejala atau benda yang dilukiskan. b. Skala pengukuran ordinal, yaitu pengukuran yang menggunakan angka-angka/ bilangan sebagai petunjuk kepada adanya rank order dalam susunan gejala atau benda. c. Skala pengukuran interval, yaitu pengukuran dimana selain telah dipenuhinya persyaratan sebagai perskalaan-perskalaan sebelumnya. d. Skala pengukuran rasio, yaitu sebagai skala pengukuran di samping memiliki sifat-sifat skala pengukuran yang dimiliki skala pengukuran sebelumnya, memiliki ciri khusus yaitu terdapatnya titik mula mengukur yang mutlak, yang dengan mudah sekali disepakati oleh semua orang yang disimbolkan dengan tanda 0 (nol). C. PENGUKURAN PSIKOLOGIS 1. Arti dan Hakekat Pengukuran psikologis Pengukuran psikologi adalah pengukuran aspek-aspek tingkah laku yang menampak, yang dianggap mencerminkan prestasi, bakat, sikap dan aspek-aspek kepribadian yang lain. (T. Raka Joni, 1977. p.5.). Dalam praktek, pengukuran psikologi pada umumnya banyak menggunakan tes sebagai alatnya. Istilah test psikologis merupakan suatu alat untuk menyelidiki reaksi atau disposisi seseorang atas dasar tingkah lakunya. Dengan demikian pengertian pengukuran psikologi dan tes psikologi pada dasarnya sama. Perbadaannya terletak pada proses dan alatnya yang digunakan sebagai dasar penggunaan istilah dalam praktek. Perbedaan antara pengukuran konvensional (alamiah) dengan pengukuran psikologi:

a. Pengukuran konvensional Dilakukan secara langsung Mempunyai satuan ukuran yang jelas/tegas Telah adanya kesepakatan tentang awal atau darimana harus mulai mengukur

b. Pengukuran psikologis Harus dilakukan secara tidak langsung Tidak mempunyai satuan ukuran Tidak adanya kesepakatan mengenai awal atau dari mana harus mulai mengukur

Ciri-ciri khusus daripada pengukuran psikologi yang membedakan dengan ciri-ciri pengukuran alamiah: a. Variabel-variabel yang diukur berupa tingkah laku yang nampak sebagai cerminan dari keadaan kejiwaan itu tidak selalu secara konsisten mencerminkan suasana batin seseorang. b. Bahwa dalam pengukuran psikologi sangat sukar atau bahkan tidak mungkin diperoleh kesepakatan dalam kalibrasi satuan ukuran. c. Dalam pengukuran psikologis tidak terdapat adanya nol mutlak. d. Bahwa kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pengukuran psikologi jauh lebih besar disbanding dengan kesalahan dalam pengukuran alamiah. 2. Fungsi pengukuran psikologis dalam bimbingan Pengukuran psikologis dalam bimbingan mengandung pengertian implikatif bahwa hasil daripada pengukuran tingkah laku sebagai cerminan daripada prestasi, bakat, sikap, dan aspek-aspek kepribadian yang lain dimanfaatkan untuk dasar layanan bimbingan kepada klien. Dapat dinyatakan bahwa hasil pengukuran tes psikologis yang bersifat obyektif menjadi dasar bagi konselor dalam memberikan layanan bimbingan sesuai dengan keadaan pribadi klien untuk memahami dirinya, memahami masalahnya, memahami lingkungannya serta mampu mengembangkan diri sehingga tercapai kesejahteraan hidupnya. Fungsi dari pengukuran psikologis dalam bimbingan dapat dilihat dari beberapa segi, yaitu: a. Dilihat dari segi klien(konseli) Membantu mengenal dan mengerti keadaan psikisnya yang menyangkut potensi psikis dan prestasinya serta kelemahan dan kelebihan dalam aspek psikis yang dimilikinya.

b. Dilihat dari segi konselor Membantu konselor dalam memahami diri kliennya sehingga dapat menetapkan bentuk layanan bimbingan yang sesuai dengan keadaan dan pribadinya. c. Dilihat dari proses layanan bimbingan Pengukuran psikologis mempunyai beberapa fungsi, antara lain: 1) Prediksi Yaitu dapat digunakan untuk meramalkan kemungkinan tingkah laku klien di masa datang. 2) Komparasi Yaitu sebagai dasar membandingkan diri klien dengan klien yang lain atau dengan ukuran lain, sehingga dapat diketahui status individu dalam kelompoknya atau dasar ukuran tertentu yang digunakan. 3) Diagnosa Bahwa hasil pengukuran psikologis sebagai dasar menetapkan jenis masalah/kesulitan, letak kesulitan beserta penyebab terjadinya. Hasil diagnosa ini juga dapat digunakan untuk menetapkan alternatif jenis dan layanan bimbingan yang sesuai. 4) Evaluasi Berfungsi sebagai bahan informasi untuk dasar pengambilan keputusan tentang perlakuan terhadap klien. 5) Penelitian Sebagai informasi atau tata penelitian tentang suatu hal tertentu berhubungan dengan tujuan pengukuran, untuk menentukan tindak lanjut bimbingannya. 3. Tujuan pengukuran psikologis dalam bimbingan Hal-hal yang mendorong dilaksananya atau perlunya pengukuran psikologis dalam bimbingan adalah sebagai berikut: a. Adanya tuntutan dalam memberikan layanan bimbingan harus berdasarkan atas prinsip perbedaan individual. b. Tuntutan dalam pemberian layanan bimbingan berdasarkan atas kelengkapan informasi dan data klien. c. Adanya kenyataan pembedaan manusia abnormal dengan manusia normal. d. Menetapkan aspek psikologis yang mana menjadi penyebab masalah konseli. Secara terperinci sesuai aspek-aspek yang di ukur, tujuan pengukuran psikologis adalah sebagai berikut:

a. Yang menyangkut aspek kognitif : 1) Untuk mendapatkan informasi tentang keberhasilan belajar dalam wujud prestasi belajar konseli. 2) Untuk mendapatkan informasi tentang tingkat kecerdasan/intelegensi konseli yang merupakan salah satu factor utama keberhasilan belajar. 3) Untuk mendapatkan informasi tentang bakat atau kemampuan khusus yang bersifat potensial sebagai bahan studi lanjut bimbingan karir atau jabatan. b. Yang menyangkut aspek Non-kognitif: 1) Mendapatkan informasi tentang arah minat serta bakat terhadap bidang tertentu. 2) Mendapatkan informasi tentang pendapat atau sikap konseli terhadap dirinya maupun lingkungannya. 3) Mendapatkan informasi tentang system nilai daripada konseli. Hal ini didasarkan atas anggapan bahwa system nilai akan sangat berpengaruh pada perilakunya. 4) Mendapatkan informasi tentang aspek kepribaadian yang lain, misalnya penyesuaian diri, control diri, rasa kecukupan, kepastian diri, harga diri, kematangan emosi, kecenderungan neorotis, dan sebagainya. Sumber Pustaka: Conny Semiawan Stamboel, 1982, Prinsip dan Teknik pengukuran dan penilaian di dalam dunia pendidikan, Jakarta; Mutiara p.20-26 Sumadi Suryabrata, 1979, Pengukuran dalam psikologi kepribadian, Jakarta; CV Rajawali; p.6-19 T. Raka Joni, 1984, Pengukuran dan penilaian pendidikan, JP2LPM, p.6-25 Sutarno, 2006, Pemahaman individu Teknik Testing, Surakarta, p.1-10